Sunday, July 7, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 24 "Kunyuk Dan Jelek Kembali Lagi"





            Ketika Sivia membuka kedua matanya pada pagi harinya, ia sudah berada didalam kamarnya sendiri. Yang Sivia ingat semalam ia ketiduran dikamar Cakka. Tapi pagi ini, Sivia sudah berpindah kekamarnya sendiri. Pasti Cakka yang memindahkannya semalam. Sivia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia selalu saja merepotkan Cakka. Tapi untungnya Cakka sama sekali tidak pernah merasa keberatan. Dan itu adalah salah satu alasan dari berjuta-juta alasan yang membuat Sivia begitu menyayangi Cakka.
            Sivia turun dari tempat tidurnya dan mendekat kearah cermin. Untuk beberapa saat Sivia menatap wajahnya dicermin, dan entah kenapa Sivia merasakan sesuatu yang berbeda dibibirnya. Entah Sivia sedang bermimpi, atau apa, yang jelas semalam Sivia merasakan ada seseorang yang menciumnya. Tapi siapa?
            Sivia menggeleng berkali-kali. Ia yakin yang semalam itu hanya mimpinya saja. Sivia yang tidak ingin berfikiran lebih jauh lagi langsung saja menyingkir dari depan cermin dan segera pergi kekamar mandi.

^_^

            Sivia benar-benar merasa muak pagi itu, karna saat ia sedang sarapan bersama Mama dan Marsha, kedua anak beranak itu tidak henti-hentinya membahas tentang kedatangan Alvin semalam. Sivia memutar kedua bola matanya lalu menghela nafas kesal. Yang Sivia tahu saat ini adalah, ia harus segera menghabiskan sarapannya dan berangkat kesekolah secepatnya supaya ia tidak bisa mendengar lagi segala pujian yang Mama curahkan untuk Alvin. Mendengar pujian Mama tentang Alvin, Sivia benar-benar mau muntah rasanya. Tetapi disisi lain, Sivia merasa kasihan pada Mamanya.
            Bagaimana tidak? Semua kebaikan yang Alvin tunjukan padanya semalam hanyalah sebuah sandiwara yang entah Alvin memiliki rencana atau tidak dibelakang semuanya. Bahkan Sivia sendiri tidak mampu membaca apa yang ada dalam fikiran Alvin yang sebenarnya. Sivia harus hati-hati pada Alvin. Demi kebahagiaan Mama yang begitu ia cintai melebihi apapun yang ada dimuka bumi ini.
            Sivia memasukan potongan terakhir sandwichnya kedalam mulut lalu meneguk segelas cokelat hangat yang tersaji didepannya. Dalam satu tegukan saja, segelas cokelat hangat itu sudah raib oleh Sivia. Mungkin karna kekesalannya yang sampai saat ini masih belum reda pada Alvin.
            Marsha hanya bisa menelan ludahnya ketika melihat Kakaknya menghabiskan segelas cokelat hangat itu dalam waktu kurang dari 10 detik saja. Marsha menatap Kakaknya dengan pandangan aneh. Tapi Sivia sama sekali tidak peduli dengan tatapan Marsha itu.
            Sivia segera bangkit dari meja makan. Ia berdiri, menghampiri Mamanya, mencium punggung tangan Mamanya, mengecup kedua pipi Mamanya secara bergantian lalu keluar begitu saja dari rumahnya untuk memanggil Cakka yang saat itu mungkin masih asyik menikmati sarapannya.
            Beberapa saat setelah kepergian Sivia, Marsha langsung melempar tatapannya pada Mama. Mama hanya bisa mengedikkan kedua bahunya ketika menanggapi tatapan Marsha itu.

^_^

            10 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, Sivia duduk sendiri didalam kelasnya memikirkan sesuatu. Sivia melipat kedua tangannya diatas meja lalu menopang dagunya diatas lipatan tangannya. Fikiran Sivia menerawang jauh. Andai ada satu hal saja yang mampu membuatnya bisa membaca fikiran Alvin saat ini. Sivia penasaran, benar-benar penasaran.
            Sivia tiba-tiba kaget ketika Cakka tahu-tahu sudah duduk dihadapannya dan memandangnya dengan pandanagan bertanya,
            “lo kenapa?” Tanya Cakka penasaran,
            “Alvin, Kka…” kata Sivia pelan tanpa sedikitpun mengubah posisinya,
            “Alvin kenapa lagi?”
            “semalem tuh anak dateng kerumah gue, dan anehnya, Alvin baiiikkkk banget sama Mama gue dan Marsha. Menurut lo, kira-kira Alvin punya rencana apa ya dibalik semua ini?”
            Cakka menyentuh lengan Sivia yang terlipat lalu mengusapnya beberapa kali,
            “mungkin Cuma perasaan lo aja!”
            “awalnya sih gue fikir kayak gitu, Kka, sampe akhirnya Alvin bilang sendiri ke gue, kalo semua kebaikannya sama Mama dan Marsha itu adalah palsu, Kka…”
            Kali ini Cakka terdiam, bukan karna Cakka tidak mau memberi Sivia solusi, tetapi, setelah Sivia menjelaskan semuanya, Cakka jadi ikut-ikutan bingung seperti Sivia. Lagipula selama ini Cakka dan Alvin selalu berseteru, baik didalam maupun diluar lapangan mereka berdua tetap adalah rival, jadi bagaimana mungkin Cakka bisa membaca apa yang ada difikiran Alvin saat ini.

^_^

            Sepulang sekolah, persis seperti janjinya pada Sivia semalam, siang itu Alvin sudah bertengger didepan gerbang sekolah Sivia bersama Vespa butut kesayangannya yang sampai saat ini mati-matian berusaha ia pertahankan meski sering kali mendapat protes keras dari Acha, adiknya.
            Setelah sekitar 10 menit menunggu, Alvinpun melihat sosok Sivia yang saat itu keluar dari koridor sendiri, tanpa teman-temannya, dan tanpa Cakka. Dan memang itulah yang Alvin inginkan. Ancamannya benar-benar ampuh hingga bisa membuat Sivia takluk begitu saja. Alvin tersenyum. Dalam hati ia menyombongkan dirinya.
            Pujian dari Beberapa cewek Pancasila yang saat itu keluar dari gerbang membuat Alvin tidak menoleh sedikitpun. Bahkan ketika ada seorang cewek yang terang-terangan berteriak histeris ketika melihatnya, Alvin tetap cuek-cuek saja. Baginya itu sangat tidak penting.
            Sivia menghampiri Alvin, ia berdiri dihadapan Alvin seraya melipat kedua tangannya didada. Sivia tersenyum sinis dan tanpa sadar bergumam,
            “sok tebar pesona!”
            Alvin yang bisa mendengar dengan sangat jelas gumaman Sivia tersebut langsung menatap Sivia dengan senyum termanisnya,
            “kenapa kalo gue tebar pesona? Lo cemburu?”
            Sivia diam. Ia lebih memilih untuk tidak menanggapi ucapan Alvin barusan. Menanggapi ucapan Alvin sama saja dengan meladeninya untuk bertengkar. Sivia sedang malas bertengkar.
            “Ninja lo kemana? Kok pake Vespa butut ini?” Tanya Sivia seraya melirik tak suka kearah Vespa yang ditunggangi oleh Alvin,
            “kenapa? Lo malu kalo gue bonceng pake Vespa ini?”
            “iya gue malu!” tukas Sivia tanpa sedikitpun melirik kearah Alvin. Ada sebuah rasa bersalah yang terbersit dihati kecilnya saat Sivia sudah terlanjur mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Alvin pasti tersinggung dan akan berfikiran macam-macam tentang Sivia, tapi persetanlah dengan anggapan Alvin padanya, toh memang itu yang Sivia inginkan. Membuat Alvin sakit hati padanya dan meninggalkannya.
            Namun ternyata dugaan Sivia sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat itu juga. Alvin tersenyum maklum dan menatap kedua manik mata Sivia seteduh mungkin. Sivia merasa dibanting, benar-benar terbanting. Sivia hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat melihat tatapan mematikan Alvin.
            “nanti motornya bakalan gue ganti, bilaperlu pake mobil sekalian”
            Sivia tercengang, ia lalu membalas tatapan Alvin dengan pandangan tidak habis fikir. Beberapa saat kemudian, Sivia kembali membuang mukanya kearah lain. Alvin semakin gencar menggodanya,
            “dan masalah tebar pesona tadi, lo nggak usah cemas. Gue setia kok sama lo”
            Lagi-lagi Sivia mengalihkan tatapannya kearah Alvin. Dan kali ini Sivia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membalas perkataan Alvin itu. Tanpa sadar Sivia melangkah mendekati Alvin, kedua tangannya bergerak memukuli dada bidang milik Alvin,
            “iiii…. Kunyuk, rese banget sih lo? Kepedean, kegeeran…”
            Alvin terkesima untuk beberapa saat. Kunyuk, Sivia memanggilnya dengan panggilan Kunyuk? Alvin tiba-tiba menahan kedua tangan Sivia yang memukuli dadanya,
            “coba ulangi! Tadi lo manggil gue apaan?”
            Ups, Sivia baru menyadari ucapannya tadi. Begok, begok, begok. Dalam hati Sivia langsung merutuki dirinya. Bisa habis Sivia digoda oleh Alvin hari ini.
            “nggak ada siaran ulang!” kata Sivia cuek. Dan Sivia semakin kaget, ketika Alvin tahu-tahu menarik kedua tangannya yang ada dalam genggaman lalu mendaratkannya tepat didalam pelukannya,
            “Jelek, gue kangen sama lo! Kangeennn banget…..” bisik Alvin pelan,
            Beberapa dari anak-anak Pancasila yang melihat adegan mesra yang dipertontonkan oleh Alvin dan Sivia langsung berteriak heboh. Mereka menyoraki Alvin dan Sivia secara bersamaan. Tapi diantara mereka, ada beberapa cewek-cewek yang merasa iri dengan posisi Sivia saat ini. Mereka iri karna tidak seberuntung Sivia.
            Sivia yang baru menyadari apa yang telah terjadi sekarang, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Alvin. Tapi semakin Sivia mencoba, semakin pelukan itu mengerat mencengkram tubuh mungilnya.
            “Kunyuk, lo nggak malu apa diliatin sama banyak orang kayak gini? Lepasin gue nggak?”
            Alvin menggeleng dengan mantap beberapa kali,
            “elo yang malu, tapi gue nggak, dan gue sama sekali nggak peduli lo mau malu apa nggak. GUE-NGGAK-URUS!!” kata Alvin masa bodoh. Merasa percuma bila melakukan perlawanan, Sivia akhirnya pasrah dalam pelukan Alvin. Setidaknya rasa rindunya akan pelukan hangat Alvin, bisa sedikit terbalas dengan hari ini. Sivia berdiri kaku dan berusaha keras melawan intuisinya yang menghendakinya untuk membalas pelukan Alvin.


^_^

            Bunyi keroncongan dari dalam perutnya sama sekali tidak bisa Sivia tahan. Dan bunyi keroncongan yang sedikit keras itu terdengar sama-samar ditelinga Alvin yang saat itu tengah focus mengendarai Vespanya. Sivia baru ingat, tadi disekolah ia belum sempat kekantin saat jam istirahat tiba, karna saat itu Sivia tengah sibuk menyalin PR Kimia milik Cakka. Dalam hati Sivia merutuki dirinya sendiri. Sivia menekan perutnya kuat-kuat agar suara memalukan itu terdengar lagi, namun usaha Sivia sia-sia saja, karna Alvin telah mendengarnya.
            Alvin tersenyum licik lantas berdehem,
            “ehem… laper, Lek?” Tanya Alvin dengan nada meledek. Mulut Sivia langsung mengerucut. Sebal.
            “nggak!” jawab Sivia sinis.
            “ya udah, kita makan dulu ya? Gue tahu dimana tempat makan yang enak”
            “gue bilang gue nggak laper, jadi nggak usah repot-repot buat bawa gue ketempat yang lo maksud” kata Sivia gengsi sambil terus berusaha menahan perutnya yang semakin lama semakin keroncongan.
            “nggak usah geer jadi cewek! Siapa juga yang mau ajakin lo makan? Orang gue yang laper kok. Gue akan tetep bawa lo kesana, lo mau makan apa nggak, itu bukan urusan gue” ucap Alvin santai tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Sivia yang sukses ia buat malu semalu-malunya.
            Merasa berhasil telah mempermalukan Sivia, Alvinpun tertawa kecil tanpa suara.


^_^

            Agni menunggu Cakka dengan setia yang saat itu tengah asyik latihan basket bersama kawan-kawannya. 10 menit sudah Agni menunggu Cakka sendiri, tapi ia tidak sedikitpun merasa jenuh. Agni sudah bertekad, bahwa hari ini juga Agni akan menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Cakka. Agni tidak ingin memendam semuanya lebih lama lagi.
            Persetan dengan jawaban Cakka nanti, yang Agni tahu hari ini juga ia harus menyatakan perasaannya pada Cakka. Entah bagaimanapun caranya.
            3 hari yang lalu Agni sempat curhat pada Sivia mengenai Cakka. Dan Sivia meminta Agni untuk segera menyatakan perasaannya pada Cakka. Awalnya Agni ragu, apa dia bisa atau tidak. Tapi setelah Sivia mati-matian menyakinkannya –tentu saja tanpa sepengetahuan Cakka- Agni akhirnya mengambil sebuah keputusan. Selama ini Sivia benar-benar telah banyak membantunya. Tahu kalau Sivia mendukungnya 100% bersama Cakka, Agni semakin percaya diri.
            “sorry ya, Ag lo jadi nunggu lama” kata Cakka dengan nafas naik turun sembari duduk disamping Agni. Cakka mengambil botol minumannya lalu meminumnya hingga setengah botol. Cakka benar-benar kehausan.
            “ada apa nih? Tumben sampe nungguin gue, kayaknya penting banget nih” Cakka mengelap keringat yang bercucuran membingkai wajahnya dengan sebuah handuk kecil.
            Agni semakin gugup, ia menggenggam kuat-kuat jemari tangannya, berusaha menenangkan perasaannya yang saat itu bercampur aduk. Mendadak Agni ciut, semua keberanian yang sejak kemarin ia kumpulkan dengan susah payah seakan terkikis oleh rasa gugupnya hari ini. Sekali lagi Agni bertanya pada hatinya, apa dia sudah siap dengan segala resiko yang akan ia tanggung nanti jika Cakka telah mengetahui perasaannya?
            “Hey Agni! Ada apa? Kok diem aja?” ujar Cakka seraya menepuk pelan pundak Agni. Hal yang Cakka lakukan itu malah membuat Agni kaget. Debaran jantungnya semakin tidak bisa ia kendalikan. Sial! Ini bukan yang Agni inginkan.
            “Hellooo…. Agni Trinubuwati!!” tegur Cakka lebih keras lagi. Agni lagi-lagi terkesiap, tapi buru-buru juga melirik Cakka yang saat itu menatapnya dengan tatapan aneh. Hari ini Agni sangat berbeda. Itulah setidaknya yang ada dalam fikiran Cakka saat ini.
            “ada apa?” Tanya Cakka sekali lagi.
            “emmm… gue, gu… gue….”
            Semua susunan kalimat yang sudah Agni persiapkan seolah rubuh tanpa ampun. Ternyata semuanya tidak segampang seperti apa yang ia fikirkan. Agni butuh sebuah dorongan, entah dari siapapun itu.
            “ngomong aja! Nggak usah sungkan sama gue”
            “tapi janji ya lo jangan marah apalagi benci sama gue” pinta Agni yang langsung membuat kedua alis Cakka bertaut. Heran.
            “Agni… Agni, lo udah kenal gue cukup lama, dan gue rasa lo tau gimana gue, gue nggak mungkin marah apa lagi ngamuk kan kalo lo mau ngomongin sesuatu sama gue?”
            Agni menghela nafas panjang. Ini kesempatan yang tidak boleh Agni sia-siakan. Jika bukan sekarang lalu kapan lagi? Kecuali Agni mau menunggu lebih lama lagi dan membuat perasaannnya semakin mengimpit dadanya hingga menimbulkan sesak.
            Agni memejamkan matanya sejenak, berusaha mengumpulkan kembali keberanian serta nyalinya sudah yang sudah berserakan. Setelah yakin dengan semuanya, Agnipun menghela nafas panajng lalu menghembuskannya dengan tidak nyaman. Sekarang saatnya…
            “Cakka sebenernya gue suka sama lo!” kata Agni cepat.
            Cakka langsung melongo mendengar pernyataan Agni barusan. Apa Cakka tidak salah dengar?
            “apa?” Cakka masih berusaha meyakinkan indera pendengarnya.
            Agni mengangguk pelan. Tidak sedikitpun ia berani melihat kearah Cakka.
            “iya gue suka sama lo. Tapi lo musti tahu Kka, kalo saat ini gue Cuma nyatain perasaan gue keelo dan nggak nembak lo sama sekali. Karna menurut gue, definisi menyatakan perasaan sama nembak itu beda, dan gue harep lo ngerti”
            Cakka diam membisu dan tidak menunjukan reaksi apapun. Semuanya terlalu sulit untuk bisa Cakka cerna.
            “terserah kalo lo mau nganggep gue frontal, tapi gue Cuma pengen lo tahu, gue nggak mungkin nyimpen ini selamanya, kelak, lo pasti akan tahu juga, kapanpun itu akan sama saja dengan hari ini”
            “dan gue harep, jikapun lo nggak ngerasa perasaan yang sama seperti yang gue rasain sekarang, sikap lo ke gue nggak akan pernah berubah, gue mau semuanya tetep normal. Gue pasti bisa Kka nerima apapun jawaban dari perasaan gue” kata Agni pasrah.
            Dalam hati Cakka marah. Tapi bukan pada Agni, bukan pada perasaan Agni. Cakka juga tidak menyalahkan Agni sama sekali dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Cakka hanya marah pada dirinya sendiri, muak pada semua yang ada pada dirinya. Cakka merasa iri pada Agni, karna pada kenyataan yang sesungguhnya Cakka tidak seberani Agni. Cakka lebih memilih untuk memendam perasaannya pada Sivia, sementara Agni? Pecundang, ternyata Cakka yang pecundang, bukan Alvin.
            “Kka, ngomong! Ucapin sesuatu, jangan diem aja. Nggak apa-apa kok kalo lo…. Emang nggak ada rasa apa-apa ke gue”
            Mendadak Cakka gugup dan jadi salah tingkah sendiri. Tidak bisa Cakka pungkiri, bahwa semenjak kehadiran Agni dalam hidupnya, Agni telah banyak memberikan warna dihidupnya. Cakka juga tidak terlalu sering memikirkan Sivia karna Agni yang selalu setia berada disampingnya kapanpun. Hanya saja, Cakka tidak ingin membohongi perasaannya sendiri dan menyakiti Agni dengan kemunafikannya. Yang Cakka sayangi hanya Sivia, bukan Agni. Menerima Agni sekarang sama saja ia harus melukai hati Agni dengan tidak berperasaan. Tidak, Cakka tidak ingin sejahat itu pada Agni.
            Karna tidak tahu lagi harus mengatakan dan berbuat apa, Cakka akhirnya membenahi barang-barangnya. Beberapa saat kemudian, setelah semuanya siap, Cakka memasang ranselnya lantas bangkit dari samping Agni.
            “udah siang, Ag. Mending kita pulang aja”
            Cakka berlalu dari hadapan Agni begitu saja. Agni menghela nafas beratnya, meski tidak mendapatkan jawaban apapun dari Cakka atas hatinya, setidaknya Agni bisa merasa sedikit lebih baik dan lega tentunya.

^_^

            Alvin mengajak Sivia makan siang disebuah café yang merupakan café favorit Alvin. Alvin dan kawan-kawannya sering berkumpul diCafe ini. Bahkan jika mereka merayakan pesta kemenangan mereka saat sudah bertanding, mereka selalu akan merayakannya dicafe ini.
            Sejak tadi, Alvin hanya menatap Sivia yang saat itu tengah sibuk melahap semua makanan yang ada dihadapannya. Sesekali Alvin terkekeh geli, bukannya tadi Sivia bilang kalau ia tidak lapar dan tidak ingin makan, lalu sekarang  apa yang sedang Si Jelek ini lakukan? Alvin menggeleng beberapa kali, ia benar-benar tidak habis fikir dengan Gadis yang menurutnya sangat jelek ini.
            “laper banget ya, Lek?” Tanya Alvin saat Sivia nyaris menghabiskan 2 piring nasi goreng. Bayangkan 2 piring nasi goreng! Spageti yang tadi Alvin pesan saja belum ia sentuh sama sekali, tapi Sivia?
            Sivia memilih untuk masa bodoh. Saat ini ia sedang kelaparan, dan ia sama sekali tidak punya waktu untuk meladeni Alvin.
            Alvin kembali menatap Sivia lekat-lekat seraya tersenyum begitu manis. Menyadari bahwa Alvin sedang menatapnya dan tidak menyentuh makanan pesanannya sedikitpun, Sivia menghentikan ritual memakannya untuk beberapa saat. Dengan cepat wajah Sivia terangkat, kedua matanya menatap kedua bola mata Alvin,
            “nggak pernah lihat orang makan ya?” kata Sivia dengan nada protes. Alvin tidak menjawab, ia hanya tersenyum tanpa henti.
            “bodo ah!” Sivia kembali melanjutkan ritual makannya yang sempat terhenti gara-gara ulah Alvin yang terus menatapnya tanpa henti.
            “berapa tahun sih lo nggak makan? Rakus amat?? Tadi bukannya lo bilang lo nggak laper ya? Tapi sekarang ternyata….”
            “sttt…. Nggak usah banyak bacot deh!” Sivia lagi-lagi melirik kearah Alvin, tapi itu tidak lama, karna setelahnya perhatian Sivia malah tertuju kearah spageti pesanan Alvin yang belum sama sekali ia sentuh,
            “itu spagetinya kenapa lo anggurin?”
            “ngeliat lo makan segini rakusnya udah cukup bikin gue kenyang” cibir Alvin dengan terang-terangan.
            “berarti lo nggak makan nih spageti dong?”
            Alvin menggeleng pelan,
            “boleh buat gue ya? Gue masih laper….” Kata Sivia seraya mengelus-elus perutnya. Alvin mengangguk menyetujui meski sebenarnya ia agak sedikit tercengang dengan porsi makan Sivia hari ini.
            “asyiikk!!” Sivia girang tak alang kepalang. Dalam satu gerakan cepat, Sivia langsung saja mengambil sepiring spageti yang masih tersaji utuh dihadapan Alvin.
            Dengan senang hati, Sivia melahap habis spageti yang tadinya untuk Alvin. Karena kurang-kurang hati saat memakan spageti, saus spageti itu sampai belepotan disekitar mulut Sivia. Alvin terkekeh geli melihat pemandangan lucu yang ada dihadapannya. Sivia sudah benar-benar kelihatan seperti anak TK.
            Alvin meraih selembar tisu yang memang sudah tersedia diatas meja. Tangan Alvin bergerak perlahan kearah Sivia, lalu dengan penuh perhatian Alvin mengusap saus yang belepotan disekitar daerah mulut Sivia.
            “makan pelan-pelan aja, Neng. Jangan kayak orang kesetanan!”
            Sivia mengangkat wajahnya, ia terdiam untuk beberapa saat. Apa yang Alvin lakukan saat ini benar-benar mengundang kembali getar-getar itu didadanya. Semakin lama getaran itu semakin kuat mengusik dadanya.
            “biar gue lap sendiri” saat Sivia akan mengambil alih tisu itu dari tangan Alvin, Alvin langsung menjauhkan tangannya,
            “bisa diem nggak sih?” Sivia pasrah dan menerima begitu saja perlakuan Alvin.
            “abis makan kita kerumah lo, kan?” Tanya Sivia setelah Alvin selesai membersihkan mulutnya. Alvin menggeleng dengan mantap,
            “nggak” jawab Alvin sekenanya. Sivia heran,
            “lho, bukannya semalem lo bilang kalo hari ini lo mau bawa gue ke Mama lo?”
            “semalem gue bohong. Hari ini gue lagi pengen jalan aja sama lo, SAMA PACAR GUE!” Jawab Alvin dengan memberikan sedikit penekanan pada kata; “SAMA PACAR GUE”
            “Alvin kita udah putus!” Sivia memperingatkan.
            “buat gue belom” tukas Alvin dengan santai,
            “Alvin, kayaknya lo musti nge-refresh ingetan lo deh, bukannya malem itu kita udah sepakat untuk ngeakhirin semuanya?”
            “lo yang musti nge-refresh ingetan lo, Vi! Malem itu lo emang mutusin gue, tapi gue nggak bilang apa-apa kan? Yang itu berarti lo mutusin gue secara sepihak, secara nggak langsung lo masih pacar gue” suasana yang sejak tadi cair mendadak tegang.
            “Alvin, please! Lo harus bisa terima kenyataan. Gue tahu ini berat buat lo, tapi lo harus bisa, Alvin! Kalo gue aja bisa, kenapa lo nggak?” selera makan Sivia mendadak hilang tanpa bekas.
            “lo mungkin bisa, tapi gue nggak”
            “atau setidaknya lo nyoba deh buat nerima kehadiran Mama gue sebagai calon Mama lo juga. Sekali lagi gue bilang keelo, Mama Papa kita saling mencintai Alvin….”
            “gue mungkin bisa nerima kehadiran Mama lo, tapi bukan sebagai calon Mama tiri gue, melainkan sebagai….. Calon Mama Mertua gue”

            Sivia tercengang. Si Kunyuk ini sudah benar-benar gila stadium akut.


^_^

            Farish sudah mendengar berita tentang kedatangan Alvin kerumah Denita tadi malam dari Denita langsung. Farish langsung meradang, tapi sebisa mungkin, Farish berusaha menyembunyikan amarahnya didepan Denita. Sama seperti Sivia, Farish merasa bahwa Alvin memiliki sebuah rencana dibalik semua ini. Tidak, Farish tidak akan membiarkan Alvin begitu saja.
            Sepulangnya dari kantor, Farish langsung bergegas menemui Alvin yang mungkin saat itu sedang berada dirumah Mamanya.
            Dan setelah Bi Ningsih membuka pintu untuk Farish, Farish langsung memasuki rumah mantan isterinya itu dan mencari keberadaan Alvin disana. Kebetulan saat itu Regina masih dikantor. Ditangan sebelah kanannya Farish membawa sebuah tiket untuk Alvin.
            Farish menghentikan langkahnya ketika mendapati Alvin yang saat itu sedang duduk diruang tengah sambil mengerjakan PR Biologinya. Tanpa melihat kearah Papanya, Alvin tahu bahwa saat itu Farish sudah berdiri dihadapannya. Alvin juga sangat tahu apa maksud kedatangan Papanya.
            “selamet dateng, Pa? tumben kesini? Ada angin apa?” Tanya Alvin tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku PR nya. Alvin tetap focus mencatat.
            Tiba-tiba saja Farish melempar sebuah tiket yang sejak tadi ia pegang tepat dihadapan Alvin. Alvin sedikit terkejut, ia mengalihkan perhatiannya dari buku PR nya lalu menatap Papanya dengan pandangan bertanya,
            “ini apa, Pa?”
            “itu tiket keberangkatan kamu ke Singapore. Setelah pembagian raport nanti, Papa mau kamu pergi ke Singapore dan melanjutkan sekolah kamu disana. Semua keberangkatan kamu sudah Papa persiapkan dengan sebaik mungkin. Kamu Cuma tinggal ngikutin ujian, terima raport, naik kelas dan terbang ke Singapore”
            Alvin melepaskan bolpointnya. Ia menatap tiket yang baru saja Papa lemparkan dihadapannya. Beberapa saa kemudian, Alvin mengangguk paham dengan disertai oleh senyuman liciknya.
            “jadi begini permainan Papa?”
            Farish tidak menunjukan reaksi apa-apa. Senyuman diwajah Alvin semakin melebar. Dengan setenang mungkin Alvin bangkit lalu menghampiri Papanya, tidak lupa juga Alvin membawa tiket itu.
            “Ok, aku akan berangkat ke Singapore seperti apa yang Papa mau” Alvin menjulurkan tiket itu dihadapan Papanya,
            “tapi setelah aku ngebongkar semuanya dihadapan Tante Denita” kali ini Farish tercengang.
            “nggak usah kaget, Pa! asal Papa tahu ya? Dalem waktu semalem aku udah bisa ngerebut kepercayaan dan simpati Tante Denita, dan aku ngerasa Tante Denita udah mulai sayang sama aku. Aku jamin Pa, setelah aku ngebongkar semuanya didepan Tante Denita, dan setelah aku bilang kalau aku dan Via saling menyayangi satu sama lain, Tante Denita pasti akan menyerah dan ninggalin Papa. Mungkin bukan demi aku, tapi Demi Sivia, puteri kesayangannya”
            “Alvin, kamu—“
            “dan semakin terburu-buru Papa menikah dengan Tante Denita, maka aku akan semakin terburu-buru juga buat ngebongkar semuanya. Harus Papa tahu, aku ngelakuin semuanya ini, bukan hanya untuk diri aku dan Sivia semata, tapi juga untuk Mama, Mama ku yang sampai saat ini masih ngarepin Papa, dan aku sebagai anaknya, akan ngelakuin apapun buat ngabulin harapan Mama aku” Alvin menghela nafas sejenak,
            “sekarang semuanya tergantung Papa. Keputusan mutlak ada ditangan Papa sepenuhnya. Jangan pernah heran kenapa aku bisa selicik ini Pa! karna kalau Papa mau tahu, aku belajar semuanya dari Papa, dari kelicikan Papa juga dari keegoisan Papa selama ini”
            Alvin kembali ketempatnya semula dan kembali melanjutkan aktifitasnya semula.
            Alvin memang hebat, tanpa perlu susah-susah melakukan perlawanan ia bisa dengan begitu mudah mengalahkan Papanya.
            “kalo nggak ada  lagi yang mau Papa omongin, mending sekarang Papa pulang aja! Masih banyak tugas yang harus aku kerjain” kata Alvin sambil mencatat.
            Baru saja beberapa langkah Farish meninggalkan ruang tengah, tiba-tiba saja Alvin berucap dan membuat langkah Farish terhenti untuk beberapa saat,
            “Papa mau tahu apa pendapat aku tentang hubungan Papa sama Tante Denita?” Farish tidak menjawab, tapi tidak melanjutkan langkahnya juga,


            “Papa sama Tante Denita cocok kok, banget malah, tapi bukan sebagai calon suami-isteri, melainkan sebagai….. CALON BESAN!!”



                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment