Wednesday, August 14, 2013

0

Love, Love, And Love [Part 3]



“iihh…Alvin lepas! Apaan sih lo maen tarik-tarik aja, sakit tau tangan gue…” ucap Sivia sembari menarik pergelangan tangannya dari genggaman Alvin saat mereka sudah tiba diluar Mall. Alvin menghela nafas panjang, berusaha bersikap biasa saja supaya Sivia tak curiga. Melihat Alvin yang diam saja, Sivia pun berkata,
            “Alvin…” panggil Sivia. Alvin masih diam.
            “Alvin,Alvin,ALVIIIINNNNNN…..!!!!” teriak Sivia sekencang-kencangnya tepat didepan telinga Alvin. Mendengarkan teriakan Sivia yang lumayan keras Alvin langsung tersadar. Ia merasakan panas dibagian telingannya dan itu akibat teriakan maut Sivia. Alvin mengusap-usap telinganya,
            “gak  usah tereak kali Vi, lo gak sadar kalo suara lo itu cempreng  banget, telinga gue jadi ngiung-ngiung nih…” protes Alvin.
            “lagian elo sih, gue panggil sekali gak denger, lo itu tuli apa budek…?” Tanya Sivia tak jelas sambil berkacak pinggang,
            “HELLLOOO…. TULI ama BUDEK apa bedanya, ONEEEENGGG…???” Tanya Alvin kembali seraya memberikan penekanan pada beberapa kalimat, Sivia terdiam, tak tau harus berkata apa lagi,
            “makanya, kalo pelajaran Bahasa Indonesia itu jangan molor, jadi jedok kan nilai lo, masa’ Cuma bedain TULI ama BUDEK aja gak bisa…”
            “STOOOPPP….!!!” Teriak Sivia sekali lagi seraya menutup mulut Alvin menggunakan telapak tangannya,
            “kenapa jadi elo yang marah-marah? Harusnya kan yang marah-marah itu gue, bukan elo, kenapa lo narik-narik gue keluar…?” mendengarkan pertanyaan Sivia, Alvin terlihat bingung dan mulai mencari-cari alasan-alasan,
            “tadi didalem ada Bom, makanya gue narik-narik lo keluar, daripada kita mampus berdua…??” jawab Alvin sembarangan,
            “Alvin Jonathan Sindunata gue serius…” kesal Sivia, Alvin semakin terlihat bingung, ia menggaruk kepalanya lantas berkata,
            “didalem gak ada buku-buku yang ok, jadi laen kali aja ya kita beli bukunya, hehehehe….”
            “gak usah nyengir lo…” ucap Sivia seraya melipat kedua tangannya didada dan menoleh kearah lain. Alvin merangkul Sivia dan berkata,
            “dan lo gak usah ngambek dong… emmm… kita Viss yaa…?” Alvin mengulurkan tangannya untuk Sivia, Sivia menatap Alvin dan terlihat berfikir sejenak. Tak lama berfikir Sivia mengangguk-angguk lantas berkata,
            “ok, gue maafin lo, tapi dengan satu syarat!”
            “apa?” Tanya Alvin,
            “lo harus traktir gue makan Mie Ayam…” Alvin tertawa sekencang-kencangnya,
            “ahahahaha….. pantes tuh muka udah kaya’ Mie Ayam…” ledek Alvin, Sivia langsung cemberut,
            “gue ngambek lagi nih…!” ancam Sivia,
            “ahahaha….ok, ok, gak usah ngambek lagi, kalo gitu sekarang kita Viss ya…” Alvin kembali mengulurkan tangannya untuk Sivia. Sivia langsung menyalami tangan Alvin,
            “ok, kita dame…!”


@_@

            Malam ini, Alvin dan Sivia terlihat sibuk belajar untuk ulangan Biology besok pagi. Mereka duduk bersila dilantai dan menghadap sebuah meja persegi empat. Alvin berusaha keras membimbing Sivia meskipun Sivia sulit untuk focus. Sivia kewalahan saat menghafal nama sel-sel dan bakteri-bakteri yang sangat susah disebutkan. Sivia yang sudah mulai bosan akhirnya protes,
            “para Ilmuan rempong banget ya perasaan, masa’ Cuma ngasih nama Kuman…”
            “Bakteri bukan kuman” sela Alvin,
            “ya itulah maksud gue pokoknya, Cuma ngasih nama bakteri aja ribetnya sejagad raya, uuhh….” Sivia menekuk mukanya diatas meja seraya cemberut. Alvin tersenyum dan terus menatap Sivia seraya tersenyum-senyum sendiri. Entah kenapa Alvin begitu merasa senang saat melihat wajah cemberut Sivia dan sikap manjanya.
            Sivia terus mengoceh sendiri, sementara Alvin, ia masih betah memandangi Sivia. Tak lama Sivia tersadar bahwa sedari tadi Alvin menatapnya. Sivia menghentikan ocehannya lalu secara perlahan menatap Alvin yang saat itu duduk disampingnya, kali ini kedua bola mata mereka bertemu. Sivia kembali merasa ada yang berbeda dari tatapan Alvin, apa mungkin? Fikirnya.
            Alvin benar-benar menikmati paras cantik Sivia yang sudah sejak lama ia kagumi. Wajah mereka yang hanya berjarak beberapa centi saja membuat Alvin begitu puas menatapi setiap lekuk kecantikan Sivia yang nyaris tanpa cela. Sivia heran karna Alvin terus menatapnya seperti itu,
            “Vin…” panggil Sivia pelan. Kali ini Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia, semakin lama semakin dekat. Sivia sudah merasakan deguban yang begitu kencang. Apakah yang akan Alvin lakukan padanya? Melihat wajah Alvin yang semakin dekat, Sivia memejamkan matanya kuat-kuat, tapi tiba-tiba saja…… ‘PLAAKKKK’ telapak tangan Alvin mendarat pas dipipi sebelah kanan Sivia. Sivia meringis kesakitan dan langsung membuka matanya.
            “gila, tuh nyamuk gede banget, mana darahnya banyak lagi…” ucap Alvin datar tanpa ekspresi sambil melihat nyamuk yang kini sudah menjadi almarhum ditelapak tangannya. Sivia bengong sambil sesekali meringis kesakitan,
            “aaww…pipi gue, kaya’nya mesti dioprasi plastic nih..” ucap Sivia lebay, Alvin langsung menoyor kepalanya,
            “dasar lebay….! Gitu aja pake oprasi plastic…”
            “yeee….lo fikir gak sakit apa…? Seenak jidat lo nampar gue..”
            “ya mending gue nampar lo, dari pada tuh nyamuk ngisep darah lo lebih banyak lagi, entar pipi lo yang tembem itu jadi kempes dong….” Disaat-saat seperti itu Alvin masih sempat-sempatnya meledek Sivia. Sivia tak menggubris Alvin, ia terus mengusap-usap pipinya yang kini mulai terasa panas dan terlihat sedikit memerah. Alvin tertawa sekencang-kencang,
            “AHAHAHAHA…. Sumpah, muke lo lucu banget Vi, ahahaha….”
            “iihhhh….Alvin rese’……” kesal Sivia seraya memukul-mukul pundak Alvin,
            “aw…Vi sakit tau…” Sivia tak peduli, ia tetap memukuli Alvin, semakin lama semakin kencang. Alvin yang hendak berniat menyingkirkan tangan Sivia malah tanpa sengaja menarik kedua tangan Sivia, mereka berdua tergeletak dilantai dengan posisi Sivia berada tepat diatas Alvin. Getaran itu datang lagi.
            ‘ada apa dengan tatapan Alvin? Kenapa gue ngerasa ada yang laen..?’ batin Sivia. Saat ia akan beranjak dari atas tubuh Alvin, Alvin malah menahannya,
            “lo tau siapa cewek yang gue maksud tadi pagi?” Tanya Alvin pelan seraya menatap Sivia lurus, Sivia menggeleng, Alvin memegangi kedua pipi Sivia dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia, saat bibir mereka nyaris bertemu, Alvinpun tersadar, ia terkesiap,
            ‘ya Tuhan…! Apa yang udah gue mau lakuin…?’ ucap Alvin dalam hati, ia pun melepaskan Sivia lalu bangkit, saat mereka sudah sama-sama terduduk, Alvin berkata pada Sivia,
            “maafin gue,Vi, gue gak sengaja…!” sesal Alvin, Sivia menggeleng,
            “gak apa-apa kok Vin, gue ngerti…” ucap Sivia seraya tersenyum,
            “ya udah, belajar lagi yuk!” ajak Alvin. Baru saja Alvin akan kembali membuka buku  catatannya, Sivia menahan tangannya,
            “Vin, tunggu!” Alvin menatap Sivia,
            “apa?”
            “tadi bukannya lo mau ngasih tau gue siapa cewek yang lo suka…”
            “haa…? Emang tadi gue bilang gitu..?”
            “plis Vin, jangan beralasan lagi, gue mau tau siapa cewek itu…” Sivia sudah mulai curiga bahwa cewek yang Alvin maksud adalah dirinya, tapi Sivia tak mau geer dulu sebelum ia mendengarkan langsung dari mulut Alvin.
            “ce..cewek itu…” ucap Alvin terpotong, Sivia menunggu dengan sabar.
            Alvin berusaha meyakinkan hatinya. Ia sudah bertekad akan memberitaukan Sivia detik ini juga, apapun yang akan Sivia katakan,Alvin pasrah, yang terpenting Sivia tahu semuanya, dan ia akan tenang. Alvin menghela nafas panjang,
            “cewek itu…” Alvin meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya erat, Sivia kembali heran,
            “cewek itu adalah…ce..cewek itu adalah….”

            “VIAA….” Panggil seseorang yang ternyata adalah Gabriel. Mendengarkan panggilan Gabriel, Alvin langsung melepaskan tangan Sivia. Gabriel mendekati Sivia dan Alvin.
            “malam sayang…” sapa Gabriel seraya duduk disamping Sivia.Gabriel memegangi kepala Sivia lalu mencium puncak kepalanya. Melihat pemandangan itu, untuk yang kesekian kalinya Alvin kembali merasa cemburu.
            “eehhh…ada Alvin juga toh… kalian lagi belajar ya?” Tanya Gabriel pada Alvin dan Sivia,
            “iya, kita lagi belajar!” jawab Alvin.
            “belajar apa?”
            “biology Kak, besok kita ada ulangan!” kali ini Sivia yang menjawab,
            “udah selese belajarnya….?”
            “udah selese kok..” jawab Alvin seraya membereskan buku-bukunya. Sivia pamit untuk pergi ke kamar mandi sebentar. Saat Sivia sudah pergi dan sebelum Alvin pulang, Alvin mendekati Gabriel, ia membisiki sesuatu ditelinga Gabriel,
            “Sampe Sivia terluka sedikiiittt aja karna elo nyakitin dia, gue habisin lo!”ancam Alvin dengan keras. Mata Gabriel terbelalak, Alvin sudah mengetahui semua kelicikannya.
            “maksud lo?” Tanya Gabriel pura-pura tidak tahu, Alvin tersenyum simpul,
            “gak usah pura-pura begok lo…” itulah kata-kata terakhir Alvin sebelum ia keluar dari rumah Sivia.


@_@

            “Alvin,Alvin,Alvin….” Panggil Sivia dari depan gerbang rumah Alvin. Tak lama setelah ia memanggil Alvin, Alvinpun keluar dari garasinya menggunakan ninja merah kesayangannya. Melihat Alvin, Sivia langsung tersenyum, ia membuka gerbang rumah Alvin lantas mendekati Alvin yang saat itu masih menghangatkan motornya.
            Sivia merangkul Alvin lantas berkata,
            “eh, semalem kenapa lo maen pulang-pulang aja tanpa pamit sama gue…?”
            “yaelah,Vi, kaya’ gue baru pertama kalinya aja keluar masuk rumah lo, lagian semalem juga gue kebelet…”
            “emangnya dirumah gue gak ada kamar mandi…?” Tanya Sivia retoris,
            “ya mana gue tau, kan yang punya rumah elo bukan gue…” jawab Alvin asal,
            “Alvin, itu cuma pertanyaan retoris, gak usah dijawab kali, sekarang terbuktikan siapa yang suka molor pas pelajaran Bahasa Indonesia..”
            “teruuss…masalah buat lo…?” ucap Alvin menirukan gaya Soimah, Sivia tertawa kecil,
            “emang pantes lo ngikutin gayanya Soimah, ahahaha…”
            “ya masih mending gue ngikutin gayanya Soimah, cakepan juga Soimah daripada elo, weeks…” Sivia mulai kesal, kenapa sahabatnya yang satu itu paling suka meledeknya? Memangnya kalau tidak meledek Sivia sehari saja Alvin akan langsung dirumahsakitkan? Tidak mungkin! Memang dasar Alvin saja yang jahil. Sivia cemberut, ia memajukan bibirnya beberapa centi, Alvin kembali meledek,
            “panjangin lagi tuh bibir, kurang panjang gue ngeliatnya, hahaha…”
            “Alviiinnnnn….” Teriak Sivia,Alvin kembali tertawa mendengarkan teriakan Sivia.

@_@

            “Vin,entar malem lo ikut gue ya ngehadirin acara birthday partynya Kak Iel…” ucap Sivia ditengah-tengah perjalanan menuju SMK PANCASILA. Alvin terdiam sejenak dan memikirkan jawaban yang tepat yang akan ia berikan pada Sivia. Setelah cukup lama berfikir, Alvinpun akhirnya berucap,
            “udah, lo pergi aja ama Kak Iel, pacar lo kan Kak Iel, masa’ mau pergi bareng gue..??”
            “ya gak apa-apa dong! Lo kan sahabat gue, dan Iel Kak Iel pacar gue, posisi kalian itu sama dihati gue…” Alvin terdiam, ia tak lagi mengucapkan kata apapun hingga akhirnya tibalah mereka di SMK PANCASILA.

@_@

            Setelah memberikan tugas kelompok dipelajaran Matematika Pak Fath minta ijin keluar kelas sebentar karna beliau sedang ada urusan. Saat Pak Fath sudah keluar, anak-anak 11 Multimedia bukannya mengerjakan tugas yang sudah diberikan, tapi mereka malah bermain-main. Ada yang bergosip, ada yang main kejar-kejaran, ada yang mencoret-coret papan, dan masih banyak lagi ulah anak-anak Multimedia yang seperti anak SD. Yang terlihat serius mengerjakan tugas hanyalah Alvin,Rio,dan Pricilla, sementara Sivia,Ify,Shilla,dan Febby sibuk bergosip,entah apa yang sedang mereka gosipkan. Sedangkan Cakka, ia pergi entah kemana, biasanya saat jam pelajaran kosong Cakka langsung pergi kekantin untuk mengisi perutnya, Cakka memang lebih berani daripada yang lainnya.
            Berkali-kali Alvin menyuruh Sivia mengerjakan tugasnya, tapi Sivia tak sedikitpun menghiraukan Alvin, ia tetap asyik bergosip dengan teman-temannya. Alvin yang sudah jenuhpun akhirnya memutuskan untuk tetap focus mengerjakan tugasnya tanpa menghiraukan Sivia.
            Pada saat mengerjakan soal nomer 3 pada pokok bahasan Martiks, Alvin terlihat kebingungan. Alvin bangkit dari bangkunya lalu melangkah kebangku Pricilla untuk meminta bantuan Pricilla. Dikelas, Pricilla memang jagonya matematika, peringkatnya selalu bersaing ketat dengan Alvin.
            “Prissy, gue kesusahan disoal nomer 3, lo bisa bantuin gue gak…?”
            “coba liat!” Alvinpun menyerahkan buku tugasnya pada Pricilla. Saat Pricilla tengah mencoba memahami soal itu, Alvin duduk disampingnya. Hal itu kontan saja membuat Sivia yang memang mendukung kedekatan antara Alvin dan Pricilla berteriak heboh,
            “CIEEEEEE….EHEM,EHEM…ADA YANG CINLOK NIH…TITTUUUIITT…” seisi kelaspun ikut berteriak heboh gara-gara Sivia. Alvin yang menyadari kini ia menjadi pusat perhatian seisi kelas Multimediapun langsung menjauh dari Pricilla,
            “ACIEEEE….ALVIN PRICILLA COCOK NIH YEE…” teriak semua anak-anak Multimedia kompak, Sivia berusaha keras menahan tawanya yang hampir meledak.
            “HEH…kalian semua apa-apaan sih, gue sama Pricilla gak ada apa-apa kok..” bela Alvin, sementara Pricilla ia hanya diam saja seraya menunduk dalam.
            “kalo gak ada apa-apa ya diADAIN dong Vin…” ucap Sivia jahil, Alvin langsung memplototi Sivia,
            “Via, ini semua gara-gara lo ya, awas lo entar!” ancam Alvin,
            “TEMBAK AJA,VIN…” Sivia kembali mencari masalah, kali ini seisi kelas mengikuti ucapan Sivia,
            “TEMBAK…TEMBAK…TEMBAK…TEMBAK….” Begitulah seterusnya anak-anak Multiemdia menggoda Alvin. Wajah Alvin semakin padam.
           
            “Alvin, kalo suka sama Prissy bilang aja lagi, gak usah malu-malu, hihihi…” goda Sivia lagi. Alvin menghela nafas panjang lantas berkata tanpa sadar didepan semua anak-anak 11 Multimedia,

            “GUE GAK SUKA SAMA PRISSY, YANG GUE SUKA ITU ELO SIVIA AZIZAH….” Ucap Alvin pada Sivia dan membuat semuanya terkejut nyaris tak percaya.


                                                BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment