“Titik
terang itu telah terlihat… berjalanlah terus… sedikit lagi kalian –Alvin &
Sivia- akan menemukan dan sampai pada titik terang itu… sedikit lagi, dan
tolong jangan menyerah dulu. Cinta itu milik kalian, takdir telah memilih
kalian untuk bersatu… teruslah berjalan. Sedikit lagi…. Selangkah lagi….”
Ujian kenaikan kelas semakin dekat.
Tidak kurang dari 1 hari lagi, Sivia akan menghadapi ujian kenaikan kelas yang
akan menentukan nasibnya selanjutnya dibangku SMA. Menjelang ujian yang akan
dilaksanakan hari senin nanti Sivia semakin giat belajar. Setiap malam, Sivia
datang kerumah Cakka untuk belajar bersama.
Sivia juga meminta Cakka untuk
membantunya belajar dan membimbingnya dibeberapa mata pelajaran seperti;
Matematika, Fisika, dan Kimia.
Seperti mala mini misalnya, Cakka
dan Sivia membahas beberapa latihan soal Matematika yang kemungkinan akan
keluar nanti diujian. Sivia begitu serius memperhatikan setiap penjelasan yang
Cakka sampaikan.
Sesekali Cakka memberikan Sivia
sebuah soal dan meminta Sivia untuk menjawabnya. Jika Sivia tidak bisa, Cakka
langsung turun tangan untuk membantunya.
“Cakka, gue capeeekkk!!!” rengek
Sivia pada Cakka. Sivia melipat kedua tangannya diatas meja lalu menopang
dagunya diatas tumpukan tangannya.
Cakka menggeleng beberapa kali lalu
berkata,
“ya udah, lo jawab dulu soal ini
baru setelah itu kita istirahat” kata Cakka yang langsung disambut oleh
gelengan lemas dari Sivia.
“Cakka, lagian ini kan malam minggu,
dan elo tau kan kalo malam minggu itu jadwalnya kita kebukit, seminggu full ini
kita belajar terus Kka, gue butuh refreshing…”
“ok, kita ke bukit. Tapi setelah lo
jawab satu soal ini aja”
Sivia langsung lemas. Cakka
tiba-tiba mengeluarkan sebatang cokelat dari kantong celananya lalu menjulurkannya
didepan wajah Sivia yang cemberut,
“ini bonus kalo lo bisa nyelesein
soal ini”
Sivia yang tadinya lemas langsung
bersemangat ketika melihat Cakka menjulurkan sebuah cokelat untuknya. Siviapun
segera mengangkat wajahnya dan dengan senang hati berkata,
“ok, soalnya bakalan gue jawab!”
Cakka tersenyum penuh kemenangan.
^_^
“Kka, malem ini kok nggak ada bintang jatuh ya? Padahal gue
mau make a wish” keluh Sivia seraya menatap keatas langit yang ditaburi oleh
jutaan bintang yang bersinar terang. Sesuai janjinya pada Sivia, malam itu juga
setelah Sivia menyelesaikan soal yang ia berikan Cakka langsung membawa Sivia
pergi kebukit dengan menggunakan sepeda.
Cakka mengikuti arah pandangan Sivia
lalu berkata,
“mungkin bintangnya lagi nggak mau
jatuh dulu kali”
Sivia langsung memasang muka
cemberut. Cakka menoleh kearah Sivia lantas tertawa kecil ketika melihat
ekspresi wajah Sivia yang menurutnya sangat lucu.
Cakka mendesah pelan, ia meraih
kedua pundak Sivia lalu memutar tubuh Sivia hingga berhadapan dengannya,
“kalo mau make a wish, nggak perlu
nunggu bintang jatuh dulu, karna Tuhan selalu mendengarkan setiap permohonan
yang hambanya sampaikan”
Sivia hanya mengangguk-angguk. Sok
mengerti.
“sekarang pejamkan mata lo!” pinta
Cakka,
“buat?”
Cakka menoyor pelan kening Sivia
seraya berkata,
“nggak usah banyak nanya. Lakuin aja
apa yang gue suruh”
“iya, iya, gitu aja marah lo” ucap
Sivia sebal lalu memejamkan kedua matanya.
“terus habis itu?” Tanya Sivia lagi.
Cakka menatap sejenak wajah Sivia
yang saat itu tengah memejamkan matanya. Cakka tersenyum tipis. Bagaimana
mungkin Cakka bisa menggantikan posisi Sivia dihatinya? Selamanya Cakka mungkin
tidak akan pernah bisa menggantikan Sivia. Sivia sudah terlanjur melekat
dijiwanya. Sekalipun mungkin Cakka bisa menggantikan posisi Si Bawel ini
dihatinya, hal itu pasti akan menjadi hal tersulit yang pernah ia lakukan.
“Cakka elo kok diem aja??” protes
Sivia dengan kedua mata yang tetap terpejam.
“sorry, sorry”
“terus habis itu gue harus gimana?”
Sivia mengulang lagi pertanyaannya.
“lo tarik nafas dalam-dalam dan
keluarkan lewat mulut, tapi jangan lewat belakang, nanti repot urusannya,
haha…” gurau Cakka yang langsung membuat Sivia manyun.
Sivia mengikuti instruksi yang Cakka
yang berikan.
“setelah itu?”
“lo sebut apa keinginan lo dalem
hati. Bilang sama Tuhan!”
“GUE MAU… AWWW….” Sebuah toyoran mendarat lagi dikening Sivia,
“GUE BILANG DALAM HATI, DONGOOOOO!!!”
kata Cakka tak sabar,
“Iya, iya sorry! Elo mah rese, dari
tadi kerjaannya masa maen toyor terus sih?”
“elo sih!”
Sivia yang tidak mau meladeni Cakka
lagi akhirnya kembali focus dengan permintaan yang akan ia sampaikan pada
Tuhan. Hening untuk beberapa saat. Dan saat membuat sebuah permohonan, Sivia
terlihat begitu serius, Cakka saja sampai tidak tega menganggunya. Setelah
menyebutkan apa keinginannya Siviapun membuka kedua matanya yang tadi terpejam
dan langsung tersenyum pada Cakka yang saat itu menatapnya.
“Udah….” Kata Sivia dengan wajah
semuringah.
“lo minta apa sama Tuhan?”
“mau tau aja!” kata Sivia cuek.
“Vi” panggil Cakka tiba-tiba,
“iya….?”
“gue mau ngasih tau sesuatu sama lo,
tapi janji ya jangan marah?”
“apaan emang?” Tanya Sivia
penasaran.
“janji dulu jangan marah!”
“ya tergantung, kalo sesuatu yang
mau lo sampein bikin gue marah, ya gue bakalan marah”
“ya udah, nggak jadi kalo gitu”
Cakka menunduk lesu.
Sivia tertawa kecil lalu merangkul
pundak Cakka,
“becanda! Gue mana bisa marah sama
lo, Kka. Ya udah cerita aja, gue janji nggak bakalan marah” kata Sivia
sungguh-sungguh.
“janji?” Cakka menjulurkan jari
kelingkingnya dihadapan Sivia,
“janji!” jawab Sivia lalu mengaitkan
jari kelingkingnya pada jari kelingking Cakka.
Setelah mereka berdua melepaskan
kaitan jari kelingking mereka, Cakka pun mengalihkan tatapannya kearah depan,
begitu juga dengan Sivia. Sivia memeluk erat-erat kedua lututnya dan telah siap
mendengarkan cerita Cakka.
Cakka terdengar menghela nafas
beratnya. Beberapa saat kemudian Cakka akhirnya buka suara,
“seminggu yang lalu, Agni—“ Cakka
terdiam sejenak,
“Agni kenapa?” Sivia menoleh kearah
Cakka,
“Agni nyatain perasaannya ke gue,
dia bilang dia suka sama gue, dia—“
“APAA???” Sela Sivia tiba-tiba.
Penuturan Cakka barusan benar-benar membuat Sivia kaget sekaget-kagetnya.
Sebelumnya Sivia tidak pernah menyangka bahwa Agni akan mengikuti saran yang ia
berikan. Dalam hati Sivia menyimpan rasa bangga yang luar biasa atas keberanian
Agni.
“kenapa lo baru ngomong ke gue
sekarang? Ah, payah lo! Terus lo jawab apa ke Agni? Lo terima dia?”
“lo itu nyerocos terus ya? Kayak
Eyang gue tau nggak?”
“Eyang Subur?” Tanya Sivia datar,
“gue belom selese ngomong malah lo
potong seenak gigi lo” kata Cakka sebal.
“lanjut deh lanjut!” Sivia mengalah,
“gue nggak ngomong apa-apa ke Agni,
gue—“
“jadi lo nolak Agni??” sela Sivia
lagi.
“SIVIAAAAAAAAAAA…..” Teriak Cakka
yang sudah mulai habis kesabarannya.
“sorry deh sorry. Ok, sekarang kita
serius ya?”
“Ok, lo sekali lagi motong omongan
gue, beneran deh lidah lo yang bakalan gue potong!”
“iya, iya, sorry, maaf, ampun!”
Sekali lagi Cakka menghela nafasnya
yang terdengar berat, wajahnya yang tadi sebal berubah serius,
“dia nggak nembak gue, jadi gue mana
bisa nolak apalagi nerima dia. Yang jelas gue nggak ngomong apa-apa ke Agni.
Gue masih sangat kaget dan nggak tau musti ngomong apa ke dia”
“jadi lo ngegantung Agni? Kok lo
jahat sih, Kka? Agni itu cewek, jarang-jarang lho ada cewek yang mau nyatain
perasaannya duluan ke cowok. Lo harus hargain usaha Agni dong. Biar
bagaimanapun, Agni butuh jawaban atas perasaannya ke elo, Kka?”
“terus menurut lo gue harus gimana?”
“lo Tanya pendapat gue?” Tanya Sivia
meyakinkan. Cakka mengangguk mantap.
“kalo menurut gue, elo… terima aja
perasaan Agni, terus tembak deh jadi cewek lo” Cakka sedikit kaget dengan
pendaapat yang Sivia lontarkan. Dan pendapat Sivia itu benar-benar membuat
Cakka yakin bahwa selama ini, Sivia memang tidak pernah peka dengan
perasaannya, tidak sedikitpun, tidak setitikpun.
Jauh didasar hatinya yang terdalam,
ada sebuah rasa perih yang kini menderanya.
“Agni cewek yang baik, Kka. Dan
entah kenapa gue ngerasa, kalo lo cocok sama Agni. Mungkin sekarang lo nggak
ada rasa sama Agni, tapi nanti? Siapa yang tahu kan, Kka? Dan kita emang nggak
akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Jalanin aja dulu apa yang ada”
“Vi, tapi gue—“
Sivia meraih kedua tangan Cakka lalu
mengenggamnya erat.
“Cakka, gue mau lo bahagia, dan gue
yakin, Agnilah yang paling bisa bikin lo bahagia, Cuma dia. Terima perasaan
Agni sebelum nantinya lo nyesel. Pesen gue buat lo, Kka, jangan pernah
menyia-nyikan seseorang yang tulus sayang sama lo, sekali lo nyia-nyiain dia,
maka selamanya lo bakalan nyesel. Bintang juga tahu, Kka. Maka berusahalah
untuk PEKA, berusahalah untuk peka dengan ini….” Kata Sivia seraya menunjuk
dada Cakka.
Pertanyaannya adalah, disini yang
tidak peka sebenarnya siapa? Cakka atau Sivia?
^_^
Malam menjelang ujian, Sivia semakin
giat belajar bersama Cakka. Cakka terus membantu Sivia untuk memantapkan materi
yang selama seminggu penuh ini mereka pelajari bersama. Setelah sekitar 2 jam
berkutat dengan latihan soal Matematika dan Fisika yang merupakan mata
pelajaran pertama yang akan diujikan besok pagi, Cakka dan Sivia akhirnya
memutuskan untuk menghentikan aktifitas belajar mereka. Cakka bilang, otak
tidak boleh terlalu dipaksakan.
Sivia yang memang sejak setengah jam
yang lalu sudah merasa jenuh akhirnya dengan mutlak menyutujui perkataan Cakka
itu. Sivia pulang kerumahnya dengan langkah yang pasti, dan untuk ujian besok,
Sivia yakin bisa menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.
Tiba-tiba Sivia menghentikan
langkahnya didepan gerbang rumahnya ketika ia melihat Ninja Merah milik Alvin
terparkir dihalaman rumahnya. Sivia menghela nafas kesal. Mau apa lagi Si
Kunyuk itu datang kerumahnya? Mau cari perhatian lagi sama Mama dan Marsha?
Sivia berdecak kesal. Rasanya Sivia
enggan sekali jika harus bertemu dengan Alvin. Bukan karna apapun, hanya saja
Sivia selalu merasakan sakit dihatinya tiap kali bertemu dengan Alvin. Semakin
sering ia bertemu dengan Alvin, maka rasa tidak sanggup kehilangan itu semakin
menyeruak didadanya tanpa bisa ia kendalikan.
Sivia benci dengan semua keadaan
ini. Dan Sivia sangat benci, ketika dihadapan Alvin dan dihadapan semuanya, ia
harus selalu berpura-pura terlihat baik-baik saja. Sivia lelah bersandiwara.
Rasanya Sivia ingin lari saja dari kenyataan ini, atau setidaknya ia bisa
menghindar dari Makhluk Indah yang begitu ia cintai bernama Alvin Jonathan. Tapi
bagaimana Sivia bisa menghindar, jika Alvin saja tidak pernah membiarkannya
untuk melangkah sedikit saja dari sisinya? Sivia lelah, benar-benar lelah.
Andai Alvin tidak sekeras kepala ini dan andai Alvin mau mengalah sedikit saja.
Sivia membuka pintu rumahnya dengan
setengah hati. Diruang tengah, Sivia langsung mendapati Alvin yang saat itu
tengah berkumpul bersama Mama dan Marsha. Mereka bertiga terlihat begitu akrab,
bahkan sangat akrab.
“Via pulang Ma” ucap Sivia tanpa
semangat. Semuanya langsung menoleh kearah Sivia.
“gimana belajarnya sama Cakka?”
“biasa aja, Ma” jawab Sivia
sekenanya seraya berjalan menghampiri ketiga orang itu. Kedua mata Alvin tidak
sedikitpun teralihkan dari Sivia.
“Via, malem ini Alvin mau nginep,
katanya, dia mau belajar bareng kamu buat persiepan ujian besok pagi”
“APAAA???” Kaget Sivia. Apa barusan
Mamanya tidak salah bicara? Alvin? Menginap? Dirumahnya? Tidak, ini semua sudah
benar-benar gila.
“kok kaget gitu, Vi?” Tanya Alvin
dengan raut wajah tanpa dosanya yang selalu membuat Sivia muak ketika
melihatnya.
“ngapain lo pake nginep segala?
Kayak nggak punya rumah aja lo!” ketus Sivia.
“Via, nggak boleh ngomong gitu
sayang, Alvin kan kesini tujuannya buat belajar bareng kamu. Harusnya kamu
seneng dong ada yang nemenin belajar” ujar Mama membela Alvin.
“Via nggak butuh temen belajar, Ma.
Lagian juga, Via udah belajar kok sama Cakka”
“nggak apa-apa Tante, kalo Via emang
nggak mau aku nginep disini, aku pulang aja deh, nggak apa-apa kok, aku juga
masih bisa belajar sendiri”
Ucap Alvin pada Denita. Sivia tahu
betul bahwa saat itu Alvin sedang berakting untuk meyakinkan Mamanya. Cihh…
dasar licik! Cerca Sivia dalam hati.
“nggak gitu, Vin. Udah kamu nginep
aja disini, nggak usah peduliin Via”
“MAMA….” Sivia nyaris berteriak.
“Via, untuk malem ini, biar Alvin
yang tidur dikamar kamu, kamu tidur aja sama Marsha”
“nggak! Via nggak mau” tegas Sivia
dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
“Via, kamu kok gitu sih? Biar gimana
juga Alvin ini tetep calon saudara kamu. Kalo belum jadi saudara aja kamu udah
kayak gini sama Alvin, gimana nanti?”
“tapi, Ma….”
“nggak ada tapi-tapian. Sekarang
anter Alvin kekamar kamu”
“Ma….”
“please Via. Ini permintaan Mama”
“ergghhh… terserah Mama deh”
Sivia yang tidak ingin memperpanjang
masalah lagi akhirnya lebih memilih untuk mengalah saja. Sivia berjalan
terlebih dahulu menaiki anak tangga dengan suasana hati yang benar-benar panas.
Sementara Alvin mengikutinya dari belakang dengan senyum kemenangan.
^_^
Alvin berjalan mendekati Sivia yang
saat itu tengah berdiri dibalkon rumahnya sambil melihat keatas langit.
Beberapa saat kemudian, Alvin sudah berdiri disamping Sivia.
“ehem…” Alvin beredehem untuk
menyadarkan Sivia bahwa saat itu ia tidak sedang sendirian dibalkon.
“elo?” kata Sivia pelan lalu kembali
mengalihkan perhatiannya keatas langit. Jika sudah berdua dengan Alvin seperti
ini, mendadak Sivia pasti akan menjelma menjadi seorang manusia terbodoh
sedunia.
“elo masih marah?” Tanya Alvin
ragu-ragu.
“nggak ada gunanya juga gue
terus-terusan marah. Bukankah emang seharusnya yang gue lakuin Cuma menerima?”
ada makna tersirat dari kalimat terakhir yang Sivia ucapkan. Dan Alvin bisa menangkap
dengan sangat jelas makna itu.
“lo lagian ngapain sih kerumah gue,
Vin? Besok kan kita udah ujian kenaikan kelas, elo bukannya diem dirumah terus
belajar, eehh…. Lo malah gentayangan dirumah gue”
“lo kata hantu” kata Alvin sedikit
bergurau. Sivia mengalihkan pandangannya kearah Alvin. Ia menatap Alvin dengan
tatapan serius.
“Alvin, gue lagi nggak becanda”
“sorry…”
Hening beberapa saat. Tidak tahan
dengan suasana hening yang membungkus kebersamaan mereka malam itu, Alvin
kembali buka suara,
“gue Cuma kangen sama lo”
Sivia terdiam, juga tidak menujukan
reaksi apapun. Sivia sudah tahu bahwa Alvin akan selalu seperti ini.
“Jelek, kok lo diem?”
Kali ini Sivia membalik badannya
hingga ia berhadapan dengan Alvin,
“terus lo mau gue ngomong apa, Vin?
Lo juga berharap gue bakalan bilang kalo gue kangen lo juga? Iya?”
Alvin menggeleng pelan. Sivia
mendesah tak kentara. Ia merasa sudah tidak tahan lagi berada disamping Alvin.
Berada disamping Alvin seperti ini terlalu menyesakkan baginya. Sivia
memutuskan untuk meninggalkan Alvin, tapi sebelum melangkah pergi, Sivia sempat
berkata,
“kalo lo emang belom belajar,
belajar gih! Gue udah ngantuk, gue tidur duluan ya?”
Alvin mencekal pergelangan tangan
Sivia hingga membuat Sivia harus dengan terpaksa menghentikan langkahya. Sivia
menoleh kearah pergelangan tangannya yang berada dalam genggaman Alvin.
“please Via, sebentar aja!”
“Vin, tapi ini rumah gue, nanti kalo
Mama atau Marsha lihat bisa kacau semuanya”
“mereka nggak akan lihat, Vi”
“Alvin, tap—“
Sebelum Sivia sempat menyelesaikan
perkataannya, Alvin menarik pergelangan tangan Sivia dan membuat tubuh gadis
itu bersandar pada besi pembatas balkon. Tubuh Sivia mendadak kaku dan seakan
tak bisa digerakkan saat kedua lengan kekar milik Alvin terlingkar dengan
sempurna dipinggangnya.
“Alvin….”
“gue kangen saat-saat seperti ini,
gue kangen pengen meluk lo, gue kangen semuanya” bisik Alvin dengan suara
serak.
“Alvin, tapi kita nggak bisa kayak
gini lagi, nggak bisa” kata Sivia dengan nada putus asa. Air matanya nyaris
merembes keluar jika ia tidak berusaha menahan. Jika boleh jujur, sebenarnya
Sivia sama seperti Alvin. Sivia juga rindu akan pelukan hangat Alvin. Sivia
rindu semuanya. Tapi kenyataan ini harus membuat Sivia menyerah dengan rasa
rindunya. Keadaannya sudah tidak sama lagi seperti yang dulu. Ada banyak hal
yang berubah.
Tanpa mengeluarkan sepatah
kalimatpun, Alvin mendorong pelan kepala Sivia hingga bersandar didadanya.
Kedua tangannya semakin erat mencengkram tubuh Sivia. Sivia merasa tidak
memiliki daya sedikitpun untuk menolak perlakuan Alvin, apalagi sampai
memberontak.
Tanpa sadar, kedua tangan Sivia
terangkat secara perlahan dan melingkar pada punggung Alvin. Sivia membalas
pelukan Alvin. Saat itu juga, Sivia merasa semua beban yang ia pikul selama ini
menghilang tanpa bekas. Hanya dalam pelukan Alvin ia merasa semuanya gampang,
hanya dalam pelukan Alvin ia merasa kuat tak terkalahkan.
Kesakitan itu tidak lagi mereka
rasakan. Yang mereka rasakan saat ini hanyalah kehangatan dan rindu yang telah
menemukan pelampiasannya. Jarak diantara mereka seakan terhapus saat Alvin
semakin mempererat pelukannya pada gadis itu. Sivia juga demikan, kedua tangan
mungilnya semakin kuat mencengkram tubuh Alvin. Ditempat itu, hanya ada mereka
berdua, tidak siapapun bisa mengganggu mereka, tidak siapapun bisa mengusik
ketenangan mereka, meski hanya untuk beberapa saat saja. Dan Bintang-Bintang
menjadi saksi atas rindu mereka malam itu.
Dengan lembut Sivia memejamkan kedua
matanya saat ia merasakan Alvin mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih.
Sivia tidak pernah merasa sedamai seperti malam ini.
Beberapa saat kemudian, Alvin
melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia menyentuh kedua pipi Sivia dan menatap
wajah Gadis itu lekat-lekat. Jari jemari Alvin bergerak lembut menelusuri
setiap lekuk wajah Sivia, mulai dari kening, pelipis, pipi hingga dagu.
“gue juga kangen ini….”
Alvin mengecup kening Sivia dengan
lembut. Sekali lagi, Sivia tidak memiliki daya sedikitpun untuk menolak
perlakuan Alvin itu.
Setelah mengecup kening Sivia, Alvin
beralih hendak mencium bibirnya. Untuk sejenak Alvin menatap bibir mungil
Sivia. Secara perlahan-lahan Alvin mendekatkan bibirnya dengan bibir Sivia,
kedua matanya telah terpejam.
Dan saat bibirnya nyaris menyentuh
bibir Sivia, tiba-tiba saja Sivia menghindar dengan menoleh kearah lain. Alvin
heran,
“sorry, Vin, gue nggak bisa
ngelakuin itu”
“Vi…” Alvin menatap Sivia dengan
pandangan memohon.
Sivia menggeleng beberapa kali. Ia
melepaskan kedua lengannya yang sejak tadi melingkar dipunggung Alvin, Sivia
mendorong pelan tubuh Alvin lalu pergi begitu saja meninggalkan Alvin sendirian
dibalkon.
Tanpa Alvin ketahui, saat Sivia
melangkah pergi dan membelakangi posisinya, air mata Sivia menetes dengan deras.
Sivia merasa tidak sanggup lagi menahan tangisannya.
“ternyata lo juga kangen sama gue,
Sivia Azizah…” gumam Alvin diatas kegetiran hatinya saat ini.
^_^
Malam itu Sivia terpaksa tidur
dikamar Marsha karna malam ini ia harus rela meminjamkan kamarnya untuk Alvin.
Agak sedikit menyebalkan sih sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Semua itu
adalah permintaan Mama, dan Sivia tahu, ia tidak akan pernah bisa melawan
permintaan Mamanya.
Tidur dikamar Marsha membuat Sivia
benar-benar merasa tidak nyaman. Berkali-kali ia membalik badannya untuk
mencari posisi tidur yang nyaman, tapi Sivia tidak juga menemukan posisi yang
nyaman itu.
Sekali lagi Sivia membalik badannya.
Sivia membuka kedua matanya, samar-samar ia menangkap siluet Alvin yang saat
itu tengah duduk disamping ranjang dengan posisi kedua lutut sebagai
penopangnya. Sivia tersenyum tanpa sadar. Ia mengira bahwa itu adalah mimpi.
“Jelek…” panggil Alvin pelan,
“Kunyuk” sahut Sivia. Masih dalam
kondisi setengah sadar.
Alvin heran. Tidak biasanya Sivia
memanggilnya seperti itu. Beberapa saat kemudian, Sivia langsung tersentak
ketika menyadari bahwa semuanya bukanlah mimpi. Sivia bangkit lalu menatap
Alvin setajam mungkin,
“ELO….??”
“Stttt….” Alvin meletakkan jari
telunjuknya tepat didepan hidungnya, “lo jangan berisik! Nanti Marsha bangun”
lanjut Alvin dengan suara berbisik.
Sivia melihat sejenak kearah Marsha.
Ternyata anak itu tidak bergerak sedikitpun. Siviapun menghela nafas lega.
“lo ngapain disini malem-malem? Haa?”
balas Sivia dalam sebuah bisikan.
Alvin memegangi perutnya yang terasa
keroncongan dan menuntut minta diisi,
“Jelek, gue lapeerrr. Tadi nggak
sempet makan” rengek Alvin persis seperti anak kecil yang minta makan pada
Mamanya.
Sivia menarik nafas kesal. Kenapa
sih Kunyuk satu ini senang sekali merepotkannya?
“terus lo mau apa?”
“elo begok apa stupid sih? Ya
jelaslah gue mau makan”
“terus kalo mau makan kenapa kesini?
Kenapa nggak ke dapur aja? Dikulkas ada mie instan sama telur tuh!” jawab Sivia
seenteng mungkin.
Tidak mau ambil pusing lagi dengan
kelakuan Alvin, Sivia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang sempat
terganggu. Dan tepat ketika Sivia akan menjatuhkan kepalanya diatas bantal,
Alvin langsung menahannya,
“eitsss… lo jangan tidur lagi!
Masakin sesuatu buat gue”
“ogah. Lo nggak liat ini jam berapa?
Jam 3 Man!”
“tapi gue laper”
“ya udah, lo ke dapur aja sana cari
makanan sendiri”
“tapi gue maunya dimasakin sama lo”
“aargghhh…. Rese banget sih lo!”
“ayolah, Vi”
“nggak”
“Jelek….” Alvin menatap Sivia penuh
harap.
Kelamaan Sivia merasa tidak tega
juga ketika melihat wajah memelas Alvin. Sepertinya cowok menyebalkan ini
benar-benar kelaparan. Setelah lumayan lama berfikir, akhirnya Sivia turun dari
tempat tidur dan berjalan keluar menuju dapur dengan setengah hati.
“gue racun juga lama-lama!” dumel
Sivia dengan kekesalan yang sudah mencapai puncak klimaks.
^_^
“lo mau makan apa?” Tanya Sivia
dengan sinis pada Alvin yang saat itu tengah duduk manis dimeja makan.
“nasi goreng” jawab Alvin mantap.
“nasi goreng?? Mie instan aja ya?”
tawar Sivia. Alvin menggeleng beberapa kali.
“lo inget nggak 2 bulan yang lalu
waktu gue dirawat dirumah sakit? Waktu itukan gue minta dimasakin nasi goreng
sama lo, tapi elo nya malah beliin gue nasi goreng direstoran, terus sampai
hari berikutnya elo nggak juga Menuhin permintaan gue. Makanya sekarang gue
tagih” jawab Alvin panjang lebar yang sukses membuat Sivia melongo seperti
orang begok.
Sivia tidak menyangka bahwa Alvin
masih bisa mengingat kejadian itu dengan baik. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi,
Sivia akhirnya berjalan kearah kulkas dan menyiapkan bahan-bahan untuk memasak
nasi goreng.
Dengan setengah hati, Sivia mulai
memasak untuk Alvin. Dari meja makan, Alvin terus saja memperhatikan Sivia
tanpa sekalipun mengalihkan perhatiannya dari Gadis yang tengah sibuk memasak
itu. Kedua mata Alvin tidak henti-henti mengikuti setiap pergerakan demi
pergerakan yang Sivia lakukan. Menyadari Alvin sedang menatapnya tanpa henti,
Siviapun memplototi Alvin dengan garang lantas berkata,
“apa lo?”
Alvin tersenyum menggoda lalu
membalas perkataan Sivia,
“lo kayaknya udah siep nih jadi
Nyonya Jonathan. Kita married aja yuk!”
“married aja sana sama Kambing”
Sekitar 10 menit kemudian,
selesailah Sivia memasak nasi goreng untuk Alvin. Sivia membawa sepiring nasi
goreng kearah Alvin lalu menghidangkannya dengan sembarang dihadapan Kunyuk
itu.
“Lo makan tuh. Awas aja kalo lo
nggak habisin” ancam Sivia sok sadis. Alvin tidak berkata apa-apa. Dengan senang
hati Alvin memakan nasi goreng yang sudah Sivia buatkan khusus untuknya.
“enak” komentar Alvin pendek. Sivia
hanya diam, ia malas menanggapi komentar Alvin yang menurutnya tidak penting
itu.
“lo nggak mau coba?”
“nggak”
“tapi lo harus coba” Alvin menyendokkan
sesendok nasi untuk Sivia lalu menjulurkannya dihadapan Sivia.
“buka mulut lo! Aaaa….”
“nggak mau. Lo nggak ngerti bahasa
Indonesia ya?”
“udah, buka aja mulut lo! AAAA…..”
Alvin membuka mulutnya semakin lebar. Mau tidak mau Sivia akhirnya membuka
mulutnya dan menerima suapan dari Alvin –tentunya dengan setengah hati-
Sivia mengunyah pelan nasi goreng
itu. Ia baru menyadari bahwa ternyata masakannya enak juga.
“enak kan?” Tanya Alvin, Sivia
mengangguk,
“mau lagi?” sekali lagi Sivia
mengangguk,
“tapi nggak boleh, wleee….” Alvin
menjulurkan lidahnya. Sivia langsung cemberut.
Alvin terkekeh geli ketika melihat
ekspresi cemberut yang Sivia tunjukan. Entah kenapa dimata Alvin, Sivia terlihat
semakin cute jika ia cemberut seperti itu. Alvin mengangkat tangannya lalu
mengusap lembut puncak kepala Sivia beberapa kali dengan begitu gemesnya. Sivia
buru-buru menepis tangan Alvin dari atas kepalanya,
“apaan sih? Rese lo” ujar Sivia
keki.
“I love you” ujar Alvin mantap lalu
mengecup pipi sebelah kanan Sivia dengan gerakkan cepat. Sivia yang terkejut
dengan perlakuan Alvin itu langsung memegangi pipinya dan menatap tajam kearah
Alvin,
“elooo….” Kesal Sivia hampir
mencakar wajah Alvin. Melihat kedua pipi chubby Sivia yang mulai memerah tawa
Alvin Alvin langsung pecah seketika.
“muka lo merah, Vi. Kayak tomat”
ledek Alvin,
“biarin”
“HAHAHAHAHAHA….”
“Alvin janga ketawa!!”
“suka-suka gue dong”
Tanpa mereka berdua sadari, ada
seseorang yang memperhatikan setiap gerak gerik mereka dari kejauhan. Dia –Denita-
merasa saat itu juga dunia seakan berhenti berputar, segalanya menghilang.
Denita tidak mampu merasakan apa-apa lagi selain rasa sesak yang menyiksa.
“mereka saling menyayangi….” Gumam
Denita pelan lalu berjalan perlahan menjauhi ruang makan.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment