Monday, August 26, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 17 - I'll Find You -





                “Via… Via… Via…” Gumam Alvin pelan. Suaranya terdengar sangat lemah. Ketiga Sahabatnya, Rio, Shilla, dan Ify yang sejak tadi menjaganya langsung mendekati Alvin yang ketika itu tergolek lemah tak berdaya diatas tempat tidur dengan beberapa alat medis yang terdepat disekujur tubuhnya. Sebuah perban melilit kepala Alvin yang terluka.
            Shilla tersenyum kecil ditengah-tengah isakkannya. Setelah hampir selama 3 jam menunggu, akhirnya Alvin menunjukkan tanda-tanda kesadarannya juga.
            “Alvin… lo nggak apa-apa kan, Vin?” Tanya Shilla pelan sambil menyentuh kepala Alvin.
            “apanya yang sakit, Vin?” tambah Ify dengan nada suara bergetar. Diantara mereka bertiga, Ify lah yang paling histeris ketika tahu Alvin kecelakaan dan harus dilarikan kerumah sakit dalam keadaan yang sudah sangat kritis.
            Alvin akhirnya membuka matanya, wajah-wajah cemas dari ketiga Sahabatnya langsung menyambut Alvin pertama kali. Alvin bisa melihat dengan sangat jelas Ify dan Shilla yang tengah meneteskan air mata. Sedangkan Rio, ia berdiri agak jauh dari tempat tidur Alvin dengan wajah yang gusar.
            “gue dimana?” Tanya Alvin pelan. Alvin meringis pelan dengan kening yang mengernyit. Sepertinya ia merasa sedikit kesakitan dibagian kepalanya.
            “lo dirumah sakit, Alvin. Papi sama Mami lo tadi ada disini, tapi mereka pulang sebentar untuk mengambil segala keperluan lo” jawab Shilla.
            “kenapa gue bisa ada disini, bukannya tadi… bukannya tadi—“
            “lo kecelakaan, Alvin” sela Shilla sebelum Alvin menyelesaikan perkataannya.
            “lo kecelakaan waktu lo dalam perjalanan pulang dari rumah Via” lanjut Ify,
            “Via? Via sekarang dimana? Harusnya sekarang gue lagi nyariin Via, bukannya malah enak-enakan tidur disini, gue harus cari Via… harus” ketika Alvin akan bangkit dari tempat tidurnya, dengan sigap Ify dan Shilla langsung menahan lengannya.
            “Alvin lo apa-apaan sih?” kata Shilla sedikit emosi. Rio masih bergeming ditempatnya. Ia terlihat seperti orang yang tidak punya arah dan tujuan lagi.
            “lo semua kenapa sih pada nahan gue disini? Via pergi, dan gue harus cari dia. Gue harus minta maaf sama dia dan nebus semua kesalahan gue selama ini” kata Alvin dengan suara memelas. Ada getar-getar penuh penyesalan yang terdengar dari nada bicaranya itu.
            “tapi kita semua nggak tau Via pergi kemana Alvin, kita juga nggak tau musti nyari Via dimana, lo paham nggak sih?” ucap Shilla terisak.
            “gue nggak peduli, gue akan tetap cari dia. Sekarang lepasin gue, lepasin!!” Pinta Alvin sedikit keras
            Ify dan Shilla menggeleng secara bersamaan seraya tetap menahan lengan Alvin.
            “kalo kalian semua nggak mau bantuin gue buat nyariin Via, itu semua nggak jadi masalah buat gue, sekarang yang terpenting adalah, lepasin gue, biarin gue pergi buat nyari Via, please biarin gue pergi….”
            “LO MAU NYARI DIA KEMANAPUN JUGA LO TETEP NGGAK AKAN BISA NEMUIN DIA” Teriak Rio pada Akhirnya. Ia sudah benar-benar muak oleh kelakuan Alvin itu. Rio tahu Alvin sangat mencemaskan Sivia, tapi Rio sendiri juga tidak kalah cemasnya dari Alvin sekarang. Mereka semua sesungguhnya merasakan perasaan yang sama. Mereka semua sama-sama mencemaskan Sivia. Tidak hanya Sivia, tapi mereka juga sangat mencemaskan keadaan Alvin sekarang.
            “Rio lo nggak usah tereak, ini rumah sakit Yo. Bukan hutan” Tegas Shilla. Tapi dengan tidak pedulinya, Rio kembali menyerang Alvin.
            “penyesalan lo sekarang percuma, Alvin. SEMUANYA SIA-SIA lo tau nggak? Gue nggak habis fikir otak lo dimana sampe lo tega-teganya nyelingkuhin Via kayak gitu. Gue emang play boy Alvin, gue emang brengsek, gue juga sering nyakitin cewek, tapi bukan berarti gue juga mau ngeliat lo kayak gue, gue nggak mau Alvin”
            Alvin terdiam seraya menunduk dalam. Entah apa yang sedang ia fikirkan sekarang. Tidak ada satupun dari Rio, Shilla dan Ify yang dapat membaca fikiran Alvin. Satu hal yang Alvin rasakan saat ini hanyalah penyesalan.
            Penyesalan itu mungkin tidak ada artinya lagi, tapi Alvin benar-benar sangat menyesali semua perbuatannya pada Sivia selama ini. Andai saja Alvin bisa memutar waktu kembali, Alvin ingin memperbaiki semuanya, Alvin ingin membalas semua kesetiaan Sivia padanya dengan seluruh cinta yang ia miliki. Akan tetapi Alvin sadar, bahwa waktu tidak akan pernah bisa berputar kembali. Pertanyaannya sekarang; Apa Tuhan masih bersedia memberikan Alvin satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya? Sungguh, Alvin benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Jika Tuhan tidak memberikannya kesempatan itu, mungkin selamanya Alvin akan hidup dibawah bayang-bayang penyesalan yang menyiksa. Dan Alvin sama sekali tidak menginginkan hal itu.
            “Alvin…” panggil Ify pelan.
            Hening, tidak ada jawaban apapun dari Alvin. Tapi tidak lama kemudian…
            “sekarang kalian semua keluar dari ruangan gue” ujar Alvin tanpa sedikitpun melihat sahabat-sahabatnya.
            “Vin….” Panggil Shilla sekali lagi,
            “GUE BILANG KELUAR!! GUE MAU SENDIRI, TINGGALIN GUE!!” Bentak Alvin dengan keras. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Shilla, Ify dan Rio langsung meninggalkan ruang perawatan Alvin dan meninggalkan Alvin hanya sendiri disana.
            Alvin memukulkan tangannya pada besi pembatas tempat tidurnya. Pukulan Alvin yang lumayan keras itu sukses meninggalkan luka memar pada tangan Alvin. Tapi luka itu tidak sedikitpun menimbulkan rasa sakit. Semenjak kepergian Sivia, Alvin telah benar-benar mati rasa. Ia tidak bisa lagi merasakan sakit yang sebenar-benarnya sakit. Jika pun harus merasakan, bagi Alvin itu semua masih belum seberapa dengan rasa sakit yang pernah ia hadiahkan untuk Sivia. Lukanya saat ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luka hati Sivia selama 7 tahun belakangan ini.

            “pergilah sejauh kamu bisa, Sivia… tapi aku bersumpah, suatu saat nanti, kamu akan aku temukan dan akan aku dapatkan lagi. Saat itu tiba, aku nggak akan nyakitin kamu lagi, aku juga nggak akan ngelepasin kamu. Nggak akan pernah…”



****

            Kata Dokter yang menangani Alvin, Alvin sudah melewati masa Kritisnya. Tapi untuk saat ini Alvin masih belum mau ditemui oleh siapapun, baik itu sahabat-sahabatnya maupun kedua orang tuanya. Mereka semua hanya pasrah dan mengikuti apa mau Alvin itu. Mereka berusaha mengerti, bahwa saat ini Alvin masih sangat terpukul dengan kepergian Sivia. Alvin masih butuh waktu untuk sendiri.
            Alvin melirik kotak merah pemberian Sivia yang terletak diatas meja kecil yang terdapat disamping tempat tidurnya. Melihat Kotak itu, entah kenapa jantung Alvin terasa begitu pedih. Apa Sivia hanya meninggalkan itu untuknya?
            Alvin menghela nafas beratnya. Biar bagaimanapun Alvin harus bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa Sivia telah pergi. Alvin harus berani menghadapi semuanya. Bukankah Alvin yang menyebabkan semua ini terjadi? Jadi kenapa Alvin harus takut menghadapi semuanya?
            Salah satu tangan Alvin mulai bergerak perlahan meraih kotak merah itu. Tidak lama kemudian, Kotak itu sudah berada dalam kedua tangan Alvin. Jika tadi ia merasakan pedih, maka kali ini Alvin merasakan ada sebuah tangan raksasa yang meremas jantungnya tanpa ampun. Alvin seakan tidak mampu lagi menghirup udara yang ada disekitarnya. Rasanya begitu sesak. Haruskah Alvin membuka kotak ini sekarang?
            Setelah lumayan lama berdebat dengan hatinya, akhirnya tibalah Alvin pada sebuah keputusan. Ia memutuskan untuk membuka kotak itu sekarang.
            Kedua tangan Alvin yang bergetar hebat mulai bergerak membuka penutup kotak itu, dan… Alvin langsung menghela nafas kesakitannya ketika ia melihat isi dari kotak itu. Isinya adalah barang-barang yang dulu pernah Alvin berikan pada Sivia. Sebuah kalung dan miniature helicopter. Sebulir air mata Alvin menetes secara perlahan dan jatuh tepat diatas miniature helicopter itu.
            Helicopter itu…. Ya dulu Alvin pernah membawa Sivia terbang dengan helicopter itu. Terbang tinggi dan nyaris menyentuh awan. Tapi sebelum awan itu dapat tersentuh oleh Sivia, Alvin malah sudah menghempaskannya ke Bumi. Alvin tahu, bahwa semua itu rasanya begitu sakit bagi Sivia.
            “Hik… hik..” isakan itu akhirnya keluar meski terdengar berat dan berusaha ditahan. Alvin ingin kuat, tapi kenyataan ini benar-benar menyedot semua kekuatannya tanpa sisa. Akhirnya Alvin telah benar-benar kehilangan Sivia. Dan dari sini lah Alvin mulai merasa bahwa Sivia terlampau berharga baginya.
            Perhatian Alvin tiba-tiba saja tertuju pada sebuah kaset CD yang terdapat didalam kotak itu. Apa lagi ini? Tanya Alvin dalam hati. Tapi sebelum Alvin mengambil kaset CD itu dari tempatnya, seorang Suster memasuki ruangannya.
            “selamat malam, Mas Alvin” sapa Suster itu seramah mungkin. Alvin hanya diam, ia merasa malas menanggapi sapaan yang terkesan basa basi itu.
            “sekarang waktunya makan malam dan minum obat, 1 jam lagi Dokter akan datang dan memeriksa keadaan anda”
            Suster Cantik itu melepaskan makanan serta obat Alvin diatas meja. Dan tepat ketika suster itu akan keluar dari ruangan Alvin, Alvin malah memanggilnya.
            “Sus…” panggil Alvin pelan,
            “kenapa? Ada yang bisa saya bantu?” suster itu berbalik lalu tersenyum pada Alvin.
            “bisa putarkan kaset ini untuk saya?”  Alvin mengulurkan kaset itu dihadapan Sang suster cantik.
            “tentu saja” jawab Suster itu lalu mengambil kaset itu dari tangan Alvin.


****

            Rio dan Ify sudah pulang sejak sejam yang lalu. Yang tersisa dirumah sakit saat ini hanyalah Shilla. Sekalipun Alvin tidak ingin menemuinya, tapi Shilla tetap setia menunggu Alvin didepan ruang perawatannya. Jam ditangan Shilla sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi Shilla tidak sedikitpun merasa kelelahan. Malahan tadi Shilla meminta kedua orang tua Alvin untuk pulang dan beristirahat. Shilla ikhlas melakukan semuanya, benar-benar ikhlas.
            “selamat malam” tegur seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk disamping Shilla. Shilla mengangkat wajahnya lalu menoleh kesamping. Ternyata yang menegurnya adalah Gabriel. Buat apa juga Gabriel ada disini, bukannya 3 hari yang lalu Gabriel  sudah pergi bersama Pricilla?
            “elo? Ngapain disini?” Tanya Shilla sedikit heran. Gabriel tersenyum penuh arti,
            “tadi gue denger kabar kalo Alvin kecelakaan, makanya gue langsung kesini”
            “bukannya lo udah pulang ke German sama Pricill?”
            “siapa bilang? Gue tetep disini kok, ada sedikit urusan yang harus gue selesein dulu”
            “ooo…” gumam Shilla pelan lalu kembali menatap hampa kedepan.
            “gue kesini mau minta maaf sama Alvin, juga sama—“ Gabriel menggantungkan kalimatnya. Tapi Shilla tidak sedikitpun merasa tertarik oleh ucapan Gabriel itu. “sama elo” lanjut Gabriel pada akhirnya. Shilla yang awalnya acuh tak acuh, sekarang malah kaget lalu kembali melirik tajam kearah Gabriel,
            “buat apa lo minta maaf sama gue? Emangnya lo salah apa?”
            “gue sadar dalam hal ini gue juga salah, nggak seharusnya gue memperalat Alvin buat ngehancurin pertunangan gue sama Prissy, kalo difikir-fikir Alvin sama sekali nggak ada hubungannya sama perjodohan gue dengan Prissy ini”
            “lo telat kalo baru nyadar sekarang. Via udah pergi, dan kita semua nggak ada yang tau dia pergi kemana”
            “gue tau dan gue sangat menyesal untuk itu. Coba aja waktu itu gue nggak nekad dateng ke Indonesia buat nyariin Alvin, mungkin Prissy juga nggak akan pernah dateng ke Indonesia dan ngehancurin semuanya”
            “lo bukan Cuma salah, tapi lo bodoh!”
            “gue sadar”
            Kali  ini Shilla terdiam. Ia sedikit heran, kenapa hari ini Gabriel terkesan pasrah dipersalahkan seperti itu? Kenapa Gabriel tidak sedikitpun berusaha untuk membela dirinya? Pria yang aneh. Fikir Shilla.
            “lo udah makan?” Tanya Gabriel tiba-tiba,
            “belom” jawab Shilla sekenanya.
            “kenapa belom makan?”
            “bukan urusan lo!”
            Tidak lama setelah Shilla menjawab pertanyaannya, Gabriel pun bangkit dari samping Shilla lalu berdiri tepat dihadapan Gadis itu. Shilla mendongak untuk melihat wajah Gabriel,
            “ya udah, kalo gitu kita makan dulu yuk”
            “nggak perlu. Makasih atas tawarannya”
            Gabriel menggeleng pelan. Ternyata selain angkuh, Shilla ini juga ternyata sangat keras kepala. Gabriel hanya mencemaskan keadaan Shilla. Gabriel tidak ingin Shilla sakit hanya karna telat makan.
            “tapi sayangnya lo harus tetep ikut makan sama gue” tanpa seijin dari Shilla, Gabriel meraih pergelangan tangan Shilla lalu membawanya setengah paksa dari depan ruang perawatan Alvin.
            “Heh! Lo apa-apaan sih? Lepas nggak tangan gue?!” pinta Shilla yang sama sekali tidak ada manis-manisnya seraya berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Gabriel, tapi percuma saja, karena Gabriel tidak sedikitpun menggubris ucapannya itu.


****

            “Gimana keadaan Alvin, Mi, Pi?” Tanya Cakka pada kedua orang tuanya ketika mereka tangah makan malam bersama.
            “kata Dokter sih Alvin udah ngelewatin masa kritisnya, tinggal pemulihan aja. Tapi masalahnya sekarang Alvin lagi nggak mau ditemuin oleh siapapun” jawab Mami dengan nada cemas.
            Cakka mengangguk paham. Ia mengerti kenapa Alvin sampai harus seperti itu, dan Cakka tahu pasti bahwa Alvin sangat terpukul karna kepergian Sivia yang secara tiba-tiba itu.
            “terus yang jagain Alvin dirumah sakit siapa?”
            “Shilla yang jaga. Tadi Shilla minta Papi sama Mami buat pulang istirahat dulu”
            “ooo…. Aku minta maaf ya karna tadi nggak sempet ke rumah sakit, maklum aja, aku lagi sibuk ngurus persiepan buat Wisuda minggu depan. Tapi setelah ini aku langsung kerumah sakit  buat ngegantiin Shilla jagain Alvin. Mami sama Papi diem aja dirumah, besok pagi baru kalian dateng lagi kerumah sakit”
            “iya Cakka, makasih ya kamu udah mau jagain Alvin”
            “biar gimana juga Alvin tetep adik aku, Pi. Dan aku sayang sama Alvin”
            Pak Duta Bu Uchie langsung tersenyum senang ketika mendengarkan ucapan Cakka yang terakhir itu. Sebelumnya mereka tidak pernah menduga, bahwa perubahan Cakka akan seperti ini jadinya. Dan yang lebih tidak pernah mereka duga lagi, ternyata semuanya sesuai seperti apa yang mereka harapkan selama 8 tahun terakhir ini. Dalam hati mereka mengutarakan rasa syukur yang tidak ada habisnya pada Tuhan karna telah meluluhkan hati Cakka yang selama ini membeku.
            “Cakka…”
            “iya, Pi?”
            “setelah wisuda nanti, apa kamu siep buat ngegantiin posisi Papi diperusahaan Keluarga kita?”
            Cakka terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang berfikir. Tidak lama…
            “kalo jadi pimpinan perusahaan aku belum siep, Pi. Lagian kan yang berhak atas Perusahaan itu Alvin, bukan Cakka”
            “tapi kamu tetap anak sulung Papi, Kka…”
            “Cakka tau. Tapi seperti apa yang Cakka bilang tadi, Cakka belom siep kalo harus jadi pimpinan perusahaan. Pengalaman Cakka masih sangat sempit dalam bidang itu”
            “terus kamu mau kerja apa setelah Wisuda nanti?”
            “kalo boleh, Cakka mau ngurus Hotel kita yang ada di Bali”
            “hotel yang di Bali?”
            “iya, Pi. Sejak lama Cakka emang punya cita-cita buat ngurus Hotel itu dan memajukannya”
            Pak Duta dan Bu Uchie saling menatap satu sama lain. Tidak lama mereka sama-sama mengangguk seraya tersenyum,
            “baiklah kalo itu mau kamu. Papi akan persiapkan segalanya buat kamu”
            “makasih, Pi…”
            “dan Mami akan selalu dukung kamu, Sayang…” kata Mami sambil menyentuh telapak tangan Cakka. Cakka tersenyum lantas berkata,
            “makasih juga buat Mami…”


****

            “Hay Alvin, kamu apa kabar?” ucap seseorang didalam Vidio itu sambil melambaikan tangannya. Matanya terlihat membengkak, mungkin karna terlalu lelah menangis. Alvin menahan nafas. Ternyata Sivia memberikan sebuah video untuknya.
            “mungkin saat kamu nonton Vidio ini, aku udah nggak ada di Jakarta lagi, dan sebelumnya aku minta maaf ya sama kamu, karna aku udah pergi ninggalin kamu dengan cara seperti ini. Aku sayang sama kamu, Alvin. Dan karena itu lah aku pergi dari hidup kamu, aku nggak mau kamu ngerasa terhalangi karna kehadiranku disisi kamu, aku nggak mau kamu ngerasa terkekang karna rasa cintaku ke kamu…”
            “mungkin kamu benci dengan caraku ini… tapi yaah… Cuma cara ini lah yang bisa aku lakuin. Sebenernya aku ingin pamit secara baik-baik sama kamu, tapi jujur… aku… aku…” Sivia seperti tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Air mata itupun menetes sederas mungkin. Melihat itu, Alvin tersenyum penuh kemirisan. Rasa bersalah dan penyesalan menjejali dadanya hingga terasa sesak.
            “aku ngerasa nggak sanggup kalo harus ngelihat wajah kamu lagi. Aku takut kalo aku ngeliat wajah kamu lagi, nantinya aku malah ngga sanggup ninggalin kamu, dan aku nggak mau itu terjadi.. hiks…”
            “aku sadar Vin, aku bukan yang terbaik buat kamu, aku sadar aku nggak pernah bisa jadi yang sempurna buat kamu, aku juga nggak punya apapun yang bisa aku banggain didepan kamu. Aku nggak punya apapun kecuali Cinta, cinta ini juga nggak seberapa besar dengan cinta yang Pricill kasih ke kamu, tapi aku selalu berusaha supaya cinta ini tetap ada, buat kamu…”
            “aku terlalu banyak omong ya? Haha…” Sivia tertawa ditengah tangisannya. Sementara Alvin, air matanya mulai menetes secara perlahan.
            “terakhir, kamu nggak usah cemas sama keadaan aku. Aku disini baik-baik aja, meski tanpa kamu, dunia masih tetap berputar kan? Matahari juga masih tetap terbit dari arah timur, semuanya nggak berubah. Mungkin aku bakalan sedih, entah untuk beberapa lama, tapi hidup aku masih terus berjalan kan, Vin? Iya kan?”
            “aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu. Semoga disana kamu bahagia selalu sama Pricill, dan aku disini bakalan cari pengganti kamu, hahaha… yang jelas aku akan cari cowok yang jauh lebih keren dari kamu, yang jauh lebih ganteng dari kamu…”
            Dada Alvin mulai terasa sesak, ia memegangi dadanya untuk mengurangi sedikit saja rasa sesak itu, tapi tidak berhasil. Air mata yang sejak ia tahan akhirnya tumpah ruah mengiringi kepedihan hantinya. Penyesalan itu kembali hadir, kenapa? Kenapa Alvin harus menyia-nyiakn cinta dari seorang yang tulus seperti Sivia?
            “sekali lagi aku mau minta maaf, maaf kalo selama ini ternyata bukan kamu yang nyakitin aku, tapi aku yang udah nyakitin kamu. Sekarang kamu bebas… aku berharap, jika nanti kita ketemu, kita udah sama-sama menikah dan punya anak, hahaha… intinya adalah, jika kita ketemu nanti, aku harap kita udah sama-sama bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Dan untuk yang terakhir kalinya, tolong ijinin aku untuk berkata, aku cinta sama kamu, Alvin. Aku sangat mencintai kamu, hiks….”
            Dalam Vidio itu Sivia terlihat sedang mengambil sebuah gitar lalu menaruhnya dipangkuan.
            “aku mau nyanyi buat kamu… tapi jangan nangis yaa? Masa cowok cengeng? Banci dong… Hahahahaha….” Sivia tertawa pelan, tapi matanya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepedihan hatinya saat ini.
            Susah payah, Alvin akhirnya bisa menghela nafas. Tapi air matanya semakin deras menetes. Rasa penyesalan itu seakan tidak pernah ada habisnya menyiksa batin Alvin.
            Sivia memetik gitar itu dan mulai bernyanyi, meski dengan suara yang terdengar sedikit bergetar karna menahan tangis.

“Setelah ku pahami…
Kubukan yang terbaik yang ada dihatimu
Tak dapat ku sanksikan ternyata dirinyalah
Yang mengerti kamu
Bukanlah diriku…
Kini maafkanlah aku bila ku menjadi bisu kepada dirimu
Bukan santunku terbungkam hanya hatiku berbatas
Tuk mengerti kamu…
Maafkan lah aku…
Walau ku masih mencintaimu
Ku harus meninggalkanmu
Ku harus melupakanmu

Meski hatiku menyayangimu
Nurani membutuhkanmu
Ku harus merelakanmu….”

            “Hiks… hiks… hiks… kamu nggak salah Via, dan kamu nggak seharusnya pergi ninggalin aku disini. Hiks… hiks… Sivia tolong kembali, aku mau minta maaf, aku mau bilang kalo kamu itu berarti banget buat aku, Via… hik.. hiks…” makin lama isakan Alvin semakin kuat terdengar. Begitu menyayat hati. Alvin baru tahu bahwa ternyata penyesalan itu terasa begitu menyiksa.

Dan hanyalah dirimu
Yang mampu memahamiku
Yang dapat mengerti aku

Ternyata dirinyalah
Yang sanggup menyanjungmu
Yang ramah menyentuhmu
Bukanlah diriku…
Walau ku masih mencintaimu
Ku harus meninggalkanmu
Ku harus melupakanmu

Meski hatiku menyayangimu
Nurani membutuhkanmu
Ku harus merelakanmu….”

            Ketika Alvin sudah merasa tidak sanggup lagi, ia pun akhirnya mematikan TV itu lalu menumpahkan semua tangisannya dalam ruangan yang sepi itu. Dan ketika emosinya sudah mencapai puncak klimaks, Alvin pun langsung melemparkan remote TV itu kearah tembok dengan kekuatan penuh. Tak tanggung-tanggung remote TV itu langsung hancur.
            “ARRGGHHHHHHH…. SIVIAAAAAA!!!!” Teriak Alvin sekeras mungkin.
            “Tuhaan… kenapa tidak Engkau cabut saja nyawaku ketika aku mengalami kecelakaan tadi? Kenapa Engkau biarkan aku hidup Tuhan? Aku tidak pantas hidup, aku tidak pantas hidup Tuhan, AAARRRRGGHHHHHH……”
            Cakka yang sejak tadi berdiri didepan ruangan Alvin mendengar semuanya. Cakka tersenyum miris, dan melihat keadaan Alvin itu, entah kenapa Cakka merasa hatinya seperti menangis.
            Cakka memejamkan matanya sejenak lalu memasuki ruangan Alvin,
            “ALVIN” Panggil Cakka sedikit keras. Alvin menghentikan tangisannya lalu menatap Cakka dengan berani,
            “penyesalan itu nggak enak kan? Iya kan?”
            “kalo lo dateng kesini Cuma untuk ngehajar gue, gue pasrah Kak, gue tau gue udah sangat keterlaluan”
            “percuma gue ngehajar lo, gue mau ngehajar lo sampe mati pun tetep nggak akan ngubah apapun, Sivia udah pergi, semua apapun yang gue lakuin sekarang hasil akhirnya tetap percuma”
            “Kak Cakka… lo tau kan dimana Sivia sekarang? Tolong kasi tau gue, Kak… gue bener-bener mau minta maaf sama Sivia, gue bener-bener mau nebus semua kesalahan gue sama Sivia, Kak…” kata Alvin dengan nada memohon.
            “kenapa lo bisa berfikir kalo gue tau dimana Sivia sekarang? Harusnya elo lebih tau dari gue, Alvin… harusnya elo yang lebih tau!”
            “karna selama ini lo deket sama Sivia. Dan sekalipun Sivia mencintai gue, tapi dia selalu monomer satukan lo dalam segala hal, gue Cuma nomer 2 dalam kehidupan Sivia…”
            Cakka terdiam sejenak, lalu tersenyum licik,
            “kalau pun gue tahu dimana Sivia sekarang, gue nggak akan pernah ngasih tau lo, Alvin. Nggak akan pernah. Nggak ada lagi kesempatan buat lo ngedeketin Sivia. Cam kan itu baik-baik!”
            Cakka berbalik dan hendak pergi meninggalkan Alvin sendiri. Tapi baru selangkah ia mengayunkan langkahnya, Alvin kembali buka suara,
            “jadi intinya, lo tau apa nggak dimana Sivia berada sekarang?” Alvin mulai tak tahan.
            Hening untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian, tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin, Cakka berkata,

            “gue nggak tau”
            Cakka pun melanjutkan langkahnya. Ia benar-benar pergi meninggalkan Alvin sendiri dalam ruangan itu.

            “oke kalo lo nggak mau ngomong, Kak. Itu nggak jadi masalah buat gue. Dengan atau tanpa petunjuk dari lo, gue akan tetep cari Sivia. Dia milik gue, Cuma milik gue….” Kata Alvin penuh keyakinan.




                                    BERSAMBUNG….




0 comments:

Post a Comment