Januari,
2007 (SMP Persada)
Suasana kelas VII B yang sejak tadi
gaduh mendadak hening seketika saat Bu Nurhayati yang bertindak sebagai Guru
Biologi memasuki kelas bersama seorang Gadis yang wajahnya asing bagi
siswa-siswi kelas VII B dan mungkin bagi seluruh siswa-siswi SMP Persada.
Gadis berwajah Indo itu memasuki
kelas dengan senyum merekah indah diwajah cantiknya. Gayanya pun sangat modis
layaknya super star, berbeda jauh dengan penampilan siswi-siswi penghuni tetap
kelas itu.
Kecantikan Gadis itu benar-benar
seperti Magnet yang mampu menarik apa saja yang ada disekitarnya. Seluruh
perhatian kaum adam penghuni VII A menatapnya dengan takjub. Wajar saja jika
respons mereka seperti itu, toh selama ini mereka tidak pernah melihat Gadis
secantik dewi seperti Siswi baru itu disekolah.
Bahkan Alvin, Si Ketua kelas yang
katanya super cuek dan cool itu ikut-ikutan terpana seperti kawan-kawannya yang
lain. Menyadari titik focus Alvin saat ini, Sivia yang duduk bersebarangan
dengannya langsung mendesah pelan. selama mengenal Alvin, ia tidak pernah
melihat Alvin sampai seperti ini ketika menatap seorang Gadis. Bahkan pada
Siviapun, Alvin tidak pernah melakukannya. Ada sesuatu yang ganjal. Dan entah kenapa
diam-diam Sivia mulai merasa bahwa kehadiran Anak Baru itu menjelma menjadi
sebuah momok menakutkan baginya.
Setelah Bu Nurhayati memintanya
untuk memperkenalkan diri, Gadis berwajah Indo itupun menyisir pandangannya
keseluruh penjuru kelas. Mata sipitnya menyapu semua kawan-kawan barunya secara
bergantian.
Sivia yang sejak tadi memperhatikan
Gadis itupun sama sekali tidak bisa memungkiri pesona Gadis itu. Ia memang
cantik, bahkan sangat cantik. Lihatlah kulitnya yang putih mulus seperti susu,
atau tubuh rampingnya yang memiliki lekuk demi lekuk yang sempurna. Kedua
matanya bersinar dengan hangat dan penuh dengan pancaran bersahabat, rambutnya
panjang, lebat serta hitam berkilau seperti yang sering Sivia lihat diiklan-iklan
Shampo. Poninya yang menjuntai dan menutupi dahinya semakin membuatnya terlihat
cute.
Sempurna. Hanya itu satu kata yang
mampu menggambarkan Gadis itu.
“Hay… teman-teman perkenalkan, nama
saya Agatha Pricilla, kalian semua bisa memanggil saya Pricill atau Prissy. Dan
saya pindahan dari Jerman, terimakasih”
Ia menunduk takzim. Suaranya
benar-benar lembut, gerak tubuhnya juga sangat anggun. Sekali lagi Sivia
melirik kearah Alvin. Sepertinya Pria itu mulai menyunggingkan senyuman mautnya
ketika kedua bola mata indah milik Pricilla mengarah tepat kearah manik
matanya. Melihat itu Sivia semakin cemas. Ia cemas kalau-kalau pertahanan Alvin
selama 6 bulan terakhir ini mulai goyah hingga akhirnya perlahan demi perlahan
rubuh tak berbekas. Sivia terlalu takut membayangkannya.
“Pricill, dari Jerman kan?” Tanya
Rio dengan nada menggoda yang tahu-tahu sudah pindah kebagian bangku paling
depan. Sivia sedikit heran, bukannya tadi Rio duduk dibagian bangku paling
belakang? Kenapa sekarang jadi didepan? Entahlah, Sivia tidak mau ambil pusing
dengan kelakuan Sahabatnya yang terkenal Play Boy itu. Masih kelas VII saja
sudah Play Boy, bagaimana nanti?
“iya” jawab Pricilla pelan.
senyumannya semakin melebar dan membuat hati siapa saja yang melihatnya bisa
meleleh hanya dalam hitungan detik saja.
“kalo gitu, boleh dong ngenalin diri
pake bahasa Jerman?”
“KAYAK LO NGERTI AJA!” cerca Shilla
dengan suara yang lumayan lantang. Tawa seisi kelaspun pecah saat itu juga.
Pricilla tertawa kecil, tapi itu
tidak lama, karna beberapa saat setelah itu Pricilla langsung mengikuti
permintaan Rio.
“ehem Oke!” semuanya kembali hening “Hay .... Mein Name Agatha
Pricilla, Sie alle
können mich anrufen und meine Pricill oder Schüler
aus der Germany. hoffentlich
bekommen wir alle zusammen sehr gut, danke...“ (Hay.... Perkenalkan nama
saya Agatha Pricilla, kalian semua dapat memanggil saya Pricill, dan saya murid
pindahan dari German. semoga kita semua bisa berteman dengan baik, terimakasih) ujarnya mantap dengan logat Jerman yang Khas. Semuanya sampai menelan ludah
mendengarkan Pricilla memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Jerman.
“HAHAHAHA
MAMPUS LO, YO!! NGERTI KAGAK??“ Cerca Shilla lagi dengan suara yang tidak kalah
lantangnya. Menanggapi cercaan Shilla, Rio hanya bisa menggaruk tengkuknya yang
sama tidak gatal. Kesimpulannya; Rio kebingungan.
“Makanya
jangan sok-sokan kalo jadi cowok!!“ tambah Ify yang duduk disamping Shilla.
Perkataan Ify barusan semakin membuat Rio dongkol. Tapi ia juga tidak bisa
berbuat apa-apa untuk membela dirinya. Seisi kelas VII B termasuk Pricilla
menertawakan kekonyolan Rio itu.
“Sudah,
sudah.... CUKUP!!“ Ucap Bu Nurhayati berusaha mengakhiri kegaduhan yang
diciptakan oleh Rio dan Shilla. Semuanya pun terdiam, begitu juga dengan Rio.
“Kicep,
kicep deh lo!! Ganjen sih, haha...“ gumam Ify pelan yang duduk tidak jauh dari
jarak Rio sekarang.
“Alyssa,
gue denger omongan lo!!“ balas Rio keki dalam sebuah bisikan pelan.
“Pricill,
sekarang kamu duduk di—“ Bu Nurhayati mengedarkan pandangannya kesegala arah
mencari bangku kosong yang bisa Pricilla tempati “hmm.... disana aja! Disamping
Via“ lanjut Bu Nurhayati seraya menunjuk bangku kosong yang berada tepat
diantara Alvin dan Sivia. Posisi bangku itu berada ditengah-tengah. Sivia
menunduk lesu. Entah kenapa ia merasa tidak menyukai itu.
Pricilla
mengangguk hormat lalu berjalan kearah bangkunya. Baru saja Pricilla
menjatuhkan tubuh rampingnya diatas kursi, ia langsung menoleh kearah Sivia
dengan sebuah senyuman manis nan bersahabat,
“Hay,
kenalin gue Pricill“ Pricilla mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Sebelum
menyambut uluran tangan Pricilla, Sivia sempat berfikir sejenak. Ia menatap
tangan Pricilla yang menggantung diudara lalu mengalihkan perhatiannya kearah
Alvin yang saat itu tengah menatap dirinya dengan Pricilla.
Sivia
mendesah tak kentara, ia berusaha melawan ego nya lalu menjabat tangan
Pricilla. Sivia membalas senyuman Gadis itu lalu menyebutkan namanya.
“Via“
ucapnya singkat. Sivia dan Pricilla sama-sama tersenyum satu sama lain. Lengan
mereka bergerak perlahan dengan gerakan naik turun.
Sivia
hanya berharap, semoga ketakutannya yang tidak beralasan itu tidak akan pernah
terjadi. Tapi tatapan mata Alvin yang begitu intens dan penuh misteri yang
mengarah ke Pricilla membuat Sivia mulai meragukan hati Alvin.
Pricilla
menoleh kearah Alvin, ia menatap balik Alvin lalu tersenyum. Lebih tepatnya
tersipu....
***
Andai
aku bisa....
Memutar
kembali waktu yang telah berjalan
Tuk
kembali bersama didirimu selamanya
Bukan
maksud aku membawa dirimu
Masuk
terlalu jauh kedalam kisah cinta
Yang
tak mungkin terjadi....
Dan
aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu
Dan
aku tak punya hati
Tuk
mencintai.... dirimu yang selalu
Mencintai
diriku
Walau
kau tahu diriku masih bersamanya....
Jakarta,
2009
“VIA!!!” Panggil Pricilla dari
kejauhan ketika melihat Sivia yang waktu itu tengah berjalan sendiri hendak
memasuki koridor.
Sivia menghela nafas panjang ketika
mendengar suara yang begitu familiar memanggil namanya. Sivia menampakkan raut
kesal, ia menggigit bagian bawah bibirnya, berusaha memasang sebuah senyuman
yang terlihat manis lalu menoleh kebalakang.
Kedua manik pelihat Sivia langsung
menangkap sepasang kekasih yang pagi ini terlihat sangat bahagia sedang berjalan
menghampirinya. Pricilla tersenyum lebar, lengannya melingkar dilengan Alvin
yang juga terlihat sama bahagianya dengan dirinya sekarang. Rasa ngilu itu
perlahan mulai terasa dihati kecil Sivia. Ah… kenapa juga Pricilla harus
melihatnya dan memanggilnya?
“Via, kenapa lo semalem nggak dateng
ke Pesta gue? Yang lainnya pada dateng tapi lo nggak” ada sedikit nada kecewa
yang bisa Sivia tangkap dari perkataan Pricilla.
Sivia menampakkan raut menyesal,
benar-benar raut menyesal dan tidak dibuat-buat. Sivia melirik sejenak kearah
Alvin yang ketika itu sedang menatapnya datar. Sepertinya Alvin marah. Tapi
kenapa?
“sorry banget ya, Pris. Bukannya gue
nggak mau dateng, Cuma aja semalem gue lagi ada siaran, bener-bener nggak bisa
gue tinggalin”
Pricilla mengangguk paham beberapa
kali. Gadis itu memang selalu berusaha untuk mengerti. Itulah yang sejak awal
yang Sivia tangkap dari sikap bersahabat Pricilla, pantas saja banyak yang
menyukainya dan mau berteman dengannya.
“lo apa kabar? terus selama di
Aussie lo gimana? Seneng?”
“baik kok. Emmm…. Ya gitu deh, di
Aussie emang seru, tapi nggak seseru disini”
“kenapa?”
“soalnya disana nggak ada Alvin dan
kalian semua….” Jawab Pricilla apa adanya. Saat itu juga Sivia langsung
menampakkan ekspresi yang susah ditebak.
“ooo” gumam Sivia. Pricilla
mengangguk.
“oya, Vi. Gue punya oleh-oleh kecil
buat lo. Nih!” ujar Pricilla seraya menyerahkan sebuah Paper Bag dihadapan
Sivia. Sivia melihat sejenak paper bag berwarna pink itu sebelum akhirnya
menerimanya.
“emmm… makasih ya? Jadi ngerepotin”
kata Sivia seraya melihat isi paper bag itu. Ternyata isinya sebuah jam tangan.
Sepertinya mahal.
“Ya Ampun Via, Via… lo kayak kenal
gue baru kemarin aja sih. Nggak ngerepotin kok, malahan gue seneng bisa ngasih
oleh-oleh buat lo. Lo suka kan sama oleh-olehnya?”
Sivia mengangguk, “i…iya gue suka,
sekali lagi makasih ya?” Pricilla tersenyum lalu menepuk pundak Sivia.
“oya, Via. Kejutan Hello Kitty
semalem keren banget lho! Itu pasti ide lo kan?”
Kali ini Sivia melirik sejenak kearah
Alvin. Sepertinya Alvin terlihat kesal, benar-benar kesal. Kalau kejutannya
berhasil seharusnya Alvin senang dan mengucapkan terimakasih padanya, tapi ini?
“ooo itu? Itu bukan ide gue
sepenuhnya, tapi ide gue sama Alvin” jawab Sivia sedikit berbohong.
Sebelum Prcilla membalas perkataan
Sivia, tiba-tiba saja Febby, salah satu sahabat dekat Pricilla dikelasnya
memanggil. Alvin dan Sivia memang berbeda kelas dengan Pricilla. Pricilla
dikelas X.3 , sementara Alvin, Sivia dan semua ‘antek-anteknya’ menjadi
penghuni kelas X.1.
Pricilla melambai kearah Febby lalu
pamit pada Alvin dan Sivia,
“Sayang, aku masuk kelas duluan ya?
Aku mau ketemu sama temen-temen kelas aku, aku kangen sama mereka hehe…”
Alvin melepaskan gandengannya, ia
tersenyum kecil lalu memberikan kecupan hangat dipuncak kepala Pricilla.
Setelah memberikan sebuah kecupan sebagai tanda berpisah, Alvinpun mengusap
lembut puncak kepala Pricilla. Pricilla tertawa. Sementara Sivia, ia langsung
membuang mukanya kearah lain saat melihat adegan super romantic yang ditunjukan
oleh Alvin dan Pricilla. Hatinya seakan tersayat. Perih.
“ya udah, nanti jam istirahat aku
kekelas kamu ya?” Pricilla mengangguk. Tatapannya mengarah pada Sivia. Pricilla
meraih pergelangan tangan Sivia hingga membuat Sivia menoleh kepadanya,
“Via, gue duluan ya?”
“eh iya, iya” jawab Sivia cepat.
Pricilla mendekat kearah Sivia lalu
berpura-pura membisikan sesuatu ditelinga Sivia,
“jagain Alvin! Kalo matanya
jelalatan didelam kelas jewer aja, hihi…” Alvin yang bisa dengan sangat jelas
mendengar bisikan itu malah tidak menunjukan reaksi apapun. Sivia tersenyum
masam seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Pricillapun
akhirnya pergi setelah menghadiahkan hidung Alvin dengan sebuah cubitan gemes.
Beberapa saat setelah kepergian
Pricilla, Sivia kembali melihat kearah Alvin. Dan sepertinya Pria itu sedang
tidak mau diganggu oleh Sivia saat ini. Sivia mendesah pelan lalu melangkah
pergi tanpa menunggu ataupun mengajak Alvin.
“kenapa lo bohong?” pertanyaan dari
Alvin itu langsung membuat langkah Sivia terhenti. Berbohong? Apa maksud Alvin
dengan berbohong?
Alvin berjalan perlahan kearah
Sivia. Alvin berdiri tepat dihadapan Gadis itu seraya memasukan kedua tangannya
pada kedua saku celana seragam kotak-kotaknya.
“bo… bohong?” Tanya Sivia yang
mendadak gagap.
“iya bohong! Lo bilang lo nggak
dateng gara-gara ada siaran, tapi ternyata lo dirumah kan?”
Sivia kontan saja terkejut
mendengarkan penuturan Alvin. Darimana Alvin tahu kalau semalam ia sedang dirumah
dan tidak ada jadwal siaran? Mendadak Sivia gugup. Jika sudah begini bagaimana
ia harus menjelaskan semuanya pada Alvin? Masa kah Sivia harus menyatakan
perasaan cemburunya secara gamblang dihadapan Pria ini? Tidak, Sivia tidak akan
melakukan hal itu, bahkan sampai matipun tidak akan pernah.
“ta… tau darimana lo?”
“lain kali kalo lo mau ngebohongin
gue lo harus kerja sama dulu sama Rio, Ify, dan Shilla!” jawab Alvin dengan
nada memperingatkan.
Sivia menepuk pelan keningnya. Dalam
hati ia langsung merutuki kebodohan yang telah ia sendiri lakukan. Sivia baru
ingat bahwa semalam Rio datang menjemputnya untuk pergi bersama ke pesta
penyambutan Pricilla, tapi Sivia berkata bahwa ia malas menghadiri pesta itu.
Jika sudah seperti ini urusannya pasti akan sangat kacau.
“tolong tegur gue kalo gue emang
beneran salah. Asal lo tau, Via! Semenjak Pricill resmi jadi pacar gue entah
kenapa gue merasa sikap lo berubah aneh. Dan sikap lo yang dulunya amat sangat
bersahabat ke Pricill seolah terkikis. Gue nggak ngerasain lagi sikap
bersahabat lo yang dulu, gue juga nggak ngeliat pancaran bersahabat dari kedua
mata lo tiap kali lo bertatapan langsung dengan Pricill, hhh—” Alvin menghela nafas sejenak “Ada apa
sebenernya, Via? Ada apa?” lanjut Alvin dengan emosi yang berusaha ia tahan.
Sivia tidak tahan. Perkataan Alvin
barusan seakan menyiratkan bahwa selama ia memang tidak pernah peka dengan apa
yang Sivia rasakan selama ini. Sivia terluka lagi, entah untuk yang keberapa
kalinya. Kenapa rasanya sulit sekali untuk membuat Alvin peka dengan
kesakitannya selama ini? Kenapa Alvin tidak pernah ingin tahu bahwa sebenarnya
hingga detik ini Sivia masih sangat mencintainya dan mengharapkannya lebih dari
apapun? Kapan Alvin akan mengerti? Kapan Alvin ingin tahu?
“lo nggak bisa jawab kan, Via?”
Tanya Alvin sinis. Sivia mengangkat wajahnya lalu menghujam mata Alvin tajam.
Matanya terasa panas dan seolah ingin menghamburkan habis tangisannya yang
selama 2 tahun terakhir ini selalu ia sembunyikan dibalik senyum munafiknya.
“kenapa lo selalu nyalahin gue?”
ujar Sivia pada Akhirnya. Alvin bungkam.
“kenapa lo nggak pernah mau Tanya
Kediri lo sendiri apa alesan gue sampe gue rela berbohong? Pernahkah lo coba
nanya Kediri lo sendiri? Atau seenggaknya pernahkah lo nyoba nanya ke gue?
Nggak pernah kan, Vin?” Sivia menggeleng beberapa kali. Ia harus sadar betul
bagaimana kapasitasnya saat ini. Ia tidak ingin melampaui apa yang tidak
seharusnya ia lampaui. Biarkan Alvin terus seperti ini hingga nanti ia sadar
sendiri.
Sivia menatap Alvin dengan pandangan
miris. Ia tersenyum meremehkan lantas berkata,
“hhh… harusnya gue sadar sejak awal
bahwa percuma saja gue ngomong sama orang yang hatinya udah mati kayak lo. Gue
yang bodoh!” ujar Sivia dengan nada merutuk lebih kedirinya sendiri lalu
melangkah pergi meninggalkan Alvin.
Menyesakkan…. Pagi itu benar-benar
adalah pagi yang paling menyesakkan dari semua hari yang menyesakkan yang
pernah Sivia lewati selama 3 tahun ini. 3 tahun tanpa udara, 2 tahun tanpa
pernah bernafas.
***
Cakka menjulurkan sebotol minuman
isotonic kepada Sivia yang saat itu tengah duduk sendiri disebuah bangku
panjang yang terdapat ditaman sekolah. Ketika bel tanda istirahat berdering
dengan nyaring, Sivia langsung kabur dari kelas tanpa mengucapkan sepatah
kalimatpun pada sahabat-sahabatnya. Bahkan Rio yang tadi berusaha untuk
mencegahnya pergi sama sekali tidak Sivia hiraukan. Ia benar-benar marah pada
Alvin.
“udah lama nungguinnya? Maaf ya aku
lama, tadi ada tugas dulu yang harus aku selesein” Sivia menatap Cakka, ia
tersenyum seraya menggeleng beberapa kali, tangannya pun bergerak menerima
minuman yang Cakka berikan padanya.
“makasih ya, Kak?” Cakka mengangguk
lalu duduk disamping Sivia,
“kamu pasti lagi ada masalah kan
sama Alvin sampe dateng nemuin aku kekelas?”
Sivia menatap Cakka sejenak. Cowok
misterius ini selalu mengerti dengan dirinya, bahkan Cakka selalu tahu apa yang
Sivia mau. Sivia tersenyum, tidak terasa 2 tahun sudah dia berteman baik dengan
Cakka, padahal rasanya baru kemarin Sivia mati-matian mengejar Cakka dan
meyakinkannya bahwa Sivia bisa diajak jadi teman yang asyik.
Hening untuk beberapa saat. Mereka
sama-sama sibuk dengan fikiran dan minuman mereka masing-masing. Merasa bosan
dengan suasana hening yang membungkus kebersamaan mereka pada jam istirahat
itu, Siviapun berdehem dan mulai membuka obrolan,
“menurut Kak Cakka…. Seseorang yang
memilih setia untuk sesuatu yang tidak pasti itu gila nggak?”
Cakka tersenyum tipis,
“bukan gila, Via” Sivia langsung
menatap Cakka dengan kedua alis bertaut. Heran.
“tapi sangat gila” lanjut Cakka,
kali ini ia membalas tatapan Sivia.
“kenapa?” Tanya Sivia dengan
polosnya.
Cakka mengangkat kedua tangannya
lalu menyentuh pundak Sivia,
“hey, kalau ada sesuatu yang pasti
kenapa kamu masih harus menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti?”
“Kak Cakka—“
“Jadi disini permasalahannya Cuma
bertaut pada satu objek dan pada satu orang yang selalu sama…. Alvin Jonathan”
Sivia terdiam lalu menunduk dalam.
Cakka melepaskan kedua tangannya dari pundak Sivia lalu menatap lurus kedepan.
“hiduplah dengan mengikuti arah arus,
dan jangan sekalipun kamu berusaha untuk melawan arus, bisa tenggelam kamu
nanti. Kamu jangan terlalu takut membayangkan bahwa selamanya kamu tidak akan
pernah memiliki Alvin, yang harus kamu tahu Cuma satu hal, Via…”
“a..apa?”
“ Tuhan menciptakan Makhluknya dengan berpasangan dan takdir
mereka masing-masing, kalau Alvin sudah jadi takdirmu maka siapapun tidak akan ada
yang bisa mengubahnya”
Sivia berusaha mencerna setiap
perkataan yang Cakka ucapkan, tidak lama Sivia mengangguk paham.
“hidup ini mengalir seperti sungai,
Sivia. Pada akhirnya nanti kamu akan tetap bermuara pada lautmu….”
Sivia tersenyum lalu sekali lagi
mengangguk. Hari ini Sivia mendapatkan satu pelajaran dari Cakka;
Bahwa hidup ini mengalir seperti sungai, pada akhirnya nanti ia akan tetap
bermuara pada lautnya.
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment