Thursday, July 18, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 7 -Fly With You-






                “Yo, itu Si Ray bukan? Pacarnya Ify?” Tanya Alvin pada Rio seraya menunjuk salah satu cowok yang dikelilingi oleh beberapa orang cewek. Malam itu Alvin dan Rio sedang berada disebuah Café.
            “mana?” Rio mengikuti arah pandangan Alvin. Dan Rio langsung terkejut ketika melihat Ray yang saat itu terlihat sangat bahagia dikelilingi oleh beberapa orang cewek. Rio geram, kedua tangannya telah terkepal, emosinyapun sudah naik dan siap untuk dilampiaskan.
            Jadi begini kelakuan Ray jika tidak sedang bersama Ify? Sejak awal Ify memperkenalkan Ray sebagai Pacarnya perasaan Rio memang sudah tidak enak. Rio merasa bahwa Ray bukanlah cowok baik-baik. Dan ternyata sekarang, dugaannya 2 tahun yang lalu akhirnya terbukti. Ray memang brengsek.
            Rio melepaskan gelas minumannya begitu saja diatas meja lalu berjalan kearah Ray untuk memberikan cowok itu pelajaran. Namun baru saja selangkah Rio melangkahkan kakinya, Alvin buru-buru menahan lengan Rio.
            “lo mau ngapain, Yo?” Tanya Alvin panic. Ia takut Rio melakukan tindakan yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri.
            Dengan pandangan yang tetap mengarah pada Ray, Rio menepis tangan Alvin dari lengannya,
            “gue akan kasih dia pelajaran karna udah mainin Ify”
            “tapi Yo—“
            Sebelum Alvin sempat menyelesaikan perkataannya, Rio malah sudah melanjutkan langkahnya. Alvin diam ditempat menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Alvin juga telah siap membantu jika nanti Rio butuh bantuannya.
            Dengan kasar Rio menarik kerah baju Ray hingga cowok berwajah imut itu bangkit dari duduknya. Lalu tanpa babibu lagi, Rio langsung saja mendaratkan sebuah pukulan yang sangat keras tepat diwajah Ray. Susana Café mendadak hening.
            “Apa-apan lo??” Tanya Ray emosi yang merasa tidak terima dengan perlakuan Rio.
            Tanpa menjawab pertanyaan Ray, Rio kembali melayangkan sebuah pukulan pada perut Ray hingga Ray jatuh bersimpuh dihadapannya.
            Emosi Ray akhirnya tersulut, ia mengusap darah yang menetes dari tepi bibirnya lalu bangkit dan membalas pukulan Rio tadi.
            “lo apa-apaan sih dateng-dateng udah mau pukul aja? Lo fikir gue takut sama lo? HAA??” Ketika Ray akan kembali melayangkan sebuah pukulan diwajah Rio, dengan sigap Rio menahan tangan Ray.
            “gue nggak terima lo mainin Ify kayak gini! Lo itu pacarnya Ify kan? Tapi kenapa lo malah ngelakuin semua ini dibelakangnya?”
            Ray mendesis sinis, lalu dalam satu sentakan kuat Ray melepaskan tangannya dari genggaman Rio,
            “ooo… jadi itu permasalahannya?” Ujar Ray dengan nada meremehkan. Rio diam, menunggu apa yang akan Ray katakan selanjutnya.
            “ya… gue emang sengaja mainin Ify, gue udah bosen sama cewek sok suci kaya dia”
            Emosi Rio semakin memuncak. Perkataan Ray baru saja benar-benar sudah sangat keterlaluan. Rio meraih kerah baju Ray lalu mengangkat tinjunya,
            “LO BILANG APA?? COBA ULANGI SEKALI LAGI??” Teriak Rio. Susana café berubah mencekam.
            “GUE UDAH BOSEN SAMA CEWEK SOK SUCI KAYAK IFY” Ray seakan menantang. Lalu seperti orang kesetanan Rio pun menghajar Ray habis-habisan tanpa memberikannya kesempatan untuk melawan.
            “Jaga omongan lo! Ify itu bukan cewek murahan kayak cewek-cewek lo yang lain. Dan lo musti tau, cowok brengsek kayak lo sama sekali nggak pantes buat cewek sebaik Ify, GUE BUNUH LO MALEM INI, GUE BUNUH LO!!!!”
            Merasa bahwa apa yang Rio lakukan sudah diluar batas, Alvinpun akhirnya turun tangan. Ia melangkah besar-besar menghampiri Rio dan Ray.
            “RIO CUKUP!!!” Teriak Alvin seraya memisahkan Rio dan Ray. Alvin menarik lengan Rio sedikit keras hingga posisinya bisa sedikit menjauh dari posisi Ray sekarang.
            “udah gila lo, Yo? Bisa mati dia nanti” kata Alvin yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
            “tapi dia—“
            “gue tau, tapi bukan begini cara lo menyelesaikan masalah. Cara lo ini criminal, Yo! lo mau masuk penjara Cuma gara-gara masalah ini?”
            “ERGH…. TERSERAH!!” Rio akhirnya menyerah. Ia pun berjalan keluar meninggalkan café. Saat itu juga Ray menghela nafas lega. Ternyata Tuhan masih menyayanginya.
            Beberapa saat setelah kepergian Rio, Alvin mengulurkan tangannya dihadapan Ray untuk membantu cowok itu berdiri. Ray tersenyum sinis lalu menepis tangan Alvin dari hadapannya,
            “MAKASIH…. Tapi gue masih bisa sendiri” sinis Ray lalu berdiri dihadapan Alvin.
            Alvin menatap Ray tajam, tidak lama kemudian Alvin berkata pada Ray,
            “tinggalin Ify! Sedikiittt aja Ify terluka gara-gara lo, maka gue nggak akan segan-segan buat ngebiarin Rio ngebunuh lo!! Sekali lagi gue tekankan, tinggalin Ify!!” ancam Alvin dengan serius seraya menunjuk wajah Ray.
            Tidak ingin membuang-buang waktu lagi bersama Ray, Alvinpun berjalan keluar menyusul Rio.


