“Kau
hancurkan aku dengan sikapmu…
Tak
sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah
hati ini meyakinkanmu
CINTA
INI MEMBUNUHKU…..”
***
Juni,
2007 (SMP Persada)
“Via, boleh nanya sesuatu sama lo?” Tanya
Alvin sehati-hati mungkin saat dirinya bersama Sivia hanya duduk berdua saja
dibangku panjang yang terdapat didepan kelas mereka.
Sivia
yang sejak awal sudah bisa membaca gelagat Alvin hanya bisa mengangguk lemas
seraya menjawab,
“boleh”
“tapi
lo janji jangan marah ya?”
“iya
gue janji”
Alvin
menghela nafas beratnya, begitu juga dengan Sivia. Sebenarnya Sivia sudah
sangat tahu apa yang hendak ingin Alvin tanyakan padanya. Hanya saja sekarang
Sivia berusaha untuk pura-pura tidak tahu. Disamping itu Sivia merasa belum
siap mendapati kenyataan bahwa dugaannya benar. Sivia belum siap patah hati.
Beberapa
hari yang lalu, Sivia sempat mendengar kasak-kasuk dari Tim Cheerleader bahwa
Alvin tengah gencar mendekati Pricilla secara diam-diam dibelakangnya. Alvin
yang tergabung dalam Tim Basket SMP Persada dan Pricilla yang tergabung dalam
anggota Cheerleader SMP Persada semakin memudahkan jalan Alvin untuk mendekati
gadis Indo itu.
Awalnya
Sivia berusaha untuk tutup kuping rapat-rapat mengenai gossip yang kelamaan
mulai berkembang itu, namun sikap Alvin dan Pricilla yang sama sekali tidak
wajar ditambah lagi dengan laporan Ify bahwa ia pernah melihat Alvin jalan
berdua dengan Pricilla semakin menguatkan dugaan Sivia. Sivia selalu berharap
semuanya hanyalah gossip semata, tapi setelah hari ini Sivia akhirnya meyakini
bahwa diantara Alvin dan Pricilla memang ada sesuatu.
“Via,
elooo—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Ia menggigit bagian bawah bibirnya dan
terlihat sangat ragu melanjutkan pertanyaannya. Ia takut menyakiti hati Sivia.
“nggak
apa-apa, Vin. Lanjutin aja” ada nada ketidaksanggupan dari kalimat yang baru
saja Sivia lemparkan untuk Alvin.
Sekali
lagi Alvin menghela nafas panjang. Ia berusaha meyakinkan hatinya lalu dengan
berani menatap kedua mata Sivia,
“lo
masih ada rasa nggak sama gue?” Tanya Alvin pada akhirnya.
Tuh
kan? Benarkan dugaan Sivia? Rasa sakit itu perlahan mulai menyiksa hati Sivia.
Semua rasa yang selama ini ia simpan untuk Alvin juga semua kesetiaannya selama
setahun terakhir ini seakan menjelma menjadi segumpalan rasa aneh tak bernama
yang tiba-tiba saja menghimpit jantungnya hingga membuatnya susah bernafas.
Sesak.
Kedua
mata indah itu mulai memanas dan dan berangsur berkabut menyusahkan
pengelihatan Sivia. Menangis, Sivia ingin menangis. Tapi Sivia sadar ia tidak
boleh menangis dihadapan Alvin. Ia harus tetap terlihat tegar entah
bagaimanapun caranya.
“Vi…
Via kok lo diem?” Alvin mulai cemas.
Sivia
berusaha tersenyum, ia mengangkat wajahnya lalu dengan berani menantang tatapan
Alvin,
“menurut
lo?” Sivia berharap semoga getaran disuaranya tidak terdengar oleh Alvin. Dan
yang tidak kalah pentingnya bagi Sivia adalah, semoga Alvin bisa sedikit peka
dengan apa yang ia rasakan selama ini juga saat ini.
Kali
ini Alvin terlihat kebingungan. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan
Sivia, Alvin juga bingung dengan hatinya saat ini. Alvin memalingkan tatapannya
kedepan, ia mengangguk ragu beberapa kali lantas dengan pelan bergumam,
“hmmmm…
maybe”
Sivia
tertawa mencibir. Dengan sekuat hatinya Sivia berusaha meredam rasa sesak yang
kelamaan semakin menyiksa itu. Perlahan tangan kanan Sivia terangkat lalu
menoyor pelan kening Alvin,
“kegeeran
lo! Siapa juga yang masih ada rasa sama lo?”
