Sivia tersenyum memandangi Alvin yang duduk tak jauh dari tempat ia
duduk sekarang, tak henti-hentinya Sivia memandangi Alvin, sesekali
Alvin menoleh kearah Sivia, dan saat itu juga Sivia langsung membuang
muka nya, ia tak ingin Alvin melihat tingkah bodohnya itu, rupanya Sivia
telah benar-benar jatuh cinta pada sosok Alvin.
Bukan hanya Sivia yang mengagumi sosok Alvin, tapi
seluruh gadis di seantaro sekolah juga mengagumi Alvin, Alvin adalah
bintang disekolahnya.
Alvin menjadi idola disekolahnya, bukan hanya karna ia memiliki wajah
yang luar biasa tampannya dan bukan hanya karna ia berasal dari
keluarga yang kaya raya, tapi karna prestasinya yang begitu gemilang
dipermainan Basket, Alvin berhasil mengangkat nama baik sekolahnya di
Indonesia, dengan memenangkan pertandingan basket tingkat nasional.
Saat Sivia sedang memlamunkan Alvin, tiba-tiba saja Shilla sahabatnya datang mengejutkanya,
“dorrr...” Sivia langsung membuyarkan lamunannya,
“Shilla ngagetin banget sih loe “
“hahahah.... maaf deh, lagian loe kenapa ? dari tadi gue perhatiin loe ngelamuun aja, ngelamunin siapa sih ?”
“ga’ ada..”
“boong..”
“ya udah kalo loe ga’ percaya...” Sivia kembali menatap Alvin,
Shilla mengikuti arah tatapan Sivia, dan saat itu juga Shilla langsung
mengetahui, bahwa sedari tadi Sivia hanya menatap Alvin,
“ooo...gue tau, loe lagi mandangin Si Alvin kan ?”
“idih sok tau banget..!”
“loe suka sama dia..?”
“semua cewek juga suka sama dia, bahkan sampai tergila-gila “
“jadi loe bener suka sama dia ?”
“enggak...!”
“berarti kalo loe ga’ suka sama Alvin, gue boleh dong ngegebet dia “
Shilla mulai memancing Sivia, Sivia yang kena umpan Shilla secara
refleks berkata,
“jangaan..!”
“tu kan loe suka sama Alvin, hayoo ngaku..” ucap Shilla sambil menunjuk hidung Sivia,
“Shilla loe apa-apaan sih ?”
“hayoo ngaku..”
“udah ah, gue ke kelas dulu..” Sivia pun beranjak dari dari bangkunya dan hendak keluar dari kantin, Shilla pun mengikutinya.
Sambil tetap mengekori Sivia, Shilla terus saja menggoda Sivia, sampai pipi Sivia merah dibuatnya.
Saat Shilla dan Sivia melewati lapangan basket, Sivia kembali melihat
Alvin yang waktu itu sedang bermain basket, Sivia menghentikan
langkahnya dan kembali memperhatikan Alvin, Shilla kembali menggoda
Sivia,
“katanya mau ke kelas..?”
“ni juga udah mau ke kelas..”
Baru saja Sivia dan Shilla akan meninggalkan lapangan
basket, tiba-tiba saja saat Alvin akan mengoper bola pada
kawannya,secara tidak sengaja ia malah melempar kepala Shilla dengan
bola basket, Shilla langsung merasakan pusing yang teramat sangat akibat
lemparan Alvin yang sangat keras, Shilla memegangi kepalanya,
“Shill, loe ga’ apa-apa..?” tanya Sivia khawatir,
“sakit banget kepala gue.. “ Alvin pun menghampiri Shilla dan Sivia, Alvin berkata pada Shilla,
“loe ga’ apa-apa ? maaf ya, tadi gue ga’ sengaja..” Shilla menarik
nafas berkali-kali, dan dengan nada yang sangat kesal Shilla berkata
pada Alvin,
“eh loe bisa maen basket ga’ sih ? kalo loe ga’ bisa maen basket
mending ga’ usah maen deh..” kali ini giliran Alvin yang kesal pada
Shilla,
“eh gue udah minta maaf baik-baik ya sama loe, gue ga’ sengaja..”
“halah, emang loe aja yang ga’ bisa maen basket..” Sivia berusaha melerai mereka,
“Shill udah Shill..”
“diem Vi, gue masih kesel ama nih cowok..”
“atas dasar apa loe kesel sama gue ? “ balas Alvin segera, Shilla kembali menyerang Alvin,
“heuh, kenapa loe bisa jadi Capten Basket ya, secara, loe kan ga’ bisa maen basket..”
“eh, jaga ya mulut loe, ga’ usah asal cablak “
“eh Boy, apa yang gue omongin ini fakta, loe itu ga’ pantes maen
basket, loe pantesnya maen bola bekel, itu permainan yang pantes buat
loe..”
“loe bener-bener mau ribut sama gue..?”
“loe yang mulai kan...?”
“Shill udah ya, sekarang mending kita UKS aja, liat tuh kepala udah benjol “
“yang bener..?”
“iya “ sebelum pergi, Shilla sempat berkata pada Alvin,
“eh, urusan kita belum kelar ya..”
“males gue berurusan sama cewek macem loe..” Shilla semakin kesal
saja mendengar ucapan Alvin, saat Shilla sudah bersiap-siap akan
melayangkan pukulan di pipi Alvin, Sivia malah menahan tangan Shilla,
“Shilla, gue bilang udah ya udah, sekarang kita ke UKS..” Sivia pun
menarik-narik tangan Shilla, disaat seperti itu, Shilla masih sempat
berkata pada Alvin,
“awas loe kalo kita ketemu lagi..” dari kejauhan Alvin berteriak,
“males gue ketemu sama cewek kaya’ loe..”
Saat Sivia sedang menarik-narik tangan Shilla, ia sempat
menatap Alvin sambil tersenyum, begitupun dengan Alvin, melihat senyum
Sivia dalam hati Alvin berkata,
“cewek itu siapa ya..? kenapa tiba-tiba gue ngerasa pernah ngenal dan deket sama dia, apa dia..?”
@UKS
“HWAAAAA...VIAAA... gue sebel banget sama idola loe itu, sebel..sebeel...sebeellll.....”
“cukup kali sebelnya Shill, ga’ usah banyak-banyak “
“loe tadi kenapa sih ngelindungin dia ? padahal gue pengen banget
nonjok pipi tuh cowok yang super duper songong..” ucap Shilla kesal,
“dia kan ga’ sengaja Shill...”
“gue ga’ peduli, yang gue tau, si Alvin itu yang bener-bener rese banget, iisshhhh...”
“dia emang rese’ Shill, tapi luarnya aja, dalemnya dia lembut banget
sebenernya “ ucap Sivia sambil membayangkan wajah Alvin, tentu saja
Shilla merasa heran pada Sivia, karna Sivia bercerita seolah-olah ia
kenal dekat dengan Alvin, Shilla mengerutkan dahinya seraya menatap
Sivia penuh tanya,
“loe kok kaya’ ngenal Alvin luar dalem gitu ?” tanya Shilla curiga,
Sivia yang bisa membaca kecurigaan Shilla pun langsung berdalih,
“biasa aja kali Shill..” jawab Sivia berusaha untuk tenang,
“loe pernah kenal dan deket sama Alvin ?”
“idih ngaco banget sih loe, keluar yuk, bentar lagi bel bunyi “
tidak ingin menambah kecurigaan Shilla lagi, Sivia pun buru-buru
meninggalkan UKS.
^_^
Malam ini Sivia duduk dibalkon kamarnya memandangi
bintang-bintang dilangit yang bersinar sangat terang, Sivia memeluk erat
foto dirinya dengan Alvin semasa ia masih duduk dibangku 7 SMP 3 tahun
yang lalu, Sivia mengusap-usap Foto itu dengan tangannya, Sivia
memejamkan matanya sejenak, ingatannya kembali ke masa silam, 3 tahun
yang lalu,
_flash back Sivia_
“kamu lihat bintang-bintang itu Vi, suatu saat, kalo kamu
rindu sama aku, maka liat aja bintang itu, dan disaat itu juga, kamu
bakal langsung ngerasain kehadiran aku..” ucap Alvin padaku saat ia akan
pindah rumah,
“tapi tetep aja Vin, kamu ga’ akan lagi ada disamping aku !” ucapku sedih,
“aku akan selalu ada, disetiap kamu memejamkan mata, aku akan hadir,
lagian aku kan Cuma pindah rumah, bukan pindah kota atau negara, kita
masih bisa tetep ketemuan dihari minggu, dan nanti, setelah aku berhasil
ngerayu Mama dan Papa, aku pasti bakal pindah ke sekolah kamu !”
kata-kata Alvin begitu tulus, dan membuatku merasa damai,
“janji...!”
“janji...!” aku dan Alvin pun mengikat jari kelingking kami sebagai tanda perjanjian kami.
Sivia menutup ingatannya dan membuka matanya, Sivia pun kembali menatap bintang-bintang dilangit,
“Vin, apa kamu sudah bener-bener lupa sama aku..?”
==PART 2==
Saat jam istirahat Sivia diperintahkan untuk membawa setumpuk Buku
ke perpustakaan oleh gurunya, mau tidak mau Sivia harus tetap
menjalankan tugas yang diberikan oleh Gurunya itu.
Sivia tampak kualahan saat membawa buku-buku yang lumayan
banyak itu. Saat Sivia sedang lelah-lelahnya membawa buku itu,
tiba-tiba saja ada seorang teman yang menabrak Sivia, hingga buku-buku
yang dibawa oleh Sivia jatuh semuanya ke lantai,
“maaf ya Via, gue lagi buru-buru..” ucap seorang teman itu lalu
kembali berlari, ia pergi tanpa membantu Sivia membereskan buku-buku
itu, dengan rasa kesal yang coba ia tahan, Sivia pun memungut-mungut
buku-buku itu,
“rese’ banget sih jadi orang..” sungut Sivia kesal sambil terus mengumpulkan buku-buku yang berserakan dilantai itu.
Saat itulah secara tiba-tiba ada seseorang yang membantu
Sivia memunguti buku-buku itu, orang itu berkata pada Sivia,
“dasar ceroboh ! maka nya lain kali hati-hati..” Sivia menoleh
kearah orang yang sudah menolongnya itu, ternyata orang yang sudah
menolong Sivia, adalah Alvin, idola yang dia puja-puja, jantung Sivia
mulai berdebar kencang, sangat kencang,
“makasih Vin !”
“sama-sama “ ucap Alvin sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Shilla datang, ia langsung berkata pada Alvin,
“eh mau loe apa sih ? loe sengaja nabrak Via supaya buku-buku yang
Via bawa jatoh..?” setelah Alvin selesai mengumpulkan buku-buku itu, ia
langsung menyerahkan buku-buku itu pada Sivia, tanpa menghiraukan Shilla
sama sekali, Alvin berkata pada Sivia,
“kenalin gue Alvin, loe..?” melihat Alvin yang mengajaknya
berkenalan, terlintas sebuah rasa kecewa yang teramat sangat dihati
Sivia,
“kenapa kamu ngajak aku kenalan Vin ? aku Sivia, aku Mentari kamu..?
batin Sivia seraya berusaha keras menahan air matanya, dengan tangan
yang gemetar, Sivia membalas uluran tangan Alvin,
“a..aku Sivia..” jawab Sivia terbata-bata, lalu dengan sangat santai Alvin berkata,
“oo.. nama kamu Sivia, oya, ga’ usah grogi ya, biasa aja lagi..” ucap Alvin pada Sivia saat ia merasakan kegerogian Sivia,
“i..iya..” Alvin pun melepaskan jabatan tangannya dari Sivia.
Shilla yang merasa sebal diacuhkan seperti itupun langsung menarik lengan Alvin dan berkata dengan sangat sinis,
“eh gue lagi ngobrol ya sama loe..”
“Shilla udah..” Sivia berusaha menenangkan situasi, tapi Shilla tidak memperdulikannya,
“oowwhh.. ada orang toh..! tadinya gue fikir ga’ ada orang “ ucap Alvin sesantai mungkin,
“eh loe itu rese’ banget ya lama-lama “
“emang gue fikiran..” melihat tingkah masa bodoh Alvin emosi Shilla
semakin memuncak saja lalu tanpa ampun Shilla langsung menendang kaki
Alvin sekencang-kencangnya, Alvin pun meringis kesakitan,sedangkan Sivia
ia terkejut bukan main,
“elo...!!!” ucap Alvin sambil menunjuk Shilla, Shilla melipat kedua tangannya didada sembari membuang muka nya ke arah lain,
“Shilla loe apa-apaan sih ? tadi Alvin yang nolongin gue, kenapa loe malah tendang kakinya Alvin ?”
“aduh Via, kenapa sih loe selalu ngebelain COWOK SONGONG ini..!” ucap Shilla sambil memberi penakanan pada kata COWOK SONGONG,
“gue bukannya ngebelain siapa-siapa, tapi Alvin emang ga’ salah Shill..”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin pun pergi meninggalkan
Sivia dan Shilla dengan langkah yang pincang, Sivia pun mengejar Alvin,
“Vin !” panggil Sivia, Alvin menghentikan langkahnya lalu membalik badannya,
“kenapa Vi ?”
“maafin Shilla ya, tadi dia ga’ sengaja..” mendengar ucapan Sivia
pada Alvin, Shilla merasa tidak terima, ia mendekati Alvin dan Sivia,
“eh Via, ngapain sih loe pake minta maaf sama nih cowok ?” lagi-lagi Alvin enggan memperdulikan Shilla,
“ga’ apa-apa Vi, gue ngerti kok !”
“apa yang loe ngerti ?” tanya Shilla emosi, Alvin menghela nafas
panjang, ia berusaha menahan kekesalannya pada Shilla, tidak ingin
suasana semakin memanas lagi, Sivia pun membawa Shilla pergi,
“udah Shill, sekarang kita pergi ya “ sebelum Sivia membawa Shilla pergi, ia sempat melempar senyum pada Alvin dan berkata,
“permisi ya Vin..”
“iya..!”
Saat Shilla dan Sivia sudah benar-benar menghilang dari
pandangan Alvin, Alvin tiba-tiba mengingat Sivia, ia menyebut nama Sivia
sambil berfikir,
“Sivia..! kenapa gue ngerasa pernah ngenal dia..SIVIAA..” Alvin
mencoba mengingat-ingat masa lalu nya, dalam ingatan Alvin, ia mengingat
wajah seorang gadis remaja yang sangat mirip dengan Sivia,
_flash back Alvin_
“Mentari, kamu mau ga’ jadi pacar aku ?”
“tapi Langit, kita kan masih SMP ?”
Ingatan Alvin masih sangat samar-samar, tiba-tiba ia
mendengar banyak suara yang entah darimana datangnya, suara itu adalah
suara Alvin sendiri, suara dari ingatan masa lalu nya yang terus
menyebut-nyebut nama Mentari,
“Mentari ? siapa dia ? MENTARI...MENTARI...MENTARIIIIII...”
Alvin mulai merasakan sakit yang tak tertahankan dibagian
kelapanya, Alvin memegang kepalanya sambil berusaha menahan rasa sakit
yang teramat sangat , wajah gadis remaja yang mirip dengan Sivia itu
terus saja hadir dalam ingatan Alvin,
“AARRRGGHHH.....” teriak Alvin,
“aku ga’ bisa inget semua nya, aku ga’ mau inget masa lalu aku..”
Alvin jatuh tergeletak dilantai, saat itulah, kawan-kawannya, Rio, Cakka
dan Gabriel langsung menghampiri Alvin,
“Alvin loe ga’ apa-apa..?” tanya Rio ,Alvin tidak menjawab
pertanyaan Rio, ia terus saja mengeluh kesakitan, Cakka membangunkan
tubuh Alvin,
“apa nya yang sakit Vin ?” kali ini Gabriel yang bertanya,
“kepala gue sakit, kepala gue..”
“Alvin tenang Vin, tenangin diri loe..”
“gue ga’ bisa “
“loe pasti bisa Vin..”
Tidak lama kemudian, secara berangsur sakit dikepala
Alvin akhirnya menghilang, sekarang Alvin sudah terlihat tenang, tapi ia
masih merasakan sisa-sisa sakit ringan dikepalanya, Alvin terus saja
memegang kepalanya, kawan-kawannya membantunya berdiri dan membawa Alvin
kedalam kelas.
^_^
Saat pulang sekolah Alvin menghampiri Sivia yang waktu itu akan pergi ke parkiran,
“Via !” Sivia yang merasa namanya dipanggil pun menghentikan
langkahnya dan menoleh kebelakang, saat ia tau bahwa Alvin yang
memanggilnya, Sivia kembali merasakan getaran yang begitu hebat
didadanya,
“Alvin ! kenapa ?”
“temen kamu yang nyebelin itu kemana ?”
“temen aku yang nyebelin ?” tanya Sivia heran,
“iya, temen kamu yang nyebelin, aduhh..siapa sih namanya, Shella kalo ga’ salah “
“Shilla Vin bukan Shella..”
“oowhh, Shilla ? dimana dia ?”
“siang ini dia masih ada ekskul musik, jadi pulangnya agak telatan “
“jadi dia ikut ekskul musik ?”
“iya ! emang kenapa kamu nyariin Shilla ?”
“ga’ apa-apa , Cuma pengen tau aja kok “
“oo.. ya udah, aku balik ya Vin “
“iya..” Sivia pun melanjutkan perjalanannya ke parkiran motor
tentunya dengan sejuta pertanyaan yang ada dibenaknya ‘kenapa Alvin
nyariin Shilla ?’
Alvin pergi ke ruang musik untuk melihat Shilla, dari
kejauhan Alvin terus memperhatikan Shilla yang waktu itu sedang sibuk
latihan bernyanyi, Alvin tersenyum memandangi Shilla.
Shilla yang melihat Alvin pun menghentikan latihannya dan keluar dari ruang musik,
“eh, ngapain loe disini ?”
“ga’ ngapa-ngapain “ jawab Alvin sesantai mungkin,
“loe ngikutin gue ?” tanya Shilla kembali,
“idih geer banget loe jadi cewek, siapa juga yang ngikutin loe ?”
“terus ngapain loe disini ?”
“Eh, gue sekolah disini bayar, jadi mau-mau gue dong, gue mau ngapain kek, gue mau dimana kek, itu terserah gue “
“ya udah, tapi aneh aja, masa’ anak basket nongkrong didepan ruang musik, ckckck.. janggal..”
“banyak omong banget sih loe ?”
“yeee.. sewot banget Boy..”
“Boy..Boy..nama siapa noh ? gue Alvin, bukan Boy “
“emang penting ya gue tau nama loe ?”
“ga’ juga !”
“susah banget “ Shilla pun meninggalkan Alvin masuk kedalam ruang musik,
“loe tu yang susah..” teriak Alvin dari depan ruang musik.
Semenjak hari itu, Alvin selalu mendekati Sivia, dan kelamaan Alvin dan Sivia pun menjadi semakin dekat.
Dimana-mana mereka selalu terlihat bersama, Shilla yang satu-satunya
sahabat Siviapun mau tidak mau harus mengikuti kemana Alvin dan Sivia
pergi.
“Via “ ucap Shilla pada Sivia saat ia menginap dirumah Sivia,
“kenapa ?” tanya Sivia sambil tetap fokus membaca novel,
“loe ngerasa kan, akhir-akhiran ini loe semakin deket sama Alvin “
“iya, terus ?”
“gue ngerasa ni ya Vi, kalo Alvin itu suka sama loe..?” Sivia langsung menutup novel nya, ia terkejut mendengar ucapan Shilla.
BERSAMBUNG...
Monday, August 5, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment