Malam itu Farish terlihat tidak bisa tenang.
Beberapa kali ia mencoba untuk konsentrasi dengan pekerjaannya tapi tetap saja
tidak bisa. Perkataan-perkataan Denita beberapa hari yang lalu terus berpendar
diingatannya dan melumpuhkan kerja otaknya.
Farish memegangi kepalanya yang
terasa berdenyut. Ia tidak ingin terus seperti ini. Bagaimanapun caranya Farish
harus bisa membereskan semua masalahnya ini.
Farish mengambil ponselnya lalu
menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian setelah orang disebrang sana
mengangkat telfonnya, tanpa basa basi apapun terlebih dahulu Farish langsung
berkata,
“siapkan acara pertunangan untuk 3
hari kedepan!!”
Farish mematikan sambungan telfonnya
lalu meletakkan ponselnya dengan sembarang diatas meja. Rencananya kali ini
harus berhasil. Farish tidak mau gagal lagi entah untuk alasan apapun. Dan
Alvin atau siapapun itu tidak akan bisa menghentikannya lagi, tidak akan bisa.
^_^
Cakka, Agni, Ify, Shilla, dan Gabriel
langsung bernafas lega ketika melihat Alvin dan Sivia keluar dari dalam hutan
dengan keadaan baik-baik saja. Sivia yang saat itu berada dalam gendongan
Alvin, terlihat terlelap dengan nyaman dibahu Alvin.
Mereka semua menghampiri Alvin dan
berusaha memastikan bahwa Alvin dan Sivia memang baik-baik saja.
“Alvin, Via nggak apa-apa? Elo juga
nggak apa-apa kan?” Tanya Shilla panic. Yang ada difikiran Shilla saat ini
hanyalah keadaan Sivia.
Alvin menggeleng perlahan lalu
dengan pelan menjawab,
“nggak, Via nggak apa-apa, gue juga
nggak apa-apa kok. Emmm… panitia liburan nggak tau tentang masalah ini kan?”
“nggak Vin!” jawab Ify dengan
mantap. Saat itu juga Alvin menghela nafas lega. Ia memang menginginkan Panitia
Liburan tidak tau menau soal masalah ini. Jika panitia liburan tau, bisa runyam
urusannya.
“sini biar gue yang bawa Via
kekamarnya” ketika Cakka akan mengambil alih Sivia dari gendongan Alvin, Alvin
dengan sigap menghindar,
“biar gue aja!”
“tapi lo….”
“gue pacarnya dan gue punya hak buat
ngelarang lo nyentuh pacar gue” ucap Alvin tegas. Cakka langsung bungkam
seketika. Dalam hati ia membenarkan ucapan Alvin itu.
Lagipula Cakka juga sudah resmi
berpacaran dengan Agni. Cakka harus bisa menjaga perasaan Agni. Mungkin selama
ini Agni tidak pernah menampakkan tanda-tanda bahwa ia cemburu melihat sikap
perhatian Cakka pada Sivia, tapi isi hati seseorang siapa yang tahu kan?
Perlahan Cakka melangkah mundur dan membiarkan Alvin membawa Sivia kedalam
kamarnya.
^_^
Dengan perlahan Alvin membaringkan tubuh
Sivia diatas tempat tidurnya yang nyaman. Alvin tidak ingin sedikit saja
gerakkannya akan membuat Sivia merasa terganggu hingga akhirnya terbangun.
Alvin membenahi selimut Sivia. Ia
duduk ditepi ranjang Sivia dan menatapnya untuk beberapa lama. Alvin tersenyum
ketika melihat wajah Sivia yang tengah tertidur pulas. Ternyata Si Jelek ini
lebih terlihat cantik ketika ia sedang tidur seperti ini. Wajahnya begitu
damai.
Senyum Alvin semakin melebar.
Perlahan tangan kanannya terangkat dan bergerak menyentuh puncak kepala Sivia.
Alvin masih belum percaya bahwa Sivia kembali lagi padanya. Semua ini
benar-benar seperti mimpi yang sulit Alvin percaya.
“gue sayang lo, Jelek” ujar Alvin
pelan. ia menunduk lalu mengecup kening Sivia dengan sayang.
“Sweet dream My Angel…” bisik Alvin
pelan lalu bangkit dari tepi ranjang Sivia.
Alvin berbalik hendak pergi. Tapi
baru saja ia akan mengayunkan langkah pertamanya, tiba-tiba saja ia merasakan
ada sebuah tangan lembut menahan pergelangan tangannya hingga membuatnya membatalkan
niatnya untuk pergi. Alvin melihat kearah Sivia. Gadis itu telah terbangun,
“Kunyuk… jangan tinggalin Jelek”
Alvin mencium punggung tangan Sivia
yang menahan pergelangan tangannya lalu kembali duduk ditepi ranjang Gadis itu.
“tapi gue harus kembali kekamar gue.
Nggak mungkin kan gue tidur disini bertiga sama lo dan Shilla, yang ada besok
pagi kita malah digerebek massa” ujar Alvin setengah bergurau.
Sivia menggeleng pelan, ia mengubah
posisinya yang semulai berbaring menjadi duduk. Tangannya semakin erat
menggenggam tangan Alvin,
“seenggaknya lo nggak boleh pergi
sampe gue bener-bener tidur”
“Via…”
“Alvin gue mohon. Gue… masih kangen
sama lo. Lagian Shilla juga masih asyik pacaran sama Gabriel, gue nggak mau
sendiri disini”
Alvin menghela nafas panjang.
Mungkin tidak ada salahnya ia menemani Sivia hingga terlelap. Alvin mengangguk
pelan dengan seulas senyum yang terlihat dipaksakan. Sivia bergerak maju lalu
memeluk Alvin. Dengan manja ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik
Alvin.
“Hmmm… Jelek sayang Kunyuk” bisik
Sivia tepat didepan telinga Alvin. Kedua tangannya semakin kuat mencengkram
tubuh Alvin.
“Kunyuk juga sayang Jelek” balas
Alvin dalam sebuah bisikan juga. Ia mengusap punggung Sivia beberapa kali untuk
memberikannya kehangatan.
Tanpa mereka berdua sadari ada
seseorang yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak gerik yang mereka lakukan. Orang itu tidak lain dan
tidak bukan adalah Cakka. Cakka tersenyum miris, entah kenapa hati nya masih
saja terasa sakit jika melihat kedekatan yang terjalin antara Alvin dan Sivia.
Cakka sadar tidak seharusnya ia seperti ini. Bukankah saat ini posisinya sudah
ada yang memiliki? Jika Cakka terus-terusan seperti ini lalu bagaimana dengan
perasaan Agni yang begitu menyayanginya? Tidak, Cakka tidak boleh menyakiti
Agni. Dengan besar hati Cakka meninggalkan tempat itu, berusaha melupakan semua
kesakitan yang tidak beralasan itu. Cakka tidak ingin terus seperti ini.
Tidak butuh waktu yang lama, saat
ini Alvin sudah duduk disamping Sivia dan punggungnya tersandar dikepala
ranjang. Alvin memeluk erat pundak Sivia, dengan nyaman Sivia menyandarkan
kepalanya didada Alvin.
“lo nggak capek, Vi?” Tanya Alvin
pelan, Sivia menggeleng.
“nggak laper?” sekali lagi Sivia
menggeleng.
Kali ini Sivia mendongak dan menatap
wajah Alvin. Sivia sedikit heran ketika melihat luka memar ditepi bibir Alvin,
“ini kenapa? Sakit nggak?” Tanya
Sivia cemas. Ia menyentuh luka memar Alvin.
“oh… ini? Nggak apa-apa kok” jawab
Alvin. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak memberitahukan pada Sivia kenapa
ia bisa terluka seperti itu. Alvin tidak ingin Sivia tahu, bahwa luka memarnya
itu diciptakan oleh Cakka.
“yakin ini nggak sakit?”
“sakit sih sebenernya, dikit…” Alvin
tersenyum kecil,
“kenapa nggak diobatin?”
“maunya lo yang obatin”
Sivia menggeleng beberapa kali. Ia
mengerti makna yang tersembunyi dibalik
kata ‘obatin’ yang baru saja Alvin ucapkan. Apalagi Alvin mengucapkan kalimat
itu seraya menatapnya dengan pandangan nakal.
Sivia membalik badannya lalu kembali
menyentuh luka memar Alvin. Tidak lama kemudian, wajah Sivia bergerak perlahan
mendekati wajah Alvin. Siviapun mengecup lembut luka memar Alvin yang terdapat
tepat ditepi bibirnya. Alvin tersenyum kecil. Ternyata sekarang Si Jelek ini
jauh lebih pengertian.
“udah baikan?”
Alvin mengangguk pelan. Entah kenapa
setiap menitnya rasa cinta Alvin pada
Sivia semakin bertambah. Sepertinya rasa cinta itu tidak akan pernah ada
habisnya sampai kapanpun.
^_^
Pag-pagi sekali, Alvin, Sivia, Cakka
dan Agni terlihat melakukan pertandingan basket kecil-kecilan dilapangan basket
yang tersedia tidak jauh dari wilayah Villa mereka. Sementara yang lainnya
memilih untuk berjalan-jalan disekitar perkebunan teh bersama panitia liburan.
Cakka dan Alvin sudah terlihat biasa
lagi dan tidak seperti semalam ketika Sivia menghilang. Bahkan tanpa mereka
berdua sadari, pagi ini mereka terlihat kompak.
Alvin satu tim bersama Sivia,
sementara Cakka ia satu tim bersama Agni. Dari sana saja sudah bisa dilihat Tim
mana yang pertahanannya paling kuat.
Alvin gondok setengah mati pada
Sivia. Karna sedari tadi yang Sivia lakukan hanylah berlari-lari tidak jelas
ditengah lapangan tanpa berusaha merebut bola sekalipun. Alvin geram, andai
saja Sivia bukan pacarnya, mungkin sudah sejak tadi Alvin menendangnya keluar
dari lapangan.
Agni dan Cakka terlihat begitu
lincah memainkan bola. Sedangkan Alvin, ia harus berusaha sendiri menghadapi
kedua orang yang sama-sama lincah itu.
Sivia menghentikan larinya ditengah
lapangan, ia membungkukan badannya lalu menopang kedua tangannya dikedua
lututnya. Sivia yang ngos-ngosan berusaha mengatur nafasnya,
“hos… hos…. Gue capeeekkkk!!!”
“halah manja lo! Belom apa-apa juga
udah capek, kalo kayak gini bisa kalah Tim kita” teriak Alvin dari kejauhan.
“iiii… Kunyuk tapi gue capek tau!!
Lo itu nggak pengertian banget sih??”
Permainan kembali dilanjutkan. Cakka
dan Agni berhasil meraih skor sebanyak 80 point. Sementara Alvin ia baru meraih
skor sebanyak 50 point. Menyadari kekalahannya itu Alvin semakin gondok pada
Sivia.
“AYO DONG SIVIA SEMANGAT!!!” Teriak
Cakka sebelum akhirnya ia meloncat dan memasukan bola kedalam ring. Sialnya
bola itu berhasil masuk kedalam ring. Skor Cakka-Agni bertambah 2 point. Alvin
mengerang putus asa. Rasanya ia ingin sekali membunuh Sivia saat itu juga.
Dasar Tim tidak solid!
Saat Alvin tengah berusaha
mati-matian merebut bola dari tangan Agni, tiba-tiba saja ia mendengar suara
Sivia yang saat itu bersorak dari tepi lapangan layaknya pemandu sorak. Sivia
berjingkrak-jingkrak menirukan gaya Shilla ketika menjadi pemandu sorak
dilapangan setiap pertandingan basket.
“GIVE ME A…. GIVE L…. GIVE V…. GIVE
I… GIVE N… ALVIN!! GO ALVIN… GO ALVINNNNNN….” Teriak seperti orang kesetanan.
Alvin, Agni, dan Cakka menghentikan
permainan mereka sejenak. Mereka bertiga melongo melihat kelakuan aneh Sivia
itu.
Beberapa saat kemudian, Alvin
terkesiap, ia membuyarkan keterpanaannya lalu melangkah besar-besar menghampiri
Sivia yang berdiri ditepi lapangan. Sivia masih berteriak seperti orang
kesetanan,
“GIVE ME A…. GIVE ME L…. GIVE ME V….
GIVE ME I… GIVE ME N… ALVIN!! GO ALVIN… GO ALVINNNNNN….”
Tanpa Sivia sadari, saat itu Alvin
sudah berdiri dihadapannya seraya berkacak pinggang.
“Sivia hentikan!”
“GIVE ME A…. GIVE ME L…. GIVE ME V….
GIVE ME I… GIVE ME N… ALVIN!! GO ALVIN… GO ALVIN….” Sivia tetap berteriak.
“SIVIA!!”
“GIVE ME A… GIVE ME—“
“SIVIA STOOPPPPPP!!!” teriak Alvin
ditengah kegilaan Sivia yang sukses membuat Sivia langsung menutup mulutnya.
“nggak usah pake acara tereak bisa
kali ya?” kata Sivia nyolot. Ia menantang tatapan Alvin, ia juga berkacak
pinggang, sama seperti Alvin.
“lo tu ya?? Gue capek-capek maen
ditengah lapangan lo malah asyik-asyikan teriak nggak jelas disini kayak orang
gila”
“gue bukannya tereak-tereak nggak
jelas, tapi gue ngasih semangat buat lo, lo tau nggak?”
Cakka dan Agni saling melirik.
Beberapa saat kemudian mereka saling mengangguk satu sama lain lalu
meninggalkan Alvin dan Sivia hanya berdua saja dilapangan. Mereka malas jika
harus menonton pertengkaran Alvin dan Sivia.
“ngasih semangat apaan? Yang ada lo
berisik tau dan bikin gue nggak konsen”
“itu elo nya aja yang lebay”
“apa? Lo ngatain gue lebay?? Nggak
salah tuh?? Elo yang lebay!”
“elo!” sambar Sivia.
“elo tau nggak?” balas Alvin,
“elo”
“JELEK!!”
“KUNYUK”
“MANJA!!”
“NYEBELIN”
“RESE”
“NGESELIN…”
“AARRGGGHHHH…. GUE BENCI SAMA
LOOOOOOO!!!!” Teriak Alvin dan Sivia secara bersamaan. Mereka berdua sama-sama
melipat kedua tangan mereka didepan dada dan sama-sama membuang muka mereka
kearah lain.
“gue nggak mau ngeliat muka lo
lagi!” sinis Sivia,
“sama gue juga! Gue bahkan
lebih-lebih nggak mau ngeliat muka lo lagi” balas Alvin tidak mau kalah.
Kali ini mereka berdua saling
menatap dan kembali berteriak secara bersamaan,
“GUE BENCI LO!!!”
Merekapun berbalik dan melangkah
pergi dengan arah yang berlawanan. Hmm… Kunyuk Dan Jelek telah benar-benar
kembali lagi…
^_^
Sivia masuk kedalam Villanya yang
saat itu sedang dalam keadaan kosong. Mungkin Ify dan Shilla masih asyik
berkeliling diperkebunan teh. Jika tau akan seperti ini kejadiannya, Sivia
malas mengikuti ajakan Alvin untuk bermain basket bersama tadi pagi. Lebih baik
Sivia ikut saja bersama Ify dan Shilla berjalan-jalan disekitar perkebunan Teh
untuk menyegarkan fikiran dan pengelihatannya.
Sivia melangkah besar-besar kearah
dapur. Dengan tidak sabar ia membuka kulkas lalu mengambil sebotol air mineral
dan meminumnya hingga setengah botol. Awalnya Sivia berfikir bahwa pagi ini
Alvin akan bersikap seromantis seperti semalam padanya, tapi ternyata?
Benar-benar jauh dari apa yang Sivia fikirkan. Si Kunyuk itu memang tidak
pernah ada romantis-romantisnya. Huh, menyebalkan!
Tiba-tiba saja merasakan handphone
bergetar. Ia menerima sebuah pesan yang ternyata dari Alvin. Pesan itu berisi;
======================
From: KunyuK
MAAF!
======================
Sivia menghela nafas setelah membaca
pesan singkat dari Alvin. Si Kunyuk itu minta maaf? Apa tidak salah? Sivia
tersenyum kecil saat itu juga.
^_^
3 hari kemudian, liburan bersama itupun
akhirnya usai. Ketika jam sudah menunjukan pukul 2 siang, bus rombongan Sivia
dan kawan-kawannya bergerak perlahan meninggalkan Puncak. Bagi Sivia, ini
adalah liburan terindah yang pernah ia lewati sepanjang hidupnya.
Pada perjalanan pulang kali ini, Alvin
menyusup masuk kedalam bus rombongan kelas Sivia. Awalnya Sivia kaget ketika
melihat Alvin yang tahu-tahu sudah duduk disampingnya setelah mengusir paksa
Ify, tapi kelamaan Sivia akhirnya merasa biasa. Dalam hatinya Sivia tidak bisa
memungkiri rasa senangnya karna bisa satu bus bersama Alvin.
Sivia menggandeng lengan Alvin yang
duduk disampingnya lalu merebahkan kepalanya diatas bahu Pria itu,
“makasih ya, Vin?” bisik Sivia
pelan,
“buat?”
“buat semuanya” jawab Sivia seraya
mengeratkan pelukannya pada lengan Alvin.
“kasih kiss dong” kata Alvin seraya
melirik nakal kearah Sivia.
Mendengar ucapan Alvin, Sivia
langsung melepaskan pelukannya pada lengan Pria itu. Sivia melirik tajam kearah
Alvin. Dengan santainya Alvin berkata,
“gue nggak minta diliatin kayak
gitu. Gue minta dikasih kiss” Alvin menunjuk bibirnya.
“ogah!” semprot Sivia.
“lho kok ogah??”
“itu sih maunya lo! Dasar OMES”
Kesal Sivia seraya menoyor pelan kepala Alvin. Sivia memalingkan wajahnya
kearah jendela lalu berpura-pura tidur.
“sekarang siapa coba yang nggak bisa
diajak romantis? Gue apa lo?”
“bodo!” sinis Sivia tanpa melihat
kearah Alvin.
“huuu… dasar Jelek!!”
“nggak usah gangguin gue! Gue capek,
gue ngantuk, gue mau tidur!” ucap Sivia keki dan kembali berusaha memejamkan
matanya.
Tiba-tiba Sivia merasakan Alvin
menarik lengannya lalu merebahkan kepalanya tepat diatas bahu Alvin. Alvin
memeluk erat pundak Sivia lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dikepala Sivia
yang terlapisi oleh Kupluk.
“istirahat disini aja! Ini tempet
lo” ucap Alvin pelan, ia meraih tangan Sivia lalu menyimpannya didada.
“tidurlah!!”
Sivia tidak berkata apa-apa, karna
memang perlakuan Alvin itu membuatnya kehabisan kata-kata. Sivia kembali
berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Alvin juga demikian. Ia
menyandarkan wajahnya diatas kepala Sivia lalu memejamkan matanya. Dalam sunyi
Alvin berbisik,
“I love you, Jelek….”
^_^
Ketika hari menjelang malam bus yang
membawa rombongan Sivia akhirnya tiba di SMA PANCASILA. Alvin dan Sivia turun
dari bus secara bersamaan. Sejak tadi mereka tidak sedikitpun melepaskan
gandengan tangan mereka.
Semua anak-anak yang mengikuti
liburan bersama kali ini langsung menghampiri jemputan mereka masing-masing
setelah turun dari Bus. Sementara Alvin dan Sivia masih berdiri disamping bus
dan mengedarkan pandangan mereka kearah anak-anak yang tengah sibuk menghampiri
jemputan mereka.
“Via, lo pulang sama Alvin?” Tanya
Cakka yang tiba-tiba saja muncul disamping Sivia. Sivia mengangguk pasti,
“iya, Kka. Udah lo pulang aja duluan
sama Agni”
“oke. Tapi lo nggak apa-apa kan gue
tinggal?”
“nggak usah cemas. Ada gue kok yang
bakalan jagain Via” kali ini Alvin yang menjawab pertanyaan Cakka. Cakka
melirik sejenak kearah Alvin, beberapa saat kemudian, Cakka menepuk pelan pundak
Sivia lalu pamit,
“ya udah gue duluan. Take care ya,
Bawel”
Sivia mengangguk pasti. Cakka pun
melangkah pergi menyusul Agni.
^_^
Mobil yang membawa Alvin dan Sivia
bergerak perlahan meninggalkan sekolah. Setelah selama 10 menit menunggu
jemputan, akhirnya supir keluarga Alvin datang juga menjemput Alvin dan Sivia.
Tapi sebelum Alvin pulang, ia menyempatkan dirinya untuk mengantarkan Sivia
terlebih dahulu.
15 menit kemudian tibalah mereka
dirumah Sivia. Alvin dan Sivia keluar dari dalam mobil secara bersamaan.
“Alvin, lo ikut masuk kan?” Tanya
Sivia pada Alvin. Alvin berfikir lumayan lama lalu menjawab,
“oke deh! Kebetulan gue juga laper.
Gue kangen masakan lo, hehe…”
“ya udah kita masuk yuk! Nanti gue
masakin makanan yang paliiiinggggg enak buat Kunyuk Kesayangan gue” Sivia
menyentuh pipi Alvin lalu membelainya lembut. Alvin meraih tangan Sivia yang
ada dipipinya lalu menggenggamnya erat.
Mereka berduapun berjalan beriringan
menyusuri pekarangan rumah Sivia.
^_^
Alvin dan Sivia kaget ketika melihat
siapa yang menyambut kedatangan mereka malam itu. Mereka langsung melepaskan
gandengan tangan mereka saat melihat Mama dan Papa mereka tengah duduk diruang
tengah. Farish tersenyum pada kedua anak itu lantas berkata,
“akhirnya anak-anak Papa sudah
pulang. Gimana liburan kalian? Menyenangkan?”
Alvin menghela nafas kesal.
Sementara Sivia ia sudah mulai merasakan sebuah perasaan yang tidak enak. Pasti
akan terjadi hal yang tidak pernah ia inginkan.
“Alvin, Sivia. Sini! Duduk, jangan
berdiri terus, Mama yakin kalian capek” ujar Denita lembut. Alvin dan Sivia
saling menatap sejenak lalu melangkah mendekati Mama dan Papa mereka.
Alvin dan Sivia duduk berhadapan
dengan orang tua mereka masing-masing.
“momentnya tepat sekali ya? Ada satu
hal penting yang ingin Papa sampaikan pada kalian, dan Papa berharap, kalian
siap mendengarkan hal penting yang akan Papa sampaikan” ujar Farish sesantai
mungkin dengan senyum licik yang merupakan ciri khasnya.
Alvin dan Sivia sama-sama terdiam.
Tanpa ada yang tahu, diam-diam Alvin meraih tangan Sivia lalu menggenggamnya
erat.
“Papa ingin langsung saja, dan tidak
ingin berbasa-basi lagi! Jadi besok, Papa dan Mama akan melaksanakan acara
pertunangan. Siap tidak siap kalian berdua harus bisa siap dan menerima” ujar
Farish tak berprasaan.
Kali ini Alvin dan Sivia kaget.
Jemari tangan mereka yang tadinya bertaut sekarang terlepas.
“APAA??” Kaget Alvin. Farish
tersenyum tenang,
“iya Alvin. Besok, Papa sama Tante
Denita akan bertunangan”
“Papa jangan becanda, Pa” Alvin mulai
tak tahan.
“kenapa Papa harus bercanda? Awalnya
Papa berfikir untuk melakukan pernikahan langsung, tapi melihat ketidaksiapan
kalian berdua membuat Papa akhirnya mengurungkan niat Papa itu dan
menggantikannya dengan acara pertunangan”
“Tapi Papa nggak bisa kayak gitu,
Alvin dan Sivia saling sayang, Pa.. kami, kami berdua udah bal—“ sebelum Alvin
sempat melanjutkan perkataannya, Sivia buru-buru menahan lengan Alvin dengan
tujuan untuk menghalau Alvin agar tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi
diantara mereka.
Alvin terdiam, ia menatap Sivia
dengan pandangan tidak percaya. Apa secepat itu Sivia melupakan janjinya pada
Alvin malam itu?
“Via, tapi mereka berdua harus tau
kalau kita saling sayang, mereka berdua harus tau kalau kita emang ada hubungan…”
“Alvin cukup!!” ujar Sivia dengan
suara bergetar. Sivia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh setetespun.
Sivia bangkit dari duduknya lalu
berkata,
“kalo kalian mau tunangan, lanjutin
aja! Aku sama Alvin nggak akan menghalangi kalian lagi”
“SIVIA”
“Aku capek. Aku mau istirahat”
Sivia berlari menaiki anak tangga.
Sivia bahkan tidak peduli lagi saat Alvin berkali-kali memanggil-manggil
namanya.
“kalian berdua egois!!” itulah
ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya ia pergi dan meninggalkan rumah itu.
Sivia… kenapa secepat itu ia
berubah??
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment