Wednesday, July 10, 2013

0

MY DIARY Part 19 (ENDING)



Sivia terdiam cukup lama berusaha mencerna kata-kata Alvin baru saja. Ia tidak bisa begitu saja mempercayai kata-kata Alvin. Sivia belum bisa memahami Alvin yang kadang-kadang begitu perhatian padanya, dan yang kadang-kadang juga selalu menyakitinya dengan perkataan-perkataan tajamnya. Dan Sivia butuh waktu untuk bisa memahami Alvin. Alvin terdengar menghela nafas beratnya. Siviapun memejamkan matanya, tidak berusaha mengeluarkan sepatah katapun, hingga akhirnya Alvinlah yang kembali buka suara.
            “Via jawab Kak Alvin… kenapa kita gak pacaran aja? Kamu mau kan jadi pacarnya Kak Alvin….?”
            Secara mengejutkan Sivia melepaskan kedua tangan Alvin yang sedari tadi mendekap erat tubuhnya. Sivia berbalik menatap Alvin yang Nampak kebingungan. Air mata Sivia menetes deras, dengan perasaan yang masih ragu-ragu Sivia berkata,
            “Via gak bisa, Via gak bisa…..” saat Sivia akan melarikan diri dari Alvin, Alvinpun langsung mencekal pergelangan tangannya,
            “maksud lo…?”
            “Via gak bisa jadi pacarnya Kak Alvin, gak bisa Kak, hiks…”
            “Via…”
            “Kak Alvin udah terlalu sering nyakitin Via, Via gak sanggup lagi Kak….”
            “tapi Via masih cinta kan sama Kak Alvin…?” selepas Alvin melontarkan pertanyaan itu, keheninganpun langsung tercipta. Sivia menunduk lantas menggeleng pelan,
            “Via juga gak tau Kak…” jawab Sivia pada akhirnya, “dan Via gak pernah mau tau, gak pernah mau tau dan gak akan pernah mau tau..” lanjut Sivia. Air matanya semakin deras menetes. Alvin mengangkat wajah Sivia,
            “lo masih cinta sama gue, gue tau itu dan lo gak akan bisa ngebohongin gue…” sentak Alvin. Sivia menggeleng. Mata Alvin mulai memerah,
            “tatap mata gue, dan bilang ke gue kalo lo udah gak cinta lagi sama gue, ayo tatap mata gue….” Sivia kembali menggeleng. Alvinpun melepaskan Sivia, ia tersenyum simpul dan kembali berkata,
            “lo gak bisa kan Vi, dan gak akan pernah bisa ngelakuin itu, karna kenyataannya lo masih cinta sama gue, gue tau itu….”
            “TAPI CINTA AJA GAK CUKUP KAK, DAN CINTA KAK ALVIN GAK AKAN PERNAH  BISA NYEMBUHIN LUKA DIHATI VIA YANG SUDAH KAK ALVIN TOREH BERKALI-KALI….”
“ITU KARNA LO GAK MAU KASI GUE KESEMPATAN….”
“KARNA EMANG UDAH GAK ADA KESEMPATAN LAGI….” Teriak Sivia dihadapan Alvin.
 Alvin mulai terlihat melemah. Ia bertekuk lutut dihadapan Sivia dengan tangisan yang berusaha keras ia tahan.
            “Maafin Via Kak, maaf….” Lirih Sivia lantas berlari meninggalkan Alvin dengan tangisan.
            Air mata Alvin akhirnya menetes juga. Ia mengepalkan tangannya dengan sekuat-kuatnya lantas memukulkannya pada rerumputan,
            “AARRGGHHHHHHHHHH……” Teriak Alvin sekencang-kencangnya.


^_^

            Ketukan pintu yang lumayan keras membuat konsentrasi Ify yang tengah focus belajar menjadi terpecah. Siapakah yang malam-malam begini menganggu waktu belajarnya. Ify pun keluar dari kamarnya bersamaan dengan Ibu nya yang saat itu keluar dari dapur.
            “itu siapa Ify?” Tanya Ibu,
            “gak tau Bu, biar Ify liat dulu ya…?”
            Ify pun berjalan kearah pintu. Saat membuka pintu, Ify mendapati Sivia yang saat itu tengah menangis tersedu. Sivia langsung memeluk Ify erat.
            “hik..hik.. Ify…”
            “Via, kok bisa malem-malem lo kesini, lo sama siapa? Dan lo kenapa nangis…?” Tanya Ify bertubi-tubi. Tak satupun dari pertanyaan Ify yang Sivia jawab.
            “hik..hik..hikk….” isakkan Sivia semakin keras. Ifypun melepaskan pelukannya dari Sivia lalu menatap wajah Sivia,
            “Via lo kenapa….?”
            “Via udah bohongin semuanya… hik..” Ify menatap Sivia heran,
            “siapa yang lo bohongin…?”
            “Via udah bohongin semuanya, Via udah bohongin diri Via sendiri, Via udah bohongin perasaan Via sendiri, dan Via udah bohongin Kak Alvin….”
            “maksud lo apa sih Vi…? Cerita yang jelas dong…” pinta Ify tak sabar.
            “ta.. tadi Kak Alvin nembak Via, tapi Via malah… hik..hik..”
            “kenapa Vi…?”
            “Via malah nolak Kak Alvin… Via nyesel, Via nyesel Ify….”
            “lagian kalo emang ngerasa lo sayang sama Kak Alvin, kenapa juga lo sok-sokkan kuat buat nolak dia…”
            “Via juga gak tau Ify, Via nyesel, nyesel banget….” Ify pun kembali memeluk Sivia. Dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.


^_^

            “begitu ceritanya Kak…” kata Ify pada Rio saat ia telah menyelesaikan ceritanya tentang masalah Alvin dan Sivia. Rio mengangguk paham. Begitu juga dengan Gabriel, Cakka dan Shilla.
            “gue kasian liat Sivia, sekarang apa yang harus kita lakuin buat mereka…?” Tanya Ify pada semua yang ada disana. Semuanya pun terlihat sibuk dengan fikiran mereka masing-masing-masing. Tiba-tiba saja,
            “gue ada ide!” ucap Shilla antusias seraya menunjuk keatas.
            “APA…?” Tanya semuanya penasaran.


^_^
            Saat jam istirahat Sivia memutuskan untuk pergi keperpustakaan sendiri. Ify sedang tidak bisa diharapkan. Ify tengah asyik bersama Rio, dan Sivia tidak mungkin tega menganggu mereka yang baru saja bersatu setelah cukup lama saling memendam rasa satu sama lain.
            Sivia terlihat sibuk membongkar rak buku perpustakaan. Mati-matian ia mencari buku Ikatan Kimia. Akhir-akhiran ini Sivia merasa begitu penasaran dengan pelajaran Kimia, salah satu pelajaran yang dulu pernah menjadi momok menakutkan baginya. Sivia bertekad, ia harus mampu menaklukkan pelajaran Kimia. Apapun akan ia lakukan, asalkan ia bisa menaklukkan Kimia. Meski sedang tidak bersama Alvin, tapi kata-kata Alvin masih saja terngiang dipendengarannya.
‘lo gak boleh nakutin pelajaran, pelajaran apapun itu, karna semakin lo takutin, pelajaran itu akan semakin sulit. Hadepin semuanya dan tetep Santé…’ itulah kata-kata Alvin yang selalu Sivia ingat hingga saat ini. Alvin telah berhasil memberikan perubahan yang lumayan berarti dalam hidup Sivia. Setidaknya, Sivia tidak malas lagi belajar seperti dulu.
            “duuhh… buku Ikatan Kimia nya mana sih?” Tanya Sivia pada dirinya sendiri seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sivia mulai terlihat putus asa, sudah cukup lama ia membongkar rak buku, namun ia tak juga menemukan Buku Ikatan Kimia.
            Saat Sivia sedang dalam keadaan putus asa, tiba-tiba saja ada seseorang menujulurkan sebuah buku dihadapan Sivia. Sivia terkejut, itu buku yang ia cari-cari.
            “lo ambil gih!” kata cowok yang ternyata adalah Alvin. Siviapun langsung menatap Alvin,
            “Kak Alvin…??” ucap Sivia tak percaya. Ia berfikir bahwa setelah kejadian malam itu Alvin akan membencinya, tapi ternyata….
            “ayo ambil!” kata Alvin sekali lagi. Sivia menggeleng pelan,
            “nanti Via bisa cari sendiri…” saat Sivia akan melengos pergi, Alvin langsung berkata,
            “mau sampe kapan?? Buku ini gak ada diperpus sekolah, jadi percuma lo mau nyari sampe kapanpun juga gak akan ketemu, lo harus beli ditoko buku, dan kalo beli, sama artinya lo buang duit, mending lo pake aja buku gue…” Alvin berusaha menawarkan. Sivia menggeleng pelan.
            “alesan lo nolak apa?” Tanya Alvin sinis. Sivia langsung menelan ludah, ia tak tau harus menjawab apa.
            “lo fikir gue akan minta imbalan kalo-kalo lo ambil buku ini, lo fikir gue akan maksa lo buat nerima gue jadi pacar lo setelah lo terima buku ini…? Lo salah Vi…” Air muka Sivia langsung berubah setelah mendengarkan ucapan Alvin. Sivia terlihat sedikit marah.
            “fikiran Kak Alvin terlalu picik!” Sivia mengambil buku yang ada ditangan Alvin “makasih buat bukunya, akan Via manfaatin sebaik-baiknya…” lanjut Sivia lantas benar-benar pergi dari hadapan Alvin. Selepas kepergian Sivia, Alvin langsung tersenyum simpul.


^_^

By; Ify

Vi, malem ini
Gue tunggu lo dicafe AVNH,
Jam 7 tepat, jgn telat!
Ada hal penting…

            Sivia heran setelah membaca sms dari Ify. Tidak biasanya Ify mengajaknya ketemuan. Apa ada hal yang sangat penting? Tapi sepenting apapun masalahnya, pasti Ify yang akan menemui Sivia dan Ify tidak pernah sampai mengajaknya ketemuan, apalagi ketemuan dicafe. Benar-benar aneh! Tapi Sivia harus tetap menemui Ify. Baru saja Sivia akan beranjak kekamar mandi, Handphonenya kembali bergetar,

By; Ify

Lo pake gaun ya?
Jgn sampe gk pake
Gaun…!! DAN… jgn bnyk
Tnya, lo ikutin aja instruksi gue!!
Okey..??
           
            “Duuhh… Ify kenapa sih? Aneh banget deh..” ucap Sivia pada dirinya sendiri.



^_^

@ Café AVNH (Malam Harinya)

            Saat baru saja Sivia menginjakkan kakinya dicafe AVNH, Sivia terkejut menyaksikan suasana yang sangat romantis. Bunga-bunga bertaburan disepanjang jalan, dan lilin-lilin tertata dengan rapi dipinggir jalan kecil itu. Sivia tercengang, ia berfikir, buat apa juga Ify mengajaknya ketemuan ditempat seperti ini?
            Sivia terus berjalan, hingga akhirnya tibalah ia didalam café. Kali ini suasana café terlihat biasa saja, seperti café-café biasa pada umumnya, malam itu ada banyak tamu yang berdatangan. Sivia duduk dimeja nomer 1 yang terletak tepat didepan sebuah panggung kecil. Baru saja Sivia akan memanggil seorang pelayan, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang secara tiba-tiba diatas panggung.
            Alvin berdiri dengan tegak diatas panggung seraya membawa sebuah gitar. Alvin telah siap untuk bernyanyi.
            “selamat datang Via…!” kata Alvin dengan pandangan mata yang mengarah pada wajah Sivia. Sivia tidak menjawab. Ia hanya diam. Sivia baru sadar, bahwa Ify telah menipunya.
            “buat semua yang ada disini, kalian semua adalah saksinya, bahwa saya Alvin Jonathan Sindunata ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Sivia Azizah…” kata Alvin sambil menyapu tatapannya kesemua tamu.
            “dan buat Via… Kak Alvin sadar kalo selama ini Kak Alvin udah jahat banget sama Via, maka dari itu, Kak Alvin minta maaf sama Via… Kak Alvin harap, Via mau maafin Kak Alvin, kalo Via mau maafin Kak Alvin, maka Kak Alvin janji, Kak Alvin akan berusaha kuat untuk tidak nyakitin Via lagi, Kak Alvin akan jagain Via baik-baik… Via mau kan maafin Kak Alvin…?”
            Sivia masih saja betah dengan kediamannya. Menganggapi kediaman Sivia. Alvinpun akhirnya turun dari panggung. Ia melangkah kearah Sivia. Sivia terkejut melihat Alvin yang semakin mendekatinya. Setelah jarak mereka cukup dekat, Sivia semakin terkejut saat Alvin berlutut dihadapannya,
            “Ka..Kak Alvin apa-apaan sih? Jangan bikin malu Kak..” kata Sivia setengah berbisik. Alvin menggeleng,
            “Kak Alvin gak peduli Vi, malem ini Kak Alvin bener-bener memohon supaya Via mau maafin Kak Alvin..”
            “tapi Kak Alvin gak perlu ngelakuin ini…”
            “KAK ALVIN CUMA MAU VIA MAAFIN KAK ALVIN…”
            “Kak bangun ya Kak…” pinta Sivia setengah memohon, Alvin menggeleng,
            “gak akan sampe Via mau maafin Kak Alvin…”
            “ta..tapi…”
            “SIVIA, PLEASE MAAFIN KAK ALVIN….” Teriak Alvin,
            “Kak gak usah teriak…”
            “jawab dulu, Via mau maafin Kakak ato gak…?”
            “iya..iya Via maafin, udah kan…” ucap Sivia pada akhirnya,
            “yang bener…??”
            “IYA KAK, VIA UDAH MAAFIN KAK ALVIN, sekarang bangun ya Kak…!”
            Siviapun mengulurkan tangannya untuk Alvin. Dengan senang hati Alvin menerima uluran tangan Alvin.
            “makasih ya Vi…”
            “sama-sama Kak, maafin Via juga ya…?”
            “Via gak salah, Kak Alvin yang salah… Oya…”
            Alvin menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keatas panggung. Sivia bingung. Tingkah bodoh apa lagi yang akan Alvin lakukan padanya. Setelah tiba diatas panggung, Alvin langsung mendudukan Sivia disebuah kursi.
            “mau ngapain Kak..?” Tanya Sivia heran. Tanpa menjawab pertanyaan Sivia, Alvin berkata pada semua tamu yang hadir dicafe AVNH malam itu.
            “malam ini saya akan membawakan lagu buat Via, cewek yang paling special buat saya malem ini…” kata Alvin sambil sesekali melirik kearah Sivia. Sivia tersipu malu dibuatnya. Alvin mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu special untuk Sivia.

“saat ku tenggelam dalam sendu…
Waktupun enggan untuk berlalu
Ku berjani tuk menutup pintu hatiku entah untuk siapapun itu...
Semakin kuingat masa lalu, semakin hatiku tak menentu…
Tetapi satu sinar terangi jiwaku saat kumelihat senyummu…
Dan kau hadir…
Merubah segalanya menjadi lebih indah….
Kau bawa cintaku setinggi angkasa membuatku
Merasa sempurna…
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup…
Berdua denganmu selama-lamanya..
Kaulah yang terbaik untukku…
Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada didekatku…
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku…
Kan ku petik satu untukmu…
Dan kau hadir mengubah segalanya
Menjadi lebih indah…
Kau bawa cintaku setinggi angkasa..
Membuatku merasa sempurna..”

            Lagu itu benar-benar Alvin tujukan untuk Sivia. Seseorang yang telah mampu menyembuhkan luka hatinya setelah dikhianati oleh gadis yang begitu ia sayangi dulu. Alvin telah menutup masa lalunya bersama lukanya yang telah terobati, dan itu karna Sivia.
            Setelah menyelesaikan lagu itu, Alvinpun menuntun Sivia untuk berdiri. Kali ini mereka berdua saling berhadap-hadapan satu sama lain.
            “Via, sekali lagi Kak Alvin bilang, Kak Alvin sayang sama Via, dan sekali lagi Kak Alvin Tanya, apa Via mau jadi pacarnya Kak Alvin….?” Tanya Alvin sambil menatap lurus kearah mata Sivia. Suasana menjadi hening seketika.
            “tapi kan Via lemot, bodoh, dan suka bikin Kak Alvin kesel, Via juga gak can…”
            “Kak Alvin gak peduli…” sela Alvin “jawab Kak Alvin sekarang!” lanjutnya. Sivia terdiam lantas menunduk. Alvinpun mengangkat dagu Sivia,
            “Hey… jawab Kak Alvin, apa Via mau jadi pacarnya Kak Alvin…?” Sivia memejamkan matanya, tanpa berfikir panjang lagi, Sivia langsung mengangguk pasti, Alvin tersenyum,
            “itu artinya…?” Tanya Alvin memastikan,
            “Via mau jadi pacarnya Kak Alvin…”
            “yang bener…??” Sivia mengangguk berkali-kali.  Alvinpun langsung memeluk Sivia dan mengangkatnya,
            “hahaha… makasih ya Vi…?”
            “iya Kak, Via juga sayang sama Kakak…” ujar Sivia seraya membalas pelukan Alvin. Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, ia memegang kedua pipi Sivia lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra dikeningnya.

^_^

            Malam itu, setelah Alvin menyatakan perasaannya pada Sivia untuk yang kesekian kalinya dan setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Alvinpun membawa Sivia berjalan-jalan disekitar danau. Mereka berjalan bergandengan tangan.
            “Kak…” panggil Sivia tiba-tiba. Alvinpun menghentikan langkahnya diikuti oleh Sivia,
            “kenapa..?” Tanya Alvin,
            “ini beneran kita udah jadian Kak…?”
            “menurut Via…?” Tanya Alvin kembali seraya memegang kedua pundak Sivia.
            “Via masih ngerasa ini kaya mimpi… kalo ini mimpi, Via gak mau bangun Kak…” Alvin tersenyum, ia pun menarik Sivia kedalam pelukannya,
            “ini bukan mimpi, ini kenyataan yang harus Via yakini… Kak Alvin janji Kak Alvin gak akan nyakitin Via lagi, Kak Alvin akan selalu ngejaga Via semampu Kak Alvin..” Siviapun membalas pelukan Alvin. Ia mendekap erat tubuh Alvin seolah tak ingin melepaskan lagi.
            “Kak… jangan tinggalin Via ya Kak..”
            “gak akan sayang…” Alvinpun melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia meraih tangan Sivia lalu melingkarkannya dipinggangnya. Mereka kembali berjalan menyusuri tepi danau.




~THE END~

0 comments:

Post a Comment