Saturday, August 24, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 16 [Sivia, Where Are You?]




“Tuhan… Tolonglah aku
Kembalikan dia…. Kedalam pelukku…
Karena ku tak bisa mengganti dirinya
Ku akui jujur aku tak sanggup… sungguh aku tak bisa….”


                “Hay Shill…” Tegur Gabriel yang tiba-tiba saja muncul disamping Shilla yang tengah berjalan menuju Gedung Fakultasnya. Shilla menghentikan langkahnya sebentar dan melirik kearah Gabriel yang ketika itu tengah memamerkan senyuman manisnya. Senyuman manis yang selalu bisa membuat jantung Shilla seperti meloncat-loncat kegirangan didalam sana, senyuman manis yang selalu bisa membuat Shilla merasakan perasaan-perasaan aneh yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Akankah itu cinta? Tapi bagaimana  Shilla bisa mencintai Pria yang sudah berstatus menjadi tunangan orang ini? Apalagi Gabriel ini adalah tunangan Pricilla. Seseorang yang paling Shilla benci seumur hidupnya.
            Tidak lama melirik kearah Gabriel, Shilla pun melanjutkan langkahnya. Shilla berlalu begitu saja tanpa memiliki niat sedikitpun untuk membalas sapaan Gabriel tadi. Gabriel heran. Kenapa Shilla tiba-tiba begitu? Apa ada sesuatu yang tidak beres?
            Tidak ingin terlalu banyak berfikir, Gabriel pun mengejar langkah Shilla lalu menarik pergelangan tangan Gadis itu,
            “lo kenapa? Kok tiba-tiba cuek gini ke gue?” Tanya Gabriel tak paham. Ia benar-benar butuh penjelasan atas sikap Shilla ini.
            Dalam satu sentakan kuat, Shilla melepaskan tangannya dari genggaman Gabriel. Lalu tanpa menatap wajah Gabriel sedikitpun Shilla berkata,
            “mulai hari ini lo lebih baik nggak usah ngedeketin gue lagi, Yel”
            Gabriel tertawa pelan. Ia merasa sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja Shilla ucapkan. Dan Gabriel merasa bahwa Shilla hanya bergurau saja.
            “hahahaha… lo ngomong apa sih, Shill?”
            “apa semuanya kurang jelas, Gabriel? Gue bilang jangan deketin gue lagi. Mulai hari ini sebaiknya kita nggak usah ketemu. Dan satu lagi, jaga tunangan lo itu baik-baik! Bilang sama dia, jangan Cuma bisa ngerusak hubungan orang lain! Paham?”
            “Shill, gue nggak ngerti maksud lo apaan?” kata Gabriel sedikit emosi. Kenapa tiba-tiba Shilla memintanya untuk menjauhinya. Apa Shilla tidak sadar bahwa Gabriel mulai menyukainya?
            “dan gue lebih-lebih nggak ngerti sama lo, Yel! Lo tiba-tiba aja dateng lalu minta sama Alvin buat balikan lagi sama Pricill, maksud lo apa?”
            “Shilla—“
            “tapi apapun maksud dan tujuan lo dibalik semua itu, gue nggak peduli dan nggak akan pernah peduli, ngerti lo? Dan asal lo tau, apa yang lo mau sudah terkabulkan, karna sekarang Alvin dan Pricilla sudah balikan lagi! PUAS LO, YEL? PUAS??”
            Shilla melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ia melangkah secepat ia bisa meninggalkan Gabriel yang masih diam terpaku ditempat. Shilla berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh. Kenapa rasanya sakit sekali ketika ia tahu bahwa Gabriel adalah tunangan Pricilla? Kenapa rasanya sakit sekali saat Shilla harus membentak Pria itu dan memintanya untuk menjauhi dirinya? Kenapa? Kenapa rasanya harus sesakit ini?
            “TAPI GUE SAYANG SAMA LO, ASHILLA! GUE BISA LAKUIN APAPUN YANG LO MINTA KECUALI NGEJAUHIN LO! GUE NGGAK BISA NGELAKUIN ITU” Teriak Gabriel tiba-tiba ditengah keramaian itu.
            Pada akhirnya Shilla menghentikan langkahnya. Apa Shilla tidak salah dengar?
            “GUE BENER-BENER CINTA SAMA LO, SHILLA! DAN LO NGGAK PERNAH TAHU KAN KALO LO ITU UDAH BIKIN GUE NGELUPAIN SEMUA AMBISI GUE? GUE NGGAK BISA NGEJAUHIN LO SEPERTI APA YANG LO MINTA”
            Gabriel kembali berteriak keras. Bahkan ia sama sekali tidak peduli ketika perhatian semua orang mengarah padanya. Yang Gabriel tahu saat ini hanyalah, ia harus menyatakan perasaannya yang sebenarnya terhadap Shilla.
            Shilla memejamkan kedua matanya sejenak dan membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan lolos begitu saja. Kali ini pertahanan Shilla sudah jebol. Ternyata bentengnya tidak sekuat seperti apa yang ia fikir. Perasaannya pada Pria ini sama sekali tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi bagaimana bisa Shilla hidup bersama dengan Pria yang sudah menjadi tunangan orang lain, terlebih itu Pricilla.
            “GUE NGGAK PEDULI LO ADA MASALAH APA SAMA PRISSY SAMPE LO SEBENCI INI SAMA DIA. GUE NGGAK PEDULI SHILLA, YANG GUE TAHU GUE UDAH GUE JATUH CINTA SAMA LO, BAHKAN SEJAK PERTAMA KALI KITA KETEMU” Teriak Gabriel –lagi-
            Hening untuk beberapa saat. Tidak lama Shilla akhirnya berucap,
            “maaf, tapi gue nggak bisa mencintai seseorang yang udah ngerusak kebahagiaan sahabat gue. Gue nggak bisa, Iel…” ada nada ketidak sanggupan disana. Rasanya berat sekali bagi Shilla. Perih itu secara perlahan mulai mengusik batinnya.
            Shilla pun melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Gabriel bersama rasa kecewanya. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Shilla melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani dan kata hatinya.


****

            BUKKKK…. Sebuah bogem mentah mendarat tepat diwajah Alvin ketika ia baru saja akan keluar dari areal Parkir Kampusnya. Alvin nyaris jatuh tersungkur jika saja ia tidak bisa menahan dirinya. Alvin mengusap darah yang menetes dari tepi bibirnya lalu melihat kearah Pria yang sudah memukulnya secara tiba-tiba itu. Cakka.
            Kedua mata Alvin membelalak lebar. Ia terkejut karna tiba-tiba saja Cakka menyerangnya seperti ini. Padahal tadi dirumah mereka berdua masih baik-baik saja, tapi sekarang? Alvin benar-benar tidak mengerti.
            “Kak Cakka lo apa-apaan sih? Kok maen hajar aja?” Tanya Alvin tak paham. Cakka tersenyum sinis lalu sekali lagi  mendaratkan sebuah pukulan pada perut Alvin.
            “uph…” Alvin meringis kesakitan. Tapi ia masih bisa menahan dirinya agar tidak terjatuh.
            “lo pasti heran kan kenapa gue ngehajar lo padahal tadi dirumah kita masih baik-baik aja? LO HERAN KAN?” Bentak Cakka dengan keras. Beberapa orang yang tengah lalu lalang kini malah memperhatikan kedua Kakak-Beradik yang tengah bersitegang ini.
            “gue Cuma nggak mau Mami sama Papi ngeliat gue ngehajar lo! Dan yang terpenting gue nggak Mami sama Papi tau kalo anak kesayangannya ini tersenyata nggak lebih dari seorang laki-laki pecundang yang nggak punya hati”
            Alvin yang mulai paham dengan masalahnya yang sebenarnya kini mulai terdiam. Ia lebih memilih menunduk dalam hening dan pasrah jika nanti Cakka melakukan apa saja padanya. Alvin sadar ini semua salahnya. Dan Alvin sangat sadar bahwa ia tidak lebih dari seorang pecundang yang tidak punya hati. Persis seperti apa yang Cakka katakan tadi.
            “lo fikir lo hebat karna bisa mainin perasaan Sivia seperti itu? Lo fikir apa yang lo lakuin itu hebat karna udah membuat Sivia terluka? Lo bener-bener nggak punya hati, Alvin”
            “gue tau gue salah, Kak, gue—“
            “emang lo salah, dan itu nggak perlu lo omongin lagi. Dimana hati lo waktu lo ngelakuin hal yang sangat menyakitkan buat Sivia itu? Sekalipun lo masih cinta sama Pricill, harusnya lo bisa tegas sama hati lo dengan memilih salah satu diantara mereka, bukannya lo malah ngelakuin tindakan pengecut seperti ini”
            “gue menyesal, Kak. Gue akan minta maaf sama Sivia, dan gue juga…. Akan putusin Pricilla. Semenjak kejadian itu gue sadar, kalo Cuma Sivia yang ada dihati gue, kalo Cuma Sivia yang gue cintai, dan bukan Pricill yang dulu pernah ninggalin gue”
            “PERCUMA…. Percuma kalo lo nyesel sekarang! Penyesalan lo sekarang udah sia-sia, nggak ada gunanya lagi, Alvin. Karena apa? Karena gue nggak akan ngasih lo kesempatan sedikitpun untuk ngedeketin Sivia. Gue akan rampas dia dari tangan lo seperti apa yang pernah gue bilang dulu. Lo tentu masih inget kan?”
            “Kak gue mohon… gue cinta sama Sivia, gue… gue nggak bisa ngelepasin dia gitu aja dan balik sama Pricill, nggak bisa Kak….”
            “sayangnya gue juga cinta sama Sivia. Udah cukup gue ngalah buat lo selama ini, udah cukup Alvin. Kali ini gue nggak akan ngalah lagi. Gue akan pertahankan apapun yang gue fikir berhak buat gue miliki, termasuk itu Sivia. Dan akan gue pastiin, Sivia nggak akan pernah kembali lagi ketangan lo, nggak akan pernah Alvin. Gue pernah kasi lo kesempatan sekali, tapi kesempatan itu malah lo sia-siain gitu aja. LO BODOH!!”
            Setelah puas menumpahkan emosinya pada Alvin, Cakka pun berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin sendiri. Beberapa saat setelah kepergian Cakka, Alvin langsung meninju udara untuk melampiaskan emosinya. Jujur saja, Alvin merasa sedikit takut dengan apa yang Cakka katakan tadi. Alvin takut Cakka akan benar-benar merebut Sivia darinya.
            Tapi Alvin tidak akan mengalah begitu saja. Dengan segenap kekuatan yang ia miliki, ia akan berusaha untuk mempertahankan Sivia agar tetap berada disisinya. Tidak ada siapapun yang bisa merebut Sivia dari tangannya, tidak dengan Cakka, tidak dengan siapapun. Sivia miliknya, hanya miliknya.

            “nggak bisa, Kak. Lo nggak akan bisa ngerebut Sivia dari gue, nggak akan pernah. Sivia Cuma milik gue, dia Cuma untuk gue…” lirih Alvin. Sebulir air matanya menetes secara perlahan.



****

            Sivia menatap kalung pemberian Alvin untuk beberapa saat. Kalung itu seakan menyeret ingatan Sivia kembali ke masa lalu. Semua kenangan kebersamaannya dengan Alvin berpendar kembali diingatannya seperti sebuah Film yang diputar ulang. Sekali lagi Sivia menitikkan air matanya. Dan Sivia berjanji ini air mata terakhir yang ia keluarkan karna Alvin.
            “Mbak Via udah siep belom? Ayah sama Ibu udah nungguin tuh” ucapan Bagas itu langsung menarik Sivia dari ingatan panjangnya itu. Sivia menyeka air matanya lalu menoleh kearah Bagas,
            “iya, Gas. Mbak Via udah siep kok…”
            “ya udah cepetan. Setengah jam lagi kita harus sudah tiba di Bandara”
            “iya, Mbak tau”
            Bagas berdecak kecil lalu meninggalkan kamar Sivia. Entah bagaimana ceritanya, air mata itu kembali menetes dengan deras. Ada rasa tidak sanggup yang terlintas dibenaknya ketika ia harus meninggalkan Alvin dengan cara seperti ini. Tapi bukankah ini yang Alvin mau? Sivia tidak bisa terus menahan Alvin disisinya sementara Alvin mencintai orang lain. Sivia tidak ingin memaksa Alvin untuk bisa mencintainya seperti apa yang ia inginkan. Bukankah Cinta tidak pernah bisa dipaksa kehadirannya? Bukankah Cinta itu hadir dengan senantiasa tanpa adanya paksaan? jika pun harus memaksa, maka selamanya cinta itu tidak akan pernah menjadi cinta yang tulus, dan bukankah semua orang menginginkan cinta yang tulus?
            Sivia menegakkan tubuhnya dan berusaha untuk tersenyum. Semua ini sudah menjadi keputusannya. Sivia tidak akan menyesalinya. Sivia menyeka sebulir air mata yang tersisa disudut matanya, lalu memasukan kalung pemberian Alvin itu kedalam sebuah kotak berwarna merah bersama beberapa barang lainnya yang ingin ia berikan dan kembalikan pada Alvin. Sivia menutup kotak itu lalu berdiri.
            “semoga lo bahagia selalu sama Pricill… lo best friend forever gue, haha…” Sivia tertawa miris lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya.
            Ayah, Ibu dan Bagas sudah menunggu Sivia didalam mobil. Sebelum memasuki mobil, Sivia sempat mengedarkan pandangannya kesegala arah. Ia menyapu pandangannya keseluruh bagian halaman rumahnya. Dan Sivia tersenyum miris ketika mendapati sebuah tulisan yang menempel dipintu rumahnya. Tulisan itu berbunyi; “RUMAH INI DIJUAL”
            “Ayo Via, nanti telat” kata Ayah tiba-tiba. Sivia mengangguk lalu berkata pada Penjaga rumahnya yang membukakannya pintu mobil,
            “Pak Ujang, nanti kalo Alvin kesini nyariin Via, tolong ini dikasi ya ke dia” Pak Ujang menerima kotak berwarna merah itu dari tangan Sivia,
            “Siap Non”
            “dan inget, kalo Alvin nanya kemana Via sekeluarga pindah, Pak Ujang bilang aja nggak tau. Jangan sampe Alvin tau kemana Via pindah”
            “iya Non”
            “makasih Pak Ujang”
            Sivia memasuki mobilnya lalu duduk jok belakang bersama Bagas.
            “Pak Ujang, rumahnya dijaga baik-baik ya sampe ada pembeli yang menghubungi” kata Ayah sebelum menjalankan mobil.
            “siap Tuan! Rumah ini pasti akan saya jaga dengan baik”
            Ayah pun menjalankan mobilnya. Mobil yang membawa Sivia dan keluarganya itu bergerak perlahan meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan itu. Hati Sivia semakin pedih. Dalam hati ia meronta. Andai Sivia punya pilihan lain, tapi saat ini Tuhan tidak memberikannya pilihan apapun.
            Alvin bukanlah alasan satu-satunya yang membuat Sivia dan keluarganya harus pindah dari kota ini. Tapi ada alasan lain yang membuat mereka harus pindah.
            Semenjak beberapa minggu yang lalu, sebenarnya Ayah Sivia sudah dipindah tugas dari kota ini. Tapi karena Sivia belum siap meninggalkan Alvin, pekerjaannya dan Sahabat-sahabatnya, Sivia akhirnya membuat penawaran dengan kedua orang tuanya. Sivia meminta untuk tetap tinggal dikota ini sendiri. Awalnya Ayah Sivia menolak, tapi setelah Sivia mati-matian meyakinkan Ayahnya, akhirnya Ayah bersedia untuk meninggalkan Sivia sendiri.
            Tapi semalam, tepatnya malam sebelum Keluarganya benar-benar pindah, Sivia akhirnya memutuskan untuk mengikuti Keluarganya. Sivia telah benar-benar pergi, pergi sejauh mungkin dari kehidupan Alvin.
Keputusan ini adalah keputusan terberat yang pernah Sivia ambil seumur hidupnya.



****

            Dari kejauhan Shilla melihat sosok Pricilla yang tengah berjalan sambil melihat-lihat kesekeliling. Awalnya Shilla tidak yakin bahwa Gadis itu adalah Pricilla, tapi setelah Shilla meyakinkan pengelihatannya dengan mengamatinya baik-baik, Shilla akhirnya benar-benar yakin bahwa Gadis itu adalah Pricilla. Pricilla datang ke Kampusnya pasti untuk menemui Alvin, fikir Shilla.
            Otak Shilla berfikir cepat. mendadak sebuah ide timbul diotaknya begitu saja. Tidak butuh waktu yang lama untuk memikirkan segalanya, Shilla langsung melangkah besar-besar menghampiri Gadis itu yang kini sudah duduk disebuah bangku panjang yang terdapat di taman Kampus. Kali ini emosi Shilla sudah benar-benar mencapai puncak klimaks, ia merasa tidak tahan lagi jika harus menahan semuanya lebih lama lagi.
            “Hey lo!” panggil Shilla dengan nada sesinis mungkin ketika ia sudah berdiri tepat dihadapan Gadis itu. Pricilla yang sejak tadi focus dengan ponselnya langsung mengangkat wajahnya ketika ia merasa ada yang menegurnya.
            Kedua mata Pricilla menyipit ketika menatap wajah Shilla. Pricilla mengamati baik-baik wajah Shilla dengan tatapan menerawang. Tidak lama kemudian sebuah senyuman pun tersungging diwajah cantiknya,
            “SHILLA??” Pricilla bangkit dari duduknya dengan wajah semuringah,
            “ya ampun Shilla? Lo apa kabar, gue kangen sama lo tau nggak—“
            Ketika Pricilla akan memeluk Shilla, Shilla langsung menahannya,
            “ck… lo nggak usah sok dramatis deh. Lo fikir gue bakalan kangen sama lo setelah apa yang lo lakuin terhadap Alvin 2 tahun yang lalu, dan setelah apa yang lo lakuin terhadap Sivia?”
            “Shilla maksud lo apa?”
            “elo pura-pura begok apa begok beneran sih sebenernya, Priss?”
            “Shill, gue nggak ngerti”
            “jelas lah lo nggak ngerti. Ternyata lo sama aja kayak PACAR LO YANG PENGECUT ITU” Kata Shilla tak sabar. Emosinya sudah benar-benar memuncak tanpa ia sendiri bisa kendalikan.
            “apa perlu gue jelasin semuanya ke elo biar lo ngerti dan nggak belaga begok lagi kayak gini?”
            Pricilla hanya bisa diam seraya menunduk dalam. Sungguh ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan-perkataan Shilla itu. Kenapa Shilla bersikap seperti ini padanya? Memangnya Pricilla pernah buat kesalahan apa?
            “asal lo tau ya, Priss? Alvin sama Sivia itu pacaran, dan belom genap sehari mereka jadian lo malah dateng lagi dan ngehancurin semuanya. HARUSNYA LO NGGAK PERNAH KEMBALI LAGI , PRISS. HARUSNYA LO NGGAK USAH DATENG LAGI KE SINI DAN NGEHANCURIN SEMUANYA!!” Bentak Shilla dengan keras.
            Pricilla kaget sekaget-kagetnya. Alvin dan Sivia berpacaran? Sejak kapan? Kenapa Pricilla tidak pernah tahu tentang ini sebelumnya?
            “a.. apa? Elo… elo bilang apa tadi? Alvin dan Sivia pa… pacaran? Elo nggak bohong kan, Shill?”
            “lo fikir gue masih bisa berbohong dalam keadaan kayak gini? 2 tahun Priss lo pergi ninggalin Alvin tanpa kabar apapun, dan sekarang lo balik lagi dengan seenaknya dan ngehancurin kebahagiaan Sivia yang selama ini udah berkorban banyak hal buat Alvin, Yang selama 7 tahun ini terus setia nemenin Alvin yang sering nyakitin dia, dan mungkin elo juga nggak perah tau, jauh waktu sebelum lo kenal Alvin, Alvin dan Sivia pernah deket dan nyaris pacaran. Lo nggak pernah tau kan??”
            Pricilla menggeleng dan berusaha keras membendung air matanya. Ya… Pricilla memang tidak pernah tahu akan hal itu. Sekalipun Alvin tidak pernah bercerita padanya.
            “Alvin itu cinta pertama Sivia, dan Sivia itu cinta pertama Alvin. Waktu kelas 7 SMP dulu mereka nyaris jadian kalo aja kedua orang tua Sivia ngijinin Sivia pacaran. 7 Tahun yang lalu, sebelum lo dateng dikehidupan mereka, Alvin pernah berjanji dihadapan Sivia. Gue, Rio dan Ify yang menjadi saksi ketika itu. Alvin berjanji akan menunggu Sivia sampai lulus SMP dan mendapatkan ijin pacaran dari kedua orang tuanya, tapi sebelum kelulusan itu terjadi, lo malah dateng dan bikin Alvin ngingkarin janjinya, elo... Elo yang udah hancurin semuanya, elo yang udah ngerusak semuanya. HARUSNYA LO NGGAK PERNAH ADA PRISS… HARUSNYA LO NGGAK PERNAH ADA!!” Shilla semakin tidak bisa mengontrol dirinya.
            “sejak awal gue nggak pernah menginginkan kehadiran lo, Priss. Dan sejak awal juga gue udah benci sama lo. Ngerti lo??”
            “tapi Alvin jatuh cinta sama gue itu bukan kesalahan gue kan, Shill?” Pricilla akhirnya berucap. Ia membalas tatapan tajam Shilla dengan linangan air mata yang membanjiri wajah cantiknya. Pricilla tidak pernah berfikir sebelumnya bahwa Shilla akan sebenci ini padanya.
            Shilla tertawa sinis lalu membalas perkataan Pricilla baru saja,
            “hahaha… iya, Alvin jatuh cinta sama lo itu memang bukan kesalahan lo, tapi kesalahan terfatal yang pernah lo lakuin adalah, lo pergi ninggalin Alvin gitu aja dan kembali lagi dengan seenak hati lo! Itu kesalahan terfatal yang pernah lo lakuin. Kesalahan terfatal dan tidak termaafkan lainnya yang pernah lo lakuin adalah, lo udah ngerebut Alvin dari tangan Sivia setelah Sivia berkorban banyak hal buat Alvin”
            Shilla yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi secara reflex mengangkat tangan kananya hendak melayangkan sebuah tamparan diwajah Pricilla. Pricilla memejamkan matanya dan berusaha pasrah jika Shilla benar-benar menamparnya detik ini juga. Jujur saja, setelah mendengar semua perkataan Shilla tadi, Pricilla merasa sangat berdosa terhadap Alvin, lebih-lebih terhadap Sivia. Seseorang yang selama ini selalu ia anggap sebagai sahabat sejatinya.
            Tapi sebelum tamparan itu mendarat diwajah Pricilla, tahu-tahu ada seseorang yang menahan tangan Shilla hingga tangan Shilla menggantung diudara.
            “Shilla jangan!!” kata Alvin sedikit keras. Dalam satu sentakan kuat Shilla melepaskan tangannya dari genggaman Alvin.
            “lo udah gila ya, Shill? Elo… elo udah nggak punya otak”
            “haha… lo bilang gue nggak punya otak? Kalian yang nggak punya otak!! Nyiksa anak orang kok nggak tanggung-tanggung” ucap Shilla dengan nada mengejek.
            “sekarang gue udah sadar Shill, gue yang salah, gue yang pengecut, dan gue juga udah sadar kalo yang gue cintai sebenernya itu adalah Sivia, dan bukan dia” kata Alvin seraya menunjuk kearah Pricilla.
            Pricilla hanya diam dan tidak menunjukan reaksi apapun ketika Alvin mengucapkan kalimat itu.
            “baru sekarang lo sadar? Selama ini lo kemana aja? HAH??”
            “Gue udah akuin kalo emang gue yang salah, terus lo mau apa lagi? Udahlah Shill, ini masalah gue sama Sivia, jadi biar gue yang selesein, lo nggak usah ikut campur dan lo nggak berhak ikut campur!”
            Shilla membelalak. Apa yang baru saja Alvin katakan?
            “lo bilang apa? Gue nggak berhak ikut campur?? 14 tahun kita sahabatan dan sekarang lo bilang gue nggak berhak ikut campur dalam masalah kalian?? Elo.. elo tuh—“
            “STOOOOPPPPPP!!!” Teriak Pricilla pada akhirnya.
            “ini semua kesalahan gue. Gue yang salah karna selama ini nggak pernah peka sama keadaan, kalian nggak usah saling nyalahin lagi. Dan buat kamu, Alvin, lebih baik kamu nggak usah bela aku lagi, aku nggak berhak buat kamu bela. Sekarang kalo pun kamu lebih milih Sivia, aku ikhlas Alvin, aku nggak akan nahan kamu disisi aku lagi, nggak akan Alvin”
            “maafin aku, Priss… maaf karna selama ini aku nggak pernah bisa jujur sama kamu”
            “aku ngerti, Alvin, aku ngerti…” air mata Pricilla semakin deras menetes.
            “kembalilah sama Sivia Alvin, kejar dan pertahankan cintamu. Nggak usah fikirin aku lagi, nggak usah ngerasa nggak enak hati lagi sama aku, dan nggak usah ngerasa kasian lagi sama aku karna aku baik-baik saja”
            “Priss…”
            “sekarang aku udah ngelepasin kamu, Alvin. Dan aku akan pulang ke German, aku nggak akan kembali lagi kesini seperti apa yang Shilla mau…”
            Shilla hanya diam. Ia sudah merasa sangat malas jika harus meladeni ucapan Pricilla lagi.
            “makasih, Priss, makasih…” ujar Alvin sambil tersenyum lega. Jujur saja, ia tidak pernah merasa selega ini sebelumnya.
            Lalu tanpa membalas perkataan Alvin, Pricilla pun berlalu dari hadapan Alvin dan Shilla. Pricilla melangkah dengan langkah gontai. Saat ini Ia merasa seperti tidak memiliki kekuatan lagi. Rasanya begitu sakit saat ia harus melepaskan orang yang begitu ia cintai begitu saja.

            “Prissy….” Ujar seseorang yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Pricilla sambil menahan pundak Pricilla. Pricilla menghantikan langkahnya, senyuman serta tatapan teduh dari Gabriel langsung menyambutnya,
            “Iel….?”
            “gue anter ya?” tidak lama kemudian, Gabriel mengalihkan tatapannya kearah Shilla yang ketika itu juga ternyata sedang menatapnya. Merasa tertangkap basah, Shilla langsung membuang tatapannya kearah lain.
            Gabriel tersenyum tipis, ia merangkul pundak Pricilla yang rapuh lalu membawanya pergi dari tempat itu. Merasa langkah Gabriel dan Pricilla sudah lumayan jauh, Shilla kembali menatap punggung Gabriel yang nyaris saja menghilang dari pandangannya. Ada rasa aneh nan mengganggu yang tiba-tiba saja ia rasakan ketika melihat Gabriel merangkul Pricilla seperti itu.


            “apa lo bener-bener cinta sama gue, Yel?” batin Shilla.



****

            “Sivia kemana ya, Shill? 3 hari itu anak nggak masuk tanpa kabar” kata Ify pada Shilla. Ya, selama 3 hari ini atau tepatnya semenjak Sivia melihat Alvin jalan bersama dengan Pricilla di Mall 4 hari yang lalu Sivia tidak pernah lagi menampakkan dirinya di Kampus. Shilla berfikir, bahwa Sivia memang butuh waktu untuk sendiri. Dan Shilla tahu itu, tapi Ify yang tidak tahu.
            “lo belom tau masalah yang sebenernya?” Tanya Shilla pelan. Ify hanya mengangguk polos karena ia memang belum paham dengan masalah yang sedang terjadi,
            “4 hari yang lalu, tepatnya hari minggu, Via mergokin Alvin jalan bareng sama Pricill”
            “WHAAAATT????” Kaget Ify, “maksud lo…. Alvin nikung Sivia?” Tanya Ify tak percaya,
            “ada kata yang lebih sadis lagi nggak dari kata Nikung?”
            “SELINGKUH” Jawab Ify cepat.
            “ya itu maksud gue. Sejak hari itu Via nggak masuk lagi, mungkin dia lagi butuh waktu sendiri, dan sebagai sahabatnya kita harus hargai semua keputusannya”
            “terus Alvin sama Pricill gimana?”
            “mereka akhirnya putus. Itu pun setelah gue ngelabrak Si Pricill itu habis-habisan. Coba kalo itu anak nggak gue labrak, mungkin sampe sekarang dimasih belum tau kalo Alvin dan Sivia pacaran”
            “lo seriusan ngelabrak Si Pricill”
            “lo fikir gue becanda??” Tanya Sivia kesal sambil menatap Ify dengan tatapan galak. Melihat tatapan Shilla, Ify hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
            “terus lo sendiri gimana sama Ray? Masih ada hubungan sama dia?”
            “kok jadi bawa-bawa Ray sih? Orang udah lama putus juga, eh Ray itu Cuma masa lalu tau? Sekarang sih udah ada penggantinya”
            “WHAAAATTTT?? LO PUNYA PACAR LAGI?” Kali ini giliran Shilla yang kaget. Bagaimana tidak kaget, jika beberapa minggu yang lalu Ify masih menangisi Ray tapi sekarang?
            “iya doongggg… emangnya elo apa yang masih betah sama status jomblo lo itu” sindir Ify.
            Shilla melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang tatapannya kearah lain, jika sudah seperti ini ia merasa bosan menanggapi Ify.
            “haha… becanda Shill… becanda…. Lo nggak usah manyun gitu lah. Jelek tau? Eh, lo mau tau nggak pacar baru gue siapa?”
            Shilla hanya menggeleng dengan malas. Ify pun lebih mendekati Shilla lalu membisikan sesuatu ditelinga sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian…..

            “APAAAA??? LO PACARAN SAMA RIO? COWOK PLAY BOY ITU?” Teriak Shilla beberapa saat setelah Ify membisikinya.
            “stttt… jangan keras-keras, elo ah rese tau? Dan Rio udah bukan play boy lagi. Inget tuh!” kata Ify sebal.
            “HAHAHAHAHA…. Yakin lo?”
            “yakinlah. Beberapa minggu yang lalu Rio mutusin semua pacar-pacarnya dan dia juga ngaku ke setiap pacarnya kalo dia itu play boy, alhasil atas pengakuan Rio itu dia ngedapetin tamparan dari semua pacar-pacarnya. Dan Rio bilang itu semua dia lakuin Cuma buat gue”
            “ah… omongan semua cowok play boy itu sama aja” cibir Shilla yang sebenarnya hanya ingin bergurau saja.
            “SHILLAAAA….” Pekik Ify sedikit keras. Shilla tertawa kencang lalu memeluk tubuh Ify dari samping,
            “Hahahaha… becanda, Fy! Semoga kali ini lo langgeng ya sama Rio? Tenang aja, kalo Si Rio berani nyakitin lo sedikiiiittt aja, gue yang akan urus itu anak….”
            “makasih Shillaaaaaa…..” Ify pun membalas pelukan Shilla.
            “eh, Shill…” ujar Ify tiba-tiba seraya melepaskan pelukannya dari Shilla,
            “hmm?”
            “hari ini kita kerumah Via ya? Gue kangen sama bocah satu itu”
            “siipp… nanti kita kerumah Via”


****

            3 hari tidak pernah bertemu dengan Sivia cukup membuat Alvin merindukan Gadis itu. Dan hari ini Alvin memutuskan untuk bolos dari kampus hanya untuk menemui Sivia di ANH-Radio. Hari ini adalah hari rabu, dan Alvin tahu bahwa pada hari Rabu Sivia memiliki jadwal siaran pagi. Kali ini Alvin benar-benar tidak mau keduluan oleh Cakka, dan Alvin tidak akan memberikan Cakka sedikitpun kesempatan untuk merebut Sivia dari tangannya. Alvin percaya, bahwa hanya dialah satu-satunya  Pria yang Sivia cintai.
            Alvin mengendarai motornya dengan tidak sabar menuju ANH-Radio. Sejenak Alvin menatap setangkai bunga mawar merah yang ada ditangan sebelah kanannya. Tadi ditengah perjalanan Alvin sempat mampir disebuah toko bunga untuk membeli bunga itu buat Sivia. Alvin akan memberikan bunga itu pada Sivia sebagai tanda permintaan maafnya. Dan Alvin berjanji setelah ini tidak akan lagi menyakiti Sivia, dan kali ini Alvin bersungguh-sungguh dengan janjinya itu.
            “lo kesini nyariin Via?” Tanya Deva pada Alvin ketika Alvin sudah tiba di ANH-Radio. Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Deva menampakkan raut wajah menyesal,
            “lo telat Alvin. 3 hari yang lalu, tepatnya sebelum Sivia berangkat ke Airport, Sivia sudah resmi mengundurkan diri dari ANH-Radio”
            Mendengar ucapan Deva, mendadak bunga yang ada ditangan Alvin terjatuh ke lantai. Apa Deva sedang mengerjainya?
            “ke Airport? Mengundurkan diri? Maksud lo?” Tanya Alvin tak percaya. Perasaannya mulai tidak karuan.
            “Sivia udah pergi dari kota ini, Alvin. Sivia udah nggak tinggal di Jakarta lagi”
            “terus Via kemana?” Tanya Alvin panic.
            “entahlah, Via nggak bilang dia mau pindah kemana, coba aja lo kerumahnya dia, Tanya sama orang sana, mungkin mereka tau”
            Perkataan-perkataan Deva itu terus berpendar diingatan Alvin dan membuat konsentrasinya buyar. Alvin semakin mempercepat laju motornya, ia bahkan sama sekali tidak peduli dengan suasana jalanan yang sangat ramai. Yang Alvin tahu sekarang hanyalah ia harus segera tiba dirumah Sivia.
            10 menit kemudian, Alvin tiba dirumah Sivia. Ia menghentikan motornya tepat didepan gerbang rumah Sivia. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Alvin turun dari motornya. Dan Alvin merasa terpukul ketika ia mendapati sebuah tulisan yang tertempel dipintu rumah Sivia yang berbunyi; “RUMAH INI DIJUAL”
            Mendadak Alvin merasakan sesak, kedua matanya mulai terasa panas dan telah siap mengeluarkan air mata. Kemana Gadis itu pergi? Apa perasaannya sehancur itu sampai ia harus pergi meninggalkan Alvin dan semua kenangan mereka? Alvin bahkan belum sempat mengatakan kalau dia telah memilih Sivia. Mendadak Alvin merasa lemah, ia merasa tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Gadis itu telah benar-benar pergi meninggalkannya.
            “Mas Alvin?” Tanya Pak Ujang yang tiba-tiba saja muncul dari dalam rumah Sivia. Melihat kehadiran Pak Ujang itu Alvin seakan memiliki sebuah harapan.
            “Pak Ujang tau kemana Sivia dan keluarganya pindah?” Tanya Alvin langsung dan tanpa basa basi apapun. Pak Ujang terlihat berfikir sejenak lalu…
            “maaf Mas Alvin, tapi saya nggak tau kemana mereka sekeluarga pindah, baik Non Via, Tuan atau Nyonya nggak bilang apa-apa. Mereka Cuma pesen sama saya buat jaga rumah ini sampe ada pembeli yang menghubungi, Cuma itu, Mas….”
            “Pak Ujang nggak bohong kan?” nada bicara Alvin terdengar sedikit bergetar. Pak Ujang terlihat kebingungan sendiri. Dia harus bagaimana lagi sekarang supaya Alvin mempercayainya?
            “tapi Non Via titip sesuatu buat Mas Alvin”
            “apa itu?”
            “tunggu sebentar ya, Mas? Saya ambil dulu didalam”
            Pak Ujang berlari kecil memasuki rumah. Tidak lama kemudian Pak Ujang kembali lagi dengan membawa sebuah kotak berwarna merah. Pak Ujang langsung menyerahkan kotak itu pada Alvin,
            “ini dari Non Via, Mas?”
            Setelah menerima kotak berwarna merah itu Alvin langsung pergi dari rumah Sivia tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Pak Ujang. Pak Ujang menatap Alvin dengan tatapan prihatin, dalam hati beliau mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa membantu Alvin. Sebenarnya beliau ingin memberitahukan pada Alvin tentang keberadaan Sivia dan keluarganya sekarang, tapi mau bagaimana lagi? Beliau sudah terlanjur janji pada Sivia untuk tidak memberitahukan pada siapapun terlebih pada Alvin kemana mereka sekeluarga pindah. Pak Ujang merasa menjadi serba salah.
            Alvin sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, ia meneteskan air matanya sebanyak ia mampu, bahkan Alvin sama sekali tidak peduli betapa cengengnya ia sekarang. Yang Alvin tau hanyalah, ia merasa sangat terpukul dengan kepergian Sivia. Kenapa? Kenapa Sivia harus menghukumnya dengan cara seperti ini?
            Alvin semakin mempercepat laju motornya seiring tangisannya yang kian memecah. Alvin mengapit kotak pemberian Sivia dilengannya sekuat mungkin agar kotak itu tidak terjatuh.
            Dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil pick-up yang tengah melaju dengan kecepatan maksimal, dan Alvin sama sekali tidak menyadari itu. Ia bahkan belum sempat menghindar. Semuanya terjadi begitu cepat, Alvin bersama motornya sudah tergelatak ditengah jalan, dan kotak pemberian Sivia itu jatuh tepat disamping tubuh Alvin yang tergelatak.
            “Sivia… kamu dimana? Aku Cuma mau minta maaf… aku Cuma mau nebus semua kesalahan aku sama kamu. Apa kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi? Apa kamu bener-bener benci sama aku….? Sivia… kamu dimana? Aku Cuma mau bilang kalau Cuma kamu yang aku cintai, aku Cuma mau bilang kalau kamu begitu berarti bagiku. Sivia… kamu dimana? Tolong maafin aku….”

            Perlahan Alvin merasa semuanya gelap. Entah kenapa seluruh tubuhnya terasa sangat ringan, bahkan Alvin sudah tidak mampu merasakan apapun…




                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment