Sunday, July 7, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 27 "Sebuah Titik Jenuh"







                Setelah menempuh Ujian Kenaikan Kelas selama 8 hari, akhirnya Ujian Kenaikan Kelas berakhir juga. Sekarang saatnya untuk menikmati Class meeting sebagai hari santai menjelang pembagian rapor minggu depan.
            Selama 8 hari ini belakangan ini, Sivia masih berusaha menghindari Cakka. Cakka pun tidak banyak bicara. Ia hanya ingin berusaha mengerti Sivia supaya Sivia tidak semakin kecewa terhadapnya. Dengan lapang dada, Cakka berusaha menerima semua sikap dingin Sivia padanya. Inilah resiko yang harus Cakka tanggung karna telah lancang mencintai sahabatnya sendiri.
            Sabtu pagi, tiba-tiba saja Sivia dikagetkan oleh Telfon dari Rafli. Rafli mengatakan bahwa kemarin Alvin mengalamin kecelakaan dan sekarang sedang dirawat jalan dirumah Singgah. Sivia yang shock langsung buru-buru pergi kerumah singgah.
            Pantas saja selama beberapa hari terakhir ini Alvin tidak pernah menampakkan dirinya dihadapan Sivia. Ternyata dia kecelakaan, dan kata Rafli parah.
            Sivia cemas. Ia juga takut membayangkan bagaimana keadaan Alvin saat ini.
            Sivia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Ia tidak peduli seberapa nekadnya ia saat ini, yang ia tahu adalah ia harus segera melihat kondisi Alvin.
            “begok lo Kunyuk! Kenapa bisa kecelakaan? Kenapa juga harus dirawat dirumah singgah? Kenapa nggak dirawat dirumah sakit aja? Iihhh…. Begok begok begok….” Rutuk Sivia tanpa henti. Jika sampai terjadi sesuatu pada Alvin, Sivia pasti akan merasa sangat menyesal karna belakangan ini ia terus saja mengacuhkan Alvin.
            Handphone Sivia berdering. Ia menerima sebuah panggilan masuk dari seseorang. Ragu-ragu, Sivia mengangkat telfon itu, entah dari siapa…
            “ha… hallo….”

^_^

            Cakka mondar mandir didalam kamarnya seraya memegangi handphonenya. Semalam Cakka telah membuat sebuah keputusan hati, dan pagi ini Cakka berencana akan menjalankan keputusannya itu.
            Cakka tahu, ini adalah keputusan terberat yang pernah ia ambil. Tapi biar bagaimanapun Cakka harus memutuskan sesuatu untuk hatinya. Cakka tidak ingin selamanya terus terjebak dalam kondisi ini.
            Jika Cakka tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari keadaan ini, lalu siapa lagi yang akan membebaskannya? Maka dari itu Cakka harus bertindak.
            Setelah bosan mandir mandir tidak karuan didalam kamarnya, Cakka akhirnya memutuskan untuk menelpon seseorang. Ia membuka handphonenya lalu mencari sebuah nama pada Contact Listnya. Setelah menemukan nama yang ia cari, Cakka langsung menekan tombol hijau untuk menghubungi seseorang itu.
            “Hallo….” Beberapa saat kemudian, Cakka mendengarkan sebuah suara berat menjawab panggilannya,
            “…..”
            “maafin gue ya karna sikap gue tempo hari?”
            “…..”
            “makasih. Oya, gue mau ketemu sama lo? Boleh?”
            “…..”
            “ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo. Penting!”
            “…..”
            “di Café biasa aja”
            “…..”
            “gue jemput ya?”
            “……”
            “ooo… lo ada urusan dulu? Ya udah gue pergi duluan ke café, nanti lo nyusul aja!”
            “…..”
            “iya, gue tungguin ya? Oya, sekali lagi makasih karna lo udah mau maafin gue”
            “…..”
            Pembicaraan itu akhirnya selesai setelah seseorang disebrang sana memutuskan panggilan. Saat itu Cakka langsung menghela nafas lega. Hari ini juga, ia harus membereskan masalahnya. Apapun resikonya, Cakka akan menerima. Ini adalah pilihannya, dan Cakka berjanji akan bertahan dengan pilihannya ini sampai kapanpun itu.

^_^

            Sudah beberapa hari terakhir ini, Farish tidak menemukan Denita yang seperti biasanya. Farish merasa ada sesuatu yang ganjal dari sikap Denita belakangan ini. Denita terkesan menghindarinya dikantor, dan jika Farish mengajak untuk keluar, Denita selalu saja menolak dengan berjuta-juta alasan yang entah dari mana datangnya.
            Farish merasa sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi. Dan Farish yakin seribu persen, ini semua pasti ada hubungannya dengan Alvin.
            “Nita, kita bisa bicara sebentar?” ucap Farish sehati-hati mungkin pada Denita yang saat itu tengah focus dengan layar monitor yang menampilkan MS. Excel.
            “aku lagi sibuk, Mas! Nanti saja”
            “baik kalau kamu tidak mau. Aku akan bicara disini. Sekarang juga!”
            “terserah Mas” kata Denita yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya.
            “belakangan ini entah kenapa aku merasa, ada sesuatu ganjil dari sikap kamu, dan aku merasa sanksi dengan semua itu”
            “begitu kah?”
            “Nita tolong, jujurlah! Aku ingin semuanya jelas, Nita. Aku tidak ingin seperti ini. Atau… apa ada sesuatu yang kamu ketahui?” ada keraguan dari nada pertanyaan yang Farish lemparkan pada Denita.
            Denita terdiam. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak. Perkataan Farish baru saja membuat Denita yakin bahwa Farish tahu sesuatu tentang hubungan Alvin dan Sivia selama ini. Dan Denita kecewa karna Farish tidak mau terbuka padanya.
            Denita menghela nafas beratnya. Rasa perih itu kembali mencabik jantungnya tanpa ampun. Denita menatap Farish lekat-lekat,
            “apa maksud Mas? Aku tau sesuatu? Apa yang aku ketahui? Atau apa jangan-jangan Mas yang mengetahui sesuatu selama ini dan tidak pernah terbuka padaku?”
            “Ni… Nita…?” Farish tersentak mendengarkan ucapan Denita. Ternyata ia sudah membocorkan rasahasianya sendiri.
            Denita mengangguk paham beberapa kali. Dalam hatinya ia telah memilih.
            “Mas tahu? Bahwa tidak ada satu halpun yang lebih membahagiakan bagi seorang Ibu, ketika melihat Puteri yang sangat  dia cintai melebihi nyawanya sendiri bisa selalu tersenyum bahagia? Dan apa Mas tahu? Bahwa tidak hal yang paling menyakitkan bagi seorang Ibu, ketika melihat puterinya menanggung sakit sendiri karna rela berkorban demi kebahagiaan Mamanya?”
            Denita menggeleng beberapa kali, kedua matanya mulai memerah menahan tangis,
            “aku tidak ingin Puteri ku seperti itu, Mas. Aku tidak ingin Puteriku berkorban demi kebahagiaanku, bukan seperti itu yang aku mau. Seharusnya aku sebagai Ibunya yang berkorban, bukan anakku….” Sebulir air mata Denita terjatuh membasahi wajahnya.
            “jadi Alvin yang sudah mengatakan semuanya padamu, iya?”
            Sekali lagi Denita menggeleng. Ia menyeka air matanya lalu tersenyum,
            “Alvin anak yang baik, Mas. Jujur aku sangat menyayangi dia bahkan sejak pertama kali aku melihat dia. Tidak tau kenapa rasanya, aku ingin berbuat banyak hal pada Alvin, aku ingin memberikan dia kebahagiaan entah dengan cara apapun. Mungkin Alvin tidak pernah tulus kepadaku, tapi yang aku tau aku sangat menyayangi dia seperti aku menyayangi anak-anakku sendiri. Dan apa Mas…. Tidak ingin melakukan sesuatu untuk Alvin?”

            Farish tercenung mendengarkan ucapan terakhir Denita. Dalam diam ia mulai menyadari bahwa selama ini Ia tidak pernah berusaha melakukan sesuatu demi kebahagiaan Alvin. Tidak sekalipun….


^_^

            Sivia membanting pintu mobilnya lalu berlari menyusuri halaman rumah singgah yang cukup luas itu. Sivia merasakan jantungnya berdegub kencang. Ia terlalu takut dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada Alvin.
            Sivia berusaha meyakinkan hatinya. Alvin baik-baik saja, Alvin pasti baik-baik saja!
            Setelah menghafas panjang lalu menghembuskannya, dengan yakin Sivia mengayunkan langkahnya memasuki rumah singgah.
            Pemandangan didalam rumah singgah yang Sivia dapati sangat tidak sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya tadi. Semula Sivia berfikir, bahwa seisi rumah singgah sedang bersedih karna keadaan Alvin, namun apa yang Sivia lihat sekarang benar-benar jauh dari bayangannya.
            Anak-anak rumah singgah malah terlihat tengah asyik bercengkrama bersama Rizky dan Dayat. Bahkan Rafli yang tadi pagi menelfonnya dengan nada suara ketakutan penuh kecemasan sekarang malah tertawa lebar. Ada apa ini? Apa yang salah?
            “Kak Via….” Ujar Cindai yang baru menyadari kehadiran Sivia.
            Sivia berjalan perlahan mendekati perkumpulan anak-anak itu. Melihat kehadiran Sivia, raut wajah Rafli langsung berubah drastic.
            “K… Kak Alvin mana?” Tanya Sivia pelan penuh tekanan.
            “Kak Alvin….?” Tanya Novi, Sivia mengangguk,
            “ooo… Kak Alvin ada—“
            “ada yang nyariin gue ternyata” ucap seseorang yang ternyata adalah Alvin.
            Alvin tahu-tahu muncul disamping Sivia dengan raut tanpa dosanya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun Alvin merangkul pundak Sivia. Sivia terdiam dalam bisu. Ternyata Alvin hanya mengerjainya saja? Tapi kenapa rasanya harus sesakit ini?
            “Ciyeeee…. Yang khawatir banget sama gue. Ciyeee… makanya jangan sok jaim sama gue! Sekarang giliran lo dapet kabar kalo gue kecelakaan lo malah cemas kayak gini, dan oh Tuhan….” Ucap Alvin sok menyesal. Ia memegang wajah Sivia dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya hingga berhadapan dengan wajahnya,
            “lo sampe nangis? Hahaha… lucu banget sih lo, Jelek, iiihhhh….” Ucap Alvin gemes seraya menjawil pipi chubby Sivia.
            Sivia berusaha meredam rasa sakit itu, tapi tidak bisa. Ia merasa dipermainkan oleh Alvin. Dan menurut Sivia lelucon ini sangat tidak lucu.
            Semua yang ada dalam ruangan itu langsung tertawa lepas ketika melihat tingkah Alvin dan Sivia. Sivia masih terdiam, belum mau mengeluarkan sepatah katapun.
            “hahaha…. Emangnya enak gue kerjain?” semuanya ikut tertawa bersama Alvin.
            Sivia memejamkan matanya untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian, Sivia menurunkan kedua tangan Alvin dari wajahnya,
            “CUKUP ALVIN!! CUKUP” Kata Sivia tak tahan. Ia nyaris berteriak diruangan itu.
            Semuanya terdiam, termasuk Alvin. Ia menatap Sivia heran.
            “udah puas lo ngeliat gue cemas kayak gini? Udah puas lo permainin perasaan gue? UDAH PUAS??”
            “Vi… Via lo marah?” Tanya Alvin tak percaya.
            “terus lo fikir gue harus gimana? Seneng dengan lelucon murahan lo yang nggak mutu ini?? Lo hampir bikin gue mau mati karna cemas, Alvin. Sakit Alvin, sakitttt, gue sakit dipermainin terus sama lo…” Sivia menekan dadanya untuk menteralisir rasa sesak itu. Tapi usahanya tidak membuahkan hasil apapun. Sesak itu semakin gencar menyiksanya.
            Kemarahan Sivia saat ini adalah akumulasi dari semua kesakitannya selama ini. Sivia merasa sudah tidak tahan lagi menahan semuanya. Beban ini terlalu berat untuk ia tanggung sendiri. Sivia lelah, benar-benar lelah.
            “gue udah capek kayak gini terus, Alvin, gue muak. LO TAU GUE UDAH MUAK”
            “Via gue Cuma becanda. Come on!!”
            Alvin berusaha menyentuh pundak Gadis itu. Tapi sebelum tangan Alvin mendarat dipundaknya, Sivia buru-buru menepis tangan Alvin.
            “jangan sentuh gue lagi! Mulai sekarang, detik ini juga, gue nggak mau ngeliat muka lo lagi, Alvin. GUE BENCI SAMA LO YANG SELALU BIKIN GUE SAKIT KAYAK GINI, GUE BENCI SAMA LO YANG SELALU KERAS KEPALA DAN MAKSAIN KEHENDAK LO SAMA GUE. Gue udah capek! Dan asal lo tau, GUE NYESEL PERNAH KENAL DAN JATUH CINTA SAMA LO, GUE NYESEL!!!”
            Sivia tahu pasti, bahwa apa yang baru saja ia ucapkan sama sekali tidak sesuai dengan kata hatinya. Sivia melakukan semua ini hanya untuk membuat Alvin menjauh. Sivia tidak memiliki cara lain lagi selain cara ini. Ini cara terbaik dan cara terakhir satu-satunya yang Sivia punya. Berat memang, tapi Sivia harus bisa. Demi Mamanya, demi kebahagiaan Mamanya.
            “akhirnya sekarang gue udah sampe dititik jenuh Alvin, batas kesanggupan gue habis hari ini juga. Dan gue mohon sama lo, tolong lupain gue, lupain semua kenangan kita, lupain kalo kita pernah bersama, lupain semua tentang gue dan kita, dan sekali lagi gue mohon dengan sangat sama lo, TOLONG LEPASIN GUE, ALVIN. LEPASIN GUE, PLEASE!!!” Air mata yang sejak Sivia tahan akhirnya menetes juga mengiringi kepedihan hatinya yang sudah mencapai puncak klimaks.
            Sivia menyaka air matanya, ia berusaha kuat dengan pilihan yang saat ini ambil. Mungkin awalnya akan terasa sangat berat bagi Sivia, tapi Sivia yakin, lambat laun ia pasti akan merasa terbiasa dengan pilihannya ini.
            “gue pamit, Vin! Gue masih ada urusan lain”
            Sivia berbalik dan pergi. Alvin membiarkannya begitu saja dan tidak berusaha sedikitpun untuk menahan kepergian Sivia. Perkataan-perkataan Sivia tadi sudah cukup membuat jantungnya terasa remuk.
            Alvin mengenggam kuat jemari tangannya, dalam hati ia berkata,

            ‘ini nggak fair buat gue, Sivia Azizah, sama sekali nggak fair… tapi hari ini lo sudah terlanjur nantangin gue, dan gue terima tantangan lo…”


^_^

            Malam minggu kali ini Sivia pergi ke bukit sendiri tanpa Cakka. Dan ini adalah malam minggu pertama yang Sivia lewati tanpa Cakka dibukit. Jika boleh jujur sebenarnya Sivia sangat merindukan Cakka. Tapi mau bagaimana lagi? Hatinya masih merasa tak sanggup jika harus bertemu dengan Cakka. Sivia masih butuh waktu.
            Sivia memejamkan matanya dengan lembut, sejak kejadian pagi tadi dirumah singgah, sejak itulah Sivia merasa perih setiap kali ia menghelakan nafas. Rasanya Sivia ingin mati saja. Kesakitan ini terlalu menyiksa baginya.
            Sivia menangis bisu tanpa air mata. Ia sudah lelah, benar-benar lelah hingga akhirnya menyerah. Bahkan rasanya menangis pun tak akan membuatnya merasa lebih baik.

            “gue capek dicuekin sama lo. Kita damai aja ya, Vi….?” Ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk disamping Sivia.
            Mendengar suara yang begitu familiar dipendengarannya itu, Sivia langsung membuka kedua matanya yang tadi terpejam dan menoleh kesamping. Dia –Cakka- langsung menyambut Sivia dengan sebuah senyuman, senyuman termanis dan terbik yang pernah ia punya.
            Entahlah, Sivia tidak yakin dengan dugaannya ini, tapi ia melihat saat ini Cakka Nampak begitu bahagia. Bukan hanya bahagia, tapi sangat bahagia.
            “Kka….” Panggil Sivia pelan,
            “maafin gue ya, Vi?” ujar Cakka tulus.
            Sivia menggeleng beberapa kali,
            “nggak Kka, lo nggak salah, gue yang egois, selama ini gue—“
            “sttt….” Sela Cakka ditengah-tenha ucapan Sivia “jangan lo lanjutin, Vi! Sejak lo tau semuanya tentang perasaan gue, sejak saat itu gue mutusin buat nggak akan lagi bahas masalah ini. Via…” Cakka meraih tangan Sivia lalu mengenggamnya erat,
            “bisa kan kita lupakan semuanya? Gue nggak bisa lo cuekin kayak gini, bener-bener nggak bisa….”
            Sivia yang tidak kuasa menahan isak tangisnya akhirnya menangis juga. Ia baru menyadari sekarang bahwa ternyata selama 8 hari terakhir ini ia sudah berbuat banyak kesalahan pada Cakka. Tidak seharusnya Sivia membenci Cakka hanya karna Cakka diam-diam menyimpan rasa padanya. Tidak, Sivia sama sekali tidak berhak melakukan itu.
            Cakka tersenyum tenang. Beberapa saat kemudian Cakka membuka lebar kedua tangannya lantas berkata pada Sivia,
            “butuh pelukan??”
            Sivia mengangguk berkali-kali, air matanya semakin deras menetes. Beberapa saat kemudian Sivia menghempaskan dirinya kedalam pelukan Cakka. Dengan sigap Cakka menangkap tubuh Sivia lalu merengkuh erat tubuh mungil Si Bawel itu.
            “hiks… hik… hiks… maafin gue, Cakka, maafin gue, hiks..hiks…hiks….”
            “nggak apa-apa, Vi, nggak apa-apa okey?”
            “gue sayang sama lo, gue nggak mau kehilangan lo, Cakka maafin gue.. hiks… hiks.. hikss…”
            “sttt… nggak usah nangis lagi! Masa udah mau naik kekelas 12 masih cengeng aja? Malu sama Bintang….” Bisik Cakka pelan seraya membelai lembut rambut panjang Sivia.
            Sivia tidak berkata apa-apa, ia semakin mempererat pelukannya pada Cakka. Sivia tidak ingin kehilangan Cakka lagi. Entah untuk alasan apapun. Cakka adalah sahabat sejatinya, sampai kapanpun akan terus menjadi sahabat sejatinya.
            “lo nggak capek apa mewek terus? Udah jelek makin jelek lo nanti” ledek Cakka seraya terkekeh pelan.
            Sivia langsung cemberut dan melepaskan pelukannya dari Cakka. Sebisa mungkin Sivia berusaha bersikap wajar dihadapan Cakka.
            “rese lo!!”
            “hahahaha…..” Cakka tertawa kencang, tangan kanannya bergerak lalu mengacak gemes poni Sivia.
            “Via, gue ada good news buat lo”
            “apa?”
            “tapi jangan kaget ya??”
            “emang apa?”
            Cakka terdiam sejenak. Ia melirik nakal kearah Sivia yang semakin membuat Sivia merasa penasaran dengan kabar apa yang akan Cakka sampaikan padanya.
            “Via… gue…. Sama Agni—“ Cakka menggantungkan kalimatnya.
            Salah satu alis Sivia terangkat. Heran.
            “elo sama Agni….??” Lanjut Sivia,
            “gue sama Agni udah…. Jadian….”
            “WHAT?? JADIAN???” Cakka mengangguk pasti.
            Sivia kaget. Ia tidak menyangka sebelumnya bahwa Cakka akan jadi dengan Agni. Sivia senang bukan main. Ini adalah kabar paling menggembirakan yang pernah ia dengar.
            “Kapan Cakka? Kapan?” Tanya Sivia antusias.
            “baru tadi siang” jawab Cakka sekenanya.
            “WAAHHHH…. CAKKA SELAMAT YA??”
            Sivia kembali menghambur kedalam pelukan Cakka. Ia senang tak alang kepalang dengan kabar yang Cakka sampaikan.
            “tapi gue berharap lo ngelakuin semua ini bukan karna—“
            “eits…. Jangan geer lo!” sela Cakka sebelum Sivia melanjutkan lebih jauh ucapannya. Cakka melepaskan pelukannya dari Sivia.
            Cakka menatap Sivia seteduh mungkin. Beberapa saat kemudian Cakka melayangkan sebuah toyoran pelan dikening Sivia,
            “aw…” ringis Sivia pelan,
            “gue ngelakuin ini bukan karna lo atau karna siapapun, tapi…. Karna diri gue sendiri. Oke, saat ini gue mungkin belom bisa menyayangi Agni dengan sepenuh hati gue, tapi gue akan berusaha. Dan gue…. Akan buktiin sama lo kalo gue bisa cepet move on dari lo, hehehe….”
            “apaan sih, Kka…?”
            “HAHAHAHAHAHA……”

            Bukankah semuanya harus tetap berjalan seperti seharusnya? Dan Cakkapun telah menetapkan pilihan yang tepat. Cakka yakin akan bisa bertahan dengan pilihannya ini juga dengan…. Agni. Sebuah Bintangpun terjatuh seakan merestui pilihan yang Cakka tetapkan.


            “CAKKAAAA…. PEJE NYA JANGAN LUPAAA!!!!!”
            “ARGH… BERISIK LO BAWEL!!!”


^_^

            Setelah merasa lelah melampiaskan emosinya dengan cara memberantakan dan melempar semua barang-barang yang ada dikamarnya, Alvinpun terduduk lesu didepan ranjangnya. Entah ini untuk yang keberapa kalinya Sivia memberinya luka, Alvin tidak ingat pasti. Yang Alvin tau hanyalah, ini adalah luka terperih yang pernah Sivia hadiahkan padanya.
            Alvin mengerang putus asa. Tangannya yang terkepal penuh amarah ia pukulkan pada lantai hingga menimbulkan memar yang lumayan parah ditangannya. Tapi Alvin tidak perduli, luka memar ditangannya sama sekali tidak sebanding dengan luka yang telah Sivia torehkan. Bagi Alvin, ini masih tidak apa-apanya.

Flash Back Alvin;
Alvin memiringkan posisi wajahnya sedikit, dan saat bibirnya nyaris menyentuh bibir Sivia, Alvinpun menghentikan pergerakan wajahnya. Tanpa dia sendiri sadari, kedua matanya menulusuri setiap lekuk kecantikan paras Sivia dalam jarak yang amat sangat dekat, dan ternyata gadis ini lumayan mempesona. Alvin tersenyum kecil. Setelah selama 5 detik menatap keindahan Gadis Bawel itu, Alvin pun berbisik pelan tepat didepan wajah Sivia,
“sayang, gue nggak berminat sama sekali buat nyium cewek kayak lo. GUE NGGAK TERTARIK…”
Alvinpun langsung bangkit dari atas Sivia dan keluar begitu saja dari dalam kamarnya. Sivia membuang nafas kesal beberapa kali. Sivia mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Sivia menatap benci kearah Alvin yang saat itu nyaris menghilang diambang pintu.
“KUNYUK RESEEEEEE…..!!! NYEBELIN, NGESELIN…. AAAAAAA” Teriak Sivia sekencang-kencangnya lalu melempar 2 buah bantal kearah pintu.

**

“dasar jelek! Nyari gaun sama sepatu yang pas buat lo aja susahnya minta ampun. Gini nih kalo cewek jelek, mau di pake’in apapun tetep aja nggak matching” cibir Alvin, dan untuk beberapa saat kemudian langsung memamerkan senyum sinisnya.
            Sivia mendesis kesal. Dan tanpa babibu lagi langsung menjitak kepala Alvin.
            “wadaw… sakit Jelek!” ringis Alvin.
            “suruh siapa lo ngeledek gue??” Tanya Sivia sinis.
            “emang faktanya kayak gitu” Alvin semakin mencibir.
            Sivia membuang nafas kesal. Ok, terserah si Kunyuk ini saja mau berkata apapun. Sivia tidak akan peduli sama sekali. Yang terpenting sekarang bagi Sivia adalah kemana Alvin akan membawanya. Sivia berusaha mendinginkan kepalanya yang sejak tadi sudah sangat panas gara-gara ulah menyebalkan Alvin.
            “sebenernya maksud dan tujuan lo apa sih ngajakin gue kesini? Terus pake beli gaun sama sepatu segala?”
            Alvin tersenyum sinis.
            “malem ini lo jadi pacar gue ya?” pertanyaan Alvin itu kontan saja membuat Sivia kaget setengah mati.

**

Alvin mengangkat dagu Sivia hingga saat ini posisi wajah mereka sejajar satu sama lain. Alvin tersenyum pada Sivia untuk beberapa lama lalu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya seerat mungkin. Dengan gerakan pelan, Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Kedua mata Alvinpun terpejam, dan disaat yang bersamaan Sivia juga memejamkan matanya lantas berjinjit untuk menjangaku posisi Alvin saat ini. Alvin dan Sivia pun akhirnya menghapus jarak diantara mereka.
            Beberapa detik kemudian, Alvin dan Sivia kembali menjauhkan posisi wajah mereka. Kedua pipi chubby Sivia sudah benar-benar merah padam saat ini. Sivia menunduk malu seraya menyelipkan anak rambutnya dibelakang telinga. Sementara Alvin, ia hanya menatap Sivia dengan pandangan yang benar-benar tidak bisa diartikan. Alvin tersenyum nakal lantas berkata,
            “ada yang bilang, kalo lo keliatan sangat cantik saat lo malu-malu kayak sekarang ini…” goda Alvin yang semakin membuat kedua pipi chubby Sivia bersemu merah.
            “gue sayang lo, Jelek!” bisik Alvin pelan didepan telinga Sivia.

**

Menyadari itu, Alvin langsung bergerak cepat, ia mendorong tubuh Sivia hingga terjatuh ketanah. Semuanya terjadi begitu cepat, pisau lipat itu menghunus perut Alvin hingga mengeluarkan banyak darah. Preman itu menarik kembali pisau lipat dari perut Alvin.
            Secara perlahan Alvin jatuh bersimpuh dihadapan preman itu. Sivia langsung berteriak histeris,
            “ALVIINNNNNNNNN!!!”
            “Begok, kenapa lu tusuk dia??” Tanya Preman yang satunya lagi dengan penuh emosi,
            “gue nggak sengaja!!”
            “ya udah, sekarang cepet kita pergi!!”
            Tanpa membuang-buang waktu lagi, kedua preman itu langsung melarikan diri.
            Sivia yang masih sangat shock merangkak menghampiri Alvin yang saat itu sudah bersimbah darah.
            “Vin….” Panggil Sivia dengan linangan air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipi chubby nya.
            Sivia mengangkat sedikit punggung Alvin yang ketika itu sudah tergeletak ditanah, Siviapun menopang kepala Alvin dengan lengannya.
            “kenapa lo lakuin ini, Vin, kenapaa??”
            “elo nggak apa-apa kan?” Tanya Alvin dengan sisa-sisa tenaga yang coba ia kumpulkan sekuat ia mampu. Sivia menggeleng beberapa kali,
            “begok! Kenapa lo malah tanyain keadaan gue?”
            “ma… maafin gu.. gue yaa? Ta… tadi gue Cuma becanda…”
            “kalo sampe terjadi apa-apa sama lo, gue nggak akan maafin lo, gue benci sama lo, Kunyuk, gue benciiii…”
            Alvin menggeleng pelan,
            “enggak… nggak akan terjadi apa-apa sama gue. Gu.. gue akan ba… ik-baik a…ja… gu… gue ja.. janji…”
            “Kunyuk… kita baru sehari jadian, tapi kenapa sekarang lo malah kayak gini? Kenapa??”
            Tangan lemah Alvin terangkat secara perlahan lalu mendarat tepat dipipi sebelah kiri Sivia, Alvin tersenyum,
            “gue… ci… cinta sama lo Je… lek…” itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan dalam dekapan hangat Sivia.
            Sivia memeluk erat-erat tubuh Alvin lantas berteriak sekeras-kerasnya….

            “ALVIIINNNNNNNNN……. JANGAN TINGGALIN GUEEEEE…….”

**

Alvin mengangkat tangan kananya secara perlahan, sementara tangan yang satunya lagi masih melingkar pada pinggang Sivia. Alvin mendaratkan tangannya tepat pada pipi chubby Sivia,
            “Jelek… gue cinta sama lo, bener-bener cinta…” ucap Alvin pelan. Sivia menunduk dalam. Entah kenapa setiap kali Alvin mengatakan bahwa dia mencintainya, hati Sivia selalu bergetar hebat. Meskipun Alvin tidak hanya sekali menyatakan perasaannya, dan meskipun kata cinta itu meluncur berkali-kali dari bibir Alvin, hati Sivia tetap bergetar mendengarkannya.
            Sivia mengangkat wajahnya lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher Alvin. Dengan berani Sivia menantang tatapan Alvin,
            “gue juga cinta banget sama lo, Nyuk. Meskipun lo rese, lo nyebelin, lo ngeselin, gue tetep cinta sama lo. Dan justru sifat-sifat nyebelin lo itu yang bikin gue cinta sama lo…”
            “Jelek, apa lo mau tau sesuatu?” Tanya Alvin tiba-tiba,
            “apa?”
            “hari ini gue jatuh cinta lagi untuk yang semilyar kalinya sama cewek yang sama. Sama cewek terjelek sejagad raya…”
            Hening untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian, Alvin dan Sivia sama-sama mendekatkan wajah mereka masing-masing. Semakin lama semakin dekat hingga kini kening serta hidung mereka bersentuhan satu sama lain. Sivia tersenyum malu-malu. Saat ini Sivia benar-benar tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya. Sivia bahagia, benar-benar bahagia.
            Alvin memiringkan posisi wajahnya lantas memejamkan kedua matanya. Dan saat bibir Alvin menyentuh bibirnya dengan lembut, Sivia tergetar. Ia pun memejamkan matanya lantas membalas ciuman lembut Alvin. Ini pertama kalinya Sivia membalas ciuman Alvin.
            Dan ketika Alvin semakin memperdalam ciumannya, Sivia seolah merasa bahwa kedua kakinya tidak berpijak dibumi lagi. Alvin telah membawanya terbang jauh menembus langit ketujuh.

~FlashBack Off~

            Tangis Alvin akhirnya pecah juga setelah mengingat semua kenangannya bersama Sivia. Rasanya begitu sakit sekali saat ingatan tentang kebersamaan mereka berpendar kembali diingatannya. Alvin tidak peduli seberapa cengengnya ia saat ini, yang Alvin tau hanyalah, ia sangat merindukan Si Jelek itu dan menginginkan Si Jelek itu kembali lagi kedalam pelukannya.
            Ditengah kekalutannya saat ini, Alvin meraih handphonenya lalu mencari nomer seseorang yang ingin ia jadikan sebagai pelampiasan. Jahat memang, tapi saat ini Alvin sedang membutuhkan pelampiasan untuk mengurangi rasa sakit didadanya.

            “Hallo Pricill…”
            “…..”
            “iya ini gue Alvin…”
            “…..”

            “gue mau lo jadi pacar gue”

            Tanpa menunggu jawaban dari Pricilla, Alvin langsung saja mematikan sambungan telfonnya. Alvin tidak butuh jawaban, karna Alvin sudah tau pasti bahwa Pricilla tidak akan pernah menolaknya. Semua tahu bagaimana Pricilla begitu menginginkan Alvin.
            Pricilla telah menjadi pelampiasan Alvin. Entah akan sampai kapan, Alvin tidak pernah tahu….




                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment