Wednesday, August 14, 2013

0

Love, Love, And Love [Part 1]



“Jadi lo udah berangkat, gimana sih? Kenapa gak nungguin gue dulu, Alvinnnn…?” kesal Sivia saat Alvin menelponya. Semalam Alvin sudah berjanji bahwa ia akan kesekolah bersama Sivia pagi ini, namun latihan Futsal yang harus dia hadiri pada pukul 6 pagi akhirnya dengan terpaksa membuat ia meninggalkan Sivia. Alvin berusaha keras minta maaf pada Sivia, namun sayang, Sivia enggan memaafkannya.
            “gue bener-bener minta maaf,Vi, tadi Pak Wowo tiba-tiba nelpon gue dan minta gue langsung dateng kesekolah, ada Sparing dadakan di SMK Rakam…”
            “tapi lo kan udah janji sama gue, harusnya lo tepatin dong..”
            “sumpah, gue gak ada niat buat ingkar janji sama lo…”
            “halah udahlah…” Siviapun mematikan telfonnya dengan suasana hati yang sangat kesal. Alvin pasrah, sahabatnya yang satu itu memang paling suka ngambek. Alvin menggeleng kepala berkali-kali lalu kembali kelapangan.
            Alvin nyatanya sudah sangat  terbiasa dengan sikap manja Sivia itu. Dan diantara sahabat-sahabat mereka hanya Alvinlah yang paling mengerti Sivia. Mereka bersahabat semenjak mereka duduk dibangku SD. Pernah suatu ketika, saat Alvin akan menyusul Omanya yang ada diAustralia, Sivia tidak mengijinkan Alvin pergi, padahal Alvin pergi hanya satu bulan saja, tapi Sivia begitu menolak keras kepergian Alvin hingga akhirnya Alvinlah yang mengalah, ia membatalkan niatnya untuk pergi ke Australia demi Sivia, gadis yang secara diam-diam sudah sejak lama ia cintai.
            Saat Sivia datang kesekolah nanti, Alvin sudah berencana akan minta maaf padanya. Semoga berhasil, fikirnya.

@_@

            Sivia turun dari lantai atas rumahnya dengan langkah yang gontai. Semenjak Alvin ingkar janji padanya, Sivia terlihat tak bersemangat. Ia duduk disamping Dayat Kakaknya, Mama Sivia menatap Sivia dengan tatapan heran,
            “kamu kenapa,Vi…?” Tanya Mama Sivia. Sivia menekuk dagunya dan menjawab,
            “lagi bete’ sama Alvin…”
            “bete’ kenapa…?”
            “Alvin seenaknya Ma ingkar janji sama Via, tadi malem dia udah janji mau berangkat bareng Via, tapi dia malah ninggalin Via….” Adu Sivia pada Mamanya. Mendengar Sivia mengadu, Dayat tertawa kecil dan berkata,
            “hahaha..dasar anak kecil…”
            “Kak Dayat diem deh, gue gak butuh pendapat lo…”
            “yeee…. Siapa juga yang ngomentarin lo, pede bener…” Sivia tak menghiraukan ucapan Kakaknya itu, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Mamanya,
            “ya udahlah, siapa tau Alvin lagi ada urusan lain…”
            “tapi kan Ma, dia udah janji sama Via…”
            “lo itu aneh ya Vi, pacar lo siapa, lo minta dijemput ama siapa… gue heran, sebenernya pacarnya lo itu Alvin atau Gabriel sih…?”
            “gue udah bilang ke elo Kak, gue gak butuh pendapat lo…” Dayat meneguk susunya lalu bangkit dari meja makan, ia menghampiri Mamanya dan mencium punggung tangan Mamanya,
            “Ma, Dayat berangkat ke Kampus dulu ya…”
            “iya, hati-hati ya sayang…?”
            “iya, Ma, oya Ma, entar Dayat pulang kerumah Papa ya, gak apa-apa kan..?”
            “ya gak apa-apa dong sayang, masa’ kamu mau pulang kerumah Papa, Mama gak ijinin sih..?”
            “makasih ya Ma…” Bu Uchie hanya mengangguk. Saat Dayat sudah berjalan keluar, Sivia buru-buru menyalami Mamanya lalu mengejar Dayat. Sambil mengejar Dayat,Sivia berteriak,
            “KAKAK TUNGGU GUEEEEEE…..!!!!” Melihat kelukan kedua anak kesayangannya itu Bu Uchie hanya bisa menggeleng-geleng kepala.

            Semenjak Sivia berusia 4 tahun dan Dayat berusia 6 tahun, kedua orang tua mereka sudah memutuskan untuk bercerai, tapi meski begitu kedua orang tua Sivia tetap akur dan tidak bermusuhan seperti mantan suami-isteri lain yang lebih banyak berseteru ketika mereka memutuskan untuk bercerai. Kadang-kadang Sivia dan Dayat pulang kerumah Papa mereka, kadang-kadang juga mereka pulang kerumah Mama mereka. Semenjak duduk dibangku kuliah Dayat lebih sering tinggal bersama Papanya dari pada bersama Mamanya.


@_@

            Alvin melihat Sivia yang waktu itu tengah duduk sendiri dikantin sambil mengaduk-aduk Mie Ayam pesanannya dengan raut wajah yang terlihat tak bersemangat. Alvin tersenyum sambil sesekali menatap cokelat yang ia bawa untuk Sivia sebagai tanda permintaan maafnya karna telah ingkar janji. Baru saja Alvin melangkah, ia langsung menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang pemuda berpakaian bebas menghampiri Sivia. Pemuda yang ternyata adalah anak kuliahan itu adalah Gabriel, pacar Sivia yang sudah ia pacari semenjak setahun yang lalu. Alvin menyembunyikan cokelatnya dibelakang punggungnya, ia terlihat sedikit kecewa.
            “Sayang, kamu kok sendiri sih disini? Alvin,Shilla,Cakka,Ify sama Rio kemana?” Tanya Gabriel, Sivia menatap Gabriel lantas berkata,
            “aku Cuma mau sendiri aja Kak, oya, Kak Iel kok kesini, ada apa? Emangnya Kak Iel gak kuliah hari ini…?”
            “kebetulan aku lagi libur, oya, aku kesini mau nganterin buku PR Kimia kamu yang ketinggalan…” ucap Gabriel seraya menyerahkan buku PR Kimia milik Sivia. Sivia menerima buku itu dari Gabriel dengan raut wajah yang penuh rasa syukur.
            “ya ampun, syukurlah Kak Iel  bawain ini buku buat aku, kalo enggak, aku bisa dihukum Pak Dedy, makasih ya Kak…”
            “sama-sama….” Sivia tersenyum seraya menatap Gabriel, begitupun dengan Gabriel. Ketika saling menatap, Gabriel pun mengusap-usap puncak kepala Sivia. Pemandangan yang terlihat cukup romantis itu sukses membuat hati Alvin terasa sedikit ngilu.
            Dengan perasaan kecewa yang semakin memuncak, Alvinlpun meninggalkan kantin. Sebenarnya Alvin merasa aneh dengan apa yang ia rasakan pada Sivia, dan ia sama sekali tak mengerti bagaimana perasaannya bisa terjadi pada Sivia. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa bisa Alvin kendalikan. Semenjak mereka duduk dibangku kelas 7 SMP, Alvin diam-diam menaruh hati pada Sivia. Diawal Alvin sempat ragu dengan apa yang ia rasakan, apalagi waktu itu ia sedang berstatus sebagai pacarnya Shilla, tapi setelah setahun berlalu dan setelah ia putus dari Shilla akhirnya Alvin benar-benar meyakini bahwa ia memiliki sebuah rasa sayang yang lebih dari rasa sayang seorang sahabat terhadap sahabatnya pada Sivia, Alvin mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Sivia.
            Namun meski begitu Alvin tak berani mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Sivia. Ia takut persahabatannya dengan Sivia hancur hanya karna perasaan lebih yang ia rasakan pada Sivia. Sebisa  mungkin Alvin berusaha menjaga persahabatannya dengan Sivia.
            Diantara sahabat-sahabat mereka, hanya Rio lah yang mengetahui perasaan Alvin yang sesungguhnya pada Sivia. Rio pernah membujuk Alvin mati-matian supaya Alvin mau mengungkapkan perasaannya pada Sivia, tapi setelah Rio berhasil membujuk Alvin, Sivia sudah terlanjur menjadi miliknya Gabriel. Kala itu Alvin hanya bisa menelan kekecewaan dan terus berusaha untuk menjaga persahabatannya dengan Sivia yang telah terjalin semenjak mereka masih kanak-kanak.
            Selepas kepergian Gabriel, Sivia langsung menghela nafas panjang. Entah kenapa kehadiran Gabriel tak bisa menghilangkan segala kegundahannya. Saat ini yang ada dalam fikiran Sivia hanyalah Alvin. Semenjak jam pelajaran pertama tadi hingga jam ke empat, Sivia tak melihat kehadiran Alvin disekolah. Cakka berkata bahwa hari ini Alvin sedang melakukan Sparing dengan SMK Rakam dan saat jam istirahat Alvin sudah kembali. Dan sekarang sudah 10 menit berlalu pada jam istirahat, tapi Alvin tak juga menampakkan batang hidungnya didepan Sivia,
            ‘kemana Alvin…? Sepi banget gak ada dia, hmmm….kenapa juga tadi pagi gue pake acara ngambek segala…’ sesal Sivia dalam hati lalu beranjak dari meja kantin menuju kelas.

            Tepat saat bel berbunyi Sivia sudah ada didalam kelas, ia duduk disamping Pricilla teman sebangkunya,
            “lo kenapa Vi, kok muka lo kusut gitu…?” Tanya Pricilla heran,
            “gak apa-apa… oya, Alvin belum balik…?” Tanya Sivia kembali,
            “Alvin udah balik kali dari tadi, tapi gak tau sekarang dia dimana…” saat itu secara tiba-tiba datanglah Ify, ia merangkul Sivia dan Pricilla lantas berkata pada Sivia,
            “Wooyyy, Via, lo kemana aja sih, tadi gue,Cakka,ama Rio mati-matian nyariin lo, kita fikir lo diculik…” ucap Ify asal. Sivia berdecak dan melepaskan rangkulan Ify,
            “sembarangan aja lo kalo ngomong….”
            Saat itulah Alvin memasuki kelas. Saat melewati bangku Sivia, Alvin sempat menghentikan langkahnya lalu menatap Sivia sejenak, tak lama tanpa berkata apa-apa pada Sivia, Alvin kembali melanjutkan perjalanannya menuju bangkunya. Ify menggeleng-geleng, ia paham, Sivia dan Alvin pasti sedang bertengkar lagi. Dasar! Sungut Ify kesal.
            “lo ama Alvin berantem lagi…?” Tanya Ify,
            “tauk…” jawab Sivia cuek,
            “kalian berdua kaya’ orang pacaran aja ya, awas, kalian kalo keseringan berantem entar saling suka loh…”
            “idih lo apaan Sih Fy, gak usah sembarangan deh… gue gak mungkin suka sama Alvin kecuali sebagai sahabat…” bela Sivia pada dirinya sendiri sambil sesekali mencuri pandang pada Alvin yang saat itu juga tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dibaca oleh Sivia,
            ‘Cuma SAHABAT kan Vi, selamanya gak akan pernah lebih dari itu….’ Batin Alvin.


@_@

            Seorang Guru bertubuh pendek, berkulit putih,berkumis tipis dengan tampang yang sangat amat sangar menurut Sivia dan teman-teman sekelasnya memasuki kelas IX MULTIMEDIA, ya… beliaulah Pak Dedy, Guru Kimia yang paling dibenci oleh semua penghuni kelas IX Multimedia atau bahkan mungkin yang paling dibenci oleh semua penghuni jurusan TI.
            Saat Pak Dedy memasuki kelas, semuanya terlihat tegang kecuali Alvin, ia tetap terlihat santai.
            “keluarkan PR dan LKS kalian…” ucap Pak Dedy lantang didepan kelas, semuanya langsung menelan ludah dan segera membuka tas mereka masing-masing untuk mengambil buku PR beserta LKS Kimia.
            ‘huuhh…untung Kak Iel bawain gue nih buku..’ batin Sivia mengucap syukur, tapi tiba-tiba saja Sivia terlihat menepuk keningnya sendiri. Masalah! Pasti masalah. Jelas ini masalah buat Sivia karna ia telah melupakan LKS Kimianya yang ia letakkan dimeja belajarnya tadi malam. Sivia pasrah dengan hukuman apa saja yang nantinya akan Pak Dedy berikan padanya.
            Maka Siviapun hanya mengeluarkan buku PR nya. Jantungnya sudah berdegub sangat kencang, bahkan lebih kencang ketika ia bersama Gabriel.
            “bagi yang tidak membawa LKS atau PR, saya persilahkan keluar dari kelas saya…” ucap Pak Dedy sekali lagi didepan kelas. Sivia semakin terlihat risau dan benar-benar pasrah. Saat Sivia sudah siap melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas, tiba-tiba saja Alvin meletakkan sebuah LKS Kimia diatas meja Sivia. Sivia sempat terkejut dan menatap Alvin, ia heran, kenapa Alvin memberikannya LKS itu sementara Alvin juga membutuhkannya.
            “pake aja LKS gue, biar gue yang keluar!” ucap Alvin lantas bangkit dari tempat duduknya. Sivia merasa bersalah pada Alvin karna tadi pagi telah memarahinya. Sivia menunduk dalam dan diam terpaku dibangkunya hingga Alvin benar-benar keluar dari kelas.
            Sivia membuka LKS milik Alvin, pada lembaran pertama LKS itu Sivia menemukan sebuah kertas bertuliskan ‘MAAF’ dan tanda tangan Alvin dibawahnya, Sivia semakin merasa bersalah pada Alvin, padahal sudah jelas-jelas ia yang salah, tapi kenapa harus Alvin yang minta maaf? Sivia menggelengkan kepalanya berkali-kali lalu memasukan LKS itu kedalam kolong mejanya. Sivia mengangkat tangannya lantas berkata,
            “Pak, saya juga gak bawa LKS…” alibi Sivia pada Pak Dedy, tanpa basa basi Pak Dedy langsung berkata,
            “ya sudah keluar! Kenapa kamu mesti tunggu perintah dari saya…?” Sivia tak berkata apa-apa lagi, ia langsung keluar dari kelas untuk menyusul Alvin.
Saat Sivia keluar dari kelas, Ify,Cakka, Shilla, dan Rio langsung saling menatap satu sama lain sambil mengangkat kedua bahu mereka masing-masing.

@_@

            “Maaf…” ucap Sivia sembari mengulurkan tangannya untuk Alvin yang waktu itu tengah duduk dianak tangga sambil membaca sebuah komik. Saat mendengarkan suara Sivia, Alvinpun menghentikan bacaannya, ia diam sejenak dan langsung mengalihkan perhatiannya pada Sivia yang waktu itu tengah duduk disampingnya,
            “bukan elo yang minta maaf, tapi gue…” ucap Sivia dengan rasa penyesalan yang teramat sangat,
            “lo kenapa keluar?” Tanya Alvin lalu kembali membaca komiknya,
            “lo fikir gue tega didalem kelas belajar pake LKS lo, sementara lo gak dibolehin masuk sama Mister Killer itu…” ucap Sivia kesal, tapi Alvin tak sedikitpun menghiraukannya. Sivia yang semakin merasa kesal karna sikap acuh Alvinpun akhirnya merebut komik milik Alvin, Alvin menghela nafas panjang lantas berkata,
            “Via, balikin komik gue!” Sivia menggeleng berkali-kali,
            “Via, gue serius!”
            “gue juga serius, gue gak akan balikin komik lo sebelum lo maafin gue…” Alvin tersenyum,
            “yang salah itu gue, kenapa jadi elo yang minta maaf…?”
            “dimaafin enggak…?” Tanya Sivia sekali lagi, Alvin mengangguk,
            “ok, dimaafin…”
            “nah gitu dong, Alvin sayaaanggg….” Ucap Sivia gemes seraya menarik hidung Alvin. Alvin tertawa kecil sambil sesekali meringis kesakitan karna Sivia terus menerus menarik hidungnya.

@_@

            Sivia muncul secara tiba-tiba disamping Alvin yang waktu itu sedang berjalan dikoridor, Sivia merangkul Alvin dan berkata,
            “gue mau pulang bareng lo!”
            “emangnya lo gak pulang bareng Kak Iel…?” Sivia menggeleng,
            “Kak Iel lagi ada urusan, jadi gak bisa jemput gue…” mendengarkan penjelasan Sivia, Alvin mengangguk berkali-kali. Mereka berdua berjalan sampai didepan tempat parkiran.
            “Vin, gue tunggu digerbang ya…?” Alvin hanya mengangguk. Siviapun berjalan menuju gerbang, sementara Alvin, ia memasuki areal parkiran sekolah untuk mengambil motornya.

            Tak lama menunggu Alvin didepan gerbang, Alvinpun datang menghampiri Sivia bersama motornya. Alvin membunyikan klakson motornya, Sivia langsung menoleh kebalakang dan melihat Alvin.
            “lo ngambil motor di Bogor ya…? Ngambil motor aja lama banget…” protes Sivia,
            “banyak bacot lo! Mending buruan naek deh, keburu gue tinggalin lo…” ancam Alvin. Baru saja Sivia akan menaiki motor Alvin, tiba-tiba saja sebuah Honda Jazz Hitam berhenti tepat disamping motor Alvin. Pemiliki Honda Jazz yang ternyata adalah Gabriel itu membuka kaca mobilnya dan berkata,
            “sayang, aku dateng buat jemput kamu!” Sivia terlihat bingung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal karna kebingungan sambil sesekali menatap Alvin dan Gabriel secara bergntian. Siapakah yang akan Sivia pilih, Alvin ataukah Gabriel…??



                                    BERSAMBUNG……

0 comments:

Post a Comment