“iihh…Alvin lepas! Apaan sih lo maen
tarik-tarik aja, sakit tau tangan gue…” ucap Sivia sembari menarik pergelangan
tangannya dari genggaman Alvin saat mereka sudah tiba diluar Mall. Alvin
menghela nafas panjang, berusaha bersikap biasa saja supaya Sivia tak curiga.
Melihat Alvin yang diam saja, Sivia pun berkata,
“Alvin…”
panggil Sivia. Alvin masih diam.
“Alvin,Alvin,ALVIIIINNNNNN…..!!!!”
teriak Sivia sekencang-kencangnya tepat didepan telinga Alvin. Mendengarkan
teriakan Sivia yang lumayan keras Alvin langsung tersadar. Ia merasakan panas
dibagian telingannya dan itu akibat teriakan maut Sivia. Alvin mengusap-usap
telinganya,
“gak usah tereak kali Vi, lo gak sadar kalo suara
lo itu cempreng banget, telinga gue jadi
ngiung-ngiung nih…” protes Alvin.
“lagian
elo sih, gue panggil sekali gak denger, lo itu tuli apa budek…?” Tanya Sivia
tak jelas sambil berkacak pinggang,
“HELLLOOO….
TULI ama BUDEK apa bedanya, ONEEEENGGG…???” Tanya Alvin kembali seraya
memberikan penekanan pada beberapa kalimat, Sivia terdiam, tak tau harus
berkata apa lagi,
“makanya,
kalo pelajaran Bahasa Indonesia itu jangan molor, jadi jedok kan nilai lo,
masa’ Cuma bedain TULI ama BUDEK aja gak bisa…”
“STOOOPPP….!!!”
Teriak Sivia sekali lagi seraya menutup mulut Alvin menggunakan telapak
tangannya,
“kenapa
jadi elo yang marah-marah? Harusnya kan yang marah-marah itu gue, bukan elo,
kenapa lo narik-narik gue keluar…?” mendengarkan pertanyaan Sivia, Alvin
terlihat bingung dan mulai mencari-cari alasan-alasan,
“tadi
didalem ada Bom, makanya gue narik-narik lo keluar, daripada kita mampus
berdua…??” jawab Alvin sembarangan,
“Alvin
Jonathan Sindunata gue serius…” kesal Sivia, Alvin semakin terlihat bingung, ia
menggaruk kepalanya lantas berkata,
“didalem
gak ada buku-buku yang ok, jadi laen kali aja ya kita beli bukunya, hehehehe….”
“gak
usah nyengir lo…” ucap Sivia seraya melipat kedua tangannya didada dan menoleh
kearah lain. Alvin merangkul Sivia dan berkata,
“dan
lo gak usah ngambek dong… emmm… kita Viss yaa…?” Alvin mengulurkan tangannya
untuk Sivia, Sivia menatap Alvin dan terlihat berfikir sejenak. Tak lama
berfikir Sivia mengangguk-angguk lantas berkata,
“ok,
gue maafin lo, tapi dengan satu syarat!”
“apa?”
Tanya Alvin,
“lo
harus traktir gue makan Mie Ayam…” Alvin tertawa sekencang-kencangnya,
“ahahahaha…..
pantes tuh muka udah kaya’ Mie Ayam…” ledek Alvin, Sivia langsung cemberut,
“gue
ngambek lagi nih…!” ancam Sivia,
“ahahaha….ok,
ok, gak usah ngambek lagi, kalo gitu sekarang kita Viss ya…” Alvin kembali
mengulurkan tangannya untuk Sivia. Sivia langsung menyalami tangan Alvin,
“ok,
kita dame…!”
@_@
Malam
ini, Alvin dan Sivia terlihat sibuk belajar untuk ulangan Biology besok pagi.
Mereka duduk bersila dilantai dan menghadap sebuah meja persegi empat. Alvin
berusaha keras membimbing Sivia meskipun Sivia sulit untuk focus. Sivia
kewalahan saat menghafal nama sel-sel dan bakteri-bakteri yang sangat susah
disebutkan. Sivia yang sudah mulai bosan akhirnya protes,
“para
Ilmuan rempong banget ya perasaan, masa’ Cuma ngasih nama Kuman…”
“Bakteri
bukan kuman” sela Alvin,
“ya
itulah maksud gue pokoknya, Cuma ngasih nama bakteri aja ribetnya sejagad raya,
uuhh….” Sivia menekuk mukanya diatas meja seraya cemberut. Alvin tersenyum dan
terus menatap Sivia seraya tersenyum-senyum sendiri. Entah kenapa Alvin begitu
merasa senang saat melihat wajah cemberut Sivia dan sikap manjanya.
Sivia
terus mengoceh sendiri, sementara Alvin, ia masih betah memandangi Sivia. Tak
lama Sivia tersadar bahwa sedari tadi Alvin menatapnya. Sivia menghentikan
ocehannya lalu secara perlahan menatap Alvin yang saat itu duduk disampingnya,
kali ini kedua bola mata mereka bertemu. Sivia kembali merasa ada yang berbeda
dari tatapan Alvin, apa mungkin? Fikirnya.
Alvin
benar-benar menikmati paras cantik Sivia yang sudah sejak lama ia kagumi. Wajah
mereka yang hanya berjarak beberapa centi saja membuat Alvin begitu puas
menatapi setiap lekuk kecantikan Sivia yang nyaris tanpa cela. Sivia heran
karna Alvin terus menatapnya seperti itu,
“Vin…”
panggil Sivia pelan. Kali ini Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia,
semakin lama semakin dekat. Sivia sudah merasakan deguban yang begitu kencang.
Apakah yang akan Alvin lakukan padanya? Melihat wajah Alvin yang semakin dekat,
Sivia memejamkan matanya kuat-kuat, tapi tiba-tiba saja…… ‘PLAAKKKK’ telapak
tangan Alvin mendarat pas dipipi sebelah kanan Sivia. Sivia meringis kesakitan
dan langsung membuka matanya.
“gila,
tuh nyamuk gede banget, mana darahnya banyak lagi…” ucap Alvin datar tanpa ekspresi
sambil melihat nyamuk yang kini sudah menjadi almarhum ditelapak tangannya.
Sivia bengong sambil sesekali meringis kesakitan,
“aaww…pipi
gue, kaya’nya mesti dioprasi plastic nih..” ucap Sivia lebay, Alvin langsung
menoyor kepalanya,
“dasar
lebay….! Gitu aja pake oprasi plastic…”
“yeee….lo
fikir gak sakit apa…? Seenak jidat lo nampar gue..”
“ya
mending gue nampar lo, dari pada tuh nyamuk ngisep darah lo lebih banyak lagi,
entar pipi lo yang tembem itu jadi kempes dong….” Disaat-saat seperti itu Alvin
masih sempat-sempatnya meledek Sivia. Sivia tak menggubris Alvin, ia terus
mengusap-usap pipinya yang kini mulai terasa panas dan terlihat sedikit
memerah. Alvin tertawa sekencang-kencang,
“AHAHAHAHA….
Sumpah, muke lo lucu banget Vi, ahahaha….”
“iihhhh….Alvin
rese’……” kesal Sivia seraya memukul-mukul pundak Alvin,
“aw…Vi
sakit tau…” Sivia tak peduli, ia tetap memukuli Alvin, semakin lama semakin
kencang. Alvin yang hendak berniat menyingkirkan tangan Sivia malah tanpa
sengaja menarik kedua tangan Sivia, mereka berdua tergeletak dilantai dengan
posisi Sivia berada tepat diatas Alvin. Getaran itu datang lagi.
‘ada
apa dengan tatapan Alvin? Kenapa gue ngerasa ada yang laen..?’ batin Sivia.
Saat ia akan beranjak dari atas tubuh Alvin, Alvin malah menahannya,
“lo
tau siapa cewek yang gue maksud tadi pagi?” Tanya Alvin pelan seraya menatap
Sivia lurus, Sivia menggeleng, Alvin memegangi kedua pipi Sivia dan mendekatkan
wajahnya dengan wajah Sivia, saat bibir mereka nyaris bertemu, Alvinpun
tersadar, ia terkesiap,
‘ya
Tuhan…! Apa yang udah gue mau lakuin…?’ ucap Alvin dalam hati, ia pun
melepaskan Sivia lalu bangkit, saat mereka sudah sama-sama terduduk, Alvin
berkata pada Sivia,
“maafin
gue,Vi, gue gak sengaja…!” sesal Alvin, Sivia menggeleng,
“gak
apa-apa kok Vin, gue ngerti…” ucap Sivia seraya tersenyum,
“ya
udah, belajar lagi yuk!” ajak Alvin. Baru saja Alvin akan kembali membuka
buku catatannya, Sivia menahan
tangannya,
“Vin,
tunggu!” Alvin menatap Sivia,
“apa?”
“tadi
bukannya lo mau ngasih tau gue siapa cewek yang lo suka…”
“haa…?
Emang tadi gue bilang gitu..?”
“plis
Vin, jangan beralasan lagi, gue mau tau siapa cewek itu…” Sivia sudah mulai
curiga bahwa cewek yang Alvin maksud adalah dirinya, tapi Sivia tak mau geer
dulu sebelum ia mendengarkan langsung dari mulut Alvin.
“ce..cewek
itu…” ucap Alvin terpotong, Sivia menunggu dengan sabar.
Alvin
berusaha meyakinkan hatinya. Ia sudah bertekad akan memberitaukan Sivia detik
ini juga, apapun yang akan Sivia katakan,Alvin pasrah, yang terpenting Sivia
tahu semuanya, dan ia akan tenang. Alvin menghela nafas panjang,
“cewek
itu…” Alvin meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya erat, Sivia kembali
heran,
“cewek
itu adalah…ce..cewek itu adalah….”
“VIAA….”
Panggil seseorang yang ternyata adalah Gabriel. Mendengarkan panggilan Gabriel,
Alvin langsung melepaskan tangan Sivia. Gabriel mendekati Sivia dan Alvin.
“malam
sayang…” sapa Gabriel seraya duduk disamping Sivia.Gabriel memegangi kepala
Sivia lalu mencium puncak kepalanya. Melihat pemandangan itu, untuk yang
kesekian kalinya Alvin kembali merasa cemburu.
“eehhh…ada
Alvin juga toh… kalian lagi belajar ya?” Tanya Gabriel pada Alvin dan Sivia,
“iya,
kita lagi belajar!” jawab Alvin.
“belajar
apa?”
“biology
Kak, besok kita ada ulangan!” kali ini Sivia yang menjawab,
“udah
selese belajarnya….?”
“udah
selese kok..” jawab Alvin seraya membereskan buku-bukunya. Sivia pamit untuk
pergi ke kamar mandi sebentar. Saat Sivia sudah pergi dan sebelum Alvin pulang,
Alvin mendekati Gabriel, ia membisiki sesuatu ditelinga Gabriel,
“Sampe
Sivia terluka sedikiiittt aja karna elo nyakitin dia, gue habisin lo!”ancam
Alvin dengan keras. Mata Gabriel terbelalak, Alvin sudah mengetahui semua
kelicikannya.
“maksud
lo?” Tanya Gabriel pura-pura tidak tahu, Alvin tersenyum simpul,
“gak
usah pura-pura begok lo…” itulah kata-kata terakhir Alvin sebelum ia keluar
dari rumah Sivia.
@_@
“Alvin,Alvin,Alvin….”
Panggil Sivia dari depan gerbang rumah Alvin. Tak lama setelah ia memanggil
Alvin, Alvinpun keluar dari garasinya menggunakan ninja merah kesayangannya.
Melihat Alvin, Sivia langsung tersenyum, ia membuka gerbang rumah Alvin lantas
mendekati Alvin yang saat itu masih menghangatkan motornya.
Sivia
merangkul Alvin lantas berkata,
“eh,
semalem kenapa lo maen pulang-pulang aja tanpa pamit sama gue…?”
“yaelah,Vi,
kaya’ gue baru pertama kalinya aja keluar masuk rumah lo, lagian semalem juga gue
kebelet…”
“emangnya
dirumah gue gak ada kamar mandi…?” Tanya Sivia retoris,
“ya
mana gue tau, kan yang punya rumah elo bukan gue…” jawab Alvin asal,
“Alvin,
itu cuma pertanyaan retoris, gak usah dijawab kali, sekarang terbuktikan siapa
yang suka molor pas pelajaran Bahasa Indonesia..”
“teruuss…masalah
buat lo…?” ucap Alvin menirukan gaya Soimah, Sivia tertawa kecil,
“emang
pantes lo ngikutin gayanya Soimah, ahahaha…”
“ya
masih mending gue ngikutin gayanya Soimah, cakepan juga Soimah daripada elo,
weeks…” Sivia mulai kesal, kenapa sahabatnya yang satu itu paling suka
meledeknya? Memangnya kalau tidak meledek Sivia sehari saja Alvin akan langsung
dirumahsakitkan? Tidak mungkin! Memang dasar Alvin saja yang jahil. Sivia
cemberut, ia memajukan bibirnya beberapa centi, Alvin kembali meledek,
“panjangin
lagi tuh bibir, kurang panjang gue ngeliatnya, hahaha…”
“Alviiinnnnn….”
Teriak Sivia,Alvin kembali tertawa mendengarkan teriakan Sivia.
@_@
“Vin,entar
malem lo ikut gue ya ngehadirin acara birthday partynya Kak Iel…” ucap Sivia
ditengah-tengah perjalanan menuju SMK PANCASILA. Alvin terdiam sejenak dan
memikirkan jawaban yang tepat yang akan ia berikan pada Sivia. Setelah cukup
lama berfikir, Alvinpun akhirnya berucap,
“udah,
lo pergi aja ama Kak Iel, pacar lo kan Kak Iel, masa’ mau pergi bareng gue..??”
“ya
gak apa-apa dong! Lo kan sahabat gue, dan Iel Kak Iel pacar gue, posisi kalian
itu sama dihati gue…” Alvin terdiam, ia tak lagi mengucapkan kata apapun hingga
akhirnya tibalah mereka di SMK PANCASILA.
@_@
Setelah
memberikan tugas kelompok dipelajaran Matematika Pak Fath minta ijin keluar
kelas sebentar karna beliau sedang ada urusan. Saat Pak Fath sudah keluar,
anak-anak 11 Multimedia bukannya mengerjakan tugas yang sudah diberikan, tapi
mereka malah bermain-main. Ada yang bergosip, ada yang main kejar-kejaran, ada
yang mencoret-coret papan, dan masih banyak lagi ulah anak-anak Multimedia yang
seperti anak SD. Yang terlihat serius mengerjakan tugas hanyalah Alvin,Rio,dan
Pricilla, sementara Sivia,Ify,Shilla,dan Febby sibuk bergosip,entah apa yang
sedang mereka gosipkan. Sedangkan Cakka, ia pergi entah kemana, biasanya saat
jam pelajaran kosong Cakka langsung pergi kekantin untuk mengisi perutnya,
Cakka memang lebih berani daripada yang lainnya.
Berkali-kali
Alvin menyuruh Sivia mengerjakan tugasnya, tapi Sivia tak sedikitpun
menghiraukan Alvin, ia tetap asyik bergosip dengan teman-temannya. Alvin yang
sudah jenuhpun akhirnya memutuskan untuk tetap focus mengerjakan tugasnya tanpa
menghiraukan Sivia.
Pada
saat mengerjakan soal nomer 3 pada pokok bahasan Martiks, Alvin terlihat
kebingungan. Alvin bangkit dari bangkunya lalu melangkah kebangku Pricilla
untuk meminta bantuan Pricilla. Dikelas, Pricilla memang jagonya matematika,
peringkatnya selalu bersaing ketat dengan Alvin.
“Prissy,
gue kesusahan disoal nomer 3, lo bisa bantuin gue gak…?”
“coba
liat!” Alvinpun menyerahkan buku tugasnya pada Pricilla. Saat Pricilla tengah
mencoba memahami soal itu, Alvin duduk disampingnya. Hal itu kontan saja
membuat Sivia yang memang mendukung kedekatan antara Alvin dan Pricilla
berteriak heboh,
“CIEEEEEE….EHEM,EHEM…ADA
YANG CINLOK NIH…TITTUUUIITT…” seisi kelaspun ikut berteriak heboh gara-gara
Sivia. Alvin yang menyadari kini ia menjadi pusat perhatian seisi kelas
Multimediapun langsung menjauh dari Pricilla,
“ACIEEEE….ALVIN
PRICILLA COCOK NIH YEE…” teriak semua anak-anak Multimedia kompak, Sivia
berusaha keras menahan tawanya yang hampir meledak.
“HEH…kalian
semua apa-apaan sih, gue sama Pricilla gak ada apa-apa kok..” bela Alvin,
sementara Pricilla ia hanya diam saja seraya menunduk dalam.
“kalo
gak ada apa-apa ya diADAIN dong Vin…” ucap Sivia jahil, Alvin langsung
memplototi Sivia,
“Via,
ini semua gara-gara lo ya, awas lo entar!” ancam Alvin,
“TEMBAK
AJA,VIN…” Sivia kembali mencari masalah, kali ini seisi kelas mengikuti ucapan
Sivia,
“TEMBAK…TEMBAK…TEMBAK…TEMBAK….”
Begitulah seterusnya anak-anak Multiemdia menggoda Alvin. Wajah Alvin semakin
padam.
“Alvin,
kalo suka sama Prissy bilang aja lagi, gak usah malu-malu, hihihi…” goda Sivia
lagi. Alvin menghela nafas panjang lantas berkata tanpa sadar didepan semua
anak-anak 11 Multimedia,
“GUE
GAK SUKA SAMA PRISSY, YANG GUE SUKA ITU ELO SIVIA AZIZAH….” Ucap Alvin pada
Sivia dan membuat semuanya terkejut nyaris tak percaya.
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment