Sunday, July 7, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 29 "One More Step..."






                Malam itu Farish terlihat tidak bisa tenang. Beberapa kali ia mencoba untuk konsentrasi dengan pekerjaannya tapi tetap saja tidak bisa. Perkataan-perkataan Denita beberapa hari yang lalu terus berpendar diingatannya dan melumpuhkan kerja otaknya.
            Farish memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia tidak ingin terus seperti ini. Bagaimanapun caranya Farish harus bisa membereskan semua masalahnya ini.
            Farish mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian setelah orang disebrang sana mengangkat telfonnya, tanpa basa basi apapun terlebih dahulu Farish langsung berkata,

            “siapkan acara pertunangan untuk 3 hari kedepan!!”
            Farish mematikan sambungan telfonnya lalu meletakkan ponselnya dengan sembarang diatas meja. Rencananya kali ini harus berhasil. Farish tidak mau gagal lagi entah untuk alasan apapun. Dan Alvin atau siapapun itu tidak akan bisa menghentikannya lagi, tidak akan bisa.


^_^

            Cakka, Agni, Ify, Shilla, dan Gabriel langsung bernafas lega ketika melihat Alvin dan Sivia keluar dari dalam hutan dengan keadaan baik-baik saja. Sivia yang saat itu berada dalam gendongan Alvin, terlihat terlelap dengan nyaman dibahu Alvin.
            Mereka semua menghampiri Alvin dan berusaha memastikan bahwa Alvin dan Sivia memang baik-baik saja.
            “Alvin, Via nggak apa-apa? Elo juga nggak apa-apa kan?” Tanya Shilla panic. Yang ada difikiran Shilla saat ini hanyalah keadaan Sivia.
            Alvin menggeleng perlahan lalu dengan pelan menjawab,
            “nggak, Via nggak apa-apa, gue juga nggak apa-apa kok. Emmm… panitia liburan nggak tau tentang masalah ini kan?”
            “nggak Vin!” jawab Ify dengan mantap. Saat itu juga Alvin menghela nafas lega. Ia memang menginginkan Panitia Liburan tidak tau menau soal masalah ini. Jika panitia liburan tau, bisa runyam urusannya.
            “sini biar gue yang bawa Via kekamarnya” ketika Cakka akan mengambil alih Sivia dari gendongan Alvin, Alvin dengan sigap menghindar,
            “biar gue aja!”
            “tapi lo….”
            “gue pacarnya dan gue punya hak buat ngelarang lo nyentuh pacar gue” ucap Alvin tegas. Cakka langsung bungkam seketika. Dalam hati ia membenarkan ucapan Alvin itu.
            Lagipula Cakka juga sudah resmi berpacaran dengan Agni. Cakka harus bisa menjaga perasaan Agni. Mungkin selama ini Agni tidak pernah menampakkan tanda-tanda bahwa ia cemburu melihat sikap perhatian Cakka pada Sivia, tapi isi hati seseorang siapa yang tahu kan? Perlahan Cakka melangkah mundur dan membiarkan Alvin membawa Sivia kedalam kamarnya.

^_^

            Dengan perlahan Alvin membaringkan tubuh Sivia diatas tempat tidurnya yang nyaman. Alvin tidak ingin sedikit saja gerakkannya akan membuat Sivia merasa terganggu hingga akhirnya terbangun.
            Alvin membenahi selimut Sivia. Ia duduk ditepi ranjang Sivia dan menatapnya untuk beberapa lama. Alvin tersenyum ketika melihat wajah Sivia yang tengah tertidur pulas. Ternyata Si Jelek ini lebih terlihat cantik ketika ia sedang tidur seperti ini. Wajahnya begitu damai.
            Senyum Alvin semakin melebar. Perlahan tangan kanannya terangkat dan bergerak menyentuh puncak kepala Sivia. Alvin masih belum percaya bahwa Sivia kembali lagi padanya. Semua ini benar-benar seperti mimpi yang sulit Alvin percaya.
            “gue sayang lo, Jelek” ujar Alvin pelan. ia menunduk lalu mengecup kening Sivia dengan sayang.
            “Sweet dream My Angel…” bisik Alvin pelan lalu bangkit dari tepi ranjang Sivia.
            Alvin berbalik hendak pergi. Tapi baru saja ia akan mengayunkan langkah pertamanya, tiba-tiba saja ia merasakan ada sebuah tangan lembut menahan pergelangan tangannya hingga membuatnya membatalkan niatnya untuk pergi. Alvin melihat kearah Sivia. Gadis itu telah terbangun,
            “Kunyuk… jangan tinggalin Jelek”
            Alvin mencium punggung tangan Sivia yang menahan pergelangan tangannya lalu kembali duduk ditepi ranjang Gadis itu.
            “tapi gue harus kembali kekamar gue. Nggak mungkin kan gue tidur disini bertiga sama lo dan Shilla, yang ada besok pagi kita malah digerebek massa” ujar Alvin setengah bergurau.
            Sivia menggeleng pelan, ia mengubah posisinya yang semulai berbaring menjadi duduk. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Alvin,
            “seenggaknya lo nggak boleh pergi sampe gue bener-bener tidur”
            “Via…”
            “Alvin gue mohon. Gue… masih kangen sama lo. Lagian Shilla juga masih asyik pacaran sama Gabriel, gue nggak mau sendiri disini”
            Alvin menghela nafas panjang. Mungkin tidak ada salahnya ia menemani Sivia hingga terlelap. Alvin mengangguk pelan dengan seulas senyum yang terlihat dipaksakan. Sivia bergerak maju lalu memeluk Alvin. Dengan manja ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Alvin.
            “Hmmm… Jelek sayang Kunyuk” bisik Sivia tepat didepan telinga Alvin. Kedua tangannya semakin kuat mencengkram tubuh Alvin.
            “Kunyuk juga sayang Jelek” balas Alvin dalam sebuah bisikan juga. Ia mengusap punggung Sivia beberapa kali untuk memberikannya kehangatan.
            Tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak gerik  yang mereka lakukan. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Cakka. Cakka tersenyum miris, entah kenapa hati nya masih saja terasa sakit jika melihat kedekatan yang terjalin antara Alvin dan Sivia. Cakka sadar tidak seharusnya ia seperti ini. Bukankah saat ini posisinya sudah ada yang memiliki? Jika Cakka terus-terusan seperti ini lalu bagaimana dengan perasaan Agni yang begitu menyayanginya? Tidak, Cakka tidak boleh menyakiti Agni. Dengan besar hati Cakka meninggalkan tempat itu, berusaha melupakan semua kesakitan yang tidak beralasan itu. Cakka tidak ingin terus seperti ini.
            Tidak butuh waktu yang lama, saat ini Alvin sudah duduk disamping Sivia dan punggungnya tersandar dikepala ranjang. Alvin memeluk erat pundak Sivia, dengan nyaman Sivia menyandarkan kepalanya didada Alvin.
            “lo nggak capek, Vi?” Tanya Alvin pelan, Sivia menggeleng.
            “nggak laper?” sekali lagi Sivia menggeleng.
            Kali ini Sivia mendongak dan menatap wajah Alvin. Sivia sedikit heran ketika melihat luka memar ditepi bibir Alvin,
            “ini kenapa? Sakit nggak?” Tanya Sivia cemas. Ia menyentuh luka memar Alvin.
            “oh… ini? Nggak apa-apa kok” jawab Alvin. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak memberitahukan pada Sivia kenapa ia bisa terluka seperti itu. Alvin tidak ingin Sivia tahu, bahwa luka memarnya itu diciptakan oleh Cakka.
            “yakin ini nggak sakit?”
            “sakit sih sebenernya, dikit…” Alvin tersenyum kecil,
            “kenapa nggak diobatin?”
            “maunya lo yang obatin”
            Sivia menggeleng beberapa kali. Ia mengerti makna yang tersembunyi  dibalik kata ‘obatin’ yang baru saja Alvin ucapkan. Apalagi Alvin mengucapkan kalimat itu seraya menatapnya dengan pandangan nakal.
            Sivia membalik badannya lalu kembali menyentuh luka memar Alvin. Tidak lama kemudian, wajah Sivia bergerak perlahan mendekati wajah Alvin. Siviapun mengecup lembut luka memar Alvin yang terdapat tepat ditepi bibirnya. Alvin tersenyum kecil. Ternyata sekarang Si Jelek ini jauh lebih pengertian.
            “udah baikan?”
            Alvin mengangguk pelan. Entah kenapa  setiap menitnya rasa cinta Alvin pada Sivia semakin bertambah. Sepertinya rasa cinta itu tidak akan pernah ada habisnya sampai kapanpun.


^_^

            Pag-pagi sekali, Alvin, Sivia, Cakka dan Agni terlihat melakukan pertandingan basket kecil-kecilan dilapangan basket yang tersedia tidak jauh dari wilayah Villa mereka. Sementara yang lainnya memilih untuk berjalan-jalan disekitar perkebunan teh bersama panitia liburan.
            Cakka dan Alvin sudah terlihat biasa lagi dan tidak seperti semalam ketika Sivia menghilang. Bahkan tanpa mereka berdua sadari, pagi ini mereka terlihat kompak.
            Alvin satu tim bersama Sivia, sementara Cakka ia satu tim bersama Agni. Dari sana saja sudah bisa dilihat Tim mana yang pertahanannya paling kuat.
            Alvin gondok setengah mati pada Sivia. Karna sedari tadi yang Sivia lakukan hanylah berlari-lari tidak jelas ditengah lapangan tanpa berusaha merebut bola sekalipun. Alvin geram, andai saja Sivia bukan pacarnya, mungkin sudah sejak tadi Alvin menendangnya keluar dari lapangan.
            Agni dan Cakka terlihat begitu lincah memainkan bola. Sedangkan Alvin, ia harus berusaha sendiri menghadapi kedua orang yang sama-sama lincah itu.
            Sivia menghentikan larinya ditengah lapangan, ia membungkukan badannya lalu menopang kedua tangannya dikedua lututnya. Sivia yang ngos-ngosan berusaha mengatur nafasnya,
            “hos… hos…. Gue capeeekkkk!!!”
            “halah manja lo! Belom apa-apa juga udah capek, kalo kayak gini bisa kalah Tim kita” teriak Alvin dari kejauhan.
            “iiii… Kunyuk tapi gue capek tau!! Lo itu nggak pengertian banget sih??”
            Permainan kembali dilanjutkan. Cakka dan Agni berhasil meraih skor sebanyak 80 point. Sementara Alvin ia baru meraih skor sebanyak 50 point. Menyadari kekalahannya itu Alvin semakin gondok pada Sivia.
            “AYO DONG SIVIA SEMANGAT!!!” Teriak Cakka sebelum akhirnya ia meloncat dan memasukan bola kedalam ring. Sialnya bola itu berhasil masuk kedalam ring. Skor Cakka-Agni bertambah 2 point. Alvin mengerang putus asa. Rasanya ia ingin sekali membunuh Sivia saat itu juga. Dasar Tim tidak solid!
            Saat Alvin tengah berusaha mati-matian merebut bola dari tangan Agni, tiba-tiba saja ia mendengar suara Sivia yang saat itu bersorak dari tepi lapangan layaknya pemandu sorak. Sivia berjingkrak-jingkrak menirukan gaya Shilla ketika menjadi pemandu sorak dilapangan setiap pertandingan basket.
            “GIVE ME A…. GIVE L…. GIVE V…. GIVE I… GIVE N… ALVIN!! GO ALVIN… GO ALVINNNNNN….” Teriak seperti orang kesetanan.
            Alvin, Agni, dan Cakka menghentikan permainan mereka sejenak. Mereka bertiga melongo melihat kelakuan aneh Sivia itu.
            Beberapa saat kemudian, Alvin terkesiap, ia membuyarkan keterpanaannya lalu melangkah besar-besar menghampiri Sivia yang berdiri ditepi lapangan. Sivia masih berteriak seperti orang kesetanan,
            “GIVE ME A…. GIVE ME L…. GIVE ME V…. GIVE ME I… GIVE ME N… ALVIN!! GO ALVIN… GO ALVINNNNNN….”
            Tanpa Sivia sadari, saat itu Alvin sudah berdiri dihadapannya seraya berkacak pinggang.
            “Sivia hentikan!”
            “GIVE ME A…. GIVE ME L…. GIVE ME V…. GIVE ME I… GIVE ME N… ALVIN!! GO ALVIN… GO ALVIN….” Sivia tetap berteriak.
            “SIVIA!!”
            “GIVE ME A… GIVE ME—“
            “SIVIA STOOPPPPPP!!!” teriak Alvin ditengah kegilaan Sivia yang sukses membuat Sivia langsung menutup mulutnya.
            “nggak usah pake acara tereak bisa kali ya?” kata Sivia nyolot. Ia menantang tatapan Alvin, ia juga berkacak pinggang, sama seperti Alvin.
            “lo tu ya?? Gue capek-capek maen ditengah lapangan lo malah asyik-asyikan teriak nggak jelas disini kayak orang gila”
            “gue bukannya tereak-tereak nggak jelas, tapi gue ngasih semangat buat lo, lo tau nggak?”
            Cakka dan Agni saling melirik. Beberapa saat kemudian mereka saling mengangguk satu sama lain lalu meninggalkan Alvin dan Sivia hanya berdua saja dilapangan. Mereka malas jika harus menonton pertengkaran Alvin dan Sivia.
            “ngasih semangat apaan? Yang ada lo berisik tau dan bikin gue nggak konsen”
            “itu elo nya aja yang lebay”
            “apa? Lo ngatain gue lebay?? Nggak salah tuh?? Elo yang lebay!”
            “elo!” sambar Sivia.
            “elo tau nggak?” balas Alvin,
            “elo”
            “JELEK!!”
            “KUNYUK”
            “MANJA!!”
            “NYEBELIN”
            “RESE”
            “NGESELIN…”
            “AARRGGGHHHH…. GUE BENCI SAMA LOOOOOOO!!!!” Teriak Alvin dan Sivia secara bersamaan. Mereka berdua sama-sama melipat kedua tangan mereka didepan dada dan sama-sama membuang muka mereka kearah lain.
            “gue nggak mau ngeliat muka lo lagi!” sinis Sivia,
            “sama gue juga! Gue bahkan lebih-lebih nggak mau ngeliat muka lo lagi” balas Alvin tidak mau kalah.
            Kali ini mereka berdua saling menatap dan kembali berteriak secara bersamaan,
            “GUE BENCI LO!!!”
            Merekapun berbalik dan melangkah pergi dengan arah yang berlawanan. Hmm… Kunyuk Dan Jelek telah benar-benar kembali lagi…


^_^

            Sivia masuk kedalam Villanya yang saat itu sedang dalam keadaan kosong. Mungkin Ify dan Shilla masih asyik berkeliling diperkebunan teh. Jika tau akan seperti ini kejadiannya, Sivia malas mengikuti ajakan Alvin untuk bermain basket bersama tadi pagi. Lebih baik Sivia ikut saja bersama Ify dan Shilla berjalan-jalan disekitar perkebunan Teh untuk menyegarkan fikiran dan pengelihatannya.
            Sivia melangkah besar-besar kearah dapur. Dengan tidak sabar ia membuka kulkas lalu mengambil sebotol air mineral dan meminumnya hingga setengah botol. Awalnya Sivia berfikir bahwa pagi ini Alvin akan bersikap seromantis seperti semalam padanya, tapi ternyata? Benar-benar jauh dari apa yang Sivia fikirkan. Si Kunyuk itu memang tidak pernah ada romantis-romantisnya. Huh, menyebalkan!
            Tiba-tiba saja merasakan handphone bergetar. Ia menerima sebuah pesan yang ternyata dari Alvin. Pesan itu berisi;

======================

From: KunyuK

MAAF!

======================

            Sivia menghela nafas setelah membaca pesan singkat dari Alvin. Si Kunyuk itu minta maaf? Apa tidak salah? Sivia tersenyum kecil saat itu juga.

^_^

            3 hari kemudian, liburan bersama itupun akhirnya usai. Ketika jam sudah menunjukan pukul 2 siang, bus rombongan Sivia dan kawan-kawannya bergerak perlahan meninggalkan Puncak. Bagi Sivia, ini adalah liburan terindah yang pernah ia lewati sepanjang hidupnya.
            Pada perjalanan pulang kali ini, Alvin menyusup masuk kedalam bus rombongan kelas Sivia. Awalnya Sivia kaget ketika melihat Alvin yang tahu-tahu sudah duduk disampingnya setelah mengusir paksa Ify, tapi kelamaan Sivia akhirnya merasa biasa. Dalam hatinya Sivia tidak bisa memungkiri rasa senangnya karna bisa satu bus bersama Alvin.
            Sivia menggandeng lengan Alvin yang duduk disampingnya lalu merebahkan kepalanya diatas bahu Pria itu,
            “makasih ya, Vin?” bisik Sivia pelan,
            “buat?”
            “buat semuanya” jawab Sivia seraya mengeratkan pelukannya pada lengan Alvin.
            “kasih kiss dong” kata Alvin seraya melirik nakal kearah Sivia.
            Mendengar ucapan Alvin, Sivia langsung melepaskan pelukannya pada lengan Pria itu. Sivia melirik tajam kearah Alvin. Dengan santainya Alvin berkata,
            “gue nggak minta diliatin kayak gitu. Gue minta dikasih kiss” Alvin menunjuk bibirnya.
            “ogah!” semprot Sivia.
            “lho kok ogah??”
            “itu sih maunya lo! Dasar OMES” Kesal Sivia seraya menoyor pelan kepala Alvin. Sivia memalingkan wajahnya kearah jendela lalu berpura-pura tidur.
            “sekarang siapa coba yang nggak bisa diajak romantis? Gue apa lo?”
            “bodo!” sinis Sivia tanpa melihat kearah Alvin.
            “huuu… dasar Jelek!!”
            “nggak usah gangguin gue! Gue capek, gue ngantuk, gue mau tidur!” ucap Sivia keki dan kembali berusaha memejamkan matanya.
            Tiba-tiba Sivia merasakan Alvin menarik lengannya lalu merebahkan kepalanya tepat diatas bahu Alvin. Alvin memeluk erat pundak Sivia lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dikepala Sivia yang terlapisi oleh Kupluk.
            “istirahat disini aja! Ini tempet lo” ucap Alvin pelan, ia meraih tangan Sivia lalu menyimpannya didada.
            “tidurlah!!”
            Sivia tidak berkata apa-apa, karna memang perlakuan Alvin itu membuatnya kehabisan kata-kata. Sivia kembali berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Alvin juga demikian. Ia menyandarkan wajahnya diatas kepala Sivia lalu memejamkan matanya. Dalam sunyi Alvin berbisik,

            “I love you, Jelek….”


^_^

            Ketika hari menjelang malam bus yang membawa rombongan Sivia akhirnya tiba di SMA PANCASILA. Alvin dan Sivia turun dari bus secara bersamaan. Sejak tadi mereka tidak sedikitpun melepaskan gandengan tangan mereka.
            Semua anak-anak yang mengikuti liburan bersama kali ini langsung menghampiri jemputan mereka masing-masing setelah turun dari Bus. Sementara Alvin dan Sivia masih berdiri disamping bus dan mengedarkan pandangan mereka kearah anak-anak yang tengah sibuk menghampiri jemputan mereka.
            “Via, lo pulang sama Alvin?” Tanya Cakka yang tiba-tiba saja muncul disamping Sivia. Sivia mengangguk pasti,
            “iya, Kka. Udah lo pulang aja duluan sama Agni”
            “oke. Tapi lo nggak apa-apa kan gue tinggal?”
            “nggak usah cemas. Ada gue kok yang bakalan jagain Via” kali ini Alvin yang menjawab pertanyaan Cakka. Cakka melirik sejenak kearah Alvin, beberapa saat kemudian, Cakka menepuk pelan pundak Sivia lalu pamit,
            “ya udah gue duluan. Take care ya, Bawel”
            Sivia mengangguk pasti. Cakka pun melangkah pergi menyusul Agni.


^_^

            Mobil yang membawa Alvin dan Sivia bergerak perlahan meninggalkan sekolah. Setelah selama 10 menit menunggu jemputan, akhirnya supir keluarga Alvin datang juga menjemput Alvin dan Sivia. Tapi sebelum Alvin pulang, ia menyempatkan dirinya untuk mengantarkan Sivia terlebih dahulu.
            15 menit kemudian tibalah mereka dirumah Sivia. Alvin dan Sivia keluar dari dalam mobil secara bersamaan.
            “Alvin, lo ikut masuk kan?” Tanya Sivia pada Alvin. Alvin berfikir lumayan lama lalu menjawab,
            “oke deh! Kebetulan gue juga laper. Gue kangen masakan lo, hehe…”
            “ya udah kita masuk yuk! Nanti gue masakin makanan yang paliiiinggggg enak buat Kunyuk Kesayangan gue” Sivia menyentuh pipi Alvin lalu membelainya lembut. Alvin meraih tangan Sivia yang ada dipipinya lalu menggenggamnya erat.
            Mereka berduapun berjalan beriringan menyusuri pekarangan rumah Sivia.

^_^

            Alvin dan Sivia kaget ketika melihat siapa yang menyambut kedatangan mereka malam itu. Mereka langsung melepaskan gandengan tangan mereka saat melihat Mama dan Papa mereka tengah duduk diruang tengah. Farish tersenyum pada kedua anak itu lantas berkata,
            “akhirnya anak-anak Papa sudah pulang. Gimana liburan kalian? Menyenangkan?”
            Alvin menghela nafas kesal. Sementara Sivia ia sudah mulai merasakan sebuah perasaan yang tidak enak. Pasti akan terjadi hal yang tidak pernah ia inginkan.
            “Alvin, Sivia. Sini! Duduk, jangan berdiri terus, Mama yakin kalian capek” ujar Denita lembut. Alvin dan Sivia saling menatap sejenak lalu melangkah mendekati Mama dan Papa mereka.
            Alvin dan Sivia duduk berhadapan dengan orang tua mereka masing-masing.
            “momentnya tepat sekali ya? Ada satu hal penting yang ingin Papa sampaikan pada kalian, dan Papa berharap, kalian siap mendengarkan hal penting yang akan Papa sampaikan” ujar Farish sesantai mungkin dengan senyum licik yang merupakan ciri khasnya.
            Alvin dan Sivia sama-sama terdiam. Tanpa ada yang tahu, diam-diam Alvin meraih tangan Sivia lalu menggenggamnya erat.
            “Papa ingin langsung saja, dan tidak ingin berbasa-basi lagi! Jadi besok, Papa dan Mama akan melaksanakan acara pertunangan. Siap tidak siap kalian berdua harus bisa siap dan menerima” ujar Farish tak berprasaan.
            Kali ini Alvin dan Sivia kaget. Jemari tangan mereka yang tadinya bertaut sekarang terlepas.
            “APAA??” Kaget Alvin. Farish tersenyum tenang,
            “iya Alvin. Besok, Papa sama Tante Denita akan bertunangan”
            “Papa jangan becanda, Pa” Alvin mulai tak tahan.
            “kenapa Papa harus bercanda? Awalnya Papa berfikir untuk melakukan pernikahan langsung, tapi melihat ketidaksiapan kalian berdua membuat Papa akhirnya mengurungkan niat Papa itu dan menggantikannya dengan acara pertunangan”
            “Tapi Papa nggak bisa kayak gitu, Alvin dan Sivia saling sayang, Pa.. kami, kami berdua udah bal—“ sebelum Alvin sempat melanjutkan perkataannya, Sivia buru-buru menahan lengan Alvin dengan tujuan untuk menghalau Alvin agar tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
            Alvin terdiam, ia menatap Sivia dengan pandangan tidak percaya. Apa secepat itu Sivia melupakan janjinya pada Alvin malam itu?
            “Via, tapi mereka berdua harus tau kalau kita saling sayang, mereka berdua harus tau kalau kita emang ada hubungan…”
            “Alvin cukup!!” ujar Sivia dengan suara bergetar. Sivia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh setetespun.
            Sivia bangkit dari duduknya lalu berkata,
            “kalo kalian mau tunangan, lanjutin aja! Aku sama Alvin nggak akan menghalangi kalian lagi”
            “SIVIA”
            “Aku capek. Aku mau istirahat”
            Sivia berlari menaiki anak tangga. Sivia bahkan tidak peduli lagi saat Alvin berkali-kali memanggil-manggil namanya.
            “kalian berdua egois!!” itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya ia pergi dan meninggalkan rumah itu.

            Sivia… kenapa secepat itu ia berubah??


           

            BERSAMBUNG….

           

0 comments:

Post a Comment