Sivia menghentikan langkahnya ketika ia
melihat sosok Cakka yang saat itu tengah terduduk disamping makam Mamanya
sambil memeluk batu nisan. Sivia membuang mukanya kearah lain sejenak, berusaha
meredam emosinya yang tadi tersulut karna Alvin.
Ia
lalu menyeka sisa air matanya disudut matanya. Sivia tidak ingin Cakka tau
bahwa ia sudah menangis.
“kenapa
Kak Cakka selalu kayak gini?” ucap Sivia tiba-tiba tanpa ia sendiri sadari.
Tapi Cakka yang masih memeluk erat batu nisan Mamanya tetap bergeming. Tidak
mengeluarkan sedikitpun suara. Sivia menghela nafas panjang, entah kenapa
rasanya ia ingin sekali menyalahkan Pria ini. Mungkin hari ini kesabarannya
sudah habis,
“Kakak
bilang, Kakak pengen ngeliat aku bahagia, tapi kenapa Kak Cakka seakan nggak
ngijinin aku buat raih kebahagiaan aku. Kak Cakka tau? Alvin udah nunggu
jawaban aku, tapi Kak Cakka selalu aja mengacaukan semuanya, aku harus gimana
Kak, harus gimana lagi?”
“kenapa
selalu Alvin?” ujar Cakka pelan. Sivia sedikit tersentak,
“Papi
aku pergi ninggalin Mama aku karna kehadiran Alvin, dan sekarang orang yang aku
cintai juga menjauh karna Alvin, kenapa selalu Alvin? Kenapa selalu dia yang
menang? Kenapa selalu dia yang mendapatkan segalanya? Apa aku nggak berhak
bahagia seperti Alvin?”
“Kak,
bukan seperti itu…”
“maafin
aku, Vi, aku egois” Cakka masih memeluk batu nisan itu dan belum mau berbalik
menatap Sivia.
“kenapa
Tuhan nggak panggil aku aja sekalian? Aku capek dengan semua ini, aku capek…”
Sivia
mendekat kearah Cakka, ia duduk disamping Pria itu lalu memegang sebelah
pundaknya. Demi apapun itu, Sivia menyesal telah menyalahkan Cakka.
“Maafin
Via Kak Cakka, Via nggak bermaksud ngomong kasar sama Kak Cakka, maafin Via…”
Lirih Sivia penuh penyesalan.
“kamu
nggak salah Via, Kak Cakka yang salah”
Cakka
berbalik lalu menatap Sivia,
“maaf
karna aku selalu bikin kamu cemas, tapi saat ini aku lagi kalut Via, dan aku
bener-bener butuh kamu, Cuma butuh kamu”
“Kak
Cakka, aku sayang sama Kakak, dan aku nggak mau terus-terusan ngliat Kak Cakka
seperti ini, aku nggak bisa Kak. Bisakan mulai sekarang Kakak terima kenyataan
ini? Walopun aku nggak bisa ngerasain apa yang Kak Cakka rasain sekarang, tapi
aku tahu bahwa betapa berat kenyataan ini buat Kak Cakka hadapi sendiri”
Cakka
menunduk dalam, entah apa yang sedang ia fikirkan sekarang.
“Kak
Cakka musti tahu bahwa saat ini nggak ada satu hal pun yang bisa Kakak lakuin
selain harus belajar nerima kenyataan ini. Kehidupan Kak Cakka masih panjang,
dan didepan sana, masa depan yang cerah udah nungguin Kakak. Kak Cakka harus
berubah”
Kali
ini Cakka mengangkat wajahnya lalu menghujam mata Sivia. Dalam.
“selama
ini Kakak selalu percaya sama aku kan?”
Cakka
mengangguk pelan lalu menjawab “iya, aku Cuma percaya sama kamu”
“kalo
begitu, bisakan mulai sekarang Kakak terima kenyataan ini? Lihat Mami dan Papi
Kak Cakka, mereka sayang sama Kakak, mereka selalu berusaha ngelakuin yang
terbaik buat Kak Cakka meskipun Kak Cakka terkesan menolak kehadiran mereka.
Aku tahu, aku ngerti, Kak Cakka masih sangat dendam sama Om Duta atas kematian
Mamanya Kak Cakka, tapi dendam nggak akan bisa nyelesein semuanya Kak. Setiap
orang pernah ngelakuin kesalahan, entah kesalahan besar, atau kecil, bahkan kesalahan
yang sangat fatal, dan setiap orang juga berhak diberikan kesempatan untuk
memperbaiki kesalahannya termasuk itu Om Duta, Kak…”
“Om
Duta Cuma mau menebus kesalahannya, Cuma itu…”
“apa
dengan Papi menebus semua kesalahannya, Mama aku bisa hidup lagi? Nggak Via,
nggak akan pernah”
“dan
apa dengan Kak Cakka terus-terusan kayak gini Mama Kak Cakka bisa hidup lagi?
Nggak kan Kak?” Tanya Sivia balik. Kali ini Cakka terdiam,
“Kak
Cakka pernah bilang ke aku, bahwa kita hidup harus mengikuti arus, jika kita
melawan arus maka kita akan tenggelam, Kak Cakka benar, aku setuju dengan itu.
Tapi apa Kak Cakka nggak pernah sadar? Bahwa selama ini Kak Cakka hidup melawan
arus, dan saat ini Kak Cakka sedang tenggelam”
“Via—“
“fikirkan
lagi Kak, selama ini Kak Cakka bukannya nggak pernah hidup bahagia. Kalo Kakak
mau tau sebenernya kebahagiaan itu selalu ada buat Kak Cakka, tapi Kak Cakka
yang berusaha menghindari diri dari kebahagiaan itu. Terima semua kenyataan ini
Kak, aku yakin akan ada hal indah yang Kakak dapatkan nanti…”
“tapi
Via, semuanya nggak segampang seperti apa yang kamu fikirin”
“dan
semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
****
Sivia
benar-benar bingung, semenjak hari itu, hari dimana Sivia pergi meninggalkan
Alvin demi Cakka, Alvin tidak pernah lagi menghubunginya. Bahkan dikampus pun
mereka tidak pernah bertemu. Sivia tau Alvin sengaja menghindarinya. Jika ingin
jujur sebenarnya Sivia sangat merindukan Alvin, tapi mau bagaimana lagi? Alvin
selalu menghindarinya. Sivia setengah mati memutar otak, mencari cara bagaimana
supaya Alvin tidak marah lagi padanya.
“Shill
bantuin gue lah” rengek Sivia pada Shilla ketika mereka berdua tengah berjalan
beriringan dikoridor kampus. Shilla hanya menampakkan raut tidak pedulinya.
Shilla
bukannya sengaja tidak peduli pada sahabatnya ini, hanya saja Shilla sudah
benar-benar muak dengan kelakuan Sivia.
“gue
nggak bisa bantuin lo, Vi! Habisnya lo nyebelin sih, tinggal jawab IYA aja
waktu itu kok susah banget?? Sekarang lo nyesel sendiri kan?” khotbah Shilla
seraya terus berjalan. Langkahnya semakin cepat, dan Sivia kewalahan
mengikutinya.
“lo
nggak ngerti sih, posisi gue waktu itu bener-bener sulit Shill”
“tapi
seharusnya lo ngerti perasaan Alvin. Gue tau dulu Alvin pernah buat kesalahan
sama lo, tapi… ergh tau deh”
Sivia
dan Shilla tahu-tahu menghentikan langkah mereka secara bersamaan ketika mereka
melihat Alvin yang waktu itu sedang berjalan sendiri. Alvin berjalan dengan
cueknya, dan tanpa sedikitpun melihat kearah Sivia dan Shilla, Alvin melewati
kedua gadis itu begitu saja.
Mendadak
Sivia merasakan ngilu jauh didalam sana. Ia baru tau rasanya bagaimana
diacuhkan oleh Alvin. Sivia seperti orang yang kalang kabut, tanpa berfikir
panjang lagi, Sivia berbalik lalu mengejar langkah Alvin. Melihat tingkah Sivia
yang lumayan konyol itu, Shilla langsung saja menepuk keningnya sendiri,
“masalah besar nih” gumam Shilla pelan.
“Alvin…!!”
Sivia mencekal lengan Alvin hingga membuat tubuh kekar Pria itu tidak bergerak
lagi.
“lo
masih marah sama gue? Gue tau gue salah sama lo, Vin, gue minta maaf… gue Cuma
mau lo ngertiin gue, itu aja” Sivia menunduk dalam, kedua tangannya masih
menahan lengan Alvin. Rasanya Sivia ingin menghamburkan air matanya dihadapan
Pria ini.
“gue
kangen sama lo, dan gue nggak bisa lo cuekin terus kayak gini” jujur Sivia pada
akhirnya.
Mendengar
ucapan Sivia yang terakhir, Alvin merasakan ada yang lain dengan hatinya.
Entahlah, Alvin sendiri tidak bisa mendefinisikan perasaan itu. Yang jelas, ada
sebuah perasaan lega yang Alvin rasakan jauh didalam sana.
Entah
sadar atau tidak, Alvin melepaskan begitu saja genggaman tangan Sivia yang
menahan lengannya. Alvin berbalik dan telah siap untuk melangkah pergi, tapi
sebelum ia menganyunkan langkahnya, Alvin sempat berkata,
“lo
udah milih Kak Cakka, kan Via?” hanya itu kalimat yang Alvin lemparkan pada
Sivia. Dan kalimat itu benar-benar telak menghantam jantung Sivia hingga
menimbulkan sesak.
“Vin,
gue… gu… gue—“
Sebelum
mendengarkan penjelasan Sivia, Alvin malah sudah pergi. Sementara Sivia, ia
sama sekali tidak bisa melakukan apapun saat ini. Seluruh geraknya seakan mati.
Bahkan Sivia sama sekali tidak sadar ketika Shilla berlari mengejar Alvin.
Entah apa yang akan Shilla lakukan?
Tanpa
sadar, Sivia terduduk. Mendadak ia merasakan sakit dikepalanya. Sulit ia
percaya apa yang telah Alvin lakukan padanya. Apa selama ini Sivia yang
keterlaluan pada Alvin? Apa selama ini bukannya Alvin yang tidak bisa mengerti
Sivia, melainkan Sivia yang tidak bisa mengerti Alvin? Sivia bingung, tidak
tahu harus bagaimana saat ini. Semuanya terlampau sulit, ia hanya ingin Alvin
memaafkannya. Hanya itu.
****
Ketika
sedang mengejar Alvin, Shilla malah menabrak seseorang tanpa sengaja hingga
menyebabkan ia terjatuh hingga terduduk dilantai. Shilla meringis kesakitan,
“aww…”
Beberapa
saat kemudian Shilla melihat sebuah tangan terulur dihadapannya, Shilla terdiam
sejenak, tapi itu tidak lama, karena setelahnya Shilla langsung menerima uluran
tangan itu dan berdiri.
Betapa
terkejutnya Shilla ketika ia melihat seseorang yang telah membantunya berdiri.
Ternyata orang itu adalah Gabriel, Pria yang beberapa hari yang lalu menabrak
mobil Shilla hingga lampu belakangnya hancur.
“Ga…
Gabriel?” Shilla menunjuk kearah Gabriel.
Gabriel
hanya tersenyum lalu mengangguk,
“jadi
lo kuliah disini juga?”
“keliatannya
gimana?” Tanya Gabriel balik. Shilla hanya mengangguk beberapa kali sambil
tertawa pelan. Niatnya untuk mengejar Alvin langsung buyar seketika saat
bertemu dengan Gabriel.
“Jadi
tadi lo lari-larian kenapa?”
“oh
itu?? Itu mau ngejer temen, tapi udah jauh, nanti aja, hehe…” Shilla malah
nyengir. Tiba-tiba Shilla teringat akan sesuatu, ia menepuk pelan keningnya
lalu buru-buru membuka tasnya dan mengambil sesuatu, tidak lama,
“oh
ya, ini kartu kredit lo yang gue pinjem kemarin, makasih ya?” Gabriel menerima
kartu kredit itu lalu berkata,
“lho
kok makasih? Harusnya gue dong ya makasih karna lo udah mau maafin gue”
“oiya
lupa, hehe…”
Gabriel
menggeleng beberapa kali, Gadis yang ada dihadapannya saat ini benar-benar
lucu. Gabriel sampai gemas.
“kita
kan belum kenalan secara langsung, kenalin gue Gabriel, tapi panggil aja Iel”
Shilla
menerima uluran tangan Gabriel lalu menjabatnya erat,
“gue
Shilla” jawabnya Singkat.
“Shilla??
Nama yang cantik” puji Gabriel. Shilla hanya tersipu malu.
“bisa
aja lo!” Shilla menepuk pelan pundak Gabriel.
Mereka
berduapun berjalan beriringan sambil terus mengobrol. Dari obrolan mereka yang
lumayan singkat itu sudah cukup membuat mereka terlihat akrab. Menurut Shilla,
ternyata Gabriel ini orangnya sangat bersahabat, dan Shilla suka dengan orang
yang bersahabat seperti Gabriel ini. Tidak jarang Shilla terpaku ketika melihat
Gabriel yang terus berbicara tanpa henti, dan jika Gabriel menoleh kearahnya,
Shilla buru-buru membuang tatapannya sebelum Gabriel menangkap basah dirinya.
Shilla merasa sudah benar-benar gila, dan Gabriel lah Pria pertama yang
membuatnya merasa gila seperti ini.
Akhirnya
tibalah Gabriel dan Shilla dikantin, mereka duduk berhadapan lalu memesan
makanan. Saat sedang menunggu pesanan, tiba-tiba saja perhatian Shilla tertuju
pada Cincin berlian yang terlingkar dijari manis Gabriel, sadar tidak sadar
Shilla melemparkan sebuah pertanyaan untuk Gabriel,
“itu
cincin pertunangan ya, Yel?”
Gabriel
terkesiap, ia mengangkat tangannya lalu melihat cincin yang terlingkar dijari
manisnya sendiri. Setiap kali melihat cincin itu, Gabriel selalu saja merasa ngilu.
Bahkan ia sendiri bingung bagaimana cincin itu bisa terlingkar dijari manisnya.
Setahun ia mengenakan cincin itu, tapi Gabriel tidak pernah merasa bahwa ia
telah resmi bertunangan.
Melihat
air muka Gabriel yang berubah keruh, Shilla mendadak merasa tidak enak hati, ia
pun segera berinisiatif untuk menarik pertanyaannya,
“pertanyaan
gue salah ya? Ya udah, nggak perlu dijawab” Shilla membuang tatapannya kearah
lain.
Hening.
Beberapa saat kemudian,
“iya,
ini cincin pertunangan”
Shilla
tersenyum pahit saat itu juga.
Shilla
melihat Alvin dan Rio yang ketika itu memasuki kantin. Shilla baru ingat bahwa
tadi ia memiliki niat untuk berbicara dengan Alvin, Shilla ingin membantu Alvin
dan Sivia menyelesaikan masalah mereka. Shilla menatap Gabriel sejenak lalu
pamit,
“Yel,
gue ketemen gue bentar ya? Nanti gue balik lagi, lo tunggu aja!” Gabriel hanya
mengangguk.
Shilla
bangkit dari hadapan Gabriel,
“ALVIN!!!”
Panggil Shilla agak keras lalu berlari menghampiri Alvin dan Rio. Gabriel
langsung terkejut manakala mendengar Shilla menyebut nama Alvin. Alvin?
Gabrielpun buru-buru melempar tatapannya kearah Pria yang tadi Shilla panggil
dengan panggilan Alvin. Kedua mata Gabriel menyipit, ia berusaha memperhatikan
wajah Alvin dengan sebaik mungkin. Benarkah dia Alvin Jonathan? Benarkah dia
Alvin yang ingin Gabriel cari dan dapatkan?
****
Sivia
pulang dari kampus 2 jam lebih cepat. semenjak pertengkarannya dengan Alvin
dikoridor tadi, Sivia malah merasa tidak enak badan. Ia berfikir mungkin
sedikit istarahat saja bisa membuatnya sedikit lebih baik, untuk itulah Sivia
memutuskan untuk pulang lebih cepat. ia terpaksa bolos hari ini.
Sivia
menaiki anak tangga tanpa sedikitpun memperhatikan sekitarnya. Padahal disana
ada Dayat, Abang kesayangannya yang selalu pulang kerumah setiap 3 bulan
sekali. Yah… karna tuntutan pekerjaan Dayat terpaksa harus tinggal terpisah
dari Ayah, Ibu dan kedua Adiknya, Bagas dan Sivia. Sejak 2 tahun yang lalu
Dayat pindah dan menetap di Kota Surabaya.
Setiap
kali Kakaknya pulang, Sivia selalu senang tak alang kepalang, bahkan ia rela
ijin kerja hanya untuk menemani Abangnya itu dirumah, tapi hari ini Sivia
berbeda, dan itulah yang membuat Dayat terheran-heran.
Dayat
melirik sejenak kearah Ibu nya yang saat itu sedang sibuk dengan majalah yang
ada ditangannya, Dayat menatap Ibu dengan kedua alis bertaut, menanggapi
tatapan Dayat itu, Ibu hanya mengangkat kedua bahunya. Rupayanya ia juga tidak
mengerti dengan kelakuan aneh Sivia hari ini.
“Dayat
susul Via bentar ya, Bu” Ibu hanya mengangguk. Dayatpun berlari kecil hendak
menemui Sivia dikamarnya.
Dayat
mendapati Sivia yang ketika itu duduk diatas ranjangnya sembari memperhatikan
sebuah kalung berlian yang ada ditangannya. Dayat menghela nafas panjang, ia
bersandar pada pintu. Cukup dengan melihat kalung itu, Dayat tahu pasti bahwa
Sivia sedang memikirkan Alvin. Dayat tahu betul apa yang terjadi diantara Alvin
dan Sivia, bagaimana tidak tahu, jika hampir setiap malam Sivia selalu
menelponnya untuk sekedar curhat.
“Alvin
lagi?” Tanya Dayat tiba-tiba,
“dia
marah sama aku, Bang…” jawab Sivia tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya
dari kalung yang ada ditangannya. Kalung itu adalah kalung berlian yang dulu
sempat ingin Alvin berikan untuk Pricilla ketika mereka merayakan hari jadi
mereka yang kedua. Tapi sebelum Alvin memberikan kalung itu, Pricilla malah
sudah pergi, dan hingga kini menghilang entah kemana.
“Abang
sudah denger semuanya dari Shilla, sehari sebelum Abang pulang Shilla sempat
menelpon, Shilla bilang waktu Alvin minta jawaban kamu, kamu malah pergi gitu
aja Cuma buat nemuin Cakka”
“tapi
saat itu Kak Cakka lagi butuh aku Bang…”
“tanpa
ngasih Alvin jawaban?”
“Bang—“
Dayat tersenyum tipis lalu melangkah perlahan menghampiri adik Gadis
satu-satunya itu. Dayat duduk dipinggir ranjang Sivia lalu menatap Sivia
seteduh mungkin.
“kamu
nggak bisa bohong, Via, semua tau kamu mencintai Alvin, tapi kenapa kamu malah
harus menunda untuk ngasih jawaban ke dia. Apa susahnya sih kamu kasi dia
kesempatan satu kali lagi buat memperbaiki semua kesalahannya, Abang yakin kok
kalo Alvin itu tulus sama kamu. Sekali lagi Via, sekali lagi….”
“aku
juga tadi udah mau ngasih jawaban, tapi Alvin kayaknya masih marah sama aku,
Bang…” air mata yang sejak tadi Sivia tahan akhirnya berdesakkan keluar. Dayat
masih tetap tersenyum,
“aku
sayang sama Alvin, Bang, aku cinta… aku Cuma mau minta maaf sama dia tadi, tapi
dia… dia—“ Siviapun menghambur kedalam pelukan Kakaknya itu, dengan sigap Dayat
menangkap tubuh mungil Sivia lalu membelai rambut sebahu nya dengan lembut.
“nanti
biar Abang yang ngomong sama Alvin ya? Kamu nggak usah takut!”
“tapi
gimana kalo Alvin tetep nggak mau maafin aku?”
“nanti
Abang yang akan jelasin semuanya, kamu nggak perlu khawatir”
“makasih
ya, Bang?” Dayat hanya mengangguk dan terus berusaha menenangkan Sivia.
****
Alvin
cemas, ia berdiri dengan tidak tenang didepan Gedung Fakultasnya. Saat ini
fikiran Alvin hanya tertuju pada Sivia. Alvin sendiri tidak sadar dengan apa
yang ia lakukan tadi. Alvin benar-benar kalut, dan bodohnya ia malah melukai
Gadis itu tanpa memikirkan perasaannya.
Entah
ini untuk yang keberapa kalinya sudah Alvin melukai Sivia. Alvin sendiri tidak
bisa menghitungnya. Yang jelas sekarang Alvin merasa sangat menyesal, apapun
dan bagaimanapun caranya, Alvin harus minta maaf pada Sivia. Ya harus.
Ketika
Alvin berbalik dan hendak melangkah pergi, seseorang yang wajahnya sangat asing
dalam ingatan Alvin tahu-tahu sudah berdiri dihadapannya dan menghalangi
jalannya. Pria bertubuh jangkung dan berkulit hitam-manis itu menatap Alvin
dengan sebuah senyuman juga tatapan yang sulit terbaca oleh Alvin. Penuh
misteri.
Alvin
menatap Pria itu dengan kedua alis bertaut. Tanpa bertanya terlebih dahulu,
Pria itu tau apa maksud Alvin. Alvin pasti sangat bingung dengan kehadirannya
yang secara tiba-tiba ini, apalagi kan mereka tidak saling mengenal satu sama
lain.
“elo
Alvin bukan? ALVIN JONATHAN??” Tanyanya seakan hafal betul nama Alvin. Alvin
semakin heran, bagaimana bisa Pria ini mengenalinya, bahkan tau nama panjangnya
sementara Alvin sendiri sama sekali tidak mengenalinya.
Untuk
beberapa saat Alvin terpana, tidak lama Alvin langsung mengangguk dan
membenarkan ucapan Pria itu,
“iya,
gue Alvin, Alvin Jonathan. Lo sendiri siapa? Tau gue darimana? Apa kita pernah
ketemu sebelumnya?” Tanya Alvin bertubi-tubi.
Kembali
Pria itu hanya tersenyum penuh misteri. Ternyata ini dia yang namanya Alvin
Jonathan? Tidak sulit juga menemukannya.
“Gue
Gabriel, Gabriel Stevent Damanik. Nanti lo akan tau sendiri siapa gue. Seneng
bisa ketemu sama lo, Alv!” Gabriel tertawa kecil, ia berjalan perlahan melewati
Alvin. Tapi sebelum melewati Alvin, Gabriel sempat menghentikan langkahnya
sejenak lalu menepuk pelan pundak Alvin beberapa kali. Gabriel melanjutkan
langkahnya, meninggalkan Alvin dengan berjuta-juta tanda Tanya yang
sekonyong-konyong menyeruak tanpa ampun dikepalanya.
Pria
itu benar-benar aneh. Alvin menatap punggung Gabriel yang kelamaan menghilang
dari pandangannya dengan tatapan bertanya.
Ditengah-tengah
keheranan Alvin akan sosok Gabriel itu, tiba-tiba saja Handphonenya berbunyi,
ia menerima sebuah telfon dari seseorang. Dan ketika Alvin melihat nama ‘Dayat
Simbaia’ tertera dilayar ponselnya, kedua mata Alvin langsung membelalak lebar,
tidak biasanya Dayat menghubunginya seperti ini? Apa ada sesuatu yang penting?
Apa ini menyangkut Sivia? Sivia? Ada apa dengan Gadisnya itu?
Pertanyaan-pertanyaan
itupun akhirnya mendorong Alvin untuk segera mengangkat telfonnya,
“Hallo,
Bang” sapa Alvin.
“…..”
“ada
emang, Bang?”
“Oke,
oke, gue segera kerumah lo, ya?”
Tuuttt….
Alvin mematikan sambungan telfonnya lalu bergegas keareal parkir untuk
mengambil mobilnya dan segera pergi kerumah Sivia atas permintaan Dayat.
Sepanjang perjalanan Alvin was-was, tidak sedikitpun ia bisa menenangkan
dirinya.
****
Alvin
memberhentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah mewah bercat cokelat dengan
kombansi warna putih. Ya, rumah itu adalah rumah milik Sivia. Tidak ingin
mengulur-ulur waktu lagi, Alvin segera keluar dari dalam mobilnya dan berlari
menyusuri pekarangan rumah Sivia setelah Satpam dirumah itu membuka pintu
gerbang.
Tidak
lama setelah memencet tombol bel rumah Sivia, seseorang pun membuka pintu dan
menyambut kedatangan Alvin dengan sebuah senyuman. Alvin kenal betul seseorang
itu,
“Bang
Dayat, Sivia gimana?” Tanya Alvin cemas.
“udah
agak baikan kok, tadi dikasih obat penurun demam sama Nyokap”
“kalo
gitu boleh gue temuin Sivia?”
“boleh,
tapi setelah lo ngasih pertanggung jawaban ke gue” jawab Dayat dengan sangat
tenang. Alvin hanya mengangguk, ia juga sudah paham apa yang Dayat maksud
dengan ‘pertanggung jawaban’
Dayatpun
mendorong pelan punggung Alvin dengan tangannya lalu masuk kedalam rumah secara
bersamaan.
****
Siang
itu Cakka hanya sendiri dirumah. Mami dan Papi nya tentu saja belum pulang dari
kantor jam segini. Sementara Alvin, paling-paling kelayapan bersama Rio
–setidak itu yang ada dalam fikiran Cakka- Cakka memang sudah sangat terbiasa
dengan suasana sepi seperti ini, dan buat Cakka ini sama sekali tidak jadi
masalah. Malahan ia senang karna tidak ada satupun yang menganggu
ketenangannya.
Ketika
Cakka tengah asyik berkutat dengan layar laptopnya, tiba-tiba saja ia
mendengarkan ada seseorang yang memencet bel.
“Mbak
Ning…. Ada tamu tuh” kata Cakka sambil tetap focus dengan layar yang ada
dihadapannya. Tapi hingga beberapa lama, tidak ada jawaban dari Pelayanya itu
yang biasa ia panggil dengan panggilan Mbak Ning.
Cakka
berdecak kesal, mau tidak mau, suka tidak suka harus tetap ia yang membuka
pintu. Dengan setengah hati Cakka berjalan kearah Pintu.
Cakka
membuka pintu rumahnya, daaann….
“elo?”
ujar Cakka datar.
****
Setelah
berbicara lumayan lama dengan Dayat, Alvin pun segera pergi kekamar Sivia,
tentu saja setelah mendapatkan ijin dari Dayat. Dengan gerakan pelan, Alvin
menarik kenop pintu kamar Sivia lalu mendorongnya. Alvinpun mendapati Sivia
yang saat itu sedang terbaring dengan lemah diatas tempat tidurnya. Dia
benar-benar sakit. Fikir Alvin yang semakin merasa bersalah. Jelas saja ini
semua karenanya.
Alvin
menutup kembali pintu kamar Sivia dan berjalan perlahan kearah tempat tidurnya.
Dengan gerakan yang tidak kalah pelannya, Alvin duduk ditepi ranjang Sivia.
Tangan kananya terangkat lalu menyentuh puncak kepala Sivia. Dengan penuh rasa
bersalah Alvin berkata,
“maafin
gue, Vi, ini semua gara-gara gue” sesal Alvin. Dengan lembut tangan kanannya
pun bergerak mengusap puncak kepala Sivia.
Kedua
mata Sivia tahu-tahu terbuka, tatapan matanya langsung tertumbuk pada kedua
bola mata Alvin yang saat itu tengah menatapnya penuh kasih.
“Vin…”
Sivia bangkit, ia mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Tanpa
Alvin tahu, tangan kanan Sivia menggenggam erat-erat kalung berlian yang
seharusnya sekarang sudah menjadi milik Pricilla jika saja gadis itu tidak
pergi 2 tahun yang lalu.
“nggak
usah bangun, Vi”
“nggak
apa-apa Vin, aku udah nggak apa-apa” ujar Sivia berusaha terlihat baik-baik
saja.
“maafin
aku ya, Vi? Aku sadar tadi aku udah sangat keterlaluan sama kamu” kata Alvin
setelah Sivia terduduk dihadapannya. Sivia menggeleng beberapa kali,
“nggak,
Vin, kamu nggak salah, aku aja yang nggak pernah bisa ngertiin kamu, ini salah
ku, aku yang harusnya minta maaf…”
“dasar
begok! Kenapa sih lo seneng banget nyalahin diri sendiri, ini udah jelas-jelas
salah gue, Via”
Merasa
tidak sanggup lagi menahan segala luapan perasaannya saat ini, Siviapun
menghambur kedalam pelukan Alvin. Ia memeluk Alvin Alvin seerat mungkin, seakan
tidak ingin melepaskan lagi. Hari ini Sivia telah membuat sebuah keputusan, ia
akan memasrahkan hatinya sepenuhnya untuk Alvin. Tidak peduli apa yang akan
terjadi nanti, sekalipun Pricilla kembali lagi seperti apa yang Shilla pernah
katakan dulu, Sivia akan tetap bertahan dengan Alvin. Hari ini ia sudah
benar-benar yakin dengan hati dan perasaan Alvin padanya. Hati itu miliknya,
hanya miliknya, dan bukan milik Pricilla lagi.
“aku
diam bukan berarti aku marah sama kamu, Vi. Sedikitpun aku nggak pernah marah
sama kamu, aku… aku Cuma marah sama diri aku sendiri, marah karna sampe saat
ini aku belum nemuin cara yang pas buat nebus semua kesalahan aku sama kamu,
marah karna aku selalu dan selalu aja nyakitin kamu, marah karna aku selalu
bikin kamu nangis, dan marah karna aku nggak pernah bisa ngertiin kamu, Cuma
itu, dan aku nggak pernah marah apalagi kecewa sama kamu, aku cinta sama kamu,
Via. Sangat mencintai kamu, bahkan lebih dari apa yang kamu tahu…”
“aku
juga, Vin, aku juga….” Sebulir air mata terjatuh membasahi wajahnya.
Tahu-tahu
Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, ia memegang kedua pundak Sivia lalu
menghujam mata Gadis itu sedalam mungkin.
“mulai
sekarang aku nggak akan maksa kamu lagi buat jadi pacar aku, Vi. Dan kalo pun
kamu lebih milih Kak Cakka dari aku, aku ikhlas, Kak Cakka emang sejuta kali
lebih baik dari aku, kamu pantes sama dia” Alvin tersenyum miris saat itu juga.
Perkataan yang ia sendiri ucapkan itu malah menjelma menjadi sebuah senjata
yang balik menyerang dirinya. Alvin terluka oleh ucapannya sendiri.
Sivia
menggeleng beberapa kali, tangan kanannya terangkat lalu menyentuh pipi mulus
Alvin. Sementara air matanya semakin deras menetes,
“nggak
Vin, aku Cuma cinta sama kamu, dan aku nggak milih Kak Cakka, tapi aku milih
kamu, AKU-MILIH-KAMU Alvin, Cuma kamu…” ujar Sivia dengan isakkan tertahan
seraya memberikan penekanan pada beberapa kata.
“Vi…
Via??”
Kali
ini Sivia mengangguk beberapa kali, ia menyeka air matanya lalu tersenyum,
“Iya
Alvin, aku mau… mau jadi pacar kamu, aku mau ngasih kamu kesempatan lagi, aku
mau…”
Alvin
tersenyum senang lalu merengkuh Gadis itu kedalam pelukan hangatnya. Hari ini mereka
telah resmi menjadi sepasang kekasih. Apapun resikonya nanti, Sivia sudah siap
menerimanya, termasuk jika Pricilla kembali lagi dan menuntut Cinta Alvin.
Arah
mata Alvin tiba-tiba saja tertuju pada sebuah kalung berlian yang saat itu
berada dalam genggaman Sivia. Alvin tahu betul bahwa kalung berlian itu adalah
kalung yang dulu pernah ingin ia berikan pada Pricilla dihari jadi mereka yang
kedua, dan seingat Alvin, dulu ia membuang kalung itu entah kemana. Tapi
sekarang bagaimana bisa kalung itu berada dalam genggaman Sivia?
“Via
kalung itu…”
Sivia
sedikit terkejut, ia baru sadar bahwa kalung itu masih berada dalam
genggamannya. Sivia terlihat gelagapan, bingung harus berbuat apa. Entahlah, ia
takut Alvin akan marah besar jika tahu bahwa ternyata ia menyimpan kalung itu
tanpa seijin dari Alvin.
“ka…
kalung ini… ka… kalung ini…. Maaf Vin, maaf karna aku udah simpen kalung ini
tanpa seijin kamu, ta… tapi aku janji, aku bakalan buang kalung ini… aku janji”
Sivia benar-benar takut Alvin akan marah.
Siviapun
menunduk dalam, takut menatap kedua mata Alvin. Sivia tiba-tiba merasakan Alvin
merenggut kalung itu dari genggamannya, Sivia semakin takut. Tapi tidak lama
kemudian, Alvin malah memasangkan kalung itu pada leher Sivia. Kali ini Sivia
mengangkat wajahnya dan memberanikan dirinya menatap mata Alvin,
“Alvin??”
Alvin tersenyum,
“kalung
ini sekarang udah jadi milik kamu, kamu yang berhak atas kalung ini, juga
atas….” Alvin meraih tangan Sivia lalu meletakkannya didada bidang miliknya “juga
atas hati ini” lanjut Alvin sungguh-sungguh.
Sivia
kembali menghambur kedalam pelukan Alvin,
“makasih,
Vin… aku cinta sama kamu….”
“aku
tau, aku juga cinta sama kamu….” Alvin mengecup pipi Sivia dengan lembut.
****
Ujian
itupun datang silih berganti… sanggupkah mereka bertahan dengan cinta yang
mereka miliki? Atau apakah Cinta itu akan menyerah ditangan takdir? Menyerah
begitu saja tanpa perjuangan? tapi apapun itu, kisah mereka telah dimulai hari
ini, Apapun keadaannya Cinta telah memilih…
Setelah
dari rumah Sivia, Alvin pun berniat untuk membawa Sivia kerumahnya untuk
memberitahukan pada kedua orang tuanya bahwa ia dan Sivia telah resmi
berpacaran. Alvin yakin seribu persen, kedua orang tuanya pasti setuju melihat
hubungannya dengan Sivia. Sejak awal, sejak beberapa tahun yang lalu, kedua
orang tua Alvin memang lebih suka melihat Alvin jika bersama Sivia dan bukan
bersama Pricilla.
Melihat
kondisi Sivia yang belum terlalu membaik, sebenarnya Alvin berencana membawa
Sivia kerumahnya itu besok, sepulang mereka dari Kampus, tapi Sivia malah
memaksa. Sivia juga ingin segera bertemu dengan Cakka, memberitahukannya kabar
gembira ini. Tidak sanggup menghadapi keras kepalanya Sivia, Alvin akhirnya
mengalah. Meski sedikit ragu dengan kondisi Sivia, tapi Alvin tetap membawanya
pergi.
“I’m
fine, Alvin!” ujar Sivia dengan mantap yang sukses membuat Alvin luluh.
Akhirnya
setelah selama 7 tahun menunggu, hari ini Sivia resmi juga menjadi milik Alvin.
Sivia bahagia, benar-benar bahagia. Sivia hanya berharap semoga setelah ini
tidak akan ada lagi yang mengusik kebahagiaannya, setidaknya untuk beberapa
waktu saja. Sivia ingin merasakan bagaimana rasanya jadi pemilik tunggal hati
Alvin, hanya itu.
Alvin
menghentikan mobilnya dihalaman rumahnya. Dengan langkah terburu Alvin keluar
dari mobilnya. Ia membukakan pintu mobil untuk Sivia lalu mengulurkan tangannya
dihadapan Gadis itu. Dengan senyum malu-malunya, Sivia menyambut uluran tangan
Alvin.
“Via”
panggil Alvin sebelum mereka memasuki rumah Alvin,
“kamu
yakin bakal ngasih tau Kak Cakka? Apa kamu nggak mau nunggu waktu yang tepat
dulu?”
Sivia
tersenyum tenang lalu menyentuh lembut pipi Alvin,
“sekarang
ataupun nanti keadaannya akan tetap sama. Aku nggak mau Kak Cakka terus
berharap sama aku. Tapi aku yakin, Kak Cakka bisa nerima semua ini dengan
lapang dada. Aku tahu betul gimana Kak Cakka selama ini, Vin…”
Alvin
mengangguk paham. Meski agak sedikit skeptis dengan penuturan Sivia barusan,
tapi Alvin berusaha untuk mempercayainya. Toh selama ini, Cakka memang paling
dekat dengan Sivia. Jadi Alvin tidak perlu lagi meragukan ucapan ‘Gadis’nya
ini.
Alvin
meraih tangan Sivia yang menyentuh pipinya lalu mengecupnya lembut. Alvin
melakukannya agak lama,
“aku
percaya kamu, Vi…”
“iya,
Vin”
Alvin
dan Sivia melanjutkan langkah mereka. Ketika sudah didepan pintu, Alvin
langsung membuka pintu rumahnya tanpa memencet bel terlebih dahulu. Alvin
tertawa pelan lalu mengecup kening Sivia dengan sayang. Mereka benar-benar
bahagia saat ini.
“Sayang!!”
seru seseorang yang tiba-tiba saja menyembul dari dalam rumah Alvin. Alvin dan
Sivia kenal betul siapa Gadis itu. Alvin dan Sivia saling menatap sejenak. Perasaan
Sivia sudah bergemuruh, jantungnya seakan terhantam, hatinya seolah tersayat. Rasa
sesak bercampur dengan perih menyiksa, itulah yang Sivia rasakan saat ini. Bahkan
kedua kakinya melemas, Sivia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri diatas
kedua kakinya sendiri. Jika ia tidak bisa menahan diri, mungkin sudah sejak
tadi ia ambruk ditempat ini.
Gadis
itu –Pricilla- langsung saja menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Alvin tanpa
sedikitpun menghiraukan kehadiran Sivia ditempat itu. Ya… dia telah kembali,
Pricilla telah kembali setelah cukup lama menghilang.
Secara
perlahan, jari jemari Alvin dan Sivia yang tadinya saling bertaut satu sama
lain langsung terlepas begitu saja ketika Pricilla membawanya dirinya kedalam
pelukan Alvin tanpa permisi. Mungkin Alvin masih menganggap semua ini seperti
mimpi, entah itu mimpi buruk atau mimpi paling indah dalam hidupnya, Sivia
tidak tahu pasti.
Yang
bisa Sivia tangkap saat ini hanyalah, Alvin yang berdiri kaku dalam pelukan
Pricilla tanpa sedikitpun membalas pelukan itu. Wajahnya menggambarkan rasa ketidakpercayaan
yang terlihat dengan sangat jelas. Alvin mendadak bisu, tidak tahu bagaimana
harus berucap. Semuanya terlalu mendadak.
“I
Miss you, Alvin… sekarang aku udah kembali, aku nggak akan kemana-mana lagi”
lirih Pricilla dengan suara bergetar.
Pada
akhirnya Sivia terhantam mundur. Pelan tapi pasti ia melangkahkan kakinya dan
meninggalkan rumah itu. Air matanya tidak dapat lagi menetes. Ia menangis bisu
tanpa air mata, dan Sivia tahu itu rasanya sangat menyiksa. Sivia tidak sanggup
menahannya. Mungkin Alvin akan menghempaskannya lagi. Ya… tidak perlu
ditanyakan lagi, hal itu pasti akan terjadi, dan sudah barang tentu Sivia akan
terluka lagi, lagi dan lagi. Dan itu semua karna Pria yang selalu sama, Alvin
Jonathan.
Apa
tadi Sivia terlalu berharap? Apa harapan Sivia terlalu tinggi hingga sekarang
Tuhan menghukumnya? Apa Sivia terlalu serakah?
Sivia
terus berjalan menjauhi rumah Alvin. Tanpa sadar Sivia sudah berjalan lumayan
jauh. Tapi kemudian langkah Sivia tiba-tiba terhenti ketika seseorang
menghalangi jalannya. Sivia memejamkan matanya sejenak, ia tidak memiliki cukup
kekuatan untuk bisa menangkat wajahnya.
Isakkan
Sivia mulai terdengar sama-samar. Kedua pundaknya bergetar hebat. Seseorang yang
tadi menghalangi langkah Sivia itu langsung menarik Sivia kedalam pelukannya
dalam satu gerakan cepat.
“menangislah
semampu mu, menangislah sekeras-kerasnya. Aku disini, Via selalu disini buat
kamu…” bisik Cakka pelan.
Sivia
membalas pelukan Cakka dan menumpahkan segala tangisannya disana. Ini semua
benar-benar kejutan terdahsyat yang pernah ia terima seumur hidupnya. 2
pertanyaan timbul dilubuk hatinya yang terdalam; Apakah ini hanya ujian? Ataukah
semua ini sudah menjadi bagian dari takdirnya? Mencintai tanpa pernah bisa
memiliki. Miris.
BERSAMBUNG….

