“Aku telah merasa… Dari
awal pertama kau takkan bisa lama berpaling darinya…”
– Cinta Begini; Tangga-
Alvin menghentikan langkahnya
ditengah anak tangga ketika ia melihat sebuah pemandangan yang ‘tak biasa’ di meja
makan pagi itu. Disana, dimeja makan itu, Alvin bisa melihat dengan sangat
jelas Cakka tengah tertawa lepas bersama kedua orang tuanya. Butuh waktu
beberapa menit untuk membuat Alvin yakin bahwa apa yang sekarang ia lihat ini
adalah kenyataan, dan bukan mimpi. Bahkan Alvin harus mencubit lengannya
sendiri untuk bisa membuatnya benar-benar yakin. Alvin terpana, bahkan Alvin
sama sekali tidak sadar, ketika, Mami, Papi, dan Cakka melihat kearahnya dengan
tatapan heran,
“Alvin, kenapa diem disitu, sayang?
Ayo sini, kita sarapan bareng. Mami, Papi sama Kak Cakka udah nungguin kamu
dari tadi lho”
Ucapan Maminya itu membuat Alvin
langsung tertarik dari lamunannya. Alvin menggeleng pelan sekali dan mencoba
mengenyahkan fikiran-fikiran anehnya. Ya.. ini memang kenyataan, bukan mimpi.
Dan Alvin langsung tersenyum lebar ketika Cakka menyunggingkan sebuah senyuman
untuknya lalu melambai. Tidak mau membuang-buang waktu lagi, Alvinpun segera
turun dari anak tangga dan segera menghampiri keluarga kecil kesayangannya itu.
Setelah selama 8 tahun mendamba
keadaan ini, akhirnya hari ini Tuhan mengabulkan semua keinginan Alvin selama
ini. Dan Alvin berharap ini untuk seterusnya.
Alvin melirik kearah Cakka yang
ketika itu tengah santai melahap sarapannya. Entahlah, Alvin masih merasa sulit
mempercayai semua ini,
“nggak usah ngeliat gue sampe kayak
gitu, nanti gue tersinggung” kata Cakka tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin.
Kedua orang tua mereka langsung menatap mereka dengan harap-harap cemas.
“makasih ya, Kak…”
“nggak perlu makasih. Semuanya
memang harus seperti ini kan? Kalo memang harus ngucapin makasih, harusnya lo
ucapin kata itu ke Via, dan bukan ke gue”
Detik itu juga Alvin merasa ada
jutaan kembang api yang meledak jauh didalam dadanya sana secara bersamaan. Rasanya
semarak dan membahagiakan. Jika tidak ingat bahwa dia adalah seorang laki-laki,
mungkin sudah sejak tadi Alvin mengeluarkan air mata dan menghambur kedalam
pelukan Kakak kesayangan ini. Alvin terharu, benar-benar terharu. Rasanya tidak
ada satupun kebahagiaan yang paling membahagiakan selain kebahagiaan yang
sekarang tengah ia rengkuh. Alvin berjanji tidak akan melepaskan kebahagiaan
ini. Tidak akan pernah.
****
“2 tahun gue di German ternyata
mengubah banyak hal ya?” kata Pricilla sebagai pembuka obrolan mereka yang
agaknya akan sangat panjang dipagi hari itu.
Pagi itu, Pricilla mengajak Sivia
pergi ke sebuah café yang dulu biasa ia kunjungi bersama Alvin, 2 tahun yang
lalu. Seperti yang Pricilla katakan tadi, ia ingin membicarakan sesuatu dengan
Sivia.
Mendengar ucapan Pricilla, Sivia
hanya terdiam. Ia juga belum menunjukan reaksi apapun. Dan jujur saja, Sivia
merasa agak sedikit tidak nyaman dengan pertemuan mereka ini. Rasanya Sivia
ingin pergi saja, sekarang juga, detik ini.
“gue nggak tau Vi, apa ini Cuma
perasaan gue aja atau gimana, tapi gue ngerasa kalo sikap Alvin ke gue itu
berbeda, bener-bener berbeda. Sikapnya tuh nggak sama kayak dulu lagi, tiap
kali dia sama gue entah kenapa gue ngerasa kalo jiwanya itu nggak ada”
Benar kan apa yang Sivia fikirkan?
Semua dugaannya tadi akhirnya terjawab juga. Ternyata Pricilla ingin menemuinya
hanya untuk membicarakan soal Alvin. Sebelumnya Sivia sudah bisa menebak kemana
arah bicara Pricilla akan tertuju.
“gue nggak ngerti sama Alvin, Vi…
apa Alvin… apa Alvin—“ Pricilla terlihat ragu melanjutkan ucapannya. Tapi jika
ingin rasa penasarannya terjawab, Pricilla harus bisa melanjutkan perkataannya.
Sivia pasti tahu sesuatu tentang Alvin, dan Pricilla yakin dengan itu. Pricilla
juga percaya kalau Sivia bisa membantunya. Ya… dari dulu hanya Sivia lah yang
paling memahami hubungannya dengan Alvin.
“apa Alvin udah punya pacar lagi,
Vi? Apa Alvin punya cewek lain selain gue?”
Hening. Sivia terdiam. Pertanyaan
Pricilla barusan ternyata tepat sasaran. Untung saja Sivia belum sempat
menyeruput Chapucino yang ada dihadapannya ini. Coba tadi kalau Sivia
menyeruputnya, pasti sekarang Sivia sudah menyemburkan Chapucino itu tepat ke
wajah Pricilla karna kaget dengan pertanyaannya itu.
Hey, gue pacarnya Alvin. Apa lo
nggak tahu itu? Batin Sivia seakan meneriakkan kalimat itu. Dan ketika Sivia
menahannya untuk tidak keluar dulu, rasanya begitu sesak didada. Apa begini
rasanya jika sebuah maksud tidak dapat tersampaikan secara langsung?
“pleasa Sivia! Jawab pertanyaan gue.
Lo pasti tau sesuatu kan tentang itu? Iya kan?” desak Pricilla. Sivia menghela
nafas beratnya.
Baginya pertanyaan Pricilla ini
bukanlah pertanyaan yang pantas untuk dipertanyakan. 2 tahun yang lalu Pricilla
pergi meninggalkan Alvin begitu saja tanpa sebab dan alasan yang pasti hingga
menimbulkan luka yang susah sekali diobati. Tapi setelah 2 tahun berlalu
Pricilla malah kembali lagi dan menuntut Cinta Alvin. Apa tidak pernah
sedikitpun terlintas dalam benak Pricilla bagaimana kesakitan Alvin selama ini?
Apa Pricilla tidak pernah berfikir bagaimana Alvin berusaha mati-matian
menyembuhkan luka yang sudah ia torehkan?
Pricilla sama sekali tidak pantas
menanyakan tentang perubahan sikap Alvin. Karena seharusnya Pricilla bisa peka
dengan perasaan Alvin tanpa perlu bertanya lagi. Ternyata rasa cinta Pricilla
pada Alvin tidak sebesar rasa cinta Sivia terhadap Alvin. Pricilla belum bisa
memahami Alvin sepenuhnya sebagaimana Sivia. Sivia mulai berfikir, bahwa selama
ini Alvin telah salah mencintai seseorang.
“Priss” panggil Sivia tiba-tiba.
Sebenarnya Sivia malas menanggapi ucapan Pricilla ini. Tapi mau bagaimana lagi?
Sivia harus bisa menyampaikan uneg-uneg nya pada Gadis ini supaya dia bisa
berfikir, supaya dia bisa tahu bahwa betapa selama ini ia sudah menyakiti
Alvin.
“jujur ya, gue nggak suka sama sikap
lo ini, Priss, bener-bener nggak suka”
“Via…”
“2 tahun yang lalu lo pergi ninggalin Alvin gitu aja, tanpa
penjelasan. Dan sekarang lo balik lagi dengan seenaknya, lalu dengan nggak
berprasaannya lo masih aja nanya kenapa sikap Alvin berubah ke elo? Otak lo
dimana? Lo tinggal di German otak lo? Lo ngilang ke German selama 2 tahun dan
sekarang lo kembali lagi seolah-olah lo baru balik dari liburan. HEBAT sekali
lo!!” ucap Sivia sinis. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Rasanya ia ingin
meluapkan habis segala emosinya pada Pricilla.
Sementara Pricilla, ia sama sekali
tidak menyangka bahwa Sivia akan bersikap seperti ini terhadapnya. Semuanya
benar-benar diluar dugaan dan perkiraan Pricilla sebelumnya.
“tapi Via, gue udah jelasin semuanya
ke Alvin, dan dia ngerti”
“dia mengerti, tapi bukan berarti
hatinya ikut mengerti juga kan? Sekalipun saat itu lo punya alasan yang nggak
bisa lo jelasin, harusnya sekarang lo ngerti kalo Alvin butuh waktu buat bisa
ngertiin alesan lo itu. Lo nggak bisa egois kayak gini. Lo minta dingertiin
sama Alvin, sementara lo sendiri…??? Kalo pun sekarang sikap Alvin berubah ke
elo, gue nggak kaget, karna menurut gue itu wajar” Sivia semakin emosi.
“gue tau gue salah, Vi. Tapi apa gue
nggak berhak dikasih kesempatan untuk memperbaiki kesalahan gue?” ujar Pricilla
dengan nada bergetar.
“lo bukannya nggak berhak dikasih
kesempatan, Priss. Lo berhak, sangat berhak. Tapi Alvin juga berhak buat
dikasih waktu, Cuma itu…”
“kalo gitu bisa lo bantu gue buat
ngubah sikap Alvin lagi?”
Deg… pertanyaan Pricilla barusan
seakan menghantam jantung Sivia tanpa ampun. Apa yang harus Sivia lakukan
sekarang? Apa Sivia harus memberitahukan yang sebenarnya pada Pricilla? Tapi
bagaimana kalau Alvin marah? Sivia juga belum bertanya pada Alvin tentang apa
yang harus ia lakukan. Sivia tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan.
Sivia memang marah pada Pricilla, tapi jika harus menyakiti perasaan Gadis ini,
Sivia benar-benar tidak tega.
“gue cinta sama Alvin, Vi… dan gue
yakin kalau Alvin juga ngerasain hal yang sama kayak apa yang gue rasain, hanya
saja sekarang ada yang mengganjal dihatinya, entah itu apa, gue nggak tau, tapi
yang jelas ada sesuatu yang menghalanginya”
Perasaan Sivia mulai berkecamuk. Apa
apa sesuatu yang mengganjal dihati Alvin itu adalah hubungan mereka? Apa
sesuatu yang menghalangi Alvin itu adalah rasa cinta Sivia terhadapnya? Jika
memang iya, Sivia pasti akan merasa sangat jahat karna telah menghalangi Alvin
selama ini. Lalu sekarang, apa Sivia harus melepaskan Alvin untuk Pricilla? Apa
sudah saatnya bagi Sivia untuk membebaskan Alvin? Tapi bagaimana dengan
hatinya?
“bantu gue, Via! Please bantu gue.
Cuma elo yang bisa bantu gue, Via… Cuma elo dan bukan yang lainnya…” kata
Pricilla setengah memohon.
Sivia diam berfikir. Semua ini
terlalu sulit untuk bisa ia pahami. Dan masalah ini terlalu berat untuk bisa ia
hadapi sendiri.
“Alvin, apa selama ini
kamu emang nggak pernah bisa mencintai aku? Dan apa selama ini kamu emang belum
bisa ngelupain Pricill….?”
****
“ALVIN!!” Panggil seseorang dengan
suara lantang. Merasa ada yang memanggil namanya di Koridor Kampus, Alvin
langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dari jarak yang tidak
terlalu jauh dari posisinya sekarang, Alvin dapat melihat dengan jelas ada
seseorang yang tengah berjalan menghampirinya dengan langkah yang santai dan
tidak terkesan terburu-terburu.
Alvin menyipitkan kedua matanya,
berusaha mengamati wajah Pria itu sebaik mungkin. Dalam diam Alvin mulai
berfikir, sepertinya ia pernah melihat Pria itu sebelumnya.
“Hay… ketemu lagi, ya?” ujar Pria
itu dengan senyuman ramahnya setelah ia dan Alvin berdiri berhadapan.
Kelamaan Alvin mulai mengingat sosok
Pria ini. Dia Gabriel, tunangan Pricilla. Alvin akhirnya menghela nafas berat,
buat apa juga Pria ini datang menemuinya?
“masih inget gue?” Tanya Gabriel
hati-hati.
Ragu-ragu Alvin mengangguk pelan
seraya berkata “i… iya…”
Gabriel tersenyum lagi. Tapi kali
ini senyuman yang bebeda dari senyuman sebelumnya. Senyuman yang penuh dengan
intrik. Senyum kelicikan.
“lo mau apa?” Tanya Alvin to the point. Gabriel tersenyum menang kali ini.
“ternyata lo sangat pintar, Alvin!”
“gue nggak suka basa basi, langsung
saja sebut apa mau lo!”
“bagus, karna gue juga nggak suka
basa basi”
“terus apa mau lo?”
“lo masih mencintai Pricilla?”
“apa urusan lo nanyain masalah itu
ke gue?”
“karena gue tunangan Pricilla”
“kalo lo ngerasa tunangannya
Pricill, kenapa sikap lo selama ini dingin sama dia?”
“ooo… ternyata Pricilla udah cerita
banyak ya tentang gue?”
“sangat banyak sampe gue mau
ngebunuh lo! Tapi kalo lo berfikir gue mau ngehancurin pertunangan lo sama
Pricill, lo salah besar Gabriel. Karna gue nggak akan pernah mau. Gue MUNGKIN masih
mencintai Pricill, tapi bukan berarti gue bersedia ngehancurin pertunangan
kalian. Ngerti lo?”
Alvin berbalik dan langsung pergi
meninggalkan Gabriel begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Gabriel
menggenggam erat jemari tangannya. Ada ribuan emosi tertahan jauh didalam sana.
Dan suatu saat nanti emosi itu siap meledak dan menghancurkan segalanya.
Tanpa Gabriel sadari, ada seseorang
yang tengah memperhatikannya dari kejauhan dan mendengar semua obrolannya
dengan Alvin tadi. Gadis itu memegang dadanya yang entah kenapa terasa begitu
sesak. Tapi bukan itu yang terpenting sekarang. Yang terpanting baginya
sekarang hanyalah perasaan Sivia. Tadi sudah jelas-jelas Alvin mengatakan bahwa
dia masih mencintai Pricilla, lalu Sivia bagaimana? Memangnya Alvin anggap apa
Sivia selama ini?
“Lagi-lagi karna Pricilla… Alvin,
Pricill… gue akan bikin perhitungan sama kalian” batin Shilla lalu melangkah
pergi meninggalkan tempat itu dengan segala rasa kecewa. Rasa kecewanya sebagai
seorang sahabat.
****
Sekarang
kau mulai tak jujur padaku
Apa
yang kau sembunyikan dari diriku?
Dari
matamu kau mulai membohongiku…..
Selama 2 minggu belakangan ini entah
kenapa Sivia merasa bahwa sikap Alvin mulai berubah padanya. Selama 14 hari
dalam dua minggu ini Alvin jarang sekali menemuinya. Dan bahkan semalam, yang
bertepatan dengan malam minggu, Alvin sama sekali tidak menampakkan dirinya
dihadapan Sivia. Ia tidak menjemput Sivia ke Studio seperti biasanya juga tidak
memberi kabar apapun.
Sivia yang merasa takut menganggu
Alvin, akhirnya terpaksa menelpon Cakka dan meminta Cakka untuk menjemputnya. Tapi
Sivia tidak sedikitpun membicarakan prihal perubahan Alvin selama 2 minggu
belakangan ini pada Cakka. Sivia takut Cakka akan salah paham lalu marah pada
Alvin.
Sivia tahu bahwa baru-baru ini Cakka
sudah bisa berdamai dengan Alvin juga kedua orang tuanya, dan Sivia tidak ingin
merusak suasana perdamaian itu dengan menceritakan masalah yang sebenarnya
terhadap Cakka. Sivia memilih memendam semuanya sendiri. Ya… hanya sendiri.
“Alvin mana? Tumben nggak jemput?”
Dan ketika Cakka melemparkan
pertnyaan itu praktis Sivia menjadi kebingungan sendiri. Ia bahkan belum
menyiapkan jawaban apapun kalau-kalau Cakka menanyakan hal itu padanya. Sivia
terdiam beberapa saat, lalu tanpa menatap mata Cakka Sivia akhirnya menjawab
dengan penuh dusta,
“aku lagi mau dijemput sama Kakak,
ya kangen aja sama Kak Cakka. Akhir-akhiran ini kan kita emang jarang ketemuan
karna Kak Cakka sibuk ngurus persiepan buat Wisuda Kakak”
Saat itu Cakka terdiam. Dari sudut
matanya, Sivia dapat melihat dengan sangat jelas bahwa Cakka tengah menatapnya
dengan tatapan penuh selidik. Dalam hati Sivia berharap semoga Cakka tidak menyimpan
curiga atas jawabannya.
****
Tidak ingin terlalu sibuk memikirkan
perubahan sikap Alvin, minggu pagi itu Sivia lebih memilih untuk menyibukan
dirinya dengan membuat sebuah kue. Sivia kira hal itu bisa membuat fikirannya
bisa sedikit teralihkan dari Alvin, tapi ternyata Sivia salah. Kegiatannya itu
malah tidak membantu apa-apa. Sivia mengaduk adonan kue sambil melamun.
Lalu tiba-tiba saja Sivia merasakan
ada seseorang yang menutup kedua matanya dari belakang. Sivia yang kaget
langsung menghentikan aktifitasnya yang tengah mengaduk adonan kue. Sivia
terdiam sejenak dan berusaha menerka-nereka siapa yang sedang mengerjainya saat
ini.
“BAGAS” Kata Sivia setengah kesal.
Sivia merasakan bahwa seseorang yang menutup kedua matanya dari belakang itu
menggeleng perlahan sambil meredam suara tawanya yang hendak memecah.
“siapa sih?” sebenarnya Sivia ingin
menyebut nama Alvin, hanya saja Sivia ragu. Ia takut salah.
Kedua tangan yang tadinya menutup kedua mata Sivia
kini bergerak turun dan melingkar dipinggangnya dengan erat. Saat itu juga
Sivia langsung menghela nafas lega. Ternyata dugaannya benar. Memangnya siapa
lagi yang berani memeluknya seperti ini selain Alvin? Sivia sedikit
menyungginkan seulas senyum diwajahnya. Tidak ia sangka bahwa hari ini Alvin
akan datang menemuinya.
“masa pacar sendiri nggak tau sih?”
Alvin mengecup lembut pipi Sivia. Sivia hanya terdiam dan tidak berniat
menjawab pertanyaan Alvin itu. Sivia ingin memberi Alvin sedikit pelajaran saja
biar Alvin tahu bahwa betapa tidak enaknya jika diacuhkan tanpa sebab selama 2
minggu.
“jalan yuk!” ajak Alvin tiba-tiba
tanpa melepaskan pelukannya dari Sivia. Sivia menggeleng perlahan,
“nggak bisa. Emangnya lo nggak liat
gue lagi ngapain sekarang?” balas Sivia dengan jutek.
Dari nada bicaranya saja Alvin sudah
tahu kalau Sivia sedang marah. Alvin pun melepaskan pelukannya lalu berdiri
disamping Sivia yang ketika itu pura-pura sibuk. Alvin menatap wajah Sivia
lekat-lekat dan berusaha membaca apa yang sedang Gadis nya itu fikirkan
sekarang.
“kamu marah?” selidik Alvin dengan
kedua mata menyipit. Ia melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap
Sivia dengan tatapan menyelidik.
“menurut lo?”
“marah” jawab Alvin sekenanya dan
seakan tanpa beban.
“bagus kalo lo tau” Sivia masih
sibuk dengan adonan kue nya.
Alvin mulai berfikir keras untuk
mencari cara supaya Sivia tidak marah lagi padanya. Alvin sadar bahwa selama 2
minggu belakangan ini ia lebih banyak mengacuhkan Sivia, dan itu semua karena….
Ah Alvin tidak ingin membahas itu. Yang Alvin tahu sekarang hanyalah ia sangat
merindukan Sivia dan ingin melampiaskan rasa rindunya itu.
“kemana aja lo akhir-akhiran ini?
Sibuk banget ya kayaknya sampe bales sms aja nggak sempet” Sivia akhirnya
mengeluarkan uneg-unegnya. Dan jujur saja, Sivia merasa bisa sedikit lebih lega
dari sebelumnya.
Sementara Alvin, ia sudah menyangka
sebelumnya bahwa Sivia akan berkata seperti itu padanya. Alvin diam berfikir
sejenak.
“kenapa diem? Lagi mikir? Mikir mau
ngasih jawaban apa ke gue? Atau—“
“aku minta maaf, Via” sela Alvin
tiba-tiba sebelum Sivia menyelesaikan ucapannya. Sivia menghentikan sejenak
aktiftas mengadon kue nya lalu menatap hampa kedepan.
“Cuma minta maaf? Nggak pake
penjelasan apa-apa gitu?” pancing Sivia dan kembali melanjutkan aktifitasnya
yang sempat terhenti tadi.
“akhir-akhiran ini aku… aku lagi
sibuk ngurus tugas kampus” kata Alvin ragu-ragu.
Kali ini Sivia menatap kedua mata
Alvin dalam-dalam, berusaha mencari sinar ketidak jujuran disana, tapi…. Sivia
menggeleng perlahan. Hatinya terluka ketika mendapati sebuah kenyataan yang
langsung menamparnya detik itu juga.
“maaf ya?” lanjut Alvin
bersungguh-sungguh.
Sivia berusaha sekuat ia mampu untuk
menghilangkan semua prasangka buruknya pada Pria ini. Bukankah Sivia pernah
berkata bahwa ia akan menyerahkan seluruh kepercayaannya pada Alvin? Apa
sekarang Sivia akan melanggar perkataan yang sudah ia ucapkan sendiri?
Mungkin Alvin jujur, tapi hanya saja
Sivia yang terlalu mencurigainya. Hanya itu.
“lupakan! Maaf karna aku udah nggak
bisa ngertiin kamu. Maaf karna aku egois dan hanya mikirin diri aku sendiri”
kata Sivia pada akhirnya.
Alvin berani bersumpah demi apapun
juga, ia benar-benar merasa sangat berdosa ketika mendengarkan ucapan Sivia
yang terakhir. Tidak disangka bahwa Sivia akan sepercaya ini padanya. Jahat,
Alvin benar-benar merasa jahat. Rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya ke
dasar laut terdalam detik ini juga. Maaf Sivia… Alvin hanya bisa membatin.
Hanya sebatas membatin.
Sivia tersenyum tenang dan mencoba
melupakan semuanya. Toh sekarang Alvin sudah ada dihadapannya, lalu apa yang
harus Sivia fikirkan lagi? Tidak ada kan? Mendadak Sivia ingin mencairkan
suasana beku yang kini membungkus kebersamaan mereka. Sivia yang isengpun
akhirnya mencolekan adonan kue wajah Alvin. Alvin terkesiap dan langsung
menatap Sivia dengan seringai nakalnya,
“HAHAHAHAHAHAHA…” Sivia tertawa
keras, berusaha menutupi kepedihan hatinya.
“oooo… nantangin?”
Sivia masih tertawa, bahkan sampai
terbahak-bahak. Tanpa Sivia sadari Alvin mengambil segenggam tepung yang
tersedia disebuah baskom yang ada dihadapannya. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi
Alvin langsung melemparkan tepung itu tepat ke wajah Sivia. Sivia menghentikan
suara tawanya sejenak. Beberapa saat kemudian ia langsung menjerit.
“ALVIIIIIINNNNNNNNN……”
“Hahahahaha…. Rasain! Makanya jangan
iseng kalo nggak mau diisengin” Alvin berlari kearah meja makan demi
menghindari serangan balik dari Kekasihnya itu.
Sivia mengusap tepung yang menutupi
sebagian wajahnya. Merasa perlu membalas Alvin, Sivia pun mengejar Alvin kearah
ruang makan. di ruang makan yang cukup
besar itu, Sivia berusaha mengejar Alvin sekuat ia mampu. Mereka berdua berlari
mengelilingi meja makan.
“Alvin curanggggg!! Sini nggak?”
“kalo aku nggak mau….?”
“ALVIIINNNNNNN…..!!!!!!” Sivia
semakin emosi saja.
Ketika Sivia nyaris menangkap Alvin,
Alvin langsung menghentikan larinya. Tangan Sivia yang sudah terulur dan siap
meraihnya malah ditarik oleh Alvin. Alvin pun menahan Sivia, ia melingkarkan
kedua lengannya pada pinggang Gadis itu. Alvin menatap kedua mata Sivia
lekat-lekat. Sivia bahkan sampai salah tingkah dibuatnya,
“mau bales dendem? Ayo bales
sekarang!” tantang Alvin, tapi nada bicaranya terdengar begitu lembut. Bahkan
sangat lembut. Sivia menggeleng pelan, tatapan Alvin benar-benar membuat semua
gerakkannya terasa mati, tak bernyawa.
Alvin dan Sivia saling menatap dalam
hening. Mereka sama-sama bisu, sama-sama terpikat oleh keindahan mereka
masing-masing. Dalam diam Alvin berfikir, bahwa betapa bodohnya ia sebagai
seorang Pria karna telah menyika-nyikan Gadis sebaik Sivia. Andai Alvin bisa
melakukan sesuatu untuk Gadis ini. Andai Alvin tidak lagi hanya bisa
menimbulkan kecewa dihatinya. Alvin sangat ingin melakukan itu, hanya saja arah
hatinya saat ini benar-benar membuatnya kelimpungan sendiri. Ia terjebak
diantara 2 hati yang sama-sama mencintainya. Lalu Alvin harus bagaimana
sekarang? Tidak mungkin kan selamanya Alvin akan terus seperti ini? Biar bagaimanapun
Alvin harus bisa menjatuhkan pilihannya sebelum ia melakukan tindakan yang
terlampau jauh dibelakang Sivia. Sekarang saja Alvin sudah mulai tidak jujur,
bagaimana nanti?
Perlahan Alvin mengecup kening
Sivia, ia melakukannya agak lama. Sivia pun memejamkan matanya, berusaha
merasakan ketulusan yang Alvin salurkan keseluruh pembuluh darahnya, berdetak
bersama jantungnya, berdenyut bersama nadinya.
“maaf…” lirih Alvin pelan lalu
memeluk erat tubuh Sivia. Sivia tidak berkata apa-apa, yang ia inginkan
sekarang hanyalah memeluk Alvin. Hanya itu…
Alvin dan Sivia sama-sama melepaskan
pelukan mereka ketika Handphone milik Alvin berbunyi.
“sebentar ya?” kata Alvin, Sivia
mengangguk dan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Sementara
Sivia sedang membersihkan wajahnya dikamar mandi, Alvin mengangkat telfonnya,
“hallo….”
“…..”
“nggak bisa nanti malem aja?”
“….”
“bukannya gitu… tapi….”
“…..”
“ya udah, aku kesana sekarang. Tunggu!”
2 menit kemudian Sivia keluar dari
kamar mandi. Ia berjalan menghampiri Alvin yang entah kenapa terlihat begitu
gusar. Alvin seperti orang kebingungan,
“Alvin, are you oke?” Tanya Sivia
sambil menyentuh pipi Alvin. Alvin mengangguk seraya memegang tangan Sivia yang
bertengger dipipinya.
“nggak apa-apa Via, aku baik-baik
aja” jawab Alvin berusaha terlihat tenang. Tapi percuma saja, karna Sivia bisa
menangkap dengan sangat jelas semua kegusaran yang terlukis diwajah tampannya.
“kita makan yuk! Kamu mau makan apa?
Biar aku masakin…”
“no no no… aku, aku harus pergi
sekarang”
Air muka Sivia langsung berubah keruh.
Kecewa? Jelas saja. Bagaimana tidak kecewa, Alvin baru saja datang kerumahnya
setelah hampir selama 2 minggu menghilang, tapi sekarang?
“pergi?” Sivia menurunkan tangannya
dari wajah Alvin,
“tadi Rio nelfon, katanya ada urusan
yang harus kita selesin?”
“Rio?”
“iya Rio, kamu nggak apa-apa kan aku
tinggal?”
Sivia berusaha tersenyum demi
menyembunyikan kekecewaannya.
“nggak apa-apa. Pergi gih, kasian
Rio kalo harus nunggu lama”
Alvin tersenyum pahit. Kenapa Gadis
ini selalu saja mempercayainya? Tidak bisakah sekali saja Sivia tidak
mempercayainya? Alvin menarik wajah Sivia lalu mengecup bibirnya sekilas.
“aku pamit ya?”
Sivia mengangguk ragu-ragu. Ia membiarkan
Alvin pergi begitu saja dan meninggalkannya bersama rasa kecewanya juga rasa
curiganya.
Beberapa saat setelah kepergian
Alvin, tiba-tiba saja handphone Sivia bergetar. Ia menerima sebuah panggilan
dari Cakka,
“hallo Kak….”
“lagi
dimana, Vi?”
“dirumah”
“sibuk
nggak?”
“nggak kenapa?”
“aku
jemput ya? Aku mau jalan sama kamu, bisa?”
“bisa Kak, bisa banget malah….” Jawab
Sivia antusias.
“ya
udah, tunggu aku ya? 10 menit lagi aku jemput”
“iya Kak, aku tunggu. Kalo gitu aku
siep-siep dulu ya?”
“iya
Via….”
Tuutttt….. sambungan telfon pun
dimatikan oleh Cakka. Sivia tersenyum sejenak lalu segera bersia-siap sebelum
Cakka datang menjemputnya.
****
Cakka mengajak Sivia jalan-jalan
kesebuah Mall. Mereka berdua berjalan beriringan sambil menikmati ice cream
mereka masing-masing. Sejak tadi, senyum kebahagiaan terus terukir diwajah
keduanya. Mereka sama-sama bahagia, tapi tanpa mereka tahu, salah satu dari
mereka tengah menyimpan luka yang teramat mendalam.
“makasih ya, Vi…?” ujar Cakka
tiba-tiba,
“buat?” Tanya Sivia seraya menikmati
ice cramnya,
“buat semuanya, tanpa kamu mungkin
sekarang aku bakalan tetep jadi Cakka yang dingin dan nggak punya hati. Kamu benar,
bahwa betapa selama ini aku selalu berusaha menghindari dari kebahagiaan yang
udah Tuhan kasih buat aku, sekali lagi makasih ya, Via?”
“sama-sama Kak Cakka. Aku tuh sayang
sama Kak Cakka, dan aku selalu pengen bisa ngeliat Kak Cakka bahagia, Cuma itu
Kak”
“sayang sebagai Kakak? Apa nggak
bisa lebih dari itu?” Tanya Cakka tiba-tiba. Sivia yang shock nyaris saja
menjatuhkan ice creamnya.
Menyadari perubahan air muka Sivia,
Cakka tersenyum lalu tertawa kecil. Salah tangannya bergerak perlahan lalu
menyentuh puncak kepala Gadis itu,
“nggak usah terlalu tegang mukanya,
omongan aku tadi nggak serius kok, hahaha…”
“Kak Cakka ini bisa aja” kata Sivia
yang sebenarnya mulai salah tingkah sendiri.
Mereka pun kembali tertawa dan
melanjutkan langkah mereka yang tadi sempat terhenti.
Tapi kemudian Sivia menghentikan
langkahnya dan membiarkan Cakka berjalan terlebih dahulu ketika kedua indera
pelihatnya menangkap 2 sosok yang begitu ia kenal tengah berjalan sambil
bergandengan tangan dan tertawa bersama.
Dada Sivia seakan terhantam kuat
oleh sebuah benda berduri. Rasanya sesak bercampur perih. Benarkah itu Alvin? Benarkah
itu Alvin kekasihnya? Bukankah tadi Alvin berkata ia ingin menemui Rio, tapi
sekarang kenyataannya?
Jantung Sivia seakan teremas
manakala ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Alvin menarik kepala Gadis
itu –Pricilla- lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra dipuncak kepalanya.
Pricilla pun terlihat begitu bahagia. Ia melingkarkan lengannya dipinggang
Alvin. Alvin juga demikian, ia terlihat tidak kalah bahagianya dari Pricilla
sekarang. Satu hal yang bisa Sivia tangkap dari Alvin hari ini adalah; Alvin
tidak pernah terlihat sebahagia itu ketika tengah bersama Sivia.
Ya Tuhan… beginikah cara Alvin
membalas semua kepercayaan Sivia kepadanya selama ini? Jika memang ini cara
yang Alvin gunakan untuk membalas semua kepercayaannya selama ini, betapa ini
sangat tidak adil bagi Sivia yang selama 7 tahun ini terus bertahan dengan
segala rasa cintanya pada Alvin. Dimana letak keadilan itu?
Cakka yang mulai menyadari bahwa
Sivia tidak ada disampingnya langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh
kebelakang dan mendapati Sivia yang ketika itu diam mematung dengan wajah
memucat. Cakka heran. Ia pun mengikuti arah tatapan Sivia.
Dan ketika kedua mata Cakka melihat
apa yang Sivia lihat, emosinya mendadak naik. Rasanya ia ingin menghajar Alvin
detik ini juga. Tidak peduli meskipun angin perdamaian baru saja berhembus
diantara mereka, Cakka hanya ingin menghajar Alvin. Melampiaskan segala
emosinya tanpa bekas.
Cakka membuang ice creamnya ke tong
sampah yang ada disebelahnya. Ia sudah bersiap-siap untuk menghampiri Alvin dan
memberinya sebuah pelajaran. Tapi Ketika Cakka akan melangkahkan kakinya,
tiba-tiba saja ia merasakan seseorang menahan pergelangan tangannya,
“jangan Kak Cakka!”
“tapi Via, dia—“
“aku bilang jangan Kak Cakka. Ini urusan
aku sama Alvin, jadi biarin aku yang nyelesein semuanya” Cakka berusaha menahan
emosinya dan menuruti perkataan Sivia.
“sebaiknya kita pergi dari sini
sebelum Alvin dan Pricill ngeliat kita”
“tapi…”
“Kak Cakka please, aku mohon sama
Kakak…” pinta Sivia dengan suara serak. Kedua matanya mulai memerah. Air mata
tergenang sempurna di kedua pelupuk mata indahnya.
Cakka mengangguk ragu-ragu lalu
membawa Sivia pergi dari tempat itu sebelum Alvin dan Pricilla menyadari
keberadaan mereka.
Sivia tahu kenyataan ini sangat adil
baginya. Dan siapapun tidak akan pernah bisa mengerti dengan kesakitan yang
Sivia rasakan detik ini. Rasanya begitu pedih, saat kepercayaannya dibalas oleh
pengkhianatan seperti ini.
Apa Sivia harus menyerah dan pergi
meninggalkan Alvin? Tapi kemudian pertanyaan lainpun muncul, apa Sivia sanggup
jika harus pergi meninggalkan Alvin? Bukankah Sivia begitu mencintai Alvin? Sedetik
pun rasanya Sivia tidak akan mampu meninggalkan Alvin.
Sivia telah terpukul mundur. Sanggup
tidak sanggup Sivia harus tetap pergi demi menyelamatkan hatinya, Sivia harus
tetap pergi dan melepaskan Alvin demi kebahagiaannya. Mungkin selama ini Sivia
terlalu mengekang Alvin dengan rasa cintanya. Ya… Sivia egois. Harusnya sejak
awal Sivia mengerti bahwa Alvin tidak akan pernah bisa terlepas dari rasa
cintanya pada Pricilla. Hanya Pricilla lah satu-satunya pengisi relung Alvin. Bukan
Sivia, bukan juga yang lainnya. Bukankah ini saatnya untuk Sivia menyerah? Bukankah
ini saatnya bagi Sivia untuk melepaskan Alvin pergi bersama Pricilla? Bersama cinta
sejatinya.
“terimakasih
untuk luka ini, Alvin… terimakasih…. Mulai hari ini aku nyerah. Aku akan
lepasin kamu buat Pricill… aku akan pergi sejauh mungkin dari hidup kamu. Dan maaf
kalo selama ini aku terlalu egois, maaf karna aku nggak pernah mengerti dengan
hati kamu, maaf karna aku sudah nahan kamu disisi aku… sekarang saatnya untuk kamu
bebas Alvin… sekarang saatnya untuk kamu terbang jauh dan meraih cinta mu yang
sesungguhnya, sekaranglah saatnya….”
~
Meski ku tak bisa memiliki dirimu
Takkan ku berpaling pergi…
Makin aku mencintai… KU LEPAS KAU
KEKASIH BIAR TERBANG TINGGI..
Cinta yang tak mungkin terbang
tinggi –Elyzia Mulachela-
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment