Jakarta,
2013
“Oke, Sahabat 91,8 FM ANH-Radio,
akhirnya tibalah kita dipenghujung acara Malam Minggu Galau bareng gue Via, DJ
yang paling kece sedunia, sebagai persembahan terakhir dari gue, nih gue puterin
lagu dari Salah satu Girl Band yang paling hits ditahun ini, BLINK dengan
lagunya Blinking. Oke, jangan pada galau-galauan lagi, see you next week bareng
gue, Via tentunya, Bye-Bye….”
Setelah memutar sebuah lagu untuk
para pendengar setianya, Siviapun mengakhiri siarannya lalu segera keluar dari
ruang Siaran dan langsung digantikan oleh Oliv, temannya sesama DJ.
Gadis berambut sebahu itu
menghempaskan tubuhnya disofa lalu meneguk minuman berkaleng yang ada dalam
genggamannya. Sivia melirik jam tangannya yang saat itu sudah menujukan pukul
22.30, jemputannya sebentar lagi pasti datang. Sivia melepaskan begitu saja
minumannya diatas meja lalu memegangi kepalanya yang terasa sedikit berdenyut.
Seharian ini Sivia benar-benar
merasa kelelahan. Setelah dari Kampus, Sivia langsung ke studio. Belum lagi
selama seminggu ini, Sivia sibuk wara wiri kesana kemari demi mencari bahan
untuk siarannya malam ini. Tidak hanya itu, selama seminggu ini juga Sivia
disibukkan oleh tugas-tugasnya dari Kampus. Sivia benar-benar keteteran selama
seminggu terakhir ini, seluruh tubuhnya serasa remuk, ia butuh istirahat. Tapi
toh ia bisa mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik.
Jadwalnya yang selalu padat selama
beberapa minggu belakangan ini membuat Sivia jarang berkumpul dengan
sahabat-sahabatnya. Hal itupun tak lepas dari protes Ify dan Shilla, tapi mau
bagaimana lagi? Sivia harus tetap professional. Meski begitu,
Sahabat-sahabatnya tetap berusaha untuk mengerti akan kecintaan Sivia pada
pekerjaannya sebagai DJ yang sudah ia geluti 4 tahun terakhir ini.
Handphone Sivia bergetar, ia
menerima sebuah pesan dari seseorang,
=======================================
From;
AlvinJo
DJ
paling kece sedunia?
Heh,
mimpi lo!!!
Oya,
Minggu depan gue pulang.
Gue
udah nggak sabar pengen ketemu lo dan yang lainnya.
Kangen
kalian semua…. :)
Dan
buat lo, Vi, gue punya kejutan special buat lo!
Tunggu
yah?? :D
=======================================
Sivia menghela nafas panjang setelah
membaca pesan singkat dari Alvin itu. Seharusnya Sivia merasa senang dengan
kabar kepulangan itu, tapi entah kenapa Sivia justru merasa sebaliknya. Bukan,
bukan karna Sivia tidak suka dengan kepulangan Alvin, tapi…. Entahlah, Sivia
juga tidak mengerti.
Sudah 1 bulan belakangan ini Sivia
tidak pernah bertemu dengan Alvin, dikarena kan selama sebulan ini Alvin harus
pergi ke Singapore untuk mejenguk Oma nya yang sedang sakit. Dan minggu depan
Alvin akan pulang, mungkin keadaan Omanya sudah baikan. Jika benar, Sivia turut
bersyukur untuk itu.
Beberapa saat setelah menerima SMS
dari Alvin, ingatan Siviapun kembali ke masa lalu, tepatnya 2 tahun yang lalu.
Dan entah kenapa tiap kali mengingat kejadian malam itu, rasa sesak selalu saja
datang menyiksanya.
Malam
itu….
****
Maret,
2011
“Via, gue mau minta sesuatu sama lo,
boleh?” Tanya Alvin sehati-hati mungkin. Malam itu Alvin mengajak Sivia pergi
kesebuah taman yang dulu biasa mereka kunjungi ketika mereka masih kecil. Alvin
sengaja membawa Sivia ketempat itu karna ia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat
‘penting’ pada Sivia.
Ini semua menyangkut urusan hatinya.
Dan Alvin sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Alvin ingin secepat
mungkin menyampaikan semuanya pada Sivia sebelum akhirnya ia menyesal lagi
untuk yang kedua kalinya.
“apa?” ujar Sivia tanpa menoleh
kearah Alvin. Sivia mulai sedikit mengerti akan kemana sebenarnya arah
pembicaraan Alvin malam itu.
Beberapa saat kemudian, Sivia
tahu-tahu merasakan Alvin memegang kedua pundaknya lalu membalik tubuh
mungilnya hingga kini mereka berdua berhadapan satu sama lain. Alvin menatap
kedua mata Sivia dalam, dan saat itu Sivia merasa jantungnya berhenti berdetak
untuk beberapa detik. Dari dulu hingga sekarang, pesona Alvin tidak pernah
berubah sama sekali dan selalu bisa memabukan Sivia.
“Sivia Azizah…”
“hmmm…” gumam Sivia,
“dengan sepenuh hati gue minta sama
lo… tolong bantu gue buat sembuhin luka yang sudah Pricill torehkan, tolong
bantu gue buat melupakan Pricill yang udah nyakitin gue, dan gue mohon dengan
sangat, tolong ajari gue bagaimana cara mencintai lo….”
Sivia sedikit tersentak, kedua
matanya melebar. Alvin kembali melanjutkan perkataannya,
“gue sayang sama lo, Sivia,
bener-bener sayang sama lo, dan gue mau lo bantu gue buat ngubah perasaan
sayang itu jadi cinta, gue mau selamanya terus berada disisi lo, gue nggak mau
jauh dari lo, Sivia, bener-bener nggak bisa. Bisa kan lo bantu gue? Bisakan
ngasih kesempatan kedua buat gue ngubah semuanya? Bisakan ngasih kesempatan
sekali lagi buat gue ngebales perasaan lo? Bisakan?”
Sivia terdiam untuk beberapa lama.
Saat ini ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa bahagia karna
Alvin bisa menghargai perasaannya, tapi… entah kenapa rasanya ada yang
mengganjal dihati kecilnya. Jika boleh jujur, sebenarnya Sivia belum seratus
persen sembuh dari sakit yang dulu pernah Alvin sebabkan. Sivia butuh waktu
untuk menyambuhkan rasa sakitnya. Sivia hanya butuh waktu.
“Via, please bilang sesuatu, jangan
diem aja” pinta Alvin dengan wajah memelas. Tangannya yang tadi ia letakkan
diatas kedua pundak Sivia kini berpindah posisi pada kedua pipi Chubby Sivia.
Sivia menghela nafas beratnya. Ia
memegang tangan Alvin yang memegang kedua sisi wajahnya lalu menunduk dalam.
Sivia sudah memilih, ia juga sudah memikirkan baik-baik pilihannya ini. Jika
nanti ia menyesal atas pilihannya, Sivia siap untuk menanggungnya. Saat ini
Sivia hanya ingin sembuh.
“maaf, Vin… gue nggak bisa”
Jawaban Sivia itu seakan menjelma
menjadi sebuah pukulan telak yang menghantam jantung Alvin. Sivia mengangkat
wajahnya lalu dengan berani menantang tatapan Alvin. Sivia menurunkan tangan
Alvin dari wajahnya lalu menggenggamnya erat,
“gue nggak bisa ngajarin lo itu
semua, dan gue juga nggak bisa ngajarin lo buat mencintai gue. Alvin, gue
mencintai lo tulus, gu… gue nggak ngarep buat lo bales cinta gue, dan
sekarang—“ Sivia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya,
“kalo lo bener-bener mau bisa
mencintai gue, lo harus belajar sendiri. Lo juga musti tau, bahwa Cinta itu
datang atas kemauannya sendiri, nggak bisa dipaksa, dan saat ini gue Cuma butuh
waktu buat sendiri, gue mau sembuhin luka gue, itu aja…”
“jadi nggak ada kesempatan kedua
buat gue?” Tanya Alvin meyakinkan.
Dengan sangat menyesal Sivia
menggelengkan kepalanya,
“untuk saat ini nggak ada, Vin”
“kalau suatu saat nanti?”
“maybe…” jawab Sivia singkat. Alvin
tersenyum lalu menarik Gadis itu kedalam pelukannya.
“gue akan belajar mencintai lo
Sivia, gue akan belajar sendiri seperti apa yang lo mau…” kata Alvin penuh
kesungguhan.
“dan kalo lo udah bener-bener bisa mencintai
gue dengan sepenuh hati lo, datenglah ke gue, Alvin…”
“pasti” jawab Alvin dengan yakin
lalu mengecup puncak kepala Sivia.
Pricilla telah pergi, cinta dihati
Alvin padanyapun juga ikut pergi… pergi sejauh mungkin, menghilang dan lenyap
bersama semua kenangan itu, kenangan yang kelamaan mulai memudar tertelan waktu
yang bergulir.
****
Jakarta,
2013
Sivia langsung membuyarkan lamunan
panjangnya ketika seseorang meletakkan satu kantong plastic berisi makanan
cepat saji diatas meja yang ada dihadapan Sivia. Sivia terkesiap lalu
mendongak.
“kamu pasti capek dari tadi pagi
nggak istirahat-istirahat, dan aku tau kamu pasti belom makan malam, makanya
aku bawa makanan buat kamu, dimakan ya?” ujar Cakka penuh perhatian lalu duduk
dihadapan Sivia.
Sivia tersenyum. Cakka ini memang
teman yang paling pengertian, ia selalu tau kapan waktunya Sivia harus makan.
Cakka memang rajin sekali datang ke studio untuk sekedar menjemput atau
mengantar Sivia, tidak jarang juga Cakka sering menunggu hingga berjam-jam
ketika Sivia sedang melakukan siaran. Sivia bahagia bisa memiliki sahabat
sebaik dan seperhatian Cakka. Ah… andai saja Alvin seperti Cakka.
“gimana perkembangan Skripsi nya,
Kak?” Tanya Sivia pada Cakka. Mendengar pertanyaan yang Sivia lontarkan, Cakka langsung
berdecak kecil,
“nggak usah bahas Skripsi dulu,
bikin tambah mumet tau nggak? Sekarang mendingan—“ Cakka meraih kantong plastic tadi, membukanya lalu
mengambil satu kotak makanan berisi nasi serta fried chiken untuk Sivia, “kamu
makan dulu!” lanjut Cakka seraya menjulurkan sekotak makanan cepat saji itu
dihadapan Sivia.
Sivia tersenyum manis lalu menerima
makanan pemberian Cakka,
“makasih ya, Kak? Kakak juga makan
dong!”
“tadi aku udah makan kok” jawab
Cakka seadanya.
Sivia hanya menangguk lalu mulai
menyantap makanan yang sudah Cakka bawakan khusus untuknya kestudio. Tanpa
Sivia tahu, Cakka terus saja menatapnya yang ketika itu tengah lahap menyantap
makanannya.
“Oya, Kak, minggu depan Alvin sama
Om dan Tante udah pulang lho”
Cakka langsung membuyarkan
keterpanaannya. Mendengar Sivia membawa-bawa naman Alvin serta Mami dan Papinya
mendadak air muka Cakka berubah keruh.
“terus?” Tanya Cakka dingin,
“teruuusss….. Kakak nggak bakalan
sendiri lagi deh dirumah” jawab Sivia dengan mulut penuh. Cakka hanya bisa
menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sivia yang sudah seperti anak kecil.
Cakka mengambil sapu tangan yang ada
dalam kantong jaketnya, tidak lama tangan kanan Cakka pun bergerak perlahan
lalu mengusap saus yang mengotori tepi bibir Sivia.
“makannya pelan-pelan aja, Vi. Nggak
ada yang ngejer kok” tegur Cakka. Sivia langsung nyengir lebar,
“Hehehehe….”
“seneng dong bentar lagi Alvin
bakalan pulang” ujar Cakka dengan nada sedikit sinis. Mendengar ucapan Cakka
tersebut, Sivia langsung batuk-batuk karna tersedak. Cakkapun buru-buru
mengambil sebotol air mineral yang sudah ia siapkan untuk Sivia lalu
menjulurkannya dihadapan Sivia,
“minum dulu, Vi…” Sivia
mengusap-ngusap dadanya lalu menerima minuman pemberian Cakka. Beberapa saat
setelah Sivia selesai minum…
“aku seneng Alvin pulang kalo dia
bawa oleh-oleh, tapi kalo nggak… emmm aku kasih bogem mentah buat dia” kata
Sivia sambil mengepalkan tangannya.
Cakka terkekeh geli ketika melihat
tingkah Sivia itu. Semenjak kehadiran Sivia dalam hidupnya, Cakka memang banyak
berubah. Bahkan dulu, Cakka yang nyaris tidak pernah tersenyum akhirnya bisa
tersenyum kembali setelah kehadiran Sivia dalam hidupnya.
Meski belum terlalu berhasil
mencairkan sikap dingin Cakka sepenuhnya, Sivia tetap merasa bersyukur karna
bisa memberikan perubahan yang lumayan berarti dalam hidup Cakka. Untuk
kedepannya Sivia berharap, Cakka akan mengubah sikap dinginnya pada Alvin juga
pada kedua orang tuanya. Ya… Sivia selalu berharap dengan itu. Entah kapan,
Sivia akan tetap menunggu.
“Kak Cakka….” Panggil Sivia pelan,
“hmmm…”
“Kak Cakka ganteng deh kalo lagi
ketawa” puji Sivia lalu kembali melanjutkan aktifitas makannya yang sempat
terhenti sejenak. Sekali lagi Cakka tersenyum.
“Via…”
“Iya Kakak?”
“I Love you…” kata Cakka pelan tanpa
basa basi apapun.
Sivia hanya terdiam dan lebih
memilih untuk tidak menanggapi ucapan Cakka. Itu bukan yang pertama kalinya
Cakka menyatakan perasaannya secara terang-terangan dihadapan Sivia, dan
kelamaan Sivia mulai membiasakan diri dengan hal itu. Cakka pun tidak pernah
sekalipun protes dengan sikap Sivia yang terkesan acuh. Cakka tidak terlalu
menuntut jawaban dari Sivia, cukuplah bagi Cakka menyatakan perasaannya pada
Sivia, dan Sivia tahu, itu sudah lebih dari cukup bagi Cakka.
Sedangkan Sivia, ia sama sekali
tidak memiliki niat untuk menggantung Cakka. Hanya saja Sivia bingung harus
bagaimana dengan perasaan Cakka. Jika Sivia menolak, takutnya Cakka akan
kembali berubah seperti pertama kali ia mengenalnya dulu, Sivia juga takut membuat
Cakka kecewa. Tapi kalau Sivia menerimanya, itu sama saja artinya Sivia akan
menyakiti Cakka untuk kedepannya. Sivia hanya menganggap Cakka sebagai Kakak,
dan tidak pernah lebih dari itu. Dan Sivia juga tidak mau membohongi
perasaannya saat ini. Ia masih sangat mencintai Alvin hingga detik ini, dan ia
tidak mau hanya menjadikan Cakka sebagai pelampiasannya saja. Tidak, Sivia
tidak sejahat itu.
****
Satu
Minggu Kemudian…
30 menit sebelum kedatangan Alvin
dirumah Shilla, Ify dan Shilla terlihat sibuk mondar-mandir menyiapkan segala
sesuatu yang ia perlukan ketika menyambut kedatangan Alvin nanti. Sementara Rio
dan Sivia, mereka berdua duduk dengan santainya diruang TV Shilla seraya
menonton Film Spongebob yang merupakan Film animasi favorit mereka berdua.
Rio dan Sivia tetap focus dengan TV
yang ada didepan mereka meskipun berkali-kali Ify dan Shilla mengomel karna
kehadiran mereka tidak membantu apapun. Shilla yang sudah hilang
kesabarannyapun berdiri didepan TV dan menghalangi pandangan Rio dan Sivia,
“Shilla minggir, Shill… Filmnya lagi
seru ini…” kata Rio.
“Iya, Shill… becanda lo jelek ah”
timpal Sivia yang tidak kalah cueknya dari Rio.
“Heh, sebentar lagi Alvin dateng,
kenapa kalian berdua malah santé-sante aja disini nonton TV? Bantuin kek…” omel
Shilla yang sudah benar-benar kesal.
“Ck… emang Alvin siapa sih pake
disambut segala? Presiden juga bukan” ucap Rio yang tidak mau ambil pusing.
“ya udah, awas aja nanti kalo lo
minta oleh-oleh sama Alvin”
“emang yakin Si Alvin bakalan pulang
bawa oleh-oleh?” mendengar pertanyaan Rio, Shilla Cuma menggeleng,
“oleh-olehnya ambil deh buat lo, gue
nggak butuh” kata Rio cuek.
Tiba-tiba
saja….
“AAAAA….. ALVIIINNNNNN….” Teriak Ify
histeris dari arah pintu. Rio, Sivia, dan Shilla dengan serempak langsung
menoleh kearah pintu ketika mendengarkan suara teriakan Ify.
Rio dan Shilla saling menatap
sejenak, tidak lama kedua mata mereka sama-sama melebar. Lalu….
“ALVIIIINNNNNNNN….” Teriak Rio dan
Shilla berbarengan lalu berlari kearah pintu. Sementara Sivia, ia malah lebih
memilih diam ditempat. Dan dengan cueknya, Sivia kembali menonton TV sendiri.
“Hahahaha… apa kabar lo, Bro?” Rio
berjalan kearah Alvin lalu memeluk Sahabatnya itu. Sebulan tidak bertemu dengan
Alvin cukup membuat Rio merasa kangen.
“baiklah, lo sendiri? Terus
cewek-cewek lo gimana? Hahaha…” Tanya Alvin sedikit bergurau.
“tau ah, gue males ngurus mereka
semua” jawab Rio asal.
“eh, Alvin, lo bawa oleh-oleh kan
buat kita semua?” Tanya Shilla tiba-tiba. Rio langsung berdecak kesal dan menampakkan
raut wajah tidak habis fikir ketika mendengarkan pertanyaan Shilla itu.
“oleh-oleh mulu yang ada diotak lo”
“tau nih Shilla….” Timpal Ify.
“beeehhh… kayak kalian nggak aja”
ujar Shilla sewot.
Alvin mengedarkan pandangannya
kesegala arah untuk mencari satu sosok yang selama ini paling ia rindukan
–Sivia- . Tapi hingga beberapa lama,
Sivia tidak juga menampakkan batang hidungnya, kemana Si Cerewet itu?
“Via mana?” Tanya Alvin entah pada
siapapun yang mau menjawab pertanyaannya.
“lagi nonton Spongebob diruang TV”
Jawab Shilla sekenanya.
Alvin tersenyum lebar lalu nyelonong
begitu saja memasuki rumah Shilla sebelum Sang Tuang Rumah mempersilahkannya
untuk masuk. Alvin berjalan kearah ruang TV untuk mencari Sivia.
“Ternyata Spongebob lebih menarik ya
dari gue?” Tanya Alvin yang tahu-tahu sudah duduk disebelah Sivia.
Sivia yang kaget langsung saja
menoleh kearah Alvin,
“oh? Elo? Udah pulang? Selamat
datang…” kata Sivia datar lalu kembali mengalihkan perhatiannya kearah pintu.
Alvin tersenyum jahil lalu bergeser lebih mendekat kearah Sivia,
“lo nggak kangen sama gue?”
“ngapain kangen sama lo? Gue nggak
sekurang kerjaan itu ya?” jawab Sivia gengsi. Alvin mengagguk sok paham
beberapa kali,
“iya deh yang ngakunya DJ paling
kece sedunia, tapi tunggu dulu…” ucap Alvin yang baru menyadari sesuatu.
Alvin baru sadar, bahwa Rambut Sivia
yang sebulan lalu masih panjang sekarang malah pendek jadi sebahu. Alvin
menampakkan raut wajah pura-pura shock,
“ya ampuunnnnn Via rambut panjang lo
kemana?”
“Ck…. Biasa aja kali, nggak usah
lebay” jawab Sivia cuek tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari TV.
“Tapi gue suka model rambut lo,
cantik….” Puji Alvin sungguh-sungguh.
“duit receh gue abis, Pin, jadi
sorry….” Timpal Sivia dengan ekspresi yang masih datar-datar saja.
Merasa bosan karna Sivia
terus-terusan cuek, Alvinpun merenggut remote TV yang ada ditangan Sivia lalu
mematikan TV yang sejak menjadi titik focus Sivia. Sivia mengerang, ia hampir-hampir
mau menerjang Alvin saking kesalnya. Alvin menatap Sivia dengan wajahn tanpa
dosanya,
“mau marah? Ayo marah…” tantang
Alvin.
Sivia menghela nafas panjang. Ia
meraih tas nya yang ada diatas meja lantas berkata pada Alvin,
“gue nggak mau marah, tapi gue mau
pulang”
“silahkan” ujar Alvin
mempersilahkan. Sivia pun bangkit dari sofa lalu berjalan hendak keluar dari
rumah Shilla.
Tapi sebelum Sivia keluar dari ruang
TV, Ify dan Shilla buru-buru menghalangi langkahnya.
“Heh mau kemana lo?” Tanya Ify dan
Shilla berbarengan,
“pake nanya lagi lo, ya mau pulang
lah”
“enak aja lo maen-maen pulang. Acara
belom dimulai lo malah mau pulang” ucap Ify keki.
“tau nih, semalem aja lo bilang lo
kangen sama Alvin, sekarang giliran Alvin udah ada didepan mata lo malah lo
cuekin, nanti nyesel lho…”
“iiiii…. Fitnah sekali! Gue nggak
pernah ya bilang kalo gue kangen sama Si Alvin… ishhh…” kesal Sivia yang merasa
tidak terima dengan ucapan Shilla.
“sudah, sudah… nggak usah dibahas
lagi” Alvin berusaha melerai sebelum pertengkaran itu mulai meruncing,
“sekarang waktunya kita bagi oleh-oleh….” Lanjut Alvin ketika melihat Rio yang
saat itu memasuki ruang TV dengan membawa beberapa paper bag besar yang
sebenarnya merupakan barang bawaan Alvin.
Rio meletakkan beberapa paper bag
itu diatas meja. Dengan bengisnya, Rio, Ify dan Shilla mulai membongkar paper
bag itu. Sivia hanya diam ditempat sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
“Via” panggil Alvin tiba-tiba. Sivia
menoleh dengan malas kearah Alvin.
Tanpa komando apa-apa Alvin langsung
melemparkan sebuah kado kecil kearah Sivia. Dengan sigap Sivia langsung
menangkap kado itu. Dasar Alvin! Tidak ada cara yang lebih manis lagi apa dari
ini? Dumel Sivia dalam hati.
“itu oleh-oleh buat lo! Dibuka gih”
suruh Alvin.
Sivia yang tidak mau ambil pusing
lagi akhirnya membuka kado pemberian Alvin. Dan Sivia langsung tertawa sinis
ketika melihat isi dalam kado itu. Ternyata isinya adalah sebuah Miniatur
Helikopter. Haha… apa Pria itu bercanda memberikan Sivia oleh-oleh miniature
helicopter?
Sivia menganmbil miniature
helicopter itu lalu menjulurkannya didepan wajahnya,
“hahaha…. HADIAHNYA LUCU SEKALI!!
APA NGGAK ADA YANG LEBIH LUCU LAGI DARI INI??” Ujar Sivia penuh tekanan. Rio,
Ify dan Shilla hanya bisa menahan tawa mereka ketika melihat ekspresi Sivia
yang benar-benar sangat lucu.
Alvin tersenyum simpul lantas
berkata,
“gue akan tepatin janji gue ke elo.
Gue akan bawa lo terbang menyentuh awan, dan setelah itu gue akan tagih janji
lo 2 tahun yang lalu… tentu lo masih inget kan sama janji lo, Sivia Azizah…??”
Sivia diam berfikir, entah kenapa
tiba-tiba saja fikirannya tertuju pada Cakka…
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment