Libur panjang akhirnya tiba juga. Ketakutan
Cakka akan menurunnya nilai rapor Sivia karna masalah yang sempat mereka hadapi
kemarin ternyata tidak terbukti. Sivia berhasil meraih peringkat ke-3 dikelas.
Ini Cakka katakan luar biasa karna pada ujian-ujian sebelumnya Sivia tidak
pernah berhasil menembus 10 besar. Cakka bangga pada Sivia. Dan kemarin Cakka
memberikan sebuah kalung berbandul Bintang sebagai hadiah untuk Sivia.
Agni
yang sudah resmi menjadi pacar Cakka sama sekali tidak merasa cemburu ketika
Cakka memberikan Sivia hadiah sebuah kalung. Malahan Agni ikut senang dengan
perubahan Sivia.
Sementara
Sivia berhasil meraih peringkat ke-3 dikelas, Cakka sendiri tetap bertahan
dengan peringkat 1 nya sebagai juara Umum. Bukan hanya dijurusannya saja, tapi
disekolahnya. Sebagai hadiah untuk Cakka, Agni memberikan sebuah bola basket.
Setelah
menerima rapor saatnya untuk menjalankan rencana liburan bersama SMA BinSa. Yang
diikut sertakan dalam liburan kali ini hanyalah anak-anak dari jurusan IPA
saja. Sementara yang lainnya berlibur ketempat lain. Awalnya, Sivia sempat
tidak ingin ikut berlibur bersama SMA BinSa, tapi setelah Cakka dan sahabat-sahabatnya
membujuk akhirnya Sivia luluh juga.
Ia
terpaksa ikut berlibur meski hanya setengah hati. Entah ia harus bagaimana jika
nanti ia bertemu lagi dengan Alvin. Sampai sekarang Sivia masih takut
membayangkannya.
Pada
liburan bersama kali ini, panitia liburan memilih Puncak sebagai tempat
berlibur mereka. Disana mereka telah menyewa beberapa Villa yang akan mereka
tempati selama 2 hari.
Bus
yang Sivia tumpangi bersama kawan-kawannya mulai bergerak perlahan meninggalkan
kota Jakarta. Sejauh ini, Sivia belum sempat bertemu dengan Alvin. Meski tadi
anak-anak BinSa berkumpul disekolahnya, Sivia tidak bertemu dan melihat Alvin.
Ya… Sivia memang sengaja menghindari Alvin.
Sivia
melihat kesekelilingnya. Dibangku yang bersebrangan dengan bangku yang ia
tempati dengan Ify, ia melihat Cakka dan Agni yang saat itu tengah duduk
bersama sambil melakukan duel kecil bermain gitar. Sesekali Cakka terlihat
tertawa lepas seraya mengacak rambut Agni pelan. Sivia tersenyum kecil melihat
pemandagan itu. Selama ini, Sivia tidak pernah melihat Cakka sebahagia itu.
Sementara
dibelakang bangku Cakka dan Agni, Sivia melihat Gabriel dan Shilla yang saat
itu duduk berdua sambil bergandengan tangan. Shilla menyandarkan kepalanya
dengan manja pada bahu Gabriel. Dan ketika melihat adegan itu, Sivia tersenyum
miris. Dalam hati ia merasa iri. Jika saja ia tidak sedang menghadapi masalah
ini dengan Alvin, mungkin saat ini ia dan Alvin bisa terlihat semesra itu.
“hadeehhh…..
mereka semua bikin ngiri aja!!” ujar Ify tiba-tiba yang langsung membuat Sivia
terkesiap. Ia membuyarkan keterpanaannya lalu beralih menatap Ify yang duduk
disampingnya.
“jadi
lo iri nih?” kata Sivia setengah meledek,
“kayak
lo nggak aja” cibir Ify. Sivia langsung bungkam saat itu juga.
Diantara
sahabat-sahabatnya hanya Sivia dan Ify yang tidak memiliki pasangan. Jadi wajar
saja kalau mereka iri melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Cakka-Agni dan
Gabriel-Shilla.
“Vi…
Alvin udah jadian ya sama Si Kapten Cheers itu? Si Pricill maksud gue” kata Ify
tiba-tiba. Kali ini Sivia kaget. Alvin jadian sama Pricill? Sejak kapan? Sivia
saja tidak tahu menau soal itu.
“hah?
Mereka jadian? Tau darimana lo?” ada nada takut yang terselip dari pertanyaan
yang Sivia lemparkan pada Ify barusan.
“siapa
suruh lo tadi nggak ikut kumpul bareng? Alvin sama Pricill tadi mesraaaa
banget, semuanya juga pada ngeributin mereka yang udah resmi jadian seminggu
yang lalu”
Seminggu
yang lalu? Bukankah seminggu yang lalu bertepatan dengan hari dimana Sivia membentak
Alvin dan meminta Alvin untuk melepaskannya? Sivia lemas seketika. Apa Alvin
semarah itu padanya hingga memutuskan untuk menjadikan Pricilla sebagai
pacarnya?
Dalam
hati Sivia merasakan rasa sakit bercampur sesak yang tidak tertahankan. Padahal
jika mau jujur, Sivia masih berharap bahwa Alvin akan tetap mempertahankan
hubungan mereka. Tapi ternyata? Semuanya berbanding terbalik dengan apa yang
Sivia harapkan. Untuk yang kesekian kalinya Sivia terhempas oleh harapannya
sendiri.
Kedua
mata Sivia mulai terasa panas. Mulutnya sudah tidak bisa lagi mengeluarkan
rangkaian kalimat. Sesak itu semakin kuat menyiksa dadanya. Kenyataan ini
benar-benar menghancurkan hati Sivia hingga hancur sehancur-hancurnya, bahkan
lebih dari berkeping-keping.
Sivia
memegang dadanya yang entah kenapa terasa sakit sekali. Tidak ingin Ify
menyadari perubahan sikapnya, Sivia langsung membuang mukanya kearah jendela.
“Via?
Are you ok?” Tanya Ify. Sivia menggeleng tanpa mampu mengeluarkan sepatah
katapun.
“lo
yakin?” Tanya Ify sekali lagi. Kali ini Sivia mengangguk.
“gue
mau tidur, Fy. Gue ngantuk” ujar Sivia berusaha meredam suara isakkannya.
Siviapun
menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia membenahkan posisi Kupluknya
diatas kepala lalu berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Perlahan sebulir
air matanya menetes membasahi wajahnya. Ia terluka.
^_^
Setelah
menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya tibalah rombongan mereka
ditempat tujuan mereka, Puncak. Hamparan perkebunan teh serta bukit-bukit hijau
yang membentang luas menyambut kedatangan mereka.
Semuanya
berhamburan keluar dari dalam bus. Setelah tiba diluar bus, mereka semua
langsung sibuk memasang pose untuk berfoto.
Saat
semua kawan-kawannya bergembira, Sivia justru sedang dilanda oleh kekalutan.
Jujur saja, semenjak Ify memberitahunya bahwa Alvin dan Pricilla telah resmi
jadian seminggu yang lalu, Sivia rasanya ingin pulang saja dan tidak ingin lagi
meneruskan liburan yang agaknya akan membuatnya semakin terluka ini.
Sivia
menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa
sesaknya. Dengan berani Sivia bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar bus
menyusul teman-temannya yang lain.
^_^
“sayang,
kita foto bareng yuk!!” ajak Pricilla seraya menggandeng lengan Alvin. Alvin
berdecak kesal lalu menepis tangan Pricilla dari pundaknya,
“ihhh…
lo bisa nggak sih jangan manggil gue sayang?? Gue nggak suka tau?” sinis Alvin
yang mulai risih dengan kelakuan Pricilla.
Tapi
agaknya Pricilla sama sekali tidak peduli dengan kerisihan Alvin itu. Dengan
tidak tau malunya, Pricilla kembali melingkarkan tangannya dilengan Alvin.
“kamu
kan pacar aku… jadi wajar dong kalo aku manggil kamu sayang” ucap Pricilla
manja lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Alvin.
Sivia
yang saat itu kebetulan lewat dihadapan mereka langsung menundukan kepalanya
ketika melihat Alvin dan Pricilla. Nyawanya seakan terlepas saat itu juga.
Rasanya sakit sekali melihat Alvin bermesraan dengan dengan Gadis lain. Rasanya
ada sesuatu yang menohok dada Sivia. Sementara Alvin, ia sama sekali tidak bisa
berbuat apa-apa ketika melihat Sivia. Alvin hanya menatap Sivia dengan
pandangan sendu.
Saat
melihat Sivia berjalan melewati mereka, tiba-tiba saja sebuah ide licik timbul
diotak Pricilla. Pricilla tersenyum licik. Lalu dalam satu gerakan cepat,
Pricilla menarik Alvin dan berjalan mengejar langkah Sivia.
“Heh…
heh… mau ngapain lo?” Tanya Alvin yang mulai panic. Pricilla tidak sedikitpun
menggubris ucapan Alvin.
“Hay
Via…” sapa Pricilla ketika langkahnya nyaris menyejajari langkah Sivia. Dengan
berat hati Sivia menghentikan langkahnya.
Alvin
dan Pricilla menghentikan langkah mereka tepat dihadapan Sivia. Setelah
mati-matian mengumpulkan keberaniannya, Siviapun akhirnya mengangkat kepalanya
dan melihat kearah Alvin dan Pricilla secara bergantian.
“eh
kalian…? Ada apa ya?” Sivia berusaha terlihat sesantai mungkin.
“lo
nggak tau ya? Kalo gue sama Alvin udah resmi jadian…” kata Pricilla bangga. Ia
semakin mempererat cengkramannya pada lengan Alvin, sementara Alvin, ia sama
sekali tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya kaku, dan lidahnya mendadak kelu.
“gue
udah tau kok” jawab Sivia penuh tekanan.
“bagus”
“terus
kalo gue udah tau emangnya kenapa? Kalian mau jadian kek, nggak kek, nggak ada
urusannya sama gue” tantang Sivia. Sesekali ia melirik tajam kearah Alvin.
Pricilla
merasa tersengat ketika mendengarkan ucapan Sivia barusan. Ia seolah tidak
terima.
“gue
ngasih tau lo supaya lo nggak gangguin pacar gue lagi” sinis Pricilla.
“Pricill
lo apa-apaan sih?” Alvin mulai tidak tahan untuk tidak ikut campur.
Siviia
tertawa mencibir,
“hahaha…
Gangguin pacar lo?? Kayak gue nggak laku aja…” Sivia maju selangkah untuk
mendekati langkah Pricilla “gue nggak sekurang kerjaan itu ya? Masih banyak hal
berguna lain yang harus gue urusin, dan gue sama sekali nggak ada waktu buat
gangguin cowok lo dan ngerecokin hubungan orang yang sama sekali nggak ada
sangkut pautnya sama gue. Ngerti lo?”
Tajam,
perkataan Sivia benar-benar tajam dan sukses membuat Pricilla kalah telak
darinya. Dalam hati Alvin bangga melihat Sivia bisa mempermalukan Pricilla
seperti itu, apalagi dihadapan orang banyak seperti ini.
“gue
udah PUTUS sama Alvin, gue cukup tau diri kok. Dan gue bukan tipe cewek
gampangan yang suka ngejer-ngejer pacar orang, gue masih punya harga diri. Lain
kali lo nggak perlu susah-susah ngingetin gue buat nggak gangguin cowok lo,
karna tanpa lo ingetinpun gue nggak akan sudi buat ganggu pacar lo. Waktu gue
terlalu berharga untuk gue habisin buat
ngurus kalian”
Setelah
puas menumpahkan emosinya pada Pricilla, Siviapun berbalik hendak pergi. Tapi
sebelum melangkah pergi, Sivia mengingat sesuatu. Ia pun kembali berbalik dan
menatap Pricilla tajam,
“dan
Oh ya… lo musti tau, gue ini calon Kakak tirinya Alvin, dan suatu saat nanti,
kalo kalian berjodoh, lo akan jadi adik ipar gue. Satu lagi, SELAMAT karna
kalian udah jadian….”
Siviapun
melangkah pergi tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Rasa perih itu semakin
mencabik jantungnya tanpa ampun. Sivia menangis dalam diam. Ia baru tahu bahwa
akan sesakit ini rasanya melihat Alvin menjadi milik orang lain.
Sivia
berlari kekamarnya. Disana ia menumpahkan segala tangisannya yang berusaha ia
tahan sejak dibus tadi….
^_^
Malam
pertama, panitia liburan mengadakan acara api unggun dengan tujuan menambahkan
keakraban diantara kedua sekolah yang sudah berseteru lama itu. Sivia duduk dan
berkumpul bersama Ify, Agni, dan Shilla.
Ketika
mereka sedang tertawa bersama, tiba-tiba saja Cakka hadir diantara mereka.
Cakka merangkul pundak Sivia lalu duduk disampingnya,
“dari
tadi lo kemana aja? Gue nyariin lo tau…?”
“gue
ada kok, elo nya aja yang sibuk pacaran sama Agni” goda Sivia seraya menyenggol
lengan Agni yang duduk disampingnya. Agni hanya tersenyum kecil. Ada sedikit
rasa ngilu dihati kecilnya ketika ia melihat Cakka malah menghampiri Sivia dan
bukan dirinya. Dalam hati Agni bertanya; Boleh kah ia cemburu?
“ah
elo… oh ya? Kalung yang gue kasi lo pake kan?”
“iya
gue pake. Nih liat nih!” kata Sivia seraya menunjukan kalung itu dihadapan
Cakka,
“hahaha
bagus kalo lo pake! Awas aja kalo itu kalung hilang…” ancam Cakka sok sadis.
Ify
merasa gugup ketika melihat sosok Rio berjalan hendak menghampirinya. Sejak
pertandingan persahabatan beberapa waktu yang lalu, Ify tidak pernah lagi
bertemu dengan Rio. Ya… semenjak ‘kecelakaan kecil’ dirumah Singgah milik Alvin
itu, Ify memang sengaja menghindari Rio. Ify sudah kepalang malu pada sosok
Pria manis itu.
“hay…
boleh gabung nggak?” sapa Rio dengan bersahabat,
“eh,
elo bray! Boleh kok” jawab Cakka tanpa melepaskan rangkulannya pada Sivia. Rio
tersenyum tipis lalu duduk disamping Ify.
Jantung
Ify semakin berdegup kencang tidak karuan. Apa Pria ini akan membalas perlakuan
tidak menyenangkannya beberapa waktu yang lalu?
Rio
menatap Ify lantas berkata,
“oya,
waktu pertandingan persahabatan dulu gue ngeliat kok, gue tau lo sembunyi
dibalik punggungnya Cakka, Cuma aja gue pura-pura gue nggak ngeliat”
Semuanya
heran dan saling berpandangan ketika mendengarkan ucapan Rio pada Ify. Ify
merasakan kedua pipinya mulai memanas.
“kita
belom sempat kenalan kan waktu itu? Kenalin gue Rio” Rio mengulurkan tangannya
dihadapan Ify. Ify yang kaget langsung mengangkat wajahnya dan menatap Rio
dengan pandangan bertanya. Rio membalas tatapan Ify dengan kedua alis bertaut.
“lo
nggak mau kenalan sama gue?” Ify buru-buru membuyarkan keterpanaannya lalu
menyambut uluran tangan Rio,
“Ify…
nama gue Ify….”
“Alyssa
Saufika Umari??” kata Rio. Kedua mata Ify langsung membelalak.
“kok
lo tau??”
Rio
bangkit dari duduknya lalu berdiri. Senyum manis Rio masih tersungging dengan
sempurna diwajahnya.
“gue
tau dari sini!” jawab Rio seraya menunjuk dadanya lalu melangkah pergi
meninggalkan Ify dan kawan-kawannya. Ify semakin heran dengan Pria itu. Tapi
rupanya tidak hanya Ify yang heran, tapi semua yang menyaksikannya heran.
^_^
Setelah
acara api unggun selesai, Sivia memutuskan untuk jalan-jalan sendiri disekitar
Villa. Ia merasa sumpek didalam kamarnya hingga akhirnya memutuskan untuk
keluar dan menghirup udara.
Sivia
tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok Alvin dan Pricilla
tengah duduk berdua saja dihalaman salah satu Villa yang ditempati oleh
Pricilla dan beberapa kawan-kawannya. Yang membuat pemandangan itu terasa
begitu menyasakkan bagi Sivia adalah, ia melihat Pricilla mendekatkan wajahnya
dengan wajah Alvin hendak mencium pria itu.
Sementara
Alvin, tanpa berusaha menghindari dan melakukan perlawanan apapun, ia
membiarkan saja Pricilla mendekatkan wajahnya dengan wajahnya. Alvin sudah
terlanjur sakit hati oleh Sivia hingga membuatnya mati rasa. Jadi apapun yang
akan Pricilla lakukan padanya, Alvin tidak akan peduli.
“Alvin…
aku sayang kamu” ucap Pricilla pelan. ia menarik kerah jaket Alvin hingga wajah
mereka berhadapan satu sama lain. Dada Sivia semakin terasa sesak. Ia memegangi
dadanya kuat-kuat dan berusaha mengimbangi dirinya agar tidak ambruk ditempat
itu. Perlahan air matanya menetes membasahi wajahnya.
Pricilla
memejamkan kedua matanya, dan tepat ketika bibir mungil Pricilla nyaris
menyentuh bibir Alvin, Sivia malah tidak bisa menahan isakkannya yang terdengar
cukup kuat. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari jarak Alvin dan Pricilla
ketika itu membuat Alvin bisa mendengar suara isakkannya.
Alvin
terkesiap, dan sebelum bibir Pricilla menyentuh bibirnya, Alvin menoleh kearah
Sivia yang sudah berurai air mata. Raut kekecewaan terpeta dengan jelas diwajah
Pricilla. Padahal sedikit lagi rencananya akan berjalan mulus, tapi Sivia malah
menghancurkan semuanya.
“Vi…
Via…” lirih Alvin.
“hhhh…”
Sivia terdengar menghela nafas beratnya lalu berlari meninggalkan tempat itu
entah kemana.
“SIVIA….”
Teriak Alvin.
Pricilla
langsung menahan tangan Alvin ketika Alvin berniat untuk mengejar Sivia,
“Alvin
kamu mau kemana??”
“lepasin
tangan gue!!” Pricilla menggeleng,
“GUE
BILANG LEPASIN TANGAN GUE!!!” bentak Alvin. Pricilla yang kaget langsung
melepaskan tangan Alvin begitu saja.
“Mulai
sekarang, kita putus!! Lo sama gue udah nggak ada hubungan apa-apa lagi” ucap
Alvin tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Pricilla. Alvin pun berlari berusaha
mengejar Sivia. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Sivia.
Tangis
Pricilla seketika pecah ditempat….
^_^
Alvin
putus asa. Sudah hampir 15 menit ia berusaha mencari keberadaan Sivia. Tapi
hingga selama itu, Alvin tidak juga menemukan jejak Sivia. Apa mungkin Sivia
kembali kekamarnya? Apa Alvin harus menyusul kekamarnya? Tapi jika Alvin
menyusul, apa nanti Sivia tidak akan mengusirnya?
Alvin
bingung. Benar-benar bingung. Alvin terduduk lesu ditempat acara api unggun
tadi. Sivia pasti salah paham dengan apa yang ia lakukan dengan Pricilla tadi.
Tapi sungguh Alvin ingin menjelaskan semuanya pada Sivia. Alvin ingin meminta
maaf dan mengatakan pada Sivia bahwa ia sangat merindukannya. Alvin ingin
memeluk Si Jelek itu dan tidak ingin melepaskannya lagi.
“Alvin,
lo liat Sivia nggak??” ucap Shilla yang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan
Alvin bersama Ify, Agni, Gabriel dan Cakka. Alvin mengangkat wajahnya dan
raut-raut cemas itu langsung menyambutnya. Alvin bingung. Apa apa sebenarnya?
“Sivia??
Gue justru mau nanya kalian Sivia dimana?”
“jadi
lo nggak tau??” Tanya Agni panic. Alvin mengangguk.
Cakka
yang sejak tadi terlihat berusaha menahan emosinya akhirnya melangkah mendekati
Alvin lalu melayangkan sebuah pukulan tepat diwajah Alvin. Akibat pukulan Cakka
yang lumayan keras itu, Alvin nyaris terjatuh.
“Cakka
jangan!!” teriak Agni.
“ini
semua pasti gara-gara lo! Sivia ngilang kayak gini pasti gara-gara ulah lo!!
Sampe kapan lo bakalan terus nyakitin Sivia kayak gini? Sampai kapan Alvin??”
“Cakka
gue—“
BUKKK….
Pukulan itu kembali mendarat diwajah Alvin dengan mulus. Merasa tidak tahan
lagi dengan kelakuan pacarnya, Agni langsung menahan tangan Cakka.
“Cakka
udah! Sekarang bukan saatnya kalian berantem kayak gini. Kita musti cari Via,
itu yang terpenting!”
“tapi
gue harus tetep ngasih pelajaran ke cowok brengsek ini. Asal lo tau ya, Alvin?
Sejak awal gue emang nggak pernah suka ngeliat lo ngedeketin Sivia, bukan karna
gue cemburu, tapi karna gue yakin lo nggak akan bisa ngebahagiain dia, lo Cuma
bisa nyakitin dia, dan sekarang ternyata semuanya terbukti kan? Brengsek lo…”
Ketika
tangan Cakka akan kembali mendarat diwajah Alvin untuk yang ketiga kalinya,
Gabriel langsung bergerak maju dan menahan tangan Cakka.
“CAKKA
STOP!! Berantem bukan solusi bagus. Jaga emosi lo! Kita semua tau lo cemas,
tapi kita juga nggak kalah cemasnya dari lo”
“Alvin,
tadi salah satu penjaga Villa bilang ke gue, kalo dia ngeliat Via masuk
kehutan, Via—“ Shilla tidak kuasa menahan tangisnya. Air matanya merembes
keluar sebelum ia menjelaskan semuanya pada Alvin. Shilla terlalu cemas dengan
sahabatnya itu. Ify pun memeluk Shilla, berusaha menenangkannya.
“APAA??
VI… VIA MASUK HUTAN?? HHH….” Alvin menghela nafas beratnya.
“kalo
sampe Sivia terluka sedikiiitttt saja, gue nggak akan pernah biarin lo hidup
Alvin, gue—“
Tanpa
berfikir panjang lagi Alvin langsung berlari kearah hutan hendak mencari Sivia.
Melihat Alvin yang nekad, Agni berusaha mencegah,
“Alvin
lo jangan nekad!!!”
Alvin
tidak sedikitpun menggubris ucapan Agni. Yang ia tahu sekarang hanyalah, ia
harus mencari Sivia kedalam hutan. Apapun resikonya, Alvin tidak akan peduli.
Sekalipun nyawanya yang menjadi taruhannya, Alvin harus tetap menemukan Gadis
itu. Semua ini terjadi karna kesalahannya juga karna kebodohannya, jika sampai
terjadi sesuatu pada Sivia, Alvin bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya
sendiri.
^_^
Alvin
berlari sekencang-kencangnya memasuki hutan dan menembus kegelapan malam hanya
dengan bantuan senter Ponselnya. Ditengah perjalanan Alvin menghentikan
langkahnya lalu berteriak memanggil nama Sivia.
“SIVIA
AZIZAAAHHHHHH!!!!! LO DIMANAAAA??? INI GUE ALVIINNNNNN!!!! SIVIAAAAAAA!!!”
Alvin berhenti berteriak sejenak untuk menarik nafas. Kaki Alvin tahu-tahu menginjak sesuatu. Alvin menyenter kebawah
kakinya dan berusaha melihat apa yang telah ia injak.
Ponsel,
Alvin menginjak sebuah ponsel. Alvin menunduk lalu mengambil ponsel itu.
Ternyata ponsel itu adalah ponsel milik Sivia yang ia berikan sendiri untuk
Sivia sebagai ganti ponsel Sivia yang ia remukan. Ponsel itu adalah ponsel
couple yang sama seperti ponselnya.
Alvin
membuka ponsel itu. Alvin terhenyak ketika melihat gambar dirinya menghiasi
layar ponsel Sivia. Sivia menjadikan fotonya sebagai wallpaper. Darisana Alvin
yakin bahwa Sivia masih sangat mencintainya dan belum seratus persen ikhlas
melepaskannya. Alvin tersenyum miris,
“dasar
jelek!! Kalo cinta bilang cinta aja!! Gue bersumpah Sivia, gue akan kembali
berjuang buat cinta kita. Gue bersumpah setelah ini gue nggak akan pernah
ngelepasin lo lagi, gue bersumpah…” ucap Alvin pada dirinya sendiri lalu melanjutkan
pencariannya.
Setelah
hampir sejam menyisir hutan, Alvin kembali menghentikan langkahnya untuk
mengambil nafas. Kenapa susah sekali menemukan Sivia? Dimana sebenarnya Sivia
sekarang?
Dalam
keheningan malam itu, Alvin tiba-tiba mendengarkan suara isak tangis yang ia
yakini itu adalah suara isak tangis Sivia. Alvin semakin mempertajam
pendengarannya. Tidak lama kemudian, perhatian Alvin tertuju pada sebuah pohon
besar yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Alvin yakin,
Sivia pasti bersembunyi dibalik pohon itu.
Alvin
berjalan perlahan menghampiri pohon itu. Beberapa saat kemudian….
“Hiks…
Hiks… hiks… Alvin gue takut!! Alvin… hiks hiks hiks… Alvin gue takut, gue
takut….”
Alvin
membekap mulutnya sendiri ketika ia melihat Sivia yang ketika itu duduk dibawah
pohon seraya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Si Jelek itu
terlihat ketakutan.
“Alvin….
Alvin… hiks… hiks.. hiks…”
Air
mata Alvin menetes secara perlahan. Semenjak mengenal Sivia, entah kenapa Alvin
yang dulu tegar dan kuat mendadak berubah menjadi cengeng. Tapi Alvin tidak
peduli, yang ia tahu ia sangat mencintai Si Jelek ini.
Alvin
melangkah lebih mendekati Sivia, Alvin duduk disamping Sivia lalu memegang
pundaknya yang saat itu bergetar hebat,
“gue
disini Via! Jangan takut!!”
Sivia
mengangkat wajahnya, dan ketika mendapati Alvin sudah berada disampingnya,
Sivia langsung menghambur kedalam pelukan Pria itu. Dengan sigap Alvin
menangkap tubuh mungil Sivia lalu merengkuhnya dengan erat,
“Alvin,
gue takut… hiks… hiks….”
“sttt….
Lo nggak usah takut lagi ya?? Gue udah disini sekarang, gue nggak akan
kemana-mana lagi”
“hiks…hiks…
jangan tinggalin gue sendiri Alvin, gue takut…” Alvin menggeleng pelan seraya
membelai lembut rambut Sivia.
“nggak,
gue nggak akan ninggalin lo! Gue janji…”
Sivia
tidak membalas perkataan Alvin. Yang Alvin rasakan sekarang adalah, Sivia
semakin mempererat pelukannya ditubuhnya. Dengan lembut Alvin mengecup puncak
kepala Sivia, berusaha menenangkanya dalam dekapan hangatnya.
“sekarang
kita pergi ya dari sini?” bisik Alvin pelan. Alvin melihat sejenak keatas
langit yang malam itu terlihat mendung. “kayaknya hujan lebat bakalan turun
male mini. Jadi sebelum hujan turun, kita harus pergi dari sini…” Sivia
mengangguk pasti.
Alvin
tiba-tiba melepaskan pelukannya dari Sivia lalu terduduk dihadapan Sivia,
“ayo
naek! Lo biar gue gendong”
Tanpa
banyak bicara lagi, Sivia langsung menaiki punggung Alvin dan melingkarkan
kedua tangannya pada leher Pria itu. Alvin bangkit dan berjalan perlahan hendak
meninggalkan hutan. Sivia yang masih terisak menenggelamkan wajahnya pada bahu
Alvin.
^_^
Sebelum
Alvin dan Sivia keluar dari hutan, hujan malah turun dengan lebatnya. Alvin
panic, dan ketika melihat sebuah gubuk Alvin langsung berlari kecil membawa
Sivia masuk kedalam gubuk itu untuk berteduh sementara menunggu hujan reda.
Ketika
tiba didalam gubuk, Sivia langsung turun dari gendongan Alvin. Hujan semakin
lebat dan seakan menahan mereka didalam gubuk kecil itu. Suara petir tiba-tiba
saja menggelagar dan membuat Sivia kaget. Refleks Sivia memeluk Alvin erat,
“udah
nggak usah takut, ada gue…” Alvin mengusap lengan Sivia beberapa kali untuk
menenangkannya.
^_^
Alvin
dan Sivia duduk berdampingan didepan api unggun yang baru saja Alvin buat. Untung
saja didalam gubuk itu masih ada kayu-kayu yang bisa Alvin manfaatkan untuk
membuat api unggun yang mungkin bisa menghangatkan tubuhnya dan tubuh Sivia.
Sivia
menggesekan kedua tangannya untuk mentralisir rasa dingin yang kini menderanya.
Bahkan jaket milik Alvin yang tadi Alvin pasangkan ditubuhnya tidak cukup mampu
melindunginya dari rasa dingin yang menusuk.
Alvin
yang sejak tadi melihat Sivia berusaha mengurangi rasa dinginnyapun secara
perlahan menggeser posisinya hingga berdekatan dengan Gadis itu. Alvin meraih
kedua tangan Sivia lalu membungkusnya dengan kedua telapak tangannya.
“gimana?
Udah hangat??” Tanya Alvin pelan. Sivia mengangguk.
“lo
nggak kedinginan?”
Alvin
menggeleng pasti,
“berada
disamping lo membuat gue selalu merasa hangat..” jawab Alvin dengan mantap.
Keduanya
sama-sama terdiam untuk beberapa saat dan menciptakan hening yang tidak dapat
dihindari lagi.
“Alvin”
“Via”
panggil mereka berdua dalam waktu yang bersamaan. Alvinpun tersenyum,
“ada
apa?”
“lo
duluan aja! Lo mau ngomong apa? Ngomong aja gue dengerin” kata Sivia
mempersilahkan Alvin untuk berbicara terlebih dahulu.
Dalam
hatinya sebenarnya Sivia berharap, Alvin akan menjelaskannya tentang kejadian
tadi.
“masalah
yang tadi, gue…. Gue nggak ciuman sama Pricill”
Sivia
bernafas lega ketika itu juga. Tapi rasa gengsinya yang terlampau mendarah
daging membuat Sivia harus bisa menutupi kelegaannya itu dihadapan Alvin.
“mau
ciuman juga nggak apa-apa. Wajar-wajar aja kali, Pricilla kan pacar lo”
“bukan…”
sambar Alvin seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali, ”maksud gue, gue…
gue udah putus sama Pricill” lanjut Alvin yang mulai gelagapan.
“putus?
Kenapa putus??”
“karna
gue nggak bisa lama-lama jauh dari lo. Sampe kapanpun Cuma elo yang ada dihati
gue, Sivia. Nggak ada satu cewekpun yang bisa menggantikan posisi lo dihati
gue, tidak dengan Pricilla, tidak dengan siapapun…”
“Alvin
tapi….”
Alvin
yang mulai paham arah pembicaraan Sivia langsung menggelengkan kepalanya
beberapa kali. Ia semakin mendekati Sivia dan semakin lekat menatap kedua manik
mata Gadis itu.
“gue
mencintai lo, Sivia! Gue nggak peduli dengan apapun itu. Sekalipun nanti orang
tua kita tetep nikah dan lo tetep mau ngejauhin gue, gue akan tetep mencintai
lo, gue nggak akan pernah mundur selangkahpun dengan rasa cinta gue ini,
sekalipun gue nggak bisa milikin lo seutuhnya, tapi gue akan tetep bertahan.
Sampe matipun gue akan tetep mertahanin cinta gue keelo…”
Sivia
terkesima mendengarkan penuturan Alvin baru saja. Merasa tidak sanggup menahan
rasa harunya, Siviapun menghambur kedalam pelukan Alvin,
“waktu
Shilla bilang lo masuk hutan, rasanya gue mau mati saja, Sivia. Gue takut
terjadi sesuatu sama lo. Dan dengan nekadnya, gue juga masuk kehutan buat
nyariin lo dengan tekad gue harus nemuin lo dalam keadaan baik-baik saja. Dalam
pencarian gue tadi, gue sudah bersumpah akan mempertahankan perasaan gue keelo
Sivia, gue juga bersumpah selamanya gue akan tetep mertahanin lo dengan cara
apapun… gue bener-bener mencintai lo, Sivia…”
“gue
juga Alvin, gue juga….” Sivia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan
perkataannya,
“waktu
gue tau lo jadian sama Pricill, rasanya tuh nyawa gue udah nggak ada. Kalo lo
mau tau, sebenernya gue nggak rela ngeliat lo jadian sama Pricill, gue nggak
pernah rela Alvin. Gue selalu mencintai lo, sekeras apapun gue coba buat
mematikan perasaan gue ke elo tetep aja nggak bisa, yang ada rasa cinta gue ke
elo malah semakin tumbuh tanpa bisa gue kendalikan, gue nggak bisa berhenti
mencintai lo, Alvin, nggak pernah bisa, hiks…”
“Sivia—“
“lo
juga musti tau Alvin, tadi saat lo nemuin gue dihutan dan meluk gue dengan
begitu eratnya, gue sudah membuat sebuah kepastian, lo mau tau apa??”
Alvin
hanya mengangguk perlahan dalam pelukan Sivia,
“gue
akan tetep bersama lo. Dan kalo lo mau terus merjuangin gue dengan cara
membatalkan pernikahan orang tua kita, gue… gue akan terima. Gue cinta banget
sama lo, Alvin. Sekarang gue udah sadar, kalo itu berarti banget buat gue, gue
nggak mau kehilangan lo lagi, nggak mau…”
Alvin
tersenyum lega saat itu. Akhirnya perjuangannya selama ini ternyata membuahkan
hasil. Sivia mau bertahan bersamanya, dan hal itu sudah lebih dari cukup untuk
Alvin. Alvin akan mempertahankan Sivia seperti apa yang Sivia mau dan seperti
apa yang mereka inginkan.
Beberapa
saat kemudian Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia memegang kedua sisi
wajah Sivia lalu membelainya lembut dengan jemari tangannya. Mereka saling
menatap satu sama lain dalam waktu yang lumayan lama.
Kedua
tangan Sivia bergerak perlahan dan menyentuh dada bidang Alvin. Tangan mungil
itu bergerak lagi hingga menyentuh kedua pundak Alvin. Dengan gerakan pelan,
Sivia menarik pundak Alvin lalu mengecup kecil bibir Alvin. Detik berikutnya
Sivia melepaskan pundak Alvin dan memalingkan wajahnya kearah lain. Ia malu.
Sementara
Alvin, ia hanya diam mematung. Ini baru pertama kalinya Sivia berani memulai
duluan. Meski hanya kecupan kecil saja, tapi Alvin cukup merasa bahagia.
“jangan
ngeliat gue kayak gitu, gue malu” ujar Sivia salah tingkah tanpa sedikitpun
melihat kearah Alvin.
Tanpa
Sivia duga-duga Alvin menarik lengan Sivia dalam satu sentakan kuat. Wajah
mereka kembali berhadapan satu sama lain, kening dan hidung mereka nyaris
bersentuhan.
“I
Love you, Jelek….”
“me
too, Kuny—“
Alvin
langsung membekap mulut Sivia dengan sebuah ciuman. Dengan penuh perasaan Alvin
menciumnya. Sivia yang awalnya kagetpun memberanikan dirinya untuk membalas
ciuman Alvin yang semakin lama semakin intens itu.
Sivia
memejamkan kedua matanya dengan lembut lalu memegang dada Alvin. Ketika
menyentuh dada Alvin, Sivia dapat merasakan bagaimana kencangnya deguban
jantung Alvin saat itu. Perlahan kedua tangan Sivia bergerak lalu melingkar
dileher Alvin.
Sementara
itu, Kedua tangan Alvin yang tadinya memegang kedua pundak Sivia kini perlahan
turun dan bergerak memegangi kedua pinggang rampingnya.
Hujan
semakin lebat mengguyur bumi, dan suara petir yang menggelegar diluar sana sama
sekali tidak mampu mengusik mereka saat itu. Alvin semakin memperdalam
ciumannya, begitu juga dengan Sivia. Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi
entah kenapa rasanya lebih indah dari ciuman pertama yang pernah mereka lakukan
dulu.
Semenit
kemudian mereka sama-sama menjauhkan wajah mereka. Sivia tersenyum sungkan lalu
tertunduk malu.
“lo
masiihh aja suka malu….” Goda Alvin. Sivia menggeleng pelan.
“sekarang
lo kayaknya lebih berani ya?” lagi-lagi Alvin menggoda Sivia.
Godaan
Alvin kali ini sukses membuat Sivia mengangkat wajahnya dan melirik tajam
kearahnya. Apa iya sekarang Sivia lebih berani? Alvin tertawa meledek ketika
menangkap ekspresi Sivia yang menurutnya sangat lucu.
“hahaha…..”
“jangan
ketawa!!” sinis Sivia yang merasakan kedua pipinya sudah mulai memanas dan
mulai merona. Tapi Alvin tidak berhenti, ia malah semakin mengencangkan suara
tawanya,
“HAHAHAHAHAHAHAHA……”
“KUNYUK
SIALAAANNNNNNN!!!!” Teriak Sivia. Alvin menghentikan suara tawanya lalu menarik
Sivia kembali kedalam pelukannya.
“jangan
menghindar lagi dari gue!” Sivia mengangguk. Alvin melepaskan pelukannya dan
beralih memegang wajah Sivia, sementara kedua tangan Sivia masih terlingkar
ditubuh Alvin. Sivia mengangkat wajahnya dan menatap mata Alvin dengan teduh,
“jangan
minta putus lagi!” Sivia mengangguk,
“jangan
minta gue buat ngelepasin lo lagi!” lagi-lagi Sivia mengangguk,
“jangan
sembunyi lagi dari gue…” sekali lagi Sivia mengangguk. Alvinpun mengecup kening
Sivia dan mendekapnya erat.
“JANGAN
DEKETIN PRICILLA LAGI!!!”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment