Sivia terdiam cukup lama berusaha
mencerna kata-kata Alvin baru saja. Ia tidak bisa begitu saja mempercayai
kata-kata Alvin. Sivia belum bisa memahami Alvin yang kadang-kadang begitu
perhatian padanya, dan yang kadang-kadang juga selalu menyakitinya dengan
perkataan-perkataan tajamnya. Dan Sivia butuh waktu untuk bisa memahami Alvin.
Alvin terdengar menghela nafas beratnya. Siviapun memejamkan matanya, tidak
berusaha mengeluarkan sepatah katapun, hingga akhirnya Alvinlah yang kembali
buka suara.
“Via
jawab Kak Alvin… kenapa kita gak pacaran aja? Kamu mau kan jadi pacarnya Kak
Alvin….?”
Secara
mengejutkan Sivia melepaskan kedua tangan Alvin yang sedari tadi mendekap erat
tubuhnya. Sivia berbalik menatap Alvin yang Nampak kebingungan. Air mata Sivia
menetes deras, dengan perasaan yang masih ragu-ragu Sivia berkata,
“Via
gak bisa, Via gak bisa…..” saat Sivia akan melarikan diri dari Alvin, Alvinpun
langsung mencekal pergelangan tangannya,
“maksud
lo…?”
“Via
gak bisa jadi pacarnya Kak Alvin, gak bisa Kak, hiks…”
“Via…”
“Kak
Alvin udah terlalu sering nyakitin Via, Via gak sanggup lagi Kak….”
“tapi
Via masih cinta kan sama Kak Alvin…?” selepas Alvin melontarkan pertanyaan itu,
keheninganpun langsung tercipta. Sivia menunduk lantas menggeleng pelan,
“Via
juga gak tau Kak…” jawab Sivia pada akhirnya, “dan Via gak pernah mau tau, gak
pernah mau tau dan gak akan pernah mau tau..” lanjut Sivia. Air matanya semakin
deras menetes. Alvin mengangkat wajah Sivia,
“lo
masih cinta sama gue, gue tau itu dan lo gak akan bisa ngebohongin gue…” sentak
Alvin. Sivia menggeleng. Mata Alvin mulai memerah,
“tatap
mata gue, dan bilang ke gue kalo lo udah gak cinta lagi sama gue, ayo tatap
mata gue….” Sivia kembali menggeleng. Alvinpun melepaskan Sivia, ia tersenyum simpul
dan kembali berkata,
“lo
gak bisa kan Vi, dan gak akan pernah bisa ngelakuin itu, karna kenyataannya lo
masih cinta sama gue, gue tau itu….”
“TAPI
CINTA AJA GAK CUKUP KAK, DAN CINTA KAK ALVIN GAK AKAN PERNAH BISA NYEMBUHIN LUKA DIHATI VIA YANG SUDAH KAK
ALVIN TOREH BERKALI-KALI….”
“ITU
KARNA LO GAK MAU KASI GUE KESEMPATAN….”
“KARNA
EMANG UDAH GAK ADA KESEMPATAN LAGI….” Teriak Sivia dihadapan Alvin.
Alvin mulai terlihat melemah. Ia bertekuk
lutut dihadapan Sivia dengan tangisan yang berusaha keras ia tahan.
“Maafin
Via Kak, maaf….” Lirih Sivia lantas berlari meninggalkan Alvin dengan tangisan.
Air
mata Alvin akhirnya menetes juga. Ia mengepalkan tangannya dengan
sekuat-kuatnya lantas memukulkannya pada rerumputan,
“AARRGGHHHHHHHHHH……”
Teriak Alvin sekencang-kencangnya.
^_^
Ketukan
pintu yang lumayan keras membuat konsentrasi Ify yang tengah focus belajar
menjadi terpecah. Siapakah yang malam-malam begini menganggu waktu belajarnya.
Ify pun keluar dari kamarnya bersamaan dengan Ibu nya yang saat itu keluar dari
dapur.
“itu
siapa Ify?” Tanya Ibu,
“gak
tau Bu, biar Ify liat dulu ya…?”
Ify
pun berjalan kearah pintu. Saat membuka pintu, Ify mendapati Sivia yang saat
itu tengah menangis tersedu. Sivia langsung memeluk Ify erat.
“hik..hik..
Ify…”
“Via,
kok bisa malem-malem lo kesini, lo sama siapa? Dan lo kenapa nangis…?” Tanya
Ify bertubi-tubi. Tak satupun dari pertanyaan Ify yang Sivia jawab.
“hik..hik..hikk….”
isakkan Sivia semakin keras. Ifypun melepaskan pelukannya dari Sivia lalu
menatap wajah Sivia,
“Via
lo kenapa….?”
“Via
udah bohongin semuanya… hik..” Ify menatap Sivia heran,
“siapa
yang lo bohongin…?”
“Via
udah bohongin semuanya, Via udah bohongin diri Via sendiri, Via udah bohongin
perasaan Via sendiri, dan Via udah bohongin Kak Alvin….”
“maksud
lo apa sih Vi…? Cerita yang jelas dong…” pinta Ify tak sabar.
“ta..
tadi Kak Alvin nembak Via, tapi Via malah… hik..hik..”
“kenapa
Vi…?”
“Via
malah nolak Kak Alvin… Via nyesel, Via nyesel Ify….”
“lagian
kalo emang ngerasa lo sayang sama Kak Alvin, kenapa juga lo sok-sokkan kuat
buat nolak dia…”
“Via
juga gak tau Ify, Via nyesel, nyesel banget….” Ify pun kembali memeluk Sivia.
Dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.
^_^
“begitu
ceritanya Kak…” kata Ify pada Rio saat ia telah menyelesaikan ceritanya tentang
masalah Alvin dan Sivia. Rio mengangguk paham. Begitu juga dengan Gabriel,
Cakka dan Shilla.
“gue
kasian liat Sivia, sekarang apa yang harus kita lakuin buat mereka…?” Tanya Ify
pada semua yang ada disana. Semuanya pun terlihat sibuk dengan fikiran mereka
masing-masing-masing. Tiba-tiba saja,
“gue
ada ide!” ucap Shilla antusias seraya menunjuk keatas.
“APA…?”
Tanya semuanya penasaran.
^_^
Saat
jam istirahat Sivia memutuskan untuk pergi keperpustakaan sendiri. Ify sedang
tidak bisa diharapkan. Ify tengah asyik bersama Rio, dan Sivia tidak mungkin
tega menganggu mereka yang baru saja bersatu setelah cukup lama saling memendam
rasa satu sama lain.
Sivia
terlihat sibuk membongkar rak buku perpustakaan. Mati-matian ia mencari buku
Ikatan Kimia. Akhir-akhiran ini Sivia merasa begitu penasaran dengan pelajaran
Kimia, salah satu pelajaran yang dulu pernah menjadi momok menakutkan baginya.
Sivia bertekad, ia harus mampu menaklukkan pelajaran Kimia. Apapun akan ia
lakukan, asalkan ia bisa menaklukkan Kimia. Meski sedang tidak bersama Alvin,
tapi kata-kata Alvin masih saja terngiang dipendengarannya.
‘lo gak boleh nakutin pelajaran, pelajaran
apapun itu, karna semakin lo takutin, pelajaran itu akan semakin sulit. Hadepin
semuanya dan tetep Santé…’ itulah
kata-kata Alvin yang selalu Sivia ingat hingga saat ini. Alvin telah berhasil
memberikan perubahan yang lumayan berarti dalam hidup Sivia. Setidaknya, Sivia
tidak malas lagi belajar seperti dulu.
“duuhh…
buku Ikatan Kimia nya mana sih?” Tanya Sivia pada dirinya sendiri seraya
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sivia mulai terlihat putus asa,
sudah cukup lama ia membongkar rak buku, namun ia tak juga menemukan Buku
Ikatan Kimia.
Saat
Sivia sedang dalam keadaan putus asa, tiba-tiba saja ada seseorang menujulurkan
sebuah buku dihadapan Sivia. Sivia terkejut, itu buku yang ia cari-cari.
“lo
ambil gih!” kata cowok yang ternyata adalah Alvin. Siviapun langsung menatap
Alvin,
“Kak
Alvin…??” ucap Sivia tak percaya. Ia berfikir bahwa setelah kejadian malam itu
Alvin akan membencinya, tapi ternyata….
“ayo
ambil!” kata Alvin sekali lagi. Sivia menggeleng pelan,
“nanti
Via bisa cari sendiri…” saat Sivia akan melengos pergi, Alvin langsung berkata,
“mau
sampe kapan?? Buku ini gak ada diperpus sekolah, jadi percuma lo mau nyari
sampe kapanpun juga gak akan ketemu, lo harus beli ditoko buku, dan kalo beli,
sama artinya lo buang duit, mending lo pake aja buku gue…” Alvin berusaha
menawarkan. Sivia menggeleng pelan.
“alesan
lo nolak apa?” Tanya Alvin sinis. Sivia langsung menelan ludah, ia tak tau
harus menjawab apa.
“lo
fikir gue akan minta imbalan kalo-kalo lo ambil buku ini, lo fikir gue akan
maksa lo buat nerima gue jadi pacar lo setelah lo terima buku ini…? Lo salah
Vi…” Air muka Sivia langsung berubah setelah mendengarkan ucapan Alvin. Sivia
terlihat sedikit marah.
“fikiran
Kak Alvin terlalu picik!” Sivia mengambil buku yang ada ditangan Alvin “makasih
buat bukunya, akan Via manfaatin sebaik-baiknya…” lanjut Sivia lantas
benar-benar pergi dari hadapan Alvin. Selepas kepergian Sivia, Alvin langsung
tersenyum simpul.
^_^
By; Ify
Vi, malem ini
Gue tunggu lo dicafe AVNH,
Jam 7 tepat, jgn telat!
Ada hal penting…
Sivia
heran setelah membaca sms dari Ify. Tidak biasanya Ify mengajaknya ketemuan.
Apa ada hal yang sangat penting? Tapi sepenting apapun masalahnya, pasti Ify
yang akan menemui Sivia dan Ify tidak pernah sampai mengajaknya ketemuan,
apalagi ketemuan dicafe. Benar-benar aneh! Tapi Sivia harus tetap menemui Ify.
Baru saja Sivia akan beranjak kekamar mandi, Handphonenya kembali bergetar,
By; Ify
Lo pake gaun ya?
Jgn sampe gk pake
Gaun…!! DAN… jgn bnyk
Tnya, lo ikutin aja instruksi gue!!
Okey..??
“Duuhh…
Ify kenapa sih? Aneh banget deh..” ucap Sivia pada dirinya sendiri.
^_^
@ Café AVNH (Malam Harinya)
Saat
baru saja Sivia menginjakkan kakinya dicafe AVNH, Sivia terkejut menyaksikan
suasana yang sangat romantis. Bunga-bunga bertaburan disepanjang jalan, dan
lilin-lilin tertata dengan rapi dipinggir jalan kecil itu. Sivia tercengang, ia
berfikir, buat apa juga Ify mengajaknya ketemuan ditempat seperti ini?
Sivia
terus berjalan, hingga akhirnya tibalah ia didalam café. Kali ini suasana café
terlihat biasa saja, seperti café-café biasa pada umumnya, malam itu ada banyak
tamu yang berdatangan. Sivia duduk dimeja nomer 1 yang terletak tepat didepan
sebuah panggung kecil. Baru saja Sivia akan memanggil seorang pelayan,
tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang secara tiba-tiba
diatas panggung.
Alvin
berdiri dengan tegak diatas panggung seraya membawa sebuah gitar. Alvin telah
siap untuk bernyanyi.
“selamat
datang Via…!” kata Alvin dengan pandangan mata yang mengarah pada wajah Sivia.
Sivia tidak menjawab. Ia hanya diam. Sivia baru sadar, bahwa Ify telah menipunya.
“buat
semua yang ada disini, kalian semua adalah saksinya, bahwa saya Alvin Jonathan
Sindunata ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Sivia Azizah…” kata
Alvin sambil menyapu tatapannya kesemua tamu.
“dan
buat Via… Kak Alvin sadar kalo selama ini Kak Alvin udah jahat banget sama Via,
maka dari itu, Kak Alvin minta maaf sama Via… Kak Alvin harap, Via mau maafin
Kak Alvin, kalo Via mau maafin Kak Alvin, maka Kak Alvin janji, Kak Alvin akan
berusaha kuat untuk tidak nyakitin Via lagi, Kak Alvin akan jagain Via
baik-baik… Via mau kan maafin Kak Alvin…?”
Sivia
masih saja betah dengan kediamannya. Menganggapi kediaman Sivia. Alvinpun
akhirnya turun dari panggung. Ia melangkah kearah Sivia. Sivia terkejut melihat
Alvin yang semakin mendekatinya. Setelah jarak mereka cukup dekat, Sivia
semakin terkejut saat Alvin berlutut dihadapannya,
“Ka..Kak
Alvin apa-apaan sih? Jangan bikin malu Kak..” kata Sivia setengah berbisik.
Alvin menggeleng,
“Kak
Alvin gak peduli Vi, malem ini Kak Alvin bener-bener memohon supaya Via mau
maafin Kak Alvin..”
“tapi
Kak Alvin gak perlu ngelakuin ini…”
“KAK
ALVIN CUMA MAU VIA MAAFIN KAK ALVIN…”
“Kak
bangun ya Kak…” pinta Sivia setengah memohon, Alvin menggeleng,
“gak
akan sampe Via mau maafin Kak Alvin…”
“ta..tapi…”
“SIVIA,
PLEASE MAAFIN KAK ALVIN….” Teriak Alvin,
“Kak
gak usah teriak…”
“jawab
dulu, Via mau maafin Kakak ato gak…?”
“iya..iya
Via maafin, udah kan…” ucap Sivia pada akhirnya,
“yang
bener…??”
“IYA
KAK, VIA UDAH MAAFIN KAK ALVIN, sekarang bangun ya Kak…!”
Siviapun
mengulurkan tangannya untuk Alvin. Dengan senang hati Alvin menerima uluran
tangan Alvin.
“makasih
ya Vi…”
“sama-sama
Kak, maafin Via juga ya…?”
“Via
gak salah, Kak Alvin yang salah… Oya…”
Alvin
menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keatas panggung. Sivia bingung.
Tingkah bodoh apa lagi yang akan Alvin lakukan padanya. Setelah tiba diatas
panggung, Alvin langsung mendudukan Sivia disebuah kursi.
“mau
ngapain Kak..?” Tanya Sivia heran. Tanpa menjawab pertanyaan Sivia, Alvin
berkata pada semua tamu yang hadir dicafe AVNH malam itu.
“malam
ini saya akan membawakan lagu buat Via, cewek yang paling special buat saya
malem ini…” kata Alvin sambil sesekali melirik kearah Sivia. Sivia tersipu malu
dibuatnya. Alvin mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu special
untuk Sivia.
“saat ku tenggelam dalam sendu…
Waktupun enggan untuk berlalu
Ku berjani tuk menutup pintu hatiku
entah untuk siapapun itu...
Semakin kuingat masa lalu, semakin
hatiku tak menentu…
Tetapi satu sinar terangi jiwaku saat
kumelihat senyummu…
Dan kau hadir…
Merubah segalanya menjadi lebih
indah….
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
membuatku
Merasa sempurna…
Dan membuatku utuh tuk menjalani
hidup…
Berdua denganmu selama-lamanya..
Kaulah yang terbaik untukku…
Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada didekatku…
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku…
Kan ku petik satu untukmu…
Dan kau hadir mengubah segalanya
Menjadi lebih indah…
Kau bawa cintaku setinggi angkasa..
Membuatku merasa sempurna..”
Lagu
itu benar-benar Alvin tujukan untuk Sivia. Seseorang yang telah mampu
menyembuhkan luka hatinya setelah dikhianati oleh gadis yang begitu ia sayangi
dulu. Alvin telah menutup masa lalunya bersama lukanya yang telah terobati, dan
itu karna Sivia.
Setelah
menyelesaikan lagu itu, Alvinpun menuntun Sivia untuk berdiri. Kali ini mereka
berdua saling berhadap-hadapan satu sama lain.
“Via,
sekali lagi Kak Alvin bilang, Kak Alvin sayang sama Via, dan sekali lagi Kak
Alvin Tanya, apa Via mau jadi pacarnya Kak Alvin….?” Tanya Alvin sambil menatap
lurus kearah mata Sivia. Suasana menjadi hening seketika.
“tapi
kan Via lemot, bodoh, dan suka bikin Kak Alvin kesel, Via juga gak can…”
“Kak
Alvin gak peduli…” sela Alvin “jawab Kak Alvin sekarang!” lanjutnya. Sivia terdiam
lantas menunduk. Alvinpun mengangkat dagu Sivia,
“Hey…
jawab Kak Alvin, apa Via mau jadi pacarnya Kak Alvin…?” Sivia memejamkan
matanya, tanpa berfikir panjang lagi, Sivia langsung mengangguk pasti, Alvin
tersenyum,
“itu
artinya…?” Tanya Alvin memastikan,
“Via
mau jadi pacarnya Kak Alvin…”
“yang
bener…??” Sivia mengangguk berkali-kali.
Alvinpun langsung memeluk Sivia dan mengangkatnya,
“hahaha…
makasih ya Vi…?”
“iya
Kak, Via juga sayang sama Kakak…” ujar Sivia seraya membalas pelukan Alvin.
Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, ia memegang kedua pipi Sivia lalu
mendaratkan sebuah kecupan mesra dikeningnya.
^_^
Malam
itu, setelah Alvin menyatakan perasaannya pada Sivia untuk yang kesekian
kalinya dan setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Alvinpun membawa
Sivia berjalan-jalan disekitar danau. Mereka berjalan bergandengan tangan.
“Kak…”
panggil Sivia tiba-tiba. Alvinpun menghentikan langkahnya diikuti oleh Sivia,
“kenapa..?”
Tanya Alvin,
“ini
beneran kita udah jadian Kak…?”
“menurut
Via…?” Tanya Alvin kembali seraya memegang kedua pundak Sivia.
“Via
masih ngerasa ini kaya mimpi… kalo ini mimpi, Via gak mau bangun Kak…” Alvin
tersenyum, ia pun menarik Sivia kedalam pelukannya,
“ini
bukan mimpi, ini kenyataan yang harus Via yakini… Kak Alvin janji Kak Alvin gak
akan nyakitin Via lagi, Kak Alvin akan selalu ngejaga Via semampu Kak Alvin..”
Siviapun membalas pelukan Alvin. Ia mendekap erat tubuh Alvin seolah tak ingin
melepaskan lagi.
“Kak…
jangan tinggalin Via ya Kak..”
“gak
akan sayang…” Alvinpun melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia meraih tangan Sivia
lalu melingkarkannya dipinggangnya. Mereka kembali berjalan menyusuri tepi
danau.
~THE END~


0 comments:
Post a Comment