Friday, August 30, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 18 [a New Story]





Seperti sungai mengalir yang mencari lautnya
Begitulah waktu terus berjalan, aku hanyut didalamnya
Bersama sebongkah kenangan yang membekas dihati

Aku tak tahu kau dimana. Tapi keyakinan ini terus mengusikku
Untuk mencarimu, untuk tetap menunggumu bersama jutaan
Harapan-harapan indahku tentangmu…

Selama mentari masih bersinar,
Selama bintang-bintang masih terus berpijar,
Selama rembulan masih bercahaya,
Dan selama Bumi masih terus berputar,
Maka selama itu pula aku takkan pernah berhenti untuk mencarimu…

Dan dari sinilah aku memulai cerita baruku,
Dari sinilah aku mulai melangkahkan kaki ku,
Untuk menjemput bahagia…

Seperti sungai yang mengalir,
Kelak aku akan menemui lautku yaitu, KAU…


****

5 Tahun Kemudian….


            “CUT!!” Sang Sutradara memekik dengan suara yang begitu lantang. Beberapa saat setelah Sang Sutradara memekikan kata ‘CUT’ seluruh Crew pun memberikan tepuk tangan yang begitu meriah untuk Sang Super Star yang baru saja menyelesaikan Shootingnya pada Film terbarunya kali ini.
            “BRAVO ALV! BRAVO!! Kalo acting mu terus seperti ini, saya yakin bahwa Film kita akan laku keras” ujar Sutradara tadi penuh kebanggaan.
            Sang super star yang tadi ia panggil dengan Alv itu hanya tersenyum lalu berjalan perlahan mendekati Sutradaranya,
            “ini semua juga tidak lepas dari kerja keras semua crew yang terlibat dalam Film ini selama kita Shooting”
            Alvin menghempaskan tubuhnya disebuah kursi untuk beristirahat sejenak. Setelah selama 3 bulan melakukan Shooting untuk Film terbarunya kali ini, akhirnya hari ini Alvin berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Alvin tersenyum puas mengingat jerih payahnya selama ini.
            “permisi Mas Alvin, ini ada kiriman dari German” salah seorang crew tiba-tiba datang menghampiri Alvin dengan membawa sebuah kotak yang lumayan besar, kotak itu dilapisi oleh sebuah kertas kado berwarna Gold.
            Alvin tersenyum ketika menerima kado itu. Dan ia tahu pasti siapa yang sudah mengirimkan kado itu untuknya.
            Dengan senang hati Alvin menerima kado itu lalu mengucapkan terimakasih pada Crew yang baik hati itu. Dengan tidak sabar, Alvin mulai membuka kado itu. Ternyata isi dari kado itu adalah sebuah jaket. Jaket yang selama ini Alvin inginkan. Tapi karna terlalu sibuk dengan shootingnya, Alvin jadi tidak pernah sempat membeli jaket itu.
selamat karna hari ini kamu udah berhasil nyelesein shooting kamu untuk Film mu yang ke-7 ini. Filmnya aku tunggu yaaa? :)

                                    Sahabatmu; Prissy


            Alvin terkekeh pelan. sejak dulu hingga sekarang, Pricilla sama sekali tidak pernah berubah. Ia selalu tahu apa yang Alvin inginkan. 3 tahun yang lalu, Alvin dan Pricilla resmi menjadi sahabat jauh. 3 bulan sekali, Pricilla selalu datang ke Indonesia khusus untuk menemui Alvin dan memberikan support kepada Pria yang dulu pernah sangat ia cintai itu.
            Dan jujur saja, Alvin lebih menikmati statusnya dengan Pricilla sebagai sepasang Sahabat daripada sepasang kekasih. Dalam waktu 3 tahun saja, Alvin dan Pricilla bisa menjadi sahabat karib yang begitu dekat. Semua tahu itu termasuk Shilla. Dan mereka semua mendukung penuh apapun keputusan Alvin.
            Handphone Alvin tiba-tiba saja bergetar. Alvin buru-buru merogoh kantong jeansnya lalu mengambil handphonenya disana. Alvin tersenyum ketika ia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya,
            “My Mom Calling….”
            Tidak ingin Mami nya menunggu terlalu lama, Alvin pun langsung mengangkat telfonnya,
            “Hallo Mami… I miss you, hahaha…”
            “jangan Cuma bisa bilang I miss you lewat telfon aja. Pulang cepetan, Mami sama Papi udah kangen banget sama kamu”
            “hari ini emang rencananya Alvin mau pulang, Mi. hari ini kan shooting Alvin udah kelar”
            “bagus deh kalo gitu. Oya, tadi Mami dapet telfon dari Kakak kamu”
            “Kak Cakka? Kak Cakka bilang apa, Mi?”
            “Kak Cakka minta, minggu depan kita sekeluarga pergi ke Bali, katanya dia mau ngenalin tunangannya sama kita semua”
            “tunangan? Emang Kak Cakka udah tunangan?”
            “udah, tapi kata Kakak kamu tunangannya belum resmi, dan besok itu mau diresmiin, sekalian juga kita semua mau dikenalin sama tunangannya itu”
            “ooo… kita berangkatnya hari apa?”
            “hari minggu”
            “hari minggu? Alvin nggak bisa Mi”
            “kenapa?”
            “hari Sabtu Alvin musti berangkat ke Surabaya. Soalnya dihari minggunya ada undangan dari Radio”
            “nggak bisa undangannya kamu batalin?”
            “ya nggak bisa gitu dong Mi, nggak enak kan sama orang-orang radionya, nanti mereka mikirnya Alvin artis yang sombong lagi”
            “jadi gimana dong?”
            “gini deh, Papi sama Mami berangkat duluan aja ke Bali. Nanti setelah acaranya selesai Alvin langsung nyusul pake penerbangan sore. Surabaya sama Bali kan deket”
            “ya udah deh, itu semua terserah kamu, yang penting kamu dateng”
            “pasti Mi. masa dihari bahagia Kak Cakka aku malah nggak dateng?”
            Setelah Mami menyelesaikan pembicaraan, Alvin pun menutup telfonnya lalu menyimpan handphonenya kembali kedalam kantong jeansnya. Alvin tersenyum untuk beberapa saat. Akhirnya Cakka tunangan juga, dengan begitu Alvin semakin yakin bahwa Cakka telah benar-benar melupakan Sivia. Tapi berbicara masalah Sivia, sedang dimana ya Gadis itu sekarang? Sudah 5 tahun dia menghilang tanpa kabar apapun. Awas saja nanti kalau Alvin menemukannya, jangan harap Alvin akan melepaskannya lagi.


****

            Riuh para Alvinoszta Surabaya yang berjumlah ribuan orang itu langsung terdengar gagap gempita ketika Alvin baru saja menjejakan kakinya di Bandara Juanda. Alvin membuka kaca mata hitam yang membingkai wajahnya lalu memberikan senyuman termanisnya pada semua fans yang mungkin sudah sejak pagi tadi menunggunya di Bandara sambil membawa spanduk juga poster-poster Alvin. Alvin melambaikan tangannya dan semakin membuat para Fansnya berteriak histeris. Tidak hanya para Alvinoszta Surabaya saja yang menyambut kedatangan Alvin di Bandara, tapi puluhan wartawan dari berbagai Stasuin TV juga ikut ambil bagian dalam peyambutan itu. Puluhan Sorot kamera langsung mengarah pada Alvin ketika Alvin baru saja memasuki Bandara.
            “ALVIIINNNNN…..” Teriak beberapa dari Fans Alvin yang berjumlah ribuan itu. Alvin hanya tersenyum pada mereka lalu memberikan ‘Kiss Bye’ nya. Kontan saja, semuanya jadi semakin heboh dan tidak terkendali lagi.
            Karna jumlah Fans yang terlalu banyak itu, Alvinpun akhirnya harus mendapatkan pengawalan ketat dari beberapa bodyguardnya.
            “bisa nggak sih dalam keadaan kayak gini lo nggak usah tebar pesona dulu?” kata Shilla kesal. Shilla yang bertindak sebagai Manager Alvin sudah merasa cukup kuwalahan dengan semua itu.
            “lho apa salahnya? Gue Cuma mau ramah sama fans”
            “ramah sama tebar pesona beda” kata Shilla keki sambil tetap berjalan disamping Alvin.
            “kenapa? Lo cemburu?”
            “haa? Kayak gue nggak punya pacar aja sampe harus cemburu sama lo”
            Alvin terkekeh pelan. Ia lalu merangkul Shilla dan berjalan melewati ribuan Fansnya yang masih dengan setia menunggunya disana.


****

            “Pokoknya saya mau semua jadwal saya selama seminggu full mulai hari senin besok di kosongin. Sudah kamu kosongkan?” Tanya Cakka pada sekertaris cantik yang sejak tadi mengikutinya dibelakang.
            “sudah, Pak. Sudah…”jawab sekertaris bernama Angel itu.
            “bagus”
            “tapi hari ini ada  meeting pukul 11 di Restoran Baraya” kata Angel sambil melihat buku agendanya.
            “saya tahu, sudah kamu persiapkan semuanya?”
            “sudah Pak”
            “baiklah kalau begitu. Oya, Ngel”
            “kenapa Pak?”
            “tolong kamu suruh orang kantor untuk nyiepin mobil, besok siang saya mau jemput keluarga saya yang baru dateng dari Jakarta”
            “oo, oke Pak?”
            Cakka dan sekertarisnyapun akhirnya berpisah. Hari ini genap 4 tahun sudah Cakka mengurus Hotel milik keluarganya ini, dan selama 4 tahun ini Cakka bisa membuktikan pada kedua orang tuanya bawa Cakka mampu memajukan Hotel ini. Cakka bangga akan usahanya selama ini. Hotel Sindhunata ini tidak hanya terkenal di Indonesia saja, melainkan, nama Hotel Sindhunata sudah mampu menjejakan namanya di Mata International sebagai 10 besar jajaran Hotel terbaik didunia. Cakka tersenyum, ternyata Impian dan cita-cita semasa ia kuliah dulu bisa ia wujudkan.
            Cakka berdiri dibalkon Hotelnya sambil melihat-lihat pemandangan sekitar. Pemandangan disekitar hotel benar-benar menyeret ingatan Cakka ketika ia baru pertama kali datang ke Bali hingga akhirnya mengurus Hotel ini dengan jabatan sebagai Direktur Utama.
            Bunyi dari ponselnya tiba-tiba saja membuyarkan semua ingatan Cakka. Cakka terkesiap lalu segera merogoh kantong jasnya. Cakka melihat ponselnya. Dan ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Cakka langsung berdecak kesal. Kemana saja Gadis ini sejak kemarin? Kenapa baru sekarang ia menelpon? Awas saja!
            “Hallo. Heh, kamu dimana sih ? dari kemarin aku telfon kamu malah nggak angkat-angkat juga. Bikin aku cemas tau?”
            “….”
            “maaf… maaf… ya udah aku nggak mau tau, pokoknya nanti malem kamu harus sudah ada dihotel. Besok Papi, Mami, sama Alvin udah tiba di Bali. Kita bakalan jemput mereka sama-sama, sekalian juga aku mau ngenalin kamu sama mereka”
            “……..”
            “jangan Cuma oke-oke aja”
            “…..”
            “iya udah kalo gitu. Take care, ya Agni? Aku tunggu nanti malem”
            Cakka tersenyum kecil setelah menutup telfonnya. Kedua orang tuanya pasti akan sangat senang dengan kejutannya ini juga dengan… AGNI.



****

            Shilla mengendarai mobilnya dengan santai menyusuri jalanan besar di Surabaya. Sementara Alvin yang duduk disebelahnya saat itu ia hanya memejamkan matanya sambil mendengarkan musik melalui i-pod miliknya. Untuk saat ini Alvin hanya butuh istirahat. Baru semalam ia menyelesaikan shootingnya sampai pukul 10 malam, tapi paginya ia malah harus sudah berangkat ke Surabaya untuk memenuhi undangan Radio.
            “capek kan lo?” cibir Shilla sambil tetap fokus dengan jalanan yang ada dihadapannya.
            “namanya juga kerja. Udah nggak usah berisik! Gue lagi ngantuk” sembur Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Shilla. Shilla menganga tak percaya, dia fikir Alvin tidak mendengarkan ucapannya tadi, tapi ternyata.
            “kok lo bisa denger omongan gue? Bukannya lo lagi dengerin musik?”
            “sekali lagi lo berisik, gue tendang lo dari mobil gue” ancam Alvin sok sadis. Shilla yang sudah sangat kesal nyaris saja melayangkan sebuah toyoran dikepala Pria batu itu. Jika tidak ingat bahwa ini adalah mobil milik Alvin, mungkin sejak tadi Shilla sudah melempar Alvin keluar dari sampingnya. Dasar menyebalkan.
            Shilla yang kelamaan mulai merasa bosan akhirnya memutuskan untuk menyalakan radio. Tangan Shilla beregrak perlahan lalu menyalakan radio pada gelombang 77.6 FM.
            “Hay… sobat 77.6 FM  WOW-Radio Surabaya, jumpa lagi dengan gue Vee dalam acara Music Special. Oke, sebelum kita mulai membuka telfon buat kalian semua, gue mau ngasih Info dulu nih…. Udah pada tau dong kalau besok, WOW-Radio bakalan kedatengan Sang Super Star, Alvin Jonathan, YEEEE—“ begitulah beberapa penggal kalimat yang terdengar dari Penyiar Radio itu. Alvin menguap lebar-lebar ketika itu juga dan menampakkan wajah yang benar-benar bosan.
            “sok asyik banget sih penyiar radio itu? Ergh…” protes Alvin lalu segera mendelik kearah Shilla. Tatapan Alvin itu menunjukan rasa ketidaksukaannya pada penyiar Radio itu lalu mengisyaratkan pada Shilla untuk segera mematikan Radio tersebut. Tapi Shilla malah cuek dan tetap terlihat biasa saja.
            Alvin menggeleng tak sabar. Shilla ini benar-benar tidak ada pengertiannya, baik sebagai sahabat maupun sebagai manager. Alvin berdecak kesal, tapi baru saja ia ingin mematikan Radio itu, tiba-tiba saja Alvin mengurungkan niatnya ketika ia mendengar sebuah kalimat yang tidak asing lagi baginya,
            “Oke, tetep stay tune disini ya…? Tentunya bersama gue Vee, DJ Paling kece sedunia….”
            Indera pendengar Alvin tidak lagi mampu mendengar apa saja yang penyiar Radio Wanita itu ucapkan. Yang jelas, sepenggal kalimat terakhir yang baru saja Alvin dengarkan itu benar-benar mengingatkannya pada seseorang. Dulu juga, Sivia sering mengucapkan kalimat itu ketika ia masih menjadi penyiar radio di ANH-Radio, atau apa jangan-jangan….? Alvin menggelengkan kepalanya. Itu semua sama sekali tidak mungkin. Konyol.
            Alvin terkekeh pelan menertawakan kebodohannya sendiri. Alvin pun lantas mematikan Radio itu dan kembali menyembunyikan wajahnya dibalik kupluk.

            “ALVIIINNNN…. KENAPA LO MATIIN??” Kata Shilla keki. Jika bisa, ia ingin sekarang juga menelan Alvin hidup-hidup.


****

            Esok harinya sekitar pukul setengah delapan pagi, Alvin dan Shilla sudah berada di WOW-Radio Surabaya. Alvin dan Shilla duduk berdampingan disebuah Sofa yang terdapat diruang tunggu. Shilla terlihat sibuk menerima telfon dari seseorang. Sementara Alvin, dengan gaya santainya ia tetap duduk dengan tenang diatas sofa sambil memainkan game melalui PSP nya.
            “Vin…”
            “iya?” jawab Alvin tanpa sedikitpun melirik kearah Shilla,
            “hari ini gue tinggal ya?”
            “boleh. Tapi bulan ini lo nggak gue gaji” kata Alvin santai,
            “Alvin gue serius. Hari ini Gabriel dateng jauh-jauh dari German Ke Surabaya Cuma untuk menemui gue, masa iya pacar sendiri dateng malah gue cuekin?”
            “ciyeee… pacar. Ya udah sana pergi aja. Gue bisa sendiri kok, tapi mobil jangan lo bawa, nanti gue pulang pake apa? Lagian hari ini nggak jadwal apa-apa kan? Nanti jam 4 juga gue udah terbang ke Bali”
            “oke, ya ampuunnnn…. Lo baik banget sih Alv?” kata Shilla gemes sambil menjawil hidung Alvin. Dengan sigap Alvin langsung menyingkirkan tangan Shilla dari hidungnya,
            “jangan lebay atau kalo nggak ijin tadi gue cabut?”
            “hahahaha… VISS! Ya udah gue pergi ya? Salam aja buat Kak Cakka sama tunangannya, hahahaha….” Shilla pun langsung pergi dari tempat itu. Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Shilla itu.
            Beberapa saat setelah kepergian Shilla, mendadak Alvin merasa perlu ke Toilet. Ia melirik jam tangannya lalu mengangguk perlahan. Masih ada waktu 5 menit lagi sebelum On Air dimulai. Alvin pun segera bergegas ke toilet, tapi tiba-tiba saja… Tanpa sengaja Alvin menabrak seseorang hingga beberapa kertas yang ada ditangan Gadis itu terjatuh ke lantai. Gadis tadi menggerutu kesal,
            “ya Ampun…” Gadis itu segera duduk lalu membereskan kertas-kertas yang berserakan itu.
            “maaf” lirih Alvin penuh penyesalan. Tapi Gadis itu hanya diam, tidak berniat sedikitpun untuk menanggapi kata maaf yang tadi Alvin ucapkan.
            “SIVIA cepetan!!… bentar lagi On Air”
            Alvin tersentak kaget ketika mendengar nama itu disebut. Sivia? Alvin lalu melirik kearah Gadis yang tadi ia tabrak tanpa sengaja itu.
            “Iya… iya…” kata Gadis itu sambil mengangkat wajahnya lalu bangkit.
            Kedua mata Alvin membelalak lebar, ia nyaris saja tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan ia lihat. Sivia? Gadis itu benar-benar adalah Sivia-nya yang selama 5 tahun terakhir ini menghilang tanpa kabar. Gadis yang selama 5 tahun terakhir ini terus bersemayam dalam ingatan dan kenangan Alvin. Gadis yang selama ini menjadi penghuni tunggal relungnya. Gadis yang selama 5 tahun terakhir ini sangat ia rindukan.
            Dan ketika kedua manik mata mereka saling bertubrukan satu sama lain, mereka sama-sama tersentak. Tapi tidak seperti Alvin, Sivia lebih berusaha bersikap normal dan terlihat wajar dihadapan Pria ini. Entahlah, Sivia seperti sudah tau bahwa hari ini ia akan bertemu lagi dengan Alvin.
            “Vi… Via??” panggil Alvin penuh dengan rasa ketidak percayaan. Sivia tersenyum kaku lalu melambai,
            “h.. hay Alvin…”
            “Via aku—“
            “Vee cepetan!!” panggil seseorang dari dalam ruang siaran.
            “ya udah Vin, aku pergi dulu” baru saja Sivia berbalik dan hendak melangkah pergi, Alvin langsung mencekal pergelangan tangan Sivia dan menahannya untuk tetap ada disampingnya. Sebisa mungkin Alvin berusaha  tetap mengontrol diri untuk tidak membawa Gadis itu kedalam pelukannya sekalipun ia ingin. Alvin tahu bahwa ini adalah tempat umum dan ia adalah public figure, setiap tindak tanduknya ada yang memperhatikan. Dan ia tahu ia tidak boleh gegabah dalam melakukan hal apapun.
            “kamu kemana aja selama ini? Aku nyariin kamu terus” kata Alvin pelan.
            “sorry Vin, sekarang aku lagi sibuk. Nanti saja kita lanjutin, dan… kamu aku tunggu diruang siaran. 3 menit lagi acaranya dimulai” dalam satu sentakan kuat Sivia melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Alvin. Alvin hanya pasrah dan membiarkan Sivia pergi begitu saja.

            “ini yang terakhir Sivia… lain kali kamu nggak akan aku lepasin lagi…”


****

            “Papi… Mami…” Cakka berlari kecil kearah kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari Bandara.
            “Cakka…” Mami langsung memeluk Cakka ketika Cakka sudah berdiri dihadapannya. Mami memeluk Cakka seerat mungkin seakan tidak ingin melepaskan lagi. Mami memang sangat merindukan Cakka setelah hampir selama 3 bulan tidak pernah bertemu.
            “Mami kangen sama kamu, Sayang…”
            “iya Mi, Cakka juga kangen sama Mami”
            Setelah memeluk Maminya, Cakka pun menghampiri Papi lalu memeluk beliau.
            “gimana perkembangan hotelnya?”
            “yang jelas sangat membanggakan, Pi” Mereka pun mengurai pelukan mereka lalu saling tersenyum satu sama lain. Cakka merangkul kedua orang tuanya lalu berjalan secara bersamaan keluar dari Bandara.
            “Alvin mana?” Tanya Cakka ketika mereka sudah memasuki Mobil.
            “Alvin lagi di Surabaya, dia lagi ada undangan dari Radio, tapi nanti sore Alvin sudah berangkat ke Bali kok” jawab Mami antusias.
            “ooo…” sahut Cakka. Sesuatu terlintas dalam benaknya secata tiba-tiba. Entah apa itu, Cakka juga tidak mengerti.
            “Oya, tunangan kamu itu cewek Bali ya, Kka? Namanya siapa sih? Mami jadi penasaran”
            “haha… sabar dong, nanti juga Mami pasti tau, dan yang pasti Mami pasti akan sangat suka dengan Tunangan Cakka ini…” kata Cakka dengan salah satu alis terangkat.


****

            Setelah siaran usai, Sivia segera keluar dari ruang siaran tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun pada Alvin. Ia terlihat terburu-buru dan terkesan menghindari Alvin. Alvin yang tidak ingin melepaskan Sivia lagi langsung mengejar Sivia dan menarik pergelangan tangannya,
            “Sivia tunggu!” Sivia menghentikan langkahnya. Ia terdengar menghela nafas berat lalu menoleh kearah Alvin.
            “aku mau ngomong sama kamu, Via”
            “mau ngomong apa?”
            “banyak hal yang harus kita omongin”
            Sivia memejamkan kedua matanya sejenak. Ia harus bagaimana sekarang? Sivia yang tidak tahu lagi harus berbuat apa akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Alvin tersenyum lega ketika itu juga.


****

            “Jadi disini selama ini kamu bersembunyi?” tanya Alvin sehati-hati mungkin seakan tidak ingin sedikit saja pertanyaannya menyinggung perasaan Sivia. Sivia tersenyum penuh arti lalu  lalu menyeruput teh hijau pesanannya,
            “perlu kamu tahu Alvin, aku disini bukan sembunyi, aku—“
            “kalo nggak sembunyi terus apa lagi namanya?” kata Alvin setengah membentak. Sivia sedikit kaget dengan itu, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
            Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam, sama-sama tidak tahu harus berkata apa lagi. 5 tahun berpisah cukup membuat mereka merasa asing satu sama lain.
            “sekarang kamu hebat ya, Vin? Udah jadi artis, punya banyak fans. Emm… pasti banyak kan yang naksir kamu, hahaha…” kata Sivia yang sebenarnya ingin mencairkan suasana beku yang membungkus kebersamaan mereka pada pagi menjelang siang itu.
            “walo pun aku jadi artis, tapi itu semua nggak ngubah apapun, hati dan cinta ku tetep terpaut pada satu orang, dan selamanya hal itu nggak akan pernah berubah”
            Sivia terdiam sejenak, lalu…
            “sama Pricill kan?” Sivia tersenyum pahit. Alvin sedikit terkejut, bagaimana bisa Sivia berfikir bahwa seseorang yang Alvin maksud adalah Pricilla dan bukan dirinya? Apa Sivia tidak pernah benar-benar tahu bahwa cerita antara Alvin dan Pricilla sudah berakhir sejak lama, bahkan semenjak Sivia memutuskan untuk pergi meninggalkan Alvin?
            “aku sama Pricill udah lama—“

            “Mamaa….” Panggil seorang Gadis cilik yang tiba-tiba saja berlari kearah meja Alvin dan Sivia.
            “hay Sayang…” jawab Sivia antusias lalu menunduk untuk memeluk Gadis Cilik yang tadi memanggilnya dengan panggilan Mama itu.
            Saat itu juga Alvin merasa tertampar oleh kenyataan ini. Gadis cilik itu memanggil Sivia dengan sebutan Mama? Apa Alvin tidak salah dengar? Atau apa Gadis cilik itu memang benar-benar anak kandung Sivia? Darah daging Sivia dengan Pria lain? Lalu apa arti penantian Alvin selama 5 tahun terakhir ini?
            “Mama kok lama sih, Ma? Aku sama Papa udah nungguin Mama dari tadi disana” ujar Gadis Cilik itu dengan nada merajuk. Jari telunjuknya yang mungil menujuk kearah jendela kaca. Dibalik jendela itu ada seorang Pria berkaca mata yang tengah tersenyum dan melambai. Sivia tersenyum kecil.
            “ooo… ya udah kalo gitu, kita pulang yuk!”
            “ayo.. ayo… tapi Ma, Om ini siapa?” tanya Gadis Cilik itu sambil melirik sedikit heran kearah Alvin,
            “ooo… ini namanya Om Alvin, Bintang… Om Alvin ini sahabat lama Mama… ayo kenalan dulu”
            Gadis cilik bernama Bintang itu berjalan perlahan mendekati Alvin dengan sorot mata jenaka nan manjanya. Ia pun mengulurkan tangan mungilnya lalu berkata,
            “hay Om Alvin, kenalin nama aku Bintang…” ragu-ragu Alvin menyambut uluran tangan Gadis mungil itu,
            “Om Alvin… mata kamu indah sayang, persis kayak Mama kamu” ujar Alvin sambil melirik tajam kearah Sivia. Tatapan mata Alvin menunjukan bagaimana terlukanya ia saat ini. Kedua matanya pun mulai memerah dan seakan ingin menghamburkan air mata. Dan Sivia bisa melihat semua itu dengan jelas.
            Setelah melepaskan uluran tangannya dari Alvin. Bintang kembali mendekat kearah Sivia dan meminta Sivia untuk cepat-cepat membawanya keluar dari cafĂ© itu.
            “Mama ayo kita pulang. Papa udah nungguin….”
            “iya sayang iya, kita pulang” kali ini Sivia melempar tatapannya kearah Alvin, ia tersenyum pahit lalu pamit,
            “Alvin aku pulang dulu ya? Semoga lain kali kita bisa ketemu lagi” Alvin mengangguk mantap lantas berkata,
            “dan aku harap kamu bisa ngejelasin apa maksud dibalik semua ini”
            “terkadang ada hal-hal yang susah untuk dijelaskan Alvin, tapi nanti kamu akan mengerti. Sampai ketemu lagi…. Nanti” Sivia lalu membawa Gadis Cilik itu keluar bersamanya.
            Alvin menatap punggung Sivia yang kelamaan mulai menghilang dari pandangannya seiring dengan mengaburnya pengelihatan Alvin karena air mata yang tertahan dipelupuk matanya. Hati Alvin terasa begitu pedih ketika mendapati sebuah kenyataan yang benar-benar telah melemparkannya pada jurang keputusasaan.
            Air mata kepedihan itu akhirnya menetes juga tanpa bisa ia tahan lagi. Ini kah yang namanya karma?




                        BERSAMBUNG…
           

0 comments:

Post a Comment