“Kak
Iel…??” kata Sivia sambil menunjuk kearah Gabriel yang saat itu tengah
berlari-lari kecil menghampirinya.
“lo
ada disini juga Vi….” Ucap Gabriel dengan desauan nafas yang tak teratur saat
ia menghampiri Alvin dan Sivia.
“emang
Kakak nyariin Via…?” Tanya Sivia heran. Gabriel hanya mengangguk lantas
merangkul Sivia. Alvin sempat terkejut
dengan apa yang Gabriel lakukan pada Sivia.
“sekarang
lo ikut gue…” kata Gabriel.
“mau
kemana Kak…?”
“udah
ikut aja….”
Alvin
seperti ingin menahan kepergian Sivia bersama Gabriel. Tapi Alvin sadar bahwa
ia sama sekali tak berhak melakukan hal itu. Bukankah ia sama sekali tidak
memiliki hubungan apapun dengan Sivia. Maka dengan perasaan sedikit terbakar
Alvin membiarkan Gabriel membawa Sivia pergi.
Baru
sekitar beberapa langkah Gabriel dan Sivia meninggalkan Alvin, tiba-tiba saja
Sivia ingat bahwa tadi Alvin ingin menyampaikan sesuatu padanya tapi terpotong saat Gabriel datang
dan memanggilnya secara tiba-tiba. Sivia serta merta melepaskan rangkulan
Gabriel, ia langsung menoleh kebelakang dan mendapati Alvin yang saat itu
tengah menunduk. Sivia tak pernah tau bahwa saat itu Alvin begitu kecewa.
“oya
Kak Alvin, tadi katanya Kakak mau nyampein sesuatu ke Via, ayo sekarang
disampein aja….!” Kata Sivia dengan senyum termanisnya. Gabriel hanya
mengangkat kedua alisnya dan menatap heran pada Alvin dan Sivia.
Mendengarkan
suara Sivia, Alvin langsung menegakkan kepalanya. Ia berusaha terlihat
baik-baik saja. Secara perlahan Alvin melangkah. Sivia berfikir bahwa Alvin
akan menghampirinya, namun ternyata fikiran Sivia salah, karna Alvin
melewatinya begitu saja tanpa sedikitpun melihat kearahnya.
“gak
jadi!” ucap Alvin dingin seraya tetap berjalan dan menatap lurus kedepan.
‘selalu
aja kaya gitu… Kak Alvin emang gak pernah bisa berubah…’ batin Sivia sambil
melihat kepergian Alvin. Kelamaan sosok Alvinpun akhirnya menghilang dari
pandangan Sivia.
^_^
“Hay
Ify….” Sapa Pricilla hangat yang saat itu sudah duduk dengan manis dibangku
Ify. Ify sempat tekejut melihat kehadiran Pricilla yang tiba-tiba berada
didalam kelasnya. Dalam hati jelas Ify bertanya-tanya tentang kehadiran
Pricilla itu.
“Kak
Prissy…??” ucap Ify heran. Pricilla tersenyum lantas bangkit dari tempat duduk
Ify. Ia pun mendekati Ify.
“Fy,
ada yang mau ketemu sama kamu….” Ify semakin heran.
“si…siapa
Kak…?”
Belum
sempat Pricilla menjawab pertanyaan Ify tiba-tiba saja Sivia datang.
“ada
yang mau ketemu sama Ify?? Siapa Kak? Siapa?” Tanya Sivia heboh. Ify langsung
menampakkan wajah bosan. Pricilla hanya tertawa kecil.
“tuh…”
jawab Pricilla sambil menunjuk kearah pintu. Sivia dan Ifypun melihat kearah
pintu. Tak lama menyembullah sosok 4 cowok tampan dari pintu. Merekalah Alvin,
Cakka, Gabriel dan Rio pastinya. Ify mengerutkan keningnya. Ada angin apa yang
tiba-tiba membuat keempat cowok-cowok tampan itu menemuinya.
“mereka
berempat yang mau ketemu sama gue? Kenapa?” Tanya Ify yang masih heran.
Pricilla semakin mendekati Ify, iapun menepuk pelan pundak Ify,
“bukan
mereka berempat Ify, tapi Cuma Rio aja….” Ify semakin heran namun ia juga tak
bisa memungkiri bahwa ia mulai salah tingkah saat Rio menatapnya tanpa
berkedip.
“ayo
Yo, jelasin ke Ify…” pinta Pricilla. Rio mendekati Ify dan berdiri tepat
dihadapan Ify. Sementara Pricilla, ia langsung mundur dan berdiri disamping
Gabriel. Tanpa sadar Sivia berdiri disamping Alvin, mereka begitu dekat. Meski
Sivia tak menyadarinya, namun Alvin sangat menyadari itu.
“Fy…
ini udah saatnya gue akhiri permainan gue…”
“maksud
Kakak…??” Tanya Ify. Rio meraih tangan Ify lantas menggenggamnya,
“Fy,
gue…. Gu…” Rio tak melanjutkan perkataannya. Gabriel yang mulai jahilpun
berkata,
“elo
yang ngomong langsung apa gue aja yang ngomong..?”
“iya
nih Yo, kelamaan lo..” timpal Cakka. Sementara Alvin, ia tidak berkomentar
apa-apa karna saat itu ia tengah asyik memandangi Sivia. Rio tak peduli. Ia
menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan,
“Fy,
gue sayang sama lo, lo mau jadi pacar gue…?” akhirnya keluar juga. Sontak saja
Ify terkejut atas pengakuan dari Rio itu. Yang Ify tau Rio berpacaran dengan
Pricilla lantas kenapa sekarang Rio malah menembaknya dihadapan Pricilla. Apa
mereka sudah putus? Tapi kenapa mendadak begini? Apa Rio hanya menjadikannya
pelampiasan saja? Fikir Ify. Ia menggeleng beberapa kali, secara perlahan
tangannya terlepas dari genggaman Rio.
“Kak,
Kakak serius…?” Ify berusaha meyakini apa yang baru saja ia dengar dari mulut
Rio. Rio mengangguk yakin dan kembali meraih tangan Ify,
“emang
aku keliatan lagi becanda ya…?” Tanya Rio dengan raut wajah serius.
“tapi
bukannya….”
Pricilla
yang memang paham arah pembicaraan Ify pun akhirnya angkat bicara.
“enggak
Fy, gue sama Rio gak pernah pacaran! Selama ini Rio Cuma ngerjain lo doang, dia
mau ngetes lo, apa lo bener-bener sayang ama dia ato gak, dan Rio ngejadiin gue
sebagai kelinci percobaannya, emang jahat gebetan lo…” terang Pricilla. Ify
menatap Rio dengan raut wajah yang sedikit marah, tapi Ify juga bisa bernafas
lega karna ternyata Rio memiliki perasaan juga padanya.
“jadi
Kak Riooo….” Rio mengangguk berkali-kali.
“maafin
Kak Rio, abisnya dimalem Prom itu lo bener-bener bikin gue cemas, gue fikir lo
gak nemuin gue…”
“tapi
Kak, waktu itu Ibu lagi sakit…”
“gue
tau dan gue minta maaf….” Ify menoleh kearah lain.
“gue
gak mau maafin lo Kak….” Seketika Rio langsung lesu.
“jadi
lo gak mau maafin gue….?”
“lo
jahat sih Kak udah ngerjain gue sampe segininya…”
“tapi
gue ngelakuin ini karna gue sayang banget sama lo… sekarang jawab pertanyaan
gue, lo mau apa gak jadi pacar gue….?” Tanya Rio sekali lagi. Ify menggeleng
ragu tapi Rio malah tersenyum. Rio sangat tau bahwa sesungguhnya Ify tak pernah
bisa menolaknya, bahkan Rio sangat tau bahwa Ify begitu menyayanginya. Tanpa
berkata apa-apa lagi, Rio langsung menarik Ify kedalam pelukannya,
“gue
anggep itu jawaban Iya Fy…”
“Kak…”
kata Ify tertahan,
“lo
juga sayang kan sama gue Fy..? jujur!” Ify mengangguk, Riopun tersenyum.
“jadi
sekarang kita pacaran??” Tanya Rio sekali lagi. Ify kembali mengangguk. Kali
ini Rio mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dipuncak kepala Ify,
“makasih
ya Fy, gue sayang sama lo…”
“gue
juga Kak….”
“CIEEEEEEE……”
teriak semuanya kompak minus Alvin yang masih saja betah menatap Sivia.
Melihat
kemesraan yang ditunjukan oleh Rio dan Ify, tanpa sadar Sivia berkata,
“kapan
ya Via bisa kaya gitu….?” Telinga Alvin ternyata mampu menangkap Perkataan
Sivia yang lumayan pelan itu . Alvin menundukan kepalanya sejenak lalu
membisikan sesuatu ditelinga Sivia,
“nanti
lo bisa kaya gitu….” Setelah membisikan kalimat singkat itu, Alvin langsung
keluar dari kelas Sivia. Sivia pun menatap Alvin yang saat itu berjalan keluar
kelasnya tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Sivia menggeleng pelan,
‘Kak
Alvin, Kak Alvin…. Kenapa juga sampe sekarang Via belom bisa ngelupain
Kakak…??’ ujar Sivia dalam hati.
^_^
“Ikatan
Logam adalah ikatan yang terdapat pada atom-atom logam dengan gaya tarik berupa
delokalisasi electron atau lautan elek…” melihat Sivia yang terlihat tak
bersemangat malam ini Alvinpun akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan
penjelasannya.
Alvin
melepaskan modul Kimia yang sedari tadi ia pegang diatas meja. Alvin menatap
Sivia dengan tatapan bertanya,
“lo
kenapa…?” Tanya Alvin dengan nada selembut mungkin.
“Via
cepek Kak, Via bosen…” jawab Sivia apa adanya. Alvin menghela nafas panjang dan
berkata,
“bentar
lagi kita udah mau semesteran, dan secara otomatis gue gak bisa lessin lo lagi
karna gue sendiri harus belajar, kalo sekarang aja lo udah bosen gimana lo mau
belajar, ayolah Vi, lo harus semangat….”
“Kak…”
rengek Sivia dengan suara sedikit manja.
“Via,
Kak Alvin yakin Via bisa, asal Via mau semangat….” Alvin menggeser posisi
duduknya hingga dekat dengan Sivia.
Alvin
menggenggam erat tangan Sivia untuk memberikannya semangat.
“Via
mau jadi anak pinter?” Tanya Alvin, Sivia mengangguk,
“Via
mau bikin Mama bangga…?” Sivia mengangguk lagi,
“Via
mau Papa gak marah-marah lagi sama Via…?” Sivia mengangguk kembali,
“Via
mau gak diremehin lagi sama Kak Irsyad…?” sekali lagi Sivia mengangguk. Tapi
kali ini anggukan Sivia langsung diteruskan oleh ucapannya yang membuat Alvin
sedikit kaget,
“dan
Via mau bikin Kak Alvin seneng…”
“Via….”
Tanpa meminta ijin pada Alvin terlebih dahulu Sivia langsung saja merebahkan
kepalanya dipundak Alvin.
“Via
baru nyadar kalo selama ini Via nyebelin banget, pantes aja Kak Alvin gondok
sama Via, maafin Via ya Kak…?” Sivia kembali menegakkan wajahnya. Kali ini
matanya dengan mata Alvin bertemu. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa
saat.
Setelah
cukup lama saling menatap tanpa bicara, Sivia melipat kedua tangannya diatas
meja lantas menumpukan wajahnya diatas kedua tangannya. Sivia memasang wajah
cemberut,
“Via
bener-bener suntuk Kak…” tiba-tiba saja Sivia merasakan Alvin menarik
peregelangan tangannya. Alvin memaksa Sivia untuk berdiri,
“ikut
Kak Alvin….!”
“mau
kemana Kak…?”
“udah,
Via ikut aja….”
^_^
Ternyata
Alvin membawa Sivia pergi kesebuah danau. Malam ini danau terlihat begitu
indah. Disekeliling danau tampak gedung-gedung besar yang terlihat bersinar
karna cahaya lampunya. Alvin dan Sivia berdiri ditepi danau sembari melihat-lihat
pemandangan sekitar.
“ini
tempat favorit Kak Alvin, kalo lagi bosen, galau, atau apalah itu, Kak Alvin
sering kesini malem-malem, pemandangan disekitar danau ini bisa bikin perasaan
Kak Alvin lebih tenang, lebih damai…” Sivia menatap Alvin,
“Kak
Alvin mencintai tempat ini…?”
“sangat
Via…” jawab Alvin singkat dan menatap sekilas wajah Sivia.
“apa
Kak Alvin pernah bawa Kak Shilla ke tempat ini…?” mendengar pertanyaan Sivia
yang satu itu Alvin langsung menggeleng.
“gak
pernah!”
“loh?
Kok?”
“Kak
Alvin sering pengin bawa Kak Shilla kesini, tapi Kak Shilla selalu aja nolak
dengan berjuta-juta alas an yang entah dari mana datangnya, dan apa Via tau…?”
kali ini Alvin membalik badannya hingga ia berhadapan dengan Sivia. Alvin
memegang kedua pundak Sivia lalu menatapnya lekat-lekat,
“Via
adalah cewek pertama yang Kak Alvin bawa ketempat ini….” Ucap Alvin dengan
sangat jelas. Sivia langsung menunduk sedalam-dalamnya.
“Via…”
panggil Alvin pelan seraya mengangkat dagu Sivia,
“Kak
Alvin….” Alvin memotong kalimatnya untuk menghela nafas sejenak. Alvin
memejamkan kedua matanya untuk beberapa
lama. Alvin menundukan kepalanya dihadapan Sivia lalu dengan keberanian penuh
Alvin berkata,
“Kak
Alvin sayang sama Via…”
Sivia
tersentak. Ia tak menyangka bahwa malam ini juga Alvin akan menyatakan
perasaannya padanya. Alvin kembali menegakkan wajahnya dan menatap mata Sivia.
Sivia mundur secara perlahan dan sedikit menjauhkan jaraknya dari posisi Alvin
sekarang. Sivia kembali melihat kearah danau.
“Via
tau, Kak Alvin ngomong gitu Cuma untuk ngehibur hati Via kan…?” secara perlahan
air mata Sivia menetes. Ia melangkah selangkah dari posisi Alvin. Alvin
menggeleng pelan.
“dulu
Kak Alvin pernah bilang, bahwa sampe kapanpun Kak Alvin gak akan pernah bisa
suka sama cewek lemot macam Via… Via selalu inget kata-kata Kak Alvin itu, dan
jujur Via sakiitt banget setiap kali Via inget kata-kata itu… dan Kak Alvin
tau, sejak Kak Alvin ngomong kaya gitu, maka sejak itu juga Via mutusin buat
gak bermimpi lagi… Kak Alvin tuh terlalu tinggi untuk Via raih, Via gak akan
bisa ngeraih Kak Alvin….”
“Via,
waktu itu Kak Alvin Cuma gak sadar sama apa yang Kak Alvin omongin…” Sivia
mengangguk dan berusaha mengerti dengan alas an Alvin. Kini Alvin berdiri tepat
dibelakang Sivia. Alvinpun mendekap erat tubuh Sivia dari belakang.
“dengerin
Kak Alvin, dulu Kak Alvin pernah bilang, bahwa Cuma cowok gak waras aja yang
suka sama Via, dan malem ini juga Kak Alvin akuin, bahwa Kak Alvin lah cowok
yang gak waras itu… Via mesti tau, Kak Alvin bener-bener sayang sama Via…” air mata Sivia yang tertahan kembali menetes
dan membasahi pipi mulusnya,
“Kak
Alvin nyeseel banget udah nyia-nyiain Via selama ini, kalo ada orang yang
paling bersalah dan paling nyesel dimuka bumi ini maka orang itu adalah Kak
Alvin…” secara perlahan Sivia memegang kedua tangan Alvin yang masih mendekap
erat tubuhnya, Sivia menghela nafas beratnya,
“sekali
lagi Kak Alvin bilang, Kak Alvin sayang sama Via…. Sayaaangg banget.. Via
satu-satunya Princess Lemot kesayangan Kak Alvin…”
“Kak…hik..”
isakan Sivia mulai terdengar pelan.
“Via,
kenapa kita gak pacaran aja…?” kata Alvin tiba-tiba. Untuk yang kesekian
kalinya Sivia terkejut. Apa Alvin benar-benar memintanya untuk jadi pacarnya?
Ataukah Sivia Cuma salah dengar?
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment