Thursday, July 18, 2013

0

Cinta Begini Chapter 3 –I Want To Fly And Touch The Clouds-





“Kau hancurkan aku dengan sikapmu…
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
CINTA INI MEMBUNUHKU…..”


***

Juni, 2007 (SMP Persada)


            “Via, boleh nanya sesuatu sama lo?” Tanya Alvin sehati-hati mungkin saat dirinya bersama Sivia hanya duduk berdua saja dibangku panjang yang terdapat didepan kelas mereka.
            Sivia yang sejak awal sudah bisa membaca gelagat Alvin hanya bisa mengangguk lemas seraya menjawab,
            “boleh”
            “tapi lo janji jangan marah ya?”
            “iya gue janji”
            Alvin menghela nafas beratnya, begitu juga dengan Sivia. Sebenarnya Sivia sudah sangat tahu apa yang hendak ingin Alvin tanyakan padanya. Hanya saja sekarang Sivia berusaha untuk pura-pura tidak tahu. Disamping itu Sivia merasa belum siap mendapati kenyataan bahwa dugaannya  benar. Sivia belum siap patah hati.
            Beberapa hari yang lalu, Sivia sempat mendengar kasak-kasuk dari Tim Cheerleader bahwa Alvin tengah gencar mendekati Pricilla secara diam-diam dibelakangnya. Alvin yang tergabung dalam Tim Basket SMP Persada dan Pricilla yang tergabung dalam anggota Cheerleader SMP Persada semakin memudahkan jalan Alvin untuk mendekati gadis Indo itu.
            Awalnya Sivia berusaha untuk tutup kuping rapat-rapat mengenai gossip yang kelamaan mulai berkembang itu, namun sikap Alvin dan Pricilla yang sama sekali tidak wajar ditambah lagi dengan laporan Ify bahwa ia pernah melihat Alvin jalan berdua dengan Pricilla semakin menguatkan dugaan Sivia. Sivia selalu berharap semuanya hanyalah gossip semata, tapi setelah hari ini Sivia akhirnya meyakini bahwa diantara Alvin dan Pricilla memang ada sesuatu.
            “Via, elooo—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Ia menggigit bagian bawah bibirnya dan terlihat sangat ragu melanjutkan pertanyaannya. Ia takut menyakiti hati Sivia.
            “nggak apa-apa, Vin. Lanjutin aja” ada nada ketidaksanggupan dari kalimat yang baru saja Sivia lemparkan untuk Alvin.
            Sekali lagi Alvin menghela nafas panjang. Ia berusaha meyakinkan hatinya lalu dengan berani menatap kedua mata Sivia,
            “lo masih ada rasa nggak sama gue?” Tanya Alvin pada akhirnya.
            Tuh kan? Benarkan dugaan Sivia? Rasa sakit itu perlahan mulai menyiksa hati Sivia. Semua rasa yang selama ini ia simpan untuk Alvin juga semua kesetiaannya selama setahun terakhir ini seakan menjelma menjadi segumpalan rasa aneh tak bernama yang tiba-tiba saja menghimpit jantungnya hingga membuatnya susah bernafas. Sesak.
            Kedua mata indah itu mulai memanas dan dan berangsur berkabut menyusahkan pengelihatan Sivia. Menangis, Sivia ingin menangis. Tapi Sivia sadar ia tidak boleh menangis dihadapan Alvin. Ia harus tetap terlihat tegar entah bagaimanapun caranya.
            “Vi… Via kok lo diem?” Alvin mulai cemas.
            Sivia berusaha tersenyum, ia mengangkat wajahnya lalu dengan berani menantang tatapan Alvin,
            “menurut lo?” Sivia berharap semoga getaran disuaranya tidak terdengar oleh Alvin. Dan yang tidak kalah pentingnya bagi Sivia adalah, semoga Alvin bisa sedikit peka dengan apa yang ia rasakan selama ini juga saat ini.
            Kali ini Alvin terlihat kebingungan. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Sivia, Alvin juga bingung dengan hatinya saat ini. Alvin memalingkan tatapannya kedepan, ia mengangguk ragu beberapa kali lantas dengan pelan bergumam,
            “hmmmm… maybe”
            Sivia tertawa mencibir. Dengan sekuat hatinya Sivia berusaha meredam rasa sesak yang kelamaan semakin menyiksa itu. Perlahan tangan kanan Sivia terangkat lalu menoyor pelan kening Alvin,
            “kegeeran lo! Siapa juga yang masih ada rasa sama lo?”
            Wajah Alvin yang tadinya muram mendadak berubah semuringah dan penuh dengan gurat-gurat kepuasan. Entah karna apa, tapi mungkin Pria itu sudah merasa bebas sekarang. Alvin tersenyum amat lebar. Salah satu tangannya terangkat lalu bergerak perlahan menyentuh puncak kepala Sivia. Satu hal yang detik ini bisa Sivia tangkap dari Alvin; sebelumnya ia tidak pernah melihat Alvin sebahagia seperti sekarang ini. Tidak sekalipun.
            Alvin menarik pelan Sivia dalam rangkulannya hingga dekat dengannya,
            “kita emang lebih cocok jadi sahabat, Via” ucap Alvin pelan. tapi ucapan Alvin itu seolah menjelma menjadi sebuah sembilu yang mengiris-ngiris hati Sivia tanpa ampun.
            “lo suka sama Pricill kan, Vin?” Tanya Sivia tiba-tiba yang langsung membuat Alvin melepaskan rangkulannya dari pundak gadis itu. Alvin terdiam sejenak, ia menatap Sivia dengan heran.
            “tau darimana lo? Gue kan belom curhat sama lo”
            “begok! Seluruh dunia juga tau kali kalo lo lagi jatuh cinta sama bule Jerman itu”
            “sampe segitunya ya?” Tanya Alvin dengan muka begok. Sivia mengangguk lalu tersenyum.
            “Oya, Via!”
            “apaan lagi?” sahut Sivia malas.
            “kali ini gue butuh bantuan lo!”
            “bantuan apa?”
            Alvin terdiam sejenak. Ia menatap Sivia penuh misteri. Tidak lama Alvin tersenyum lantas menjawab pertanyaan Sivia,

            “Comblangin gue sama Pricill, ya?”
            Jleb! perkataan Alvin baru saja sukses menghujam jantung Sivia sedalam-dalamnya. Ternyata Pria ini memang tidak pernah peka, ternyata selama ini Sivia memang tidak pernah ada artinya bagi Alvin.
            Saat itu juga, tanpa Alvin tahu dan rasakan, Sivia menangis bisu tanpa air mata. Dan rasanya sakit sekali…. Pedih.



***

Jakarta, 2009 (Rumah Shilla)


            Alvin yang semakin hari merasa semakin bingung dengan sikap Sivia akhirnya memutuskan untuk menanyakan semuanya pada Shilla. Tentu saja Alvin berharap bahwa Shilla akan mengetahui sesuatu dengan perubahan sikap Sivia padanya selama 2 tahun terakhir ini.
            Sebenarnya sudah sejak lama Alvin merasa sanksi dengan perubahan sikap Sivia ini. Tapi mau bagaimana lagi, Sivia adalah Sahabat Alvin, Alvin mana tega mencurigai sahabatnya sendiri. Belum lagi selama ini Sivia sudah membantu banyak dalam hubungan Alvin dan Pricilla.
            Alvin bisa berpacaran dengan Pricilla sampai selama ini juga karna andil dari Sivia. Jika mereka berdua sedang menghadapi masalah, maka Sivia akan jadi orang pertama yang membantu mereka memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi. Itulah yang membuat Alvin merasa sangat membutuhkan Sivia.
            “lo nanya kayak gitu bikin lo keliatan jahat dan nggak punya hati tau nggak, Vin?” komentar Shilla setelah mendengarkan cerita Alvin. Alvin menatap Shilla dengan kedua alis bertaut. Heran.
            Shilla mengambil buah apel yang ada dihadapannya, mengupasnya secara perlahan lalu melanjutkan perkataannya,
            “lo tau kan dulu lo sempet ngelakuin pendekatan sama Via? Via juga keliatannya cinta mati sama lo. Coba deh lo fikir-fikir, kalo aja Si Bule Jerman itu nggak pernah hadir dikehidupan kalian mungkin sekarang lo sama Via udah jadi pasangan paling bahagia sedunia”
            “Shill—“
            “please lo jangan sela omongan gue dulu”
            “Oke” sahut Alvin pasrah.
            “dan tadi lo bilang, lo nanya ke Via kenapa semenjak lo jadian sama Pricill sikapnya dia berubah aneh ke Pricill” Alvin mengangguk dengan wajah berfikir, “ya jelas berubah lah. Lo begok apa stupid sih? Lo tau kan dulu Via pernah ada rasa sama lo, jadi gue rasa perubahan sikapnya ke Pricill masih dibatas wajar. Lo nya aja yang keterlaluan nanya-nanya ke Via, lo nggak fikirin apa perasaan anak orang?”
            “Shill, dulu sebelum gue jadian sama Pricill gue pernah nanya langsung ke Via, apa dia masih ada rasa ke gue atau nggak, terus waktu itu Sivia malah bilang dia udah nggak rasa apa-apa lagi ke gue”
            “terus lo percaya gitu aja?” Tanya Shilla sedikit keras. Alvin mengangguk paham.
            Beberapa saat kemudian Shilla langsung tertawa mencibir. Ia baru tahu bahwa ternyata seorang Alvin Jonathan sebodoh ini.
            “begok lo! Ya jelaslah Via bilang dia udah nggak rasa apa-apa lagi ke elo, orang saat itu dia udah tau kok kalo lo lagi gencer-gencernya ngedeketin Si Pricill”
            “Haa? Serius?”
            “gue nggak tau dugaan gue salah apa nggak, tapi entah kenapa gue ngerasa bahwa sampe saat ini Via masih cinta sama lo, Vin. Bukan Cuma cinta, tapi cinta mati”
            “nggak mungkinlah”
            “mau percaya apa nggak, up to you” ujar Shilla lalu memakan potongan buah yang baru saja ia potong.
            Alvin diam berfikir. Apa mungkin Sivia masih mencintainya hingga saat ini? Apa mungkin Sivia merasa cemburu setiap kali melihat kedekatannya dengan Pricilla? Jika iya, berarti selama ini Gadis itu benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya, dan jika iya, Alvin akan merasa menjadi orang paling jahat sedunia karna sikapnya pada Sivia selama ini.
            “kalopun seandainya saat ini Via udah nggak rasa apa-apa lagi ke elo, seenggaknya lo coba buat ngejaga perasaan dia. Biar bagaimanapun juga dulu kalian pernah saling menyukai satu sama lain, sampe nyaris jadian kalo aja Bokap Nyokapnya Via ngijinin Via pacaran waktu itu”
            “Shill—“
            “cobalah untuk peka, Alvin. Sedikiiittt aja! Gue tau lo udah nggak mungkin lagi buat ngebales perasaan Via, posisi lo sekarang udah ada yang memiliki, semuanya juga tau kalo lo cinta banget sama Pricill, tapi seenggaknya lo coba buat ngejaga perasaan Via. Mungkin didepen kita semua dia keliatan tegar, keliatan baik-baik aja, tapi kedalaman hati seseorang siapa yang bisa mengukur Alvin? Gue rasa nggak ada”
            Alvin mengangkat wajahnya lalu menatap Shilla datar, sepertinya ucapan Shilla kali ini ada benarnya juga? Ya… Alvin mengaku, dia memang sudah sangat keterlaluan selama 2 tahun terakhir ini.
            “Via itu cewek yang cerdik dan licik, Vin. Dia selalu punya cara buat nyembunyiin perasaannya yang sebenernya, dia juga selalu punya cara buat menghindari diri dari kecurigaan kita”
            Alvin diam, tidak membalas perkataan Shilla sama sekali. Beberapa saat kemudian Alvin menunduk dalam, memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini? Memikirkan bagaimana caranya menyelami fikiran Sivia yang selama ini seakan tak terjamah olehnya.

            “gue akan minta maaf”
            “ya, memang itu yang harus lo lakuin sekarang”

***
            Ketika jarum jam sudah menunjukan pukul 22.00 Sivia keluar dari ruang siaran dan langsung digantikan oleh Deva, teman sesama DJ nya di ANH- Radio. Setelah pamit dengan beberapa kawan-kawan DJ nya Siviapun melangkah keluar dari studio.
            Langkah Sivia tiba-tiba terhenti ketika melihat satu sosok yang begitu ia kenal tengah menunggunya di Loby. Sivia menghela nafas panjang lalu membuang wajahnya kearah lain saat kedua mata Alvin menangkap tatapannya. Alvin tersenyum pahit. Sepertinya ia bisa membaca apa yang ada dalam fikiran Sivia saat ini. Tentu saja.
            Sivia berfikir, buat apa juga Alvin datang kestudionya malam minggu begini? Bukannya malam minggu adalah malamnya bersama Pricilla? dan seharusnya mala mini Alvin sedang bersama Pricilla. Tapi sekarang? Hhh… Sivia mendesah pelan. Alvin datang menemuinya pasti karna butuh. Sivia meyakini bahwa mala mini Pricilla sedang marah pada Alvin hingga akhirnya Alvin memutuskan untuk menemuinya distudio dan meminta bantuannya. Hmm… Alvin memang selalu begitu kan? Tidak pernah berubah.
            Alvin bangkit dari sofa lalu berjalan perlahan menghampiri Sivia yang saat itu diam mematung didepan lift.
            “h..hay” tegur Alvin ragu-ragu.
            “ngapain lagi lo kesini? Mau marah-marah lagi?” sinis Sivia.
            Sabar, Alvin harus sabar. Niatnya menemui Sivia mala mini adalah untuk meminta maaf. Jika Alvin terpancing emosi maka urusannya akan semakin runyam.
            “gue minta maaf sama lo” ujar Alvin penuh tekanan.
            Sivia menatap Alvin tajam yang saat itu tengah menatapnya datar. Sulit ia percaya bahwa Alvin datang menemuinya hanya untuk minta maaf. Sejak kapan Alvin jadi pengertian seperti ini?
            “minta maaf?” ulang Sivia untuk mempertegas semuanya.
            “iya minta maaf”
            “buat?” Tanya Sivia lagi.
            “buat semuanya. Buat semua kesalahan gue selama ini”
            Sivia terdiam sejenak. Berusaha mencerna perkataan Alvin barusan. Apa Sivia tidak salah dengar? Atau apa Alvin memang sudah peka dengan semuanya sekarang? Tapi kenapa secepat ini?
            Menanggapi kediaman Sivia, Alvin mendesah tak sabar. Lalu dengan tidak tahu dirinya Alvin berkata pada Sivia,
            “Oke! Gue anggep itu jawaban iya, dan gue anggep sekarang lo udah maafin gue”
            “maksud lo?” Sivia tidak paham.
            Alvin berdecak pelan. ia menarik pergelangan tangan Sivia lalu membawanya keluar setengah paksa dari studio.

            “temenin gue makan malem” ujar Alvin dingin tanpa melepaskan pergelangan tangan Sivia. Sivia hanya mengikutinya dengan pasrah.


***

            Alvin dan Sivia duduk berhadapan disebuah warung kaki lima. Sejak tadi yang Sivia lakukan hanyalah menatap Alvin tanpa henti. Saat itu Alvin terlihat sangat lahap menikmati Soto Ayamnya, sementara Sivia, ia belum sedikitpun menyentuh mangkok Sotonya yang masih penuh. Sebenarnya Sivia masih sangat heran dengan maksud dan tujuan Alvin mala mini. Sebuah pertanyaan timbul dikepala Sivia, Kenapa tiba-tiba Alvin datang menemuinya dan meminta maaf tanpa memberikan penjelasan apapun?
            “gue tau gue cakep. Tapi bisa kan lo nggak natap gue sampe kayak gitu?” ujar Alvin tiba-tiba seraya tetap focus dengan makanan yang ada didepannya. Sivia terkesiap lalu buru-buru membuang tatapannya kearah lain.
            “lo aneh” kata Sivia pelan.
            Mendadak Alvin mengehentikan ritual makannya, ia mengangkat wajahnya lalu menatap Sivia yang entah kenapa mala mini terlihat sangat… manis.
            “nggak apa-apa dong aneh, yang penting intinya sekarang gue mau lo nemenin gue makan sampe kenyang”
            “lo fikir gue baby siter lo apa?” ujar Sivia keki sambil menyedot Es Teh manis pesananya. Alvin tersenyum jahil.
            “terserah. Yang penting kan sekarang lo udah ada disini nemenin gue” kata Alvin cuek lalu kembali melanjutkan ritual makannya yang sempat terhenti.
            “ehem, Pricill gimana? Bukannya seharusnya male mini lo sama Pricill ya?”
            “gue maunya sama elo, gimana dong?”
            “nggak usah gombal”
            “siapa juga yang gombal? Emangnya lo ngerasa digombalin sama gue?”
            “tau deh”
            “kok tau deh?”
            “BODO!!”
            “Via…”
            “Apaan??”
            “boleh nanya sesuatu??”
            Deg…. Pertanyaan Alvin itu sukses menimbulkan sebuah getaran dijantung Sivia. Sivia mendadak salah tingkah, ia juga tidak mengerti kenapa semuanya serba mendadak seperti ini? Padahal Sivia sama sekali belum tahu menau apa yang ingin Alvin tanyakan padanya, tapi kenapa mendadak suasananya menjadi seperti ini? Sumpah demi apapun, Sivia merasa serba tidak nyaman.
            “mau nanya apa?”
            “emmmm…” Alvin sedikit terlihat ragu melanjutkan perkataannya, tapi Sivia sudah terlanjur menunggunya. “emmm… keinginan lo apa?” dari nada bicara Alvin, sangat terdengar jelas bahwa Alvin tengah berusaha membelokkan arah pertanyaannya.
            Sivia mendesah tak kentara. Ternyata Alvin hanya ingin menanyakan hal itu padanya? Hanya itu. Seharusnya tadi Sivia tidak berharap terlalu tinggi.
            “keinginan gue?” ulang Sivia, Alvin mengangguk pasti,
            “iya, keinginan lo”
            “keinginan gue Cuma satu, tapi kayaknya nggak akan bisa gue gapai deh”
            Kali ini Alvin yang sedikit tersentak ketika mendengarkan perkataan Sivia. Perkataan Sivia barusan seakan menyentilnya.
            “e… emangnya apa?”
            Sivia menatap Alvin dengan mata berbinar. Ia tersenyum lebar lalu menjawab pertanyaan Alvin dengan mantap,
            “gue mau terbang dan nyentuh awan. Nggak mungkin bisa gue raih kan?” Sivia tersenyum miris. Jika tadi Alvin merasa sedikit tersentil dengan perkataan Sivia, maka kali ini Alvin merasa ada sebuah makna tersirat dibalik keinginan Sivia. Entah apa itu, Alvin belum terlalu berani menyimpulkannya.
            “keinginan lo aneh. Tapi mungkin suatu saat nanti gue bisa kabulkan”
            Sivia terdiam sejenak. Apa sekarang Alvin sedang berusaha untuk memberikannya sebuah harapan? Tidak, Sivia tidak ingin berharap lagi. Sudah cukup semua harapannya selama 2 tahun terakhir ini menghempaskannya hingga membuatnya sulit untuk bangkit. Sivia berjanji tidak akan terjatuh lagi hanya karna harapannya. Dulu Alvin pernah memberikannya sebuah harapan hingga membuatnya berani bermimpi, tapi ternyata harapan itu musnah seketika tak berbekas semenjak Pricilla hadir dalam kehidupan mereka dan menghancurkan semuanya.
            “caranya?” Tanya Sivia pelan. beberapa saat setelah Sivia melontarkan pertanyaan itu pada Alvin, ia langsung merutuki dirinya dalam hati. Tidak seharusnya Sivia bertanya lagi pada Alvin. Bodoh, Sivia memang bodoh.
            Alvin mendekatkan wajahnya kearah Sivia hingga membuat Gadis itu sedikit menjauhkan wajahnya dari Alvin. Alvin tersenyum lalu berbisik pelan tepat didepan wajah Sivia,
            “suatu saat lo akan tau. Gue akan bawa lo terbang menyentuh awan, seperti apa yang lo mau”
            Sivia menunduk dalam. Terserah Alvin mau berbicara apa saja saat ini, Sivia tidak akan menghiraukannya. Ia sudah terlalu takut untuk berharap lagi.



                        BERSAMBUNG…
           

           
           

0 comments:

Post a Comment