“Kamu nanti kuliah mau ngelanjutin
dimana, Kka? Disini aja atau diluar Negri?” Tanya Pak Duta pada Cakka saat
mereka tengah makan malam bersama. Selain Pak Duta dan Cakka, disana juga ada
Ibu Uchie juga Alvin.
Mendengarkan pertanyaan Papi, mereka
semua menghentikan sejenak aktifitas makan mereka dan melihat kearah Cakka.
“belom tau” jawab Cakka dingin.
“kalo saran Mami sih, mending kamu
Kuliah diluar aja, Kka, kamu ambil bisnis biar nanti kamu bisa ngegantiin Papi
jadi pimpinan Perusahaan” kata Bu Uchie.
Cakka melirik sejenak kearah Mami
tirinya itu. Seperti biasa, tatapan Cakka begitu kosong dan dingin. Sejak
pertama kali Papi membawa Cakka kerumah ini, Cakka memang selalu begitu. Tidak
pernah sekalipun ia mencoba berdamai dengan kenyataan yang sekarang ia hadapi.
Cakka benci semua yang ada dirumah ini, Cakka benci dengan semua kemewahan yang
ia terima sementara Ibu kandungnya? Sudahlah, Cakka tidak ingin lagi mengingat
semua hal menyangkut Ibu Kandungnya. Mengingat semua itu berarti membuka
kembali luka lama Cakka yang hingga saat ini belum mengering.
Cakka menarik nafas panjang lalu
menghembuskannya dengan tak sabar. Cakka melepaskan begitu saja sendok dan
garpunya. Nafsu makannya sudah hilang saat ini juga.
“aku udah kenyang” Cakka bangkit
dari meja makan lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
“sebentar lagi kamu akan menghadapi
ujian akhir, Kka. Papi mau kamu persiapkan semuanya dengan matang. Kalo kamu
nggak bisa nentuin dimana kamu ngelanjutin kuliah, maka Papi yang akan nentuin
semuanya, dan kamu nggak akan bisa nolak”
Cakka menghentikan langkahnya
sejenak. Tanpa menoleh kebelakang Cakka berkata,
“lakuin aja apa yang mau Papi
lakuin! Toh juga selama ini aku hidup dibawah kendali Papi. Dirumah ini aku
Cuma robot kan?” Cakka kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Cakka sudah muak, benar-benar muak.
Alvin yang melihat kelakuan tidak
menyenangkan yang ditunjukan oleh Cakka pada kedua orang tuanya merasa tidak
terima. Ia menggenggam kuat jemari tangannya dengan emosi penuh. Selama ini
Alvin sudah cukup bersabar dalam menghadapi kebekuan Kakaknya itu. Kali ini
Alvin tidak akan tinggal diam lagi. Alvin harus melakukan sesuatu.
***
“Vi, gue cariin pacar ya buat lo?”
ujar Shilla pelan. Sivia yang saat itu tengah asyik membaca sebuah majalah
sontak saja terkejut ketika mendengarkan ucapan Shilla barusan. Tapi itu tidak
lama, karna beberapa saat setelahnya, Sivia kembali mencoba bersikap normal.
Sivia terkekeh geli cendrung mencibir,
“hehe… lo mau nyariin gue pacar?
Kenapa lo nggak cari sendiri aja? Lo kan juga masih betah sama status Jomblo lo
itu. Contoh Ify tuh, walopun udah punya pacar dia mana pernah ngomong kayak
gitu ke gue” kata Sivia sembari focus dengan majalah yang ada dihadapannya.
Malam itu Shilla menginap dirumah
Sivia. Shilla sengaja melakukan itu untuk melakukan pembuktian apakah Sivia
memang masih ada rasa pada Alvin atau tidak dengan cara memancingnya untuk
curhat. Dan pertanyaan tadi itu Shilla lontarkan hanya untuk menguji Sivia
saja. Tidak lebih.
“yaahh.. kalopun sampe saat ini gue
masih Jomblo juga karna gue belom nemuin yang pas aja. Nggak tau kalo lo”
“OYA…?”
“Kenapa sih, Vi lo nggak pernah
nyoba buat nyari pacar? Belom bisa move on ya dari Alvin?”
Hening sejenak. Beberapa saat
kemudian….
PLAAKKK…. Sebuah Majalah mendarat
dengan mulus tepat didepan wajah Shilla. Bukannya merasa bersalah pada
Sahabatnya itu, Shilla malah nyengir tanpa dosa lantas berkata,
“Hehehe, Sivia bisa kan laen kali
kalo lo mau mukul gue pake bantal aja? Jangan pake majalah. Sakit tau?”
“emang gue fikirin? Makanya sebelum
nanya itu lo fikir-fikir dulu, proses diotak jangan langsung dikeluarin lewat
mulut lo!”
“yaahhh… gue kan Cuma nanya! Kalo
emang udah move on, lo bilang aja dengan tegas lo udah move on dari Alvin,
yaaahhh… kecuali ada sesuatu yang memang lo sembunyiin dari gue dan dari yang
lainnya…”
“maksud lo?” Sivia melirik tajam
kearah Shilla. Dalam hati Sivia sudah merasa was-was, bagaimana kalau Shilla
tau perasaannya yang sesungguhnya pada Alvin? Dan lebih parahnya lagi,
bagaimana kalau Shilla malah ember sama Alvin?
Shilla mengangkat kedua bahunya
seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan gerakan pelan. saat itu
juga Sivia langsung manyun. Shilla sialan! Rutuknya dalam hati.
Sivia dan Shilla kembali focus
dengan kesibukan mereka masing-masing yang sebenarnya tidak penting. Shilla
sibuk dengan gadget nya, sementara Sivia sibuk dengan majalah yang tadi ia
baca.
“eh, Via! Omong-omong malem itu lo
ngobrol apa aja sama Alvin?” goda Shilla.
“SHILLAMPIIIRRRRRRRRRR…..!!!!”
Teriak Sivia tepat didepan telinga Shilla hingga membuat Gadis berwajah cantik
itu menutup kedua telinganya dengan mata terpejam. Apa Sivia nggak sadar kalau
suaranya itu cempreng banget?
***
“Kak Cakka, gue minta ubah sikap lo
sama Mami dan Papi, karna gue nggak suka sama sikap lo yang nggak sopan itu”
ucap Alvin tegas. Cakka langsung berbalik dan menghadap kearah Alvin. Mereka
berdua kini berdiri berhadapan diatas balkon.
“kenapa gue harus ubah sikap gue?”
Tanya Cakka dingin,
“karna mereka berdua orang tua kita,
dan lo nggak pantes bersikap seperti itu sama mereka”
“orang tua lo bilang? Mereka bukan
orang tua gue” ucap Cakka tak sabar.
“Oke, mungkin Mami bukan Ibu kandung
lo, tapi Papi? Dia Ayah kandung lo, Kak, dia yang selama ini udah berkorban
banyak buat lo, buat hidup lo?”
“Ayah kandung lo bilang? Dulu dia
kemana aja? Dia kemana aja waktu gue dan Mama gue hidup miskin? Dia kemana aja
waktu Mama gue sakit hingga mati? Dia nggak pernah ada buat gue, nggak pernah
sekalipun! Lo nggak pernah tau gimana rasanya jadi gue Alvin! Ditinggal pergi
sama Ayah kandung sendiri waktu gue baru lahir, dibiarin hidup terlantar
seperti gembel, itu yang lo bilang Ayah kandung? Lo juga nggak tau kan gimana
rasanya kehilangan seorang Ibu karna kesalahan yang disebabin oleh seorang
Makhluk yang lo sebut AYAH KANDUNG? Lo nggak tau rasanya, Alvin. LO NGGAK
TAU!!!”
Perasaan Alvin seakan teriris ketika mendengarkan ucapan Cakka. Alvin memang
tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi Cakka, tapi sungguh, Alvin bisa dengan
sangat jelas merasakan kesakitan yang Cakka rasakan. Hal itulah yang membuat
Alvin terus bertahan menghadapi kedinginan Cakka selama ini. Jika bukan karna
hal itu, mungkin sudah sejak lama Alvin menendang Cakka keluar dari rumahnya.
Dan sekalipun Cakka tidak pernah tahu, bahwa Alvin begitu menyayanginya. Cakka
juga tidak pernah tahu, bahwa ketika Alvin pertama kali melihatnya, Alvin
seperti melihat seorang Malaikat.
Dan Cakka bahkan semuanya tidak
pernah tahu, bahwa 2 tahun yang lalu, Alvin telah mengorbankan perasaannya demi
Cakka. Demi seorang Kakak yang sekalipun tidak pernah menganggapnya Adik.
“Please, kasi Papi kesempatan buat
menebus semua kesalahannya sama lo. Cuma satu hal yang bisa lo lakuin saat ini,
Kak. Berdamailah dengan kenyataan, Cuma itu…” itulah perkataan terakhir Alvin
sebelum akhirnya ia memutuskan pergi meninggalkan Cakka dengan segala luka dan
kesakitannya.
Seandainya Cakka memberikan Alvin
sedikit saja kesempatan untuk melakukan sesuatu padanya. Alvin ingin melakukan
sesuatu untuk mencairkan kebekuan Cakka selama ini. Alvin hanya ingin melakukan
sesuatu, tapi Cakka seakan tidak memberikannya kesempatan sedikitpun, tidak
sedikitpun.
***
Pagi ini Alvin menjemput Sivia
kerumahnya. Awalnya Sivia agak heran ketika melihat Alvin yang saat itu sudah
bertengger didepan rumahnya bersama Mobilnya, tapi Alvin buru-buru menghampiri
Sivia dan membawanya setengah paksa masuk kedalam mobil tanpa memberikannya
kesempatan untuk bertanya. Sivia agak kesal, tapi mau bagaimana lagi? Si Alvin
ini memang sangat menyebalkan bukan?
“lo nggak berangkat bareng Pricill?”
Tanya Sivia ragu-ragu.
“nggak, untuk 2 hari ini gue sengaja
ngehindarin dia”
Kedua alis Sivia langsung bertemu
ketika mendengarkan ucapan Alvin barusan,
“kok? Lo ada masalah lagi sama dia?”
kali ini Alvin menggeleng,
“gue adem-adem aja kok sama dia.
Cuma gue sengaja aja ngehindarin dia, gue mau jaga perasaan seseorang” Alvin
melirik sejenak kearah Sivia.
Sivia yang kaget langsung menatap
Alvin tajam. Beberapa detik kemudian Alvin terkekeh, tangannya terangkat lalu
bergerak perlahan mengacak poni Sivia yang menggemaskan itu,
“hahaha… becanda! Serius amat
mukanya Neng?” goda Alvin lalu kembali menjauhkan tangannya dari dahi Sivia.
Sivia melipat kedua tangannya didada lalu membuang mukanya kearah luar jendela.
Alvin hanya tidak tahu saja bahwa ucapannya barusan sukses membuat jantung
Sivia melompat hingga nyaris keluar dari tempatnya.
“2 hari lagi kan anniversary gue
sama dia, jadi gue sengaja ngehindarin dia dulu biar gue bisa focus nyiepin
surprise buat dia, emmm…. Dan gue butuh bantuan lo!” Alvin menatap Sivia yang
duduk disisinya penuh harap.
Lalu tanpa mengucapkan sepatah
kalimatpun, Sivia mengangguk lesu. Sepertinya Pria ini memang tidak pernah
mengerti, tidak pernah juga ingin mengerti. Andai saja Sivia bisa mengenyahkan
semua perasaannya pada Alvin, andai saja Sivia bisa melakukan sesuatu untuk
menyelamatkan hatinya agar tidak terus sakit dan terluka seperti ini, ah… andai
saja…
10 menit kemudian tibalah Alvin dan
Sivia disekolah. Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri areal Parkir yang
cukup luas itu. Baru saja mereka keluar dari areal Parkir, seseorang memanggil
Alvin,
“Sayang….” Alvin dan Sivia sama-sama
menoleh kebelakang. Mereka mendapati Pricilla yang saat itu berlari kecil
menghampiri mereka. Sivia membuang nafas pendek tapi berusaha bersikap wajar
didepan Pricilla supaya tidak kena protes Alvin lagi seperti waktu itu.
Alvin tersenyum manis ketika Pricilla
sudah berdiri diantara mereka,
“Hey sayang…” Alvin mendekati
Pricilla lalu merangkul pundak Gadis itu,
“aku bawa sesuatu buat kamu, Vin”
“apa?”
Pricilla membuka tasnya lalu
mengambil sebuah kotak bekal berwarna pink dan bergambar hello kitty untuk Alvin,
“aduuhhh manisnya…” komentar Alvin
dengan nada yang sengaja dimanis-maniskan ketika melihat kotak bekal pink
bergambar Hello Kitty itu.
Melihat itu, Sivia benar-benar ingin
tertawa, tapi Sivia harus tahan jika tidak mau kena amukan Alvin.
“nih aku bawa sandwich buat kamu!”
“ooo… sandwich? Makasih ya sayang?
Kamu emang perhatian sama aku, love you Sayang…” jika tadi Sivia ingin tertawa
mendengarkan ucapan Alvin, kali ini Sivia malah ingin muntah. Dasar gombal!
Rutuk Sivia dalam hati.
Alvin sadar betul bahwa saat ini
Sivia tengah menertawakannya dalam hati. Hh… awas saja, Alvin akan membalasnya.
“ini kamu yang bikin sendiri
sandwichnya?” Tanya Alvin dengan nada meninggi. Alvin sengaja menanyakan hal
itu karna Alvin tahu bahwa Sivia sama sekali tidak bisa membuat Sandwich
seperti Pricilla.
“iya dong. Aku bikinnya special buat
kamu…”
Sivia langsung manyun dengan kedua
tangan terlipat didepan dada. Ternyata Alvin sukses membalas dendamnya pada
Gadis itu. Alvin melirik kearah Sivia, beberapa saat kemudian tawanya langsung
pecah bahkan sampai terbahak-bahak,
“HAHAHAHAHAHAHAHAHA….”
“Sayang, kamu kok ketawa sih?” Tanya
Pricilla heran,
“Hahahahaha… nggak apa-apa sayang…”
Sivia yang sadar bahwa Alvin sedang
menertawakannya langsung mendekati Alvin. Sivia menghela nafas beberapa kali
dengan raut wajah yang sudah benar-benar kesal tak tertahankan lagi. Alvin
terus tertawa, sementara Pricilla, ia masih tetap bertahan dengan keherananya.
Satu… Dua… Tiga…
“AAWWWW” Ringis Alvin kesakitan saat
Sivia menginjak kakinya.
“Rasain lo!!” ujar Sivia keki lalu
melangkah pergi meninggalkan Alvin dan Pricilla.
***
Jam Pelajaran pertama untuk kelas
X.1 adalah Seni Musik. Seluruh siswa siswi penghuni kelas X.1 Berjalan
dibelakang Bu Winda yang bertindak sebagai Guru Musik mereka. Ketika melewati
kelas XII IPA 2, Sivia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia baru ingat bahwa
sejak pagi tadi Sivia tidak pernah melihat Cakka.
Sivia melihat lebih jauh lagi
kedalam kelas XII IPA 2, ternyata bangku yang Cakka duduki kosong. Apa mungkin
Cakka tidak masuk sekolah hari ini? Tiba-tiba Sivia cemas. Tanpa sadar Sivia
sudah ketinggalan jauh dari kawan-kawannya.
“Kak Cakka kemana, ya?” gumam Sivia
pelan
Sivia tiba-tiba kaget ketika ada
seseorang yang merangkul pundaknya. Sivia yang terkejut buru-buru menoleh
kesamping,
“ALPIINNN!!” Pekik Sivia, “iihhh… lo
itu ngagetin gue banget sih, Vin….?? Jantung gue nyaris copot tau gara-gara lo”
lanjut Sivia.
“haha… sorry sorry, lo lagian
ngapain sih pake ngelamun didepan kelas 12? Mau dikeroyok lo sama Kakak Kelas?”
“ya nggak lah”
“terus ngapain lo disini?”
“nyariin Kak Cakka” jawab Sivia
sekenanya.
Mendengar Sivia membawa-bawa nama
Cakka, tiba-tiba saja Alvin terdiam, ia baru ingat bahwa semalam ia sudah
bertengkar dengan Cakka, dan sejak semalam juga Cakka tidak pernah lagi keluar
dari dalam kamarnya. Sebenarnya Alvin cemas dengan kondisi Cakka, tapi mau
bagaimana lagi, Cakka pasti menolak untuk ditemui, apalagi oleh Alvin.
“Kak Cakka nggak masuk!” kata Alvin
dingin lalu berjalan menyusul kawan-kawannya yang lain.
“kenapa Kak Cakka nggak masuk?
Sakit?” Tanya Sivia seraya melangkah mengikuti Alvin,
“tau deh” jawab Alvin cuek sambil
tetap berjalan cuek.
“Alpiinnnn…. Jalannya pelan-pelan
dooongggg….” Rengek Sivia. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menyejajari
langkahnya dengan langkah Alvin.
***
“Nah sekarang Ibu Minta kepada Sivia
Azizah yang menjabat sebagai ketua Ekskul Musik untuk maju kedepan dan
menyanyikan sebuah lagu untuk kita semua…” kata Bu Winda ketika pelajaran Seni
Musik baru dimulai.
“sa… saya Bu?” Sivia menunjuk
dirinya sendiri,
“iya, kamu! Ibu dengar-dengar dari
beberapa kawan-kawan kamu, katanya kamu jago Nyanyi makanya sampe bisa jadi
Ketua Ekskul music Padahal masih kelas 10”
“kalo nyanyi sih semua orang bisa
kali, Bu…”
“semua orang emang bisa nyanyi, tapi
nggak semua orang jago nanyai, Sivia Azizah. Ayo maju, Ibu mau denger suara
kamu”
“Udah sono majuuuuu!! Pake ngelak
segala lagi lo!” ujar Alvin yang duduk tepat dibelakang Sivia.
Sivia berdehem lalu bangkit dari
kursinya. Dengan setengah hati Sivia melangkah kedepan. Ia meraih sebuah gitar
lalu duduk disebuah bangku. Sivia sedang bersiap-siap untuk kemudian bernyanyi.
Alvin tahu-tahu berdiri lalu berkata
pada seisi ruangan,
“Kita sambut ini dia, SIVIA
AZIZAAAHHHH….” Teriak Alvin layaknya seorang MC disebuah hajatan-hajatan besar
nan bergengsi. Semuanya pun memberikan tepuk tangan yang lumayan meriah untuk
Sivia. Sivia melirik sengit kearah Alvin.
Sivia berdehem pelan, memetik
gitarnya lalu mulai menyanyikan sebuah lagu yang diam-diam ia tunjukan khusus
untuk Alvin. Semuanya diam, menyimak bait demi bait lagu yang Sivia nyanyikan
dengan sepenuh hati;
“Entah
harus berapa lama lagi
Rasa
ini kupendam sendiri
Rasa
cintaku… pada dirimu….
Entah
harus berapa lagu lagi
Yang
kutulis agar kau mengerti
Rasa
cinta dihati ini… yang tumbuh hanya untuk dirimu…
Kau
jauh… Mengapa terasa begitu jauh…
Padahal
kau ada didepanku
Tersenyum
kepadaku….
Tapi
tetap terasa…
JAUH….”
Alvin yang sejak terdiam merenung
mendengarkan lagu yang Sivia nyanyikan tiba-tiba saja terkesiap saat Shilla
yang duduk disampingnya mendekat kearahnya lalu membisikkan sesuatu,
“Buat lo banget ini, Vin…”
“Ck..” Alvin berdecak pelan, lalu
kembali menyimak setiap bait demi bait lagu yang Sivia nyanyikan.
Kelaman Alvin mulai sedikit peka,
bahwa Sivia memang menyanyikan lagu itu untuknya. Hanya untuknya….
“Setiap
kali ku tatap dirimu
Kau
buatku sadar akan sesuatu
Kalau
bayang diri ini Tak pernah ada dikedua matamu…
Ooo… uwo… hu woooo….
Kau
jauh… Mengapa terasa begitu jauh…
Padahal
kau ada didepanku
Tersenyum
kepadaku….
Tapi
tetap terasa…
JAUUUHH….
Hu wo.. uo uo..
Ku
mencoba… selalu mencoba…
Tapi
semuanya sia-sia…
Kau…
terasa begitu jauh…
Padahal
kau ada didepanku…
Tersenyum
kepadaku…
Tapi
tetap terasa…. Hu woooo….
JAUHHHH……”
Semuanyapun langsung memberikan
tangan yang sangat meriah ketika Sivia telah menyelesaikan lagu itu. Rio dan
Ify sama-sama berteriak heboh layaknya orang kesetanan. Menanggapi reaksi Ify
dan Rio, Sivia langsung bergumam pelan, “LEBAY….”
Arah mata Sivia tiba-tiba saja
tertuju pada Alvin yang ketika itu tengah menatapnya lekat-lekat. Sivia heran
dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa Alvin menatapnya seperti itu?
Selama ini Alvin mana pernah menatapnya sampai seperti itu. Sivia bingung
benar-benar bingung.
“Ciyeeee… Ibu Sivia nyanyinya dalem
banget, Bu? Nyanyi buat seseorang ya?” godaan dari Shilla itu sukses membuat
kedua pipi Sivia menjadi merah merona. Sivia ingin mengelak, tapi mendadak
lidahnya kelu. Tatapan Alvin yang semakin intens benar-benar membuat Sivia mati
dalam bergerak.
“kalo kita nyanyi bener-bener dari
hati pasti akan seperti tadi hasilnya. Percaya deh…” tambah Bu Winda yang
semakin membuat semuanya heboh. “Via, kamu pasti nyanyiin lagu tadi buat
seseorang, ya?” lanjut Bu Winda seraya menatap Gadis yang masih diam mematung
itu,
“Bu… bukan Bu…” Sivia mendadak
gagap.
“terus?”
“emmm… ya… kebetulan aja aku suka
sama lagu itu…” elak Sivia buru-buru sebelum teman-teman sekelasnya makin menjadi-jadi
karna kegilaan mereka.
Matanya kembali mengarah pada Alvin.
Sivia sedikit bernafas lega karna Pria itu tidak lagi menatapnya. Alvin menatap
hampa keluar jendela, pandangannya seakan menerawang jauh. Entah apa yang ada
dalam benaknya saat ini, Sivia ingin menyelaminya….
***
Tanpa berbicara apa-apa terlebih
dahulu pada Sang Empunya Mobil, Sivia langsung saja nyelonong memasuki mobil
Alvin dengan tidak tahu malunya. Alvin terpaku, ada apa dengan Sivia?
“gue ikut pulang kerumah lo. Gue mau
nemuin Kak Cakka, entah kenapa gue ngerasa cemas sama keadaan Kak Cakka…” jelas
Sivia yang memang sudah mengerti dengan apa yang ada dalam fikiran Alvin.
Alvin mendesah pelan lalu memasuki
mobilnya… Tidak ada salahnya juga Alvin membawa Sivia kerumahnya, toh selama
ini Cuma Sivia yang paling dekat dengan Cakka. Siapa tau juga nanti Sivia bisa
mengajak Cakka berbicara.
“ehem… gue liat-liat kayaknya lo
nikmatin banget suara merdu gue pas gue nyanyi tadi…” ujar Sivia berusaha
memecah keheningan didalam perjalanan yang lumayan panjang itu.
Alvin terkesiap dan langsung
tertarik dari lamunannya,
“kepedean lu!”
“tapi bener kan?” Sivia mengangkat
kedua alisnya beberapa kali. Alvin menghela nafas lalu berdecak kesal,
“Ck… suka suka lo deh…” kata Alvin
yang tidak mau ambil pusing lagi dengan perkataan Sivia.
***
Alvin dan Sivia berdampingan didepan
kamar Cakka. Setelah cukup lama sama-sama terdiam Alvin akhirnya buka suara,
“semalem gue berantem sama Kak
Cakka, sejak itu Kak Cakka nggak mau keluar kamar. Sekarang coba deh lo temuin
dia, ajak ngobrol siapa tau aja dia mau ngobrol sama lo”
“Oke bakalan gue coba” kata Sivia
mantap. Ia melangkah lebih dekat lagi kearah pintu kamar Cakka yang tertutup
rapat.
Sivia menghela nafas beberapa kali
untuk mengumpulkan keberaniannya. Setelah merasa bahwa keberaniannya cukup
terkumpul, Siviapun mengetuk pintu kamar Cakka.
“Kak Cakka… buka pintunya dong, ini
Via, Kak”
Tidak aja jawaban dari Cakka,
“Oya, Kak, nih aku bawa Brownis
buatan Ibu aku buat Kakak, Kakak suka brownis kan? Apalagi buatan Ibu. Pintunya
dibuka dong…”
Tidak lama setelah Sivia berkata
seperti itu, sayup-sayup Alvin dan Sivia mendengar sebuah suara derap langkah
kaki seseorang mendekat kearah pintu. Menyadari bahwa Cakka mulai luluh,
Alvinpun memilih untuk meninggalkan kamar itu.
Pintu kamar Cakka sedikit terbuka,
saat itulah Sivia langsung bernafas lega. Sivia mengusap dadanya lalu melangkah
masuk kedalam kamar Cakka yang nuansanya lumayan gelap itu.
Sivia mendapati Cakka yang saat itu
tengah berdiri didepan jendela seraya menatap hampa keluar. Sivia tersenyum
kecil, ia meletakkan kotak bekal berisi Brownis untuk Cakka disebuah meja yang
terdapat disudut kamar Cakka. Sivia melangkah pelan menghampiri Cakka.
“Hey, Kak Cakka…” panggil Sivia
pelan, ia menyentuh pundak Cakka dengan lembut,
“kenapa hari ini Kak Cakka nggak
masuk? Tadi aku nyariin Kak Cakka lho…” Cakka masih bertahan dengan
kebisuannya. Tapi Sivia enggan menyerah.
Sivia meraih salah satu tangan Cakka
lalu menggenggamnya seerat mungkin untuk memberikannya kekuatan. Cakka menatap
Sivia dengan pandangan hampa tak bercahaya,
“Kak Cakka, aku nggak tau pasti
masalah Kakak itu apa, tapi aku nggak peduli, apapun masalah yang Kak Cakka
hadapi, aku akan tetep berada disamping Kak Cakka, aku nggak akan biarin Kak
Cakka tenggelam sendirian didalam masalah Kak Cakka ini. Kak Cakka juga mesti
tau, Kak Cakka nggak pernah sendirian, disini masih ada aku yang setia nemenin
Kak Cakka. Jadi, Kak Cakka nggak usah ngerasa sendiri lagi….”
Sivia mengangkat tangan kanannya lalu
menggerakannya perlahan hingga mendarat diwajah mulus Cakka. Siviapun
melanjutkan perkataannya,
“Kalo Kak Cakka mau marah, nangis
dan sebagainya lampiasin aja ke aku, Kak. Aku nggak apa-apa Kak, aku rela jadi
pelampiasan Kakak asalkan Kakak ngerasa lebih baik dan nggak ngerasa sendiri
lagi…”
Tanpa Sivia duga, Cakka tahu-tahu
menarik kedua tangannya lalu membawanya kedalam pelukannya yang entah kenapa
Sivia rasakan begitu dingin dan hambar. Cakka memeluk Sivia erat seakan tak
ingin melepaskan lagi. Dalam pelukan Cakka Sivia menyadari bahwa betapa
rapuhnya Pria itu selama ini.
Secara perlahan Sivia mengangkat
kedua tangannya, ragu-ragu ia membalas pelukan Cakka. Sivia menepuk pelan
punggung Cakka beberapa kali untuk menguatkan hatinya yang rapuh,
“Kak Cakka nggak pernah sendirian…
disini ada aku, Kak….”
Sivia merasakan kedua pundak Cakka
bergetar hebat. Tidak lama kemudian sayup-sayup Sivia mendengar sebuah suara
isakkan yang terdengar begitu memilukan. Andai saja Cakka mau berbagi kesakitan
dengannya, Sivia rela. Tapi permasalahannya sekarang adalah, Cakka tidak pernah
mau membagi kesakitannya. Ia lebih memilih untuk menanggung semuanya sendiri
daripada harus membaginya pada seorang gadis setulus Sivia.
Alvin yang secara diam-diam melihat
adegan mengharukan yang ada didepan matanya saat ini, entah kenapa merasa
sedikit ngilu dihatinya. Alvin tidak mengerti kenapa. Tapi apapun itu, Alvin
mencoba untuk tersenyum. Bisa melihat Cakka bahagia selama ini adalah mimpi
besarnya yang ingin segera ia wujudkan. Cakka sudah terlalu lelah selama ini
menanggung beban hidupnya, dan sudah sepatutnya Cakka meraih kebahagiaannya
sendiri tanpa harus ada yang sakit hati melihatnya.
Alvin tersenyum miris lalu melangkah
meninggalkan kamar Cakka. Sejak awal Alvin memang sudah yakin, bahwa hanya
Sivialah yang mampu memberikan kebahagiaan untuk Cakka….
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment