Sunday, July 21, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 8 -J e a l o u s-





                Shilla langsung mengerem mendadak mobilnya ketika ia merasakan ada sebuah mobil yang menabrak mobilnya dari belakang. Saking kesalnya Shilla sampai mengumpat dan membanting kedua tangannya diatas setir.
            “Shit!!” geram Shilla dengan wajah yang benar-benar kesal.
            Bagian belakang mobilnya pasti rusak, atau paling tidak baret. Shilla yang sudah benar-benar kesal akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan meminta pertanggung jawaban dari orang lalai yang sudah menabrak mobilnya. Shilla membanting pintu mobilnya dengan tak berprasaan, bersamaan dengan itu, seorang pemilik Hummer hitam yang tadi menabrak mobil Shilla dengan tidak sengaja juga keluar dari dalam mobilnya dengan raut menyesal yang teramat kentara terpeta pada wajah tampannya.
            “Heh lo kalo bawa mobil hati-hati dong!!” kesal Shilla seraya menunjuk kearah Pria tampan tadi.
            Pria itu membuka kaca matanya lalu mengalungkan headphonenya pada leher dan berjalan mendekati Shilla.
            “sorry, gue nggak sengaja” ujarnya penuh penyesalan. Shilla tersenyum sinis lalu melipat kedua tangannya didepan dada.
            Baginya Pria ini sangat tidak penting. Yang terpenting sekarang bagi Shilla adalah mobilnya. Ya hanya mobilnya. Dan betapa terkejutnya Shilla ketika ia melihat lampu mobil bagian belakangnya hancur. Shilla menganga tak percaya, Pria itupun semakin merasa bersalah.
            “Mobil gue? Erghhh… lo tuh, ergh…” ujar Shilla penuh emosi dan hampir saja melayangkan bogem mentahnya pada wajah pria itu.
            Pria itu meringis bersalah,
            “sekali lagi gue minta maaf ya? Gue bener-bener nggak sengaja. Emmm…. Gue tanggung jawab deh, gue akan biayai semua kerusakan mobil lo”
            Shilla diam dan tidak memberikan tanggapan apapun. Ya, memang sudah seharusnya Pria itu bertanggung jawab, jika tidak, maka jangan harap ia akan bisa lolos dari Shilla.
            Pria itu berbalik lalu berlari kecil kearah mobilnya untuk mengambil dompetnya. Beberapa saat kemudian Pria itu kembali lagi dan menghampiri Shilla,
            “berapa semua biaya kerusakannya?” tanyanya seraya membuka dompetnya. Mata Shilla tahu-tahu tertuju pada jari manis Pria itu, yang dimana pada jari manis Pria itu bertengger sebuah cincin berlian yang terlihat sangat manis. Sepertinya cincin pertunangan.
            Shilla menghela nafas kesal lalu membuangnya dengan tidak sabar. Kenapa juga Shilla memperhatikan cincin pria itu? Tidak penting.
Mimpi apa sih Shilla semalam sampai harus mengalami kejadian menyebalkan seperti ini?
            “ya mana gue tahu! Gue kan belom bawa mobilnya ke bengkel” jawab Shilla sinis. Tapi Pria itu tetap sabar, sama sekali tidak terpancing dengan amarah Shilla.
            “kalo gitu, lo bawa aja kartu kredit gue dulu” kata Pria itu tulus sambil menyerahkan kartu kreditnya kearah Shilla. Shilla menatap sejenak wajah Pria hitam-manis itu yang jika diperhatikan lebih seksama lagi ternya a terlihat sangat tampan. Untuk yang kedua kalinya Shilla mengehela nafas lagi, sepertinya Pria ini cukup bertanggung jawab.
            “ayo diterima! Ato lo nggak mau pake ini? Lo butuh uang cash?”
            Shilla menggeleng beberapa kali dengan raut wajah yang sama sekali tidak berubah. Dengan sangat terpaksa Shilla pun menerima kartu kredit pria itu.
            “terus gimana gue harus balikin ini nanti?” Tanya Shilla sambil menjulurkan kartu kredit itu kearah Pria tadi. Kali ini nada bicaranya terdengar sedikit rendah dan tdak setinggi tadi. Pria itu terlihat berfikir sejenak, ia pun lantas mengeluarkan kartu namanya lalu menyerahkannya pada Shilla,
            “ini ID-Card gue, lo bisa hubungin gue kapanpun buat balikin kartu kredit itu” Shilla menerima kartu nama itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.
            “kalo gitu gue pergi dulu ya. Eemm.. bukannya gue mau lepas tanggung jawab, Cuma aja sekarang gue harus segera Ke kampus baru gue buat ngurus surat kepindahan gue, dan gue sangat buru-buru, lo nggak apa-apa gue tinggal?” tanyanya memastikan.
            “nggak apa-apa” jawab Shilla sekenanya.
            Pria itu tersenyum lalu memohon diri,
            “Gue pamit ya kalo gitu, sekali lagi gue minta maaf sama lo dan… thank you.” ujar Pria itu dengan senyuman manisnya lalu melangkah terburu-buru kearah mobilnya.
            Ketika melewati Shilla, Pria itu kembali tersenyum dan melambaikan tangannya. Shilla hanya terdiam kaku ditempatnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ya Tuhan, kenapa Pria tadi begitu mempesona?
            “Oh My God! Lo bener-bener udah gila, Shill” gumam Shilla yang baru sadar dari keterpanaannya. Shilla melihat ID-Card Pria tadi dan membacanya,

