Wednesday, July 10, 2013

0

Cinta Begini Chapter 2 “Because You Never Wanted To Know”



Januari, 2007 (SMP Persada)


                Suasana kelas VII B yang sejak tadi gaduh mendadak hening seketika saat Bu Nurhayati yang bertindak sebagai Guru Biologi memasuki kelas bersama seorang Gadis yang wajahnya asing bagi siswa-siswi kelas VII B dan mungkin bagi seluruh siswa-siswi SMP Persada.
            Gadis berwajah Indo itu memasuki kelas dengan senyum merekah indah diwajah cantiknya. Gayanya pun sangat modis layaknya super star, berbeda jauh dengan penampilan siswi-siswi penghuni tetap kelas itu.
            Kecantikan Gadis itu benar-benar seperti Magnet yang mampu menarik apa saja yang ada disekitarnya. Seluruh perhatian kaum adam penghuni VII A menatapnya dengan takjub. Wajar saja jika respons mereka seperti itu, toh selama ini mereka tidak pernah melihat Gadis secantik dewi seperti Siswi baru itu disekolah.
            Bahkan Alvin, Si Ketua kelas yang katanya super cuek dan cool itu ikut-ikutan terpana seperti kawan-kawannya yang lain. Menyadari titik focus Alvin saat ini, Sivia yang duduk bersebarangan dengannya langsung mendesah pelan. selama mengenal Alvin, ia tidak pernah melihat Alvin sampai seperti ini ketika menatap seorang Gadis. Bahkan pada Siviapun, Alvin tidak pernah melakukannya. Ada sesuatu yang ganjal. Dan entah kenapa diam-diam Sivia mulai merasa bahwa kehadiran Anak Baru itu menjelma menjadi sebuah momok menakutkan baginya.
            Setelah Bu Nurhayati memintanya untuk memperkenalkan diri, Gadis berwajah Indo itupun menyisir pandangannya keseluruh penjuru kelas. Mata sipitnya menyapu semua kawan-kawan barunya secara bergantian.
            Sivia yang sejak tadi memperhatikan Gadis itupun sama sekali tidak bisa memungkiri pesona Gadis itu. Ia memang cantik, bahkan sangat cantik. Lihatlah kulitnya yang putih mulus seperti susu, atau tubuh rampingnya yang memiliki lekuk demi lekuk yang sempurna. Kedua matanya bersinar dengan hangat dan penuh dengan pancaran bersahabat, rambutnya panjang, lebat serta hitam berkilau seperti yang sering Sivia lihat diiklan-iklan Shampo. Poninya yang menjuntai dan menutupi dahinya semakin membuatnya terlihat cute.
            Sempurna. Hanya itu satu kata yang mampu menggambarkan Gadis itu.
            “Hay… teman-teman perkenalkan, nama saya Agatha Pricilla, kalian semua bisa memanggil saya Pricill atau Prissy. Dan saya pindahan dari Jerman, terimakasih”
            Ia menunduk takzim. Suaranya benar-benar lembut, gerak tubuhnya juga sangat anggun. Sekali lagi Sivia melirik kearah Alvin. Sepertinya Pria itu mulai menyunggingkan senyuman mautnya ketika kedua bola mata indah milik Pricilla mengarah tepat kearah manik matanya. Melihat itu Sivia semakin cemas. Ia cemas kalau-kalau pertahanan Alvin selama 6 bulan terakhir ini mulai goyah hingga akhirnya perlahan demi perlahan rubuh tak berbekas. Sivia terlalu takut membayangkannya.
            “Pricill, dari Jerman kan?” Tanya Rio dengan nada menggoda yang tahu-tahu sudah pindah kebagian bangku paling depan. Sivia sedikit heran, bukannya tadi Rio duduk dibagian bangku paling belakang? Kenapa sekarang jadi didepan? Entahlah, Sivia tidak mau ambil pusing dengan kelakuan Sahabatnya yang terkenal Play Boy itu. Masih kelas VII saja sudah Play Boy, bagaimana nanti?
            “iya” jawab Pricilla pelan. senyumannya semakin melebar dan membuat hati siapa saja yang melihatnya bisa meleleh hanya dalam hitungan detik saja.
            “kalo gitu, boleh dong ngenalin diri pake bahasa Jerman?”
            “KAYAK LO NGERTI AJA!” cerca Shilla dengan suara yang lumayan lantang. Tawa seisi kelaspun pecah saat itu juga.
            Pricilla tertawa kecil, tapi itu tidak lama, karna beberapa saat setelah itu Pricilla langsung mengikuti permintaan Rio.
            “ehem Oke!” semuanya kembali hening Hay .... Mein Name Agatha Pricilla, Sie alle können mich anrufen und meine Pricill oder Schüler aus der Germany. hoffentlich bekommen wir alle zusammen sehr gut, danke...“ (Hay.... Perkenalkan nama saya Agatha Pricilla, kalian semua dapat memanggil saya Pricill, dan saya murid pindahan dari German. semoga kita semua bisa berteman dengan baik, terimakasih) ujarnya mantap dengan logat Jerman yang Khas. Semuanya sampai menelan ludah mendengarkan Pricilla memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Jerman.
            “HAHAHAHA MAMPUS LO, YO!! NGERTI KAGAK??“ Cerca Shilla lagi dengan suara yang tidak kalah lantangnya. Menanggapi cercaan Shilla, Rio hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sama tidak gatal. Kesimpulannya; Rio kebingungan.
            “Makanya jangan sok-sokan kalo jadi cowok!!“ tambah Ify yang duduk disamping Shilla. Perkataan Ify barusan semakin membuat Rio dongkol. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya. Seisi kelas VII B termasuk Pricilla menertawakan kekonyolan Rio itu.
            “Sudah, sudah.... CUKUP!!“ Ucap Bu Nurhayati berusaha mengakhiri kegaduhan yang diciptakan oleh Rio dan Shilla. Semuanya pun terdiam, begitu juga dengan Rio.
            “Kicep, kicep deh lo!! Ganjen sih, haha...“ gumam Ify pelan yang duduk tidak jauh dari jarak Rio sekarang.
            “Alyssa, gue denger omongan lo!!“ balas Rio keki dalam sebuah bisikan pelan.
            “Pricill, sekarang kamu duduk di—“ Bu Nurhayati mengedarkan pandangannya kesegala arah mencari bangku kosong yang bisa Pricilla tempati “hmm.... disana aja! Disamping Via“ lanjut Bu Nurhayati seraya menunjuk bangku kosong yang berada tepat diantara Alvin dan Sivia. Posisi bangku itu berada ditengah-tengah. Sivia menunduk lesu. Entah kenapa ia merasa tidak menyukai itu.
            Pricilla mengangguk hormat lalu berjalan kearah bangkunya. Baru saja Pricilla menjatuhkan tubuh rampingnya diatas kursi, ia langsung menoleh kearah Sivia dengan sebuah senyuman manis nan bersahabat,
            “Hay, kenalin gue Pricill“ Pricilla mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Sebelum menyambut uluran tangan Pricilla, Sivia sempat berfikir sejenak. Ia menatap tangan Pricilla yang menggantung diudara lalu mengalihkan perhatiannya kearah Alvin yang saat itu tengah menatap dirinya dengan Pricilla.
            Sivia mendesah tak kentara, ia berusaha melawan ego nya lalu menjabat tangan Pricilla. Sivia membalas senyuman Gadis itu lalu menyebutkan namanya.
            “Via“ ucapnya singkat. Sivia dan Pricilla sama-sama tersenyum satu sama lain. Lengan mereka bergerak perlahan dengan gerakan naik turun.
            Sivia hanya berharap, semoga ketakutannya yang tidak beralasan itu tidak akan pernah terjadi. Tapi tatapan mata Alvin yang begitu intens dan penuh misteri yang mengarah ke Pricilla membuat Sivia mulai meragukan hati Alvin.

            Pricilla menoleh kearah Alvin, ia menatap balik Alvin lalu tersenyum. Lebih tepatnya tersipu....


***

Andai aku bisa....
Memutar kembali waktu yang telah berjalan
Tuk kembali bersama didirimu selamanya

Bukan maksud aku membawa dirimu
Masuk terlalu jauh kedalam kisah cinta
Yang tak mungkin terjadi....

Dan aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu

Dan aku tak punya hati
Tuk mencintai.... dirimu yang selalu
Mencintai diriku

Walau kau tahu diriku masih bersamanya....


Jakarta, 2009

            “VIA!!!” Panggil Pricilla dari kejauhan ketika melihat Sivia yang waktu itu tengah berjalan sendiri hendak memasuki koridor.
            Sivia menghela nafas panjang ketika mendengar suara yang begitu familiar memanggil namanya. Sivia menampakkan raut kesal, ia menggigit bagian bawah bibirnya, berusaha memasang sebuah senyuman yang terlihat manis lalu menoleh kebalakang.
            Kedua manik pelihat Sivia langsung menangkap sepasang kekasih yang pagi ini terlihat sangat bahagia sedang berjalan menghampirinya. Pricilla tersenyum lebar, lengannya melingkar dilengan Alvin yang juga terlihat sama bahagianya dengan dirinya sekarang. Rasa ngilu itu perlahan mulai terasa dihati kecil Sivia. Ah… kenapa juga Pricilla harus melihatnya dan memanggilnya?
            “Via, kenapa lo semalem nggak dateng ke Pesta gue? Yang lainnya pada dateng tapi lo nggak” ada sedikit nada kecewa yang bisa Sivia tangkap dari perkataan Pricilla.
            Sivia menampakkan raut menyesal, benar-benar raut menyesal dan tidak dibuat-buat. Sivia melirik sejenak kearah Alvin yang ketika itu sedang menatapnya datar. Sepertinya Alvin marah. Tapi kenapa?
            “sorry banget ya, Pris. Bukannya gue nggak mau dateng, Cuma aja semalem gue lagi ada siaran, bener-bener nggak bisa gue tinggalin”
            Pricilla mengangguk paham beberapa kali. Gadis itu memang selalu berusaha untuk mengerti. Itulah yang sejak awal yang Sivia tangkap dari sikap bersahabat Pricilla, pantas saja banyak yang menyukainya dan mau berteman dengannya.
            “lo apa kabar? terus selama di Aussie lo gimana? Seneng?”
            “baik kok. Emmm…. Ya gitu deh, di Aussie emang seru, tapi nggak seseru disini”
            “kenapa?”
            “soalnya disana nggak ada Alvin dan kalian semua….” Jawab Pricilla apa adanya. Saat itu juga Sivia langsung menampakkan ekspresi yang susah ditebak.
            “ooo” gumam Sivia. Pricilla mengangguk.
            “oya, Vi. Gue punya oleh-oleh kecil buat lo. Nih!” ujar Pricilla seraya menyerahkan sebuah Paper Bag dihadapan Sivia. Sivia melihat sejenak paper bag berwarna pink itu sebelum akhirnya menerimanya.
            “emmm… makasih ya? Jadi ngerepotin” kata Sivia seraya melihat isi paper bag itu. Ternyata isinya sebuah jam tangan. Sepertinya mahal.
            “Ya Ampun Via, Via… lo kayak kenal gue baru kemarin aja sih. Nggak ngerepotin kok, malahan gue seneng bisa ngasih oleh-oleh buat lo. Lo suka kan sama oleh-olehnya?”
            Sivia mengangguk, “i…iya gue suka, sekali lagi makasih ya?” Pricilla tersenyum lalu menepuk pundak Sivia.
            “oya, Via. Kejutan Hello Kitty semalem keren banget lho! Itu pasti ide lo kan?”
            Kali ini Sivia melirik sejenak kearah Alvin. Sepertinya Alvin terlihat kesal, benar-benar kesal. Kalau kejutannya berhasil seharusnya Alvin senang dan mengucapkan terimakasih padanya, tapi ini?
            “ooo itu? Itu bukan ide gue sepenuhnya, tapi ide gue sama Alvin” jawab Sivia sedikit berbohong.
            Sebelum Prcilla membalas perkataan Sivia, tiba-tiba saja Febby, salah satu sahabat dekat Pricilla dikelasnya memanggil. Alvin dan Sivia memang berbeda kelas dengan Pricilla. Pricilla dikelas X.3 , sementara Alvin, Sivia dan semua ‘antek-anteknya’ menjadi penghuni kelas X.1.
            Pricilla melambai kearah Febby lalu pamit pada Alvin dan Sivia,
            “Sayang, aku masuk kelas duluan ya? Aku mau ketemu sama temen-temen kelas aku, aku kangen sama mereka hehe…”
            Alvin melepaskan gandengannya, ia tersenyum kecil lalu memberikan kecupan hangat dipuncak kepala Pricilla. Setelah memberikan sebuah kecupan sebagai tanda berpisah, Alvinpun mengusap lembut puncak kepala Pricilla. Pricilla tertawa. Sementara Sivia, ia langsung membuang mukanya kearah lain saat melihat adegan super romantic yang ditunjukan oleh Alvin dan Pricilla. Hatinya seakan tersayat. Perih.
            “ya udah, nanti jam istirahat aku kekelas kamu ya?” Pricilla mengangguk. Tatapannya mengarah pada Sivia. Pricilla meraih pergelangan tangan Sivia hingga membuat Sivia menoleh kepadanya,
            “Via, gue duluan ya?”
            “eh iya, iya” jawab Sivia cepat.
            Pricilla mendekat kearah Sivia lalu berpura-pura membisikan sesuatu ditelinga Sivia,
            “jagain Alvin! Kalo matanya jelalatan didelam kelas jewer aja, hihi…” Alvin yang bisa dengan sangat jelas mendengar bisikan itu malah tidak menunjukan reaksi apapun. Sivia tersenyum masam seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Pricillapun akhirnya pergi setelah menghadiahkan hidung Alvin dengan sebuah cubitan gemes.
            Beberapa saat setelah kepergian Pricilla, Sivia kembali melihat kearah Alvin. Dan sepertinya Pria itu sedang tidak mau diganggu oleh Sivia saat ini. Sivia mendesah pelan lalu melangkah pergi tanpa menunggu ataupun mengajak Alvin.
            “kenapa lo bohong?” pertanyaan dari Alvin itu langsung membuat langkah Sivia terhenti. Berbohong? Apa maksud Alvin dengan berbohong?
            Alvin berjalan perlahan kearah Sivia. Alvin berdiri tepat dihadapan Gadis itu seraya memasukan kedua tangannya pada kedua saku celana seragam kotak-kotaknya.
            “bo… bohong?” Tanya Sivia yang mendadak gagap.
            “iya bohong! Lo bilang lo nggak dateng gara-gara ada siaran, tapi ternyata lo dirumah kan?”
            Sivia kontan saja terkejut mendengarkan penuturan Alvin. Darimana Alvin tahu kalau semalam ia sedang dirumah dan tidak ada jadwal siaran? Mendadak Sivia gugup. Jika sudah begini bagaimana ia harus menjelaskan semuanya pada Alvin? Masa kah Sivia harus menyatakan perasaan cemburunya secara gamblang dihadapan Pria ini? Tidak, Sivia tidak akan melakukan hal itu, bahkan sampai matipun tidak akan pernah.
            “ta… tau darimana lo?”
            “lain kali kalo lo mau ngebohongin gue lo harus kerja sama dulu sama Rio, Ify, dan Shilla!” jawab Alvin dengan nada memperingatkan.
            Sivia menepuk pelan keningnya. Dalam hati ia langsung merutuki kebodohan yang telah ia sendiri lakukan. Sivia baru ingat bahwa semalam Rio datang menjemputnya untuk pergi bersama ke pesta penyambutan Pricilla, tapi Sivia berkata bahwa ia malas menghadiri pesta itu. Jika sudah seperti ini urusannya pasti akan sangat kacau.
            “tolong tegur gue kalo gue emang beneran salah. Asal lo tau, Via! Semenjak Pricill resmi jadi pacar gue entah kenapa gue merasa sikap lo berubah aneh. Dan sikap lo yang dulunya amat sangat bersahabat ke Pricill seolah terkikis. Gue nggak ngerasain lagi sikap bersahabat lo yang dulu, gue juga nggak ngeliat pancaran bersahabat dari kedua mata lo tiap kali lo bertatapan langsung dengan Pricill, hhh—”  Alvin menghela nafas sejenak “Ada apa sebenernya, Via? Ada apa?” lanjut Alvin dengan emosi yang berusaha ia tahan.
            Sivia tidak tahan. Perkataan Alvin barusan seakan menyiratkan bahwa selama ia memang tidak pernah peka dengan apa yang Sivia rasakan selama ini. Sivia terluka lagi, entah untuk yang keberapa kalinya. Kenapa rasanya sulit sekali untuk membuat Alvin peka dengan kesakitannya selama ini? Kenapa Alvin tidak pernah ingin tahu bahwa sebenarnya hingga detik ini Sivia masih sangat mencintainya dan mengharapkannya lebih dari apapun? Kapan Alvin akan mengerti? Kapan Alvin ingin tahu?
            “lo nggak bisa jawab kan, Via?” Tanya Alvin sinis. Sivia mengangkat wajahnya lalu menghujam mata Alvin tajam. Matanya terasa panas dan seolah ingin menghamburkan habis tangisannya yang selama 2 tahun terakhir ini selalu ia sembunyikan dibalik senyum munafiknya.
            “kenapa lo selalu nyalahin gue?” ujar Sivia pada Akhirnya. Alvin bungkam.
            “kenapa lo nggak pernah mau Tanya Kediri lo sendiri apa alesan gue sampe gue rela berbohong? Pernahkah lo coba nanya Kediri lo sendiri? Atau seenggaknya pernahkah lo nyoba nanya ke gue? Nggak pernah kan, Vin?” Sivia menggeleng beberapa kali. Ia harus sadar betul bagaimana kapasitasnya saat ini. Ia tidak ingin melampaui apa yang tidak seharusnya ia lampaui. Biarkan Alvin terus seperti ini hingga nanti ia sadar sendiri.
            Sivia menatap Alvin dengan pandangan miris. Ia tersenyum meremehkan lantas berkata,
            “hhh… harusnya gue sadar sejak awal bahwa percuma saja gue ngomong sama orang yang hatinya udah mati kayak lo. Gue yang bodoh!” ujar Sivia dengan nada merutuk lebih kedirinya sendiri lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin.
            Menyesakkan…. Pagi itu benar-benar adalah pagi yang paling menyesakkan dari semua hari yang menyesakkan yang pernah Sivia lewati selama 3 tahun ini. 3 tahun tanpa udara, 2 tahun tanpa pernah bernafas.


***

            Cakka menjulurkan sebotol minuman isotonic kepada Sivia yang saat itu tengah duduk sendiri disebuah bangku panjang yang terdapat ditaman sekolah. Ketika bel tanda istirahat berdering dengan nyaring, Sivia langsung kabur dari kelas tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun pada sahabat-sahabatnya. Bahkan Rio yang tadi berusaha untuk mencegahnya pergi sama sekali tidak Sivia hiraukan. Ia benar-benar marah pada Alvin.
            “udah lama nungguinnya? Maaf ya aku lama, tadi ada tugas dulu yang harus aku selesein” Sivia menatap Cakka, ia tersenyum seraya menggeleng beberapa kali, tangannya pun bergerak menerima minuman yang Cakka berikan padanya.
            “makasih ya, Kak?” Cakka mengangguk lalu duduk disamping Sivia,
            “kamu pasti lagi ada masalah kan sama Alvin sampe dateng nemuin aku kekelas?”
            Sivia menatap Cakka sejenak. Cowok misterius ini selalu mengerti dengan dirinya, bahkan Cakka selalu tahu apa yang Sivia mau. Sivia tersenyum, tidak terasa 2 tahun sudah dia berteman baik dengan Cakka, padahal rasanya baru kemarin Sivia mati-matian mengejar Cakka dan meyakinkannya bahwa Sivia bisa diajak jadi teman yang asyik.
            Hening untuk beberapa saat. Mereka sama-sama sibuk dengan fikiran dan minuman mereka masing-masing. Merasa bosan dengan suasana hening yang membungkus kebersamaan mereka pada jam istirahat itu, Siviapun berdehem dan mulai membuka obrolan,
            “menurut Kak Cakka…. Seseorang yang memilih setia untuk sesuatu yang tidak pasti itu gila nggak?”
            Cakka tersenyum tipis,
            “bukan gila, Via” Sivia langsung menatap Cakka dengan kedua alis bertaut. Heran.
            “tapi sangat gila” lanjut Cakka, kali ini ia membalas tatapan Sivia.
            “kenapa?” Tanya Sivia dengan polosnya.
            Cakka mengangkat kedua tangannya lalu menyentuh pundak Sivia,
            “hey, kalau ada sesuatu yang pasti kenapa kamu masih harus menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti?”
            “Kak Cakka—“
            “Jadi disini permasalahannya Cuma bertaut pada satu objek dan pada satu orang yang selalu sama…. Alvin Jonathan”
            Sivia terdiam lalu menunduk dalam. Cakka melepaskan kedua tangannya dari pundak Sivia lalu menatap lurus kedepan.
            “hiduplah dengan mengikuti arah arus, dan jangan sekalipun kamu berusaha untuk melawan arus, bisa tenggelam kamu nanti. Kamu jangan terlalu takut membayangkan bahwa selamanya kamu tidak akan pernah memiliki Alvin, yang harus kamu tahu Cuma satu hal, Via…”
            “a..apa?”
“ Tuhan menciptakan Makhluknya dengan berpasangan dan takdir mereka masing-masing, kalau Alvin sudah jadi takdirmu maka siapapun tidak akan ada yang bisa mengubahnya”
            Sivia berusaha mencerna setiap perkataan yang Cakka ucapkan, tidak lama Sivia mengangguk  paham.
            “hidup ini mengalir seperti sungai, Sivia. Pada akhirnya nanti kamu akan tetap bermuara pada lautmu….”

            Sivia tersenyum lalu sekali lagi mengangguk. Hari ini Sivia mendapatkan satu pelajaran dari Cakka; Bahwa hidup ini mengalir seperti sungai, pada akhirnya nanti ia akan tetap bermuara pada lautnya.



                                    BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment