Wednesday, July 24, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 9 -You Can’t Understand-





                “Hahahaha lo cemburu?? Gue sih Cuma bisa bilang RASAIN LU!! HAHAHAHAHA….” Tawa Shilla akhirnya pecah juga ketika Alvin menceritakan kejadian distudio tadi. Melihat Shilla yang tertawa puas seperti itu dan seakan tidak ada rasa prihatinnya sama sekali Alvin hanya memberengut. Padahal kan tujuannya untuk datang kerumah Shilla supaya dia bisa sedikit lebih tenang, tapi ini? Shilla malah menertawakannya habis-habisan. Memangnya lucu apa melihat Alvin cemburu seperti ini?
            Selepas dari Studio tadi, Alvin memang langsung pergi kerumah Shilla. Maksud hati menghabiskan malam minggu romantic bersama Sivia, eeehhh… sekarang Alvin malah nyangkut dirumah Shilla.
            Alvin sengaja datang kerumah Shilla untuk curhat. Diantara semua sahabat-sahabatnya Alvin memang paling terbuka pada Shilla, ia selalu menceritakan semua masalahnya pada Shilla, dan bagusnya Shilla selalu mengerti dan memberikannya solusi. Meski sinis, tapi solusi yang Shilla berikan selalu ampuh untuk Alvin.
            “kenapa lo ketawa? Seneng gitu ngeliat gue cemburu??”
            “seneng” jawab Shilla dengan wajah tanpa dosanya. Sabar, Alvin harus sabar.
            “dan lo mau tau kenapa gue seneng?” lanjut Shilla, Alvin hanya mengangguk malas.
            “karna akhirnya sekarang lo ngerasain apa yang Sivia rasain dulu, dan menurut gue, ini masih nggak ada apa-apanya dibanding apa yang lo lakuin dulu sama Pricill, tiap hari kerjaan lo Cuma bikin anak orang galau. Jadi sekarang kalo lo cemburu, ya biasa aja keliatannya, nggak ada something wow nya” ujar Shilla seraya tetap focus dengan layar televise yang ada dihadapannya.
            Alvin diam berfikir. Benar juga apa yang Shilla katakan padanya, bahwa apa yang Alvin rasakan saat ini sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Sivia rasakan dulu. Tapi Alvin hanya ingin memperbaiki semuanya, apa dia tidak berhak diberikan satu kesempatan lagi? Alvin benar-benar mencintai Sivia, sepenuh hatinya.
            “gue Tanya deh sama lo, Vin”
            “apaan?”
            “lo bener-bener cinta sama Sivia?”
            Mendengar pertanyaan yang Shilla lemparkan kedua alis Alvin langsung bertaut. Heran. Buat apa juga Shilla menanyakan hal itu padanya? Ya jelaslah Alvin mencintai Sivia, bahkan sangat mencintainya.
            Alvin menghela nafas panjang lalu menjawab pertanyaan Shilla,
            “pertanyaan lo ngaco, ya jelaslah gue cinta sama Sivia”
            “kalo suatu saat Pricill balik lagi dan minta cinta lo, apa yang bakal lo lakuin?”
            Skak mat! Pertanyaan dari Shilla itu benar-benar tidak pernah terlintas dalam fikiran Alvin selama ini, tidak sekalipun. Mendadak tenggorokannya terasa tercekat, ia mendadak bungkam. Perlahan sebuah pertanyaanpun timbul dihati kecilnya, ‘apa Alvin masih memiliki rasa untuk Pricill?’
            Shilla tersenyum sinis. Ia bisa menangkap semuanya dengan sangat jelas dari raut wajah Alvin saat ini. Shilla mengangguk beberapa kali,
            “lo nggak bisa jawab?? Gue yang jawab ya?”
            Alvin mengangkat wajahnya lalu menatap Shilla penuh arti,
            “elo masih belom bener-bener bisa ngelupain Pricill, dan elo belom sepenuhnya mencintai Sivia”
            Alvin tersentak hebat. Benarkah seperti itu? Kali ini Shilla tertawa ringan,
            “hahaha… come on Alv! Kalo lo emang bener-bener mencintai Sivia dan udah bener-bener ngelupain Pricill, harusnya lo tau apa yang musti lo jawab tanpa perlu berfikir. Elo masih harus belajar lagi. Nggak ada yang tahu Vin apa yang akan terjadi nanti. Siapa tau aja nanti pas lo udah resmi jadian sama Sivia, Si Pricill tiba-tiba dateng, elonya dilemma, dan yang lebih parahnya, lo bakal nyakitin Sivia lagi”
            “Shill—“
            “yakinin dulu hati lo, jangan nanti sampe lo nyesel dan nyakitin Sivia lagi. Dia udah cukup lelah Vin selama ini. Elo selalu lupa kalo Sivia itu juga punya hati, dan hatinya itu nggak terbuat dari baja, suatu saat Sivia juga bakalan menyerah, menyerah dengan keadaan, dan elo nggak bisa terus-terusan kayak gini. Lo seenaknya bawa anak orang terbang, terus pas udah nyampe atas malah lo jatohin gitu aja. Sakit Vin rasanya, sakiiitttt banget—“ Shilla menghela nafas panjang lalu melanjutkan perkataannya, “Fikirin lagi deh kata-kata gue!”
            Kali ini Alvin dan Shilla sama-sama terdiam. Mereka sama-sama sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Shilla sibuk dengan layar televise yang ada dihadapannya sementara Alvin sibuk dengan fikirannya sendiri.
            Perkataan Shilla tadi benar-benar menyadarkannya bahwa semuanya tidak segampang seperti apa yang terfikirkan olehnya selama ini. Alvin terlalu sombong selama ini, menganggap semuanya gampang dan bisa ia raih dengan mudah. Alvin lupa bahwa semuanya butuh proses, butuh waktu yang mungkin panjang.
            Shilla melirik kearah Alvin lalu tersenyum sinis,
            “lo masih punya banyak waktu buat mikirin semuanya. Lo Cuma perlu ngasih Sivia waktu, kesempatan itu selalu ada kok asalkan lo mau sedikit bersabar” ujar Shilla pelan, tapi Alvin bergeming.
            Beberapa saat kemudian Alvin mengangkat wajahnya, ia berusaha menjernihkan fikirannya lantas memanggil Shilla,
            “Shill”
            “ya?” jawab Shilla pelan, perhatiannya masih terfokuskan pada layar televise.
            “nge-date yuk!”
            “WHAAATTTT??” Kaget Shilla.
            “iya nge-date” Alvin tersenyum jahil kali ini.
            “elo? Gue? Nge-date? Berdua? OGAAAHHHHH…..”
            “Dimana-mana juga yang namanya nge-date selalu berdua Shill, masa lo mau bawa satu RT??” Goda Alvin.
            “males! Nge-date aja sana sendiri”
            “sendiri mana seru??” tatapan Alvin kali ini benar-benar menggoda.
            Alvin lalu bangkit dari sofa lali berjalan perlahan menghampiri Shilla.
            “Ayolah… gue yang traktir deh”
            “nggak, nggak, nggak… sekali nggak, tetep nggak”
            Alvin enggan menghiraukan perkataan Shilla. Tanpa banyak bertanya lagi, Alvin langsung menarik lengan Gadis itu dan membawanya paksa keluar dari rumah. Kali ini Shilla pasrah, benar-benar pasrah. Yaahh… namanya juga orang galau, Shill, jadi maklumin aja.


****

            “kenapa nggak jadi pergi sama Alvin? Kenapa malah ngejer aku?” Tanya Cakka pada Sivia yang ketika itu tengah sibuk menyantap makanan pesanannya. Malam itu Cakka dan Sivia pergi makan kesebuah warung kaki lima yang merupakan tempat favorit Alvin dan Sivia –dulu- .
            “aku kan udah janji duluan sama, Kak Cakka” jawab Sivia sekenanya.
            Untuk sejenak Cakka terkesima, ternyata Gadis yang ada dihadapannya ini benar-benar sangat baik. Cakka tidak menyesal telah menjatuhkan pilihan hatinya pada Sivia, meskipun hingga saat ini Sivia masih menggantungkan perasaannya, Cakka tidak sekalipun menyesal.
            “nggak takut Alvin marah?”
            “biarin aja dia marah, aku nggak peduli. Kalo fikirannya udah dewasa pasti dia bakalan ngerti kok” jawab Sivia setenang mungkin. Cakka tersenyum kecil.
            “ehem… kamu cinta banget ya sama Alvin, Vi?” Tanya Cakka tiba-tiba. Mendengar pertanyaan Cakka, Sivia mendadak tersedak, ia batuk-batuk lalu menepuk dadanya beberapa kali. Dengan sigap Cakka memberikan segelas air putih untuk Sivia.
            “pelan-pelan, Vi” ujar Cakka.
            “uhuk…uhuk…” rasa perih didada Sivia mulai terasa sedikit berkurang setelah Cakka memberikannya segelas air putih.
            Setelah merasa keadaan cukup tenang, Cakkapun berkata,
            “nggak usah dijawab kalo emang nggak mau dijawab”
            Sivia menatap Cakka penuh makna. Jujur saja, Sivia ingin bercerita banyak pada Cakka tentang perasaannya terhadap Alvin. Sivia juga ingin sekali memberikan tanggapannya tentang bagaimana perasaan Cakka selama ini padanya. Hanya saja, Sivia takut melukai Cakka.
            “Kak, aku boleh nggak curhat sama Kak Cakka?”
            “boleh, curhat apa emang?”
            “banyak hal yang pengen aku curhatin, Kak”
            Cakka terdiam sejenak, ia berfikir lalu tidak lama kemudian mengangguk. Sivia menghela nafas panjangnya sebelum akhirnya memulai ceritanya,
            “selama ini aku diem bukan karna aku punya niat buat sengaja ngegantung perasaan Kakak, sedikitpun aku nggak pernah punya niat kayak gitu, Kak. Cuma, aku aku nggak bisa bohong sama hati kecilku, sampe sekarang aku masih sayang sama Alvin, belom bisa ngelupain Alvin, takutnya kalo aku nerima Kakak, nanti pada akhirnya aku akan sangat menyakiti hati Kak Cakka, aku nggak mau itu terjadi, Kak, nggak pernah mau” Sivia menggeleng beberapa kali.
            Meski perih itu mulai menyiksa, tapi Cakka berusaha mendengarkan Sivia, berusaha juga mempercayainya sepenuhnya. Cakka tidak ingin berprasangka buruk pada Gadis ini.
            “Kakak itu cowok yang baik, baiiikkk banget, dan Kak Cakka itu terlalu baik untuk aku sakitin hatinya. Kak Cakka pernah bilang ke aku, hiduplah dengan mengikuti arah arus, dan jangan sekalipun aku berusaha melawan arus jika tidak ingin tenggelam, dan sekarang aku sedang ngelakuin hal itu, aku tidak mau tenggelam seperti apa yang Kakak bilang”
            “kalo sekarang Kakak Tanya aku, gimana rasanya mencintai Alvin, rasanya tuh kayak naik Hysteria tau nggak Kak, awalnya dibawa naik keatas secara perlahan, tapi akhirnya dijatohin dengan tiba-tiba, dan itu sakiiitttt banget, tapi aku berusaha bersabar, berusaha bertahan dengan perasaanku, hingga beberapa tahun berlalu akhirnya kesabaranku membuahkan hasil, Alvin bisa ngebales perasaan aku meskipun aku belum seratus persen yakin dengan hatinya”
            “dan kemaren Alvin nembak aku, Kak, tapi aku bilang aku masih butuh waktu buat berfikir, dan Kakak mau tau kenapa aku bilang aku masih butuh waktu?”
            Cakka menggeleng pelan, jantungnya serasa diremas-remas. Dan Cakka baru paham bahwa akan sesakit ini rasanya ketika cinta itu bertepuk sebelah tangan.
            “karna aku masih mikirin perasaan Kakak, aku nggak mau nyakitin Kakak. Kalo bisa rasanya aku ingin pergi saja dari kehidupan kalian, pergi sejauh mungkin sampe kalian nggak bisa nemuin aku lagi, Cuma aja aku nggak bisa lepas dari Alvin, aku juga nggak bisa ninggalin Kakak dalam situasi kayak gini. Kak Cakka itu udah aku anggep kayak Kakak sendiri, aku nggak bisa ninggalin apalagi harus nyakitin hati Kak Cakka, nggak bisa” Sivia menunduk dalam, setelah mengungkapan semua uneg-unegnya selama ini, Sivia memang merasa sedikit lebih lega, tapi Sivia takut menatap kedua mata Cakka. Sivia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menatap kedua bola mata itu.
            Cakka menghela nafas beratnya. Ia berusaha membesarkan hatinya. Ya… mungkin memang sudah seharusnya seperti ini, mungkin ini sudah bagian dari rancangan yang sudah Tuhan susun untuknya, dan tidak hal lain yang bisa Cakka lakukan saat ini selain harus menerima semuanya dengan lapang dada. Mungkin berat, tapi Cakka harus bisa.
            Cakka menjatuhkan tangannya diatas tangan kanan Sivia lalu menggenggamnya erat. Ketika itu juga Sivia langsung mengangkat wajahnya dan memberanikan dirinya untuk membalas tatapan Cakka yang entah kenapa saat itu terlihat begitu teduh. Cakka tersenyum ikhlas lantas berkata,
            “mulai sekarang kamu nggak perlu lagi mikirin aku, Vi… cukup, semuanya cukup, sekarang saatnya kamu mikirin diri kamu sendiri, aku nggak apa-apa kok, dan aku bisa ngerti perasaan kamu sekarang kayak apa. Kamu nganggep aku sebagai Kakak aja itu semua udah lebih dari cukup buat aku, malahan aku makasih banget sama kamu. Tapi satu hal yang harus kamu tau, Via…” Cakka semakin dalam menatap kedua mata Sivia,
            “a..apa?” Tanya Sivia terbata,
            “kalo suatu saat nanti Alvin nyakitin kamu lagi, maka aku nggak akan segan-segan buat ngerampas kamu dari tangannya, aku juga nggak akan segan-segan buat maksa kamu mencintai aku. Aku nggak peduli sekalipun kita harus melawan arus, aku nggak peduli sekalipun kita akan tenggelam haha…” Kata Cakka setengah bergurau. Sivia tersenyum, ia tidak menyangka ternyata Cakka pandai bergurau juga. Hmm… Pria ini sekarang memang sudah banyak berubah. Sekarang tinggal bagaimana Sivia membantunya untuk bisa menerima keluarganya, hanya itu dan semuanya akan baik-baik saja.

            “Thanks Kak Cakka…” ujar Sivia.


****

            “udah bisa masak ya?” tanya Alvin dengan nada setengah meledek sambil memainkan selederi yang ada ditangannya.
            Minggu pagi ini, Alvin, Sivia, Shilla, Rio dan Ify sudah menyusun rencana untuk makan bersama dirumah Sivia. Makanya tadi pagi-pagi sekali Alvin datang kerumah Sivia untuk kemudian mengantarnya ke pasar untuk berbelanja. Sivia dengan dibantu Mbok Minah, pembantu dirumahnya, pagi ini masak dalam porsi yang lumayan banyak untuk acara mereka itu.
            Mendengar pertanyaan Alvin yang terkesan meremehkan itu, Sivia mengangkat wajahnya lalu menghentikan sejenak aktifitas memotong buncisnya. Sivia menatap Alvin dengan seringainya yang lumayan tajam, tapi yang ditatap malah terlihat santai-santai saja, tidak menunjukan reaksi yang terlalu.
            “ledek aja terus” kesal Sivia. Ia pun kembali memotong buncis yang ada dihadapannya,
            “gitu aja ngambek lo! Becanda… gue tau kok sekarang lo udah pinter masak” ucap Alvin buru-buru sebelum Sivia benar-benar marah.
            “gue juga belajar masak selama ini buat elu” ucap Sivia tanpa sadar,
            “heh??” Alvin kaget. Sivia belajar masak karna dirinya? Masa sih? Apa Alvin tidak salah dengar?
            Sivia yang baru menyadari ucapannya tadi langsung menepuk pelan keningnya dan mendadak salah tingkah.
            “lo bilang apa tadi??” Tanya Alvin memastikan,
            “nggak, nggak bilang apa-apa” Sivia mulai grogi,
            “nggak, tadi gue denger, lo kayak bilang sesuatu gitu. Kalo gue nggak salah denger tadi lo bilang kalo selama ini lo belajar masak demi gue—“ Alvin lebih mendekat kearah Sivia. Ia menatap Sivia dengan tatapan menggoda lalu tersenyum nakal, “masa sih??” Alvin menyenggol bahu Sivia, kedua alisnya sudah naik turun. Dan Sivia semakin grogi dibuatnya,
            “apaan sih? Lo salah denger tuh! Kuping lo minta dikorek” ujar Sivia keki
            “oh? Gitu ya?” Alvin menjauhkan dirinya dari posisi Sivia sekarang, ia kembali memainkan selederi yang sedari tadi ada ditangannya. Alvin pura-pura ngambek.
            “nggak usah manyun lo. Nggak pantes tau?” ledek Sivia, tapi Alvin bergeming.
            Sivia yang mulai menyadari perubahan sikap Alvin akhirnya merasa tidak enak sendiri. Ia pun kembali merutuki kebodohannya tadi, kenapa juga ia harus kelepasan segala?
            Sivia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Karna tidak tau harus berbuat apa lagi, Siviapun akhirnya membereskan pekerjaannya tadi dan segera bangkit dari meja makan.
            Sebelum melangkah ke dapur, Sivia sempat berkata pada Alvin,
            “iya, selama ini gue belajar masak buat lo! Gue juga pengen pinter masak kayak—“ Sivia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya “kayak Pricill” lanjut Sivia pada akhirnya. Selederi yang ada ditangan Alvin langsung terjatuh.
            “gue juga pengen masak sesuatu buat lo, biar lo seneng, biar lo bisa bangga sama gue kayak lo bangga sama Pricill dulu. Selama lo di Singapore, gue mati-matian belajar masak sama Mbok Minah, gue juga ngikutin kursus tata boga, nyoba resep sana sini meskipun lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya, dan itu semua gue lakuin buat lo” jujur Sivia pada akhirnya.
            Mendengarkan penuturan Sivia, Alvin merasakan dadanya bergemuruh. Ternyata selama ini, tanpa pernah ia tahu, Sivia telah melakukan banyak hal untuknya. Alvin kembali merasa terpukul, kenapa dulu ia harus menyia-nyiakan Gadis sebaik Sivia?
            Sivia pun melangkah dan memasuki dapur. Ia menyiapkan segala sesuatu yang ia perlukan saat memasak nanti. Dan ketika Sivia baru saja  menaikan baskom berisi air diatas kompor, tahu-tahu ia merasakan Alvin memeluknya dari belakang. Sivia kaget dan terpana untuk beberapa saat.
            “lo nggak perlu pinter masak kayak Pricill Cuma buat bikin gue seneng, nggak perlu, Vi.. gue mencintai lo apa adanya, dan gue sama sekali nggak nuntut lo supaya bisa kayak Pricill. Lo itu berbeda sama Pricill, dan hal itu yang bikin gue cinta sama lo”
            “Vin…”
            “tapi gue makasih banget sama lo karna lo udah rela ngelakuin semua ini buat gue” Alvin mengecup puncak kepala Sivia dengan posisi yang tetap.
            Hening untuk beberapa saat. Alvin dan Sivia sama-sama sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, Siviapun berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Alvin, tapi Alvin menahan,
            “sebentar aja, Vi” kali ini Sivia terdiam.

Beberapa saat kemudian….

            “HAYOOOOOO….. KALIAN BERDUA NGAPAIN??” Teriak Rio, Ify, dan Shilla yang tiba-tiba saja muncul didapur. Saat itu juga Alvin langsung melepaskan pelukannya dari Sivia dan sedikit menjauh dari posisi Sivia sekarang. Alvin dan Sivia sama-sama salah tingkah.
            “ceileehh, sweet-sweet.an didapur, awas lho nanti kompornya meleduk” goda Shilla.
            “apaan sih? Siapa juga yang lagi sweet-sweet.an?” ujar Sivia yang semakin salah tingkah.
            “udaaahhh…. Kalian berdua jadian aja lah, mau nunggu apa lagi emang?” timpal Rio.
            “jangan sembarangan kalo ngomong” tukas Sivia cepat. Rio Cuma bisa nyengir tanpa dosa.
            “aahh… elo Yo, sok-sok.an nyuruh Alvin sama Sivia jadian, elo kenapa nggak duluan aja nembak Ify? Ify kan udah putus sama Ray, jadi lo ada kesempatan deh” kali ini giliran Shilla yang menggoda Rio.
            “WHAAATTT?? IFY PUTUS SAMA RAY??” Kaget Sivia. Ify hanya mengangguk seraya menunduk dalam,
            “kok bisa, Fy?” lanjut Sivia,
            “ya bisalah. Ngapain juga gue mertahanin cowok brengsek kayak Ray?” jawab Ify.
            “jadi beneran kalo Ray itu—“ Sivia tidak melanjutkan perkataannya. Suasana yang tadi hangat mendadak berubah dingin ketika topic mereka beralih ke Ray. Menyadari bahwa suasana mulai berubah, Alvinpun akhirnya turun tangan,
            “udahlah, ngapain pada bahas Ray sih? Mending sekarang kita semua bantuin Via masak? Mau cepet makan nggak lo semua??”
            Semuanyapun mengangguk secara serempak, Alvin tersenyum lebar.
            “ya udah ayo, bantuin Via, GO! GO! GO!” Kata Alvin penuh semangat sambil menepuk-nepukan tangannya beberapa kali.


****

            “Iel, lo ngapain sih pake ke Indonesia segala?” ucap orang disebrang sana dengan nada sesinis mungkin. Pria yang ia panggil dengan panggilan Iel tadi hanya tersenyum sinis lantas menjawab,
            “gue kan udah bilang sama lo, gue mau cari cowok bernama Alvin itu sampe dapet, dan lo ato siapapun nggak akan bisa ngehalangin gue”
            “kenapa gue nggak bisa ngehalangin lo? Gue tunangan lo!” nadanya mulai terdengar marah.
            “oh ya? Masih dianggep tunangan juga gue? Inget ya, lo itu baru tunangan gue, bukan isteri gue, jadi lo nggak berhak buat ngatur-ngatur gue”
            “iel tapi—“
            “tapi apa? Haa? Lo takut gue berbuat macem-macem sama cowok itu? Takut lo??”
            “Iel, gue mohon sama lo, tolong balik kesini. Tempet lo disini, bukan disana”
            “nggak sebelum gue ketemu sama Alvin”
            Gabriel, ich bitte!!” (Gabriel, aku mohon)
            “gue nggak peduli. Yang gue tau sekarang Cuma satu hal, gue harus segera nyari Alvin Jonathan, karna apa? Karna Cuma dia yang bisa ngebebasin gue dari perjodohan yang nggak pernah gue inginkan ini, paham lo?? Und nicht immer versuchen, mich wieder davon abzubringen(Dan jangan pernah berusaha untuk menghentikanku lagi)
            Sebelum mendengarkan perkataan Gadis disebrang sana itu, Gabriel buru-buru mematikan sambungan telfonnya lalu membanting ponselnya begitu saja keatas tempat tidur. Dan Gabriel sama sekali tidak peduli ketika Gadis itu kembali mencoba menghubunginya beberapa kali.

            “lo fikir lo siapa? Lo nggak akan pernah bisa ngehalangin gue lagi, AGATHA PRICILLA….”


****

            Setelah menghabiskan waktu selama sekitar satu jam, akhirnya Sivia dan kawan-kawannya selesai juga memasak. Saat ini mereka berlima sudah duduk melingkar disebuah meja bundar yang sudah dipersiapkan oleh Rio dan Alvin dihalaman belakang rumah Sivia.
            Canda tawa mereka seolah menjadi backsound dari kebersamaan mereka pagi itu. Ify pun yang kemarin terlihat sangat kalut karna masalahnya dengan Ray pagi ini malah terlihat biasa-biasa. Ify hanya berusaha melupakan masalahnya, ia tidak ingin terlalu terlarut dalam masalah ini terus menerus. Sesekali Ify melirik kearah Rio, Ify tersenyum kecil, mungkin tanpa Pria itu, Ify tidak akan bisa seperti ini.
            “tunggu dulu!!” seru Rio sebelum sahabat-sahabatnya menyantap masakan Sivia. Semuanya menatap Rio dengan kedua alis bertaut.
            “yakin nih kita makan masakannya, Via? Apa setelah ini kita nggak bakalan sakit perut?” ucap Rio dengan muka sok serius. Sivia memberengut kesal. Tadinya dia fikir Cuma Alvin yang menyebalkan, tapi ternyata ada yang lebih menyebalkan lagi dari Alvin. Melihat ekspresi Sivia itu, Alvin berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak ditempat.
            Sivia melirik tak suka kearah Alvin. Beberapa saat kemudian, Sivia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan tak sabar. Lalu tanpa berfikir panjang lagi, Sivia mengambil piring yang ada dihadapan Rio.
            “ya udah, lo nggak usah ikutan makan. Nggak apa-apa kok, gue nggak rugi”
            “ciyeee… ngambek!” goda Rio sambil mencolek dagu Sivia. Sivia langsung menepis tangan Rio dari dagunya,
            “nggak usah colek-colek, lo fikir gue sabun colek apa??” kesal Sivia.
            “HAHAHAHAHAHAHA…..” Semuanyapun langsung tertawa bahkan sampai terbahak-bahak. Melihat sahabat-sahabatnya yang terlihat sangat puas telah mengerjainya, Sivia hanya bisa mengerucutkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Sivia menyesal, kenapa tadi ia tidak menaruhkan racun pada masakannya ini biar sahabat-sahabatnya ini mati semua. Fikir Sivia tega.
            Alvin terkekeh geli, ia mengangkat tangan kananya lalu mengusap puncak kepala Sivia dengan gemes.
            “PUAS KALIAN SEMUA NGETAWAIN GUE???” Teriak Sivia. Tapi semuanya tetap tertawa tanpa sedikitpun menghiraukan Sivia.
            Alvin tiba-tiba mengambil sebuah gitar yang telah ia persiapakn dibawah meja. Rio, Ify dan Shilla langsung menghentikan tawa mereka saat itu juga.
            “gue mau nyanyi buat lo, Vi…”
            “terserah” ujar Sivia masa bodoh.
            Alvin menghela nafas panjang lalu memetik gitar itu.
            “lagu ini special buat lo, Sivia….”
            Perhatian mereka semuapun tertuju pada Alvin. Alvin mulai menyanyikan sebuah lagu yang ia khususkan untuk Sivia,


“Dulu memang aku pernah salah…
Dan semuanya telah ku lakukan
Namun bukan berarti hidup dan cintaku
Tak tertuju padamu…”

            Sivia terdiam, ia berusaha mencerna baik-baik setiap bait lagu yang Alvin nyanyikan.

“Saat ini sejenak dengarkanlah sayang….
Semua itu hanya perjalanan
Tak mungkin aku akan terjatuh lagi
Dikesalahan yang sama….”

            Alvin menatap kedua mata Sivia sedalam mungkin.

“Hanya satu inginnya hatiku
Hanya satu inginnya cintaku
Terima sebagaimana adanya diriku
Dan ku akan tetap mencintaa
Kau yang buatku mengerti
Dimana harus ku kembali…
Saat ku hancur dan terhempas… Dikesalahan  yang sama….”

            Setelah menyelesaikan beberapa bait lagu itu, Alvin pun melepaskan gitarnya lalu meraih tangan Sivia dan menggenggamnya erat. Beberapa saat kemudian, Alvin mengecup punggung tangan Sivia,
            “gue nggak akan ngulang kesalahan yang sama lagi, Vi… saat ini Cuma ada lo dihati gue, dan gue berharap lo bisa yakin sama perasaan gue” kata Alvin sungguh-sungguh. Sivia bungkam, ia tidak tahu bagaimana harus membalas perkataan Alvin.
            Senyum yang sejak tadi mengembang diwajah Shilla mendadak pudar. Shilla hanya berharap semoga kali ini Alvin yakin dengan hatinya. Dan jika seandainya suatu saat nanti Pricilla kembali lagi dalam hidupnya, Alvin tidak akan goyah lagi. Diam-diam Shilla berharap, semoga Alvin akan tetap konsisten dengan pilihannya saat ini. Shilla benar-benar tidak ingin Alvin menyakiti Sivia lagi. Shilla tau bagaimana selama ini Sivia berjuang menahan sakit  yang teramat sangat karna luka yang telah Alvin toreh.

            “Via, gue berharap hari ini lo udah punya jawaban atas pertanyaan gue. Apa lo mau ngasih gue kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semuanya? Apa lo mau jadi pacar gue?”
            “gu.. gue…” Sivia mendadak bingung. Ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Kenapa Alvin harus secepat ini meminta jawabannya?
            “please jawab sekarang, Sivia. Gue udah nggak bisa nunggu lebih lama lagi” pinta Alvin dengan nada memohon.
            Ketika Sivia akan menjawab pertanyaan Alvin, tiba-tiba saja ia merasakan handphonenya bergetar. Sivia yang kaget langsung melepaskan tangannya dari genggaman Alvin lalu mengangkat telfonnya,
            “Hallo Kak Cakka” Sivia bangkit dari samping Alvin dan berjalan perlahan menjauhi sahabat-sahabatnya.
            Alvin menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Kenapa Cakka selalu saja hadir dan mengacaukan semuanya? Shilla melirik Alvin dengan cemas. Shilla bisa membaca dengan sangat jelas apa yang ada dalam fikiran Alvin saat ini.
            Beberapa saat kemudian Sivia kembali lagi, entah kenapa ia terlihat begitu tertekan.

            “Vin, Yo, Shill, Fy… gu.. gue pamit ya? Gue ada perlu sama Kak Cakka, kalian lanjutin aja acaranya, nanti kalo urusannya cepet gue pasti langsung balik dan akan nerusin acaranya, gue minta maaf yaa?” ucap Sivia penuh penyesalan. Takut-takut Sivia melirik kearah Alvin yang saat itu terlihat tengah meredam emosinya.
            “ya udah, pergi aja. Kita tunggu” kata Rio yang memang belum tahu apa-apa. Sivia mengangguk perlahan lalu berbalik dan hendak pergi.
            Alvin tahu-tahu bangkit dan mencekal pergelangan tangan Sivia,
            “kalo lo pergi sekarang tanpa ngasih jawaban apapun ke gue, gue anggep lo lebih milih Kak Cakka daripada gue…”
            Sivia semakin dilemma. Bagaimana ini? Hati kecilnya ingin segera memberikan jawaban untuk Alvin, jawaban yang Alvin inginkan tentunya, tapi entah kenapa Sivia merasa bahwa ini belum saatnya untuk ia menjawab pertanyaan Alvin. Ia masih harus berfikir lagi, kenapa Alvin tidak juga mengerti?
            Dalam satu sentakan kuat, Sivia melepaskan begitu saja pergelangan tangannya dari genggaman Alvin, semuanya tersentak kaget.
            “2 tahun gue ngasih lo waktu Vin buat bisa belajar ngertiin gue, dan gue fikir lo udah bisa ngertiin gue sepenuhnya, tapi ternyata gue salah, dari 7 tahun yang lalu hingga hari ini, lo tetep nggak bisa ngertiin gue, nggak pernah bisa. Lo emang nggak pernah berubah, Vin, nggak pernah…”
            Sivia menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tanpa Alvin tahu, saat itu juga Sivia sedang menangis. Air matanya menetes deras, sakit yang menyiksa itu kembali ia rasakan lagi. Kenapa? Kenapa Alvin selalu seperti ini? Selalu menyakitinya dengan segala keegoisannya.

            Ternyata Alvin belum bisa mengertikannya… belum bisa…


            BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment