Shilla langsung mengerem mendadak
mobilnya ketika ia merasakan ada sebuah mobil yang menabrak mobilnya dari
belakang. Saking kesalnya Shilla sampai mengumpat dan membanting kedua
tangannya diatas setir.
“Shit!!” geram Shilla dengan wajah
yang benar-benar kesal.
Bagian belakang mobilnya pasti
rusak, atau paling tidak baret. Shilla yang sudah benar-benar kesal akhirnya
memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan meminta pertanggung jawaban dari
orang lalai yang sudah menabrak mobilnya. Shilla membanting pintu mobilnya
dengan tak berprasaan, bersamaan dengan itu, seorang pemilik Hummer hitam yang
tadi menabrak mobil Shilla dengan tidak sengaja juga keluar dari dalam mobilnya
dengan raut menyesal yang teramat kentara terpeta pada wajah tampannya.
“Heh lo kalo bawa mobil hati-hati
dong!!” kesal Shilla seraya menunjuk kearah Pria tampan tadi.
Pria itu membuka kaca matanya lalu
mengalungkan headphonenya pada leher dan berjalan mendekati Shilla.
“sorry, gue nggak sengaja” ujarnya
penuh penyesalan. Shilla tersenyum sinis lalu melipat kedua tangannya didepan
dada.
Baginya Pria ini sangat tidak
penting. Yang terpenting sekarang bagi Shilla adalah mobilnya. Ya hanya
mobilnya. Dan betapa terkejutnya Shilla ketika ia melihat lampu mobil bagian
belakangnya hancur. Shilla menganga tak percaya, Pria itupun semakin merasa
bersalah.
“Mobil gue? Erghhh… lo tuh, ergh…”
ujar Shilla penuh emosi dan hampir saja melayangkan bogem mentahnya pada wajah
pria itu.
Pria itu meringis bersalah,
“sekali lagi gue minta maaf ya? Gue
bener-bener nggak sengaja. Emmm…. Gue tanggung jawab deh, gue akan biayai semua
kerusakan mobil lo”
Shilla diam dan tidak memberikan
tanggapan apapun. Ya, memang sudah seharusnya Pria itu bertanggung jawab, jika
tidak, maka jangan harap ia akan bisa lolos dari Shilla.
Pria itu berbalik lalu berlari kecil
kearah mobilnya untuk mengambil dompetnya. Beberapa saat kemudian Pria itu
kembali lagi dan menghampiri Shilla,
“berapa semua biaya kerusakannya?”
tanyanya seraya membuka dompetnya. Mata Shilla tahu-tahu tertuju pada jari
manis Pria itu, yang dimana pada jari manis Pria itu bertengger sebuah cincin
berlian yang terlihat sangat manis. Sepertinya cincin pertunangan.
Shilla menghela nafas kesal lalu
membuangnya dengan tidak sabar. Kenapa juga Shilla memperhatikan cincin pria
itu? Tidak penting.
Mimpi apa sih Shilla semalam sampai harus mengalami kejadian
menyebalkan seperti ini?
“ya mana gue tahu! Gue kan belom
bawa mobilnya ke bengkel” jawab Shilla sinis. Tapi Pria itu tetap sabar, sama
sekali tidak terpancing dengan amarah Shilla.
“kalo gitu, lo bawa aja kartu kredit
gue dulu” kata Pria itu tulus sambil menyerahkan kartu kreditnya kearah Shilla.
Shilla menatap sejenak wajah Pria hitam-manis itu yang jika diperhatikan lebih
seksama lagi ternya a terlihat sangat tampan. Untuk yang kedua kalinya Shilla
mengehela nafas lagi, sepertinya Pria ini cukup bertanggung jawab.
“ayo diterima! Ato lo nggak mau pake
ini? Lo butuh uang cash?”
Shilla menggeleng beberapa kali
dengan raut wajah yang sama sekali tidak berubah. Dengan sangat terpaksa Shilla
pun menerima kartu kredit pria itu.
“terus gimana gue harus balikin ini
nanti?” Tanya Shilla sambil menjulurkan kartu kredit itu kearah Pria tadi. Kali
ini nada bicaranya terdengar sedikit rendah dan tdak setinggi tadi. Pria itu
terlihat berfikir sejenak, ia pun lantas mengeluarkan kartu namanya lalu
menyerahkannya pada Shilla,
“ini ID-Card gue, lo bisa hubungin
gue kapanpun buat balikin kartu kredit itu” Shilla menerima kartu nama itu sambil
mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.
“kalo gitu gue pergi dulu ya. Eemm..
bukannya gue mau lepas tanggung jawab, Cuma aja sekarang gue harus segera Ke
kampus baru gue buat ngurus surat kepindahan gue, dan gue sangat buru-buru, lo
nggak apa-apa gue tinggal?” tanyanya memastikan.
“nggak apa-apa” jawab Shilla
sekenanya.
Pria itu tersenyum lalu memohon
diri,
“Gue pamit ya kalo gitu, sekali lagi
gue minta maaf sama lo dan… thank you.” ujar Pria itu dengan senyuman manisnya
lalu melangkah terburu-buru kearah mobilnya.
Ketika melewati Shilla, Pria itu
kembali tersenyum dan melambaikan tangannya. Shilla hanya terdiam kaku
ditempatnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ya Tuhan, kenapa Pria
tadi begitu mempesona?
“Oh My God! Lo bener-bener udah
gila, Shill” gumam Shilla yang baru sadar dari keterpanaannya. Shilla melihat
ID-Card Pria tadi dan membacanya,
“GABRIEL STEVENT DAMANIK” Shilla
mengangkat kedua bahunya lalu menampakaan raut tak peduli. Ia pun memasuki
mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu. Ia harus segera memperbaiki
mobilnya jika tidak mau kena amukan Papanya.
****
Ketika memasuki kamarnya, Sivia
dikagetkan oleh kehadiran Ify yang tahu-tahu sudah berada didalam kamarnya. Ify
terlihat tengah menangis. Ia menyeka air matanya lalu bangkit dari ranjang
Sivia. Ify bangkit dari ranjang Sivia dan menghampiri Sivia, ia langsung
memeluk sahabatnya itu sambil terisak. Kedua alis Sivia bertaut, heran dengan
Ify.
“lo kenapa, Fy?” Tanya Sivia sedikit
cemas.
“gu… gue… hiks… hiks… hiks…” Ify
merasa benar-benar tidak sanggup jika harus melanjutkan perkataannya.
Sivia mengusap punggung Ify beberapa
kali untuk menenangkannya,
“ya udah, tenangin diri lo dulu ya?
Tarik nafas—“ Ify mengikuti Instruksi yang Svia berikan, ia menarik nafas perlahan,
“buang” lanjut Sivia.
Bukannya merasa sedikit lebih baik
ketika sudah membuang nafasnya, tangis Ify malah semakin pecah. Siviapun
bingung. Harus bagaimana ia sekarang?
“Fy lo kenapa sih? Ha? Bisa kan
cerita sama gue?” pinta Sivia lembut,
“Ray, Via… Ray…” ujar Ify
ditengah-tengah isakkannya,
“iya, Ray kenapa?”
“hiks.. hiks… Ray, Ray mutusin gue,
Via…. Ray mutusin gueeee…. Hiks… hiks…”
Sivia sedikit kaget ketika
mendengarkan penuturan Ify. Padahal lusa mereka masih baik-baik saja, malahan mereka
terlihat sangat mesra, tapi sekarang?
“Ray mutusin lo? Kok bisa?”
“gara-gara Rio, hiks… hiks… hiks…
semuanya gara-gara Rio, hiks..hiks… hiks…”
“RIO???” Kaget Sivia. Benar-benar
sulit ia percaya bahwa Ify dan Ray putus gara-gara Rio. Selama ini Rio memang
sering mencari masalah, tapi jika sampai membuat Ify putus dari Ray, Sivia rasa
mustahil. Sivia tahu bagaimana selama ini Rio sangat perhatian pada dirinya,
Ify dan Shilla, jadi mana mungkin Rio yang menyebabkan putusnya hubungan antara
Ray dan Ify.
“kok bisa??”
“gue juga nggak tau, Via. Gue
bener-bener nggak ngerti sama jalan fikirannya Rio” Ify semakin mengeratkan
pelukannya pada Sivia.
“Fy, dengerin gue ya—“ Sivia
melepaskan pelukannya dari Ify lalu menuntun Ify untuk duduk diatas ranjangnya.
Dengan penuh perhatian Sivia menyeka air mata Ify yang terus saja menetes.
“Rio pasti punya alesan dibalik
semua ini, lo tau kan gimana selama ini Rio ngelindungin gue, elo sama Shilla?
Rio nggak pernah rela ngeliat kita sakit apalagi sampe disakitin sama orang
lain. Jadi menurut gue, Rio ngelakuin semua ini karna memang dia punya alesan”
“tapi Ray pacar gue, dan gue percaya
sama dia”
Sivia tersenyum tenang, bahkan
sangat tenang.
“sekarang gue Tanya. Udah berapa
lama lo kenal sama Rio? Dan udah berapa lama lo kenal sama Ray?” Kali ini Ify
terdiam, ia menunduk dalam, merenungi pertanyaan yang Sivia lemparkan.
“14 tahun, Fy… 14 tahun lo kenal
Rio, dan selama 14 tahun juga kita sahabatan, dan elo udah tau kan gimana Rio
selama 14 tahun ini? Dan Ray, lo kenal dia aja baru 2 tahun yang lalu. Oke, gue
tau Ray itu pacar lo, tapi Rio sahabat lo, Fy, yang selama ini kita tahu selalu
berusaha buat ngelindungin elo, gue dan Shilla, jadi nggak mungkin kalo
sekarang tiba-tiba Rio sengaja ngebuat lo putus sama Ray. Kalo pun bener Rio
ingin ngeliat lo putus sama Ray, itu pasti ada alesannya”
“tapi apapun alesannya gue sayang
banget sama Ray, Via, dan seharusnya Rio ngerti, Ray… Ray nggak mungkin
nyakitin gue, itu nggak mungkin”
“gue nggak maksa lo Fy buat percaya sama
Rio, tapi untuk kali ini lo harus percaya sama gue, gue yakin Rio punya alesan
dibalik semua ini, gue percaya itu”
“Via, tapi—“
“dan gue percaya sama Rio” ujar
Sivia mantap. Ify menghela nafas panjang dan kembali menghambur kedalam pelukan
Sivia.
Ya… sepertinya Rio memang punya
alasan dibalik semua ini. Dan sebagai sahabatnya Ify seharusnya bisa percaya.
****
Begitu melihat Cakka yang tengah
duduk sendiri dihalaman belakang rumahnya, Sivia tiba-tiba tersenyum jahil. Ia
berjalan mengendap-endap dari belakang Cakka, lalu secara mengejutkan Sivia
langsung menutup mata Cakka dari belakang dengan kedua tangannya. Sebisa
mungkin Sivia berusaha untuk meredam suaranya agar Cakka tidak mengenalinya.
“siapa sih?” Tanya Cakka dingin.
Sebenarnya Cakka sudah tahu bahwa yang menutup matanya saat ini adalah Sivia.
Memangnya siapa lagi yang berani melakukan hal itu pada Cakka dirumah ini
selain Sivia? Tapi Cakka hanya berpura-pura tidak tahu hanya semata-mata untuk
membuat Sivia senang.
Sivia terkikik pelan. Cakka
tersenyum penuh makna, lalu dalam satu sentakan kuat Cakka menarik kedua tangan
Sivia yang mentupi wajahnya. Tidak butuh waktu yang lama, kini kedua
pergelangan tangan Sivia sudah berada dalam cengkraman Cakka,
“iseng banget sih, Vi?”
“biar, wleee…”
Sivia melingkarkan kedua lengannya
pada bahu Cakka lalu sedikit memiringkan posisi wajahnya agar bisa melihat
wajah Cakka dengan jelas. Cakka pun menoleh lalu langsung saja menjawil hidung
Sivia dengan gemes.
“iihhh… kamu tuh ya”
“aww… Kak Cakka sakit tau” ringis
Sivia seraya memegangi hidungnya yang sedikit terlihat memerah. Cakka hanya
tertawa ketika melihat tingkah Sivia.
“ayo sini duduk!” ujar Cakka. Sivia
menggeleng beberapa kali dengan wajah cemberutnya yang semakin membuat Cakka
ingin tertawa.
“ngambek nih ceritanya?” Sivia
lagi-lagi menggeleng. Tidak lama ia pun menghempaskan tubuhnya disebelah Cakka.
“kesini nyariin Alvin?” Tanya Cakka
tiba-tiba. Sivia melirik kearah Cakka lalu menggeleng,
“nggak” jawab Sivia singkat. Cakka
langsung menatapnya dengan kedua alis bertaut.
“terus ngapain kesini kalo bukan
nyariin Alvin?” Tanya Cakka –lagi-
“ya nyariin Kakak lah” jawab Sivia
apa adanya.
Sivia jujur, ia kerumah Alvin hari
ini bukan untuk mencari Alvin, tapi mencari Cakka. Cakka semakin heran dengan
jawaban Sivia itu, buat apa juga Sivia susah-susah datang kerumahnya hanya
untuk mencari dirinya?
“habisnya aku kangen sama Kak Cakka,
selama 2 hari ini ngilang terus, nggak pernah ke studio lagi buat bawain aku
makanan”
Cakka terkekeh pelan ketika mendengar
jawaban Sivia itu. Ah… Gadis itu terlalu polos.
“kangen sama aku? Nggak salah??
Bukannya sekarang udah ada Alvin ya??” Sivia kembali melirik kearah Cakka.
Sivia tidak yakin dengan dugaannya ini, tapi entah kenapa Sivia merasa kalau
Cakka cemburu. Cemburu pada Alvin lebih tepatnya.
Menyadari perubahan pada air muka
Sivia, Cakka langsung tertawa pelan seraya mengusap puncak kepala Gadis itu,
“hahahaha… becanda, selama 2 hari
ini aku emang lagi sibuk-sibuknya nyusun Skripsi, maklum lah Vi, bentar lagi
udah wisuda”
Sivia tersenyum kaku, tidak tahu
harus berkata apalagi jika sudah seperti ini.
“tapi nanti malem aku jemput deh kestudio”
“AAAA…. Beneran, Kak?” Tanya Sivia
antusias. Cakka langsung mengangguk beberapa kali.
“tapi aku nggak bawa makanan” lanjut
Cakka,
“kok?”
“soalnya aku mau ngajak kamu makan
diluar”
“NGE-DATE???” Seloroh Sivia dengan
tawa yang berusaha ia tahan. Cakka hanya tersenyum menanggapi candaan Sivia
tersebut.
“EHEM…” Suara deheman dari seseorang
membuat Cakka dan Sivia kaget. Dengan serempak mereka pun menoleh kebalakang
dan mendapati Alvin yang ketika itu sudah berdiri dibelakang mereka.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun dan
seolah tanpa beban, Sivia mengangkat tanganya lalu melambai,
“Hay, Vin, udah lama?” Tegur Sivia.
“lumayan” jawab Alvin tanpa minat.
Merasa tidak nyaman dengan kehadiran
Alvin, Cakkapun bangkit dari samping Sivia lalu memasuki rumahnya tanpa
mengeluarkan sepatah katapun. Sivia membiarkannya begitu saja dan tidak ingin
mencegahnya. Sivia sudah mengenal Cakka begitu jauh, ia juga sudah hafal sifat
Cakka luar dalam. Jika sedang dalam keadaan seperti ini Cakka tiba-tiba
menghindar atau pergi, itu berarti tidak ada yang boleh mencegahnya, tidak
siapapun.
Alvin pun mengambil alih posisi
Cakka tadi. Ia duduk disamping Sivia dengan manis. Tapi raut wajahnya tidak
semanis sikap duduknya.
“kayaknya selama gue nggak ada lo
deket banget ya sama Kak Cakka?” Tanya Alvin yang mendadak sewot.
Sivia terlihat berfikir,
“Oya? Masa sih? Kok gue ngerasa
biasa aja ya?” jawab Sivia sesantai mungkin.
“biasa aja? HAHAHAHA….” Alvin
tertawa sinis.
“yaa… seenggaknya Kak Cakka nggak
pernah nyakitin perasaan gue, itu yang bikin gue ngerasa nyaman sama dia”
Alvin langsung melirik tajam kearah
Sivia. Ups, sepertinya Sivia telah salah bicara. Sivia buru-buru menutup
mulutnya. Ia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu
saja dari mulutnya tanpa pernah ia menginginkan.
Otak Sivia berfikir cepat mencari
kata-kata yang pas untuk meralat ucapannya tadi. Ia mendadak gugup,
“maksud gu… gue, maksudnya….” Sivia
menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Kali ini Sivia bingung,
benar-benar bingung. Apa yang harus ia katakan sekarang?
“gue nggak butuh penjelasan.
Semuanya udah cukup jelas kok, Vi” kata Alvin tiba-tiba. Nadanya terdengar
sangat tenang, tapi cukup membuat Sivia ingin menenggelamkan dirinya kedasar
laut paling dalam.
Alvin sama sekali tidak merasa marah
dengan perkataan Sivia tadi. Buat apa harus marah? Toh perkataan Sivia memang
benar. Selama ini kan yang Alvin lakukan hanyalah menyakiti Sivia, tidak
sekalipun Alvin pernah memikirkan perasaan Gadis itu. Sementara Cakka, meskipun
memiliki sifat dingin yang sudah bisa dibilang stadium akhir, tapi ia begitu
perhatian pada Sivia. Ia selalu berusaha sebisa mungkin untuk menjaga perasaan
Gadis itu, sangat berbanding terbalik dengan Alvin kan?
Alvin hanya marah pada dirinya
sendiri. Sangat marah karna sampai detik ini ia belum menemukan cara yang pas
untuk menebus kesalahannya pada Sivia. Masih untung Sivia berbaik hati mau
memberikannya kesempatan.
“nggak usah fikirin perkataan gue
tadi, Vin… gue Cuma asal ngomong aja kok” ujar Sivia yang mulai merasa tidak
enak hati pada Alvin. Alvin menggeleng pelan,
“nggak, lo nggak salah. Kak Cakka
emang lebih baik dari gue, gue sadar, dan mungkin, Kak Cakka lebih pantes buat
lo dari pada gue”
“nggak kayak gitu, Vin…”
“nggak kayak gitu?” Tanya Alvin
kembali. Sivia hanya mengangguk.
“kalo nggak gitu terus gimana?
Sekarang gue mulai mengerti alesan kenapa lo belom bisa nerima gue” Alvin
membuang tatapannya kearah lain.
“karna Kak Cakka, kan?”
“ALVIN….” Sivia mulai emosi.
“terus kalo bukan karna Cakka, lalu
karna apa lagi, Via?? Lo mulai suka kan sama Kak Cakka? Iya kan??” tuduh Alvin
dengan sengit. Kali ini Sivia terdiam. Ia menunduk dalam dan mulai memikirkan
perkataan Alvin. Benarkah ia mulai menyukai Cakka?
Tapi sungguh, dari dulu hingga
sekarang Sivia hanya mencintai Alvin. Hanya Alvin pemilik hatinya satu-satunya,
bukan Cakka, bukan juga yang lainnya. Sivia hanya menganggap Cakka sebagai
Kakaknya, dan tidak pernah lebih dari itu. Jikapun sekarang Sivia lebih dekat
dengan Cakka dari pada dengan Alvin, itu semata-mata Sivia lakukan hanya untuk
membuat Cakka kuat. Sivia tidak ingin Cakka kembali rapuh seperti dulu, Sivia
tidak ingin kehilangan senyuman Cakka. Hanya itu.
“gue nggak suka sama Kak Cakka” ujar
Sivia pelan. Alvin tersenyum sinis,
“oh? Gitu ya? Kalo lo nggak suka
sama Kak Cakka, berarti lo bisa kan nerima gue sekarang dan minta gue buat nggak
nunggu lagi?” tantang Alvin.
Yang sebenarnya terjadi adalah,
Alvin tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Ia hanya ingin menguji
perasaan Sivia saja padanya, hanya itu.
“jadi intinya lo cemburu??” simpul
Sivia yang sekaligus ingin mengalihkan topic. Entahlah, ia hanya merasa belum
terlalu yakin dengan Alvin, dan ia masih perlu diyakinkan.
“iya gue cemburu. Dan sekarang bisa
lo jawab pertanyaan gue tadi? Bisa lo nerima gue sekarang juga?” jawab Alvin
dengan tegas. Sepertinya dari pertama ia sudah tahu kalau Sivia hanya ingin
mengalihkan topic saja.
“Vin, tap… tapi—“ Sivia mulai merasa
terpojokan, dan Sivia benci keadaan ini.
“lo nggak bisa kan, Via… lo nggak
bisa! Lo emang udah nggak cinta lagi sama gue, dan emang bener kalo lo suka
sama Kak Cakka, hahaa…” Alvin tertawa miris dan membuang tatapannya kedepan.
Sivia memejamkan matanya sejenak.
Mendadak ia ingin melakukan itu untuk meyakinkan Alvin. Apapun resikonya, Sivia
harus tetap melakukan hal itu, hal yang selama ini mungkin Alvin inginkan darinya.
Sivia menghela nafas panjang, ia
membuka matanya lalu menarik lengan Alvin hingga mereka kembali berhadapan satu
sama lain. Alvin menatap Sivia dengan tatapan bingung. Beberapa saat kemudian
Sivia memegang tengkuk Alvin lalu menariknya dalam satu gerakan cepat. semuanya
terjadi begitu saja, Sivia telah memejamkan matanya. Sementara Alvin, kedua
matanya membelalak lebar, sulit ia percaya bahwa Sivia akan melakukan hal itu
padanya, Sivia mengecup bibirnya dengan lembut.
3 detik kemudian Sivia menjauhkan
wajahnya dari Alvin, tapi tangan kanannya masih memegangi tengkuk Pria itu.
Sivia memejamkan matanya lalu menunduk dalam.
“Vi… Via?” panggil Alvin pelan,
“apa itu cukup membuat lo yakin kalo
gue Cuma mencintai lo?” Tanya Sivia dalam sebuah bisikan pelan, bahkan sangat
pelan.
Alvin tidak mampu berucap lagi.
Mulutnya seakan terkunci rapat, dan tenggorokannya seakan tercekat. Kini Alvin
tidak perlu lagi meragukan perasaan Sivia. Kecupan yang begitu hangat dan penuh
cinta itu sudah cukup membuat Alvin meyakini hati Sivia. Dalam hati Alvin
berjanji tidak akan meragukan perasaan Sivia lagi, tidak akan pernah.
Alvin mendekatkan keningnya dengan
kening Sivia. Sementara tangan kanan Sivia masih betah memegangi tengkuk Alvin.
Alvin menatap mata Sivia yang terpejam lalu menggeleng pelan,
“maafin gue…” lirih Alvin pelan.
Alvin meraih tangan Sivia yang memegangi tengkuknya, ia menggenggam erat tangan
mungil itu lalu mengecupnya dengan lembut. Alvin melakukannya agak lama.
“maafin gue…” lirih Alvin sekali
lagi. Alvinpun merengkuh tubuh Sivia dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
“mulai sekarang gue hanya akan
menunggu tanpa banyak bicara lagi, gue akan nungguin lo sampe lo siep, gue
nggak akan banyak omong lagi, nggak akan banyak omong lagi…” Alvin mengecup
puncak kepala Sivia dan semakin mengeratkan pelukannya pada Gadis itu.
Ragu-ragu Sivia akhirnya membalas
pelukan Alvin,
“Gue udah ngeyakinin lo, Vin. Dan
sekarang, giliran lo yang ngeyakinin gue, yakinin gue kalo lo bener-bener udah
bisa mencintai gue dengan sepenuh hati lo, juga yakinin gue kalo lo…. Emang
udah bener-bener ngelupain Pricill, hanya itu, Vin, hanya itu…”
“akan gue lakuin apapun yang lo
minta. Gue cinta sama lo…” bisik Alvin pelan.
****
“Ngapain lo dateng kesini lagi? Udah
lupa lo kalo kita udah putus??” bentak Ray dengan kasar ketika Ify datang
berkunjung ke Studio Musiknya. Rasanya Ify ingin menangis saja ketika mendengar
bentakan Ray yang keras itu. Tapi Ify berusaha menahan.
“Ray, aku kesini ma.. mau—“
Belum selesai perkataan Ify
tiba-tiba saja seorang cewek yang menurut Ify lumayan seksi datang menghampiri
Ray. Ia bergelayut manja dipundak Ray.
“dia siapa Beib?” Tanya cewek itu
dengan nada suara yang dimanja-manjakan. Sebelum menjawab pertanyaan cewek itu,
Ray sempat melihat Ify dari ujung kaki hingga rambut, tidak lama…
“nggak tau, gue nggak kenal” jawab
Ray tanpa perasaan sama sekali. Dan kali ini Ify sudah tidak bisa lagi menahan
dirinya untuk tidak menghamburkan air mata. Rasanya perih sekali, ketika Ray,
Pria yang paling ia cintai setelah Papanya ternyata tidak pernah menganggapnya
ada. Ify menggigit bagian bawah bibirnya sekuat mungkin. Tiba-tiba saja semua
perkataan Rio padanya kemarin berpendar kembali diingatannya.
Ternyata Ray memang brengsek dan Ify langsung menyesal saat itu juga, ia
menyesal karna tidak mau mendengarkan perkataan Rio sebelumnya. seharusnya ia
mempercayai ucapan Rio. Jika saja Ify
mempercayai ucapan Rio kemarin, mungkin sekarang keadaannya tidak akan
semenyakitkan ini.
“udah pergi lo sana! Ngapain diem
disitu??” usir Ray. Ify menyeka air matanya. Sudah cukup ia menangis untuk
cowok brengsek ini. Lain kali Ify tidak akan lagi meneteskan air matanya demi
Ray , tidak akan lagi, tidak setetespun.
Ify menatap Ray tajam. Tiba-tiba
saja tangan kananya terangkat lalu bergerak dengan cepat menampar pipi sebelah
kiri Ray. Ray tersentak, begitu juga dengan cewek yang ada disampingnya.
“itu balesan buat lo!!” desis Ify
lalu berlari keluar meninggalkan tempat yang sangat menyakitkannya itu.
Ify berlari sekencang-kencangnya
tanpa arah dan tujuan yang jelas. Hatinya benar-benar sakit, bahkan rasanya Ify
merasa susah untuk sekedar menarik nafas saja. Menyesakkan, benar-benar
menyesakkan.
Karna merasa kelelahan, Ify akhirnya
terduduk diterotoar jalan. Ia menenggelamkan wajahnya dilututnya lalu menangis
terisak. Tidak ada siapapun yang mendengarkan tangisannya, ditempat yang sepi
itu hanya ada Ify.
“hiks… hiks.. hiks… Rio maafin gue,
RIOOOOOO MAAFIN GUE, HIKS.. HIKS… HIKS…” Ujar Ify penuh penyesalan
ditengah-tengah isakkannya yang terdengar memilukan. Saat ini Ify benar-benar
membutuhkan Rio. Ia ingin menangis dibahu Pria itu.
Tiba-tiba saja Ify merasakan ada
sebuah tangan yang menarik kedua bahunya lalu membawanya kedalam sebuah dekapan
hangat. Rio, Pria itu telah datang untuk Ify, hanya untuk Ify.
“gue udah disini, Fy. Lo jangan
nangis lagi ya?” pinta Rio dengan lembut. Namun bukannya tangisan itu mereda,
tapi malah semakin menjadi. Ify meremas kuat-kuat kaos yang Rio kenakan lalu
menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Rio.
“rasanya sakit, Yo… rasanya
sakiiittt banget, hiks.. hiks… hiks…”
“sttt… nggak usah lo bahas lagi ya? Nggak usah…”
“harusnya sejak awal gue dengerin
kata-kata lo, harusnya sejak awal gue nggak keras kepala, harusny—“
“stttt…” Rio tiba melepaskan pelukan
Ify darinya lalu meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir mungil gadis
itu. Rio menggelengkan kepalanya beberapa kali,
“penyesalan udah nggak ada gunanya
lagi, Fy… yang terpenting sekarang lo udah sadar kalo Ray itu bukan cowok
baik-baik, itu yang terpenting”
Ify mengangguk beberapa kali lalu kembali membawa dirinya
kedalam pelukan Rio. Dalam pelukan Rio entah kenapa Ify merasa sangat nyaman.
Semua bebannya seakan menghilang tanpa beban. Ify pun sekarang sudah merasa
sedikit lebih baik.
‘thanks, Yo….’ batin Ify.
****
Alvin menunggu Sivia dengan sabar di
Loby ANH-Radio. Malam ini Alvin ingin mengajak Sivia makan malam bersama
disebuah restoran. Sejak tadi siang Alvin sudah menyiapkan semuanya dengan
sangat matang, dan Alvin yakin seratus persen bahwa Sivia akan sangat senang
dengan kejutannya malam ini.
Sekitar 15 menit kemudian, Alvinpun
melihat Sivia yang ketika itu baru keluar dari dalam Lift. Alvin bangkit dari
duduknya lalu berjalan perlahan menghampiri Gadis itu.
“Via….” Alvin memeluk Sivia.
Karna Alvin memeluknya secara
mendadak, Siviapun merasa tidak siap, ia sedikit mundur kebelakang tapi sebisa
mungkin ia berusaha mengimbangi dirinya. Mau tidak mau Siviapun akhirnya
membalas pelukan Alvin supaya ia tidak terjatuh.
“Alvin, lo apa-apaan sih? Kalo mau
meluk liat tempat dong! Disini banyak orang, banyak yang ngeliatin, lo nggak malu
apa?” bisik Sivia didepan telinga Alvin. Tapi Alvin tidak peduli, ia malah
lebih mengeratkan lagi pelukannya.
“gue nggak peduli. Biarin aja semua
orang lihat, biar semua orang tau kalo lo Cuma milik gue”
“iihhh…. Norak tau?”
“emang gue fikirin?” sahut Alvin
cepat.
Merasa susah bernafas karna
perlakuan Alvin, Siviapun memukul-mukul dada Alvin agar melepaskannya,
“uhuk… uhuk… Vin, lo meluknya
kekencengan, gue susah nafas tau?” protes Sivia. Kelamaan ia merasa dongkol
juga dengan ulah Alvin ini. Alvinpun melepaskan pelukannya dari Sivia lalu
memasang raut wajah memohon maaf.
“sorry, sorry…”
“sorry, sorry? Lo mau bunuh gue
apa??”
Alvin nyengir tanpa dosa lalu
merangkul Sivia,
“dinner yuk!” ajak Alvin tidak ada romantis-romantisnya.
Coba kalau sama Pricill. Sivia memberengut kesal seraya melipat kedua tangannya
didepan dada.
“kok cemberut? Jelek tau??”
“iihhh suka-suka gue… emangnya ada
gitu orang ngajakin dinner kayak cara lo? Primitive, sama sekali nggak
romantic”
“emang cara gue gimana?” Tanya Alvin
tidak paham,
“cara lo ngajakin gue dinner itu
udah kayak mau ngajakin gue ke Pom bensin tau? Nyebelin”
“emang cara yang romantic kayak
apa?” Tanya Alvin sekali lagi. Dan kali ini lebih menyebalkan lagi. Sivia
mendesis sinis. Capek juga lama-lama ngadepin cowok satu ini. Bikin gondok!
Perhatian Sivia tiba-tiba tertuju
kearah Pintu masuk. Disana sudah berdiri Cakka yang –mungkin- sedang
menunggunya. Sivia menepuk pelan keningnya, ia baru ingat kalau tadi siang ia
dan Cakka sudah memiliki rencana untuk makan malam bersama malam ini.
Alvin juga melihat kearah Cakka,
tatapannya hampa. Sivia meringis pelan, ia menatap kedua Pria itu secara
bergantian dengan tatapan bersalah. Sivia harus bagaimana sekarang?
Tidak lama kemudian, Cakka pun
berbalik lalu pergi begitu saja meninggalkan Studio. Sivia yang ingin mengejar
Cakka langsung ditahan oleh Alvin,
“mau kemana lo?”
“mau nyamperin Kak Cakka” ketika
Sivia akan melangkah pergi Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya. Alvin
seolah tidak mengijinkan Sivia pergi.
“Vin…”
Sivia melepaskan begitu saja
genggaman tangan Alvin darinya lantas berkata,
“sorry, Vin, tapi gue harus pergi
sama Kak Cakka. Gue udah janji duluan sama dia soalnya…”
“tapi, Vi….”
“lo pasti ngerti kan, Vin?” Tanya
Sivia pelan.
Lalu tanpa mendengarkan perkataan
Alvin terlebih dahulu, Sivia langsung berlari keluar mengejar Cakka yang saat
itu mungkin sudah jauh.
Alvin mengerang putus asa. Entah ini
sudah untuk keberapa kalinya Sivia menolaknya, dan lagi-lagi karna Cakka.
Alvin mengusap wajahnya, ia berusaha
berfikir jernih dan menepikan semua egonya saat ini. Alvin tahu, Alvin
mengerti, Cakka lebih membutuhkan Sivia saat ini. Dan sudah seharusnya Alvin
tidak emosi dan cemburu.
“maaf karna gue udah egois, Kak…”
lirih Alvin pelan lalu berjalan perlahan meninggalkan ANH-Radio.
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment