“Tuhan…
Tolonglah aku
Kembalikan
dia…. Kedalam pelukku…
Karena
ku tak bisa mengganti dirinya
Ku
akui jujur aku tak sanggup… sungguh aku tak bisa….”
“Hay Shill…” Tegur Gabriel yang
tiba-tiba saja muncul disamping Shilla yang tengah berjalan menuju Gedung
Fakultasnya. Shilla menghentikan langkahnya sebentar dan melirik kearah Gabriel
yang ketika itu tengah memamerkan senyuman manisnya. Senyuman manis yang selalu
bisa membuat jantung Shilla seperti meloncat-loncat kegirangan didalam sana,
senyuman manis yang selalu bisa membuat Shilla merasakan perasaan-perasaan aneh
yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Akankah itu cinta? Tapi bagaimana Shilla bisa mencintai Pria yang sudah
berstatus menjadi tunangan orang ini? Apalagi Gabriel ini adalah tunangan
Pricilla. Seseorang yang paling Shilla benci seumur hidupnya.
Tidak lama melirik kearah Gabriel,
Shilla pun melanjutkan langkahnya. Shilla berlalu begitu saja tanpa memiliki
niat sedikitpun untuk membalas sapaan Gabriel tadi. Gabriel heran. Kenapa
Shilla tiba-tiba begitu? Apa ada sesuatu yang tidak beres?
Tidak ingin terlalu banyak berfikir,
Gabriel pun mengejar langkah Shilla lalu menarik pergelangan tangan Gadis itu,
“lo kenapa? Kok tiba-tiba cuek gini
ke gue?” Tanya Gabriel tak paham. Ia benar-benar butuh penjelasan atas sikap
Shilla ini.
Dalam satu sentakan kuat, Shilla
melepaskan tangannya dari genggaman Gabriel. Lalu tanpa menatap wajah Gabriel
sedikitpun Shilla berkata,
“mulai hari ini lo lebih baik nggak
usah ngedeketin gue lagi, Yel”
Gabriel tertawa pelan. Ia merasa
sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja Shilla ucapkan. Dan Gabriel
merasa bahwa Shilla hanya bergurau saja.
“hahahaha… lo ngomong apa sih,
Shill?”
“apa semuanya kurang jelas, Gabriel?
Gue bilang jangan deketin gue lagi. Mulai hari ini sebaiknya kita nggak usah
ketemu. Dan satu lagi, jaga tunangan lo itu baik-baik! Bilang sama dia, jangan
Cuma bisa ngerusak hubungan orang lain! Paham?”
“Shill, gue nggak ngerti maksud lo
apaan?” kata Gabriel sedikit emosi. Kenapa tiba-tiba Shilla memintanya untuk
menjauhinya. Apa Shilla tidak sadar bahwa Gabriel mulai menyukainya?
“dan gue lebih-lebih nggak ngerti
sama lo, Yel! Lo tiba-tiba aja dateng lalu minta sama Alvin buat balikan lagi sama
Pricill, maksud lo apa?”
“Shilla—“
“tapi apapun maksud dan tujuan lo
dibalik semua itu, gue nggak peduli dan nggak akan pernah peduli, ngerti lo?
Dan asal lo tau, apa yang lo mau sudah terkabulkan, karna sekarang Alvin dan
Pricilla sudah balikan lagi! PUAS LO, YEL? PUAS??”
Shilla melanjutkan langkahnya yang
sempat terhenti. Ia melangkah secepat ia bisa meninggalkan Gabriel yang masih
diam terpaku ditempat. Shilla berusaha keras menahan air matanya agar tidak
terjatuh. Kenapa rasanya sakit sekali ketika ia tahu bahwa Gabriel adalah
tunangan Pricilla? Kenapa rasanya sakit sekali saat Shilla harus membentak Pria
itu dan memintanya untuk menjauhi dirinya? Kenapa? Kenapa rasanya harus sesakit
ini?
“TAPI GUE SAYANG SAMA LO, ASHILLA!
GUE BISA LAKUIN APAPUN YANG LO MINTA KECUALI NGEJAUHIN LO! GUE NGGAK BISA
NGELAKUIN ITU” Teriak Gabriel tiba-tiba ditengah keramaian itu.
Pada akhirnya Shilla menghentikan langkahnya.
Apa Shilla tidak salah dengar?
“GUE BENER-BENER CINTA SAMA LO,
SHILLA! DAN LO NGGAK PERNAH TAHU KAN KALO LO ITU UDAH BIKIN GUE NGELUPAIN SEMUA
AMBISI GUE? GUE NGGAK BISA NGEJAUHIN LO SEPERTI APA YANG LO MINTA”
Gabriel kembali berteriak keras. Bahkan
ia sama sekali tidak peduli ketika perhatian semua orang mengarah padanya. Yang
Gabriel tahu saat ini hanyalah, ia harus menyatakan perasaannya yang sebenarnya
terhadap Shilla.
Shilla memejamkan kedua matanya
sejenak dan membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan lolos begitu saja.
Kali ini pertahanan Shilla sudah jebol. Ternyata bentengnya tidak sekuat
seperti apa yang ia fikir. Perasaannya pada Pria ini sama sekali tidak bertepuk
sebelah tangan. Tapi bagaimana bisa Shilla hidup bersama dengan Pria yang sudah
menjadi tunangan orang lain, terlebih itu Pricilla.
“GUE NGGAK PEDULI LO ADA MASALAH APA
SAMA PRISSY SAMPE LO SEBENCI INI SAMA DIA. GUE NGGAK PEDULI SHILLA, YANG GUE
TAHU GUE UDAH GUE JATUH CINTA SAMA LO, BAHKAN SEJAK PERTAMA KALI KITA KETEMU”
Teriak Gabriel –lagi-
Hening untuk beberapa saat. Tidak lama
Shilla akhirnya berucap,
“maaf, tapi gue nggak bisa mencintai
seseorang yang udah ngerusak kebahagiaan sahabat gue. Gue nggak bisa, Iel…” ada
nada ketidak sanggupan disana. Rasanya berat sekali bagi Shilla. Perih itu
secara perlahan mulai mengusik batinnya.
Shilla pun melanjutkan langkahnya
dan meninggalkan Gabriel bersama rasa kecewanya. Seumur hidupnya, ini baru
pertama kalinya Shilla melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani dan
kata hatinya.
****
BUKKKK…. Sebuah bogem mentah
mendarat tepat diwajah Alvin ketika ia baru saja akan keluar dari areal Parkir
Kampusnya. Alvin nyaris jatuh tersungkur jika saja ia tidak bisa menahan
dirinya. Alvin mengusap darah yang menetes dari tepi bibirnya lalu melihat
kearah Pria yang sudah memukulnya secara tiba-tiba itu. Cakka.
Kedua mata Alvin membelalak lebar.
Ia terkejut karna tiba-tiba saja Cakka menyerangnya seperti ini. Padahal tadi
dirumah mereka berdua masih baik-baik saja, tapi sekarang? Alvin benar-benar
tidak mengerti.
“Kak Cakka lo apa-apaan sih? Kok
maen hajar aja?” Tanya Alvin tak paham. Cakka tersenyum sinis lalu sekali lagi mendaratkan sebuah pukulan pada perut Alvin.
“uph…” Alvin meringis kesakitan.
Tapi ia masih bisa menahan dirinya agar tidak terjatuh.
“lo pasti heran kan kenapa gue
ngehajar lo padahal tadi dirumah kita masih baik-baik aja? LO HERAN KAN?”
Bentak Cakka dengan keras. Beberapa orang yang tengah lalu lalang kini malah
memperhatikan kedua Kakak-Beradik yang tengah bersitegang ini.
“gue Cuma nggak mau Mami sama Papi
ngeliat gue ngehajar lo! Dan yang terpenting gue nggak Mami sama Papi tau kalo
anak kesayangannya ini tersenyata nggak lebih dari seorang laki-laki pecundang
yang nggak punya hati”
Alvin yang mulai paham dengan
masalahnya yang sebenarnya kini mulai terdiam. Ia lebih memilih menunduk dalam
hening dan pasrah jika nanti Cakka melakukan apa saja padanya. Alvin sadar ini
semua salahnya. Dan Alvin sangat sadar bahwa ia tidak lebih dari seorang
pecundang yang tidak punya hati. Persis seperti apa yang Cakka katakan tadi.
“lo fikir lo hebat karna bisa mainin
perasaan Sivia seperti itu? Lo fikir apa yang lo lakuin itu hebat karna udah
membuat Sivia terluka? Lo bener-bener nggak punya hati, Alvin”
“gue tau gue salah, Kak, gue—“
“emang lo salah, dan itu nggak perlu
lo omongin lagi. Dimana hati lo waktu lo ngelakuin hal yang sangat menyakitkan
buat Sivia itu? Sekalipun lo masih cinta sama Pricill, harusnya lo bisa tegas
sama hati lo dengan memilih salah satu diantara mereka, bukannya lo malah
ngelakuin tindakan pengecut seperti ini”
“gue menyesal, Kak. Gue akan minta
maaf sama Sivia, dan gue juga…. Akan putusin Pricilla. Semenjak kejadian itu gue
sadar, kalo Cuma Sivia yang ada dihati gue, kalo Cuma Sivia yang gue cintai,
dan bukan Pricill yang dulu pernah ninggalin gue”
“PERCUMA…. Percuma kalo lo nyesel
sekarang! Penyesalan lo sekarang udah sia-sia, nggak ada gunanya lagi, Alvin.
Karena apa? Karena gue nggak akan ngasih lo kesempatan sedikitpun untuk
ngedeketin Sivia. Gue akan rampas dia dari tangan lo seperti apa yang pernah
gue bilang dulu. Lo tentu masih inget kan?”
“Kak gue mohon… gue cinta sama
Sivia, gue… gue nggak bisa ngelepasin dia gitu aja dan balik sama Pricill,
nggak bisa Kak….”
“sayangnya gue juga cinta sama
Sivia. Udah cukup gue ngalah buat lo selama ini, udah cukup Alvin. Kali ini gue
nggak akan ngalah lagi. Gue akan pertahankan apapun yang gue fikir berhak buat gue
miliki, termasuk itu Sivia. Dan akan gue pastiin, Sivia nggak akan pernah
kembali lagi ketangan lo, nggak akan pernah Alvin. Gue pernah kasi lo
kesempatan sekali, tapi kesempatan itu malah lo sia-siain gitu aja. LO BODOH!!”
Setelah puas menumpahkan emosinya
pada Alvin, Cakka pun berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin sendiri.
Beberapa saat setelah kepergian Cakka, Alvin langsung meninju udara untuk
melampiaskan emosinya. Jujur saja, Alvin merasa sedikit takut dengan apa yang
Cakka katakan tadi. Alvin takut Cakka akan benar-benar merebut Sivia darinya.
Tapi Alvin tidak akan mengalah
begitu saja. Dengan segenap kekuatan yang ia miliki, ia akan berusaha untuk
mempertahankan Sivia agar tetap berada disisinya. Tidak ada siapapun yang bisa
merebut Sivia dari tangannya, tidak dengan Cakka, tidak dengan siapapun. Sivia
miliknya, hanya miliknya.
“nggak bisa, Kak. Lo nggak akan bisa
ngerebut Sivia dari gue, nggak akan pernah. Sivia Cuma milik gue, dia Cuma
untuk gue…” lirih Alvin. Sebulir air matanya menetes secara perlahan.
****
Sivia menatap kalung pemberian Alvin
untuk beberapa saat. Kalung itu seakan menyeret ingatan Sivia kembali ke masa
lalu. Semua kenangan kebersamaannya dengan Alvin berpendar kembali diingatannya
seperti sebuah Film yang diputar ulang. Sekali lagi Sivia menitikkan air
matanya. Dan Sivia berjanji ini air mata terakhir yang ia keluarkan karna
Alvin.
“Mbak Via udah siep belom? Ayah sama
Ibu udah nungguin tuh” ucapan Bagas itu langsung menarik Sivia dari ingatan
panjangnya itu. Sivia menyeka air matanya lalu menoleh kearah Bagas,
“iya, Gas. Mbak Via udah siep kok…”
“ya udah cepetan. Setengah jam lagi
kita harus sudah tiba di Bandara”
“iya, Mbak tau”
Bagas berdecak kecil lalu
meninggalkan kamar Sivia. Entah bagaimana ceritanya, air mata itu kembali
menetes dengan deras. Ada rasa tidak sanggup yang terlintas dibenaknya ketika
ia harus meninggalkan Alvin dengan cara seperti ini. Tapi bukankah ini yang
Alvin mau? Sivia tidak bisa terus menahan Alvin disisinya sementara Alvin
mencintai orang lain. Sivia tidak ingin memaksa Alvin untuk bisa mencintainya
seperti apa yang ia inginkan. Bukankah Cinta tidak pernah bisa dipaksa
kehadirannya? Bukankah Cinta itu hadir dengan senantiasa tanpa adanya paksaan?
jika pun harus memaksa, maka selamanya cinta itu tidak akan pernah menjadi
cinta yang tulus, dan bukankah semua orang menginginkan cinta yang tulus?
Sivia menegakkan tubuhnya dan
berusaha untuk tersenyum. Semua ini sudah menjadi keputusannya. Sivia tidak
akan menyesalinya. Sivia menyeka sebulir air mata yang tersisa disudut matanya,
lalu memasukan kalung pemberian Alvin itu kedalam sebuah kotak berwarna merah
bersama beberapa barang lainnya yang ingin ia berikan dan kembalikan pada
Alvin. Sivia menutup kotak itu lalu berdiri.
“semoga lo bahagia selalu sama
Pricill… lo best friend forever gue, haha…” Sivia tertawa miris lalu melangkah
keluar dari dalam kamarnya.
Ayah, Ibu dan Bagas sudah menunggu
Sivia didalam mobil. Sebelum memasuki mobil, Sivia sempat mengedarkan
pandangannya kesegala arah. Ia menyapu pandangannya keseluruh bagian halaman
rumahnya. Dan Sivia tersenyum miris ketika mendapati sebuah tulisan yang
menempel dipintu rumahnya. Tulisan itu berbunyi; “RUMAH INI DIJUAL”
“Ayo Via, nanti telat” kata Ayah
tiba-tiba. Sivia mengangguk lalu berkata pada Penjaga rumahnya yang
membukakannya pintu mobil,
“Pak Ujang, nanti kalo Alvin kesini
nyariin Via, tolong ini dikasi ya ke dia” Pak Ujang menerima kotak berwarna
merah itu dari tangan Sivia,
“Siap Non”
“dan inget, kalo Alvin nanya kemana
Via sekeluarga pindah, Pak Ujang bilang aja nggak tau. Jangan sampe Alvin tau
kemana Via pindah”
“iya Non”
“makasih Pak Ujang”
Sivia memasuki mobilnya lalu duduk
jok belakang bersama Bagas.
“Pak Ujang, rumahnya dijaga
baik-baik ya sampe ada pembeli yang menghubungi” kata Ayah sebelum menjalankan
mobil.
“siap Tuan! Rumah ini pasti akan
saya jaga dengan baik”
Ayah pun menjalankan mobilnya. Mobil
yang membawa Sivia dan keluarganya itu bergerak perlahan meninggalkan rumah
yang penuh dengan kenangan itu. Hati Sivia semakin pedih. Dalam hati ia
meronta. Andai Sivia punya pilihan lain, tapi saat ini Tuhan tidak
memberikannya pilihan apapun.
Alvin bukanlah alasan satu-satunya
yang membuat Sivia dan keluarganya harus pindah dari kota ini. Tapi ada alasan
lain yang membuat mereka harus pindah.
Semenjak beberapa minggu yang lalu,
sebenarnya Ayah Sivia sudah dipindah tugas dari kota ini. Tapi karena Sivia
belum siap meninggalkan Alvin, pekerjaannya dan Sahabat-sahabatnya, Sivia
akhirnya membuat penawaran dengan kedua orang tuanya. Sivia meminta untuk tetap
tinggal dikota ini sendiri. Awalnya Ayah Sivia menolak, tapi setelah Sivia
mati-matian meyakinkan Ayahnya, akhirnya Ayah bersedia untuk meninggalkan Sivia
sendiri.
Tapi semalam, tepatnya malam sebelum
Keluarganya benar-benar pindah, Sivia akhirnya memutuskan untuk mengikuti
Keluarganya. Sivia telah benar-benar pergi, pergi sejauh mungkin dari kehidupan
Alvin.
Keputusan ini adalah keputusan terberat yang pernah Sivia
ambil seumur hidupnya.
****
Dari kejauhan Shilla melihat sosok
Pricilla yang tengah berjalan sambil melihat-lihat kesekeliling. Awalnya Shilla
tidak yakin bahwa Gadis itu adalah Pricilla, tapi setelah Shilla meyakinkan
pengelihatannya dengan mengamatinya baik-baik, Shilla akhirnya benar-benar yakin
bahwa Gadis itu adalah Pricilla. Pricilla datang ke Kampusnya pasti untuk
menemui Alvin, fikir Shilla.
Otak Shilla berfikir cepat. mendadak
sebuah ide timbul diotaknya begitu saja. Tidak butuh waktu yang lama untuk
memikirkan segalanya, Shilla langsung melangkah besar-besar menghampiri Gadis
itu yang kini sudah duduk disebuah bangku panjang yang terdapat di taman
Kampus. Kali ini emosi Shilla sudah benar-benar mencapai puncak klimaks, ia
merasa tidak tahan lagi jika harus menahan semuanya lebih lama lagi.
“Hey lo!” panggil Shilla dengan nada
sesinis mungkin ketika ia sudah berdiri tepat dihadapan Gadis itu. Pricilla
yang sejak tadi focus dengan ponselnya langsung mengangkat wajahnya ketika ia
merasa ada yang menegurnya.
Kedua mata Pricilla menyipit ketika
menatap wajah Shilla. Pricilla mengamati baik-baik wajah Shilla dengan tatapan
menerawang. Tidak lama kemudian sebuah senyuman pun tersungging diwajah
cantiknya,
“SHILLA??” Pricilla bangkit dari
duduknya dengan wajah semuringah,
“ya ampun Shilla? Lo apa kabar, gue
kangen sama lo tau nggak—“
Ketika Pricilla akan memeluk Shilla,
Shilla langsung menahannya,
“ck… lo nggak usah sok dramatis deh.
Lo fikir gue bakalan kangen sama lo setelah apa yang lo lakuin terhadap Alvin 2
tahun yang lalu, dan setelah apa yang lo lakuin terhadap Sivia?”
“Shilla maksud lo apa?”
“elo pura-pura begok apa begok
beneran sih sebenernya, Priss?”
“Shill, gue nggak ngerti”
“jelas lah lo nggak ngerti. Ternyata
lo sama aja kayak PACAR LO YANG PENGECUT ITU” Kata Shilla tak sabar. Emosinya
sudah benar-benar memuncak tanpa ia sendiri bisa kendalikan.
“apa perlu gue jelasin semuanya ke
elo biar lo ngerti dan nggak belaga begok lagi kayak gini?”
Pricilla hanya bisa diam seraya
menunduk dalam. Sungguh ia benar-benar tidak mengerti dengan
perkataan-perkataan Shilla itu. Kenapa Shilla bersikap seperti ini padanya?
Memangnya Pricilla pernah buat kesalahan apa?
“asal lo tau ya, Priss? Alvin sama
Sivia itu pacaran, dan belom genap sehari mereka jadian lo malah dateng lagi
dan ngehancurin semuanya. HARUSNYA LO NGGAK PERNAH KEMBALI LAGI , PRISS.
HARUSNYA LO NGGAK USAH DATENG LAGI KE SINI DAN NGEHANCURIN SEMUANYA!!” Bentak
Shilla dengan keras.
Pricilla kaget sekaget-kagetnya.
Alvin dan Sivia berpacaran? Sejak kapan? Kenapa Pricilla tidak pernah tahu
tentang ini sebelumnya?
“a.. apa? Elo… elo bilang apa tadi?
Alvin dan Sivia pa… pacaran? Elo nggak bohong kan, Shill?”
“lo fikir gue masih bisa berbohong
dalam keadaan kayak gini? 2 tahun Priss lo pergi ninggalin Alvin tanpa kabar
apapun, dan sekarang lo balik lagi dengan seenaknya dan ngehancurin kebahagiaan
Sivia yang selama ini udah berkorban banyak hal buat Alvin, Yang selama 7 tahun
ini terus setia nemenin Alvin yang sering nyakitin dia, dan mungkin elo juga
nggak perah tau, jauh waktu sebelum lo kenal Alvin, Alvin dan Sivia pernah
deket dan nyaris pacaran. Lo nggak pernah tau kan??”
Pricilla menggeleng dan berusaha
keras membendung air matanya. Ya… Pricilla memang tidak pernah tahu akan hal
itu. Sekalipun Alvin tidak pernah bercerita padanya.
“Alvin itu cinta pertama Sivia, dan
Sivia itu cinta pertama Alvin. Waktu kelas 7 SMP dulu mereka nyaris jadian kalo
aja kedua orang tua Sivia ngijinin Sivia pacaran. 7 Tahun yang lalu, sebelum lo
dateng dikehidupan mereka, Alvin pernah berjanji dihadapan Sivia. Gue, Rio dan
Ify yang menjadi saksi ketika itu. Alvin berjanji akan menunggu Sivia sampai
lulus SMP dan mendapatkan ijin pacaran dari kedua orang tuanya, tapi sebelum
kelulusan itu terjadi, lo malah dateng dan bikin Alvin ngingkarin janjinya, elo...
Elo yang udah hancurin semuanya, elo yang udah ngerusak semuanya. HARUSNYA LO
NGGAK PERNAH ADA PRISS… HARUSNYA LO NGGAK PERNAH ADA!!” Shilla semakin tidak
bisa mengontrol dirinya.
“sejak awal gue nggak pernah
menginginkan kehadiran lo, Priss. Dan sejak awal juga gue udah benci sama lo.
Ngerti lo??”
“tapi Alvin jatuh cinta sama gue itu
bukan kesalahan gue kan, Shill?” Pricilla akhirnya berucap. Ia membalas tatapan
tajam Shilla dengan linangan air mata yang membanjiri wajah cantiknya. Pricilla
tidak pernah berfikir sebelumnya bahwa Shilla akan sebenci ini padanya.
Shilla tertawa sinis lalu membalas
perkataan Pricilla baru saja,
“hahaha… iya, Alvin jatuh cinta sama
lo itu memang bukan kesalahan lo, tapi kesalahan terfatal yang pernah lo lakuin
adalah, lo pergi ninggalin Alvin gitu aja dan kembali lagi dengan seenak hati
lo! Itu kesalahan terfatal yang pernah lo lakuin. Kesalahan terfatal dan tidak
termaafkan lainnya yang pernah lo lakuin adalah, lo udah ngerebut Alvin dari
tangan Sivia setelah Sivia berkorban banyak hal buat Alvin”
Shilla yang sudah tidak bisa
mengontrol emosinya lagi secara reflex mengangkat tangan kananya hendak
melayangkan sebuah tamparan diwajah Pricilla. Pricilla memejamkan matanya dan
berusaha pasrah jika Shilla benar-benar menamparnya detik ini juga. Jujur saja,
setelah mendengar semua perkataan Shilla tadi, Pricilla merasa sangat berdosa
terhadap Alvin, lebih-lebih terhadap Sivia. Seseorang yang selama ini selalu ia
anggap sebagai sahabat sejatinya.
Tapi sebelum tamparan itu mendarat
diwajah Pricilla, tahu-tahu ada seseorang yang menahan tangan Shilla hingga
tangan Shilla menggantung diudara.
“Shilla jangan!!” kata Alvin sedikit
keras. Dalam satu sentakan kuat Shilla melepaskan tangannya dari genggaman
Alvin.
“lo udah gila ya, Shill? Elo… elo
udah nggak punya otak”
“haha… lo bilang gue nggak punya
otak? Kalian yang nggak punya otak!! Nyiksa anak orang kok nggak
tanggung-tanggung” ucap Shilla dengan nada mengejek.
“sekarang gue udah sadar Shill, gue
yang salah, gue yang pengecut, dan gue juga udah sadar kalo yang gue cintai
sebenernya itu adalah Sivia, dan bukan dia” kata Alvin seraya menunjuk kearah
Pricilla.
Pricilla hanya diam dan tidak
menunjukan reaksi apapun ketika Alvin mengucapkan kalimat itu.
“baru sekarang lo sadar? Selama ini
lo kemana aja? HAH??”
“Gue udah akuin kalo emang gue yang
salah, terus lo mau apa lagi? Udahlah Shill, ini masalah gue sama Sivia, jadi
biar gue yang selesein, lo nggak usah ikut campur dan lo nggak berhak ikut
campur!”
Shilla membelalak. Apa yang baru
saja Alvin katakan?
“lo bilang apa? Gue nggak berhak
ikut campur?? 14 tahun kita sahabatan dan sekarang lo bilang gue nggak berhak
ikut campur dalam masalah kalian?? Elo.. elo tuh—“
“STOOOOPPPPPP!!!” Teriak Pricilla
pada akhirnya.
“ini semua kesalahan gue. Gue yang
salah karna selama ini nggak pernah peka sama keadaan, kalian nggak usah saling
nyalahin lagi. Dan buat kamu, Alvin, lebih baik kamu nggak usah bela aku lagi,
aku nggak berhak buat kamu bela. Sekarang kalo pun kamu lebih milih Sivia, aku
ikhlas Alvin, aku nggak akan nahan kamu disisi aku lagi, nggak akan Alvin”
“maafin aku, Priss… maaf karna
selama ini aku nggak pernah bisa jujur sama kamu”
“aku ngerti, Alvin, aku ngerti…” air
mata Pricilla semakin deras menetes.
“kembalilah sama Sivia Alvin, kejar
dan pertahankan cintamu. Nggak usah fikirin aku lagi, nggak usah ngerasa nggak
enak hati lagi sama aku, dan nggak usah ngerasa kasian lagi sama aku karna aku
baik-baik saja”
“Priss…”
“sekarang aku udah ngelepasin kamu,
Alvin. Dan aku akan pulang ke German, aku nggak akan kembali lagi kesini
seperti apa yang Shilla mau…”
Shilla hanya diam. Ia sudah merasa
sangat malas jika harus meladeni ucapan Pricilla lagi.
“makasih, Priss, makasih…” ujar
Alvin sambil tersenyum lega. Jujur saja, ia tidak pernah merasa selega ini
sebelumnya.
Lalu tanpa membalas perkataan Alvin,
Pricilla pun berlalu dari hadapan Alvin dan Shilla. Pricilla melangkah dengan
langkah gontai. Saat ini Ia merasa seperti tidak memiliki kekuatan lagi.
Rasanya begitu sakit saat ia harus melepaskan orang yang begitu ia cintai
begitu saja.
“Prissy….” Ujar seseorang yang
tiba-tiba saja muncul dihadapan Pricilla sambil menahan pundak Pricilla.
Pricilla menghantikan langkahnya, senyuman serta tatapan teduh dari Gabriel
langsung menyambutnya,
“Iel….?”
“gue anter ya?” tidak lama kemudian,
Gabriel mengalihkan tatapannya kearah Shilla yang ketika itu juga ternyata
sedang menatapnya. Merasa tertangkap basah, Shilla langsung membuang tatapannya
kearah lain.
Gabriel tersenyum tipis, ia
merangkul pundak Pricilla yang rapuh lalu membawanya pergi dari tempat itu.
Merasa langkah Gabriel dan Pricilla sudah lumayan jauh, Shilla kembali menatap
punggung Gabriel yang nyaris saja menghilang dari pandangannya. Ada rasa aneh
nan mengganggu yang tiba-tiba saja ia rasakan ketika melihat Gabriel merangkul
Pricilla seperti itu.
“apa lo bener-bener
cinta sama gue, Yel?” batin Shilla.
****
“Sivia kemana ya, Shill? 3 hari itu
anak nggak masuk tanpa kabar” kata Ify pada Shilla. Ya, selama 3 hari ini atau
tepatnya semenjak Sivia melihat Alvin jalan bersama dengan Pricilla di Mall 4
hari yang lalu Sivia tidak pernah lagi menampakkan dirinya di Kampus. Shilla
berfikir, bahwa Sivia memang butuh waktu untuk sendiri. Dan Shilla tahu itu,
tapi Ify yang tidak tahu.
“lo belom tau masalah yang
sebenernya?” Tanya Shilla pelan. Ify hanya mengangguk polos karena ia memang
belum paham dengan masalah yang sedang terjadi,
“4 hari yang lalu, tepatnya hari
minggu, Via mergokin Alvin jalan bareng sama Pricill”
“WHAAAATT????” Kaget Ify, “maksud
lo…. Alvin nikung Sivia?” Tanya Ify tak percaya,
“ada kata yang lebih sadis lagi
nggak dari kata Nikung?”
“SELINGKUH” Jawab Ify cepat.
“ya itu maksud gue. Sejak hari itu
Via nggak masuk lagi, mungkin dia lagi butuh waktu sendiri, dan sebagai
sahabatnya kita harus hargai semua keputusannya”
“terus Alvin sama Pricill gimana?”
“mereka akhirnya putus. Itu pun
setelah gue ngelabrak Si Pricill itu habis-habisan. Coba kalo itu anak nggak
gue labrak, mungkin sampe sekarang dimasih belum tau kalo Alvin dan Sivia
pacaran”
“lo seriusan ngelabrak Si Pricill”
“lo fikir gue becanda??” Tanya Sivia
kesal sambil menatap Ify dengan tatapan galak. Melihat tatapan Shilla, Ify
hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
“terus lo sendiri gimana sama Ray?
Masih ada hubungan sama dia?”
“kok jadi bawa-bawa Ray sih? Orang
udah lama putus juga, eh Ray itu Cuma masa lalu tau? Sekarang sih udah ada
penggantinya”
“WHAAAATTTT?? LO PUNYA PACAR LAGI?”
Kali ini giliran Shilla yang kaget. Bagaimana tidak kaget, jika beberapa minggu
yang lalu Ify masih menangisi Ray tapi sekarang?
“iya doongggg… emangnya elo apa yang
masih betah sama status jomblo lo itu” sindir Ify.
Shilla melipat kedua tangannya
didepan dada lalu membuang tatapannya kearah lain, jika sudah seperti ini ia
merasa bosan menanggapi Ify.
“haha… becanda Shill… becanda…. Lo
nggak usah manyun gitu lah. Jelek tau? Eh, lo mau tau nggak pacar baru gue
siapa?”
Shilla hanya menggeleng dengan
malas. Ify pun lebih mendekati Shilla lalu membisikan sesuatu ditelinga
sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian…..
“APAAAA??? LO PACARAN SAMA RIO?
COWOK PLAY BOY ITU?” Teriak Shilla beberapa saat setelah Ify membisikinya.
“stttt… jangan keras-keras, elo ah
rese tau? Dan Rio udah bukan play boy lagi. Inget tuh!” kata Ify sebal.
“HAHAHAHAHA…. Yakin lo?”
“yakinlah. Beberapa minggu yang lalu
Rio mutusin semua pacar-pacarnya dan dia juga ngaku ke setiap pacarnya kalo dia
itu play boy, alhasil atas pengakuan Rio itu dia ngedapetin tamparan dari semua
pacar-pacarnya. Dan Rio bilang itu semua dia lakuin Cuma buat gue”
“ah… omongan semua cowok play boy
itu sama aja” cibir Shilla yang sebenarnya hanya ingin bergurau saja.
“SHILLAAAA….” Pekik Ify sedikit
keras. Shilla tertawa kencang lalu memeluk tubuh Ify dari samping,
“Hahahaha… becanda, Fy! Semoga kali
ini lo langgeng ya sama Rio? Tenang aja, kalo Si Rio berani nyakitin lo
sedikiiiittt aja, gue yang akan urus itu anak….”
“makasih Shillaaaaaa…..” Ify pun
membalas pelukan Shilla.
“eh, Shill…” ujar Ify tiba-tiba seraya
melepaskan pelukannya dari Shilla,
“hmm?”
“hari ini kita kerumah Via ya? Gue
kangen sama bocah satu itu”
“siipp… nanti kita kerumah Via”
****
3 hari tidak pernah bertemu dengan
Sivia cukup membuat Alvin merindukan Gadis itu. Dan hari ini Alvin memutuskan
untuk bolos dari kampus hanya untuk menemui Sivia di ANH-Radio. Hari ini adalah
hari rabu, dan Alvin tahu bahwa pada hari Rabu Sivia memiliki jadwal siaran
pagi. Kali ini Alvin benar-benar tidak mau keduluan oleh Cakka, dan Alvin tidak
akan memberikan Cakka sedikitpun kesempatan untuk merebut Sivia dari tangannya.
Alvin percaya, bahwa hanya dialah satu-satunya Pria yang Sivia cintai.
Alvin mengendarai motornya dengan
tidak sabar menuju ANH-Radio. Sejenak Alvin menatap setangkai bunga mawar merah
yang ada ditangan sebelah kanannya. Tadi ditengah perjalanan Alvin sempat
mampir disebuah toko bunga untuk membeli bunga itu buat Sivia. Alvin akan
memberikan bunga itu pada Sivia sebagai tanda permintaan maafnya. Dan Alvin
berjanji setelah ini tidak akan lagi menyakiti Sivia, dan kali ini Alvin
bersungguh-sungguh dengan janjinya itu.
“lo kesini nyariin Via?” Tanya Deva
pada Alvin ketika Alvin sudah tiba di ANH-Radio. Alvin hanya mengangguk sambil
tersenyum lebar. Deva menampakkan raut wajah menyesal,
“lo telat Alvin. 3 hari yang lalu,
tepatnya sebelum Sivia berangkat ke Airport, Sivia sudah resmi mengundurkan
diri dari ANH-Radio”
Mendengar ucapan Deva, mendadak
bunga yang ada ditangan Alvin terjatuh ke lantai. Apa Deva sedang mengerjainya?
“ke Airport? Mengundurkan diri?
Maksud lo?” Tanya Alvin tak percaya. Perasaannya mulai tidak karuan.
“Sivia udah pergi dari kota ini,
Alvin. Sivia udah nggak tinggal di Jakarta lagi”
“terus Via kemana?” Tanya Alvin
panic.
“entahlah, Via nggak bilang dia mau
pindah kemana, coba aja lo kerumahnya dia, Tanya sama orang sana, mungkin
mereka tau”
Perkataan-perkataan Deva itu terus
berpendar diingatan Alvin dan membuat konsentrasinya buyar. Alvin semakin
mempercepat laju motornya, ia bahkan sama sekali tidak peduli dengan suasana
jalanan yang sangat ramai. Yang Alvin tahu sekarang hanyalah ia harus segera
tiba dirumah Sivia.
10 menit kemudian, Alvin tiba
dirumah Sivia. Ia menghentikan motornya tepat didepan gerbang rumah Sivia.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Alvin turun dari motornya. Dan Alvin
merasa terpukul ketika ia mendapati sebuah tulisan yang tertempel dipintu rumah
Sivia yang berbunyi; “RUMAH INI DIJUAL”
Mendadak Alvin merasakan sesak,
kedua matanya mulai terasa panas dan telah siap mengeluarkan air mata. Kemana
Gadis itu pergi? Apa perasaannya sehancur itu sampai ia harus pergi
meninggalkan Alvin dan semua kenangan mereka? Alvin bahkan belum sempat
mengatakan kalau dia telah memilih Sivia. Mendadak Alvin merasa lemah, ia
merasa tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Gadis itu telah
benar-benar pergi meninggalkannya.
“Mas Alvin?” Tanya Pak Ujang yang
tiba-tiba saja muncul dari dalam rumah Sivia. Melihat kehadiran Pak Ujang itu
Alvin seakan memiliki sebuah harapan.
“Pak Ujang tau kemana Sivia dan
keluarganya pindah?” Tanya Alvin langsung dan tanpa basa basi apapun. Pak Ujang
terlihat berfikir sejenak lalu…
“maaf Mas Alvin, tapi saya nggak tau
kemana mereka sekeluarga pindah, baik Non Via, Tuan atau Nyonya nggak bilang
apa-apa. Mereka Cuma pesen sama saya buat jaga rumah ini sampe ada pembeli yang
menghubungi, Cuma itu, Mas….”
“Pak Ujang nggak bohong kan?” nada
bicara Alvin terdengar sedikit bergetar. Pak Ujang terlihat kebingungan
sendiri. Dia harus bagaimana lagi sekarang supaya Alvin mempercayainya?
“tapi Non Via titip sesuatu buat Mas
Alvin”
“apa itu?”
“tunggu sebentar ya, Mas? Saya ambil
dulu didalam”
Pak Ujang berlari kecil memasuki
rumah. Tidak lama kemudian Pak Ujang kembali lagi dengan membawa sebuah kotak
berwarna merah. Pak Ujang langsung menyerahkan kotak itu pada Alvin,
“ini dari Non Via, Mas?”
Setelah menerima kotak berwarna
merah itu Alvin langsung pergi dari rumah Sivia tanpa mengucapkan sepatah
katapun pada Pak Ujang. Pak Ujang menatap Alvin dengan tatapan prihatin, dalam
hati beliau mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa membantu
Alvin. Sebenarnya beliau ingin memberitahukan pada Alvin tentang keberadaan Sivia
dan keluarganya sekarang, tapi mau bagaimana lagi? Beliau sudah terlanjur janji
pada Sivia untuk tidak memberitahukan pada siapapun terlebih pada Alvin kemana
mereka sekeluarga pindah. Pak Ujang merasa menjadi serba salah.
Alvin sudah tidak bisa lagi menahan
air matanya, ia meneteskan air matanya sebanyak ia mampu, bahkan Alvin sama
sekali tidak peduli betapa cengengnya ia sekarang. Yang Alvin tau hanyalah, ia
merasa sangat terpukul dengan kepergian Sivia. Kenapa? Kenapa Sivia harus
menghukumnya dengan cara seperti ini?
Alvin semakin mempercepat laju
motornya seiring tangisannya yang kian memecah. Alvin mengapit kotak pemberian
Sivia dilengannya sekuat mungkin agar kotak itu tidak terjatuh.
Dari arah yang berlawanan ada sebuah
mobil pick-up yang tengah melaju dengan kecepatan maksimal, dan Alvin sama
sekali tidak menyadari itu. Ia bahkan belum sempat menghindar. Semuanya terjadi
begitu cepat, Alvin bersama motornya sudah tergelatak ditengah jalan, dan kotak
pemberian Sivia itu jatuh tepat disamping tubuh Alvin yang tergelatak.
“Sivia… kamu dimana?
Aku Cuma mau minta maaf… aku Cuma mau nebus semua kesalahan aku sama kamu. Apa
kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi? Apa kamu bener-bener benci
sama aku….? Sivia… kamu dimana? Aku Cuma mau bilang kalau Cuma kamu yang aku
cintai, aku Cuma mau bilang kalau kamu begitu berarti bagiku. Sivia… kamu
dimana? Tolong maafin aku….”
Perlahan Alvin merasa semuanya
gelap. Entah kenapa seluruh tubuhnya terasa sangat ringan, bahkan Alvin sudah
tidak mampu merasakan apapun…
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment