Tuesday, July 16, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 5 -You Hurting Me (Again)-





Juni, 2009

                Ify langsung saja memisahkan dirinya dari Sivia, Shilla dan Rio ketika ia melihat sesosok cowok tampan berkulit putih tengah menunggungnya didepan gerbang sekolahnya. Ify tersenyum lebar saat itu juga. Cowok yang menunggu Ify itu adalah Ray, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pacarnya sendiri. Ray dan Ify memang tidak satu sekolah, tapi Cowok beraut wajah imut itu tidak pernah absen mengantar dan menjemputnya. Itulah salah satu alasan dari beribu-ribu alasan yang membuat Ify begitu menyayangi Ray.
            “Pangeran lo tuh” ujar Sivia dengan arah mata yang tertuju pada Ray beberapa saat sebelum Ify memisahkan diri dari mereka. Ify hanya tersenyum malu-malu lalu pamit pada sahabat-sahabatnya,
            “ya udah, gue duluan ya Guys…” Ifypun berlari kecil menghampiri Ray yang mungkin sudah menunggunya lama.
            Shilla melirik kearah Rio yang entah kenapa tiba-tiba saja ekspresinya berubah 180 derajat dari ekspresinya semula. Shilla tersenyum jahil, mendadak sebuah ide untuk menggoda Sahabatnya yang paling Play Boy itu timbul begitu saja.
            “Eheemmm…. PANASSSSSS…. CUACANYA MENDADAK PANASSS, GERAAAHHH….” Shilla mulai mencari gara-gara. Sivia hanya menatapnya dengan pandangan tidak mengerti. Shilla ini memang paling aneh diantara semua sahabat-sahabatnya.
            Rio langsung saja membuang tatapannya dari Ify dan Ray, kini Rio menatap Shilla dengan tatapan pembunuh,
            “lo kepanasan?” Tanya Rio dengan nada penuh tekanan. Jika tidak ingat bahwa disana banyak orang, mungkin sudah sejak tadi Rio mencekik leher Shilla.
            Shilla hanya mengangguk beberapa kali seraya berpura-pura mengipas-ngipasi wajahnya dengan salah satu telapak tangannya. Rio mendekat kearah Shilla lalu berbisik sinis,
            “loncat sono disumur! Gue yakin gerah lo langsung ilang” Rio pun melangkah pergi meninggalkan Shilla dan Sivia. Shilla dan Sivia saling menatap sejenak sambil mengangkat kedua bahu mereka masing-masing dengan kedua alis terangkat.
           
“Buka iket rambut lo!” perintah Ray ketika Ify sudah menghampirinya. Ify memegang kunciran rambutnya dengan pandangan bertanya.
            “buka iket rambut lo!” perintah Ray sekali lagi.
            “gerah Ray….” Rengek Ify setengah merajuk. Tapi nampaknya cowok berwajah imut itu tetap kekeuh pada pendiriannya.
            “udah berkali-kali gue bilang keelo gue nggak suka ngeliat lo iket rambut. Kenapa masih lo iket juga?” Ray memperingatkan.
            Ify menghela nafas panjang. Lalu dengan patuh membuka kuncirannya. Ray memang tidak pernah suka melihat Ify menguncir rambutnya. Ia lebih suka jika melihat Ify membiarkan rambutnya tergerai.
            Muhammad Raynald Prastya, cowok berwajah imut itu berasal dari SMA Tunas Bangsa. Disekolahnya Ray sangat populer karna keliahaiannya dalam menabuh Drum. Tak jarang juga, Ray sering memenangkan kompetisi menabuh Drum baik tingkat Nasional maupun internasional.
            Dimata orang-orang yang mengenalnya Ray ini nyaris sempurna karna prestasi-prestasi yang telah berhasil ia torehkan. Namun tidak banyak yang tahu, bahwa dibalik sikapnya yang nyaris sempurna itu, Ray ternyata sangat angkuh. Ia paling suka mengatur-ngatur Ify semenjak mereka baru pertama kali pacaran hingga saat ini. Tidak jarang juga, Ray sering kali memaksakan kehendaknya pada Ify. Tapi Ify tidak sedikitpun memiliki niat untuk mundur dari ikatannya dengan Ray. Ify tetap merasa nyaman dengan Ray walaupun Ray terkadang sering kali mengekang ruang geraknya dan cendrung menyakiti hatinya.
            “dia cewek lo! Bukan boneka lo” ujar Rio sesantai mungkin sambil berlalu dengan Ninja Hijaunya. Ray melirik tak suka kearah Rio yang jaraknya sudah lumayan jauh dari jaraknya sekarang.
            “bilang sama sahabat lo itu kalo gue nggak suka sama sikapnya” kata Ray dingin lalu memasuki mobilnya. Ify hanya mengangguk dengan raut bersalah yang teramat kentara diwajah cantiknya. Dalam hati Ify merutuki tindakan Rio tadi.
            “ayo masuk! Ngapain matung disitu?” sinis Ray. Ify pun buru-buru memasuki mobil Ray sebelum pacaranya itu semakin marah.

***

            “Ya ampun Shill, Harmonika gue ketinggalan diruang Musik” kata Sivia seraya menepuk keningnya sendiri saat ia baru saja memasuki mobil milik Shilla.
            “Ck, ah elu Vi. Ruang music kan jauh, masa iya lo mau balik? Ambil besok ajalah”
            “ogah, ntar harmonikanya keburu ilang lagi. Elo tau kan kalo itu harmonica pemberiannya Bang Dayat sebagai hadiah ulang tahun gue, dan gue nggak mau kehilangan harmonica itu” jelas Sivia dengan wajah memelas. Harmonika pemberian dari Kakaknya itu memang adalah barang paling berharga yang Sivia miliki.
            Shilla menampakkan raut menyerah. Shilla benar-benar merasa muak Jika Sivia sudah berdrama seperti ini.
            “ya udah ya udah, lo ambil sana! Gue tunggu disini, buruan”
            “iya iya”
            Siviapun keluar dari mobil Shilla lalu berlari menyusuri areal parkir. Beberapa menit kemudian tibalah Sivia diruang music, ia langsung tersenyum ketika itu. Pintu ruang music yang sedikit terbuka membuat Sivia bisa melihat kedalam ruangan.
            Dan langkah Sivia langsung terhenti ketika ia melihat dua sosok muda mudi yang sangat ia kenal tengah berdua-duaan didalam sana. Sivia sedikit menarik pintu itu untuk bisa melihat dengan jelas apa yang tengah Alvin dan Pricilla lakukan.
            “masakan kamu enak ya, sayang?” puji Alvin pada masakan Pricilla yang memang sangat enak. Pricilla tersenyum malu-malu dan kembali menyendokan sesendok nasi untuk Alvin,
            “ya udah, diabisin dong kalo enak” Pricilla menjulurkan sendok itu dihadapan Alvin. Dan dengan lahapnya Alvin langsung menyambar suapan Pricilla.
            “haha… kamu lucu banget sih sayang? Makan nya pelan-pelan dong” ujar Pricilla seraya terkekeh geli ketika melihat sebutir nasi yang tersisa ditepi bibir Alvin.
            Pricillapun lalu menyingkirkan sebutir nasi itu dari tepi bibir Alvin, namun ketika Pricilla akan menjauhkan tangannya Alvin buru-buru menahannya. Alvin dan Pricilla saling menatap untuk beberapa lama, mereka sama-sama bungkam dalam hening. Dalam hati mereka saling memuji satu sama lain.
            Perlahan Alvin menggenggam tangan Pricilla lalu mengecupnya dengan lembut,
            “Happy anniversary ya, Sayang?” ujar Alvin pelan. Pricilla hanya mengangguk, sementara kedua pipinya mulai memerah.
            Alvin mengangkat dagu Pricilla dengan tangan kananya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Gadis itu. Pricilla yang kaget langsung menutup kedua matanya.
            Dan pemandangan itu benar-benar menghantam jantung Sivia hingga remuk tak berbentuk lagi. Ia serasa tidak kuat lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri, Bumi, Langit dan seluruh isinya seakan  rubuh. Kenapa? Kenapa Sivia harus menyaksikan adegan yang menyesakkan dada itu?
            Sivia berbalik. Lalu secara perlahan berjalan menjauhi ruang music. Ia memegangi dadanya yang kelamaan semakin terasa sesak. Air matanyapun sudah tidak sanggup lagi untuk ia bendung. Pertahananya selama 2 tahun terakhir ini telah rubuh hari ini dan hanya dalam hitungan detik saja. Perasaannya hancur sehancur-hancurnya.
            Alvin telah benar-benar menyakitinya. Baru beberapa hari yang lalu Alvin mengatakan bahwa ia akan membawa Sivia terbang jauh hingga menyentuh awan, tapi ternyata hari ini, Alvin malah menghempaskannya bahkan sebelum ia membawanya terbang. Rasanya sakit sekali.
            Sejak awal Alvin berkata bahwa ia akan membawa Sivia terbang, sebenarnya Sivia tidak ingin menaruh harapan apapun, ia takut sakit hati lagi. Tapi ucapan Pria itu yang benar-benar sangat meyakinkan membuat Sivia luluh dan melawan keinginannya. Ia jatuh dalam harapan semu nan hampa yang Alvin tawarkan. Dan sekarang hasilnya, Sivia terluka lagi.
            Sivia semakin mempercepat langkahnya. Entah kenapa rasanya setiap menit perih itu semakin bertambah. Sivia tidak kuat lagi menahan semuanya, ia butuh pegangan.

***

            Sivia menghempaskan tubuhnya dijok depan mobil Shilla. Shilla yang heran melihat gelagat aneh Sivia langsung menatap sahabatnya itu dengan kedua alis bertaut.
            “harmonica lo kemana?”
            “besok aja gue ambil” jawab Sivia seadanya. Ia berusaha keras agar  tidak terisak didepan Shilla. Biar bagaimanapun Sivia tidak boleh terlihat rapuh didepan Shilla. Sivia harus tetap kuat apapun yang terjadi.
            “rese lo! Udah gue tunggu juga eehh ujung-ujungnya tetep lo ambil besok”
            “udah jalan sekarang!”
            Shilla mulai curiga. Pasti ada yang tidak beres dengan Sivia, dan Shilla yakin dengan kecurigaannya itu.
            “Via lo baik-baik aja kan?” Tanya Shilla sehati-hati mungkin.
            Sivia terdiam, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang Shilla lemparkan. Saat ini otaknya sedang tidak bisa bekerja dengan baik. Semuanya benar-benar kacau.
            “Vi… Via…” Shilla menggerakan pundak Sivia dengan pelan. kedua pundak Sivia yang bergetar hebat membuat Shilla menyadari bahwa Sivia sedang menangis. Shilla mulai panic.
            “Via lo kenapa? Lo nangis?” Tanya Shilla cemas. Sivia tahu-tahu mengangkat wajahnya yang ketika itu sudah berlinang air mata. Ia menatap Shilla nanar, perlahan ia memegang dadanya, dengan susah payah Sivia berkata,
            “rasanya…. Ra.. rasanya sakiiitt banget Shill…. Disini sakit bangeeettt, sakiiittt…” Sivia terisak,
            “ya ampun Via lo kenapa?”
            “gue nggak tahan, Shill, nggak tahan lagi. Kenapa rasanya harus…. Kenapa harus sesakit ini, kenapa? Hiks….”
            Kelamaan Shilla paham, semua ini pasti karna Alvin dan Pricilla. Meskipun Sivia tidak pernah bercerita padanya secara langsung, Sejak awal Shilla memang sudah yakin bahwa Sivia masih menyimpan rasa untuk Alvin.
            “Alvin?” Tanya Shilla pelan takut membuat Sivia semakin sakit hati. Sivia mengangguk berkali-kali, mungkin ini sudah saatnya untuk ia jujur pada seseorang, dan Shilla adalah pilihan yang tepat.
            “eloo…” ujar Shilla seraya menunjuk kearah Sivia. Sivia langsung mengangguk beberapa kali lalu menghambur kepelukan Shilla,
            “gue masih cinta sama Alvin, sangat cinta dan gue sakit banget tiap kali gue ngeliat dia sama Pricill, rasanya sakittt banget, hahahaha….” Sivia tertawa ditengah isakkannya.
            Shilla memejamkan matanya untuk beberapa saat. Ia telah menduga bahwa selama ini Sivia memang masih sangat mencintai Alvin, hanya saja Shilla tidak pernah tahu bahwa Sivia ternyata sesakit ini. Shilla menepuk punggung Sivia beberapa kali untuk sedikit menenangkan perasaan Sahabatnya itu.
            “terus kenapa lo nggak pernah jujur selama ini?” Sivia menggeleng dalam pelukan Shilla,
            “gue takut, gue takut Alvin nggak bisa tenang ngejalanin hubungannya sama Pricill kalo dia tau gue masih cinta sama dia, gue takut Alvin ngerasa terbebani, gue nggak mau itu terjadi”
            “Via, lo itu terlalu mikirin perasaan Alvin tau nggak? Coba deh sekaliiii aja lo fikirin perasaan lo, sekaliiii aja…”
            “gue nggak mau egois”
            “jujur bukan berarti egois, Vi. Justru kalo lo nggak jujur dan malah pura-pura baik-baik saja didepan semua orang, elo itu kesannya munafik banget, Via”
            “gue tau gue munafik, tapi gue nggak bisa, gue nggak bisa, Shill”
            “kalo begitu lo jangan salahin Alvin, biar bagaimanapun Alvin nggak tau apa-apa, kalo lo mau jujur sama Alvin seenggaknya Alvin akan berusaha buat ngejaga perasaan lo, tapi ini?”
            Kali ini Sivia terdiam. Tidak tahu lagi bagaimana harus membalas perkataan Shilla. Ya, Shilla memang benar. Ini semua salahnya, salahnya yang selama ini enggan mengakui perasaannya, salahnya yang selama ini selalu saja bersembunyi dibalik tembok kemunfaikannya. Salahnya, ini semua salahnya, bukan salah siapapun apalagi Alvin.

            ‘Bukan Via, ini bukan salah lo, ini semua memang salah Alvin. Sekalipun lo nggak pernah nyatain perasaan elo ke dia, sedikit tidaknya Alvin pasti tau kalo lo masih cinta sama dia, dan akan sangat munafik jika Alvin nggak tau apa-apa tentang perasaan lo. Alvin Cuma pura-pura nggak mau tau, Via….’ Ujar Shilla dalam hati sambil terus menepuk punggung Sivia yang bergetar.


***

            Sivia melangkah gontai kearah pintu ketika mendengarkan ada seseorang yang memencet bel rumahnya. Siang itu Sivia hanya sendiri dirumah. Ibu dan Ayahnya sedang menghadiri acara arisan keluarga, sementara Bagas Adiknya baru saja pergi les. Beberapa saat yang lalu Sivia sudah menghubungi Shilla dan memintanya untuk menemaninya dirumah. Mungkin sekarang Shilla sedang dalam perjalanan, atau bisa jadi Shilla yang datang.
            Sivia membuka pintu rumahnya, dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat bahwa yang datang bukanlah Shilla, melainkan Alvin. Pria yang beberapa jam yang lalu sukses membuat jantungnya remuk sampai tak berbentuk lagi. Sivia menghela nafas panjang, seperti biasa, Alvin terlihat santai, ia seolah tidak memiliki beban apapun.
            “eh elo, Vin….” Ujar Sivia tanpa minat.
            “kok reaksi lo gitu sih?” Tanya Alvin tiba-tiba,
            “emang reaksi gue gimana?”
            “yaaa… reaksi lo kayak nggak menginginkan kedatengan gue kerumah lo”
            “Ck… Cuma perasaan lo doang” ujar Sivia seraya berdecak kecil,
            “ya udah masuk yuk!” ajak Sivia berusaha bersikap wajar dihadapan pria ini.
            Alvin melihat kedalam rumah Sivia yang terlihat sepi,
            “lo sendirian dirumah?”
            “ya begitulah” jawab Sivia sekenannya,
            “kalo gitu gue diluar aja”
            “up to you” Sivia berjalan melewati Alvin lalu duduk dikursi yang sudah disediakan diberanda rumahnya. Beberapa saat kemudian Alvin mengikuti Sivia.
            Jujur saja, siang ini Alvin merasa ada yang aneh dengan Sivia. Selama ini mana pernah Sivia bersikap dingin pada Alvin seperti hari ini. Benar-benar aneh. Pasti ada yang tidak beres, fikir Alvin.
            “ada apa nih lo kerumah gue siang-siang begini? Nggak biasanya” tegur Sivia saat Alvin baru saja duduk disampingnya. Alvin mendesah pelan lalu melirik kearah Sivia,
            “gue kesini mau minta bantuan lo” ujar Alvin to the point.
            Untuk beberapa saat Sivia diam berfikir. Hmmm…. Pasti ini menyangkut Pricilla. Apalagi kan hari ini bertepatan dengan hari jadi mereka yang ke-2, sudah pasti Alvin ingin minta bantuannya untuk menyiapkan surprise buat Pricilla. Tahun lalu juga Alvin minta bantuannya.
            Sivia mengangguk pelan, ia menaikkan kedua kakinya keatas kursi lalu memeluk lututnya dengan erat. Jika tahun lalu Sivia menerima begitu saja membantu Alvin untuk menyiapkan surprise, maka ditahun ini berbeda. Entah kenapa hati kecil Sivia mulai membrontak. Rasanya terlalu menyakitkan jika Sivia harus membantu Alvin, apalagi setelah Sivia menyaksikan adegan didalam ruang music tadi, rasanya benar-benar…. Hhh sungguh tidak bisa digambarkan oleh kata-kata.
            “bantuan apa? Kalo menyangkut surprise buat Pricilla di anniversary kalian kali ini—“ Sivia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. Kali ini Sivia harus bisa tegas agar hatinya tidak terus-terusan sakit seperti ini. Sivia harus berani menolak jika tidak ingin terluka lagi, “maaf gue nggak bisa bantu” lanjut Sivia dengan berat hati.
            Kedua mata Alvin langsung membelalak lebar. Ada apa dengan Sivia? Tidak biasanya ia seperti ini.
            Sivia menatap Alvin yang saat itu tengah menatapnya dengan raut bertanya. Sivia berusaha tersenyum diatas kepedihan hatinya,
            “kalo mau, minta bantuan Shilla aja, atau Ify, mereka cukup kreatif kok kalo soal surprise, asal jangan minta bantuan Rio aja, hahaha” Sivia tertawa kaku. Siviapun kembali mengalihkan tatapannya kearah lain. Ia  merasa tidak sanggup kalau harus menatap kedua mata Alvin lebih lama lagi.
            “kalo nggak ada yang mau lo omongin lagi, mending lo pulang. Gue mau istirahat, hari ini gue lagi nggak enak badan”
            Sivia bangkit dari samping Alvin dan berlalu begitu saja melewati Alvin yang saat itu masih diselimuti oleh keheranan tingkat tinggi. Alvin benar-benar tidak mengerti dengan sikap aneh Sivia hari ini. Apa Alvin pernah membuat sebuah kesalahan? Tapi kesalahan apa yang telah Alvin perbuat hingga membuat Sivia sampai semarah itu padanya?
            “lo kenapa sih Via hari ini berubah aneh?” pertanyaan Alvin itu sukses membuat Sivia menghentikan langkahnya.
            “nggak biasanya lo kayak gini, Via. Ini bukan Via yang gue kenal” lanjut Alvin. Sivia masih betah dengan posisinya sekarang, tidak sedikitpun ia memiliki niat untuk berbalik dan menatap Alvin.
            “gue Cuma mau minta bantuan lo, Via, Cuma lo. Gue nggak mau bantuan Ify ataupun Shilla, gue maunya Cuma lo, karna Cuma lo yang gue percaya” ujar Alvin dengan nada putus asa. Sivia menghela nafas beratnya, dan ketika ia menghembuskannya entah kenapa terasa begitu perih. Apakah ini saatnya?
            “bisa nggak, Vin? Sekaliiii aja lo nggak ngelibatin gue dalam hubungan lo sama Pricill”
            “maksud lo?”
            “gue capek Alvin, gue capek terus-terusan lo manfaatin kayak gini, apa lo nggak pernah mikir perasaan gue?” perkataan itu mengalir begitu saja dari mulut Sivia tanpa pernah ia menginginkan. Ada sedikit rasa menyesal, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur. Sekalian saja Sivia membongkar semuanya hari ini.
            “dulu, waktu lo setengah mati naksir Pricill, lo minta gue buat ngebantuin lo ngedeketin dia, waktu kalian udah deket, lo minta gue buat ngebantuin lo supaya jadian sama dia. Nggak cukup sampe disitu, setelah lo jadianpun lo tetep nggak bisa ngelepasin gue, ada masalah dikit lo ngelapor sama gue, Pricill ngambek sama lo, lo minta gue yang ngebujuk, mau ngasih surprise ke Pricill gue yang harus turun tangan, apa lo nggak pernah mikirin perasaan gue, Alvin? Sekaliiii aja pernah kah lo nyoba buat mikirin perasaan gue?”
            “pe… perasaan?” Tanya Alvin mendadak gagap. Kali ini Sivia berbalik menatap Alvin. Air matanya sudah tertahan dipelupuk mata dan telah siap merembes keluar.
            “iya perasaan gue” Sivia mengangguk dengan mantap. Ia pun menujuk dadanya lantas kembali berkata pada Alvin,
            “lo tau? Disini rasanya sakiitttt banget, Vin, gue hampir-hampir mau mati karna sikap lo selama ini yang seolah sengaja nyakitin perasaan gue, disini sakitttt banget” sebulir air mata Sivia akhirnya terjatuh membasahi wajah mulusnya. Alvin terdiam, berusaha mencerna perkataan Sivia dengan baik.
            Sivia berjalan menghampiri Alvin, ia memegang kedua pundak Alvin. Isakkan itu sudah tidak kuasa lagi ia tahan, dan isakkan itu benar-benar terdengar memilukan, menyayat hati. Sivia menunduk untuk beberapa saat, tidak lama Sivia kembali mengangkat wajahnya dan dengan berani menantang kedua manik mata Alvin,
            “tatap mata gue, Alvin. Dan dengerin ini—“ Sivia menghela nafas sejenak,
            “Alvin Jonathan, gue masih cinta, selalu cinta, dan belum bisa ngelupain lo sampe detik ini, tiap kali ngeliat lo sama Pricill rasanya hati gue sakitttt banget, dan gue nggak bisa terus-terusan kayak gitu, tapi lo… elo sekalipun nggak pernah bisa peka sama perasaan gue, yang ada lo malah semakin gencar nyakitin gue, lo pernah bayangin gimana rasanya jadi gue? Bertahun-tahun memendam perasaan buat seseorang yang nggak pernah bisa peka, lo bisa ngebayangin gimana sakitnya?” Sivia menggeleng. Alvin yang shock sama sekali tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Kerja otaknya mendadak lumpuh, inikah kesakitan yang selama 3 tahu ini Sivia pendam? Sejahat ini kah Alvin selama 3 tahun ini?
            “lo nggak pernah tau kan, Vin? Gimana lo tau, kalo elo aja nggak pernah mau tau, dan nggak pernah berusaha untuk tau”
            “lo seakan nggak pernah bosen nyakitin gue, lo teruuus aja nyakitin gue lagi, lagi dan lagi, gue capek Alvin, dan lo musti tau, hari ini gue menyerah, karna gue sadar kalo gue udah kalah”
            “S.. Sivia” gumam Alvin pelan,
            Sivia tahu-tahu meraih kerah baju Alvin, dengan emosi yang yang tidak kuasa lagi ia tahan Sivia berkata,
            “GUE CINTA SAMA LO ALVIN JONATHAN, GUE CINTA SAMA LO, LO TAU NGGAK??” Air mata Sivia semakin deras menetes. Semua apa yang ia pendam selama 3 tahun terakhir ini akhirnya terbongkar hari ini. Semuanya meledak begitu saja seperti bom waktu.
            “tapi lo nggak usah merasa bersalah, Vin. Gue nggak ada maksud apa-apa kok dibalik semua ini” Kali ini emosi Sivia bisa sedikit mereda, Sivia menyeka air matanya dan berusaha tersenyum,
            “gue ngelakuin ini semua supaya lo bisa sedikit peka, seenggaknya berusahalah untuk nyelesein masalah lo sendiri tanpa harus melibatkan banyak orang, apalagi sampe harus nyakitin orang. Gue juga punya hati, Alvin… sama kayak lo. Bukankah hati setiap orang sama-sama mengharap bahagia kan? Jadi bisa kan mulai sekarang kita saling ngejaga perasaan masing-masing?”


***

            Ketika jarum jam sudah menunjukan pukul 8 malam, Alvin sudah duduk manis disebuah restoran yang telah ia pesan khusus untuk merayakan hari jadinya dengan Pricilla yang kedua. Alvin duduk merenung dimejanya. Raganya saat itu mungkin sedang berada disana, tapi tidak dengan jiwa dan fikirannya. Semua perkataan Sivia siang tadi terus saja berpendar diingatannya.
            Kenapa? Kenapa Alvin harus sejahat itu pada Sivia? Bukankah selama ini Sivia yang telah banyak membantunya? Kenapa justru Alvin membalas semuanya dengan cara menyakiti hati gadis itu? Ini semua benar-benar tidak adil untuk Sivia, dan Alvin sadar dengan itu.
            Waktu terus berjalan, tidak terasa hampir setengah jam sudah Alvin menunggu Pricilla direstoran itu, tapi hingga detik ini Pricilla belum juga menampakkan tanda-tanda kehadirannya. Kemana dia?
            Perhatian Alvin tiba-tiba saja tertuju pada kotak berwarna putih yang ada dihadapannya. Alvin meraih kotak itu lalu membukanya, sebuah kalung berlian berbandul bintang terdapat dalam kotak itu. Kalung itulah yang akan Alvin berikan untuk Pricilla. Melihat kalung itu, Alvin tiba-tiba saja teringat bahwa dulu ia membeli kalung itu bersama Sivia, Alvin tersenyum kecil ketika mengingatnya.

Flashback Alvin;

Sivia tahu-tahu kaget ketika Alvin berdiri dibelakangnya dan memasangkannya sebuah kalung berlian yang sangat cantik. Sivia diam mematung seraya melihat bayangan dirinya dicermin. Kalung itu benar-benar sangat cantik dan Sivia suka.
            “gimana kalungnya? Bagus kan?” Tanya Alvin pelan. Ia  memegang kedua pundak Sivia lalu menatap bayangan wajah Sivia dicermin, sama seperti yang Sivia lakukan. Saat itu Sivia sedang dalam posisi duduk, sementara Alvin berdiri dibelakangnya. Jantung Sivia berdegub pelan tapi kelamaan makin kencang dan susah ia kendalikan. Pesona Alvin begitu kuat memikatnya.
            “Pia… jawab gue kek!” kata Alvin tak sabar. Ia masih betah memandangi bayangan Sivia dicermin.
            Sivia terkesiap lalu buru-buru mengangguk. Dengan susah payah Sivia akhirnya bisa mengeluarkan komentarnya,
            “ba.. bagus! Gue suka”                                                        
            “Excellent!” ucap Alvin antusias lalu kembali melepaskan kalung itu dari leher Sivia.
            Alvin mengangkat kalung itu dengan kedua jari tangannya lalu memperhatikannya baik-baik. Sivia memutar kursinya dan mengikuti arah pandangan Alvin,
            “Pricill pasti suka. Ya kan?” Alvin menoleh kearah Sivia.

~

            Alvin langsung membuyarkan ingatannya ketika ia merasakan handphonenya bergetar. Alvinpun meraih handphonenya. Ternyata ia menerima satu pesan masuk dari Pricilla. Tanpa membuang-buang waktu lagi Alvin langsung membaca pesan dari Pricilla yang berisi,

From; My Lovely

Happy anniversary, Sayaaangg :)
Malem ini kmu pasti kecewa bgt karna aku nggak dateng.
Aku minta maaf yah?
Tapi perlu kamu tau, saat kamu membaca pesan ini
Aku udah nggak ada di Indonesia lagi.
Maaf karna aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini, Alvin,
Maaafff bgt.
Dan aku minta sama kamu, kalo kmu emang syg sama aku,
Please lupain aku, dan jangan pernah cari tau tentang aku lagi.

Alvin, apapun keadaannya sekarang dan nanti,
I will always love you… forever…

Sekali lagi aku minta maaf…


            Alvin merasakan dadanya bergemuruh setelah membaca sepenggal pesan singkat yang Pricilla kirimkan. Benarkah Pricilla pergi meninggalkannya? Ataukah semua ini hanyalah bagian dari rencana Surprise yang hendak Pricilla berikan padanya?
            Alvin benar-benar sulit memahami semuanya. Jika memang Pricilla harus pergi meninggalkannya, lalu kenapa Pricilla harus pergi dengan cara seperti ini? Apa selama ini Alvin memang tidak pernah ada artinya bagi Pricilla hingga Pricilla pergi meninggalkan Alvin dengan cara seperti ini.
            Alvin yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa akhirnya memutuskan untuk menelpon Pricilla, namun sial, nomer Pricilla sudah dalam keadaan tidak aktif. Gadis itu pasti sudah mengganti nomer ponselnya. Alvin mengerang putus asa lalu membanting ponselnya diatas meja.
            Beberapa saat kemudian perhatian Alvin tertuju pada kotak berwarna putih tadi. Dalam satu gerakan cepat Alvin meraih kotak itu, membukanya lalu melempar kalung berlian itu entah kemana. Pricilla sudah benar-benar menyakiti Alvin. Sekejam itukah Pricilla? Pergi meninggalkan Alvin tanpa satu alasan yang jelas.
            Alvin mendesis sinis. Ia bangkit dari kursinya lalu berdiri disisi kolam renang yang sudah dihiasi dengan beberapa lampion. Alvin menghela nafas beberapa kali, Alvin baru tau bahwa ternyata patah hati akan sesakit ini rasanya. Perlahan tanpa Alvin sadari sebulir air matanya menetes, Alvin merasakan sesak yang tidak tertahankan didadanya, sekarang Alvin baru bisa merasakan kesakitan yang Sivia rasakan selama ini.
            “PRICIIIILLLLLLLLLL……!!! GUE BENCI SAMA LO!! GUE BERSUMPAH NGGAK AKAN PERNAH MAAFIN LO! KENAPA LO HARUS PERGI TANPA ALASAN SEPERTI INI?? KENAPAAAA??? GUE SALAH APA SAMA LO, PRICIIILLLL?? GUE SALAH APAAAAA???” Teriak Alvin sekencang-kencangnya. Ditempat itu Alvin benar-benar sendiri, tidak ada satupun makhluk yang mendengar teriakannya kecuali seorang Gadis yang mengenakan dress putih selutut yang saat itu berdiri dibelakangnya seraya menatapnya dengan tatapan miris.
            Gadis itu mengambil kembali kalung berlian yang tadi Alvin buang dengan sembarang. Ia menjulurkan kalung itu didepan wajahnya untuk beberapa saat lalu menyimpannya didada. Ia mengenggam kuat-kuat kalung berlian itu ditangan kirinya lalu melangkah perlahan menghampiri Alvin yang ketika sudah duduk bersimpuh ditepi kolam renang.
            Gadis itu menghentikan langkahnya tepat didepan Alvin, tidak lama ia pun mengulurkan tangan kanannya untuk Alvin, sementara tangan kirinya yang menggenggam kalung itu ia sembunyikan dibelakang punggugnya.
            Alvin terkesiap, ia menatap sejenak tangan yang terulur itu. Perlahan Alvin mengangkat wajahnya. Seulas senyum manis langsung menyambutnya.
            “Vi… Via?” lirih Alvin dengan suara bergetar,
            “iya gue, ayo!”
            Alvin menghela nafas panjang dan berusaha meredam rasa perih yang kini menyiksanya. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Alvin langsung menerima uluran tangan Sivia dan berdiri berhadapan dengan Gadis itu. Sivia kembali tersenyum pada Alvin.
            Alvin dan Sivia saling menatap satu sama lain untuk sejenak. Tidak lama Alvin meraih pinggang Sivia lalu membawanya kedalam dekapannya. Saat itu juga Sivia langsung memejamkan matanya, berusaha merasakan kehangatan dari pelukan Alvin yang baru pertama kali Alvin berikan padanya. Ragu-ragu Sivia membalas pelukan Alvin. Tanpa Alvin tahu, kalung berlian itu masih berada dalam genggaman Sivia.
            “MAAF….” Lirih Alvin pelan seraya mengeratkan pelukannya pada Sivia. Sivia yang merasa tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun hanya bisa mengangguk bisu dalam rengkuhan Pria itu. Sivia membelai lembut rambut Alvin, berusaha memberikannya sedikit saja ketenangan.


Tidak bisa aku hitung sudah berapa kali kau menyakitiku, Tidak bisa aku hitung lagi sudah berapa luka yang kau torehkan didinding hatiku secara bertubu-tubi. Tapi satu yang pasti, tidak pernah sekalipun aku membencimu, tidak pernah sekalipun aku ingin melihatmu tersakiti sebagaimana aku. Aku ingin kau tetap bahagia… untuk itulah, saat melihatmu terjatuh aku memilih untuk langsung menangkapmu… aku hanya tidak ingin kau merasakan sakit yang aku rasakan selama ini… tidak pernah ingin…. Aku berjanji, akan perbaiki sayap-sayapmu yang patah, aku berjanji akan membuatmu bisa terbang kembali hingga menyentuh awan… aku berjanji…. Semoga suatu saat nanti, kau akan mengajak aku terbang bersamamu, dan semoga suatu saat nanti, kau ijinkan aku untuk bisa menyentuh awan bersamamu, hanya bersamamu…


                        BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment