Friday, July 19, 2013

0

~CINTA PUTIH~ (Cerpen AlVia: Ala Suka Suka Mimy)




“Cinta ini benar-benar membunhku secara perlahan….
Mungkin dengan kepergianku, akan membuatmu lebih bahagia,
Aku telah letih,
Aku telah lelah,
Aku ingin istirahat sejenak, biarkan aku pergi,
Jangan kau tahan aku disisimu lagi…..”


        “Viaaaa…..MAAFIN AKU, AKU NYESEL, AKU BENER-BENER MINTA MAAF…VIAAA….” Teriak Alvin padaku yang waktu itu sedang berada diambang kematian. Aku melihat mata indah itu meneteskan air mata, aku melihat mata indah yang dulu pernah memancarkan binar cinta untukku meneteskan air mata. Tuhaan…. Kenapa kau biarkan aku menyakitinya? Kenapa kau biarkan aku membuat lelaki yang paling aku cintai sedih hingga meneteskan air mata? Biarkan dia tersenyum Tuhan.
            Tangan lemahku yang bersimbah darah secara perlahan aku angkat berusaha memegang wajah Alvin. Kali ini telapak tanganku sudah ada diwajah Alvin, aku membelai pelan wajah Alvin dengan sisa-sisa kekuatan yang aku miliki, aku tersenyum, air mata Alvin semakin deras menetes,
            “ka..kamu gak salah Vin, a..aku yang salah, a…aku yang gak pengertian sa..sama ka..mu selama ini…. Ka…kamu hanya jatuh cinta, dan ci…cinta gak pernah salah, gak pe..pernah Vin….” Ucapku semakin lemah, orang-orang semakin banyak yang berkumpul. Alvin meraih tanganku yang ada diwajahnya lalu menciumnya berkali-kali.
            “aku cinta sama kamu Vi, Cuma kamu yang aku cinta, jangan pergi sekarang! Jangan pergi sebelum aku menebus semua kesalahanku sama kamu, jangaann….” Pinta Alvin dengan nada memohon seraya menggelengkan kepalanya, sekali lagi aku tersenyum,
            “cinta kita memang cukup sampai disini Vin, ca…cari seorang cewek yang jauh lebih segalanya dari aku, se..lamanya aku ci..cinta sama ka..kamu, se..sekarang aku Cuma mau i..istirahat aja….” Kondisi ku semakin melemah, malaikat utusan Tuhan semakin mendekat denganku, tangannya telah terulur, dan akupun sudah siap meraih tangan itu. Tapi sebelum aku benar-benar pergi, ingatanku pun kembali kemasa lalu,


Flash Back Sivia:

            “udah deh Vi,kamu masih biskan pergi sendiri, sekarang aku lagi ada urusan yang bener-bener gak bisa aku tinggalin, kamu pergi sendiri aja ya…?” ucap Alvin padaku dengan wajah yang kebingungan, aku tersenyum, aku meraih tangan Alvin lantas berkata,
            “tapi ini ultah Mama aku Vin, Mama pengen aku dateng sama kamu, sekaliii aja Vin apa gak bisa??” Tanyaku dengan lembut. Tapi apa yang Alvin lakukan, ia malah menarik tangannya dengan kasar dari genggamanku, tak cukup sampai disitu Alvin membentakku,
            “kamu jangan manja deh Vi jadi cewek, aku udah bilang berkali-kali bahkan berpuluh-puluh kali sama kamu, AKU BELUM SIEP KETEMU SAMA MAMA KAMU, kamu gak bisa dong paksa-paksa aku…”
            “tapi Mama Cuma kenalan Vin, gak lebih, Mama pengen ketemu sama kamu….”
            “aku bilang aku gak mau! Sekarang aku lagi ada urusan, jadi, aku harus pergi sekarang! Sampein aja salam aku sama Mama kamu, lain kali aku pasti akan nemuin Mama….” Alvinpun mencium puncak kepalaku lantas pergi begitu saja.
            Perlahan air mataku menetes. Aku berfikir keras selama setahun terakhir ini, sebenarnya apa yang membuat Alvinku berubah menjadi sosok yang tak pernah aku kenal sebelumnya?
            4 tahun begitu dekat dengannya, aku merasa Alvin benar-benar menyayangiku, tapi setahun yang lalu tiba-tiba saja Alvin berubah tanpa aku tahu penyebabnya. Alvin selalu membentakku tak lagi memanjakanku seperti dulu, Alvin selalu membuat aku menangis tak lagi membahagikan aku seperti dulu, Alvin selalu memberikan aku luka tak lagi memberikan aku kejutan-kejutan indah seperti yang dulu.
            Setiap apa yang aku katakan selalu salah disisi Alvin, dan setiap apa yang aku lakukan selalu salah baginya. Aku merasa benar-benar hina dihadapan Alvin, tak ada sedikitpun celah kebaikanku dimata Alvin.
            Setahun aku berusaha mati-matian menahan luka yang selalu Alvin toreh hampir setiap hari, setahun aku terus berusaha berpura-pura tegar dihadapan Alvin, tak menunjukan setitikpun kelemahanku, tapi hati Alvin tetap saja membatu. Aku pernah berfikir untuk mundur saja dari kehidupan Alvin, tapi cinta yang terlampau besar ini telah menahanku, karna nyatanya, aku tak bisa mundur selangkahpun dari kehidupan Alvin, aku tak bisa hidup tanpa Alvin.
            Alvin adalah nafasku, dia adalah orang pertama yang aku ingat ketika aku baru terbangun dari tidurku setiap harinya. Alvin adalah detak jantungku, Alvin adalah  denyut nadiku, lalu sekarang bagaimana bisa aku benar-benar mundur dari sisinya?
            Jika memang dengan melukaiku Alvin bisa bahagia, maka aku rela dia melukaiku semaunya, tak ada yang lebih penting bagiku selain kebahagiaan Alvin dan senyum yang selalu terpancar dari wajah tampannya.

            “lo gak bisa Vi terus-terusan kaya’ gini, lo harus tegas! Apa lo tahan dengan sikap Alvin sama lo selama ini? Cukup setahun Vi….” Ucap Ify padaku saat aku dan Ify tengah berada dikamarku. Aku tersenyum lalu menggeleng secara perlahan.
            “baru setahun Ify! Baru setahun Alvin nyakitin gue, dan apa lo tau, sisanya yang 3 tahun itu Alvin habiskan untuk membahagikan gue, dan sekarang bagaimana bisa gue ninggalin dia…?”
            “tapi Vi….”
            “gue bener-bener cinta sama Alvin! Gue percaya Alvin punya alasan yang gak bisa dia certain tentang perubahannya, gue juga yakin Alvin punya pembelaan atas apa yang dia lakukan sama gue selama setahun ini, gue percaya sama Alvin, apapun yang dia lakukan gue percaya itu semua untuk kebaikan kita….”
            “kebaikan apa Via…? Lo fikir dengan dia nyakitin lo selama setahun ini itu adalah kebaikan? Udah gila kali ya lo….?”
            “gue emang udah gila, dan itu karna rasa cinta gue sama Alvin….terserah orang mau bilang apa aja, gue gak peduli, yang gue tau, gue cinta sama Alvin, gue gak bisa hidup tanpa Alvin…”
            Ify tak lagi mengeluarkan sepatah kalimatpun. Mungkin Ify tak habis fikir dengan jalan fikiranku, dan Ify memang takkan habis fikir, karna aku sendiripun tak habis fikir dengan diriku sendiri.


Alvinpun menghianati Cinta Putih itu…..


“Khianati….sebisa dirimu menghianati…..
Karna kupastikan kelak kau mohon aku
Tuk kembali padamu lagi…..”

        Dadaku seperti terhantam oleh sebuah benda berduri, begitu sakit, begitu sesak kurasa saat aku mendapati Alvin, lelaki yang paling aku cintai dan yang selalu aku bela mati-matian dihadapan teman-temanku berselingkuh dengan Shilla. Saudara sepupuku sendiri.
            Pagi tadi aku minta Alvin untuk mengantarkan aku belanja dimall, tapi Alvin beralasan bahwa pagi itu ia harus menemani Mamanya arisan. Aku terima alasan Alvin, karna aku sangat mempercayainya. Tapi apa yang Alvin lakukan? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri jalan berdua dan terlihat sangat mesra dengan Shilla.
            Pemandangan itu begitu menyesakkanku, ternyata ini yang membuat Alvin berubah? Dia jatuh cinta lagi disaat aku sangat mencintainya. Tapi kenapa Alvin tak pernah mau jujur? Jika saja dia jujur, mungkin aku akan melepaskannya dengan ikhlas, tapi sekarang… Alvin benar-benar tega, aku tak menyangka dia akan setega ini padaku, padaku yang selalu sabar menghadapinya selama ini, padaku yang selalu tegar menerima semua perlakuan tidak mengenakkannya, padaku yang sangat mencintainya melebihi nyawaku sendiri.
            “Vi…Via….??” Ucap Alvin tak percaya saat melihat aku dihadapannya. Dengan perlahan Shilla melepaskan gandengannya dari Alvin. Aku menggeleng berkali-kali, berusaha untuk tidak menangis, dan berusaha untuk tersenyum,
            “jadi karna ini Vin….? Karna ini kamu berubah? Apa salah aku begitu besar, hingga kamu menghukum aku seperti ini? Apa aku yang keterlaluan….??” Tanyaku bertubi-tubi dihadapan Alvin. Alvin menggeleng berkali-kali, dan aku menangkap raut penyesalan yang teramat sangat diwajahnya.
            “gak Vi….” Lirih Alvin, sekali lagi aku tersenyum,
            “aku minta maaf Vin, bener-bener minta maaf, aku minta maaf karna mungkin selama ini bukan kamu yang nyaikitin aku tapi aku yang udah nyakitin kamu hingga membuat kamu berpaling, aku yang salah, aku yang udah gak pengertian sama kamu….”
            “gak Vi…” lirih Alvin lagi, kali ini dengan nada sedikit bergetar,
            “mungkin selama setahun ini, aku udah cukup tegar menghadapi kamu, tapi hari ini aku nyerah Vin, aku nyerah bukan karna kamu menghianati aku, tapi aku nyerah karna aku ikhlas ngelepas kamu buat Shilla, mungkin Shilla lebih bisa ngebahagiain kamu dari pada aku, aku ikhlas Vin, demi Tuhan aku ikhlas….” Kali ini aku menatap Shilla yang saat itu hanya bisa menunduk, aku meraih tangan Shilla lantas berkata,
            “jaga Alvin baik-baik ya Shill…..?”
            “maafin gue Vi, gue…..”
            “udah, gak usah minta maaf, lo gak salah, gue yang salah…..” akupun menyatukan tangan Alvin dan Shilla lantas pergi dari tempat itu.

            Beberapa saat setelah kepergianku, Alvin melepaskan tangan Shilla, dengan isakkannya yang tak kuasa ia tahan lagi, Alvin berkata pada Shilla,
            “gue mencintai Sivia, gue gak mau kehilangan Sivia….” Alvinpun menyusulku keluar.

            Batas kesanggupan telah cukup sampai disini, aku bukan malaikat yang tak pernah kehabisan rasa sabar, aku hanya manusia biasa. Air mataku telah kering, lukaku sudah terlalu banyak, dan rasa sakit ini sudah tak bisa aku tahan lagi. Sekarang alasan apalagi yang membuat aku harus tetap mempertahankan Alvin? Toh Alvin tidak lagi mencintaiku, bukankah cinta yang sesungguhnya itu adalah saat kita bahagia melihat orang yang kita cinta bahagia bersama orang yang ia cintai juga, maka akupun menyerah, hari ini aku telah kalah.
            Tak ada dendam sedikitpun dihatiku untuk Alvin, karna nyatanya rasa benci ini tak pernah bisa mengalahkan rasa cintaku yang teramat sangat besar untuk Alvin. Aku mencintainya, hanya itu yang aku tahu.
            “VIA TUNGGUUUU…..” suara teriakan Alvin itu membuat langkahku terhenti, dari sebrang jalan Alvin berteriak sekencang-kencangnya,
            “AKU MINTA MAAF VI, AKU EMANG SALAH, AKU EMANG BRENGSEK, TAPI ASAL KAMU TAU, AKU CUMA MENCINTAI KAMU VI, BUKAN YANG LAINNYA…..” aku tersenyum. Apa benar yang aku dengar baru saja?
            Tapi sungguh, detik ini aku telah letih, aku telah lelah, aku benar-benar ingin istirahat, mungkin dengan kepergianku Alvin bisa lebih bahagia. Aku berbalik lalu menatap Alvin yang waktu telah berlinang air mata,
            “AKU BILANG KAMU GAK SALAH, AKU YANG SALAH….DAN AKU UDAH MAAFIN KAMU, BAHKAN SEBELUM MATA AKU BERKEDIP, AKU UDAH MAAFIN KAMU….” Aku berteriak seperti Alvin dari pinggir jalan.
            “KALO GITU KEMBALILAH VI, KEMBALILAH SAMA AKU….” Pinta Alvin seraya mengulurkan tangannya. Aku menggeleng, aku belum bisa kembali pada Alvin setelah apa yang ia lakukan padaku hari ini, aku butuh waktu, setidaknya sampai lukaku ini bisa sedikit mengering dan sembuh dari sakitnya, meski aku tak pernah tahu kapan hal itu akan terjadi.

Keinginan tak sejalan dengan kenyataan ini…..

            “JUJUR, AKU MASIH SANGAT MENCINTAI KAMU, TAPI AKU BELUM BISA VIN KEMBALI SAMA KAMU, AKU BUTUH WAKTU, AKU BUTUH WAKTU…..”
            “FINE SIVIA AZIZAH, KALO KAMU GAK MAU KEMBALI SAMA AKU, MAKA DETIK INI JUGA AKU AKAN MATI, AKU BUKAN APA-APA TANPA KAMU…..”
            Aku mengira bahwa itu hanyalah gertakan dari Alvin saja, namun ternyata aku salah, karna untuk beberapa saat kemudian, Alvin terlihat berjalan ketengah jalan, ia merentangkan kedua tangannya ditengah jalan dan telah siap mengakhiri hidupnya. Aku menggeleng berkali-kali, Alvin tak perlu sampai melakukan tindakan bodoh itu hanya supaya aku mau kembali lagi padanya.
            Kali ini perhatianku tertuju pada sebuah truk yang waktu itu melaju dengan kecepatan tinggi. Aku menatap Alvin seraya menggelengkan kepala,
            “DETIK INI JUGA, AKU MENGAKHIRI HIDUP AKU, DAN INILAH CINTAKU SAMA KAMU VI, INILAH AKU YANG GAK PERNAH BISA HIDUP TANPA KAMU….”
            “Alvin, kamu jangan bodoh, hik..hik….”
            Truk itu sudah membunyikan klakson berkali-kali, tapi Alvin tetap tak mau minggir juga. Aku memejamkan mataku sejenak lalu berlari kearah Alvin. Aku mendorong tubuh Alvin hingga kepinggir jalan, belum sempat aku menyelamatkan diri, truk itu sudah menabrakku, tubuhku terpental hingga beberapa meter. Alvin langsung beteriak sekencang-kencangnya,
            “SIVIAAAAAAAA………!!!!!”


Flash back off~

            “se..selamat tinggal Vin…terimakasih untuk se…semua cinta yang kamu beri selama ini, da..dan ma..maaf, ka…karna a..aku gak pe..pernah bi…bisa jadi yang te..terbaik buat kamu….”
            Nyawaku sudah seperti berada ditenggorokanku, secara perlahan tanganku menyambut uluran tangan malaikat kiriman dari Tuhan. Akupun pergi meninggalkan dunia fana ini bersama semua cintaku pada Alvin. Kelak akan Alvin dapatkan seseorang yang benar-benar mencintainya dan yang benar-benar bisa membahagiakannya. Mungkin aku bukan yang terbaik buat Alvin, aku sadari itu.

            “SIVIAAAA….JANGAN TINGGALIN AKUUUU……” teriak Alvin sekencang-kencangnya, tapi percuma, karna malaikat maut kiriman Tuhan telah membawa aku pergi sejauh mungkin, telah membawa aku pergi kesuatu tempat yang abadi, suatu tampat dimana akal fikiran manusia tak bisa menjangkaunya. Aku telah mati, takkan kembali lagi! Tapi cinta ini akan selalu ada untuk Alvin.


“Cinta ini akan selalu ada, dan akan tetap ada untukmu, tak peduli meski ruang dan waktu telah memisahkan kita, cintaku akan tetap hidup tak pernah mati…. Kenangan bersamamu akan aku bawa, wajah jerinh mu akan selalu aku kenang hingga kelak Tuhan akan mempertemukan kita kembali didepan pintu surga….inilah cinta putihku untukmu, cinta putih yang selamanya akan tetap abadi, inilah goresan takdir yang mengiringi cinta putih kita….”



“Jangan pernah sekalipun menyia-nyikan seseorang yang benar-benar mencintaimu, karna kelak akan kau rasakan bagaimana besarnya cintamu padanya setelah ia benar-benar pergi dan tak kembali lagi, saat itu penyesalan sudah tidak berguna lagi, dan semua cintamu telah sia-sia…..” 



                                                The End….

0 comments:

Post a Comment