Sunday, July 7, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 25 "Bintang Juga Tahu"






“Titik terang itu telah terlihat… berjalanlah terus… sedikit lagi kalian –Alvin & Sivia- akan menemukan dan sampai pada titik terang itu… sedikit lagi, dan tolong jangan menyerah dulu. Cinta itu milik kalian, takdir telah memilih kalian untuk bersatu… teruslah berjalan. Sedikit lagi…. Selangkah lagi….”


                Ujian kenaikan kelas semakin dekat. Tidak kurang dari 1 hari lagi, Sivia akan menghadapi ujian kenaikan kelas yang akan menentukan nasibnya selanjutnya dibangku SMA. Menjelang ujian yang akan dilaksanakan hari senin nanti Sivia semakin giat belajar. Setiap malam, Sivia datang kerumah Cakka untuk belajar bersama.
            Sivia juga meminta Cakka untuk membantunya belajar dan membimbingnya dibeberapa mata pelajaran seperti; Matematika, Fisika, dan Kimia.
            Seperti mala mini misalnya, Cakka dan Sivia membahas beberapa latihan soal Matematika yang kemungkinan akan keluar nanti diujian. Sivia begitu serius memperhatikan setiap penjelasan yang Cakka sampaikan.
            Sesekali Cakka memberikan Sivia sebuah soal dan meminta Sivia untuk menjawabnya. Jika Sivia tidak bisa, Cakka langsung turun tangan untuk membantunya.
            “Cakka, gue capeeekkk!!!” rengek Sivia pada Cakka. Sivia melipat kedua tangannya diatas meja lalu menopang dagunya diatas tumpukan tangannya.
            Cakka menggeleng beberapa kali lalu berkata,
            “ya udah, lo jawab dulu soal ini baru setelah itu kita istirahat” kata Cakka yang langsung disambut oleh gelengan lemas dari Sivia.
            “Cakka, lagian ini kan malam minggu, dan elo tau kan kalo malam minggu itu jadwalnya kita kebukit, seminggu full ini kita belajar terus Kka, gue butuh refreshing…”
            “ok, kita ke bukit. Tapi setelah lo jawab satu soal ini aja”
            Sivia langsung lemas. Cakka tiba-tiba mengeluarkan sebatang cokelat dari kantong celananya lalu menjulurkannya didepan wajah Sivia yang cemberut,
            “ini bonus kalo lo bisa nyelesein soal ini”
            Sivia yang tadinya lemas langsung bersemangat ketika melihat Cakka menjulurkan sebuah cokelat untuknya. Siviapun segera mengangkat wajahnya dan dengan senang hati berkata,
            “ok, soalnya bakalan gue jawab!”
            Cakka tersenyum penuh kemenangan.


^_^

            “Kka, malem ini  kok nggak ada bintang jatuh ya? Padahal gue mau make a wish” keluh Sivia seraya menatap keatas langit yang ditaburi oleh jutaan bintang yang bersinar terang. Sesuai janjinya pada Sivia, malam itu juga setelah Sivia menyelesaikan soal yang ia berikan Cakka langsung membawa Sivia pergi kebukit dengan menggunakan sepeda.
            Cakka mengikuti arah pandangan Sivia lalu berkata,
            “mungkin bintangnya lagi nggak mau jatuh dulu kali”
            Sivia langsung memasang muka cemberut. Cakka menoleh kearah Sivia lantas tertawa kecil ketika melihat ekspresi wajah Sivia yang menurutnya sangat lucu.
            Cakka mendesah pelan, ia meraih kedua pundak Sivia lalu memutar tubuh Sivia hingga berhadapan dengannya,
            “kalo mau make a wish, nggak perlu nunggu bintang jatuh dulu, karna Tuhan selalu mendengarkan setiap permohonan yang hambanya sampaikan”
            Sivia hanya mengangguk-angguk. Sok mengerti.
            “sekarang pejamkan mata lo!” pinta Cakka,
            “buat?”
            Cakka menoyor pelan kening Sivia seraya berkata,
            “nggak usah banyak nanya. Lakuin aja apa yang gue suruh”
            “iya, iya, gitu aja marah lo” ucap Sivia sebal lalu memejamkan kedua matanya.
            “terus habis itu?” Tanya Sivia lagi.
            Cakka menatap sejenak wajah Sivia yang saat itu tengah memejamkan matanya. Cakka tersenyum tipis. Bagaimana mungkin Cakka bisa menggantikan posisi Sivia dihatinya? Selamanya Cakka mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan Sivia. Sivia sudah terlanjur melekat dijiwanya. Sekalipun mungkin Cakka bisa menggantikan posisi Si Bawel ini dihatinya, hal itu pasti akan menjadi hal tersulit yang pernah ia lakukan.
            “Cakka elo kok diem aja??” protes Sivia dengan kedua mata yang tetap terpejam.
            “sorry, sorry”
            “terus habis itu gue harus gimana?” Sivia mengulang lagi pertanyaannya.
            “lo tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan lewat mulut, tapi jangan lewat belakang, nanti repot urusannya, haha…” gurau Cakka yang langsung membuat Sivia manyun.
            Sivia mengikuti instruksi yang Cakka yang berikan.
            “setelah itu?”
            “lo sebut apa keinginan lo dalem hati. Bilang sama Tuhan!”
            “GUE MAU… AWWW….” Sebuah toyoran  mendarat lagi dikening Sivia,
            “GUE BILANG DALAM HATI, DONGOOOOO!!!” kata Cakka tak sabar,
            “Iya, iya sorry! Elo mah rese, dari tadi kerjaannya masa maen toyor terus sih?”
            “elo sih!”
            Sivia yang tidak mau meladeni Cakka lagi akhirnya kembali focus dengan permintaan yang akan ia sampaikan pada Tuhan. Hening untuk beberapa saat. Dan saat membuat sebuah permohonan, Sivia terlihat begitu serius, Cakka saja sampai tidak tega menganggunya. Setelah menyebutkan apa keinginannya Siviapun membuka kedua matanya yang tadi terpejam dan langsung tersenyum pada Cakka yang saat itu menatapnya.
            “Udah….” Kata Sivia dengan wajah semuringah.
            “lo minta apa sama Tuhan?”
            “mau tau aja!” kata Sivia cuek.
            “Vi” panggil Cakka tiba-tiba,
            “iya….?”
            “gue mau ngasih tau sesuatu sama lo, tapi janji ya jangan marah?”
            “apaan emang?” Tanya Sivia penasaran.
            “janji dulu jangan marah!”
            “ya tergantung, kalo sesuatu yang mau lo sampein bikin gue marah, ya gue bakalan marah”
            “ya udah, nggak jadi kalo gitu” Cakka menunduk lesu.
            Sivia tertawa kecil lalu merangkul pundak Cakka,
            “becanda! Gue mana bisa marah sama lo, Kka. Ya udah cerita aja, gue janji nggak bakalan marah” kata Sivia sungguh-sungguh.
            “janji?” Cakka menjulurkan jari kelingkingnya dihadapan Sivia,
            “janji!” jawab Sivia lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Cakka.
            Setelah mereka berdua melepaskan kaitan jari kelingking mereka, Cakka pun mengalihkan tatapannya kearah depan, begitu juga dengan Sivia. Sivia memeluk erat-erat kedua lututnya dan telah siap mendengarkan cerita Cakka.
            Cakka terdengar menghela nafas beratnya. Beberapa saat kemudian Cakka akhirnya buka suara,
            “seminggu yang lalu, Agni—“ Cakka terdiam sejenak,
            “Agni kenapa?” Sivia menoleh kearah Cakka,
            “Agni nyatain perasaannya ke gue, dia bilang dia suka sama gue, dia—“
            “APAA???” Sela Sivia tiba-tiba. Penuturan Cakka barusan benar-benar membuat Sivia kaget sekaget-kagetnya. Sebelumnya Sivia tidak pernah menyangka bahwa Agni akan mengikuti saran yang ia berikan. Dalam hati Sivia menyimpan rasa bangga yang luar biasa atas keberanian Agni.
            “kenapa lo baru ngomong ke gue sekarang? Ah, payah lo! Terus lo jawab apa ke Agni? Lo terima dia?”
            “lo itu nyerocos terus ya? Kayak Eyang gue tau nggak?”
            “Eyang Subur?” Tanya Sivia datar,
            “gue belom selese ngomong malah lo potong seenak gigi lo” kata Cakka sebal.
            “lanjut deh lanjut!” Sivia mengalah,
            “gue nggak ngomong apa-apa ke Agni, gue—“
            “jadi lo nolak Agni??” sela Sivia lagi.
            “SIVIAAAAAAAAAAA…..” Teriak Cakka yang sudah mulai habis kesabarannya.
            “sorry deh sorry. Ok, sekarang kita serius ya?”
            “Ok, lo sekali lagi motong omongan gue, beneran deh lidah lo yang bakalan gue potong!”
            “iya, iya, sorry, maaf, ampun!”
            Sekali lagi Cakka menghela nafasnya yang terdengar berat, wajahnya yang tadi sebal berubah serius,
            “dia nggak nembak gue, jadi gue mana bisa nolak apalagi nerima dia. Yang jelas gue nggak ngomong apa-apa ke Agni. Gue masih sangat kaget dan nggak tau musti ngomong apa ke dia”
            “jadi lo ngegantung Agni? Kok lo jahat sih, Kka? Agni itu cewek, jarang-jarang lho ada cewek yang mau nyatain perasaannya duluan ke cowok. Lo harus hargain usaha Agni dong. Biar bagaimanapun, Agni butuh jawaban atas perasaannya ke elo, Kka?”
            “terus menurut lo gue harus gimana?”
            “lo Tanya pendapat gue?” Tanya Sivia meyakinkan. Cakka mengangguk mantap.
            “kalo menurut gue, elo… terima aja perasaan Agni, terus tembak deh jadi cewek lo” Cakka sedikit kaget dengan pendaapat yang Sivia lontarkan. Dan pendapat Sivia itu benar-benar membuat Cakka yakin bahwa selama ini, Sivia memang tidak pernah peka dengan perasaannya, tidak sedikitpun, tidak setitikpun.
            Jauh didasar hatinya yang terdalam, ada sebuah rasa perih yang kini menderanya.
            “Agni cewek yang baik, Kka. Dan entah kenapa gue ngerasa, kalo lo cocok sama Agni. Mungkin sekarang lo nggak ada rasa sama Agni, tapi nanti? Siapa yang tahu kan, Kka? Dan kita emang nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Jalanin aja dulu apa yang ada”
            “Vi, tapi gue—“
            Sivia meraih kedua tangan Cakka lalu mengenggamnya erat.
            “Cakka, gue mau lo bahagia, dan gue yakin, Agnilah yang paling bisa bikin lo bahagia, Cuma dia. Terima perasaan Agni sebelum nantinya lo nyesel. Pesen gue buat lo, Kka, jangan pernah menyia-nyikan seseorang yang tulus sayang sama lo, sekali lo nyia-nyiain dia, maka selamanya lo bakalan nyesel. Bintang juga tahu, Kka. Maka berusahalah untuk PEKA, berusahalah untuk peka dengan ini….” Kata Sivia seraya menunjuk dada Cakka.

            Pertanyaannya adalah, disini yang tidak peka sebenarnya siapa? Cakka atau Sivia?


^_^

            Malam menjelang ujian, Sivia semakin giat belajar bersama Cakka. Cakka terus membantu Sivia untuk memantapkan materi yang selama seminggu penuh ini mereka pelajari bersama. Setelah sekitar 2 jam berkutat dengan latihan soal Matematika dan Fisika yang merupakan mata pelajaran pertama yang akan diujikan besok pagi, Cakka dan Sivia akhirnya memutuskan untuk menghentikan aktifitas belajar mereka. Cakka bilang, otak tidak boleh terlalu dipaksakan.
            Sivia yang memang sejak setengah jam yang lalu sudah merasa jenuh akhirnya dengan mutlak menyutujui perkataan Cakka itu. Sivia pulang kerumahnya dengan langkah yang pasti, dan untuk ujian besok, Sivia yakin bisa menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.
            Tiba-tiba Sivia menghentikan langkahnya didepan gerbang rumahnya ketika ia melihat Ninja Merah milik Alvin terparkir dihalaman rumahnya. Sivia menghela nafas kesal. Mau apa lagi Si Kunyuk itu datang kerumahnya? Mau cari perhatian lagi sama Mama dan Marsha?
            Sivia berdecak kesal. Rasanya Sivia enggan sekali jika harus bertemu dengan Alvin. Bukan karna apapun, hanya saja Sivia selalu merasakan sakit dihatinya tiap kali bertemu dengan Alvin. Semakin sering ia bertemu dengan Alvin, maka rasa tidak sanggup kehilangan itu semakin menyeruak didadanya tanpa bisa ia kendalikan.
            Sivia benci dengan semua keadaan ini. Dan Sivia sangat benci, ketika dihadapan Alvin dan dihadapan semuanya, ia harus selalu berpura-pura terlihat baik-baik saja. Sivia lelah bersandiwara. Rasanya Sivia ingin lari saja dari kenyataan ini, atau setidaknya ia bisa menghindar dari Makhluk Indah yang  begitu ia cintai bernama Alvin Jonathan. Tapi bagaimana Sivia bisa menghindar, jika Alvin saja tidak pernah membiarkannya untuk melangkah sedikit saja dari sisinya? Sivia lelah, benar-benar lelah. Andai Alvin tidak sekeras kepala ini dan andai Alvin mau mengalah sedikit saja.
            Sivia membuka pintu rumahnya dengan setengah hati. Diruang tengah, Sivia langsung mendapati Alvin yang saat itu tengah berkumpul bersama Mama dan Marsha. Mereka bertiga terlihat begitu akrab, bahkan sangat akrab.
            “Via pulang Ma” ucap Sivia tanpa semangat. Semuanya langsung menoleh kearah Sivia.
            “gimana belajarnya sama Cakka?”
            “biasa aja, Ma” jawab Sivia sekenanya seraya berjalan menghampiri ketiga orang itu. Kedua mata Alvin tidak sedikitpun teralihkan dari Sivia.
            “Via, malem ini Alvin mau nginep, katanya, dia mau belajar bareng kamu buat persiepan ujian besok pagi”
            “APAAA???” Kaget Sivia. Apa barusan Mamanya tidak salah bicara? Alvin? Menginap? Dirumahnya? Tidak, ini semua sudah benar-benar gila.
            “kok kaget gitu, Vi?” Tanya Alvin dengan raut wajah tanpa dosanya yang selalu membuat Sivia muak ketika melihatnya.
            “ngapain lo pake nginep segala? Kayak nggak punya rumah aja lo!” ketus Sivia.
            “Via, nggak boleh ngomong gitu sayang, Alvin kan kesini tujuannya buat belajar bareng kamu. Harusnya kamu seneng dong ada yang nemenin belajar” ujar Mama membela Alvin.
            “Via nggak butuh temen belajar, Ma. Lagian juga, Via udah belajar kok sama Cakka”
            “nggak apa-apa Tante, kalo Via emang nggak mau aku nginep disini, aku pulang aja deh, nggak apa-apa kok, aku juga masih bisa belajar sendiri”
            Ucap Alvin pada Denita. Sivia tahu betul bahwa saat itu Alvin sedang berakting untuk meyakinkan Mamanya. Cihh… dasar licik! Cerca Sivia dalam hati.
            “nggak gitu, Vin. Udah kamu nginep aja disini, nggak usah peduliin Via”
            “MAMA….” Sivia nyaris berteriak.
            “Via, untuk malem ini, biar Alvin yang tidur dikamar kamu, kamu tidur aja sama Marsha”
            “nggak! Via nggak mau” tegas Sivia dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
            “Via, kamu kok gitu sih? Biar gimana juga Alvin ini tetep calon saudara kamu. Kalo belum jadi saudara aja kamu udah kayak gini sama Alvin, gimana nanti?”
            “tapi, Ma….”
            “nggak ada tapi-tapian. Sekarang anter Alvin kekamar kamu”
            “Ma….”
            “please Via. Ini permintaan Mama”
            “ergghhh… terserah Mama deh”
            Sivia yang tidak ingin memperpanjang masalah lagi akhirnya lebih memilih untuk mengalah saja. Sivia berjalan terlebih dahulu menaiki anak tangga dengan suasana hati yang benar-benar panas. Sementara Alvin mengikutinya dari belakang dengan senyum kemenangan.


^_^

            Alvin berjalan mendekati Sivia yang saat itu tengah berdiri dibalkon rumahnya sambil melihat keatas langit. Beberapa saat kemudian, Alvin sudah berdiri disamping Sivia.
            “ehem…” Alvin beredehem untuk menyadarkan Sivia bahwa saat itu ia tidak sedang sendirian dibalkon.
            “elo?” kata Sivia pelan lalu kembali mengalihkan perhatiannya keatas langit. Jika sudah berdua dengan Alvin seperti ini, mendadak Sivia pasti akan menjelma menjadi seorang manusia terbodoh sedunia.
            “elo masih marah?” Tanya Alvin ragu-ragu.
            “nggak ada gunanya juga gue terus-terusan marah. Bukankah emang seharusnya yang gue lakuin Cuma menerima?” ada makna tersirat dari kalimat terakhir yang Sivia ucapkan. Dan Alvin bisa menangkap dengan sangat jelas makna itu.
            “lo lagian ngapain sih kerumah gue, Vin? Besok kan kita udah ujian kenaikan kelas, elo bukannya diem dirumah terus belajar, eehh…. Lo malah gentayangan dirumah gue”
            “lo kata hantu” kata Alvin sedikit bergurau. Sivia mengalihkan pandangannya kearah Alvin. Ia menatap Alvin dengan tatapan serius.
            “Alvin, gue lagi nggak becanda”
            “sorry…”
            Hening beberapa saat. Tidak tahan dengan suasana hening yang membungkus kebersamaan mereka malam itu, Alvin kembali buka suara,
            “gue Cuma kangen sama lo”
            Sivia terdiam, juga tidak menujukan reaksi apapun. Sivia sudah tahu bahwa Alvin akan selalu seperti ini.
            “Jelek, kok lo diem?”
            Kali ini Sivia membalik badannya hingga ia berhadapan dengan Alvin,
            “terus lo mau gue ngomong apa, Vin? Lo juga berharap gue bakalan bilang kalo gue kangen lo juga? Iya?”
            Alvin menggeleng pelan. Sivia mendesah tak kentara. Ia merasa sudah tidak tahan lagi berada disamping Alvin. Berada disamping Alvin seperti ini terlalu menyesakkan baginya. Sivia memutuskan untuk meninggalkan Alvin, tapi sebelum melangkah pergi, Sivia sempat berkata,
            “kalo lo emang belom belajar, belajar gih! Gue udah ngantuk, gue tidur duluan ya?”
            Alvin mencekal pergelangan tangan Sivia hingga membuat Sivia harus dengan terpaksa menghentikan langkahya. Sivia menoleh kearah pergelangan tangannya yang berada dalam genggaman Alvin.
            “please Via, sebentar aja!”
            “Vin, tapi ini rumah gue, nanti kalo Mama atau Marsha lihat bisa kacau semuanya”
            “mereka nggak akan lihat, Vi”
            “Alvin, tap—“
            Sebelum Sivia sempat menyelesaikan perkataannya, Alvin menarik pergelangan tangan Sivia dan membuat tubuh gadis itu bersandar pada besi pembatas balkon. Tubuh Sivia mendadak kaku dan seakan tak bisa digerakkan saat kedua lengan kekar milik Alvin terlingkar dengan sempurna dipinggangnya.
            “Alvin….”
            “gue kangen saat-saat seperti ini, gue kangen pengen meluk lo, gue kangen semuanya” bisik Alvin dengan suara serak.
            “Alvin, tapi kita nggak bisa kayak gini lagi, nggak bisa” kata Sivia dengan nada putus asa. Air matanya nyaris merembes keluar jika ia tidak berusaha menahan. Jika boleh jujur, sebenarnya Sivia sama seperti Alvin. Sivia juga rindu akan pelukan hangat Alvin. Sivia rindu semuanya. Tapi kenyataan ini harus membuat Sivia menyerah dengan rasa rindunya. Keadaannya sudah tidak sama lagi seperti yang dulu. Ada banyak hal yang berubah.
            Tanpa mengeluarkan sepatah kalimatpun, Alvin mendorong pelan kepala Sivia hingga bersandar didadanya. Kedua tangannya semakin erat mencengkram tubuh Sivia. Sivia merasa tidak memiliki daya sedikitpun untuk menolak perlakuan Alvin, apalagi sampai memberontak.
            Tanpa sadar, kedua tangan Sivia terangkat secara perlahan dan melingkar pada punggung Alvin. Sivia membalas pelukan Alvin. Saat itu juga, Sivia merasa semua beban yang ia pikul selama ini menghilang tanpa bekas. Hanya dalam pelukan Alvin ia merasa semuanya gampang, hanya dalam pelukan Alvin ia merasa kuat tak terkalahkan.
            Kesakitan itu tidak lagi mereka rasakan. Yang mereka rasakan saat ini hanyalah kehangatan dan rindu yang telah menemukan pelampiasannya. Jarak diantara mereka seakan terhapus saat Alvin semakin mempererat pelukannya pada gadis itu. Sivia juga demikan, kedua tangan mungilnya semakin kuat mencengkram tubuh Alvin. Ditempat itu, hanya ada mereka berdua, tidak siapapun bisa mengganggu mereka, tidak siapapun bisa mengusik ketenangan mereka, meski hanya untuk beberapa saat saja. Dan Bintang-Bintang menjadi saksi atas rindu mereka malam itu.
            Dengan lembut Sivia memejamkan kedua matanya saat ia merasakan Alvin mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih. Sivia tidak pernah merasa sedamai seperti malam ini.
            Beberapa saat kemudian, Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia menyentuh kedua pipi Sivia dan menatap wajah Gadis itu lekat-lekat. Jari jemari Alvin bergerak lembut menelusuri setiap lekuk wajah Sivia, mulai dari kening, pelipis, pipi hingga dagu.
            “gue juga kangen ini….”
            Alvin mengecup kening Sivia dengan lembut. Sekali lagi, Sivia tidak memiliki daya sedikitpun untuk menolak perlakuan Alvin itu.
            Setelah mengecup kening Sivia, Alvin beralih hendak mencium bibirnya. Untuk sejenak Alvin menatap bibir mungil Sivia. Secara perlahan-lahan Alvin mendekatkan bibirnya dengan bibir Sivia, kedua matanya telah terpejam.
            Dan saat bibirnya nyaris menyentuh bibir Sivia, tiba-tiba saja Sivia menghindar dengan menoleh kearah lain. Alvin heran,
            “sorry, Vin, gue nggak bisa ngelakuin itu”
            “Vi…” Alvin menatap Sivia dengan pandangan memohon.
            Sivia menggeleng beberapa kali. Ia melepaskan kedua lengannya yang sejak tadi melingkar dipunggung Alvin, Sivia mendorong pelan tubuh Alvin lalu pergi begitu saja meninggalkan Alvin sendirian dibalkon.
            Tanpa Alvin ketahui, saat Sivia melangkah pergi dan membelakangi posisinya, air mata Sivia menetes dengan deras. Sivia merasa tidak sanggup lagi menahan tangisannya.

            “ternyata lo juga kangen sama gue, Sivia Azizah…” gumam Alvin diatas kegetiran hatinya saat ini.


^_^

            Malam itu Sivia terpaksa tidur dikamar Marsha karna malam ini ia harus rela meminjamkan kamarnya untuk Alvin. Agak sedikit menyebalkan sih sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Semua itu adalah permintaan Mama, dan Sivia tahu, ia tidak akan pernah bisa melawan permintaan Mamanya.
            Tidur dikamar Marsha membuat Sivia benar-benar merasa tidak nyaman. Berkali-kali ia membalik badannya untuk mencari posisi tidur yang nyaman, tapi Sivia tidak juga menemukan posisi yang nyaman itu.
            Sekali lagi Sivia membalik badannya. Sivia membuka kedua matanya, samar-samar ia menangkap siluet Alvin yang saat itu tengah duduk disamping ranjang dengan posisi kedua lutut sebagai penopangnya. Sivia tersenyum tanpa sadar. Ia mengira bahwa itu adalah mimpi.
            “Jelek…” panggil Alvin pelan,
            “Kunyuk” sahut Sivia. Masih dalam kondisi setengah sadar.
            Alvin heran. Tidak biasanya Sivia memanggilnya seperti itu. Beberapa saat kemudian, Sivia langsung tersentak ketika menyadari bahwa semuanya bukanlah mimpi. Sivia bangkit lalu menatap Alvin setajam mungkin,
            “ELO….??”
            “Stttt….” Alvin meletakkan jari telunjuknya tepat didepan hidungnya, “lo jangan berisik! Nanti Marsha bangun” lanjut Alvin dengan suara berbisik.
            Sivia melihat sejenak kearah Marsha. Ternyata anak itu tidak bergerak sedikitpun. Siviapun menghela nafas lega.
            “lo ngapain disini malem-malem? Haa?” balas Sivia dalam sebuah bisikan.
            Alvin memegangi perutnya yang terasa keroncongan dan menuntut minta diisi,
            “Jelek, gue lapeerrr. Tadi nggak sempet makan” rengek Alvin persis seperti anak kecil yang minta makan pada Mamanya.
            Sivia menarik nafas kesal. Kenapa sih Kunyuk satu ini senang sekali merepotkannya?
            “terus lo mau apa?”
            “elo begok apa stupid sih? Ya jelaslah gue mau makan”
            “terus kalo mau makan kenapa kesini? Kenapa nggak ke dapur aja? Dikulkas ada mie instan sama telur tuh!” jawab Sivia seenteng mungkin.
            Tidak mau ambil pusing lagi dengan kelakuan Alvin, Sivia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Dan tepat ketika Sivia akan menjatuhkan kepalanya diatas bantal, Alvin langsung menahannya,
            “eitsss… lo jangan tidur lagi! Masakin sesuatu buat gue”
            “ogah. Lo nggak liat ini jam berapa? Jam 3 Man!”
            “tapi gue laper”
            “ya udah, lo ke dapur aja sana cari makanan sendiri”
            “tapi gue maunya dimasakin sama lo”
            “aargghhh…. Rese banget sih lo!”
            “ayolah, Vi”
            “nggak”
            “Jelek….” Alvin menatap Sivia penuh harap.
            Kelamaan Sivia merasa tidak tega juga ketika melihat wajah memelas Alvin. Sepertinya cowok menyebalkan ini benar-benar kelaparan. Setelah lumayan lama berfikir, akhirnya Sivia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar menuju dapur dengan setengah hati.
            “gue racun juga lama-lama!” dumel Sivia dengan kekesalan yang sudah mencapai puncak klimaks.

^_^

            “lo mau makan apa?” Tanya Sivia dengan sinis pada Alvin yang saat itu tengah duduk manis dimeja makan.
            “nasi goreng” jawab Alvin mantap.
            “nasi goreng?? Mie instan aja ya?” tawar Sivia. Alvin menggeleng beberapa kali.
            “lo inget nggak 2 bulan yang lalu waktu gue dirawat dirumah sakit? Waktu itukan gue minta dimasakin nasi goreng sama lo, tapi elo nya malah beliin gue nasi goreng direstoran, terus sampai hari berikutnya elo nggak juga Menuhin permintaan gue. Makanya sekarang gue tagih” jawab Alvin panjang lebar yang sukses membuat Sivia melongo seperti orang begok.
            Sivia tidak menyangka bahwa Alvin masih bisa mengingat kejadian itu dengan baik. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Sivia akhirnya berjalan kearah kulkas dan menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng.
            Dengan setengah hati, Sivia mulai memasak untuk Alvin. Dari meja makan, Alvin terus saja memperhatikan Sivia tanpa sekalipun mengalihkan perhatiannya dari Gadis yang tengah sibuk memasak itu. Kedua mata Alvin tidak henti-henti mengikuti setiap pergerakan demi pergerakan yang Sivia lakukan. Menyadari Alvin sedang menatapnya tanpa henti, Siviapun memplototi Alvin dengan garang lantas berkata,
            “apa lo?”
            Alvin tersenyum menggoda lalu membalas perkataan Sivia,
            “lo kayaknya udah siep nih jadi Nyonya Jonathan. Kita married aja yuk!”
            “married aja sana sama Kambing”
            Sekitar 10 menit kemudian, selesailah Sivia memasak nasi goreng untuk Alvin. Sivia membawa sepiring nasi goreng kearah Alvin lalu menghidangkannya dengan sembarang dihadapan Kunyuk itu.
            “Lo makan tuh. Awas aja kalo lo nggak habisin” ancam Sivia sok sadis. Alvin tidak berkata apa-apa. Dengan senang hati Alvin memakan nasi goreng yang sudah Sivia buatkan khusus untuknya.
            “enak” komentar Alvin pendek. Sivia hanya diam, ia malas menanggapi komentar Alvin yang menurutnya tidak penting itu.
            “lo nggak mau coba?”
            “nggak”
            “tapi lo harus coba” Alvin menyendokkan sesendok nasi untuk Sivia lalu menjulurkannya dihadapan Sivia.
            “buka mulut lo! Aaaa….”
            “nggak mau. Lo nggak ngerti bahasa Indonesia ya?”
            “udah, buka aja mulut lo! AAAA…..” Alvin membuka mulutnya semakin lebar. Mau tidak mau Sivia akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alvin –tentunya dengan setengah hati-
            Sivia mengunyah pelan nasi goreng itu. Ia baru menyadari bahwa ternyata masakannya enak juga.
            “enak kan?” Tanya Alvin, Sivia mengangguk,
            “mau lagi?” sekali lagi Sivia mengangguk,
            “tapi nggak boleh, wleee….” Alvin menjulurkan lidahnya. Sivia langsung cemberut.
            Alvin terkekeh geli ketika melihat ekspresi cemberut yang Sivia tunjukan. Entah kenapa dimata Alvin, Sivia terlihat semakin cute jika ia cemberut seperti itu. Alvin mengangkat tangannya lalu mengusap lembut puncak kepala Sivia beberapa kali dengan begitu gemesnya. Sivia buru-buru menepis tangan Alvin dari atas kepalanya,
            “apaan sih? Rese lo” ujar Sivia keki.
            “I love you” ujar Alvin mantap lalu mengecup pipi sebelah kanan Sivia dengan gerakkan cepat. Sivia yang terkejut dengan perlakuan Alvin itu langsung memegangi pipinya dan menatap tajam kearah Alvin,
            “elooo….” Kesal Sivia hampir mencakar wajah Alvin. Melihat kedua pipi chubby Sivia yang mulai memerah tawa Alvin Alvin langsung pecah seketika.
            “muka lo merah, Vi. Kayak tomat” ledek Alvin,
            “biarin”
            “HAHAHAHAHAHA….”
            “Alvin janga ketawa!!”
            “suka-suka gue dong”
            Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang memperhatikan setiap gerak gerik mereka dari kejauhan. Dia –Denita- merasa saat itu juga dunia seakan berhenti berputar, segalanya menghilang. Denita tidak mampu merasakan apa-apa lagi selain rasa sesak yang menyiksa.

            “mereka saling menyayangi….” Gumam Denita pelan lalu berjalan perlahan menjauhi ruang makan.


                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment