“Dipelukanku….
Terakhir kali kau katakan cinta…
Putih
dan suci yang kau persembahkan seperti janji manis….
Bila
malam menjelang
Ingin
kuhitung lagi segenap jumlah bintang
Yang
bersinar diwajahmu….
Akhirnya
semua telah berakhir bagai mimpi buruk…
Menerjang
ruang batin hidupku
Tak
berperasaan…
Kudiam
tertegun menatap pilu dirimu
Kau
begitu indah…..
Dunia
serasa mati
Hilang
semangat hidup
Aku
rindu padamu, aku teramat sayang…
Jika
ini takdirku
Bolehkah
ku berharap
Semenit
waktu inginku balas cinta….
Harusnya
ku berlari mengejar kepergianmu…
Takkan
terulang kisah dua anak manusia….
Air mata Sivia menetes secara
perlahan mendengar sebuah lagu yang mungkin Alvin nyanyikan khusus untuknya
dimalam pertuangan kedua orang tua mereka. Menyadari bahwa air matanya semakin
deras menetes, Sivia buru-buru menyekanya. Ia tidak ingin semua orang melihat
kesedihannya. Sebisa mungkin ia harus ikut berbahagia diacara pertunangan
Mamanya ini.
Alvin membawakan lagu yang sangat
indah itu dengan memainkan sebuah piano. Selama bernyanyi pandangannya tidak
sedikitpun teralihkan dari wajah jernih Sivia. Alvin tahu Sivia terluka, Alvin
juga dapat merasakan bagaimana kesakitan Sivia saat itu. Tapi Alvin juga tidak
bisa berbuat apa-apa. Ia kalah langkah dari Papanya. Mungkin sudah saatnya
Alvin menyerah, toh jika dia memang berjodoh dengan Sivia, suatu saat nanti
Tuhan akan memberikan mereka jalan untuk bersatu lagi. Alvin tidak perlu cemas,
Alvin tidak perlu takut.
“Via…” tegur Cakka yang saat itu
berdiri disampingnya. Sivia terkesiap lalu buru-buru menoleh kearah Cakka. Cakka
menggeleng beberapa kali, kedua tangannya terangkat lalu bergerak menyentuh
wajah Sivia. Dengan penuh perhatian Cakka menyeka air mata Sivia.
“simpen air mata lo, Via. Sekarang
bukan saatnya untuk bersedih” kata Cakka setengah berbisik.
Sivia memegang tangan Cakka yang
memegangi wajahnya, kedua bahunya bergetar hebat menahan isak,
“gue nggak bisa Cakka. Gue sanggup”
Sivia menunduk dalam. Air matanya semakin deras menetes. Cakka tetap tersenyum.
“hey dengerin gue” Cakka mengangkat
wajah Sivia hingga mereka berdua berhadapan satu sama lain,
“lo inget kan? Dulu gue selalu
bilang semuanya akan indah pada waktunya, plis lo percaya sama gue dan semuanya
akan baik-baik saja”
Sivia menggeleng lagi,
“nggak Cakka, gue tetep nggak bisa.
Semuanya nggak pernah baik-baik aja. Kenapa Tuhan berlaku seperti ini sama gue?
Kenapa? Gue mencintai Alvin, gue nggak bisa tanpa dia….”
“sttt… jangan nyalahin takdir apalagi
nyalahin Tuhan, lo Cuma perlu percaya bahwa semua ini memang yang terbaik yang
Tuhan kasih buat lo, tegar Sivia, tegar….”
Sivia tiba-tiba merasakan ada
seseorang yang menarik pergelangan tangannya dan membawanya pergi menjauhi
Cakka. Ketika tahu bahwa seseorang yang menarik tangannya adalah Alvin, Sivia
berusaha keras untuk melepaskan diri,
“Alvin lepas! Lo mau bawa gue
kemana??”
Alvin tidak sedikitpun menggubris
pertanyaan Sivia. Ia berjalan dengan tatapan lurus kedepan hingga akhirnya
mereka berdua sudah tiba dihalaman rumah Farish yang lumayan besar.
Sivia tidah tahan lagi. Dalam satu
sentakan kuat Sivia melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Alvin.
“Alvin, lo apa-apaan sih?”
“Via dengerin gue! Kita berdua harus
pergi dari sini, kita harus pergi Sivia”
“tapi kenapa kita harus pergi??”
sebulir air mata Sivia terjatuh membasahi wajahnya.
“lo inget kan kepastian yang udah
kita buat malem itu? Gue nggak mau kehilangan lo, kita sama-sama tahu bahwa
kita saling mencintai, kalo kita menyerah sekarang semuanya akan berakhir, dan
gue nggak mau semuanya berakhir. Gue terlalu mencintai lo, Sivia…”
“Alvin tapi kita nggak bisa kayak
gitu! Gue juga mencintai lo, sangat mencintai lo, tapi bukan begini caranya,
Alvin, bukan begini, gue nggak mau kayak gini”
“tapi Vi—“
“lo fikir Cuma lo yang nggak terima?
Lo fikir Cuma lo yang sakit dengan kenyataan ini? Gue juga sakit, Vin, tapi
kita harus tetep menghadapi kenyataan ini. Nggak ada cara lain selain kita
harus menghadapinya dengan berani, nggak ada cara lain lagi, Vin…” Sivia
menggeleng pelan.
Beberapa saat kemudian, Siviapun
memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah Farish. Sivia tau semua ini akan
sangat menyakitkan baginya nanti, tapi Sivia harus menghadapinya, bagaimanapun
caranya.
^_^
Dengan wajah angkuhnya Farish
menaiki sebuah panggung kecil yang sudah disediakan disana. Farish berdiri
dihadapan semua tamu undangan dan memohon perhatian karna ia ingin menyampaikan
sesuatu. Dibawah panggung sana, Farish melihat Denita tersenyum bahagia. Seumur-umur
ia mengenal Denita, ini baru pertama kalinya Wanita itu terlihat sangat
bahagia.
Disamping Denita, berdiri Sivia.
Sejak tadi yang Sivia lakukan hanyalah menunduk, ia terlalu takut mengangkat
wajah. Hatinya merasa tidak sanggup. Dan dikejauhan sana, Farish melihat Alvin
yang ketika itu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Farish
menyunggingkan sebuah senyum keangkuhan begitu kedua matanya menangkap kedua
mata Alvin.
“selamat malam hadirin sekalian… sebelumnya saya ingin
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada hadirin sekalian karna telah
mau menghadiri acara bahagia saya pada malam hari ini. Seseorang pernah berkata
pada saya, bahwa tidak ada satu halpun yang paling membahagiakan bagi orang tua
selain melihat anak-anaknya bisa hidup bahagia, dan hal itulah yang ingin saya
lakukan mala mini….”
Alvin dan Sivia kaget. Apa maksud
ucapan Farish?
“saya sadar, bahwa betapa selama ini
saya tidak pernah berjuang demi kebahagiaan kedua anak saya, terutama pada
Putera Sulung yang begitu saya banggakan, Alvin Jonathan.” Farish menatap Alvin
dengan tatapan teduh. Ini baru pertama kalinya Alvin melihat Papanya menatapnya
dengan cara seperti itu.
“yang saya lakukan selama ini
hanyalah membuat dia dan adiknya menderita. Pertama, saya telah melakukan
kesalahan dengan menceraikan Mamanya, yang saya tahu pada saat itu kedua anak
saya tidak menginginkan perceraian itu. Kedua, saya memisahkan Alvin dan Acha
karna keegoisan saya, saya tau mereka berdua saling menyayangi satu sama lain, dan
tidak ingin sekalipun dipisahkan, tapi lagi-lagi saya berusaha memisahkan
mereka dengan cara mengirim Acha sekolah keluar negri. Jika saat ini disini ada
Acha, saya juga ingin meminta maaf darinya. Sekarang saya sudah sadar, bahwa
apa yang saya lakukan selama ini sudah cukup keterlaluan. Baru-baru ini saya
berusaha membuat Putera Sulung saya menderita dengan tidak membiarkannya
bersatu dengan seorang Gadis yang sangat dia cintai… dan mala mini saya
menyatakan, saya menyesal, saya ingin minta maaf, pada Denita, Sivia, dan
terutama kamu… Alvin….”
“Papa…” lirih Alvin.
“Alvin… Sivia… perlu kalian berdua tahu,
bahwa acara pertunangan mala mini, bukanlah acara pertunangan Mama dan Papa
melainkan…. Acara pertunangan kalian berdua…”
Alvin dan Sivia saling menatap saat
itu juga, mereka masih belum percaya dengan semua ini.
“Papa dan Tante Denita sudah mempersiapkan
acara ini buat kalian saat kalian berlibur diPuncak kemarin. Mulai saat ini
kalian berdua tidak perlu saling menjauhi lagi, dan buat kamu Sivia, kamu tidak
perlu berkorban lagi sayang, karna baik Om, dan Mama kamu sudah ikhlas…”
“Om—“
“kamu tidak boleh protes Sivia,
karna Om sama Mama kamu sudah terlanjur menjodohkan kalian….”
Air mata harupun sudah tidak bisa
Sivia tahan lagi. Sivia langsung memeluk Mamanya yang saat itu berdiri
disampingnya,
“terimakasih Mama, terimakasih…. Via
sayaangg banget sama Mama….”
^_^
Saat ini Alvin dan Sivia sudah
berdiri berhadapan diatas panggung. Sejak mereka berdiri disana mereka berdua
tidak henti-hentinya saling menatap satu sama lain. Jika tidak ingat bahwa
ditempat itu banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, mungkin sudah sejak
tadi Alvin menghambur memeluk Gadis Mungil itu.
Cakkapun menaiki panggung dan
membawa sepasang cincin untuk mereka berdua.
“heh, jangan saling tatap mulu, nih
pasang cincinnya” ucap Cakka setengah berbisik.
Alvin dan Sivia terkekeh geli.
Beberapa saat kemudian Alvin meraih sebuah cincin yang dibawakan oleh Cakka
lalu memasangkannya dijari manis Sivia. Sivia tersenyum, kedua pipinya merona.
“giliran lo, Vi!” kata Cakka pelan,
Sivia meraih cincin yang dibawakan
Cakka lalu memasangkannya dijari manis Alvin, saat itulah suara tepuk tangan
dari semua tamu undangan bergemuruh didalam ruangan yang sangat mewah itu.
Dengan sengaja Cakka mendorong tubuh
Alvin dan Sivia hingga kedua orang itu langsung berpelukan. Setelah berhasil
membuat Kunyuk Dan Jelek berpelukan, Cakka pun turun dari atas panggung dan
bergabung bersama Agni yang saat itu sudah menunggunya.
Cakka merangkul pundak Agni lalu
menyandarkan kepalanya kekepala Agni,
“aku sayang kamu, Agni….” Bisik
Cakka pelan. Agni hanya tersenyum penuh arti.
“Jelek, mulai sekarang lo nggak akan
bisa kabur lagi dari gue…”
“OH YA?” Ucap Sivia menantang.
Hal lain yang membuat Alvin semakin
bahagia malam itu adalah, Mama dan Papanya memutuskan untuk rujuk lagi. Dan
takdirpun telah memilih untuk mereka, untuk kebahagiaan mereka….
^_^
Sudah hampir 1 jam Sivia menunggu
Alvin ditaman itu, tapi Alvin tidak juga menampakkan dirinya. Kemana Kunyuk
itu? Padahal semalam, hampir setiap menit Alvin menelpon Sivia, mengingatkannya
agar Sivia tidak telat apalagi sampai melupakan rencana kencan mereka pagi ini,
tapi sekarang buktinya malah Si Kunyuk itu yang telat. Dasar Kunyuk
menyebalkan, bahkan disaat mereka sudah resmi bertuanganpun Alvin tidak juga
berubah.
Dengan kesal Sivia menghentakkan
kedua kakinya ditanah secara bergantian. Ia merasa dipermainkan oleh Kunyuk
itu. Awas saja nanti kalau mereka bertemu, jangan harap Alvin akan lolos dari
omelan-omelan Sivia.
Sivia menghela nafas lega, beberapa
saat kemudian Sivia memutuskan untuk pulang saja. Memangnya mau sampai kapan
Sivia akan menunggu Alvin ditempat ini?
Ketika Sivia baru saja akan
mengayunkan langkahnya, tiba-tiba saja ia merasakan ada seseorang yang menarik
pergelangan tangannya lalu membawanya kedalam sebuah dekapan hangat. Alvin,
Kunyuk itu telah datang.
“mau kemana lo, Jelek??”
“lepasin gue nggak? Gue udah sebel
sama lo. Asal lo tau ya? Disini gue nungguin lo hampir sejam, tapi lo malah
seenaknya telat” ujar Sivia yang sudah benar-benar merasa kesal tingkat akut.
“yang pentingkan sekarang gue udah
dateng!”
Dalam satu sentakan kuat Sivia
mendorong tubuh Alvin hingga terlepas dari pelukannya.
“gue enek sama lo, Kunyuk! Gue nggak
mau liat muka lo lagi!!”
“ooo… jadi sekarang kayak gitu
ceritanya? Oke, fine! Gue juga nggak mau liat muka lo lagi”
“bagus!”
Alvin dan Sivia sama-sama berbalik
dan hendak melangkah pergi. Tapi tidak lama mereka malah kembali saling
berhadapan dengan tatapan benci. Satu… dua… tiga….
“GUE BENCI SAMA LOOOOOOOO…….!!!!”
Teriak Alvin dan Sivia secara bersamaan.
Merekapun sama-sama melangkah pergi
tapi dengan arah yang berlawanan. Oke, jadi kesimpulannya adalah, Kencan mereka
hari itu; GAGAL TOTAL.
^_^
~EPILOG~
Cakka dan Sivia terlihat tengah
duduk berdampingan diatas bukit seraya menatap jutaan bintang-bintang yang
bertebaran diatas langit luas. Sivia tersenyum, begitu juga dengan Cakka.
Bintang-Bintang itu seakan ikut tersenyum melihat mereka.
“Vi, keinginan lo apa?” Tanya Cakka
pelan,
“keinginan gue?”
“hmmm….”
“gue rasa semua keinginan gue saat
ini udah terkabul, gue mau nikmatin semua ini dan gue udah ngerasa cukup kok…”
Sivia tersenyum lebar. Tatapannya masih mengarah keatas langit.
“tapi seandainya gue boleh bikin
permohonan satu kali lagi, gue Cuma mau minta…. Tuhan nggak akan pernah lagi
misahin gue sama Alvin, gue mau selamanya sama Alvin. Kalo lo?” kali ini Sivia
menoleh kearah Cakka.
Cakka menghela nafas sejenak, dengan
mantap ia berkata,
“gue Cuma punya satu keinginan…”
“apa?”
“gue ingin terus bersinar dan
memberikan kebahagiaan buat orang-orang yang menyayangi gue dan yang gue
sayangi, gue ingin menjadi…. SEPERTI SEBUAH BINTANG…” Ujar Cakka seraya
menunjuk salah satu bintang yang sinarnya paling terang diantara
bintang-bintang yang lainnya….
THE
END….


0 comments:
Post a Comment