Wajah
Alvin yang tadinya muram mendadak berubah semuringah dan penuh dengan
gurat-gurat kepuasan. Entah karna apa, tapi mungkin Pria itu sudah merasa bebas
sekarang. Alvin tersenyum amat lebar. Salah satu tangannya terangkat lalu
bergerak perlahan menyentuh puncak kepala Sivia. Satu hal yang detik ini bisa
Sivia tangkap dari Alvin; sebelumnya ia tidak pernah melihat Alvin sebahagia
seperti sekarang ini. Tidak sekalipun.
Alvin
menarik pelan Sivia dalam rangkulannya hingga dekat dengannya,
“kita
emang lebih cocok jadi sahabat, Via” ucap Alvin pelan. tapi ucapan Alvin itu
seolah menjelma menjadi sebuah sembilu yang mengiris-ngiris hati Sivia tanpa
ampun.
“lo
suka sama Pricill kan, Vin?” Tanya Sivia tiba-tiba yang langsung membuat Alvin
melepaskan rangkulannya dari pundak gadis itu. Alvin terdiam sejenak, ia
menatap Sivia dengan heran.
“tau
darimana lo? Gue kan belom curhat sama lo”
“begok!
Seluruh dunia juga tau kali kalo lo lagi jatuh cinta sama bule Jerman itu”
“sampe
segitunya ya?” Tanya Alvin dengan muka begok. Sivia mengangguk lalu tersenyum.
“Oya,
Via!”
“apaan
lagi?” sahut Sivia malas.
“kali
ini gue butuh bantuan lo!”
“bantuan
apa?”
Alvin
terdiam sejenak. Ia menatap Sivia penuh misteri. Tidak lama Alvin tersenyum
lantas menjawab pertanyaan Sivia,
“Comblangin
gue sama Pricill, ya?”
Jleb!
perkataan Alvin baru saja sukses menghujam jantung Sivia sedalam-dalamnya.
Ternyata Pria ini memang tidak pernah peka, ternyata selama ini Sivia memang
tidak pernah ada artinya bagi Alvin.
Saat
itu juga, tanpa Alvin tahu dan rasakan, Sivia menangis bisu tanpa air mata. Dan
rasanya sakit sekali…. Pedih.
***
Jakarta,
2009 (Rumah Shilla)
Alvin
yang semakin hari merasa semakin bingung dengan sikap Sivia akhirnya memutuskan
untuk menanyakan semuanya pada Shilla. Tentu saja Alvin berharap bahwa Shilla
akan mengetahui sesuatu dengan perubahan sikap Sivia padanya selama 2 tahun
terakhir ini.
Sebenarnya
sudah sejak lama Alvin merasa sanksi dengan perubahan sikap Sivia ini. Tapi mau
bagaimana lagi, Sivia adalah Sahabat Alvin, Alvin mana tega mencurigai
sahabatnya sendiri. Belum lagi selama ini Sivia sudah membantu banyak dalam
hubungan Alvin dan Pricilla.
Alvin
bisa berpacaran dengan Pricilla sampai selama ini juga karna andil dari Sivia.
Jika mereka berdua sedang menghadapi masalah, maka Sivia akan jadi orang
pertama yang membantu mereka memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.
Itulah yang membuat Alvin merasa sangat membutuhkan Sivia.
“lo
nanya kayak gitu bikin lo keliatan jahat dan nggak punya hati tau nggak, Vin?”
komentar Shilla setelah mendengarkan cerita Alvin. Alvin menatap Shilla dengan
kedua alis bertaut. Heran.
Shilla
mengambil buah apel yang ada dihadapannya, mengupasnya secara perlahan lalu
melanjutkan perkataannya,
“lo
tau kan dulu lo sempet ngelakuin pendekatan sama Via? Via juga keliatannya
cinta mati sama lo. Coba deh lo fikir-fikir, kalo aja Si Bule Jerman itu nggak
pernah hadir dikehidupan kalian mungkin sekarang lo sama Via udah jadi pasangan
paling bahagia sedunia”
“Shill—“
“please
lo jangan sela omongan gue dulu”
“Oke”
sahut Alvin pasrah.
“dan
tadi lo bilang, lo nanya ke Via kenapa semenjak lo jadian sama Pricill sikapnya
dia berubah aneh ke Pricill” Alvin mengangguk dengan wajah berfikir, “ya jelas
berubah lah. Lo begok apa stupid sih? Lo tau kan dulu Via pernah ada rasa sama
lo, jadi gue rasa perubahan sikapnya ke Pricill masih dibatas wajar. Lo nya aja
yang keterlaluan nanya-nanya ke Via, lo nggak fikirin apa perasaan anak orang?”
“Shill,
dulu sebelum gue jadian sama Pricill gue pernah nanya langsung ke Via, apa dia
masih ada rasa ke gue atau nggak, terus waktu itu Sivia malah bilang dia udah
nggak rasa apa-apa lagi ke gue”
“terus
lo percaya gitu aja?” Tanya Shilla sedikit keras. Alvin mengangguk paham.
Beberapa
saat kemudian Shilla langsung tertawa mencibir. Ia baru tahu bahwa ternyata
seorang Alvin Jonathan sebodoh ini.
“begok
lo! Ya jelaslah Via bilang dia udah nggak rasa apa-apa lagi ke elo, orang saat
itu dia udah tau kok kalo lo lagi gencer-gencernya ngedeketin Si Pricill”
“Haa?
Serius?”
“gue
nggak tau dugaan gue salah apa nggak, tapi entah kenapa gue ngerasa bahwa sampe
saat ini Via masih cinta sama lo, Vin. Bukan Cuma cinta, tapi cinta mati”
“nggak
mungkinlah”
“mau
percaya apa nggak, up to you” ujar Shilla lalu memakan potongan buah yang baru
saja ia potong.
Alvin
diam berfikir. Apa mungkin Sivia masih mencintainya hingga saat ini? Apa mungkin
Sivia merasa cemburu setiap kali melihat kedekatannya dengan Pricilla? Jika
iya, berarti selama ini Gadis itu benar-benar pandai menyembunyikan
perasaannya, dan jika iya, Alvin akan merasa menjadi orang paling jahat sedunia
karna sikapnya pada Sivia selama ini.
“kalopun
seandainya saat ini Via udah nggak rasa apa-apa lagi ke elo, seenggaknya lo
coba buat ngejaga perasaan dia. Biar bagaimanapun juga dulu kalian pernah
saling menyukai satu sama lain, sampe nyaris jadian kalo aja Bokap Nyokapnya
Via ngijinin Via pacaran waktu itu”
“Shill—“
“cobalah
untuk peka, Alvin. Sedikiiittt aja! Gue tau lo udah nggak mungkin lagi buat
ngebales perasaan Via, posisi lo sekarang udah ada yang memiliki, semuanya juga
tau kalo lo cinta banget sama Pricill, tapi seenggaknya lo coba buat ngejaga
perasaan Via. Mungkin didepen kita semua dia keliatan tegar, keliatan baik-baik
aja, tapi kedalaman hati seseorang siapa yang bisa mengukur Alvin? Gue rasa
nggak ada”
Alvin
mengangkat wajahnya lalu menatap Shilla datar, sepertinya ucapan Shilla kali
ini ada benarnya juga? Ya… Alvin mengaku, dia memang sudah sangat keterlaluan
selama 2 tahun terakhir ini.
“Via
itu cewek yang cerdik dan licik, Vin. Dia selalu punya cara buat nyembunyiin
perasaannya yang sebenernya, dia juga selalu punya cara buat menghindari diri
dari kecurigaan kita”
Alvin
diam, tidak membalas perkataan Shilla sama sekali. Beberapa saat kemudian Alvin
menunduk dalam, memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini? Memikirkan
bagaimana caranya menyelami fikiran Sivia yang selama ini seakan tak terjamah
olehnya.
“gue
akan minta maaf”
“ya,
memang itu yang harus lo lakuin sekarang”
***
Ketika
jarum jam sudah menunjukan pukul 22.00 Sivia keluar dari ruang siaran dan
langsung digantikan oleh Deva, teman sesama DJ nya di ANH- Radio. Setelah pamit
dengan beberapa kawan-kawan DJ nya Siviapun melangkah keluar dari studio.
Langkah
Sivia tiba-tiba terhenti ketika melihat satu sosok yang begitu ia kenal tengah
menunggunya di Loby. Sivia menghela nafas panjang lalu membuang wajahnya kearah
lain saat kedua mata Alvin menangkap tatapannya. Alvin tersenyum pahit.
Sepertinya ia bisa membaca apa yang ada dalam fikiran Sivia saat ini. Tentu
saja.
Sivia
berfikir, buat apa juga Alvin datang kestudionya malam minggu begini? Bukannya
malam minggu adalah malamnya bersama Pricilla? dan seharusnya mala mini Alvin
sedang bersama Pricilla. Tapi sekarang? Hhh… Sivia mendesah pelan. Alvin datang
menemuinya pasti karna butuh. Sivia meyakini bahwa mala mini Pricilla sedang
marah pada Alvin hingga akhirnya Alvin memutuskan untuk menemuinya distudio dan
meminta bantuannya. Hmm… Alvin memang selalu begitu kan? Tidak pernah berubah.
Alvin
bangkit dari sofa lalu berjalan perlahan menghampiri Sivia yang saat itu diam
mematung didepan lift.
“h..hay”
tegur Alvin ragu-ragu.
“ngapain
lagi lo kesini? Mau marah-marah lagi?” sinis Sivia.
Sabar,
Alvin harus sabar. Niatnya menemui Sivia mala mini adalah untuk meminta maaf.
Jika Alvin terpancing emosi maka urusannya akan semakin runyam.
“gue
minta maaf sama lo” ujar Alvin penuh tekanan.
Sivia
menatap Alvin tajam yang saat itu tengah menatapnya datar. Sulit ia percaya
bahwa Alvin datang menemuinya hanya untuk minta maaf. Sejak kapan Alvin jadi
pengertian seperti ini?
“minta
maaf?” ulang Sivia untuk mempertegas semuanya.
“iya
minta maaf”
“buat?”
Tanya Sivia lagi.
“buat
semuanya. Buat semua kesalahan gue selama ini”
Sivia
terdiam sejenak. Berusaha mencerna perkataan Alvin barusan. Apa Sivia tidak
salah dengar? Atau apa Alvin memang sudah peka dengan semuanya sekarang? Tapi
kenapa secepat ini?
Menanggapi
kediaman Sivia, Alvin mendesah tak sabar. Lalu dengan tidak tahu dirinya Alvin
berkata pada Sivia,
“Oke!
Gue anggep itu jawaban iya, dan gue anggep sekarang lo udah maafin gue”
“maksud
lo?” Sivia tidak paham.
Alvin
berdecak pelan. ia menarik pergelangan tangan Sivia lalu membawanya keluar
setengah paksa dari studio.
“temenin
gue makan malem” ujar Alvin dingin tanpa melepaskan pergelangan tangan Sivia.
Sivia hanya mengikutinya dengan pasrah.
***
Alvin
dan Sivia duduk berhadapan disebuah warung kaki lima. Sejak tadi yang Sivia
lakukan hanyalah menatap Alvin tanpa henti. Saat itu Alvin terlihat sangat
lahap menikmati Soto Ayamnya, sementara Sivia, ia belum sedikitpun menyentuh
mangkok Sotonya yang masih penuh. Sebenarnya Sivia masih sangat heran dengan
maksud dan tujuan Alvin mala mini. Sebuah pertanyaan timbul dikepala Sivia, Kenapa
tiba-tiba Alvin datang menemuinya dan meminta maaf tanpa memberikan penjelasan
apapun?
“gue
tau gue cakep. Tapi bisa kan lo nggak natap gue sampe kayak gitu?” ujar Alvin
tiba-tiba seraya tetap focus dengan makanan yang ada didepannya. Sivia terkesiap
lalu buru-buru membuang tatapannya kearah lain.
“lo
aneh” kata Sivia pelan.
Mendadak
Alvin mengehentikan ritual makannya, ia mengangkat wajahnya lalu menatap Sivia
yang entah kenapa mala mini terlihat sangat… manis.
“nggak
apa-apa dong aneh, yang penting intinya sekarang gue mau lo nemenin gue makan
sampe kenyang”
“lo
fikir gue baby siter lo apa?” ujar Sivia keki sambil menyedot Es Teh manis
pesananya. Alvin tersenyum jahil.
“terserah.
Yang penting kan sekarang lo udah ada disini nemenin gue” kata Alvin cuek lalu
kembali melanjutkan ritual makannya yang sempat terhenti.
“ehem,
Pricill gimana? Bukannya seharusnya male mini lo sama Pricill ya?”
“gue
maunya sama elo, gimana dong?”
“nggak
usah gombal”
“siapa
juga yang gombal? Emangnya lo ngerasa digombalin sama gue?”
“tau
deh”
“kok
tau deh?”
“BODO!!”
“Via…”
“Apaan??”
“boleh
nanya sesuatu??”
Deg….
Pertanyaan Alvin itu sukses menimbulkan sebuah getaran dijantung Sivia. Sivia
mendadak salah tingkah, ia juga tidak mengerti kenapa semuanya serba mendadak
seperti ini? Padahal Sivia sama sekali belum tahu menau apa yang ingin Alvin
tanyakan padanya, tapi kenapa mendadak suasananya menjadi seperti ini? Sumpah
demi apapun, Sivia merasa serba tidak nyaman.
“mau
nanya apa?”
“emmmm…”
Alvin sedikit terlihat ragu melanjutkan perkataannya, tapi Sivia sudah
terlanjur menunggunya. “emmm… keinginan lo apa?” dari nada bicara Alvin, sangat
terdengar jelas bahwa Alvin tengah berusaha membelokkan arah pertanyaannya.
Sivia
mendesah tak kentara. Ternyata Alvin hanya ingin menanyakan hal itu padanya?
Hanya itu. Seharusnya tadi Sivia tidak berharap terlalu tinggi.
“keinginan
gue?” ulang Sivia, Alvin mengangguk pasti,
“iya,
keinginan lo”
“keinginan
gue Cuma satu, tapi kayaknya nggak akan bisa gue gapai deh”
Kali
ini Alvin yang sedikit tersentak ketika mendengarkan perkataan Sivia. Perkataan
Sivia barusan seakan menyentilnya.
“e…
emangnya apa?”
Sivia
menatap Alvin dengan mata berbinar. Ia tersenyum lebar lalu menjawab pertanyaan
Alvin dengan mantap,
“gue
mau terbang dan nyentuh awan. Nggak mungkin bisa gue raih kan?” Sivia tersenyum
miris. Jika tadi Alvin merasa sedikit tersentil dengan perkataan Sivia, maka
kali ini Alvin merasa ada sebuah makna tersirat dibalik keinginan Sivia. Entah
apa itu, Alvin belum terlalu berani menyimpulkannya.
“keinginan
lo aneh. Tapi mungkin suatu saat nanti gue bisa kabulkan”
Sivia
terdiam sejenak. Apa sekarang Alvin sedang berusaha untuk memberikannya sebuah
harapan? Tidak, Sivia tidak ingin berharap lagi. Sudah cukup semua harapannya
selama 2 tahun terakhir ini menghempaskannya hingga membuatnya sulit untuk
bangkit. Sivia berjanji tidak akan terjatuh lagi hanya karna harapannya. Dulu
Alvin pernah memberikannya sebuah harapan hingga membuatnya berani bermimpi,
tapi ternyata harapan itu musnah seketika tak berbekas semenjak Pricilla hadir
dalam kehidupan mereka dan menghancurkan semuanya.
“caranya?”
Tanya Sivia pelan. beberapa saat setelah Sivia melontarkan pertanyaan itu pada
Alvin, ia langsung merutuki dirinya dalam hati. Tidak seharusnya Sivia bertanya
lagi pada Alvin. Bodoh, Sivia memang bodoh.
Alvin
mendekatkan wajahnya kearah Sivia hingga membuat Gadis itu sedikit menjauhkan
wajahnya dari Alvin. Alvin tersenyum lalu berbisik pelan tepat didepan wajah
Sivia,
“suatu
saat lo akan tau. Gue akan bawa lo terbang menyentuh awan, seperti apa yang lo
mau”
Sivia
menunduk dalam. Terserah Alvin mau berbicara apa saja saat ini, Sivia tidak
akan menghiraukannya. Ia sudah terlalu takut untuk berharap lagi.
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment