Setelah menempuh Ujian Kenaikan Kelas
selama 8 hari, akhirnya Ujian Kenaikan Kelas berakhir juga. Sekarang saatnya
untuk menikmati Class meeting sebagai hari santai menjelang pembagian rapor
minggu depan.
Selama 8 hari ini belakangan ini,
Sivia masih berusaha menghindari Cakka. Cakka pun tidak banyak bicara. Ia hanya
ingin berusaha mengerti Sivia supaya Sivia tidak semakin kecewa terhadapnya.
Dengan lapang dada, Cakka berusaha menerima semua sikap dingin Sivia padanya.
Inilah resiko yang harus Cakka tanggung karna telah lancang mencintai
sahabatnya sendiri.
Sabtu pagi, tiba-tiba saja Sivia
dikagetkan oleh Telfon dari Rafli. Rafli mengatakan bahwa kemarin Alvin
mengalamin kecelakaan dan sekarang sedang dirawat jalan dirumah Singgah. Sivia
yang shock langsung buru-buru pergi kerumah singgah.
Pantas saja selama beberapa hari
terakhir ini Alvin tidak pernah menampakkan dirinya dihadapan Sivia. Ternyata dia
kecelakaan, dan kata Rafli parah.
Sivia cemas. Ia juga takut
membayangkan bagaimana keadaan Alvin saat ini.
Sivia mengemudikan mobilnya dengan
kecepatan yang lumayan tinggi. Ia tidak peduli seberapa nekadnya ia saat ini,
yang ia tahu adalah ia harus segera melihat kondisi Alvin.
“begok lo Kunyuk! Kenapa bisa
kecelakaan? Kenapa juga harus dirawat dirumah singgah? Kenapa nggak dirawat
dirumah sakit aja? Iihhh…. Begok begok begok….” Rutuk Sivia tanpa henti. Jika sampai
terjadi sesuatu pada Alvin, Sivia pasti akan merasa sangat menyesal karna
belakangan ini ia terus saja mengacuhkan Alvin.
Handphone Sivia berdering. Ia
menerima sebuah panggilan masuk dari seseorang. Ragu-ragu, Sivia mengangkat
telfon itu, entah dari siapa…
“ha… hallo….”
^_^
Cakka mondar mandir didalam kamarnya
seraya memegangi handphonenya. Semalam Cakka telah membuat sebuah keputusan
hati, dan pagi ini Cakka berencana akan menjalankan keputusannya itu.
Cakka tahu, ini adalah keputusan
terberat yang pernah ia ambil. Tapi biar bagaimanapun Cakka harus memutuskan
sesuatu untuk hatinya. Cakka tidak ingin selamanya terus terjebak dalam kondisi
ini.
Jika Cakka tidak bisa membebaskan
dirinya sendiri dari keadaan ini, lalu siapa lagi yang akan membebaskannya?
Maka dari itu Cakka harus bertindak.
Setelah bosan mandir mandir tidak
karuan didalam kamarnya, Cakka akhirnya memutuskan untuk menelpon seseorang. Ia
membuka handphonenya lalu mencari sebuah nama pada Contact Listnya. Setelah
menemukan nama yang ia cari, Cakka langsung menekan tombol hijau untuk
menghubungi seseorang itu.
“Hallo….” Beberapa saat kemudian,
Cakka mendengarkan sebuah suara berat menjawab panggilannya,
“…..”
“maafin gue ya karna sikap gue tempo
hari?”
“…..”
“makasih. Oya, gue mau ketemu sama
lo? Boleh?”
“…..”
“ada sesuatu yang mau gue omongin
sama lo. Penting!”
“…..”
“di Café biasa aja”
“…..”
“gue jemput ya?”
“……”
“ooo… lo ada urusan dulu? Ya udah
gue pergi duluan ke café, nanti lo nyusul aja!”
“…..”
“iya, gue tungguin ya? Oya, sekali
lagi makasih karna lo udah mau maafin gue”
“…..”
Pembicaraan itu akhirnya selesai
setelah seseorang disebrang sana memutuskan panggilan. Saat itu Cakka langsung
menghela nafas lega. Hari ini juga, ia harus membereskan masalahnya. Apapun
resikonya, Cakka akan menerima. Ini adalah pilihannya, dan Cakka berjanji akan
bertahan dengan pilihannya ini sampai kapanpun itu.
^_^
Sudah beberapa hari terakhir ini,
Farish tidak menemukan Denita yang seperti biasanya. Farish merasa ada sesuatu
yang ganjal dari sikap Denita belakangan ini. Denita terkesan menghindarinya
dikantor, dan jika Farish mengajak untuk keluar, Denita selalu saja menolak
dengan berjuta-juta alasan yang entah dari mana datangnya.
Farish merasa sesuatu yang tidak beres
pasti sedang terjadi. Dan Farish yakin seribu persen, ini semua pasti ada
hubungannya dengan Alvin.
“Nita, kita bisa bicara sebentar?”
ucap Farish sehati-hati mungkin pada Denita yang saat itu tengah focus dengan
layar monitor yang menampilkan MS. Excel.
“aku lagi sibuk, Mas! Nanti saja”
“baik kalau kamu tidak mau. Aku akan
bicara disini. Sekarang juga!”
“terserah Mas” kata Denita yang
masih saja sibuk dengan pekerjaannya.
“belakangan ini entah kenapa aku
merasa, ada sesuatu ganjil dari sikap kamu, dan aku merasa sanksi dengan semua
itu”
“begitu kah?”
“Nita tolong, jujurlah! Aku ingin
semuanya jelas, Nita. Aku tidak ingin seperti ini. Atau… apa ada sesuatu yang
kamu ketahui?” ada keraguan dari nada pertanyaan yang Farish lemparkan pada
Denita.
Denita terdiam. Ia menghentikan
pekerjaannya sejenak. Perkataan Farish baru saja membuat Denita yakin bahwa
Farish tahu sesuatu tentang hubungan Alvin dan Sivia selama ini. Dan Denita
kecewa karna Farish tidak mau terbuka padanya.
Denita menghela nafas beratnya. Rasa
perih itu kembali mencabik jantungnya tanpa ampun. Denita menatap Farish
lekat-lekat,
“apa maksud Mas? Aku tau sesuatu?
Apa yang aku ketahui? Atau apa jangan-jangan Mas yang mengetahui sesuatu selama
ini dan tidak pernah terbuka padaku?”
“Ni… Nita…?” Farish tersentak
mendengarkan ucapan Denita. Ternyata ia sudah membocorkan rasahasianya sendiri.
Denita mengangguk paham beberapa
kali. Dalam hatinya ia telah memilih.
“Mas tahu? Bahwa tidak ada satu
halpun yang lebih membahagiakan bagi seorang Ibu, ketika melihat Puteri yang
sangat dia cintai melebihi nyawanya
sendiri bisa selalu tersenyum bahagia? Dan apa Mas tahu? Bahwa tidak hal yang
paling menyakitkan bagi seorang Ibu, ketika melihat puterinya menanggung sakit
sendiri karna rela berkorban demi kebahagiaan Mamanya?”
Denita menggeleng beberapa kali,
kedua matanya mulai memerah menahan tangis,
“aku tidak ingin Puteri ku seperti
itu, Mas. Aku tidak ingin Puteriku berkorban demi kebahagiaanku, bukan seperti
itu yang aku mau. Seharusnya aku sebagai Ibunya yang berkorban, bukan anakku….”
Sebulir air mata Denita terjatuh membasahi wajahnya.
“jadi Alvin yang sudah mengatakan
semuanya padamu, iya?”
Sekali lagi Denita menggeleng. Ia
menyeka air matanya lalu tersenyum,
“Alvin anak yang baik, Mas. Jujur
aku sangat menyayangi dia bahkan sejak pertama kali aku melihat dia. Tidak tau
kenapa rasanya, aku ingin berbuat banyak hal pada Alvin, aku ingin memberikan
dia kebahagiaan entah dengan cara apapun. Mungkin Alvin tidak pernah tulus
kepadaku, tapi yang aku tau aku sangat menyayangi dia seperti aku menyayangi
anak-anakku sendiri. Dan apa Mas…. Tidak ingin melakukan sesuatu untuk Alvin?”
Farish tercenung mendengarkan ucapan
terakhir Denita. Dalam diam ia mulai menyadari bahwa selama ini Ia tidak pernah
berusaha melakukan sesuatu demi kebahagiaan Alvin. Tidak sekalipun….
^_^
Sivia membanting pintu mobilnya lalu
berlari menyusuri halaman rumah singgah yang cukup luas itu. Sivia merasakan
jantungnya berdegub kencang. Ia terlalu takut dengan segala kemungkinan buruk
yang mungkin terjadi pada Alvin.
Sivia berusaha meyakinkan hatinya.
Alvin baik-baik saja, Alvin pasti baik-baik saja!
Setelah menghafas panjang lalu
menghembuskannya, dengan yakin Sivia mengayunkan langkahnya memasuki rumah
singgah.
Pemandangan didalam rumah singgah
yang Sivia dapati sangat tidak sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya
tadi. Semula Sivia berfikir, bahwa seisi rumah singgah sedang bersedih karna
keadaan Alvin, namun apa yang Sivia lihat sekarang benar-benar jauh dari
bayangannya.
Anak-anak rumah singgah malah
terlihat tengah asyik bercengkrama bersama Rizky dan Dayat. Bahkan Rafli yang
tadi pagi menelfonnya dengan nada suara ketakutan penuh kecemasan sekarang
malah tertawa lebar. Ada apa ini? Apa yang salah?
“Kak Via….” Ujar Cindai yang baru
menyadari kehadiran Sivia.
Sivia berjalan perlahan mendekati
perkumpulan anak-anak itu. Melihat kehadiran Sivia, raut wajah Rafli langsung
berubah drastic.
“K… Kak Alvin mana?” Tanya Sivia
pelan penuh tekanan.
“Kak Alvin….?” Tanya Novi, Sivia
mengangguk,
“ooo… Kak Alvin ada—“
“ada yang nyariin gue ternyata” ucap
seseorang yang ternyata adalah Alvin.
Alvin tahu-tahu muncul disamping
Sivia dengan raut tanpa dosanya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun Alvin merangkul
pundak Sivia. Sivia terdiam dalam bisu. Ternyata Alvin hanya mengerjainya saja?
Tapi kenapa rasanya harus sesakit ini?
“Ciyeeee…. Yang khawatir banget sama
gue. Ciyeee… makanya jangan sok jaim sama gue! Sekarang giliran lo dapet kabar
kalo gue kecelakaan lo malah cemas kayak gini, dan oh Tuhan….” Ucap Alvin sok
menyesal. Ia memegang wajah Sivia dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya
hingga berhadapan dengan wajahnya,
“lo sampe nangis? Hahaha… lucu
banget sih lo, Jelek, iiihhhh….” Ucap Alvin gemes seraya menjawil pipi chubby
Sivia.
Sivia berusaha meredam rasa sakit
itu, tapi tidak bisa. Ia merasa dipermainkan oleh Alvin. Dan menurut Sivia
lelucon ini sangat tidak lucu.
Semua yang ada dalam ruangan itu
langsung tertawa lepas ketika melihat tingkah Alvin dan Sivia. Sivia masih
terdiam, belum mau mengeluarkan sepatah katapun.
“hahaha…. Emangnya enak gue
kerjain?” semuanya ikut tertawa bersama Alvin.
Sivia memejamkan matanya untuk
beberapa saat. Tidak lama kemudian, Sivia menurunkan kedua tangan Alvin dari
wajahnya,
“CUKUP ALVIN!! CUKUP” Kata Sivia tak
tahan. Ia nyaris berteriak diruangan itu.
Semuanya terdiam, termasuk Alvin. Ia
menatap Sivia heran.
“udah puas lo ngeliat gue cemas
kayak gini? Udah puas lo permainin perasaan gue? UDAH PUAS??”
“Vi… Via lo marah?” Tanya Alvin tak
percaya.
“terus lo fikir gue harus gimana?
Seneng dengan lelucon murahan lo yang nggak mutu ini?? Lo hampir bikin gue mau
mati karna cemas, Alvin. Sakit Alvin, sakitttt, gue sakit dipermainin terus
sama lo…” Sivia menekan dadanya untuk menteralisir rasa sesak itu. Tapi
usahanya tidak membuahkan hasil apapun. Sesak itu semakin gencar menyiksanya.
Kemarahan Sivia saat ini adalah
akumulasi dari semua kesakitannya selama ini. Sivia merasa sudah tidak tahan
lagi menahan semuanya. Beban ini terlalu berat untuk ia tanggung sendiri. Sivia
lelah, benar-benar lelah.
“gue udah capek kayak gini terus,
Alvin, gue muak. LO TAU GUE UDAH MUAK”
“Via gue Cuma becanda. Come on!!”
Alvin berusaha menyentuh pundak
Gadis itu. Tapi sebelum tangan Alvin mendarat dipundaknya, Sivia buru-buru
menepis tangan Alvin.
“jangan sentuh gue lagi! Mulai
sekarang, detik ini juga, gue nggak mau ngeliat muka lo lagi, Alvin. GUE BENCI
SAMA LO YANG SELALU BIKIN GUE SAKIT KAYAK GINI, GUE BENCI SAMA LO YANG SELALU
KERAS KEPALA DAN MAKSAIN KEHENDAK LO SAMA GUE. Gue udah capek! Dan asal lo tau,
GUE NYESEL PERNAH KENAL DAN JATUH CINTA SAMA LO, GUE NYESEL!!!”
Sivia tahu pasti, bahwa apa yang
baru saja ia ucapkan sama sekali tidak sesuai dengan kata hatinya. Sivia
melakukan semua ini hanya untuk membuat Alvin menjauh. Sivia tidak memiliki
cara lain lagi selain cara ini. Ini cara terbaik dan cara terakhir satu-satunya
yang Sivia punya. Berat memang, tapi Sivia harus bisa. Demi Mamanya, demi
kebahagiaan Mamanya.
“akhirnya sekarang gue udah sampe
dititik jenuh Alvin, batas kesanggupan gue habis hari ini juga. Dan gue mohon
sama lo, tolong lupain gue, lupain semua kenangan kita, lupain kalo kita pernah
bersama, lupain semua tentang gue dan kita, dan sekali lagi gue mohon dengan
sangat sama lo, TOLONG LEPASIN GUE, ALVIN. LEPASIN GUE, PLEASE!!!” Air mata
yang sejak Sivia tahan akhirnya menetes juga mengiringi kepedihan hatinya yang
sudah mencapai puncak klimaks.
Sivia menyaka air matanya, ia
berusaha kuat dengan pilihan yang saat ini ambil. Mungkin awalnya akan terasa
sangat berat bagi Sivia, tapi Sivia yakin, lambat laun ia pasti akan merasa
terbiasa dengan pilihannya ini.
“gue pamit, Vin! Gue masih ada
urusan lain”
Sivia berbalik dan pergi. Alvin
membiarkannya begitu saja dan tidak berusaha sedikitpun untuk menahan kepergian
Sivia. Perkataan-perkataan Sivia tadi sudah cukup membuat jantungnya terasa remuk.
Alvin mengenggam kuat jemari tangannya,
dalam hati ia berkata,
‘ini
nggak fair buat gue, Sivia Azizah, sama sekali nggak fair… tapi hari ini lo
sudah terlanjur nantangin gue, dan gue terima tantangan lo…”
^_^
Malam minggu kali ini Sivia pergi ke
bukit sendiri tanpa Cakka. Dan ini adalah malam minggu pertama yang Sivia
lewati tanpa Cakka dibukit. Jika boleh jujur sebenarnya Sivia sangat merindukan
Cakka. Tapi mau bagaimana lagi? Hatinya masih merasa tak sanggup jika harus
bertemu dengan Cakka. Sivia masih butuh waktu.
Sivia memejamkan matanya dengan
lembut, sejak kejadian pagi tadi dirumah singgah, sejak itulah Sivia merasa
perih setiap kali ia menghelakan nafas. Rasanya Sivia ingin mati saja.
Kesakitan ini terlalu menyiksa baginya.
Sivia menangis bisu tanpa air mata. Ia
sudah lelah, benar-benar lelah hingga akhirnya menyerah. Bahkan rasanya
menangis pun tak akan membuatnya merasa lebih baik.
“gue capek dicuekin sama lo. Kita
damai aja ya, Vi….?” Ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk disamping
Sivia.
Mendengar suara yang begitu familiar
dipendengarannya itu, Sivia langsung membuka kedua matanya yang tadi terpejam
dan menoleh kesamping. Dia –Cakka- langsung menyambut Sivia dengan sebuah
senyuman, senyuman termanis dan terbik yang pernah ia punya.
Entahlah, Sivia tidak yakin dengan
dugaannya ini, tapi ia melihat saat ini Cakka Nampak begitu bahagia. Bukan
hanya bahagia, tapi sangat bahagia.
“Kka….” Panggil Sivia pelan,
“maafin gue ya, Vi?” ujar Cakka
tulus.
Sivia menggeleng beberapa kali,
“nggak Kka, lo nggak salah, gue yang
egois, selama ini gue—“
“sttt….” Sela Cakka ditengah-tenha
ucapan Sivia “jangan lo lanjutin, Vi! Sejak lo tau semuanya tentang perasaan
gue, sejak saat itu gue mutusin buat nggak akan lagi bahas masalah ini. Via…”
Cakka meraih tangan Sivia lalu mengenggamnya erat,
“bisa kan kita lupakan semuanya? Gue
nggak bisa lo cuekin kayak gini, bener-bener nggak bisa….”
Sivia yang tidak kuasa menahan isak
tangisnya akhirnya menangis juga. Ia baru menyadari sekarang bahwa ternyata
selama 8 hari terakhir ini ia sudah berbuat banyak kesalahan pada Cakka. Tidak
seharusnya Sivia membenci Cakka hanya karna Cakka diam-diam menyimpan rasa
padanya. Tidak, Sivia sama sekali tidak berhak melakukan itu.
Cakka tersenyum tenang. Beberapa
saat kemudian Cakka membuka lebar kedua tangannya lantas berkata pada Sivia,
“butuh pelukan??”
Sivia mengangguk berkali-kali, air
matanya semakin deras menetes. Beberapa saat kemudian Sivia menghempaskan
dirinya kedalam pelukan Cakka. Dengan sigap Cakka menangkap tubuh Sivia lalu
merengkuh erat tubuh mungil Si Bawel itu.
“hiks… hik… hiks… maafin gue, Cakka,
maafin gue, hiks..hiks…hiks….”
“nggak apa-apa, Vi, nggak apa-apa
okey?”
“gue sayang sama lo, gue nggak mau
kehilangan lo, Cakka maafin gue.. hiks… hiks.. hikss…”
“sttt… nggak usah nangis lagi! Masa
udah mau naik kekelas 12 masih cengeng aja? Malu sama Bintang….” Bisik Cakka
pelan seraya membelai lembut rambut panjang Sivia.
Sivia tidak berkata apa-apa, ia
semakin mempererat pelukannya pada Cakka. Sivia tidak ingin kehilangan Cakka
lagi. Entah untuk alasan apapun. Cakka adalah sahabat sejatinya, sampai
kapanpun akan terus menjadi sahabat sejatinya.
“lo nggak capek apa mewek terus?
Udah jelek makin jelek lo nanti” ledek Cakka seraya terkekeh pelan.
Sivia langsung cemberut dan
melepaskan pelukannya dari Cakka. Sebisa mungkin Sivia berusaha bersikap wajar
dihadapan Cakka.
“rese lo!!”
“hahahaha…..” Cakka tertawa kencang,
tangan kanannya bergerak lalu mengacak gemes poni Sivia.
“Via, gue ada good news buat lo”
“apa?”
“tapi jangan kaget ya??”
“emang apa?”
Cakka terdiam sejenak. Ia melirik
nakal kearah Sivia yang semakin membuat Sivia merasa penasaran dengan kabar apa
yang akan Cakka sampaikan padanya.
“Via… gue…. Sama Agni—“ Cakka
menggantungkan kalimatnya.
Salah satu alis Sivia terangkat.
Heran.
“elo sama Agni….??” Lanjut Sivia,
“gue sama Agni udah…. Jadian….”
“WHAT?? JADIAN???” Cakka mengangguk
pasti.
Sivia kaget. Ia tidak menyangka
sebelumnya bahwa Cakka akan jadi dengan Agni. Sivia senang bukan main. Ini
adalah kabar paling menggembirakan yang pernah ia dengar.
“Kapan Cakka? Kapan?” Tanya Sivia
antusias.
“baru tadi siang” jawab Cakka
sekenanya.
“WAAHHHH…. CAKKA SELAMAT YA??”
Sivia kembali menghambur kedalam
pelukan Cakka. Ia senang tak alang kepalang dengan kabar yang Cakka sampaikan.
“tapi gue berharap lo ngelakuin
semua ini bukan karna—“
“eits…. Jangan geer lo!” sela Cakka
sebelum Sivia melanjutkan lebih jauh ucapannya. Cakka melepaskan pelukannya
dari Sivia.
Cakka menatap Sivia seteduh mungkin.
Beberapa saat kemudian Cakka melayangkan sebuah toyoran pelan dikening Sivia,
“aw…” ringis Sivia pelan,
“gue ngelakuin ini bukan karna lo
atau karna siapapun, tapi…. Karna diri gue sendiri. Oke, saat ini gue mungkin
belom bisa menyayangi Agni dengan sepenuh hati gue, tapi gue akan berusaha. Dan
gue…. Akan buktiin sama lo kalo gue bisa cepet move on dari lo, hehehe….”
“apaan sih, Kka…?”
“HAHAHAHAHAHA……”
Bukankah semuanya harus tetap
berjalan seperti seharusnya? Dan Cakkapun telah menetapkan pilihan yang tepat.
Cakka yakin akan bisa bertahan dengan pilihannya ini juga dengan…. Agni. Sebuah
Bintangpun terjatuh seakan merestui pilihan yang Cakka tetapkan.
“CAKKAAAA…. PEJE NYA JANGAN
LUPAAA!!!!!”
“ARGH… BERISIK LO BAWEL!!!”
^_^
Setelah merasa lelah melampiaskan
emosinya dengan cara memberantakan dan melempar semua barang-barang yang ada
dikamarnya, Alvinpun terduduk lesu didepan ranjangnya. Entah ini untuk yang
keberapa kalinya Sivia memberinya luka, Alvin tidak ingat pasti. Yang Alvin tau
hanyalah, ini adalah luka terperih yang pernah Sivia hadiahkan padanya.
Alvin mengerang putus asa. Tangannya
yang terkepal penuh amarah ia pukulkan pada lantai hingga menimbulkan memar
yang lumayan parah ditangannya. Tapi Alvin tidak perduli, luka memar
ditangannya sama sekali tidak sebanding dengan luka yang telah Sivia torehkan.
Bagi Alvin, ini masih tidak apa-apanya.
Flash
Back Alvin;
Alvin memiringkan
posisi wajahnya sedikit, dan saat bibirnya nyaris menyentuh bibir Sivia,
Alvinpun menghentikan pergerakan wajahnya. Tanpa dia sendiri sadari, kedua
matanya menulusuri setiap lekuk kecantikan paras Sivia dalam jarak yang amat
sangat dekat, dan ternyata gadis ini lumayan mempesona. Alvin tersenyum kecil.
Setelah selama 5 detik menatap keindahan Gadis Bawel itu, Alvin pun berbisik
pelan tepat didepan wajah Sivia,
“sayang, gue nggak
berminat sama sekali buat nyium cewek kayak lo. GUE NGGAK TERTARIK…”
Alvinpun langsung
bangkit dari atas Sivia dan keluar begitu saja dari dalam kamarnya. Sivia
membuang nafas kesal beberapa kali. Sivia mengubah posisinya yang semula
berbaring menjadi duduk. Sivia menatap benci kearah Alvin yang saat itu nyaris
menghilang diambang pintu.
“KUNYUK RESEEEEEE…..!!!
NYEBELIN, NGESELIN…. AAAAAAA” Teriak Sivia sekencang-kencangnya lalu melempar 2
buah bantal kearah pintu.
**
“dasar jelek! Nyari
gaun sama sepatu yang pas buat lo aja susahnya minta ampun. Gini nih kalo cewek
jelek, mau di pake’in apapun tetep aja nggak matching” cibir Alvin, dan untuk
beberapa saat kemudian langsung memamerkan senyum sinisnya.
Sivia mendesis kesal. Dan tanpa
babibu lagi langsung menjitak kepala Alvin.
“wadaw… sakit Jelek!” ringis Alvin.
“suruh siapa lo ngeledek gue??”
Tanya Sivia sinis.
“emang faktanya kayak gitu” Alvin
semakin mencibir.
Sivia membuang nafas kesal. Ok,
terserah si Kunyuk ini saja mau berkata apapun. Sivia tidak akan peduli sama
sekali. Yang terpenting sekarang bagi Sivia adalah kemana Alvin akan
membawanya. Sivia berusaha mendinginkan kepalanya yang sejak tadi sudah sangat
panas gara-gara ulah menyebalkan Alvin.
“sebenernya maksud dan tujuan lo apa
sih ngajakin gue kesini? Terus pake beli gaun sama sepatu segala?”
Alvin tersenyum sinis.
“malem ini lo jadi pacar gue ya?”
pertanyaan Alvin itu kontan saja membuat Sivia kaget setengah mati.
**
Alvin
mengangkat dagu Sivia hingga saat ini posisi wajah mereka sejajar satu sama
lain. Alvin tersenyum pada Sivia untuk beberapa lama lalu meraih kedua
tangannya dan menggenggamnya seerat mungkin. Dengan gerakan pelan, Alvin
mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Kedua mata Alvinpun terpejam, dan
disaat yang bersamaan Sivia juga memejamkan matanya lantas berjinjit untuk menjangaku
posisi Alvin saat ini. Alvin dan Sivia pun akhirnya menghapus jarak diantara
mereka.
Beberapa detik kemudian, Alvin dan
Sivia kembali menjauhkan posisi wajah mereka. Kedua pipi chubby Sivia sudah
benar-benar merah padam saat ini. Sivia menunduk malu seraya menyelipkan anak
rambutnya dibelakang telinga. Sementara Alvin, ia hanya menatap Sivia dengan
pandangan yang benar-benar tidak bisa diartikan. Alvin tersenyum nakal lantas
berkata,
“ada yang bilang, kalo lo keliatan
sangat cantik saat lo malu-malu kayak sekarang ini…” goda Alvin yang semakin
membuat kedua pipi chubby Sivia bersemu merah.
“gue sayang lo, Jelek!” bisik Alvin
pelan didepan telinga Sivia.
**
Menyadari
itu, Alvin langsung bergerak cepat, ia mendorong tubuh Sivia hingga terjatuh
ketanah. Semuanya terjadi begitu cepat, pisau lipat itu menghunus perut Alvin
hingga mengeluarkan banyak darah. Preman itu menarik kembali pisau lipat dari
perut Alvin.
Secara perlahan Alvin jatuh
bersimpuh dihadapan preman itu. Sivia langsung berteriak histeris,
“ALVIINNNNNNNNN!!!”
“Begok, kenapa lu tusuk dia??” Tanya
Preman yang satunya lagi dengan penuh emosi,
“gue nggak sengaja!!”
“ya udah, sekarang cepet kita
pergi!!”
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
kedua preman itu langsung melarikan diri.
Sivia yang masih sangat shock
merangkak menghampiri Alvin yang saat itu sudah bersimbah darah.
“Vin….” Panggil Sivia dengan
linangan air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipi chubby nya.
Sivia mengangkat sedikit punggung
Alvin yang ketika itu sudah tergeletak ditanah, Siviapun menopang kepala Alvin
dengan lengannya.
“kenapa lo lakuin ini, Vin,
kenapaa??”
“elo nggak apa-apa kan?” Tanya Alvin
dengan sisa-sisa tenaga yang coba ia kumpulkan sekuat ia mampu. Sivia
menggeleng beberapa kali,
“begok! Kenapa lo malah tanyain
keadaan gue?”
“ma… maafin gu.. gue yaa? Ta… tadi
gue Cuma becanda…”
“kalo sampe terjadi apa-apa sama lo,
gue nggak akan maafin lo, gue benci sama lo, Kunyuk, gue benciiii…”
Alvin menggeleng pelan,
“enggak… nggak akan terjadi apa-apa sama
gue. Gu.. gue akan ba… ik-baik a…ja… gu… gue ja.. janji…”
“Kunyuk… kita baru sehari jadian,
tapi kenapa sekarang lo malah kayak gini? Kenapa??”
Tangan lemah Alvin terangkat secara
perlahan lalu mendarat tepat dipipi sebelah kiri Sivia, Alvin tersenyum,
“gue… ci… cinta sama lo Je… lek…”
itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan dalam
dekapan hangat Sivia.
Sivia memeluk erat-erat tubuh Alvin
lantas berteriak sekeras-kerasnya….
“ALVIIINNNNNNNNN……. JANGAN TINGGALIN
GUEEEEE…….”
**
Alvin
mengangkat tangan kananya secara perlahan, sementara tangan yang satunya lagi
masih melingkar pada pinggang Sivia. Alvin mendaratkan tangannya tepat pada
pipi chubby Sivia,
“Jelek… gue cinta sama lo,
bener-bener cinta…” ucap Alvin pelan. Sivia menunduk dalam. Entah kenapa setiap
kali Alvin mengatakan bahwa dia mencintainya, hati Sivia selalu bergetar hebat.
Meskipun Alvin tidak hanya sekali menyatakan perasaannya, dan meskipun kata
cinta itu meluncur berkali-kali dari bibir Alvin, hati Sivia tetap bergetar
mendengarkannya.
Sivia mengangkat wajahnya lalu
melingkarkan kedua tangannya pada leher Alvin. Dengan berani Sivia menantang
tatapan Alvin,
“gue juga cinta banget sama lo,
Nyuk. Meskipun lo rese, lo nyebelin, lo ngeselin, gue tetep cinta sama lo. Dan
justru sifat-sifat nyebelin lo itu yang bikin gue cinta sama lo…”
“Jelek, apa lo mau tau sesuatu?”
Tanya Alvin tiba-tiba,
“apa?”
“hari ini gue jatuh cinta lagi untuk
yang semilyar kalinya sama cewek yang sama. Sama cewek terjelek sejagad raya…”
Hening untuk beberapa saat. Tidak
lama kemudian, Alvin dan Sivia sama-sama mendekatkan wajah mereka
masing-masing. Semakin lama semakin dekat hingga kini kening serta hidung
mereka bersentuhan satu sama lain. Sivia tersenyum malu-malu. Saat ini Sivia benar-benar
tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya. Sivia bahagia, benar-benar
bahagia.
Alvin memiringkan posisi wajahnya
lantas memejamkan kedua matanya. Dan saat bibir Alvin menyentuh bibirnya dengan
lembut, Sivia tergetar. Ia pun memejamkan matanya lantas membalas ciuman lembut
Alvin. Ini pertama kalinya Sivia membalas ciuman Alvin.
Dan ketika Alvin semakin memperdalam
ciumannya, Sivia seolah merasa bahwa kedua kakinya tidak berpijak dibumi lagi.
Alvin telah membawanya terbang jauh menembus langit ketujuh.
~FlashBack
Off~
Tangis Alvin akhirnya pecah juga
setelah mengingat semua kenangannya bersama Sivia. Rasanya begitu sakit sekali
saat ingatan tentang kebersamaan mereka berpendar kembali diingatannya. Alvin
tidak peduli seberapa cengengnya ia saat ini, yang Alvin tau hanyalah, ia
sangat merindukan Si Jelek itu dan menginginkan Si Jelek itu kembali lagi
kedalam pelukannya.
Ditengah kekalutannya saat ini,
Alvin meraih handphonenya lalu mencari nomer seseorang yang ingin ia jadikan
sebagai pelampiasan. Jahat memang, tapi saat ini Alvin sedang membutuhkan
pelampiasan untuk mengurangi rasa sakit didadanya.
“Hallo Pricill…”
“…..”
“iya ini gue Alvin…”
“…..”
“gue mau lo jadi pacar gue”
Tanpa menunggu jawaban dari
Pricilla, Alvin langsung saja mematikan sambungan telfonnya. Alvin tidak butuh
jawaban, karna Alvin sudah tau pasti bahwa Pricilla tidak akan pernah
menolaknya. Semua tahu bagaimana Pricilla begitu menginginkan Alvin.
Pricilla telah menjadi pelampiasan
Alvin. Entah akan sampai kapan, Alvin tidak pernah tahu….
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment