Aku membanting pintu kamar sekeras mungkin
lalu menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Disana aku menumpahkan segala
tangisan juga kekesalanku pada Alvin. Baru 6 bulan yang lalu kami resmi
berpacaran dengan segala keromantisan juga perhatiannya padaku, tapi sekarang
dia malah berubah. Berubah menjadi Alvin yang tidak pernah aku kenal.
Sejak
seminggu yang lalu, aku mulai merasakan perubahan sikap Alvin. Tanpa alasan
yang jelas ia selalu marah-marah padaku, tidak jarang juga Alvin membentakku
dan nyaris melayangkan sebuah tamparan diwajahku. Aku bingung, memangnya aku
pernah buat kesalahan apa hingga membuatnya begitu membenciku.
Aku
benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam fikiran Alvin hingga ia berubah
seperti itu. Dihari pertama, aku mencoba mengerti, tapi hingga hari ketujuh
sikapnya tetap sama padaku hingga akhirnya aku merasa muak. Hari ini adalah
puncak kesabaranku. Rasanya aku ingin menyerah saja dengan hubungan ini. Aku
ingin mundur. Aku ingin terlepas darinya.
Tapi
sekeras apapun keinginanku untuk bisa terlepas darinya, tetap saja aku merasa
tidak sanggup. Aku terlalu mencintainya.
Dengan
tiba-tiba ia datang dalam hidupku, hadir ditengah-tengah kesepian dan
kesendirianku, lalu dengan mudahnya ia mengubah kehidupanku hanya dalam waktu
yang singkat. Ia penuhi hari-hariku dengan cintanya, perhatiannya, juga segala
kebaikannya. Aku fikir semua itu akan berlangsung selamanya hingga nanti
hubungan kami menginjak ke jenjang yang lebih serius lagi. Tapi ternyata….
Keinginan hanya tinggal keinginan, harapan hanya tinggal harapan. Semuanya
pupus bersama rasa kecewaku, menguap dengan segala kesakitanku.
6
bulan. Tidak kurang dari 6 bulan, Alvin kembali menjerumuskan aku kedalam hidup
yang tidak pernah aku inginkan. Tuhan… aku rindu Alvin yang dulu. Sangat
merindukannya.
“Via…”
sama-samar aku mendengar suara Shilla memanggil namaku. Saat itu aku buru-buru
menyeka air mataku. Aku tidak ingin Shilla tahu bahwa ternyata aku sangat
cengeng.
“kenapa,
Shill?” jawabku pelan. aku berusaha keras agar isakkan ku tidak terdengar.
Tetapi
Shilla terlalu pandai untuk bisa aku kelabui. Dia begitu peka dengan
perasaanku, dan selalu memahami apapun keadaanku. Ya… hanya Shilla yang bisa
seperti itu. Untuk itulah aku begitu menyayangi Shilla. Dia sahabat sejatiku.
Aku tidak ingin kehilangan dia. Selamanya.
Shilla
duduk ditepi ranjangku. Ia memegang kedua pundakku lalu menuntunku untuk
bangkit. Aku menunduk saat Shilla mengamati wajahku baik-baik.
“lo
nangis? Karna Alvin?” tanyanya skeptic. Aku diam, tidak menunjukan respon
apapun. Tidak mungkin Shilla tidak tahu tentang masalah ku dengan Alvin. Dia
adalah sepupu Alvin, dan dia begitu dekat dengan Alvin.
“maafin
Alvin, ya?”
“gue
udah terlalu sering maafin dia” aku tersenyum miris.
Aku
dengar Shilla menghela nafas beratnya beberapa saat setelah aku menjawab
perkataannya.
“gue
emang sepupu Alvin, Vi. Tapi kalo dia salah dan nyakitin sahabat gue yang
paling cantik, gue tetep akan nyalahin dia dan ngebelain sahabat gue”
Kali
ini aku mengangkat wajahku lalu menatap Shilla yang saat itu tengah menatapku
sambil tersenyum penuh arti.
“lo
boleh ninggalin Alvin kalo lo mau. Lo boleh putusin dia kalo seandainya lo udah
ngerasa nggak sanggup bertahan sama dia, gue dukung lo, Via. Seribu persen gue
dukung lo”
Ucapan
Shilla barusan malah semakin membuat dadaku terasa tertekan dari segala arah.
Aku sesak, dan nyaris tak bisa lagi menghirup udara disekitarku. Kenapa rasanya
begitu sakit mendengar ucapan Shilla? Sekalipun Alvin menyakitiku berkali-kali,
tetap saja aku merasa tidak sanggup jika harus pergi meninggalkannya dan
melepaskannya begitu saja. Rasa benciku pada Alvin tidak akan pernah mampu
mengalahkan rasa cintaku yang begitu besar terhadapnya. Tuhan aku harus
bagaimana sekarang? Tolong pegangi aku, Tuhan….
Aku
menggeleng beberapa kali. Sebulir air
mataku menetes secara perlahan dan semakin lama semakin deras. Aku menunduk
dalam. Dengan pelan aku berucap lirih,
“nggak
bisa, Shill… gue nggak bisa ngelepasin Alvin. Gue cinta sama Alvin, gue terlalu
mencintai dia, hiks… hiks… gue nggak bisa pergi dari dia, nggak bisa…”
Merasa
tidak tahan melihatku yang terus menangis, Shilla pun akhirnya menarikku
kedalam pelukannya dan mencoba menenangkan aku disana. Sekali lagi aku katakan,
Shilla adalah Sahabat terbaik yang pernah aku punya. Aku beruntung memiliki
dia.
^^
Aku
mencoba melupakan masalahku dengan Alvin. Dan aku berfikir hari ini ingin
berdamai dengannya. Mungkin kami hanya butuh sedikit komunikasi saja. Ya…
sedikit komunikasi saja dan semuanya akan baik-baik saja.
Hari
ini adalah hari minggu. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 04.00 aku sudah terjaga.
Hari ini aku sengaja bangun sepagi
mungkin karna aku ingin membuat sesuatu untuk Alvin. Sesuatu yang mungkin bisa
membuat Alvin tidak marah lagi padaku.
Aku
dengan dibantu oleh Bi Siti, asisten rumah tangga dikediamanku, akhirnya
membuat sebuah blackforest untuk Alvin. Aku sangat tahu bahwa Alvin adalah
pecinta Blackforest. Pernah suatu ketika Alvin memintaku untuk membuatkannya
Blackforest, tapi saat itu aku menolak. Ya mau bagaimana lagi? Aku sama sekali
tidak bisa memasak apalagi membuat Blackforest.
Menanggapi
penolakanku ketika itu, Alvin hanya tersenyum lantas berkata,
“gue
tau suatu saat lo akan bikin buat gue, dan gue akan tunggu”
“kalo
hasilnya nggak enak?”
“gue
akan tetep makan sampe abis”
Aku
tersenyum ketika mengingat memori itu. Tapi mengingat memori itu kembali malah
membuatku merasa kehilangan Alvin, kehilangan Alvin yang dulu. Jika ingat dulu
ia pernah menyamar jadi manusia super aneh bernama Jojo, aku selalu saja ingin
menangis. Sekali lagi, aku sangat merindukan Alvin yang dulu.
Ketika
jarum jam sudah menunjukan pukul 08.05, aku pun segera bergegas untuk pergi
kerumah Alvin. Aku sengaja tidak menelfonnya terlebih dahulu karena aku ingin
memberikannya kejutan dengan hasil ku hari ini. Aku yakin seyakin-yakinnya,
Alvin pasti merasa senang dan bangga karna aku telah berhasil membuatkannya
sebuah blackforest. Ah… aku jadi tidak sabar ingin segera tiba dirumah Alvin
dan memberikannya blacforest yang sudah aku buat kan khusus untuknya ini.
Aku
tersenyum senang dan mengemudikan mobilku dengan riang menuju rumah Alvin yang
jaraknya sudah tidak jauh lagi.
Sekitar
5 menit kemudian tibalah aku dirumah Alvin. Seorang satpam membuka pintu
Gerbang untukku. Semenjak berpacaran dengan Alvin, aku memang sangat sering
bertandan kerumahnya, bahkan Alvin pernah memperkenalkan aku pada kedua orang
tuanya. Dan mengejutkannya lagi ternyata kedua orang tua Alvin menerimaku
dengan tangan terbuka. Mereka menyetujui hubunganku dengan Alvin, dan mereka
juga begitu menyayangiku. Benar-benar bahagia rasanya.
“Pak,
ada Alvin kan?” Tanya ku pada Pak Satpam. Pak Satpam bernama Tarmin itu hanya
mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia pun menjawab,
“ada
Non… tapi masih tidur. Semalem Mas Alvin begadang nonton bola sampe jam 5”
Begadang
lagi? Nonton bola lagi? Akan aku jitak kepalanya nanti. Awas saja!
“kalo
Om sama Tante ada nggak?”
“nggak
ada Non, kemarin sore mereka berangkat ke Denpasar. Biasa urusan pekerjaan”
“oooo…
kalau begitu aku masuk ya, Pak?”
“silahkan
Non…”
Pak
Tarmin membukakan aku pintu mobil. Setelah aku mengangguk dan mengucapkan
terimakasih padanya, aku pun segera memasuki rumah besar itu dengan membawa
sebuah kotak bekal yang berisi blackforest special untuk Alvin.
Didepan
pintu kamar Alvin, aku terdiam sejenak. Aku menghela nafas beberapa kali,
berharap Alvin sudah tidak marah lagi padaku. Setelah mati-matian meyakini hatiku
dan menghilangkan rasa gugup ku, aku menarik knop pintu Alvin lalu membukanya.
Kudapati
Alvin yang ketika itu masih terlelap dibawah selimut tebal yang menutupi
seluruh bagian tubuhnya. Aku tersenyum jengah. Berjalan perlahan menghampiri
tempat tidurnya lalu meletakkan kotak bekal tadi pada meja lampu yang ada
disamping tempat tidur Alvin.
Ragu-ragu
aku menyingkap selimut tebal Alvin hingga menampakkan bagian wajahnya yang
masih terlelap. Aku tersenyum ketika mendapati wajah tampannya yang terlihat begitu
damai ketika ia terlelap.
Perlahan
tangan kananku terangkat lalu bergerak menyentuh pipi mulus Alvin,
“Bie…
bangun dong! Udah pagi, Bie” aku menepuk pelan pipi Alvin, berusaha untuk tidak
menyakitinya sedikitpun, sebagaimana ia menyakitiku dan menyiksa batinku selama
seminggu terakhir ini. Aku tersenyum pahit.
“engghh….”
Ku dengar Alvin melenguh pelan sambil menggeliat. Perlahan ia pun membuka
matanya lalu tersenyum ketika melihatku yang ketika itu sudah duduk dipinggir
tempat tidurnya.
“kamu?”
ucap Alvin setengah kaget lalu bangkit dan duduk diatas tempat tidurnya.
“selamat
pagi, Bie… tebak hari ini aku punya kejutan apa buat kamu!” ujar ku berusaha
terlihat biasa saja. Aku tidak ingin lagi memikirkan masalah yang selama
seminggu ini menyelimuti hubungan kami yang awalnya baik-baik saja.
Alvin
memasang wajah pura-pura berfikir, dan jujur saja, aku merasa sedikit lucu
dengan itu. Sepertinya sikap Alvin sudah kembali normal lagi padaku. Dan aku
berharap ini untuk seterusnya.
“emangnya
kamu bawa apa?” Tanya Alvin penasaran.
Aku
tersenyum penuh misteri. Salah satu tanganku bergerak perlahan mengambil kotak
bekal tadi, dan….
“tadaaa….”
Aku menujukan kotak bekal itu dihadapan Alvin. Kedua alis Alvin bertaut. Ia melirik
sejenak kearah kotak bekal itu lalu mengalihkan lirikannya padaku.
“ini
apa?”
“buka
aja!” aku menyerahkan kotak bekal itu untuk Alvin. Alvin menerimanya dengan
raut wajah yang masih terlihat sedikit heran.
Aku
berdebar ketika mendapati Alvin membuka kotak bekal itu. Dalam hati aku
mewanti-wanti, semoga Alvin suka dengan apa yang aku berikan padanya hari ini.
Akupun sampai harus menahan nafas saat itu. Dan… aku langsung menghela nafas
lega ketika ku dapati Alvin tersenyum saat melihat isi kotak bekal itu.
“blackforest??”
Alvin tersenyum senang. Aku pun hanya mengangguk.
“beli
ditoko kue mana?” Tanya Alvin tiba-tiba sambil melirik nakal kearahku.
Pertanyaan Alvin barusan sukses membuat senyum yang sejak tadi mengembang
diwajahku menghilang seketika tanpa bekas. Aku mengerecutkan bibirku, melipat
kedua tanganku didepan dada, lalu membuang mukaku, enggan melihat wajah Alvin.
Alvin
terkekeh pelan, merasa menang karna telah berhasil mengerjaiku. Tapi aku tidak peduli dengan kekehannya itu. Aku tetap
cemberut dan menampakkan wajah kesal.
Mungkin
karna terlalu gemas melihat ekspresi wajahku, Alvin sampai-sampai mengusap
puncak kepalaku lalu mendorong kepalaku perlahan dan mengecup keningku dengan
sayang. Perlakuan Alvin itu semakin membuatku tidak bisa membenci perlakuannya
selama seminggu terakhir ini padaku.
“makasih
ya Bie udah mau repot-repot bikin ini buat aku?”
“aku
Cuma nggak mau kamu marah-marah lagi tanpa alasan yang jelas sama aku, Bie”
sahutku dengan cepat. Alvin terdiam lalu menunduk dalam. Entah apa yang sedang
ia fikirkan saat ini, aku benar-benar tidak bisa membacanya.
“Bie…”
panggilku pelan. Alvin langsung mengangkat wajahnya lalu tersenyum padaku,
“naik
sini! Duduk disebelahku” ujar Alvin sambil mengulurkan tangannya dihadapanku.
Aku terdiam sejenak sambil mengamati wajah Alvin baik-baik. Alvin tersenyum
lagi,
“ayo
naik” pinta Alvin sekali lagi. Kali ini aku mengangguk lalu melepas sepatu yang
aku kenakan. Ragu-ragu aku naik keatas tempat tidur Alvin lalu duduk
disebelahnya.
Merasa
jarak kami sedikit berjauhan, Alvin berdecak pelan lalu menarik pergelangan
tanganku hingga jarak diantara kami akhirnya terhapus tanpa celah. Aku yang
merasa kaget karna tarikan Alvin terlalu kuat akhirnya menghempaskan kepalaku
tepat didada Alvin. Saat itu aku bisa merasakan bagaimana kencangnya debaran
jantung Alvin yang seakan menggedor dadanya.
“maaf,
ya?” bisik Alvin pelan didepan telingaku.
Aku
membenahi posisiku hingga duduk disamping Alvin. Lengan kekar Alvin melingkar
dengan erat dipundakku. Aku melirik kearah Alvin yang saat itu ternyata sedang
menatapku. Beberapa saat kemudian, Alvin memamerkan senyum mautnya yang sukses
membuat jantungku berdebar 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.
Aku
merasakan kedua pipiku mulai merona. Tidak ingin Alvin melihat itu, aku pun
langsung menunduk dalam. Alvin terkekeh pelan lalu menyentuhkan keningnya
dengan keningku.
“kamu
cantik hari ini. Aku suka” puji Alvin. Alvin hanya tidak tahu saja bahwa
pujiannya itu malah semakin membuat kedua pipiku merona. Rasanya aku ingin
sekali menjitak kepala pria ini agar dia tidak terus-terusan membuat pipi ku
merona seperti ini. Demi apapun itu, rasanya benar-benar tidak nyaman.
“aku
kan udah puji kamu. Sekarang giliran kamu dong, Bie” ujar Alvin dengan nada
menggoda. Kedua alisnya sudah naik turun.
Aku
melirik tak paham kearah Alvin. Tidak peduli sekalipun ia harus melihat kedua
pipiku yang sudah merona karenanya. Alvin tersenyum lebar dan seakan
mengejekku,
“mau
dipuji juga?” tanyaku polos. Alvin menggeleng beberapa kali,
“terus?”
Alvin mendekatkan bibirnya dengan telingaku lalu berbisik pelan.
“kasi
kiss morning”
Aku
membelalak lebar ketika mendengarkan permintaan Alvin itu. Aku sudah ingin
melemparkan protes. Tapi belum sempat aku mengeluarkan protes, Alvin malah
sudah membungkam mulutku dengan sebuah kecupan.
Ups..
Pria ini benar-benar pencuri kelas kakap.
“Bie…”
panggil ku sambil menyudahi perlakuan Alvin dengan cara menjauhkan wajahnya
dari wajahku. Aku memegang wajah Alvin dengan kedua tanganku. Aku tahu Alvin
kesal karna telah menggagalkannya.
“hm?”
“jangan
marah-marah lagi ya? Aku takut kalo kamu marah-marah terus” ujarku dengan nada
setengah memohon. Alvin mengangguk sekali. Entah mendapatkan dorongan dari
mana, Alvin kembali menyentuhkan bibirnya dengan bibirku dan menciumnnya dengan
penuh perasaan.
Kali
ini aku tidak bisa mengelak lagi. Aku pasrah dalam rengkuhannya. Bukankah kami
telah saling memiliki?
^^
Setelah
pagi yang penuh cinta itu aku fikir sikap Alvin akan kembali seperti dulu lagi,
tapi ternyata aku salah. Alvin memang tidak marah-marah lagi, ia juga tidak
pernah berkata kasar lagi padaku, tetapi, semenjak pagi itu aku merasa Alvin
mengacuhkanku. Ia juga selalu menghindariku disekolah.
Tak
jarang aku sering memergokinya sedang menelfon seorang Gadis yang ia panggil
dengan panggilan ‘Cha’. Entahlah, aku tidak tahu siapa Gadis yang ia panggil
dengan panggilan Cha itu. Tapi yang selalu aku dengar, Alvin selalu berbicara
mesra dengannya. Apa Alvin selingkuh dariku? Tapi apa salahku? Apa Alvin
sengaja melakukan semua ini supaya aku membencinya? Apa Alvin sudah bosan
denganku dan ingin mengakhiri hubungan kami ini?
Tepat
dihari ke-10, aku mulai merasa muak. Aku sudah tidak bisa lagi menahan emosiku
yang seakan ingin meledak. Aku memang mencintai Alvin, sangat mencintainya,
tapi bukan berarti Alvin bisa mempermainkan aku dengan seenaknya seperti ini.
Aku juga punya hati, apa Alvin lupa itu?
Emosiku
akhirnya mencapai puncak klimaks dan kesabaran telah menemui batasnya, ketika
aku memergoki Alvin, Pria yang begitu aku cintai tengah duduk berhadapan dengan
seorang Gadis disebuah restoran dengan begitu mesranya. Mereka duduk dipinggir
sebuah kolam renang yang dipenuhi dengan lampion-lampion. Mereka tertawa
bersama, saling menyentuh tangan masing-masing. Pemandangan itu benar-benar
membuatku susah bernafas. Rasanya begitu sesak. Duniapun seakan berhenti
berputar detik itu juga.
Yang
membuatku semakin merasa miris adalah, malam ini adalah malam ulang tahun ku
yang-17. Awalnya aku berfikir Alvin akan memberikan aku sebuah kejutan, tapi
ternyata… Aku mendongak keatas langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang. Aku
berusaha keras menahan air mataku agar tidak terjatuh setetespun.
Ya…
Alvin memang memberikan aku sebuah kejutan, tapi kejutan yang tidak pernah aku
inginkan sebelumnya. Kejutan yang membuatku ingin mati saja rasanya. Sekali
lagi aku bertanya, entah pada siapapun yang menjawab. Aku salah apa hingga
Alvin berbuat seperti ini padaku? Pada hatiku? Rasanya sakit. Perih, begitu
menyayat hati… aku baru tahu bahwa patah hati akan sesakit ini rasanya.
“ALVIN….”
Teriakku memanggil nama Alvin dengan suara memekik. Seluruh perhatian setiap
orang yang ada direstoran itu langsung tertuju kearah meja Alvin.
Air
mataku berlinang dengan begitu derasnya,
“Vi…
Via??” kata Alvin yang seakan tidak percaya dengan kehadiranku.
“kamu
jahat, Vin… kamu…” aku merasa tidak memiliki kekuatan lagi. Bahkan untuk
melanjutkan perkataanku saja rasanya begitu tak sanggup.
“hiks…
hiks… makasih buat surprise nya, Vin… ini… INI KADO ULANG TAHUN TERINDAH YANG
PERNAH AKU DAPETIN SEUMUR HIDUPKU. MAKASIH ALVIN, MAKASIH UNTUK LUKA INI…..”
Teriakku sekeras mungkin ketika aku sudah merasa sampai diujung kesabaranku
selama 10 hari terakhir ini.
“Via…
dengerin penjelasan aku dulu, Vi…”
“semuanya
udah jelas, kamu dan—“ aku menggantungkan kalimatku lalu melirik tajam kearah
Gadis yang sudah jelas-jelas adalah selingkuhan Alvin itu “Dia…” aku menujuk
kearah Gadis mungil, berkulit putih dan bermata indah itu.
“semoga
kalian bahagia selalu. Dan dihari ulang tahunku ini, aku Cuma mau minta satu
hal sama kamu, Vin… Cuma satu hal…” aku mengacungkan jari ku tepat didepan
wajah Alvin. Dengan isakkan yang tak sanggup aku tahan, aku akhirnya
melanjutkan perkataanku tadi,
“jangan
pernah kamu sakitin cewek ini, kayak kamu nyakitin aku sekarang. Hiks… cukup
aku yang kamu sakitin, cukup aku yang terluka, jangan dia… jangan dia…hhh”
Aku
menggeleng beberapa kali. Air mataku semakin deras menetes. Dan ketika aku akan
berbalik pergi, Alvin langsung menahan pergelangan tanganku,
“Sivia
tunggu. Plisss… dengerin aku dulu… aku…. Aku….”
Dalam
satu sentakan kuat, aku langsung melepaskan genggaman tangan Alvin dari
pergelangan tanganku. Aku melangkah pergi. Tapi lagi-lagi, Shilla
menghalangiku,
“lo
mau kemana, Vi?”
“lo
jangan halangin gue, Shill. Gue tau lo sengaja kan bawa gue ketempat ini supaya
gue bisa ngeliat Alvin bermesraan sama selingkuhannya itu? Iya kan, Shill??”
tuduhku sengit. Shilla mengernyit, sama sekali tidak paham dengan ucapanku baru
saja.
Lalu
tiba-tiba saja seluruh lampu di Restoran itu padam secara bersamaan dalam
hitungan detik. Dapat kudengarkan dengan jelas para pengunjung yang mulai
panic. Tapi tidak lama kemudian, hening. Aku tidak sedikitpun menangkap suara
ditengah kegelapan itu.
Sebuah
lampu sorot menyala diatas panggung kecil yang tersdia diRestoran dengan
pemandangan terbuka itu. Lampu sorot itu menyorot seseorang yang tengah berdiri
gagah diatas panggung. Aku mengamatai baik-baik Pria yang berdiri diatas
panggung itu, ternyata dia adalah….
“janganlah
kau tinggalkan diriku….
Takkan
mampu menghadapi semua
Hanya
bersamamu ku akan bisa….”
Alvin
menghentikan lagunya, bersamaan dengan itu semua lampupun menyala. Dapat ku
lihat dengan jelas semua pengunjung restoran itu termasuk Shilla dan Gadis
selingkuhan Alvin tadi berdiri dibawah panggung. Dengan serentak mereka
berkata,
“HAPPY
BIRTHDAY, SIVIAAAAAA…..”
Aku
membekap mulutku tak percaya. Apa-apaan ini? Apa ini… oh tidak, aku baru sadar,
kalau Alvin dan Shilla… ergh… Sivia bodoh! Kenapa aku bisa percaya begitu saja
dengan Alvin?
“happy
birthday, Bie… dan perlu kamu tahu kalo apa yang aku lakuin selama 10 hari
terakhir ini Cuma acting. Itu bagian dari rencana ku dan Shilla….” Tutur Alvin
sambil menatapku penuh arti. Aku langsung melirik tajam kearah Shilla yang
ketika itu malah tersenyum mengejek. 2 kali, 2 kali sudah mereka mengerjaiku.
Awas saja nanti! Akan aku balas.
“dan
cewek yang tadi kamu tuduh sebagai selingkuhanku adalah Acha, dia Adik
kandungku yang bersekolah diluar negri, tapi hari ini dia pulang ke Indonesia
demi menghadiri acara ulang tahun calon Kakak Iparnya…” kali ini aku
mengalihkan perhatianku pada Acha. Acha tersenyum ramah padaku. Jujur saja, aku
merasa malu padanya.
Semua
pengunjung Restoran yang tadinya berdiri didepan panggung satu persatu pergi
dari sana dan kembali ketempat duduk mereka. Tapi sebelum itu, beberapa dari mereka
menyerahkan satu tangkai bunga mawar merah untukku. Masing-masing memberiku
satu tangkai bunga mawar. Bunga yang aku dapatkan kali ini berjumlah 17
tangkai, sesuai dengan usiaku. Detik ini juga, rasanya aku ingin menghambur
kedalam pelukan Alvin. Aku ingin memeluknya seerat mungkin dan tidak ingin
melepaskannya lagi. Selamanya.
“dan
ini buat kamu, Bie….”
Alvin
kembali memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang khusus ia
persembahkan untukku. Lagu itu mengalun perlahan dan sukses membuatku tidak
bisa berkata apa-apa lagi.
“kau
begitu sempurna…
Dimataku
kau begitu indah
Kau
membuat diriku akan selalu memujamu
Disetiap
langkahku…
Ku
kan selalu memikirkan dirimu
Tak
bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah
kau tinggalkan diriku…
Takkan
mampu menghadapi semua
Hanya
bersamamu ku akan bisa…
Kau
adalah darahku…
Kau
adalah jantungku…
Kau
adalah hidupku, lengkapi diriku
Oh
sayangku ku kau begitu…
Sempurna….”
Sebulir
air mataku menetes entah untuk yang keberapa kalinya. Pria ini benar-benar
membuatku terharu. Tuhan… terimakasih karna telah engkau kirimkan Pria sebaik
Alvin dalam hidupku. Terimakasih Tuhan…
“kau
genggam tanganku
Saat
diriku lemah dan terjatuh
Kau
bisikkan kata dan hapus semua sesalku…
Janganlah
kau tinggalkan diriku, takkan mampu menghadapi semua
Hanya
bersamamu ku akan bisa…
Kau
adalah darahku… kau adalah jantungku…
Kau
adalah hidupku lengkapi diriku…
Oh
sayang ku kau begitu…..”
Ribuan
kembang api tiba-tiba saja meluncur diatas langit dengan ratusan warna dan
berbagai macam bentuk yang begitu indah dan memukau. Semua itu semakin
membuatku terpana dan membuatku semakin deras menteskan air mata. Ini perayaan
ulang tahun terindah yang pernah aku dapatkan.
“SEMPURNA…..”
Alvin
akhirnya menyelesaikan lagunya lalu menuruni panggung tanpa sedikitpun mengalihkan
tatapannya dariku. Aku menunggu kedatangan Alvin dengan hati berdebar.
Setelah
menerima kue tart yang diatasnya bertengger angka 17 dari Shilla, Alvin kembali
melanjutkan perjalanannya. Ia lalu menghentikan langkahnya ketika sudah tiba
dihadapanku,
“sekali
lagi happy birthday ya, Bie? Ayo tiup lilinnya, tapi sebelumnya make a wish
dulu, ya?”
Aku
menggeleng beberapa kali dan membuat Alvin mengernyit.
“aku
nggak perlu make a wish lagi, karna detik ini juga semua harapanku sudah
berdiri dihadapanku. Aku hanya tinggal meraihnya saja…” ujarku dengan nada
suara sedikit bergetar. Aku sedikit berjinjit lalu mendekatkan wajahku dengan
wajah Alvin. Dengan gerakan cepat aku mengecup pipi sebelah kiri Alvin. Semua
yang menyaksikan adegan super romantic yang aku tunjukan dengan Alvin langsung
bertepuk tangan dengan meriahnya.
Setelah
mengecup pipi Alvin, aku pun meniup lilin dengan senyum kebahagiaan yang
tersungging diwajahku yang sudah memerah karna menahan tangis dan haru.
^^
Aku
Dan Alvin duduk berdampingan ditepi kolam renang yang dipenuhi oleh lampion.
Suasana restoran sudah sangat sepi. Disana hanya ada aku dan Alvin berdua.
Hanya kami berdua.
Restoran
itu sendiri adalah restoran milik keluarga Alvin, untuk itulah kami merasa
bebas disana tanpa ada satupun yang bisa mengganggu kebersamaan kami. Aku
merebahkan kepalaku diatas pundak Alvin, sementara lengan Alvin melingkar
dipinggangku dengan erat,
“udah
puas, Bie?” tanyaku pelan,
“puas
kenapa?” Tanya Alvin dengan memasang raut tak berdosa. Kalau saja tidak ingat
bahwa Alvin ini adalah pacarku, mungkin sudah sejak tadi aku mendorongnya ke
kolam renang.
“puas
udah bisa ngerjain aku sebanyak 2 kali? Dasar jahat!!”
“hahahaha…
owh itu? Lumayan puas sih… tapi semua ini belum ada apa-apanya kok dibandingin
sama kejahatan kamu dulu sama Jojo, HHAHAHAHA” kata Alvin sambil tertawa puas.
Rupanya ia mulai mencari gara-gara. Aku mencubit pinggang Alvin lalu segera
menjauhkan diri darinya. Kenapa juga Alvin masih mengingat yang dulu-dulu?
“iiihhh…
kamu tuh jahat tau nggak? Curang lagi? 10 hari, Vin kamu ngerjain aku, 10 hari!
Kamu nggak tau apa kalo selama 10 hari ini yang aku lakuin Cuma nangis, nangis,
dan nangis, kamu tuh tega ya?”
Alvin
menarikku perlahan dan membawaku kedalam pelukan hangatnya.
“kamu
fikir aku tega berbuat jahat sama kamu selama 10 hari ini? Nggak, Vi… aku nggak
pernah tega, setiap saat rasanya aku ingin berhenti, dan setiap kali ngeliat
kamu nangis karna aku, itu rasanya aku mau hajar diri aku sendiri sampe mati,
tapi ya… Cuma ini cara satu-satunya yang bisa aku lakuin buat ngasih surprise
ke kamu… maafin aku yah?”
Aku
mengangguk beberapa kali lalu membalas pelukan Alvin,
“tapi
aku bahagia malem ini, Vin. Sangat bahagia… makasih ya?” aku mengangkat wajahku
lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil pada dagu Alvin. Alvin tersenyum lalu
mengusap puncak kepalaku dengan gemes. Alvin semakin mempererat pelukannya
padaku.
“kamu
sadar nggak sih, Vin? kalo yang pas kamu nyamar jadi Jojo itu, ceritanya sama
persis kayak di FTV-FTV itu. Terinspirasi dari sana yaa?? Ayo ngakuuuuu….”
Sivia mulai menggoda Alvin.
Alvin
berdecak pelan, ia seakan tidak terima dengan ucapan Sivia itu.
“ngomong
apa sih? Aku nggak doyan nonton FTV tau?”
“terus
doyannya nonton apa??”
“nontonin
wajah kamu” ucap Alvin gombal yang langsung dihadiahi oleh sebuah cubitan
diperut oleh Sivia.
“aww…”
ringis Alvin yang merasa sedikit kesakitan “kenapa sih kamu hoby banget cubitin
perut aku??” lanjut Alvin dengan raut wajah pura-pura sebal.
“Suka-Suka
Via doonggg….”
Alvin
melepaskanku dari pelukannya lalu menatapku penuh arti. Alvin tersenyum tipis,
“kamu
dengerin aku baik-baik ya, Vi…?” Alvin menjawil hidungku lalu melanjutkan
perkataannya,
“apapun
itu, yang jelas ini bukan cerita FTV seperti yang kamu bilang, tapi inilah
cerita kita berdua. Cerita antara Alvin dan Sivia… Cuma kita berdua, aku dan
kamu… understand?”
Aku
hanya mengangguk tanpa melepaskan tatapanku dari Alvin.
“I
love you, Vin…”
“I
love you too… very much…” Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajahku lalu
mengecup bibirku perlahan. Aku yang awalnya kaget berusaha menerima ciuman
Alvin itu dengan rileks. Aku memejamkan kedua mataku dengan lembut.
Ketika
aku merasa bahwa Alvin semakin memperdalam ciumannya, aku pun memegangi dada
Alvin. Tanganku bergerak perlahan lalu melingkar dipundak Alvin.
Alvin
memegangi tengkukku dan terus menciuMku dengan penuh perasaan. Aku miliknya,
hanya miliknya. Dan siapapun tidak akan pernah bisa memisahkan kami.
Salah
satu tangan Alvin tiba-tiba saja bergerak perlahan dan meraih tangan kiriku.
Aku tersentak ketika tiba-tiba saja aku merasakan Alvin memasangkan sebuah
cincin dijari manisku. Aku melepaskan ciumanku dengan Alvin lalu melirik cincin
berlian yang sudah bertengger dijari manis sebelah kiriku.
“Vin…
ini?”
Alvin
tersenyum, ia meraih tangan kiriku yang baru saja ia sematkan dengan sebuah
cincin berlian. Alvin mengecup tanganku perlahan,
“mulai
hari ini kamu sudah jadi tunangan aku, yang itu berarti kamu sudah terikat
denganku. Kamu hanya miliku… hanya milikku…” ucap Alvin penuh kesungguhan.
Aku
kembali ingin menghamburkan air mata. Merasa tidak sanggup lagi menahan rasa
haruku, aku pun menghempaskan diriku kedalam pelukan Alvin. Aku memeluk Alvin
seerat mungkin, seolah-olah tidak ingin melepaskan lagi.
“AKU
KANGEN JOJO TONGGOS…..”
Kataku
tiba-tiba yang ingin membalas perkataan Alvin tadi menyangkut Jojo. Perkataan
ku itu sukses membuat kedua kelopak mata Alvin melebar. Rasakan! Memangnya
enak?? HAHAHAHAHA….
~THE
END~


0 comments:
Post a Comment