Pada akhirnya aku
menemukan titik lelah itu. Maafkan aku, tapi aku merasa semua rasa cintaku
padamu telah cukup sampai disini . Aku mencoba bertahan dengan sisa-sisa cinta
yang aku miliki, tapi luka yang kau torehkan terlalu parah didinding hatiku.
Bukan hanya sekali dua kali kau
mengguratkan luka hatiku, tapi berkali-kali. Tak tahu kah engkau bahwa rasanya
begitu pedih? Makin hari luka ini kian
parah, tapi kau seakan tak peduli dan terkesan mengacuhkan aku. Aku lelah, aku
ingin menyerah saja…
Dan sampai disinilah aku mampu
bertahan. Persetan dengan rasa cinta yang masih bersamayan didalam sanubariku
ini, aku hanya ingin terlepas darimu, hanya itu.
Kau tentu tahu bahwa aku bukanlah
seorang Malaikat yang tidak memiliki batas kesabaran dan kesanggupan. Atau kau
lupa bahwa aku hanyalah Wanita biasa yang tidak memiliki daya apapun?
Setegar apapun aku selama ini,
sekuat apapun aku ketika engkau berkali-kali menorehkan luka dihatiku, aku
tetaplah memiliki batas kesabaran dan kesanggupan yang sewaktu-waktu bisa
habis. Dan hari ini aku bukan hanya melihat batas itu, tetapi aku telah sampai pada
batas itu.
Aku menyerah, hari ini aku telah
kalah. Dan aku pun telah memilih untuk pergi dari kehidupanmu. Pergi sejauh
mungkin hingga engkau tak dapat menemukan ku lagi.
Terimakasih karna engkau telah
sempat menjadi milikku meski hanya sekejab. Terimakasih telah memberikan
sedikit warna dihidupku. Terimakasih karna telah memilihku menjadi pendamping
hidupmu meski hanya sekilas. Terimakasih karna engkau telah mengindahkan
hidupku meski akhirnya kau hancurkan aku. Terimakasih telah membuat hatiku
hancur tak berbentuk. Terimakasih untuk semua luka yang kau toreh, dan
terimaksih aku ucapkan untuk semua kesakitan ini.
Tanpa kau, aku mungkin tidak akan
pernah mengerti apa dan bagaimana patah hati itu. Sekali lagi aku ucapkan
terimakasih.
Dan maaf karena aku tak pernah dapat
jadi yang terbaik bagimu. Maaf jika selama aku sering menyakitimu dengan
menahanmu untuk tetap disisiku. Maaf karna aku telah memaksa hatimu untuk bisa
mencintai dan menerimaku. Maaf jika aku tak pernah dapat berikanmu arti. Dan
maaf karena aku tak pernah bisa menjadi ‘DIA’ dihidupmu… Maafkan aku…
Dan sampai disinilah kita. Cerita
itu telah berakhir, kisah itu telah terkikis dan hendak menjelma menjadi
sebongkah kenangan tak berarti.
Selamat tinggal kekasih… kau telah
temukan cinta sejatimu… dan aku berharap kelak aku bisa sepertimu. Aku berharap
bisa menemukan cinta sejatiku sebagaimana engkau… ya… aku selalu berharap
seperti itu.
Semoga kau selalu bahagia dengan
pilihanmu sekarang….
****
Sivia diam merenung didalam kamarnya
memikirkan keputusan yang hendak ia ambil. Mungkin nanti Sivia akan sangat
menyesal dengan keputusan ini, tapi biar bagaimana pun Sivia harus bisa tegas
pada dirinya sendiri untuk menyelamatkan hatinya. Tidak mungkin Sivia
terus-terusan hidup dalam ketidakpastian seperti ini.
Sivia memang sangat mencintai Alvin,
bahkan mungkin lebih dari apa yang ia tahu dan dapat ia rasakan, tapi bukan
berarti Alvin bisa terus menyakitinya seperti ini kan? Bukankah Sivia berhak
bahagia seperti yang lainnya? Dan jika kebahagiaannya itu tidak terletak disisi
Alvin, Sivia berhak mundur dan pergi dari kehidupan Alvin yang selalu
menyakitinya. Pergi sejauh mungkin… terbang setinggi mungkin.
Luka hati yang Sivia rasakan detik
ini adalah luka hati paling menyakitkan yang pernah Alvin hadiahkan untuknya.
Tapi untuk kali ini Sivia tidak sedikitpun menitikkan air matanya. Bukan, bukan
karna Sivia tidak ingin menangis atau berpura-pura kuat dengan kenyataan ini.
Hanya saja ia merasa bahwa air matanya mulai mengering.
Air matanya telah habis bahkan tanpa
pernah ia bayangkan. Ia hanya mampu menangis bisu tanpa air mata, tidak banyak
yang tahu bahwa rasanya begitu pedih. Rasanya Sivia ingin mati saja.
Tangan kanan Sivia bergerak perlahan
kearah lehernya. Ia menyentuh kalung pemberian Alvin yang terpasang disana,
kalung yang sekarang harusnya menjadi milik Pricilla jika saja dulu Gadis itu
tidak pergi begitu saja.
Sivia menggenggam kuat-kuat kalung
itu, lalu dalam satu sentakan kuat Sivia menarik kalung itu dari lehernya
hingga terlepas. Sivia tersenyum lalu tertawa miris,
“HAHAHAHA…. Harusnya kalung ini
nggak pernah jadi milik gue, dan harusnya…. Harusnya Alvin juga nggak pernah
jadi milik gue, HAHAHAHAHA… LO BODOH SIVIA! LO TOLOL!! Sejak awal lo tahu kalo
Cuma Pricill yang ada dihati Alvin, lalu kenapa lo masih harus nerima dia? Lo
bahkan nggak pernah tahu kalo selama ini lo Cuma jadi pelampiasannya Alvin saja,
NGGAK LEBIH DARI SEKEDAR PELAMPIASAN DAN PELARIAN! LO GOBLOK, SIVIA!! LO
GOBLOK!! HAHAHAHAHAHA…..”
Tanpa Sivia tahu, sejak tadi Shilla
berdiri didepan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Shilla dapat melihat dan
mendengar dengan sangat jelas apa yang Sivia katakan. Bahkan Shilla dapat
merasakan semua kesakitan itu. Shilla menggenggam kuat jemari tangannya lalu
berbalik. Ia membatalkan niatnya yang semula ingin menemui Sivia. Bagi Shilla
ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan sekarang.
“Hallo Alvin, lo sekarang dimana?”
“…..”
“gue mau ketemu sama lo. Sekarang!”
“……”
“nggak bisa nanti. Gue maunya
sekarang!”
“…….”
“nggak usah banyak nanya. Gue tunggu
lo dicafe biasa”
Shilla mematikan sambungan telfonnya
sebelum mendengarkan perkataan Alvin lebih jauh lagi. Apapun itu, Shilla enggan
mendengarkan alasan dari Pria itu. Shilla hanya ingin membuat perhitungan
dengannya. Hanya itu.
****
Sekitar 30 menit kemudian tibalah
Shilla di Café tempat ia membuat janji dengan Alvin tadi. Setelah memasuki
café, Shilla mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk mencari sosok Alvin.
Dan… mata Shilla pun tertuju kearah meja 3. Disana ternyata sudah ada Alvin
yang menunggunya sambil memainkan ponselnya. Shilla menghela nafas panjang
beberapa kali, berusaha meredam emosinya, tapi tidak bisa.
Dengan langkah terburu Shilla
menghampiri Alvin. Ia berdiri tepat dihadapan Alvin seraya melipat kedua
tangannya didepan dada,
“lo kenapa? Muka lo kok nggak nyante
begitu?” Tanya Alvin yang merasa tidak paham dengan reaksi Shilla. Tidak
biasanya Shilla menatapnya dengan tatapan benci seperti ini.
Lalu tanpa menjawab pertanyaan dari
Alvin itu, Shilla langsung saja mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras
diwajah Alvin. Alvin tersentak kaget lalu memegangi pipinya yang mulai terasa
panas. Seluruh perhatian seisi café itu langsung tertuju kearah Alvin dan
Shilla. Mereka semua menatap Alvin dan Shilla dengan tatapan penuh tanda tanya
bercampur heran. Mungkin sebagian dari mereka berfikir bahwa Alvin adalah
kekasih dari Shilla yang ketahuan selingkuh hingga membuat Shilla marah seperti
itu. Tidak sedikit juga dari pengunjung café itu yang mulai kasak kusuk, saling
membisiki satu sama lain.
“lo apa-apaan sih, Shill?” Tanya
Alvin tak paham. Nada bicaranya terdengar sedikit emosi.
“LO BRENGSEK TAU NGGAK, VIN!!”
Bentak Shilla dengan keras. Bahkan Shilla sama sekali tidak peduli ketika
seluruh pengunjung café memperhatikannya.
Alvin yang mulai merasa tidak nyaman
dengan tatapan-tatapan sinis itu berusaha menenangkan Shilla.
“Shill lo tenang dulu ya? Please gue
mohon. Ini tempat umum, nggak enak kan sama orang-orang yang ada disini. Gue
nggak mau mereka mikir macem-macem Shill. Sekarang mending lo duduk dulu, kit—“
“halah bulshit lo, Alvin! Kenapa lo
nggak mau orang-orang mikir macem-macem tentang lo? Lo takut ketahuan kalo lo
emang bener-bener brengsek dan nggak punya hati??” Shilla semakin kalap.
“maksud lo apa, Ashilla? Gue nggak
ngerti”
“hahaha… jelas aja lo nggak ngerti,
orang lo nggak pernah mau ngerti kok. Udah cukup ya gue bersabar selama ini.
Gue diem aja bukan berarti gue suka ngeliat sikap lo yang plin plan itu. Dasar
pengecut!! Nggak punya hati!”
“bisa lo jelasin semuanya ke gue?”
“gue emang harus jelasin semuanya
keelo! Tadi gue pergi kerumah Sivia, kata Nyokap nya Sivia habis pergi sama Kak
Cakka ke Mall, dan sepulangnya dari Mall, Sivia langsung ngurung diri dikamar
dan nggak mau keluar. Dan lo sendiri tau kan kalo selama ini gue nggak pernah
deket sama Kak Cakka? Jangankan deket, ngomong aja nggak pernah sama sekali.
Tapi meski begitu gue tetep nekad ngehubungin Kak Cakka dan minta
penjelasannya. Awalnya Kak Cakka nggak mau ngomong, tapi setelah gue desak
akhirnya dia ngomong juga. Dan lo tau Kak Cakka bilang apa?”
Alvin menggeleng perlahan meskipun sebenarnya
hatinya sudah merasa tidak tenang. Shilla tersenyum sinis lalu sekali lagi
melayangkan sebuah tamparan diwajah Alvin. Kali ini Alvin tidak melawan. Ia
pasrah diperlakukan seperti itu.
“Sivia ngeliat lo dengan mata
kepalanya sendiri lagi jalan berdua sama Pricill. Nggak Cuma ngeliat kalian
jalan bareng, tapi Sivia juga ngeliat lo cium Pricill. Bisa lo bayangin gimana
hancurnya Sivia saat itu??”
Seakan tersambar petir disiang
bolong, pengakuan Shilla baru saja langsung membuat dada Alvin bergemuruh.
Alvin tersentak, kedua kelopak matanya melebar. Benarkah apa yang Shilla
katakan? Benarkah Sivia melihatnya jalan bersama Pricilla? Jika iya, berarti
Alvin sudah benar-benar melukai Gadis itu. Entah untuk yang keberapa kalinya.
Alvin marah, marah pada dirinya sendiri yang tidak pernah bisa berubah. Alvin
kecewa, sangat kecewa pada dirinya sendiri yang selama ini hanya bisa melukai
Sivia dengan keegoisannya.
“2 minggu belakangan ini Sivia heran
sama sikap lo yang terkesan menghindari dia. Dan hari ini gue tau apa alasan lo
ngelakuin hal itu sama Sivia”
Alvin hanya mampu terdiam. Bahkan
tidak sedikitpun ia bisa mencerna setiap perkataan yang Shilla lontarkan.
“LO SELINGKUH SAMA PRICILL, ALVIN
JONATHAN! LO SELINGKUH SAMA MANTAN LO SENDIRI”
“Dia bukan mantan gue, dia masih
pacar gue” ucap Alvin pada akhirnya yang kelamaan mulai merasa tidak nyaman
dengan tuduhan Shilla itu.
Shilla tersentak kaget. Tapi ia
berusaha keras menyembunyikan keterjutannya itu dihadapan Alvin. Shilla tertawa
sinis lalu menatap kedua mata Alvin setajam mungkin.
“HAHAHAHAHAHA…. Dia masih pacar lo?
Lo bilang dia masih pacar lo setelah apa yang dia lakuin sama lo 2 tahun yang
lalu? HAHAHAHAHA… Lo konyol Alvin!!”
“tapi gue belum putus sama Pricill,
Shill. Kalo harus ada yang diselingkuhin dalam masalah ini maka itu bukan
Sivia, melainkan Pricill. Pricill bahkan belum tau kalo gue udah pacaran sama
Sivia”
“enteng sekali lo ngomong kayak
gitu! Ato lo emang nggak punya otak?
Sadar Alvin, buka mata sama hati lo, lo fikir siapa yang nemenin lo selama 2
tahun ini setelah Pricill pergi gitu aja dari hidup lo? Lo fikir siapa yang
berusaha mati-matian selama ini buat nyembuhin luka hati lo yang disebabin oleh
Pricill? Lo fikir siapa yang ngerelain banyak waktunya terbuang Cuma untuk
nemenin lo yang lagi patah hati? Itu semua Sivia yang lakuin.”
“Selama ini lo nggak tau atau pura-pura nggak tau kalo Sivia
udah berkorban banyak hal buat lo? 7 tahun Sivia setia sama lo, tapi apa
balesan lo sama dia? Lo selalu aja nyakitin dia dan nyiksa batinnya dia. Lo
fikir enak ada diposisi dia?? NGGAK ENAK ALVIN! RASANYA SAKIT. Bahkan rasa
sakitnya nggak pernah bisa lo bayangin, tapi Sivia bisa nahan semua itu, DEMI
ELO!!”
“Dan sekarang lo bilang elo yang
nyelingkuhin Pricill. Dimana hati lo, Alvin? Dimana? Tapi gue akuin, ini semua
bukan mutlak kesalahan lo. Ini semua terjadi karna kebodohan gue sendiri”
Shilla menghela nafasnya sejenak
lalu melanjutkan perkataannya.
“gue bodoh karna dulu gue sempet
maksa Sivia buat nerima cinta lo. Harusnya gue nggak pernah maksa Sivia. Dan
harusnya sejak awal gue sadar kalo lo itu nggak lebih dari seorang laki-laki
Plin-plan nan pengecut yang tidak punya hati”
“Shill gue, gu—“
“sekarang gue minta sama lo, Alvin!
Lepasin Sivia, tinggalin dia. Sivia sama sekali nggak pantes disakitin sama
cowok kayak lo!!”
Shilla berbalik lalu pergi begitu
saja setelah puas melampiaskan seluruh emosinya pada Alvin. Bahkan Shilla sama
sekali tidak peduli ketika Alvin memanggil namanya beberapa kali.
Biarkan, biarkan Alvin tahu bahwa
Shilla sangat kecewa padanya.
****
Ragu-ragu Cakka memasuki kamar
Sivia. Dari kejauhan ia bisa melihat Sivia yang saat itu tengah duduk
diranjangnya sambil menatap kalung pemberian Alvin. Cakka terdiam sejenak
didepan pintu kamar Sivia, memikirkan lagi niatnya yang ingin menemui Sivia dan
mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk menghibur hatinya.
Sepulangnya Cakka dari rumah Sivia
tadi sore setelah ia mengantar Sivia, Cakka sama sekali tidak bisa tenang
dirumahnya. Ia terus saja memikirkan Sivia. Cakka benar-benar takut Sivia akan
melakukan hal-hal aneh yang dapat merugikan dirinya sendiri. Untuk itulah malam
ini Cakka kembali lagi kerumah Sivia. Ia berencana membawa Sivia untuk pergi
kesuatu tempat yang sudah ia persiapkan. Cakka ingin menghibur hatinya yang
tengah dilanda pilu.
Setelah cukup lama berfikir dan
menimbang-nimbang keputusannya, akhirnya tibalah Cakka pada sebuah kepastian.
Selama ini Sivia sudah berbuat banyak untuk kebahagiaannya, dan sekarang
gilirannya lah yang melakukan sesuatu untuk Sivia. Cakka menghela nafas
panjangnya lalu memasuki kamar Sivia dengan langkah yang mantap.
“Via” panggil Cakka pelan. tidak
butuh waktu yang lama Sivia langsung melirik kearah Cakka sambil tersenyum.
Dalam hati Cakka bertanya-tanya, kenapa Gadis ini begitu kuat padahal Alvin
sudah menyakitinya? Hati Gadis ini terbuat dari apa sebenarnya?
“Kak Cakka?” balas Sivia dengan
senyuman yang tidak kunjung surut dari wajahnya.
“kamu… ka… kamu—“
“aku baik-baik aja Kak Cakka,
beneran deh” sela Sivia sebelum Cakka melanjutkan perkataannya.
“baguslah” Cakka tersenyum lega
meskipun hatinya sedikit gusar.
“ada apa Kak Cakka kerumah aku
malem-malem?” Tanya Sivia tiba-tiba yang langsung membuat Cakka terkesiap.
“eh”
“iya, ada apa Kak Cakka kerumah aku malem-malem?”
“ooo…. Aku mau ngajak kamu kesuatu
tempat, bisa?”
“nggak bisa besok aja, Kak?”
“nggak bisa, harus malem ini!”
Sivia berfikir untuk beberapa saat.
Tidak lama kemudian Sivia tersenyum tipis lalu kembali melirik kearah Cakka.
“Oke! Aku mau. Tapi dengan satu
syarat”
“apapun itu”
Sivia tersenyum senang lantas
menyebutkan syaratnya.
“selama kita jalan, Kak Cakka nggak
boleh ngebahas tentang kejadian tadi pagi, dan diantara kita nggak ada satupun
yang boleh nyebut nama…. Alvin” hati Sivia merasa begitu pedih ketika ia
menyebutkan nama itu.
Cakka akhirnya mengangguk dan
menyetujui syarat yang Sivia ajukan meski hatinya sedikit meragu. Tidak lama,
Cakka mengulurkan tangannya dihadapan Sivia dengan senyuman termanis yang
pernah Ia miliki. Sivia membalas senyuman Cakka dengan senyum yang tidak kalah
manisnya. Lalu dengan senang hati Sivia menyambut uluran tangan Cakka.
****
Cakka mengajak Sivia pergi kesebuah
bukit. Ketika baru pertama kali menginjakkan kakinya diatas bukit itu, Sivia
langsung terpana. Ribuan kunang-kunang menyambutnya. Jutaan Bintang yang
bertebar diatas langit sana semakin menambah kekaguman Sivia akan keindahan
bukit ini. Ia merasa berterimakasih pada Cakka karena telah membawanya ketempat
itu.
“Kak Cakka, ini indah banget, aku
suka” kata Sivia seraya mengedarkan pandangannya kesegala arah. Cakka tersenyum
puas lalu berjalan mendekati Sivia yang berdiri ditengah bukit,
“mau yang lebih indah lagi?” Tanya
Cakka tiba-tiba. Sivia hanya mengangguk tanda setuju.
Cakka menarik pergelangan tangan
Sivia dan membawanya berjalan ketepi bukit. Sivia menatap Cakka dengan
pandangan bertanya hingga pada akhirnya,
“coba lihat kesana deh” Cakka
menunjuk kearah bawah bukit. Sivia mengikuti arah telunjuk Cakka. Dan lagi-lagi
Sivia terkesima menyaksikan pemandangan kota yang berkelap-kelip oleh
lampu-lampu gedung juga cahaya-cahaya dari dari lampu-lampu mobil yang tengah
berlalu-lalang ditengah jalanan kota yang ramai. Dan kesemua itu benar-benar
terlihat sangat menakjubkan dari atas sini. Sinar rembulan yang bersinar terang
dan menggantung diatas langit semakin menambah keindahan malam itu. Seumur
hidupnya ini baru pertama kalinya Sivia melihat pemandangan seindah ini.
Rasanya Sivia ingin menghamburkan
air mata. Kenapa Cakka selalu saja tahu apa yang ia butuhkan disaat seperti
ini? Sivia menatap wajah Cakka sekilas, jauh didalam sana otaknya mulai
berfikir, andai saja Sivia bisa mencintai Cakka. Dan andai saja yang Sivia
cintai itu adalah Cakka dan bukan Alvin, hidupnya pasti akan sangat bahagia.
Tapi Sivia tidak bisa, Alvin sudah terlanjur menguasai hatinya dan segala
isinya. Dan mungkin siapapun tidak akan pernah bisa menggantinkan posisi Alvin
direlungnya.
“Kak Cakka….” Panggil Sivia
tiba-tiba. Cakka menoleh kearah Sivia lalu tersenyum,
“kenapa?”
“aku boleh peluk Kak Cakka? Semenit
aja….” Pinta Sivia dengan nada memohon. Cakka terdiam sejenak lantas mengangguk
tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.
Tidak ingin membuang-buang waktu
lagi, Sivia langsung saja menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Cakka yang
hangat. Sivia memeluk Cakka seerat mungkin. Ia menumpahkan segala tangisannya
disana.
Hati Cakka begitu pedih ketika
mendengarkan suara tangisan Sivia yang begitu memilukan. Gadis ini sama sekali
tidak pantas untuk disakiti oleh siapapun. Sivia gadis baik-baik, dan dia hanya
pantas dilimpahkan oleh kebahagiaan juga kasih sayang yang tidak pernah ada
habisnya. Alvin memang bodoh karena telah menyia-nyiakan Sivia. Dan dapat Cakka
pastikan, suatu saat nanti Alvin akan merasa sangat menyesal atas semua
perlakuannya pada Sivia selama ini. Dan saat itu tiba, Cakka tidak akan pernah
lagi melepaskan Sivia untuk Alvin. Tidak akan pernah.
‘jangan kan semenit
Sivia, kamu mau peluk aku selamanya juga aku bersedia, asal kamu jangan
menangis lagi…. Asal kamu bisa terus tersenyum….’
****
Ketika mobil milik Cakka sudah
menghilang dari pandangannya, Sivia memasuki pekarangan rumahnya. Jam ditangan
Sivia sudah menunjukan pukul 22.00. Sivia tersenyum kecil ditengah
perjalananya. Setidaknya Cakka bisa mengurangi beban hatinya meskipun tidak
seberapa. Sivia sangat berterimakasih pada Cakka, mungkin tanpa Cakka malam ini
Sivia akan tetap mengurung diri dikamar dan terus menyalahkan keadaan yang
seakan tidak pernah berpihak padanya. Cakka memang hebat.
Tapi kemudian langkah Sivia
tiba-tiba saja terhenti ketika kedua indera pelihatnya menangkap satu sosok
Pria yang begitu Ia kenal tengah berdiri diberanda depan rumahnya seraya
menatap Sivia dengan pandangan sayu, penuh penyesalan.
Jantung Sivia seakan tidak bisa
diajak kompromi. Kali ini jantung milik Sivia bekerja seribu kali lebih cepat
dari biasanya ketika ia melihat satu sosok yang selama ini menjadi penghuni
tetap relungnya. Satu sosok yang sering kali menyakitinya bahkan melukainya.
Sivia menghentikan langkahnya dan berusaha keras untuk melepaskan tatapannya
dari kedua mata indah itu. Tapi sial, kedua mata itu terlampau indah. Ia seakan
menjelma menjadi sebuah magnet berkekuatan penuh yang sukses menarik habis
perhatian Sivia tanpa bekas.
Sivia lalu menghela nafas beratnya. Ia
harus bisa bersikap biasa saja dihadapan Pria itu. Tidak, Pria itu tidak boleh
tahu bahwa saat ini Sivia sedang terluka. Sivia harus tetap kuat. Sivia tidak
boleh lemah.
Sivia terus melangkah ditengah
pergolakan batinnya. Jauh didalam sana, ia merasakan ada ribuan tangan-tangan
raksasa yang tengah meremas-remas jantungnya tanpa ampun. Rasanya sesak,
benar-benar sesak saat ia harus berusaha terlihat baik-baik saja didepan Pria
yang begitu Ia cintai, padahal hatinya tengah menangis karena merasa
dikhianati.
“Hay…” sapa Sivia dengan canggung
ketika jaraknya sudah lumayan dekat dengan posisi Alvin sekarang. Sivia sama
sekali belum sadar bahwa Alvin telah mengetahui semuanya.
“kenapa diluar?” Tanya Sivia.
Dan sungguh Alvin bisa merasakan
semuanya. Kepedihan hati Sivia, kesakitannya, rasa kecewanya, semuanya, Alvin
bisa merasakan semuanya. Alvin bisa menangkap sebentuk kelelahan yang terpancar
dari sorot mata Gadisnya ini. Dan Alvin merasa sangat terpukul ketika mendapati
semua kenyataan memilukan itu.
“Via, kita harus ngomong, aku—“
“udah malem, Vin. Sebaiknya kamu
pulang aja!”
Sivia melangkah melewati Alvin
begitu saja. Ia menyeka air mata yang tergenang disudut matanya. Kenapa rasanya
begitu pedih ketika Sivia harus mengacuhkan Alvin seperti ini?
“Sivia, MAAF….” Lirih Alvin pelan.
Sivia menghentikan langkahnya dan membiarkan air matanya lolos begitu saja.
“aku salah, aku pengkhianat, aku
pengecut, aku jahat… aku…. Aku minta maaf, Sivia….”
Tidak ada jawaban apapun dari Sivia,
juga tidak ada reaksi apapun yang ditunjukan oleh Sivia. Ia tetap bergeming
melawan semua kepedihan yang menggerogoti jantungnya.
“maaf, karna selama ini aku nggak
pernah bisa jujur sama kamu, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Sivia—“
Alvin berjalan perlahan mendekati
Sivia. Ia menghentikan langkahnya tepat dihadapan Sivia. Alvin memegang kedua
pundak Sivia dan menatap wajah Sivia dalam-dalam. Sivia hanya bisa menunduk. Ia
tidak memiliki sedikitpun kekuatan untuk sekedar mengangkat wajahnya, menantang
tatapan penuh penyesalan yang ditunjukan oleh Alvin.
“aku cinta sama kamu, nggak pernah
sedikitpun terlintas dibenak aku buat pergi ninggalin kamu, nggak pernah Sivia”
“aku tahu, Vin… aku tahu…” Sivia
akhirnya mengangkat wajahnya. Air mata sudah tergenang sempurna dipelupuk
matanya.
“aku tahu kamu cinta sama aku… tapi
rasa cinta kamu ke aku nggak sebesar rasa cinta kamu terhadap Pricill, Vin…
nggak sebesar itu. Aku tahu, kamu tahu, Pricill juga tahu akan hal itu, dan
nggak ada yang salah dengan itu, nggak ada Alvin, hiks…”
“nggak gitu…”
“please Alvin, kali ini biarin aku
yang bicara. Kamu cukup dengerin aku, Alvin”
Sivia meraih kedua tangan Alvin yang
ada dipundaknya lalu menggenggamnya erat. Tidak lama Sivia mengecup kedua
tangan itu,
“hari ini aku udah ngelepasin kamu,
Alvin. Aku nggak akan nahan kamu disisi aku lagi, dan mulai hari ini kamu boleh
kembali sama Pricill. Aku nggak berhak atas cinta kamu, karna selamanya yang
memiliki hak mutlak atas cinta kamu itu Cuma Pricill, Cuma dia, Alvin….”
“demi Tuhan aku ikhlas, Alvin…. Aku ikhlas.
Mungkin aku akan menangis setelah ini, tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan
tersenyum saat mengingat hari ini, aku tersenyum karna aku sudah melakukan
tindakan yang benar”
“7 tahun yang lalu kamu pernah
bilang, kalau kita itu lebih cocok jadi sahabat. Jujur saja, waktu itu aku
ngerasa sakit hati atas ucapan kamu itu, tapi hari ini aku membenarkannya. Kita
berdua memang lebih pantas jadi sahabat, dan nggak pernah lebih dari sekedar
sahabat. Takdir telah menuliskan bahwa Persahabatan adalah batas hubungan
diantara kita berdua, tapi kita malah melampaui batas itu, Alvin… kita telah
melampaui batas itu….”
“kembalilah sama Pricill, Alvin…
kembalilah, kamu nggak bisa terus-terus menghianati dia kayak gini. Toh waktu
itu juga Pricill Cuma terpaksa ninggalin kamu, dan dia nggak sepenuhnya
ninggalin kamu”
“tapi aku mencintai kamu, Sivia”
“tapi kamu juga mencintai Pricill,
kan?? Biar bagaimanapun cinta harus tetap memilih Alvin…”
Sivia melepaskan genggaman tangannya
dari tangan Alvin. Dengan perasaan hancur, Sivia berbalik lalu berjalan perlahan
kearah pintu rumahnya.
“Sivia dengerin aku dulu! Kamu nggak
bisa kayak gini”
Sivia menghentikan langkahnya untuk
beberapa saat. Tanpa melihat kearah Alvin, Sivia berkata,
“untuk saat ini aku mau sendiri
dulu, Alvin. Dan aku mohon, tolong biarin aku sendiri dulu… aku bener-bener mau
sendiri, Alvin…”
Sivia memasuki rumahnya lalu menutup
pintu dengan linangan air mata yang membanjiri wajah manisnya. Sivia
benar-benar tidak tahan lagi jika harus menahan tangisan itu. Biarkan, biarkan
Sivia menumpahkan segala kepedihannya dalam tangisan pilunya ini.
Sivia bahkan tidak peduli ketika
Alvin menggedor-gedor pintu rumahnya minta dibuka kan. Berkali-kali Alvin
memanggil namanya dengan nada memohon, tapi Sivia tetap bergeming. Bahkan berjuta-juta
kata maaf yang Alvin lontarkan sama sekali tidak membuat Sivia tersentuh. Batas
kesanggupannya sudah habis hari ini juga. Sivia telah benar-benar melepaskan
Alvin.
“Via, kamu kenapa?” Tanya Ayah yang
baru saja turun dari anak tangga bersama Ibu.
“kamu kok nangis, sayang? Kenapa?”
kali ini Ibu yang bertanya. Beliau benar-benar terlihat sangat cemas dengan
keadaan Puteri satu-satunya ini.
“diluar ada Alvin? Kamu lagi ada
masalah sama Alvin?” kata Ayah ketika beliau mendengarkan suara Alvin dari
dalam rumah. Sivia menggeleng beberapa kali, air matanya semakin deras menetes.
Dengan susah payah Sivia akhirnya
berucap,
“Ayah… Ibu…. Sivia mau pergi dari
sini… Sivia mau pergi jauh….”
“maksud kamu apa? Kamu mau pergi
kemana?” Tanya Ibu –lagi-
“pokoknya Sivia mau pergi. Sivia mau
pindah dari kota ini. Dan tolong bilang sama Alvin, supaya dia jangan nemuin
Via lagi. Via bener-bener nggak mau ketemu sama Alvin lagi, nggak mau, Ayah….
Ibu….”
Sivia berlari menaiki anak tangga
dan meninggalkan ribuan tanda Tanya dalam benak kedua orang tuanya. Kedua orang
tuanya saling bertatapan heran satu sama lain.
Sivia sudah sangat yakin dengan
keputusannya ini. Dan ia tidak akan berfikir 2 kali lagi. Ia akan benar-benar
pergi meninggalkan Alvin. Pergi sejauh mungkin ketempat dimana Alvin tidak bisa
lagi menemukannya.
****
Ini
hari terakhir aku menangisimu…
Ini
hari terakhir aku menangis karenamu…
Besok,
lusa, dan hari-hari yang akan datang
Aku
tidak mau terluka lagi karenamu
Mungkin
dengan kepergianku ini bisa membuatmu lebih bahagia…
Mungkin
dengan kepergianku ini bisa membuatmu merasa bebas lepas
Tanpa
belenggu…
Maaf,
aku harus pergi…
Maaf
karena aku harus melepaskan diri dari kehidupanmu…
Kembalilah
pada dia yang kau cinta…
Dan
untuk yang terakhir kalinya
Ijinkan
aku berkata…. Good bye, Love….
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment