Sunday, July 7, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 30 "Bintang-Bintang Ikut Tersenyum" (Ending~Epilog)






“Dipelukanku…. Terakhir kali kau katakan cinta…
Putih dan suci yang kau persembahkan seperti janji manis….
Bila malam menjelang
Ingin kuhitung lagi segenap jumlah bintang
Yang bersinar diwajahmu….

Akhirnya semua telah berakhir bagai mimpi buruk…

Menerjang ruang batin hidupku
Tak berperasaan…
Kudiam tertegun menatap pilu dirimu
Kau begitu indah…..

Dunia serasa mati
Hilang semangat hidup
Aku rindu padamu, aku teramat sayang…
Jika ini takdirku
Bolehkah ku berharap
Semenit waktu inginku balas cinta….

Harusnya ku berlari mengejar kepergianmu…
Takkan terulang kisah dua anak manusia….


            Air mata Sivia menetes secara perlahan mendengar sebuah lagu yang mungkin Alvin nyanyikan khusus untuknya dimalam pertuangan kedua orang tua mereka. Menyadari bahwa air matanya semakin deras menetes, Sivia buru-buru menyekanya. Ia tidak ingin semua orang melihat kesedihannya. Sebisa mungkin ia harus ikut berbahagia diacara pertunangan Mamanya ini.
            Alvin membawakan lagu yang sangat indah itu dengan memainkan sebuah piano. Selama bernyanyi pandangannya tidak sedikitpun teralihkan dari wajah jernih Sivia. Alvin tahu Sivia terluka, Alvin juga dapat merasakan bagaimana kesakitan Sivia saat itu. Tapi Alvin juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kalah langkah dari Papanya. Mungkin sudah saatnya Alvin menyerah, toh jika dia memang berjodoh dengan Sivia, suatu saat nanti Tuhan akan memberikan mereka jalan untuk bersatu lagi. Alvin tidak perlu cemas, Alvin tidak perlu takut.
            “Via…” tegur Cakka yang saat itu berdiri disampingnya. Sivia terkesiap lalu buru-buru menoleh kearah Cakka. Cakka menggeleng beberapa kali, kedua tangannya terangkat lalu bergerak menyentuh wajah Sivia. Dengan penuh perhatian Cakka menyeka air mata Sivia.
            “simpen air mata lo, Via. Sekarang bukan saatnya untuk bersedih” kata Cakka setengah berbisik.
            Sivia memegang tangan Cakka yang memegangi wajahnya, kedua bahunya bergetar hebat menahan isak,
            “gue nggak bisa Cakka. Gue sanggup” Sivia menunduk dalam. Air matanya semakin deras menetes. Cakka tetap tersenyum.
            “hey dengerin gue” Cakka mengangkat wajah Sivia hingga mereka berdua berhadapan satu sama lain,
            “lo inget kan? Dulu gue selalu bilang semuanya akan indah pada waktunya, plis lo percaya sama gue dan semuanya akan baik-baik saja”
            Sivia menggeleng lagi,
            “nggak Cakka, gue tetep nggak bisa. Semuanya nggak pernah baik-baik aja. Kenapa Tuhan berlaku seperti ini sama gue? Kenapa? Gue mencintai Alvin, gue nggak bisa tanpa dia….”
            “sttt… jangan nyalahin takdir apalagi nyalahin Tuhan, lo Cuma perlu percaya bahwa semua ini memang yang terbaik yang Tuhan kasih buat lo, tegar Sivia, tegar….”
            Sivia tiba-tiba merasakan ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya dan membawanya pergi menjauhi Cakka. Ketika tahu bahwa seseorang yang menarik tangannya adalah Alvin, Sivia berusaha keras untuk melepaskan diri,
            “Alvin lepas! Lo mau bawa gue kemana??”
            Alvin tidak sedikitpun menggubris pertanyaan Sivia. Ia berjalan dengan tatapan lurus kedepan hingga akhirnya mereka berdua sudah tiba dihalaman rumah Farish yang lumayan besar.
            Sivia tidah tahan lagi. Dalam satu sentakan kuat Sivia melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Alvin.
            “Alvin, lo apa-apaan sih?”
            “Via dengerin gue! Kita berdua harus pergi dari sini, kita harus pergi Sivia”
            “tapi kenapa kita harus pergi??” sebulir air mata Sivia terjatuh membasahi wajahnya.
            “lo inget kan kepastian yang udah kita buat malem itu? Gue nggak mau kehilangan lo, kita sama-sama tahu bahwa kita saling mencintai, kalo kita menyerah sekarang semuanya akan berakhir, dan gue nggak mau semuanya berakhir. Gue terlalu mencintai lo, Sivia…”
            “Alvin tapi kita nggak bisa kayak gitu! Gue juga mencintai lo, sangat mencintai lo, tapi bukan begini caranya, Alvin, bukan begini, gue nggak mau kayak gini”
            “tapi Vi—“
            “lo fikir Cuma lo yang nggak terima? Lo fikir Cuma lo yang sakit dengan kenyataan ini? Gue juga sakit, Vin, tapi kita harus tetep menghadapi kenyataan ini. Nggak ada cara lain selain kita harus menghadapinya dengan berani, nggak ada cara lain lagi, Vin…” Sivia menggeleng pelan.
            Beberapa saat kemudian, Siviapun memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah Farish. Sivia tau semua ini akan sangat menyakitkan baginya nanti, tapi Sivia harus menghadapinya, bagaimanapun caranya.

^_^

            Dengan wajah angkuhnya Farish menaiki sebuah panggung kecil yang sudah disediakan disana. Farish berdiri dihadapan semua tamu undangan dan memohon perhatian karna ia ingin menyampaikan sesuatu. Dibawah panggung sana, Farish melihat Denita tersenyum bahagia. Seumur-umur ia mengenal Denita, ini baru pertama kalinya Wanita itu terlihat sangat bahagia.
            Disamping Denita, berdiri Sivia. Sejak tadi yang Sivia lakukan hanyalah menunduk, ia terlalu takut mengangkat wajah. Hatinya merasa tidak sanggup. Dan dikejauhan sana, Farish melihat Alvin yang ketika itu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Farish menyunggingkan sebuah senyum keangkuhan begitu kedua matanya menangkap kedua mata Alvin.
            “selamat malam  hadirin sekalian… sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada hadirin sekalian karna telah mau menghadiri acara bahagia saya pada malam hari ini. Seseorang pernah berkata pada saya, bahwa tidak ada satu halpun yang paling membahagiakan bagi orang tua selain melihat anak-anaknya bisa hidup bahagia, dan hal itulah yang ingin saya lakukan mala mini….”
            Alvin dan Sivia kaget. Apa maksud ucapan Farish?
            “saya sadar, bahwa betapa selama ini saya tidak pernah berjuang demi kebahagiaan kedua anak saya, terutama pada Putera Sulung yang begitu saya banggakan, Alvin Jonathan.” Farish menatap Alvin dengan tatapan teduh. Ini baru pertama kalinya Alvin melihat Papanya menatapnya dengan cara seperti itu.
            “yang saya lakukan selama ini hanyalah membuat dia dan adiknya menderita. Pertama, saya telah melakukan kesalahan dengan menceraikan Mamanya, yang saya tahu pada saat itu kedua anak saya tidak menginginkan perceraian itu. Kedua, saya memisahkan Alvin dan Acha karna keegoisan saya, saya tau mereka berdua saling menyayangi satu sama lain, dan tidak ingin sekalipun dipisahkan, tapi lagi-lagi saya berusaha memisahkan mereka dengan cara mengirim Acha sekolah keluar negri. Jika saat ini disini ada Acha, saya juga ingin meminta maaf darinya. Sekarang saya sudah sadar, bahwa apa yang saya lakukan selama ini sudah cukup keterlaluan. Baru-baru ini saya berusaha membuat Putera Sulung saya menderita dengan tidak membiarkannya bersatu dengan seorang Gadis yang sangat dia cintai… dan mala mini saya menyatakan, saya menyesal, saya ingin minta maaf, pada Denita, Sivia, dan terutama kamu… Alvin….”
            “Papa…” lirih Alvin.
            “Alvin… Sivia… perlu kalian berdua tahu, bahwa acara pertunangan mala mini, bukanlah acara pertunangan Mama dan Papa melainkan…. Acara pertunangan kalian berdua…”
            Alvin dan Sivia saling menatap saat itu juga, mereka masih belum percaya dengan semua ini.
            “Papa dan Tante Denita sudah mempersiapkan acara ini buat kalian saat kalian berlibur diPuncak kemarin. Mulai saat ini kalian berdua tidak perlu saling menjauhi lagi, dan buat kamu Sivia, kamu tidak perlu berkorban lagi sayang, karna baik Om, dan Mama kamu sudah ikhlas…”
            “Om—“
            “kamu tidak boleh protes Sivia, karna Om sama Mama kamu sudah terlanjur menjodohkan kalian….”
            Air mata harupun sudah tidak bisa Sivia tahan lagi. Sivia langsung memeluk Mamanya yang saat itu berdiri disampingnya,
            “terimakasih Mama, terimakasih…. Via sayaangg banget sama Mama….”


^_^

            Saat ini Alvin dan Sivia sudah berdiri berhadapan diatas panggung. Sejak mereka berdiri disana mereka berdua tidak henti-hentinya saling menatap satu sama lain. Jika tidak ingat bahwa ditempat itu banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, mungkin sudah sejak tadi Alvin menghambur memeluk Gadis Mungil itu.
            Cakkapun menaiki panggung dan membawa sepasang cincin untuk mereka berdua.
            “heh, jangan saling tatap mulu, nih pasang cincinnya” ucap Cakka setengah berbisik.
            Alvin dan Sivia terkekeh geli. Beberapa saat kemudian Alvin meraih sebuah cincin yang dibawakan oleh Cakka lalu memasangkannya dijari manis Sivia. Sivia tersenyum, kedua pipinya merona.
            “giliran lo, Vi!” kata Cakka pelan,
            Sivia meraih cincin yang dibawakan Cakka lalu memasangkannya dijari manis Alvin, saat itulah suara tepuk tangan dari semua tamu undangan bergemuruh didalam ruangan yang sangat mewah itu.
            Dengan sengaja Cakka mendorong tubuh Alvin dan Sivia hingga kedua orang itu langsung berpelukan. Setelah berhasil membuat Kunyuk Dan Jelek berpelukan, Cakka pun turun dari atas panggung dan bergabung bersama Agni yang saat itu sudah menunggunya.
            Cakka merangkul pundak Agni lalu menyandarkan kepalanya kekepala Agni,
            “aku sayang kamu, Agni….” Bisik Cakka pelan. Agni hanya tersenyum penuh arti.

            “Jelek, mulai sekarang lo nggak akan bisa kabur lagi dari gue…”
            “OH YA?” Ucap Sivia menantang.

            Hal lain yang membuat Alvin semakin bahagia malam itu adalah, Mama dan Papanya memutuskan untuk rujuk lagi. Dan takdirpun telah memilih untuk mereka, untuk kebahagiaan mereka….


^_^

            Sudah hampir 1 jam Sivia menunggu Alvin ditaman itu, tapi Alvin tidak juga menampakkan dirinya. Kemana Kunyuk itu? Padahal semalam, hampir setiap menit Alvin menelpon Sivia, mengingatkannya agar Sivia tidak telat apalagi sampai melupakan rencana kencan mereka pagi ini, tapi sekarang buktinya malah Si Kunyuk itu yang telat. Dasar Kunyuk menyebalkan, bahkan disaat mereka sudah resmi bertuanganpun Alvin tidak juga berubah.
            Dengan kesal Sivia menghentakkan kedua kakinya ditanah secara bergantian. Ia merasa dipermainkan oleh Kunyuk itu. Awas saja nanti kalau mereka bertemu, jangan harap Alvin akan lolos dari omelan-omelan Sivia.
            Sivia menghela nafas lega, beberapa saat kemudian Sivia memutuskan untuk pulang saja. Memangnya mau sampai kapan Sivia akan menunggu Alvin ditempat ini?
            Ketika Sivia baru saja akan mengayunkan langkahnya, tiba-tiba saja ia merasakan ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya lalu membawanya kedalam sebuah dekapan hangat. Alvin, Kunyuk itu telah datang.
            “mau kemana lo, Jelek??”
            “lepasin gue nggak? Gue udah sebel sama lo. Asal lo tau ya? Disini gue nungguin lo hampir sejam, tapi lo malah seenaknya telat” ujar Sivia yang sudah benar-benar merasa kesal tingkat akut.
            “yang pentingkan sekarang gue udah dateng!”
            Dalam satu sentakan kuat Sivia mendorong tubuh Alvin hingga terlepas dari pelukannya.
            “gue enek sama lo, Kunyuk! Gue nggak mau liat muka lo lagi!!”
            “ooo… jadi sekarang kayak gitu ceritanya? Oke, fine! Gue juga nggak mau liat muka lo lagi”
            “bagus!”
            Alvin dan Sivia sama-sama berbalik dan hendak melangkah pergi. Tapi tidak lama mereka malah kembali saling berhadapan dengan tatapan benci. Satu… dua… tiga….

            “GUE BENCI SAMA LOOOOOOOO…….!!!!” Teriak Alvin dan Sivia secara bersamaan.

            Merekapun sama-sama melangkah pergi tapi dengan arah yang berlawanan. Oke, jadi kesimpulannya adalah, Kencan mereka hari itu; GAGAL TOTAL.



^_^


~EPILOG~


            Cakka dan Sivia terlihat tengah duduk berdampingan diatas bukit seraya menatap jutaan bintang-bintang yang bertebaran diatas langit luas. Sivia tersenyum, begitu juga dengan Cakka. Bintang-Bintang itu seakan ikut tersenyum melihat mereka.
            “Vi, keinginan lo apa?” Tanya Cakka pelan,
            “keinginan gue?”
            “hmmm….”
            “gue rasa semua keinginan gue saat ini udah terkabul, gue mau nikmatin semua ini dan gue udah ngerasa cukup kok…” Sivia tersenyum lebar. Tatapannya masih mengarah keatas langit.
            “tapi seandainya gue boleh bikin permohonan satu kali lagi, gue Cuma mau minta…. Tuhan nggak akan pernah lagi misahin gue sama Alvin, gue mau selamanya sama Alvin. Kalo lo?” kali ini Sivia menoleh kearah Cakka.
            Cakka menghela nafas sejenak, dengan mantap ia berkata,
            “gue Cuma punya satu keinginan…”
            “apa?”
            “gue ingin terus bersinar dan memberikan kebahagiaan buat orang-orang yang menyayangi gue dan yang gue sayangi, gue ingin menjadi…. SEPERTI SEBUAH BINTANG…” Ujar Cakka seraya menunjuk salah satu bintang yang sinarnya paling terang diantara bintang-bintang yang lainnya….



                                                THE END….

0 comments:

Post a Comment