Beberapa saat setelah kepergian
Sivia, Alvin langsung saja mendorong pelan tubuh Pricilla hingga terlepas dari
pelukannya. Alvin menatap Pricilla dengan seringainya yang cukup tajam. Jika
tadi Alvin terheran-heran karna kehadiran Pricilla yang secara mendadak ini,
maka sekarang reaksi Alvin berubah drastic. Sejak kepergian Pricilla 2 tahun
yang lalu tanpa alasan yang jelas, sejak saat itulah Alvin tidak pernah lagi
menginginkan kehadiran Pricilla untuk kembali kehidupnya lagi. Semuanya sudah
berubah, sudah tidak sama seperti dulu lagi.
“Alvin, ini aku Pricill, Pricill
kamu, aku sekarang udah kembali, aku nggak akan kemana-mana lagi, Sayang”
Pricilla mengangkat salah satu tangannya lalu menyentuh pipi Alvin dengan
lembut.
Hangat, itulah perasaan yang Alvin
rasakan ketika tangan Pricilla menyentuh wajahnya. Sentuhan itu merupakan salah
satu bagian terpenting yang menghilang dari kehidupan Alvin selama 2 tahun
terakhir ini, sentuhan itu adalah sentuhan yang sangat Alvin –Alvin enggan
mengakui ini- rindukan.
Tapi biar bagaimanapun keadaannya
sekarang, Alvin tidak ingin terjatuh lagi kedalam pelukan Pricilla. Hatinya sudah
terlanjur sakit karna Gadis ini. Alvin tidak bisa memaafkannya dengan mudah.
“jangan panggil gue sayang lagi!”
desis Alvin sinis. Mendengar itu, Pricilla sedikit tersentak,
“Alvin tapi—“
“apa lo mau tau sesuatu? Sejak
kepergian lo tanpa alasan yang jelas 2 tahun yang lalu, gue nggak pernah lagi
menginginkan kehadiran lo dihidup gue, nggak pernah sekalipun”
“Alvin, masalah kepergian aku 2
tahun yang lalu aku masih bisa jelasin, aku punya penjelasan untuk itu… aku…
aku punya alasan”
“Alasan? Hahahahahaha” Alvin tertawa
miris, kedua matanya semakin tajam menatap kedua manik mata Pricilla, “alasan
lo bilang? Kenapa baru sekarang lo bilang lo punya alasan? Dulu lo pergi
seenaknya tanpa alasan yang jelas, dan sekarang lo kembali dengan alasan?? Are
you kidding, Agatha Pricilla??” sinis Alvin yang sudah benar-benar kalap.
“Alvin, please dengerin aku, aku
mohon” Pinta Pricilla benar-benar memohon. Kedua matanya mulai terlihat nanar
dan telah siap meneteskan air mata.
“kenapa gue harus dengerin lo?”
“Alvin, dari dulu sampe detik ini
perasaan aku nggak pernah berubah sama kamu, Vin, sedikitpun perasaan aku nggak
pernah berubah, hanya saja waktu itu aku terpaksa pergi, aku… aku—“
“BULSHIT!!!” Alvin berbalik lalu
melangkah pergi meninggalkan Pricilla. Dalam hati Alvin sudah memasang niat
untuk mengejar Sivia sebelum Gadis itu jauh dan salah paham dengannya.
Tapi mendadak Alvin merasakan kaki
sebelah kanannya terasa berat untuk digerakkan. Alvin merasa ada seseorang yang
menahan kakinya. Alvin berbalik lalu menunduk, saat itu ia langsung mendapati
Pricilla yang tengah bersujud di kakinya dengan linangan air mata yang
membanjiri wajah cantiknya.
“Alvin jangan pergi! Jangan pergi
setidaknya sampe aku ngejelasin semuanya ke kamu, aku mohon…”
Alvin terlihat sedikit luluh. Ia
kembali mengangkat wajahnya dan berusaha untuk tidak berbelas kasih pada Pricilla.
Mungkin jahat kedengarannya, tapi bukankah dulu Pricilla jauh lebih jahat dari
Alvin sekarang?
****
Sivia diam merenung sendiri didalam
kekamarnya sambil memegang kalung yang baru tadi siang Alvin pasangkan
dilehernya. Tadi saat mengantar Sivia pulang, sebenarnya Cakka ingin menemani
Sivia lebih lama lagi, tapi Sivia malah menolak dengan alasan ia ingin sendiri
dulu. Lalu dengan penuh pengertian, Cakka pun pulang meskipun sebenarnya ia
agak khawatir dengan keadaan Sivia.
Sivia tersenyum miris mendapati
dirinya nya sekarang. Ia begitu kasihan. Baru beberapa jam kebahagiaan itu bisa
ia raih, bisa ia genggam ditangannya, tapi sekarang kebahagiaan itu malah
terlepas begitu saja.
Sivia tidak perlu ragu dengan hati
Alvin saat ini. Sudah pasti Alvin akan lebih memilih Pricilla dari dirinya
sekarang. Sivia bodoh karna selama ini ia tidak
pernah sekalipun mempertanyakan tentang hati Alvin terhadap Pricilla.
Mungkin memang benar Alvin mencintainya, tapi rasa cinta yang Alvin berikan
padanya tentu saja hanya secuil dari perasaan cinta yang ia berikan pada
Pricilla. Dan semuanya belum seberapa. Pricilla tentu lebih unggul dihati
Alvin.
Flash
Back:
Helicopter itu perlahan
naik dan membawa kedua anak manusia ini terbang jauh, menyentuh awan seperti
apa yang mereka mau. Secara perlahan Sivia merebahkan kepalanya diatas pundak
Alvin.
“Vin”
“hmm?” sahut Alvin lembut,
“makasih ya?” ujar Sivia pelan. Alvin hanya mengangguk. Ia
mengangkat gumpalan tangannya yang menggenggam erat tangan Sivia lalu mengecupnya
lembut. Alvin melakukannya agak lama.
“gue Cuma mau nepatin janji gue,
Via, dan emang udah sepantesnya lo ngedapetin ini, lo berhak atas ini dan
atas—“ Alvin menggantungkan kalimatnya, ia terlihat sedikit ragu melanjutkan
perkataannya.
“dan atas apa?” tantang Sivia,
“atas seluruh hati dan hidup gue”
jawab Alvin mantap dengan penuh ketulusan didalamnya. Kembali Sivia hanya bisa
terdiam.
“Via…”
“hmm?”
Alvin memegang kedua pundak Sivia
lalu menatapnya lurus,
“dulu gue pernah ngelakuin kesalahan
besar dengan lebih memilih Pricill dan menyia-nyikan kesetiaan lo sama gue, dan
sekarang gue mau mengaku… gue nyesel, Via, gue janji sama lo, gue nggak akan
ngulang kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya, cukup sekali aja gue jadi
goblok karna udah jatuh diatas keindahan Pricill, gue nggak akan ngulang
kegoblokan gue itu lagi, Via, nggak akan pernah…”
“Via, sekarang gue udah bener-bener
bisa mencintai lo dengan sepenuh hati gue, bolehkan jika sekarang gue mau nagih
janji lo?”
~
“jadi
intinya lo cemburu??” simpul Sivia yang sekaligus ingin mengalihkan topic.
Entahlah, ia hanya merasa belum terlalu yakin dengan Alvin, dan ia masih perlu
diyakinkan.
“iya gue cemburu. Dan sekarang bisa
lo jawab pertanyaan gue tadi? Bisa lo nerima gue sekarang juga?” jawab Alvin
dengan tegas. Sepertinya dari pertama ia sudah tahu kalau Sivia hanya ingin
mengalihkan topic saja.
“Vin, tap… tapi—“ Sivia mulai merasa
terpojokan, dan Sivia benci keadaan ini.
“lo nggak bisa kan, Via… lo nggak
bisa! Lo emang udah nggak cinta lagi sama gue, dan emang bener kalo lo suka
sama Kak Cakka, hahaa…” Alvin tertawa miris dan membuang tatapannya kedepan.
Sivia memejamkan matanya sejenak.
Mendadak ia ingin melakukan itu untuk meyakinkan Alvin. Apapun resikonya, Sivia
harus tetap melakukan hal itu, hal yang selama ini mungkin Alvin inginkan
darinya.
Sivia menghela nafas panjang, ia
membuka matanya lalu menarik lengan Alvin hingga mereka kembali berhadapan satu
sama lain. Alvin menatap Sivia dengan tatapan bingung. Beberapa saat kemudian
Sivia memegang tengkuk Alvin lalu menariknya dalam satu gerakan cepat. semuanya
terjadi begitu saja, Sivia telah memejamkan matanya. Sementara Alvin, kedua
matanya membelalak lebar, sulit ia percaya bahwa Sivia akan melakukan hal itu
padanya, Sivia mengecup bibirnya dengan lembut.
3 detik kemudian Sivia menjauhkan
wajahnya dari Alvin, tapi tangan kanannya masih memegangi tengkuk Pria itu.
Sivia memejamkan matanya lalu menunduk dalam.
“Vi… Via?” panggil Alvin pelan,
“apa itu cukup membuat lo yakin kalo
gue Cuma mencintai lo?” Tanya Sivia dalam sebuah bisikan pelan, bahkan sangat
pelan.
Alvin tidak mampu berucap lagi.
Mulutnya seakan terkunci rapat, dan tenggorokannya seakan tercekat. Kini Alvin
tidak perlu lagi meragukan perasaan Sivia. Kecupan yang begitu hangat dan penuh
cinta itu sudah cukup membuat Alvin meyakini hati Sivia. Dalam hati Alvin
berjanji tidak akan meragukan perasaan Sivia lagi, tidak akan pernah.
Alvin mendekatkan keningnya dengan
kening Sivia. Sementara tangan kanan Sivia masih betah memegangi tengkuk Alvin.
Alvin menatap mata Sivia yang terpejam lalu menggeleng pelan,
“maafin gue…” lirih Alvin pelan.
Alvin meraih tangan Sivia yang memegangi tengkuknya, ia menggenggam erat tangan
mungil itu lalu mengecupnya dengan lembut. Alvin melakukannya agak lama.
“maafin gue…” lirih Alvin sekali
lagi. Alvinpun merengkuh tubuh Sivia dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
“mulai sekarang gue hanya akan
menunggu tanpa banyak bicara lagi, gue akan nungguin lo sampe lo siep, gue
nggak akan banyak omong lagi, nggak akan banyak omong lagi…”
~
Setelah
menyelesaikan beberapa bait lagu itu, Alvin pun melepaskan gitarnya lalu meraih
tangan Sivia dan menggenggamnya erat. Beberapa saat kemudian, Alvin mengecup
punggung tangan Sivia,
“gue nggak akan ngulang kesalahan
yang sama lagi, Vi… saat ini Cuma ada lo dihati gue, dan gue berharap lo bisa
yakin sama perasaan gue” kata Alvin sungguh-sungguh. Sivia bungkam, ia tidak
tahu bagaimana harus membalas perkataan Alvin.
~
“Alvin??”
Alvin tersenyum,
“kalung ini sekarang udah jadi milik
kamu, kamu yang berhak atas kalung ini, juga atas….” Alvin meraih tangan Sivia
lalu meletakkannya didada bidang miliknya “juga atas hati ini” lanjut Alvin
sungguh-sungguh.
Sivia kembali menghambur kedalam
pelukan Alvin,
“makasih, Vin… aku cinta sama
kamu….”
“aku tau, aku juga cinta sama
kamu….” Alvin mengecup pipi Sivia dengan lembut.
Flash
Back off~
Semua ingatan itu tiba-tiba saja
berpendar dikepala Sivia tanpa permisi. Dan karna itu, Sivia lagi-lagi harus
berusaha menahan sesak didadanya. Perih itu kian menyiksa dan seakan membuka
luka lama yang seharusnya sekarang sudah bisa terobati.
Sivia memegang dadanya, ia tersenyum
dan berusaha untuk tidak meneteskan setitikpun air mata atas semua kenyataan
ini. Apapun yang terjadi Sivia harus kuat. Sudah cukup ia menjadi cengeng
selama ini, dan sudah saatnya Sivia untuk berubah menjadi sosok yang lebih
tegar lagi, yang lebih kuat lagi.
Shilla tiba-tiba saja membuka pintu
kamar Sivia lalu memasuki kamar Sivia begitu saja. Ia menatap Sivia yang ketika
itu duduk diatas ranjangnya sambil memegangi kalung pemberian Alvin. Shilla
menggeleng beberapa kali, tentu saja ia sudah tau apa yang terjadi. Tadi ketika
Sivia menelponnya sambil menangis dan memintanya untuk segera pergi kerumahnya,
Shilla langsung saja menurut tanpa banyak bicara.
“jadi Nenek Sihir itu kembali
lagi??” sinis Shilla. Ia mulai terlihat tidak tenang.
Sivia hanya mengangguk lemah. Saat
ini ia sudah kehabisan kata-kata. Tidak ada hal lain yang Sivia butuhkan saat
ini selain hanya menangis, ia ingin menangis sampai semua rasa sakitnya
berkurang, ia ingin menangis sampai semua ingatannya lumpuh. Ia hanya ingin
menangis, tapi air matanya sudah terlanjur mengering.
Shilla berdecak sinis, ia melipat
kedua tangannya didada lalu segera mengambil sebuah inisiatif ditengah-tengah
emosinya,
“lo tunggu disini! Gue pergi bentar”
“mau kemana lo?” Tanya Sivia pelan,
“pake nanya lagi lo! Ya jelaslah gue
mau pergi buat damprat Si Nenek Sihir itu. Udah pergi dengan seenaknya dan
sekarang kembali lagi dengan seenaknya. Maunya apa coba?”
“buat apa? Nggak ada gunanya Shill,
lo Cuma akan ngebuang-buang energy lo”
Shilla menatap Sivia dengan kedua
alis bertaut. Heran.
“Pricill udah balik. Dan kita semua
tau bahwa memang itu yang Alvin mau selama ini. Kita bisa apa??” ujar Sivia
putus asa.
Shilla pun akhirnya mengalah.
****
“kamu lihat cincin ini kan, Vin?”
ujar Pricilla seraya menunjukan jari manisnya dihadapan Alvin. Alvin hanya
menatap sebentar cincin itu lalu kembali membuang wajahnya kearah lain. Jujur
saja, ia merasa enggan menghiraukan Gadis ini. Saat ini Alvin hanya ingin
menemui Sivia, hanya itu.
“ini cincin pertunangan Vin. Aku
udah tunangan” kata Pricilla tanpa beban sama sekali. Kali ini kedua mata Alvin
membelalak lebar. Rupanya ia mulai merasa kalau pembicaraan ini terasa sedikit
menarik.
“dan aku terpaksa tunangan” Alvin
masih diam, masih menunjukan reaksi yang sama.
“2 tahun yang lalu, tepatnya saat
kita ngerayain anniversary kita yang kedua, Opa aku meninggal di German, dan
Opa ninggalin sebuah wasiat yang menyatakan kalo aku harus segera bertunangan
dengan laki-laki pilihan Opa sendiri di German, aku sempet nolak, tapi Mami
sama Papi aku maksa, mereka berdua bawa aku German dengan paksa, padahal malam
itu aku udah siep buat nemuin kamu, Vin…”
Perasaan Alvin mulai bergemuruh.
Apakah penjelasan itu benar? Apakah Pricilla tidak sedang membohonginya?
“aku bukannya mau pergi tanpa
ngejelasin apapun ke kamu. Tapi aku Cuma nggak tau Vin, gimana cara ngejelasin
semua ini ke kamu, buat ku ini sulit. Apa kamu mau tau? Waktu aku ngirim sms
terakhir ke kamu, itu rasanya seperti nyawa aku udah nggak ada lagi, dan
semenjak hari itu, aku nggak lebih dari sesosok mayat hidup yang berjalan. Aku
emang ada di German, menjalani hari-hari kelam disana tapi tidak dengan jiwaku,
jiwaku tetep tertinggal disini, Vin, dideket kamu”
Alvin menunduk lesu lalu menghela
nafas beratnya, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Pricilla sama
sekali tidak bisa membacanya.
“Pria itu namanya Gabriel, Gabriel
Stevent Damanik, yang baru belakangan aku tau bahwa aku sudah dijodohin dari
aku masih bayi sama dia”
Kali ini Alvin mengangkat wajahnya.
Gabriel Stevent Damanik? Sepertinya Alvin pernah mendengar nama itu. Alvinpun
berusaha memutar ingatannya, dan…
Flash
Back Alvin;
“elo Alvin bukan? ALVIN
JONATHAN??” Tanyanya seakan hafal betul nama Alvin. Alvin semakin heran,
bagaimana bisa Pria ini mengenalinya, bahkan tau nama panjangnya sementara
Alvin sendiri sama sekali tidak mengenalinya.
Untuk beberapa saat Alvin terpana,
tidak lama Alvin langsung mengangguk dan membenarkan ucapan Pria itu,
“iya, gue Alvin, Alvin Jonathan. Lo
sendiri siapa? Tau gue darimana? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” Tanya
Alvin bertubi-tubi.
Kembali Pria itu hanya tersenyum
penuh misteri. Ternyata ini dia yang namanya Alvin Jonathan? Tidak sulit juga
menemukannya.
“Gue Gabriel, Gabriel Stevent
Damanik. Nanti lo akan tau sendiri siapa gue. Seneng bisa ketemu sama lo, Alv!”
Gabriel tertawa kecil, ia berjalan perlahan melewati Alvin. Tapi sebelum
melewati Alvin, Gabriel sempat menghentikan langkahnya sejenak lalu menepuk
pelan pundak Alvin beberapa kali. Gabriel melanjutkan langkahnya, meninggalkan
Alvin dengan berjuta-juta tanda Tanya yang sekonyong-konyong menyeruak tanpa
ampun dikepalanya.
Flash
Back Off~
Alvin
baru menyadari sesuatu, bahwa ternyata Gabriel tau tentang dirinya karna
Gabriel memang ada hubungannya dengan Pricilla. Tapi Alvin tetap saja masih
bingung dengan Gabriel waktu itu. Gabriel dan senyum misterinya. Alvin tidak
yakin dengan perasaannya ini, tapi ia merasa bahwa ada sesuatu yang Gabriel
inginkan darinya, tapi apa?
Alvin
kembali mendengarkan penjelasan Pricilla dan berharap bisa menemukan sebuah
pencerahan dari sana. Alvin juga belum mau mengeluarkan komentar apapun.
“aku
akhirnya tunangan sama Gabriel, tapi sungguh, diantara kami tidak ada
sedikitpun rasa cinta, kami selalu bertentangan dalam segala hal. Tidak jarang
juga aku dan Gabriel bertengkar, entah untuk alasan apa, entah untuk masalah
apa. Kami tidak pernah cocok satu sama lain, aku sama Gabriel itu seperti air
dan minyak yang selamanya tidak akan pernah menyatu”
Sebulir
air mata terjatuh dan membasahi tangannya. Tapi Pricilla buru-buru menyeka air
matanya, ia tidak ingin cengeng. Selama ini ia selalu dididik untuk menjadi
seorang wanita yang kuat dan bukan wanita yang cengeng.
“aku
bukan tipe wanita yang cengeng, Vin. Dan kamu tau itu, tapi semenjak aku pergi
ninggalin kamu, aku berubah, meskipun aku berusaha keras untuk tidak cengeng,
tapi aku tetep cengeng, dan itu semua karna aku terlalu mencintai kamu, Alvin…”
Alvin
tetap membisu. Ia benar-benar tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaannya
saat ini. Alasan yang Pricilla lemparkan kali ini sekonyong-konyong membuat
hatinya goyah –lagi- Alvin dilemma, ia terjebak diantara dua hati. Sivia atau
Pricilla?
“selama
aku hidup tanpa kamu itu rasanya tersiksa sekali, tiap malam yang aku lakuin
Cuma nangis, menyesali nasib, menahan rindu, sakit, Vin, sakitt… aku selalu pengen
ketemu sama kamu buat ngelampiasin rindu, tapi aku nggak tau gimana caranya”
Kali
ini Pricilla membiarkan air matanya lolos begitu saja. Biarlah, biarlah air
mata itu menetes sederas mungkin, biarkan Alvin tau bahwa selama ini Pricilla
sudah cukup tersiksa hidup tanpanya, menjalani harinya yang berat tanpa ada
Alvin yang menemani. Pricilla lelah selama 2 tahun terakhir ini. Benar-benar
lelah, Pricilla ingin menangis dalam pelukan Alvinnya, Alvinnya yang sangat ia
rindukan selama ini.
Tangis
Pricilla akhirnya pecah seketika. Ada rasa tidak sanggup jauh didalam sana yang
Alvin rasakan. Ia ingin memeluk Gadisnya ini, mengurangi sedikit saja bebannya.
“dan
sekarang aku balik lagi kesini karna aku udah nggak bisa lagi nahan rasa
rinduku, Vin, aku nggak bisa nahan rindu ini lebih lama lagi, kalo aku tahan
lebih lama lagi aku bisa mati, aku… aku—“ Pricilla tidak sanggup melanjutkan
perkataannya. Yang terdengar saat ini hanyalah suara isakkan yang begitu pilu,
begitu menyayat hatinya.
Alvin
berusaha menepikan semua egonya. Entah kenapa hatinya begitu sakit ketika
melihat Pricilla menangis seperti ini. Dan ketika Alvin ingin menarik Gadis itu
kedalam pelukannya, Pricilla malah kembali bersujud di kaki Alvin,
“aku
minta maaf, Vin…. Aku minta maaf… hiks… hikss… saat ini aku bersujud dikaki
kamu, memohon maaf dari kamu karna selama ini aku memang bener-bener ngerasa
bersalah, dan aku takut ngebayangin akan bagaimana hidupku selanjutnya kalo
kamu nggak bisa maafin aku… aku cinta sama kamu, Vin… aku selalu mencintai
kamu, hiks.. hiks… plis maafin aku, plisss…..”
Rasa
pedih itu seakan mengoyak jantung Alvin. Alvin memejamkan matanya sejenak,
berusaha mengenyahkan bayangan Sivia yang sejak tadi mengusik otaknya. Alvin
menunduk, ia memegang kedua tangan Pricilla yang memegangi kakinya lalu
menuntunnya untuk berdiri hingga berhadapan dengannya.
Dengan
lembut Alvin menyeka air mata Pricilla, ia tersenyum tipis seraya menggeleng
pelan dengan isyarat; jangan menangis lagi.
Pricilla
pun menyambutnya dengan sebuah anggukan cepat beberapa kali. Tanpa berfikir
panjang lagi, Alvin langsung saja menarik Gadis itu kedalam pelukannya. Tangis Pricilla
bukannya berhenti, tapi malah semakin tumpah ruah dalam dekapan Alvin.
“maaf….”
Lirih Alvin pelan. Pricilla hanya mengangguk beberapa kali sambil mengeratkan
pelukannya pada tubuh Alvin.
Dalam
pelukan Alvin, entah kenapa Pricilla tidak merasa memeluk jiwa Alvin. Ia merasa
bahwa jiwa Alvin tidak sedang bersamanya. Pelukan Alvin kali ini benar-benar
berbeda dengan pelukannya yang dulu. Mungkin Alvin tidak menyadarinya, tapi
Pricilla tahu, bahwa saat ini jiwa Alvin sedang berkelana jauh, entah kemana.
Dan
Pricilla merasa, bahwa Alvin tidak sedikitpun membalas rasa rindunya selama
ini. Hampa, semuanya hampa tanpa rasa. Alvin tidak pernah merindukannya, tidak
sekalipun.
“maafin
aku juga, Via….” Lanjut Alvin
dalam hati.
****
“Pagi
Alpin….” Sapa Sivia penuh semangat ketika melihat Alvin yang baru saja memasuki
ruang makan. Pagi ini Sivia benar-benar terlihat bersemangat dan seakan tidak
memiliki beban apapun. Tapi sayangnya Alvin tau, bahwa Sivia hanya berpura-pura
saja.
“udah
sarapan belom? Nih gue lagi masak nasi goreng, kita sarapan bareng ya?” Sivia
memindahkan nasi goreng itu pada dua buah piring yang sudah tersedia. Sivia seakan
sudah menyiapkan semuanya, dan sepertinya ia sudah tau dari awal bahwa pagi ini
Alvin akan datang bertandan kerumahnya.
Alvin
masih terdiam kaku disamping meja makan. ia tidak habis fikir kenapa Sivia
harus berpura-pura seperti ini. Sivia hanya tidak tahu saja bahwa
kepura-puraannya itu malah semakin membuat Alvin merasa bersalah. Merasa
bersalah? Bagaimana bisa? Alvin memang salah, sudah seharusnya kan ia merasa
bersalah tanpa perlu berfikir lagi?
“kenapa
diem disitu kayak patung? Bantuin gue kek bawa piring ke meja makan” Alvin
terkesiap, ia menggeleng sekali lalu menjawab Sivia,
“gue
udah sarapan”
“sama
Pricill?”
Alvin
melirik tajam kearah Sivia. Jujur saja ia merasa kurang nyaman ketika mendengar
pertanyaan Sivia yang cenderung mencibir itu.
“Sivia…”
“iya
iya sorry… gitu aja marah lo! Becanda Alvin, becandaaaa….” Sivia berjalan
kearah meja makan lalu meletakkan 2 piring nasi goreng itu diatas meja. Sivia
duduk lalu bersiap menyantap sarapannya,
“lo
yakin nggak mau sarapan? Nanti nyesel lho” Alvin hanya menggeleng. Ia menatap
Sivia dengan tatapan yang sulit diartikan. Sivia pun mengedikkan kedua bahu
tanda ketidak peduliannya.
“lo
kenapa sih, Vi?” Tanya Alvin tiba-tiba yang sebenarnya ingin memastikan keadaan
Sivia sekarang. Bodoh! Alvin bodoh. Sudah tau Sivia tidak sedang baik-baik
saja, lalu kenapa ia masih saja bertanya?
“gue?
Gue kenapa?”
“lo
baik-baik aja?”
“baik,
emang gue keliatan sakit?”
“masalah
kemarin, gue—“ sebelum Alvin melanjutkan perkataannya, Sivia malah menyudahi
sarapannya lalu bangkit dari meja makan. Entahlah, ia merasa selera makannya
sudah tidak ada lagi ketika Alvin menanyakan keadaannya.
“gue
ambil tas dulu. Ini udah hampir setengah 9, nanti kita telat ke kampus” Sivia
berlalu begitu saja lalu menaiki anak tangga untuk mencapai kamarnya.
Alvin
mengeram. Ia marah, tapi bukan pada Sivia, melainkan lebih pada dirinya
sendiri. Alvin tau bahwa ia telah melukai Gadis itu, entah untuk yang keberapa
kalinya. Beberapa saat kemudian, Alvin akhirnya mengambil keputusan untuk menyusul
Sivia dikamarnya.
Dari
pintu kamar Sivia yang sedikit terbuka, Alvin bisa melihat dengan sangat jelas
apa yang tengah Sivia lakukan. Sivia duduk didepan meja riasnya sambil
menenggelamkan wajahnya diatas kedua lipatan tangannya. Kedua bahu Sivia bergetar,
dan saat itu Alvin tahu bahwa Sivia sedang menangis.
Alvin
memasuki kamar Sivia lebih dalam lagi dan berjalan perlahan menghampiri Gadis
itu yang mungkin belum menyadari kehadirannya dikamar ini. Alvin duduk dengan
posisi bertekuk lutut tepat disamping kursi yang Sivia duduki. Ia memegang
kedua bahu Sivia lalu memutar pelan tubuh Sivia hingga berhadapan dengannya.
Sivia menunduk dalam, pada kenyataannya Sivia tidak memiliki kekuatan yang
cukup untuk menatap kedua mata Alvin,
“maaf
udah bikin kamu sakit lagi, maaf udah bikin kamu terluka lagi, maaf udah bikin
kamu nangis lagi, maaf, maaf….” Sesal Alvin sambil menatap wajah Sivia
dalam-dalam. Sivia masih menunduk.
“aku
yang salah, Via… aku yang salah. Kamu boleh salahin aku, kamu boleh caci aku
kalo kamu mau, kamu boleh ngelakuin apapun yang kamu mau” kedua pundak Sivia
semakin bergetar hebat. Ia menggigit bagian bawah bibirnya kuat-kuat supaya
isakkannya tidak terdengar.
“kalo
kamu minta aku buat ngejahuin Pricill, aku akan jauhin Pricill. Aku udah milih kamu
Via, dan aku udah janji nggak akan ngulang kesalahan yang sama untuk yang kedua
kalinya. Aku laki-laki, aku nggak akan ingkarin janji yang udah aku buat
sendiri, nggak akan Via…”
“aku
ngerti, Alvin, aku ngerti….” Dengan susah payah Sivia akhirnya berucap. “kamu
nggak perlu ngejahuin Pricill, dan aku nggak akan pernah minta kamu buat
ngejahuin dia, tapi aku Cuma minta dingertiin sama kamu, Cuma itu Alvin….”
“Via…”
“permintaan
aku nggak berat kan? Iya kan, Vin…?” Sivia akhirnya menatap kedua mata Alvin.
Alvin hanya menggeleng, menyetujui ucapan Sivia itu. Ya… Sivia Cuma meminta
supaya Alvin lebih mengertikannya lagi, hanya itu. Masakah itu sulit untuk
Alvin?
Alvin
meraih kedua tangan Sivia, menggenggamnya erat lalu mengecupnya perlahan.
“aku
masih pacar kamu kan, Vin?” Tanya Sivia tiba-tiba, Alvin mengangkat wajahnya
lalu menatap Sivia dengan kedua alis bertaut. Alvin cukup heran dengan
pertanyaan Sivia barusan. Kenapa Sivia harus bertanya seperti itu? Tentu saja
dia masih pacar Alvin.
“Via,
kamu nanya apa sih…?”
Sivia
menyeka air matanya. Ia tersenyum kecil lalu bangkit dari hadapan Alvin.
“kita
jalan yuk! Udah siang nih” Sivia meraih tasnya lalu berjalan terlebih dahulu
tanpa menunggu Alvin.
Alvin
berdecak kecil. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat mengejar langkah
Sivia. Saat Sivia akan membuka pintu, Alvin buru-buru menarik lengannya lalu
menyandarkan tubuh mungil Sivia dipintu. Tentu saja Sivia kaget setengah mati
dengan apa yang Alvin lakukan, semuanya terlalu mengejutkan.
Alvin
mengangkat tangan sebelah kanannya lalu menghempaskannya dengan pelan dipintu
–tepatnya disamping Sivia- Alvin seakan mengunci seluruh pergerakan Sivia.
Sivia semakin kaget, didalam sana jantungnya sudah meloncat-loncat.
“tadi
lo nanya, lo masih pacar gue apa bukan, sekarang gue akan jawab pertanyaan lo
itu” ucap Alvin pelan didepan wajah Sivia.
Wajah
Alvin bergerak cepat mendekati wajah Sivia. Semuanya terjadi begitu cepat.
Sivia tergetar ketika ia merasakan bibir lembut Alvin menempel dibibirnya.
Sivia memejamkan kedua matanya, merasakan sebuah kehangatan mulai menjalar
kesekujur raganya. Rasanya begitu indah.
Handphone
Alvin tiba-tiba berbunyi. Saat itulah Sivia langsung memalingkan wajahnya dan
mendorong pelan dada Alvin hingga jarak mereka sedikit menjauh.
“handphone
lo bunyi” kata Sivia pelan. Sivia berusaha menyembunyikan kesalah tingkahannya
juga wajahnya yang mulai bersemu merah.
Alvin
merogoh kantongnya lalu mengambil handphonenya. Kesempatan itu Sivia gunakan
untuk melepaskan diri dari Alvin. Tapi kesempatan itu menghilang seketika saat
Alvin meraih pergelangan tangannya dan tetap menahannya dalam posisi yang sama.
Sivia pasrah, ia tidak mungkin bisa melawan Pria yang begitu keras kepala ini.
“da…
dari siapa?” Tanya Sivia ragu-ragu,
“dari
Pricill” jawab Alvin sekenanya,
“oh”
gumam Sivia lemah.
Tanpa
berfikir panjang lagi Alvin langsung me-riject panggilan dari Pricilla lalu
menonaktifkan handphonenya. Kedua mata Sivia membelalak lebar melihat apa yang
Alvin lakukan,
“kenapa
nggak diang—“ sebelum Sivia menyelesaikan ucapannya Alvin malah kembali
membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Sivia yang tidak siap malah limbung
dan langsung berpegang pada dada bidang milik Alvin.
Hmm…
Pria ini memang selalu tau bagaimana caranya membuat Sivia tidak bisa
berkata-kata lagi.
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment