Tuesday, July 16, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 4 -Cakka, You're Not Alone-





                “Kamu nanti kuliah mau ngelanjutin dimana, Kka? Disini aja atau diluar Negri?” Tanya Pak Duta pada Cakka saat mereka tengah makan malam bersama. Selain Pak Duta dan Cakka, disana juga ada Ibu Uchie juga Alvin.
            Mendengarkan pertanyaan Papi, mereka semua menghentikan sejenak aktifitas makan mereka dan melihat kearah Cakka.
            “belom tau” jawab Cakka dingin.
            “kalo saran Mami sih, mending kamu Kuliah diluar aja, Kka, kamu ambil bisnis biar nanti kamu bisa ngegantiin Papi jadi pimpinan Perusahaan” kata Bu Uchie.
            Cakka melirik sejenak kearah Mami tirinya itu. Seperti biasa, tatapan Cakka begitu kosong dan dingin. Sejak pertama kali Papi membawa Cakka kerumah ini, Cakka memang selalu begitu. Tidak pernah sekalipun ia mencoba berdamai dengan kenyataan yang sekarang ia hadapi. Cakka benci semua yang ada dirumah ini, Cakka benci dengan semua kemewahan yang ia terima sementara Ibu kandungnya? Sudahlah, Cakka tidak ingin lagi mengingat semua hal menyangkut Ibu Kandungnya. Mengingat semua itu berarti membuka kembali luka lama Cakka yang hingga saat ini belum mengering.
            Cakka menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan tak sabar. Cakka melepaskan begitu saja sendok dan garpunya. Nafsu makannya sudah hilang saat ini juga.
            “aku udah kenyang” Cakka bangkit dari meja makan lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
            “sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian akhir, Kka. Papi mau kamu persiapkan semuanya dengan matang. Kalo kamu nggak bisa nentuin dimana kamu ngelanjutin kuliah, maka Papi yang akan nentuin semuanya, dan kamu nggak akan bisa nolak”
            Cakka menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa menoleh kebelakang Cakka berkata,
            “lakuin aja apa yang mau Papi lakuin! Toh juga selama ini aku hidup dibawah kendali Papi. Dirumah ini aku Cuma robot kan?” Cakka kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Cakka sudah muak, benar-benar muak.
            Alvin yang melihat kelakuan tidak menyenangkan yang ditunjukan oleh Cakka pada kedua orang tuanya merasa tidak terima. Ia menggenggam kuat jemari tangannya dengan emosi penuh. Selama ini Alvin sudah cukup bersabar dalam menghadapi kebekuan Kakaknya itu. Kali ini Alvin tidak akan tinggal diam lagi. Alvin harus melakukan sesuatu.


***

            “Vi, gue cariin pacar ya buat lo?” ujar Shilla pelan. Sivia yang saat itu tengah asyik membaca sebuah majalah sontak saja terkejut ketika mendengarkan ucapan Shilla barusan. Tapi itu tidak lama, karna beberapa saat setelahnya, Sivia kembali mencoba bersikap normal.
            Sivia terkekeh geli cendrung mencibir,
            “hehe… lo mau nyariin gue pacar? Kenapa lo nggak cari sendiri aja? Lo kan juga masih betah sama status Jomblo lo itu. Contoh Ify tuh, walopun udah punya pacar dia mana pernah ngomong kayak gitu ke gue” kata Sivia sembari focus dengan majalah yang ada dihadapannya.
            Malam itu Shilla menginap dirumah Sivia. Shilla sengaja melakukan itu untuk melakukan pembuktian apakah Sivia memang masih ada rasa pada Alvin atau tidak dengan cara memancingnya untuk curhat. Dan pertanyaan tadi itu Shilla lontarkan hanya untuk menguji Sivia saja. Tidak lebih.
            “yaahh.. kalopun sampe saat ini gue masih Jomblo juga karna gue belom nemuin yang pas aja. Nggak tau kalo lo”
            “OYA…?”
            “Kenapa sih, Vi lo nggak pernah nyoba buat nyari pacar? Belom bisa move on ya dari Alvin?”
            Hening sejenak. Beberapa saat kemudian….
            PLAAKKK…. Sebuah Majalah mendarat dengan mulus tepat didepan wajah Shilla. Bukannya merasa bersalah pada Sahabatnya itu, Shilla malah nyengir tanpa dosa lantas berkata,
            “Hehehe, Sivia bisa kan laen kali kalo lo mau mukul gue pake bantal aja? Jangan pake majalah. Sakit tau?”
            “emang gue fikirin? Makanya sebelum nanya itu lo fikir-fikir dulu, proses diotak jangan langsung dikeluarin lewat mulut lo!”
            “yaahhh… gue kan Cuma nanya! Kalo emang udah move on, lo bilang aja dengan tegas lo udah move on dari Alvin, yaaahhh… kecuali ada sesuatu yang memang lo sembunyiin dari gue dan dari yang lainnya…”
            “maksud lo?” Sivia melirik tajam kearah Shilla. Dalam hati Sivia sudah merasa was-was, bagaimana kalau Shilla tau perasaannya yang sesungguhnya pada Alvin? Dan lebih parahnya lagi, bagaimana kalau Shilla malah ember sama Alvin?
            Shilla mengangkat kedua bahunya seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan gerakan pelan. saat itu juga Sivia langsung manyun. Shilla sialan! Rutuknya dalam hati.
            Sivia dan Shilla kembali focus dengan kesibukan mereka masing-masing yang sebenarnya tidak penting. Shilla sibuk dengan gadget nya, sementara Sivia sibuk dengan majalah yang tadi ia baca.
            “eh, Via! Omong-omong malem itu lo ngobrol apa aja sama Alvin?” goda Shilla.
            “SHILLAMPIIIRRRRRRRRRR…..!!!!” Teriak Sivia tepat didepan telinga Shilla hingga membuat Gadis berwajah cantik itu menutup kedua telinganya dengan mata terpejam. Apa Sivia nggak sadar kalau suaranya itu cempreng banget?


***

            “Kak Cakka, gue minta ubah sikap lo sama Mami dan Papi, karna gue nggak suka sama sikap lo yang nggak sopan itu” ucap Alvin tegas. Cakka langsung berbalik dan menghadap kearah Alvin. Mereka berdua kini berdiri berhadapan diatas balkon.
            “kenapa gue harus ubah sikap gue?” Tanya Cakka dingin,
            “karna mereka berdua orang tua kita, dan lo nggak pantes bersikap seperti itu sama mereka”
            “orang tua lo bilang? Mereka bukan orang tua gue” ucap Cakka tak sabar.
            “Oke, mungkin Mami bukan Ibu kandung lo, tapi Papi? Dia Ayah kandung lo, Kak, dia yang selama ini udah berkorban banyak buat lo, buat hidup lo?”
            “Ayah kandung lo bilang? Dulu dia kemana aja? Dia kemana aja waktu gue dan Mama gue hidup miskin? Dia kemana aja waktu Mama gue sakit hingga mati? Dia nggak pernah ada buat gue, nggak pernah sekalipun! Lo nggak pernah tau gimana rasanya jadi gue Alvin! Ditinggal pergi sama Ayah kandung sendiri waktu gue baru lahir, dibiarin hidup terlantar seperti gembel, itu yang lo bilang Ayah kandung? Lo juga nggak tau kan gimana rasanya kehilangan seorang Ibu karna kesalahan yang disebabin oleh seorang Makhluk yang lo sebut AYAH KANDUNG? Lo nggak tau rasanya, Alvin. LO NGGAK TAU!!!”
            Perasaan Alvin seakan teriris  ketika mendengarkan ucapan Cakka. Alvin memang tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi Cakka, tapi sungguh, Alvin bisa dengan sangat jelas merasakan kesakitan yang Cakka rasakan. Hal itulah yang membuat Alvin terus bertahan menghadapi kedinginan Cakka selama ini. Jika bukan karna hal itu, mungkin sudah sejak lama Alvin menendang Cakka keluar dari rumahnya. Dan sekalipun Cakka tidak pernah tahu, bahwa Alvin begitu menyayanginya. Cakka juga tidak pernah tahu, bahwa ketika Alvin pertama kali melihatnya, Alvin seperti melihat seorang Malaikat.
            Dan Cakka bahkan semuanya tidak pernah tahu, bahwa 2 tahun yang lalu, Alvin telah mengorbankan perasaannya demi Cakka. Demi seorang Kakak yang sekalipun tidak pernah menganggapnya Adik.

            “Please, kasi Papi kesempatan buat menebus semua kesalahannya sama lo. Cuma satu hal yang bisa lo lakuin saat ini, Kak. Berdamailah dengan kenyataan, Cuma itu…” itulah perkataan terakhir Alvin sebelum akhirnya ia memutuskan pergi meninggalkan Cakka dengan segala luka dan kesakitannya.

            Seandainya Cakka memberikan Alvin sedikit saja kesempatan untuk melakukan sesuatu padanya. Alvin ingin melakukan sesuatu untuk mencairkan kebekuan Cakka selama ini. Alvin hanya ingin melakukan sesuatu, tapi Cakka seakan tidak memberikannya kesempatan sedikitpun, tidak sedikitpun.

***

            Pagi ini Alvin menjemput Sivia kerumahnya. Awalnya Sivia agak heran ketika melihat Alvin yang saat itu sudah bertengger didepan rumahnya bersama Mobilnya, tapi Alvin buru-buru menghampiri Sivia dan membawanya setengah paksa masuk kedalam mobil tanpa memberikannya kesempatan untuk bertanya. Sivia agak kesal, tapi mau bagaimana lagi? Si Alvin ini memang sangat menyebalkan bukan?
            “lo nggak berangkat bareng Pricill?” Tanya Sivia ragu-ragu.
            “nggak, untuk 2 hari ini gue sengaja ngehindarin dia”
            Kedua alis Sivia langsung bertemu ketika mendengarkan ucapan Alvin barusan,
            “kok? Lo ada masalah lagi sama dia?” kali ini Alvin menggeleng,
            “gue adem-adem aja kok sama dia. Cuma gue sengaja aja ngehindarin dia, gue mau jaga perasaan seseorang” Alvin melirik sejenak kearah Sivia.
            Sivia yang kaget langsung menatap Alvin tajam. Beberapa detik kemudian Alvin terkekeh, tangannya terangkat lalu bergerak perlahan mengacak poni Sivia yang menggemaskan itu,
            “hahaha… becanda! Serius amat mukanya Neng?” goda Alvin lalu kembali menjauhkan tangannya dari dahi Sivia. Sivia melipat kedua tangannya didada lalu membuang mukanya kearah luar jendela. Alvin hanya tidak tahu saja bahwa ucapannya barusan sukses membuat jantung Sivia melompat hingga nyaris keluar dari tempatnya.
            “2 hari lagi kan anniversary gue sama dia, jadi gue sengaja ngehindarin dia dulu biar gue bisa focus nyiepin surprise buat dia, emmm…. Dan gue butuh bantuan lo!” Alvin menatap Sivia yang duduk disisinya penuh harap.
            Lalu tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun, Sivia mengangguk lesu. Sepertinya Pria ini memang tidak pernah mengerti, tidak pernah juga ingin mengerti. Andai saja Sivia bisa mengenyahkan semua perasaannya pada Alvin, andai saja Sivia bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan hatinya agar tidak terus sakit dan terluka seperti ini, ah… andai saja…
            10 menit kemudian tibalah Alvin dan Sivia disekolah. Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri areal Parkir yang cukup luas itu. Baru saja mereka keluar dari areal Parkir, seseorang memanggil Alvin,
            “Sayang….” Alvin dan Sivia sama-sama menoleh kebelakang. Mereka mendapati Pricilla yang saat itu berlari kecil menghampiri mereka. Sivia membuang nafas pendek tapi berusaha bersikap wajar didepan Pricilla supaya tidak kena protes Alvin lagi seperti waktu itu.
            Alvin tersenyum manis ketika Pricilla sudah berdiri diantara mereka,
            “Hey sayang…” Alvin mendekati Pricilla lalu merangkul pundak Gadis itu,
            “aku bawa sesuatu buat kamu, Vin”
            “apa?”
            Pricilla membuka tasnya lalu mengambil sebuah kotak bekal berwarna pink dan bergambar hello kitty untuk Alvin,
            “aduuhhh manisnya…” komentar Alvin dengan nada yang sengaja dimanis-maniskan ketika melihat kotak bekal pink bergambar Hello Kitty itu.
            Melihat itu, Sivia benar-benar ingin tertawa, tapi Sivia harus tahan jika tidak mau kena amukan Alvin.
            “nih aku bawa sandwich buat kamu!”
            “ooo… sandwich? Makasih ya sayang? Kamu emang perhatian sama aku, love you Sayang…” jika tadi Sivia ingin tertawa mendengarkan ucapan Alvin, kali ini Sivia malah ingin muntah. Dasar gombal! Rutuk Sivia dalam hati.
            Alvin sadar betul bahwa saat ini Sivia tengah menertawakannya dalam hati. Hh… awas saja, Alvin akan membalasnya.
            “ini kamu yang bikin sendiri sandwichnya?” Tanya Alvin dengan nada meninggi. Alvin sengaja menanyakan hal itu karna Alvin tahu bahwa Sivia sama sekali tidak bisa membuat Sandwich seperti Pricilla.
            “iya dong. Aku bikinnya special buat kamu…”
            Sivia langsung manyun dengan kedua tangan terlipat didepan dada. Ternyata Alvin sukses membalas dendamnya pada Gadis itu. Alvin melirik kearah Sivia, beberapa saat kemudian tawanya langsung pecah bahkan sampai terbahak-bahak,
            “HAHAHAHAHAHAHAHAHA….”
            “Sayang, kamu kok ketawa sih?” Tanya Pricilla heran,
            “Hahahahaha… nggak apa-apa sayang…”
            Sivia yang sadar bahwa Alvin sedang menertawakannya langsung mendekati Alvin. Sivia menghela nafas beberapa kali dengan raut wajah yang sudah benar-benar kesal tak tertahankan lagi. Alvin terus tertawa, sementara Pricilla, ia masih tetap bertahan dengan keherananya.
            Satu… Dua… Tiga…

            “AAWWWW” Ringis Alvin kesakitan saat Sivia menginjak kakinya.
            “Rasain lo!!” ujar Sivia keki lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin dan Pricilla.


***

            Jam Pelajaran pertama untuk kelas X.1 adalah Seni Musik. Seluruh siswa siswi penghuni kelas X.1 Berjalan dibelakang Bu Winda yang bertindak sebagai Guru Musik mereka. Ketika melewati kelas XII IPA 2, Sivia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia baru ingat bahwa sejak pagi tadi Sivia tidak pernah melihat Cakka.
            Sivia melihat lebih jauh lagi kedalam kelas XII IPA 2, ternyata bangku yang Cakka duduki kosong. Apa mungkin Cakka tidak masuk sekolah hari ini? Tiba-tiba Sivia cemas. Tanpa sadar Sivia sudah ketinggalan jauh dari kawan-kawannya.
            “Kak Cakka kemana, ya?” gumam Sivia pelan
            Sivia tiba-tiba kaget ketika ada seseorang yang merangkul pundaknya. Sivia yang terkejut buru-buru menoleh kesamping,
            “ALPIINNN!!” Pekik Sivia, “iihhh… lo itu ngagetin gue banget sih, Vin….?? Jantung gue nyaris copot tau gara-gara lo” lanjut Sivia.
            “haha… sorry sorry, lo lagian ngapain sih pake ngelamun didepan kelas 12? Mau dikeroyok lo sama Kakak Kelas?”
            “ya nggak lah”
            “terus ngapain lo disini?”
            “nyariin Kak Cakka” jawab Sivia sekenanya.
            Mendengar Sivia membawa-bawa nama Cakka, tiba-tiba saja Alvin terdiam, ia baru ingat bahwa semalam ia sudah bertengkar dengan Cakka, dan sejak semalam juga Cakka tidak pernah lagi keluar dari dalam kamarnya. Sebenarnya Alvin cemas dengan kondisi Cakka, tapi mau bagaimana lagi, Cakka pasti menolak untuk ditemui, apalagi oleh Alvin.
            “Kak Cakka nggak masuk!” kata Alvin dingin lalu berjalan menyusul kawan-kawannya yang lain.
            “kenapa Kak Cakka nggak masuk? Sakit?” Tanya Sivia seraya melangkah mengikuti Alvin,
            “tau deh” jawab Alvin cuek sambil tetap berjalan cuek.
            “Alpiinnnn…. Jalannya pelan-pelan dooongggg….” Rengek Sivia. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menyejajari langkahnya dengan langkah Alvin.


***

            “Nah sekarang Ibu Minta kepada Sivia Azizah yang menjabat sebagai ketua Ekskul Musik untuk maju kedepan dan menyanyikan sebuah lagu untuk kita semua…” kata Bu Winda ketika pelajaran Seni Musik baru dimulai.
            “sa… saya Bu?” Sivia menunjuk dirinya sendiri,
            “iya, kamu! Ibu dengar-dengar dari beberapa kawan-kawan kamu, katanya kamu jago Nyanyi makanya sampe bisa jadi Ketua Ekskul music Padahal masih kelas 10”
            “kalo nyanyi sih semua orang bisa kali, Bu…”
            “semua orang emang bisa nyanyi, tapi nggak semua orang jago nanyai, Sivia Azizah. Ayo maju, Ibu mau denger suara kamu”
            “Udah sono majuuuuu!! Pake ngelak segala lagi lo!” ujar Alvin yang duduk tepat dibelakang Sivia.
            Sivia berdehem lalu bangkit dari kursinya. Dengan setengah hati Sivia melangkah kedepan. Ia meraih sebuah gitar lalu duduk disebuah bangku. Sivia sedang bersiap-siap untuk kemudian bernyanyi.
            Alvin tahu-tahu berdiri lalu berkata pada seisi ruangan,
            “Kita sambut ini dia, SIVIA AZIZAAAHHHH….” Teriak Alvin layaknya seorang MC disebuah hajatan-hajatan besar nan bergengsi. Semuanya pun memberikan tepuk tangan yang lumayan meriah untuk Sivia. Sivia melirik sengit kearah Alvin.
            Sivia berdehem pelan, memetik gitarnya lalu mulai menyanyikan sebuah lagu yang diam-diam ia tunjukan khusus untuk Alvin. Semuanya diam, menyimak bait demi bait lagu yang Sivia nyanyikan dengan sepenuh hati;

“Entah harus berapa lama lagi
Rasa ini kupendam sendiri
Rasa cintaku… pada dirimu….

Entah harus berapa lagu lagi
Yang kutulis agar kau mengerti
Rasa cinta dihati ini… yang tumbuh hanya untuk dirimu…

Kau jauh… Mengapa terasa begitu jauh…
Padahal kau ada didepanku
Tersenyum kepadaku….
Tapi tetap terasa…

JAUH….”

            Alvin yang sejak terdiam merenung mendengarkan lagu yang Sivia nyanyikan tiba-tiba saja terkesiap saat Shilla yang duduk disampingnya mendekat kearahnya lalu membisikkan sesuatu,

            “Buat lo banget ini, Vin…”
            “Ck..” Alvin berdecak pelan, lalu kembali menyimak setiap bait demi bait lagu yang Sivia nyanyikan.
            Kelaman Alvin mulai sedikit peka, bahwa Sivia memang menyanyikan lagu itu untuknya. Hanya untuknya….

“Setiap kali ku tatap dirimu
Kau buatku sadar akan sesuatu
Kalau bayang diri ini Tak pernah ada dikedua matamu…
 Ooo… uwo… hu woooo….

Kau jauh… Mengapa terasa begitu jauh…
Padahal kau ada didepanku
Tersenyum kepadaku….
Tapi tetap terasa…

JAUUUHH…. Hu wo.. uo uo..
Ku mencoba… selalu mencoba…
Tapi semuanya sia-sia…

Kau… terasa begitu jauh…
Padahal kau ada didepanku…
Tersenyum kepadaku…
Tapi tetap terasa…. Hu woooo….

JAUHHHH……”

            Semuanyapun langsung memberikan tangan yang sangat meriah ketika Sivia telah menyelesaikan lagu itu. Rio dan Ify sama-sama berteriak heboh layaknya orang kesetanan. Menanggapi reaksi Ify dan Rio, Sivia langsung bergumam pelan, “LEBAY….”
            Arah mata Sivia tiba-tiba saja tertuju pada Alvin yang ketika itu tengah menatapnya lekat-lekat. Sivia heran dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa Alvin menatapnya seperti itu? Selama ini Alvin mana pernah menatapnya sampai seperti itu. Sivia bingung benar-benar bingung.
            “Ciyeeee… Ibu Sivia nyanyinya dalem banget, Bu? Nyanyi buat seseorang ya?” godaan dari Shilla itu sukses membuat kedua pipi Sivia menjadi merah merona. Sivia ingin mengelak, tapi mendadak lidahnya kelu. Tatapan Alvin yang semakin intens benar-benar membuat Sivia mati dalam bergerak.
            “kalo kita nyanyi bener-bener dari hati pasti akan seperti tadi hasilnya. Percaya deh…” tambah Bu Winda yang semakin membuat semuanya heboh. “Via, kamu pasti nyanyiin lagu tadi buat seseorang, ya?” lanjut Bu Winda seraya menatap Gadis yang masih diam mematung itu,
            “Bu… bukan Bu…” Sivia mendadak gagap.
            “terus?”
            “emmm… ya… kebetulan aja aku suka sama lagu itu…” elak Sivia buru-buru sebelum teman-teman sekelasnya makin menjadi-jadi karna kegilaan mereka.
            Matanya kembali mengarah pada Alvin. Sivia sedikit bernafas lega karna Pria itu tidak lagi menatapnya. Alvin menatap hampa keluar jendela, pandangannya seakan menerawang jauh. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini, Sivia ingin menyelaminya….


***

            Tanpa berbicara apa-apa terlebih dahulu pada Sang Empunya Mobil, Sivia langsung saja nyelonong memasuki mobil Alvin dengan tidak tahu malunya. Alvin terpaku, ada apa dengan Sivia?
            “gue ikut pulang kerumah lo. Gue mau nemuin Kak Cakka, entah kenapa gue ngerasa cemas sama keadaan Kak Cakka…” jelas Sivia yang memang sudah mengerti dengan apa yang ada dalam fikiran Alvin.
            Alvin mendesah pelan lalu memasuki mobilnya… Tidak ada salahnya juga Alvin membawa Sivia kerumahnya, toh selama ini Cuma Sivia yang paling dekat dengan Cakka. Siapa tau juga nanti Sivia bisa mengajak Cakka berbicara.
            “ehem… gue liat-liat kayaknya lo nikmatin banget suara merdu gue pas gue nyanyi tadi…” ujar Sivia berusaha memecah keheningan didalam perjalanan yang lumayan panjang itu.
            Alvin terkesiap dan langsung tertarik dari lamunannya,
            “kepedean lu!”
            “tapi bener kan?” Sivia mengangkat kedua alisnya beberapa kali. Alvin menghela nafas lalu berdecak kesal,
            “Ck… suka suka lo deh…” kata Alvin yang tidak mau ambil pusing lagi dengan perkataan Sivia.


***

            Alvin dan Sivia berdampingan didepan kamar Cakka. Setelah cukup lama sama-sama terdiam Alvin akhirnya buka suara,
            “semalem gue berantem sama Kak Cakka, sejak itu Kak Cakka nggak mau keluar kamar. Sekarang coba deh lo temuin dia, ajak ngobrol siapa tau aja dia mau ngobrol sama lo”
            “Oke bakalan gue coba” kata Sivia mantap. Ia melangkah lebih dekat lagi kearah pintu kamar Cakka yang tertutup rapat.
            Sivia menghela nafas beberapa kali untuk mengumpulkan keberaniannya. Setelah merasa bahwa keberaniannya cukup terkumpul, Siviapun mengetuk pintu kamar  Cakka.
            “Kak Cakka… buka pintunya dong, ini Via, Kak”
            Tidak aja jawaban dari Cakka,
            “Oya, Kak, nih aku bawa Brownis buatan Ibu aku buat Kakak, Kakak suka brownis kan? Apalagi buatan Ibu. Pintunya dibuka dong…”
            Tidak lama setelah Sivia berkata seperti itu, sayup-sayup Alvin dan Sivia mendengar sebuah suara derap langkah kaki seseorang mendekat kearah pintu. Menyadari bahwa Cakka mulai luluh, Alvinpun memilih untuk meninggalkan kamar itu.
            Pintu kamar Cakka sedikit terbuka, saat itulah Sivia langsung bernafas lega. Sivia mengusap dadanya lalu melangkah masuk kedalam kamar Cakka yang nuansanya lumayan gelap itu.
            Sivia mendapati Cakka yang saat itu tengah berdiri didepan jendela seraya menatap hampa keluar. Sivia tersenyum kecil, ia meletakkan kotak bekal berisi Brownis untuk Cakka disebuah meja yang terdapat disudut kamar Cakka. Sivia melangkah pelan menghampiri Cakka.
            “Hey, Kak Cakka…” panggil Sivia pelan, ia menyentuh pundak Cakka dengan lembut,
            “kenapa hari ini Kak Cakka nggak masuk? Tadi aku nyariin Kak Cakka lho…” Cakka masih bertahan dengan kebisuannya. Tapi Sivia enggan menyerah.
            Sivia meraih salah satu tangan Cakka lalu menggenggamnya seerat mungkin untuk memberikannya kekuatan. Cakka menatap Sivia dengan pandangan hampa tak bercahaya,
            “Kak Cakka, aku nggak tau pasti masalah Kakak itu apa, tapi aku nggak peduli, apapun masalah yang Kak Cakka hadapi, aku akan tetep berada disamping Kak Cakka, aku nggak akan biarin Kak Cakka tenggelam sendirian didalam masalah Kak Cakka ini. Kak Cakka juga mesti tau, Kak Cakka nggak pernah sendirian, disini masih ada aku yang setia nemenin Kak Cakka. Jadi, Kak Cakka nggak usah ngerasa sendiri lagi….”
            Sivia mengangkat tangan kanannya lalu menggerakannya perlahan hingga mendarat diwajah mulus Cakka. Siviapun melanjutkan perkataannya,
            “Kalo Kak Cakka mau marah, nangis dan sebagainya lampiasin aja ke aku, Kak. Aku nggak apa-apa Kak, aku rela jadi pelampiasan Kakak asalkan Kakak ngerasa lebih baik dan nggak ngerasa sendiri lagi…”
            Tanpa Sivia duga, Cakka tahu-tahu menarik kedua tangannya lalu membawanya kedalam pelukannya yang entah kenapa Sivia rasakan begitu dingin dan hambar. Cakka memeluk Sivia erat seakan tak ingin melepaskan lagi. Dalam pelukan Cakka Sivia menyadari bahwa betapa rapuhnya Pria itu selama ini.
            Secara perlahan Sivia mengangkat kedua tangannya, ragu-ragu ia membalas pelukan Cakka. Sivia menepuk pelan punggung Cakka beberapa kali untuk menguatkan hatinya yang rapuh,

            “Kak Cakka nggak pernah sendirian… disini ada aku, Kak….”

            Sivia merasakan kedua pundak Cakka bergetar hebat. Tidak lama kemudian sayup-sayup Sivia mendengar sebuah suara isakkan yang terdengar begitu memilukan. Andai saja Cakka mau berbagi kesakitan dengannya, Sivia rela. Tapi permasalahannya sekarang adalah, Cakka tidak pernah mau membagi kesakitannya. Ia lebih memilih untuk menanggung semuanya sendiri daripada harus membaginya pada seorang gadis setulus Sivia.
            Alvin yang secara diam-diam melihat adegan mengharukan yang ada didepan matanya saat ini, entah kenapa merasa sedikit ngilu dihatinya. Alvin tidak mengerti kenapa. Tapi apapun itu, Alvin mencoba untuk tersenyum. Bisa melihat Cakka bahagia selama ini adalah mimpi besarnya yang ingin segera ia wujudkan. Cakka sudah terlalu lelah selama ini menanggung beban hidupnya, dan sudah sepatutnya Cakka meraih kebahagiaannya sendiri tanpa harus ada yang sakit hati melihatnya.
            Alvin tersenyum miris lalu melangkah meninggalkan kamar Cakka. Sejak awal Alvin memang sudah yakin, bahwa hanya Sivialah yang mampu memberikan kebahagiaan untuk Cakka….



                        BERSAMBUNG….


0 comments:

Post a Comment