            “GABRIEL STEVENT DAMANIK” Shilla mengangkat kedua bahunya lalu menampakaan raut tak peduli. Ia pun memasuki mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu. Ia harus segera memperbaiki mobilnya jika tidak mau kena amukan Papanya.


****

            Ketika memasuki kamarnya, Sivia dikagetkan oleh kehadiran Ify yang tahu-tahu sudah berada didalam kamarnya. Ify terlihat tengah menangis. Ia menyeka air matanya lalu bangkit dari ranjang Sivia. Ify bangkit dari ranjang Sivia dan menghampiri Sivia, ia langsung memeluk sahabatnya itu sambil terisak. Kedua alis Sivia bertaut, heran dengan Ify.
            “lo kenapa, Fy?” Tanya Sivia sedikit cemas.
            “gu… gue… hiks… hiks… hiks…” Ify merasa benar-benar tidak sanggup jika harus melanjutkan perkataannya.
            Sivia mengusap punggung Ify beberapa kali untuk menenangkannya,
            “ya udah, tenangin diri lo dulu ya? Tarik nafas—“ Ify mengikuti Instruksi yang Svia berikan, ia menarik nafas perlahan, “buang” lanjut Sivia.
            Bukannya merasa sedikit lebih baik ketika sudah membuang nafasnya, tangis Ify malah semakin pecah. Siviapun bingung. Harus bagaimana ia sekarang?
            “Fy lo kenapa sih? Ha? Bisa kan cerita sama gue?” pinta Sivia lembut,
            “Ray, Via… Ray…” ujar Ify ditengah-tengah isakkannya,
            “iya, Ray kenapa?”
            “hiks.. hiks… Ray, Ray mutusin gue, Via…. Ray mutusin gueeee…. Hiks… hiks…”
            Sivia sedikit kaget ketika mendengarkan penuturan Ify. Padahal lusa mereka masih baik-baik saja, malahan mereka terlihat sangat mesra, tapi sekarang?
            “Ray mutusin lo? Kok bisa?”
            “gara-gara Rio, hiks… hiks… hiks… semuanya gara-gara Rio, hiks..hiks… hiks…”
            “RIO???” Kaget Sivia. Benar-benar sulit ia percaya bahwa Ify dan Ray putus gara-gara Rio. Selama ini Rio memang sering mencari masalah, tapi jika sampai membuat Ify putus dari Ray, Sivia rasa mustahil. Sivia tahu bagaimana selama ini Rio sangat perhatian pada dirinya, Ify dan Shilla, jadi mana mungkin Rio yang menyebabkan putusnya hubungan antara Ray dan Ify.
            “kok bisa??”
            “gue juga nggak tau, Via. Gue bener-bener nggak ngerti sama jalan fikirannya Rio” Ify semakin mengeratkan pelukannya pada Sivia.
            “Fy, dengerin gue ya—“ Sivia melepaskan pelukannya dari Ify lalu menuntun Ify untuk duduk diatas ranjangnya. Dengan penuh perhatian Sivia menyeka air mata Ify yang terus saja menetes.
            “Rio pasti punya alesan dibalik semua ini, lo tau kan gimana selama ini Rio ngelindungin gue, elo sama Shilla? Rio nggak pernah rela ngeliat kita sakit apalagi sampe disakitin sama orang lain. Jadi menurut gue, Rio ngelakuin semua ini karna memang dia punya alesan”
            “tapi Ray pacar gue, dan gue percaya sama dia”
            Sivia tersenyum tenang, bahkan sangat tenang.
            “sekarang gue Tanya. Udah berapa lama lo kenal sama Rio? Dan udah berapa lama lo kenal sama Ray?” Kali ini Ify terdiam, ia menunduk dalam, merenungi pertanyaan yang Sivia lemparkan.
            “14 tahun, Fy… 14 tahun lo kenal Rio, dan selama 14 tahun juga kita sahabatan, dan elo udah tau kan gimana Rio selama 14 tahun ini? Dan Ray, lo kenal dia aja baru 2 tahun yang lalu. Oke, gue tau Ray itu pacar lo, tapi Rio sahabat lo, Fy, yang selama ini kita tahu selalu berusaha buat ngelindungin elo, gue dan Shilla, jadi nggak mungkin kalo sekarang tiba-tiba Rio sengaja ngebuat lo putus sama Ray. Kalo pun bener Rio ingin ngeliat lo putus sama Ray, itu pasti ada alesannya”
            “tapi apapun alesannya gue sayang banget sama Ray, Via, dan seharusnya Rio ngerti, Ray… Ray nggak mungkin nyakitin gue, itu nggak mungkin”
            “gue nggak maksa lo Fy buat percaya sama Rio, tapi untuk kali ini lo harus percaya sama gue, gue yakin Rio punya alesan dibalik semua ini, gue percaya itu”
            “Via, tapi—“
            “dan gue percaya sama Rio” ujar Sivia mantap. Ify menghela nafas panjang dan kembali menghambur kedalam pelukan Sivia.
            Ya… sepertinya Rio memang punya alasan dibalik semua ini. Dan sebagai sahabatnya Ify seharusnya bisa percaya.


****

            Begitu melihat Cakka yang tengah duduk sendiri dihalaman belakang rumahnya, Sivia tiba-tiba tersenyum jahil. Ia berjalan mengendap-endap dari belakang Cakka, lalu secara mengejutkan Sivia langsung menutup mata Cakka dari belakang dengan kedua tangannya. Sebisa mungkin Sivia berusaha untuk meredam suaranya agar Cakka tidak mengenalinya.
            “siapa sih?” Tanya Cakka dingin. Sebenarnya Cakka sudah tahu bahwa yang menutup matanya saat ini adalah Sivia. Memangnya siapa lagi yang berani melakukan hal itu pada Cakka dirumah ini selain Sivia? Tapi Cakka hanya berpura-pura tidak tahu hanya semata-mata untuk membuat Sivia senang.
            Sivia terkikik pelan. Cakka tersenyum penuh makna, lalu dalam satu sentakan kuat Cakka menarik kedua tangan Sivia yang mentupi wajahnya. Tidak butuh waktu yang lama, kini kedua pergelangan tangan Sivia sudah berada dalam cengkraman Cakka,
            “iseng banget sih, Vi?”
            “biar, wleee…”
            Sivia melingkarkan kedua lengannya pada bahu Cakka lalu sedikit memiringkan posisi wajahnya agar bisa melihat wajah Cakka dengan jelas. Cakka pun menoleh lalu langsung saja menjawil hidung Sivia dengan gemes.
            “iihhh… kamu tuh ya”
            “aww… Kak Cakka sakit tau” ringis Sivia seraya memegangi hidungnya yang sedikit terlihat memerah. Cakka hanya tertawa ketika melihat tingkah Sivia.
            “ayo sini duduk!” ujar Cakka. Sivia menggeleng beberapa kali dengan wajah cemberutnya yang semakin membuat Cakka ingin tertawa.
            “ngambek nih ceritanya?” Sivia lagi-lagi menggeleng. Tidak lama ia pun menghempaskan tubuhnya disebelah Cakka.
            “kesini nyariin Alvin?” Tanya Cakka tiba-tiba. Sivia melirik kearah Cakka lalu menggeleng,
            “nggak” jawab Sivia singkat. Cakka langsung menatapnya dengan kedua alis bertaut.
            “terus ngapain kesini kalo bukan nyariin Alvin?” Tanya Cakka –lagi-
            “ya nyariin Kakak lah” jawab Sivia apa adanya.
            Sivia jujur, ia kerumah Alvin hari ini bukan untuk mencari Alvin, tapi mencari Cakka. Cakka semakin heran dengan jawaban Sivia itu, buat apa juga Sivia susah-susah datang kerumahnya hanya untuk mencari dirinya?
            “habisnya aku kangen sama Kak Cakka, selama 2 hari ini ngilang terus, nggak pernah ke studio lagi buat bawain aku makanan”
            Cakka terkekeh pelan ketika mendengar jawaban Sivia itu. Ah… Gadis itu terlalu polos.
            “kangen sama aku? Nggak salah?? Bukannya sekarang udah ada Alvin ya??” Sivia kembali melirik kearah Cakka. Sivia tidak yakin dengan dugaannya ini, tapi entah kenapa Sivia merasa kalau Cakka cemburu. Cemburu pada Alvin lebih tepatnya.
            Menyadari perubahan pada air muka Sivia, Cakka langsung tertawa pelan seraya mengusap puncak kepala Gadis itu,
            “hahahaha… becanda, selama 2 hari ini aku emang lagi sibuk-sibuknya nyusun Skripsi, maklum lah Vi, bentar lagi udah wisuda”
            Sivia tersenyum kaku, tidak tahu harus berkata apalagi jika sudah seperti ini.
            “tapi nanti malem aku jemput deh kestudio”
            “AAAA…. Beneran, Kak?” Tanya Sivia antusias. Cakka langsung mengangguk beberapa kali.
            “tapi aku nggak bawa makanan” lanjut Cakka,
            “kok?”
            “soalnya aku mau ngajak kamu makan diluar”
            “NGE-DATE???” Seloroh Sivia dengan tawa yang berusaha ia tahan. Cakka hanya tersenyum menanggapi candaan Sivia tersebut.

            “EHEM…” Suara deheman dari seseorang membuat Cakka dan Sivia kaget. Dengan serempak mereka pun menoleh kebalakang dan mendapati Alvin yang ketika itu sudah berdiri dibelakang mereka.
            Tanpa rasa bersalah sedikitpun dan seolah tanpa beban, Sivia mengangkat tanganya lalu melambai,
            “Hay, Vin, udah lama?” Tegur Sivia.
            “lumayan” jawab Alvin tanpa minat.
            Merasa tidak nyaman dengan kehadiran Alvin, Cakkapun bangkit dari samping Sivia lalu memasuki rumahnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sivia membiarkannya begitu saja dan tidak ingin mencegahnya. Sivia sudah mengenal Cakka begitu jauh, ia juga sudah hafal sifat Cakka luar dalam. Jika sedang dalam keadaan seperti ini Cakka tiba-tiba menghindar atau pergi, itu berarti tidak ada yang boleh mencegahnya, tidak siapapun.
            Alvin pun mengambil alih posisi Cakka tadi. Ia duduk disamping Sivia dengan manis. Tapi raut wajahnya tidak semanis sikap duduknya.
            “kayaknya selama gue nggak ada lo deket banget ya sama Kak Cakka?” Tanya Alvin yang mendadak sewot.
            Sivia terlihat berfikir,
            “Oya? Masa sih? Kok gue ngerasa biasa aja ya?” jawab Sivia sesantai mungkin.
            “biasa aja? HAHAHAHA….” Alvin tertawa sinis.
            “yaa… seenggaknya Kak Cakka nggak pernah nyakitin perasaan gue, itu yang bikin gue ngerasa nyaman sama dia”
            Alvin langsung melirik tajam kearah Sivia. Ups, sepertinya Sivia telah salah bicara. Sivia buru-buru menutup mulutnya. Ia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa pernah ia menginginkan.
            Otak Sivia berfikir cepat mencari kata-kata yang pas untuk meralat ucapannya tadi. Ia mendadak gugup,
            “maksud gu… gue, maksudnya….” Sivia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Kali ini Sivia bingung, benar-benar bingung. Apa yang harus ia katakan sekarang?
            “gue nggak butuh penjelasan. Semuanya udah cukup jelas kok, Vi” kata Alvin tiba-tiba. Nadanya terdengar sangat tenang, tapi cukup membuat Sivia ingin menenggelamkan dirinya kedasar laut paling dalam.
            Alvin sama sekali tidak merasa marah dengan perkataan Sivia tadi. Buat apa harus marah? Toh perkataan Sivia memang benar. Selama ini kan yang Alvin lakukan hanyalah menyakiti Sivia, tidak sekalipun Alvin pernah memikirkan perasaan Gadis itu. Sementara Cakka, meskipun memiliki sifat dingin yang sudah bisa dibilang stadium akhir, tapi ia begitu perhatian pada Sivia. Ia selalu berusaha sebisa mungkin untuk menjaga perasaan Gadis itu, sangat berbanding terbalik dengan Alvin kan?
            Alvin hanya marah pada dirinya sendiri. Sangat marah karna sampai detik ini ia belum menemukan cara yang pas untuk menebus kesalahannya pada Sivia. Masih untung Sivia berbaik hati mau memberikannya kesempatan.
            “nggak usah fikirin perkataan gue tadi, Vin… gue Cuma asal ngomong aja kok” ujar Sivia yang mulai merasa tidak enak hati pada Alvin. Alvin menggeleng pelan,
            “nggak, lo nggak salah. Kak Cakka emang lebih baik dari gue, gue sadar, dan mungkin, Kak Cakka lebih pantes buat lo dari pada gue”
            “nggak kayak gitu, Vin…”
            “nggak kayak gitu?” Tanya Alvin kembali. Sivia hanya mengangguk.
            “kalo nggak gitu terus gimana? Sekarang gue mulai mengerti alesan kenapa lo belom bisa nerima gue” Alvin membuang tatapannya kearah lain.
            “karna Kak Cakka, kan?”
            “ALVIN….” Sivia mulai emosi.
            “terus kalo bukan karna Cakka, lalu karna apa lagi, Via?? Lo mulai suka kan sama Kak Cakka? Iya kan??” tuduh Alvin dengan sengit. Kali ini Sivia terdiam. Ia menunduk dalam dan mulai memikirkan perkataan Alvin. Benarkah ia mulai menyukai Cakka?
            Tapi sungguh, dari dulu hingga sekarang Sivia hanya mencintai Alvin. Hanya Alvin pemilik hatinya satu-satunya, bukan Cakka, bukan juga yang lainnya. Sivia hanya menganggap Cakka sebagai Kakaknya, dan tidak pernah lebih dari itu. Jikapun sekarang Sivia lebih dekat dengan Cakka dari pada dengan Alvin, itu semata-mata Sivia lakukan hanya untuk membuat Cakka kuat. Sivia tidak ingin Cakka kembali rapuh seperti dulu, Sivia tidak ingin kehilangan senyuman Cakka. Hanya itu.
            “gue nggak suka sama Kak Cakka” ujar Sivia pelan. Alvin tersenyum sinis,
            “oh? Gitu ya? Kalo lo nggak suka sama Kak Cakka, berarti lo bisa kan nerima gue sekarang dan minta gue buat nggak nunggu lagi?” tantang Alvin.
            Yang sebenarnya terjadi adalah, Alvin tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Ia hanya ingin menguji perasaan Sivia saja padanya, hanya itu.
            “jadi intinya lo cemburu??” simpul Sivia yang sekaligus ingin mengalihkan topic. Entahlah, ia hanya merasa belum terlalu yakin dengan Alvin, dan ia masih perlu diyakinkan.
            “iya gue cemburu. Dan sekarang bisa lo jawab pertanyaan gue tadi? Bisa lo nerima gue sekarang juga?” jawab Alvin dengan tegas. Sepertinya dari pertama ia sudah tahu kalau Sivia hanya ingin mengalihkan topic saja.
            “Vin, tap… tapi—“ Sivia mulai merasa terpojokan, dan Sivia benci keadaan ini.
            “lo nggak bisa kan, Via… lo nggak bisa! Lo emang udah nggak cinta lagi sama gue, dan emang bener kalo lo suka sama Kak Cakka, hahaa…” Alvin tertawa miris dan membuang tatapannya kedepan.
            Sivia memejamkan matanya sejenak. Mendadak ia ingin melakukan itu untuk meyakinkan Alvin. Apapun resikonya, Sivia harus tetap melakukan hal itu, hal yang selama ini mungkin Alvin inginkan darinya.
            Sivia menghela nafas panjang, ia membuka matanya lalu menarik lengan Alvin hingga mereka kembali berhadapan satu sama lain. Alvin menatap Sivia dengan tatapan bingung. Beberapa saat kemudian Sivia memegang tengkuk Alvin lalu menariknya dalam satu gerakan cepat. semuanya terjadi begitu saja, Sivia telah memejamkan matanya. Sementara Alvin, kedua matanya membelalak lebar, sulit ia percaya bahwa Sivia akan melakukan hal itu padanya, Sivia mengecup bibirnya dengan lembut.
            3 detik kemudian Sivia menjauhkan wajahnya dari Alvin, tapi tangan kanannya masih memegangi tengkuk Pria itu. Sivia memejamkan matanya lalu menunduk dalam.
            “Vi… Via?” panggil Alvin pelan,
            “apa itu cukup membuat lo yakin kalo gue Cuma mencintai lo?” Tanya Sivia dalam sebuah bisikan pelan, bahkan sangat pelan.
            Alvin tidak mampu berucap lagi. Mulutnya seakan terkunci rapat, dan tenggorokannya seakan tercekat. Kini Alvin tidak perlu lagi meragukan perasaan Sivia. Kecupan yang begitu hangat dan penuh cinta itu sudah cukup membuat Alvin meyakini hati Sivia. Dalam hati Alvin berjanji tidak akan meragukan perasaan Sivia lagi, tidak akan pernah.
            Alvin mendekatkan keningnya dengan kening Sivia. Sementara tangan kanan Sivia masih betah memegangi tengkuk Alvin. Alvin menatap mata Sivia yang terpejam lalu menggeleng pelan,
            “maafin gue…” lirih Alvin pelan. Alvin meraih tangan Sivia yang memegangi tengkuknya, ia menggenggam erat tangan mungil itu lalu mengecupnya dengan lembut. Alvin melakukannya agak lama.
            “maafin gue…” lirih Alvin sekali lagi. Alvinpun merengkuh tubuh Sivia dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
            “mulai sekarang gue hanya akan menunggu tanpa banyak bicara lagi, gue akan nungguin lo sampe lo siep, gue nggak akan banyak omong lagi, nggak akan banyak omong lagi…” Alvin mengecup puncak kepala Sivia dan semakin mengeratkan pelukannya pada Gadis itu.
            Ragu-ragu Sivia akhirnya membalas pelukan Alvin,

            “Gue udah ngeyakinin lo, Vin. Dan sekarang, giliran lo yang ngeyakinin gue, yakinin gue kalo lo bener-bener udah bisa mencintai gue dengan sepenuh hati lo, juga yakinin gue kalo lo…. Emang udah bener-bener ngelupain Pricill, hanya itu, Vin, hanya itu…”

            “akan gue lakuin apapun yang lo minta. Gue cinta sama lo…” bisik Alvin pelan.


****

            “Ngapain lo dateng kesini lagi? Udah lupa lo kalo kita udah putus??” bentak Ray dengan kasar ketika Ify datang berkunjung ke Studio Musiknya. Rasanya Ify ingin menangis saja ketika mendengar bentakan Ray yang keras itu. Tapi Ify berusaha menahan.
            “Ray, aku kesini ma.. mau—“
            Belum selesai perkataan Ify tiba-tiba saja seorang cewek yang menurut Ify lumayan seksi datang menghampiri Ray. Ia bergelayut manja dipundak Ray.
            “dia siapa Beib?” Tanya cewek itu dengan nada suara yang dimanja-manjakan. Sebelum menjawab pertanyaan cewek itu, Ray sempat melihat Ify dari ujung kaki hingga rambut, tidak lama…
            “nggak tau, gue nggak kenal” jawab Ray tanpa perasaan sama sekali. Dan kali ini Ify sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menghamburkan air mata. Rasanya perih sekali, ketika Ray, Pria yang paling ia cintai setelah Papanya ternyata tidak pernah menganggapnya ada. Ify menggigit bagian bawah bibirnya sekuat mungkin. Tiba-tiba saja semua perkataan Rio padanya kemarin berpendar kembali diingatannya.
            Ternyata Ray memang brengsek  dan Ify langsung menyesal saat itu juga, ia menyesal karna tidak mau mendengarkan perkataan Rio sebelumnya. seharusnya ia mempercayai ucapan Rio.  Jika saja Ify mempercayai ucapan Rio kemarin, mungkin sekarang keadaannya tidak akan semenyakitkan ini.
            “udah pergi lo sana! Ngapain diem disitu??” usir Ray. Ify menyeka air matanya. Sudah cukup ia menangis untuk cowok brengsek ini. Lain kali Ify tidak akan lagi meneteskan air matanya demi Ray , tidak akan lagi, tidak setetespun.
            Ify menatap Ray tajam. Tiba-tiba saja tangan kananya terangkat lalu bergerak dengan cepat menampar pipi sebelah kiri Ray. Ray tersentak, begitu juga dengan cewek yang ada disampingnya.
            “itu balesan buat lo!!” desis Ify lalu berlari keluar meninggalkan tempat yang sangat menyakitkannya itu.
            Ify berlari sekencang-kencangnya tanpa arah dan tujuan yang jelas. Hatinya benar-benar sakit, bahkan rasanya Ify merasa susah untuk sekedar menarik nafas saja. Menyesakkan, benar-benar menyesakkan.
            Karna merasa kelelahan, Ify akhirnya terduduk diterotoar jalan. Ia menenggelamkan wajahnya dilututnya lalu menangis terisak. Tidak ada siapapun yang mendengarkan tangisannya, ditempat yang sepi itu hanya ada Ify.
            “hiks… hiks.. hiks… Rio maafin gue, RIOOOOOO MAAFIN GUE, HIKS.. HIKS… HIKS…” Ujar Ify penuh penyesalan ditengah-tengah isakkannya yang terdengar memilukan. Saat ini Ify benar-benar membutuhkan Rio. Ia ingin menangis dibahu Pria itu.
            Tiba-tiba saja Ify merasakan ada sebuah tangan yang menarik kedua bahunya lalu membawanya kedalam sebuah dekapan hangat. Rio, Pria itu telah datang untuk Ify, hanya untuk Ify.
            “gue udah disini, Fy. Lo jangan nangis lagi ya?” pinta Rio dengan lembut. Namun bukannya tangisan itu mereda, tapi malah semakin menjadi. Ify meremas kuat-kuat kaos yang Rio kenakan lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Rio.
            “rasanya sakit, Yo… rasanya sakiiittt banget, hiks.. hiks… hiks…”
            “sttt…  nggak usah lo bahas lagi ya? Nggak usah…”
            “harusnya sejak awal gue dengerin kata-kata lo, harusnya sejak awal gue nggak keras kepala, harusny—“
            “stttt…” Rio tiba melepaskan pelukan Ify darinya lalu meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir mungil gadis itu. Rio menggelengkan kepalanya beberapa kali,
            “penyesalan udah nggak ada gunanya lagi, Fy… yang terpenting sekarang lo udah sadar kalo Ray itu bukan cowok baik-baik, itu yang terpenting”
            Ify mengangguk  beberapa kali lalu kembali membawa dirinya kedalam pelukan Rio. Dalam pelukan Rio entah kenapa Ify merasa sangat nyaman. Semua bebannya seakan menghilang tanpa beban. Ify pun sekarang sudah merasa sedikit lebih baik.

            ‘thanks, Yo….’ batin Ify.


****

            Alvin menunggu Sivia dengan sabar di Loby ANH-Radio. Malam ini Alvin ingin mengajak Sivia makan malam bersama disebuah restoran. Sejak tadi siang Alvin sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang, dan Alvin yakin seratus persen bahwa Sivia akan sangat senang dengan kejutannya malam ini.
            Sekitar 15 menit kemudian, Alvinpun melihat Sivia yang ketika itu baru keluar dari dalam Lift. Alvin bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan menghampiri Gadis itu.
            “Via….” Alvin memeluk Sivia.
            Karna Alvin memeluknya secara mendadak, Siviapun merasa tidak siap, ia sedikit mundur kebelakang tapi sebisa mungkin ia berusaha mengimbangi dirinya. Mau tidak mau Siviapun akhirnya membalas pelukan Alvin supaya ia tidak terjatuh.
            “Alvin, lo apa-apaan sih? Kalo mau meluk liat tempat dong! Disini banyak orang, banyak yang ngeliatin, lo nggak malu apa?” bisik Sivia didepan telinga Alvin. Tapi Alvin tidak peduli, ia malah lebih mengeratkan lagi pelukannya.
            “gue nggak peduli. Biarin aja semua orang lihat, biar semua orang tau kalo lo Cuma milik gue”
            “iihhh…. Norak tau?”
            “emang gue fikirin?” sahut Alvin cepat.
            Merasa susah bernafas karna perlakuan Alvin, Siviapun memukul-mukul dada Alvin agar melepaskannya,
            “uhuk… uhuk… Vin, lo meluknya kekencengan, gue susah nafas tau?” protes Sivia. Kelamaan ia merasa dongkol juga dengan ulah Alvin ini. Alvinpun melepaskan pelukannya dari Sivia lalu memasang raut wajah memohon maaf.
            “sorry, sorry…”
            “sorry, sorry? Lo mau bunuh gue apa??”
            Alvin nyengir tanpa dosa lalu merangkul Sivia,
            “dinner yuk!” ajak Alvin tidak ada romantis-romantisnya. Coba kalau sama Pricill. Sivia memberengut kesal seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
            “kok cemberut? Jelek tau??”
            “iihhh suka-suka gue… emangnya ada gitu orang ngajakin dinner kayak cara lo? Primitive, sama sekali nggak romantic”
            “emang cara gue gimana?” Tanya Alvin tidak paham,
            “cara lo ngajakin gue dinner itu udah kayak mau ngajakin gue ke Pom bensin tau? Nyebelin”
            “emang cara yang romantic kayak apa?” Tanya Alvin sekali lagi. Dan kali ini lebih menyebalkan lagi. Sivia mendesis sinis. Capek juga lama-lama ngadepin cowok satu ini. Bikin gondok!
            Perhatian Sivia tiba-tiba tertuju kearah Pintu masuk. Disana sudah berdiri Cakka yang –mungkin- sedang menunggunya. Sivia menepuk pelan keningnya, ia baru ingat kalau tadi siang ia dan Cakka sudah memiliki rencana untuk makan malam bersama malam ini.
            Alvin juga melihat kearah Cakka, tatapannya hampa. Sivia meringis pelan, ia menatap kedua Pria itu secara bergantian dengan tatapan bersalah. Sivia harus bagaimana sekarang?
            Tidak lama kemudian, Cakka pun berbalik lalu pergi begitu saja meninggalkan Studio. Sivia yang ingin mengejar Cakka langsung ditahan oleh Alvin,
            “mau kemana lo?”
            “mau nyamperin Kak Cakka” ketika Sivia akan melangkah pergi Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya. Alvin seolah tidak mengijinkan Sivia pergi.
            “Vin…”
            Sivia melepaskan begitu saja genggaman tangan Alvin darinya lantas berkata,
            “sorry, Vin, tapi gue harus pergi sama Kak Cakka. Gue udah janji duluan sama dia soalnya…”
            “tapi, Vi….”
            “lo pasti ngerti kan, Vin?” Tanya Sivia pelan.
            Lalu tanpa mendengarkan perkataan Alvin terlebih dahulu, Sivia langsung berlari keluar mengejar Cakka yang saat itu mungkin sudah jauh.
            Alvin mengerang putus asa. Entah ini sudah untuk keberapa kalinya Sivia menolaknya, dan lagi-lagi karna Cakka.
            Alvin mengusap wajahnya, ia berusaha berfikir jernih dan menepikan semua egonya saat ini. Alvin tahu, Alvin mengerti, Cakka lebih membutuhkan Sivia saat ini. Dan sudah seharusnya Alvin tidak emosi dan cemburu.

            “maaf karna gue udah egois, Kak…” lirih Alvin pelan lalu berjalan perlahan meninggalkan ANH-Radio.



                        BERSAMBUNG…
           

0 comments:

Post a Comment