Friday, August 16, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 14 [Broken Heart]




“Aku telah merasa… Dari awal pertama kau takkan bisa lama berpaling darinya…”
– Cinta Begini; Tangga-




                Alvin menghentikan langkahnya ditengah anak tangga ketika ia melihat sebuah pemandangan yang ‘tak biasa’ di meja makan pagi itu. Disana, dimeja makan itu, Alvin bisa melihat dengan sangat jelas Cakka tengah tertawa lepas bersama kedua orang tuanya. Butuh waktu beberapa menit untuk membuat Alvin yakin bahwa apa yang sekarang ia lihat ini adalah kenyataan, dan bukan mimpi. Bahkan Alvin harus mencubit lengannya sendiri untuk bisa membuatnya benar-benar yakin. Alvin terpana, bahkan Alvin sama sekali tidak sadar, ketika, Mami, Papi, dan Cakka melihat kearahnya dengan tatapan heran,
            “Alvin, kenapa diem disitu, sayang? Ayo sini, kita sarapan bareng. Mami, Papi sama Kak Cakka udah nungguin kamu dari tadi lho”
            Ucapan Maminya itu membuat Alvin langsung tertarik dari lamunannya. Alvin menggeleng pelan sekali dan mencoba mengenyahkan fikiran-fikiran anehnya. Ya.. ini memang kenyataan, bukan mimpi. Dan Alvin langsung tersenyum lebar ketika Cakka menyunggingkan sebuah senyuman untuknya lalu melambai. Tidak mau membuang-buang waktu lagi, Alvinpun segera turun dari anak tangga dan segera menghampiri keluarga kecil kesayangannya itu.
            Setelah selama 8 tahun mendamba keadaan ini, akhirnya hari ini Tuhan mengabulkan semua keinginan Alvin selama ini. Dan Alvin berharap ini untuk seterusnya.
            Alvin melirik kearah Cakka yang ketika itu tengah santai melahap sarapannya. Entahlah, Alvin masih merasa sulit mempercayai semua ini,
            “nggak usah ngeliat gue sampe kayak gitu, nanti gue tersinggung” kata Cakka tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin. Kedua orang tua mereka langsung menatap mereka dengan harap-harap cemas.
            “makasih ya, Kak…”
            “nggak perlu makasih. Semuanya memang harus seperti ini kan? Kalo memang harus ngucapin makasih, harusnya lo ucapin kata itu ke Via, dan bukan ke gue”
            Detik itu juga Alvin merasa ada jutaan kembang api yang meledak jauh didalam dadanya sana secara bersamaan. Rasanya semarak dan membahagiakan. Jika tidak ingat bahwa dia adalah seorang laki-laki, mungkin sudah sejak tadi Alvin mengeluarkan air mata dan menghambur kedalam pelukan Kakak kesayangan ini. Alvin terharu, benar-benar terharu. Rasanya tidak ada satupun kebahagiaan yang paling membahagiakan selain kebahagiaan yang sekarang tengah ia rengkuh. Alvin berjanji tidak akan melepaskan kebahagiaan ini. Tidak akan pernah.


****

            “2 tahun gue di German ternyata mengubah banyak hal ya?” kata Pricilla sebagai pembuka obrolan mereka yang agaknya akan sangat panjang dipagi hari itu.
            Pagi itu, Pricilla mengajak Sivia pergi ke sebuah café yang dulu biasa ia kunjungi bersama Alvin, 2 tahun yang lalu. Seperti yang Pricilla katakan tadi, ia ingin membicarakan sesuatu dengan Sivia.
            Mendengar ucapan Pricilla, Sivia hanya terdiam. Ia juga belum menunjukan reaksi apapun. Dan jujur saja, Sivia merasa agak sedikit tidak nyaman dengan pertemuan mereka ini. Rasanya Sivia ingin pergi saja, sekarang juga, detik ini.
            “gue nggak tau Vi, apa ini Cuma perasaan gue aja atau gimana, tapi gue ngerasa kalo sikap Alvin ke gue itu berbeda, bener-bener berbeda. Sikapnya tuh nggak sama kayak dulu lagi, tiap kali dia sama gue entah kenapa gue ngerasa kalo jiwanya itu nggak ada”
            Benar kan apa yang Sivia fikirkan? Semua dugaannya tadi akhirnya terjawab juga. Ternyata Pricilla ingin menemuinya hanya untuk membicarakan soal Alvin. Sebelumnya Sivia sudah bisa menebak kemana arah bicara Pricilla akan tertuju.
            “gue nggak ngerti sama Alvin, Vi… apa Alvin… apa Alvin—“ Pricilla terlihat ragu melanjutkan ucapannya. Tapi jika ingin rasa penasarannya terjawab, Pricilla harus bisa melanjutkan perkataannya. Sivia pasti tahu sesuatu tentang Alvin, dan Pricilla yakin dengan itu. Pricilla juga percaya kalau Sivia bisa membantunya. Ya… dari dulu hanya Sivia lah yang paling memahami hubungannya dengan Alvin.
            “apa Alvin udah punya pacar lagi, Vi? Apa Alvin punya cewek lain selain gue?”
            Hening. Sivia terdiam. Pertanyaan Pricilla barusan ternyata tepat sasaran. Untung saja Sivia belum sempat menyeruput Chapucino yang ada dihadapannya ini. Coba tadi kalau Sivia menyeruputnya, pasti sekarang Sivia sudah menyemburkan Chapucino itu tepat ke wajah Pricilla karna kaget dengan pertanyaannya itu.
            Hey, gue pacarnya Alvin. Apa lo nggak tahu itu? Batin Sivia seakan meneriakkan kalimat itu. Dan ketika Sivia menahannya untuk tidak keluar dulu, rasanya begitu sesak didada. Apa begini rasanya jika sebuah maksud tidak dapat tersampaikan secara langsung?
            “pleasa Sivia! Jawab pertanyaan gue. Lo pasti tau sesuatu kan tentang itu? Iya kan?” desak Pricilla. Sivia menghela nafas beratnya.
            Baginya pertanyaan Pricilla ini bukanlah pertanyaan yang pantas untuk dipertanyakan. 2 tahun yang lalu Pricilla pergi meninggalkan Alvin begitu saja tanpa sebab dan alasan yang pasti hingga menimbulkan luka yang susah sekali diobati. Tapi setelah 2 tahun berlalu Pricilla malah kembali lagi dan menuntut Cinta Alvin. Apa tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Pricilla bagaimana kesakitan Alvin selama ini? Apa Pricilla tidak pernah berfikir bagaimana Alvin berusaha mati-matian menyembuhkan luka yang sudah ia torehkan?
            Pricilla sama sekali tidak pantas menanyakan tentang perubahan sikap Alvin. Karena seharusnya Pricilla bisa peka dengan perasaan Alvin tanpa perlu bertanya lagi. Ternyata rasa cinta Pricilla pada Alvin tidak sebesar rasa cinta Sivia terhadap Alvin. Pricilla belum bisa memahami Alvin sepenuhnya sebagaimana Sivia. Sivia mulai berfikir, bahwa selama ini Alvin telah salah mencintai seseorang.
            “Priss” panggil Sivia tiba-tiba. Sebenarnya Sivia malas menanggapi ucapan Pricilla ini. Tapi mau bagaimana lagi? Sivia harus bisa menyampaikan uneg-uneg nya pada Gadis ini supaya dia bisa berfikir, supaya dia bisa tahu bahwa betapa selama ini ia sudah menyakiti Alvin.
            “jujur ya, gue nggak suka sama sikap lo ini, Priss, bener-bener nggak suka”
            “Via…”
            “2 tahun yang lalu  lo pergi ninggalin Alvin gitu aja, tanpa penjelasan. Dan sekarang lo balik lagi dengan seenaknya, lalu dengan nggak berprasaannya lo masih aja nanya kenapa sikap Alvin berubah ke elo? Otak lo dimana? Lo tinggal di German otak lo? Lo ngilang ke German selama 2 tahun dan sekarang lo kembali lagi seolah-olah lo baru balik dari liburan. HEBAT sekali lo!!” ucap Sivia sinis. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Rasanya ia ingin meluapkan habis segala emosinya pada Pricilla.
            Sementara Pricilla, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Sivia akan bersikap seperti ini terhadapnya. Semuanya benar-benar diluar dugaan dan perkiraan Pricilla sebelumnya.
            “tapi Via, gue udah jelasin semuanya ke Alvin, dan dia ngerti”
            “dia mengerti, tapi bukan berarti hatinya ikut mengerti juga kan? Sekalipun saat itu lo punya alasan yang nggak bisa lo jelasin, harusnya sekarang lo ngerti kalo Alvin butuh waktu buat bisa ngertiin alesan lo itu. Lo nggak bisa egois kayak gini. Lo minta dingertiin sama Alvin, sementara lo sendiri…??? Kalo pun sekarang sikap Alvin berubah ke elo, gue nggak kaget, karna menurut gue itu wajar” Sivia semakin emosi.
            “gue tau gue salah, Vi. Tapi apa gue nggak berhak dikasih kesempatan untuk memperbaiki kesalahan gue?” ujar Pricilla dengan nada bergetar.
            “lo bukannya nggak berhak dikasih kesempatan, Priss. Lo berhak, sangat berhak. Tapi Alvin juga berhak buat dikasih waktu, Cuma itu…”
            “kalo gitu bisa lo bantu gue buat ngubah sikap Alvin lagi?”
            Deg… pertanyaan Pricilla barusan seakan menghantam jantung Sivia tanpa ampun. Apa yang harus Sivia lakukan sekarang? Apa Sivia harus memberitahukan yang sebenarnya pada Pricilla? Tapi bagaimana kalau Alvin marah? Sivia juga belum bertanya pada Alvin tentang apa yang harus ia lakukan. Sivia tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan. Sivia memang marah pada Pricilla, tapi jika harus menyakiti perasaan Gadis ini, Sivia benar-benar tidak tega.
            “gue cinta sama Alvin, Vi… dan gue yakin kalau Alvin juga ngerasain hal yang sama kayak apa yang gue rasain, hanya saja sekarang ada yang mengganjal dihatinya, entah itu apa, gue nggak tau, tapi yang jelas ada sesuatu yang menghalanginya”
            Perasaan Sivia mulai berkecamuk. Apa apa sesuatu yang mengganjal dihati Alvin itu adalah hubungan mereka? Apa sesuatu yang menghalangi Alvin itu adalah rasa cinta Sivia terhadapnya? Jika memang iya, Sivia pasti akan merasa sangat jahat karna telah menghalangi Alvin selama ini. Lalu sekarang, apa Sivia harus melepaskan Alvin untuk Pricilla? Apa sudah saatnya bagi Sivia untuk membebaskan Alvin? Tapi bagaimana dengan hatinya?
            “bantu gue, Via! Please bantu gue. Cuma elo yang bisa bantu gue, Via… Cuma elo dan bukan yang lainnya…” kata Pricilla setengah memohon.
            Sivia diam berfikir. Semua ini terlalu sulit untuk bisa ia pahami. Dan masalah ini terlalu berat untuk bisa ia hadapi sendiri.

            “Alvin, apa selama ini kamu emang nggak pernah bisa mencintai aku? Dan apa selama ini kamu emang belum bisa ngelupain Pricill….?”


****

            “ALVIN!!” Panggil seseorang dengan suara lantang. Merasa ada yang memanggil namanya di Koridor Kampus, Alvin langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari posisinya sekarang, Alvin dapat melihat dengan jelas ada seseorang yang tengah berjalan menghampirinya dengan langkah yang santai dan tidak terkesan terburu-terburu.
            Alvin menyipitkan kedua matanya, berusaha mengamati wajah Pria itu sebaik mungkin. Dalam diam Alvin mulai berfikir, sepertinya ia pernah melihat Pria itu sebelumnya.
            “Hay… ketemu lagi, ya?” ujar Pria itu dengan senyuman ramahnya setelah ia dan Alvin berdiri berhadapan.
            Kelamaan Alvin mulai mengingat sosok Pria ini. Dia Gabriel, tunangan Pricilla. Alvin akhirnya menghela nafas berat, buat apa juga Pria ini datang menemuinya?
            “masih inget gue?” Tanya Gabriel hati-hati.
            Ragu-ragu Alvin mengangguk pelan seraya berkata “i… iya…”
            Gabriel tersenyum lagi. Tapi kali ini senyuman yang bebeda dari senyuman sebelumnya. Senyuman yang penuh dengan intrik. Senyum kelicikan.
            “lo mau apa?” Tanya Alvin to the point. Gabriel tersenyum menang kali ini.
            “ternyata lo sangat pintar, Alvin!”
            “gue nggak suka basa basi, langsung saja sebut apa mau lo!”
            “bagus, karna gue juga nggak suka basa basi”
            “terus apa mau lo?”
            “lo masih mencintai Pricilla?”
            “apa urusan lo nanyain masalah itu ke gue?”
            “karena gue tunangan Pricilla”
            “kalo lo ngerasa tunangannya Pricill, kenapa sikap lo selama ini dingin sama dia?”
            “ooo… ternyata Pricilla udah cerita banyak ya tentang gue?”
            “sangat banyak sampe gue mau ngebunuh lo! Tapi kalo lo berfikir gue mau ngehancurin pertunangan lo sama Pricill, lo salah besar Gabriel. Karna gue nggak akan pernah mau. Gue MUNGKIN masih mencintai Pricill, tapi bukan berarti gue bersedia ngehancurin pertunangan kalian. Ngerti lo?”
            Alvin berbalik dan langsung pergi meninggalkan Gabriel begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Gabriel menggenggam erat jemari tangannya. Ada ribuan emosi tertahan jauh didalam sana. Dan suatu saat nanti emosi itu siap meledak dan menghancurkan segalanya.
            Tanpa Gabriel sadari, ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari kejauhan dan mendengar semua obrolannya dengan Alvin tadi. Gadis itu memegang dadanya yang entah kenapa terasa begitu sesak. Tapi bukan itu yang terpenting sekarang. Yang terpanting baginya sekarang hanyalah perasaan Sivia. Tadi sudah jelas-jelas Alvin mengatakan bahwa dia masih mencintai Pricilla, lalu Sivia bagaimana? Memangnya Alvin anggap apa Sivia selama ini?

            “Lagi-lagi karna Pricilla… Alvin, Pricill… gue akan bikin perhitungan sama kalian” batin Shilla lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan segala rasa kecewa. Rasa kecewanya sebagai seorang sahabat.


****


Sekarang kau mulai tak jujur padaku
Apa yang kau sembunyikan dari diriku?
Dari matamu kau mulai membohongiku…..


            Selama 2 minggu belakangan ini entah kenapa Sivia merasa bahwa sikap Alvin mulai berubah padanya. Selama 14 hari dalam dua minggu ini Alvin jarang sekali menemuinya. Dan bahkan semalam, yang bertepatan dengan malam minggu, Alvin sama sekali tidak menampakkan dirinya dihadapan Sivia. Ia tidak menjemput Sivia ke Studio seperti biasanya juga tidak memberi kabar apapun.
            Sivia yang merasa takut menganggu Alvin, akhirnya terpaksa menelpon Cakka dan meminta Cakka untuk menjemputnya. Tapi Sivia tidak sedikitpun membicarakan prihal perubahan Alvin selama 2 minggu belakangan ini pada Cakka. Sivia takut Cakka akan salah paham lalu marah pada Alvin.
            Sivia tahu bahwa baru-baru ini Cakka sudah bisa berdamai dengan Alvin juga kedua orang tuanya, dan Sivia tidak ingin merusak suasana perdamaian itu dengan menceritakan masalah yang sebenarnya terhadap Cakka. Sivia memilih memendam semuanya sendiri. Ya… hanya sendiri.
            “Alvin mana? Tumben nggak jemput?”
            Dan ketika Cakka melemparkan pertnyaan itu praktis Sivia menjadi kebingungan sendiri. Ia bahkan belum menyiapkan jawaban apapun kalau-kalau Cakka menanyakan hal itu padanya. Sivia terdiam beberapa saat, lalu tanpa menatap mata Cakka Sivia akhirnya menjawab dengan penuh dusta,
            “aku lagi mau dijemput sama Kakak, ya kangen aja sama Kak Cakka. Akhir-akhiran ini kan kita emang jarang ketemuan karna Kak Cakka sibuk ngurus persiepan buat Wisuda Kakak”
            Saat itu Cakka terdiam. Dari sudut matanya, Sivia dapat melihat dengan sangat jelas bahwa Cakka tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Dalam hati Sivia berharap semoga Cakka tidak menyimpan curiga atas  jawabannya.


****

            Tidak ingin terlalu sibuk memikirkan perubahan sikap Alvin, minggu pagi itu Sivia lebih memilih untuk menyibukan dirinya dengan membuat sebuah kue. Sivia kira hal itu bisa membuat fikirannya bisa sedikit teralihkan dari Alvin, tapi ternyata Sivia salah. Kegiatannya itu malah tidak membantu apa-apa. Sivia mengaduk adonan kue sambil melamun.
            Lalu tiba-tiba saja Sivia merasakan ada seseorang yang menutup kedua matanya dari belakang. Sivia yang kaget langsung menghentikan aktifitasnya yang tengah mengaduk adonan kue. Sivia terdiam sejenak dan berusaha menerka-nereka siapa yang sedang mengerjainya saat ini.
            “BAGAS” Kata Sivia setengah kesal. Sivia merasakan bahwa seseorang yang menutup kedua matanya dari belakang itu menggeleng perlahan sambil meredam suara tawanya yang hendak memecah.
            “siapa sih?” sebenarnya Sivia ingin menyebut nama Alvin, hanya saja Sivia ragu. Ia takut salah.
            Kedua  tangan yang tadinya menutup kedua mata Sivia kini bergerak turun dan melingkar dipinggangnya dengan erat. Saat itu juga Sivia langsung menghela nafas lega. Ternyata dugaannya benar. Memangnya siapa lagi yang berani memeluknya seperti ini selain Alvin? Sivia sedikit menyungginkan seulas senyum diwajahnya. Tidak ia sangka bahwa hari ini Alvin akan datang menemuinya.
            “masa pacar sendiri nggak tau sih?” Alvin mengecup lembut pipi Sivia. Sivia hanya terdiam dan tidak berniat menjawab pertanyaan Alvin itu. Sivia ingin memberi Alvin sedikit pelajaran saja biar Alvin tahu bahwa betapa tidak enaknya jika diacuhkan tanpa sebab selama 2 minggu.
            “jalan yuk!” ajak Alvin tiba-tiba tanpa melepaskan pelukannya dari Sivia. Sivia menggeleng perlahan,
            “nggak bisa. Emangnya lo nggak liat gue lagi ngapain sekarang?” balas Sivia dengan jutek.
            Dari nada bicaranya saja Alvin sudah tahu kalau Sivia sedang marah. Alvin pun melepaskan pelukannya lalu berdiri disamping Sivia yang ketika itu pura-pura sibuk. Alvin menatap wajah Sivia lekat-lekat dan berusaha membaca apa yang sedang Gadis nya itu fikirkan sekarang.
            “kamu marah?” selidik Alvin dengan kedua mata menyipit. Ia melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap Sivia dengan tatapan menyelidik.
            “menurut lo?”
            “marah” jawab Alvin sekenanya dan seakan tanpa beban.
            “bagus kalo lo tau” Sivia masih sibuk dengan adonan kue nya.
            Alvin mulai berfikir keras untuk mencari cara supaya Sivia tidak marah lagi padanya. Alvin sadar bahwa selama 2 minggu belakangan ini ia lebih banyak mengacuhkan Sivia, dan itu semua karena…. Ah Alvin tidak ingin membahas itu. Yang Alvin tahu sekarang hanyalah ia sangat merindukan Sivia dan ingin melampiaskan rasa rindunya itu.
            “kemana aja lo akhir-akhiran ini? Sibuk banget ya kayaknya sampe bales sms aja nggak sempet” Sivia akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya. Dan jujur saja, Sivia merasa bisa sedikit lebih lega dari sebelumnya.
            Sementara Alvin, ia sudah menyangka sebelumnya bahwa Sivia akan berkata seperti itu padanya. Alvin diam berfikir sejenak.
            “kenapa diem? Lagi mikir? Mikir mau ngasih jawaban apa ke gue? Atau—“
            “aku minta maaf, Via” sela Alvin tiba-tiba sebelum Sivia menyelesaikan ucapannya. Sivia menghentikan sejenak aktiftas mengadon kue nya lalu menatap hampa kedepan.
            “Cuma minta maaf? Nggak pake penjelasan apa-apa gitu?” pancing Sivia dan kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat terhenti tadi.
            “akhir-akhiran ini aku… aku lagi sibuk ngurus tugas kampus” kata Alvin ragu-ragu.
            Kali ini Sivia menatap kedua mata Alvin dalam-dalam, berusaha mencari sinar ketidak jujuran disana, tapi…. Sivia menggeleng perlahan. Hatinya terluka ketika mendapati sebuah kenyataan yang langsung menamparnya detik itu juga.
            “maaf ya?” lanjut Alvin bersungguh-sungguh.
            Sivia berusaha sekuat ia mampu untuk menghilangkan semua prasangka buruknya pada Pria ini. Bukankah Sivia pernah berkata bahwa ia akan menyerahkan seluruh kepercayaannya pada Alvin? Apa sekarang Sivia akan melanggar perkataan yang sudah ia ucapkan sendiri?
            Mungkin Alvin jujur, tapi hanya saja Sivia yang terlalu mencurigainya. Hanya itu.
            “lupakan! Maaf karna aku udah nggak bisa ngertiin kamu. Maaf karna aku egois dan hanya mikirin diri aku sendiri” kata Sivia pada akhirnya.
            Alvin berani bersumpah demi apapun juga, ia benar-benar merasa sangat berdosa ketika mendengarkan ucapan Sivia yang terakhir. Tidak disangka bahwa Sivia akan sepercaya ini padanya. Jahat, Alvin benar-benar merasa jahat. Rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut terdalam detik ini juga. Maaf Sivia… Alvin hanya bisa membatin. Hanya sebatas membatin.
            Sivia tersenyum tenang dan mencoba melupakan semuanya. Toh sekarang Alvin sudah ada dihadapannya, lalu apa yang harus Sivia fikirkan lagi? Tidak ada kan? Mendadak Sivia ingin mencairkan suasana beku yang kini membungkus kebersamaan mereka. Sivia yang isengpun akhirnya mencolekan adonan kue wajah Alvin. Alvin terkesiap dan langsung menatap Sivia dengan seringai nakalnya,
            “HAHAHAHAHAHAHA…” Sivia tertawa keras, berusaha menutupi kepedihan hatinya.
            “oooo… nantangin?”
            Sivia masih tertawa, bahkan sampai terbahak-bahak. Tanpa Sivia sadari Alvin mengambil segenggam tepung yang tersedia disebuah baskom yang ada dihadapannya. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi Alvin langsung melemparkan tepung itu tepat ke wajah Sivia. Sivia menghentikan suara tawanya sejenak. Beberapa saat kemudian ia langsung menjerit.
            “ALVIIIIIINNNNNNNNN……”
            “Hahahahaha…. Rasain! Makanya jangan iseng kalo nggak mau diisengin” Alvin berlari kearah meja makan demi menghindari serangan balik dari Kekasihnya itu.
            Sivia mengusap tepung yang menutupi sebagian wajahnya. Merasa perlu membalas Alvin, Sivia pun mengejar Alvin kearah ruang makan. di ruang makan  yang cukup besar itu, Sivia berusaha mengejar Alvin sekuat ia mampu. Mereka berdua berlari mengelilingi meja makan.
            “Alvin curanggggg!! Sini nggak?”
            “kalo aku nggak mau….?”
            “ALVIIINNNNNNN…..!!!!!!” Sivia semakin emosi saja.
            Ketika Sivia nyaris menangkap Alvin, Alvin langsung menghentikan larinya. Tangan Sivia yang sudah terulur dan siap meraihnya malah ditarik oleh Alvin. Alvin pun menahan Sivia, ia melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Gadis itu. Alvin menatap kedua mata Sivia lekat-lekat. Sivia bahkan sampai salah tingkah dibuatnya,
            “mau bales dendem? Ayo bales sekarang!” tantang Alvin, tapi nada bicaranya terdengar begitu lembut. Bahkan sangat lembut. Sivia menggeleng pelan, tatapan Alvin benar-benar membuat semua gerakkannya terasa mati, tak bernyawa.
            Alvin dan Sivia saling menatap dalam hening. Mereka sama-sama bisu, sama-sama terpikat oleh keindahan mereka masing-masing. Dalam diam Alvin berfikir, bahwa betapa bodohnya ia sebagai seorang Pria karna telah menyika-nyikan Gadis sebaik Sivia. Andai Alvin bisa melakukan sesuatu untuk Gadis ini. Andai Alvin tidak lagi hanya bisa menimbulkan kecewa dihatinya. Alvin sangat ingin melakukan itu, hanya saja arah hatinya saat ini benar-benar membuatnya kelimpungan sendiri. Ia terjebak diantara 2 hati yang sama-sama mencintainya. Lalu Alvin harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin kan selamanya Alvin akan terus seperti ini? Biar bagaimanapun Alvin harus bisa menjatuhkan pilihannya sebelum ia melakukan tindakan yang terlampau jauh dibelakang Sivia. Sekarang saja Alvin sudah mulai tidak jujur, bagaimana nanti?
            Perlahan Alvin mengecup kening Sivia, ia melakukannya agak lama. Sivia pun memejamkan matanya, berusaha merasakan ketulusan yang Alvin salurkan keseluruh pembuluh darahnya, berdetak bersama jantungnya, berdenyut bersama nadinya.
            “maaf…” lirih Alvin pelan lalu memeluk erat tubuh Sivia. Sivia tidak berkata apa-apa, yang ia inginkan sekarang hanyalah memeluk Alvin. Hanya itu…
            Alvin dan Sivia sama-sama melepaskan pelukan mereka ketika Handphone milik Alvin berbunyi.
            “sebentar ya?” kata Alvin, Sivia mengangguk dan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Sementara Sivia sedang membersihkan wajahnya dikamar mandi, Alvin mengangkat telfonnya,
            “hallo….”
            “…..”
            “nggak bisa nanti malem aja?”
            “….”
            “bukannya gitu… tapi….”
            “…..”
            “ya udah, aku kesana sekarang. Tunggu!”
            2 menit kemudian Sivia keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menghampiri Alvin yang entah kenapa terlihat begitu gusar. Alvin seperti orang kebingungan,
            “Alvin, are you oke?” Tanya Sivia sambil menyentuh pipi Alvin. Alvin mengangguk seraya memegang tangan Sivia yang bertengger dipipinya.
            “nggak apa-apa Via, aku baik-baik aja” jawab Alvin berusaha terlihat tenang. Tapi percuma saja, karna Sivia bisa menangkap dengan sangat jelas semua kegusaran yang terlukis diwajah tampannya.
            “kita makan yuk! Kamu mau makan apa? Biar aku masakin…”
            “no no no… aku, aku harus pergi sekarang”
            Air muka Sivia langsung berubah keruh. Kecewa? Jelas saja. Bagaimana tidak kecewa, Alvin baru saja datang kerumahnya setelah hampir selama 2 minggu menghilang, tapi sekarang?
            “pergi?” Sivia menurunkan tangannya dari wajah Alvin,
            “tadi Rio nelfon, katanya ada urusan yang harus kita selesin?”
            “Rio?”
            “iya Rio, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?”
            Sivia berusaha tersenyum demi menyembunyikan kekecewaannya.
            “nggak apa-apa. Pergi gih, kasian Rio kalo harus nunggu lama”
            Alvin tersenyum pahit. Kenapa Gadis ini selalu saja mempercayainya? Tidak bisakah sekali saja Sivia tidak mempercayainya? Alvin menarik wajah Sivia lalu mengecup bibirnya sekilas.
            “aku pamit ya?”
            Sivia mengangguk ragu-ragu. Ia membiarkan Alvin pergi begitu saja dan meninggalkannya bersama rasa kecewanya juga rasa curiganya.
            Beberapa saat setelah kepergian Alvin, tiba-tiba saja handphone Sivia bergetar. Ia menerima sebuah panggilan dari Cakka,
            “hallo Kak….”
            “lagi dimana, Vi?”
            “dirumah”
            “sibuk nggak?”
            “nggak kenapa?”
            “aku jemput ya? Aku mau jalan sama kamu, bisa?”
            “bisa Kak, bisa banget malah….” Jawab Sivia antusias.
            “ya udah, tunggu aku ya? 10 menit lagi aku jemput”
            “iya Kak, aku tunggu. Kalo gitu aku siep-siep dulu ya?”
            “iya Via….”
            Tuutttt….. sambungan telfon pun dimatikan oleh Cakka. Sivia tersenyum sejenak lalu segera bersia-siap sebelum Cakka datang menjemputnya.


****

            Cakka mengajak Sivia jalan-jalan kesebuah Mall. Mereka berdua berjalan beriringan sambil menikmati ice cream mereka masing-masing. Sejak tadi, senyum kebahagiaan terus terukir diwajah keduanya. Mereka sama-sama bahagia, tapi tanpa mereka tahu, salah satu dari mereka tengah menyimpan luka yang teramat mendalam.
            “makasih ya, Vi…?” ujar Cakka tiba-tiba,
            “buat?” Tanya Sivia seraya menikmati ice cramnya,
            “buat semuanya, tanpa kamu mungkin sekarang aku bakalan tetep jadi Cakka yang dingin dan nggak punya hati. Kamu benar, bahwa betapa selama ini aku selalu berusaha menghindari dari kebahagiaan yang udah Tuhan kasih buat aku, sekali lagi makasih ya, Via?”
            “sama-sama Kak Cakka. Aku tuh sayang sama Kak Cakka, dan aku selalu pengen bisa ngeliat Kak Cakka bahagia, Cuma itu Kak”
            “sayang sebagai Kakak? Apa nggak bisa lebih dari itu?” Tanya Cakka tiba-tiba. Sivia yang shock nyaris saja menjatuhkan ice creamnya.
            Menyadari perubahan air muka Sivia, Cakka tersenyum lalu tertawa kecil. Salah tangannya bergerak perlahan lalu menyentuh puncak kepala Gadis itu,
            “nggak usah terlalu tegang mukanya, omongan aku tadi nggak serius kok, hahaha…”
            “Kak Cakka ini bisa aja” kata Sivia yang sebenarnya mulai salah tingkah sendiri.
            Mereka pun kembali tertawa dan melanjutkan langkah mereka yang tadi sempat terhenti.
            Tapi kemudian Sivia menghentikan langkahnya dan membiarkan Cakka berjalan terlebih dahulu ketika kedua indera pelihatnya menangkap 2 sosok yang begitu ia kenal tengah berjalan sambil bergandengan tangan dan tertawa bersama.
            Dada Sivia seakan terhantam kuat oleh sebuah benda berduri. Rasanya sesak bercampur perih. Benarkah itu Alvin? Benarkah itu Alvin kekasihnya? Bukankah tadi Alvin berkata ia ingin menemui Rio, tapi sekarang kenyataannya?
            Jantung Sivia seakan teremas manakala ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Alvin menarik kepala Gadis itu –Pricilla- lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra dipuncak kepalanya. Pricilla pun terlihat begitu bahagia. Ia melingkarkan lengannya dipinggang Alvin. Alvin juga demikian, ia terlihat tidak kalah bahagianya dari Pricilla sekarang. Satu hal yang bisa Sivia tangkap dari Alvin hari ini adalah; Alvin tidak pernah terlihat sebahagia itu ketika tengah bersama Sivia.
            Ya Tuhan… beginikah cara Alvin membalas semua kepercayaan Sivia kepadanya selama ini? Jika memang ini cara yang Alvin gunakan untuk membalas semua kepercayaannya selama ini, betapa ini sangat tidak adil bagi Sivia yang selama 7 tahun ini terus bertahan dengan segala rasa cintanya pada Alvin. Dimana letak keadilan itu?
            Cakka yang mulai menyadari bahwa Sivia tidak ada disampingnya langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang dan mendapati Sivia yang ketika itu diam mematung dengan wajah memucat. Cakka heran. Ia pun mengikuti arah tatapan Sivia.
            Dan ketika kedua mata Cakka melihat apa yang Sivia lihat, emosinya mendadak naik. Rasanya ia ingin menghajar Alvin detik ini juga. Tidak peduli meskipun angin perdamaian baru saja berhembus diantara mereka, Cakka hanya ingin menghajar Alvin. Melampiaskan segala emosinya tanpa bekas.
            Cakka membuang ice creamnya ke tong sampah yang ada disebelahnya. Ia sudah bersiap-siap untuk menghampiri Alvin dan memberinya sebuah pelajaran. Tapi Ketika Cakka akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ia merasakan seseorang menahan pergelangan tangannya,
            “jangan Kak Cakka!”
            “tapi Via, dia—“
            “aku bilang jangan Kak Cakka. Ini urusan aku sama Alvin, jadi biarin aku yang nyelesein semuanya” Cakka berusaha menahan emosinya dan menuruti perkataan Sivia.
            “sebaiknya kita pergi dari sini sebelum Alvin dan Pricill ngeliat kita”
            “tapi…”
            “Kak Cakka please, aku mohon sama Kakak…” pinta Sivia dengan suara serak. Kedua matanya mulai memerah. Air mata tergenang sempurna di kedua pelupuk mata indahnya.
            Cakka mengangguk ragu-ragu lalu membawa Sivia pergi dari tempat itu sebelum Alvin dan Pricilla menyadari keberadaan mereka.

            Sivia tahu kenyataan ini sangat adil baginya. Dan siapapun tidak akan pernah bisa mengerti dengan kesakitan yang Sivia rasakan detik ini. Rasanya begitu pedih, saat kepercayaannya dibalas oleh pengkhianatan seperti ini.
            Apa Sivia harus menyerah dan pergi meninggalkan Alvin? Tapi kemudian pertanyaan lainpun muncul, apa Sivia sanggup jika harus pergi meninggalkan Alvin? Bukankah Sivia begitu mencintai Alvin? Sedetik pun rasanya Sivia tidak akan mampu meninggalkan Alvin.
            Sivia telah terpukul mundur. Sanggup tidak sanggup Sivia harus tetap pergi demi menyelamatkan hatinya, Sivia harus tetap pergi dan melepaskan Alvin demi kebahagiaannya. Mungkin selama ini Sivia terlalu mengekang Alvin dengan rasa cintanya. Ya… Sivia egois. Harusnya sejak awal Sivia mengerti bahwa Alvin tidak akan pernah bisa terlepas dari rasa cintanya pada Pricilla. Hanya Pricilla lah satu-satunya pengisi relung Alvin. Bukan Sivia, bukan juga yang lainnya. Bukankah ini saatnya untuk Sivia menyerah? Bukankah ini saatnya bagi Sivia untuk melepaskan Alvin pergi bersama Pricilla? Bersama cinta sejatinya.

            “terimakasih untuk luka ini, Alvin… terimakasih…. Mulai hari ini aku nyerah. Aku akan lepasin kamu buat Pricill… aku akan pergi sejauh mungkin dari hidup kamu. Dan maaf kalo selama ini aku terlalu egois, maaf karna aku nggak pernah mengerti dengan hati kamu, maaf karna aku sudah nahan kamu disisi aku… sekarang saatnya untuk kamu bebas Alvin… sekarang saatnya untuk kamu terbang jauh dan meraih cinta mu yang sesungguhnya, sekaranglah saatnya….”

~

Meski ku tak bisa memiliki dirimu
Takkan ku berpaling pergi…

Makin aku mencintai… KU LEPAS KAU KEKASIH BIAR TERBANG TINGGI..

Cinta yang tak mungkin terbang tinggi –Elyzia Mulachela-





                        BERSAMBUNG…

           

0 comments:

Post a Comment