Wednesday, August 21, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 15 [Goodbye, Love]






            Pada akhirnya aku menemukan titik lelah itu. Maafkan aku, tapi aku merasa semua rasa cintaku padamu telah cukup sampai disini . Aku mencoba bertahan dengan sisa-sisa cinta yang aku miliki, tapi luka yang kau torehkan terlalu parah didinding hatiku.
            Bukan hanya sekali dua kali kau mengguratkan luka hatiku, tapi berkali-kali. Tak tahu kah engkau bahwa rasanya begitu pedih? Makin hari  luka ini kian parah, tapi kau seakan tak peduli dan terkesan mengacuhkan aku. Aku lelah, aku ingin menyerah saja…
            Dan sampai disinilah aku mampu bertahan. Persetan dengan rasa cinta yang masih bersamayan didalam sanubariku ini, aku hanya ingin terlepas darimu, hanya itu.
            Kau tentu tahu bahwa aku bukanlah seorang Malaikat yang tidak memiliki batas kesabaran dan kesanggupan. Atau kau lupa bahwa aku hanyalah Wanita biasa yang tidak memiliki daya apapun?
            Setegar apapun aku selama ini, sekuat apapun aku ketika engkau berkali-kali menorehkan luka dihatiku, aku tetaplah memiliki batas kesabaran dan kesanggupan yang sewaktu-waktu bisa habis. Dan hari ini aku bukan hanya melihat batas itu, tetapi aku telah sampai pada batas itu.
            Aku menyerah, hari ini aku telah kalah. Dan aku pun telah memilih untuk pergi dari kehidupanmu. Pergi sejauh mungkin hingga engkau tak dapat menemukan ku lagi.
            Terimakasih karna engkau telah sempat menjadi milikku meski hanya sekejab. Terimakasih telah memberikan sedikit warna dihidupku. Terimakasih karna telah memilihku menjadi pendamping hidupmu meski hanya sekilas. Terimakasih karna engkau telah mengindahkan hidupku meski akhirnya kau hancurkan aku. Terimakasih telah membuat hatiku hancur tak berbentuk. Terimakasih untuk semua luka yang kau toreh, dan terimaksih aku ucapkan untuk semua kesakitan ini.
            Tanpa kau, aku mungkin tidak akan pernah mengerti apa dan bagaimana patah hati itu. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih.
            Dan maaf karena aku tak pernah dapat jadi yang terbaik bagimu. Maaf jika selama aku sering menyakitimu dengan menahanmu untuk tetap disisiku. Maaf karna aku telah memaksa hatimu untuk bisa mencintai dan menerimaku. Maaf jika aku tak pernah dapat berikanmu arti. Dan maaf karena aku tak pernah bisa menjadi ‘DIA’ dihidupmu… Maafkan aku…
            Dan sampai disinilah kita. Cerita itu telah berakhir, kisah itu telah terkikis dan hendak menjelma menjadi sebongkah kenangan tak berarti.
            Selamat tinggal kekasih… kau telah temukan cinta sejatimu… dan aku berharap kelak aku bisa sepertimu. Aku berharap bisa menemukan cinta sejatiku sebagaimana engkau… ya… aku selalu berharap seperti itu.
            Semoga kau selalu bahagia dengan pilihanmu sekarang….


****

            Sivia diam merenung didalam kamarnya memikirkan keputusan yang hendak ia ambil. Mungkin nanti Sivia akan sangat menyesal dengan keputusan ini, tapi biar bagaimana pun Sivia harus bisa tegas pada dirinya sendiri untuk menyelamatkan hatinya. Tidak mungkin Sivia terus-terusan hidup dalam ketidakpastian seperti ini.
            Sivia memang sangat mencintai Alvin, bahkan mungkin lebih dari apa yang ia tahu dan dapat ia rasakan, tapi bukan berarti Alvin bisa terus menyakitinya seperti ini kan? Bukankah Sivia berhak bahagia seperti yang lainnya? Dan jika kebahagiaannya itu tidak terletak disisi Alvin, Sivia berhak mundur dan pergi dari kehidupan Alvin yang selalu menyakitinya. Pergi sejauh mungkin… terbang setinggi mungkin.
            Luka hati yang Sivia rasakan detik ini adalah luka hati paling menyakitkan yang pernah Alvin hadiahkan untuknya. Tapi untuk kali ini Sivia tidak sedikitpun menitikkan air matanya. Bukan, bukan karna Sivia tidak ingin menangis atau berpura-pura kuat dengan kenyataan ini. Hanya saja ia merasa bahwa air matanya mulai mengering.
            Air matanya telah habis bahkan tanpa pernah ia bayangkan. Ia hanya mampu menangis bisu tanpa air mata, tidak banyak yang tahu bahwa rasanya begitu pedih. Rasanya Sivia ingin mati saja.
            Tangan kanan Sivia bergerak perlahan kearah lehernya. Ia menyentuh kalung pemberian Alvin yang terpasang disana, kalung yang sekarang harusnya menjadi milik Pricilla jika saja dulu Gadis itu tidak pergi begitu saja.
            Sivia menggenggam kuat-kuat kalung itu, lalu dalam satu sentakan kuat Sivia menarik kalung itu dari lehernya hingga terlepas. Sivia tersenyum lalu tertawa miris,
            “HAHAHAHA…. Harusnya kalung ini nggak pernah jadi milik gue, dan harusnya…. Harusnya Alvin juga nggak pernah jadi milik gue, HAHAHAHAHA… LO BODOH SIVIA! LO TOLOL!! Sejak awal lo tahu kalo Cuma Pricill yang ada dihati Alvin, lalu kenapa lo masih harus nerima dia? Lo bahkan nggak pernah tahu kalo selama ini lo Cuma jadi pelampiasannya Alvin saja, NGGAK LEBIH DARI SEKEDAR PELAMPIASAN DAN PELARIAN! LO GOBLOK, SIVIA!! LO GOBLOK!! HAHAHAHAHAHA…..”
            Tanpa Sivia tahu, sejak tadi Shilla berdiri didepan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Shilla dapat melihat dan mendengar dengan sangat jelas apa yang Sivia katakan. Bahkan Shilla dapat merasakan semua kesakitan itu. Shilla menggenggam kuat jemari tangannya lalu berbalik. Ia membatalkan niatnya yang semula ingin menemui Sivia. Bagi Shilla ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan sekarang.
            “Hallo Alvin, lo sekarang dimana?”
            “…..”
            “gue mau ketemu sama lo. Sekarang!”
            “……”
            “nggak bisa nanti. Gue maunya sekarang!”
            “…….”
            “nggak usah banyak nanya. Gue tunggu lo dicafe biasa”
            Shilla mematikan sambungan telfonnya sebelum mendengarkan perkataan Alvin lebih jauh lagi. Apapun itu, Shilla enggan mendengarkan alasan dari Pria itu. Shilla hanya ingin membuat perhitungan dengannya. Hanya itu.


****

            Sekitar 30 menit kemudian tibalah Shilla di Café tempat ia membuat janji dengan Alvin tadi. Setelah memasuki café, Shilla mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk mencari sosok Alvin. Dan… mata Shilla pun tertuju kearah meja 3. Disana ternyata sudah ada Alvin yang menunggunya sambil memainkan ponselnya. Shilla menghela nafas panjang beberapa kali, berusaha meredam emosinya, tapi tidak bisa.
            Dengan langkah terburu Shilla menghampiri Alvin. Ia berdiri tepat dihadapan Alvin seraya melipat kedua tangannya didepan dada,
            “lo kenapa? Muka lo kok nggak nyante begitu?” Tanya Alvin yang merasa tidak paham dengan reaksi Shilla. Tidak biasanya Shilla menatapnya dengan tatapan benci seperti ini.
            Lalu tanpa menjawab pertanyaan dari Alvin itu, Shilla langsung saja mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras diwajah Alvin. Alvin tersentak kaget lalu memegangi pipinya yang mulai terasa panas. Seluruh perhatian seisi café itu langsung tertuju kearah Alvin dan Shilla. Mereka semua menatap Alvin dan Shilla dengan tatapan penuh tanda tanya bercampur heran. Mungkin sebagian dari mereka berfikir bahwa Alvin adalah kekasih dari Shilla yang ketahuan selingkuh hingga membuat Shilla marah seperti itu. Tidak sedikit juga dari pengunjung café itu yang mulai kasak kusuk, saling membisiki satu sama lain.
            “lo apa-apaan sih, Shill?” Tanya Alvin tak paham. Nada bicaranya terdengar sedikit emosi.
            “LO BRENGSEK TAU NGGAK, VIN!!” Bentak Shilla dengan keras. Bahkan Shilla sama sekali tidak peduli ketika seluruh pengunjung café memperhatikannya.
            Alvin yang mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan-tatapan sinis itu berusaha menenangkan Shilla.
            “Shill lo tenang dulu ya? Please gue mohon. Ini tempat umum, nggak enak kan sama orang-orang yang ada disini. Gue nggak mau mereka mikir macem-macem Shill. Sekarang mending lo duduk dulu, kit—“
            “halah bulshit lo, Alvin! Kenapa lo nggak mau orang-orang mikir macem-macem tentang lo? Lo takut ketahuan kalo lo emang bener-bener brengsek dan nggak punya hati??” Shilla semakin kalap.
            “maksud lo apa, Ashilla? Gue nggak ngerti”
            “hahaha… jelas aja lo nggak ngerti, orang lo nggak pernah mau ngerti kok. Udah cukup ya gue bersabar selama ini. Gue diem aja bukan berarti gue suka ngeliat sikap lo yang plin plan itu. Dasar pengecut!! Nggak punya hati!”
            “bisa lo jelasin semuanya ke gue?”
            “gue emang harus jelasin semuanya keelo! Tadi gue pergi kerumah Sivia, kata Nyokap nya Sivia habis pergi sama Kak Cakka ke Mall, dan sepulangnya dari Mall, Sivia langsung ngurung diri dikamar dan nggak mau keluar. Dan lo sendiri tau kan kalo selama ini gue nggak pernah deket sama Kak Cakka? Jangankan deket, ngomong aja nggak pernah sama sekali. Tapi meski begitu gue tetep nekad ngehubungin Kak Cakka dan minta penjelasannya. Awalnya Kak Cakka nggak mau ngomong, tapi setelah gue desak akhirnya dia ngomong juga. Dan lo tau Kak Cakka bilang apa?”
            Alvin menggeleng perlahan meskipun sebenarnya hatinya sudah merasa tidak tenang. Shilla tersenyum sinis lalu sekali lagi melayangkan sebuah tamparan diwajah Alvin. Kali ini Alvin tidak melawan. Ia pasrah diperlakukan seperti itu.
            “Sivia ngeliat lo dengan mata kepalanya sendiri lagi jalan berdua sama Pricill. Nggak Cuma ngeliat kalian jalan bareng, tapi Sivia juga ngeliat lo cium Pricill. Bisa lo bayangin gimana hancurnya Sivia saat itu??”
            Seakan tersambar petir disiang bolong, pengakuan Shilla baru saja langsung membuat dada Alvin bergemuruh. Alvin tersentak, kedua kelopak matanya melebar. Benarkah apa yang Shilla katakan? Benarkah Sivia melihatnya jalan bersama Pricilla? Jika iya, berarti Alvin sudah benar-benar melukai Gadis itu. Entah untuk yang keberapa kalinya. Alvin marah, marah pada dirinya sendiri yang tidak pernah bisa berubah. Alvin kecewa, sangat kecewa pada dirinya sendiri yang selama ini hanya bisa melukai Sivia dengan keegoisannya.
            “2 minggu belakangan ini Sivia heran sama sikap lo yang terkesan menghindari dia. Dan hari ini gue tau apa alasan lo ngelakuin hal itu sama Sivia”
            Alvin hanya mampu terdiam. Bahkan tidak sedikitpun ia bisa mencerna setiap perkataan yang Shilla lontarkan.
            “LO SELINGKUH SAMA PRICILL, ALVIN JONATHAN! LO SELINGKUH SAMA MANTAN LO SENDIRI”
            “Dia bukan mantan gue, dia masih pacar gue” ucap Alvin pada akhirnya yang kelamaan mulai merasa tidak nyaman dengan tuduhan Shilla itu.
            Shilla tersentak kaget. Tapi ia berusaha keras menyembunyikan keterjutannya itu dihadapan Alvin. Shilla tertawa sinis lalu menatap kedua mata Alvin setajam mungkin.
            “HAHAHAHAHAHA…. Dia masih pacar lo? Lo bilang dia masih pacar lo setelah apa yang dia lakuin sama lo 2 tahun yang lalu? HAHAHAHAHA… Lo konyol Alvin!!”
            “tapi gue belum putus sama Pricill, Shill. Kalo harus ada yang diselingkuhin dalam masalah ini maka itu bukan Sivia, melainkan Pricill. Pricill bahkan belum tau kalo gue udah pacaran sama Sivia”
            “enteng sekali lo ngomong kayak gitu! Ato lo emang  nggak punya otak? Sadar Alvin, buka mata sama hati lo, lo fikir siapa yang nemenin lo selama 2 tahun ini setelah Pricill pergi gitu aja dari hidup lo? Lo fikir siapa yang berusaha mati-matian selama ini buat nyembuhin luka hati lo yang disebabin oleh Pricill? Lo fikir siapa yang ngerelain banyak waktunya terbuang Cuma untuk nemenin lo yang lagi patah hati? Itu semua Sivia yang lakuin.”
“Selama ini lo nggak tau atau pura-pura nggak tau kalo Sivia udah berkorban banyak hal buat lo? 7 tahun Sivia setia sama lo, tapi apa balesan lo sama dia? Lo selalu aja nyakitin dia dan nyiksa batinnya dia. Lo fikir enak ada diposisi dia?? NGGAK ENAK ALVIN! RASANYA SAKIT. Bahkan rasa sakitnya nggak pernah bisa lo bayangin, tapi Sivia bisa nahan semua itu, DEMI ELO!!”

            “Dan sekarang lo bilang elo yang nyelingkuhin Pricill. Dimana hati lo, Alvin? Dimana? Tapi gue akuin, ini semua bukan mutlak kesalahan lo. Ini semua terjadi karna kebodohan gue sendiri”
            Shilla menghela nafasnya sejenak lalu melanjutkan perkataannya.
            “gue bodoh karna dulu gue sempet maksa Sivia buat nerima cinta lo. Harusnya gue nggak pernah maksa Sivia. Dan harusnya sejak awal gue sadar kalo lo itu nggak lebih dari seorang laki-laki Plin-plan nan pengecut yang tidak punya hati”
            “Shill gue, gu—“
            “sekarang gue minta sama lo, Alvin! Lepasin Sivia, tinggalin dia. Sivia sama sekali nggak pantes disakitin sama cowok kayak lo!!”
            Shilla berbalik lalu pergi begitu saja setelah puas melampiaskan seluruh emosinya pada Alvin. Bahkan Shilla sama sekali tidak peduli ketika Alvin memanggil namanya beberapa kali.
            Biarkan, biarkan Alvin tahu bahwa Shilla sangat kecewa padanya.


****

            Ragu-ragu Cakka memasuki kamar Sivia. Dari kejauhan ia bisa melihat Sivia yang saat itu tengah duduk diranjangnya sambil menatap kalung pemberian Alvin. Cakka terdiam sejenak didepan pintu kamar Sivia, memikirkan lagi niatnya yang ingin menemui Sivia dan mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk menghibur hatinya.
            Sepulangnya Cakka dari rumah Sivia tadi sore setelah ia mengantar Sivia, Cakka sama sekali tidak bisa tenang dirumahnya. Ia terus saja memikirkan Sivia. Cakka benar-benar takut Sivia akan melakukan hal-hal aneh yang dapat merugikan dirinya sendiri. Untuk itulah malam ini Cakka kembali lagi kerumah Sivia. Ia berencana membawa Sivia untuk pergi kesuatu tempat yang sudah ia persiapkan. Cakka ingin menghibur hatinya yang tengah dilanda pilu.
            Setelah cukup lama berfikir dan menimbang-nimbang keputusannya, akhirnya tibalah Cakka pada sebuah kepastian. Selama ini Sivia sudah berbuat banyak untuk kebahagiaannya, dan sekarang gilirannya lah yang melakukan sesuatu untuk Sivia. Cakka menghela nafas panjangnya lalu memasuki kamar Sivia dengan langkah yang mantap.
            “Via” panggil Cakka pelan. tidak butuh waktu yang lama Sivia langsung melirik kearah Cakka sambil tersenyum. Dalam hati Cakka bertanya-tanya, kenapa Gadis ini begitu kuat padahal Alvin sudah menyakitinya? Hati Gadis ini terbuat dari apa sebenarnya?
            “Kak Cakka?” balas Sivia dengan senyuman yang tidak kunjung surut dari wajahnya.
            “kamu… ka… kamu—“
            “aku baik-baik aja Kak Cakka, beneran deh” sela Sivia sebelum Cakka melanjutkan perkataannya.
            “baguslah” Cakka tersenyum lega meskipun hatinya sedikit gusar.
            “ada apa Kak Cakka kerumah aku malem-malem?” Tanya Sivia tiba-tiba yang langsung membuat Cakka terkesiap.
            “eh”
            “iya, ada apa Kak Cakka kerumah aku malem-malem?”
            “ooo…. Aku mau ngajak kamu kesuatu tempat, bisa?”
            “nggak bisa besok aja, Kak?”
            “nggak bisa, harus malem ini!”
            Sivia berfikir untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian Sivia tersenyum tipis lalu kembali melirik kearah Cakka.
            “Oke! Aku mau. Tapi dengan satu syarat”
            “apapun itu”
            Sivia tersenyum senang lantas menyebutkan syaratnya.
            “selama kita jalan, Kak Cakka nggak boleh ngebahas tentang kejadian tadi pagi, dan diantara kita nggak ada satupun yang boleh nyebut nama…. Alvin” hati Sivia merasa begitu pedih ketika ia menyebutkan nama itu.
            Cakka akhirnya mengangguk dan menyetujui syarat yang Sivia ajukan meski hatinya sedikit meragu. Tidak lama, Cakka mengulurkan tangannya dihadapan Sivia dengan senyuman termanis yang pernah Ia miliki. Sivia membalas senyuman Cakka dengan senyum yang tidak kalah manisnya. Lalu dengan senang hati Sivia menyambut uluran tangan Cakka.


****

            Cakka mengajak Sivia pergi kesebuah bukit. Ketika baru pertama kali menginjakkan kakinya diatas bukit itu, Sivia langsung terpana. Ribuan kunang-kunang menyambutnya. Jutaan Bintang yang bertebar diatas langit sana semakin menambah kekaguman Sivia akan keindahan bukit ini. Ia merasa berterimakasih pada Cakka karena telah membawanya ketempat itu.
            “Kak Cakka, ini indah banget, aku suka” kata Sivia seraya mengedarkan pandangannya kesegala arah. Cakka tersenyum puas lalu berjalan mendekati Sivia yang berdiri ditengah bukit,
            “mau yang lebih indah lagi?” Tanya Cakka tiba-tiba. Sivia hanya mengangguk tanda setuju.
            Cakka menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya berjalan ketepi bukit. Sivia menatap Cakka dengan pandangan bertanya hingga pada akhirnya,
            “coba lihat kesana deh” Cakka menunjuk kearah bawah bukit. Sivia mengikuti arah telunjuk Cakka. Dan lagi-lagi Sivia terkesima menyaksikan pemandangan kota yang berkelap-kelip oleh lampu-lampu gedung juga cahaya-cahaya dari dari lampu-lampu mobil yang tengah berlalu-lalang ditengah jalanan kota yang ramai. Dan kesemua itu benar-benar terlihat sangat menakjubkan dari atas sini. Sinar rembulan yang bersinar terang dan menggantung diatas langit semakin menambah keindahan malam itu. Seumur hidupnya ini baru pertama kalinya Sivia melihat pemandangan seindah ini.
            Rasanya Sivia ingin menghamburkan air mata. Kenapa Cakka selalu saja tahu apa yang ia butuhkan disaat seperti ini? Sivia menatap wajah Cakka sekilas, jauh didalam sana otaknya mulai berfikir, andai saja Sivia bisa mencintai Cakka. Dan andai saja yang Sivia cintai itu adalah Cakka dan bukan Alvin, hidupnya pasti akan sangat bahagia. Tapi Sivia tidak bisa, Alvin sudah terlanjur menguasai hatinya dan segala isinya. Dan mungkin siapapun tidak akan pernah bisa menggantinkan posisi Alvin direlungnya.
            “Kak Cakka….” Panggil Sivia tiba-tiba. Cakka menoleh kearah Sivia lalu tersenyum,
            “kenapa?”
            “aku boleh peluk Kak Cakka? Semenit aja….” Pinta Sivia dengan nada memohon. Cakka terdiam sejenak lantas mengangguk tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.
            Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Sivia langsung saja menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Cakka yang hangat. Sivia memeluk Cakka seerat mungkin. Ia menumpahkan segala tangisannya disana.
            Hati Cakka begitu pedih ketika mendengarkan suara tangisan Sivia yang begitu memilukan. Gadis ini sama sekali tidak pantas untuk disakiti oleh siapapun. Sivia gadis baik-baik, dan dia hanya pantas dilimpahkan oleh kebahagiaan juga kasih sayang yang tidak pernah ada habisnya. Alvin memang bodoh karena telah menyia-nyiakan Sivia. Dan dapat Cakka pastikan, suatu saat nanti Alvin akan merasa sangat menyesal atas semua perlakuannya pada Sivia selama ini. Dan saat itu tiba, Cakka tidak akan pernah lagi melepaskan Sivia untuk Alvin. Tidak akan pernah.


            ‘jangan kan semenit Sivia, kamu mau peluk aku selamanya juga aku bersedia, asal kamu jangan menangis lagi…. Asal kamu bisa terus tersenyum….’


****

            Ketika mobil milik Cakka sudah menghilang dari pandangannya, Sivia memasuki pekarangan rumahnya. Jam ditangan Sivia sudah menunjukan pukul 22.00. Sivia tersenyum kecil ditengah perjalananya. Setidaknya Cakka bisa mengurangi beban hatinya meskipun tidak seberapa. Sivia sangat berterimakasih pada Cakka, mungkin tanpa Cakka malam ini Sivia akan tetap mengurung diri dikamar dan terus menyalahkan keadaan yang seakan tidak pernah berpihak padanya. Cakka memang hebat.
            Tapi kemudian langkah Sivia tiba-tiba saja terhenti ketika kedua indera pelihatnya menangkap satu sosok Pria yang begitu Ia kenal tengah berdiri diberanda depan rumahnya seraya menatap Sivia dengan pandangan sayu, penuh penyesalan.
            Jantung Sivia seakan tidak bisa diajak kompromi. Kali ini jantung milik Sivia bekerja seribu kali lebih cepat dari biasanya ketika ia melihat satu sosok yang selama ini menjadi penghuni tetap relungnya. Satu sosok yang sering kali menyakitinya bahkan melukainya. Sivia menghentikan langkahnya dan berusaha keras untuk melepaskan tatapannya dari kedua mata indah itu. Tapi sial, kedua mata itu terlampau indah. Ia seakan menjelma menjadi sebuah magnet berkekuatan penuh yang sukses menarik habis perhatian Sivia tanpa bekas.
            Sivia lalu menghela nafas beratnya. Ia harus bisa bersikap biasa saja dihadapan Pria itu. Tidak, Pria itu tidak boleh tahu bahwa saat ini Sivia sedang terluka. Sivia harus tetap kuat. Sivia tidak boleh lemah.
            Sivia terus melangkah ditengah pergolakan batinnya. Jauh didalam sana, ia merasakan ada ribuan tangan-tangan raksasa yang tengah meremas-remas jantungnya tanpa ampun. Rasanya sesak, benar-benar sesak saat ia harus berusaha terlihat baik-baik saja didepan Pria yang begitu Ia cintai, padahal hatinya tengah menangis karena merasa dikhianati.
            “Hay…” sapa Sivia dengan canggung ketika jaraknya sudah lumayan dekat dengan posisi Alvin sekarang. Sivia sama sekali belum sadar bahwa Alvin telah mengetahui semuanya.
            “kenapa diluar?” Tanya Sivia.
            Dan sungguh Alvin bisa merasakan semuanya. Kepedihan hati Sivia, kesakitannya, rasa kecewanya, semuanya, Alvin bisa merasakan semuanya. Alvin bisa menangkap sebentuk kelelahan yang terpancar dari sorot mata Gadisnya ini. Dan Alvin merasa sangat terpukul ketika mendapati semua kenyataan memilukan itu.
            “Via, kita harus ngomong, aku—“
            “udah malem, Vin. Sebaiknya kamu pulang aja!”
            Sivia melangkah melewati Alvin begitu saja. Ia menyeka air mata yang tergenang disudut matanya. Kenapa rasanya begitu pedih ketika Sivia harus mengacuhkan Alvin seperti ini?
            “Sivia, MAAF….” Lirih Alvin pelan. Sivia menghentikan langkahnya dan membiarkan air matanya lolos begitu saja.
            “aku salah, aku pengkhianat, aku pengecut, aku jahat… aku…. Aku minta maaf, Sivia….”
            Tidak ada jawaban apapun dari Sivia, juga tidak ada reaksi apapun yang ditunjukan oleh Sivia. Ia tetap bergeming melawan semua kepedihan yang menggerogoti jantungnya.
            “maaf, karna selama ini aku nggak pernah bisa jujur sama kamu, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Sivia—“
            Alvin berjalan perlahan mendekati Sivia. Ia menghentikan langkahnya tepat dihadapan Sivia. Alvin memegang kedua pundak Sivia dan menatap wajah Sivia dalam-dalam. Sivia hanya bisa menunduk. Ia tidak memiliki sedikitpun kekuatan untuk sekedar mengangkat wajahnya, menantang tatapan penuh penyesalan yang ditunjukan oleh Alvin.
            “aku cinta sama kamu, nggak pernah sedikitpun terlintas dibenak aku buat pergi ninggalin kamu, nggak pernah Sivia”
            “aku tahu, Vin… aku tahu…” Sivia akhirnya mengangkat wajahnya. Air mata sudah tergenang sempurna dipelupuk matanya.
            “aku tahu kamu cinta sama aku… tapi rasa cinta kamu ke aku nggak sebesar rasa cinta kamu terhadap Pricill, Vin… nggak sebesar itu. Aku tahu, kamu tahu, Pricill juga tahu akan hal itu, dan nggak ada yang salah dengan itu, nggak ada Alvin, hiks…”
            “nggak gitu…”
            “please Alvin, kali ini biarin aku yang bicara. Kamu cukup dengerin aku, Alvin”
            Sivia meraih kedua tangan Alvin yang ada dipundaknya lalu menggenggamnya erat. Tidak lama Sivia mengecup kedua tangan itu,
            “hari ini aku udah ngelepasin kamu, Alvin. Aku nggak akan nahan kamu disisi aku lagi, dan mulai hari ini kamu boleh kembali sama Pricill. Aku nggak berhak atas cinta kamu, karna selamanya yang memiliki hak mutlak atas cinta kamu itu Cuma Pricill, Cuma dia, Alvin….”
            “demi Tuhan aku ikhlas, Alvin…. Aku ikhlas. Mungkin aku akan menangis setelah ini, tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan tersenyum saat mengingat hari ini, aku tersenyum karna aku sudah melakukan tindakan yang benar”
            “7 tahun yang lalu kamu pernah bilang, kalau kita itu lebih cocok jadi sahabat. Jujur saja, waktu itu aku ngerasa sakit hati atas ucapan kamu itu, tapi hari ini aku membenarkannya. Kita berdua memang lebih pantas jadi sahabat, dan nggak pernah lebih dari sekedar sahabat. Takdir telah menuliskan bahwa Persahabatan adalah batas hubungan diantara kita berdua, tapi kita malah melampaui batas itu, Alvin… kita telah melampaui batas itu….”
            “kembalilah sama Pricill, Alvin… kembalilah, kamu nggak bisa terus-terus menghianati dia kayak gini. Toh waktu itu juga Pricill Cuma terpaksa ninggalin kamu, dan dia nggak sepenuhnya ninggalin kamu”
            “tapi aku mencintai kamu, Sivia”
            “tapi kamu juga mencintai Pricill, kan?? Biar bagaimanapun cinta harus tetap memilih Alvin…”
            Sivia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Alvin. Dengan perasaan hancur, Sivia berbalik lalu berjalan perlahan kearah pintu rumahnya.
            “Sivia dengerin aku dulu! Kamu nggak bisa kayak gini”
            Sivia menghentikan langkahnya untuk beberapa saat. Tanpa melihat kearah Alvin, Sivia berkata,
            “untuk saat ini aku mau sendiri dulu, Alvin. Dan aku mohon, tolong biarin aku sendiri dulu… aku bener-bener mau sendiri, Alvin…”
            Sivia memasuki rumahnya lalu menutup pintu dengan linangan air mata yang membanjiri wajah manisnya. Sivia benar-benar tidak tahan lagi jika harus menahan tangisan itu. Biarkan, biarkan Sivia menumpahkan segala kepedihannya dalam tangisan pilunya ini.
            Sivia bahkan tidak peduli ketika Alvin menggedor-gedor pintu rumahnya minta dibuka kan. Berkali-kali Alvin memanggil namanya dengan nada memohon, tapi Sivia tetap bergeming. Bahkan berjuta-juta kata maaf yang Alvin lontarkan sama sekali tidak membuat Sivia tersentuh. Batas kesanggupannya sudah habis hari ini juga. Sivia telah benar-benar melepaskan Alvin.
            “Via, kamu kenapa?” Tanya Ayah yang baru saja turun dari anak tangga bersama Ibu.
            “kamu kok nangis, sayang? Kenapa?” kali ini Ibu yang bertanya. Beliau benar-benar terlihat sangat cemas dengan keadaan Puteri satu-satunya ini.
            “diluar ada Alvin? Kamu lagi ada masalah sama Alvin?” kata Ayah ketika beliau mendengarkan suara Alvin dari dalam rumah. Sivia menggeleng beberapa kali, air matanya semakin deras menetes.
            Dengan susah payah Sivia akhirnya berucap,
            “Ayah… Ibu…. Sivia mau pergi dari sini… Sivia mau pergi jauh….”
            “maksud kamu apa? Kamu mau pergi kemana?” Tanya Ibu –lagi-
            “pokoknya Sivia mau pergi. Sivia mau pindah dari kota ini. Dan tolong bilang sama Alvin, supaya dia jangan nemuin Via lagi. Via bener-bener nggak mau ketemu sama Alvin lagi, nggak mau, Ayah…. Ibu….”
            Sivia berlari menaiki anak tangga dan meninggalkan ribuan tanda Tanya dalam benak kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya saling bertatapan heran satu sama lain.

            Sivia sudah sangat yakin dengan keputusannya ini. Dan ia tidak akan berfikir 2 kali lagi. Ia akan benar-benar pergi meninggalkan Alvin. Pergi sejauh mungkin ketempat dimana Alvin tidak bisa lagi menemukannya.



****

Ini hari terakhir aku menangisimu…
Ini hari terakhir aku menangis karenamu…
Besok, lusa, dan hari-hari yang akan datang
Aku tidak mau terluka lagi karenamu

Mungkin dengan kepergianku ini bisa membuatmu lebih bahagia…
Mungkin dengan kepergianku ini bisa membuatmu merasa bebas lepas
Tanpa belenggu…

Maaf, aku harus pergi…
Maaf karena aku harus melepaskan diri dari kehidupanmu…

Kembalilah pada dia yang kau cinta…

Dan untuk yang terakhir kalinya
Ijinkan aku berkata…. Good bye, Love….




                             BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment