Thursday, August 1, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 11 -Between Two Hearts-





                Beberapa saat setelah kepergian Sivia, Alvin langsung saja mendorong pelan tubuh Pricilla hingga terlepas dari pelukannya. Alvin menatap Pricilla dengan seringainya yang cukup tajam. Jika tadi Alvin terheran-heran karna kehadiran Pricilla yang secara mendadak ini, maka sekarang reaksi Alvin berubah drastic. Sejak kepergian Pricilla 2 tahun yang lalu tanpa alasan yang jelas, sejak saat itulah Alvin tidak pernah lagi menginginkan kehadiran Pricilla untuk kembali kehidupnya lagi. Semuanya sudah berubah, sudah tidak sama seperti dulu lagi.
            “Alvin, ini aku Pricill, Pricill kamu, aku sekarang udah kembali, aku nggak akan kemana-mana lagi, Sayang” Pricilla mengangkat salah satu tangannya lalu menyentuh pipi Alvin dengan lembut.
            Hangat, itulah perasaan yang Alvin rasakan ketika tangan Pricilla menyentuh wajahnya. Sentuhan itu merupakan salah satu bagian terpenting yang menghilang dari kehidupan Alvin selama 2 tahun terakhir ini, sentuhan itu adalah sentuhan yang sangat Alvin –Alvin enggan mengakui ini- rindukan.
            Tapi biar bagaimanapun keadaannya sekarang, Alvin tidak ingin terjatuh lagi  kedalam pelukan Pricilla. Hatinya sudah terlanjur sakit karna Gadis ini. Alvin tidak bisa memaafkannya dengan mudah.
            “jangan panggil gue sayang lagi!” desis Alvin sinis. Mendengar itu, Pricilla sedikit tersentak,
            “Alvin tapi—“
            “apa lo mau tau sesuatu? Sejak kepergian lo tanpa alasan yang jelas 2 tahun yang lalu, gue nggak pernah lagi menginginkan kehadiran lo dihidup gue, nggak pernah sekalipun”
            “Alvin, masalah kepergian aku 2 tahun yang lalu aku masih bisa jelasin, aku punya penjelasan untuk itu… aku… aku punya alasan”
            “Alasan? Hahahahahaha” Alvin tertawa miris, kedua matanya semakin tajam menatap kedua manik mata Pricilla, “alasan lo bilang? Kenapa baru sekarang lo bilang lo punya alasan? Dulu lo pergi seenaknya tanpa alasan yang jelas, dan sekarang lo kembali dengan alasan?? Are you kidding, Agatha Pricilla??” sinis Alvin yang sudah benar-benar kalap.
            “Alvin, please dengerin aku, aku mohon” Pinta Pricilla benar-benar memohon. Kedua matanya mulai terlihat nanar dan telah siap meneteskan air mata.
            “kenapa gue harus dengerin lo?”
            “Alvin, dari dulu sampe detik ini perasaan aku nggak pernah berubah sama kamu, Vin, sedikitpun perasaan aku nggak pernah berubah, hanya saja waktu itu aku terpaksa pergi, aku… aku—“
            “BULSHIT!!!” Alvin berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Pricilla. Dalam hati Alvin sudah memasang niat untuk mengejar Sivia sebelum Gadis itu jauh dan salah paham dengannya.
            Tapi mendadak Alvin merasakan kaki sebelah kanannya terasa berat untuk digerakkan. Alvin merasa ada seseorang yang menahan kakinya. Alvin berbalik lalu menunduk, saat itu ia langsung mendapati Pricilla yang tengah bersujud di kakinya dengan linangan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.
            “Alvin jangan pergi! Jangan pergi setidaknya sampe aku ngejelasin semuanya ke kamu, aku mohon…”
            Alvin terlihat sedikit luluh. Ia kembali mengangkat wajahnya dan berusaha untuk tidak berbelas kasih pada Pricilla. Mungkin jahat kedengarannya, tapi bukankah dulu Pricilla jauh lebih jahat dari Alvin sekarang?


****

            Sivia diam merenung sendiri didalam kekamarnya sambil memegang kalung yang baru tadi siang Alvin pasangkan dilehernya. Tadi saat mengantar Sivia pulang, sebenarnya Cakka ingin menemani Sivia lebih lama lagi, tapi Sivia malah menolak dengan alasan ia ingin sendiri dulu. Lalu dengan penuh pengertian, Cakka pun pulang meskipun sebenarnya ia agak khawatir dengan keadaan Sivia.
            Sivia tersenyum miris mendapati dirinya nya sekarang. Ia begitu kasihan. Baru beberapa jam kebahagiaan itu bisa ia raih, bisa ia genggam ditangannya, tapi sekarang kebahagiaan itu malah terlepas begitu saja.
            Sivia tidak perlu ragu dengan hati Alvin saat ini. Sudah pasti Alvin akan lebih memilih Pricilla dari dirinya sekarang. Sivia bodoh karna selama ini ia tidak  pernah sekalipun mempertanyakan tentang hati Alvin terhadap Pricilla. Mungkin memang benar Alvin mencintainya, tapi rasa cinta yang Alvin berikan padanya tentu saja hanya secuil dari perasaan cinta yang ia berikan pada Pricilla. Dan semuanya belum seberapa. Pricilla tentu lebih unggul dihati Alvin.


Flash Back:

Helicopter itu perlahan naik dan membawa kedua anak manusia ini terbang jauh, menyentuh awan seperti apa yang mereka mau. Secara perlahan Sivia merebahkan kepalanya diatas pundak Alvin.
            “Vin”
            “hmm?” sahut Alvin lembut,
            “makasih ya?”   ujar Sivia pelan. Alvin hanya mengangguk. Ia mengangkat gumpalan tangannya yang menggenggam erat tangan Sivia lalu mengecupnya lembut. Alvin melakukannya agak lama.
            “gue Cuma mau nepatin janji gue, Via, dan emang udah sepantesnya lo ngedapetin ini, lo berhak atas ini dan atas—“ Alvin menggantungkan kalimatnya, ia terlihat sedikit ragu melanjutkan perkataannya.
            “dan atas apa?” tantang Sivia,
            “atas seluruh hati dan hidup gue” jawab Alvin mantap dengan penuh ketulusan didalamnya. Kembali Sivia hanya bisa terdiam.
            “Via…”
            “hmm?”
            Alvin memegang kedua pundak Sivia lalu menatapnya lurus,
            “dulu gue pernah ngelakuin kesalahan besar dengan lebih memilih Pricill dan menyia-nyikan kesetiaan lo sama gue, dan sekarang gue mau mengaku… gue nyesel, Via, gue janji sama lo, gue nggak akan ngulang kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya, cukup sekali aja gue jadi goblok karna udah jatuh diatas keindahan Pricill, gue nggak akan ngulang kegoblokan gue itu lagi, Via, nggak akan pernah…”
            “Via, sekarang gue udah bener-bener bisa mencintai lo dengan sepenuh hati gue, bolehkan jika sekarang gue mau nagih janji lo?”

~

“jadi intinya lo cemburu??” simpul Sivia yang sekaligus ingin mengalihkan topic. Entahlah, ia hanya merasa belum terlalu yakin dengan Alvin, dan ia masih perlu diyakinkan.
            “iya gue cemburu. Dan sekarang bisa lo jawab pertanyaan gue tadi? Bisa lo nerima gue sekarang juga?” jawab Alvin dengan tegas. Sepertinya dari pertama ia sudah tahu kalau Sivia hanya ingin mengalihkan topic saja.
            “Vin, tap… tapi—“ Sivia mulai merasa terpojokan, dan Sivia benci keadaan ini.
            “lo nggak bisa kan, Via… lo nggak bisa! Lo emang udah nggak cinta lagi sama gue, dan emang bener kalo lo suka sama Kak Cakka, hahaa…” Alvin tertawa miris dan membuang tatapannya kedepan.
            Sivia memejamkan matanya sejenak. Mendadak ia ingin melakukan itu untuk meyakinkan Alvin. Apapun resikonya, Sivia harus tetap melakukan hal itu, hal yang selama ini mungkin Alvin inginkan darinya.
            Sivia menghela nafas panjang, ia membuka matanya lalu menarik lengan Alvin hingga mereka kembali berhadapan satu sama lain. Alvin menatap Sivia dengan tatapan bingung. Beberapa saat kemudian Sivia memegang tengkuk Alvin lalu menariknya dalam satu gerakan cepat. semuanya terjadi begitu saja, Sivia telah memejamkan matanya. Sementara Alvin, kedua matanya membelalak lebar, sulit ia percaya bahwa Sivia akan melakukan hal itu padanya, Sivia mengecup bibirnya dengan lembut.
            3 detik kemudian Sivia menjauhkan wajahnya dari Alvin, tapi tangan kanannya masih memegangi tengkuk Pria itu. Sivia memejamkan matanya lalu menunduk dalam.
            “Vi… Via?” panggil Alvin pelan,
            “apa itu cukup membuat lo yakin kalo gue Cuma mencintai lo?” Tanya Sivia dalam sebuah bisikan pelan, bahkan sangat pelan.
            Alvin tidak mampu berucap lagi. Mulutnya seakan terkunci rapat, dan tenggorokannya seakan tercekat. Kini Alvin tidak perlu lagi meragukan perasaan Sivia. Kecupan yang begitu hangat dan penuh cinta itu sudah cukup membuat Alvin meyakini hati Sivia. Dalam hati Alvin berjanji tidak akan meragukan perasaan Sivia lagi, tidak akan pernah.
            Alvin mendekatkan keningnya dengan kening Sivia. Sementara tangan kanan Sivia masih betah memegangi tengkuk Alvin. Alvin menatap mata Sivia yang terpejam lalu menggeleng pelan,
            “maafin gue…” lirih Alvin pelan. Alvin meraih tangan Sivia yang memegangi tengkuknya, ia menggenggam erat tangan mungil itu lalu mengecupnya dengan lembut. Alvin melakukannya agak lama.
            “maafin gue…” lirih Alvin sekali lagi. Alvinpun merengkuh tubuh Sivia dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
            “mulai sekarang gue hanya akan menunggu tanpa banyak bicara lagi, gue akan nungguin lo sampe lo siep, gue nggak akan banyak omong lagi, nggak akan banyak omong lagi…”


~
Setelah menyelesaikan beberapa bait lagu itu, Alvin pun melepaskan gitarnya lalu meraih tangan Sivia dan menggenggamnya erat. Beberapa saat kemudian, Alvin mengecup punggung tangan Sivia,
            “gue nggak akan ngulang kesalahan yang sama lagi, Vi… saat ini Cuma ada lo dihati gue, dan gue berharap lo bisa yakin sama perasaan gue” kata Alvin sungguh-sungguh. Sivia bungkam, ia tidak tahu bagaimana harus membalas perkataan Alvin.

~

“Alvin??” Alvin tersenyum,
            “kalung ini sekarang udah jadi milik kamu, kamu yang berhak atas kalung ini, juga atas….” Alvin meraih tangan Sivia lalu meletakkannya didada bidang miliknya “juga atas hati ini” lanjut Alvin sungguh-sungguh.
            Sivia kembali menghambur kedalam pelukan Alvin,
            “makasih, Vin… aku cinta sama kamu….”
            “aku tau, aku juga cinta sama kamu….” Alvin mengecup pipi Sivia dengan lembut.

Flash Back off~

            Semua ingatan itu tiba-tiba saja berpendar dikepala Sivia tanpa permisi. Dan karna itu, Sivia lagi-lagi harus berusaha menahan sesak didadanya. Perih itu kian menyiksa dan seakan membuka luka lama yang seharusnya sekarang sudah bisa terobati.
            Sivia memegang dadanya, ia tersenyum dan berusaha untuk tidak meneteskan setitikpun air mata atas semua kenyataan ini. Apapun yang terjadi Sivia harus kuat. Sudah cukup ia menjadi cengeng selama ini, dan sudah saatnya Sivia untuk berubah menjadi sosok yang lebih tegar lagi, yang lebih kuat lagi.

            Shilla tiba-tiba saja membuka pintu kamar Sivia lalu memasuki kamar Sivia begitu saja. Ia menatap Sivia yang ketika itu duduk diatas ranjangnya sambil memegangi kalung pemberian Alvin. Shilla menggeleng beberapa kali, tentu saja ia sudah tau apa yang terjadi. Tadi ketika Sivia menelponnya sambil menangis dan memintanya untuk segera pergi kerumahnya, Shilla langsung saja menurut tanpa banyak bicara.
            “jadi Nenek Sihir itu kembali lagi??” sinis Shilla. Ia mulai terlihat tidak tenang.
            Sivia hanya mengangguk lemah. Saat ini ia sudah kehabisan kata-kata. Tidak ada hal lain yang Sivia butuhkan saat ini selain hanya menangis, ia ingin menangis sampai semua rasa sakitnya berkurang, ia ingin menangis sampai semua ingatannya lumpuh. Ia hanya ingin menangis, tapi air matanya sudah terlanjur mengering.
            Shilla berdecak sinis, ia melipat kedua tangannya didada lalu segera mengambil sebuah inisiatif ditengah-tengah emosinya,
            “lo tunggu disini! Gue pergi bentar”
            “mau kemana lo?” Tanya Sivia pelan,
            “pake nanya lagi lo! Ya jelaslah gue mau pergi buat damprat Si Nenek Sihir itu. Udah pergi dengan seenaknya dan sekarang kembali lagi dengan seenaknya. Maunya apa coba?”
            “buat apa? Nggak ada gunanya Shill, lo Cuma akan ngebuang-buang energy lo”
            Shilla menatap Sivia dengan kedua alis bertaut. Heran.
            “Pricill udah balik. Dan kita semua tau bahwa memang itu yang Alvin mau selama ini. Kita bisa apa??” ujar Sivia putus asa.
            Shilla pun akhirnya mengalah.



****

            “kamu lihat cincin ini kan, Vin?” ujar Pricilla seraya menunjukan jari manisnya dihadapan Alvin. Alvin hanya menatap sebentar cincin itu lalu kembali membuang wajahnya kearah lain. Jujur saja, ia merasa enggan menghiraukan Gadis ini. Saat ini Alvin hanya ingin menemui Sivia, hanya itu.
            “ini cincin pertunangan Vin. Aku udah tunangan” kata Pricilla tanpa beban sama sekali. Kali ini kedua mata Alvin membelalak lebar. Rupanya ia mulai merasa kalau pembicaraan ini terasa sedikit menarik.
            “dan aku terpaksa tunangan” Alvin masih diam, masih menunjukan reaksi yang sama.
            “2 tahun yang lalu, tepatnya saat kita ngerayain anniversary kita yang kedua, Opa aku meninggal di German, dan Opa ninggalin sebuah wasiat yang menyatakan kalo aku harus segera bertunangan dengan laki-laki pilihan Opa sendiri di German, aku sempet nolak, tapi Mami sama Papi aku maksa, mereka berdua bawa aku German dengan paksa, padahal malam itu aku udah siep buat nemuin kamu, Vin…”
            Perasaan Alvin mulai bergemuruh. Apakah penjelasan itu benar? Apakah Pricilla tidak sedang membohonginya?
            “aku bukannya mau pergi tanpa ngejelasin apapun ke kamu. Tapi aku Cuma nggak tau Vin, gimana cara ngejelasin semua ini ke kamu, buat ku ini sulit. Apa kamu mau tau? Waktu aku ngirim sms terakhir ke kamu, itu rasanya seperti nyawa aku udah nggak ada lagi, dan semenjak hari itu, aku nggak lebih dari sesosok mayat hidup yang berjalan. Aku emang ada di German, menjalani hari-hari kelam disana tapi tidak dengan jiwaku, jiwaku tetep tertinggal disini, Vin, dideket kamu”
            Alvin menunduk lesu lalu menghela nafas beratnya, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Pricilla sama sekali tidak bisa membacanya.
            “Pria itu namanya Gabriel, Gabriel Stevent Damanik, yang baru belakangan aku tau bahwa aku sudah dijodohin dari aku masih bayi sama dia”
            Kali ini Alvin mengangkat wajahnya. Gabriel Stevent Damanik? Sepertinya Alvin pernah mendengar nama itu. Alvinpun berusaha memutar ingatannya, dan…


Flash Back Alvin;

“elo Alvin bukan? ALVIN JONATHAN??” Tanyanya seakan hafal betul nama Alvin. Alvin semakin heran, bagaimana bisa Pria ini mengenalinya, bahkan tau nama panjangnya sementara Alvin sendiri sama sekali tidak mengenalinya.
            Untuk beberapa saat Alvin terpana, tidak lama Alvin langsung mengangguk dan membenarkan ucapan Pria itu,
            “iya, gue Alvin, Alvin Jonathan. Lo sendiri siapa? Tau gue darimana? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” Tanya Alvin bertubi-tubi.
            Kembali Pria itu hanya tersenyum penuh misteri. Ternyata ini dia yang namanya Alvin Jonathan? Tidak sulit juga menemukannya.
            “Gue Gabriel, Gabriel Stevent Damanik. Nanti lo akan tau sendiri siapa gue. Seneng bisa ketemu sama lo, Alv!” Gabriel tertawa kecil, ia berjalan perlahan melewati Alvin. Tapi sebelum melewati Alvin, Gabriel sempat menghentikan langkahnya sejenak lalu menepuk pelan pundak Alvin beberapa kali. Gabriel melanjutkan langkahnya, meninggalkan Alvin dengan berjuta-juta tanda Tanya yang sekonyong-konyong menyeruak tanpa ampun dikepalanya.

Flash Back Off~

            Alvin baru menyadari sesuatu, bahwa ternyata Gabriel tau tentang dirinya karna Gabriel memang ada hubungannya dengan Pricilla. Tapi Alvin tetap saja masih bingung dengan Gabriel waktu itu. Gabriel dan senyum misterinya. Alvin tidak yakin dengan perasaannya ini, tapi ia merasa bahwa ada sesuatu yang Gabriel inginkan darinya, tapi apa?
            Alvin kembali mendengarkan penjelasan Pricilla dan berharap bisa menemukan sebuah pencerahan dari sana. Alvin juga belum mau mengeluarkan komentar apapun.
            “aku akhirnya tunangan sama Gabriel, tapi sungguh, diantara kami tidak ada sedikitpun rasa cinta, kami selalu bertentangan dalam segala hal. Tidak jarang juga aku dan Gabriel bertengkar, entah untuk alasan apa, entah untuk masalah apa. Kami tidak pernah cocok satu sama lain, aku sama Gabriel itu seperti air dan minyak yang selamanya tidak akan pernah menyatu”
            Sebulir air mata terjatuh dan membasahi tangannya. Tapi Pricilla buru-buru menyeka air matanya, ia tidak ingin cengeng. Selama ini ia selalu dididik untuk menjadi seorang wanita yang kuat dan bukan wanita yang cengeng.
            “aku bukan tipe wanita yang cengeng, Vin. Dan kamu tau itu, tapi semenjak aku pergi ninggalin kamu, aku berubah, meskipun aku berusaha keras untuk tidak cengeng, tapi aku tetep cengeng, dan itu semua karna aku terlalu mencintai kamu, Alvin…”
            Alvin tetap membisu. Ia benar-benar tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaannya saat ini. Alasan yang Pricilla lemparkan kali ini sekonyong-konyong membuat hatinya goyah –lagi- Alvin dilemma, ia terjebak diantara dua hati. Sivia atau Pricilla?
            “selama aku hidup tanpa kamu itu rasanya tersiksa sekali, tiap malam yang aku lakuin Cuma nangis, menyesali nasib, menahan rindu, sakit, Vin, sakitt… aku selalu pengen ketemu sama kamu buat ngelampiasin rindu, tapi aku nggak tau gimana caranya”
Kali ini Pricilla membiarkan air matanya lolos begitu saja. Biarlah, biarlah air mata itu menetes sederas mungkin, biarkan Alvin tau bahwa selama ini Pricilla sudah cukup tersiksa hidup tanpanya, menjalani harinya yang berat tanpa ada Alvin yang menemani. Pricilla lelah selama 2 tahun terakhir ini. Benar-benar lelah, Pricilla ingin menangis dalam pelukan Alvinnya, Alvinnya yang sangat ia rindukan selama ini.
            Tangis Pricilla akhirnya pecah seketika. Ada rasa tidak sanggup jauh didalam sana yang Alvin rasakan. Ia ingin memeluk Gadisnya ini, mengurangi sedikit saja bebannya.
            “dan sekarang aku balik lagi kesini karna aku udah nggak bisa lagi nahan rasa rinduku, Vin, aku nggak bisa nahan rindu ini lebih lama lagi, kalo aku tahan lebih lama lagi aku bisa mati, aku… aku—“ Pricilla tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Yang terdengar saat ini hanyalah suara isakkan yang begitu pilu, begitu menyayat hatinya.
            Alvin berusaha menepikan semua egonya. Entah kenapa hatinya begitu sakit ketika melihat Pricilla menangis seperti ini. Dan ketika Alvin ingin menarik Gadis itu kedalam pelukannya, Pricilla malah kembali bersujud di kaki Alvin,
            “aku minta maaf, Vin…. Aku minta maaf… hiks… hikss… saat ini aku bersujud dikaki kamu, memohon maaf dari kamu karna selama ini aku memang bener-bener ngerasa bersalah, dan aku takut ngebayangin akan bagaimana hidupku selanjutnya kalo kamu nggak bisa maafin aku… aku cinta sama kamu, Vin… aku selalu mencintai kamu, hiks.. hiks… plis maafin aku, plisss…..”
            Rasa pedih itu seakan mengoyak jantung Alvin. Alvin memejamkan matanya sejenak, berusaha mengenyahkan bayangan Sivia yang sejak tadi mengusik otaknya. Alvin menunduk, ia memegang kedua tangan Pricilla yang memegangi kakinya lalu menuntunnya untuk berdiri hingga berhadapan dengannya.
            Dengan lembut Alvin menyeka air mata Pricilla, ia tersenyum tipis seraya menggeleng pelan dengan isyarat; jangan menangis lagi.
            Pricilla pun menyambutnya dengan sebuah anggukan cepat beberapa kali. Tanpa berfikir panjang lagi, Alvin langsung saja menarik  Gadis itu kedalam pelukannya. Tangis Pricilla bukannya berhenti, tapi malah semakin tumpah ruah dalam dekapan Alvin.
            “maaf….” Lirih Alvin pelan. Pricilla hanya mengangguk beberapa kali sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Alvin.
            Dalam pelukan Alvin, entah kenapa Pricilla tidak merasa memeluk jiwa Alvin. Ia merasa bahwa jiwa Alvin tidak sedang bersamanya. Pelukan Alvin kali ini benar-benar berbeda dengan pelukannya yang dulu. Mungkin Alvin tidak menyadarinya, tapi Pricilla tahu, bahwa saat ini jiwa Alvin sedang berkelana jauh, entah kemana.
            Dan Pricilla merasa, bahwa Alvin tidak sedikitpun membalas rasa rindunya selama ini. Hampa, semuanya hampa tanpa rasa. Alvin tidak pernah merindukannya, tidak sekalipun.


            “maafin aku juga, Via….” Lanjut Alvin dalam hati.


****

            “Pagi Alpin….” Sapa Sivia penuh semangat ketika melihat Alvin yang baru saja memasuki ruang makan. Pagi ini Sivia benar-benar terlihat bersemangat dan seakan tidak memiliki beban apapun. Tapi sayangnya Alvin tau, bahwa Sivia hanya berpura-pura saja.
            “udah sarapan belom? Nih gue lagi masak nasi goreng, kita sarapan bareng ya?” Sivia memindahkan nasi goreng itu pada dua buah piring yang sudah tersedia. Sivia seakan sudah menyiapkan semuanya, dan sepertinya ia sudah tau dari awal bahwa pagi ini Alvin akan datang bertandan kerumahnya.
            Alvin masih terdiam kaku disamping meja makan. ia tidak habis fikir kenapa Sivia harus berpura-pura seperti ini. Sivia hanya tidak tahu saja bahwa kepura-puraannya itu malah semakin membuat Alvin merasa bersalah. Merasa bersalah? Bagaimana bisa? Alvin memang salah, sudah seharusnya kan ia merasa bersalah tanpa perlu berfikir lagi?
            “kenapa diem disitu kayak patung? Bantuin gue kek bawa piring ke meja makan” Alvin terkesiap, ia menggeleng sekali lalu menjawab Sivia,
            “gue udah sarapan”
            “sama Pricill?”
            Alvin melirik tajam kearah Sivia. Jujur saja ia merasa kurang nyaman ketika mendengar pertanyaan Sivia yang cenderung mencibir itu.
            “Sivia…”
            “iya iya sorry… gitu aja marah lo! Becanda Alvin, becandaaaa….” Sivia berjalan kearah meja makan lalu meletakkan 2 piring nasi goreng itu diatas meja. Sivia duduk lalu bersiap menyantap sarapannya,
            “lo yakin nggak mau sarapan? Nanti nyesel lho” Alvin hanya menggeleng. Ia menatap Sivia dengan tatapan yang sulit diartikan. Sivia pun mengedikkan kedua bahu tanda ketidak peduliannya.
            “lo kenapa sih, Vi?” Tanya Alvin tiba-tiba yang sebenarnya ingin memastikan keadaan Sivia sekarang. Bodoh! Alvin bodoh. Sudah tau Sivia tidak sedang baik-baik saja, lalu kenapa ia masih saja bertanya?
            “gue? Gue kenapa?”
            “lo baik-baik aja?”
            “baik, emang gue keliatan sakit?”
            “masalah kemarin, gue—“ sebelum Alvin melanjutkan perkataannya, Sivia malah menyudahi sarapannya lalu bangkit dari meja makan. Entahlah, ia merasa selera makannya sudah tidak ada lagi ketika Alvin menanyakan keadaannya.
            “gue ambil tas dulu. Ini udah hampir setengah 9, nanti kita telat ke kampus” Sivia berlalu begitu saja lalu menaiki anak tangga untuk mencapai kamarnya.
            Alvin mengeram. Ia marah, tapi bukan pada Sivia, melainkan lebih pada dirinya sendiri. Alvin tau bahwa ia telah melukai Gadis itu, entah untuk yang keberapa kalinya. Beberapa saat kemudian, Alvin akhirnya mengambil keputusan untuk menyusul Sivia dikamarnya.
            Dari pintu kamar Sivia yang sedikit terbuka, Alvin bisa melihat dengan sangat jelas apa yang tengah Sivia lakukan. Sivia duduk didepan meja riasnya sambil menenggelamkan wajahnya diatas kedua lipatan tangannya. Kedua bahu Sivia bergetar, dan saat itu Alvin tahu bahwa Sivia sedang menangis.
            Alvin memasuki kamar Sivia lebih dalam lagi dan berjalan perlahan menghampiri Gadis itu yang mungkin belum menyadari kehadirannya dikamar ini. Alvin duduk dengan posisi bertekuk lutut tepat disamping kursi yang Sivia duduki. Ia memegang kedua bahu Sivia lalu memutar pelan tubuh Sivia hingga berhadapan dengannya. Sivia menunduk dalam, pada kenyataannya Sivia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menatap kedua mata Alvin,
            “maaf udah bikin kamu sakit lagi, maaf udah bikin kamu terluka lagi, maaf udah bikin kamu nangis lagi, maaf, maaf….” Sesal Alvin sambil menatap wajah Sivia dalam-dalam. Sivia masih menunduk.
            “aku yang salah, Via… aku yang salah. Kamu boleh salahin aku, kamu boleh caci aku kalo kamu mau, kamu boleh ngelakuin apapun yang kamu mau” kedua pundak Sivia semakin bergetar hebat. Ia menggigit bagian bawah bibirnya kuat-kuat supaya isakkannya tidak terdengar.
            “kalo kamu minta aku buat ngejahuin Pricill, aku akan jauhin Pricill. Aku udah milih kamu Via, dan aku udah janji nggak akan ngulang kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Aku laki-laki, aku nggak akan ingkarin janji yang udah aku buat sendiri, nggak akan Via…”
            “aku ngerti, Alvin, aku ngerti….” Dengan susah payah Sivia akhirnya berucap. “kamu nggak perlu ngejahuin Pricill, dan aku nggak akan pernah minta kamu buat ngejahuin dia, tapi aku Cuma minta dingertiin sama kamu, Cuma itu Alvin….”
            “Via…”
            “permintaan aku nggak berat kan? Iya kan, Vin…?” Sivia akhirnya menatap kedua mata Alvin. Alvin hanya menggeleng, menyetujui ucapan Sivia itu. Ya… Sivia Cuma meminta supaya Alvin lebih mengertikannya lagi, hanya itu. Masakah itu sulit untuk Alvin?
            Alvin meraih kedua tangan Sivia, menggenggamnya erat lalu mengecupnya perlahan.
            “aku masih pacar kamu kan, Vin?” Tanya Sivia tiba-tiba, Alvin mengangkat wajahnya lalu menatap Sivia dengan kedua alis bertaut. Alvin cukup heran dengan pertanyaan Sivia barusan. Kenapa Sivia harus bertanya seperti itu? Tentu saja dia masih pacar Alvin.
            “Via, kamu nanya apa sih…?”
            Sivia menyeka air matanya. Ia tersenyum kecil lalu bangkit dari hadapan Alvin.
            “kita jalan yuk! Udah siang nih” Sivia meraih tasnya lalu berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Alvin.
            Alvin berdecak kecil. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat mengejar langkah Sivia. Saat Sivia akan membuka pintu, Alvin buru-buru menarik lengannya lalu menyandarkan tubuh mungil Sivia dipintu. Tentu saja Sivia kaget setengah mati dengan apa yang Alvin lakukan, semuanya terlalu mengejutkan.
            Alvin mengangkat tangan sebelah kanannya lalu menghempaskannya dengan pelan dipintu –tepatnya disamping Sivia- Alvin seakan mengunci seluruh pergerakan Sivia. Sivia semakin kaget, didalam sana jantungnya sudah meloncat-loncat.
            “tadi lo nanya, lo masih pacar gue apa bukan, sekarang gue akan jawab pertanyaan lo itu” ucap Alvin pelan didepan wajah Sivia.
            Wajah Alvin bergerak cepat mendekati wajah Sivia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sivia tergetar ketika ia merasakan bibir lembut Alvin menempel dibibirnya. Sivia memejamkan kedua matanya, merasakan sebuah kehangatan mulai menjalar kesekujur raganya. Rasanya begitu indah.
            Handphone Alvin tiba-tiba berbunyi. Saat itulah Sivia langsung memalingkan wajahnya dan mendorong pelan dada Alvin hingga jarak mereka sedikit menjauh.
            “handphone lo bunyi” kata Sivia pelan. Sivia berusaha menyembunyikan kesalah tingkahannya juga wajahnya yang mulai bersemu merah.
            Alvin merogoh kantongnya lalu mengambil handphonenya. Kesempatan itu Sivia gunakan untuk melepaskan diri dari Alvin. Tapi kesempatan itu menghilang seketika saat Alvin meraih pergelangan tangannya dan tetap menahannya dalam posisi yang sama. Sivia pasrah, ia tidak mungkin bisa melawan Pria yang begitu keras kepala ini.
            “da… dari siapa?” Tanya Sivia ragu-ragu,
            “dari Pricill” jawab Alvin sekenanya,
            “oh” gumam Sivia lemah.
            Tanpa berfikir panjang lagi Alvin langsung me-riject panggilan dari Pricilla lalu menonaktifkan handphonenya. Kedua mata Sivia membelalak lebar melihat apa yang Alvin lakukan,
            “kenapa nggak diang—“ sebelum Sivia menyelesaikan ucapannya Alvin malah kembali membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Sivia yang tidak siap malah limbung dan langsung berpegang pada dada bidang milik Alvin.

            Hmm… Pria ini memang selalu tau bagaimana caranya membuat Sivia tidak bisa berkata-kata lagi.






                                    BERSAMBUNG…






0 comments:

Post a Comment