“Via… Via… Via…” Gumam Alvin pelan.
Suaranya terdengar sangat lemah. Ketiga Sahabatnya, Rio, Shilla, dan Ify yang
sejak tadi menjaganya langsung mendekati Alvin yang ketika itu tergolek lemah
tak berdaya diatas tempat tidur dengan beberapa alat medis yang terdepat
disekujur tubuhnya. Sebuah perban melilit kepala Alvin yang terluka.
Shilla tersenyum kecil
ditengah-tengah isakkannya. Setelah hampir selama 3 jam menunggu, akhirnya
Alvin menunjukkan tanda-tanda kesadarannya juga.
“Alvin… lo nggak apa-apa kan, Vin?”
Tanya Shilla pelan sambil menyentuh kepala Alvin.
“apanya yang sakit, Vin?” tambah Ify
dengan nada suara bergetar. Diantara mereka bertiga, Ify lah yang paling
histeris ketika tahu Alvin kecelakaan dan harus dilarikan kerumah sakit dalam
keadaan yang sudah sangat kritis.
Alvin akhirnya membuka matanya,
wajah-wajah cemas dari ketiga Sahabatnya langsung menyambut Alvin pertama kali.
Alvin bisa melihat dengan sangat jelas Ify dan Shilla yang tengah meneteskan
air mata. Sedangkan Rio, ia berdiri agak jauh dari tempat tidur Alvin dengan
wajah yang gusar.
“gue dimana?” Tanya Alvin pelan.
Alvin meringis pelan dengan kening yang mengernyit. Sepertinya ia merasa
sedikit kesakitan dibagian kepalanya.
“lo dirumah sakit, Alvin. Papi sama
Mami lo tadi ada disini, tapi mereka pulang sebentar untuk mengambil segala
keperluan lo” jawab Shilla.
“kenapa gue bisa ada disini,
bukannya tadi… bukannya tadi—“
“lo kecelakaan, Alvin” sela Shilla
sebelum Alvin menyelesaikan perkataannya.
“lo kecelakaan waktu lo dalam
perjalanan pulang dari rumah Via” lanjut Ify,
“Via? Via sekarang dimana? Harusnya
sekarang gue lagi nyariin Via, bukannya malah enak-enakan tidur disini, gue
harus cari Via… harus” ketika Alvin akan bangkit dari tempat tidurnya, dengan
sigap Ify dan Shilla langsung menahan lengannya.
“Alvin lo apa-apaan sih?” kata
Shilla sedikit emosi. Rio masih bergeming ditempatnya. Ia terlihat seperti
orang yang tidak punya arah dan tujuan lagi.
“lo semua kenapa sih pada nahan gue
disini? Via pergi, dan gue harus cari dia. Gue harus minta maaf sama dia dan
nebus semua kesalahan gue selama ini” kata Alvin dengan suara memelas. Ada
getar-getar penuh penyesalan yang terdengar dari nada bicaranya itu.
“tapi kita semua nggak tau Via pergi
kemana Alvin, kita juga nggak tau musti nyari Via dimana, lo paham nggak sih?”
ucap Shilla terisak.
“gue nggak peduli, gue akan tetap
cari dia. Sekarang lepasin gue, lepasin!!” Pinta Alvin sedikit keras
Ify dan Shilla menggeleng secara
bersamaan seraya tetap menahan lengan Alvin.
“kalo kalian semua nggak mau bantuin
gue buat nyariin Via, itu semua nggak jadi masalah buat gue, sekarang yang
terpenting adalah, lepasin gue, biarin gue pergi buat nyari Via, please biarin
gue pergi….”
“LO MAU NYARI DIA KEMANAPUN JUGA LO
TETEP NGGAK AKAN BISA NEMUIN DIA” Teriak Rio pada Akhirnya. Ia sudah
benar-benar muak oleh kelakuan Alvin itu. Rio tahu Alvin sangat mencemaskan
Sivia, tapi Rio sendiri juga tidak kalah cemasnya dari Alvin sekarang. Mereka
semua sesungguhnya merasakan perasaan yang sama. Mereka semua sama-sama
mencemaskan Sivia. Tidak hanya Sivia, tapi mereka juga sangat mencemaskan
keadaan Alvin sekarang.
“Rio lo nggak usah tereak, ini rumah
sakit Yo. Bukan hutan” Tegas Shilla. Tapi dengan tidak pedulinya, Rio kembali
menyerang Alvin.
“penyesalan lo sekarang percuma,
Alvin. SEMUANYA SIA-SIA lo tau nggak? Gue nggak habis fikir otak lo dimana
sampe lo tega-teganya nyelingkuhin Via kayak gitu. Gue emang play boy Alvin,
gue emang brengsek, gue juga sering nyakitin cewek, tapi bukan berarti gue juga
mau ngeliat lo kayak gue, gue nggak mau Alvin”
Alvin terdiam seraya menunduk dalam.
Entah apa yang sedang ia fikirkan sekarang. Tidak ada satupun dari Rio, Shilla
dan Ify yang dapat membaca fikiran Alvin. Satu hal yang Alvin rasakan saat ini
hanyalah penyesalan.
Penyesalan itu mungkin tidak ada
artinya lagi, tapi Alvin benar-benar sangat menyesali semua perbuatannya pada
Sivia selama ini. Andai saja Alvin bisa memutar waktu kembali, Alvin ingin
memperbaiki semuanya, Alvin ingin membalas semua kesetiaan Sivia padanya dengan
seluruh cinta yang ia miliki. Akan tetapi Alvin sadar, bahwa waktu tidak akan
pernah bisa berputar kembali. Pertanyaannya sekarang; Apa Tuhan masih bersedia
memberikan Alvin satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya? Sungguh,
Alvin benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Jika Tuhan tidak memberikannya
kesempatan itu, mungkin selamanya Alvin akan hidup dibawah bayang-bayang
penyesalan yang menyiksa. Dan Alvin sama sekali tidak menginginkan hal itu.
“Alvin…” panggil Ify pelan.
Hening, tidak ada jawaban apapun
dari Alvin. Tapi tidak lama kemudian…
“sekarang kalian semua keluar dari
ruangan gue” ujar Alvin tanpa sedikitpun melihat sahabat-sahabatnya.
“Vin….” Panggil Shilla sekali lagi,
“GUE BILANG KELUAR!! GUE MAU
SENDIRI, TINGGALIN GUE!!” Bentak Alvin dengan keras. Lalu tanpa berkata apa-apa
lagi, Shilla, Ify dan Rio langsung meninggalkan ruang perawatan Alvin dan
meninggalkan Alvin hanya sendiri disana.
Alvin memukulkan tangannya pada besi
pembatas tempat tidurnya. Pukulan Alvin yang lumayan keras itu sukses
meninggalkan luka memar pada tangan Alvin. Tapi luka itu tidak sedikitpun
menimbulkan rasa sakit. Semenjak kepergian Sivia, Alvin telah benar-benar mati rasa.
Ia tidak bisa lagi merasakan sakit yang sebenar-benarnya sakit. Jika pun harus
merasakan, bagi Alvin itu semua masih belum seberapa dengan rasa sakit yang
pernah ia hadiahkan untuk Sivia. Lukanya saat ini belum ada apa-apanya jika
dibandingkan dengan luka hati Sivia selama 7 tahun belakangan ini.
“pergilah sejauh kamu
bisa, Sivia… tapi aku bersumpah, suatu saat nanti, kamu akan aku temukan dan
akan aku dapatkan lagi. Saat itu tiba, aku nggak akan nyakitin kamu lagi, aku
juga nggak akan ngelepasin kamu. Nggak akan pernah…”
****
Kata Dokter yang menangani Alvin,
Alvin sudah melewati masa Kritisnya. Tapi untuk saat ini Alvin masih belum mau
ditemui oleh siapapun, baik itu sahabat-sahabatnya maupun kedua orang tuanya.
Mereka semua hanya pasrah dan mengikuti apa mau Alvin itu. Mereka berusaha
mengerti, bahwa saat ini Alvin masih sangat terpukul dengan kepergian Sivia.
Alvin masih butuh waktu untuk sendiri.
Alvin melirik kotak merah pemberian
Sivia yang terletak diatas meja kecil yang terdapat disamping tempat tidurnya.
Melihat Kotak itu, entah kenapa jantung Alvin terasa begitu pedih. Apa Sivia
hanya meninggalkan itu untuknya?
Alvin menghela nafas beratnya. Biar
bagaimanapun Alvin harus bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa Sivia
telah pergi. Alvin harus berani menghadapi semuanya. Bukankah Alvin yang
menyebabkan semua ini terjadi? Jadi kenapa Alvin harus takut menghadapi
semuanya?
Salah satu tangan Alvin mulai
bergerak perlahan meraih kotak merah itu. Tidak lama kemudian, Kotak itu sudah
berada dalam kedua tangan Alvin. Jika tadi ia merasakan pedih, maka kali ini
Alvin merasakan ada sebuah tangan raksasa yang meremas jantungnya tanpa ampun.
Alvin seakan tidak mampu lagi menghirup udara yang ada disekitarnya. Rasanya
begitu sesak. Haruskah Alvin membuka kotak ini sekarang?
Setelah lumayan lama berdebat dengan
hatinya, akhirnya tibalah Alvin pada sebuah keputusan. Ia memutuskan untuk
membuka kotak itu sekarang.
Kedua tangan Alvin yang bergetar
hebat mulai bergerak membuka penutup kotak itu, dan… Alvin langsung menghela
nafas kesakitannya ketika ia melihat isi dari kotak itu. Isinya adalah
barang-barang yang dulu pernah Alvin berikan pada Sivia. Sebuah kalung dan
miniature helicopter. Sebulir air mata Alvin menetes secara perlahan dan jatuh
tepat diatas miniature helicopter itu.
Helicopter itu…. Ya dulu Alvin
pernah membawa Sivia terbang dengan helicopter itu. Terbang tinggi dan nyaris
menyentuh awan. Tapi sebelum awan itu dapat tersentuh oleh Sivia, Alvin malah
sudah menghempaskannya ke Bumi. Alvin tahu, bahwa semua itu rasanya begitu
sakit bagi Sivia.
“Hik… hik..” isakan itu akhirnya
keluar meski terdengar berat dan berusaha ditahan. Alvin ingin kuat, tapi
kenyataan ini benar-benar menyedot semua kekuatannya tanpa sisa. Akhirnya Alvin
telah benar-benar kehilangan Sivia. Dan dari sini lah Alvin mulai merasa bahwa
Sivia terlampau berharga baginya.
Perhatian Alvin tiba-tiba saja
tertuju pada sebuah kaset CD yang terdapat didalam kotak itu. Apa lagi ini?
Tanya Alvin dalam hati. Tapi sebelum Alvin mengambil kaset CD itu dari
tempatnya, seorang Suster memasuki ruangannya.
“selamat malam, Mas Alvin” sapa
Suster itu seramah mungkin. Alvin hanya diam, ia merasa malas menanggapi sapaan
yang terkesan basa basi itu.
“sekarang waktunya makan malam dan
minum obat, 1 jam lagi Dokter akan datang dan memeriksa keadaan anda”
Suster Cantik itu melepaskan makanan
serta obat Alvin diatas meja. Dan tepat ketika suster itu akan keluar dari
ruangan Alvin, Alvin malah memanggilnya.
“Sus…” panggil Alvin pelan,
“kenapa? Ada yang bisa saya bantu?”
suster itu berbalik lalu tersenyum pada Alvin.
“bisa putarkan kaset ini untuk
saya?” Alvin mengulurkan kaset itu
dihadapan Sang suster cantik.
“tentu saja” jawab Suster itu lalu
mengambil kaset itu dari tangan Alvin.
****
Rio dan Ify sudah pulang sejak sejam
yang lalu. Yang tersisa dirumah sakit saat ini hanyalah Shilla. Sekalipun Alvin
tidak ingin menemuinya, tapi Shilla tetap setia menunggu Alvin didepan ruang perawatannya.
Jam ditangan Shilla sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi Shilla tidak
sedikitpun merasa kelelahan. Malahan tadi Shilla meminta kedua orang tua Alvin
untuk pulang dan beristirahat. Shilla ikhlas melakukan semuanya, benar-benar
ikhlas.
“selamat malam” tegur seseorang yang
tiba-tiba saja sudah duduk disamping Shilla. Shilla mengangkat wajahnya lalu
menoleh kesamping. Ternyata yang menegurnya adalah Gabriel. Buat apa juga
Gabriel ada disini, bukannya 3 hari yang lalu Gabriel sudah pergi bersama Pricilla?
“elo? Ngapain disini?” Tanya Shilla
sedikit heran. Gabriel tersenyum penuh arti,
“tadi gue denger kabar kalo Alvin
kecelakaan, makanya gue langsung kesini”
“bukannya lo udah pulang ke German
sama Pricill?”
“siapa bilang? Gue tetep disini kok,
ada sedikit urusan yang harus gue selesein dulu”
“ooo…” gumam Shilla pelan lalu
kembali menatap hampa kedepan.
“gue kesini mau minta maaf sama
Alvin, juga sama—“ Gabriel menggantungkan kalimatnya. Tapi Shilla tidak
sedikitpun merasa tertarik oleh ucapan Gabriel itu. “sama elo” lanjut Gabriel
pada akhirnya. Shilla yang awalnya acuh tak acuh, sekarang malah kaget lalu
kembali melirik tajam kearah Gabriel,
“buat apa lo minta maaf sama gue?
Emangnya lo salah apa?”
“gue sadar dalam hal ini gue juga salah,
nggak seharusnya gue memperalat Alvin buat ngehancurin pertunangan gue sama
Prissy, kalo difikir-fikir Alvin sama sekali nggak ada hubungannya sama
perjodohan gue dengan Prissy ini”
“lo telat kalo baru nyadar sekarang.
Via udah pergi, dan kita semua nggak ada yang tau dia pergi kemana”
“gue tau dan gue sangat menyesal
untuk itu. Coba aja waktu itu gue nggak nekad dateng ke Indonesia buat nyariin
Alvin, mungkin Prissy juga nggak akan pernah dateng ke Indonesia dan
ngehancurin semuanya”
“lo bukan Cuma salah, tapi lo
bodoh!”
“gue sadar”
Kali ini Shilla terdiam. Ia sedikit heran, kenapa
hari ini Gabriel terkesan pasrah dipersalahkan seperti itu? Kenapa Gabriel
tidak sedikitpun berusaha untuk membela dirinya? Pria yang aneh. Fikir Shilla.
“lo udah makan?” Tanya Gabriel
tiba-tiba,
“belom” jawab Shilla sekenanya.
“kenapa belom makan?”
“bukan urusan lo!”
Tidak lama setelah Shilla menjawab
pertanyaannya, Gabriel pun bangkit dari samping Shilla lalu berdiri tepat
dihadapan Gadis itu. Shilla mendongak untuk melihat wajah Gabriel,
“ya udah, kalo gitu kita makan dulu
yuk”
“nggak perlu. Makasih atas
tawarannya”
Gabriel menggeleng pelan. Ternyata
selain angkuh, Shilla ini juga ternyata sangat keras kepala. Gabriel hanya
mencemaskan keadaan Shilla. Gabriel tidak ingin Shilla sakit hanya karna telat
makan.
“tapi sayangnya lo harus tetep ikut
makan sama gue” tanpa seijin dari Shilla, Gabriel meraih pergelangan tangan
Shilla lalu membawanya setengah paksa dari depan ruang perawatan Alvin.
“Heh! Lo apa-apaan sih? Lepas nggak
tangan gue?!” pinta Shilla yang sama sekali tidak ada manis-manisnya seraya
berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Gabriel, tapi percuma
saja, karena Gabriel tidak sedikitpun menggubris ucapannya itu.
****
“Gimana keadaan Alvin, Mi, Pi?”
Tanya Cakka pada kedua orang tuanya ketika mereka tangah makan malam bersama.
“kata Dokter sih Alvin udah
ngelewatin masa kritisnya, tinggal pemulihan aja. Tapi masalahnya sekarang
Alvin lagi nggak mau ditemuin oleh siapapun” jawab Mami dengan nada cemas.
Cakka mengangguk paham. Ia mengerti
kenapa Alvin sampai harus seperti itu, dan Cakka tahu pasti bahwa Alvin sangat
terpukul karna kepergian Sivia yang secara tiba-tiba itu.
“terus yang jagain Alvin dirumah
sakit siapa?”
“Shilla yang jaga. Tadi Shilla minta
Papi sama Mami buat pulang istirahat dulu”
“ooo…. Aku minta maaf ya karna tadi
nggak sempet ke rumah sakit, maklum aja, aku lagi sibuk ngurus persiepan buat
Wisuda minggu depan. Tapi setelah ini aku langsung kerumah sakit buat ngegantiin Shilla jagain Alvin. Mami sama
Papi diem aja dirumah, besok pagi baru kalian dateng lagi kerumah sakit”
“iya Cakka, makasih ya kamu udah mau
jagain Alvin”
“biar gimana juga Alvin tetep adik
aku, Pi. Dan aku sayang sama Alvin”
Pak Duta Bu Uchie langsung tersenyum
senang ketika mendengarkan ucapan Cakka yang terakhir itu. Sebelumnya mereka
tidak pernah menduga, bahwa perubahan Cakka akan seperti ini jadinya. Dan yang
lebih tidak pernah mereka duga lagi, ternyata semuanya sesuai seperti apa yang
mereka harapkan selama 8 tahun terakhir ini. Dalam hati mereka mengutarakan
rasa syukur yang tidak ada habisnya pada Tuhan karna telah meluluhkan hati
Cakka yang selama ini membeku.
“Cakka…”
“iya, Pi?”
“setelah wisuda nanti, apa kamu siep
buat ngegantiin posisi Papi diperusahaan Keluarga kita?”
Cakka terdiam sejenak. Sepertinya ia
sedang berfikir. Tidak lama…
“kalo jadi pimpinan perusahaan aku
belum siep, Pi. Lagian kan yang berhak atas Perusahaan itu Alvin, bukan Cakka”
“tapi kamu tetap anak sulung Papi,
Kka…”
“Cakka tau. Tapi seperti apa yang
Cakka bilang tadi, Cakka belom siep kalo harus jadi pimpinan perusahaan.
Pengalaman Cakka masih sangat sempit dalam bidang itu”
“terus kamu mau kerja apa setelah
Wisuda nanti?”
“kalo boleh, Cakka mau ngurus Hotel
kita yang ada di Bali”
“hotel yang di Bali?”
“iya, Pi. Sejak lama Cakka emang
punya cita-cita buat ngurus Hotel itu dan memajukannya”
Pak Duta dan Bu Uchie saling menatap
satu sama lain. Tidak lama mereka sama-sama mengangguk seraya tersenyum,
“baiklah kalo itu mau kamu. Papi
akan persiapkan segalanya buat kamu”
“makasih, Pi…”
“dan Mami akan selalu dukung kamu,
Sayang…” kata Mami sambil menyentuh telapak tangan Cakka. Cakka tersenyum
lantas berkata,
“makasih juga buat Mami…”
****
“Hay Alvin, kamu apa kabar?” ucap
seseorang didalam Vidio itu sambil melambaikan tangannya. Matanya terlihat
membengkak, mungkin karna terlalu lelah menangis. Alvin menahan nafas. Ternyata
Sivia memberikan sebuah video untuknya.
“mungkin saat kamu nonton Vidio ini,
aku udah nggak ada di Jakarta lagi, dan sebelumnya aku minta maaf ya sama kamu,
karna aku udah pergi ninggalin kamu dengan cara seperti ini. Aku sayang sama
kamu, Alvin. Dan karena itu lah aku pergi dari hidup kamu, aku nggak mau kamu
ngerasa terhalangi karna kehadiranku disisi kamu, aku nggak mau kamu ngerasa
terkekang karna rasa cintaku ke kamu…”
“mungkin kamu benci dengan caraku
ini… tapi yaah… Cuma cara ini lah yang bisa aku lakuin. Sebenernya aku ingin
pamit secara baik-baik sama kamu, tapi jujur… aku… aku…” Sivia seperti tidak
sanggup melanjutkan perkataannya. Air mata itupun menetes sederas mungkin. Melihat
itu, Alvin tersenyum penuh kemirisan. Rasa bersalah dan penyesalan menjejali
dadanya hingga terasa sesak.
“aku ngerasa nggak sanggup kalo
harus ngelihat wajah kamu lagi. Aku takut kalo aku ngeliat wajah kamu lagi,
nantinya aku malah ngga sanggup ninggalin kamu, dan aku nggak mau itu terjadi..
hiks…”
“aku sadar Vin, aku bukan yang
terbaik buat kamu, aku sadar aku nggak pernah bisa jadi yang sempurna buat
kamu, aku juga nggak punya apapun yang bisa aku banggain didepan kamu. Aku nggak
punya apapun kecuali Cinta, cinta ini juga nggak seberapa besar dengan cinta
yang Pricill kasih ke kamu, tapi aku selalu berusaha supaya cinta ini tetap
ada, buat kamu…”
“aku terlalu banyak omong ya? Haha…”
Sivia tertawa ditengah tangisannya. Sementara Alvin, air matanya mulai menetes
secara perlahan.
“terakhir, kamu nggak usah cemas
sama keadaan aku. Aku disini baik-baik aja, meski tanpa kamu, dunia masih tetap
berputar kan? Matahari juga masih tetap terbit dari arah timur, semuanya nggak
berubah. Mungkin aku bakalan sedih, entah untuk beberapa lama, tapi hidup aku
masih terus berjalan kan, Vin? Iya kan?”
“aku selalu berdoa yang terbaik buat
kamu. Semoga disana kamu bahagia selalu sama Pricill, dan aku disini bakalan
cari pengganti kamu, hahaha… yang jelas aku akan cari cowok yang jauh lebih
keren dari kamu, yang jauh lebih ganteng dari kamu…”
Dada Alvin mulai terasa sesak, ia
memegangi dadanya untuk mengurangi sedikit saja rasa sesak itu, tapi tidak
berhasil. Air mata yang sejak ia tahan akhirnya tumpah ruah mengiringi
kepedihan hantinya. Penyesalan itu kembali hadir, kenapa? Kenapa Alvin harus
menyia-nyiakn cinta dari seorang yang tulus seperti Sivia?
“sekali lagi aku mau minta maaf,
maaf kalo selama ini ternyata bukan kamu yang nyakitin aku, tapi aku yang udah
nyakitin kamu. Sekarang kamu bebas… aku berharap, jika nanti kita ketemu, kita
udah sama-sama menikah dan punya anak, hahaha… intinya adalah, jika kita ketemu
nanti, aku harap kita udah sama-sama bahagia dengan pasangan kita
masing-masing. Dan untuk yang terakhir kalinya, tolong ijinin aku untuk
berkata, aku cinta sama kamu, Alvin. Aku sangat mencintai kamu, hiks….”
Dalam Vidio itu Sivia terlihat
sedang mengambil sebuah gitar lalu menaruhnya dipangkuan.
“aku mau nyanyi buat kamu… tapi
jangan nangis yaa? Masa cowok cengeng? Banci dong… Hahahahaha….” Sivia tertawa
pelan, tapi matanya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepedihan hatinya
saat ini.
Susah payah, Alvin akhirnya bisa
menghela nafas. Tapi air matanya semakin deras menetes. Rasa penyesalan itu
seakan tidak pernah ada habisnya menyiksa batin Alvin.
Sivia memetik gitar itu dan mulai
bernyanyi, meski dengan suara yang terdengar sedikit bergetar karna menahan
tangis.
“Setelah
ku pahami…
Kubukan
yang terbaik yang ada dihatimu
Tak
dapat ku sanksikan ternyata dirinyalah
Yang
mengerti kamu
Bukanlah
diriku…
Kini
maafkanlah aku bila ku menjadi bisu kepada dirimu
Bukan
santunku terbungkam hanya hatiku berbatas
Tuk
mengerti kamu…
Maafkan
lah aku…
Walau
ku masih mencintaimu
Ku
harus meninggalkanmu
Ku
harus melupakanmu
Meski
hatiku menyayangimu
Nurani
membutuhkanmu
Ku
harus merelakanmu….”
“Hiks… hiks… hiks… kamu nggak salah
Via, dan kamu nggak seharusnya pergi ninggalin aku disini. Hiks… hiks… Sivia
tolong kembali, aku mau minta maaf, aku mau bilang kalo kamu itu berarti banget
buat aku, Via… hik.. hiks…” makin lama isakan Alvin semakin kuat terdengar. Begitu
menyayat hati. Alvin baru tahu bahwa ternyata penyesalan itu terasa begitu
menyiksa.
“Dan hanyalah dirimu
Yang mampu memahamiku
Yang dapat mengerti aku
Ternyata dirinyalah
Yang sanggup menyanjungmu
Yang ramah menyentuhmu
Bukanlah diriku…
Walau
ku masih mencintaimu
Ku
harus meninggalkanmu
Ku
harus melupakanmu
Meski
hatiku menyayangimu
Nurani
membutuhkanmu
Ku
harus merelakanmu….”
Ketika Alvin sudah merasa tidak
sanggup lagi, ia pun akhirnya mematikan TV itu lalu menumpahkan semua
tangisannya dalam ruangan yang sepi itu. Dan ketika emosinya sudah mencapai
puncak klimaks, Alvin pun langsung melemparkan remote TV itu kearah tembok
dengan kekuatan penuh. Tak tanggung-tanggung remote TV itu langsung hancur.
“ARRGGHHHHHHH…. SIVIAAAAAA!!!!”
Teriak Alvin sekeras mungkin.
“Tuhaan… kenapa tidak Engkau cabut
saja nyawaku ketika aku mengalami kecelakaan tadi? Kenapa Engkau biarkan aku
hidup Tuhan? Aku tidak pantas hidup, aku tidak pantas hidup Tuhan,
AAARRRRGGHHHHHH……”
Cakka yang sejak tadi berdiri
didepan ruangan Alvin mendengar semuanya. Cakka tersenyum miris, dan melihat
keadaan Alvin itu, entah kenapa Cakka merasa hatinya seperti menangis.
Cakka memejamkan matanya sejenak
lalu memasuki ruangan Alvin,
“ALVIN” Panggil Cakka sedikit keras.
Alvin menghentikan tangisannya lalu menatap Cakka dengan berani,
“penyesalan itu nggak enak kan? Iya kan?”
“kalo lo dateng kesini Cuma untuk
ngehajar gue, gue pasrah Kak, gue tau gue udah sangat keterlaluan”
“percuma gue ngehajar lo, gue mau
ngehajar lo sampe mati pun tetep nggak akan ngubah apapun, Sivia udah pergi,
semua apapun yang gue lakuin sekarang hasil akhirnya tetap percuma”
“Kak Cakka… lo tau kan dimana Sivia
sekarang? Tolong kasi tau gue, Kak… gue bener-bener mau minta maaf sama Sivia,
gue bener-bener mau nebus semua kesalahan gue sama Sivia, Kak…” kata Alvin
dengan nada memohon.
“kenapa lo bisa berfikir kalo gue
tau dimana Sivia sekarang? Harusnya elo lebih tau dari gue, Alvin… harusnya elo
yang lebih tau!”
“karna selama ini lo deket sama
Sivia. Dan sekalipun Sivia mencintai gue, tapi dia selalu monomer satukan lo
dalam segala hal, gue Cuma nomer 2 dalam kehidupan Sivia…”
Cakka terdiam sejenak, lalu
tersenyum licik,
“kalau pun gue tahu dimana Sivia
sekarang, gue nggak akan pernah ngasih tau lo, Alvin. Nggak akan pernah. Nggak ada
lagi kesempatan buat lo ngedeketin Sivia. Cam kan itu baik-baik!”
Cakka berbalik dan hendak pergi
meninggalkan Alvin sendiri. Tapi baru selangkah ia mengayunkan langkahnya,
Alvin kembali buka suara,
“jadi intinya, lo tau apa nggak
dimana Sivia berada sekarang?” Alvin mulai tak tahan.
Hening untuk beberapa saat. Tidak lama
kemudian, tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin, Cakka berkata,
“gue nggak tau”
Cakka pun melanjutkan langkahnya. Ia
benar-benar pergi meninggalkan Alvin sendiri dalam ruangan itu.
“oke kalo lo nggak mau ngomong, Kak.
Itu nggak jadi masalah buat gue. Dengan atau tanpa petunjuk dari lo, gue akan
tetep cari Sivia. Dia milik gue, Cuma milik gue….” Kata Alvin penuh keyakinan.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment