Jakarta,
2009
Tangan kanan Alvin mencengkram erat
pergelangan tangan Sivia dan membawanya setengah paksa keluar dari rumahnya
sendiri. Beberapa menit yang lalu Alvin datang kerumah Sivia. Ketika melihat
Sivia yang tengah santai duduk ditepi kolam renang Alvin langsung melangkah
mendekati Gadis itu dan membawanya keluar dari rumahnya sendiri tanpa bicara
apapun.
“ini sih namanya penculikan!” gumam
Sivia pelan dengan sedikit rasa kesal. Tapi meski begitu ia tetap berjalan
pasrah dibelakang Alvin dengan pergelangan tangan yang masih ditahan oleh cowok
berwajah oriental itu.
Alvin membuka pintu mobilnya lalu
mendorong tubuh Sivia hingga memasuki mobilnya. Sivia meringis pelan. Dasar
tidak berperasaan!
“Gue mau dibawa kemana sih?” Tanya
Sivia keki. Ia menatap Alvin yang saat itu tengah focus mengemudi dengan
pandangan sebal.
“nanti juga lo bakalan tau sendiri”
jawab Alvin seenaknya dan semakin menambah kecepatannya. Akibat ulah Alvin yang
tanpa perhitungan itu Sivia kaget. Untung saja Sivia tidak jantungan, coba
kalau jantungan, mungkin sekarang Sivia hanya tinggal nama saja.
Tiba-tiba Sivia teringat sesuatu.
Bodoh, kenapa dia bisa lupa seperti ini? Seharusnya sekarang Sivia kembali lagi
kesekolah untuk menemui seseorang, tapi karna Alvin menculiknya seperti ini
Sivia jadi lupa. Hmmm… dia pasti menunggu.
Sivia buru-buru merogoh kantong
jeansnya lalu mengambil ponselnya. Dengan gerakkan cepat, Sivia mengetikkan
sebuah pesan singkat lalu mengirimnya kepada seseorang itu. Mendadak Sivia
terlihat gusar.
***
Setelah menempuh perjalanan selama
beberapa menit ditambah dengan macet akhirnya tibalah Alvin dan Sivia disebuah
mall. Tanpa bicara apapun satu sama lain mereka berdua berjalan beriringan
memasuki Mall.
Saat ini Alvin dan Sivia sudah
berada didalam sebuah toko perhiasan. Alvin terlihat serius melihat-lihat
beberapa kalung berlian yang terpajang didalam etalase. Sementara Sivia, ia
malah dengan asyikannya online twitter melalui Handphonenya sambil mendengarkan
music dengan menggunakan headset.
Gadis manis berambut panjang dan
berkulit putih bersih itu memang paling hoby berselancar didunia maya. Ia
sering kali mendapat protes dari sahabat-sahabatnya karna lebih sering Online
daripada berkumpul bersama. Tapi Sivia tetap cuek. Ini hoby nya dan… dunianya.
Itulah yang selalu Sivia katakan pada sahabat-sahabatnya. Ya sudah, mau
bagaimana lagi memangnya?
Sivia tahu-tahu kaget ketika Alvin
berdiri dibelakangnya dan memasangkannya sebuah kalung berlian yang sangat
cantik. Sivia diam mematung seraya melihat bayangan dirinya dicermin. Kalung
itu benar-benar sangat cantik dan Sivia suka.
“gimana kalungnya? Bagus kan?” Tanya
Alvin pelan. Ia memegang kedua pundak
Sivia lalu menatap bayangan wajah Sivia dicermin, sama seperti yang Sivia
lakukan. Saat itu Sivia sedang dalam posisi duduk, sementara Alvin berdiri
dibelakangnya. Jantung Sivia berdegub pelan tapi kelamaan makin kencang dan
susah ia kendalikan. Pesona Alvin begitu kuat memikatnya.
“Pia… jawab gue kek!” kata Alvin tak
sabar. Ia masih betah memandangi bayangan Sivia dicermin.
Sivia terkesiap lalu buru-buru
mengangguk. Dengan susah payah Sivia akhirnya bisa mengeluarkan komentarnya,
“ba.. bagus! Gue suka”
“Excellent!” ucap Alvin antusias
lalu kembali melepaskan kalung itu dari leher Sivia.
Alvin mengangkat kalung itu dengan kedua
jari tangannya lalu memperhatikannya baik-baik. Sivia memutar kursinya dan
mengikuti arah pandangan Alvin,
“Pricill pasti suka. Ya kan?” Alvin
menoleh kearah Sivia.
Air muka Sivia tiba-tiba berubah
keruh. Ternyata kalung itu untuk Pricilla, bukan untuk dirinya. Ah… entah ini
sudah untuk yang keberapa kalinya Sivia salah paham dengan maksud Alvin. Meski
perih, Sivia mengangguk. Penuh tekanan –tentu saja-
“ya, Pricill pasti suka” kata Sivia
‘Kalo nggak suka berarti tuh cewek begok’ lanjutnya dalam hati.
“gue tau kok selera lo sama Pricill
itu hampir sama, makanya itu gue ngajak lo kesini buat nemenin gue nyari kado
buat Pricill”
“kado? Bukannya ulang tahun Pricill
udah lewat seminggu yang lalu ya?” Sivia heran.
Alvin berbalik, ia menyerahkan
kalung pilihannya itu pada Penjaga toko dan meminta untuk dibungkuskan
sekalian. Setelah Penjaga toko itu mengangguk sebagai tanda setuju, Alvin
kembali membalik badannya hingga berhadapan dengan Sivia,
“bukan kado ulang tahun, tapi kado
anniversary gue yang ke-2 sama dia”
Anniversary kedua? Oh ya, Sivia baru
mengingatnya sekarang. 2 tahun yang lalu, Alvin dan Pricilla resmi jadian tepat
setahun setelah Alvin menyatakan perasaannya pada Sivia dan Sivia menolaknya
dengan alasan ia belum diperbolehkan pacaran oleh kedua orang tuanya.
Jika mengingat itu entah kenapa
rasanya sakit sekali bagi Sivia. Bagaimana tidak? Dulu Alvin pernah berkata
bahwa ia akan berusaha menunggu Sivia hingga tamat SMP, tapi ternyata Alvin
malah melanggar perkataannya sendiri ketika ia mengenal sosok Cantik nan indah
bernama Agatha Pricilla.
Tepat saat pergantian dari semester
1 ke semester 2 dikelas 7 SMP dulu, Pricilla hadir ditengah-tengah Alvin dan
Sivia dan berhasil merebut hati Alvin dengan begitu mudahnya dari genggaman
Sivia. Terbersit sebuah rasa kecewa dan penyesalan dihati Sivia kala itu, tapi
mau bagaimana lagi? Mungkin Alvin merasa tidak sanggup jika harus dituntut
menunggu lebih lama lagi. Sivia juga tidak bisa menyalahkan Alvin begitu saja.
Alvin hanya jatuh cinta, dan Sivia sama sekali tidak memiliki hak untuk
melarangnya jatuh cinta. Sivia juga tidak berhak untuk terus menahan Alvin dan
menuntutnya untuk tetap menunggu, tidak, Sivia tidak berhak.
Setelah 3 bulan melakukan
pendekatan, akhirnya Alvin dan Pricilla resmi berpacaran tepat saat mereka naik
kekelas 8 SMP. Sejak saat itu Alvin terlihat sangat bahagia, bahkan Alvin yang
dulunya tertutup dan sedikit cuek mulai merubah sikapnya saat bersama Pricilla.
Pricilla telah memberikan perubahan yang berarti dalam hidup Alvin. Untuk
itulah Alvin begitu menyayangi Pricilla. Apapun Alvin lakukan demi
mempertahankan hubungannya dengan Pricilla.
Ketika Rio, Ify, dan Shilla
menanyakan bagaimana keadaan Sivia telah Alvin dan Pricilla resmi berpacaran,
Sivia selalu saja berkata bahwa ia baik-baik saja dan akan selalu baik-baik
saja. Bahkan Sivia tidak segan-segan mengatakan bahwa ia sudah tidak memiliki
rasa apa-apa lagi untuk Alvin hanya demi menutupi kesakitannya saat itu.
Sivia mungkin pandai membohongi
semua orang termasuk Alvin. Tapi Sivia tidak pandai membohongi dirinya sendiri.
Sejak awal hatinya tidak pernah berdusta, dari dulu hingga sekarang, bahkan
sampai detik ini Sivia masih menyimpan rasa dan sebuah harapan untuk Alvin.
Sivia masih bertahan dengan semuanya meskipun –mungkin- Alvin sudah melupakan
bahwa dulu ia pernah sangat menyayangi Sivia.
Andai saja dulu Pricilla tidak
pernah hadir diantara mereka mungkin sekarang Alvin dan Sivia sudah bisa saling
memiliki satu sama lain. Ya… andai saja….
“SIPIA…. HELLOOOO….” Panggil Alvin
sambil menepuk kedua tangannya tepat didepan wajah Sivia. Sivia terkesiap dan
langsung menarik dirinya dari bayang-bayang masa lalunya yang menyesakkan.
“eh sorry…”
“elo itu sekarang kebanyakan
ngelamun. Hati-hati, nanti kalo lo kemasukan setan bisa repot urusannya” ujar
Alvin memperingatkan cenderung menakut-nakuti. Ia pun berjalan terlebih dahulu
tanpa menunggu Sivia.
“ALPIINNNNN Tungguin gue!” Sivia
berlari menyusul Alvin yang saat itu jaraknya belum terlalu jauh dari posisinya
sekarang.
***
“Alvin Sivia kemana aja sih? Kenapa
sampe sekarang mereka belom juga dateng? Lo udah sms mereka belom? Si Ify juga
kemana lagi??” Tanya Shilla sedikit kesal seraya meletakkan segelas Jus Jeruk
dihadapan Rio yang saat itu tengah asyik memainkan gitarnya.
“Alvin Sivia bilang mereka udah
dijalan, tadi mereka mampir ke Mall bentar” jawab Rio,
“Mampir ke Mall? Ngapain?”
Rio menngangkat kedua bahunya, ia
menghentikan permainan gitarnya sejenak lalu menatap Shilla,
“ya mana gue tau!”
“terus Ify?” Tanya Shilla lagi.
“masih sibuk sama Ray, lo tau kan
mereka baru jadian? Sekarang tuh mereka berdua lagi adem-ademnya, lo nggak tau?
Ya wajar aja sih, orang lo nggak pernah ngerasain pacaran kok” jawab Rio yang
mendadak sewot. Ia pun melanjutkan permainan gitarnya yang sempat terhenti
gara-gara pertanyaan-pertanyaan Shilla yang menurutnya sangat menganggu itu.
Entah kenapa jika sudah membahas
masalah Ify dan Ray, Rio selalu saja berubah sewot. Shilla tidak mengerti.
Sore itu mereka berlima memang sudah
membuat janji untuk berkumpul dirumah Shilla. Yang pertama datang tentu saja
adalah Rio, sementara yang lainnya malah sibuk sendiri dengan urusan mereka
masing-masing. Sudah hampir sejam Rio dan Shilla menunggu Alvin, Sivia, dan
Ify, tapi hingga selama itu mereka bertiga tidak juga menampakkan diri mereka.
Jelas saja kalau Rio dan Shilla kelamaan merasa sebal.
“Yo—“
“lo kalo sekali lagi nanya-nanya ke
gue beneran deh gue bakalan pulang” ancam Rio sebelum Shilla sempat melanjutkan
perkataannya.
Shilla yang saat itu memang memiliki
niat untuk bertanyapun harus dengan terpaksa menelan bulat-bulat pertanyaan
yang hendak ingin ia sampaikan pada Rio. Rio ini memang paling pintar ya yang
namanya membaca fikiran orang? Anaknya Ki Joko Bodo kali. Fikir Shilla.
***
Sivia berdiri didepan ruang OSIS
dengan membawa sebuah kotak bekal. Dengan yakin Sivia mendekat kearah pintu, ia
menarik kenop pintu lalu memasuki ruang OSIS.
“Hay Kakak Ketua OSIS…” Sapa Sivia
seramah mungkin pada sosok cowok berwajah tampan yang tengah berkutat dengan
layar monitor yang ada dihadapannya. Wajahnya tampak serius.
“hay juga” balasnya dingin.
“masih sibuk ya nyusun proposal buat
acara Pensi?” Sivia menarik kursi lalu duduk didepan cowok yang ia panggil
dengan panggilan ‘Kakak Ketua OSIS’ itu. Cowok itu hanya mengangguk tanpa
sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari layar monitor.
“Kakak pasti belum sarapan dirumah,
makan dulu yuk, Kak! Tadi Ibu aku masak nasi goreng, enaaakk banget, nih aku
bawain buat Kakak” kata Sivia penuh semangat seraya mendorong kotak bekal yang
ia bawa tadi kearah cowok itu.
“iya, nanti dimakan. Makasih ya?”
“nggak mau nanti, maunya sekarang!”
Cowok itu akhirnya mengangkat
wajahnya dari layar monitor. Saat itu juga Sivia langsung tersenyum manis. Jika
sudah begitu itu tandanya Kakak Ketua OSIS nya ini mulai menyerah.
“mau makan sekarang kan, Kak
Cakka….?” Sivia menaik turunkan kedua alisnya dengan senyum lebar.
Cakka si cowok misterius itu memang
paling dekat dengan Sivia. Sejak pertama kali melihat Cakka -yang belakangan
Sivia tau adalah Kakak Tiri Alvin- entah
kenapa Sivia ingin sekali dekat dan berteman dengannya.
Dan keinginan Sivia untuk berteman
dengan Cakka semakin tumbuh ketika Alvin menceritakan asal usul Cakka yang
sebenarnya. Alvin tidak begitu dekat dengan Cakka, tapi itu semua terjadi bukan
karna kemauan Alvin, melainkan karna kekerasan Cakka yang selalu saja berusaha
menutup dirinya dari Alvin dan kedua orang tuanya.
Ketika awal-awal Sivia mendekatinya,
Cakka sempat menolak, bahkan Cakka tidak segan-segan membentak Sivia hanya supaya Gadis itu
menjauhinya, tapi Sivia tetap gigih dengan usahanya hingga akhirnya Sivia bisa
menaklukkan Cakka. Sejak 2 tahun yang lalu mereka sudah menjadi sepasang teman
baik.
Bahkan saking dekatnya, Cakka sampai
menganggap Sivia seperti adiknya sendiri. Begitu juga sebaliknya, Sivia sudah
menganggap Cakka sebagai Kakaknya sendiri.
Tapi meski dekat, Cakka tidak pernah
sekalipun menceritakan masalah pribadinya pada Sivia. Jika Sivia bertanya Cakka
selalu saja berusaha untuk mengelak. Dan jika Sivia masih berusaha mencari tahu
juga, Cakka akan marah. Untuk itulah Sivia tidak pernah sekalipun menanyakan
hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi Cakka. Jikapun ingin, Sivia pasti
akan menanyakannya pada Alvin.
“Kak Cakka…”
“hmmm…” gumam Cakka singkat seraya
mengunyah nasi goreng yang tadi Sivia bawakan khusus untuknya,
“maaf ya kemaren aku nggak kesini
buat nemenin Kak Cakka ngurus Pensi, habisnya kemaren Alvin ngajakin aku
keluar”
“nggak apa-apa, Via. Nggak usah
dibahas lagi ya?”
Cakka terkenal sebagai sosok paling
dingin dan tercuek satu sekolah, tapi justru sikap dingin dan cueknya itulah
yang membuatnya memiliki banyak fans cewek-cewek yang begitu mengaguminya.
Bahkan sosok Cakka yang misterius mampu mengalahkan pamor Alvin yang terkenal
begitu ramah dan sangat bersahabat disekolah. Tapi sedikitpun Alvin tidak
merasa iri dengan itu, Alvin malah senang melihat begitu banyaknya orang yang
menyayangi Cakka.
Selain terkenal karna sikap-sikap
misteriusnya itu, di SMA Patuh Karya Cakka juga terkenal sebagai Siswa paling
pintar disekolah elite itu.
“Kak Cakka, kapan-kapan ikut jalan
bareng aku sama anak-anak yang lain ya?”
Cakka langsung tersedak dan
batuk-batuk begitu mendengarkan ucapan terakhir Sivia.
***
Sivia berlari tergopoh-gopoh kearah
pintu begitu mendengarkan suara bel rumahnya berbunyi. Sivia membuka pintu,
sebuah tatapan heran dengan kedua alis bertaut menyambut Sivia.
“abis ngapain lo?” Tanya Alvin. Ia
melihat Sivia dari ujung kaki hingga rambut. Siang ini Sivia benar-benar
terlihat berantakkan. Ia mengenakan celemek dengan noda saus dan minyak
dimana-mana. Rambut panjangnya ia gulung keatas. Sebuah pisau tergenggam
ditangan kanannya,
“gue lagi belajar masak” jawab Sivia
sekenanya. Alvin tertawa mencibir,
“belajar masak? Dapur lo baik-baik
aja kan? Nggak meledak kan?”
Sivia geram lalu mengangkat pisau
yang sedari tadi ia pegang,
“lo liat apa yang gue pegang ini? Lo
tentu nggak mau kan pisau ini ngerobek mulut lo?” ucap Sivia sok mengancam juga
dengan nada sok sadis. Kali ini Alvin berusaha menahan tawanya.
“sebagai hukumannya karna lo udah
ngeledek gue seenak udel lo, lo harus jadi orang pertama yang nyicipin masakan
perdana gue”
Alvin sontak kaget. Apa? Jadi orang
pertama yang mencicipi masakan perdana Sivia? Mimpi buruk. Ini benar-benar
mimpi buruk untuk Alvin.
Belum sempat Alvin mengeluarkan
alibi untuk menolak, Sivia tahu-tahu menarik pergelangan tangannya dan
membawanya paksa memasuki rumahnya. Alvin pasrah. Dalam hati ia berharap,
semoga nanti setelah ia pulang dari rumah Sivia ia tidak langsung dirawat
dirumah sakit karna diare.
***
“Via, nanti malem Pricill udah balik
lho dari Aussie” kata Alvin pada Sivia yang saat itu tengah sibuk menggoreng
telur dadar. Mendengar ucapan Alvin, tangan Sivia yang sejak tadi sibuk
membolak-balik telur yang ada dipenggorengan langsung berhenti bekerja sejenak.
Ada perasaan ngilu didasar hatinya ketika itu.
Pricilla kembali lagi? Itu berarti
waktu Sivia bersama Alvin akan tersita lagi oleh kehadiran Pricilla. Selama 3
minggu Pricilla melaksanakan Student Exchange di Aussie, Sivia merasa Alvinnya
yang dulu kembali lagi. Tapi hari ini Pricilla akan pulang yang itu berarti
akan membuat Alvin jauh lagi darinya.
“owh… emang program Student Exchange
nya udah selese?” Tanya Sivia pelan. ia kembali focus dengan telur dadarnya.
“udah dong, kan udah 3 minggu”
“ooo….” Sahut Sivia dingin.
“gue seneng banget tau, Vi? Karna
sebelum hari anniversary kita tiba Pricill udah pulang”
“bagus kalo lo seneng” sahut Sivia
lagi. Nadanya masih terdengar dingin, tapi Alvin tidak menyadarinya.
“untuk itulah gue dateng kerumah lo, gue mau Tanya pendapat
lo”
“pendapat apa?” Sivia mematikan
kompor lalu memindah telur dadarnya keatas piring.
“kira-kira menurut lo, surprise apa
yang musti gue kasih ke Pricill untuk menyambut kepulangannya?”
Sivia memejamkan matanya sejenak.
Rasa perih itu kembali terasa setelah selama 3 minggu belakangan ini Sivia
tidak pernah lagi merasakannya. Sivia meremas jari jemarinya, ia memejamkan
matanya sejenak untuk meredam rasa perih yang kelamaan terasa menyiksa itu,
beberapa saat kemudian Sivia berbalik dan dan berjalan perlahan menghampiri
Alvin yang saat itu duduk dimeja makan. Tidak lupa juga Sivia membawa telur
dadar buatannya sendiri.
“hmmm… apa yaa?” Sivia meletakkan
piring itu diatas meja lalu duduk disamping Alvin. “gue juga bingung sih”
lanjutnya. Alvin mendesah kecewa, tidak biasanya Sivia susah diajak kerja sama
seperti ini.
“payah lo” cibir Alvin. Sivia
langsung nyengir,
“hehehe….” Sivia memotong telur
dadar itu sedikit lalu menjulurkannya tepat didepan mulut Alvin,
“AAAA….” Sivia membuka mulutnya
lebar-lebar untuk memberi isyarat pada Alvin agar membuka mulutnya juga.
“apaan sih?”
“lo musti coba masakan perdana gue”
Alvin menggeleng.
“gue udah punya ide surprise buat Pricill nih”
“Apa? Apa?” Tanya Alvin tak sabar,
“ya makanya lo buka dulu mulut lo,
terus cobain deh telur dadar buatan gue”
“beneran ya setelah ini lo bakalan
ngasih gue saran”
“iya iya, bawel banget sih?”
Dengan setengah hati Alvin membuka
mulutnya lalu menerima suapan Sivia. Dan luar biasa, ini adalah telur dadar
terasin yang pernah Alvin makan. Sivia menatap Alvin penuh harap,
“gimana? Enak?”
Alvin mengangguk. Itupun terpaksa. Daripada Sivia tidak mau
memberikannya saran hanya gara-gara Alvin mengatakan bahwa masakannya tidak
enak, lebih baik Alvin berbohong. Ya tidak ada salahnya juga sih menyenangkan
hati Sahabat sekali-sekali.
Sivia tersenyum girang tak alang
kepalang,
“terus ide lo gimana, nih?” Alvin
menelan bulat-bulat telur dadar itu sebelum mengunyahnya.
“Pricill itu penggila Hello Kitty
kan? Kenapa lo nggak coba pake kostum hello kitty gitu, terus pas Pricilla
masuk kerumahnya lo ngehampirin dia gitu sambil bawa bunga, terus pas lo udah
deket sama Pricill lo buka deh penutup kepala hello kitty lo sambil bilang
“WELCOME BACK SAYAAANGGGG…. I MISS YOU” Teriak Sivia menirukan gaya bicara
Alvin jika sedang bersama Pricilla.
Alvin melongo mendengarnya. Apa?
Memakai kostum hello kitty? Apa tidak salah? Gadis ini pasti telah
mempermainkannya.
Alvin menoyor pelan kepala Sivia
lantas berkata,
“ide lo gila! Nggak seru. Masa gue
udah kece-kece begini lo suruh pake kostum hello kitty??”
Sivia menoyor balik kepala Alvin,
“heh, ide gue brilliant bukan gila.
Justru gue ngasih lo ide yang unik, gue yakin deh seribu persen, kalo lo
ngejalanin ide gue ini Si Pricill pasti bakalan terharu, ehem….” Sivia berdehem
sejenak, ia bangkit dari tempat duduknya lalu menuntun Alvin untuk berdiri
dihadapannya.
Setelah mereka sama-sama berhadapan,
Sivia langsung mengubah gayanya seperti gaya Pricilla, ia memasang raut wajah
terharu lalu berkata,
“Sayang… makasih ya buat surprisenya?
Aku seneengg banget…” Sivia mendekat perlahan kearah Alvin lalu memeluknya
erat,
“aku juga kangen sama kamu sayang,
hik…hik…” ujar Sivia dramatis. Beberapa saat Alvin terkesima. Tapi itu tidak
lama, karna beberapa detik setelahnya Alvin langsung melepaskan pelukan Sivia
darinya dan sekali lagi menghadiahkan sebuah toyoran dikening gadis itu,
“kebanyakan nonton telenovela lo”
Alvin kembali duduk dikursinya.
Dasar Sivia, bukannya ngasih ide yang bagus tapi malah bikin Alvin semakin
pusing dengan omongannya juga aktingnya yang tidak jelas itu.
“tapi emang kayak gitu caranya,
Alpiinnnn!! Ihh, lo itu nggak ada romantic-romantisnya ya jadi cowok? Kalo kata
gue mending lo pake ide gue. Gue jamin Si Pricill bakalan terharu, kalo sampe
Si Pricill nggak terharu potong lidah gue saat itu juga” jelas Sivia panjang
lebar dengan wajah meyakinkan.
Alvin menatap Sivia dengan pandangan
menimbang-nimbang. Sebenarnya ide Sivia lumayan masuk akal juga, tapi masa sih
harus pakai kostum hello kitty? Apa tidak bisa mengenakan kostum yang lain?
Tidak lama kemudian Alvin mengangguk. Dalam hati Alvin merutuki dirinya karna
telah termakan omongan Sivia. Sivia tersenyum puas.
“inget ya, Vi? Kalo sampe Si Pricill
nggak terharu gue potong lidah lo!”
“dengan senang hati” sahut Sivia
cepat.
“tapi nanti malem lo dateng kan ke
pesta penyambutan Pricill? Ify, Shilla ama Rio juga dateng kok”
Sivia menampakkan raut menyesal,
“sebenernya gue pengen, tapi nanti
malem gue ada siaran! Lo tentu tau dong kalo sahabat lo yang paling kece ini
adalah penyiar radio paling tenar tahun ini, hihi….”
“nggak tau dan nggak mau tau” sambar
Alvin cepat.
Sebenarnya malam ini Sivia tidak ada
siaran apapun, jadwalnya sedang kosong. Tapi Sivia sengaja menggunakan alasan
itu untuk menghindari menghadiri pesta Pricilla. Ia tidak ingin semakin sakit
hati dipesta nanti jika melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Alvin dan
Pricilla. Apalagi kan nanti adalah kali pertamanya mereka bertemu setelah
selama 3 minggu tidak pernah bertemu.
“tadi kan kata lo telur dadar gue
enak, diabisin dong!!” ujar Sivia seraya mendorong pelan piring itu kearah
Alvin.
“WHAAATTT…..???”
BERSAMBUNG….



This comment has been removed by the author.
ReplyDelete