Friday, August 9, 2013

0

FINDING YOU! (Cerpen)




Mencarimu Dengan Cinta…
Menemukanmu Dengan Hati…


                “ergh Sial!!” Sivia membanting kedua tangannya diatas setir ketika tiba-tiba saja mobilnya mogok ditengah jalan. Sivia pasti telat menghadiri acara pesta ulang tahun temannya. Padahal Sivia sedang terburu-buru. Jika tahu  akan seperti ini kejadiannya, kenapa tadi Sivia tidak pakai taxi saja? Atau kenapa Sivia tidak meminta pada Supir Mama nya untuk mengantarnya ke pesta? Sivia menyesali diri.
            Tapi saat ini sejuta penyesalannya tidak akan bisa membantu apapun. Sivia mengetuk-ngetukan jemari tangannya diatas setir. Setelah berfikir lumayan lama, Sivia pun keluar dari dalam mobilnya dan mengambil inisiatif untuk memeriksa keadaan mesin mobilnya. Perlu dicatat, dalam hal ini Sivia sama sekali tidak mengerti apapun tentang mesin mobil. Hey… Ayolah, Sivia itu ahli fashion, bukan ahli mesin.
            Kepulan asap langsung menyembul dan menerpa wajah Sivia ketika ia membuka bagasi depan mobilnya. Sial, malam ini adalah malam tersial yang pernah Sivia lewati.
            “duuhhh…. Mampus lo, Vi!! Ini musti di apain nih??” Tanya Sivia lebih kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa pada mesin mobilnya ini. Sivia benar-benar buta dalam hal seperti ini.
            Tiba-tiba saja sebuah Ferarri merah entah milik siapa berhenti tepat disamping mobil Sivia yang mogok. Sang empunya Ferarri itu sedikit membuka kaca mobilnya dan melihat apa yang terjadi diluar sana. Tapi perhatiannya tidak langsung tertuju pada mobil mogok yang bernasib malang itu, perhatiannya malah tertuju pada sesosok Bidadari Cantik bergaun putih selutut yang tengah berdiri didepan mobil mogok itu dengan raut wajah yang benar-benar kebingungan. Pria pemilik Ferarri merah itu tersenyum kecil. Seumur-umur, ini baru pertama kalinya ia terpesona ketika menatap keindahan seorang Gadis.
            Pria itu segera keluar dari dalam mobilnya lalu menghampiri Bidadari Cantik tadi.
            “mobil lo mogok?” tanyanya langsung tanpa basa basi.
            Mendengar seseorang melemparkannya sebuah pertanyaan yang menyangkut mobilnya, Sivia langsung terkesiap lalu menoleh kearah Pria itu. Dan Wow… pemandangan yang ada didepan mata Sivia kali ini benar-benar mempesona. Sesosok Pria tampan menghampirinya. Ya Tuhan, Mimpikah ini? Jika bukan mimpi, apa yang menghampiri Sivia saat ini bukanlah manusia, melainkan adalah malaikat kiriman Tuhan.
            Sivia terkesima. Ia terpesona untuk beberapa saat dan malah terpaku memandangi Pria tampan berkemeja putih yang dilapisi oleh jas hitam itu. Dia bukan hanya tampan, tapi begitu menawan.
            “ehem…” deheman Pria itu langsung membuat Sivia terkesiap dan buru-buru menarik dirinya dari keterpanaanya.
            “mobil lo mogok??” Pria itu mengulang pertanyaannya. Sivia yang masih dalam keadaan setengah sadar hanya bisa mengangguk perlahan. Ia telah benar-benar terhipnotis oleh keindahan makhluk yang ada dihadapannya kali ini. Ya Tuhan… inikah yang dinamakan dengan Love at the first sight…?
            “Boleh gue liat?”
            Kembali Sivia hanya mengangguk. Pria itu tersenyum kecil lalu mulai memeriksa mesin mobil Sivia.
            “owh… ini—“ dan blablabla, indera pendengar Sivia sama sekali tidak berfungsi kali ini. Sosok Pria tampan ini benar-benar membuatnya gila hanya dalam sekali tatap saja. Seluruh organ tubuhnya seakan tidak bisa bergerak. Ia sudah benar-benar terbius oleh ketampanan Pria itu.


Sekitar 10 menit kemudian….

            “beres!!” ujar Pria itu dengan sebuah senyuman lega yang tersungging diwajahnya. Dan ya Ampun… senyuman Pria itu malah semakin membuat Sivia terpesona. Dalam beberapa detik, Sivia bahkan sampai lupa bagaimana cara bernafas. Oke, ini cukup lebay, tapi sungguh, ketampanan Pria ini benar-benar membuat Sivia kehilangan akal.
            “lo bisa ngelanjutin perjalanan lo sekarang” lanjut Pria itu sambil menutup bagasi depan mobil Sivia. Sivia lagi-lagi terkesiap ketika mendengar suara bagasi depan mobilnya ditutup.
            Ia mendadak gelagapan dan salah tingkah.
            “ooo… udah beres? Makasih ya??” Sivia berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. Ia benar-benar tidak ingin terlihat bodoh dihadapan Pria ini.
            Tanpa Sivia sadari, Pria itu tiba-tiba saja merogoh kantong jas nya lalu mengambil sebuah sapu tangan. Tangan kanan Pria itu terangkat lalu bergerak perlahan menyentuh wajah Sivia. Ia mengusap wajah Sivia yang terlihat sedikit kotor akibat asap dari mesin mobilnya tadi menggunakan sebuah sapu tangan berwarna merah.
            “eh…” Sivia terkesiap. Tidak lama Pria itu kembali menurunkan tangannya setelah ia merasa bahwa kulit wajah Sivia sudah terlihat lebih baik.
            “wajah lo sedikit kotor, makanya gue bersihin”
            Kedua pipi Sivia langsung merona ketika juga. Demi apapun, Sivia tidak ingin Pria ini melihat kedua pipi chubby nya yang mulai menampakkan guratan warna merah jambu. Tidak, Pria ini tidak boleh melihatnya. Maka Sivia pun memilih untuk menunduk.
            “makasih…” imbuhnya sekali lagi. Pria itu meraih tangan kanan Sivia lalu menyerahkan sapu tangan itu begitu saja. Akibat perlakuan tanpa komando dari Pria itu, Sivia akhirnya mengangkat wajahnya,
            “lo pegang aja sapu tangan itu. Siapa tau nanti lo butuhin”
            Pria itu berjalan mundur lalu sedikit membungkukan tubuhnya layaknya seorang pangeran yang memberikan hormat pada sang tuan puteri. Pria itu membuka pintu mobilnya lantas berkata,
            “gue duluan” Sivia tidak menjawab sama sekali. Ia masih terhipnotis oleh pesona Pria itu. Sivia bahkan tidak menyadari ketika Pria itu menyalakan mobilnya dan telah bersiap untuk pergi.
            Baru ketika mobil Pria itu sudah melesat jauh, Sivia akhirnya tersadar.
            “HEY….” Teriak Sivia sambil melambaikan tangannya. Tapi percuma saja, karena mobil Pria itu sudah jauh dan nyaris tak tertangkap lagi oleh kedua indera pelihat Sivia “nama gue Sivia….” Lanjutnya dalam sebuah bisikan pelan. Bodoh, mana mungkin pria itu mendengarkan ucapannya.
            Sivia tersenyum, ia membuka lipatan sapu tangan itu dan menemukan sebuah nama bertengger diatas sapu tangan itu. Sivia tersenyum lagi, tapi kali ini senyumnya melebar,

            “ALVIN??” gumam Sivia pelan
            Sivia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tertawa kecil lalu berjalan perlahan memasuki mobilnya. Ah… Sivia sudah benar-benar gila karena Pria itu. Hmmm…. Love at the first sigth…


^^

Dua Bulan Kemudian…

            “semenjak pacaran sama Si Gabriel itu sikap dan kelakuan kamu berubah drastis. Kamu jadi lebih sering pulang malam, keluyuran nggak jelas setiap pulang sekolah, bolos seenaknya, dan kamu juga lebih sering ngelawan kalo Mama sama Papa nasehatin kamu. Mau jadi apa kamu, Sivia? Hah?” bentak Pak Duta pada Sivia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Puteri semata wayangnya.
            Ketika mendapatkan laporan dari sekolah tentang ulah Sivia yang semakin hari semakin tidak wajar, Pak Duta akhirnya naik pitam. Ia tahu, Puteri nya ini anak baik-baik, penurut, dan tidak pernah sekalipun membantah perkataan orang tua. Tetapi, semenjak ia berpacaran dengan Gabriel sebulan yang lalu, Kakak kelas nya di SMA Patuh Karya, sikap dan kelakuan Sivia malah berubah dengan begitu cepat. Sivia yang dulunya sangat penurut sekarang malah jadi tidak terkontrol. Entah racun apa yang Gabriel gunakan untuk meracuni fikiran Sivia hingga sikap dan kelakuannya berubah begitu cepat seperti ini. Pak Duta tidak mengerti.           
“ini bukan karna Kak Gabriel, Pa… Papa tu—“
            “DIAM KAMU!!!” Sela Pak Duta tak sabar sebelum Sivia sempat melanjutkan perkataannya. Sivia langsung diam seketika, ia menunduk sedalam-dalamnya. Dalam hati ia bertanya, kenapa Papa nya selalu begini? Kenapa Papa nya tidak pernah memberikannya sedikit saja kesempatan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapatnya? Sivia juga ingin didengarkan.
            “Papa akan hukum kamu Sivia. Mulai sekarang semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati akan Papa cabut. Semuanya tanpa terkecuali. Termasuk mobil, mulai hari ini kamu nggak akan bawa mobil sendiri kesekolah”
            “Papa kok gitu? Terus Via mau pake apa, Papa??” protes Sivia setengah merajuk. Kali ini ia benar-benar menampakkan wajah memelas.
            “kamu akan diantar oleh supir. Papa sudah cari supir yang tepat buat kamu”
            “WHAAATT? SU.. SUPIR, PA???” Kaget Sivia. Sivia melipat kedua tangannya didada, ia memasang wajah cemberut lalu membuang mukanya kearah lain “emangnya Via anak TK apa pake dianter segala??” dumel Sivia yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Pak Duta.
            “Supir kamu ini satu sekolah sama kamu. Dia sengaja Papa pindahin dari sekolahnya yang lama biar bisa satu sekolah sama kamu, selama disekolah dia juga akan ekstra menjaga kamu biar nggak macem-macem sama Gabriel”
            Kedua mata Sivia membelalak lebar. Ia benar-benar tidak habis fikir dengan hukuman yang Pak Duta limpahkan padanya. Menurut Sivia ini terlalu kejam. Tapi saat ini Sivia sama sekali tidak bisa melawan. Ia hanya bisa menerima hukuman ini tanpa perlawanan apapun.
            “terserah Papa” ujar Sivia putus asa.
            Pak Duta mengangguk. Beberapa saat kemudian, Pak Duta kembali membuka suara. Dengan lantang ia menyerukan nama seseorang.
            “JOJO….”
            Tidak lama setelah Pak Duta memanggil nama itu, seorang cowok bertubuh tinggi dengan kaca mata super besar memasuki ruang tengah kediaman Sivia. Tidak hanya kaca mata super besar itu yang membuatnya terlihat aneh, tapi juga tompel yang ukurannya cukup besar yang terdapat dipipi sebelah kananya, tak hanya itu, cowok ini gigi nya tonggos.
            Sivia meringis pelan. dalam hati ia bertanya; Makhluk aneh dari planet mana ini??
            Kali ini Cowok aneh itu sudah berdiri disamping Pak Duta dan tepat menghadap kearah Sivia. Sivia menatap cowok ini dari ujung kaki hingga rambut. Dihati kecilnya entah kenapa Sivia merasa pernah melihat cowok aneh ini sebelumnya, tapi dimana?
            “kenalin Sivia, ini Jojo. Dia yang akan jadi supir plus pengawal kamu”
            “Hay Mbak, Via, kenalin aku Jojo. Aku supir barunya Mbak Sivia…” Jojo memperkenalkan dirinya dengan logat bahasa jawa timur yang begitu kental. Mendengar bahasanya saja sudah cukup membuat Sivia illfeel. Jojo mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Tapi dengan tidak berperasaannya, Sivia membiarkan begitu saja tangan Jojo menggantung di udara tanpa sedikitpun memiliki niat untuk membalas uluran tangan Jojo.
            Sivia menatap Jojo dengan tatapan tak percaya, beberapa saat kemudian Sivia mengalihkan tatapannya pada Papa nya yang ketika itu terlihat santai-santai saja.
            “Papa nggak salah orang?” Tanya Sivia skeptic. Pak Duta menggeleng dengan mantap,
            “enggak. Papa nggak salah orang. Papa tau Jojo ini supir plus pengawal yang pas buat kamu”
            “tapi, Pa… yang potongannya lebih bagusan dikit dari ini emangnya nggak ada??” Tanya Sivia sedikit emosi sambil menunjuk kearah Jojo. Jojo hanya menunduk, ia terlihat sedih.
            “jaga omongan kamu, Sivia!! Nggak usah sembarangan bicara seperti itu!!”
            “tapi, Pa.. ergh… tau ah. Toh aku nggak akan bisa ngelawan kehendak Papa ini kan??” Sivia meraih tas nya diatas meja lalu melangkah keluar tanpa menunggu Jojo yang hari itu telah resmi menjadi supir dan pengawal pribadinya.
            Pak Duta melirik kearah Jojo dengan tatapan memohon maaf. Jojo hanya tersenyum maklum,
            “maafin kelakuan Via ya, Jo?”
            “nggak apa-apa, Pak. Jojo mengerti… mari Pak, saya mau susul Mbak Via dulu…”
            “iya Jojo. Hati-hati dijalan ya? Jagain Via baik-baik. Kalo Si Gabriel berani berbuat macem-macem sama Via, kamu boleh ngehajar dia, nanti saya yang akan tanggung jawab”
            “iya, Pak…” Jojo mengangguk takzim lalu melangkah keluar menyusul ‘Nona Baru’ nya yang sudah keluar terlebih dahulu.


^^

            “Heh Tonggos! Lo ketemu Papa gue dimana sih?” Tanya Sivia tiba-tiba pada Jojo yang ketika itu tengah focus menyetir. Sivia duduk di jok belakang.
            “maaf Mbak, Via. Nama saya Jojo, bukan tonggos”
            “ya mau nama lo apa kek, emangnya gue peduli? Jawab pertanyaan gue buruan!” pinta Sivia sedikit keras. Tapi Jojo lebih memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan ‘Nona Baru’ nya itu.
            “heh!! Lo budeg ya??” hardik Sivia yang sudah benar-benar kesal dengan tingkah Makhluk aneh satu itu.
            “sekali lagi maaf Mbak… tapi saya dibayar untuk mengawal Mba Via, dan bukan dibayar untuk diintrogasi seperti ini”
            Sivia melipat kedua tangannya didepan dada lalu menampakkan raut masa bodoh. Ternyata Pria yang ada didepannya ini bukan hanya aneh, tapi juga sangat menyebalkan.
            Diperjalanan yang panjang itu, Sivia mulai merasa bosan. Ia pun memasang headset nya lalu mendengarkan beberapa buah lagu dari I-Pod nya.


^^

            Sejak hari itu Jojo resmi menjadi supir serta pengawal Pribadi Sivia. Kemana pun Sivia pergi Jojo selalu mengikutinya. Jojo sama sekali tidak peduli dengan kerisihan dan keantian Sivia terhadapnya. Yang Jojo ketahui hanyalah ia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan benar supaya Pak Duta puas dengan hasil kerjanya. Jojo tidak mau mengecewakan Pak Duta yang selama ini sudah sangat baik terhadapnya.
            Hari-haripun berlalu, tidak terasa satu minggu sudah Jojo menjadi supir serta pengawal pribadi Sivia. Dan selama satu minggu ini juga, tidak pernah sekalipun Sivia berprilaku manis pada Jojo. Ia selalu berusaha mencari kesalahan Jojo.
            Setiap hari Jojo selalu saja kena omelan-omelan dari Sivia. Tidak jarang juga, Sivia dengan dibantu oleh Gabriel sering kali mengerjai Jojo. Bahkan pernah pada hari ketiga Jojo bekerja bersama Sivia, Gabriel mengerjainya habis-habisan. Jojo yang sekelas dengan Gabriel membuat Gabriel bisa dengan leluasa mengerjai makhluk aneh itu.
            Tidak segan-segan Gabriel menyembunyikan buku PR Kimia milik Jojo. Hal itu itupun akhirnya menyebabkan Jojo harus dikeluarkan dari kelas. Tapi Jojo tidak gentar sedikitpun. Ia tetap bertahan dengan pekerjaannya ini meskipun banyak kendala yang harus ia hadapi.
            “Ayo Shill, kita berangkat” ucap Sivia pada Shilla, sahabatnya.
            Saat itu Shilla terlihat tengah membicarakan sesuatu dengan Jojo. Dan Sivia bisa menangkap dengan sangat jelas raut wajah Shilla yang terlihat begitu serius. Tapi ketika Sivia memanggilnya, Shilla buru-buru mengubah raut wajahnya menjadi biasa kembali. Sivia tidak mau ambil pusing dengan itu, bagainya itu sangat tidak penting untuk dia fikirkan.
            “Heh Tonggos! Lo diem aja dirumah. Jangan ikutin gue. Gue mau pergi pake mobilnya Shilla”
            “tapi nanti bagaimana Kalo Pak Duta pulang terus nyariin Mbak Via?”
            “udah lo tenang aja. Gue pastiin gue pulang lebih cepet dari Papa”
            “tapi Mbak…”
            “nggak ada tapi-tapian kalo lo nggak mau gue pecat detik ini juga” sinis Sivia tajam yang langsung membuat Jojo bungkam seketika.
            “ayo Shill, kita pergi sekarang” Sivia pun berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Sivia. Sebelum mengikuti Sivia, Shilla sempat melirik kearah Jojo yang ketika itu tengah mengangkat jempolnya untuk Shilla. Shilla mengangguk ragu-ragu.


^^

            Diatas meja ruang tamu, Jojo melihat sebuah benda yang sukses yang menarik perhatiannya. Jojo merasa mengenali benda itu. Jojo pun melangkah perlahan mendekati meja ruang tamu. Jojo meraih benda itu yang ternyata adalah sebuah sapu tangan. Jojo melihat sejenak sapu tangan itu lalu membuka lipatannya. Ketika Jojo melihat nama yang tertera didalam lipatan sapu tangan itu, mendadak Jojo merasakan aliran darahnya berdesir. Ia juga tiba-tiba merasa ada jutaan kupu-kupu yang menari dalam perutnya. Tidak salah lagi. Ternyata dugaannya selama ini benar.
            Jojo tiba-tiba tersentak kaget ketika ada seseorang yang merenggut sapu tangan itu dengan kasar darinya. Jojo melirik cepat kesamping, dan wajah galak Sivia langsung menyambutnya,
            “suruh siapa lo pegang-pegang barang gue? Hah?” bentak Sivia. Mendadak Jojo gelagapan, ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Sivia.
            “ma… maaf Mbak, tapi saya nggak sengaja…”
            “nggak sengaja, nggak sengaja… sekali lagi gue lihat lo nyentuh barang gue, gue nggak akan segan-segan buat minta sama Papa untuk mecat lo dan nyari supir baru buat gue”
            “sekali lagi maaf, Mbak…” Jojo menunduk dalam.
            Lalu tanpa menghiraukan Jojo sedikitpun, Sivia langsung berlalu begitu saja dari hadapan Jojo.
            “buruan lo!! Gue nggak mau telat, hari ini ada ujian Fisika” teriak Sivia dari kejauhan. Jojo langsung berlari dan mengejar langkah Sivia.


^^

            “Via, gawat Vi… gawat….” Ujar Shilla dengan nafas yang tidak teratur. Sivia heran melihat tingkah sahabatnya ini.
            “kenapa lo? Kayak dikejer-kejer setan” jawab Sivia masa bodoh. Shilla memegang lengan Sivia dan berusaha menjelaskan apa yang sedang terjadi.
            “lo harus ikut gue! Sekarang!!”
            “emang ada apa sih??” Tanya Sivia yang mulai penasaran.
            “JOJO, VIA…. JOJO….”
            “Si Tonggos itu bikin masalah apa??”
            “JOJO VIA, JOJO….”
            “Iya gue tau, si Jojo kenapa???”
            “Jojo lagi ngehajar Gabriel habis-habisan dihalaman belakang sekolah” kata Shilla pada akhirnya. Kedua mata Sivia membelalak. Biji matanya nyaris mau copot saking kagetnya.
            Si Tonggos itu sedang menghajar Gabriel? Memangnya sejak kapan Si Tonggos itu berani pada Gabriel? Kenapa juga dia harus menghajar Gabriel? Memangnya Gabriel pernah buat kesalahan apa? Benar-benar tidak bisa dibiarkan.
            Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Sivia langsung berlari menyusul Jojo dan Gabriel dihalaman belakang sekolah. Ia ingin segera tau ada masalah apa sebenarnya hingga Jojo berani-beraninya menghajar Gabriel.
            Tibalah Sivia dihalaman belakang sekolah. Shilla dengan setia mengikutinya dari belakang. Sivia benar-benar kaget melihat pemandangan yang terhampar didepannya kali ini. Jojo tengah menghajar Gabriel habis-habisan, bahkan Jojo sama sekali tidak menghentikan kekerasannya meskipun Gabriel sudah dalam keadaan tidak berdaya. Ditempat itu, tidak hanya ada Jojo dan Gabriel saja, melainkan ada seorang cewek yang ketika itu tengah menyaksikan pertengkaran mereka dengan raut wajah ketakutan.
            Sivia berfikir cepat. ia berlari menghampiri kedua cowok yang tengah bergulat dengan emosi masing-masing itu.
            “Jojo stop!! Lo apa-apaan sih??” Sivia menarik lengan Jojo dengan kasar hingga akhirnya Jojo menghentikan pukulannya.
            “biarin! Biarin gue hajar cowok bedebah ini sampe mampus” kata Jojo tanpa sadar. Emosinya yang benar-benar tersulut membuatnya tidak menyadari dengan apa yang baru saja ia ucapkan pada Sivia.
            Sementara Sivia, ia hanya bisa terheran-heran mendengar ucapan Jojo barusan. Tidak biasanya Jojo berbiacara dengan logat normal seperti ini, bahkan Jojo yang culun sama sekali tidak terlihat disana.
            Ketika tinju Jojo aku mendarat untuk yang kesekian kalinya di perut Gabriel, Sivia langsung menahan tangannya hingga menggantung di Udara.
            “JOJO HENTIKAN GUE BILANG!!!” Teriak Sivia yang sudah putus asa.
            “Gabriel ini cowok gue. Lo nggak berhak ngehajar dia kayak gini. Lo mau gue bilangin sama Papa biar lo dipecat??”
            Jojo menghela nafas panjang berusaha menenangkan emosinya yang sebenarnya masih panas. Jojo hanya tidak terima saja dengan ulah Gabriel yang diam-diam berselingkuh dibelakang Sivia. Sudah sejak lama Jojo mengetahui akan hal ini, hanya saja Jojo baru bisa menyalurkan emosinya hari ini, ketika ia melihat Gabriel dengan mesranya mencium selingkuhannya didepan matanya sendiri. Jojo tidak terima Gabriel berbuat seperti ini pada ‘Nona Kesayangan’ nya ini.
            “tapi Mbak Via, Gabriel ini bukan laki-laki baik-baik. Dia seling—“
            PLAAKK…. Sebuah tamparan dari tangan Sivia mendarat dipipi sebelah kanan Jojo sebelum Jojo menyelesaikan perkataannya. Jojo tersentak kaget, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Nona nya ini akan menamparnya, padahal sudah jelas-jelas Jojo hanya ingin membelanya.
            “lo nggak usah ikut campur urusan gue, Jo. Gue nggak butuh dibela sama cowok kayak lo” Sivia menunjuk tepat kearah wajah Jojo.
            Kali ini Sivia mengalihkan tatapannya kearah Gabriel yang waktu itu sedang dipapah oleh cewek yang disebut ‘selingkuhan’ Gabriel tadi oleh Jojo. Sivia menatap Gabriel tajam. Ia pun melangkah perlahan menghampiri Gabriel dan cewek itu,
            “dan elo, Kak. Gue diem selama ini bukan berarti gue begok dan nggak tau apa-apa tentang kebusukan lo. Sejak awal gue tau lo selingkuh dibelakang gue, tapi gue Cuma pura-pura nggak tau, dan itu karna apa? Karna gue nggak peduli sama lo. Gue mau jadi pacar lo Cuma untuk menghindar dari kesepian gue selama ini, gue nggak pernah sedikitpun ada rasa sama lo, nggak pernah sedikitpun…” Sivia menggeleng pelan, air matanya perlahan tumpah.
            Sivia merasa hatinya begitu pedih ketika ia mengeluarkan pengakuan itu. Iya, memang selama ini Sivia bersedia jadi pacar Gabriel bukan karna ia mencintai Gabriel, tapi Sivia hanya ingin membunuh kesepiannya. Awalnya Sivia fikir, berpacaran dengan Gabriel bisa membunuh jenuhnya karna kesepian selama ini, tapi ternyata Sivia salah. Berpacaran dengan Gabriel malah semakin membuatnya merasa tertekan.
            Selama ini Sivia benar-benar kesepian. Sahabat satu-satunya yang ia miliki adalah Shilla. Kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing yang sebentar-sebentar pergi keluar kota, yang sebentar-sebentar pergi keluar negri. Sivia hanya kesepian, dan ia butuh perhatian. Itulah yang selama ini menyebabkan  Sikap Sivia berubah drastic. Perubahan sikap Sivia terjadi bukan karna Gabriel, tapi karna rasa kesepiannya. Dan Sivia ingin kedua orang tuanya memahami itu. Tapi sayangnya kedua orang tuanya tidak mengerti dan selalu saja menyalahkan Sivia.
            Sekali lagi Sivia mendaratkan sebuah tamparan dipipi Gabriel. Dengan tajam Sivia berkata,
            “mulai sekarang kita putus. Gue nggak mau ngeliat muka lo lagi entah untuk alasan apapun. Ngerti lo??”
            Sivia pun melangkah pergi. Ketika melewati Jojo dan Shilla, Sivia menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Jojo dengan lembut, dan jujur saja, ini kali pertamanya bagi Jojo melihat Sivia menatapnya dengan selembut itu,
            “dan buat elo, Jo. Mulai besok lo nggak perlu jadi pengawal gue lagi, gue udah nggak butuh lo lagi. Dan maaf kalo selama ini gue lebih banyak nyakitin lo dengah sikap dan kelakuan gue. Gue bener-bener minta maaf. Dan makasih karna lo udah mau ngejagain gue… makasih Jo…” sebulir air mata Sivia menetes lagi. Ia pun melanjutkan langkahnya.
            Sama seperti Sivia, Jojo juga merasakan hatinya begitu pedih ketika ia mendengar ucapan Sivia barusan. Yang ada dalam fikiran Jojo saat ini hanyalah, ia ingin selalu menemani Sivia, mengurangi luka hatinya sebisanya. Dan bila perlu, ia ingin mengisi hidup Sivia yang selama ini selalu hidup dalam lingkaran kesepian. Jojo ingin membebaskannya dari kesepian itu. Tapi pertanyaannya sekarang, apa Jojo bisa melakukan itu? Sementara Sivia selalu menolak kehadirannya dan terkesan tidak pernah menerima kehadirannya. Jojo menghela nafasnya yang entah kenapa terasa begitu berat ketika ia menghembuskannya,

            “Hey… lo sabar ya??” Shilla menepuk pelan pundak Jojo, berusaha membesarkan hatinya. Jojo hanya tersenyum kearah Shilla lalu mengangguk.


            “ini saatnya, Vin….” Lanjut Shilla lalu melangkah pergi meninggalkan Jojo.



^^

Flash Back Sivia;

“eh…” Sivia terkesiap. Tidak lama Pria itu kembali menurunkan tangannya setelah ia merasa bahwa kulit wajah Sivia sudah terlihat lebih baik.
            “wajah lo sedikit kotor, makanya gue bersihin”
            Kedua pipi Sivia langsung merona ketika juga. Demi apapun, Sivia tidak ingin Pria ini melihat kedua pipi chubby nya yang mulai menampakkan guratan warna merah jambu. Tidak, Pria ini tidak boleh melihatnya. Maka Sivia pun memilih untuk menunduk.
            “makasih…” imbuhnya sekali lagi. Pria itu meraih tangan kanan Sivia lalu menyerahkan sapu tangan itu begitu saja. Akibat perlakuan tanpa komando dari Pria itu, Sivia akhirnya mengangkat wajahnya,
            “lo pegang aja sapu tangan itu. Siapa tau nanti lo butuhin”


Flash Back off~

            Sivia tertawa miris sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan pemberian Alvin 2 bulan yang lalu. Alvin… hmm… dimana pria tampan itu sekarang? Apa Alvin tidak pernah tahu bahwa selama ini Sivia selalu mencarinya dan menunggunya dengan berjuta-juta harapan yang terpatri dilubuk hatinya yang terdalam. Sivia ingin bertemu dengan Alvin sekali lagi, kenapa Tuhan tidak pernah mengabulkan permintaannya selama ini? Apa permintaannya itu terlalu berat?
            Sivia menyimpan sapu tangan itu dadanya, isakkannya semakin kuat terdengar. Didalam kamarnya yang sepi itu hanya ada dirinya seorang. Tidak ada sautpun yang menemaninya. Kedua orang tuanya saat ini tengah pergi keluar Negri mengurus pekerjaan mereka. Sivia benar-benar kesepian.
            “Hiks… hiks.. Alvin lo dimana? Kenapa lo ngilang? Kenapaaaa?? Hiks.. hiks.. hikss…”

            “Vi….” Suara Shilla tiba-tiba terdengar dari belakang Sivia. Shilla duduk ditepi ranjang Sivia lalu memegang pundaknya.
            “nggak ada yang sayang sama gue, Shill… semuanya jahat sama gue, semuanya jahat, hiks…”
            “lo salah, Via, semuanya sayang sama lo, gue, Mama Papa lo, semuanya sayang sama lo…”
            “nggak, Mama Papa gue nggak pernah sayang sama gue, mereka selalu dan  selalu saja ninggalin gue. Gue kesepian Shill, gue kesepian….”
            “Via, ada seseorang yang mau ketemu sama lo….”
            “siapa??” Tanya Sivia tanpa menatap Shilla.
            “lo bangun dulu gih. Temuin dia….”
            Sivia mengikuti perintah Shilla, ia bangkit lalu duduk diatas ranjangnya berhadapan dengan Shilla. Shilla menyeka air mata sahabatnya itu,
            “siapa yang mau ketemu sama gue, Shill?”
            Shilla tersenyum penuh arti. Ia menyampirkan anak rambut Sivia kebelakang telinga lalu mengusap lembut wajah Sivia. Beberapa saat kemudian, seorang Pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jojo memasuki kamar Sivia.
            Kedua alis Sivia bertemu ketika melihat Jojo yang memasuki kamarnya. Buat apa juga Makhluk aneh itu menemuinya lagi? Bukan kah tadi Sivia sudah memecatnya.
            Saat ini Jojo sudah berdiri disamping ranjang Sivia. Ia menunduk dalam. Shilla tersenyum lagi,
            “dia mau ngomong sesuatu sama lo, Vi…” Shilla menepuk pundak Sivia beberapa kali sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Sivia dan hanya menyisakan Jojo dan Sivia berdua.
            Setelah kepergian Shilla, hening pun terjadi. Jojo dan Sivia sama-sama terdiam. Sivia membuang mukanya kearah jendela, ia merasa enggan menatap wajah Makhluk super aneh yang ada disampingnya ini.
            “lo mau ngomong apa lagi? Bukannya tadi gue udah mecat lo?? Masalah uang pesangon, itu nanti biar sekertaris Papa yang urus” ujar Shilla tanpa sedikitpun menatap wajah Jojo.
            Jojo menggeleng perlahan, lantas berkata,
            “bu.. bukan itu Mbak Via…” kata Jojo dengan menggunakan logat jawa timur nya yang khas.
            “terus?”
            “saya kesini Cuma mau minta maaf sama Mbak Via…”
            “lo nggak salah” timpal Sivia dengan sinis.
            “kalo begitu saya boleh berbicara serius dengan Mbak Via?”
            Sivia terlihat berfikir keras. Beberapa saat kemudian ia mengangguk perlahan. Ia masih enggan menatap wajah Jojo.
            Wajah Jojo yang tadinya kaku sekarang berubah serius. Ia memberanikan dirinya duduk dibawah ranjang Sivia dengan posisi bertekut lutut.
            “Mbak Via, sebelumnya saya minta maaf”
            “lo keseringan minta maaf” hardik Sivia.
            Jojo tiba-tiba saja memegang kedua pundak Sivia dan memutar tubuh Gadis itu hingga berhadapan dengannya. Sivia cukup kaget dengan apa yang baru saja Jojo lakukan padanya. Berani-beraninya si Tonggos ini memegang pundaknya.
            “Heh lo! Jangan kurang ajar ya sama gue? Gue tuh majikan lo”
            “lo lupa kalo beberapa jam yang lalu lo udah mecat gue??” tegas Jojo memperingatkan Sivia. Sivia kaget, logat bicara Jojo kembali normal, sama persis ketika ia menghajar Gabriel tadi.
            “elo… ergh…” Sivia berusaha keras menahan emosinya. Jojo tersenyum menang kali ini.
            “gue tau selama ini lo nungguin gue, dan gue juga tau kalo selama ini Cuma gue yang ada dihati lo, gue tau semuanya”
            Sivia melirik tajam kearah Jojo. Bicara apa Si Tonggos ini? Memangnya dia siapa? Sivia tertawa sinis,
            “hahaha…. Jangan kegeeran lo!! Gue mana suka sama cowok aneh, jelek dan tonggos kayak lo” cibir Sivia. Tapi Jojo hanya tersenyum.
            Kali ini Jojo menunduk dalam. Sivia terdiam, apa tadi bicaranya keterlaluan?
            Beberapa saat kemudian, Sivia melihat Jojo seperti melepaskan sesuatu dari mulutnya. Dan Ya Ampun… si Tonggos itu melepaskan…

            “ini palsu” kata Jojo sambil menujukan Gigi palsunya dihadapan Sivia. Ternyata Si Tonggos ini tidak benar-benar tonggos. Tapi apa maksudnya?
            Kali ini Jojo membuka kaca matanya. Sivia mulai menerka-nerka wajah Jojo. Sepertinya ia pernah melihat Pria ini sebelumnya. Tapi dimana?
            “elo…??” Ujar Sivia yang mulai mengingat sesuatu. Nada bicara nya tadi ketus terhadap Jojo sekarang berubah menjadi biasa saja.
            Jojo mengangguk beberapa kali. Ia bisa dengan sangat jelas menebak apa yang sedang terfikirkan oleh Sivia saat ini.
            “iya, Sivia. Gue Alvin. Alvin Jonathan, cowok yang lo temuin 2 bulan yang lalu”
            Lantas Alvin meraih sapu tangan yang ada dalam genggaman Sivia. Alvin tersenyum kecil lalu menunjukan sapu tangan itu pada Sivia,
            “gue Alvin, cowok pemilik sapu tangan ini…”
            Sivia membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Benar-benar sulit ia percaya, bahwa Jojo yang selama ini menjadi supir pribadinya ternyata adalah Alvin. Pria tampan yang ia temui 2 bulan yang lalu. Pria tampan yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pria tampan yang selama ini ia cari dan yang ia tunggu selalu. Pria tampan yang menjadi satu-satunya pengisi relungnya.
            Air mata Sivia kembali menetes. Ia belum bisa mempercayai semua ini. Semua ini benar-benar sulit untuk bisa ia cerna.
            Lalu tiba-tiba tangan kanan Sivia terangkat lantas bergerak perlahan menyentuh pipi sebelah kanan Alvin. Sivia mengusap tompel yang bertengger dipipi Alvin. Ternyata tompel itu juga palsu. Tapi apa maksud Alvin dibalik semua ini? Sivia butuh penjelasan, benar-benar butuh penjelasan.
            “ini… ini juga palsu??”
            Alvin mengangguk perlahan lalu memegang pergelangan tangan Sivia yang menyentuh pipi mulusnya.
            “elo… apa maksud lo dibalik semua ini? Lo mau ngerjain gue? Iya? Lo mau ngerjain gue??”
            “yang tau penyamaran gue ini Cuma Shilla, dan gue adalah sepupunya Shilla. Waktu Shilla tau gue nyamar sebagai Jojo dan jadi supir lo, Shilla sempat kaget, tapi setelah gue ngejelasin semuanya Shilla akhirnya ngerti dan ngedukung gue. Gue nggak ada niat sedikitpun buat ngerjain lo, Vi. Gue Cuma mau nguji apa lo bener-bener Cinta sama gue dengan tulus dan tanpa melihat… maaf kalo gue narsis, tampang gue”
            “dan lo berhasil kan ngerjain gue. Lo curang tau nggak, Vin? Lo curang, lo curang, lo curang…” Sivia memukul pelan dada Alvin beberapa kali untuk menyalurkan emosinya. Ia merasa Pria ini sudah mempermainkannya. Mempermainkan perasaannya juga hatinya.
            Alvin terus menatap Sivia yang terisak, beberapa saat kemudian, Alvin menarik kedua tangan Sivia yang memukuli dadanya lalu menarik Gadis itu kedalam rengkuhannya. Sudah sejak lama ia ingin melakukan ini sebenarnya, tapi melihat keantian Sivia selama ini padanya membuat Alvin ragu. Alvin memeluk Sivia erat meskipun Sivia berontak dalam pelukannya.
            “gue nggak akan ngebiarin lo kesepian lagi, Vi. Gue juga nggak akan ngebiarin lo ngerasa sendiri lagi. Dan nggak ada satupun orang yang boleh nyakitin lo, karena gue nggak akan pernah ngebiarin itu, tidak dengan Gabriel, tidak dengan siapapun…”
            Isakan Sivia semakin kencang dalam dekapan hangat Alvin. Ia juga masih belum mau membalas pelukan Alvin.
            “gue jatuh cinta sama lo, Vi. Bahkan sejak pertama kali kita ketemu. Sejak saat itu gue nggak bisa berhenti mikirin lo, tapi gue juga nggak tau gimana caranya biar bisa ketemu sama lo, gue nggak tau siapa nama lo, gue nggak tau dimana rumah lo, dan gue juga nggak tau musti nemuin lo dimana. Hingga akhirnya gue tau lo dari Shilla, Shilla cerita semuanya tentang lo, tapi Shilla nggak pernah tau kalo sejak awal gue sudah punya niat buat nyamar jadi supir lo”
            Kali ini isakan Sivia sudah sedikit mereda. Alvin tersenyum kecil dan kembali berkata,
            “suatu hari Shilla cerita, kalo Papa lo lagi nyari supir baru buat lo. Saat itu gue ngerasa ada kesempatan buat masuk kedalam hidup lo. Tapi untuk menguji perasaan lo, gue harus nyamar jadi orang lain. Makanya itu gue nyamar jadi Jojo yang aneh. Pas ngeliat reaksi lo waktu pertama kali ngeliat Jojo, gue sempet putus asa, apalagi pas gue tau kalo lo udah punya cowok yang namanya Gabriel, rasanya gue mau mundur aja. Tapi keinginan gue buat ngedapetin lo malah bikin gue bertahan, hingga hari ini akhirnya gue tau kebusukan Gabriel. Gue marah besar karna Gabriel nyakitin lo, nyakitin cewek yang paling gue cinta setelah Mama gue. Gue nggak terima dengan hal itu, makanya itu gue sampe ngehajar Gabriel habis-habisan… gue, cinta sama lo, Via….”
            “gue juga, Vin… gue juga. Gue jatuh cinta sama lo bahkan sejak pandangan pertama, sejak pertama kali kedua mata lo natap mata gue. Saat itu gue tau kalo gue bener-bener jatuh cinta sama lo, Alvin…”
            Alvin tersenyum puas lalu membelai lembut rambut sebahu Sivia. Seumur hidupnya, Alvin tidak pernah merasa sebahagia ini.
            “jadi lo tetep mau mecat gue?” bisik Alvin pelan yang masih memeluk tubuh Sivia. Sivia menggeleng cepat lalu melepaskan dirinya dari pelukan Alvin,
            “gue nggak jadi mecat lo. Tapi gue akan naikin pangkat lo…” Sivia mengusap air matanya lalu berusaha tersenyum.
            “naikin pangkat gue??” Sivia mengangguk pasti.
            “iya, gue bakalan naikin pangkat lo, dari supir plus pengawal pribadi gue, sekarang lo udah resmi jadi satpam gue…”
            “HAH?? SATPAM??” Kaget Alvin. Apa gadis ini bercanda?? Masa kah Alvin sudah keren begini malah mau dijadikan satpam? Tidak salah apa? Alvin melengos tapi malah membuat Sivia merasa lucu.
            Sivia menjawil hidung Alvin lalu tertawa pelan,
            “satpam penjaga hati gue, hahahaha…..”
            Alvin tersenyum jahil lalu kembali merengkuh tubuh Sivia dalam dekapannya.
            “jadi sekarang kita pacaran?”
            “terserah lo” jawab Sivia malu-malu.
            “katanya lo nggak mau sama cowok aneh, jelek dan tonggos kayak gue” ucap Alvin setengah meledek. Tidak segan-segan Sivia langsung menghadiahi perut Alvin dengan sebuah cubitan.
            “awww…. Sakit Mbak Via” Protes Alvin yang kembali menggunakan logat jawa.
            “elo sih jahat banget sama gue”
            Alvin semakin mengeratkan pelukannya pada Gadis itu. Sivia pun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Alvin. Saat itu Sivia bisa merasakan bagaimana kencanganya deguban jantung Alvin. Sivia bisa merasakan semuanya dengan jelas, Sivia juga bisa merasakan bahwa Pria ini benar-benar mencintainya. Dengan setulus hatinya.
            Alvin lalu melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia memegang kedua sisi wajah Sivia dengan kedua tangannya lantas menatap kedua manik mata Gadis itu dengan intens.
            “Finally, i—“ Sivia menggantungkan kalimatnya dan membuat Alvin menunggu.
            Alvin mengangkat kedua alisnya, menanti kelanjutan kalimat yang hendak Sivia ucapkan.
            “Finding you….” Lanjut Sivia lalu tertawa pelan. Alvin tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia,
            “and I love you…” bisik Alvin pelan didepan wajah Sivia. Wajah Alvin kembali bergerak hendak menghapus jarak yang terbentang diantara mereka. Dan tepat ketika kedua bibir itu nyaris bersentuhan, tiba-tiba saja Shilla masuk kedalam kamar Sivia dan mengacaukan semuanya.

            “ciyeeee…. Yang udah jadiaaannnnn….”
            Alvin kesal pada Shilla detik itu juga. Kenapa sih Shilla harus datang disaat yang tidak tepat? Dasar sepupu tidak pengertian! Gerutu Alvin dalam hati.
            Alvin bisa melihat dengan sangat jelas kedua pipi Sivia yang ketika itu sudah merah merona. Alvin menahan tawanya. Entah kenapa Sivia terlihat begitu lucu disaat ia malu seperti itu.
            Menyadari bahwa Alvin tengah menatapnya tanpa henti sambil tersenyum, Sivia malah salah tingkah sendiri. Kali ini perhatiannya tertuju pada Shilla, ia baru ingat sesuatu. Lalu tiba-tiba saja, Sivia melemparkan salah satu bantalnya kearah Shilla, Shilla yang kaget reflex menangkap bantal yang nyaris saja mengenai wajahnya itu.
            “apa-apaan nih?” Tanya Shilla tak paham.
            “nggak usah sok nggak berdosa lo!! Lo ikut andil kan dibalik sandiwara si Tonggos Gadungan ini??” ujar Sivia sambil melirik Alvin dan Shilla secara bergantian. Alvin dan Shilla hanya mengangkat kedua bahu mereka tanda ketidak pedulian mereka.
            Merasa diacuhkan Sivia langsung cemberut. Ia melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang tatapannya kearah lain.

Beberapa saat kemudian…


            “HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…..” Tawa Alvin dan Shilla pecah seketika. Sivia semakin sebal, tapi ia buru-buru menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Alvin. Dengan sigap Alvin pun menangkap tubuh Sivia dan memeluknya erat.

            “I LOVE YOU MY PRINCE TONGGOS…..”






                                                ~The End~

           

0 comments:

Post a Comment