Alvin dan Sivia terus saling menatap, keheningan pun terjadi,
tidak lama, Ibu Panti akhirnya memecahkan keheningan dengan berkata,
“MENTARI... nama yang cantik,
baiklah, mulai sekarang nama Bayi ini adalah Mentari..” Ibu panti mengambil
Mentari dari gendongan Sivia lalu meninggalkan Alvin dan Sivia berdua.
Alvin dan Sivia masih saling menatap, sejurus kemudian, Alvin
mulai memegangi kepalanya, Sivia tampak khawatir,
“Vin...”“aku ga’ apa-apa Vi, aku ga’ apa-apa..” Alvin berusaha menahan rasa sakitnya,
“Alvin, yakin kamu ga’ apa-apa ?”
“bener Sivia, aku ga’ apa-apa..”
Alvin dan Sivia duduk berdua dihalaman depan panti asuhan, Sivia terus menatap Alvin yang waktu itu sedang memandangi Matahari yang sudah mulai tenggelam. Setelah cukup lama saling berdiam diri, Alvin akhirnya buka suara,
“sebentar lagi Mentari pergi meninggalkan Langit, Langit
akan menjadi gelap apabila Bintang tidak menemaninya, semoga malam ini tidak
mendung “ Sivia hampir menangis mendengar ucapan Alvin,
“apa Langit akan merindukan Mentari nya ?” tanya Sivia
tiba-tiba, Alvin menatap Sivia penuh arti,ia berusaha memahami maksud dari
pertanyaan Sivia, saat Alvin sudah mulai mengerti, Alvin tersenyum,
“tentu Langit akan sangat merindukan Mentari malam ini, tapi
Bintang akan mengobati rindu itu dengan kilaunya, bukankah pagi sudah pasti
akan datang, diufuk timur sana, Langit bersama fajar telah bersama-sama
menunggu Mentarinya, Langit dan Mentari akan dipertemukan kembali, dan
itulah takdir, bahwa Langit dan Mentari tidak akan pernah terpisahkan untuk
selamanya..” hati Sivia semakin sakit mendengarkan ucapan Alvin. Dalam hati ia
bergumam “tapi kamu nggak pernah bisa merasakan kehadiran Mentari disamping
kamu, Vin.. kenapa kamu malah menganggap bahwa Shilla adalah Mentari kamu…?”
Air mata Siviapun menetes pada akhirnya, tapi ia buru-buru menyeka air matanya. Sivia berusaha tersenyum lantas berkarta pada Alvin,
“Udah hampir gelap, pulang yuk!”
“yaaahh.... padahal aku masih betah disini “
“kapan-kapan kita balik lagi deh..”
“kamu janji akan nemenin aku balik lagi kesini ?”
“janji Vin...”
“thkns ya ..”
“yaa... ya udah pulang yuk..” Alvin mengangguk dan beranjak
pergi bersama Sivia.
^_^
Alvin mengantar Sivia pulang kerumahnya, setelah tiba dirumah Sivia, Alvin langsung pamit pulang.
Kedatangan Sivia dirumahnya langsung disambut oleh kedua orang tua
nya,
“Mama, Papa, maaf ya Via pulang telat !” ucap Sivia sopan
pada kedua orang tuanya,
“ya udah, Ma, Pa, Via masuk kamar ya ?” baru saja Sivia
menaiki anak tangga, Papanya berkata,
“itu Alvin ,Via ?”
“i..iya Pa..”
“kenapa kamu ga’ suruh dia masuk ?”
“Alvin lagi ada urusan Pa, makanya ga’ sempet mampir, ya
udah Pa, Via istirahat ya..?” Sivia pun menaiki anak tangga dengan langkah yang
sengaja ia percepat.
Setelah selesai mandi dan saat Sivia akan merebahkan tubuhnya dikasur, Handphonenya berdering, ada SMS dari Alvin, Sivia pun membuka sms Alvin yang berisi,
>>>>>>>
From ; Alvin J.S
Thx bwt hari ini ! aku seneng bgt,
Dan itu karna kmu !
>>>>>>>>>>
Sivia tersenyum saat membaca SMS dari Alvin, meskipun sekarang Sivia sedang dalam keadaan patah hati, ia tetap berusaha untuk ceria.
Sivia melepas Handphone nya dan melangkah kearah balkon, ia menatap Bintang dilangit, Sivia memejamkan matanya lalu berkata,
“Bintang, sampaikan pada Langit, bahwa disini Mentari sangat
merindukan dia..”
Pada saat yang bersamaan Alvin terbangun dari tidurnya, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya, dan seseorang itu tentu saja adalah Mentari,
“MENTARI...” ucap Alvin dengan nafas yang tersengal-sengal,
“kenapa tiba-tiba aku jadi kangen sama Mentari ! Shilla, aku
harus telfon Shilla “ ucap Alvin seraya meraih handphone nya, ia mencoba
menghubungi Shilla, namun sayang nomer Handphone Shilla sedang dalam keadaan
tidak aktif, Alvin kembali kecewa untuk yang kedua kalinya, karna Shilla,
pacarnya sendiri.
~2 BULAN KEMUDIAN~
Tak terasa waktu sudah berjalan 2 bulan, selama 2 bulan terakhir ini Alvin terus berharap semoga ada perubahan dalam diri Shilla tapi ternyata Alvin salah, Shilla tak kunjung-kunjung berubah, ia masih sama seperti 2 bulan yang lalu, cuek, dingin, dan menganggap masa bodoh hubungannya dengan Alvin, Alvin mulai meragukan, bahwa Shilla adalah Mentari, cinta pertamanya,
“sebenernya kamu Mentari ato bukan Shill..?” tanya Alvin
pada Shilla saat Alvin mengajak Shilla makan siang disebuah restoran, awalnya
Shilla menolak untuk diajak oleh Alvin, tapi setelah Sivia memaksa, akhirnya
Shilla mau juga, Shilla menghela nafas panjang,
“menurut kamu ?” tanya Shilla kembali pada Alvin,
“Shill..”
“jawab aku Vin, menurut kamu, aku mentari ato bukan ?” Alvin
sempat terdiam sejenak, dan dengan ragu akhirnya Alvin menjawab,
“iya, kamu Mentari..”
“kamu tau aku Mentari kan ? ya udah, buat apa lagi kamu
nanya pertanyaan yang kamu sendiri tau bahkan hapal jawabannya “ ucap Shilla
sinis,
“Shilla kamu kok gini sama aku ? aku nanya baik-baik, ya
kamu jawab baik-baik dong “
“kamu mau jawaban yang sebaik apa sih Vin ?” setelah
menanyakan itu pada Alvin, Shilla pun bangun dari duduknya,
“kalo kamu ragu sama aku, ya udah, itu ga’ masalah buat aku
“ Shilla beranjak dari hadapan Alvin,
“Shill kamu mau kemana ?”
“aku mau pulang..” Shilla keluar dari restoran sambil
berlari, Alvin mengejarnya, setelah dekat dengan Shilla ,Alvin menarik tangan
Shilla,
“Alvin lepas !” ucap Shilla sambil
berusaha melepaskan genggaman tangan Alvin,
“kamu aku anter pulang “
“ga’ usah, aku bisa sendiri !”
“Shilla aku minta maaf, maaf aku udah ragu sama kamu “
Melihat Alvin minta maaf seperti itu, Shilla malah merasa bersalah, tidak seharusnya ia berperilaku seperti itu pada Alvin selama 2 bulan terakhir ini, bukankah Alvin sangat menyayangi dia ?
“aku bener-bener minta maaf “ ucap Alvin sekali lagi. Shilla
terus menatap wajah memelas Alvin,
“ya Tuhan, kenapa Alvin jadi sebaik ini sama aku..” Shilla
akhirnya meneteskan air mata, Alvin menyeka air mata Shilla,
“jangan nangis ya “ Alvin memeluk Shilla,
“aku janji, aku ga’ akan ngeraguin
kamu lagi, sejak awal aku udah yakin, kalo kamu itu Mentari aku “ perlahan
Shilla membalas pelukan Alvin,
“aku bukan Mentari Vin, bukan..” batin Shilla.
^_^
Hari ini Alvin akan bertanding basket lagi melawan SMK 1, semua sekolah tau, bahwa SMK 1 memiliki pemain yang handal, tapi Alvin yakin, ia pasti bisa mengalahkan SMK 1.
Alvin sudah meminta pada Shilla supaya Shilla datang menyaksikan
ia bertanding dan memberikan semangat untuknya, tapi Shilla tak datang, bahkan
beberapa menit sebelum pertandingan akan dimulai, Shilla tetap tidak menunjukan
dirinya, tanpa kehadiran Shilla tentu saja semangat Alvin akan menciut.
Permainan akhirnya dimulai, Alvin memulai pertandingannya tanpa semangat sama sekali, selama bertanding, yang ada dalam fikiran Alvin hanyalah Shilla, dan karna hal itu, Alvin gagal memasukan bola kedalam ring, saat ini tim Alvin sudah kalah jauh, Alvin mulai pasrah, sepertinya SMK 1 yang akan menang, 15 menit kemudian, kloter 1 pun berakhir, SMK 1 lah pemenangnya, jika pada kloter ke 2 nanti tim Alvin tidak bisa mengejar skor SMK 1 ,maka SMA 14 BINTANG akan dinyatakan kalah, Alvin terduduk lemah, semangatnya sudah runtuh, ia butuh Mentari nya.
“aku butuh Mentari ku..” ucap Alvin pada dirinya sendiri, saat
itulah secara tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan Alvin sebotol air
mineral,
“mana semangat mu?? masa’ gitu aja kalah ?!” ucap gadis itu
memberi semangat pada Alvin..
===PART 8===
“SIVIA..” Ucap Alvin dengan guratan senyum diwajah tampannya,
segala kekecewaan yang terlukis sejak ia mulai bertanding seolah menghilang
tanpa bekas dari wajah jernih Alvin, dan entah darimana datangnya eufora dihati
Alvin saat Sivia datang memberi semangat dihari terpentingnya ini, dalam
sekejab, entah bagaimana cara nya, Shilla menghilang dari fikiran Alvin yang
kalut, ia merasa cukup dengan kehadiran Sivia, sang Mentari yang tertutup
dengan awan hitam nan pekat,
“SEMANGAT dong Vin, masa’ kamu mau kalah, malu banget kalo
sampa sekolah kita kalah, kamu harus menang ya..” Sivia semakin menyalakan
semangat Alvin,
“kok kamu tau hari ini aku bertanding, aku kan ga’ ngasi tau
kamu ?”
“Shilla yang ngasi tau “
“Shilla ?” tanya Alvin heran,
“iya Shilla, sebelumnya, aku mau nyampein permintamaafan
Shilla, katanya hari ini dia ga’ bisa dateng, karna dia ada acara ngumpul
bareng bersama teman-teman ekskul musik nya “
Rasa kecewa kembali menyelimuti hati Alvin, setidak penting itu kah Alvin bagi Shilla, hingga Shilla lebih memilih berkumpul bersama kawan-kawannya daripada menyaksikan pertandingan yang sangat penting untuk Alvin ? Alvin berusaha meredam kekecewaannya dengan kehadiran Sivia, ia ingin menghargai niat baik Sivia yang sudah datang jauh-jauh hanya untuk menyalakan semangatnya yang nyaris saja padam karna ketidakhadiran Shilla.
“Vin “ panggil Sivia,
“kenapa Vi ?”
“dengan atau tanpa kehadiran Shilla, kamu harus menang dalam
pertandingan ini, okey..”
“pasti Vi..” ucap Alvin mantap.
Wasit pun meniup peluit tanda pertandingan akan kembali dimulai, Alvin pamit pada Sivia,
“ya udah Vi, aku maen dulu ya “
“yang semangat ya maen nya ?” Alvin hanya tersenyum, dan
saat Alvin akan melangkah ketengah lapangan, Sivia kembali memanggilnya,
“Alvin..!”
“apa lagi Via..?” Sivia merogoh tas nya dan mengambil sebuah
kain persegi empat berwarna biru langit, ditengah-tengah kain itu terdapat
gambar sebuah Matahari, indah sekali, dalam benaknya Alvin berfikir,
“LANGIT dan MENTARI ?” Sivia melipat kain itu, setelah
melipatnya Sivia menarik lengan Alvin lalu mengikatkan kain itu dilengan
sebelah kanan Alvin,
“pake ini ya Vin,anggep ini kekuatan kamu biar semangat kamu
bertambah “ ucap Sivia pada Alvin seraya mengikatkan kain itu dilengan Alvin,
sedangkan Alvin, ia hanya menatap Sivia dengan tatapan yang membingungkan,
“ya udah, sekarang kamu turun
kelapangan, inget harus menang ya..” Alvin turun kelapangan dengan pandangan
tak lepas dari wajah Sivia, sementara dari tengah lapangan, ada seseorang lagi
yang terus saja memandangi Sivia, ia telah lama memandangi Sivia, tapi Sivia
tidak juga menyadarinya, seorang itu adalah salah satu tim Alvin, sahabat dekat
Alvin.Maka pertandingan pun dimulai, dari tepi lapangan, Sivia terus memberi semangat untuk Alvin, “GO ALVIIINNNN....!!!!” begitulah Sivia berteriak hingga seterusnya, Alvin terlihat bersemangat dan tidak selemah tadi saat Sivia tak ada disana untuk menyalakan semangatnya. Saat ini bola sudah ada ditangan Cakka, susah payah Cakka mendrible bola itu tim lawan malah berhasil merebutnya, Gabriel tidak tinggal diam, ia bersama Rio berusaha untuk mengecoh lawan, lawan mereka berhasil terkecoh, Gabriel langsung memanifulasi situasi itu untuk merebut bola dari lawan, setelah berhasil merebut bola, Gabriel pun mengoper bola pada sang Kapten, yaps, bisa ditebak, dengan tepat dan sigap Alvin berhasil menangkap bola operan dari Gabriel, dan dengan tembakan jarak jauh andalan Alvin, ia pun sukses memasukan bola ke ring lawan, semuanya bertepuk dan berteriak heboh termasuk Sivia, Alvin menatap Sivia yang waktu itu mengacungkan jempol untuk Alvin, Alvin mencium kain persegi empat pemberian Sivia yang terikat dilengannya.
Waktu sudah berjalan 10 menit, Alvin beserta tim nya memasukan bola ke dalam ring SMK 1 secara membabi buta, hingga akhirnya mereka bisa mengejar ketertinggalan mereka yang cukup jauh, skor 50-48 untuk SMA 14 BINTANG, sebelum SMK 1 sempat memasukan bola kedalam ring SMA 14 BINTANG, wasit sudah meniup peluit tanda pertandingan sudah berakhir, SMA 14 BINTANG pun dinyatakan sebagai pemenangnya, secara spontan dan semarak Sivia berlari ketengah lapangan untuk menghampiri Alvin.
Alvin yang waktu itu sedang dalam keadaan yang benar-benar gembira karna kemenangannya pun secara tidak sadar langsung memeluk Sivia erat, Sivia terkejut, jantungnya berdegup kencang, sejenak, Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, dengan mata yang berbinar-binar, Alvin berkata,
“yeeee...menaanggg...!!!”
“selamat ya Vin ?” Alvin kembali memeluk Sivia dan
mengangkat Sivia, Sivia berusaha menahan air matanya.
Tidak lama Alvin pun tersadar, ia berhenti berteriak dan secara perlahan melepaskan pelukannya dari Sivia, Alvin menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal,
“maaf ya Vi..?”
“ga’ apa-apa Vin..” setelah berpelukan, Alvin dan Sivia
terlihat malu-malu, sesekali Alvin dan Sivia saling mencuri pandang, persis
seperti apa yang mereka lakukan sewaktu mereka masih kecil dulu, Alvin tertawa
kecil saat melihat Sivia, begitupun Sivia, Alvin tampak berfikir dan kembali
memeluk Sivia,
“MENTARI...” lirih Alvin pelan, Sivia yang mendengar Alvin
menyebutnya dengan nama Mentari pun semakin terkejut saja, perlahan,
butiran-butiran bening mulai menetes dari kedua mata indah Sivia. Tanpa mereka
sadari, seorang sahabat Alvin yang sedari tadi memandangi Sivia, melihat Alvin
dan Sivia berpelukan, ia menggenggam erat-erat jemari tangannya, ia juga
menatap Sivia dan Alvin dengan tatapan mata yang sangat tajam, itu menunjukan,
bahwa ia cemburu dan sangat marah.
^_^
Akhir-akhiran ini Alvin mulai berfikir, kenapa Sivia selalu ada untuknya, Sivia selalu ada disamping Alvin disaat Alvin benar-benar merindukan sosok Mentarinya yang dia anggap Shilla. Sivia tidak pernah lelah dan bosan menemani kemana pun Alvin pergi, sedangkan Shilla, ia selalu saja mengeluh apabila Alvin memintanya untuk menemani Alvin kesuatu tempat, dan Shilla sendiri jarang mau pergi bersama Alvin walaupun mereka sudah berpacaran selama 2 bulan. Sekarang ini, Alvin malah lebih dekat dengan Sivia ketimang dengan Shilla, pacar yang begitu dia sayang.
Alvin merenung ditepi kolam renangnya sambil menatap jutaan bintang-bintang yang bertabur diatas langit, Alvin mulai mengadukan kerinduannya terhadap Mentari kepada Bintang,
“Bintang, kumerindukan dia... aku rindu Mentari yang dulu,
bukan Mentari yang sekarang, apa Mentari bisa merasakan kerinduan ku..
sampaikanlah pada Mentari ,Bintang..”
Sivia membuka matanya, sudah cukup lama ia berdiri dibalkon kamarnya sambil memejamkan mata, begitulah cara Sivia menikmati setiap untaian kerinduannya pada sosok Alvin, ia mengadu pada Bintang, dan tidak lama ia memejamkan matanya sambil terus membayangkan wajah Alvin.
“Bintang, kurasakan kerinduan Langit pada Mentari, tapi aku
tau, itu bukan untuk Sivia, melainkan untuk Shilla..”
^_^
Satu sekolah SMA 14 BINTANG dihebohkan oleh foto-foto mesra Shilla bersama Riko, ketua ekskul Silat di SMA 14 BINTANG, Foto menghebohkan itu tertempel di MADING Sekolah, seisi sekolah pun melihat Foto-foto itu, mereka mulai membicarakan kedekatan Shilla dengan sang ketu ekskul Silat yang tak cukup populer itu.
Shilla belum mengetahui bahwa foto-fotonya sudah tersebar luas,
siapakah yang tega menyebarkan fitnah keji itu, jelas ia hanya ingin melihat
hubungan Shilla bersama Alvin hancur .
Shilla yang datang bersama Alvin dan Sivia pun menjadi heran saat semua
anak-anak 14 BINTANG membicarakan Shilla secara terang-terangan didepan Shilla
sendiri,
“dasar,
cewek tidak tau terimakasih !” ucap salah seorang anak, Shilla yang sadar
ucapan itu mengarah padanya pun berkata,
“loe ngatain gue ? maksud loe apa ?”
“loe selingkuhin Alvin kan ?”tentu saja Alvin,Sivia,
terutama Shilla sangat terkejut mendengarkan penuturan dari Dea,
“eh gue tambah ga’ ngerti !”
“loe ga’ usah pura-pura sok ga’ ngerti deh “ ucap Dea
sesinis mungkin,
“loe liat noh di MADING, foto mesra loe sama Kak Riko udah
tersebar, loe ga’ bisa ngelak lagi...” tanpa berkata apa-apa Shilla langsung
berlari ketempat MADING sekolah terletak, Alvin dan Sivia hanya mengikutinya.
Betapa terkejutnya Shilla melihat foto-foto dirinya bersama Riko, Shilla hampir saja menangis, tapi ia berusaha bersikap wajar, Shilla tau pasti bahwa itu bukan dirinya.
Alvin dan Sivia yang juga melihat foto-foto itu tentu saja merasa sangat terkejut,terlebih Alvin, ia terlihat sangat marah pada Shilla, Shilla menoleh kearah Alvin seraya menggelengkan kepalanya,
“bukan Vin, itu bukan aku “ tutur Shilla pelan, Alvin hanya
diam, tidak ada satupun yang bisa menebak ekspresi Alvin, bahkan Sivia pun tak
mampu, Shilla kembali berkata,
“Vin, percaya sama aku, itu bukan aku, aku di fitnah “ Alvin
tetap tidak berkomentar apa-apa.
Salah seorang anak bernama Zahra kembali buka suara,
“loe jangan percaya sama Shilla Vin, dia mana mungkin mau ngaku
!” Shilla tidak menghiraukan perkataan Zahra, sekarang ini yang Shilla butuhkan
hanyalah kepercayaan dari Alvin,
“Vin, kamu percaya kan sama aku..?” tanya Shilla seraya
memegang tangan Alvin, saat itu juga Alvin langsung menarik tangannya dari
Shilla lalu beranjak pergi, Sivia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi..
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment