“Jadi lo udah berangkat, gimana sih?
Kenapa gak nungguin gue dulu, Alvinnnn…?” kesal Sivia saat Alvin menelponya.
Semalam Alvin sudah berjanji bahwa ia akan kesekolah bersama Sivia pagi ini,
namun latihan Futsal yang harus dia hadiri pada pukul 6 pagi akhirnya dengan
terpaksa membuat ia meninggalkan Sivia. Alvin berusaha keras minta maaf pada
Sivia, namun sayang, Sivia enggan memaafkannya.
“gue
bener-bener minta maaf,Vi, tadi Pak Wowo tiba-tiba nelpon gue dan minta gue
langsung dateng kesekolah, ada Sparing dadakan di SMK Rakam…”
“tapi
lo kan udah janji sama gue, harusnya lo tepatin dong..”
“sumpah,
gue gak ada niat buat ingkar janji sama lo…”
“halah
udahlah…” Siviapun mematikan telfonnya dengan suasana hati yang sangat kesal.
Alvin pasrah, sahabatnya yang satu itu memang paling suka ngambek. Alvin
menggeleng kepala berkali-kali lalu kembali kelapangan.
Alvin
nyatanya sudah sangat terbiasa dengan
sikap manja Sivia itu. Dan diantara sahabat-sahabat mereka hanya Alvinlah yang
paling mengerti Sivia. Mereka bersahabat semenjak mereka duduk dibangku SD.
Pernah suatu ketika, saat Alvin akan menyusul Omanya yang ada diAustralia,
Sivia tidak mengijinkan Alvin pergi, padahal Alvin pergi hanya satu bulan saja,
tapi Sivia begitu menolak keras kepergian Alvin hingga akhirnya Alvinlah yang
mengalah, ia membatalkan niatnya untuk pergi ke Australia demi Sivia, gadis
yang secara diam-diam sudah sejak lama ia cintai.
Saat
Sivia datang kesekolah nanti, Alvin sudah berencana akan minta maaf padanya.
Semoga berhasil, fikirnya.
@_@
Sivia
turun dari lantai atas rumahnya dengan langkah yang gontai. Semenjak Alvin
ingkar janji padanya, Sivia terlihat tak bersemangat. Ia duduk disamping Dayat
Kakaknya, Mama Sivia menatap Sivia dengan tatapan heran,
“kamu
kenapa,Vi…?” Tanya Mama Sivia. Sivia menekuk dagunya dan menjawab,
“lagi
bete’ sama Alvin…”
“bete’
kenapa…?”
“Alvin
seenaknya Ma ingkar janji sama Via, tadi malem dia udah janji mau berangkat
bareng Via, tapi dia malah ninggalin Via….” Adu Sivia pada Mamanya. Mendengar
Sivia mengadu, Dayat tertawa kecil dan berkata,
“hahaha..dasar
anak kecil…”
“Kak
Dayat diem deh, gue gak butuh pendapat lo…”
“yeee….
Siapa juga yang ngomentarin lo, pede bener…” Sivia tak menghiraukan ucapan
Kakaknya itu, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Mamanya,
“ya
udahlah, siapa tau Alvin lagi ada urusan lain…”
“tapi
kan Ma, dia udah janji sama Via…”
“lo
itu aneh ya Vi, pacar lo siapa, lo minta dijemput ama siapa… gue heran,
sebenernya pacarnya lo itu Alvin atau Gabriel sih…?”
“gue
udah bilang ke elo Kak, gue gak butuh pendapat lo…” Dayat meneguk susunya lalu
bangkit dari meja makan, ia menghampiri Mamanya dan mencium punggung tangan
Mamanya,
“Ma,
Dayat berangkat ke Kampus dulu ya…”
“iya,
hati-hati ya sayang…?”
“iya,
Ma, oya Ma, entar Dayat pulang kerumah Papa ya, gak apa-apa kan..?”
“ya
gak apa-apa dong sayang, masa’ kamu mau pulang kerumah Papa, Mama gak ijinin
sih..?”
“makasih
ya Ma…” Bu Uchie hanya mengangguk. Saat Dayat sudah berjalan keluar, Sivia
buru-buru menyalami Mamanya lalu mengejar Dayat. Sambil mengejar Dayat,Sivia
berteriak,
“KAKAK
TUNGGU GUEEEEEE…..!!!!” Melihat kelukan kedua anak kesayangannya itu Bu Uchie
hanya bisa menggeleng-geleng kepala.
Semenjak
Sivia berusia 4 tahun dan Dayat berusia 6 tahun, kedua orang tua mereka sudah
memutuskan untuk bercerai, tapi meski begitu kedua orang tua Sivia tetap akur
dan tidak bermusuhan seperti mantan suami-isteri lain yang lebih banyak
berseteru ketika mereka memutuskan untuk bercerai. Kadang-kadang Sivia dan
Dayat pulang kerumah Papa mereka, kadang-kadang juga mereka pulang kerumah Mama
mereka. Semenjak duduk dibangku kuliah Dayat lebih sering tinggal bersama
Papanya dari pada bersama Mamanya.
@_@
Alvin
melihat Sivia yang waktu itu tengah duduk sendiri dikantin sambil mengaduk-aduk
Mie Ayam pesanannya dengan raut wajah yang terlihat tak bersemangat. Alvin
tersenyum sambil sesekali menatap cokelat yang ia bawa untuk Sivia sebagai
tanda permintaan maafnya karna telah ingkar janji. Baru saja Alvin melangkah,
ia langsung menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang pemuda berpakaian
bebas menghampiri Sivia. Pemuda yang ternyata adalah anak kuliahan itu adalah
Gabriel, pacar Sivia yang sudah ia pacari semenjak setahun yang lalu. Alvin
menyembunyikan cokelatnya dibelakang punggungnya, ia terlihat sedikit kecewa.
“Sayang,
kamu kok sendiri sih disini? Alvin,Shilla,Cakka,Ify sama Rio kemana?” Tanya
Gabriel, Sivia menatap Gabriel lantas berkata,
“aku
Cuma mau sendiri aja Kak, oya, Kak Iel kok kesini, ada apa? Emangnya Kak Iel
gak kuliah hari ini…?”
“kebetulan
aku lagi libur, oya, aku kesini mau nganterin buku PR Kimia kamu yang
ketinggalan…” ucap Gabriel seraya menyerahkan buku PR Kimia milik Sivia. Sivia
menerima buku itu dari Gabriel dengan raut wajah yang penuh rasa syukur.
“ya
ampun, syukurlah Kak Iel bawain ini buku
buat aku, kalo enggak, aku bisa dihukum Pak Dedy, makasih ya Kak…”
“sama-sama….”
Sivia tersenyum seraya menatap Gabriel, begitupun dengan Gabriel. Ketika saling
menatap, Gabriel pun mengusap-usap puncak kepala Sivia. Pemandangan yang
terlihat cukup romantis itu sukses membuat hati Alvin terasa sedikit ngilu.
Dengan
perasaan kecewa yang semakin memuncak, Alvinlpun meninggalkan kantin.
Sebenarnya Alvin merasa aneh dengan apa yang ia rasakan pada Sivia, dan ia sama
sekali tak mengerti bagaimana perasaannya bisa terjadi pada Sivia. Semuanya
terjadi begitu cepat tanpa bisa Alvin kendalikan. Semenjak mereka duduk
dibangku kelas 7 SMP, Alvin diam-diam menaruh hati pada Sivia. Diawal Alvin
sempat ragu dengan apa yang ia rasakan, apalagi waktu itu ia sedang berstatus
sebagai pacarnya Shilla, tapi setelah setahun berlalu dan setelah ia putus dari
Shilla akhirnya Alvin benar-benar meyakini bahwa ia memiliki sebuah rasa sayang
yang lebih dari rasa sayang seorang sahabat terhadap sahabatnya pada Sivia,
Alvin mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Sivia.
Namun
meski begitu Alvin tak berani mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada
Sivia. Ia takut persahabatannya dengan Sivia hancur hanya karna perasaan lebih
yang ia rasakan pada Sivia. Sebisa
mungkin Alvin berusaha menjaga persahabatannya dengan Sivia.
Diantara
sahabat-sahabat mereka, hanya Rio lah yang mengetahui perasaan Alvin yang
sesungguhnya pada Sivia. Rio pernah membujuk Alvin mati-matian supaya Alvin mau
mengungkapkan perasaannya pada Sivia, tapi setelah Rio berhasil membujuk Alvin,
Sivia sudah terlanjur menjadi miliknya Gabriel. Kala itu Alvin hanya bisa
menelan kekecewaan dan terus berusaha untuk menjaga persahabatannya dengan
Sivia yang telah terjalin semenjak mereka masih kanak-kanak.
Selepas
kepergian Gabriel, Sivia langsung menghela nafas panjang. Entah kenapa
kehadiran Gabriel tak bisa menghilangkan segala kegundahannya. Saat ini yang
ada dalam fikiran Sivia hanyalah Alvin. Semenjak jam pelajaran pertama tadi
hingga jam ke empat, Sivia tak melihat kehadiran Alvin disekolah. Cakka berkata
bahwa hari ini Alvin sedang melakukan Sparing dengan SMK Rakam dan saat jam
istirahat Alvin sudah kembali. Dan sekarang sudah 10 menit berlalu pada jam
istirahat, tapi Alvin tak juga menampakkan batang hidungnya didepan Sivia,
‘kemana
Alvin…? Sepi banget gak ada dia, hmmm….kenapa juga tadi pagi gue pake acara
ngambek segala…’ sesal Sivia dalam hati lalu beranjak dari meja kantin menuju
kelas.
Tepat
saat bel berbunyi Sivia sudah ada didalam kelas, ia duduk disamping Pricilla
teman sebangkunya,
“lo
kenapa Vi, kok muka lo kusut gitu…?” Tanya Pricilla heran,
“gak
apa-apa… oya, Alvin belum balik…?” Tanya Sivia kembali,
“Alvin
udah balik kali dari tadi, tapi gak tau sekarang dia dimana…” saat itu secara
tiba-tiba datanglah Ify, ia merangkul Sivia dan Pricilla lantas berkata pada
Sivia,
“Wooyyy,
Via, lo kemana aja sih, tadi gue,Cakka,ama Rio mati-matian nyariin lo, kita
fikir lo diculik…” ucap Ify asal. Sivia berdecak dan melepaskan rangkulan Ify,
“sembarangan
aja lo kalo ngomong….”
Saat
itulah Alvin memasuki kelas. Saat melewati bangku Sivia, Alvin sempat
menghentikan langkahnya lalu menatap Sivia sejenak, tak lama tanpa berkata
apa-apa pada Sivia, Alvin kembali melanjutkan perjalanannya menuju bangkunya.
Ify menggeleng-geleng, ia paham, Sivia dan Alvin pasti sedang bertengkar lagi.
Dasar! Sungut Ify kesal.
“lo
ama Alvin berantem lagi…?” Tanya Ify,
“tauk…”
jawab Sivia cuek,
“kalian
berdua kaya’ orang pacaran aja ya, awas, kalian kalo keseringan berantem entar
saling suka loh…”
“idih
lo apaan Sih Fy, gak usah sembarangan deh… gue gak mungkin suka sama Alvin
kecuali sebagai sahabat…” bela Sivia pada dirinya sendiri sambil sesekali
mencuri pandang pada Alvin yang saat itu juga tengah menatapnya dengan tatapan
yang tak bisa dibaca oleh Sivia,
‘Cuma
SAHABAT kan Vi, selamanya gak akan pernah lebih dari itu….’ Batin Alvin.
@_@
Seorang
Guru bertubuh pendek, berkulit putih,berkumis tipis dengan tampang yang sangat
amat sangar menurut Sivia dan teman-teman sekelasnya memasuki kelas IX
MULTIMEDIA, ya… beliaulah Pak Dedy, Guru Kimia yang paling dibenci oleh semua
penghuni kelas IX Multimedia atau bahkan mungkin yang paling dibenci oleh semua
penghuni jurusan TI.
Saat
Pak Dedy memasuki kelas, semuanya terlihat tegang kecuali Alvin, ia tetap
terlihat santai.
“keluarkan
PR dan LKS kalian…” ucap Pak Dedy lantang didepan kelas, semuanya langsung
menelan ludah dan segera membuka tas mereka masing-masing untuk mengambil buku
PR beserta LKS Kimia.
‘huuhh…untung
Kak Iel bawain gue nih buku..’ batin Sivia mengucap syukur, tapi tiba-tiba saja
Sivia terlihat menepuk keningnya sendiri. Masalah! Pasti masalah. Jelas ini
masalah buat Sivia karna ia telah melupakan LKS Kimianya yang ia letakkan dimeja
belajarnya tadi malam. Sivia pasrah dengan hukuman apa saja yang nantinya akan
Pak Dedy berikan padanya.
Maka
Siviapun hanya mengeluarkan buku PR nya. Jantungnya sudah berdegub sangat
kencang, bahkan lebih kencang ketika ia bersama Gabriel.
“bagi
yang tidak membawa LKS atau PR, saya persilahkan keluar dari kelas saya…” ucap
Pak Dedy sekali lagi didepan kelas. Sivia semakin terlihat risau dan
benar-benar pasrah. Saat Sivia sudah siap melangkahkan kakinya untuk keluar
dari kelas, tiba-tiba saja Alvin meletakkan sebuah LKS Kimia diatas meja Sivia.
Sivia sempat terkejut dan menatap Alvin, ia heran, kenapa Alvin memberikannya
LKS itu sementara Alvin juga membutuhkannya.
“pake
aja LKS gue, biar gue yang keluar!” ucap Alvin lantas bangkit dari tempat duduknya.
Sivia merasa bersalah pada Alvin karna tadi pagi telah memarahinya. Sivia
menunduk dalam dan diam terpaku dibangkunya hingga Alvin benar-benar keluar
dari kelas.
Sivia
membuka LKS milik Alvin, pada lembaran pertama LKS itu Sivia menemukan sebuah
kertas bertuliskan ‘MAAF’ dan tanda tangan Alvin dibawahnya, Sivia semakin
merasa bersalah pada Alvin, padahal sudah jelas-jelas ia yang salah, tapi
kenapa harus Alvin yang minta maaf? Sivia menggelengkan kepalanya berkali-kali
lalu memasukan LKS itu kedalam kolong mejanya. Sivia mengangkat tangannya
lantas berkata,
“Pak,
saya juga gak bawa LKS…” alibi Sivia pada Pak Dedy, tanpa basa basi Pak Dedy
langsung berkata,
“ya
sudah keluar! Kenapa kamu mesti tunggu perintah dari saya…?” Sivia tak berkata
apa-apa lagi, ia langsung keluar dari kelas untuk menyusul Alvin.
Saat Sivia keluar dari kelas,
Ify,Cakka, Shilla, dan Rio langsung saling menatap satu sama lain sambil
mengangkat kedua bahu mereka masing-masing.
@_@
“Maaf…”
ucap Sivia sembari mengulurkan tangannya untuk Alvin yang waktu itu tengah
duduk dianak tangga sambil membaca sebuah komik. Saat mendengarkan suara Sivia,
Alvinpun menghentikan bacaannya, ia diam sejenak dan langsung mengalihkan
perhatiannya pada Sivia yang waktu itu tengah duduk disampingnya,
“bukan
elo yang minta maaf, tapi gue…” ucap Sivia dengan rasa penyesalan yang teramat
sangat,
“lo
kenapa keluar?” Tanya Alvin lalu kembali membaca komiknya,
“lo
fikir gue tega didalem kelas belajar pake LKS lo, sementara lo gak dibolehin
masuk sama Mister Killer itu…” ucap Sivia kesal, tapi Alvin tak sedikitpun
menghiraukannya. Sivia yang semakin merasa kesal karna sikap acuh Alvinpun
akhirnya merebut komik milik Alvin, Alvin menghela nafas panjang lantas
berkata,
“Via,
balikin komik gue!” Sivia menggeleng berkali-kali,
“Via,
gue serius!”
“gue
juga serius, gue gak akan balikin komik lo sebelum lo maafin gue…” Alvin
tersenyum,
“yang
salah itu gue, kenapa jadi elo yang minta maaf…?”
“dimaafin
enggak…?” Tanya Sivia sekali lagi, Alvin mengangguk,
“ok,
dimaafin…”
“nah
gitu dong, Alvin sayaaanggg….” Ucap Sivia gemes seraya menarik hidung Alvin.
Alvin tertawa kecil sambil sesekali meringis kesakitan karna Sivia terus
menerus menarik hidungnya.
@_@
Sivia
muncul secara tiba-tiba disamping Alvin yang waktu itu sedang berjalan
dikoridor, Sivia merangkul Alvin dan berkata,
“gue
mau pulang bareng lo!”
“emangnya
lo gak pulang bareng Kak Iel…?” Sivia menggeleng,
“Kak
Iel lagi ada urusan, jadi gak bisa jemput gue…” mendengarkan penjelasan Sivia,
Alvin mengangguk berkali-kali. Mereka berdua berjalan sampai didepan tempat
parkiran.
“Vin,
gue tunggu digerbang ya…?” Alvin hanya mengangguk. Siviapun berjalan menuju
gerbang, sementara Alvin, ia memasuki areal parkiran sekolah untuk mengambil
motornya.
Tak
lama menunggu Alvin didepan gerbang, Alvinpun datang menghampiri Sivia bersama
motornya. Alvin membunyikan klakson motornya, Sivia langsung menoleh kebalakang
dan melihat Alvin.
“lo
ngambil motor di Bogor ya…? Ngambil motor aja lama banget…” protes Sivia,
“banyak
bacot lo! Mending buruan naek deh, keburu gue tinggalin lo…” ancam Alvin. Baru
saja Sivia akan menaiki motor Alvin, tiba-tiba saja sebuah Honda Jazz Hitam
berhenti tepat disamping motor Alvin. Pemiliki Honda Jazz yang ternyata adalah
Gabriel itu membuka kaca mobilnya dan berkata,
“sayang,
aku dateng buat jemput kamu!” Sivia terlihat bingung, ia menggaruk kepalanya
yang tak gatal karna kebingungan sambil sesekali menatap Alvin dan Gabriel
secara bergntian. Siapakah yang akan Sivia pilih, Alvin ataukah Gabriel…??
BERSAMBUNG……


0 comments:
Post a Comment