Juni,
2009
Ify langsung saja memisahkan dirinya
dari Sivia, Shilla dan Rio ketika ia melihat sesosok cowok tampan berkulit
putih tengah menunggungnya didepan gerbang sekolahnya. Ify tersenyum lebar saat
itu juga. Cowok yang menunggu Ify itu adalah Ray, yang tidak lain dan tidak
bukan adalah Pacarnya sendiri. Ray dan Ify memang tidak satu sekolah, tapi
Cowok beraut wajah imut itu tidak pernah absen mengantar dan menjemputnya.
Itulah salah satu alasan dari beribu-ribu alasan yang membuat Ify begitu
menyayangi Ray.
“Pangeran lo tuh” ujar Sivia dengan
arah mata yang tertuju pada Ray beberapa saat sebelum Ify memisahkan diri dari
mereka. Ify hanya tersenyum malu-malu lalu pamit pada sahabat-sahabatnya,
“ya udah, gue duluan ya Guys…”
Ifypun berlari kecil menghampiri Ray yang mungkin sudah menunggunya lama.
Shilla melirik kearah Rio yang entah
kenapa tiba-tiba saja ekspresinya berubah 180 derajat dari ekspresinya semula.
Shilla tersenyum jahil, mendadak sebuah ide untuk menggoda Sahabatnya yang
paling Play Boy itu timbul begitu saja.
“Eheemmm…. PANASSSSSS…. CUACANYA
MENDADAK PANASSS, GERAAAHHH….” Shilla mulai mencari gara-gara. Sivia hanya
menatapnya dengan pandangan tidak mengerti. Shilla ini memang paling aneh
diantara semua sahabat-sahabatnya.
Rio langsung saja membuang
tatapannya dari Ify dan Ray, kini Rio menatap Shilla dengan tatapan pembunuh,
“lo kepanasan?” Tanya Rio dengan
nada penuh tekanan. Jika tidak ingat bahwa disana banyak orang, mungkin sudah sejak
tadi Rio mencekik leher Shilla.
Shilla hanya mengangguk beberapa
kali seraya berpura-pura mengipas-ngipasi wajahnya dengan salah satu telapak
tangannya. Rio mendekat kearah Shilla lalu berbisik sinis,
“loncat sono disumur! Gue yakin
gerah lo langsung ilang” Rio pun melangkah pergi meninggalkan Shilla dan Sivia.
Shilla dan Sivia saling menatap sejenak sambil mengangkat kedua bahu mereka
masing-masing dengan kedua alis terangkat.
“Buka iket rambut lo!” perintah Ray ketika Ify sudah
menghampirinya. Ify memegang kunciran rambutnya dengan pandangan bertanya.
“buka iket rambut lo!” perintah Ray
sekali lagi.
“gerah Ray….” Rengek Ify setengah
merajuk. Tapi nampaknya cowok berwajah imut itu tetap kekeuh pada pendiriannya.
“udah berkali-kali gue bilang keelo
gue nggak suka ngeliat lo iket rambut. Kenapa masih lo iket juga?” Ray
memperingatkan.
Ify menghela nafas panjang. Lalu
dengan patuh membuka kuncirannya. Ray memang tidak pernah suka melihat Ify
menguncir rambutnya. Ia lebih suka jika melihat Ify membiarkan rambutnya
tergerai.
Muhammad Raynald Prastya, cowok
berwajah imut itu berasal dari SMA Tunas Bangsa. Disekolahnya Ray sangat
populer karna keliahaiannya dalam menabuh Drum. Tak jarang juga, Ray sering
memenangkan kompetisi menabuh Drum baik tingkat Nasional maupun internasional.
Dimata orang-orang yang mengenalnya
Ray ini nyaris sempurna karna prestasi-prestasi yang telah berhasil ia
torehkan. Namun tidak banyak yang tahu, bahwa dibalik sikapnya yang nyaris
sempurna itu, Ray ternyata sangat angkuh. Ia paling suka mengatur-ngatur Ify
semenjak mereka baru pertama kali pacaran hingga saat ini. Tidak jarang juga,
Ray sering kali memaksakan kehendaknya pada Ify. Tapi Ify tidak sedikitpun
memiliki niat untuk mundur dari ikatannya dengan Ray. Ify tetap merasa nyaman
dengan Ray walaupun Ray terkadang sering kali mengekang ruang geraknya dan
cendrung menyakiti hatinya.
“dia cewek lo! Bukan boneka lo” ujar
Rio sesantai mungkin sambil berlalu dengan Ninja Hijaunya. Ray melirik tak suka
kearah Rio yang jaraknya sudah lumayan jauh dari jaraknya sekarang.
“bilang sama sahabat lo itu kalo gue
nggak suka sama sikapnya” kata Ray dingin lalu memasuki mobilnya. Ify hanya
mengangguk dengan raut bersalah yang teramat kentara diwajah cantiknya. Dalam
hati Ify merutuki tindakan Rio tadi.
“ayo masuk! Ngapain matung disitu?”
sinis Ray. Ify pun buru-buru memasuki mobil Ray sebelum pacaranya itu semakin
marah.
***
“Ya ampun Shill, Harmonika gue
ketinggalan diruang Musik” kata Sivia seraya menepuk keningnya sendiri saat ia
baru saja memasuki mobil milik Shilla.
“Ck, ah elu Vi. Ruang music kan
jauh, masa iya lo mau balik? Ambil besok ajalah”
“ogah, ntar harmonikanya keburu
ilang lagi. Elo tau kan kalo itu harmonica pemberiannya Bang Dayat sebagai
hadiah ulang tahun gue, dan gue nggak mau kehilangan harmonica itu” jelas Sivia
dengan wajah memelas. Harmonika pemberian dari Kakaknya itu memang adalah
barang paling berharga yang Sivia miliki.
Shilla menampakkan raut menyerah.
Shilla benar-benar merasa muak Jika Sivia sudah berdrama seperti ini.
“ya udah ya udah, lo ambil sana! Gue
tunggu disini, buruan”
“iya iya”
Siviapun keluar dari mobil Shilla
lalu berlari menyusuri areal parkir. Beberapa menit kemudian tibalah Sivia
diruang music, ia langsung tersenyum ketika itu. Pintu ruang music yang sedikit
terbuka membuat Sivia bisa melihat kedalam ruangan.
Dan langkah Sivia langsung terhenti
ketika ia melihat dua sosok muda mudi yang sangat ia kenal tengah berdua-duaan
didalam sana. Sivia sedikit menarik pintu itu untuk bisa melihat dengan jelas
apa yang tengah Alvin dan Pricilla lakukan.
“masakan kamu enak ya, sayang?” puji
Alvin pada masakan Pricilla yang memang sangat enak. Pricilla tersenyum
malu-malu dan kembali menyendokan sesendok nasi untuk Alvin,
“ya udah, diabisin dong kalo enak”
Pricilla menjulurkan sendok itu dihadapan Alvin. Dan dengan lahapnya Alvin
langsung menyambar suapan Pricilla.
“haha… kamu lucu banget sih sayang?
Makan nya pelan-pelan dong” ujar Pricilla seraya terkekeh geli ketika melihat
sebutir nasi yang tersisa ditepi bibir Alvin.
Pricillapun lalu menyingkirkan
sebutir nasi itu dari tepi bibir Alvin, namun ketika Pricilla akan menjauhkan
tangannya Alvin buru-buru menahannya. Alvin dan Pricilla saling menatap untuk
beberapa lama, mereka sama-sama bungkam dalam hening. Dalam hati mereka saling
memuji satu sama lain.
Perlahan Alvin menggenggam tangan
Pricilla lalu mengecupnya dengan lembut,
“Happy anniversary ya, Sayang?” ujar
Alvin pelan. Pricilla hanya mengangguk, sementara kedua pipinya mulai memerah.
Alvin mengangkat dagu Pricilla
dengan tangan kananya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Gadis itu.
Pricilla yang kaget langsung menutup kedua matanya.
Dan pemandangan itu benar-benar
menghantam jantung Sivia hingga remuk tak berbentuk lagi. Ia serasa tidak kuat
lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri, Bumi, Langit dan seluruh isinya
seakan rubuh. Kenapa? Kenapa Sivia harus
menyaksikan adegan yang menyesakkan dada itu?
Sivia berbalik. Lalu secara perlahan
berjalan menjauhi ruang music. Ia memegangi dadanya yang kelamaan semakin
terasa sesak. Air matanyapun sudah tidak sanggup lagi untuk ia bendung.
Pertahananya selama 2 tahun terakhir ini telah rubuh hari ini dan hanya dalam
hitungan detik saja. Perasaannya hancur sehancur-hancurnya.
Alvin telah benar-benar
menyakitinya. Baru beberapa hari yang lalu Alvin mengatakan bahwa ia akan
membawa Sivia terbang jauh hingga menyentuh awan, tapi ternyata hari ini, Alvin
malah menghempaskannya bahkan sebelum ia membawanya terbang. Rasanya sakit
sekali.
Sejak awal Alvin berkata bahwa ia
akan membawa Sivia terbang, sebenarnya Sivia tidak ingin menaruh harapan
apapun, ia takut sakit hati lagi. Tapi ucapan Pria itu yang benar-benar sangat
meyakinkan membuat Sivia luluh dan melawan keinginannya. Ia jatuh dalam harapan
semu nan hampa yang Alvin tawarkan. Dan sekarang hasilnya, Sivia terluka lagi.
Sivia semakin mempercepat
langkahnya. Entah kenapa rasanya setiap menit perih itu semakin bertambah.
Sivia tidak kuat lagi menahan semuanya, ia butuh pegangan.
***
Sivia menghempaskan tubuhnya dijok
depan mobil Shilla. Shilla yang heran melihat gelagat aneh Sivia langsung
menatap sahabatnya itu dengan kedua alis bertaut.
“harmonica lo kemana?”
“besok aja gue ambil” jawab Sivia
seadanya. Ia berusaha keras agar tidak
terisak didepan Shilla. Biar bagaimanapun Sivia tidak boleh terlihat rapuh
didepan Shilla. Sivia harus tetap kuat apapun yang terjadi.
“rese lo! Udah gue tunggu juga eehh
ujung-ujungnya tetep lo ambil besok”
“udah jalan sekarang!”
Shilla mulai curiga. Pasti ada yang
tidak beres dengan Sivia, dan Shilla yakin dengan kecurigaannya itu.
“Via lo baik-baik aja kan?” Tanya
Shilla sehati-hati mungkin.
Sivia terdiam, tidak berniat untuk
menjawab pertanyaan yang Shilla lemparkan. Saat ini otaknya sedang tidak bisa
bekerja dengan baik. Semuanya benar-benar kacau.
“Vi… Via…” Shilla menggerakan pundak
Sivia dengan pelan. kedua pundak Sivia yang bergetar hebat membuat Shilla
menyadari bahwa Sivia sedang menangis. Shilla mulai panic.
“Via lo kenapa? Lo nangis?” Tanya
Shilla cemas. Sivia tahu-tahu mengangkat wajahnya yang ketika itu sudah
berlinang air mata. Ia menatap Shilla nanar, perlahan ia memegang dadanya,
dengan susah payah Sivia berkata,
“rasanya…. Ra.. rasanya sakiiitt
banget Shill…. Disini sakit bangeeettt, sakiiittt…” Sivia terisak,
“ya ampun Via lo kenapa?”
“gue nggak tahan, Shill, nggak tahan
lagi. Kenapa rasanya harus…. Kenapa harus sesakit ini, kenapa? Hiks….”
Kelamaan Shilla paham, semua ini
pasti karna Alvin dan Pricilla. Meskipun Sivia tidak pernah bercerita padanya
secara langsung, Sejak awal Shilla memang sudah yakin bahwa Sivia masih
menyimpan rasa untuk Alvin.
“Alvin?” Tanya Shilla pelan takut
membuat Sivia semakin sakit hati. Sivia mengangguk berkali-kali, mungkin ini
sudah saatnya untuk ia jujur pada seseorang, dan Shilla adalah pilihan yang
tepat.
“eloo…” ujar Shilla seraya menunjuk
kearah Sivia. Sivia langsung mengangguk beberapa kali lalu menghambur kepelukan
Shilla,
“gue masih cinta sama Alvin, sangat
cinta dan gue sakit banget tiap kali gue ngeliat dia sama Pricill, rasanya
sakittt banget, hahahaha….” Sivia tertawa ditengah isakkannya.
Shilla memejamkan matanya untuk
beberapa saat. Ia telah menduga bahwa selama ini Sivia memang masih sangat
mencintai Alvin, hanya saja Shilla tidak pernah tahu bahwa Sivia ternyata
sesakit ini. Shilla menepuk punggung Sivia beberapa kali untuk sedikit
menenangkan perasaan Sahabatnya itu.
“terus kenapa lo nggak pernah jujur
selama ini?” Sivia menggeleng dalam pelukan Shilla,
“gue takut, gue takut Alvin nggak
bisa tenang ngejalanin hubungannya sama Pricill kalo dia tau gue masih cinta
sama dia, gue takut Alvin ngerasa terbebani, gue nggak mau itu terjadi”
“Via, lo itu terlalu mikirin
perasaan Alvin tau nggak? Coba deh sekaliiii aja lo fikirin perasaan lo,
sekaliiii aja…”
“gue nggak mau egois”
“jujur bukan berarti egois, Vi.
Justru kalo lo nggak jujur dan malah pura-pura baik-baik saja didepan semua
orang, elo itu kesannya munafik banget, Via”
“gue tau gue munafik, tapi gue nggak
bisa, gue nggak bisa, Shill”
“kalo begitu lo jangan salahin
Alvin, biar bagaimanapun Alvin nggak tau apa-apa, kalo lo mau jujur sama Alvin
seenggaknya Alvin akan berusaha buat ngejaga perasaan lo, tapi ini?”
Kali ini Sivia terdiam. Tidak tahu
lagi bagaimana harus membalas perkataan Shilla. Ya, Shilla memang benar. Ini
semua salahnya, salahnya yang selama ini enggan mengakui perasaannya, salahnya
yang selama ini selalu saja bersembunyi dibalik tembok kemunfaikannya.
Salahnya, ini semua salahnya, bukan salah siapapun apalagi Alvin.
‘Bukan Via, ini bukan
salah lo, ini semua memang salah Alvin. Sekalipun lo nggak pernah nyatain
perasaan elo ke dia, sedikit tidaknya Alvin pasti tau kalo lo masih cinta sama
dia, dan akan sangat munafik jika Alvin nggak tau apa-apa tentang perasaan lo.
Alvin Cuma pura-pura nggak mau tau, Via….’ Ujar Shilla dalam hati sambil terus
menepuk punggung Sivia yang bergetar.
***
Sivia melangkah gontai kearah pintu
ketika mendengarkan ada seseorang yang memencet bel rumahnya. Siang itu Sivia
hanya sendiri dirumah. Ibu dan Ayahnya sedang menghadiri acara arisan keluarga,
sementara Bagas Adiknya baru saja pergi les. Beberapa saat yang lalu Sivia
sudah menghubungi Shilla dan memintanya untuk menemaninya dirumah. Mungkin
sekarang Shilla sedang dalam perjalanan, atau bisa jadi Shilla yang datang.
Sivia membuka pintu rumahnya, dan
betapa terkejutnya ia ketika ia melihat bahwa yang datang bukanlah Shilla,
melainkan Alvin. Pria yang beberapa jam yang lalu sukses membuat jantungnya
remuk sampai tak berbentuk lagi. Sivia menghela nafas panjang, seperti biasa,
Alvin terlihat santai, ia seolah tidak memiliki beban apapun.
“eh elo, Vin….” Ujar Sivia tanpa
minat.
“kok reaksi lo gitu sih?” Tanya
Alvin tiba-tiba,
“emang reaksi gue gimana?”
“yaaa… reaksi lo kayak nggak
menginginkan kedatengan gue kerumah lo”
“Ck… Cuma perasaan lo doang” ujar
Sivia seraya berdecak kecil,
“ya udah masuk yuk!” ajak Sivia
berusaha bersikap wajar dihadapan pria ini.
Alvin melihat kedalam rumah Sivia
yang terlihat sepi,
“lo sendirian dirumah?”
“ya begitulah” jawab Sivia
sekenannya,
“kalo gitu gue diluar aja”
“up to you” Sivia berjalan melewati
Alvin lalu duduk dikursi yang sudah disediakan diberanda rumahnya. Beberapa
saat kemudian Alvin mengikuti Sivia.
Jujur saja, siang ini Alvin merasa
ada yang aneh dengan Sivia. Selama ini mana pernah Sivia bersikap dingin pada
Alvin seperti hari ini. Benar-benar aneh. Pasti ada yang tidak beres, fikir
Alvin.
“ada apa nih lo kerumah gue
siang-siang begini? Nggak biasanya” tegur Sivia saat Alvin baru saja duduk
disampingnya. Alvin mendesah pelan lalu melirik kearah Sivia,
“gue kesini mau minta bantuan lo”
ujar Alvin to the point.
Untuk beberapa saat Sivia diam
berfikir. Hmmm…. Pasti ini menyangkut Pricilla. Apalagi kan hari ini bertepatan
dengan hari jadi mereka yang ke-2, sudah pasti Alvin ingin minta bantuannya
untuk menyiapkan surprise buat Pricilla. Tahun lalu juga Alvin minta
bantuannya.
Sivia mengangguk pelan, ia menaikkan
kedua kakinya keatas kursi lalu memeluk lututnya dengan erat. Jika tahun lalu
Sivia menerima begitu saja membantu Alvin untuk menyiapkan surprise, maka
ditahun ini berbeda. Entah kenapa hati kecil Sivia mulai membrontak. Rasanya
terlalu menyakitkan jika Sivia harus membantu Alvin, apalagi setelah Sivia
menyaksikan adegan didalam ruang music tadi, rasanya benar-benar…. Hhh sungguh
tidak bisa digambarkan oleh kata-kata.
“bantuan apa? Kalo menyangkut
surprise buat Pricilla di anniversary kalian kali ini—“ Sivia menghela nafas
panjang sebelum melanjutkan perkataannya. Kali ini Sivia harus bisa tegas agar
hatinya tidak terus-terusan sakit seperti ini. Sivia harus berani menolak jika
tidak ingin terluka lagi, “maaf gue nggak bisa bantu” lanjut Sivia dengan berat
hati.
Kedua mata Alvin langsung membelalak
lebar. Ada apa dengan Sivia? Tidak biasanya ia seperti ini.
Sivia menatap Alvin yang saat itu
tengah menatapnya dengan raut bertanya. Sivia berusaha tersenyum diatas
kepedihan hatinya,
“kalo mau, minta bantuan Shilla aja,
atau Ify, mereka cukup kreatif kok kalo soal surprise, asal jangan minta
bantuan Rio aja, hahaha” Sivia tertawa kaku. Siviapun kembali mengalihkan
tatapannya kearah lain. Ia merasa tidak
sanggup kalau harus menatap kedua mata Alvin lebih lama lagi.
“kalo nggak ada yang mau lo omongin
lagi, mending lo pulang. Gue mau istirahat, hari ini gue lagi nggak enak badan”
Sivia bangkit dari samping Alvin dan
berlalu begitu saja melewati Alvin yang saat itu masih diselimuti oleh
keheranan tingkat tinggi. Alvin benar-benar tidak mengerti dengan sikap aneh
Sivia hari ini. Apa Alvin pernah membuat sebuah kesalahan? Tapi kesalahan apa
yang telah Alvin perbuat hingga membuat Sivia sampai semarah itu padanya?
“lo kenapa sih Via hari ini berubah
aneh?” pertanyaan Alvin itu sukses membuat Sivia menghentikan langkahnya.
“nggak biasanya lo kayak gini, Via.
Ini bukan Via yang gue kenal” lanjut Alvin. Sivia masih betah dengan posisinya
sekarang, tidak sedikitpun ia memiliki niat untuk berbalik dan menatap Alvin.
“gue Cuma mau minta bantuan lo, Via,
Cuma lo. Gue nggak mau bantuan Ify ataupun Shilla, gue maunya Cuma lo, karna
Cuma lo yang gue percaya” ujar Alvin dengan nada putus asa. Sivia menghela
nafas beratnya, dan ketika ia menghembuskannya entah kenapa terasa begitu
perih. Apakah ini saatnya?
“bisa nggak, Vin? Sekaliiii aja lo
nggak ngelibatin gue dalam hubungan lo sama Pricill”
“maksud lo?”
“gue capek Alvin, gue capek
terus-terusan lo manfaatin kayak gini, apa lo nggak pernah mikir perasaan gue?”
perkataan itu mengalir begitu saja dari mulut Sivia tanpa pernah ia
menginginkan. Ada sedikit rasa menyesal, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya
sudah terlanjur. Sekalian saja Sivia membongkar semuanya hari ini.
“dulu, waktu lo setengah mati naksir
Pricill, lo minta gue buat ngebantuin lo ngedeketin dia, waktu kalian udah
deket, lo minta gue buat ngebantuin lo supaya jadian sama dia. Nggak cukup
sampe disitu, setelah lo jadianpun lo tetep nggak bisa ngelepasin gue, ada
masalah dikit lo ngelapor sama gue, Pricill ngambek sama lo, lo minta gue yang
ngebujuk, mau ngasih surprise ke Pricill gue yang harus turun tangan, apa lo
nggak pernah mikirin perasaan gue, Alvin? Sekaliiii aja pernah kah lo nyoba
buat mikirin perasaan gue?”
“pe… perasaan?” Tanya Alvin mendadak
gagap. Kali ini Sivia berbalik menatap Alvin. Air matanya sudah tertahan
dipelupuk mata dan telah siap merembes keluar.
“iya perasaan gue” Sivia mengangguk
dengan mantap. Ia pun menujuk dadanya lantas kembali berkata pada Alvin,
“lo tau? Disini rasanya sakiitttt
banget, Vin, gue hampir-hampir mau mati karna sikap lo selama ini yang seolah
sengaja nyakitin perasaan gue, disini sakitttt banget” sebulir air mata Sivia
akhirnya terjatuh membasahi wajah mulusnya. Alvin terdiam, berusaha mencerna perkataan
Sivia dengan baik.
Sivia berjalan menghampiri Alvin, ia
memegang kedua pundak Alvin. Isakkan itu sudah tidak kuasa lagi ia tahan, dan
isakkan itu benar-benar terdengar memilukan, menyayat hati. Sivia menunduk
untuk beberapa saat, tidak lama Sivia kembali mengangkat wajahnya dan dengan
berani menantang kedua manik mata Alvin,
“tatap mata gue, Alvin. Dan dengerin
ini—“ Sivia menghela nafas sejenak,
“Alvin Jonathan, gue masih cinta,
selalu cinta, dan belum bisa ngelupain lo sampe detik ini, tiap kali ngeliat lo
sama Pricill rasanya hati gue sakitttt banget, dan gue nggak bisa terus-terusan
kayak gitu, tapi lo… elo sekalipun nggak pernah bisa peka sama perasaan gue,
yang ada lo malah semakin gencar nyakitin gue, lo pernah bayangin gimana
rasanya jadi gue? Bertahun-tahun memendam perasaan buat seseorang yang nggak
pernah bisa peka, lo bisa ngebayangin gimana sakitnya?” Sivia menggeleng. Alvin
yang shock sama sekali tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Kerja otaknya
mendadak lumpuh, inikah kesakitan yang selama 3 tahu ini Sivia pendam? Sejahat
ini kah Alvin selama 3 tahun ini?
“lo nggak pernah tau kan, Vin?
Gimana lo tau, kalo elo aja nggak pernah mau tau, dan nggak pernah berusaha
untuk tau”
“lo seakan nggak pernah bosen
nyakitin gue, lo teruuus aja nyakitin gue lagi, lagi dan lagi, gue capek Alvin,
dan lo musti tau, hari ini gue menyerah, karna gue sadar kalo gue udah kalah”
“S.. Sivia” gumam Alvin pelan,
Sivia tahu-tahu meraih kerah baju
Alvin, dengan emosi yang yang tidak kuasa lagi ia tahan Sivia berkata,
“GUE CINTA SAMA LO ALVIN JONATHAN,
GUE CINTA SAMA LO, LO TAU NGGAK??” Air mata Sivia semakin deras menetes. Semua
apa yang ia pendam selama 3 tahun terakhir ini akhirnya terbongkar hari ini.
Semuanya meledak begitu saja seperti bom waktu.
“tapi lo nggak usah merasa bersalah,
Vin. Gue nggak ada maksud apa-apa kok dibalik semua ini” Kali ini emosi Sivia
bisa sedikit mereda, Sivia menyeka air matanya dan berusaha tersenyum,
“gue ngelakuin ini semua supaya lo
bisa sedikit peka, seenggaknya berusahalah untuk nyelesein masalah lo sendiri
tanpa harus melibatkan banyak orang, apalagi sampe harus nyakitin orang. Gue
juga punya hati, Alvin… sama kayak lo. Bukankah hati setiap orang sama-sama
mengharap bahagia kan? Jadi bisa kan mulai sekarang kita saling ngejaga
perasaan masing-masing?”
***
Ketika jarum jam sudah menunjukan
pukul 8 malam, Alvin sudah duduk manis disebuah restoran yang telah ia pesan
khusus untuk merayakan hari jadinya dengan Pricilla yang kedua. Alvin duduk
merenung dimejanya. Raganya saat itu mungkin sedang berada disana, tapi tidak
dengan jiwa dan fikirannya. Semua perkataan Sivia siang tadi terus saja
berpendar diingatannya.
Kenapa? Kenapa Alvin harus sejahat
itu pada Sivia? Bukankah selama ini Sivia yang telah banyak membantunya? Kenapa
justru Alvin membalas semuanya dengan cara menyakiti hati gadis itu? Ini semua
benar-benar tidak adil untuk Sivia, dan Alvin sadar dengan itu.
Waktu terus berjalan, tidak terasa
hampir setengah jam sudah Alvin menunggu Pricilla direstoran itu, tapi hingga
detik ini Pricilla belum juga menampakkan tanda-tanda kehadirannya. Kemana dia?
Perhatian Alvin tiba-tiba saja
tertuju pada kotak berwarna putih yang ada dihadapannya. Alvin meraih kotak itu
lalu membukanya, sebuah kalung berlian berbandul bintang terdapat dalam kotak
itu. Kalung itulah yang akan Alvin berikan untuk Pricilla. Melihat kalung itu,
Alvin tiba-tiba saja teringat bahwa dulu ia membeli kalung itu bersama Sivia,
Alvin tersenyum kecil ketika mengingatnya.
Flashback
Alvin;
Sivia tahu-tahu kaget
ketika Alvin berdiri dibelakangnya dan memasangkannya sebuah kalung berlian
yang sangat cantik. Sivia diam mematung seraya melihat bayangan dirinya
dicermin. Kalung itu benar-benar sangat cantik dan Sivia suka.
“gimana kalungnya? Bagus kan?” Tanya
Alvin pelan. Ia memegang kedua pundak
Sivia lalu menatap bayangan wajah Sivia dicermin, sama seperti yang Sivia
lakukan. Saat itu Sivia sedang dalam posisi duduk, sementara Alvin berdiri
dibelakangnya. Jantung Sivia berdegub pelan tapi kelamaan makin kencang dan
susah ia kendalikan. Pesona Alvin begitu kuat memikatnya.
“Pia… jawab gue kek!” kata Alvin tak
sabar. Ia masih betah memandangi bayangan Sivia dicermin.
Sivia terkesiap lalu buru-buru
mengangguk. Dengan susah payah Sivia akhirnya bisa mengeluarkan komentarnya,
“ba.. bagus! Gue suka”
“Excellent!” ucap Alvin antusias
lalu kembali melepaskan kalung itu dari leher Sivia.
Alvin mengangkat kalung itu dengan
kedua jari tangannya lalu memperhatikannya baik-baik. Sivia memutar kursinya
dan mengikuti arah pandangan Alvin,
“Pricill pasti suka. Ya kan?” Alvin
menoleh kearah Sivia.
~
Alvin langsung membuyarkan
ingatannya ketika ia merasakan handphonenya bergetar. Alvinpun meraih
handphonenya. Ternyata ia menerima satu pesan masuk dari Pricilla. Tanpa
membuang-buang waktu lagi Alvin langsung membaca pesan dari Pricilla yang
berisi,
From;
My Lovely
Happy
anniversary, Sayaaangg :)
Malem
ini kmu pasti kecewa bgt karna aku nggak dateng.
Aku
minta maaf yah?
Tapi
perlu kamu tau, saat kamu membaca pesan ini
Aku
udah nggak ada di Indonesia lagi.
Maaf
karna aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini, Alvin,
Maaafff
bgt.
Dan
aku minta sama kamu, kalo kmu emang syg sama aku,
Please
lupain aku, dan jangan pernah cari tau tentang aku lagi.
Alvin,
apapun keadaannya sekarang dan nanti,
I
will always love you… forever…
Sekali
lagi aku minta maaf…
Alvin merasakan dadanya bergemuruh
setelah membaca sepenggal pesan singkat yang Pricilla kirimkan. Benarkah
Pricilla pergi meninggalkannya? Ataukah semua ini hanyalah bagian dari rencana
Surprise yang hendak Pricilla berikan padanya?
Alvin benar-benar sulit memahami
semuanya. Jika memang Pricilla harus pergi meninggalkannya, lalu kenapa
Pricilla harus pergi dengan cara seperti ini? Apa selama ini Alvin memang tidak
pernah ada artinya bagi Pricilla hingga Pricilla pergi meninggalkan Alvin
dengan cara seperti ini.
Alvin yang sudah tidak tahu lagi
harus berbuat apa akhirnya memutuskan untuk menelpon Pricilla, namun sial,
nomer Pricilla sudah dalam keadaan tidak aktif. Gadis itu pasti sudah mengganti
nomer ponselnya. Alvin mengerang putus asa lalu membanting ponselnya diatas
meja.
Beberapa saat kemudian perhatian
Alvin tertuju pada kotak berwarna putih tadi. Dalam satu gerakan cepat Alvin
meraih kotak itu, membukanya lalu melempar kalung berlian itu entah kemana.
Pricilla sudah benar-benar menyakiti Alvin. Sekejam itukah Pricilla? Pergi
meninggalkan Alvin tanpa satu alasan yang jelas.
Alvin mendesis sinis. Ia bangkit
dari kursinya lalu berdiri disisi kolam renang yang sudah dihiasi dengan
beberapa lampion. Alvin menghela nafas beberapa kali, Alvin baru tau bahwa ternyata
patah hati akan sesakit ini rasanya. Perlahan tanpa Alvin sadari sebulir air
matanya menetes, Alvin merasakan sesak yang tidak tertahankan didadanya,
sekarang Alvin baru bisa merasakan kesakitan yang Sivia rasakan selama ini.
“PRICIIIILLLLLLLLLL……!!! GUE BENCI
SAMA LO!! GUE BERSUMPAH NGGAK AKAN PERNAH MAAFIN LO! KENAPA LO HARUS PERGI
TANPA ALASAN SEPERTI INI?? KENAPAAAA??? GUE SALAH APA SAMA LO, PRICIIILLLL??
GUE SALAH APAAAAA???” Teriak Alvin sekencang-kencangnya. Ditempat itu Alvin
benar-benar sendiri, tidak ada satupun makhluk yang mendengar teriakannya
kecuali seorang Gadis yang mengenakan dress putih selutut yang saat itu berdiri
dibelakangnya seraya menatapnya dengan tatapan miris.
Gadis itu mengambil kembali kalung
berlian yang tadi Alvin buang dengan sembarang. Ia menjulurkan kalung itu
didepan wajahnya untuk beberapa saat lalu menyimpannya didada. Ia mengenggam
kuat-kuat kalung berlian itu ditangan kirinya lalu melangkah perlahan
menghampiri Alvin yang ketika sudah duduk bersimpuh ditepi kolam renang.
Gadis itu menghentikan langkahnya
tepat didepan Alvin, tidak lama ia pun mengulurkan tangan kanannya untuk Alvin,
sementara tangan kirinya yang menggenggam kalung itu ia sembunyikan dibelakang
punggugnya.
Alvin terkesiap, ia menatap sejenak
tangan yang terulur itu. Perlahan Alvin mengangkat wajahnya. Seulas senyum
manis langsung menyambutnya.
“Vi… Via?” lirih Alvin dengan suara
bergetar,
“iya gue, ayo!”
Alvin menghela nafas panjang dan
berusaha meredam rasa perih yang kini menyiksanya. Tanpa mengeluarkan sepatah
katapun, Alvin langsung menerima uluran tangan Sivia dan berdiri berhadapan
dengan Gadis itu. Sivia kembali tersenyum pada Alvin.
Alvin dan Sivia saling menatap satu
sama lain untuk sejenak. Tidak lama Alvin meraih pinggang Sivia lalu membawanya
kedalam dekapannya. Saat itu juga Sivia langsung memejamkan matanya, berusaha
merasakan kehangatan dari pelukan Alvin yang baru pertama kali Alvin berikan
padanya. Ragu-ragu Sivia membalas pelukan Alvin. Tanpa Alvin tahu, kalung
berlian itu masih berada dalam genggaman Sivia.
“MAAF….” Lirih Alvin pelan seraya
mengeratkan pelukannya pada Sivia. Sivia yang merasa tidak sanggup mengeluarkan
sepatah katapun hanya bisa mengangguk bisu dalam rengkuhan Pria itu. Sivia
membelai lembut rambut Alvin, berusaha memberikannya sedikit saja ketenangan.
Tidak bisa aku hitung
sudah berapa kali kau menyakitiku, Tidak bisa aku hitung lagi sudah berapa luka
yang kau torehkan didinding hatiku secara bertubu-tubi. Tapi satu yang pasti,
tidak pernah sekalipun aku membencimu, tidak pernah sekalipun aku ingin
melihatmu tersakiti sebagaimana aku. Aku ingin kau tetap bahagia… untuk itulah,
saat melihatmu terjatuh aku memilih untuk langsung menangkapmu… aku hanya tidak
ingin kau merasakan sakit yang aku rasakan selama ini… tidak pernah ingin…. Aku
berjanji, akan perbaiki sayap-sayapmu yang patah, aku berjanji akan membuatmu
bisa terbang kembali hingga menyentuh awan… aku berjanji…. Semoga suatu saat
nanti, kau akan mengajak aku terbang bersamamu, dan semoga suatu saat nanti,
kau ijinkan aku untuk bisa menyentuh awan bersamamu, hanya bersamamu…
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment