Wednesday, July 10, 2013

0

MY DIARY Part 17



“Kriiinggggg…..” suara bel yang lumayan keras membuat Gabriel terkesiap. Ia langsung melepaskan Sivia lantas meminta maaf.
            “sorry…” kata Gabriel yang mulai salah tingkah.
            “gak apa-apa Kak…” jawab Sivia tak kalah salah tingkahnya dari Gabriel.
            “ya udah…” ucap Sivia dan Gabriel berbarengan. Mereka saling menatap sejenak lalu sama-sama tertawa kecil,
            “lo duluan deh….” Kata Gabriel,
            “emmmm… Via masuk kelas ya Kak, entar takutnya telat…”
            “oooo… ya udah! Sekali lagi gue minta maaf ya?”
            “gak apa-apa Kak….”
            Tanpa berkata apa-apa lagi Siviapun berlari menuju kelasnya. Gabriel tersenyun sendiri selepas kepergian Sivia. “Beautiful Girl” gumam Gabriel lalu menaiki anak tangga untuk mencapai kelasnya.


^_^
            “Kka, aku udah fikirin ini mateng-mateng… sebenernya berat buat aku untuk ngambil keputusan ini, tapi demi CRAG dan hubungan kamu sama Alvin, aku terpaksa Kka….” Ucap Shilla pada Cakka saat mereka tengah duduk berdua diteras depan kelas mereka. Cakka meraih tangan Shilla lalu menggenggamnya erat.
            “maksud kamu apa Shill…?” Tanya Cakka heran. Kali ini Shilla menatap Cakka, air matanya menetes secara perlahan,
            “Cakka, kita putus ya…? Jawab Shilla dengan suara yang berat, sama beratnya dengan hatinya saat ini. Tak ada yang lebih berat buat Shilla selain harus mengakhiri hubungannya dengan Cakka. Cakka yang belum bisa mempercayai apa yang baru saja Shilla ucapkan pun langsung melepaskan tangan Shilla. Ia tertawa kecil lantas berkata,
            “udah ah Shill, becanda kamu gak lucu…” Kali Shilla meraih tangan Cakka,
            “aku gak becanda Kka… aku capek ngeliat hubungan kamu sama Alvin yang masiiih aja dingin, aku gak bisa jadi perusak persahabatan kalian, aku….” Shilla tak melanjutkan perkataannya. Selanjutnya yang terdengar adalah isakkan yang masih saja berusaha ia tahan. Saat Cakka akan memeluknya, Shilla malah menahannya,
            “pliss Kka, lupain aku….” Shilla pun bangkit dari samping Cakka lantas hengkang dari tempat itu. Cakka berusaha memanggil Shilla namun sayang, Shilla tak sedikitpun menjawab panggilan Cakka. Cakka yang sudah mulai putus asa akhirnya memutuskan untuk menyerah.
            Baru sekitar 5 langkah Shilla berjalan meninggalkan Cakka tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan pundaknya dari depan. Shilla mengangkat wajahnya sejenak lantas mendapati Alvin yang waktu itu menatapnya dengan tatapan prihatin. Shilla membalas tatapan Alvin dengan pandangan bertanya. Alvin menggeleng beberapa kali seraya tetap memegang pundak sebelah kanan Shilla.
            Tak lama saling menatap tanpa bicara, secara perlahan Alvin menurunkan tangannya dari pundak Shilla, tangan Alvin berhenti tepat dipergelangan tangan Shilla. Shilla terkejut saat Alvin menariknya dan berjalan kearah Cakka.
            “Vin, mau ngapain?” Tanya Shilla penasaran. Tapi Alvin bungkam.
            Melihat Alvin dan Shilla yang berjalan kearahnya Cakka langsung bangkit dari duduknya. Ada sedikit rasa cemburu yang tiba-tiba menyerangnya saat melihat Alvin mengenggam erat pergelangan tangan Shilla. Tak lama tibalah Alvin dan Shilla dihadapan Cakka, Alvin menatap Cakka dan Shilla secara bergantian,
            “kalian gak perlu putus!” kata Alvin pada akhirnya. Jelas saja ucapan Alvin itu membuat Cakka dan Shilla terkejut dan nyaris tak percaya. Kali ini Alvin tersenyum kecil, ia meraih tangan Cakka lantas menyatukannya dengan Shilla yang saat itu masih berada dalam genggamannya. Alvin tersenyum ikhlas setelah menyatukan tangan Cakka dan Shilla.
            “sekali lagi gue minta kalian jangan putus! Ini permintaan khusus dari gue, kalian mau kan Menuhin permintaan gue?”
            “tapi Vin….” Kata Cakka heran.
            “udahlah Kka, lo gak usah fikirin gue lagi…. Lo fikir gue masih ada rasa sama Shilla? Lo salah Kka, karna gue udah gak rasa apa-apa lagi sama Shilla…”
            “Alvin….” Ucap Cakka. Alvin menepuk pundak Cakka beberapa kali lantas kembali berkata,
            “Bunda pernah bilang ke gue, letakkan persahabatan ditempat tertinggi, dan jadikan persahabatan jauh lebih penting dari segalanya, dan sekarang gue mau lakuin apa yang Bunda bilang ke gue…. Gue gak mau egois Kka, seharusnya sejak awal gue tau kalo kalian berdua itu saling mencintai dan gue gak seharusnya benci sama kalian… Kka, jujur gue marah sama lo waktu tau ternyata lo ada main ama cewek gue, tapi asal lo tau, sekalipun dalam hidup gue, gue gak pernah bisa benci sama lo… gue mau persahabatan kita tetep utuh, dan sekarang gue mau ngelakuin sesuatu buat sahabat gue, buat elo….”
            Alvin menyentuh pipi Shilla lalu membelainya lembut. Alvinpun berkata pada Shilla,
            “jangan coba-coba ninggalin Cakka ya, dia sayang sama kamu Shill….”
            “tapi kamu gimana Vin…? Kamu sama siapa?”
            “gak usah kamu fikirin, gak penting! Yang penting sekarang kalian jangan putus, okey?” kata Alvin seraya menatap Cakka dan Shilla bergantian. Cakka dan Shilla tersenyum satu sama lain begitupun dengan Alvin.
            “Shill?”
            “kenapa, Vin…?”
            “aku boleh peluk kamu buat yang terakhir kalinya?” mendengar pertanyaan Alvin, Shilla sedikit terkejut. Shillapun mengalihkan perhatiannya pada Cakka untuk meminta ijin dari Cakka. Melihat tatapan Shilla, Cakka langsung saja mengangguk tanpa keraguan sedikitpun. Shillapun langsung membawa dirinya kedalam pelukan Alvin,
            “maafin aku ya Shill….” Ucap Alvin,
            “aku juga minta maaf Vin….”
            “Cieee… yang udah damai…” ucap Gabriel yang tiba-tiba datang bersama Rio. Alvin dan Shilla langsung melepaskan pelukan mereka. Entah kenapa saat melihat kedatangan Gabriel, ekspresi Alvin agak sedikit berubah.
            Rio merangkul Cakka dan Alvin lantas berkata pada kedua sahabatnya itu,
            “gue harap kalian bisa terus seperti ini, gue gak mau ngeliat kalian berseteru kaya kemaren lagi….”
            “gue akan berusaha Yo….” Kata Alvin seraya tersenyum pada Rio,
            “gue juga!” sambut Cakka.
            Gabrielpun berdiri disamping Alvin lantas merangkul Alvin. Melihat kekompakkan CRAG yang kembali lagi Shilla merasa begitu lega. Setidaknya hubungan mereka bisa lebih baik lagi dan tidak ada lagi kebencian diantara mereka. Shilla tersenyum puas.
            “ayo dong Kka, Shilla nya jangan dicuekin…” kata Alvin dengan nada menggoda. Cakka menatap Alvin dengan tatapan bertanya, Alvin tersenyum jahil lantas berkata,
            “samperin Shilla nya….” Kata Alvin lagi. Cakka hanya manggut-manggut lalu berjalan kearah Shilla. Alvin yang mulai jahil akhirnya secara sengaja mendorong Shilla kedalam pelukan Cakka, benar saja dengan sigap Cakka menangkap tubuh Shilla hingga kini mereka berpelukan.
            “aku sayang kamu Shill….” Bisik Cakka.
            “aku juga…” balas Shilla. Setelahnya Shillapun mencium hangat pipi sebelah kanan Cakka. Alvin, Rio dan Gabriel kembali berteriak heboh.


^_^

            Malam itu Alvin dan Sivia terlihat duduk berdampingan diruang tengah milik Sivia. Seperti biasa, mereka duduk dilantai menghadap sebuah meja persegi empat yang berukuran sedang. Alvin berusaha focus ketika menjelaskan materi Matriks pada Sivia. Tapi jika Alvin mengingat adegan mesra yang ditunjukan oleh Gabriel dan Sivia pagi tadi konsentrasi Alvin langsung buyar.
            “jadi Matriks tidak lain merupakan susunan….” Alvin memotong penjelasannya. Ingatannya tentang kejadian pagi tadi kembali mengganggu fikirannya. Sivia yang sedari tadi hanya memandang buku catatannya kini mulai mengalihkan perhatiannya pada Alvin. Sivia mendapati Alvin yang waktu itu tengah menopang keningnya dengan jemari tangannya.
            Sivia menatap Alvin heran, ia menunduk sedikit supaya ia bisa melihat wajah Alvin lebih jelas lagi.
            “Ka…Kak Alvin kenapa?” Tanya Sivia ragu. Alvin menegakkan wajahnya seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tujuannya tentu saja untuk menghilangkan fikiran-fikirannya yang menganggu itu.
            “gak apa-apa…” jawab Alvin singkat, “Oya, tadi sampe mana?” Tanya Alvin berusaha untuk kembali focus.
            “emmmmm…. Sampai mana yaa…???” kata Sivia bingung seraya mengetuk-ngetukkan pulpennya pada dagunya. Saat itulah Alvin menatap wajah Sivia yang berada tak jauh dari posisi wajahnya sekarang. Untuk yang kesekian kalinya Alvin kembali terpesona pada Sivia, tapi lagi-lagi ingatan tentang kejadian pagi tadi timbul diotak Alvin.
            “duuhh… sampe mana sih…??” Sivia masih mencoba mengingat. Tiba-tiba saja,
            “Via, lo ada hubungan apa sama Gabriel…?” pertanyaan Alvin itu sukses membuat Sivia tersentak. Siviapun langsung menatap Alvin yang saat itu juga tengah menatapnya. Mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa lama. Sekitar 10 detik berlalu, Sivia tersenyum,
            “tadi kita sampe pada penjelasan Matriks….” Ucap Sivia. Jelas-jelas Sivia sedang berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
            “ayo penjelasannya dilanjutin Kak…” lanjut Sivia seraya kembali mengalihkan perhatiannya pada buku catatannya. Tiba-tiba Alvin menutup buku catatan Sivia lalu merebut setengah paksa pulpen yang sejak tadi Sivia pegang. Sivia sedikit bingung dengan apa yang Alvin lakukan.
            “Kakak, Via mau nyatet….”
“jawab dulu pertanyaan gue, lo ada hubungan apa sama Gabriel??” Tanya Alvin dengan nada sedikit meninggi. Sivia terkejut. Apa hak Alvin menanyakan hal itu padanya? Bukankah mereka tidak memiliki hubungan apapun, lantas kenapa Alvin harus bertanya seperti itu padanya? Sivia menghela nafas beratnya lantas menjawab pertanyaan Alvin,
“gak ada… Via gak ada hubungan apa-apa sama Kak Iel…” jawab Sivia apa adanya.
“BOHONG….!!” Teriak Alvin dihadapan Sivia.
“terserah Kak Alvin mau percaya ato gak, Via gak urus!” sinis Sivia. Saat Sivia akan kembali membuka buku catatannya tiba-tiba saja Alvin menahan tangannya.
“JAWAB PERTANYAAN GUE YANG BENER….” Sentak Alvin untuk yang kedua kalinya. Sivia melepaskan peregelangan tangannya dengan paksa dari genggaman Alvin.
“ada hubungan ato gak sama sekali gak ada urusannya sama Kak Alvin…” ucap Sivia tak kalah sinisnya dengan ucapannya tadi.
“jelas ada urusannya sama gue…” tegas Alvin. Sivia langsung menatap tajam kearah Alvin.
“maksud Kak Alvin…??” Sivia berusaha memperjelas perkataan Alvin baru saja.
“lo itu milik gue, Cuma milik gue, lo gak boleh ada hubungan apapun sama cowok manapun termasuk itu Gabriel….” Untuk yang kesekian kalinya Sivia terkejut, dan Sivia semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Alvin. Mungkinkah Alvin mulai menyukainya? Entahlah, Sivia tak pernah tau.
“Sumpah, Via makin gak ngerti sama ucapan Kak Alvin! Kak Alvin itu MEMBINGUNGKAN….” Kata Sivia memberikan penekanan pada kata membingungkan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvinpun langsung menarik Sivia kedalam pelukannya.
“Kak Alvin…” lirih Sivia pelan.
“lo belom jawab pertanyaan gue, Vi…” ucap Alvin dengan nada yang pelan namun terdengar sangat jelas.
“pertanyaaan yang mana Kak…?”
“apa lo belom bisa maafin gue? Apa kesalahan gue ke elo udah bener-bener gak bisa dimaafin….?” Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia memegang wajah Sivia menggunakan kedua tangannya seraya menatap dalam kedua bola mata Sivia.
“Via kan udah bilang ke Kakak, Kakak gak salah, Via yang salah… jadi buat apa Kak Alvin minta maaf sama Via, buat apa Kak….?”
“jadi lo gak marah sama gue? Gak benci sama gue…?” Sivia menggeleng. Kali ini Alvin tersenyum dan terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
“bener…?” Tanya Alvin sekali lagi. Sivia hanya mengangguk,
“makasih yaa…?” Sivia kembali mengangguk.
Untuk beberapa lama heningpun terjadi diantara mereka. Tiba-tiba mereka bisu dan tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Sebenarnya detik ini juga Alvin ingin mengungkapkan segala perasaannya pada Sivia, perasaan yang belakangan ini menyiksa batinya, perasaan yang belakangan ini telah menyita habis fikirannya, perasaan yang belakangan ini sering mengganggu hari nya. Tapi sesuatu yang sama sekali tidak Alvin pahami menahan segala keinginan itu. Sesuatu bernamakan keraguan telah membuat Alvin mundur. Alvin ragu kalau-kalau Sivia sudah tidak memiliki rasa apapun padanya.
Tanpa sadar Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. DEG…. Sivia merasakan ada sebuah getaran yang luar biasa yang tiba-tiba datang menyerang hatinya. Wajah Alvin semakin dekat, matanya tetap menatap lurus kearah dua bola mata Sivia. Perasaan Sivia semakin bercampur aduk tak karuan. Getaran dihati Sivia semakin membuncah hebat saat Alvin memiringkan posisi wajahnya, Sivia memejamkan matanya kuat-kuat. Pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Saat bibir Alvin nyaris saja menyentuh bibirnya tiba-tiba saja Handphone Sivia berbunyi, ia menerima sebuah panggilan masuk dari seseorang. Mendengar Handphone Sivia yang berbunyi, Alvin langsung mengurungkan niatnya, ia menoleh kearah lain sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Alvin dan Sivia sama-sama terlihat salah tingkah.
“Hallo Kak Iel…” sapa Sivia pada seorang disebrang sana yang ternyata adalah Gabriel. Raut wajah Alvin langsung berubah keruh.


^_^

            “Hay Kakak Ganteng...!!!” panggil Sivia dengan nada bicara yang ceria. Sivia berjalan dengan santai disamping Alvin. Mendengar Sivia memanggilnya dengan panggilan Kakak Ganteng Alvin langsung menghentikan langkahnya lantas menatap Sivia.
            “Via…elo…” kata Alvin bingung.
            “kenapa? Via keliatan cantik ya hari ini…?? Hihihi….makasih, tapi Kak Alvin itu orang ke 25 yang bilang Via cantik pagi ini…” kata Sivia sesantai mungkin. Hari ini Sivia telah kembali menjadi Sivia yang dulu, entah apa yang sudah membuatnya kembali lagi menjadi Sivia yang dulu.
            “Via, lo gak apa-apa kan…?” Tanya Alvin yang masih heran dengan perubahan Sivia pagi ini.
            “gak apa-apa gimana?? Emangnya Via kenapa? Via gak apa-apa kok….” Alvin memegang kedua pundak Sivia seraya menatap Sivia dengan tatapan yang berbinar.
            “Princess Lemot gue balik lagi….” Ucap Alvin antusias seraya menarik pipi Sivia dengan gemes.
            “iihhhh…. Kak Alvin apa-apaan sih? Sakit tau pipi Via Kak Alvin cubit kaya gitu… difikirnya gak sakit apa? Terus lagi pake ngatain Via Princess Lemot…. Yeee… Kak Alvin tuh yang lemot, Via kan pinter kaya Dora…”
            “Via…Via… lo itu emang bener-bener Princess Lemot ke…” Alvin tiba-tiba memotong ucapannya. Sivia langsung cemberut.
            “sekali lagi Kak Alvin bilang Via lemot, Via ngambek… Via gak mau jadi temen Kak Alvin lagi…” ancam Sivia sok sadis seraya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Alvin. Alvin berlari kecil menghampiri Sivia,
            “ciee… ngambek, lo jelek tau…”
            “biarin…” sinis Sivia,
            “sumpah lo jelek banget Vi….”
            “MAMAAAAA…. KAK ALVIN NGATAIN VIA JELEEEKK…..” Teriak Sivia sekencang-kencangnya. Mendengar teriakan Sivia, Alvin langsung menutup mulut Sivia menggunakan tangannya.
            “lo jangan tereak-tereak kali Vi….”
            “Emmmmm….” Sivia berusaha memukul-mukuli tangan Alvin supaya Alvin melepaskan tangannya dari mulutnya. Semakin kuat Sivia memberontak, semakin kuat juga Alvin membekap mulut Sivia.
            Saat membekap mulut Sivia, tanpa sadar Alvin terus saja menatap wajah cantik Sivia tanpa berkedip. Alvin tersenyum kecil seraya terus menatapi wajah Sivia. Sivia yang sudah mulai merasa tak tahan lagi akhirnya menggigit telapak tangan Alvin.
            “AAWW….” Rintih Alvin kesakitan seraya melepaskan tangannya dari mulut Sivia. Alvin meniup-niupi tangannya yang mulai memerah akibat gigitan dari Sivia.
            “AHAHAHAHA…. Rasain! Emang enak?? Kak Alvin jahil sih ama Via…” ledek Sivia. Ketika Sivia akan berlari meninggalkan Alvin, tiba-tiba saja Alvin mencekal pergelangan tangan Sivia lalu menariknya hingga dekat dengannya. Saking dekatnya jarak mereka hidung mereka nyaris saja bersentuhan. Alvin menatap mata Sivia dalam. Melihat tatapan Alvin, Sivia hanya bisa menelan ludah. Beberapa detik berlalu Alvin masih betah menatap kedua bola mata Sivia,
            “K…Kak… Vi… Via ma..masuk kelas yaa…?” kata Sivia gerogi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alvin. Sivia tak perlu melakukan usaha yang keras untuk melepaskan tangannya dari Alvin, karna Alvin melepaskan pergelangan tangan Sivia dengan begitu saja.
            Alvin memang melepaskan pergelangan tangan Sivia dengan begitu saja, tapi Alvin tidak melepaskan Sivia begitu saja. Kali ini Alvin melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sivia, Sivia semakin gerogi.
            “Kak…. Jangan gini, kan gak enak dilihat sama temen-temen…” kata Sivia pelan.
            “Via… ada yang mau Kak Alvin sampein ke Via… hari ini juga….” Kata Alvin setengah berbisik. Mungkinkah Alvin akan menyatakan perasaannya pada Sivia hari ini juga.
            “a..apa Kak..?” Tanya Sivia gugup.
            “Via….” Alvin memindahkan posisi tangannya. Kali ini ia meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya erat. Wajah Sivia semakin padam, jarak wajah mereka begitu dekat, belum lagi Alvin menatapnya lekat-lekat seperti itu, bagaimana Sivia tidak salah tingkah?
            “apa Kak…?” rasa penasaran Sivia mulai memuncak,
            “Kak Alvin sebenernya….” Alvin menggantungkan kalimatnya. Sivia semakin mati penasaran.
            “Kak Alvin….” Lagi-lagi Alvin memotong perkataannya. Siviapun menunduk sedalam-dalamnya. Alvin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
            “Kak Alvin sebenernya Say….”


            “VIAAAA....” panggil seseorang dari kejauhan. Alvin langsung melepaskan Sivia seraya menggaruk-garuk kepalanya.

           


                        BERSAMBUNG….        

0 comments:

Post a Comment