****

            Sivia menggeliat dan melenguh pelan ketika seberkas sinar matahari pagi menerpa wajahnya dan menyilaukannya. Alih-alih terbangun dari tidurnya Sivia malah menarik selimutnya dan menutupi seluruh bagian tubhnya.
            Alvin yang baru saja membuka jendela kamar Sivia langsung berdecak kecil seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali ketika melihat Sivia yang kembali tertidur. Alvin melangkah besar-besar kearah tempat tidur Sivia lalu menepuk pelan wajah Gadis itu.
            “Heh Kebo!! Bangun nggak lo, udah siang ini” ucap Alvin pelan. ia masih sabar kali ini.
            Sivia yang masih dalam keadaan setengah sadar melenguh lagi lalu berkata dari balik selimutnya,
            “engghhh… jam berapa sih ini?” Sivia juga masih belum sadar bahwa yang membangunkannya pagi ini adalah Alvin.
            “jam 8” jawab Alvin sekenanya,
            “masih subuh” sahut Sivia.
            Alvin yang mulai habis kesabarannyapun akhirnya menggeleng beberapa kali lalu menarik paksa selimut Sivia hingga memperlihatkan wajahnya yang masih terlelap. Untuk sejenak Alvin terpesona menyaksikan keindahan yang terhampar dihadapannya. Ternyata Sivia terlihat sangat cantik ketika ia sedang tertidur.
            Alvin tersenyum kecil. Ia yang awalnya tadi sedikit emosi karna Sivia tidak juga bangun dari tidurnya malah sekarang tidak emosi lagi. Emosinya seakan terkikis habis ketika melihat kecantikan Sivia pagi ini.
            Beberapa saat kemudian Sivia membuka matanya. Samar-samar ia menangkap siluet Alvin. Tanpa sadar Sivia tersenyum, entah kenapa ia merasa semua ini seperti ini mimpi. Alvinpun membalas senyum Sivia dengan seulas senyuman yang tidak kalah manisnya dari senyum milik Sivia.
            Tidak lama kemudian Sivia akhirnya tersadar. Kelopak matanya melebar, ia bangkit lalu menarik selimutnya hingga menutupi dadanya,
            “ELO?? NGAPAIN LO DIKAMAR GUE PAGI-PAGI??” Hardik Sivia.
            “ngebangunin kebo yang lagi tidur” jawab Alvin seenaknya. Kedua mata Sivia langsung membelalak lebar ketika mendengar jawaban Alvin itu. Siapa yang Alvin maksud kebo? Sivia? Isshhh… dasar menyebalkan! Sungut Sivia dalam hati yang langsung memasang wajah cemberut.
            Tiba-tiba saja Alvin melemparkan sebuah handuk kearah Sivia dan tepat mengenai wajahnya,
            “mandi sana! Gue mau bawa lo kesuatu tempat” perintah Alvin dengan menyebalkannya dan berlalu begitu saja dari kamar Sivia.
            Sivia mendengus kesal. Saking kesalnya Sivia rasanya ingin menendang Pria itu sejauh mungkin dari hidupnya.

****

            “PLAAAKK….” Sebuah tamparan dari tangan Ify mendarat tepat dipipi sebelah kanan Rio ketika Rio baru saja membukakan Ify pintu. Rio menatap Ify dengan tatapan bertanya, merasa pipinya mulai terasa sedikit panas akibat tamparan yang lumayan keras dari Ify, Rio pun memegangi pipinya.
            Ify menatap Rio dengan tatapan pembunuh. Cukup dengan melihat tatapannya saja Rio tahu bahwa Gadis ini sedang sangat marah padanya. Hmm… pasti karna kejadian semalam. Si Cowok berwajah cute itu pasti langsung melapor pada Ify, jika tidak, mana mungkin Ify datang sepagi ini ke Apertemen Rio Cuma untuk menamparnya.
            “lo jahat tau nggak, Yo? Gue benci sama lo!!” cerca Ify dengan suara bergetar. Tatapan mata Ify yang terlihat nanar membuat Rio tahu bahwa saat ini Ify ingin sekali menangis tapi berusaha ia tahan.
            Jika sudah melihat Ify seperti ini, Rio pasti akan menjelma menjadi sosok Pria paling lemah sedunia. Entah kenapa Rio merasa tidak berdaya dihadapan Gadis ini. Gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini diam-diam mengisi relungnya, Gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini diam-diam ia cintai.
            “PUAS LO NGELIAT GUE PUTUS SAMA RAY? PUASSS??” Jerit Ify. Merasa tidak tahan lagi menahan semua kesakitannya, Ify langsung menghamburkan air matanya. Rio semakin lemah, bahkan untuk melakukan sedikit gerakan saja Rio merasa tidak mampu. Rio lumpuh untuk beberapa saat.
            “Lo tau kan gue sayang banget sama Ray, tapi kenapa lo malah tega ngelakuin ini semua ke gue, Yo, kenapa?”
            Rio masih terdiam. Belum bisa melakukan pembelaan apapun atas perbuatannya semalam. Saat ini Rio hanya ingin mendengarkan Ify. Hanya itu saja.
            “sejak awal gue udah tau, Yo kalo lo emang nggak pernah suka ngeliat gue jadian sama Ray, Cuma aja gue nggak pernah nyangka kalo lo bakal ngelakuin tindakan sepengecut ini Cuma buat misahin gue dari Ray? Gue nggak nyangka Rio…”
            “Fy, dengerin gue, Ray itu—“
            “NGGAAAAKKK!! GUE NGGAK MAU DENGER APA-APA LAGI DARI LO. LO ITU JAHAT, LO ITU PENGECUT TAU NGGAK??”
            “Alyssa please, sekaliiii ini aja lo dengerin gue, Cuma sekaliiii ini aja” pinta Rio dengan nada memohon. Ify akhirnya diam, berusaha meredam emosinya yang terlanjur meluap hebat tak terkendali.
            “Ray itu cowok brengsek Ify, Ray itu nggak sebaik seperti apa yang lo fikir selama ini, Ray itu Cuma mau—“
            “kalo Ray brengsek terus lo apa, Rio??” sela Ify ditengah-tengah ucapan Rio. Rio terdiam sejenak,
            “kalo emang Ray itu cowok brengsek seperti apa yang lo bilang, lo itu jauh lebih brengsek Rio…”
            Jleb! perkataan Ify barusan benar-benar tajam dan menusuk jantung Rio hingga kedasar.
            “lo nggak sadar, ato lo emang pura-pura nggak sadar? Lo inget selama ini udah berapa banyak cewek yang lo mainin? Lo bisa hitung udah berapa cewek yang terluka karna lo? Jadi sebelum lo ngatain cowok gue brengsek, mending lo ngaca dulu!! Lo itu nggak lebih baik dari Ray tau nggak, Yo? GUE KECEWA SAMA LO, BENER-BENER KECEWA, MARIO ADITYA”
            Rio menghela nafas panjang. Ya, semua apa yang Ify katakan padanya memang benar adalah kenyataan. Rio tidak menampik semua ucapan Ify itu, sama sekali tidak menampik. Rio juga sadar bagaimana jahatnya ia selama ini, tapi Rio hanya tidak ingin melihat Ify dipermainkan.
            “Gue emang brengsek, Fy, dan mungkin gue lebih brengsek dari Ray, tapi asa lo tau, nggak pernah sekalipun dalam hidup gue, gue rela ngebiarin lo disakitin sama cowok brengsek macam gue ataupun Ray, gue nggak pernah rela, Ify, karna buat gue, lebih baik mati saja dari pada ngeliat lo sakit”
            “ngomong apa lo?”
            “gue sayang sama lo, Ify Alyssa! Asal lo tau itu, tapi selama ini gue cukup tahu diri kok, kalo gue bukan cowok yang pantes buat lo, untuk itulah gue mau lo ngedapetin cowok yang pantes buat, dan cowok itu bukan Ray” jujur Rio apa adanya. Ify merasakan sakit yang benar-benar sakit dihatinya. Jadi selama ini Rio menyimpan rasa untuknya? Tapi bagaimana bisa?
            “terserah gimana tanggepan lo sama gue setelah lo tau yang sebenernya, gue nggak peduli Fy, tapi gue Cuma mau lo tau kalo Ray itu bukan cowok baik-baik, Ray bukan cowok yang tepat buat lo”
            “elo… elo… ergh….” Erang Ify putus asa lalu berlari sekencang-kencangnyanya meninggalkan Apertemen Rio.
            Apapun dan bagaimanapun sikap Ify padanya setelah ini Rio tidak akan memikirkannya. Yang terpenting sekarang adalah, Rio merasa bebannya bisa sedikit terkurangi. Setidaknya Rio merasa lega karna ia masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk jujur pada Ify. Itu semua sudah lebih cukup buat Rio.


****

            Dengan malas-malasan Sivia membuka pintu mobil Alvin lalu menghempaskan tubuhnya tubuhnya dijok depan, tepatnya disebelah Alvin yang saat itu berada dibelakang kemudi. Sivia memejamkan matanya, berusaha mengurangi rasa ngantuk yang kini masih menderanya.
            Semalam Sivia siaran hingga pukul satu dini hari dikarena ia harus menggantikan tugas Deva yang tadi malam terpaksa ijin karna urusan kampusnya. Alhasil sekarang Sivia masih sangat kelelahan, belum lagi tadi pagi-pagi sekali –setidaknya itu menurut Sivia- Alvin malah membangunkannya dengan tidak berprasaan dan sekarang hendak membawanya entah kemana. Hwaaa… kepala Sivia rasanya seperti ingin pecah. Dia hanya ingin istirahat, kenapa Alvin tidak mau mengerti? Memangnya tidak bisa apa pergi nya nanti siang saja? Atau sore sekalian.
            “masih ngantuk lo?” Tanya Alvin yang menurut Sivia sangat berbasa-basi.
            Sivia membuka matanya lalu melirik tak suka kearah Alvin,
            “pake nanya lagi lo!”  semprot Sivia dengan wajah galak.
            “hiii serem…” Alvin pura-pura bergidik ngeri.
            Sivia berdecak kesal. Rasanya percuma saja meladeni Pria ini. Sivia kembali memejamkan matanya lalu mengalihkan wajahnya kearah jendela mobil. Alvin berdehem pelan,
            “ehem… Via” panggil Alvin mendadak lembut.
            “hmm…” gumam Sivia tanpa melirik kearah Alvin.
            Alvin terdiam, dan Sivia lebih memilih untuk tidak peduli. Saat ini Sivia hanya ingin tertidur, walaupun hanya sebentar. Beberapa saat kemudian, Sivia tahu-tahu merasakan Alvin menarik lengannya hingga membuatnya mau tidak mau harus berhadapan dengan Alvin.
            “apalagi sih? Gue ngantuk Alpiiinnnn….” Rengek Sivia.
            Secara mengejutkan Alvin tiba-tiba mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang tercekat langsung sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin yang kelamaan semakin mendekati wajahnya.
            “mau apa lo?” Tanya Sivia yang berusaha keras menyembunyikan kegugupannya.
            Tapi Alvin tidak sedikitpun menggubris pertanyaan Sivia tersebut. Wajahnya terus bergerak mendekati wajah Sivia, tubuh Siviapun semakin terpojokan dipintu mobil. Sepertinya Pria ini sangat serius dan tidak main-main dengan apa yang akan ia lakukan. Tangan kanan Alvin terulur kebelakang punggung Sivia lalu mengunci pintu mobilnya.
            Deg… debaran jantung Sivia semakin kencang saat itu juga. Parah, ini sudah benar-benar parah. Jarak Wajah mereka semakin dekat saja. Sivia yang tidak tahu harus berbuat apa akhirnya memutuskan untuk memejamkan matanya kuat-kuat. Alvin menghentikan pergerakan wajahnya ketika melihat Sivia yang sudah menutup kedua matanya. Alvin tersenyum kecil, ternyata semakin bertumbuh dewasa, Sivia semakin bertambah  cantik. Alvin menyesal dulu pernah menyiakan-nyikannya hanya karna Pricill.
            Alvin memiringkan posisi wajahnya, dan Sivia merasakan desauan hangat nafas Alvin menerpa wajahnya, Sivia tergetar.
            Alvin tersenyum licik. Salah satu tangannya pun bergerak meraih sabuk pengaman lalu memasangkannya ditubuh Sivia.
            “pake ini biar aman!”
            Sivia membuka matanya lalu melirik benci kearah Alvin yang sudah menjauhkan posisi wajahnya sekarang. Demi apapun itu, rasanya Sivia ingin mencakar dan mencabik-cabik muka cowok yang suka tebar pesona ini. Sivia muak, benar-benar muak.
            Melihat ekspresi Sivia yang menurutnya sangat lucu, Alvinpun terkekeh geli lalu mengusap wajah Sivia dengan telapak tangannya,
            “jangan kepedean jadi cewek makanya!”
            Alvinpun menyalakan mobilnya dan telah siap melesat pergi. Sivia melipat kedua tangannya didepan dada dengan wajah yang benar-benar cemberut.
            “pede boleh-boleh aja Vi, asal jangan sampe kepedean” Khotbah Alvin seraya menyetir mobilnya menjauhi rumah Sivia.

            “ALPIIINNNNNNNNNN!!!!” Teriak Sivia sekencang-kencangnya,

            “HAHAHAHAHAHAHAHA……..”


****

            Pria berkulit hitam-manis dan berwajah tampan itu langsung membuka kaca matanya ketika ia baru saja keluar dari Airport. Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru. Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam akhirnya tibalah ia ditempat tujuannya, Indonesia.
            Pria berwajah tampan itu tersenyum kecil,
            “Alvin Jonathan… Gue akan cari lo sampe dapat” ujarnya mantap lalu menarik kopernya dan memasuki sebuah mobil yang sudah menunggunya didepan Airport.


****

            Alvin menghentikan Ferarri merahnya disebuah lapangan hijau nan luas. Dengan wajah yang masih ogah-ogahan Sivia menatap keluar jendela. Ia sedikit heran, buat apa juga Alvin membawanya kesebuah lapangan kosong tak berpenghuni seperti ini? Pria ini memang aneh, dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah.
            “ngapain lo bawa gue kesini?” Tanya Sivia penasaran. Pandangannya masih tertuju pada hamparan hijau nan luas yang ada dihadapannya.
            Alvin tersenyum sinis, ia membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari dalam mobilnya,
            “gue akan bawa lo terbang seperti apa yang pernah gue janjiin sama lo 2 tahun yang lalu” ujar Alvin.
            Sivia menatap kearah Alvin dengan kedua alis bertaut. Sivia bahkan belum sadar bahwa Alvin telah hengkang dari sampingnya.
            “Ayo keluar!! Ngapain diem disitu? Mau gue bawa terbang nggak?”
            “CARANYA???” Tanya Sivia sedikit keras.
            “nggak usah banyak bacot deh! Gue bilang keluar ya keluar!”
            Sivia menggeleng beberapa kali lalu keluar dari mobil Alvin mengikuti perintah sang empunya.
            Sivia berjalan perlahan dan berdiri disisi Alvin yang saat itu berdiri didepan mobilnya seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Pandangan matanya tertuju keatas langit. Sivia mengikuti arah pandangan Alvin.
            Sivia beruasaha keras menahan rasa penasarananya, dan ia juga menahan hasratnya untuk bertanya pada Alvin. Sivia takut jika sekali lagi ia bertanya maka Alvin langsung akan menendangnya sejauh mungkin.
            “lo tau kenapa kemarin gue ngasih lo miniature helicopter?” Tanya Alvin tiba-tiba. Ia melirik sejenak kearah Sivia. Sivia menggeleng pelan, Alvin tertawa kecil,
            “hahahaa… karna gue mau bawa lo terbang” jawab Alvin dengan mantap.
            Sivia diam berfikir. Apa hubungannya miniature helicopter itu dengan keinginanya membawa Sivia terbang? Aneh, benar-benar aneh. Sok misterius! Batin Sivia dengan senyum meremehkan.
            Alvin tiba-tiba menghitung mundur “Lima, empat, tiga… dua… sa—“
            Sebuah helicopter tiba-tiba saja muncul dari kejauhan. Sivia terkagum. Ia benar-benar tidak percaya Alvin bisa melakukan semua ini.
            Kelamaan helicopter itu mendekat dan perlahan turun. Suara baling-balingnya yang terus berputar sangat memekakan telinga Sivia. Tapi semua itu belum seberapa dibandingkan dengan rasa kagumnya saat ini.
            Merasa rencananya akan berjalan sesuai keinginanya Alvinpun tersenyum puas lalu melirik kearah Sivia yang ketika itu masih larut dalam keterpanaannya. Apa yang Alvin lakukan untuknya kali ini benar-benar hebat dan benar-benar jauh dari apa yang terfikirkan olehnya selama ini. Jika boleh Sivia ingin menangis dan menghambur kedalam pelukan Pria itu.
            Alvin tahu-tahu mengulurkan tangannya dihadapan Sivia,
            “lo mau kan terbang sama gue?” Sivia melirik kearah Alvin dengan pandangan nanar. Air mata bahagia itu masih sanggup ia tahan. Sivia mengangguk berkali-kali lalu menyambut uluran tangan Alvin dan menggenggamnya erat.
            “gue akan ajak lo nyentuh awan, kita akan sama-sama nyentuh awan” ujar Alvin dengan makna tersirat yang mampu dipahami langsung oleh Sivia. Kali ini Sivia terdiam, tidak juga mengangguk. Entah kenapa bayangan Cakka kembali berpendar diotaknya dan membuat semua yang harusnya terasa gampang menjadi sangat sulit. Ada apa ini?
            Alvin dan Siviapun melangkah. Mereka berjalan beriringan menuju helicopter yang telah siap membawa mereka terbang dan menyentuh awan. Diam-diam Sivia berharap, bahwa ditengah perjalanan nanti Alvin tak akan menghampaskannya lagi, tidak akan lagi. Karena Sivia tidak ingin terjatuh lagi, tidak ingin sakit lagi….

            Kali ini Alvin dan Sivia sudah duduk berdampingan didalam helicopter dengan mengenakan headphone mereka masing-masing. Sedari tadi, sejak mereka menaiki helicopter ini, Alvin tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Sivia merasa bahagia karena Alvin, bukan hanya bahagia tapi sangat bahagia.
            Helicopter itu perlahan naik dan membawa kedua anak manusia ini terbang jauh, menyentuh awan seperti apa yang mereka mau. Secara perlahan Sivia merebahkan kepalanya diatas pundak Alvin.
            “Vin”
            “hmm?” sahut Alvin lembut,
            “makasih ya?”   ujar Sivia pelan. Alvin hanya mengangguk. Ia mengangkat gumpalan tangannya yang menggenggam erat tangan Sivia lalu mengecupnya lembut. Alvin melakukannya agak lama.
            “gue Cuma mau nepatin janji gue, Via, dan emang udah sepantesnya lo ngedapetin ini, lo berhak atas ini dan atas—“ Alvin menggantungkan kalimatnya, ia terlihat sedikit ragu melanjutkan perkataannya.
            “dan atas apa?” tantang Sivia,
            “atas seluruh hati dan hidup gue” jawab Alvin mantap dengan penuh ketulusan didalamnya. Kembali Sivia hanya bisa terdiam.
            “Via…”
            “hmm?”
            Alvin memegang kedua pundak Sivia lalu menatapnya lurus,
            “dulu gue pernah ngelakuin kesalahan besar dengan lebih memilih Pricill dan menyia-nyikan kesetiaan lo sama gue, dan sekarang gue mau mengaku… gue nyesel, Via, gue janji sama lo, gue nggak akan ngulang kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya, cukup sekali aja gue jadi goblok karna udah jatuh diatas keindahan Pricill, gue nggak akan ngulang kegoblokan gue itu lagi, Via, nggak akan pernah…”
            “Via, sekarang gue udah bener-bener bisa mencintai lo dengan sepenuh hati gue, bolehkan jika sekarang gue mau nagih janji lo?”
            Telak, pertanyaan Alvin barusan benar-benar telak dan membuat Sivia bingung harus bagaimana. Jika ingin, sebenarnya gampang saja Sivia mengatakan ‘IYA’ dan semuanya akan selesai, ia akan bisa meraih Alvin seperti apa yang impi-impikan selama ini. Tapi entah kenapa sekarang, Sivia rasa semuanya sulit, dan itu semua karena…. Cakka.
            Sivia membuang wajahnya kearah lain. Sivia benar-benar merasa tidak sanggup jika harus menatap kedua mata Alvin lebih lama lagi. Sivia takut…
            “Via…” Alvin memalingkan wajah Sivia dengan tangannya hingga mereka kembali berhadapan. Beberapa detik kemudian Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia.
            Ketika wajahn itu semakin mendekat dan jarak diantara mereka nyaris terhapus, ingatan Sivia mendadak tertuju pada kejadian 2 tahun lalu, ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Alvin mencium Pricill dan membuat jantungnya terasa remuk tak berbentuk. Sivia memejamkan matanya, berusaha melawan rasa sakit yang ternyata masih tersisa, lalu tanpa Sivia inginkan, tiba-tiba saja ia memalingkan wajahnya sebelum Alvin menggapainya. Saat itu juga jantung Sivia terasa berhenti berdetak. Sivia tahu Alvin pasti kecewa, tapi Sivia tidak bisa melakukannya. Sivia juga tidak sanggup melawan rasa sakit itu. Sekali lagi, Sivia butuh waktu, sedikit waktu saja.
            “maaf…” sesal Alvin lalu sedikit menjauhkan jaraknya dengan jarak Sivia.
            Sivia hanya mengangguk sungkan. Tersebersit sebuah rasa bersalah yang tiba-tiba saja memenuhi permukaan hatinya.
            Hening untuk beberapa saat. Alvin dan Sivia sama-sama terdiam, sama-sama tenggelam dalam kekalutan mereka masing-masing.
            “Via, jadi gimana jawaban lo?” Tanya Alvin tiba-tiba. Sivia langsung terkesiap dan berbalik menatap Alvin.
            “ja… jawaban?” Sivia mendadak gagap. Alvin mengangguk,
            “lo mau ngasih gue kesempatan buat perbaiki semua kesalahan gue?”
            Sivia menunduk dalam lalu berkata,
            “entahlah Vin, yang gue rasa sekarang, gue Cuma butuh waktu”
            “tapi gue udah nggak bisa nunggu lagi, Via. 2 tahun gue nunggu untuk hari ini dan lo masih bilang lo butuh waktu?” kata Alvin tak sabar.
            “lo kasi gue waktu buat mikir atau kalo nggak—“ Sivia menggantungkan kalimatnya, Alvin menunggu dengan harap-harap cemas.
            “atau kalo nggak, nggak ada kesempatan lagi buat lo” lanjut Sivia dengan berat hati.
            Alvin memejamkan matanya. Rasanya perih, benar-benar perih. Seperti ini kah sakit yang dulu pernah Sivia rasakan karna kesalahannya? Atau malah lebih dari ini? Alvin mengangguk beberapa kali, ia berusaha melawan semua ego nya lalu kembali berkata,
            “Oke, gue kasi lo waktu, dan gue akan menunggu lagi….”

            “makasih, Vin… dan harus selalu lo tau Vin, dari dulu, dari pertama kali lo nembak gue 7 tahun yang lalu sampe hari ini, perasaan cinta gue keelo nggak pernah berubah, dan hingga detik ini gue belum melihat ujung dari rasa cinta ini, gue juga belum temukan titik jenuh dari cinta ini, gue masih sangat mencintai lo, Alvin, selalu mencintai lo…”
            Alvin mengangguk beberapa kali lalu menarik Sivia kedalam pelukannya. Cukup bagi Alvin untuk tahu betapa besarnya rasa cinta Sivia selama ini kepadanya, dan tidak masalah bagi Alvin jika harus dituntut untuk menunggu lagi. Toh Gadis ini hanya mencintainya. Siviapun membalas pelukan Alvin, sebulir air matanya terjatuh mengiringi kepedihan hatinya saat ini. Kenapa? Kenapa mendadak bayangan Cakka hadir dan membuat semuanya terasa sulit? Sivia benci keadaan ini. Jika bisa, bolehkah ia menyalahkan Cakka saat ini?

            Mereka berduapun terbang semakin  jauh menembus awan, semakin jauh dan jauh…. Kebahagiaan itu nyaris mereka sentuh, nyaris mereka raih…



                        BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment