Mencarimu Dengan Cinta…
Menemukanmu Dengan
Hati…
“ergh Sial!!” Sivia membanting kedua
tangannya diatas setir ketika tiba-tiba saja mobilnya mogok ditengah jalan.
Sivia pasti telat menghadiri acara pesta ulang tahun temannya. Padahal Sivia
sedang terburu-buru. Jika tahu akan
seperti ini kejadiannya, kenapa tadi Sivia tidak pakai taxi saja? Atau kenapa
Sivia tidak meminta pada Supir Mama nya untuk mengantarnya ke pesta? Sivia
menyesali diri.
Tapi saat ini sejuta penyesalannya
tidak akan bisa membantu apapun. Sivia mengetuk-ngetukan jemari tangannya
diatas setir. Setelah berfikir lumayan lama, Sivia pun keluar dari dalam
mobilnya dan mengambil inisiatif untuk memeriksa keadaan mesin mobilnya. Perlu
dicatat, dalam hal ini Sivia sama sekali tidak mengerti apapun tentang mesin
mobil. Hey… Ayolah, Sivia itu ahli fashion, bukan ahli mesin.
Kepulan asap langsung menyembul dan
menerpa wajah Sivia ketika ia membuka bagasi depan mobilnya. Sial, malam ini
adalah malam tersial yang pernah Sivia lewati.
“duuhhh…. Mampus lo, Vi!! Ini musti
di apain nih??” Tanya Sivia lebih kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar
bingung harus berbuat apa pada mesin mobilnya ini. Sivia benar-benar buta dalam
hal seperti ini.
Tiba-tiba saja sebuah Ferarri merah
entah milik siapa berhenti tepat disamping mobil Sivia yang mogok. Sang empunya
Ferarri itu sedikit membuka kaca mobilnya dan melihat apa yang terjadi diluar
sana. Tapi perhatiannya tidak langsung tertuju pada mobil mogok yang bernasib
malang itu, perhatiannya malah tertuju pada sesosok Bidadari Cantik bergaun
putih selutut yang tengah berdiri didepan mobil mogok itu dengan raut wajah
yang benar-benar kebingungan. Pria pemilik Ferarri merah itu tersenyum kecil.
Seumur-umur, ini baru pertama kalinya ia terpesona ketika menatap keindahan
seorang Gadis.
Pria itu segera keluar dari dalam
mobilnya lalu menghampiri Bidadari Cantik tadi.
“mobil lo mogok?” tanyanya langsung
tanpa basa basi.
Mendengar seseorang melemparkannya
sebuah pertanyaan yang menyangkut mobilnya, Sivia langsung terkesiap lalu
menoleh kearah Pria itu. Dan Wow… pemandangan yang ada didepan mata Sivia kali
ini benar-benar mempesona. Sesosok Pria tampan menghampirinya. Ya Tuhan,
Mimpikah ini? Jika bukan mimpi, apa yang menghampiri Sivia saat ini bukanlah
manusia, melainkan adalah malaikat kiriman Tuhan.
Sivia terkesima. Ia terpesona untuk
beberapa saat dan malah terpaku memandangi Pria tampan berkemeja putih yang
dilapisi oleh jas hitam itu. Dia bukan hanya tampan, tapi begitu menawan.
“ehem…” deheman Pria itu langsung
membuat Sivia terkesiap dan buru-buru menarik dirinya dari keterpanaanya.
“mobil lo mogok??” Pria itu
mengulang pertanyaannya. Sivia yang masih dalam keadaan setengah sadar hanya
bisa mengangguk perlahan. Ia telah benar-benar terhipnotis oleh keindahan makhluk
yang ada dihadapannya kali ini. Ya Tuhan… inikah yang dinamakan dengan Love at the first sight…?
“Boleh gue liat?”
Kembali Sivia hanya mengangguk. Pria
itu tersenyum kecil lalu mulai memeriksa mesin mobil Sivia.
“owh… ini—“ dan blablabla, indera
pendengar Sivia sama sekali tidak berfungsi kali ini. Sosok Pria tampan ini
benar-benar membuatnya gila hanya dalam sekali tatap saja. Seluruh organ
tubuhnya seakan tidak bisa bergerak. Ia sudah benar-benar terbius oleh
ketampanan Pria itu.
Sekitar
10 menit kemudian….
“beres!!” ujar Pria itu dengan sebuah
senyuman lega yang tersungging diwajahnya. Dan ya Ampun… senyuman Pria itu
malah semakin membuat Sivia terpesona. Dalam beberapa detik, Sivia bahkan
sampai lupa bagaimana cara bernafas. Oke, ini cukup lebay, tapi sungguh,
ketampanan Pria ini benar-benar membuat Sivia kehilangan akal.
“lo bisa ngelanjutin perjalanan lo
sekarang” lanjut Pria itu sambil menutup bagasi depan mobil Sivia. Sivia
lagi-lagi terkesiap ketika mendengar suara bagasi depan mobilnya ditutup.
Ia mendadak gelagapan dan salah
tingkah.
“ooo… udah beres? Makasih ya??”
Sivia berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. Ia benar-benar tidak ingin
terlihat bodoh dihadapan Pria ini.
Tanpa Sivia sadari, Pria itu
tiba-tiba saja merogoh kantong jas nya lalu mengambil sebuah sapu tangan. Tangan
kanan Pria itu terangkat lalu bergerak perlahan menyentuh wajah Sivia. Ia
mengusap wajah Sivia yang terlihat sedikit kotor akibat asap dari mesin
mobilnya tadi menggunakan sebuah sapu tangan berwarna merah.
“eh…” Sivia terkesiap. Tidak lama
Pria itu kembali menurunkan tangannya setelah ia merasa bahwa kulit wajah Sivia
sudah terlihat lebih baik.
“wajah lo sedikit kotor, makanya gue
bersihin”
Kedua pipi Sivia langsung merona
ketika juga. Demi apapun, Sivia tidak ingin Pria ini melihat kedua pipi chubby
nya yang mulai menampakkan guratan warna merah jambu. Tidak, Pria ini tidak
boleh melihatnya. Maka Sivia pun memilih untuk menunduk.
“makasih…” imbuhnya sekali lagi.
Pria itu meraih tangan kanan Sivia lalu menyerahkan sapu tangan itu begitu
saja. Akibat perlakuan tanpa komando dari Pria itu, Sivia akhirnya mengangkat
wajahnya,
“lo pegang aja sapu tangan itu.
Siapa tau nanti lo butuhin”
Pria itu berjalan mundur lalu
sedikit membungkukan tubuhnya layaknya seorang pangeran yang memberikan hormat
pada sang tuan puteri. Pria itu membuka pintu mobilnya lantas berkata,
“gue duluan” Sivia tidak menjawab
sama sekali. Ia masih terhipnotis oleh pesona Pria itu. Sivia bahkan tidak
menyadari ketika Pria itu menyalakan mobilnya dan telah bersiap untuk pergi.
Baru ketika mobil Pria itu sudah
melesat jauh, Sivia akhirnya tersadar.
“HEY….” Teriak Sivia sambil
melambaikan tangannya. Tapi percuma saja, karena mobil Pria itu sudah jauh dan
nyaris tak tertangkap lagi oleh kedua indera pelihat Sivia “nama gue Sivia….”
Lanjutnya dalam sebuah bisikan pelan. Bodoh, mana mungkin pria itu mendengarkan
ucapannya.
Sivia tersenyum, ia membuka lipatan
sapu tangan itu dan menemukan sebuah nama bertengger diatas sapu tangan itu.
Sivia tersenyum lagi, tapi kali ini senyumnya melebar,
“ALVIN??” gumam Sivia pelan
Sivia menggelengkan kepalanya
beberapa kali. Ia tertawa kecil lalu berjalan perlahan memasuki mobilnya. Ah…
Sivia sudah benar-benar gila karena Pria itu. Hmmm….
Love at the first sigth…
^^
Dua
Bulan Kemudian…
“semenjak pacaran sama Si Gabriel
itu sikap dan kelakuan kamu berubah drastis. Kamu jadi lebih sering pulang
malam, keluyuran nggak jelas setiap pulang sekolah, bolos seenaknya, dan kamu
juga lebih sering ngelawan kalo Mama sama Papa nasehatin kamu. Mau jadi apa kamu,
Sivia? Hah?” bentak Pak Duta pada Sivia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah
Puteri semata wayangnya.
Ketika mendapatkan laporan dari
sekolah tentang ulah Sivia yang semakin hari semakin tidak wajar, Pak Duta
akhirnya naik pitam. Ia tahu, Puteri nya ini anak baik-baik, penurut, dan tidak
pernah sekalipun membantah perkataan orang tua. Tetapi, semenjak ia berpacaran
dengan Gabriel sebulan yang lalu, Kakak kelas nya di SMA Patuh Karya, sikap dan
kelakuan Sivia malah berubah dengan begitu cepat. Sivia yang dulunya sangat
penurut sekarang malah jadi tidak terkontrol. Entah racun apa yang Gabriel
gunakan untuk meracuni fikiran Sivia hingga sikap dan kelakuannya berubah
begitu cepat seperti ini. Pak Duta tidak mengerti.
“ini bukan karna Kak Gabriel, Pa… Papa tu—“
“DIAM KAMU!!!” Sela Pak Duta tak
sabar sebelum Sivia sempat melanjutkan perkataannya. Sivia langsung diam
seketika, ia menunduk sedalam-dalamnya. Dalam hati ia bertanya, kenapa Papa nya
selalu begini? Kenapa Papa nya tidak pernah memberikannya sedikit saja
kesempatan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapatnya? Sivia juga ingin
didengarkan.
“Papa akan hukum kamu Sivia. Mulai
sekarang semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati akan Papa cabut. Semuanya
tanpa terkecuali. Termasuk mobil, mulai hari ini kamu nggak akan bawa mobil
sendiri kesekolah”
“Papa kok gitu? Terus Via mau pake
apa, Papa??” protes Sivia setengah merajuk. Kali ini ia benar-benar menampakkan
wajah memelas.
“kamu akan diantar oleh supir. Papa
sudah cari supir yang tepat buat kamu”
“WHAAATT? SU.. SUPIR, PA???” Kaget
Sivia. Sivia melipat kedua tangannya didada, ia memasang wajah cemberut lalu
membuang mukanya kearah lain “emangnya Via anak TK apa pake dianter segala??”
dumel Sivia yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Pak Duta.
“Supir kamu ini satu sekolah sama
kamu. Dia sengaja Papa pindahin dari sekolahnya yang lama biar bisa satu
sekolah sama kamu, selama disekolah dia juga akan ekstra menjaga kamu biar
nggak macem-macem sama Gabriel”
Kedua mata Sivia membelalak lebar.
Ia benar-benar tidak habis fikir dengan hukuman yang Pak Duta limpahkan
padanya. Menurut Sivia ini terlalu kejam. Tapi saat ini Sivia sama sekali tidak
bisa melawan. Ia hanya bisa menerima hukuman ini tanpa perlawanan apapun.
“terserah Papa” ujar Sivia putus
asa.
Pak Duta mengangguk. Beberapa saat
kemudian, Pak Duta kembali membuka suara. Dengan lantang ia menyerukan nama
seseorang.
“JOJO….”
Tidak lama setelah Pak Duta
memanggil nama itu, seorang cowok bertubuh tinggi dengan kaca mata super besar
memasuki ruang tengah kediaman Sivia. Tidak hanya kaca mata super besar itu
yang membuatnya terlihat aneh, tapi juga tompel yang ukurannya cukup besar yang
terdapat dipipi sebelah kananya, tak hanya itu, cowok ini gigi nya tonggos.
Sivia meringis pelan. dalam hati ia
bertanya; Makhluk aneh dari planet mana ini??
Kali ini Cowok aneh itu sudah
berdiri disamping Pak Duta dan tepat menghadap kearah Sivia. Sivia menatap
cowok ini dari ujung kaki hingga rambut. Dihati kecilnya entah kenapa Sivia
merasa pernah melihat cowok aneh ini sebelumnya, tapi dimana?
“kenalin Sivia, ini Jojo. Dia yang
akan jadi supir plus pengawal kamu”
“Hay Mbak, Via, kenalin aku Jojo.
Aku supir barunya Mbak Sivia…” Jojo memperkenalkan dirinya dengan logat bahasa
jawa timur yang begitu kental. Mendengar bahasanya saja sudah cukup membuat
Sivia illfeel. Jojo mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Tapi dengan tidak
berperasaannya, Sivia membiarkan begitu saja tangan Jojo menggantung di udara
tanpa sedikitpun memiliki niat untuk membalas uluran tangan Jojo.
Sivia menatap Jojo dengan tatapan
tak percaya, beberapa saat kemudian Sivia mengalihkan tatapannya pada Papa nya
yang ketika itu terlihat santai-santai saja.
“Papa nggak salah orang?” Tanya
Sivia skeptic. Pak Duta menggeleng dengan mantap,
“enggak. Papa nggak salah orang.
Papa tau Jojo ini supir plus pengawal yang pas buat kamu”
“tapi, Pa… yang potongannya lebih
bagusan dikit dari ini emangnya nggak ada??” Tanya Sivia sedikit emosi sambil
menunjuk kearah Jojo. Jojo hanya menunduk, ia terlihat sedih.
“jaga omongan kamu, Sivia!! Nggak
usah sembarangan bicara seperti itu!!”
“tapi, Pa.. ergh… tau ah. Toh aku
nggak akan bisa ngelawan kehendak Papa ini kan??” Sivia meraih tas nya diatas
meja lalu melangkah keluar tanpa menunggu Jojo yang hari itu telah resmi
menjadi supir dan pengawal pribadinya.
Pak Duta melirik kearah Jojo dengan
tatapan memohon maaf. Jojo hanya tersenyum maklum,
“maafin kelakuan Via ya, Jo?”
“nggak apa-apa, Pak. Jojo mengerti…
mari Pak, saya mau susul Mbak Via dulu…”
“iya Jojo. Hati-hati dijalan ya?
Jagain Via baik-baik. Kalo Si Gabriel berani berbuat macem-macem sama Via, kamu
boleh ngehajar dia, nanti saya yang akan tanggung jawab”
“iya, Pak…” Jojo mengangguk takzim
lalu melangkah keluar menyusul ‘Nona Baru’ nya yang sudah keluar terlebih
dahulu.
^^
“Heh Tonggos! Lo ketemu Papa gue
dimana sih?” Tanya Sivia tiba-tiba pada Jojo yang ketika itu tengah focus
menyetir. Sivia duduk di jok belakang.
“maaf Mbak, Via. Nama saya Jojo,
bukan tonggos”
“ya mau nama lo apa kek, emangnya
gue peduli? Jawab pertanyaan gue buruan!” pinta Sivia sedikit keras. Tapi Jojo
lebih memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan ‘Nona Baru’ nya itu.
“heh!! Lo budeg ya??” hardik Sivia
yang sudah benar-benar kesal dengan tingkah Makhluk aneh satu itu.
“sekali lagi maaf Mbak… tapi saya
dibayar untuk mengawal Mba Via, dan bukan dibayar untuk diintrogasi seperti
ini”
Sivia melipat kedua tangannya
didepan dada lalu menampakkan raut masa bodoh. Ternyata Pria yang ada
didepannya ini bukan hanya aneh, tapi juga sangat menyebalkan.
Diperjalanan yang panjang itu, Sivia
mulai merasa bosan. Ia pun memasang headset nya lalu mendengarkan beberapa buah
lagu dari I-Pod nya.
^^
Sejak hari itu Jojo resmi menjadi
supir serta pengawal Pribadi Sivia. Kemana pun Sivia pergi Jojo selalu
mengikutinya. Jojo sama sekali tidak peduli dengan kerisihan dan keantian Sivia
terhadapnya. Yang Jojo ketahui hanyalah ia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya
dengan baik dan benar supaya Pak Duta puas dengan hasil kerjanya. Jojo tidak
mau mengecewakan Pak Duta yang selama ini sudah sangat baik terhadapnya.
Hari-haripun berlalu, tidak terasa
satu minggu sudah Jojo menjadi supir serta pengawal pribadi Sivia. Dan selama
satu minggu ini juga, tidak pernah sekalipun Sivia berprilaku manis pada Jojo.
Ia selalu berusaha mencari kesalahan Jojo.
Setiap hari Jojo selalu saja kena
omelan-omelan dari Sivia. Tidak jarang juga, Sivia dengan dibantu oleh Gabriel
sering kali mengerjai Jojo. Bahkan pernah pada hari ketiga Jojo bekerja bersama
Sivia, Gabriel mengerjainya habis-habisan. Jojo yang sekelas dengan Gabriel
membuat Gabriel bisa dengan leluasa mengerjai makhluk aneh itu.
Tidak segan-segan Gabriel
menyembunyikan buku PR Kimia milik Jojo. Hal itu itupun akhirnya menyebabkan
Jojo harus dikeluarkan dari kelas. Tapi Jojo tidak gentar sedikitpun. Ia tetap
bertahan dengan pekerjaannya ini meskipun banyak kendala yang harus ia hadapi.
“Ayo Shill, kita berangkat” ucap
Sivia pada Shilla, sahabatnya.
Saat itu Shilla terlihat tengah
membicarakan sesuatu dengan Jojo. Dan Sivia bisa menangkap dengan sangat jelas
raut wajah Shilla yang terlihat begitu serius. Tapi ketika Sivia memanggilnya,
Shilla buru-buru mengubah raut wajahnya menjadi biasa kembali. Sivia tidak mau
ambil pusing dengan itu, bagainya itu sangat tidak penting untuk dia fikirkan.
“Heh Tonggos! Lo diem aja dirumah.
Jangan ikutin gue. Gue mau pergi pake mobilnya Shilla”
“tapi nanti bagaimana Kalo Pak Duta
pulang terus nyariin Mbak Via?”
“udah lo tenang aja. Gue pastiin gue
pulang lebih cepet dari Papa”
“tapi Mbak…”
“nggak ada tapi-tapian kalo lo nggak
mau gue pecat detik ini juga” sinis Sivia tajam yang langsung membuat Jojo
bungkam seketika.
“ayo Shill, kita pergi sekarang”
Sivia pun berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Sivia. Sebelum mengikuti
Sivia, Shilla sempat melirik kearah Jojo yang ketika itu tengah mengangkat
jempolnya untuk Shilla. Shilla mengangguk ragu-ragu.
^^
Diatas meja ruang tamu, Jojo melihat
sebuah benda yang sukses yang menarik perhatiannya. Jojo merasa mengenali benda
itu. Jojo pun melangkah perlahan mendekati meja ruang tamu. Jojo meraih benda
itu yang ternyata adalah sebuah sapu tangan. Jojo melihat sejenak sapu tangan
itu lalu membuka lipatannya. Ketika Jojo melihat nama yang tertera didalam
lipatan sapu tangan itu, mendadak Jojo merasakan aliran darahnya berdesir. Ia
juga tiba-tiba merasa ada jutaan kupu-kupu yang menari dalam perutnya. Tidak
salah lagi. Ternyata dugaannya selama ini benar.
Jojo tiba-tiba tersentak kaget
ketika ada seseorang yang merenggut sapu tangan itu dengan kasar darinya. Jojo
melirik cepat kesamping, dan wajah galak Sivia langsung menyambutnya,
“suruh siapa lo pegang-pegang barang
gue? Hah?” bentak Sivia. Mendadak Jojo gelagapan, ia bingung bagaimana harus
menjawab pertanyaan Sivia.
“ma… maaf Mbak, tapi saya nggak
sengaja…”
“nggak sengaja, nggak sengaja…
sekali lagi gue lihat lo nyentuh barang gue, gue nggak akan segan-segan buat
minta sama Papa untuk mecat lo dan nyari supir baru buat gue”
“sekali lagi maaf, Mbak…” Jojo
menunduk dalam.
Lalu tanpa menghiraukan Jojo
sedikitpun, Sivia langsung berlalu begitu saja dari hadapan Jojo.
“buruan lo!! Gue nggak mau telat,
hari ini ada ujian Fisika” teriak Sivia dari kejauhan. Jojo langsung berlari
dan mengejar langkah Sivia.
^^
“Via, gawat Vi… gawat….” Ujar Shilla
dengan nafas yang tidak teratur. Sivia heran melihat tingkah sahabatnya ini.
“kenapa lo? Kayak dikejer-kejer
setan” jawab Sivia masa bodoh. Shilla memegang lengan Sivia dan berusaha
menjelaskan apa yang sedang terjadi.
“lo harus ikut gue! Sekarang!!”
“emang ada apa sih??” Tanya Sivia
yang mulai penasaran.
“JOJO, VIA…. JOJO….”
“Si Tonggos itu bikin masalah apa??”
“JOJO VIA, JOJO….”
“Iya gue tau, si Jojo kenapa???”
“Jojo lagi ngehajar Gabriel
habis-habisan dihalaman belakang sekolah” kata Shilla pada akhirnya. Kedua mata
Sivia membelalak. Biji matanya nyaris mau copot saking kagetnya.
Si Tonggos itu sedang menghajar
Gabriel? Memangnya sejak kapan Si Tonggos itu berani pada Gabriel? Kenapa juga
dia harus menghajar Gabriel? Memangnya Gabriel pernah buat kesalahan apa?
Benar-benar tidak bisa dibiarkan.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun,
Sivia langsung berlari menyusul Jojo dan Gabriel dihalaman belakang sekolah. Ia
ingin segera tau ada masalah apa sebenarnya hingga Jojo berani-beraninya
menghajar Gabriel.
Tibalah Sivia dihalaman belakang
sekolah. Shilla dengan setia mengikutinya dari belakang. Sivia benar-benar
kaget melihat pemandangan yang terhampar didepannya kali ini. Jojo tengah
menghajar Gabriel habis-habisan, bahkan Jojo sama sekali tidak menghentikan
kekerasannya meskipun Gabriel sudah dalam keadaan tidak berdaya. Ditempat itu,
tidak hanya ada Jojo dan Gabriel saja, melainkan ada seorang cewek yang ketika
itu tengah menyaksikan pertengkaran mereka dengan raut wajah ketakutan.
Sivia berfikir cepat. ia berlari
menghampiri kedua cowok yang tengah bergulat dengan emosi masing-masing itu.
“Jojo stop!! Lo apa-apaan sih??”
Sivia menarik lengan Jojo dengan kasar hingga akhirnya Jojo menghentikan
pukulannya.
“biarin! Biarin gue hajar cowok
bedebah ini sampe mampus” kata Jojo tanpa sadar. Emosinya yang benar-benar tersulut
membuatnya tidak menyadari dengan apa yang baru saja ia ucapkan pada Sivia.
Sementara Sivia, ia hanya bisa
terheran-heran mendengar ucapan Jojo barusan. Tidak biasanya Jojo berbiacara
dengan logat normal seperti ini, bahkan Jojo yang culun sama sekali tidak
terlihat disana.
Ketika tinju Jojo aku mendarat untuk
yang kesekian kalinya di perut Gabriel, Sivia langsung menahan tangannya hingga
menggantung di Udara.
“JOJO HENTIKAN GUE BILANG!!!” Teriak
Sivia yang sudah putus asa.
“Gabriel ini cowok gue. Lo nggak
berhak ngehajar dia kayak gini. Lo mau gue bilangin sama Papa biar lo
dipecat??”
Jojo menghela nafas panjang berusaha
menenangkan emosinya yang sebenarnya masih panas. Jojo hanya tidak terima saja
dengan ulah Gabriel yang diam-diam berselingkuh dibelakang Sivia. Sudah sejak
lama Jojo mengetahui akan hal ini, hanya saja Jojo baru bisa menyalurkan
emosinya hari ini, ketika ia melihat Gabriel dengan mesranya mencium
selingkuhannya didepan matanya sendiri. Jojo tidak terima Gabriel berbuat
seperti ini pada ‘Nona Kesayangan’ nya ini.
“tapi Mbak Via, Gabriel ini bukan
laki-laki baik-baik. Dia seling—“
PLAAKK…. Sebuah tamparan dari tangan
Sivia mendarat dipipi sebelah kanan Jojo sebelum Jojo menyelesaikan
perkataannya. Jojo tersentak kaget, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Nona
nya ini akan menamparnya, padahal sudah jelas-jelas Jojo hanya ingin
membelanya.
“lo nggak usah ikut campur urusan gue,
Jo. Gue nggak butuh dibela sama cowok kayak lo” Sivia menunjuk tepat kearah
wajah Jojo.
Kali ini Sivia mengalihkan
tatapannya kearah Gabriel yang waktu itu sedang dipapah oleh cewek yang disebut
‘selingkuhan’ Gabriel tadi oleh Jojo. Sivia menatap Gabriel tajam. Ia pun
melangkah perlahan menghampiri Gabriel dan cewek itu,
“dan elo, Kak. Gue diem selama ini
bukan berarti gue begok dan nggak tau apa-apa tentang kebusukan lo. Sejak awal
gue tau lo selingkuh dibelakang gue, tapi gue Cuma pura-pura nggak tau, dan itu
karna apa? Karna gue nggak peduli sama lo. Gue mau jadi pacar lo Cuma untuk
menghindar dari kesepian gue selama ini, gue nggak pernah sedikitpun ada rasa
sama lo, nggak pernah sedikitpun…” Sivia menggeleng pelan, air matanya perlahan
tumpah.
Sivia merasa hatinya begitu pedih
ketika ia mengeluarkan pengakuan itu. Iya, memang selama ini Sivia bersedia
jadi pacar Gabriel bukan karna ia mencintai Gabriel, tapi Sivia hanya ingin
membunuh kesepiannya. Awalnya Sivia fikir, berpacaran dengan Gabriel bisa
membunuh jenuhnya karna kesepian selama ini, tapi ternyata Sivia salah.
Berpacaran dengan Gabriel malah semakin membuatnya merasa tertekan.
Selama ini Sivia benar-benar
kesepian. Sahabat satu-satunya yang ia miliki adalah Shilla. Kedua orang tuanya
selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing yang
sebentar-sebentar pergi keluar kota, yang sebentar-sebentar pergi keluar negri.
Sivia hanya kesepian, dan ia butuh perhatian. Itulah yang selama ini
menyebabkan Sikap Sivia berubah drastic.
Perubahan sikap Sivia terjadi bukan karna Gabriel, tapi karna rasa kesepiannya.
Dan Sivia ingin kedua orang tuanya memahami itu. Tapi sayangnya kedua orang
tuanya tidak mengerti dan selalu saja menyalahkan Sivia.
Sekali lagi Sivia mendaratkan sebuah
tamparan dipipi Gabriel. Dengan tajam Sivia berkata,
“mulai sekarang kita putus. Gue
nggak mau ngeliat muka lo lagi entah untuk alasan apapun. Ngerti lo??”
Sivia pun melangkah pergi. Ketika
melewati Jojo dan Shilla, Sivia menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Jojo
dengan lembut, dan jujur saja, ini kali pertamanya bagi Jojo melihat Sivia
menatapnya dengan selembut itu,
“dan buat elo, Jo. Mulai besok lo
nggak perlu jadi pengawal gue lagi, gue udah nggak butuh lo lagi. Dan maaf kalo
selama ini gue lebih banyak nyakitin lo dengah sikap dan kelakuan gue. Gue
bener-bener minta maaf. Dan makasih karna lo udah mau ngejagain gue… makasih
Jo…” sebulir air mata Sivia menetes lagi. Ia pun melanjutkan langkahnya.
Sama seperti Sivia, Jojo juga
merasakan hatinya begitu pedih ketika ia mendengar ucapan Sivia barusan. Yang
ada dalam fikiran Jojo saat ini hanyalah, ia ingin selalu menemani Sivia,
mengurangi luka hatinya sebisanya. Dan bila perlu, ia ingin mengisi hidup Sivia
yang selama ini selalu hidup dalam lingkaran kesepian. Jojo ingin
membebaskannya dari kesepian itu. Tapi pertanyaannya sekarang, apa Jojo bisa
melakukan itu? Sementara Sivia selalu menolak kehadirannya dan terkesan tidak
pernah menerima kehadirannya. Jojo menghela nafasnya yang entah kenapa terasa
begitu berat ketika ia menghembuskannya,
“Hey… lo sabar ya??” Shilla menepuk
pelan pundak Jojo, berusaha membesarkan hatinya. Jojo hanya tersenyum kearah
Shilla lalu mengangguk.
“ini saatnya, Vin….” Lanjut Shilla
lalu melangkah pergi meninggalkan Jojo.
^^
Flash
Back Sivia;
“eh…” Sivia terkesiap.
Tidak lama Pria itu kembali menurunkan tangannya setelah ia merasa bahwa kulit
wajah Sivia sudah terlihat lebih baik.
“wajah lo sedikit kotor, makanya gue
bersihin”
Kedua pipi Sivia langsung merona
ketika juga. Demi apapun, Sivia tidak ingin Pria ini melihat kedua pipi chubby
nya yang mulai menampakkan guratan warna merah jambu. Tidak, Pria ini tidak
boleh melihatnya. Maka Sivia pun memilih untuk menunduk.
“makasih…” imbuhnya sekali lagi.
Pria itu meraih tangan kanan Sivia lalu menyerahkan sapu tangan itu begitu
saja. Akibat perlakuan tanpa komando dari Pria itu, Sivia akhirnya mengangkat
wajahnya,
“lo pegang aja sapu tangan itu.
Siapa tau nanti lo butuhin”
Flash
Back off~
Sivia tertawa miris sambil mengusap
air matanya dengan sapu tangan pemberian Alvin 2 bulan yang lalu. Alvin… hmm…
dimana pria tampan itu sekarang? Apa Alvin tidak pernah tahu bahwa selama ini
Sivia selalu mencarinya dan menunggunya dengan berjuta-juta harapan yang
terpatri dilubuk hatinya yang terdalam. Sivia ingin bertemu dengan Alvin sekali
lagi, kenapa Tuhan tidak pernah mengabulkan permintaannya selama ini? Apa
permintaannya itu terlalu berat?
Sivia menyimpan sapu tangan itu
dadanya, isakkannya semakin kuat terdengar. Didalam kamarnya yang sepi itu
hanya ada dirinya seorang. Tidak ada sautpun yang menemaninya. Kedua orang
tuanya saat ini tengah pergi keluar Negri mengurus pekerjaan mereka. Sivia
benar-benar kesepian.
“Hiks… hiks.. Alvin lo dimana?
Kenapa lo ngilang? Kenapaaaa?? Hiks.. hiks.. hikss…”
“Vi….” Suara Shilla tiba-tiba
terdengar dari belakang Sivia. Shilla duduk ditepi ranjang Sivia lalu memegang
pundaknya.
“nggak ada yang sayang sama gue,
Shill… semuanya jahat sama gue, semuanya jahat, hiks…”
“lo salah, Via, semuanya sayang sama
lo, gue, Mama Papa lo, semuanya sayang sama lo…”
“nggak, Mama Papa gue nggak pernah
sayang sama gue, mereka selalu dan
selalu saja ninggalin gue. Gue kesepian Shill, gue kesepian….”
“Via, ada seseorang yang mau ketemu
sama lo….”
“siapa??” Tanya Sivia tanpa menatap
Shilla.
“lo bangun dulu gih. Temuin dia….”
Sivia mengikuti perintah Shilla, ia
bangkit lalu duduk diatas ranjangnya berhadapan dengan Shilla. Shilla menyeka
air mata sahabatnya itu,
“siapa yang mau ketemu sama gue,
Shill?”
Shilla tersenyum penuh arti. Ia
menyampirkan anak rambut Sivia kebelakang telinga lalu mengusap lembut wajah
Sivia. Beberapa saat kemudian, seorang Pria yang tidak lain dan tidak bukan
adalah Jojo memasuki kamar Sivia.
Kedua alis Sivia bertemu ketika
melihat Jojo yang memasuki kamarnya. Buat apa juga Makhluk aneh itu menemuinya
lagi? Bukan kah tadi Sivia sudah memecatnya.
Saat ini Jojo sudah berdiri
disamping ranjang Sivia. Ia menunduk dalam. Shilla tersenyum lagi,
“dia mau ngomong sesuatu sama lo,
Vi…” Shilla menepuk pundak Sivia beberapa kali sebelum akhirnya ia keluar dari
kamar Sivia dan hanya menyisakan Jojo dan Sivia berdua.
Setelah kepergian Shilla, hening pun
terjadi. Jojo dan Sivia sama-sama terdiam. Sivia membuang mukanya kearah
jendela, ia merasa enggan menatap wajah Makhluk super aneh yang ada
disampingnya ini.
“lo mau ngomong apa lagi? Bukannya
tadi gue udah mecat lo?? Masalah uang pesangon, itu nanti biar sekertaris Papa
yang urus” ujar Shilla tanpa sedikitpun menatap wajah Jojo.
Jojo menggeleng perlahan, lantas
berkata,
“bu.. bukan itu Mbak Via…” kata Jojo
dengan menggunakan logat jawa timur nya yang khas.
“terus?”
“saya kesini Cuma mau minta maaf
sama Mbak Via…”
“lo nggak salah” timpal Sivia dengan
sinis.
“kalo begitu saya boleh berbicara
serius dengan Mbak Via?”
Sivia terlihat berfikir keras.
Beberapa saat kemudian ia mengangguk perlahan. Ia masih enggan menatap wajah
Jojo.
Wajah Jojo yang tadinya kaku
sekarang berubah serius. Ia memberanikan dirinya duduk dibawah ranjang Sivia
dengan posisi bertekut lutut.
“Mbak Via, sebelumnya saya minta
maaf”
“lo keseringan minta maaf” hardik
Sivia.
Jojo tiba-tiba saja memegang kedua
pundak Sivia dan memutar tubuh Gadis itu hingga berhadapan dengannya. Sivia
cukup kaget dengan apa yang baru saja Jojo lakukan padanya. Berani-beraninya si
Tonggos ini memegang pundaknya.
“Heh lo! Jangan kurang ajar ya sama
gue? Gue tuh majikan lo”
“lo lupa kalo beberapa jam yang lalu
lo udah mecat gue??” tegas Jojo memperingatkan Sivia. Sivia kaget, logat bicara
Jojo kembali normal, sama persis ketika ia menghajar Gabriel tadi.
“elo… ergh…” Sivia berusaha keras
menahan emosinya. Jojo tersenyum menang kali ini.
“gue tau selama ini lo nungguin gue,
dan gue juga tau kalo selama ini Cuma gue yang ada dihati lo, gue tau semuanya”
Sivia melirik tajam kearah Jojo.
Bicara apa Si Tonggos ini? Memangnya dia siapa? Sivia tertawa sinis,
“hahaha…. Jangan kegeeran lo!! Gue
mana suka sama cowok aneh, jelek dan tonggos kayak lo” cibir Sivia. Tapi Jojo
hanya tersenyum.
Kali ini Jojo menunduk dalam. Sivia
terdiam, apa tadi bicaranya keterlaluan?
Beberapa saat kemudian, Sivia
melihat Jojo seperti melepaskan sesuatu dari mulutnya. Dan Ya Ampun… si Tonggos
itu melepaskan…
“ini palsu” kata Jojo sambil
menujukan Gigi palsunya dihadapan Sivia. Ternyata Si Tonggos ini tidak
benar-benar tonggos. Tapi apa maksudnya?
Kali ini Jojo membuka kaca matanya.
Sivia mulai menerka-nerka wajah Jojo. Sepertinya ia pernah melihat Pria ini
sebelumnya. Tapi dimana?
“elo…??” Ujar Sivia yang mulai
mengingat sesuatu. Nada bicara nya tadi ketus terhadap Jojo sekarang berubah
menjadi biasa saja.
Jojo mengangguk beberapa kali. Ia
bisa dengan sangat jelas menebak apa yang sedang terfikirkan oleh Sivia saat
ini.
“iya, Sivia. Gue Alvin. Alvin
Jonathan, cowok yang lo temuin 2 bulan yang lalu”
Lantas Alvin meraih sapu tangan yang
ada dalam genggaman Sivia. Alvin tersenyum kecil lalu menunjukan sapu tangan
itu pada Sivia,
“gue Alvin, cowok pemilik sapu
tangan ini…”
Sivia membekap mulutnya dengan kedua
tangannya. Benar-benar sulit ia percaya, bahwa Jojo yang selama ini menjadi
supir pribadinya ternyata adalah Alvin. Pria tampan yang ia temui 2 bulan yang
lalu. Pria tampan yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Pria tampan yang selama ini ia cari dan yang ia tunggu selalu. Pria tampan yang
menjadi satu-satunya pengisi relungnya.
Air mata Sivia kembali menetes. Ia
belum bisa mempercayai semua ini. Semua ini benar-benar sulit untuk bisa ia
cerna.
Lalu tiba-tiba tangan kanan Sivia
terangkat lantas bergerak perlahan menyentuh pipi sebelah kanan Alvin. Sivia
mengusap tompel yang bertengger dipipi Alvin. Ternyata tompel itu juga palsu.
Tapi apa maksud Alvin dibalik semua ini? Sivia butuh penjelasan, benar-benar
butuh penjelasan.
“ini… ini juga palsu??”
Alvin mengangguk perlahan lalu
memegang pergelangan tangan Sivia yang menyentuh pipi mulusnya.
“elo… apa maksud lo dibalik semua
ini? Lo mau ngerjain gue? Iya? Lo mau ngerjain gue??”
“yang tau penyamaran gue ini Cuma
Shilla, dan gue adalah sepupunya Shilla. Waktu Shilla tau gue nyamar sebagai
Jojo dan jadi supir lo, Shilla sempat kaget, tapi setelah gue ngejelasin
semuanya Shilla akhirnya ngerti dan ngedukung gue. Gue nggak ada niat
sedikitpun buat ngerjain lo, Vi. Gue Cuma mau nguji apa lo bener-bener Cinta
sama gue dengan tulus dan tanpa melihat… maaf kalo gue narsis, tampang gue”
“dan lo berhasil kan ngerjain gue.
Lo curang tau nggak, Vin? Lo curang, lo curang, lo curang…” Sivia memukul pelan
dada Alvin beberapa kali untuk menyalurkan emosinya. Ia merasa Pria ini sudah mempermainkannya.
Mempermainkan perasaannya juga hatinya.
Alvin terus menatap Sivia yang
terisak, beberapa saat kemudian, Alvin menarik kedua tangan Sivia yang memukuli
dadanya lalu menarik Gadis itu kedalam rengkuhannya. Sudah sejak lama ia ingin
melakukan ini sebenarnya, tapi melihat keantian Sivia selama ini padanya
membuat Alvin ragu. Alvin memeluk Sivia erat meskipun Sivia berontak dalam
pelukannya.
“gue nggak akan ngebiarin lo
kesepian lagi, Vi. Gue juga nggak akan ngebiarin lo ngerasa sendiri lagi. Dan
nggak ada satupun orang yang boleh nyakitin lo, karena gue nggak akan pernah
ngebiarin itu, tidak dengan Gabriel, tidak dengan siapapun…”
Isakan Sivia semakin kencang dalam
dekapan hangat Alvin. Ia juga masih belum mau membalas pelukan Alvin.
“gue jatuh cinta sama lo, Vi. Bahkan
sejak pertama kali kita ketemu. Sejak saat itu gue nggak bisa berhenti mikirin
lo, tapi gue juga nggak tau gimana caranya biar bisa ketemu sama lo, gue nggak
tau siapa nama lo, gue nggak tau dimana rumah lo, dan gue juga nggak tau musti
nemuin lo dimana. Hingga akhirnya gue tau lo dari Shilla, Shilla cerita
semuanya tentang lo, tapi Shilla nggak pernah tau kalo sejak awal gue sudah
punya niat buat nyamar jadi supir lo”
Kali ini isakan Sivia sudah sedikit
mereda. Alvin tersenyum kecil dan kembali berkata,
“suatu hari Shilla cerita, kalo Papa
lo lagi nyari supir baru buat lo. Saat itu gue ngerasa ada kesempatan buat
masuk kedalam hidup lo. Tapi untuk menguji perasaan lo, gue harus nyamar jadi orang
lain. Makanya itu gue nyamar jadi Jojo yang aneh. Pas ngeliat reaksi lo waktu
pertama kali ngeliat Jojo, gue sempet putus asa, apalagi pas gue tau kalo lo
udah punya cowok yang namanya Gabriel, rasanya gue mau mundur aja. Tapi
keinginan gue buat ngedapetin lo malah bikin gue bertahan, hingga hari ini
akhirnya gue tau kebusukan Gabriel. Gue marah besar karna Gabriel nyakitin lo,
nyakitin cewek yang paling gue cinta setelah Mama gue. Gue nggak terima dengan
hal itu, makanya itu gue sampe ngehajar Gabriel habis-habisan… gue, cinta sama
lo, Via….”
“gue juga, Vin… gue juga. Gue jatuh
cinta sama lo bahkan sejak pandangan pertama, sejak pertama kali kedua mata lo
natap mata gue. Saat itu gue tau kalo gue bener-bener jatuh cinta sama lo,
Alvin…”
Alvin tersenyum puas lalu membelai
lembut rambut sebahu Sivia. Seumur hidupnya, Alvin tidak pernah merasa
sebahagia ini.
“jadi lo tetep mau mecat gue?” bisik
Alvin pelan yang masih memeluk tubuh Sivia. Sivia menggeleng cepat lalu
melepaskan dirinya dari pelukan Alvin,
“gue nggak jadi mecat lo. Tapi gue
akan naikin pangkat lo…” Sivia mengusap air matanya lalu berusaha tersenyum.
“naikin pangkat gue??” Sivia
mengangguk pasti.
“iya, gue bakalan naikin pangkat lo,
dari supir plus pengawal pribadi gue, sekarang lo udah resmi jadi satpam gue…”
“HAH?? SATPAM??” Kaget Alvin. Apa
gadis ini bercanda?? Masa kah Alvin sudah keren begini malah mau dijadikan satpam?
Tidak salah apa? Alvin melengos tapi malah membuat Sivia merasa lucu.
Sivia menjawil hidung Alvin lalu
tertawa pelan,
“satpam penjaga hati gue,
hahahaha…..”
Alvin tersenyum jahil lalu kembali
merengkuh tubuh Sivia dalam dekapannya.
“jadi sekarang kita pacaran?”
“terserah lo” jawab Sivia malu-malu.
“katanya lo nggak mau sama cowok
aneh, jelek dan tonggos kayak gue” ucap Alvin setengah meledek. Tidak
segan-segan Sivia langsung menghadiahi perut Alvin dengan sebuah cubitan.
“awww…. Sakit Mbak Via” Protes Alvin
yang kembali menggunakan logat jawa.
“elo sih jahat banget sama gue”
Alvin semakin mengeratkan pelukannya
pada Gadis itu. Sivia pun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Alvin.
Saat itu Sivia bisa merasakan bagaimana kencanganya deguban jantung Alvin.
Sivia bisa merasakan semuanya dengan jelas, Sivia juga bisa merasakan bahwa Pria
ini benar-benar mencintainya. Dengan setulus hatinya.
Alvin lalu melepaskan pelukannya
dari Sivia. Ia memegang kedua sisi wajah Sivia dengan kedua tangannya lantas
menatap kedua manik mata Gadis itu dengan intens.
“Finally, i—“ Sivia menggantungkan kalimatnya
dan membuat Alvin menunggu.
Alvin mengangkat kedua alisnya,
menanti kelanjutan kalimat yang hendak Sivia ucapkan.
“Finding you….” Lanjut Sivia lalu
tertawa pelan. Alvin tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia,
“and I love you…” bisik Alvin pelan
didepan wajah Sivia. Wajah Alvin kembali bergerak hendak menghapus jarak yang
terbentang diantara mereka. Dan tepat ketika kedua bibir itu nyaris
bersentuhan, tiba-tiba saja Shilla masuk kedalam kamar Sivia dan mengacaukan
semuanya.
“ciyeeee…. Yang udah jadiaaannnnn….”
Alvin kesal pada Shilla detik itu
juga. Kenapa sih Shilla harus datang disaat yang tidak tepat? Dasar sepupu
tidak pengertian! Gerutu Alvin dalam hati.
Alvin bisa melihat dengan sangat
jelas kedua pipi Sivia yang ketika itu sudah merah merona. Alvin menahan
tawanya. Entah kenapa Sivia terlihat begitu lucu disaat ia malu seperti itu.
Menyadari bahwa Alvin tengah
menatapnya tanpa henti sambil tersenyum, Sivia malah salah tingkah sendiri.
Kali ini perhatiannya tertuju pada Shilla, ia baru ingat sesuatu. Lalu
tiba-tiba saja, Sivia melemparkan salah satu bantalnya kearah Shilla, Shilla
yang kaget reflex menangkap bantal yang nyaris saja mengenai wajahnya itu.
“apa-apaan nih?” Tanya Shilla tak
paham.
“nggak usah sok nggak berdosa lo!!
Lo ikut andil kan dibalik sandiwara si Tonggos Gadungan ini??” ujar Sivia sambil
melirik Alvin dan Shilla secara bergantian. Alvin dan Shilla hanya mengangkat
kedua bahu mereka tanda ketidak pedulian mereka.
Merasa diacuhkan Sivia langsung
cemberut. Ia melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang tatapannya
kearah lain.
Beberapa
saat kemudian…
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…..” Tawa Alvin
dan Shilla pecah seketika. Sivia semakin sebal, tapi ia buru-buru menghempaskan
tubuhnya kedalam pelukan Alvin. Dengan sigap Alvin pun menangkap tubuh Sivia
dan memeluknya erat.
“I LOVE YOU MY PRINCE TONGGOS…..”
~The End~


0 comments:
Post a Comment