“Kriiinggggg…..” suara bel yang
lumayan keras membuat Gabriel terkesiap. Ia langsung melepaskan Sivia lantas
meminta maaf.
“sorry…”
kata Gabriel yang mulai salah tingkah.
“gak
apa-apa Kak…” jawab Sivia tak kalah salah tingkahnya dari Gabriel.
“ya
udah…” ucap Sivia dan Gabriel berbarengan. Mereka saling menatap sejenak lalu
sama-sama tertawa kecil,
“lo
duluan deh….” Kata Gabriel,
“emmmm…
Via masuk kelas ya Kak, entar takutnya telat…”
“oooo…
ya udah! Sekali lagi gue minta maaf ya?”
“gak
apa-apa Kak….”
Tanpa
berkata apa-apa lagi Siviapun berlari menuju kelasnya. Gabriel tersenyun
sendiri selepas kepergian Sivia. “Beautiful Girl” gumam Gabriel lalu menaiki
anak tangga untuk mencapai kelasnya.
^_^
“Kka,
aku udah fikirin ini mateng-mateng… sebenernya berat buat aku untuk ngambil
keputusan ini, tapi demi CRAG dan hubungan kamu sama Alvin, aku terpaksa Kka….”
Ucap Shilla pada Cakka saat mereka tengah duduk berdua diteras depan kelas mereka.
Cakka meraih tangan Shilla lalu menggenggamnya erat.
“maksud
kamu apa Shill…?” Tanya Cakka heran. Kali ini Shilla menatap Cakka, air matanya
menetes secara perlahan,
“Cakka,
kita putus ya…? Jawab Shilla dengan suara yang berat, sama beratnya dengan
hatinya saat ini. Tak ada yang lebih berat buat Shilla selain harus mengakhiri
hubungannya dengan Cakka. Cakka yang belum bisa mempercayai apa yang baru saja
Shilla ucapkan pun langsung melepaskan tangan Shilla. Ia tertawa kecil lantas
berkata,
“udah
ah Shill, becanda kamu gak lucu…” Kali Shilla meraih tangan Cakka,
“aku
gak becanda Kka… aku capek ngeliat hubungan kamu sama Alvin yang masiiih aja
dingin, aku gak bisa jadi perusak persahabatan kalian, aku….” Shilla tak
melanjutkan perkataannya. Selanjutnya yang terdengar adalah isakkan yang masih
saja berusaha ia tahan. Saat Cakka akan memeluknya, Shilla malah menahannya,
“pliss
Kka, lupain aku….” Shilla pun bangkit dari samping Cakka lantas hengkang dari
tempat itu. Cakka berusaha memanggil Shilla namun sayang, Shilla tak sedikitpun
menjawab panggilan Cakka. Cakka yang sudah mulai putus asa akhirnya memutuskan
untuk menyerah.
Baru
sekitar 5 langkah Shilla berjalan meninggalkan Cakka tiba-tiba saja ada
seseorang yang menahan pundaknya dari depan. Shilla mengangkat wajahnya sejenak
lantas mendapati Alvin yang waktu itu menatapnya dengan tatapan prihatin.
Shilla membalas tatapan Alvin dengan pandangan bertanya. Alvin menggeleng
beberapa kali seraya tetap memegang pundak sebelah kanan Shilla.
Tak
lama saling menatap tanpa bicara, secara perlahan Alvin menurunkan tangannya
dari pundak Shilla, tangan Alvin berhenti tepat dipergelangan tangan Shilla.
Shilla terkejut saat Alvin menariknya dan berjalan kearah Cakka.
“Vin,
mau ngapain?” Tanya Shilla penasaran. Tapi Alvin bungkam.
Melihat
Alvin dan Shilla yang berjalan kearahnya Cakka langsung bangkit dari duduknya.
Ada sedikit rasa cemburu yang tiba-tiba menyerangnya saat melihat Alvin
mengenggam erat pergelangan tangan Shilla. Tak lama tibalah Alvin dan Shilla dihadapan
Cakka, Alvin menatap Cakka dan Shilla secara bergantian,
“kalian
gak perlu putus!” kata Alvin pada akhirnya. Jelas saja ucapan Alvin itu membuat
Cakka dan Shilla terkejut dan nyaris tak percaya. Kali ini Alvin tersenyum
kecil, ia meraih tangan Cakka lantas menyatukannya dengan Shilla yang saat itu
masih berada dalam genggamannya. Alvin tersenyum ikhlas setelah menyatukan
tangan Cakka dan Shilla.
“sekali
lagi gue minta kalian jangan putus! Ini permintaan khusus dari gue, kalian mau
kan Menuhin permintaan gue?”
“tapi
Vin….” Kata Cakka heran.
“udahlah
Kka, lo gak usah fikirin gue lagi…. Lo fikir gue masih ada rasa sama Shilla? Lo
salah Kka, karna gue udah gak rasa apa-apa lagi sama Shilla…”
“Alvin….”
Ucap Cakka. Alvin menepuk pundak Cakka beberapa kali lantas kembali berkata,
“Bunda
pernah bilang ke gue, letakkan persahabatan ditempat tertinggi, dan jadikan
persahabatan jauh lebih penting dari segalanya, dan sekarang gue mau lakuin apa
yang Bunda bilang ke gue…. Gue gak mau egois Kka, seharusnya sejak awal gue tau
kalo kalian berdua itu saling mencintai dan gue gak seharusnya benci sama
kalian… Kka, jujur gue marah sama lo waktu tau ternyata lo ada main ama cewek
gue, tapi asal lo tau, sekalipun dalam hidup gue, gue gak pernah bisa benci
sama lo… gue mau persahabatan kita tetep utuh, dan sekarang gue mau ngelakuin
sesuatu buat sahabat gue, buat elo….”
Alvin
menyentuh pipi Shilla lalu membelainya lembut. Alvinpun berkata pada Shilla,
“jangan
coba-coba ninggalin Cakka ya, dia sayang sama kamu Shill….”
“tapi
kamu gimana Vin…? Kamu sama siapa?”
“gak
usah kamu fikirin, gak penting! Yang penting sekarang kalian jangan putus,
okey?” kata Alvin seraya menatap Cakka dan Shilla bergantian. Cakka dan Shilla
tersenyum satu sama lain begitupun dengan Alvin.
“Shill?”
“kenapa,
Vin…?”
“aku
boleh peluk kamu buat yang terakhir kalinya?” mendengar pertanyaan Alvin,
Shilla sedikit terkejut. Shillapun mengalihkan perhatiannya pada Cakka untuk
meminta ijin dari Cakka. Melihat tatapan Shilla, Cakka langsung saja mengangguk
tanpa keraguan sedikitpun. Shillapun langsung membawa dirinya kedalam pelukan
Alvin,
“maafin
aku ya Shill….” Ucap Alvin,
“aku
juga minta maaf Vin….”
“Cieee…
yang udah damai…” ucap Gabriel yang tiba-tiba datang bersama Rio. Alvin dan
Shilla langsung melepaskan pelukan mereka. Entah kenapa saat melihat kedatangan
Gabriel, ekspresi Alvin agak sedikit berubah.
Rio
merangkul Cakka dan Alvin lantas berkata pada kedua sahabatnya itu,
“gue
harap kalian bisa terus seperti ini, gue gak mau ngeliat kalian berseteru kaya
kemaren lagi….”
“gue
akan berusaha Yo….” Kata Alvin seraya tersenyum pada Rio,
“gue
juga!” sambut Cakka.
Gabrielpun
berdiri disamping Alvin lantas merangkul Alvin. Melihat kekompakkan CRAG yang
kembali lagi Shilla merasa begitu lega. Setidaknya hubungan mereka bisa lebih
baik lagi dan tidak ada lagi kebencian diantara mereka. Shilla tersenyum puas.
“ayo
dong Kka, Shilla nya jangan dicuekin…” kata Alvin dengan nada menggoda. Cakka
menatap Alvin dengan tatapan bertanya, Alvin tersenyum jahil lantas berkata,
“samperin
Shilla nya….” Kata Alvin lagi. Cakka hanya manggut-manggut lalu berjalan kearah
Shilla. Alvin yang mulai jahil akhirnya secara sengaja mendorong Shilla kedalam
pelukan Cakka, benar saja dengan sigap Cakka menangkap tubuh Shilla hingga kini
mereka berpelukan.
“aku
sayang kamu Shill….” Bisik Cakka.
“aku
juga…” balas Shilla. Setelahnya Shillapun mencium hangat pipi sebelah kanan
Cakka. Alvin, Rio dan Gabriel kembali berteriak heboh.
^_^
Malam
itu Alvin dan Sivia terlihat duduk berdampingan diruang tengah milik Sivia.
Seperti biasa, mereka duduk dilantai menghadap sebuah meja persegi empat yang
berukuran sedang. Alvin berusaha focus ketika menjelaskan materi Matriks pada
Sivia. Tapi jika Alvin mengingat adegan mesra yang ditunjukan oleh Gabriel dan
Sivia pagi tadi konsentrasi Alvin langsung buyar.
“jadi
Matriks tidak lain merupakan susunan….” Alvin memotong penjelasannya.
Ingatannya tentang kejadian pagi tadi kembali mengganggu fikirannya. Sivia yang
sedari tadi hanya memandang buku catatannya kini mulai mengalihkan perhatiannya
pada Alvin. Sivia mendapati Alvin yang waktu itu tengah menopang keningnya
dengan jemari tangannya.
Sivia
menatap Alvin heran, ia menunduk sedikit supaya ia bisa melihat wajah Alvin
lebih jelas lagi.
“Ka…Kak
Alvin kenapa?” Tanya Sivia ragu. Alvin menegakkan wajahnya seraya menggelengkan
kepalanya berkali-kali. Tujuannya tentu saja untuk menghilangkan
fikiran-fikirannya yang menganggu itu.
“gak
apa-apa…” jawab Alvin singkat, “Oya, tadi sampe mana?” Tanya Alvin berusaha
untuk kembali focus.
“emmmmm….
Sampai mana yaa…???” kata Sivia bingung seraya mengetuk-ngetukkan pulpennya
pada dagunya. Saat itulah Alvin menatap wajah Sivia yang berada tak jauh dari
posisi wajahnya sekarang. Untuk yang kesekian kalinya Alvin kembali terpesona
pada Sivia, tapi lagi-lagi ingatan tentang kejadian pagi tadi timbul diotak
Alvin.
“duuhh…
sampe mana sih…??” Sivia masih mencoba mengingat. Tiba-tiba saja,
“Via,
lo ada hubungan apa sama Gabriel…?” pertanyaan Alvin itu sukses membuat Sivia
tersentak. Siviapun langsung menatap Alvin yang saat itu juga tengah
menatapnya. Mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa lama. Sekitar
10 detik berlalu, Sivia tersenyum,
“tadi
kita sampe pada penjelasan Matriks….” Ucap Sivia. Jelas-jelas Sivia sedang
berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
“ayo
penjelasannya dilanjutin Kak…” lanjut Sivia seraya kembali mengalihkan
perhatiannya pada buku catatannya. Tiba-tiba Alvin menutup buku catatan Sivia
lalu merebut setengah paksa pulpen yang sejak tadi Sivia pegang. Sivia sedikit
bingung dengan apa yang Alvin lakukan.
“Kakak,
Via mau nyatet….”
“jawab
dulu pertanyaan gue, lo ada hubungan apa sama Gabriel??” Tanya Alvin dengan
nada sedikit meninggi. Sivia terkejut. Apa hak Alvin menanyakan hal itu
padanya? Bukankah mereka tidak memiliki hubungan apapun, lantas kenapa Alvin
harus bertanya seperti itu padanya? Sivia menghela nafas beratnya lantas
menjawab pertanyaan Alvin,
“gak
ada… Via gak ada hubungan apa-apa sama Kak Iel…” jawab Sivia apa adanya.
“BOHONG….!!”
Teriak Alvin dihadapan Sivia.
“terserah
Kak Alvin mau percaya ato gak, Via gak urus!” sinis Sivia. Saat Sivia akan
kembali membuka buku catatannya tiba-tiba saja Alvin menahan tangannya.
“JAWAB
PERTANYAAN GUE YANG BENER….” Sentak Alvin untuk yang kedua kalinya. Sivia
melepaskan peregelangan tangannya dengan paksa dari genggaman Alvin.
“ada
hubungan ato gak sama sekali gak ada urusannya sama Kak Alvin…” ucap Sivia tak
kalah sinisnya dengan ucapannya tadi.
“jelas
ada urusannya sama gue…” tegas Alvin. Sivia langsung menatap tajam kearah
Alvin.
“maksud
Kak Alvin…??” Sivia berusaha memperjelas perkataan Alvin baru saja.
“lo
itu milik gue, Cuma milik gue, lo gak boleh ada hubungan apapun sama cowok
manapun termasuk itu Gabriel….” Untuk yang kesekian kalinya Sivia terkejut, dan
Sivia semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Alvin. Mungkinkah Alvin mulai
menyukainya? Entahlah, Sivia tak pernah tau.
“Sumpah,
Via makin gak ngerti sama ucapan Kak Alvin! Kak Alvin itu MEMBINGUNGKAN….” Kata
Sivia memberikan penekanan pada kata membingungkan. Tanpa berkata apa-apa lagi,
Alvinpun langsung menarik Sivia kedalam pelukannya.
“Kak
Alvin…” lirih Sivia pelan.
“lo
belom jawab pertanyaan gue, Vi…” ucap Alvin dengan nada yang pelan namun
terdengar sangat jelas.
“pertanyaaan
yang mana Kak…?”
“apa
lo belom bisa maafin gue? Apa kesalahan gue ke elo udah bener-bener gak bisa
dimaafin….?” Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia memegang wajah Sivia
menggunakan kedua tangannya seraya menatap dalam kedua bola mata Sivia.
“Via
kan udah bilang ke Kakak, Kakak gak salah, Via yang salah… jadi buat apa Kak
Alvin minta maaf sama Via, buat apa Kak….?”
“jadi
lo gak marah sama gue? Gak benci sama gue…?” Sivia menggeleng. Kali ini Alvin
tersenyum dan terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
“bener…?”
Tanya Alvin sekali lagi. Sivia hanya mengangguk,
“makasih
yaa…?” Sivia kembali mengangguk.
Untuk
beberapa lama heningpun terjadi diantara mereka. Tiba-tiba mereka bisu dan
tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Sebenarnya detik ini juga Alvin
ingin mengungkapkan segala perasaannya pada Sivia, perasaan yang belakangan ini
menyiksa batinya, perasaan yang belakangan ini telah menyita habis fikirannya,
perasaan yang belakangan ini sering mengganggu hari nya. Tapi sesuatu yang sama
sekali tidak Alvin pahami menahan segala keinginan itu. Sesuatu bernamakan
keraguan telah membuat Alvin mundur. Alvin ragu kalau-kalau Sivia sudah tidak
memiliki rasa apapun padanya.
Tanpa
sadar Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. DEG…. Sivia merasakan ada
sebuah getaran yang luar biasa yang tiba-tiba datang menyerang hatinya. Wajah
Alvin semakin dekat, matanya tetap menatap lurus kearah dua bola mata Sivia.
Perasaan Sivia semakin bercampur aduk tak karuan. Getaran dihati Sivia semakin
membuncah hebat saat Alvin memiringkan posisi wajahnya, Sivia memejamkan
matanya kuat-kuat. Pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Saat bibir
Alvin nyaris saja menyentuh bibirnya tiba-tiba saja Handphone Sivia berbunyi,
ia menerima sebuah panggilan masuk dari seseorang. Mendengar Handphone Sivia
yang berbunyi, Alvin langsung mengurungkan niatnya, ia menoleh kearah lain
sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Alvin dan Sivia
sama-sama terlihat salah tingkah.
“Hallo
Kak Iel…” sapa Sivia pada seorang disebrang sana yang ternyata adalah Gabriel.
Raut wajah Alvin langsung berubah keruh.
^_^
“Hay
Kakak Ganteng...!!!” panggil Sivia dengan nada bicara yang ceria. Sivia
berjalan dengan santai disamping Alvin. Mendengar Sivia memanggilnya dengan
panggilan Kakak Ganteng Alvin langsung menghentikan langkahnya lantas menatap
Sivia.
“Via…elo…”
kata Alvin bingung.
“kenapa?
Via keliatan cantik ya hari ini…?? Hihihi….makasih, tapi Kak Alvin itu orang ke
25 yang bilang Via cantik pagi ini…” kata Sivia sesantai mungkin. Hari ini
Sivia telah kembali menjadi Sivia yang dulu, entah apa yang sudah membuatnya
kembali lagi menjadi Sivia yang dulu.
“Via,
lo gak apa-apa kan…?” Tanya Alvin yang masih heran dengan perubahan Sivia pagi
ini.
“gak
apa-apa gimana?? Emangnya Via kenapa? Via gak apa-apa kok….” Alvin memegang
kedua pundak Sivia seraya menatap Sivia dengan tatapan yang berbinar.
“Princess
Lemot gue balik lagi….” Ucap Alvin antusias seraya menarik pipi Sivia dengan
gemes.
“iihhhh….
Kak Alvin apa-apaan sih? Sakit tau pipi Via Kak Alvin cubit kaya gitu…
difikirnya gak sakit apa? Terus lagi pake ngatain Via Princess Lemot…. Yeee…
Kak Alvin tuh yang lemot, Via kan pinter kaya Dora…”
“Via…Via…
lo itu emang bener-bener Princess Lemot ke…” Alvin tiba-tiba memotong
ucapannya. Sivia langsung cemberut.
“sekali
lagi Kak Alvin bilang Via lemot, Via ngambek… Via gak mau jadi temen Kak Alvin
lagi…” ancam Sivia sok sadis seraya berjalan terlebih dahulu meninggalkan
Alvin. Alvin berlari kecil menghampiri Sivia,
“ciee…
ngambek, lo jelek tau…”
“biarin…”
sinis Sivia,
“sumpah
lo jelek banget Vi….”
“MAMAAAAA….
KAK ALVIN NGATAIN VIA JELEEEKK…..” Teriak Sivia sekencang-kencangnya. Mendengar
teriakan Sivia, Alvin langsung menutup mulut Sivia menggunakan tangannya.
“lo
jangan tereak-tereak kali Vi….”
“Emmmmm….”
Sivia berusaha memukul-mukuli tangan Alvin supaya Alvin melepaskan tangannya
dari mulutnya. Semakin kuat Sivia memberontak, semakin kuat juga Alvin membekap
mulut Sivia.
Saat
membekap mulut Sivia, tanpa sadar Alvin terus saja menatap wajah cantik Sivia
tanpa berkedip. Alvin tersenyum kecil seraya terus menatapi wajah Sivia. Sivia
yang sudah mulai merasa tak tahan lagi akhirnya menggigit telapak tangan Alvin.
“AAWW….”
Rintih Alvin kesakitan seraya melepaskan tangannya dari mulut Sivia. Alvin
meniup-niupi tangannya yang mulai memerah akibat gigitan dari Sivia.
“AHAHAHAHA….
Rasain! Emang enak?? Kak Alvin jahil sih ama Via…” ledek Sivia. Ketika Sivia
akan berlari meninggalkan Alvin, tiba-tiba saja Alvin mencekal pergelangan
tangan Sivia lalu menariknya hingga dekat dengannya. Saking dekatnya jarak
mereka hidung mereka nyaris saja bersentuhan. Alvin menatap mata Sivia dalam.
Melihat tatapan Alvin, Sivia hanya bisa menelan ludah. Beberapa detik berlalu
Alvin masih betah menatap kedua bola mata Sivia,
“K…Kak…
Vi… Via ma..masuk kelas yaa…?” kata Sivia gerogi berusaha melepaskan tangannya
dari genggaman Alvin. Sivia tak perlu melakukan usaha yang keras untuk
melepaskan tangannya dari Alvin, karna Alvin melepaskan pergelangan tangan
Sivia dengan begitu saja.
Alvin
memang melepaskan pergelangan tangan Sivia dengan begitu saja, tapi Alvin tidak
melepaskan Sivia begitu saja. Kali ini Alvin melingkarkan kedua tangannya
dipinggang Sivia, Sivia semakin gerogi.
“Kak….
Jangan gini, kan gak enak dilihat sama temen-temen…” kata Sivia pelan.
“Via…
ada yang mau Kak Alvin sampein ke Via… hari ini juga….” Kata Alvin setengah
berbisik. Mungkinkah Alvin akan menyatakan perasaannya pada Sivia hari ini
juga.
“a..apa
Kak..?” Tanya Sivia gugup.
“Via….”
Alvin memindahkan posisi tangannya. Kali ini ia meraih kedua tangan Sivia lalu
menggenggamnya erat. Wajah Sivia semakin padam, jarak wajah mereka begitu
dekat, belum lagi Alvin menatapnya lekat-lekat seperti itu, bagaimana Sivia
tidak salah tingkah?
“apa
Kak…?” rasa penasaran Sivia mulai memuncak,
“Kak
Alvin sebenernya….” Alvin menggantungkan kalimatnya. Sivia semakin mati
penasaran.
“Kak
Alvin….” Lagi-lagi Alvin memotong perkataannya. Siviapun menunduk
sedalam-dalamnya. Alvin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara
perlahan.
“Kak
Alvin sebenernya Say….”
“VIAAAA....”
panggil seseorang dari kejauhan. Alvin langsung melepaskan Sivia seraya
menggaruk-garuk kepalanya.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment