“Hahahaha lo cemburu?? Gue sih Cuma
bisa bilang RASAIN LU!! HAHAHAHAHA….” Tawa Shilla akhirnya pecah juga ketika
Alvin menceritakan kejadian distudio tadi. Melihat Shilla yang tertawa puas
seperti itu dan seakan tidak ada rasa prihatinnya sama sekali Alvin hanya
memberengut. Padahal kan tujuannya untuk datang kerumah Shilla supaya dia bisa
sedikit lebih tenang, tapi ini? Shilla malah menertawakannya habis-habisan.
Memangnya lucu apa melihat Alvin cemburu seperti ini?
Selepas dari Studio tadi, Alvin
memang langsung pergi kerumah Shilla. Maksud hati menghabiskan malam minggu
romantic bersama Sivia, eeehhh… sekarang Alvin malah nyangkut dirumah Shilla.
Alvin sengaja datang kerumah Shilla
untuk curhat. Diantara semua sahabat-sahabatnya Alvin memang paling terbuka
pada Shilla, ia selalu menceritakan semua masalahnya pada Shilla, dan bagusnya
Shilla selalu mengerti dan memberikannya solusi. Meski sinis, tapi solusi yang
Shilla berikan selalu ampuh untuk Alvin.
“kenapa lo ketawa? Seneng gitu
ngeliat gue cemburu??”
“seneng” jawab Shilla dengan wajah
tanpa dosanya. Sabar, Alvin harus sabar.
“dan lo mau tau kenapa gue seneng?”
lanjut Shilla, Alvin hanya mengangguk malas.
“karna akhirnya sekarang lo
ngerasain apa yang Sivia rasain dulu, dan menurut gue, ini masih nggak ada
apa-apanya dibanding apa yang lo lakuin dulu sama Pricill, tiap hari kerjaan lo
Cuma bikin anak orang galau. Jadi sekarang kalo lo cemburu, ya biasa aja
keliatannya, nggak ada something wow nya” ujar Shilla seraya tetap focus dengan
layar televise yang ada dihadapannya.
Alvin diam berfikir. Benar juga apa
yang Shilla katakan padanya, bahwa apa yang Alvin rasakan saat ini sama sekali
tidak sebanding dengan apa yang Sivia rasakan dulu. Tapi Alvin hanya ingin
memperbaiki semuanya, apa dia tidak berhak diberikan satu kesempatan lagi?
Alvin benar-benar mencintai Sivia, sepenuh hatinya.
“gue Tanya deh sama lo, Vin”
“apaan?”
“lo bener-bener cinta sama Sivia?”
Mendengar pertanyaan yang Shilla
lemparkan kedua alis Alvin langsung bertaut. Heran. Buat apa juga Shilla
menanyakan hal itu padanya? Ya jelaslah Alvin mencintai Sivia, bahkan sangat
mencintainya.
Alvin menghela nafas panjang lalu
menjawab pertanyaan Shilla,
“pertanyaan lo ngaco, ya jelaslah
gue cinta sama Sivia”
“kalo suatu saat Pricill balik lagi
dan minta cinta lo, apa yang bakal lo lakuin?”
Skak mat! Pertanyaan dari Shilla itu
benar-benar tidak pernah terlintas dalam fikiran Alvin selama ini, tidak
sekalipun. Mendadak tenggorokannya terasa tercekat, ia mendadak bungkam.
Perlahan sebuah pertanyaanpun timbul dihati kecilnya, ‘apa Alvin masih memiliki
rasa untuk Pricill?’
Shilla tersenyum sinis. Ia bisa
menangkap semuanya dengan sangat jelas dari raut wajah Alvin saat ini. Shilla
mengangguk beberapa kali,
“lo nggak bisa jawab?? Gue yang
jawab ya?”
Alvin mengangkat wajahnya lalu
menatap Shilla penuh arti,
“elo masih belom bener-bener bisa
ngelupain Pricill, dan elo belom sepenuhnya mencintai Sivia”
Alvin tersentak hebat. Benarkah
seperti itu? Kali ini Shilla tertawa ringan,
“hahaha… come on Alv! Kalo lo emang
bener-bener mencintai Sivia dan udah bener-bener ngelupain Pricill, harusnya lo
tau apa yang musti lo jawab tanpa perlu berfikir. Elo masih harus belajar lagi.
Nggak ada yang tahu Vin apa yang akan terjadi nanti. Siapa tau aja nanti pas lo
udah resmi jadian sama Sivia, Si Pricill tiba-tiba dateng, elonya dilemma, dan
yang lebih parahnya, lo bakal nyakitin Sivia lagi”
“Shill—“
“yakinin dulu hati lo, jangan nanti
sampe lo nyesel dan nyakitin Sivia lagi. Dia udah cukup lelah Vin selama ini.
Elo selalu lupa kalo Sivia itu juga punya hati, dan hatinya itu nggak terbuat
dari baja, suatu saat Sivia juga bakalan menyerah, menyerah dengan keadaan, dan
elo nggak bisa terus-terusan kayak gini. Lo seenaknya bawa anak orang terbang,
terus pas udah nyampe atas malah lo jatohin gitu aja. Sakit Vin rasanya,
sakiiitttt banget—“ Shilla menghela nafas panjang lalu melanjutkan
perkataannya, “Fikirin lagi deh kata-kata gue!”
Kali ini Alvin dan Shilla sama-sama
terdiam. Mereka sama-sama sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Shilla
sibuk dengan layar televise yang ada dihadapannya sementara Alvin sibuk dengan
fikirannya sendiri.
Perkataan Shilla tadi benar-benar
menyadarkannya bahwa semuanya tidak segampang seperti apa yang terfikirkan
olehnya selama ini. Alvin terlalu sombong selama ini, menganggap semuanya
gampang dan bisa ia raih dengan mudah. Alvin lupa bahwa semuanya butuh proses,
butuh waktu yang mungkin panjang.
Shilla melirik kearah Alvin lalu
tersenyum sinis,
“lo masih punya banyak waktu buat
mikirin semuanya. Lo Cuma perlu ngasih Sivia waktu, kesempatan itu selalu ada
kok asalkan lo mau sedikit bersabar” ujar Shilla pelan, tapi Alvin bergeming.
Beberapa saat kemudian Alvin
mengangkat wajahnya, ia berusaha menjernihkan fikirannya lantas memanggil
Shilla,
“Shill”
“ya?” jawab Shilla pelan,
perhatiannya masih terfokuskan pada layar televise.
“nge-date yuk!”
“WHAAATTTT??” Kaget Shilla.
“iya nge-date” Alvin tersenyum jahil
kali ini.
“elo? Gue? Nge-date? Berdua?
OGAAAHHHHH…..”
“Dimana-mana juga yang namanya
nge-date selalu berdua Shill, masa lo mau bawa satu RT??” Goda Alvin.
“males! Nge-date aja sana sendiri”
“sendiri mana seru??” tatapan Alvin
kali ini benar-benar menggoda.
Alvin lalu bangkit dari sofa lali
berjalan perlahan menghampiri Shilla.
“Ayolah… gue yang traktir deh”
“nggak, nggak, nggak… sekali nggak,
tetep nggak”
Alvin enggan menghiraukan perkataan
Shilla. Tanpa banyak bertanya lagi, Alvin langsung menarik lengan Gadis itu dan
membawanya paksa keluar dari rumah. Kali ini Shilla pasrah, benar-benar pasrah.
Yaahh… namanya juga orang galau, Shill, jadi maklumin aja.
****
“kenapa nggak jadi pergi sama Alvin?
Kenapa malah ngejer aku?” Tanya Cakka pada Sivia yang ketika itu tengah sibuk
menyantap makanan pesanannya. Malam itu Cakka dan Sivia pergi makan kesebuah
warung kaki lima yang merupakan tempat favorit Alvin dan Sivia –dulu- .
“aku kan udah janji duluan sama, Kak
Cakka” jawab Sivia sekenanya.
Untuk sejenak Cakka terkesima,
ternyata Gadis yang ada dihadapannya ini benar-benar sangat baik. Cakka tidak
menyesal telah menjatuhkan pilihan hatinya pada Sivia, meskipun hingga saat ini
Sivia masih menggantungkan perasaannya, Cakka tidak sekalipun menyesal.
“nggak takut Alvin marah?”
“biarin aja dia marah, aku nggak
peduli. Kalo fikirannya udah dewasa pasti dia bakalan ngerti kok” jawab Sivia
setenang mungkin. Cakka tersenyum kecil.
“ehem… kamu cinta banget ya sama
Alvin, Vi?” Tanya Cakka tiba-tiba. Mendengar pertanyaan Cakka, Sivia mendadak
tersedak, ia batuk-batuk lalu menepuk dadanya beberapa kali. Dengan sigap Cakka
memberikan segelas air putih untuk Sivia.
“pelan-pelan, Vi” ujar Cakka.
“uhuk…uhuk…” rasa perih didada Sivia
mulai terasa sedikit berkurang setelah Cakka memberikannya segelas air putih.
Setelah merasa keadaan cukup tenang,
Cakkapun berkata,
“nggak usah dijawab kalo emang nggak
mau dijawab”
Sivia menatap Cakka penuh makna. Jujur
saja, Sivia ingin bercerita banyak pada Cakka tentang perasaannya terhadap
Alvin. Sivia juga ingin sekali memberikan tanggapannya tentang bagaimana
perasaan Cakka selama ini padanya. Hanya saja, Sivia takut melukai Cakka.
“Kak, aku boleh nggak curhat sama
Kak Cakka?”
“boleh, curhat apa emang?”
“banyak hal yang pengen aku curhatin,
Kak”
Cakka terdiam sejenak, ia berfikir
lalu tidak lama kemudian mengangguk. Sivia menghela nafas panjangnya sebelum
akhirnya memulai ceritanya,
“selama ini aku diem bukan karna aku
punya niat buat sengaja ngegantung perasaan Kakak, sedikitpun aku nggak pernah
punya niat kayak gitu, Kak. Cuma, aku aku nggak bisa bohong sama hati kecilku,
sampe sekarang aku masih sayang sama Alvin, belom bisa ngelupain Alvin,
takutnya kalo aku nerima Kakak, nanti pada akhirnya aku akan sangat menyakiti
hati Kak Cakka, aku nggak mau itu terjadi, Kak, nggak pernah mau” Sivia
menggeleng beberapa kali.
Meski perih itu mulai menyiksa, tapi
Cakka berusaha mendengarkan Sivia, berusaha juga mempercayainya sepenuhnya.
Cakka tidak ingin berprasangka buruk pada Gadis ini.
“Kakak itu cowok yang baik, baiiikkk
banget, dan Kak Cakka itu terlalu baik untuk aku sakitin hatinya. Kak Cakka
pernah bilang ke aku, hiduplah dengan mengikuti arah arus, dan jangan sekalipun
aku berusaha melawan arus jika tidak ingin tenggelam, dan sekarang aku sedang
ngelakuin hal itu, aku tidak mau tenggelam seperti apa yang Kakak bilang”
“kalo sekarang Kakak Tanya aku,
gimana rasanya mencintai Alvin, rasanya tuh kayak naik Hysteria tau nggak Kak,
awalnya dibawa naik keatas secara perlahan, tapi akhirnya dijatohin dengan
tiba-tiba, dan itu sakiiitttt banget, tapi aku berusaha bersabar, berusaha
bertahan dengan perasaanku, hingga beberapa tahun berlalu akhirnya kesabaranku
membuahkan hasil, Alvin bisa ngebales perasaan aku meskipun aku belum seratus
persen yakin dengan hatinya”
“dan kemaren Alvin nembak aku, Kak,
tapi aku bilang aku masih butuh waktu buat berfikir, dan Kakak mau tau kenapa
aku bilang aku masih butuh waktu?”
Cakka menggeleng pelan, jantungnya
serasa diremas-remas. Dan Cakka baru paham bahwa akan sesakit ini rasanya
ketika cinta itu bertepuk sebelah tangan.
“karna aku masih mikirin perasaan
Kakak, aku nggak mau nyakitin Kakak. Kalo bisa rasanya aku ingin pergi saja
dari kehidupan kalian, pergi sejauh mungkin sampe kalian nggak bisa nemuin aku
lagi, Cuma aja aku nggak bisa lepas dari Alvin, aku juga nggak bisa ninggalin
Kakak dalam situasi kayak gini. Kak Cakka itu udah aku anggep kayak Kakak
sendiri, aku nggak bisa ninggalin apalagi harus nyakitin hati Kak Cakka, nggak
bisa” Sivia menunduk dalam, setelah mengungkapan semua uneg-unegnya selama ini,
Sivia memang merasa sedikit lebih lega, tapi Sivia takut menatap kedua mata
Cakka. Sivia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menatap kedua bola mata
itu.
Cakka menghela nafas beratnya. Ia
berusaha membesarkan hatinya. Ya… mungkin memang sudah seharusnya seperti ini,
mungkin ini sudah bagian dari rancangan yang sudah Tuhan susun untuknya, dan
tidak hal lain yang bisa Cakka lakukan saat ini selain harus menerima semuanya
dengan lapang dada. Mungkin berat, tapi Cakka harus bisa.
Cakka menjatuhkan tangannya diatas
tangan kanan Sivia lalu menggenggamnya erat. Ketika itu juga Sivia langsung
mengangkat wajahnya dan memberanikan dirinya untuk membalas tatapan Cakka yang
entah kenapa saat itu terlihat begitu teduh. Cakka tersenyum ikhlas lantas
berkata,
“mulai sekarang kamu nggak perlu
lagi mikirin aku, Vi… cukup, semuanya cukup, sekarang saatnya kamu mikirin diri
kamu sendiri, aku nggak apa-apa kok, dan aku bisa ngerti perasaan kamu sekarang
kayak apa. Kamu nganggep aku sebagai Kakak aja itu semua udah lebih dari cukup
buat aku, malahan aku makasih banget sama kamu. Tapi satu hal yang harus kamu
tau, Via…” Cakka semakin dalam menatap kedua mata Sivia,
“a..apa?” Tanya Sivia terbata,
“kalo suatu saat nanti Alvin
nyakitin kamu lagi, maka aku nggak akan segan-segan buat ngerampas kamu dari
tangannya, aku juga nggak akan segan-segan buat maksa kamu mencintai aku. Aku
nggak peduli sekalipun kita harus melawan arus, aku nggak peduli sekalipun kita
akan tenggelam haha…” Kata Cakka setengah bergurau. Sivia tersenyum, ia tidak
menyangka ternyata Cakka pandai bergurau juga. Hmm… Pria ini sekarang memang
sudah banyak berubah. Sekarang tinggal bagaimana Sivia membantunya untuk bisa menerima
keluarganya, hanya itu dan semuanya akan baik-baik saja.
“Thanks Kak Cakka…” ujar Sivia.
****
“udah bisa masak ya?” tanya Alvin
dengan nada setengah meledek sambil memainkan selederi yang ada ditangannya.
Minggu pagi ini, Alvin, Sivia,
Shilla, Rio dan Ify sudah menyusun rencana untuk makan bersama dirumah Sivia.
Makanya tadi pagi-pagi sekali Alvin datang kerumah Sivia untuk kemudian
mengantarnya ke pasar untuk berbelanja. Sivia dengan dibantu Mbok Minah,
pembantu dirumahnya, pagi ini masak dalam porsi yang lumayan banyak untuk acara
mereka itu.
Mendengar pertanyaan Alvin yang
terkesan meremehkan itu, Sivia mengangkat wajahnya lalu menghentikan sejenak
aktifitas memotong buncisnya. Sivia menatap Alvin dengan seringainya yang
lumayan tajam, tapi yang ditatap malah terlihat santai-santai saja, tidak
menunjukan reaksi yang terlalu.
“ledek aja terus” kesal Sivia. Ia
pun kembali memotong buncis yang ada dihadapannya,
“gitu aja ngambek lo! Becanda… gue
tau kok sekarang lo udah pinter masak” ucap Alvin buru-buru sebelum Sivia
benar-benar marah.
“gue juga belajar masak selama ini
buat elu” ucap Sivia tanpa sadar,
“heh??” Alvin kaget. Sivia belajar
masak karna dirinya? Masa sih? Apa Alvin tidak salah dengar?
Sivia yang baru menyadari ucapannya
tadi langsung menepuk pelan keningnya dan mendadak salah tingkah.
“lo bilang apa tadi??” Tanya Alvin
memastikan,
“nggak, nggak bilang apa-apa” Sivia
mulai grogi,
“nggak, tadi gue denger, lo kayak
bilang sesuatu gitu. Kalo gue nggak salah denger tadi lo bilang kalo selama ini
lo belajar masak demi gue—“ Alvin lebih mendekat kearah Sivia. Ia menatap Sivia
dengan tatapan menggoda lalu tersenyum nakal, “masa sih??” Alvin menyenggol
bahu Sivia, kedua alisnya sudah naik turun. Dan Sivia semakin grogi dibuatnya,
“apaan sih? Lo salah denger tuh!
Kuping lo minta dikorek” ujar Sivia keki
“oh? Gitu ya?” Alvin menjauhkan
dirinya dari posisi Sivia sekarang, ia kembali memainkan selederi yang sedari
tadi ada ditangannya. Alvin pura-pura ngambek.
“nggak usah manyun lo. Nggak pantes
tau?” ledek Sivia, tapi Alvin bergeming.
Sivia yang mulai menyadari perubahan
sikap Alvin akhirnya merasa tidak enak sendiri. Ia pun kembali merutuki
kebodohannya tadi, kenapa juga ia harus kelepasan segala?
Sivia menggaruk bagian belakang
kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Karna tidak tau harus berbuat apa lagi,
Siviapun akhirnya membereskan pekerjaannya tadi dan segera bangkit dari meja
makan.
Sebelum melangkah ke dapur, Sivia
sempat berkata pada Alvin,
“iya, selama ini gue belajar masak
buat lo! Gue juga pengen pinter masak kayak—“ Sivia terlihat ragu melanjutkan
kalimatnya “kayak Pricill” lanjut Sivia pada akhirnya. Selederi yang ada
ditangan Alvin langsung terjatuh.
“gue juga pengen masak sesuatu buat
lo, biar lo seneng, biar lo bisa bangga sama gue kayak lo bangga sama Pricill
dulu. Selama lo di Singapore, gue mati-matian belajar masak sama Mbok Minah,
gue juga ngikutin kursus tata boga, nyoba resep sana sini meskipun lebih banyak
gagalnya daripada berhasilnya, dan itu semua gue lakuin buat lo” jujur Sivia
pada akhirnya.
Mendengarkan penuturan Sivia, Alvin
merasakan dadanya bergemuruh. Ternyata selama ini, tanpa pernah ia tahu, Sivia
telah melakukan banyak hal untuknya. Alvin kembali merasa terpukul, kenapa dulu
ia harus menyia-nyiakan Gadis sebaik Sivia?
Sivia pun melangkah dan memasuki
dapur. Ia menyiapkan segala sesuatu yang ia perlukan saat memasak nanti. Dan
ketika Sivia baru saja menaikan baskom
berisi air diatas kompor, tahu-tahu ia merasakan Alvin memeluknya dari
belakang. Sivia kaget dan terpana untuk beberapa saat.
“lo nggak perlu pinter masak kayak
Pricill Cuma buat bikin gue seneng, nggak perlu, Vi.. gue mencintai lo apa
adanya, dan gue sama sekali nggak nuntut lo supaya bisa kayak Pricill. Lo itu
berbeda sama Pricill, dan hal itu yang bikin gue cinta sama lo”
“Vin…”
“tapi gue makasih banget sama lo
karna lo udah rela ngelakuin semua ini buat gue” Alvin mengecup puncak kepala
Sivia dengan posisi yang tetap.
Hening untuk beberapa saat. Alvin
dan Sivia sama-sama sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Merasa tidak
nyaman dengan keadaan ini, Siviapun berusaha melepaskan dirinya dari pelukan
Alvin, tapi Alvin menahan,
“sebentar aja, Vi” kali ini Sivia
terdiam.
Beberapa
saat kemudian….
“HAYOOOOOO….. KALIAN BERDUA
NGAPAIN??” Teriak Rio, Ify, dan Shilla yang tiba-tiba saja muncul didapur. Saat
itu juga Alvin langsung melepaskan pelukannya dari Sivia dan sedikit menjauh
dari posisi Sivia sekarang. Alvin dan Sivia sama-sama salah tingkah.
“ceileehh, sweet-sweet.an didapur,
awas lho nanti kompornya meleduk” goda Shilla.
“apaan sih? Siapa juga yang lagi
sweet-sweet.an?” ujar Sivia yang semakin salah tingkah.
“udaaahhh…. Kalian berdua jadian aja
lah, mau nunggu apa lagi emang?” timpal Rio.
“jangan sembarangan kalo ngomong”
tukas Sivia cepat. Rio Cuma bisa nyengir tanpa dosa.
“aahh… elo Yo, sok-sok.an nyuruh
Alvin sama Sivia jadian, elo kenapa nggak duluan aja nembak Ify? Ify kan udah
putus sama Ray, jadi lo ada kesempatan deh” kali ini giliran Shilla yang
menggoda Rio.
“WHAAATTT?? IFY PUTUS SAMA RAY??”
Kaget Sivia. Ify hanya mengangguk seraya menunduk dalam,
“kok bisa, Fy?” lanjut Sivia,
“ya bisalah. Ngapain juga gue
mertahanin cowok brengsek kayak Ray?” jawab Ify.
“jadi beneran kalo Ray itu—“ Sivia
tidak melanjutkan perkataannya. Suasana yang tadi hangat mendadak berubah
dingin ketika topic mereka beralih ke Ray. Menyadari bahwa suasana mulai
berubah, Alvinpun akhirnya turun tangan,
“udahlah, ngapain pada bahas Ray
sih? Mending sekarang kita semua bantuin Via masak? Mau cepet makan nggak lo
semua??”
Semuanyapun mengangguk secara
serempak, Alvin tersenyum lebar.
“ya udah ayo, bantuin Via, GO! GO!
GO!” Kata Alvin penuh semangat sambil menepuk-nepukan tangannya beberapa kali.
****
“Iel,
lo ngapain sih pake ke Indonesia segala?” ucap orang disebrang sana dengan nada sesinis
mungkin. Pria yang ia panggil dengan panggilan Iel tadi hanya tersenyum sinis
lantas menjawab,
“gue kan udah bilang sama lo, gue
mau cari cowok bernama Alvin itu sampe dapet, dan lo ato siapapun nggak akan bisa
ngehalangin gue”
“kenapa
gue nggak bisa ngehalangin lo? Gue tunangan lo!” nadanya mulai terdengar marah.
“oh ya? Masih dianggep tunangan juga
gue? Inget ya, lo itu baru tunangan gue, bukan isteri gue, jadi lo nggak berhak
buat ngatur-ngatur gue”
“iel
tapi—“
“tapi apa? Haa? Lo takut gue berbuat
macem-macem sama cowok itu? Takut lo??”
“Iel,
gue mohon sama lo, tolong balik kesini. Tempet lo disini, bukan disana”
“nggak sebelum gue ketemu sama
Alvin”
“Gabriel, ich bitte!!” (Gabriel,
aku mohon)
“gue nggak peduli. Yang gue tau
sekarang Cuma satu hal, gue harus segera nyari Alvin Jonathan, karna apa? Karna
Cuma dia yang bisa ngebebasin gue dari perjodohan yang nggak pernah gue
inginkan ini, paham lo?? Und nicht immer versuchen, mich wieder davon
abzubringen”
(Dan jangan pernah berusaha untuk
menghentikanku lagi)
Sebelum mendengarkan perkataan Gadis
disebrang sana itu, Gabriel buru-buru mematikan sambungan telfonnya lalu
membanting ponselnya begitu saja keatas tempat tidur. Dan Gabriel sama sekali
tidak peduli ketika Gadis itu kembali mencoba menghubunginya beberapa kali.
“lo fikir lo siapa? Lo nggak akan
pernah bisa ngehalangin gue lagi, AGATHA PRICILLA….”
****
Setelah menghabiskan waktu selama
sekitar satu jam, akhirnya Sivia dan kawan-kawannya selesai juga memasak. Saat
ini mereka berlima sudah duduk melingkar disebuah meja bundar yang sudah
dipersiapkan oleh Rio dan Alvin dihalaman belakang rumah Sivia.
Canda tawa mereka seolah menjadi
backsound dari kebersamaan mereka pagi itu. Ify pun yang kemarin terlihat
sangat kalut karna masalahnya dengan Ray pagi ini malah terlihat biasa-biasa.
Ify hanya berusaha melupakan masalahnya, ia tidak ingin terlalu terlarut dalam
masalah ini terus menerus. Sesekali Ify melirik kearah Rio, Ify tersenyum
kecil, mungkin tanpa Pria itu, Ify tidak akan bisa seperti ini.
“tunggu dulu!!” seru Rio sebelum
sahabat-sahabatnya menyantap masakan Sivia. Semuanya menatap Rio dengan kedua
alis bertaut.
“yakin nih kita makan masakannya,
Via? Apa setelah ini kita nggak bakalan sakit perut?” ucap Rio dengan muka sok
serius. Sivia memberengut kesal. Tadinya dia fikir Cuma Alvin yang menyebalkan,
tapi ternyata ada yang lebih menyebalkan lagi dari Alvin. Melihat ekspresi
Sivia itu, Alvin berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak ditempat.
Sivia melirik tak suka kearah Alvin.
Beberapa saat kemudian, Sivia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya
dengan tak sabar. Lalu tanpa berfikir panjang lagi, Sivia mengambil piring yang
ada dihadapan Rio.
“ya udah, lo nggak usah ikutan makan.
Nggak apa-apa kok, gue nggak rugi”
“ciyeee… ngambek!” goda Rio sambil
mencolek dagu Sivia. Sivia langsung menepis tangan Rio dari dagunya,
“nggak usah colek-colek, lo fikir
gue sabun colek apa??” kesal Sivia.
“HAHAHAHAHAHAHA…..” Semuanyapun
langsung tertawa bahkan sampai terbahak-bahak. Melihat sahabat-sahabatnya yang
terlihat sangat puas telah mengerjainya, Sivia hanya bisa mengerucutkan
bibirnya seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Sivia menyesal, kenapa
tadi ia tidak menaruhkan racun pada masakannya ini biar sahabat-sahabatnya ini
mati semua. Fikir Sivia tega.
Alvin terkekeh geli, ia mengangkat
tangan kananya lalu mengusap puncak kepala Sivia dengan gemes.
“PUAS KALIAN SEMUA NGETAWAIN GUE???”
Teriak Sivia. Tapi semuanya tetap tertawa tanpa sedikitpun menghiraukan Sivia.
Alvin tiba-tiba mengambil sebuah
gitar yang telah ia persiapakn dibawah meja. Rio, Ify dan Shilla langsung
menghentikan tawa mereka saat itu juga.
“gue mau nyanyi buat lo, Vi…”
“terserah” ujar Sivia masa bodoh.
Alvin menghela nafas panjang lalu
memetik gitar itu.
“lagu ini special buat lo, Sivia….”
Perhatian mereka semuapun tertuju
pada Alvin. Alvin mulai menyanyikan sebuah lagu yang ia khususkan untuk Sivia,
“Dulu
memang aku pernah salah…
Dan
semuanya telah ku lakukan
Namun
bukan berarti hidup dan cintaku
Tak
tertuju padamu…”
Sivia terdiam, ia berusaha mencerna
baik-baik setiap bait lagu yang Alvin nyanyikan.
“Saat
ini sejenak dengarkanlah sayang….
Semua
itu hanya perjalanan
Tak
mungkin aku akan terjatuh lagi
Dikesalahan
yang sama….”
Alvin menatap kedua mata Sivia
sedalam mungkin.
“Hanya
satu inginnya hatiku
Hanya
satu inginnya cintaku
Terima
sebagaimana adanya diriku
Dan
ku akan tetap mencintaa
Kau
yang buatku mengerti
Dimana
harus ku kembali…
Saat
ku hancur dan terhempas… Dikesalahan
yang sama….”
Setelah menyelesaikan beberapa bait
lagu itu, Alvin pun melepaskan gitarnya lalu meraih tangan Sivia dan
menggenggamnya erat. Beberapa saat kemudian, Alvin mengecup punggung tangan
Sivia,
“gue nggak akan ngulang kesalahan
yang sama lagi, Vi… saat ini Cuma ada lo dihati gue, dan gue berharap lo bisa
yakin sama perasaan gue” kata Alvin sungguh-sungguh. Sivia bungkam, ia tidak
tahu bagaimana harus membalas perkataan Alvin.
Senyum yang sejak tadi mengembang
diwajah Shilla mendadak pudar. Shilla hanya berharap semoga kali ini Alvin
yakin dengan hatinya. Dan jika seandainya suatu saat nanti Pricilla kembali
lagi dalam hidupnya, Alvin tidak akan goyah lagi. Diam-diam Shilla berharap,
semoga Alvin akan tetap konsisten dengan pilihannya saat ini. Shilla
benar-benar tidak ingin Alvin menyakiti Sivia lagi. Shilla tau bagaimana selama
ini Sivia berjuang menahan sakit yang
teramat sangat karna luka yang telah Alvin toreh.
“Via, gue berharap hari ini lo udah
punya jawaban atas pertanyaan gue. Apa lo mau ngasih gue kesempatan satu kali lagi
untuk memperbaiki semuanya? Apa lo mau jadi pacar gue?”
“gu.. gue…” Sivia mendadak bingung.
Ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Kenapa Alvin harus
secepat ini meminta jawabannya?
“please jawab sekarang, Sivia. Gue
udah nggak bisa nunggu lebih lama lagi” pinta Alvin dengan nada memohon.
Ketika Sivia akan menjawab
pertanyaan Alvin, tiba-tiba saja ia merasakan handphonenya bergetar. Sivia yang
kaget langsung melepaskan tangannya dari genggaman Alvin lalu mengangkat
telfonnya,
“Hallo Kak Cakka” Sivia bangkit dari
samping Alvin dan berjalan perlahan menjauhi sahabat-sahabatnya.
Alvin menggenggam kuat-kuat jemari
tangannya. Kenapa Cakka selalu saja hadir dan mengacaukan semuanya? Shilla
melirik Alvin dengan cemas. Shilla bisa membaca dengan sangat jelas apa yang
ada dalam fikiran Alvin saat ini.
Beberapa saat kemudian Sivia kembali
lagi, entah kenapa ia terlihat begitu tertekan.
“Vin, Yo, Shill, Fy… gu.. gue pamit
ya? Gue ada perlu sama Kak Cakka, kalian lanjutin aja acaranya, nanti kalo
urusannya cepet gue pasti langsung balik dan akan nerusin acaranya, gue minta
maaf yaa?” ucap Sivia penuh penyesalan. Takut-takut Sivia melirik kearah Alvin
yang saat itu terlihat tengah meredam emosinya.
“ya udah, pergi aja. Kita tunggu”
kata Rio yang memang belum tahu apa-apa. Sivia mengangguk perlahan lalu
berbalik dan hendak pergi.
Alvin tahu-tahu bangkit dan mencekal
pergelangan tangan Sivia,
“kalo lo pergi sekarang tanpa ngasih
jawaban apapun ke gue, gue anggep lo lebih milih Kak Cakka daripada gue…”
Sivia semakin dilemma. Bagaimana
ini? Hati kecilnya ingin segera memberikan jawaban untuk Alvin, jawaban yang
Alvin inginkan tentunya, tapi entah kenapa Sivia merasa bahwa ini belum saatnya
untuk ia menjawab pertanyaan Alvin. Ia masih harus berfikir lagi, kenapa Alvin
tidak juga mengerti?
Dalam satu sentakan kuat, Sivia
melepaskan begitu saja pergelangan tangannya dari genggaman Alvin, semuanya
tersentak kaget.
“2 tahun gue ngasih lo waktu Vin
buat bisa belajar ngertiin gue, dan gue fikir lo udah bisa ngertiin gue
sepenuhnya, tapi ternyata gue salah, dari 7 tahun yang lalu hingga hari ini, lo
tetep nggak bisa ngertiin gue, nggak pernah bisa. Lo emang nggak pernah
berubah, Vin, nggak pernah…”
Sivia menggelengkan kepalanya lalu
melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tanpa Alvin tahu, saat itu juga
Sivia sedang menangis. Air matanya menetes deras, sakit yang menyiksa itu
kembali ia rasakan lagi. Kenapa? Kenapa Alvin selalu seperti ini? Selalu
menyakitinya dengan segala keegoisannya.
Ternyata Alvin belum bisa
mengertikannya… belum bisa…
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment