“Yo, itu Si Ray bukan? Pacarnya Ify?” Tanya
Alvin pada Rio seraya menunjuk salah satu cowok yang dikelilingi oleh beberapa
orang cewek. Malam itu Alvin dan Rio sedang berada disebuah Café.
“mana?”
Rio mengikuti arah pandangan Alvin. Dan Rio langsung terkejut ketika melihat
Ray yang saat itu terlihat sangat bahagia dikelilingi oleh beberapa orang
cewek. Rio geram, kedua tangannya telah terkepal, emosinyapun sudah naik dan
siap untuk dilampiaskan.
Jadi
begini kelakuan Ray jika tidak sedang bersama Ify? Sejak awal Ify
memperkenalkan Ray sebagai Pacarnya perasaan Rio memang sudah tidak enak. Rio
merasa bahwa Ray bukanlah cowok baik-baik. Dan ternyata sekarang, dugaannya 2
tahun yang lalu akhirnya terbukti. Ray memang brengsek.
Rio
melepaskan gelas minumannya begitu saja diatas meja lalu berjalan kearah Ray
untuk memberikan cowok itu pelajaran. Namun baru saja selangkah Rio
melangkahkan kakinya, Alvin buru-buru menahan lengan Rio.
“lo
mau ngapain, Yo?” Tanya Alvin panic. Ia takut Rio melakukan tindakan yang
nantinya akan merugikan dirinya sendiri.
Dengan
pandangan yang tetap mengarah pada Ray, Rio menepis tangan Alvin dari
lengannya,
“gue
akan kasih dia pelajaran karna udah mainin Ify”
“tapi
Yo—“
Sebelum
Alvin sempat menyelesaikan perkataannya, Rio malah sudah melanjutkan
langkahnya. Alvin diam ditempat menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Alvin juga telah siap membantu jika nanti Rio butuh bantuannya.
Dengan
kasar Rio menarik kerah baju Ray hingga cowok berwajah imut itu bangkit dari
duduknya. Lalu tanpa babibu lagi, Rio langsung saja mendaratkan sebuah pukulan
yang sangat keras tepat diwajah Ray. Susana Café mendadak hening.
“Apa-apan
lo??” Tanya Ray emosi yang merasa tidak terima dengan perlakuan Rio.
Tanpa
menjawab pertanyaan Ray, Rio kembali melayangkan sebuah pukulan pada perut Ray
hingga Ray jatuh bersimpuh dihadapannya.
Emosi
Ray akhirnya tersulut, ia mengusap darah yang menetes dari tepi bibirnya lalu
bangkit dan membalas pukulan Rio tadi.
“lo
apa-apaan sih dateng-dateng udah mau pukul aja? Lo fikir gue takut sama lo?
HAA??” Ketika Ray akan kembali melayangkan sebuah pukulan diwajah Rio, dengan
sigap Rio menahan tangan Ray.
“gue
nggak terima lo mainin Ify kayak gini! Lo itu pacarnya Ify kan? Tapi kenapa lo
malah ngelakuin semua ini dibelakangnya?”
Ray
mendesis sinis, lalu dalam satu sentakan kuat Ray melepaskan tangannya dari
genggaman Rio,
“ooo…
jadi itu permasalahannya?” Ujar Ray dengan nada meremehkan. Rio diam, menunggu
apa yang akan Ray katakan selanjutnya.
“ya…
gue emang sengaja mainin Ify, gue udah bosen sama cewek sok suci kaya dia”
Emosi
Rio semakin memuncak. Perkataan Ray baru saja benar-benar sudah sangat
keterlaluan. Rio meraih kerah baju Ray lalu mengangkat tinjunya,
“LO
BILANG APA?? COBA ULANGI SEKALI LAGI??” Teriak Rio. Susana café berubah
mencekam.
“GUE
UDAH BOSEN SAMA CEWEK SOK SUCI KAYAK IFY” Ray seakan menantang. Lalu seperti
orang kesetanan Rio pun menghajar Ray habis-habisan tanpa memberikannya
kesempatan untuk melawan.
“Jaga
omongan lo! Ify itu bukan cewek murahan kayak cewek-cewek lo yang lain. Dan lo
musti tau, cowok brengsek kayak lo sama sekali nggak pantes buat cewek sebaik
Ify, GUE BUNUH LO MALEM INI, GUE BUNUH LO!!!!”
Merasa
bahwa apa yang Rio lakukan sudah diluar batas, Alvinpun akhirnya turun tangan.
Ia melangkah besar-besar menghampiri Rio dan Ray.
“RIO
CUKUP!!!” Teriak Alvin seraya memisahkan Rio dan Ray. Alvin menarik lengan Rio
sedikit keras hingga posisinya bisa sedikit menjauh dari posisi Ray sekarang.
“udah
gila lo, Yo? Bisa mati dia nanti” kata Alvin yang sudah tidak bisa lagi menahan
emosinya.
“tapi
dia—“
“gue
tau, tapi bukan begini cara lo menyelesaikan masalah. Cara lo ini criminal, Yo!
lo mau masuk penjara Cuma gara-gara masalah ini?”
“ERGH….
TERSERAH!!” Rio akhirnya menyerah. Ia pun berjalan keluar meninggalkan café.
Saat itu juga Ray menghela nafas lega. Ternyata Tuhan masih menyayanginya.
Beberapa
saat setelah kepergian Rio, Alvin mengulurkan tangannya dihadapan Ray untuk
membantu cowok itu berdiri. Ray tersenyum sinis lalu menepis tangan Alvin dari
hadapannya,
“MAKASIH….
Tapi gue masih bisa sendiri” sinis Ray lalu berdiri dihadapan Alvin.
Alvin
menatap Ray tajam, tidak lama kemudian Alvin berkata pada Ray,
“tinggalin
Ify! Sedikiittt aja Ify terluka gara-gara lo, maka gue nggak akan segan-segan
buat ngebiarin Rio ngebunuh lo!! Sekali lagi gue tekankan, tinggalin Ify!!”
ancam Alvin dengan serius seraya menunjuk wajah Ray.
Tidak
ingin membuang-buang waktu lagi bersama Ray, Alvinpun berjalan keluar menyusul
Rio.
****
Sivia
menggeliat dan melenguh pelan ketika seberkas sinar matahari pagi menerpa
wajahnya dan menyilaukannya. Alih-alih terbangun dari tidurnya Sivia malah
menarik selimutnya dan menutupi seluruh bagian tubhnya.
Alvin
yang baru saja membuka jendela kamar Sivia langsung berdecak kecil seraya
menggelengkan kepalanya beberapa kali ketika melihat Sivia yang kembali
tertidur. Alvin melangkah besar-besar kearah tempat tidur Sivia lalu menepuk
pelan wajah Gadis itu.
“Heh
Kebo!! Bangun nggak lo, udah siang ini” ucap Alvin pelan. ia masih sabar kali
ini.
Sivia
yang masih dalam keadaan setengah sadar melenguh lagi lalu berkata dari balik
selimutnya,
“engghhh…
jam berapa sih ini?” Sivia juga masih belum sadar bahwa yang membangunkannya
pagi ini adalah Alvin.
“jam
8” jawab Alvin sekenanya,
“masih
subuh” sahut Sivia.
Alvin
yang mulai habis kesabarannyapun akhirnya menggeleng beberapa kali lalu menarik
paksa selimut Sivia hingga memperlihatkan wajahnya yang masih terlelap. Untuk
sejenak Alvin terpesona menyaksikan keindahan yang terhampar dihadapannya.
Ternyata Sivia terlihat sangat cantik ketika ia sedang tertidur.
Alvin
tersenyum kecil. Ia yang awalnya tadi sedikit emosi karna Sivia tidak juga
bangun dari tidurnya malah sekarang tidak emosi lagi. Emosinya seakan terkikis
habis ketika melihat kecantikan Sivia pagi ini.
Beberapa
saat kemudian Sivia membuka matanya. Samar-samar ia menangkap siluet Alvin.
Tanpa sadar Sivia tersenyum, entah kenapa ia merasa semua ini seperti ini
mimpi. Alvinpun membalas senyum Sivia dengan seulas senyuman yang tidak kalah
manisnya dari senyum milik Sivia.
Tidak
lama kemudian Sivia akhirnya tersadar. Kelopak matanya melebar, ia bangkit lalu
menarik selimutnya hingga menutupi dadanya,
“ELO??
NGAPAIN LO DIKAMAR GUE PAGI-PAGI??” Hardik Sivia.
“ngebangunin
kebo yang lagi tidur” jawab Alvin seenaknya. Kedua mata Sivia langsung
membelalak lebar ketika mendengar jawaban Alvin itu. Siapa yang Alvin maksud
kebo? Sivia? Isshhh… dasar menyebalkan! Sungut Sivia dalam hati yang langsung
memasang wajah cemberut.
Tiba-tiba
saja Alvin melemparkan sebuah handuk kearah Sivia dan tepat mengenai wajahnya,
“mandi
sana! Gue mau bawa lo kesuatu tempat” perintah Alvin dengan menyebalkannya dan
berlalu begitu saja dari kamar Sivia.
Sivia
mendengus kesal. Saking kesalnya Sivia rasanya ingin menendang Pria itu sejauh
mungkin dari hidupnya.
****
“PLAAAKK….”
Sebuah tamparan dari tangan Ify mendarat tepat dipipi sebelah kanan Rio ketika
Rio baru saja membukakan Ify pintu. Rio menatap Ify dengan tatapan bertanya,
merasa pipinya mulai terasa sedikit panas akibat tamparan yang lumayan keras
dari Ify, Rio pun memegangi pipinya.
Ify
menatap Rio dengan tatapan pembunuh. Cukup dengan melihat tatapannya saja Rio
tahu bahwa Gadis ini sedang sangat marah padanya. Hmm… pasti karna kejadian
semalam. Si Cowok berwajah cute itu pasti langsung melapor pada Ify, jika
tidak, mana mungkin Ify datang sepagi ini ke Apertemen Rio Cuma untuk menamparnya.
“lo
jahat tau nggak, Yo? Gue benci sama lo!!” cerca Ify dengan suara bergetar.
Tatapan mata Ify yang terlihat nanar membuat Rio tahu bahwa saat ini Ify ingin
sekali menangis tapi berusaha ia tahan.
Jika
sudah melihat Ify seperti ini, Rio pasti akan menjelma menjadi sosok Pria
paling lemah sedunia. Entah kenapa Rio merasa tidak berdaya dihadapan Gadis
ini. Gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini diam-diam mengisi relungnya,
Gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini diam-diam ia cintai.
“PUAS
LO NGELIAT GUE PUTUS SAMA RAY? PUASSS??” Jerit Ify. Merasa tidak tahan lagi
menahan semua kesakitannya, Ify langsung menghamburkan air matanya. Rio semakin
lemah, bahkan untuk melakukan sedikit gerakan saja Rio merasa tidak mampu. Rio
lumpuh untuk beberapa saat.
“Lo
tau kan gue sayang banget sama Ray, tapi kenapa lo malah tega ngelakuin ini
semua ke gue, Yo, kenapa?”
Rio
masih terdiam. Belum bisa melakukan pembelaan apapun atas perbuatannya semalam.
Saat ini Rio hanya ingin mendengarkan Ify. Hanya itu saja.
“sejak
awal gue udah tau, Yo kalo lo emang nggak pernah suka ngeliat gue jadian sama
Ray, Cuma aja gue nggak pernah nyangka kalo lo bakal ngelakuin tindakan
sepengecut ini Cuma buat misahin gue dari Ray? Gue nggak nyangka Rio…”
“Fy,
dengerin gue, Ray itu—“
“NGGAAAAKKK!!
GUE NGGAK MAU DENGER APA-APA LAGI DARI LO. LO ITU JAHAT, LO ITU PENGECUT TAU
NGGAK??”
“Alyssa
please, sekaliiii ini aja lo dengerin gue, Cuma sekaliiii ini aja” pinta Rio
dengan nada memohon. Ify akhirnya diam, berusaha meredam emosinya yang
terlanjur meluap hebat tak terkendali.
“Ray
itu cowok brengsek Ify, Ray itu nggak sebaik seperti apa yang lo fikir selama
ini, Ray itu Cuma mau—“
“kalo
Ray brengsek terus lo apa, Rio??” sela Ify ditengah-tengah ucapan Rio. Rio
terdiam sejenak,
“kalo
emang Ray itu cowok brengsek seperti apa yang lo bilang, lo itu jauh lebih
brengsek Rio…”
Jleb!
perkataan Ify barusan benar-benar tajam dan menusuk jantung Rio hingga kedasar.
“lo
nggak sadar, ato lo emang pura-pura nggak sadar? Lo inget selama ini udah
berapa banyak cewek yang lo mainin? Lo bisa hitung udah berapa cewek yang
terluka karna lo? Jadi sebelum lo ngatain cowok gue brengsek, mending lo ngaca
dulu!! Lo itu nggak lebih baik dari Ray tau nggak, Yo? GUE KECEWA SAMA LO,
BENER-BENER KECEWA, MARIO ADITYA”
Rio
menghela nafas panjang. Ya, semua apa yang Ify katakan padanya memang benar
adalah kenyataan. Rio tidak menampik semua ucapan Ify itu, sama sekali tidak
menampik. Rio juga sadar bagaimana jahatnya ia selama ini, tapi Rio hanya tidak
ingin melihat Ify dipermainkan.
“Gue
emang brengsek, Fy, dan mungkin gue lebih brengsek dari Ray, tapi asa lo tau,
nggak pernah sekalipun dalam hidup gue, gue rela ngebiarin lo disakitin sama
cowok brengsek macam gue ataupun Ray, gue nggak pernah rela, Ify, karna buat
gue, lebih baik mati saja dari pada ngeliat lo sakit”
“ngomong
apa lo?”
“gue
sayang sama lo, Ify Alyssa! Asal lo tau itu, tapi selama ini gue cukup tahu
diri kok, kalo gue bukan cowok yang pantes buat lo, untuk itulah gue mau lo
ngedapetin cowok yang pantes buat, dan cowok itu bukan Ray” jujur Rio apa
adanya. Ify merasakan sakit yang benar-benar sakit dihatinya. Jadi selama ini
Rio menyimpan rasa untuknya? Tapi bagaimana bisa?
“terserah
gimana tanggepan lo sama gue setelah lo tau yang sebenernya, gue nggak peduli
Fy, tapi gue Cuma mau lo tau kalo Ray itu bukan cowok baik-baik, Ray bukan
cowok yang tepat buat lo”
“elo…
elo… ergh….” Erang Ify putus asa lalu berlari sekencang-kencangnyanya
meninggalkan Apertemen Rio.
Apapun
dan bagaimanapun sikap Ify padanya setelah ini Rio tidak akan memikirkannya.
Yang terpenting sekarang adalah, Rio merasa bebannya bisa sedikit terkurangi.
Setidaknya Rio merasa lega karna ia masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk
jujur pada Ify. Itu semua sudah lebih cukup buat Rio.
****
Dengan
malas-malasan Sivia membuka pintu mobil Alvin lalu menghempaskan tubuhnya
tubuhnya dijok depan, tepatnya disebelah Alvin yang saat itu berada dibelakang
kemudi. Sivia memejamkan matanya, berusaha mengurangi rasa ngantuk yang kini masih
menderanya.
Semalam
Sivia siaran hingga pukul satu dini hari dikarena ia harus menggantikan tugas
Deva yang tadi malam terpaksa ijin karna urusan kampusnya. Alhasil sekarang
Sivia masih sangat kelelahan, belum lagi tadi pagi-pagi sekali –setidaknya itu
menurut Sivia- Alvin malah membangunkannya dengan tidak berprasaan dan sekarang
hendak membawanya entah kemana. Hwaaa… kepala Sivia rasanya seperti ingin
pecah. Dia hanya ingin istirahat, kenapa Alvin tidak mau mengerti? Memangnya
tidak bisa apa pergi nya nanti siang saja? Atau sore sekalian.
“masih
ngantuk lo?” Tanya Alvin yang menurut Sivia sangat berbasa-basi.
Sivia
membuka matanya lalu melirik tak suka kearah Alvin,
“pake
nanya lagi lo!” semprot Sivia dengan
wajah galak.
“hiii
serem…” Alvin pura-pura bergidik ngeri.
Sivia
berdecak kesal. Rasanya percuma saja meladeni Pria ini. Sivia kembali
memejamkan matanya lalu mengalihkan wajahnya kearah jendela mobil. Alvin
berdehem pelan,
“ehem…
Via” panggil Alvin mendadak lembut.
“hmm…”
gumam Sivia tanpa melirik kearah Alvin.
Alvin
terdiam, dan Sivia lebih memilih untuk tidak peduli. Saat ini Sivia hanya ingin
tertidur, walaupun hanya sebentar. Beberapa saat kemudian, Sivia tahu-tahu
merasakan Alvin menarik lengannya hingga membuatnya mau tidak mau harus
berhadapan dengan Alvin.
“apalagi
sih? Gue ngantuk Alpiiinnnn….” Rengek Sivia.
Secara
mengejutkan Alvin tiba-tiba mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang
tercekat langsung sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin yang kelamaan
semakin mendekati wajahnya.
“mau
apa lo?” Tanya Sivia yang berusaha keras menyembunyikan kegugupannya.
Tapi
Alvin tidak sedikitpun menggubris pertanyaan Sivia tersebut. Wajahnya terus
bergerak mendekati wajah Sivia, tubuh Siviapun semakin terpojokan dipintu mobil.
Sepertinya Pria ini sangat serius dan tidak main-main dengan apa yang akan ia
lakukan. Tangan kanan Alvin terulur kebelakang punggung Sivia lalu mengunci
pintu mobilnya.
Deg…
debaran jantung Sivia semakin kencang saat itu juga. Parah, ini sudah benar-benar
parah. Jarak Wajah mereka semakin dekat saja. Sivia yang tidak tahu harus
berbuat apa akhirnya memutuskan untuk memejamkan matanya kuat-kuat. Alvin
menghentikan pergerakan wajahnya ketika melihat Sivia yang sudah menutup kedua
matanya. Alvin tersenyum kecil, ternyata semakin bertumbuh dewasa, Sivia
semakin bertambah cantik. Alvin menyesal
dulu pernah menyiakan-nyikannya hanya karna Pricill.
Alvin
memiringkan posisi wajahnya, dan Sivia merasakan desauan hangat nafas Alvin
menerpa wajahnya, Sivia tergetar.
Alvin
tersenyum licik. Salah satu tangannya pun bergerak meraih sabuk pengaman lalu
memasangkannya ditubuh Sivia.
“pake
ini biar aman!”
Sivia
membuka matanya lalu melirik benci kearah Alvin yang sudah menjauhkan posisi
wajahnya sekarang. Demi apapun itu, rasanya Sivia ingin mencakar dan
mencabik-cabik muka cowok yang suka tebar pesona ini. Sivia muak, benar-benar
muak.
Melihat
ekspresi Sivia yang menurutnya sangat lucu, Alvinpun terkekeh geli lalu
mengusap wajah Sivia dengan telapak tangannya,
“jangan
kepedean jadi cewek makanya!”
Alvinpun
menyalakan mobilnya dan telah siap melesat pergi. Sivia melipat kedua tangannya
didepan dada dengan wajah yang benar-benar cemberut.
“pede
boleh-boleh aja Vi, asal jangan sampe kepedean” Khotbah Alvin seraya menyetir
mobilnya menjauhi rumah Sivia.
“ALPIIINNNNNNNNNN!!!!”
Teriak Sivia sekencang-kencangnya,
“HAHAHAHAHAHAHAHA……..”
****
Pria
berkulit hitam-manis dan berwajah tampan itu langsung membuka kaca matanya
ketika ia baru saja keluar dari Airport. Ia mengedarkan pandangannya kesegala
penjuru. Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam akhirnya tibalah
ia ditempat tujuannya, Indonesia.
Pria
berwajah tampan itu tersenyum kecil,
“Alvin
Jonathan… Gue akan cari lo sampe dapat” ujarnya mantap lalu menarik kopernya
dan memasuki sebuah mobil yang sudah menunggunya didepan Airport.
****
Alvin
menghentikan Ferarri merahnya disebuah lapangan hijau nan luas. Dengan wajah
yang masih ogah-ogahan Sivia menatap keluar jendela. Ia sedikit heran, buat apa
juga Alvin membawanya kesebuah lapangan kosong tak berpenghuni seperti ini?
Pria ini memang aneh, dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah.
“ngapain
lo bawa gue kesini?” Tanya Sivia penasaran. Pandangannya masih tertuju pada
hamparan hijau nan luas yang ada dihadapannya.
Alvin
tersenyum sinis, ia membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari dalam mobilnya,
“gue
akan bawa lo terbang seperti apa yang pernah gue janjiin sama lo 2 tahun yang
lalu” ujar Alvin.
Sivia
menatap kearah Alvin dengan kedua alis bertaut. Sivia bahkan belum sadar bahwa
Alvin telah hengkang dari sampingnya.
“Ayo
keluar!! Ngapain diem disitu? Mau gue bawa terbang nggak?”
“CARANYA???”
Tanya Sivia sedikit keras.
“nggak
usah banyak bacot deh! Gue bilang keluar ya keluar!”
Sivia
menggeleng beberapa kali lalu keluar dari mobil Alvin mengikuti perintah sang
empunya.
Sivia
berjalan perlahan dan berdiri disisi Alvin yang saat itu berdiri didepan
mobilnya seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Pandangan matanya tertuju
keatas langit. Sivia mengikuti arah pandangan Alvin.
Sivia
beruasaha keras menahan rasa penasarananya, dan ia juga menahan hasratnya untuk
bertanya pada Alvin. Sivia takut jika sekali lagi ia bertanya maka Alvin
langsung akan menendangnya sejauh mungkin.
“lo
tau kenapa kemarin gue ngasih lo miniature helicopter?” Tanya Alvin tiba-tiba.
Ia melirik sejenak kearah Sivia. Sivia menggeleng pelan, Alvin tertawa kecil,
“hahahaa…
karna gue mau bawa lo terbang” jawab Alvin dengan mantap.
Sivia
diam berfikir. Apa hubungannya miniature helicopter itu dengan keinginanya
membawa Sivia terbang? Aneh, benar-benar aneh. Sok misterius! Batin Sivia
dengan senyum meremehkan.
Alvin
tiba-tiba menghitung mundur “Lima, empat, tiga… dua… sa—“
Sebuah
helicopter tiba-tiba saja muncul dari kejauhan. Sivia terkagum. Ia benar-benar
tidak percaya Alvin bisa melakukan semua ini.
Kelamaan
helicopter itu mendekat dan perlahan turun. Suara baling-balingnya yang terus
berputar sangat memekakan telinga Sivia. Tapi semua itu belum seberapa
dibandingkan dengan rasa kagumnya saat ini.
Merasa
rencananya akan berjalan sesuai keinginanya Alvinpun tersenyum puas lalu
melirik kearah Sivia yang ketika itu masih larut dalam keterpanaannya. Apa yang
Alvin lakukan untuknya kali ini benar-benar hebat dan benar-benar jauh dari apa
yang terfikirkan olehnya selama ini. Jika boleh Sivia ingin menangis dan
menghambur kedalam pelukan Pria itu.
Alvin
tahu-tahu mengulurkan tangannya dihadapan Sivia,
“lo
mau kan terbang sama gue?” Sivia melirik kearah Alvin dengan pandangan nanar.
Air mata bahagia itu masih sanggup ia tahan. Sivia mengangguk berkali-kali lalu
menyambut uluran tangan Alvin dan menggenggamnya erat.
“gue
akan ajak lo nyentuh awan, kita akan sama-sama nyentuh awan” ujar Alvin dengan
makna tersirat yang mampu dipahami langsung oleh Sivia. Kali ini Sivia terdiam,
tidak juga mengangguk. Entah kenapa bayangan Cakka kembali berpendar diotaknya
dan membuat semua yang harusnya terasa gampang menjadi sangat sulit. Ada apa
ini?
Alvin
dan Siviapun melangkah. Mereka berjalan beriringan menuju helicopter yang telah
siap membawa mereka terbang dan menyentuh awan. Diam-diam Sivia berharap, bahwa
ditengah perjalanan nanti Alvin tak akan menghampaskannya lagi, tidak akan
lagi. Karena Sivia tidak ingin terjatuh lagi, tidak ingin sakit lagi….
Kali
ini Alvin dan Sivia sudah duduk berdampingan didalam helicopter dengan
mengenakan headphone mereka masing-masing. Sedari tadi, sejak mereka menaiki
helicopter ini, Alvin tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya. Dan untuk
pertama kali dalam hidupnya, Sivia merasa bahagia karena Alvin, bukan hanya
bahagia tapi sangat bahagia.
Helicopter
itu perlahan naik dan membawa kedua anak manusia ini terbang jauh, menyentuh
awan seperti apa yang mereka mau. Secara perlahan Sivia merebahkan kepalanya
diatas pundak Alvin.
“Vin”
“hmm?”
sahut Alvin lembut,
“makasih
ya?” ujar Sivia pelan. Alvin hanya mengangguk. Ia
mengangkat gumpalan tangannya yang menggenggam erat tangan Sivia lalu
mengecupnya lembut. Alvin melakukannya agak lama.
“gue
Cuma mau nepatin janji gue, Via, dan emang udah sepantesnya lo ngedapetin ini,
lo berhak atas ini dan atas—“ Alvin menggantungkan kalimatnya, ia terlihat
sedikit ragu melanjutkan perkataannya.
“dan
atas apa?” tantang Sivia,
“atas
seluruh hati dan hidup gue” jawab Alvin mantap dengan penuh ketulusan
didalamnya. Kembali Sivia hanya bisa terdiam.
“Via…”
“hmm?”
Alvin
memegang kedua pundak Sivia lalu menatapnya lurus,
“dulu
gue pernah ngelakuin kesalahan besar dengan lebih memilih Pricill dan
menyia-nyikan kesetiaan lo sama gue, dan sekarang gue mau mengaku… gue nyesel,
Via, gue janji sama lo, gue nggak akan ngulang kesalahan yang sama untuk yang
kedua kalinya, cukup sekali aja gue jadi goblok karna udah jatuh diatas
keindahan Pricill, gue nggak akan ngulang kegoblokan gue itu lagi, Via, nggak
akan pernah…”
“Via,
sekarang gue udah bener-bener bisa mencintai lo dengan sepenuh hati gue,
bolehkan jika sekarang gue mau nagih janji lo?”
Telak,
pertanyaan Alvin barusan benar-benar telak dan membuat Sivia bingung harus
bagaimana. Jika ingin, sebenarnya gampang saja Sivia mengatakan ‘IYA’ dan
semuanya akan selesai, ia akan bisa meraih Alvin seperti apa yang impi-impikan
selama ini. Tapi entah kenapa sekarang, Sivia rasa semuanya sulit, dan itu
semua karena…. Cakka.
Sivia
membuang wajahnya kearah lain. Sivia benar-benar merasa tidak sanggup jika
harus menatap kedua mata Alvin lebih lama lagi. Sivia takut…
“Via…”
Alvin memalingkan wajah Sivia dengan tangannya hingga mereka kembali
berhadapan. Beberapa detik kemudian Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah
Sivia.
Ketika
wajahn itu semakin mendekat dan jarak diantara mereka nyaris terhapus, ingatan
Sivia mendadak tertuju pada kejadian 2 tahun lalu, ketika ia melihat dengan
mata kepalanya sendiri Alvin mencium Pricill dan membuat jantungnya terasa
remuk tak berbentuk. Sivia memejamkan matanya, berusaha melawan rasa sakit yang
ternyata masih tersisa, lalu tanpa Sivia inginkan, tiba-tiba saja ia
memalingkan wajahnya sebelum Alvin menggapainya. Saat itu juga jantung Sivia
terasa berhenti berdetak. Sivia tahu Alvin pasti kecewa, tapi Sivia tidak bisa
melakukannya. Sivia juga tidak sanggup melawan rasa sakit itu. Sekali lagi,
Sivia butuh waktu, sedikit waktu saja.
“maaf…”
sesal Alvin lalu sedikit menjauhkan jaraknya dengan jarak Sivia.
Sivia
hanya mengangguk sungkan. Tersebersit sebuah rasa bersalah yang tiba-tiba saja
memenuhi permukaan hatinya.
Hening
untuk beberapa saat. Alvin dan Sivia sama-sama terdiam, sama-sama tenggelam
dalam kekalutan mereka masing-masing.
“Via,
jadi gimana jawaban lo?” Tanya Alvin tiba-tiba. Sivia langsung terkesiap dan
berbalik menatap Alvin.
“ja…
jawaban?” Sivia mendadak gagap. Alvin mengangguk,
“lo
mau ngasih gue kesempatan buat perbaiki semua kesalahan gue?”
Sivia
menunduk dalam lalu berkata,
“entahlah
Vin, yang gue rasa sekarang, gue Cuma butuh waktu”
“tapi
gue udah nggak bisa nunggu lagi, Via. 2 tahun gue nunggu untuk hari ini dan lo
masih bilang lo butuh waktu?” kata Alvin tak sabar.
“lo
kasi gue waktu buat mikir atau kalo nggak—“ Sivia menggantungkan kalimatnya,
Alvin menunggu dengan harap-harap cemas.
“atau
kalo nggak, nggak ada kesempatan lagi buat lo” lanjut Sivia dengan berat hati.
Alvin
memejamkan matanya. Rasanya perih, benar-benar perih. Seperti ini kah sakit
yang dulu pernah Sivia rasakan karna kesalahannya? Atau malah lebih dari ini?
Alvin mengangguk beberapa kali, ia berusaha melawan semua ego nya lalu kembali
berkata,
“Oke,
gue kasi lo waktu, dan gue akan menunggu lagi….”
“makasih,
Vin… dan harus selalu lo tau Vin, dari dulu, dari pertama kali lo nembak gue 7
tahun yang lalu sampe hari ini, perasaan cinta gue keelo nggak pernah berubah,
dan hingga detik ini gue belum melihat ujung dari rasa cinta ini, gue juga
belum temukan titik jenuh dari cinta ini, gue masih sangat mencintai lo, Alvin,
selalu mencintai lo…”
Alvin
mengangguk beberapa kali lalu menarik Sivia kedalam pelukannya. Cukup bagi
Alvin untuk tahu betapa besarnya rasa cinta Sivia selama ini kepadanya, dan
tidak masalah bagi Alvin jika harus dituntut untuk menunggu lagi. Toh Gadis ini
hanya mencintainya. Siviapun membalas pelukan Alvin, sebulir air matanya
terjatuh mengiringi kepedihan hatinya saat ini. Kenapa? Kenapa mendadak
bayangan Cakka hadir dan membuat semuanya terasa sulit? Sivia benci keadaan
ini. Jika bisa, bolehkah ia menyalahkan Cakka saat ini?
Mereka
berduapun terbang semakin jauh menembus
awan, semakin jauh dan jauh…. Kebahagiaan itu nyaris mereka sentuh, nyaris
mereka raih…
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment