Wednesday, July 10, 2013

0

MY DIARY Part 18



“Kak Iel…??” kata Sivia sambil menunjuk kearah Gabriel yang saat itu tengah berlari-lari kecil menghampirinya.
“lo ada disini juga Vi….” Ucap Gabriel dengan desauan nafas yang tak teratur saat ia menghampiri Alvin dan Sivia.
“emang Kakak nyariin Via…?” Tanya Sivia heran. Gabriel hanya mengangguk lantas merangkul Sivia. Alvin  sempat terkejut dengan apa yang Gabriel lakukan pada Sivia.
“sekarang lo ikut gue…” kata Gabriel.
“mau kemana Kak…?”
“udah ikut aja….”
Alvin seperti ingin menahan kepergian Sivia bersama Gabriel. Tapi Alvin sadar bahwa ia sama sekali tak berhak melakukan hal itu. Bukankah ia sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Sivia. Maka dengan perasaan sedikit terbakar Alvin membiarkan Gabriel membawa Sivia pergi.
Baru sekitar beberapa langkah Gabriel dan Sivia meninggalkan Alvin, tiba-tiba saja Sivia ingat bahwa tadi Alvin ingin menyampaikan sesuatu  padanya tapi terpotong saat Gabriel datang dan memanggilnya secara tiba-tiba. Sivia serta merta melepaskan rangkulan Gabriel, ia langsung menoleh kebelakang dan mendapati Alvin yang saat itu tengah menunduk. Sivia tak pernah tau bahwa saat itu  Alvin begitu kecewa.
“oya Kak Alvin, tadi katanya Kakak mau nyampein sesuatu ke Via, ayo sekarang disampein aja….!” Kata Sivia dengan senyum termanisnya. Gabriel hanya mengangkat kedua alisnya dan menatap heran pada Alvin dan Sivia.
Mendengarkan suara Sivia, Alvin langsung menegakkan kepalanya. Ia berusaha terlihat baik-baik saja. Secara perlahan Alvin melangkah. Sivia berfikir bahwa Alvin akan menghampirinya, namun ternyata fikiran Sivia salah, karna Alvin melewatinya begitu saja tanpa sedikitpun melihat kearahnya.
“gak jadi!” ucap Alvin dingin seraya tetap berjalan dan menatap lurus kedepan.

‘selalu aja kaya gitu… Kak Alvin emang gak pernah bisa berubah…’ batin Sivia sambil melihat kepergian Alvin. Kelamaan sosok Alvinpun akhirnya menghilang dari pandangan Sivia.

^_^
            “Hay Ify….” Sapa Pricilla hangat yang saat itu sudah duduk dengan manis dibangku Ify. Ify sempat tekejut melihat kehadiran Pricilla yang tiba-tiba berada didalam kelasnya. Dalam hati jelas Ify bertanya-tanya tentang kehadiran Pricilla itu.
            “Kak Prissy…??” ucap Ify heran. Pricilla tersenyum lantas bangkit dari tempat duduk Ify. Ia pun mendekati Ify.
            “Fy, ada yang mau ketemu sama kamu….” Ify semakin heran.
            “si…siapa Kak…?”
            Belum sempat Pricilla menjawab pertanyaan Ify tiba-tiba saja Sivia datang.
            “ada yang mau ketemu sama Ify?? Siapa Kak? Siapa?” Tanya Sivia heboh. Ify langsung menampakkan wajah bosan. Pricilla hanya tertawa kecil.
            “tuh…” jawab Pricilla sambil menunjuk kearah pintu. Sivia dan Ifypun melihat kearah pintu. Tak lama menyembullah sosok 4 cowok tampan dari pintu. Merekalah Alvin, Cakka, Gabriel dan Rio pastinya. Ify mengerutkan keningnya. Ada angin apa yang tiba-tiba membuat keempat cowok-cowok tampan itu menemuinya.
            “mereka berempat yang mau ketemu sama gue? Kenapa?” Tanya Ify yang masih heran. Pricilla semakin mendekati Ify, iapun menepuk pelan pundak Ify,
            “bukan mereka berempat Ify, tapi Cuma Rio aja….” Ify semakin heran namun ia juga tak bisa memungkiri bahwa ia mulai salah tingkah saat Rio menatapnya tanpa berkedip.
            “ayo Yo, jelasin ke Ify…” pinta Pricilla. Rio mendekati Ify dan berdiri tepat dihadapan Ify. Sementara Pricilla, ia langsung mundur dan berdiri disamping Gabriel. Tanpa sadar Sivia berdiri disamping Alvin, mereka begitu dekat. Meski Sivia tak menyadarinya, namun Alvin sangat menyadari itu.
            “Fy… ini udah saatnya gue akhiri permainan gue…”
            “maksud Kakak…??” Tanya Ify. Rio meraih tangan Ify lantas menggenggamnya,
            “Fy, gue…. Gu…” Rio tak melanjutkan perkataannya. Gabriel yang mulai jahilpun berkata,
            “elo yang ngomong langsung apa gue aja yang ngomong..?”
            “iya nih Yo, kelamaan lo..” timpal Cakka. Sementara Alvin, ia tidak berkomentar apa-apa karna saat itu ia tengah asyik memandangi Sivia. Rio tak peduli. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan,
            “Fy, gue sayang sama lo, lo mau jadi pacar gue…?” akhirnya keluar juga. Sontak saja Ify terkejut atas pengakuan dari Rio itu. Yang Ify tau Rio berpacaran dengan Pricilla lantas kenapa sekarang Rio malah menembaknya dihadapan Pricilla. Apa mereka sudah putus? Tapi kenapa mendadak begini? Apa Rio hanya menjadikannya pelampiasan saja? Fikir Ify. Ia menggeleng beberapa kali, secara perlahan tangannya terlepas dari genggaman Rio.
            “Kak, Kakak serius…?” Ify berusaha meyakini apa yang baru saja ia dengar dari mulut Rio. Rio mengangguk yakin dan kembali meraih tangan Ify,
            “emang aku keliatan lagi becanda ya…?” Tanya Rio dengan raut wajah serius.
            “tapi bukannya….”
            Pricilla yang memang paham arah pembicaraan Ify pun akhirnya angkat bicara.
            “enggak Fy, gue sama Rio gak pernah pacaran! Selama ini Rio Cuma ngerjain lo doang, dia mau ngetes lo, apa lo bener-bener sayang ama dia ato gak, dan Rio ngejadiin gue sebagai kelinci percobaannya, emang jahat gebetan lo…” terang Pricilla. Ify menatap Rio dengan raut wajah yang sedikit marah, tapi Ify juga bisa bernafas lega karna ternyata Rio memiliki perasaan juga padanya.
            “jadi Kak Riooo….” Rio mengangguk berkali-kali.
            “maafin Kak Rio, abisnya dimalem Prom itu lo bener-bener bikin gue cemas, gue fikir lo gak nemuin gue…”
            “tapi Kak, waktu itu Ibu lagi sakit…”
            “gue tau dan gue minta maaf….” Ify menoleh kearah lain.
            “gue gak mau maafin lo Kak….” Seketika Rio langsung lesu.
            “jadi lo gak mau maafin gue….?”
            “lo jahat sih Kak udah ngerjain gue sampe segininya…”
            “tapi gue ngelakuin ini karna gue sayang banget sama lo… sekarang jawab pertanyaan gue, lo mau apa gak jadi pacar gue….?” Tanya Rio sekali lagi. Ify menggeleng ragu tapi Rio malah tersenyum. Rio sangat tau bahwa sesungguhnya Ify tak pernah bisa menolaknya, bahkan Rio sangat tau bahwa Ify begitu menyayanginya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rio langsung menarik Ify kedalam pelukannya,
            “gue anggep itu jawaban Iya Fy…”
            “Kak…” kata Ify tertahan,
            “lo juga sayang kan sama gue Fy..? jujur!” Ify mengangguk, Riopun tersenyum.
            “jadi sekarang kita pacaran??” Tanya Rio sekali lagi. Ify kembali mengangguk. Kali ini Rio mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dipuncak kepala Ify,
            “makasih ya Fy, gue sayang sama lo…”
            “gue juga Kak….”
            “CIEEEEEEE……” teriak semuanya kompak minus Alvin yang masih saja betah menatap Sivia.
            Melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Rio dan Ify, tanpa sadar Sivia berkata,
            “kapan ya Via bisa kaya gitu….?” Telinga Alvin ternyata mampu menangkap Perkataan Sivia yang lumayan pelan itu . Alvin menundukan kepalanya sejenak lalu membisikan sesuatu ditelinga Sivia,
            “nanti lo bisa kaya gitu….” Setelah membisikan kalimat singkat itu, Alvin langsung keluar dari kelas Sivia. Sivia pun menatap Alvin yang saat itu berjalan keluar kelasnya tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Sivia menggeleng pelan,
            ‘Kak Alvin, Kak Alvin…. Kenapa juga sampe sekarang Via belom bisa ngelupain Kakak…??’ ujar Sivia dalam hati.


^_^

            “Ikatan Logam adalah ikatan yang terdapat pada atom-atom logam dengan gaya tarik berupa delokalisasi electron atau lautan elek…” melihat Sivia yang terlihat tak bersemangat malam ini Alvinpun akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan penjelasannya.
            Alvin melepaskan modul Kimia yang sedari tadi ia pegang diatas meja. Alvin menatap Sivia dengan tatapan bertanya,
            “lo kenapa…?” Tanya Alvin dengan nada selembut mungkin.
            “Via cepek Kak, Via bosen…” jawab Sivia apa adanya. Alvin menghela nafas panjang dan berkata,
            “bentar lagi kita udah mau semesteran, dan secara otomatis gue gak bisa lessin lo lagi karna gue sendiri harus belajar, kalo sekarang aja lo udah bosen gimana lo mau belajar, ayolah Vi, lo harus semangat….”
            “Kak…” rengek Sivia dengan suara sedikit manja.
            “Via, Kak Alvin yakin Via bisa, asal Via mau semangat….” Alvin menggeser posisi duduknya hingga dekat dengan Sivia.
            Alvin menggenggam erat tangan Sivia untuk memberikannya semangat.
            “Via mau jadi anak pinter?” Tanya Alvin, Sivia mengangguk,
            “Via mau bikin Mama bangga…?” Sivia mengangguk lagi,
            “Via mau Papa gak marah-marah lagi sama Via…?” Sivia mengangguk kembali,
            “Via mau gak diremehin lagi sama Kak Irsyad…?” sekali lagi Sivia mengangguk. Tapi kali ini anggukan Sivia langsung diteruskan oleh ucapannya yang membuat Alvin sedikit kaget,
            “dan Via mau bikin Kak Alvin seneng…”
            “Via….” Tanpa meminta ijin pada Alvin terlebih dahulu Sivia langsung saja merebahkan kepalanya dipundak Alvin.
            “Via baru nyadar kalo selama ini Via nyebelin banget, pantes aja Kak Alvin gondok sama Via, maafin Via ya Kak…?” Sivia kembali menegakkan wajahnya. Kali ini matanya dengan mata Alvin bertemu. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
            Setelah cukup lama saling menatap tanpa bicara, Sivia melipat kedua tangannya diatas meja lantas menumpukan wajahnya diatas kedua tangannya. Sivia memasang wajah cemberut,
            “Via bener-bener suntuk Kak…” tiba-tiba saja Sivia merasakan Alvin menarik peregelangan tangannya. Alvin memaksa Sivia untuk berdiri,
            “ikut Kak Alvin….!”
            “mau kemana Kak…?”
            “udah, Via ikut aja….”


^_^

            Ternyata Alvin membawa Sivia pergi kesebuah danau. Malam ini danau terlihat begitu indah. Disekeliling danau tampak gedung-gedung besar yang terlihat bersinar karna cahaya lampunya. Alvin dan Sivia berdiri ditepi danau sembari melihat-lihat pemandangan sekitar.
            “ini tempat favorit Kak Alvin, kalo lagi bosen, galau, atau apalah itu, Kak Alvin sering kesini malem-malem, pemandangan disekitar danau ini bisa bikin perasaan Kak Alvin lebih tenang, lebih damai…” Sivia menatap Alvin,
            “Kak Alvin mencintai tempat ini…?”
            “sangat Via…” jawab Alvin singkat dan menatap sekilas wajah Sivia.
            “apa Kak Alvin pernah bawa Kak Shilla ke tempat ini…?” mendengar pertanyaan Sivia yang satu itu Alvin langsung menggeleng.
            “gak pernah!”
            “loh? Kok?”
            “Kak Alvin sering pengin bawa Kak Shilla kesini, tapi Kak Shilla selalu aja nolak dengan berjuta-juta alas an yang entah dari mana datangnya, dan apa Via tau…?” kali ini Alvin membalik badannya hingga ia berhadapan dengan Sivia. Alvin memegang kedua pundak Sivia lalu menatapnya lekat-lekat,
            “Via adalah cewek pertama yang Kak Alvin bawa ketempat ini….” Ucap Alvin dengan sangat jelas. Sivia langsung menunduk sedalam-dalamnya.
            “Via…” panggil Alvin pelan seraya mengangkat dagu Sivia,
            “Kak Alvin….” Alvin memotong kalimatnya untuk menghela nafas sejenak. Alvin memejamkan kedua  matanya untuk beberapa lama. Alvin menundukan kepalanya dihadapan Sivia lalu dengan keberanian penuh Alvin berkata,
            “Kak Alvin sayang sama Via…”
            Sivia tersentak. Ia tak menyangka bahwa malam ini juga Alvin akan menyatakan perasaannya padanya. Alvin kembali menegakkan wajahnya dan menatap mata Sivia. Sivia mundur secara perlahan dan sedikit menjauhkan jaraknya dari posisi Alvin sekarang. Sivia kembali melihat kearah danau.
            “Via tau, Kak Alvin ngomong gitu Cuma untuk ngehibur hati Via kan…?” secara perlahan air mata Sivia menetes. Ia melangkah selangkah dari posisi Alvin. Alvin menggeleng pelan.
            “dulu Kak Alvin pernah bilang, bahwa sampe kapanpun Kak Alvin gak akan pernah bisa suka sama cewek lemot macam Via… Via selalu inget kata-kata Kak Alvin itu, dan jujur Via sakiitt banget setiap kali Via inget kata-kata itu… dan Kak Alvin tau, sejak Kak Alvin ngomong kaya gitu, maka sejak itu juga Via mutusin buat gak bermimpi lagi… Kak Alvin tuh terlalu tinggi untuk Via raih, Via gak akan bisa ngeraih Kak Alvin….”
            “Via, waktu itu Kak Alvin Cuma gak sadar sama apa yang Kak Alvin omongin…” Sivia mengangguk dan berusaha mengerti dengan alas an Alvin. Kini Alvin berdiri tepat dibelakang Sivia. Alvinpun mendekap erat tubuh Sivia dari belakang.
            “dengerin Kak Alvin, dulu Kak Alvin pernah bilang, bahwa Cuma cowok gak waras aja yang suka sama Via, dan malem ini juga Kak Alvin akuin, bahwa Kak Alvin lah cowok yang gak waras itu… Via mesti tau, Kak Alvin bener-bener sayang sama Via…”  air mata Sivia yang tertahan kembali menetes dan membasahi pipi mulusnya,
            “Kak Alvin nyeseel banget udah nyia-nyiain Via selama ini, kalo ada orang yang paling bersalah dan paling nyesel dimuka bumi ini maka orang itu adalah Kak Alvin…” secara perlahan Sivia memegang kedua tangan Alvin yang masih mendekap erat tubuhnya, Sivia menghela nafas beratnya,
            “sekali lagi Kak Alvin bilang, Kak Alvin sayang sama Via…. Sayaaangg banget.. Via satu-satunya Princess Lemot kesayangan Kak Alvin…”
            “Kak…hik..” isakan Sivia mulai terdengar pelan.
            “Via, kenapa kita gak pacaran aja…?” kata Alvin tiba-tiba. Untuk yang kesekian kalinya Sivia terkejut. Apa Alvin benar-benar memintanya untuk jadi pacarnya? Ataukah Sivia Cuma salah dengar?


                                                BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment