Wednesday, July 17, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 6 -Love Will Come Itself-





Jakarta, 2013



                “Oke, Sahabat 91,8 FM ANH-Radio, akhirnya tibalah kita dipenghujung acara Malam Minggu Galau bareng gue Via, DJ yang paling kece sedunia, sebagai persembahan terakhir dari gue, nih gue puterin lagu dari Salah satu Girl Band yang paling hits ditahun ini, BLINK dengan lagunya Blinking. Oke, jangan pada galau-galauan lagi, see you next week bareng gue, Via tentunya, Bye-Bye….”
            Setelah memutar sebuah lagu untuk para pendengar setianya, Siviapun mengakhiri siarannya lalu segera keluar dari ruang Siaran dan langsung digantikan oleh Oliv, temannya sesama DJ.
            Gadis berambut sebahu itu menghempaskan tubuhnya disofa lalu meneguk minuman berkaleng yang ada dalam genggamannya. Sivia melirik jam tangannya yang saat itu sudah menujukan pukul 22.30, jemputannya sebentar lagi pasti datang. Sivia melepaskan begitu saja minumannya diatas meja lalu memegangi kepalanya yang terasa sedikit berdenyut.
            Seharian ini Sivia benar-benar merasa kelelahan. Setelah dari Kampus, Sivia langsung ke studio. Belum lagi selama seminggu ini, Sivia sibuk wara wiri kesana kemari demi mencari bahan untuk siarannya malam ini. Tidak hanya itu, selama seminggu ini juga Sivia disibukkan oleh tugas-tugasnya dari Kampus. Sivia benar-benar keteteran selama seminggu terakhir ini, seluruh tubuhnya serasa remuk, ia butuh istirahat. Tapi toh ia bisa mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik.
            Jadwalnya yang selalu padat selama beberapa minggu belakangan ini membuat Sivia jarang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Hal itupun tak lepas dari protes Ify dan Shilla, tapi mau bagaimana lagi? Sivia harus tetap professional. Meski begitu, Sahabat-sahabatnya tetap berusaha untuk mengerti akan kecintaan Sivia pada pekerjaannya sebagai DJ yang sudah ia geluti 4  tahun terakhir ini.
            Handphone Sivia bergetar, ia menerima sebuah pesan dari seseorang,


=======================================

From; AlvinJo

DJ paling kece sedunia?
Heh, mimpi lo!!!
Oya, Minggu depan gue pulang.
Gue udah nggak sabar pengen ketemu lo dan yang lainnya.

Kangen kalian semua…. :)
Dan buat lo, Vi, gue punya kejutan special buat lo!
Tunggu yah?? :D

=======================================

            Sivia menghela nafas panjang setelah membaca pesan singkat dari Alvin itu. Seharusnya Sivia merasa senang dengan kabar kepulangan itu, tapi entah kenapa Sivia justru merasa sebaliknya. Bukan, bukan karna Sivia tidak suka dengan kepulangan Alvin, tapi…. Entahlah, Sivia juga tidak mengerti.
            Sudah 1 bulan belakangan ini Sivia tidak pernah bertemu dengan Alvin, dikarena kan selama sebulan ini Alvin harus pergi ke Singapore untuk mejenguk Oma nya yang sedang sakit. Dan minggu depan Alvin akan pulang, mungkin keadaan Omanya sudah baikan. Jika benar, Sivia turut bersyukur untuk itu.
            Beberapa saat setelah menerima SMS dari Alvin, ingatan Siviapun kembali ke masa lalu, tepatnya 2 tahun yang lalu. Dan entah kenapa tiap kali mengingat kejadian malam itu, rasa sesak selalu saja datang menyiksanya.

Malam itu….

****

Maret, 2011

            “Via, gue mau minta sesuatu sama lo, boleh?” Tanya Alvin sehati-hati mungkin. Malam itu Alvin mengajak Sivia pergi kesebuah taman yang dulu biasa mereka kunjungi ketika mereka masih kecil. Alvin sengaja membawa Sivia ketempat itu karna ia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat ‘penting’ pada Sivia.
            Ini semua menyangkut urusan hatinya. Dan Alvin sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Alvin ingin secepat mungkin menyampaikan semuanya pada Sivia sebelum akhirnya ia menyesal lagi untuk yang kedua kalinya.
            “apa?” ujar Sivia tanpa menoleh kearah Alvin. Sivia mulai sedikit mengerti akan kemana sebenarnya arah pembicaraan Alvin malam itu.
            Beberapa saat kemudian, Sivia tahu-tahu merasakan Alvin memegang kedua pundaknya lalu membalik tubuh mungilnya hingga kini mereka berdua berhadapan satu sama lain. Alvin menatap kedua mata Sivia dalam, dan saat itu Sivia merasa jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik. Dari dulu hingga sekarang, pesona Alvin tidak pernah berubah sama sekali dan selalu bisa memabukan Sivia.
            “Sivia Azizah…”
            “hmmm…” gumam Sivia,
            “dengan sepenuh hati gue minta sama lo… tolong bantu gue buat sembuhin luka yang sudah Pricill torehkan, tolong bantu gue buat melupakan Pricill yang udah nyakitin gue, dan gue mohon dengan sangat, tolong ajari gue bagaimana cara mencintai lo….”
            Sivia sedikit tersentak, kedua matanya melebar. Alvin kembali melanjutkan perkataannya,
            “gue sayang sama lo, Sivia, bener-bener sayang sama lo, dan gue mau lo bantu gue buat ngubah perasaan sayang itu jadi cinta, gue mau selamanya terus berada disisi lo, gue nggak mau jauh dari lo, Sivia, bener-bener nggak bisa. Bisa kan lo bantu gue? Bisakan ngasih kesempatan kedua buat gue ngubah semuanya? Bisakan ngasih kesempatan sekali lagi buat gue ngebales perasaan lo? Bisakan?”
            Sivia terdiam untuk beberapa lama. Saat ini ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa bahagia karna Alvin bisa menghargai perasaannya, tapi… entah kenapa rasanya ada yang mengganjal dihati kecilnya. Jika boleh jujur, sebenarnya Sivia belum seratus persen sembuh dari sakit yang dulu pernah Alvin sebabkan. Sivia butuh waktu untuk menyambuhkan rasa sakitnya. Sivia hanya butuh waktu.
            “Via, please bilang sesuatu, jangan diem aja” pinta Alvin dengan wajah memelas. Tangannya yang tadi ia letakkan diatas kedua pundak Sivia kini berpindah posisi pada kedua pipi Chubby Sivia.
            Sivia menghela nafas beratnya. Ia memegang tangan Alvin yang memegang kedua sisi wajahnya lalu menunduk dalam. Sivia sudah memilih, ia juga sudah memikirkan baik-baik pilihannya ini. Jika nanti ia menyesal atas pilihannya, Sivia siap untuk menanggungnya. Saat ini Sivia hanya ingin sembuh.
            “maaf, Vin… gue nggak bisa”
            Jawaban Sivia itu seakan menjelma menjadi sebuah pukulan telak yang menghantam jantung Alvin. Sivia mengangkat wajahnya lalu dengan berani menantang tatapan Alvin. Sivia menurunkan tangan Alvin dari wajahnya lalu menggenggamnya erat,
            “gue nggak bisa ngajarin lo itu semua, dan gue juga nggak bisa ngajarin lo buat mencintai gue. Alvin, gue mencintai lo tulus, gu… gue nggak ngarep buat lo bales cinta gue, dan sekarang—“ Sivia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya,
            “kalo lo bener-bener mau bisa mencintai gue, lo harus belajar sendiri. Lo juga musti tau, bahwa Cinta itu datang atas kemauannya sendiri, nggak bisa dipaksa, dan saat ini gue Cuma butuh waktu buat sendiri, gue mau sembuhin luka gue, itu aja…”
            “jadi nggak ada kesempatan kedua buat gue?” Tanya Alvin meyakinkan.
            Dengan sangat menyesal Sivia menggelengkan kepalanya,
            “untuk saat ini nggak ada, Vin”
            “kalau suatu saat nanti?”
            “maybe…” jawab Sivia singkat. Alvin tersenyum lalu menarik Gadis itu kedalam pelukannya.

            “gue akan belajar mencintai lo Sivia, gue akan belajar sendiri seperti apa yang lo mau…” kata Alvin penuh kesungguhan.

            “dan kalo lo udah bener-bener bisa mencintai gue dengan sepenuh hati lo, datenglah ke gue, Alvin…”
            “pasti” jawab Alvin dengan yakin lalu mengecup puncak kepala Sivia.

            Pricilla telah pergi, cinta dihati Alvin padanyapun juga ikut pergi… pergi sejauh mungkin, menghilang dan lenyap bersama semua kenangan itu, kenangan yang kelamaan mulai memudar tertelan waktu yang bergulir.



****

Jakarta, 2013

            Sivia langsung membuyarkan lamunan panjangnya ketika seseorang meletakkan satu kantong plastic berisi makanan cepat saji diatas meja yang ada dihadapan Sivia. Sivia terkesiap lalu mendongak.
            “kamu pasti capek dari tadi pagi nggak istirahat-istirahat, dan aku tau kamu pasti belom makan malam, makanya aku bawa makanan buat kamu, dimakan ya?” ujar Cakka penuh perhatian lalu duduk dihadapan Sivia.
            Sivia tersenyum. Cakka ini memang teman yang paling pengertian, ia selalu tau kapan waktunya Sivia harus makan. Cakka memang rajin sekali datang ke studio untuk sekedar menjemput atau mengantar Sivia, tidak jarang juga Cakka sering menunggu hingga berjam-jam ketika Sivia sedang melakukan siaran. Sivia bahagia bisa memiliki sahabat sebaik dan seperhatian Cakka. Ah… andai saja Alvin seperti Cakka.
            “gimana perkembangan Skripsi nya, Kak?” Tanya Sivia pada Cakka. Mendengar pertanyaan yang Sivia lontarkan, Cakka langsung berdecak kecil,
            “nggak usah bahas Skripsi dulu, bikin tambah mumet tau nggak? Sekarang mendingan—“ Cakka meraih  kantong plastic tadi, membukanya lalu mengambil satu kotak makanan berisi nasi serta fried chiken untuk Sivia, “kamu makan dulu!” lanjut Cakka seraya menjulurkan sekotak makanan cepat saji itu dihadapan Sivia.
            Sivia tersenyum manis lalu menerima makanan pemberian Cakka,
            “makasih ya, Kak? Kakak juga makan dong!”
            “tadi aku udah makan kok” jawab Cakka seadanya.
            Sivia hanya menangguk lalu mulai menyantap makanan yang sudah Cakka bawakan khusus untuknya kestudio. Tanpa Sivia tahu, Cakka terus saja menatapnya yang ketika itu tengah lahap menyantap makanannya.
            “Oya, Kak, minggu depan Alvin sama Om dan Tante udah pulang lho”
            Cakka langsung membuyarkan keterpanaannya. Mendengar Sivia membawa-bawa naman Alvin serta Mami dan Papinya mendadak air muka Cakka berubah keruh.
            “terus?” Tanya Cakka dingin,
            “teruuusss….. Kakak nggak bakalan sendiri lagi deh dirumah” jawab Sivia dengan mulut penuh. Cakka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sivia yang sudah seperti anak kecil.
            Cakka mengambil sapu tangan yang ada dalam kantong jaketnya, tidak lama tangan kanan Cakka pun bergerak perlahan lalu mengusap saus yang mengotori tepi bibir Sivia.
            “makannya pelan-pelan aja, Vi. Nggak ada yang ngejer kok” tegur Cakka. Sivia langsung nyengir lebar,
            “Hehehehe….”
            “seneng dong bentar lagi Alvin bakalan pulang” ujar Cakka dengan nada sedikit sinis. Mendengar ucapan Cakka tersebut, Sivia langsung batuk-batuk karna tersedak. Cakkapun buru-buru mengambil sebotol air mineral yang sudah ia siapkan untuk Sivia lalu menjulurkannya dihadapan Sivia,
            “minum dulu, Vi…” Sivia mengusap-ngusap dadanya lalu menerima minuman pemberian Cakka. Beberapa saat setelah Sivia selesai minum…
            “aku seneng Alvin pulang kalo dia bawa oleh-oleh, tapi kalo nggak… emmm aku kasih bogem mentah buat dia” kata Sivia sambil mengepalkan tangannya.
            Cakka terkekeh geli ketika melihat tingkah Sivia itu. Semenjak kehadiran Sivia dalam hidupnya, Cakka memang banyak berubah. Bahkan dulu, Cakka yang nyaris tidak pernah tersenyum akhirnya bisa tersenyum kembali setelah kehadiran Sivia dalam hidupnya.
            Meski belum terlalu berhasil mencairkan sikap dingin Cakka sepenuhnya, Sivia tetap merasa bersyukur karna bisa memberikan perubahan yang lumayan berarti dalam hidup Cakka. Untuk kedepannya Sivia berharap, Cakka akan mengubah sikap dinginnya pada Alvin juga pada kedua orang tuanya. Ya… Sivia selalu berharap dengan itu. Entah kapan, Sivia akan tetap menunggu.
            “Kak Cakka….” Panggil Sivia pelan,
            “hmmm…”
            “Kak Cakka ganteng deh kalo lagi ketawa” puji Sivia lalu kembali melanjutkan aktifitas makannya yang sempat terhenti sejenak. Sekali lagi Cakka tersenyum.
            “Via…”
            “Iya Kakak?”
            “I Love you…” kata Cakka pelan tanpa basa basi apapun.
            Sivia hanya terdiam dan lebih memilih untuk tidak menanggapi ucapan Cakka. Itu bukan yang pertama kalinya Cakka menyatakan perasaannya secara terang-terangan dihadapan Sivia, dan kelamaan Sivia mulai membiasakan diri dengan hal itu. Cakka pun tidak pernah sekalipun protes dengan sikap Sivia yang terkesan acuh. Cakka tidak terlalu menuntut jawaban dari Sivia, cukuplah bagi Cakka menyatakan perasaannya pada Sivia, dan Sivia tahu, itu sudah lebih dari cukup bagi Cakka.
            Sedangkan Sivia, ia sama sekali tidak memiliki niat untuk menggantung Cakka. Hanya saja Sivia bingung harus bagaimana dengan perasaan Cakka. Jika Sivia menolak, takutnya Cakka akan kembali berubah seperti pertama kali ia mengenalnya dulu, Sivia juga takut membuat Cakka kecewa. Tapi kalau Sivia menerimanya, itu sama saja artinya Sivia akan menyakiti Cakka untuk kedepannya. Sivia hanya menganggap Cakka sebagai Kakak, dan tidak pernah lebih dari itu. Dan Sivia juga tidak mau membohongi perasaannya saat ini. Ia masih sangat mencintai Alvin hingga detik ini, dan ia tidak mau hanya menjadikan Cakka sebagai pelampiasannya saja. Tidak, Sivia tidak sejahat itu.


****

Satu Minggu Kemudian…


            30 menit sebelum kedatangan Alvin dirumah Shilla, Ify dan Shilla terlihat sibuk mondar-mandir menyiapkan segala sesuatu yang ia perlukan ketika menyambut kedatangan Alvin nanti. Sementara Rio dan Sivia, mereka berdua duduk dengan santainya diruang TV Shilla seraya menonton Film Spongebob yang merupakan Film animasi favorit mereka berdua.
            Rio dan Sivia tetap focus dengan TV yang ada didepan mereka meskipun berkali-kali Ify dan Shilla mengomel karna kehadiran mereka tidak membantu apapun. Shilla yang sudah hilang kesabarannyapun berdiri didepan TV dan menghalangi pandangan Rio dan Sivia,
            “Shilla minggir, Shill… Filmnya lagi seru ini…” kata Rio.
            “Iya, Shill… becanda lo jelek ah” timpal Sivia yang tidak kalah cueknya dari Rio.
            “Heh, sebentar lagi Alvin dateng, kenapa kalian berdua malah santé-sante aja disini nonton TV? Bantuin kek…” omel Shilla yang sudah benar-benar kesal.
            “Ck… emang Alvin siapa sih pake disambut segala? Presiden juga bukan” ucap Rio yang tidak mau ambil pusing.
            “ya udah, awas aja nanti kalo lo minta oleh-oleh sama Alvin”
            “emang yakin Si Alvin bakalan pulang bawa oleh-oleh?” mendengar pertanyaan Rio, Shilla Cuma menggeleng,
            “oleh-olehnya ambil deh buat lo, gue nggak butuh” kata Rio cuek.

Tiba-tiba saja….

            “AAAAA….. ALVIIINNNNNN….” Teriak Ify histeris dari arah pintu. Rio, Sivia, dan Shilla dengan serempak langsung menoleh kearah pintu ketika mendengarkan suara teriakan Ify.
            Rio dan Shilla saling menatap sejenak, tidak lama kedua mata mereka sama-sama melebar. Lalu….
            “ALVIIIINNNNNNNN….” Teriak Rio dan Shilla berbarengan lalu berlari kearah pintu. Sementara Sivia, ia malah lebih memilih diam ditempat. Dan dengan cueknya, Sivia kembali menonton TV sendiri.
            “Hahahaha… apa kabar lo, Bro?” Rio berjalan kearah Alvin lalu memeluk Sahabatnya itu. Sebulan tidak bertemu dengan Alvin cukup membuat Rio merasa kangen.
            “baiklah, lo sendiri? Terus cewek-cewek lo gimana? Hahaha…” Tanya Alvin sedikit bergurau.
            “tau ah, gue males ngurus mereka semua” jawab Rio asal.
            “eh, Alvin, lo bawa oleh-oleh kan buat kita semua?” Tanya Shilla tiba-tiba. Rio langsung berdecak kesal dan menampakkan raut wajah tidak habis fikir ketika mendengarkan pertanyaan Shilla itu.
            “oleh-oleh mulu yang ada diotak lo”
            “tau nih Shilla….” Timpal Ify.
            “beeehhh… kayak kalian nggak aja” ujar Shilla sewot.
            Alvin mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk mencari satu sosok yang selama ini paling ia rindukan –Sivia- .  Tapi hingga beberapa lama, Sivia tidak juga menampakkan batang hidungnya, kemana Si Cerewet itu?
            “Via mana?” Tanya Alvin entah pada siapapun yang mau menjawab pertanyaannya.
            “lagi nonton Spongebob diruang TV” Jawab Shilla sekenanya.
            Alvin tersenyum lebar lalu nyelonong begitu saja memasuki rumah Shilla sebelum Sang Tuang Rumah mempersilahkannya untuk masuk. Alvin berjalan kearah ruang TV untuk mencari Sivia.
            “Ternyata Spongebob lebih menarik ya dari gue?” Tanya Alvin yang tahu-tahu sudah duduk disebelah Sivia.
            Sivia yang kaget langsung saja menoleh kearah Alvin,
            “oh? Elo? Udah pulang? Selamat datang…” kata Sivia datar lalu kembali mengalihkan perhatiannya kearah pintu. Alvin tersenyum jahil lalu bergeser lebih mendekat kearah Sivia,
            “lo nggak kangen sama gue?”
            “ngapain kangen sama lo? Gue nggak sekurang kerjaan itu ya?” jawab Sivia gengsi. Alvin mengagguk sok paham beberapa kali,
            “iya deh yang ngakunya DJ paling kece sedunia, tapi tunggu dulu…” ucap Alvin yang baru menyadari sesuatu.
            Alvin baru sadar, bahwa Rambut Sivia yang sebulan lalu masih panjang sekarang malah pendek jadi sebahu. Alvin menampakkan raut wajah pura-pura shock,
            “ya ampuunnnnn Via rambut panjang lo kemana?”
            “Ck…. Biasa aja kali, nggak usah lebay” jawab Sivia cuek tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari TV.
            “Tapi gue suka model rambut lo, cantik….” Puji Alvin sungguh-sungguh.
            “duit receh gue abis, Pin, jadi sorry….” Timpal Sivia dengan ekspresi yang masih datar-datar saja.
            Merasa bosan karna Sivia terus-terusan cuek, Alvinpun merenggut remote TV yang ada ditangan Sivia lalu mematikan TV yang sejak menjadi titik focus Sivia. Sivia mengerang, ia hampir-hampir mau menerjang Alvin saking kesalnya. Alvin menatap Sivia dengan wajahn tanpa dosanya,
            “mau marah? Ayo marah…” tantang Alvin.
            Sivia menghela nafas panjang. Ia meraih tas nya yang ada diatas meja lantas berkata pada Alvin,
            “gue nggak mau marah, tapi gue mau pulang”
            “silahkan” ujar Alvin mempersilahkan. Sivia pun bangkit dari sofa lalu berjalan hendak keluar dari rumah Shilla.
            Tapi sebelum Sivia keluar dari ruang TV, Ify dan Shilla buru-buru menghalangi langkahnya.
            “Heh mau kemana lo?” Tanya Ify dan Shilla berbarengan,
            “pake nanya lagi lo, ya mau pulang lah”
            “enak aja lo maen-maen pulang. Acara belom dimulai lo malah mau pulang” ucap Ify keki.
            “tau nih, semalem aja lo bilang lo kangen sama Alvin, sekarang giliran Alvin udah ada didepan mata lo malah lo cuekin, nanti nyesel lho…”
            “iiiii…. Fitnah sekali! Gue nggak pernah ya bilang kalo gue kangen sama Si Alvin… ishhh…” kesal Sivia yang merasa tidak terima dengan ucapan Shilla.
            “sudah, sudah… nggak usah dibahas lagi” Alvin berusaha melerai sebelum pertengkaran itu mulai meruncing, “sekarang waktunya kita bagi oleh-oleh….” Lanjut Alvin ketika melihat Rio yang saat itu memasuki ruang TV dengan membawa beberapa paper bag besar yang sebenarnya merupakan barang bawaan Alvin.
            Rio meletakkan beberapa paper bag itu diatas meja. Dengan bengisnya, Rio, Ify dan Shilla mulai membongkar paper bag itu. Sivia hanya diam ditempat sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
            “Via” panggil Alvin tiba-tiba. Sivia menoleh dengan malas kearah Alvin.
            Tanpa komando apa-apa Alvin langsung melemparkan sebuah kado kecil kearah Sivia. Dengan sigap Sivia langsung menangkap kado itu. Dasar Alvin! Tidak ada cara yang lebih manis lagi apa dari ini? Dumel Sivia dalam hati.
            “itu oleh-oleh buat lo! Dibuka gih” suruh Alvin.
            Sivia yang tidak mau ambil pusing lagi akhirnya membuka kado pemberian Alvin. Dan Sivia langsung tertawa sinis ketika melihat isi dalam kado itu. Ternyata isinya adalah sebuah Miniatur Helikopter. Haha… apa Pria itu bercanda memberikan Sivia oleh-oleh miniature helicopter?
            Sivia menganmbil miniature helicopter itu lalu menjulurkannya didepan wajahnya,
            “hahaha…. HADIAHNYA LUCU SEKALI!! APA NGGAK ADA YANG LEBIH LUCU LAGI DARI INI??” Ujar Sivia penuh tekanan. Rio, Ify dan Shilla hanya bisa menahan tawa mereka ketika melihat ekspresi Sivia yang benar-benar sangat lucu.
            Alvin tersenyum simpul lantas berkata,
           

            “gue akan tepatin janji gue ke elo. Gue akan bawa lo terbang menyentuh awan, dan setelah itu gue akan tagih janji lo 2 tahun yang lalu… tentu lo masih inget kan sama janji lo, Sivia Azizah…??”

            Sivia diam berfikir, entah kenapa tiba-tiba saja fikirannya tertuju pada Cakka…



                        BERSAMBUNG…




0 comments:

Post a Comment