Sunday, August 11, 2013

0

Thank You, Alvin!! (SQUEL FINDING YOU!)





                Aku membanting pintu kamar sekeras mungkin lalu menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Disana aku menumpahkan segala tangisan juga kekesalanku pada Alvin. Baru 6 bulan yang lalu kami resmi berpacaran dengan segala keromantisan juga perhatiannya padaku, tapi sekarang dia malah berubah. Berubah menjadi Alvin yang tidak pernah aku kenal.
            Sejak seminggu yang lalu, aku mulai merasakan perubahan sikap Alvin. Tanpa alasan yang jelas ia selalu marah-marah padaku, tidak jarang juga Alvin membentakku dan nyaris melayangkan sebuah tamparan diwajahku. Aku bingung, memangnya aku pernah buat kesalahan apa hingga membuatnya begitu membenciku.
            Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam fikiran Alvin hingga ia berubah seperti itu. Dihari pertama, aku mencoba mengerti, tapi hingga hari ketujuh sikapnya tetap sama padaku hingga akhirnya aku merasa muak. Hari ini adalah puncak kesabaranku. Rasanya aku ingin menyerah saja dengan hubungan ini. Aku ingin mundur. Aku ingin terlepas darinya.
            Tapi sekeras apapun keinginanku untuk bisa terlepas darinya, tetap saja aku merasa tidak sanggup. Aku terlalu mencintainya.
            Dengan tiba-tiba ia datang dalam hidupku, hadir ditengah-tengah kesepian dan kesendirianku, lalu dengan mudahnya ia mengubah kehidupanku hanya dalam waktu yang singkat. Ia penuhi hari-hariku dengan cintanya, perhatiannya, juga segala kebaikannya. Aku fikir semua itu akan berlangsung selamanya hingga nanti hubungan kami menginjak ke jenjang yang lebih serius lagi. Tapi ternyata…. Keinginan hanya tinggal keinginan, harapan hanya tinggal harapan. Semuanya pupus bersama rasa kecewaku, menguap dengan segala kesakitanku.
            6 bulan. Tidak kurang dari 6 bulan, Alvin kembali menjerumuskan aku kedalam hidup yang tidak pernah aku inginkan. Tuhan… aku rindu Alvin yang dulu. Sangat merindukannya.
            “Via…” sama-samar aku mendengar suara Shilla memanggil namaku. Saat itu aku buru-buru menyeka air mataku. Aku tidak ingin Shilla tahu bahwa ternyata aku sangat cengeng.
            “kenapa, Shill?” jawabku pelan. aku berusaha keras agar isakkan ku tidak terdengar.
            Tetapi Shilla terlalu pandai untuk bisa aku kelabui. Dia begitu peka dengan perasaanku, dan selalu memahami apapun keadaanku. Ya… hanya Shilla yang bisa seperti itu. Untuk itulah aku begitu menyayangi Shilla. Dia sahabat sejatiku. Aku tidak ingin kehilangan dia. Selamanya.
            Shilla duduk ditepi ranjangku. Ia memegang kedua pundakku lalu menuntunku untuk bangkit. Aku menunduk saat Shilla mengamati wajahku baik-baik.
            “lo nangis? Karna Alvin?” tanyanya skeptic. Aku diam, tidak menunjukan respon apapun. Tidak mungkin Shilla tidak tahu tentang masalah ku dengan Alvin. Dia adalah sepupu Alvin, dan dia begitu dekat dengan Alvin.
            “maafin Alvin, ya?”
            “gue udah terlalu sering maafin dia” aku tersenyum miris.
            Aku dengar Shilla menghela nafas beratnya beberapa saat setelah aku menjawab perkataannya.
            “gue emang sepupu Alvin, Vi. Tapi kalo dia salah dan nyakitin sahabat gue yang paling cantik, gue tetep akan nyalahin dia dan ngebelain sahabat gue”
            Kali ini aku mengangkat wajahku lalu menatap Shilla yang saat itu tengah menatapku sambil tersenyum penuh arti.
            “lo boleh ninggalin Alvin kalo lo mau. Lo boleh putusin dia kalo seandainya lo udah ngerasa nggak sanggup bertahan sama dia, gue dukung lo, Via. Seribu persen gue dukung lo”
            Ucapan Shilla barusan malah semakin membuat dadaku terasa tertekan dari segala arah. Aku sesak, dan nyaris tak bisa lagi menghirup udara disekitarku. Kenapa rasanya begitu sakit mendengar ucapan Shilla? Sekalipun Alvin menyakitiku berkali-kali, tetap saja aku merasa tidak sanggup jika harus pergi meninggalkannya dan melepaskannya begitu saja. Rasa benciku pada Alvin tidak akan pernah mampu mengalahkan rasa cintaku yang begitu besar terhadapnya. Tuhan aku harus bagaimana sekarang? Tolong pegangi aku, Tuhan….
            Aku menggeleng beberapa kali.  Sebulir air mataku menetes secara perlahan dan semakin lama semakin deras. Aku menunduk dalam. Dengan pelan aku berucap lirih,
            “nggak bisa, Shill… gue nggak bisa ngelepasin Alvin. Gue cinta sama Alvin, gue terlalu mencintai dia, hiks… hiks… gue nggak bisa pergi dari dia, nggak bisa…”
            Merasa tidak tahan melihatku yang terus menangis, Shilla pun akhirnya menarikku kedalam pelukannya dan mencoba menenangkan aku disana. Sekali lagi aku katakan, Shilla adalah Sahabat terbaik yang pernah aku punya. Aku beruntung memiliki dia.


^^

            Aku mencoba melupakan masalahku dengan Alvin. Dan aku berfikir hari ini ingin berdamai dengannya. Mungkin kami hanya butuh sedikit komunikasi saja. Ya… sedikit komunikasi saja dan semuanya akan baik-baik saja.
            Hari ini adalah hari minggu. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 04.00 aku sudah terjaga. Hari ini aku sengaja  bangun sepagi mungkin karna aku ingin membuat sesuatu untuk Alvin. Sesuatu yang mungkin bisa membuat Alvin tidak marah lagi padaku.
            Aku dengan dibantu oleh Bi Siti, asisten rumah tangga dikediamanku, akhirnya membuat sebuah blackforest untuk Alvin. Aku sangat tahu bahwa Alvin adalah pecinta Blackforest. Pernah suatu ketika Alvin memintaku untuk membuatkannya Blackforest, tapi saat itu aku menolak. Ya mau bagaimana lagi? Aku sama sekali tidak bisa memasak apalagi membuat Blackforest.
            Menanggapi penolakanku ketika itu, Alvin hanya tersenyum lantas berkata,
            “gue tau suatu saat lo akan bikin buat gue, dan gue akan tunggu”
            “kalo hasilnya nggak enak?”
            “gue akan tetep makan sampe abis”
            Aku tersenyum ketika mengingat memori itu. Tapi mengingat memori itu kembali malah membuatku merasa kehilangan Alvin, kehilangan Alvin yang dulu. Jika ingat dulu ia pernah menyamar jadi manusia super aneh bernama Jojo, aku selalu saja ingin menangis. Sekali lagi, aku sangat merindukan Alvin yang dulu.
            Ketika jarum jam sudah menunjukan pukul 08.05, aku pun segera bergegas untuk pergi kerumah Alvin. Aku sengaja tidak menelfonnya terlebih dahulu karena aku ingin memberikannya kejutan dengan hasil ku hari ini. Aku yakin seyakin-yakinnya, Alvin pasti merasa senang dan bangga karna aku telah berhasil membuatkannya sebuah blackforest. Ah… aku jadi tidak sabar ingin segera tiba dirumah Alvin dan memberikannya blacforest yang sudah aku buat kan khusus untuknya ini.
            Aku tersenyum senang dan mengemudikan mobilku dengan riang menuju rumah Alvin yang jaraknya sudah tidak jauh lagi.
            Sekitar 5 menit kemudian tibalah aku dirumah Alvin. Seorang satpam membuka pintu Gerbang untukku. Semenjak berpacaran dengan Alvin, aku memang sangat sering bertandan kerumahnya, bahkan Alvin pernah memperkenalkan aku pada kedua orang tuanya. Dan mengejutkannya lagi ternyata kedua orang tua Alvin menerimaku dengan tangan terbuka. Mereka menyetujui hubunganku dengan Alvin, dan mereka juga begitu menyayangiku. Benar-benar bahagia rasanya.
            “Pak, ada Alvin kan?” Tanya ku pada Pak Satpam. Pak Satpam bernama Tarmin itu hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia pun menjawab,
            “ada Non… tapi masih tidur. Semalem Mas Alvin begadang nonton bola sampe jam 5”
            Begadang lagi? Nonton bola lagi? Akan aku jitak kepalanya nanti. Awas saja!
            “kalo Om sama Tante ada nggak?”
            “nggak ada Non, kemarin sore mereka berangkat ke Denpasar. Biasa urusan pekerjaan”
            “oooo… kalau begitu aku masuk ya, Pak?”
            “silahkan Non…”
            Pak Tarmin membukakan aku pintu mobil. Setelah aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih padanya, aku pun segera memasuki rumah besar itu dengan membawa sebuah kotak bekal yang berisi blackforest special untuk Alvin.
            Didepan pintu kamar Alvin, aku terdiam sejenak. Aku menghela nafas beberapa kali, berharap Alvin sudah tidak marah lagi padaku. Setelah mati-matian meyakini hatiku dan menghilangkan rasa gugup ku, aku menarik knop pintu Alvin lalu membukanya.
            Kudapati Alvin yang ketika itu masih terlelap dibawah selimut tebal yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Aku tersenyum jengah. Berjalan perlahan menghampiri tempat tidurnya lalu meletakkan kotak bekal tadi pada meja lampu yang ada disamping tempat tidur Alvin.
            Ragu-ragu aku menyingkap selimut tebal Alvin hingga menampakkan bagian wajahnya yang masih terlelap. Aku tersenyum ketika mendapati wajah tampannya yang terlihat begitu damai ketika ia terlelap.
            Perlahan tangan kananku terangkat lalu bergerak menyentuh pipi mulus Alvin,
            “Bie… bangun dong! Udah pagi, Bie” aku menepuk pelan pipi Alvin, berusaha untuk tidak menyakitinya sedikitpun, sebagaimana ia menyakitiku dan menyiksa batinku selama seminggu terakhir ini. Aku tersenyum pahit.
            “engghh….” Ku dengar Alvin melenguh pelan sambil menggeliat. Perlahan ia pun membuka matanya lalu tersenyum ketika melihatku yang ketika itu sudah duduk dipinggir tempat tidurnya.
            “kamu?” ucap Alvin setengah kaget lalu bangkit dan duduk diatas tempat tidurnya.
            “selamat pagi, Bie… tebak hari ini aku punya kejutan apa buat kamu!” ujar ku berusaha terlihat biasa saja. Aku tidak ingin lagi memikirkan masalah yang selama seminggu ini menyelimuti hubungan kami yang awalnya baik-baik saja.
            Alvin memasang wajah pura-pura berfikir, dan jujur saja, aku merasa sedikit lucu dengan itu. Sepertinya sikap Alvin sudah kembali normal lagi padaku. Dan aku berharap ini untuk seterusnya.
            “emangnya kamu bawa apa?” Tanya Alvin penasaran.
            Aku tersenyum penuh misteri. Salah satu tanganku bergerak perlahan mengambil kotak bekal tadi, dan….
            “tadaaa….” Aku menujukan kotak bekal itu dihadapan Alvin. Kedua alis Alvin bertaut. Ia melirik sejenak kearah kotak bekal itu lalu mengalihkan lirikannya padaku.
            “ini apa?”
            “buka aja!” aku menyerahkan kotak bekal itu untuk Alvin. Alvin menerimanya dengan raut wajah yang masih terlihat sedikit heran.
            Aku berdebar ketika mendapati Alvin membuka kotak bekal itu. Dalam hati aku mewanti-wanti, semoga Alvin suka dengan apa yang aku berikan padanya hari ini. Akupun sampai harus menahan nafas saat itu. Dan… aku langsung menghela nafas lega ketika ku dapati Alvin tersenyum saat melihat isi kotak bekal itu.
            “blackforest??” Alvin tersenyum senang. Aku pun hanya mengangguk.
            “beli ditoko kue mana?” Tanya Alvin tiba-tiba sambil melirik nakal kearahku. Pertanyaan Alvin barusan sukses membuat senyum yang sejak tadi mengembang diwajahku menghilang seketika tanpa bekas. Aku mengerecutkan bibirku, melipat kedua tanganku didepan dada, lalu membuang mukaku, enggan melihat wajah Alvin.
            Alvin terkekeh pelan, merasa menang karna telah berhasil mengerjaiku. Tapi aku tidak peduli dengan kekehannya itu. Aku tetap cemberut dan menampakkan wajah kesal.
            Mungkin karna terlalu gemas melihat ekspresi wajahku, Alvin sampai-sampai mengusap puncak kepalaku lalu mendorong kepalaku perlahan dan mengecup keningku dengan sayang. Perlakuan Alvin itu semakin membuatku tidak bisa membenci perlakuannya selama seminggu terakhir ini padaku.
            “makasih ya Bie udah mau repot-repot bikin ini buat aku?”
            “aku Cuma nggak mau kamu marah-marah lagi tanpa alasan yang jelas sama aku, Bie” sahutku dengan cepat. Alvin terdiam lalu menunduk dalam. Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini, aku benar-benar tidak bisa membacanya.
            “Bie…” panggilku pelan. Alvin langsung mengangkat wajahnya lalu tersenyum padaku,
            “naik sini! Duduk disebelahku” ujar Alvin sambil mengulurkan tangannya dihadapanku. Aku terdiam sejenak sambil mengamati wajah Alvin baik-baik. Alvin tersenyum lagi,
            “ayo naik” pinta Alvin sekali lagi. Kali ini aku mengangguk lalu melepas sepatu yang aku kenakan. Ragu-ragu aku naik keatas tempat tidur Alvin lalu duduk disebelahnya.
            Merasa jarak kami sedikit berjauhan, Alvin berdecak pelan lalu menarik pergelangan tanganku hingga jarak diantara kami akhirnya terhapus tanpa celah. Aku yang merasa kaget karna tarikan Alvin terlalu kuat akhirnya menghempaskan kepalaku tepat didada Alvin. Saat itu aku bisa merasakan bagaimana kencangnya debaran jantung Alvin yang seakan menggedor dadanya.
            “maaf, ya?” bisik Alvin pelan didepan telingaku.
            Aku membenahi posisiku hingga duduk disamping Alvin. Lengan kekar Alvin melingkar dengan erat dipundakku. Aku melirik kearah Alvin yang saat itu ternyata sedang menatapku. Beberapa saat kemudian, Alvin memamerkan senyum mautnya yang sukses membuat jantungku berdebar 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.
            Aku merasakan kedua pipiku mulai merona. Tidak ingin Alvin melihat itu, aku pun langsung menunduk dalam. Alvin terkekeh pelan lalu menyentuhkan keningnya dengan keningku.
            “kamu cantik hari ini. Aku suka” puji Alvin. Alvin hanya tidak tahu saja bahwa pujiannya itu malah semakin membuat kedua pipiku merona. Rasanya aku ingin sekali menjitak kepala pria ini agar dia tidak terus-terusan membuat pipi ku merona seperti ini. Demi apapun itu, rasanya benar-benar tidak nyaman.
            “aku kan udah puji kamu. Sekarang giliran kamu dong, Bie” ujar Alvin dengan nada menggoda. Kedua alisnya sudah naik turun.
            Aku melirik tak paham kearah Alvin. Tidak peduli sekalipun ia harus melihat kedua pipiku yang sudah merona karenanya. Alvin tersenyum lebar dan seakan mengejekku,
            “mau dipuji juga?” tanyaku polos. Alvin menggeleng beberapa kali,
            “terus?” Alvin mendekatkan bibirnya dengan telingaku lalu berbisik pelan.
            “kasi kiss morning”
            Aku membelalak lebar ketika mendengarkan permintaan Alvin itu. Aku sudah ingin melemparkan protes. Tapi belum sempat aku mengeluarkan protes, Alvin malah sudah membungkam mulutku dengan sebuah kecupan.
            Ups.. Pria ini benar-benar pencuri kelas kakap.
            “Bie…” panggil ku sambil menyudahi perlakuan Alvin dengan cara menjauhkan wajahnya dari wajahku. Aku memegang wajah Alvin dengan kedua tanganku. Aku tahu Alvin kesal karna telah menggagalkannya.
            “hm?”
            “jangan marah-marah lagi ya? Aku takut kalo kamu marah-marah terus” ujarku dengan nada setengah memohon. Alvin mengangguk sekali. Entah mendapatkan dorongan dari mana, Alvin kembali menyentuhkan bibirnya dengan bibirku dan menciumnnya dengan penuh perasaan.
            Kali ini aku tidak bisa mengelak lagi. Aku pasrah dalam rengkuhannya. Bukankah kami telah saling memiliki?


^^

            Setelah pagi yang penuh cinta itu aku fikir sikap Alvin akan kembali seperti dulu lagi, tapi ternyata aku salah. Alvin memang tidak marah-marah lagi, ia juga tidak pernah berkata kasar lagi padaku, tetapi, semenjak pagi itu aku merasa Alvin mengacuhkanku. Ia juga selalu menghindariku disekolah.
            Tak jarang aku sering memergokinya sedang menelfon seorang Gadis yang ia panggil dengan panggilan ‘Cha’. Entahlah, aku tidak tahu siapa Gadis yang ia panggil dengan panggilan Cha itu. Tapi yang selalu aku dengar, Alvin selalu berbicara mesra dengannya. Apa Alvin selingkuh dariku? Tapi apa salahku? Apa Alvin sengaja melakukan semua ini supaya aku membencinya? Apa Alvin sudah bosan denganku dan ingin mengakhiri hubungan kami ini?
            Tepat dihari ke-10, aku mulai merasa muak. Aku sudah tidak bisa lagi menahan emosiku yang seakan ingin meledak. Aku memang mencintai Alvin, sangat mencintainya, tapi bukan berarti Alvin bisa mempermainkan aku dengan seenaknya seperti ini. Aku juga punya hati, apa Alvin lupa itu?
            Emosiku akhirnya mencapai puncak klimaks dan kesabaran telah menemui batasnya, ketika aku memergoki Alvin, Pria yang begitu aku cintai tengah duduk berhadapan dengan seorang Gadis disebuah restoran dengan begitu mesranya. Mereka duduk dipinggir sebuah kolam renang yang dipenuhi dengan lampion-lampion. Mereka tertawa bersama, saling menyentuh tangan masing-masing. Pemandangan itu benar-benar membuatku susah bernafas. Rasanya begitu sesak. Duniapun seakan berhenti berputar detik itu juga.
            Yang membuatku semakin merasa miris adalah, malam ini adalah malam ulang tahun ku yang-17. Awalnya aku berfikir Alvin akan memberikan aku sebuah kejutan, tapi ternyata… Aku mendongak keatas langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang. Aku berusaha keras menahan air mataku agar tidak terjatuh setetespun.
            Ya… Alvin memang memberikan aku sebuah kejutan, tapi kejutan yang tidak pernah aku inginkan sebelumnya. Kejutan yang membuatku ingin mati saja rasanya. Sekali lagi aku bertanya, entah pada siapapun yang menjawab. Aku salah apa hingga Alvin berbuat seperti ini padaku? Pada hatiku? Rasanya sakit. Perih, begitu menyayat hati… aku baru tahu bahwa patah hati akan sesakit ini rasanya.
            “ALVIN….” Teriakku memanggil nama Alvin dengan suara memekik. Seluruh perhatian setiap orang yang ada direstoran itu langsung tertuju kearah meja Alvin.
            Air mataku berlinang dengan begitu derasnya,
            “Vi… Via??” kata Alvin yang seakan tidak percaya dengan kehadiranku.
            “kamu jahat, Vin… kamu…” aku merasa tidak memiliki kekuatan lagi. Bahkan untuk melanjutkan perkataanku saja rasanya begitu tak sanggup.
            “hiks… hiks… makasih buat surprise nya, Vin… ini… INI KADO ULANG TAHUN TERINDAH YANG PERNAH AKU DAPETIN SEUMUR HIDUPKU. MAKASIH ALVIN, MAKASIH UNTUK LUKA INI…..” Teriakku sekeras mungkin ketika aku sudah merasa sampai diujung kesabaranku selama 10 hari terakhir ini.
            “Via… dengerin penjelasan aku dulu, Vi…”
            “semuanya udah jelas, kamu dan—“ aku menggantungkan kalimatku lalu melirik tajam kearah Gadis yang sudah jelas-jelas adalah selingkuhan Alvin itu “Dia…” aku menujuk kearah Gadis mungil, berkulit putih dan bermata indah itu.
            “semoga kalian bahagia selalu. Dan dihari ulang tahunku ini, aku Cuma mau minta satu hal sama kamu, Vin… Cuma satu hal…” aku mengacungkan jari ku tepat didepan wajah Alvin. Dengan isakkan yang tak sanggup aku tahan, aku akhirnya melanjutkan perkataanku tadi,
            “jangan pernah kamu sakitin cewek ini, kayak kamu nyakitin aku sekarang. Hiks… cukup aku yang kamu sakitin, cukup aku yang terluka, jangan dia… jangan dia…hhh”
            Aku menggeleng beberapa kali. Air mataku semakin deras menetes. Dan ketika aku akan berbalik pergi, Alvin langsung menahan pergelangan tanganku,
            “Sivia tunggu. Plisss… dengerin aku dulu… aku…. Aku….”
            Dalam satu sentakan kuat, aku langsung melepaskan genggaman tangan Alvin dari pergelangan tanganku. Aku melangkah pergi. Tapi lagi-lagi, Shilla menghalangiku,
            “lo mau kemana, Vi?”
            “lo jangan halangin gue, Shill. Gue tau lo sengaja kan bawa gue ketempat ini supaya gue bisa ngeliat Alvin bermesraan sama selingkuhannya itu? Iya kan, Shill??” tuduhku sengit. Shilla mengernyit, sama sekali tidak paham dengan ucapanku baru saja.
            Lalu tiba-tiba saja seluruh lampu di Restoran itu padam secara bersamaan dalam hitungan detik. Dapat kudengarkan dengan jelas para pengunjung yang mulai panic. Tapi tidak lama kemudian, hening. Aku tidak sedikitpun menangkap suara ditengah kegelapan itu.
            Sebuah lampu sorot menyala diatas panggung kecil yang tersdia diRestoran dengan pemandangan terbuka itu. Lampu sorot itu menyorot seseorang yang tengah berdiri gagah diatas panggung. Aku mengamatai baik-baik Pria yang berdiri diatas panggung itu, ternyata dia adalah….

“janganlah kau tinggalkan diriku….
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa….”

            Alvin menghentikan lagunya, bersamaan dengan itu semua lampupun menyala. Dapat ku lihat dengan jelas semua pengunjung restoran itu termasuk Shilla dan Gadis selingkuhan Alvin tadi berdiri dibawah panggung. Dengan serentak mereka berkata,
            “HAPPY BIRTHDAY, SIVIAAAAAA…..”
            Aku membekap mulutku tak percaya. Apa-apaan ini? Apa ini… oh tidak, aku baru sadar, kalau Alvin dan Shilla… ergh… Sivia bodoh! Kenapa aku bisa percaya begitu saja dengan Alvin?
            “happy birthday, Bie… dan perlu kamu tahu kalo apa yang aku lakuin selama 10 hari terakhir ini Cuma acting. Itu bagian dari rencana ku dan Shilla….” Tutur Alvin sambil menatapku penuh arti. Aku langsung melirik tajam kearah Shilla yang ketika itu malah tersenyum mengejek. 2 kali, 2 kali sudah mereka mengerjaiku. Awas saja nanti! Akan aku balas.
            “dan cewek yang tadi kamu tuduh sebagai selingkuhanku adalah Acha, dia Adik kandungku yang bersekolah diluar negri, tapi hari ini dia pulang ke Indonesia demi menghadiri acara ulang tahun calon Kakak Iparnya…” kali ini aku mengalihkan perhatianku pada Acha. Acha tersenyum ramah padaku. Jujur saja, aku merasa malu padanya.
            Semua pengunjung Restoran yang tadinya berdiri didepan panggung satu persatu pergi dari sana dan kembali ketempat duduk mereka. Tapi sebelum itu, beberapa dari mereka menyerahkan satu tangkai bunga mawar merah untukku. Masing-masing memberiku satu tangkai bunga mawar. Bunga yang aku dapatkan kali ini berjumlah 17 tangkai, sesuai dengan usiaku. Detik ini juga, rasanya aku ingin menghambur kedalam pelukan Alvin. Aku ingin memeluknya seerat mungkin dan tidak ingin melepaskannya lagi. Selamanya.
            “dan ini buat kamu, Bie….”
            Alvin kembali memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang khusus ia persembahkan untukku. Lagu itu mengalun perlahan dan sukses membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“kau begitu sempurna…
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan selalu memujamu

Disetiap langkahku…
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku…
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa…

Kau adalah darahku…
Kau adalah jantungku…
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku
Oh sayangku ku kau begitu…
Sempurna….”

            Sebulir air mataku menetes entah untuk yang keberapa kalinya. Pria ini benar-benar membuatku terharu. Tuhan… terimakasih karna telah engkau kirimkan Pria sebaik Alvin dalam hidupku. Terimakasih Tuhan…

“kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku…
Janganlah kau tinggalkan diriku, takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa…
Kau adalah darahku… kau adalah jantungku…
Kau adalah hidupku lengkapi diriku…
Oh sayang ku kau begitu…..”

            Ribuan kembang api tiba-tiba saja meluncur diatas langit dengan ratusan warna dan berbagai macam bentuk yang begitu indah dan memukau. Semua itu semakin membuatku terpana dan membuatku semakin deras menteskan air mata. Ini perayaan ulang tahun terindah yang pernah aku dapatkan.

“SEMPURNA…..”

            Alvin akhirnya menyelesaikan lagunya lalu menuruni panggung tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dariku. Aku menunggu kedatangan Alvin dengan hati berdebar.
            Setelah menerima kue tart yang diatasnya bertengger angka 17 dari Shilla, Alvin kembali melanjutkan perjalanannya. Ia lalu menghentikan langkahnya ketika sudah tiba dihadapanku,
            “sekali lagi happy birthday ya, Bie? Ayo tiup lilinnya, tapi sebelumnya make a wish dulu, ya?”
            Aku menggeleng beberapa kali dan membuat Alvin mengernyit.
            “aku nggak perlu make a wish lagi, karna detik ini juga semua harapanku sudah berdiri dihadapanku. Aku hanya tinggal meraihnya saja…” ujarku dengan nada suara sedikit bergetar. Aku sedikit berjinjit lalu mendekatkan wajahku dengan wajah Alvin. Dengan gerakan cepat aku mengecup pipi sebelah kiri Alvin. Semua yang menyaksikan adegan super romantic yang aku tunjukan dengan Alvin langsung bertepuk tangan dengan meriahnya.
            Setelah mengecup pipi Alvin, aku pun meniup lilin dengan senyum kebahagiaan yang tersungging diwajahku yang sudah memerah karna menahan tangis dan haru.


^^

            Aku Dan Alvin duduk berdampingan ditepi kolam renang yang dipenuhi oleh lampion. Suasana restoran sudah sangat sepi. Disana hanya ada aku dan Alvin berdua. Hanya kami berdua.
            Restoran itu sendiri adalah restoran milik keluarga Alvin, untuk itulah kami merasa bebas disana tanpa ada satupun yang bisa mengganggu kebersamaan kami. Aku merebahkan kepalaku diatas pundak Alvin, sementara lengan Alvin melingkar dipinggangku dengan erat,
            “udah puas, Bie?” tanyaku pelan,
            “puas kenapa?” Tanya Alvin dengan memasang raut tak berdosa. Kalau saja tidak ingat bahwa Alvin ini adalah pacarku, mungkin sudah sejak tadi aku mendorongnya ke kolam renang.
            “puas udah bisa ngerjain aku sebanyak 2 kali? Dasar jahat!!”
            “hahahaha… owh itu? Lumayan puas sih… tapi semua ini belum ada apa-apanya kok dibandingin sama kejahatan kamu dulu sama Jojo, HHAHAHAHA” kata Alvin sambil tertawa puas. Rupanya ia mulai mencari gara-gara. Aku mencubit pinggang Alvin lalu segera menjauhkan diri darinya. Kenapa juga Alvin masih mengingat yang dulu-dulu?
            “iiihhh… kamu tuh jahat tau nggak? Curang lagi? 10 hari, Vin kamu ngerjain aku, 10 hari! Kamu nggak tau apa kalo selama 10 hari ini yang aku lakuin Cuma nangis, nangis, dan nangis, kamu tuh tega ya?”
            Alvin menarikku perlahan dan membawaku kedalam pelukan hangatnya.
            “kamu fikir aku tega berbuat jahat sama kamu selama 10 hari ini? Nggak, Vi… aku nggak pernah tega, setiap saat rasanya aku ingin berhenti, dan setiap kali ngeliat kamu nangis karna aku, itu rasanya aku mau hajar diri aku sendiri sampe mati, tapi ya… Cuma ini cara satu-satunya yang bisa aku lakuin buat ngasih surprise ke kamu… maafin aku yah?”
            Aku mengangguk beberapa kali lalu membalas pelukan Alvin,
            “tapi aku bahagia malem ini, Vin. Sangat bahagia… makasih ya?” aku mengangkat wajahku lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil pada dagu Alvin. Alvin tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku dengan gemes. Alvin semakin mempererat pelukannya padaku.
            “kamu sadar nggak sih, Vin? kalo yang pas kamu nyamar jadi Jojo itu, ceritanya sama persis kayak di FTV-FTV itu. Terinspirasi dari sana yaa?? Ayo ngakuuuuu….” Sivia mulai menggoda Alvin.
            Alvin berdecak pelan, ia seakan tidak terima dengan ucapan Sivia itu.
            “ngomong apa sih? Aku nggak doyan nonton FTV tau?”
            “terus doyannya nonton apa??”
            “nontonin wajah kamu” ucap Alvin gombal yang langsung dihadiahi oleh sebuah cubitan diperut oleh Sivia.
            “aww…” ringis Alvin yang merasa sedikit kesakitan “kenapa sih kamu hoby banget cubitin perut aku??” lanjut Alvin dengan raut wajah pura-pura sebal.
            “Suka-Suka Via doonggg….”
            Alvin melepaskanku dari pelukannya lalu menatapku penuh arti. Alvin tersenyum tipis,
            “kamu dengerin aku baik-baik ya, Vi…?” Alvin menjawil hidungku lalu melanjutkan perkataannya,
            “apapun itu, yang jelas ini bukan cerita FTV seperti yang kamu bilang, tapi inilah cerita kita berdua. Cerita antara Alvin dan Sivia… Cuma kita berdua, aku dan kamu… understand?”
            Aku hanya mengangguk tanpa melepaskan tatapanku dari Alvin.
            “I love you, Vin…”
            “I love you too… very much…” Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajahku lalu mengecup bibirku perlahan. Aku yang awalnya kaget berusaha menerima ciuman Alvin itu dengan rileks. Aku memejamkan kedua mataku dengan lembut.
            Ketika aku merasa bahwa Alvin semakin memperdalam ciumannya, aku pun memegangi dada Alvin. Tanganku bergerak perlahan lalu melingkar dipundak Alvin.
            Alvin memegangi tengkukku dan terus menciuMku dengan penuh perasaan. Aku miliknya, hanya miliknya. Dan siapapun tidak akan pernah bisa memisahkan kami.
            Salah satu tangan Alvin tiba-tiba saja bergerak perlahan dan meraih tangan kiriku. Aku tersentak ketika tiba-tiba saja aku merasakan Alvin memasangkan sebuah cincin dijari manisku. Aku melepaskan ciumanku dengan Alvin lalu melirik cincin berlian yang sudah bertengger dijari manis sebelah kiriku.
            “Vin… ini?”
            Alvin tersenyum, ia meraih tangan kiriku yang baru saja ia sematkan dengan sebuah cincin berlian. Alvin mengecup tanganku perlahan,
            “mulai hari ini kamu sudah jadi tunangan aku, yang itu berarti kamu sudah terikat denganku. Kamu hanya miliku… hanya milikku…” ucap Alvin penuh kesungguhan.
            Aku kembali ingin menghamburkan air mata. Merasa tidak sanggup lagi menahan rasa haruku, aku pun menghempaskan diriku kedalam pelukan Alvin. Aku memeluk Alvin seerat mungkin, seolah-olah tidak ingin melepaskan lagi.

            “AKU KANGEN JOJO TONGGOS…..”


            Kataku tiba-tiba yang ingin membalas perkataan Alvin tadi menyangkut Jojo. Perkataan ku itu sukses membuat kedua kelopak mata Alvin melebar. Rasakan! Memangnya enak?? HAHAHAHAHA….




                        ~THE END~

0 comments:

Post a Comment