Sunday, July 28, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 10 -Surprise-





                Sivia menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok Cakka yang saat itu tengah terduduk disamping makam Mamanya sambil memeluk batu nisan. Sivia membuang mukanya kearah lain sejenak, berusaha meredam emosinya yang tadi tersulut karna Alvin.
            Ia lalu menyeka sisa air matanya disudut matanya. Sivia tidak ingin Cakka tau bahwa ia sudah menangis.
            “kenapa Kak Cakka selalu kayak gini?” ucap Sivia tiba-tiba tanpa ia sendiri sadari. Tapi Cakka yang masih memeluk erat batu nisan Mamanya tetap bergeming. Tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Sivia menghela nafas panjang, entah kenapa rasanya ia ingin sekali menyalahkan Pria ini. Mungkin hari ini kesabarannya sudah habis,
            “Kakak bilang, Kakak pengen ngeliat aku bahagia, tapi kenapa Kak Cakka seakan nggak ngijinin aku buat raih kebahagiaan aku. Kak Cakka tau? Alvin udah nunggu jawaban aku, tapi Kak Cakka selalu aja mengacaukan semuanya, aku harus gimana Kak, harus gimana lagi?”
            “kenapa selalu Alvin?” ujar Cakka pelan. Sivia sedikit tersentak,
            “Papi aku pergi ninggalin Mama aku karna kehadiran Alvin, dan sekarang orang yang aku cintai juga menjauh karna Alvin, kenapa selalu Alvin? Kenapa selalu dia yang menang? Kenapa selalu dia yang mendapatkan segalanya? Apa aku nggak berhak bahagia seperti Alvin?”
            “Kak, bukan seperti itu…”
            “maafin aku, Vi, aku egois” Cakka masih memeluk batu nisan itu dan belum mau berbalik menatap Sivia.
            “kenapa Tuhan nggak panggil aku aja sekalian? Aku capek dengan semua ini, aku capek…”
            Sivia mendekat kearah Cakka, ia duduk disamping Pria itu lalu memegang sebelah pundaknya. Demi apapun itu, Sivia menyesal telah menyalahkan Cakka.
            “Maafin Via Kak Cakka, Via nggak bermaksud ngomong kasar sama Kak Cakka, maafin Via…” Lirih Sivia penuh penyesalan.
            “kamu nggak salah Via, Kak Cakka yang salah”
            Cakka berbalik lalu menatap Sivia,
            “maaf karna aku selalu bikin kamu cemas, tapi saat ini aku lagi kalut Via, dan aku bener-bener butuh kamu, Cuma butuh kamu”
            “Kak Cakka, aku sayang sama Kakak, dan aku nggak mau terus-terusan ngliat Kak Cakka seperti ini, aku nggak bisa Kak. Bisakan mulai sekarang Kakak terima kenyataan ini? Walopun aku nggak bisa ngerasain apa yang Kak Cakka rasain sekarang, tapi aku tahu bahwa betapa berat kenyataan ini buat Kak Cakka hadapi sendiri”
            Cakka menunduk dalam, entah apa yang sedang ia fikirkan sekarang.
            “Kak Cakka musti tahu bahwa saat ini nggak ada satu hal pun yang bisa Kakak lakuin selain harus belajar nerima kenyataan ini. Kehidupan Kak Cakka masih panjang, dan didepan sana, masa depan yang cerah udah nungguin Kakak. Kak Cakka harus berubah”
            Kali ini Cakka mengangkat wajahnya lalu menghujam mata Sivia. Dalam.
            “selama ini Kakak selalu percaya sama aku kan?”
            Cakka mengangguk pelan lalu menjawab “iya, aku Cuma percaya sama kamu”
            “kalo begitu, bisakan mulai sekarang Kakak terima kenyataan ini? Lihat Mami dan Papi Kak Cakka, mereka sayang sama Kakak, mereka selalu berusaha ngelakuin yang terbaik buat Kak Cakka meskipun Kak Cakka terkesan menolak kehadiran mereka. Aku tahu, aku ngerti, Kak Cakka masih sangat dendam sama Om Duta atas kematian Mamanya Kak Cakka, tapi dendam nggak akan bisa nyelesein semuanya Kak. Setiap orang pernah ngelakuin kesalahan, entah kesalahan besar, atau kecil, bahkan kesalahan yang sangat fatal, dan setiap orang juga berhak diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya termasuk itu Om Duta, Kak…”
            “Om Duta Cuma mau menebus kesalahannya, Cuma itu…”
            “apa dengan Papi menebus semua kesalahannya, Mama aku bisa hidup lagi? Nggak Via, nggak akan pernah”
            “dan apa dengan Kak Cakka terus-terusan kayak gini Mama Kak Cakka bisa hidup lagi? Nggak kan Kak?” Tanya Sivia balik. Kali ini Cakka terdiam,
            “Kak Cakka pernah bilang ke aku, bahwa kita hidup harus mengikuti arus, jika kita melawan arus maka kita akan tenggelam, Kak Cakka benar, aku setuju dengan itu. Tapi apa Kak Cakka nggak pernah sadar? Bahwa selama ini Kak Cakka hidup melawan arus, dan saat ini Kak Cakka sedang tenggelam”
            “Via—“
            “fikirkan lagi Kak, selama ini Kak Cakka bukannya nggak pernah hidup bahagia. Kalo Kakak mau tau sebenernya kebahagiaan itu selalu ada buat Kak Cakka, tapi Kak Cakka yang berusaha menghindari diri dari kebahagiaan itu. Terima semua kenyataan ini Kak, aku yakin akan ada hal indah yang Kakak dapatkan nanti…”
            “tapi Via, semuanya nggak segampang seperti apa yang kamu fikirin”
            “dan semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”



****

            Sivia benar-benar bingung, semenjak hari itu, hari dimana Sivia pergi meninggalkan Alvin demi Cakka, Alvin tidak pernah lagi menghubunginya. Bahkan dikampus pun mereka tidak pernah bertemu. Sivia tau Alvin sengaja menghindarinya. Jika ingin jujur sebenarnya Sivia sangat merindukan Alvin, tapi mau bagaimana lagi? Alvin selalu menghindarinya. Sivia setengah mati memutar otak, mencari cara bagaimana supaya Alvin tidak marah lagi padanya.
            “Shill bantuin gue lah” rengek Sivia pada Shilla ketika mereka berdua tengah berjalan beriringan dikoridor kampus. Shilla hanya menampakkan raut tidak pedulinya.
            Shilla bukannya sengaja tidak peduli pada sahabatnya ini, hanya saja Shilla sudah benar-benar muak dengan kelakuan Sivia.
            “gue nggak bisa bantuin lo, Vi! Habisnya lo nyebelin sih, tinggal jawab IYA aja waktu itu kok susah banget?? Sekarang lo nyesel sendiri kan?” khotbah Shilla seraya terus berjalan. Langkahnya semakin cepat, dan Sivia kewalahan mengikutinya.
            “lo nggak ngerti sih, posisi gue waktu itu bener-bener sulit Shill”
            “tapi seharusnya lo ngerti perasaan Alvin. Gue tau dulu Alvin pernah buat kesalahan sama lo, tapi… ergh tau deh”
            Sivia dan Shilla tahu-tahu menghentikan langkah mereka secara bersamaan ketika mereka melihat Alvin yang waktu itu sedang berjalan sendiri. Alvin berjalan dengan cueknya, dan tanpa sedikitpun melihat kearah Sivia dan Shilla, Alvin melewati kedua gadis itu begitu saja.
            Mendadak Sivia merasakan ngilu jauh didalam sana. Ia baru tau rasanya bagaimana diacuhkan oleh Alvin. Sivia seperti orang yang kalang kabut, tanpa berfikir panjang lagi, Sivia berbalik lalu mengejar langkah Alvin. Melihat tingkah Sivia yang lumayan konyol itu, Shilla langsung saja menepuk keningnya sendiri, “masalah besar nih” gumam Shilla pelan.
            “Alvin…!!” Sivia mencekal lengan Alvin hingga membuat tubuh kekar Pria itu tidak bergerak lagi.
            “lo masih marah sama gue? Gue tau gue salah sama lo, Vin, gue minta maaf… gue Cuma mau lo ngertiin gue, itu aja” Sivia menunduk dalam, kedua tangannya masih menahan lengan Alvin. Rasanya Sivia ingin menghamburkan air matanya dihadapan Pria ini.
            “gue kangen sama lo, dan gue nggak bisa lo cuekin terus kayak gini” jujur Sivia pada akhirnya.
            Mendengar ucapan Sivia yang terakhir, Alvin merasakan ada yang lain dengan hatinya. Entahlah, Alvin sendiri tidak bisa mendefinisikan perasaan itu. Yang jelas, ada sebuah perasaan lega yang Alvin rasakan jauh didalam sana.
            Entah sadar atau tidak, Alvin melepaskan begitu saja genggaman tangan Sivia yang menahan lengannya. Alvin berbalik dan telah siap untuk melangkah pergi, tapi sebelum ia menganyunkan langkahnya, Alvin sempat berkata,
            “lo udah milih Kak Cakka, kan Via?” hanya itu kalimat yang Alvin lemparkan pada Sivia. Dan kalimat itu benar-benar telak menghantam jantung Sivia hingga menimbulkan sesak.
            “Vin, gue… gu… gue—“
            Sebelum mendengarkan penjelasan Sivia, Alvin malah sudah pergi. Sementara Sivia, ia sama sekali tidak bisa melakukan apapun saat ini. Seluruh geraknya seakan mati. Bahkan Sivia sama sekali tidak sadar ketika Shilla berlari mengejar Alvin. Entah apa yang akan Shilla lakukan?
            Tanpa sadar, Sivia terduduk. Mendadak ia merasakan sakit dikepalanya. Sulit ia percaya apa yang telah Alvin lakukan padanya. Apa selama ini Sivia yang keterlaluan pada Alvin? Apa selama ini bukannya Alvin yang tidak bisa mengerti Sivia, melainkan Sivia yang tidak bisa mengerti Alvin? Sivia bingung, tidak tahu harus bagaimana saat ini. Semuanya terlampau sulit, ia hanya ingin Alvin memaafkannya. Hanya itu.

****

            Ketika sedang mengejar Alvin, Shilla malah menabrak seseorang tanpa sengaja hingga menyebabkan ia terjatuh hingga terduduk dilantai. Shilla meringis kesakitan,
            “aww…”
            Beberapa saat kemudian Shilla melihat sebuah tangan terulur dihadapannya, Shilla terdiam sejenak, tapi itu tidak lama, karena setelahnya Shilla langsung menerima uluran tangan itu dan berdiri.
            Betapa terkejutnya Shilla ketika ia melihat seseorang yang telah membantunya berdiri. Ternyata orang itu adalah Gabriel, Pria yang beberapa hari yang lalu menabrak mobil Shilla hingga lampu belakangnya hancur.
            “Ga… Gabriel?” Shilla menunjuk kearah Gabriel.
            Gabriel hanya tersenyum lalu mengangguk,
            “jadi lo kuliah disini juga?”
            “keliatannya gimana?” Tanya Gabriel balik. Shilla hanya mengangguk beberapa kali sambil tertawa pelan. Niatnya untuk mengejar Alvin langsung buyar seketika saat bertemu dengan Gabriel.
            “Jadi tadi lo lari-larian kenapa?”
            “oh itu?? Itu mau ngejer temen, tapi udah jauh, nanti aja, hehe…” Shilla malah nyengir. Tiba-tiba Shilla teringat akan sesuatu, ia menepuk pelan keningnya lalu buru-buru membuka tasnya dan mengambil sesuatu, tidak lama,
            “oh ya, ini kartu kredit lo yang gue pinjem kemarin, makasih ya?” Gabriel menerima kartu kredit itu lalu berkata,
            “lho kok makasih? Harusnya gue dong ya makasih karna lo udah mau maafin gue”
            “oiya lupa, hehe…”
            Gabriel menggeleng beberapa kali, Gadis yang ada dihadapannya saat ini benar-benar lucu. Gabriel sampai gemas.
            “kita kan belum kenalan secara langsung, kenalin gue Gabriel, tapi panggil aja Iel”
            Shilla menerima uluran tangan Gabriel lalu menjabatnya erat,
            “gue Shilla” jawabnya Singkat.
            “Shilla?? Nama yang cantik” puji Gabriel. Shilla hanya tersipu malu.
            “bisa aja lo!” Shilla menepuk pelan pundak Gabriel.
            Mereka berduapun berjalan beriringan sambil terus mengobrol. Dari obrolan mereka yang lumayan singkat itu sudah cukup membuat mereka terlihat akrab. Menurut Shilla, ternyata Gabriel ini orangnya sangat bersahabat, dan Shilla suka dengan orang yang bersahabat seperti Gabriel ini. Tidak jarang Shilla terpaku ketika melihat Gabriel yang terus berbicara tanpa henti, dan jika Gabriel menoleh kearahnya, Shilla buru-buru membuang tatapannya sebelum Gabriel menangkap basah dirinya. Shilla merasa sudah benar-benar gila, dan Gabriel lah Pria pertama yang membuatnya merasa gila seperti ini.
            Akhirnya tibalah Gabriel dan Shilla dikantin, mereka duduk berhadapan lalu memesan makanan. Saat sedang menunggu pesanan, tiba-tiba saja perhatian Shilla tertuju pada Cincin berlian yang terlingkar dijari manis Gabriel, sadar tidak sadar Shilla melemparkan sebuah pertanyaan untuk Gabriel,
            “itu cincin pertunangan ya, Yel?”
            Gabriel terkesiap, ia mengangkat tangannya lalu melihat cincin yang terlingkar dijari manisnya sendiri. Setiap kali melihat cincin itu, Gabriel selalu saja merasa ngilu. Bahkan ia sendiri bingung bagaimana cincin itu bisa terlingkar dijari manisnya. Setahun ia mengenakan cincin itu, tapi Gabriel tidak pernah merasa bahwa ia telah resmi bertunangan.
            Melihat air muka Gabriel yang berubah keruh, Shilla mendadak merasa tidak enak hati, ia pun segera berinisiatif untuk menarik pertanyaannya,
            “pertanyaan gue salah ya? Ya udah, nggak perlu dijawab” Shilla membuang tatapannya kearah lain.
            Hening. Beberapa saat kemudian,
            “iya, ini cincin pertunangan”
            Shilla tersenyum pahit saat itu juga.
            Shilla melihat Alvin dan Rio yang ketika itu memasuki kantin. Shilla baru ingat bahwa tadi ia memiliki niat untuk berbicara dengan Alvin, Shilla ingin membantu Alvin dan Sivia menyelesaikan masalah mereka. Shilla menatap Gabriel sejenak lalu pamit,
            “Yel, gue ketemen gue bentar ya? Nanti gue balik lagi, lo tunggu aja!” Gabriel hanya mengangguk.
            Shilla bangkit dari hadapan Gabriel,
            “ALVIN!!!” Panggil Shilla agak keras lalu berlari menghampiri Alvin dan Rio. Gabriel langsung terkejut manakala mendengar Shilla menyebut nama Alvin. Alvin? Gabrielpun buru-buru melempar tatapannya kearah Pria yang tadi Shilla panggil dengan panggilan Alvin. Kedua mata Gabriel menyipit, ia berusaha memperhatikan wajah Alvin dengan sebaik mungkin. Benarkah dia Alvin Jonathan? Benarkah dia Alvin yang ingin Gabriel cari dan dapatkan?


****

            Sivia pulang dari kampus 2 jam lebih cepat. semenjak pertengkarannya dengan Alvin dikoridor tadi, Sivia malah merasa tidak enak badan. Ia berfikir mungkin sedikit istarahat saja bisa membuatnya sedikit lebih baik, untuk itulah Sivia memutuskan untuk pulang lebih cepat. ia terpaksa bolos hari ini.
            Sivia menaiki anak tangga tanpa sedikitpun memperhatikan sekitarnya. Padahal disana ada Dayat, Abang kesayangannya yang selalu pulang kerumah setiap 3 bulan sekali. Yah… karna tuntutan pekerjaan Dayat terpaksa harus tinggal terpisah dari Ayah, Ibu dan kedua Adiknya, Bagas dan Sivia. Sejak 2 tahun yang lalu Dayat pindah dan menetap di Kota Surabaya.
            Setiap kali Kakaknya pulang, Sivia selalu senang tak alang kepalang, bahkan ia rela ijin kerja hanya untuk menemani Abangnya itu dirumah, tapi hari ini Sivia berbeda, dan itulah yang membuat Dayat terheran-heran.
            Dayat melirik sejenak kearah Ibu nya yang saat itu sedang sibuk dengan majalah yang ada ditangannya, Dayat menatap Ibu dengan kedua alis bertaut, menanggapi tatapan Dayat itu, Ibu hanya mengangkat kedua bahunya. Rupayanya ia juga tidak mengerti dengan kelakuan aneh Sivia hari ini.
            “Dayat susul Via bentar ya, Bu” Ibu hanya mengangguk. Dayatpun berlari kecil hendak menemui Sivia dikamarnya.
            Dayat mendapati Sivia yang ketika itu duduk diatas ranjangnya sembari memperhatikan sebuah kalung berlian yang ada ditangannya. Dayat menghela nafas panjang, ia bersandar pada pintu. Cukup dengan melihat kalung itu, Dayat tahu pasti bahwa Sivia sedang memikirkan Alvin. Dayat tahu betul apa yang terjadi diantara Alvin dan Sivia, bagaimana tidak tahu, jika hampir setiap malam Sivia selalu menelponnya untuk sekedar curhat.
            “Alvin lagi?” Tanya Dayat tiba-tiba,
            “dia marah sama aku, Bang…” jawab Sivia tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari kalung yang ada ditangannya. Kalung itu adalah kalung berlian yang dulu sempat ingin Alvin berikan untuk Pricilla ketika mereka merayakan hari jadi mereka yang kedua. Tapi sebelum Alvin memberikan kalung itu, Pricilla malah sudah pergi, dan hingga kini menghilang entah kemana.
            “Abang sudah denger semuanya dari Shilla, sehari sebelum Abang pulang Shilla sempat menelpon, Shilla bilang waktu Alvin minta jawaban kamu, kamu malah pergi gitu aja Cuma buat nemuin Cakka”
            “tapi saat itu Kak Cakka lagi butuh aku Bang…”
            “tanpa ngasih Alvin jawaban?”
            “Bang—“ Dayat tersenyum tipis lalu melangkah perlahan menghampiri adik Gadis satu-satunya itu. Dayat duduk dipinggir ranjang Sivia lalu menatap Sivia seteduh mungkin.
            “kamu nggak bisa bohong, Via, semua tau kamu mencintai Alvin, tapi kenapa kamu malah harus menunda untuk ngasih jawaban ke dia. Apa susahnya sih kamu kasi dia kesempatan satu kali lagi buat memperbaiki semua kesalahannya, Abang yakin kok kalo Alvin itu tulus sama kamu. Sekali lagi Via, sekali lagi….”
            “aku juga tadi udah mau ngasih jawaban, tapi Alvin kayaknya masih marah sama aku, Bang…” air mata yang sejak tadi Sivia tahan akhirnya berdesakkan keluar. Dayat masih tetap tersenyum,
            “aku sayang sama Alvin, Bang, aku cinta… aku Cuma mau minta maaf sama dia tadi, tapi dia… dia—“ Siviapun menghambur kedalam pelukan Kakaknya itu, dengan sigap Dayat menangkap tubuh mungil Sivia lalu membelai rambut sebahu nya dengan lembut.
            “nanti biar Abang yang ngomong sama Alvin ya? Kamu nggak usah takut!”
            “tapi gimana kalo Alvin tetep nggak mau maafin aku?”
            “nanti Abang yang akan jelasin semuanya, kamu nggak perlu khawatir”
            “makasih ya, Bang?” Dayat hanya mengangguk dan terus berusaha menenangkan Sivia.

****

            Alvin cemas, ia berdiri dengan tidak tenang didepan Gedung Fakultasnya. Saat ini fikiran Alvin hanya tertuju pada Sivia. Alvin sendiri tidak sadar dengan apa yang ia lakukan tadi. Alvin benar-benar kalut, dan bodohnya ia malah melukai Gadis itu tanpa memikirkan perasaannya.
            Entah ini untuk yang keberapa kalinya sudah Alvin melukai Sivia. Alvin sendiri tidak bisa menghitungnya. Yang jelas sekarang Alvin merasa sangat menyesal, apapun dan bagaimanapun caranya, Alvin harus minta maaf pada Sivia. Ya harus.
            Ketika Alvin berbalik dan hendak melangkah pergi, seseorang yang wajahnya sangat asing dalam ingatan Alvin tahu-tahu sudah berdiri dihadapannya dan menghalangi jalannya. Pria bertubuh jangkung dan berkulit hitam-manis itu menatap Alvin dengan sebuah senyuman juga tatapan yang sulit terbaca oleh Alvin. Penuh misteri.
            Alvin menatap Pria itu dengan kedua alis bertaut. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Pria itu tau apa maksud Alvin. Alvin pasti sangat bingung dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba ini, apalagi kan mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
            “elo Alvin bukan? ALVIN JONATHAN??” Tanyanya seakan hafal betul nama Alvin. Alvin semakin heran, bagaimana bisa Pria ini mengenalinya, bahkan tau nama panjangnya sementara Alvin sendiri sama sekali tidak mengenalinya.
            Untuk beberapa saat Alvin terpana, tidak lama Alvin langsung mengangguk dan membenarkan ucapan Pria itu,
            “iya, gue Alvin, Alvin Jonathan. Lo sendiri siapa? Tau gue darimana? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” Tanya Alvin bertubi-tubi.
            Kembali Pria itu hanya tersenyum penuh misteri. Ternyata ini dia yang namanya Alvin Jonathan? Tidak sulit juga menemukannya.
            “Gue Gabriel, Gabriel Stevent Damanik. Nanti lo akan tau sendiri siapa gue. Seneng bisa ketemu sama lo, Alv!” Gabriel tertawa kecil, ia berjalan perlahan melewati Alvin. Tapi sebelum melewati Alvin, Gabriel sempat menghentikan langkahnya sejenak lalu menepuk pelan pundak Alvin beberapa kali. Gabriel melanjutkan langkahnya, meninggalkan Alvin dengan berjuta-juta tanda Tanya yang sekonyong-konyong menyeruak tanpa ampun dikepalanya.
            Pria itu benar-benar aneh. Alvin menatap punggung Gabriel yang kelamaan menghilang dari pandangannya dengan tatapan bertanya.
            Ditengah-tengah keheranan Alvin akan sosok Gabriel itu, tiba-tiba saja Handphonenya berbunyi, ia menerima sebuah telfon dari seseorang. Dan ketika Alvin melihat nama ‘Dayat Simbaia’ tertera dilayar ponselnya, kedua mata Alvin langsung membelalak lebar, tidak biasanya Dayat menghubunginya seperti ini? Apa ada sesuatu yang penting? Apa ini menyangkut Sivia? Sivia? Ada apa dengan Gadisnya itu?
            Pertanyaan-pertanyaan itupun akhirnya mendorong Alvin untuk segera mengangkat telfonnya,
            “Hallo, Bang” sapa Alvin.
            “…..”
            “ada emang, Bang?”
            “Oke, oke, gue segera kerumah lo, ya?”

            Tuuttt…. Alvin mematikan sambungan telfonnya lalu bergegas keareal parkir untuk mengambil mobilnya dan segera pergi kerumah Sivia atas permintaan Dayat. Sepanjang perjalanan Alvin was-was, tidak sedikitpun ia bisa menenangkan dirinya.


****

            Alvin memberhentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah mewah bercat cokelat dengan kombansi warna putih. Ya, rumah itu adalah rumah milik Sivia. Tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi, Alvin segera keluar dari dalam mobilnya dan berlari menyusuri pekarangan rumah Sivia setelah Satpam dirumah itu membuka pintu gerbang.
            Tidak lama setelah memencet tombol bel rumah Sivia, seseorang pun membuka pintu dan menyambut kedatangan Alvin dengan sebuah senyuman. Alvin kenal betul seseorang itu,
            “Bang Dayat, Sivia gimana?” Tanya Alvin cemas.
            “udah agak baikan kok, tadi dikasih obat penurun demam sama Nyokap”
            “kalo gitu boleh gue temuin Sivia?”
            “boleh, tapi setelah lo ngasih pertanggung jawaban ke gue” jawab Dayat dengan sangat tenang. Alvin hanya mengangguk, ia juga sudah paham apa yang Dayat maksud dengan ‘pertanggung jawaban’
            Dayatpun mendorong pelan punggung Alvin dengan tangannya lalu masuk kedalam rumah secara bersamaan.


****

            Siang itu Cakka hanya sendiri dirumah. Mami dan Papi nya tentu saja belum pulang dari kantor jam segini. Sementara Alvin, paling-paling kelayapan bersama Rio –setidak itu yang ada dalam fikiran Cakka- Cakka memang sudah sangat terbiasa dengan suasana sepi seperti ini, dan buat Cakka ini sama sekali tidak jadi masalah. Malahan ia senang karna tidak ada satupun yang menganggu ketenangannya.
            Ketika Cakka tengah asyik berkutat dengan layar laptopnya, tiba-tiba saja ia mendengarkan ada seseorang yang memencet bel.
            “Mbak Ning…. Ada tamu tuh” kata Cakka sambil tetap focus dengan layar yang ada dihadapannya. Tapi hingga beberapa lama, tidak ada jawaban dari Pelayanya itu yang biasa ia panggil dengan panggilan Mbak Ning.
            Cakka berdecak kesal, mau tidak mau, suka tidak suka harus tetap ia yang membuka pintu. Dengan setengah hati Cakka berjalan kearah Pintu.
            Cakka membuka pintu rumahnya, daaann….


            “elo?” ujar Cakka datar.


****

            Setelah berbicara lumayan lama dengan Dayat, Alvin pun segera pergi kekamar Sivia, tentu saja setelah mendapatkan ijin dari Dayat. Dengan gerakan pelan, Alvin menarik kenop pintu kamar Sivia lalu mendorongnya. Alvinpun mendapati Sivia yang saat itu sedang terbaring dengan lemah diatas tempat tidurnya. Dia benar-benar sakit. Fikir Alvin yang semakin merasa bersalah. Jelas saja ini semua karenanya.
            Alvin menutup kembali pintu kamar Sivia dan berjalan perlahan kearah tempat tidurnya. Dengan gerakan yang tidak kalah pelannya, Alvin duduk ditepi ranjang Sivia. Tangan kananya terangkat lalu menyentuh puncak kepala Sivia. Dengan penuh rasa bersalah Alvin berkata,
            “maafin gue, Vi, ini semua gara-gara gue” sesal Alvin. Dengan lembut tangan kanannya pun bergerak mengusap puncak kepala Sivia.
            Kedua mata Sivia tahu-tahu terbuka, tatapan matanya langsung tertumbuk pada kedua bola mata Alvin yang saat itu tengah menatapnya penuh kasih.
            “Vin…” Sivia bangkit, ia mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Tanpa Alvin tahu, tangan kanan Sivia menggenggam erat-erat kalung berlian yang seharusnya sekarang sudah menjadi milik Pricilla jika saja gadis itu tidak pergi 2 tahun yang lalu.
            “nggak usah bangun, Vi”
            “nggak apa-apa Vin, aku udah nggak apa-apa” ujar Sivia berusaha terlihat baik-baik saja.
            “maafin aku ya, Vi? Aku sadar tadi aku udah sangat keterlaluan sama kamu” kata Alvin setelah Sivia terduduk dihadapannya. Sivia menggeleng beberapa kali,
            “nggak, Vin, kamu nggak salah, aku aja yang nggak pernah bisa ngertiin kamu, ini salah ku, aku yang harusnya minta maaf…”
            “dasar begok! Kenapa sih lo seneng banget nyalahin diri sendiri, ini udah jelas-jelas salah gue, Via”
            Merasa tidak sanggup lagi menahan segala luapan perasaannya saat ini, Siviapun menghambur kedalam pelukan Alvin. Ia memeluk Alvin Alvin seerat mungkin, seakan tidak ingin melepaskan lagi. Hari ini Sivia telah membuat sebuah keputusan, ia akan memasrahkan hatinya sepenuhnya untuk Alvin. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, sekalipun Pricilla kembali lagi seperti apa yang Shilla pernah katakan dulu, Sivia akan tetap bertahan dengan Alvin. Hari ini ia sudah benar-benar yakin dengan hati dan perasaan Alvin padanya. Hati itu miliknya, hanya miliknya, dan bukan milik Pricilla lagi.
            “aku diam bukan berarti aku marah sama kamu, Vi. Sedikitpun aku nggak pernah marah sama kamu, aku… aku Cuma marah sama diri aku sendiri, marah karna sampe saat ini aku belum nemuin cara yang pas buat nebus semua kesalahan aku sama kamu, marah karna aku selalu dan selalu aja nyakitin kamu, marah karna aku selalu bikin kamu nangis, dan marah karna aku nggak pernah bisa ngertiin kamu, Cuma itu, dan aku nggak pernah marah apalagi kecewa sama kamu, aku cinta sama kamu, Via. Sangat mencintai kamu, bahkan lebih dari apa yang kamu tahu…”
            “aku juga, Vin, aku juga….” Sebulir air mata terjatuh membasahi wajahnya.
            Tahu-tahu Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, ia memegang kedua pundak Sivia lalu menghujam mata Gadis itu sedalam mungkin.
            “mulai sekarang aku nggak akan maksa kamu lagi buat jadi pacar aku, Vi. Dan kalo pun kamu lebih milih Kak Cakka dari aku, aku ikhlas, Kak Cakka emang sejuta kali lebih baik dari aku, kamu pantes sama dia” Alvin tersenyum miris saat itu juga. Perkataan yang ia sendiri ucapkan itu malah menjelma menjadi sebuah senjata yang balik menyerang dirinya. Alvin terluka oleh ucapannya sendiri.
            Sivia menggeleng beberapa kali, tangan kanannya terangkat lalu menyentuh pipi mulus Alvin. Sementara air matanya semakin deras menetes,
            “nggak Vin, aku Cuma cinta sama kamu, dan aku nggak milih Kak Cakka, tapi aku milih kamu, AKU-MILIH-KAMU Alvin, Cuma kamu…” ujar Sivia dengan isakkan tertahan seraya memberikan penekanan pada beberapa kata.
            “Vi… Via??”
            Kali ini Sivia mengangguk beberapa kali, ia menyeka air matanya lalu tersenyum,
            “Iya Alvin, aku mau… mau jadi pacar kamu, aku mau ngasih kamu kesempatan lagi, aku mau…”
            Alvin tersenyum senang lalu merengkuh Gadis itu kedalam pelukan hangatnya. Hari ini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih. Apapun resikonya nanti, Sivia sudah siap menerimanya, termasuk jika Pricilla kembali lagi dan menuntut Cinta Alvin.
            Arah mata Alvin tiba-tiba saja tertuju pada sebuah kalung berlian yang saat itu berada dalam genggaman Sivia. Alvin tahu betul bahwa kalung berlian itu adalah kalung yang dulu pernah ingin ia berikan pada Pricilla dihari jadi mereka yang kedua, dan seingat Alvin, dulu ia membuang kalung itu entah kemana. Tapi sekarang bagaimana bisa kalung itu berada dalam genggaman Sivia?
            “Via kalung itu…”
            Sivia sedikit terkejut, ia baru sadar bahwa kalung itu masih berada dalam genggamannya. Sivia terlihat gelagapan, bingung harus berbuat apa. Entahlah, ia takut Alvin akan marah besar jika tahu bahwa ternyata ia menyimpan kalung itu tanpa seijin dari Alvin.
            “ka… kalung ini… ka… kalung ini…. Maaf Vin, maaf karna aku udah simpen kalung ini tanpa seijin kamu, ta… tapi aku janji, aku bakalan buang kalung ini… aku janji” Sivia benar-benar takut Alvin akan marah.
            Siviapun menunduk dalam, takut menatap kedua mata Alvin. Sivia tiba-tiba merasakan Alvin merenggut kalung itu dari genggamannya, Sivia semakin takut. Tapi tidak lama kemudian, Alvin malah memasangkan kalung itu pada leher Sivia. Kali ini Sivia mengangkat wajahnya dan memberanikan dirinya menatap mata Alvin,
            “Alvin??” Alvin tersenyum,
            “kalung ini sekarang udah jadi milik kamu, kamu yang berhak atas kalung ini, juga atas….” Alvin meraih tangan Sivia lalu meletakkannya didada bidang miliknya “juga atas hati ini” lanjut Alvin sungguh-sungguh.
            Sivia kembali menghambur kedalam pelukan Alvin,
            “makasih, Vin… aku cinta sama kamu….”
            “aku tau, aku juga cinta sama kamu….” Alvin mengecup pipi Sivia dengan lembut.


****

Ujian itupun datang silih berganti… sanggupkah mereka bertahan dengan cinta yang mereka miliki? Atau apakah Cinta itu akan menyerah ditangan takdir? Menyerah begitu saja tanpa perjuangan? tapi apapun itu, kisah mereka telah dimulai hari ini, Apapun keadaannya Cinta telah memilih…


            Setelah dari rumah Sivia, Alvin pun berniat untuk membawa Sivia kerumahnya untuk memberitahukan pada kedua orang tuanya bahwa ia dan Sivia telah resmi berpacaran. Alvin yakin seribu persen, kedua orang tuanya pasti setuju melihat hubungannya dengan Sivia. Sejak awal, sejak beberapa tahun yang lalu, kedua orang tua Alvin memang lebih suka melihat Alvin jika bersama Sivia dan bukan bersama Pricilla.
            Melihat kondisi Sivia yang belum terlalu membaik, sebenarnya Alvin berencana membawa Sivia kerumahnya itu besok, sepulang mereka dari Kampus, tapi Sivia malah memaksa. Sivia juga ingin segera bertemu dengan Cakka, memberitahukannya kabar gembira ini. Tidak sanggup menghadapi keras kepalanya Sivia, Alvin akhirnya mengalah. Meski sedikit ragu dengan kondisi Sivia, tapi Alvin tetap membawanya pergi.
            “I’m fine, Alvin!” ujar Sivia dengan mantap yang sukses membuat Alvin luluh.
            Akhirnya setelah selama 7 tahun menunggu, hari ini Sivia resmi juga menjadi milik Alvin. Sivia bahagia, benar-benar bahagia. Sivia hanya berharap semoga setelah ini tidak akan ada lagi yang mengusik kebahagiaannya, setidaknya untuk beberapa waktu saja. Sivia ingin merasakan bagaimana rasanya jadi pemilik tunggal hati Alvin, hanya itu.
            Alvin menghentikan mobilnya dihalaman rumahnya. Dengan langkah terburu Alvin keluar dari mobilnya. Ia membukakan pintu mobil untuk Sivia lalu mengulurkan tangannya dihadapan Gadis itu. Dengan senyum malu-malunya, Sivia menyambut uluran tangan Alvin.
            “Via” panggil Alvin sebelum mereka memasuki rumah Alvin,
            “kamu yakin bakal ngasih tau Kak Cakka? Apa kamu nggak mau nunggu waktu yang tepat dulu?”
            Sivia tersenyum tenang lalu menyentuh lembut pipi Alvin,
            “sekarang ataupun nanti keadaannya akan tetap sama. Aku nggak mau Kak Cakka terus berharap sama aku. Tapi aku yakin, Kak Cakka bisa nerima semua ini dengan lapang dada. Aku tahu betul gimana Kak Cakka selama ini, Vin…”
            Alvin mengangguk paham. Meski agak sedikit skeptis dengan penuturan Sivia barusan, tapi Alvin berusaha untuk mempercayainya. Toh selama ini, Cakka memang paling dekat dengan Sivia. Jadi Alvin tidak perlu lagi meragukan ucapan ‘Gadis’nya ini.
            Alvin meraih tangan Sivia yang menyentuh pipinya lalu mengecupnya lembut. Alvin melakukannya agak lama,
            “aku percaya kamu, Vi…”
            “iya, Vin”
            Alvin dan Sivia melanjutkan langkah mereka. Ketika sudah didepan pintu, Alvin langsung membuka pintu rumahnya tanpa memencet bel terlebih dahulu. Alvin tertawa pelan lalu mengecup kening Sivia dengan sayang. Mereka benar-benar bahagia saat ini.

            “Sayang!!” seru seseorang yang tiba-tiba saja menyembul dari dalam rumah Alvin. Alvin dan Sivia kenal betul siapa Gadis itu. Alvin dan Sivia saling menatap sejenak. Perasaan Sivia sudah bergemuruh, jantungnya seakan terhantam, hatinya seolah tersayat. Rasa sesak bercampur dengan perih menyiksa, itulah yang Sivia rasakan saat ini. Bahkan kedua kakinya melemas, Sivia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Jika ia tidak bisa menahan diri, mungkin sudah sejak tadi ia ambruk ditempat ini.
            Gadis itu –Pricilla- langsung saja menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Alvin tanpa sedikitpun menghiraukan kehadiran Sivia ditempat itu. Ya… dia telah kembali, Pricilla telah kembali setelah cukup lama menghilang.
            Secara perlahan, jari jemari Alvin dan Sivia yang tadinya saling bertaut satu sama lain langsung terlepas begitu saja ketika Pricilla membawanya dirinya kedalam pelukan Alvin tanpa permisi. Mungkin Alvin masih menganggap semua ini seperti mimpi, entah itu mimpi buruk atau mimpi paling indah dalam hidupnya, Sivia tidak tahu pasti.
            Yang bisa Sivia tangkap saat ini hanyalah, Alvin yang berdiri kaku dalam pelukan Pricilla tanpa sedikitpun membalas pelukan itu. Wajahnya menggambarkan rasa ketidakpercayaan yang terlihat dengan sangat jelas. Alvin mendadak bisu, tidak tahu bagaimana harus berucap. Semuanya terlalu mendadak.

            “I Miss you, Alvin… sekarang aku udah kembali, aku nggak akan kemana-mana lagi” lirih Pricilla dengan suara bergetar.

            Pada akhirnya Sivia terhantam mundur. Pelan tapi pasti ia melangkahkan kakinya dan meninggalkan rumah itu. Air matanya tidak dapat lagi menetes. Ia menangis bisu tanpa air mata, dan Sivia tahu itu rasanya sangat menyiksa. Sivia tidak sanggup menahannya. Mungkin Alvin akan menghempaskannya lagi. Ya… tidak perlu ditanyakan lagi, hal itu pasti akan terjadi, dan sudah barang tentu Sivia akan terluka lagi, lagi dan lagi. Dan itu semua karna Pria yang selalu sama, Alvin Jonathan.
            Apa tadi Sivia terlalu berharap? Apa harapan Sivia terlalu tinggi hingga sekarang Tuhan menghukumnya? Apa Sivia terlalu serakah?
            Sivia terus berjalan menjauhi rumah Alvin. Tanpa sadar Sivia sudah berjalan lumayan jauh. Tapi kemudian langkah Sivia tiba-tiba terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya. Sivia memejamkan matanya sejenak, ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk bisa menangkat wajahnya.
            Isakkan Sivia mulai terdengar sama-samar. Kedua pundaknya bergetar hebat. Seseorang yang tadi menghalangi langkah Sivia itu langsung menarik Sivia kedalam pelukannya dalam satu gerakan cepat.

            “menangislah semampu mu, menangislah sekeras-kerasnya. Aku disini, Via selalu disini buat kamu…” bisik Cakka pelan.

            Sivia membalas pelukan Cakka dan menumpahkan segala tangisannya disana. Ini semua benar-benar kejutan terdahsyat yang pernah ia terima seumur hidupnya. 2 pertanyaan timbul dilubuk hatinya yang terdalam; Apakah ini hanya ujian? Ataukah semua ini sudah menjadi bagian dari takdirnya? Mencintai tanpa pernah bisa memiliki. Miris.




                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment