Sunday, July 7, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 28 "Luka Dan Kepastian"






                Libur panjang akhirnya tiba juga. Ketakutan Cakka akan menurunnya nilai rapor Sivia karna masalah yang sempat mereka hadapi kemarin ternyata tidak terbukti. Sivia berhasil meraih peringkat ke-3 dikelas. Ini Cakka katakan luar biasa karna pada ujian-ujian sebelumnya Sivia tidak pernah berhasil menembus 10 besar. Cakka bangga pada Sivia. Dan kemarin Cakka memberikan sebuah kalung berbandul Bintang sebagai hadiah untuk Sivia.
            Agni yang sudah resmi menjadi pacar Cakka sama sekali tidak merasa cemburu ketika Cakka memberikan Sivia hadiah sebuah kalung. Malahan Agni ikut senang dengan perubahan Sivia.
            Sementara Sivia berhasil meraih peringkat ke-3 dikelas, Cakka sendiri tetap bertahan dengan peringkat 1 nya sebagai juara Umum. Bukan hanya dijurusannya saja, tapi disekolahnya. Sebagai hadiah untuk Cakka, Agni memberikan sebuah bola basket.
            Setelah menerima rapor saatnya untuk menjalankan rencana liburan bersama SMA BinSa. Yang diikut sertakan dalam liburan kali ini hanyalah anak-anak dari jurusan IPA saja. Sementara yang lainnya berlibur ketempat lain. Awalnya, Sivia sempat tidak ingin ikut berlibur bersama SMA BinSa, tapi setelah Cakka dan sahabat-sahabatnya membujuk akhirnya Sivia luluh juga.
            Ia terpaksa ikut berlibur meski hanya setengah hati. Entah ia harus bagaimana jika nanti ia bertemu lagi dengan Alvin. Sampai sekarang Sivia masih takut membayangkannya.
            Pada liburan bersama kali ini, panitia liburan memilih Puncak sebagai tempat berlibur mereka. Disana mereka telah menyewa beberapa Villa yang akan mereka tempati selama 2 hari.
            Bus yang Sivia tumpangi bersama kawan-kawannya mulai bergerak perlahan meninggalkan kota Jakarta. Sejauh ini, Sivia belum sempat bertemu dengan Alvin. Meski tadi anak-anak BinSa berkumpul disekolahnya, Sivia tidak bertemu dan melihat Alvin. Ya… Sivia memang sengaja menghindari Alvin.
            Sivia melihat kesekelilingnya. Dibangku yang bersebrangan dengan bangku yang ia tempati dengan Ify, ia melihat Cakka dan Agni yang saat itu tengah duduk bersama sambil melakukan duel kecil bermain gitar. Sesekali Cakka terlihat tertawa lepas seraya mengacak rambut Agni pelan. Sivia tersenyum kecil melihat pemandagan itu. Selama ini, Sivia tidak pernah melihat Cakka sebahagia itu.
            Sementara dibelakang bangku Cakka dan Agni, Sivia melihat Gabriel dan Shilla yang saat itu duduk berdua sambil bergandengan tangan. Shilla menyandarkan kepalanya dengan manja pada bahu Gabriel. Dan ketika melihat adegan itu, Sivia tersenyum miris. Dalam hati ia merasa iri. Jika saja ia tidak sedang menghadapi masalah ini dengan Alvin, mungkin saat ini ia dan Alvin bisa terlihat semesra itu.
            “hadeehhh….. mereka semua bikin ngiri aja!!” ujar Ify tiba-tiba yang langsung membuat Sivia terkesiap. Ia membuyarkan keterpanaannya lalu beralih menatap Ify yang duduk disampingnya.
            “jadi lo iri nih?” kata Sivia setengah meledek,
            “kayak lo nggak aja” cibir Ify. Sivia langsung bungkam saat itu juga.
            Diantara sahabat-sahabatnya hanya Sivia dan Ify yang tidak memiliki pasangan. Jadi wajar saja kalau mereka iri melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Cakka-Agni dan Gabriel-Shilla.
            “Vi… Alvin udah jadian ya sama Si Kapten Cheers itu? Si Pricill maksud gue” kata Ify tiba-tiba. Kali ini Sivia kaget. Alvin jadian sama Pricill? Sejak kapan? Sivia saja tidak tahu menau soal itu.
            “hah? Mereka jadian? Tau darimana lo?” ada nada takut yang terselip dari pertanyaan yang Sivia lemparkan pada Ify barusan.
            “siapa suruh lo tadi nggak ikut kumpul bareng? Alvin sama Pricill tadi mesraaaa banget, semuanya juga pada ngeributin mereka yang udah resmi jadian seminggu yang lalu”
            Seminggu yang lalu? Bukankah seminggu yang lalu bertepatan dengan hari dimana Sivia membentak Alvin dan meminta Alvin untuk melepaskannya? Sivia lemas seketika. Apa Alvin semarah itu padanya hingga memutuskan untuk menjadikan Pricilla sebagai pacarnya?
            Dalam hati Sivia merasakan rasa sakit bercampur sesak yang tidak tertahankan. Padahal jika mau jujur, Sivia masih berharap bahwa Alvin akan tetap mempertahankan hubungan mereka. Tapi ternyata? Semuanya berbanding terbalik dengan apa yang Sivia harapkan. Untuk yang kesekian kalinya Sivia terhempas oleh harapannya sendiri.
            Kedua mata Sivia mulai terasa panas. Mulutnya sudah tidak bisa lagi mengeluarkan rangkaian kalimat. Sesak itu semakin kuat menyiksa dadanya. Kenyataan ini benar-benar menghancurkan hati Sivia hingga hancur sehancur-hancurnya, bahkan lebih dari berkeping-keping.
            Sivia memegang dadanya yang entah kenapa terasa sakit sekali. Tidak ingin Ify menyadari perubahan sikapnya, Sivia langsung membuang mukanya kearah jendela.
            “Via? Are you ok?” Tanya Ify. Sivia menggeleng tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.
            “lo yakin?” Tanya Ify sekali lagi. Kali ini Sivia mengangguk.
            “gue mau tidur, Fy. Gue ngantuk” ujar Sivia berusaha meredam suara isakkannya.
            Siviapun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia membenahkan posisi Kupluknya diatas kepala lalu berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Perlahan sebulir air matanya menetes membasahi wajahnya. Ia terluka.

^_^

            Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya tibalah rombongan mereka ditempat tujuan mereka, Puncak. Hamparan perkebunan teh serta bukit-bukit hijau yang membentang luas menyambut kedatangan mereka.
            Semuanya berhamburan keluar dari dalam bus. Setelah tiba diluar bus, mereka semua langsung sibuk memasang pose untuk berfoto.
            Saat semua kawan-kawannya bergembira, Sivia justru sedang dilanda oleh kekalutan. Jujur saja, semenjak Ify memberitahunya bahwa Alvin dan Pricilla telah resmi jadian seminggu yang lalu, Sivia rasanya ingin pulang saja dan tidak ingin lagi meneruskan liburan yang agaknya akan membuatnya semakin terluka ini.
            Sivia menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa sesaknya. Dengan berani Sivia bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar bus menyusul teman-temannya yang lain.

^_^

            “sayang, kita foto bareng yuk!!” ajak Pricilla seraya menggandeng lengan Alvin. Alvin berdecak kesal lalu menepis tangan Pricilla dari pundaknya,
            “ihhh… lo bisa nggak sih jangan manggil gue sayang?? Gue nggak suka tau?” sinis Alvin yang mulai risih dengan kelakuan Pricilla.
            Tapi agaknya Pricilla sama sekali tidak peduli dengan kerisihan Alvin itu. Dengan tidak tau malunya, Pricilla kembali melingkarkan tangannya dilengan Alvin.
            “kamu kan pacar aku… jadi wajar dong kalo aku manggil kamu sayang” ucap Pricilla manja lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Alvin.
            Sivia yang saat itu kebetulan lewat dihadapan mereka langsung menundukan kepalanya ketika melihat Alvin dan Pricilla. Nyawanya seakan terlepas saat itu juga. Rasanya sakit sekali melihat Alvin bermesraan dengan dengan Gadis lain. Rasanya ada sesuatu yang menohok dada Sivia. Sementara Alvin, ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat Sivia. Alvin hanya menatap Sivia dengan pandangan sendu.
            Saat melihat Sivia berjalan melewati mereka, tiba-tiba saja sebuah ide licik timbul diotak Pricilla. Pricilla tersenyum licik. Lalu dalam satu gerakan cepat, Pricilla menarik Alvin dan berjalan mengejar langkah Sivia.
            “Heh… heh… mau ngapain lo?” Tanya Alvin yang mulai panic. Pricilla tidak sedikitpun menggubris ucapan Alvin.
            “Hay Via…” sapa Pricilla ketika langkahnya nyaris menyejajari langkah Sivia. Dengan berat hati Sivia menghentikan langkahnya.
            Alvin dan Pricilla menghentikan langkah mereka tepat dihadapan Sivia. Setelah mati-matian mengumpulkan keberaniannya, Siviapun akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat kearah Alvin dan Pricilla secara bergantian.
            “eh kalian…? Ada apa ya?” Sivia berusaha terlihat sesantai mungkin.
            “lo nggak tau ya? Kalo gue sama Alvin udah resmi jadian…” kata Pricilla bangga. Ia semakin mempererat cengkramannya pada lengan Alvin, sementara Alvin, ia sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya kaku, dan lidahnya mendadak kelu.
            “gue udah tau kok” jawab Sivia penuh tekanan.
            “bagus”
            “terus kalo gue udah tau emangnya kenapa? Kalian mau jadian kek, nggak kek, nggak ada urusannya sama gue” tantang Sivia. Sesekali ia melirik tajam kearah Alvin.
            Pricilla merasa tersengat ketika mendengarkan ucapan Sivia barusan. Ia seolah tidak terima.
            “gue ngasih tau lo supaya lo nggak gangguin pacar gue lagi” sinis Pricilla.
            “Pricill lo apa-apaan sih?” Alvin mulai tidak tahan untuk tidak ikut campur.
            Siviia tertawa mencibir,
            “hahaha… Gangguin pacar lo?? Kayak gue nggak laku aja…” Sivia maju selangkah untuk mendekati langkah Pricilla “gue nggak sekurang kerjaan itu ya? Masih banyak hal berguna lain yang harus gue urusin, dan gue sama sekali nggak ada waktu buat gangguin cowok lo dan ngerecokin hubungan orang yang sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama gue. Ngerti lo?”
            Tajam, perkataan Sivia benar-benar tajam dan sukses membuat Pricilla kalah telak darinya. Dalam hati Alvin bangga melihat Sivia bisa mempermalukan Pricilla seperti itu, apalagi dihadapan orang banyak seperti ini.
            “gue udah PUTUS sama Alvin, gue cukup tau diri kok. Dan gue bukan tipe cewek gampangan yang suka ngejer-ngejer pacar orang, gue masih punya harga diri. Lain kali lo nggak perlu susah-susah ngingetin gue buat nggak gangguin cowok lo, karna tanpa lo ingetinpun gue nggak akan sudi buat ganggu pacar lo. Waktu gue terlalu berharga   untuk gue habisin buat ngurus kalian”
            Setelah puas menumpahkan emosinya pada Pricilla, Siviapun berbalik hendak pergi. Tapi sebelum melangkah pergi, Sivia mengingat sesuatu. Ia pun kembali berbalik dan menatap Pricilla tajam,
            “dan Oh ya… lo musti tau, gue ini calon Kakak tirinya Alvin, dan suatu saat nanti, kalo kalian berjodoh, lo akan jadi adik ipar gue. Satu lagi, SELAMAT karna kalian udah jadian….”
            Siviapun melangkah pergi tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Rasa perih itu semakin mencabik jantungnya tanpa ampun. Sivia menangis dalam diam. Ia baru tahu bahwa akan sesakit ini rasanya melihat Alvin menjadi milik orang lain.
            Sivia berlari kekamarnya. Disana ia menumpahkan segala tangisannya yang berusaha ia tahan sejak dibus tadi….

^_^

            Malam pertama, panitia liburan mengadakan acara api unggun dengan tujuan menambahkan keakraban diantara kedua sekolah yang sudah berseteru lama itu. Sivia duduk dan berkumpul bersama Ify, Agni, dan Shilla.
            Ketika mereka sedang tertawa bersama, tiba-tiba saja Cakka hadir diantara mereka. Cakka merangkul pundak Sivia lalu duduk disampingnya,
            “dari tadi lo kemana aja? Gue nyariin lo tau…?”
            “gue ada kok, elo nya aja yang sibuk pacaran sama Agni” goda Sivia seraya menyenggol lengan Agni yang duduk disampingnya. Agni hanya tersenyum kecil. Ada sedikit rasa ngilu dihati kecilnya ketika ia melihat Cakka malah menghampiri Sivia dan bukan dirinya. Dalam hati Agni bertanya; Boleh kah ia cemburu?
            “ah elo… oh ya? Kalung yang gue kasi lo pake kan?”
            “iya gue pake. Nih liat nih!” kata Sivia seraya menunjukan kalung itu dihadapan Cakka,
            “hahaha bagus kalo lo pake! Awas aja kalo itu kalung hilang…” ancam Cakka sok sadis.
            Ify merasa gugup ketika melihat sosok Rio berjalan hendak menghampirinya. Sejak pertandingan persahabatan beberapa waktu yang lalu, Ify tidak pernah lagi bertemu dengan Rio. Ya… semenjak ‘kecelakaan kecil’ dirumah Singgah milik Alvin itu, Ify memang sengaja menghindari Rio. Ify sudah kepalang malu pada sosok Pria manis itu.
            “hay… boleh gabung nggak?” sapa Rio dengan bersahabat,
            “eh, elo bray! Boleh kok” jawab Cakka tanpa melepaskan rangkulannya pada Sivia. Rio tersenyum tipis lalu duduk disamping Ify.
            Jantung Ify semakin berdegup kencang tidak karuan. Apa Pria ini akan membalas perlakuan tidak menyenangkannya beberapa waktu yang lalu?
            Rio menatap Ify lantas berkata,
            “oya, waktu pertandingan persahabatan dulu gue ngeliat kok, gue tau lo sembunyi dibalik punggungnya Cakka, Cuma aja gue pura-pura gue nggak ngeliat”
            Semuanya heran dan saling berpandangan ketika mendengarkan ucapan Rio pada Ify. Ify merasakan kedua pipinya mulai memanas.
            “kita belom sempat kenalan kan waktu itu? Kenalin gue Rio” Rio mengulurkan tangannya dihadapan Ify. Ify yang kaget langsung mengangkat wajahnya dan menatap Rio dengan pandangan bertanya. Rio membalas tatapan Ify dengan kedua alis bertaut.
            “lo nggak mau kenalan sama gue?” Ify buru-buru membuyarkan keterpanaannya lalu menyambut uluran tangan Rio,
            “Ify… nama gue Ify….”
            “Alyssa Saufika Umari??” kata Rio. Kedua mata Ify langsung membelalak.
            “kok lo tau??”
            Rio bangkit dari duduknya lalu berdiri. Senyum manis Rio masih tersungging dengan sempurna diwajahnya.
            “gue tau dari sini!” jawab Rio seraya menunjuk dadanya lalu melangkah pergi meninggalkan Ify dan kawan-kawannya. Ify semakin heran dengan Pria itu. Tapi rupanya tidak hanya Ify yang heran, tapi semua yang menyaksikannya heran.

^_^

            Setelah acara api unggun selesai, Sivia memutuskan untuk jalan-jalan sendiri disekitar Villa. Ia merasa sumpek didalam kamarnya hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dan menghirup udara.
            Sivia tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok Alvin dan Pricilla tengah duduk berdua saja dihalaman salah satu Villa yang ditempati oleh Pricilla dan beberapa kawan-kawannya. Yang membuat pemandangan itu terasa begitu menyasakkan bagi Sivia adalah, ia melihat Pricilla mendekatkan wajahnya dengan wajah Alvin hendak mencium pria itu.
            Sementara Alvin, tanpa berusaha menghindari dan melakukan perlawanan apapun, ia membiarkan saja Pricilla mendekatkan wajahnya dengan wajahnya. Alvin sudah terlanjur sakit hati oleh Sivia hingga membuatnya mati rasa. Jadi apapun yang akan Pricilla lakukan padanya, Alvin tidak akan peduli.
            “Alvin… aku sayang kamu” ucap Pricilla pelan. ia menarik kerah jaket Alvin hingga wajah mereka berhadapan satu sama lain. Dada Sivia semakin terasa sesak. Ia memegangi dadanya kuat-kuat dan berusaha mengimbangi dirinya agar tidak ambruk ditempat itu. Perlahan air matanya menetes membasahi wajahnya.
            Pricilla memejamkan kedua matanya, dan tepat ketika bibir mungil Pricilla nyaris menyentuh bibir Alvin, Sivia malah tidak bisa menahan isakkannya yang terdengar cukup kuat. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari jarak Alvin dan Pricilla ketika itu membuat Alvin bisa mendengar suara isakkannya.
            Alvin terkesiap, dan sebelum bibir Pricilla menyentuh bibirnya, Alvin menoleh kearah Sivia yang sudah berurai air mata. Raut kekecewaan terpeta dengan jelas diwajah Pricilla. Padahal sedikit lagi rencananya akan berjalan mulus, tapi Sivia malah menghancurkan semuanya.
            “Vi… Via…” lirih Alvin.
            “hhhh…” Sivia terdengar menghela nafas beratnya lalu berlari meninggalkan tempat itu entah kemana.
            “SIVIA….” Teriak Alvin.
            Pricilla langsung menahan tangan Alvin ketika Alvin berniat untuk mengejar Sivia,
            “Alvin kamu mau kemana??”
            “lepasin tangan gue!!” Pricilla menggeleng,
            “GUE BILANG LEPASIN TANGAN GUE!!!” bentak Alvin. Pricilla yang kaget langsung melepaskan tangan Alvin begitu saja.
            “Mulai sekarang, kita putus!! Lo sama gue udah nggak ada hubungan apa-apa lagi” ucap Alvin tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Pricilla. Alvin pun berlari berusaha mengejar Sivia. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Sivia.

            Tangis Pricilla seketika pecah ditempat….


^_^

            Alvin putus asa. Sudah hampir 15 menit ia berusaha mencari keberadaan Sivia. Tapi hingga selama itu, Alvin tidak juga menemukan jejak Sivia. Apa mungkin Sivia kembali kekamarnya? Apa Alvin harus menyusul kekamarnya? Tapi jika Alvin menyusul, apa nanti Sivia tidak akan mengusirnya?
            Alvin bingung. Benar-benar bingung. Alvin terduduk lesu ditempat acara api unggun tadi. Sivia pasti salah paham dengan apa yang ia lakukan dengan Pricilla tadi. Tapi sungguh Alvin ingin menjelaskan semuanya pada Sivia. Alvin ingin meminta maaf dan mengatakan pada Sivia bahwa ia sangat merindukannya. Alvin ingin memeluk Si Jelek itu dan tidak ingin melepaskannya lagi.
            “Alvin, lo liat Sivia nggak??” ucap Shilla yang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan Alvin bersama Ify, Agni, Gabriel dan Cakka. Alvin mengangkat wajahnya dan raut-raut cemas itu langsung menyambutnya. Alvin bingung. Apa apa sebenarnya?
            “Sivia?? Gue justru mau nanya kalian Sivia dimana?”
            “jadi lo nggak tau??” Tanya Agni panic. Alvin mengangguk.
            Cakka yang sejak tadi terlihat berusaha menahan emosinya akhirnya melangkah mendekati Alvin lalu melayangkan sebuah pukulan tepat diwajah Alvin. Akibat pukulan Cakka yang lumayan keras itu, Alvin nyaris terjatuh.
            “Cakka jangan!!” teriak Agni.
            “ini semua pasti gara-gara lo! Sivia ngilang kayak gini pasti gara-gara ulah lo!! Sampe kapan lo bakalan terus nyakitin Sivia kayak gini? Sampai kapan Alvin??”
            “Cakka gue—“
            BUKKK…. Pukulan itu kembali mendarat diwajah Alvin dengan mulus. Merasa tidak tahan lagi dengan kelakuan pacarnya, Agni langsung menahan tangan Cakka.
            “Cakka udah! Sekarang bukan saatnya kalian berantem kayak gini. Kita musti cari Via, itu yang terpenting!”
            “tapi gue harus tetep ngasih pelajaran ke cowok brengsek ini. Asal lo tau ya, Alvin? Sejak awal gue emang nggak pernah suka ngeliat lo ngedeketin Sivia, bukan karna gue cemburu, tapi karna gue yakin lo nggak akan bisa ngebahagiain dia, lo Cuma bisa nyakitin dia, dan sekarang ternyata semuanya terbukti kan? Brengsek lo…”
            Ketika tangan Cakka akan kembali mendarat diwajah Alvin untuk yang ketiga kalinya, Gabriel langsung bergerak maju dan menahan tangan Cakka.
            “CAKKA STOP!! Berantem bukan solusi bagus. Jaga emosi lo! Kita semua tau lo cemas, tapi kita juga nggak kalah cemasnya dari lo”
            “Alvin, tadi salah satu penjaga Villa bilang ke gue, kalo dia ngeliat Via masuk kehutan, Via—“ Shilla tidak kuasa menahan tangisnya. Air matanya merembes keluar sebelum ia menjelaskan semuanya pada Alvin. Shilla terlalu cemas dengan sahabatnya itu. Ify pun memeluk Shilla, berusaha menenangkannya.
            “APAA?? VI… VIA MASUK HUTAN?? HHH….” Alvin menghela nafas beratnya.
            “kalo sampe Sivia terluka sedikiiitttt saja, gue nggak akan pernah biarin lo hidup Alvin, gue—“
            Tanpa berfikir panjang lagi Alvin langsung berlari kearah hutan hendak mencari Sivia. Melihat Alvin yang nekad, Agni berusaha mencegah,
            “Alvin lo jangan nekad!!!”
            Alvin tidak sedikitpun menggubris ucapan Agni. Yang ia tahu sekarang hanyalah, ia harus mencari Sivia kedalam hutan. Apapun resikonya, Alvin tidak akan peduli. Sekalipun nyawanya yang menjadi taruhannya, Alvin harus tetap menemukan Gadis itu. Semua ini terjadi karna kesalahannya juga karna kebodohannya, jika sampai terjadi sesuatu pada Sivia, Alvin bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

^_^

            Alvin berlari sekencang-kencangnya memasuki hutan dan menembus kegelapan malam hanya dengan bantuan senter Ponselnya. Ditengah perjalanan Alvin menghentikan langkahnya lalu berteriak memanggil nama Sivia.
            “SIVIA AZIZAAAHHHHHH!!!!! LO DIMANAAAA??? INI GUE ALVIINNNNNN!!!! SIVIAAAAAAA!!!” Alvin berhenti berteriak sejenak untuk menarik nafas. Kaki Alvin tahu-tahu  menginjak sesuatu. Alvin menyenter kebawah kakinya dan berusaha melihat apa yang telah ia injak.
            Ponsel, Alvin menginjak sebuah ponsel. Alvin menunduk lalu mengambil ponsel itu. Ternyata ponsel itu adalah ponsel milik Sivia yang ia berikan sendiri untuk Sivia sebagai ganti ponsel Sivia yang ia remukan. Ponsel itu adalah ponsel couple yang sama seperti ponselnya.
            Alvin membuka ponsel itu. Alvin terhenyak ketika melihat gambar dirinya menghiasi layar ponsel Sivia. Sivia menjadikan fotonya sebagai wallpaper. Darisana Alvin yakin bahwa Sivia masih sangat mencintainya dan belum seratus persen ikhlas melepaskannya. Alvin tersenyum miris,
            “dasar jelek!! Kalo cinta bilang cinta aja!! Gue bersumpah Sivia, gue akan kembali berjuang buat cinta kita. Gue bersumpah setelah ini gue nggak akan pernah ngelepasin lo lagi, gue bersumpah…” ucap Alvin pada dirinya sendiri lalu melanjutkan pencariannya.
            Setelah hampir sejam menyisir hutan, Alvin kembali menghentikan langkahnya untuk mengambil nafas. Kenapa susah sekali menemukan Sivia? Dimana sebenarnya Sivia sekarang?
            Dalam keheningan malam itu, Alvin tiba-tiba mendengarkan suara isak tangis yang ia yakini itu adalah suara isak tangis Sivia. Alvin semakin mempertajam pendengarannya. Tidak lama kemudian, perhatian Alvin tertuju pada sebuah pohon besar yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Alvin yakin, Sivia pasti bersembunyi dibalik pohon itu.
            Alvin berjalan perlahan menghampiri pohon itu. Beberapa saat kemudian….

            “Hiks… Hiks… hiks… Alvin gue takut!! Alvin… hiks hiks hiks… Alvin gue takut, gue takut….”
            Alvin membekap mulutnya sendiri ketika ia melihat Sivia yang ketika itu duduk dibawah pohon seraya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Si Jelek itu terlihat ketakutan.
            “Alvin…. Alvin… hiks… hiks.. hiks…”
            Air mata Alvin menetes secara perlahan. Semenjak mengenal Sivia, entah kenapa Alvin yang dulu tegar dan kuat mendadak berubah menjadi cengeng. Tapi Alvin tidak peduli, yang ia tahu ia sangat mencintai Si Jelek ini.
            Alvin melangkah lebih mendekati Sivia, Alvin duduk disamping Sivia lalu memegang pundaknya yang saat itu bergetar hebat,
            “gue disini Via! Jangan takut!!”
            Sivia mengangkat wajahnya, dan ketika mendapati Alvin sudah berada disampingnya, Sivia langsung menghambur kedalam pelukan Pria itu. Dengan sigap Alvin menangkap tubuh mungil Sivia lalu merengkuhnya dengan erat,
            “Alvin, gue takut… hiks… hiks….”
            “sttt…. Lo nggak usah takut lagi ya?? Gue udah disini sekarang, gue nggak akan kemana-mana lagi”
            “hiks…hiks… jangan tinggalin gue sendiri Alvin, gue takut…” Alvin menggeleng pelan seraya membelai lembut rambut Sivia.
            “nggak, gue nggak akan ninggalin lo! Gue janji…”
            Sivia tidak membalas perkataan Alvin. Yang Alvin rasakan sekarang adalah, Sivia semakin mempererat pelukannya ditubuhnya. Dengan lembut Alvin mengecup puncak kepala Sivia, berusaha menenangkanya dalam dekapan hangatnya.
            “sekarang kita pergi ya dari sini?” bisik Alvin pelan. Alvin melihat sejenak keatas langit yang malam itu terlihat mendung. “kayaknya hujan lebat bakalan turun male mini. Jadi sebelum hujan turun, kita harus pergi dari sini…” Sivia mengangguk pasti.
            Alvin tiba-tiba melepaskan pelukannya dari Sivia lalu terduduk dihadapan Sivia,
            “ayo naek! Lo biar gue gendong”
            Tanpa banyak bicara lagi, Sivia langsung menaiki punggung Alvin dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Pria itu. Alvin bangkit dan berjalan perlahan hendak meninggalkan hutan. Sivia yang masih terisak menenggelamkan wajahnya pada bahu Alvin.

^_^

            Sebelum Alvin dan Sivia keluar dari hutan, hujan malah turun dengan lebatnya. Alvin panic, dan ketika melihat sebuah gubuk Alvin langsung berlari kecil membawa Sivia masuk kedalam gubuk itu untuk berteduh sementara menunggu hujan reda.
            Ketika tiba didalam gubuk, Sivia langsung turun dari gendongan Alvin. Hujan semakin lebat dan seakan menahan mereka didalam gubuk kecil itu. Suara petir tiba-tiba saja menggelagar dan membuat Sivia kaget. Refleks Sivia memeluk Alvin erat,
            “udah nggak usah takut, ada gue…” Alvin mengusap lengan Sivia beberapa kali untuk menenangkannya.

^_^

            Alvin dan Sivia duduk berdampingan didepan api unggun yang baru saja Alvin buat. Untung saja didalam gubuk itu masih ada kayu-kayu yang bisa Alvin manfaatkan untuk membuat api unggun yang mungkin bisa menghangatkan tubuhnya dan tubuh Sivia.
            Sivia menggesekan kedua tangannya untuk mentralisir rasa dingin yang kini menderanya. Bahkan jaket milik Alvin yang tadi Alvin pasangkan ditubuhnya tidak cukup mampu melindunginya dari rasa dingin yang menusuk.
            Alvin yang sejak tadi melihat Sivia berusaha mengurangi rasa dinginnyapun secara perlahan menggeser posisinya hingga berdekatan dengan Gadis itu. Alvin meraih kedua tangan Sivia lalu membungkusnya dengan kedua telapak tangannya.
            “gimana? Udah hangat??” Tanya Alvin pelan. Sivia mengangguk.
            “lo nggak kedinginan?”
            Alvin menggeleng pasti,
            “berada disamping lo membuat gue selalu merasa hangat..” jawab Alvin dengan mantap.
            Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat dan menciptakan hening yang tidak dapat dihindari lagi.
            “Alvin”
            “Via” panggil mereka berdua dalam waktu yang bersamaan. Alvinpun tersenyum,
            “ada apa?”
            “lo duluan aja! Lo mau ngomong apa? Ngomong aja gue dengerin” kata Sivia mempersilahkan Alvin untuk berbicara terlebih dahulu.
            Dalam hatinya sebenarnya Sivia berharap, Alvin akan menjelaskannya tentang kejadian tadi.
            “masalah yang tadi, gue…. Gue nggak ciuman sama Pricill”
            Sivia bernafas lega ketika itu juga. Tapi rasa gengsinya yang terlampau mendarah daging membuat Sivia harus bisa menutupi kelegaannya itu dihadapan Alvin.
            “mau ciuman juga nggak apa-apa. Wajar-wajar aja kali, Pricilla kan pacar lo”
            “bukan…” sambar Alvin seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali, ”maksud gue, gue… gue udah putus sama Pricill” lanjut Alvin yang mulai gelagapan.
            “putus? Kenapa putus??”
            “karna gue nggak bisa lama-lama jauh dari lo. Sampe kapanpun Cuma elo yang ada dihati gue, Sivia. Nggak ada satu cewekpun yang bisa menggantikan posisi lo dihati gue, tidak dengan Pricilla, tidak dengan siapapun…”
            “Alvin tapi….”
            Alvin yang mulai paham arah pembicaraan Sivia langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia semakin mendekati Sivia dan semakin lekat menatap kedua manik mata Gadis itu.
            “gue mencintai lo, Sivia! Gue nggak peduli dengan apapun itu. Sekalipun nanti orang tua kita tetep nikah dan lo tetep mau ngejauhin gue, gue akan tetep mencintai lo, gue nggak akan pernah mundur selangkahpun dengan rasa cinta gue ini, sekalipun gue nggak bisa milikin lo seutuhnya, tapi gue akan tetep bertahan. Sampe matipun gue akan tetep mertahanin cinta gue keelo…”
            Sivia terkesima mendengarkan penuturan Alvin baru saja. Merasa tidak sanggup menahan rasa harunya, Siviapun menghambur kedalam pelukan Alvin,
            “waktu Shilla bilang lo masuk hutan, rasanya gue mau mati saja, Sivia. Gue takut terjadi sesuatu sama lo. Dan dengan nekadnya, gue juga masuk kehutan buat nyariin lo dengan tekad gue harus nemuin lo dalam keadaan baik-baik saja. Dalam pencarian gue tadi, gue sudah bersumpah akan mempertahankan perasaan gue keelo Sivia, gue juga bersumpah selamanya gue akan tetep mertahanin lo dengan cara apapun… gue bener-bener mencintai lo, Sivia…”
            “gue juga Alvin, gue juga….” Sivia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya,
            “waktu gue tau lo jadian sama Pricill, rasanya tuh nyawa gue udah nggak ada. Kalo lo mau tau, sebenernya gue nggak rela ngeliat lo jadian sama Pricill, gue nggak pernah rela Alvin. Gue selalu mencintai lo, sekeras apapun gue coba buat mematikan perasaan gue ke elo tetep aja nggak bisa, yang ada rasa cinta gue ke elo malah semakin tumbuh tanpa bisa gue kendalikan, gue nggak bisa berhenti mencintai lo, Alvin, nggak pernah bisa, hiks…”
            “Sivia—“
            “lo juga musti tau Alvin, tadi saat lo nemuin gue dihutan dan meluk gue dengan begitu eratnya, gue sudah membuat sebuah kepastian, lo mau tau apa??”
            Alvin hanya mengangguk perlahan dalam pelukan Sivia,
            “gue akan tetep bersama lo. Dan kalo lo mau terus merjuangin gue dengan cara membatalkan pernikahan orang tua kita, gue… gue akan terima. Gue cinta banget sama lo, Alvin. Sekarang gue udah sadar, kalo itu berarti banget buat gue, gue nggak mau kehilangan lo lagi, nggak mau…”
            Alvin tersenyum lega saat itu. Akhirnya perjuangannya selama ini ternyata membuahkan hasil. Sivia mau bertahan bersamanya, dan hal itu sudah lebih dari cukup untuk Alvin. Alvin akan mempertahankan Sivia seperti apa yang Sivia mau dan seperti apa yang mereka inginkan.
            Beberapa saat kemudian Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia memegang kedua sisi wajah Sivia lalu membelainya lembut dengan jemari tangannya. Mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu yang lumayan lama.
            Kedua tangan Sivia bergerak perlahan dan menyentuh dada bidang Alvin. Tangan mungil itu bergerak lagi hingga menyentuh kedua pundak Alvin. Dengan gerakan pelan, Sivia menarik pundak Alvin lalu mengecup kecil bibir Alvin. Detik berikutnya Sivia melepaskan pundak Alvin dan memalingkan wajahnya kearah lain. Ia malu.
            Sementara Alvin, ia hanya diam mematung. Ini baru pertama kalinya Sivia berani memulai duluan. Meski hanya kecupan kecil saja, tapi Alvin cukup merasa bahagia.
            “jangan ngeliat gue kayak gitu, gue malu” ujar Sivia salah tingkah tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin.
            Tanpa Sivia duga-duga Alvin menarik lengan Sivia dalam satu sentakan kuat. Wajah mereka kembali berhadapan satu sama lain, kening dan hidung mereka nyaris bersentuhan.
            “I Love you, Jelek….”
            “me too, Kuny—“
            Alvin langsung membekap mulut Sivia dengan sebuah ciuman. Dengan penuh perasaan Alvin menciumnya. Sivia yang awalnya kagetpun memberanikan dirinya untuk membalas ciuman Alvin yang semakin lama semakin intens itu.
            Sivia memejamkan kedua matanya dengan lembut lalu memegang dada Alvin. Ketika menyentuh dada Alvin, Sivia dapat merasakan bagaimana kencangnya deguban jantung Alvin saat itu. Perlahan kedua tangan Sivia bergerak lalu melingkar dileher Alvin.
            Sementara itu, Kedua tangan Alvin yang tadinya memegang kedua pundak Sivia kini perlahan turun dan bergerak memegangi kedua pinggang rampingnya.
            Hujan semakin lebat mengguyur bumi, dan suara petir yang menggelegar diluar sana sama sekali tidak mampu mengusik mereka saat itu. Alvin semakin memperdalam ciumannya, begitu juga dengan Sivia. Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi entah kenapa rasanya lebih indah dari ciuman pertama yang pernah mereka lakukan dulu.
            Semenit kemudian mereka sama-sama menjauhkan wajah mereka. Sivia tersenyum sungkan lalu tertunduk malu.
            “lo masiihh aja suka malu….” Goda Alvin. Sivia menggeleng pelan.
            “sekarang lo kayaknya lebih berani ya?” lagi-lagi Alvin menggoda Sivia.
            Godaan Alvin kali ini sukses membuat Sivia mengangkat wajahnya dan melirik tajam kearahnya. Apa iya sekarang Sivia lebih berani? Alvin tertawa meledek ketika menangkap ekspresi Sivia yang menurutnya sangat lucu.
            “hahaha…..”
            “jangan ketawa!!” sinis Sivia yang merasakan kedua pipinya sudah mulai memanas dan mulai merona. Tapi Alvin tidak berhenti, ia malah semakin mengencangkan suara tawanya,
            “HAHAHAHAHAHAHAHA……”
            “KUNYUK SIALAAANNNNNNN!!!!” Teriak Sivia. Alvin menghentikan suara tawanya lalu menarik Sivia kembali kedalam pelukannya.
            “jangan menghindar lagi dari gue!” Sivia mengangguk. Alvin melepaskan pelukannya dan beralih memegang wajah Sivia, sementara kedua tangan Sivia masih terlingkar ditubuh Alvin. Sivia mengangkat wajahnya dan menatap mata Alvin dengan teduh,
            “jangan minta putus lagi!” Sivia mengangguk,
            “jangan minta gue buat ngelepasin lo lagi!” lagi-lagi Sivia mengangguk,
            “jangan sembunyi lagi dari gue…” sekali lagi Sivia mengangguk. Alvinpun mengecup kening Sivia dan mendekapnya erat.

            “JANGAN DEKETIN PRICILLA LAGI!!!”


                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment