Ketika Sivia membuka kedua matanya
pada pagi harinya, ia sudah berada didalam kamarnya sendiri. Yang Sivia ingat
semalam ia ketiduran dikamar Cakka. Tapi pagi ini, Sivia sudah berpindah kekamarnya
sendiri. Pasti Cakka yang memindahkannya semalam. Sivia menggelengkan kepalanya
beberapa kali. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia selalu saja merepotkan
Cakka. Tapi untungnya Cakka sama sekali tidak pernah merasa keberatan. Dan itu
adalah salah satu alasan dari berjuta-juta alasan yang membuat Sivia begitu
menyayangi Cakka.
Sivia turun dari tempat tidurnya dan
mendekat kearah cermin. Untuk beberapa saat Sivia menatap wajahnya dicermin,
dan entah kenapa Sivia merasakan sesuatu yang berbeda dibibirnya. Entah Sivia
sedang bermimpi, atau apa, yang jelas semalam Sivia merasakan ada seseorang
yang menciumnya. Tapi siapa?
Sivia menggeleng berkali-kali. Ia
yakin yang semalam itu hanya mimpinya saja. Sivia yang tidak ingin berfikiran
lebih jauh lagi langsung saja menyingkir dari depan cermin dan segera pergi
kekamar mandi.
^_^
Sivia benar-benar merasa muak pagi
itu, karna saat ia sedang sarapan bersama Mama dan Marsha, kedua anak beranak
itu tidak henti-hentinya membahas tentang kedatangan Alvin semalam. Sivia
memutar kedua bola matanya lalu menghela nafas kesal. Yang Sivia tahu saat ini
adalah, ia harus segera menghabiskan sarapannya dan berangkat kesekolah
secepatnya supaya ia tidak bisa mendengar lagi segala pujian yang Mama curahkan
untuk Alvin. Mendengar pujian Mama tentang Alvin, Sivia benar-benar mau muntah
rasanya. Tetapi disisi lain, Sivia merasa kasihan pada Mamanya.
Bagaimana tidak? Semua kebaikan yang
Alvin tunjukan padanya semalam hanyalah sebuah sandiwara yang entah Alvin
memiliki rencana atau tidak dibelakang semuanya. Bahkan Sivia sendiri tidak
mampu membaca apa yang ada dalam fikiran Alvin yang sebenarnya. Sivia harus
hati-hati pada Alvin. Demi kebahagiaan Mama yang begitu ia cintai melebihi
apapun yang ada dimuka bumi ini.
Sivia memasukan potongan terakhir
sandwichnya kedalam mulut lalu meneguk segelas cokelat hangat yang tersaji
didepannya. Dalam satu tegukan saja, segelas cokelat hangat itu sudah raib oleh
Sivia. Mungkin karna kekesalannya yang sampai saat ini masih belum reda pada Alvin.
Marsha hanya bisa menelan ludahnya
ketika melihat Kakaknya menghabiskan segelas cokelat hangat itu dalam waktu
kurang dari 10 detik saja. Marsha menatap Kakaknya dengan pandangan aneh. Tapi
Sivia sama sekali tidak peduli dengan tatapan Marsha itu.
Sivia segera bangkit dari meja
makan. Ia berdiri, menghampiri Mamanya, mencium punggung tangan Mamanya,
mengecup kedua pipi Mamanya secara bergantian lalu keluar begitu saja dari
rumahnya untuk memanggil Cakka yang saat itu mungkin masih asyik menikmati sarapannya.
Beberapa saat setelah kepergian
Sivia, Marsha langsung melempar tatapannya pada Mama. Mama hanya bisa
mengedikkan kedua bahunya ketika menanggapi tatapan Marsha itu.
^_^
10 menit sebelum bel tanda masuk
berbunyi, Sivia duduk sendiri didalam kelasnya memikirkan sesuatu. Sivia
melipat kedua tangannya diatas meja lalu menopang dagunya diatas lipatan
tangannya. Fikiran Sivia menerawang jauh. Andai ada satu hal saja yang mampu
membuatnya bisa membaca fikiran Alvin saat ini. Sivia penasaran, benar-benar
penasaran.
Sivia tiba-tiba kaget ketika Cakka
tahu-tahu sudah duduk dihadapannya dan memandangnya dengan pandanagan bertanya,
“lo kenapa?” Tanya Cakka penasaran,
“Alvin, Kka…” kata Sivia pelan tanpa
sedikitpun mengubah posisinya,
“Alvin kenapa lagi?”
“semalem tuh anak dateng kerumah
gue, dan anehnya, Alvin baiiikkkk banget sama Mama gue dan Marsha. Menurut lo,
kira-kira Alvin punya rencana apa ya dibalik semua ini?”
Cakka menyentuh lengan Sivia yang
terlipat lalu mengusapnya beberapa kali,
“mungkin Cuma perasaan lo aja!”
“awalnya sih gue fikir kayak gitu,
Kka, sampe akhirnya Alvin bilang sendiri ke gue, kalo semua kebaikannya sama
Mama dan Marsha itu adalah palsu, Kka…”
Kali ini Cakka terdiam, bukan karna
Cakka tidak mau memberi Sivia solusi, tetapi, setelah Sivia menjelaskan
semuanya, Cakka jadi ikut-ikutan bingung seperti Sivia. Lagipula selama ini
Cakka dan Alvin selalu berseteru, baik didalam maupun diluar lapangan mereka
berdua tetap adalah rival, jadi bagaimana mungkin Cakka bisa membaca apa yang
ada difikiran Alvin saat ini.
^_^
Sepulang sekolah, persis seperti
janjinya pada Sivia semalam, siang itu Alvin sudah bertengger didepan gerbang
sekolah Sivia bersama Vespa butut kesayangannya yang sampai saat ini
mati-matian berusaha ia pertahankan meski sering kali mendapat protes keras
dari Acha, adiknya.
Setelah sekitar 10 menit menunggu,
Alvinpun melihat sosok Sivia yang saat itu keluar dari koridor sendiri, tanpa
teman-temannya, dan tanpa Cakka. Dan memang itulah yang Alvin inginkan.
Ancamannya benar-benar ampuh hingga bisa membuat Sivia takluk begitu saja.
Alvin tersenyum. Dalam hati ia menyombongkan dirinya.
Pujian dari Beberapa cewek Pancasila
yang saat itu keluar dari gerbang membuat Alvin tidak menoleh sedikitpun.
Bahkan ketika ada seorang cewek yang terang-terangan berteriak histeris ketika
melihatnya, Alvin tetap cuek-cuek saja. Baginya itu sangat tidak penting.
Sivia menghampiri Alvin, ia berdiri
dihadapan Alvin seraya melipat kedua tangannya didada. Sivia tersenyum sinis dan
tanpa sadar bergumam,
“sok tebar pesona!”
Alvin yang bisa mendengar dengan
sangat jelas gumaman Sivia tersebut langsung menatap Sivia dengan senyum
termanisnya,
“kenapa kalo gue tebar pesona? Lo
cemburu?”
Sivia diam. Ia lebih memilih untuk
tidak menanggapi ucapan Alvin barusan. Menanggapi ucapan Alvin sama saja dengan
meladeninya untuk bertengkar. Sivia sedang malas bertengkar.
“Ninja lo kemana? Kok pake Vespa butut
ini?” Tanya Sivia seraya melirik tak suka kearah Vespa yang ditunggangi oleh
Alvin,
“kenapa? Lo malu kalo gue bonceng
pake Vespa ini?”
“iya gue malu!” tukas Sivia tanpa
sedikitpun melirik kearah Alvin. Ada sebuah rasa bersalah yang terbersit dihati
kecilnya saat Sivia sudah terlanjur mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Alvin
pasti tersinggung dan akan berfikiran macam-macam tentang Sivia, tapi
persetanlah dengan anggapan Alvin padanya, toh memang itu yang Sivia inginkan.
Membuat Alvin sakit hati padanya dan meninggalkannya.
Namun ternyata dugaan Sivia sangat
berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat itu juga. Alvin tersenyum
maklum dan menatap kedua manik mata Sivia seteduh mungkin. Sivia merasa
dibanting, benar-benar terbanting. Sivia hanya bisa menelan ludahnya sendiri
saat melihat tatapan mematikan Alvin.
“nanti motornya bakalan gue ganti,
bilaperlu pake mobil sekalian”
Sivia tercengang, ia lalu membalas
tatapan Alvin dengan pandangan tidak habis fikir. Beberapa saat kemudian, Sivia
kembali membuang mukanya kearah lain. Alvin semakin gencar menggodanya,
“dan masalah tebar pesona tadi, lo
nggak usah cemas. Gue setia kok sama lo”
Lagi-lagi Sivia mengalihkan
tatapannya kearah Alvin. Dan kali ini Sivia benar-benar tidak bisa menahan
dirinya untuk tidak membalas perkataan Alvin itu. Tanpa sadar Sivia melangkah
mendekati Alvin, kedua tangannya bergerak memukuli dada bidang milik Alvin,
“iiii…. Kunyuk, rese banget sih lo?
Kepedean, kegeeran…”
Alvin terkesima untuk beberapa saat.
Kunyuk, Sivia memanggilnya dengan panggilan Kunyuk? Alvin tiba-tiba menahan
kedua tangan Sivia yang memukuli dadanya,
“coba ulangi! Tadi lo manggil gue
apaan?”
Ups, Sivia baru menyadari ucapannya
tadi. Begok, begok, begok. Dalam hati Sivia langsung merutuki dirinya. Bisa
habis Sivia digoda oleh Alvin hari ini.
“nggak ada siaran ulang!” kata Sivia
cuek. Dan Sivia semakin kaget, ketika Alvin tahu-tahu menarik kedua tangannya
yang ada dalam genggaman lalu mendaratkannya tepat didalam pelukannya,
“Jelek, gue kangen sama lo!
Kangeennn banget…..” bisik Alvin pelan,
Beberapa dari anak-anak Pancasila
yang melihat adegan mesra yang dipertontonkan oleh Alvin dan Sivia langsung
berteriak heboh. Mereka menyoraki Alvin dan Sivia secara bersamaan. Tapi
diantara mereka, ada beberapa cewek-cewek yang merasa iri dengan posisi Sivia
saat ini. Mereka iri karna tidak seberuntung Sivia.
Sivia yang baru menyadari apa yang
telah terjadi sekarang, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Alvin. Tapi
semakin Sivia mencoba, semakin pelukan itu mengerat mencengkram tubuh
mungilnya.
“Kunyuk, lo nggak malu apa diliatin
sama banyak orang kayak gini? Lepasin gue nggak?”
Alvin menggeleng dengan mantap
beberapa kali,
“elo yang malu, tapi gue nggak, dan
gue sama sekali nggak peduli lo mau malu apa nggak. GUE-NGGAK-URUS!!” kata
Alvin masa bodoh. Merasa percuma bila melakukan perlawanan, Sivia akhirnya
pasrah dalam pelukan Alvin. Setidaknya rasa rindunya akan pelukan hangat Alvin,
bisa sedikit terbalas dengan hari ini. Sivia berdiri kaku dan berusaha keras
melawan intuisinya yang menghendakinya untuk membalas pelukan Alvin.
^_^
Bunyi keroncongan dari dalam
perutnya sama sekali tidak bisa Sivia tahan. Dan bunyi keroncongan yang sedikit
keras itu terdengar sama-samar ditelinga Alvin yang saat itu tengah focus
mengendarai Vespanya. Sivia baru ingat, tadi disekolah ia belum sempat kekantin
saat jam istirahat tiba, karna saat itu Sivia tengah sibuk menyalin PR Kimia
milik Cakka. Dalam hati Sivia merutuki dirinya sendiri. Sivia menekan perutnya
kuat-kuat agar suara memalukan itu terdengar lagi, namun usaha Sivia sia-sia
saja, karna Alvin telah mendengarnya.
Alvin tersenyum licik lantas
berdehem,
“ehem… laper, Lek?” Tanya Alvin
dengan nada meledek. Mulut Sivia langsung mengerucut. Sebal.
“nggak!” jawab Sivia sinis.
“ya udah, kita makan dulu ya? Gue
tahu dimana tempat makan yang enak”
“gue bilang gue nggak laper, jadi
nggak usah repot-repot buat bawa gue ketempat yang lo maksud” kata Sivia gengsi
sambil terus berusaha menahan perutnya yang semakin lama semakin keroncongan.
“nggak usah geer jadi cewek! Siapa
juga yang mau ajakin lo makan? Orang gue yang laper kok. Gue akan tetep bawa lo
kesana, lo mau makan apa nggak, itu bukan urusan gue” ucap Alvin santai tanpa
sedikitpun memikirkan perasaan Sivia yang sukses ia buat malu semalu-malunya.
Merasa berhasil telah mempermalukan
Sivia, Alvinpun tertawa kecil tanpa suara.
^_^
Agni menunggu Cakka dengan setia
yang saat itu tengah asyik latihan basket bersama kawan-kawannya. 10 menit
sudah Agni menunggu Cakka sendiri, tapi ia tidak sedikitpun merasa jenuh. Agni
sudah bertekad, bahwa hari ini juga Agni akan menyatakan perasaannya yang
sesungguhnya pada Cakka. Agni tidak ingin memendam semuanya lebih lama lagi.
Persetan dengan jawaban Cakka nanti,
yang Agni tahu hari ini juga ia harus menyatakan perasaannya pada Cakka. Entah
bagaimanapun caranya.
3 hari yang lalu Agni sempat curhat
pada Sivia mengenai Cakka. Dan Sivia meminta Agni untuk segera menyatakan
perasaannya pada Cakka. Awalnya Agni ragu, apa dia bisa atau tidak. Tapi setelah
Sivia mati-matian menyakinkannya –tentu saja tanpa sepengetahuan Cakka- Agni
akhirnya mengambil sebuah keputusan. Selama ini Sivia benar-benar telah banyak
membantunya. Tahu kalau Sivia mendukungnya 100% bersama Cakka, Agni semakin
percaya diri.
“sorry ya, Ag lo jadi nunggu lama”
kata Cakka dengan nafas naik turun sembari duduk disamping Agni. Cakka
mengambil botol minumannya lalu meminumnya hingga setengah botol. Cakka
benar-benar kehausan.
“ada apa nih? Tumben sampe nungguin
gue, kayaknya penting banget nih” Cakka mengelap keringat yang bercucuran
membingkai wajahnya dengan sebuah handuk kecil.
Agni semakin gugup, ia menggenggam
kuat-kuat jemari tangannya, berusaha menenangkan perasaannya yang saat itu
bercampur aduk. Mendadak Agni ciut, semua keberanian yang sejak kemarin ia
kumpulkan dengan susah payah seakan terkikis oleh rasa gugupnya hari ini.
Sekali lagi Agni bertanya pada hatinya, apa dia sudah siap dengan segala resiko
yang akan ia tanggung nanti jika Cakka telah mengetahui perasaannya?
“Hey Agni! Ada apa? Kok diem aja?”
ujar Cakka seraya menepuk pelan pundak Agni. Hal yang Cakka lakukan itu malah
membuat Agni kaget. Debaran jantungnya semakin tidak bisa ia kendalikan. Sial!
Ini bukan yang Agni inginkan.
“Hellooo…. Agni Trinubuwati!!” tegur
Cakka lebih keras lagi. Agni lagi-lagi terkesiap, tapi buru-buru juga melirik
Cakka yang saat itu menatapnya dengan tatapan aneh. Hari ini Agni sangat
berbeda. Itulah setidaknya yang ada dalam fikiran Cakka saat ini.
“ada apa?” Tanya Cakka sekali lagi.
“emmm… gue, gu… gue….”
Semua susunan kalimat yang sudah
Agni persiapkan seolah rubuh tanpa ampun. Ternyata semuanya tidak segampang
seperti apa yang ia fikirkan. Agni butuh sebuah dorongan, entah dari siapapun
itu.
“ngomong aja! Nggak usah sungkan
sama gue”
“tapi janji ya lo jangan marah
apalagi benci sama gue” pinta Agni yang langsung membuat kedua alis Cakka
bertaut. Heran.
“Agni… Agni, lo udah kenal gue cukup
lama, dan gue rasa lo tau gimana gue, gue nggak mungkin marah apa lagi ngamuk
kan kalo lo mau ngomongin sesuatu sama gue?”
Agni menghela nafas panjang. Ini
kesempatan yang tidak boleh Agni sia-siakan. Jika bukan sekarang lalu kapan
lagi? Kecuali Agni mau menunggu lebih lama lagi dan membuat perasaannnya
semakin mengimpit dadanya hingga menimbulkan sesak.
Agni memejamkan matanya sejenak,
berusaha mengumpulkan kembali keberanian serta nyalinya sudah yang sudah
berserakan. Setelah yakin dengan semuanya, Agnipun menghela nafas panajng lalu
menghembuskannya dengan tidak nyaman. Sekarang saatnya…
“Cakka sebenernya gue suka sama lo!”
kata Agni cepat.
Cakka langsung melongo mendengar
pernyataan Agni barusan. Apa Cakka tidak salah dengar?
“apa?” Cakka masih berusaha
meyakinkan indera pendengarnya.
Agni mengangguk pelan. Tidak
sedikitpun ia berani melihat kearah Cakka.
“iya gue suka sama lo. Tapi lo musti
tahu Kka, kalo saat ini gue Cuma nyatain perasaan gue keelo dan nggak nembak lo
sama sekali. Karna menurut gue, definisi menyatakan perasaan sama nembak itu
beda, dan gue harep lo ngerti”
Cakka diam membisu dan tidak
menunjukan reaksi apapun. Semuanya terlalu sulit untuk bisa Cakka cerna.
“terserah kalo lo mau nganggep gue
frontal, tapi gue Cuma pengen lo tahu, gue nggak mungkin nyimpen ini selamanya,
kelak, lo pasti akan tahu juga, kapanpun itu akan sama saja dengan hari ini”
“dan gue harep, jikapun lo nggak
ngerasa perasaan yang sama seperti yang gue rasain sekarang, sikap lo ke gue
nggak akan pernah berubah, gue mau semuanya tetep normal. Gue pasti bisa Kka
nerima apapun jawaban dari perasaan gue” kata Agni pasrah.
Dalam hati Cakka marah. Tapi bukan
pada Agni, bukan pada perasaan Agni. Cakka juga tidak menyalahkan Agni sama
sekali dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Cakka hanya marah pada dirinya
sendiri, muak pada semua yang ada pada dirinya. Cakka merasa iri pada Agni,
karna pada kenyataan yang sesungguhnya Cakka tidak seberani Agni. Cakka lebih
memilih untuk memendam perasaannya pada Sivia, sementara Agni? Pecundang,
ternyata Cakka yang pecundang, bukan Alvin.
“Kka, ngomong! Ucapin sesuatu,
jangan diem aja. Nggak apa-apa kok kalo lo…. Emang nggak ada rasa apa-apa ke
gue”
Mendadak Cakka gugup dan jadi salah
tingkah sendiri. Tidak bisa Cakka pungkiri, bahwa semenjak kehadiran Agni dalam
hidupnya, Agni telah banyak memberikan warna dihidupnya. Cakka juga tidak
terlalu sering memikirkan Sivia karna Agni yang selalu setia berada
disampingnya kapanpun. Hanya saja, Cakka tidak ingin membohongi perasaannya
sendiri dan menyakiti Agni dengan kemunafikannya. Yang Cakka sayangi hanya
Sivia, bukan Agni. Menerima Agni sekarang sama saja ia harus melukai hati Agni
dengan tidak berperasaan. Tidak, Cakka tidak ingin sejahat itu pada Agni.
Karna tidak tahu lagi harus
mengatakan dan berbuat apa, Cakka akhirnya membenahi barang-barangnya. Beberapa
saat kemudian, setelah semuanya siap, Cakka memasang ranselnya lantas bangkit
dari samping Agni.
“udah siang, Ag. Mending kita pulang
aja”
Cakka berlalu dari hadapan Agni
begitu saja. Agni menghela nafas beratnya, meski tidak mendapatkan jawaban
apapun dari Cakka atas hatinya, setidaknya Agni bisa merasa sedikit lebih baik
dan lega tentunya.
^_^
Alvin mengajak Sivia makan siang
disebuah café yang merupakan café favorit Alvin. Alvin dan kawan-kawannya
sering berkumpul diCafe ini. Bahkan jika mereka merayakan pesta kemenangan
mereka saat sudah bertanding, mereka selalu akan merayakannya dicafe ini.
Sejak tadi, Alvin hanya menatap
Sivia yang saat itu tengah sibuk melahap semua makanan yang ada dihadapannya.
Sesekali Alvin terkekeh geli, bukannya tadi Sivia bilang kalau ia tidak lapar
dan tidak ingin makan, lalu sekarang apa
yang sedang Si Jelek ini lakukan? Alvin menggeleng beberapa kali, ia benar-benar
tidak habis fikir dengan Gadis yang menurutnya sangat jelek ini.
“laper banget ya, Lek?” Tanya Alvin
saat Sivia nyaris menghabiskan 2 piring nasi goreng. Bayangkan 2 piring nasi
goreng! Spageti yang tadi Alvin pesan saja belum ia sentuh sama sekali, tapi
Sivia?
Sivia memilih untuk masa bodoh. Saat
ini ia sedang kelaparan, dan ia sama sekali tidak punya waktu untuk meladeni
Alvin.
Alvin kembali menatap Sivia
lekat-lekat seraya tersenyum begitu manis. Menyadari bahwa Alvin sedang
menatapnya dan tidak menyentuh makanan pesanannya sedikitpun, Sivia
menghentikan ritual memakannya untuk beberapa saat. Dengan cepat wajah Sivia
terangkat, kedua matanya menatap kedua bola mata Alvin,
“nggak pernah lihat orang makan ya?”
kata Sivia dengan nada protes. Alvin tidak menjawab, ia hanya tersenyum tanpa
henti.
“bodo ah!” Sivia kembali melanjutkan
ritual makannya yang sempat terhenti gara-gara ulah Alvin yang terus menatapnya
tanpa henti.
“berapa tahun sih lo nggak makan?
Rakus amat?? Tadi bukannya lo bilang lo nggak laper ya? Tapi sekarang
ternyata….”
“sttt…. Nggak usah banyak bacot
deh!” Sivia lagi-lagi melirik kearah Alvin, tapi itu tidak lama, karna
setelahnya perhatian Sivia malah tertuju kearah spageti pesanan Alvin yang
belum sama sekali ia sentuh,
“itu spagetinya kenapa lo anggurin?”
“ngeliat lo makan segini rakusnya
udah cukup bikin gue kenyang” cibir Alvin dengan terang-terangan.
“berarti lo nggak makan nih spageti
dong?”
Alvin menggeleng pelan,
“boleh buat gue ya? Gue masih
laper….” Kata Sivia seraya mengelus-elus perutnya. Alvin mengangguk menyetujui
meski sebenarnya ia agak sedikit tercengang dengan porsi makan Sivia hari ini.
“asyiikk!!” Sivia girang tak alang
kepalang. Dalam satu gerakan cepat, Sivia langsung saja mengambil sepiring
spageti yang masih tersaji utuh dihadapan Alvin.
Dengan senang hati, Sivia melahap
habis spageti yang tadinya untuk Alvin. Karena kurang-kurang hati saat memakan
spageti, saus spageti itu sampai belepotan disekitar mulut Sivia. Alvin
terkekeh geli melihat pemandangan lucu yang ada dihadapannya. Sivia sudah
benar-benar kelihatan seperti anak TK.
Alvin meraih selembar tisu yang
memang sudah tersedia diatas meja. Tangan Alvin bergerak perlahan kearah Sivia,
lalu dengan penuh perhatian Alvin mengusap saus yang belepotan disekitar daerah
mulut Sivia.
“makan pelan-pelan aja, Neng. Jangan
kayak orang kesetanan!”
Sivia mengangkat wajahnya, ia
terdiam untuk beberapa saat. Apa yang Alvin lakukan saat ini benar-benar
mengundang kembali getar-getar itu didadanya. Semakin lama getaran itu semakin
kuat mengusik dadanya.
“biar gue lap sendiri” saat Sivia akan
mengambil alih tisu itu dari tangan Alvin, Alvin langsung menjauhkan tangannya,
“bisa diem nggak sih?” Sivia pasrah
dan menerima begitu saja perlakuan Alvin.
“abis makan kita kerumah lo, kan?”
Tanya Sivia setelah Alvin selesai membersihkan mulutnya. Alvin menggeleng
dengan mantap,
“nggak” jawab Alvin sekenanya. Sivia
heran,
“lho, bukannya semalem lo bilang
kalo hari ini lo mau bawa gue ke Mama lo?”
“semalem gue bohong. Hari ini gue
lagi pengen jalan aja sama lo, SAMA PACAR GUE!” Jawab Alvin dengan memberikan
sedikit penekanan pada kata; “SAMA PACAR GUE”
“Alvin kita udah putus!” Sivia
memperingatkan.
“buat gue belom” tukas Alvin dengan
santai,
“Alvin, kayaknya lo musti
nge-refresh ingetan lo deh, bukannya malem itu kita udah sepakat untuk ngeakhirin
semuanya?”
“lo yang musti nge-refresh ingetan
lo, Vi! Malem itu lo emang mutusin gue, tapi gue nggak bilang apa-apa kan? Yang
itu berarti lo mutusin gue secara sepihak, secara nggak langsung lo masih pacar
gue” suasana yang sejak tadi cair mendadak tegang.
“Alvin, please! Lo harus bisa terima
kenyataan. Gue tahu ini berat buat lo, tapi lo harus bisa, Alvin! Kalo gue aja
bisa, kenapa lo nggak?” selera makan Sivia mendadak hilang tanpa bekas.
“lo mungkin bisa, tapi gue nggak”
“atau setidaknya lo nyoba deh buat
nerima kehadiran Mama gue sebagai calon Mama lo juga. Sekali lagi gue bilang
keelo, Mama Papa kita saling mencintai Alvin….”
“gue mungkin bisa nerima kehadiran
Mama lo, tapi bukan sebagai calon Mama tiri gue, melainkan sebagai….. Calon Mama
Mertua gue”
Sivia tercengang. Si Kunyuk ini
sudah benar-benar gila stadium akut.
^_^
Farish sudah mendengar berita tentang
kedatangan Alvin kerumah Denita tadi malam dari Denita langsung. Farish
langsung meradang, tapi sebisa mungkin, Farish berusaha menyembunyikan
amarahnya didepan Denita. Sama seperti Sivia, Farish merasa bahwa Alvin
memiliki sebuah rencana dibalik semua ini. Tidak, Farish tidak akan membiarkan
Alvin begitu saja.
Sepulangnya dari kantor, Farish
langsung bergegas menemui Alvin yang mungkin saat itu sedang berada dirumah
Mamanya.
Dan setelah Bi Ningsih membuka pintu
untuk Farish, Farish langsung memasuki rumah mantan isterinya itu dan mencari
keberadaan Alvin disana. Kebetulan saat itu Regina masih dikantor. Ditangan
sebelah kanannya Farish membawa sebuah tiket untuk Alvin.
Farish menghentikan langkahnya
ketika mendapati Alvin yang saat itu sedang duduk diruang tengah sambil
mengerjakan PR Biologinya. Tanpa melihat kearah Papanya, Alvin tahu bahwa saat
itu Farish sudah berdiri dihadapannya. Alvin juga sangat tahu apa maksud
kedatangan Papanya.
“selamet dateng, Pa? tumben kesini?
Ada angin apa?” Tanya Alvin tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku PR nya.
Alvin tetap focus mencatat.
Tiba-tiba saja Farish melempar
sebuah tiket yang sejak tadi ia pegang tepat dihadapan Alvin. Alvin sedikit
terkejut, ia mengalihkan perhatiannya dari buku PR nya lalu menatap Papanya
dengan pandangan bertanya,
“ini apa, Pa?”
“itu tiket keberangkatan kamu ke
Singapore. Setelah pembagian raport nanti, Papa mau kamu pergi ke Singapore dan
melanjutkan sekolah kamu disana. Semua keberangkatan kamu sudah Papa persiapkan
dengan sebaik mungkin. Kamu Cuma tinggal ngikutin ujian, terima raport, naik
kelas dan terbang ke Singapore”
Alvin melepaskan bolpointnya. Ia
menatap tiket yang baru saja Papa lemparkan dihadapannya. Beberapa saa
kemudian, Alvin mengangguk paham dengan disertai oleh senyuman liciknya.
“jadi begini permainan Papa?”
Farish tidak menunjukan reaksi
apa-apa. Senyuman diwajah Alvin semakin melebar. Dengan setenang mungkin Alvin
bangkit lalu menghampiri Papanya, tidak lupa juga Alvin membawa tiket itu.
“Ok, aku akan berangkat ke Singapore
seperti apa yang Papa mau” Alvin menjulurkan tiket itu dihadapan Papanya,
“tapi setelah aku ngebongkar
semuanya dihadapan Tante Denita” kali ini Farish tercengang.
“nggak usah kaget, Pa! asal Papa
tahu ya? Dalem waktu semalem aku udah bisa ngerebut kepercayaan dan simpati
Tante Denita, dan aku ngerasa Tante Denita udah mulai sayang sama aku. Aku
jamin Pa, setelah aku ngebongkar semuanya didepan Tante Denita, dan setelah aku
bilang kalau aku dan Via saling menyayangi satu sama lain, Tante Denita pasti
akan menyerah dan ninggalin Papa. Mungkin bukan demi aku, tapi Demi Sivia,
puteri kesayangannya”
“Alvin, kamu—“
“dan semakin terburu-buru Papa
menikah dengan Tante Denita, maka aku akan semakin terburu-buru juga buat
ngebongkar semuanya. Harus Papa tahu, aku ngelakuin semuanya ini, bukan hanya untuk
diri aku dan Sivia semata, tapi juga untuk Mama, Mama ku yang sampai saat ini
masih ngarepin Papa, dan aku sebagai anaknya, akan ngelakuin apapun buat
ngabulin harapan Mama aku” Alvin menghela nafas sejenak,
“sekarang semuanya tergantung Papa.
Keputusan mutlak ada ditangan Papa sepenuhnya. Jangan pernah heran kenapa aku
bisa selicik ini Pa! karna kalau Papa mau tahu, aku belajar semuanya dari Papa,
dari kelicikan Papa juga dari keegoisan Papa selama ini”
Alvin kembali ketempatnya semula dan
kembali melanjutkan aktifitasnya semula.
Alvin memang hebat, tanpa perlu
susah-susah melakukan perlawanan ia bisa dengan begitu mudah mengalahkan
Papanya.
“kalo nggak ada lagi yang mau Papa omongin, mending sekarang
Papa pulang aja! Masih banyak tugas yang harus aku kerjain” kata Alvin sambil
mencatat.
Baru saja beberapa langkah Farish
meninggalkan ruang tengah, tiba-tiba saja Alvin berucap dan membuat langkah
Farish terhenti untuk beberapa saat,
“Papa mau tahu apa pendapat aku
tentang hubungan Papa sama Tante Denita?” Farish tidak menjawab, tapi tidak
melanjutkan langkahnya juga,
“Papa sama Tante Denita cocok kok,
banget malah, tapi bukan sebagai calon suami-isteri, melainkan sebagai….. CALON
BESAN!!”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment