Seperti
sungai mengalir yang mencari lautnya
Begitulah
waktu terus berjalan, aku hanyut didalamnya
Bersama
sebongkah kenangan yang membekas dihati
Aku
tak tahu kau dimana. Tapi keyakinan ini terus mengusikku
Untuk
mencarimu, untuk tetap menunggumu bersama jutaan
Harapan-harapan
indahku tentangmu…
Selama
mentari masih bersinar,
Selama
bintang-bintang masih terus berpijar,
Selama
rembulan masih bercahaya,
Dan
selama Bumi masih terus berputar,
Maka
selama itu pula aku takkan pernah berhenti untuk mencarimu…
Dan
dari sinilah aku memulai cerita baruku,
Dari
sinilah aku mulai melangkahkan kaki ku,
Untuk
menjemput bahagia…
Seperti
sungai yang mengalir,
Kelak
aku akan menemui lautku yaitu, KAU…
****
5
Tahun Kemudian….
“CUT!!” Sang Sutradara memekik
dengan suara yang begitu lantang. Beberapa saat setelah Sang Sutradara
memekikan kata ‘CUT’ seluruh Crew pun memberikan tepuk tangan yang begitu
meriah untuk Sang Super Star yang baru saja menyelesaikan Shootingnya pada Film
terbarunya kali ini.
“BRAVO ALV! BRAVO!! Kalo acting mu
terus seperti ini, saya yakin bahwa Film kita akan laku keras” ujar Sutradara
tadi penuh kebanggaan.
Sang super star yang tadi ia panggil
dengan Alv itu hanya tersenyum lalu berjalan perlahan mendekati Sutradaranya,
“ini semua juga tidak lepas dari
kerja keras semua crew yang terlibat dalam Film ini selama kita Shooting”
Alvin menghempaskan tubuhnya
disebuah kursi untuk beristirahat sejenak. Setelah selama 3 bulan melakukan
Shooting untuk Film terbarunya kali ini, akhirnya hari ini Alvin berhasil
menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Alvin tersenyum puas mengingat jerih
payahnya selama ini.
“permisi Mas Alvin, ini ada kiriman
dari German” salah seorang crew tiba-tiba datang menghampiri Alvin dengan
membawa sebuah kotak yang lumayan besar, kotak itu dilapisi oleh sebuah kertas
kado berwarna Gold.
Alvin tersenyum ketika menerima kado
itu. Dan ia tahu pasti siapa yang sudah mengirimkan kado itu untuknya.
Dengan senang hati Alvin menerima
kado itu lalu mengucapkan terimakasih pada Crew yang baik hati itu. Dengan
tidak sabar, Alvin mulai membuka kado itu. Ternyata isi dari kado itu adalah
sebuah jaket. Jaket yang selama ini Alvin inginkan. Tapi karna terlalu sibuk
dengan shootingnya, Alvin jadi tidak pernah sempat membeli jaket itu.
selamat
karna hari ini kamu udah berhasil nyelesein shooting kamu untuk Film mu yang
ke-7 ini. Filmnya aku tunggu yaaa? :)
Sahabatmu;
Prissy
Alvin terkekeh pelan. sejak dulu
hingga sekarang, Pricilla sama sekali tidak pernah berubah. Ia selalu tahu apa
yang Alvin inginkan. 3 tahun yang lalu, Alvin dan Pricilla resmi menjadi
sahabat jauh. 3 bulan sekali, Pricilla selalu datang ke Indonesia khusus untuk
menemui Alvin dan memberikan support kepada Pria yang dulu pernah sangat ia
cintai itu.
Dan jujur saja, Alvin lebih
menikmati statusnya dengan Pricilla sebagai sepasang Sahabat daripada sepasang
kekasih. Dalam waktu 3 tahun saja, Alvin dan Pricilla bisa menjadi sahabat
karib yang begitu dekat. Semua tahu itu termasuk Shilla. Dan mereka semua
mendukung penuh apapun keputusan Alvin.
Handphone Alvin tiba-tiba saja
bergetar. Alvin buru-buru merogoh kantong jeansnya lalu mengambil handphonenya
disana. Alvin tersenyum ketika ia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya,
“My
Mom Calling….”
Tidak ingin Mami nya menunggu
terlalu lama, Alvin pun langsung mengangkat telfonnya,
“Hallo Mami… I miss you, hahaha…”
“jangan Cuma bisa bilang I miss you
lewat telfon aja. Pulang cepetan, Mami sama Papi udah kangen banget sama kamu”
“hari ini emang rencananya Alvin mau
pulang, Mi. hari ini kan shooting Alvin udah kelar”
“bagus deh kalo gitu. Oya, tadi Mami
dapet telfon dari Kakak kamu”
“Kak Cakka? Kak Cakka bilang apa,
Mi?”
“Kak Cakka minta, minggu depan kita
sekeluarga pergi ke Bali, katanya dia mau ngenalin tunangannya sama kita semua”
“tunangan? Emang Kak Cakka udah
tunangan?”
“udah, tapi kata Kakak kamu
tunangannya belum resmi, dan besok itu mau diresmiin, sekalian juga kita semua
mau dikenalin sama tunangannya itu”
“ooo… kita berangkatnya hari apa?”
“hari minggu”
“hari minggu? Alvin nggak bisa Mi”
“kenapa?”
“hari Sabtu Alvin musti berangkat ke
Surabaya. Soalnya dihari minggunya ada undangan dari Radio”
“nggak bisa undangannya kamu
batalin?”
“ya nggak bisa gitu dong Mi, nggak
enak kan sama orang-orang radionya, nanti mereka mikirnya Alvin artis yang
sombong lagi”
“jadi gimana dong?”
“gini deh, Papi sama Mami berangkat
duluan aja ke Bali. Nanti setelah acaranya selesai Alvin langsung nyusul pake
penerbangan sore. Surabaya sama Bali kan deket”
“ya udah deh, itu semua terserah
kamu, yang penting kamu dateng”
“pasti Mi. masa dihari bahagia Kak
Cakka aku malah nggak dateng?”
Setelah Mami menyelesaikan
pembicaraan, Alvin pun menutup telfonnya lalu menyimpan handphonenya kembali
kedalam kantong jeansnya. Alvin tersenyum untuk beberapa saat. Akhirnya Cakka
tunangan juga, dengan begitu Alvin semakin yakin bahwa Cakka telah benar-benar
melupakan Sivia. Tapi berbicara masalah Sivia, sedang dimana ya Gadis itu
sekarang? Sudah 5 tahun dia menghilang tanpa kabar apapun. Awas saja nanti
kalau Alvin menemukannya, jangan harap Alvin akan melepaskannya lagi.
****
Riuh para Alvinoszta Surabaya yang
berjumlah ribuan orang itu langsung terdengar gagap gempita ketika Alvin baru saja
menjejakan kakinya di Bandara Juanda. Alvin membuka kaca mata hitam yang
membingkai wajahnya lalu memberikan senyuman termanisnya pada semua fans yang
mungkin sudah sejak pagi tadi menunggunya di Bandara sambil membawa spanduk
juga poster-poster Alvin. Alvin melambaikan tangannya dan semakin membuat para
Fansnya berteriak histeris. Tidak hanya para Alvinoszta Surabaya saja yang
menyambut kedatangan Alvin di Bandara, tapi puluhan wartawan dari berbagai
Stasuin TV juga ikut ambil bagian dalam peyambutan itu. Puluhan Sorot kamera
langsung mengarah pada Alvin ketika Alvin baru saja memasuki Bandara.
“ALVIIINNNNN…..” Teriak beberapa
dari Fans Alvin yang berjumlah ribuan itu. Alvin hanya tersenyum pada mereka
lalu memberikan ‘Kiss Bye’ nya. Kontan saja, semuanya jadi semakin heboh dan
tidak terkendali lagi.
Karna jumlah Fans yang terlalu
banyak itu, Alvinpun akhirnya harus mendapatkan pengawalan ketat dari beberapa
bodyguardnya.
“bisa nggak sih dalam keadaan kayak
gini lo nggak usah tebar pesona dulu?” kata Shilla kesal. Shilla yang bertindak
sebagai Manager Alvin sudah merasa cukup kuwalahan dengan semua itu.
“lho apa salahnya? Gue Cuma mau
ramah sama fans”
“ramah sama tebar pesona beda” kata
Shilla keki sambil tetap berjalan disamping Alvin.
“kenapa? Lo cemburu?”
“haa? Kayak gue nggak punya pacar
aja sampe harus cemburu sama lo”
Alvin terkekeh pelan. Ia lalu
merangkul Shilla dan berjalan melewati ribuan Fansnya yang masih dengan setia
menunggunya disana.
****
“Pokoknya saya mau semua jadwal saya
selama seminggu full mulai hari senin besok di kosongin. Sudah kamu kosongkan?”
Tanya Cakka pada sekertaris cantik yang sejak tadi mengikutinya dibelakang.
“sudah, Pak. Sudah…”jawab sekertaris
bernama Angel itu.
“bagus”
“tapi hari ini ada meeting pukul 11 di Restoran Baraya” kata
Angel sambil melihat buku agendanya.
“saya tahu, sudah kamu persiapkan
semuanya?”
“sudah Pak”
“baiklah kalau begitu. Oya, Ngel”
“kenapa Pak?”
“tolong kamu suruh orang kantor
untuk nyiepin mobil, besok siang saya mau jemput keluarga saya yang baru dateng
dari Jakarta”
“oo, oke Pak?”
Cakka dan sekertarisnyapun akhirnya
berpisah. Hari ini genap 4 tahun sudah Cakka mengurus Hotel milik keluarganya
ini, dan selama 4 tahun ini Cakka bisa membuktikan pada kedua orang tuanya bawa
Cakka mampu memajukan Hotel ini. Cakka bangga akan usahanya selama ini. Hotel
Sindhunata ini tidak hanya terkenal di Indonesia saja, melainkan, nama Hotel
Sindhunata sudah mampu menjejakan namanya di Mata International sebagai 10
besar jajaran Hotel terbaik didunia. Cakka tersenyum, ternyata Impian dan
cita-cita semasa ia kuliah dulu bisa ia wujudkan.
Cakka berdiri dibalkon Hotelnya
sambil melihat-lihat pemandangan sekitar. Pemandangan disekitar hotel
benar-benar menyeret ingatan Cakka ketika ia baru pertama kali datang ke Bali
hingga akhirnya mengurus Hotel ini dengan jabatan sebagai Direktur Utama.
Bunyi dari ponselnya tiba-tiba saja
membuyarkan semua ingatan Cakka. Cakka terkesiap lalu segera merogoh kantong
jasnya. Cakka melihat ponselnya. Dan ketika melihat nama yang tertera pada
layar ponselnya, Cakka langsung berdecak kesal. Kemana saja Gadis ini sejak
kemarin? Kenapa baru sekarang ia menelpon? Awas saja!
“Hallo. Heh, kamu dimana sih ? dari
kemarin aku telfon kamu malah nggak angkat-angkat juga. Bikin aku cemas tau?”
“….”
“maaf… maaf… ya udah aku nggak mau
tau, pokoknya nanti malem kamu harus sudah ada dihotel. Besok Papi, Mami, sama
Alvin udah tiba di Bali. Kita bakalan jemput mereka sama-sama, sekalian juga
aku mau ngenalin kamu sama mereka”
“……..”
“jangan Cuma oke-oke aja”
“…..”
“iya udah kalo gitu. Take care, ya
Agni? Aku tunggu nanti malem”
Cakka tersenyum kecil setelah
menutup telfonnya. Kedua orang tuanya pasti akan sangat senang dengan
kejutannya ini juga dengan… AGNI.
****
Shilla mengendarai mobilnya dengan
santai menyusuri jalanan besar di Surabaya. Sementara Alvin yang duduk
disebelahnya saat itu ia hanya memejamkan matanya sambil mendengarkan musik
melalui i-pod miliknya. Untuk saat ini Alvin hanya butuh istirahat. Baru
semalam ia menyelesaikan shootingnya sampai pukul 10 malam, tapi paginya ia
malah harus sudah berangkat ke Surabaya untuk memenuhi undangan Radio.
“capek kan lo?” cibir Shilla sambil
tetap fokus dengan jalanan yang ada dihadapannya.
“namanya juga kerja. Udah nggak usah
berisik! Gue lagi ngantuk” sembur Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Shilla.
Shilla menganga tak percaya, dia fikir Alvin tidak mendengarkan ucapannya tadi,
tapi ternyata.
“kok lo bisa denger omongan gue?
Bukannya lo lagi dengerin musik?”
“sekali lagi lo berisik, gue tendang
lo dari mobil gue” ancam Alvin sok sadis. Shilla yang sudah sangat kesal nyaris
saja melayangkan sebuah toyoran dikepala Pria batu itu. Jika tidak ingat bahwa
ini adalah mobil milik Alvin, mungkin sejak tadi Shilla sudah melempar Alvin
keluar dari sampingnya. Dasar menyebalkan.
Shilla yang kelamaan mulai merasa
bosan akhirnya memutuskan untuk menyalakan radio. Tangan Shilla beregrak
perlahan lalu menyalakan radio pada gelombang 77.6 FM.
“Hay… sobat 77.6 FM WOW-Radio Surabaya, jumpa lagi dengan gue Vee
dalam acara Music Special. Oke, sebelum kita mulai membuka telfon buat kalian
semua, gue mau ngasih Info dulu nih…. Udah pada tau dong kalau besok, WOW-Radio
bakalan kedatengan Sang Super Star, Alvin Jonathan, YEEEE—“ begitulah beberapa
penggal kalimat yang terdengar dari Penyiar Radio itu. Alvin menguap
lebar-lebar ketika itu juga dan menampakkan wajah yang benar-benar bosan.
“sok asyik banget sih penyiar radio
itu? Ergh…” protes Alvin lalu segera mendelik kearah Shilla. Tatapan Alvin itu
menunjukan rasa ketidaksukaannya pada penyiar Radio itu lalu mengisyaratkan
pada Shilla untuk segera mematikan Radio tersebut. Tapi Shilla malah cuek dan
tetap terlihat biasa saja.
Alvin menggeleng tak sabar. Shilla
ini benar-benar tidak ada pengertiannya, baik sebagai sahabat maupun sebagai
manager. Alvin berdecak kesal, tapi baru saja ia ingin mematikan Radio itu,
tiba-tiba saja Alvin mengurungkan niatnya ketika ia mendengar sebuah kalimat
yang tidak asing lagi baginya,
“Oke, tetep stay tune disini ya…?
Tentunya bersama gue Vee, DJ Paling kece sedunia….”
Indera pendengar Alvin tidak lagi
mampu mendengar apa saja yang penyiar Radio Wanita itu ucapkan. Yang jelas,
sepenggal kalimat terakhir yang baru saja Alvin dengarkan itu benar-benar
mengingatkannya pada seseorang. Dulu juga, Sivia sering mengucapkan kalimat itu
ketika ia masih menjadi penyiar radio di ANH-Radio, atau apa jangan-jangan….?
Alvin menggelengkan kepalanya. Itu semua sama sekali tidak mungkin. Konyol.
Alvin terkekeh pelan menertawakan
kebodohannya sendiri. Alvin pun lantas mematikan Radio itu dan kembali
menyembunyikan wajahnya dibalik kupluk.
“ALVIIINNNN…. KENAPA LO MATIIN??”
Kata Shilla keki. Jika bisa, ia ingin sekarang juga menelan Alvin hidup-hidup.
****
Esok harinya sekitar pukul setengah
delapan pagi, Alvin dan Shilla sudah berada di WOW-Radio Surabaya. Alvin dan
Shilla duduk berdampingan disebuah Sofa yang terdapat diruang tunggu. Shilla
terlihat sibuk menerima telfon dari seseorang. Sementara Alvin, dengan gaya
santainya ia tetap duduk dengan tenang diatas sofa sambil memainkan game
melalui PSP nya.
“Vin…”
“iya?” jawab Alvin tanpa sedikitpun
melirik kearah Shilla,
“hari ini gue tinggal ya?”
“boleh. Tapi bulan ini lo nggak gue
gaji” kata Alvin santai,
“Alvin gue serius. Hari ini Gabriel
dateng jauh-jauh dari German Ke Surabaya Cuma untuk menemui gue, masa iya pacar
sendiri dateng malah gue cuekin?”
“ciyeee… pacar. Ya udah sana pergi
aja. Gue bisa sendiri kok, tapi mobil jangan lo bawa, nanti gue pulang pake
apa? Lagian hari ini nggak jadwal apa-apa kan? Nanti jam 4 juga gue udah
terbang ke Bali”
“oke, ya ampuunnnn…. Lo baik banget
sih Alv?” kata Shilla gemes sambil menjawil hidung Alvin. Dengan sigap Alvin
langsung menyingkirkan tangan Shilla dari hidungnya,
“jangan lebay atau kalo nggak ijin
tadi gue cabut?”
“hahahaha… VISS! Ya udah gue pergi
ya? Salam aja buat Kak Cakka sama tunangannya, hahahaha….” Shilla pun langsung
pergi dari tempat itu. Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah
Shilla itu.
Beberapa saat setelah kepergian
Shilla, mendadak Alvin merasa perlu ke Toilet. Ia melirik jam tangannya lalu
mengangguk perlahan. Masih ada waktu 5 menit lagi sebelum On Air dimulai. Alvin
pun segera bergegas ke toilet, tapi tiba-tiba saja… Tanpa sengaja Alvin
menabrak seseorang hingga beberapa kertas yang ada ditangan Gadis itu terjatuh
ke lantai. Gadis tadi menggerutu kesal,
“ya Ampun…” Gadis itu segera duduk
lalu membereskan kertas-kertas yang berserakan itu.
“maaf” lirih Alvin penuh penyesalan.
Tapi Gadis itu hanya diam, tidak berniat sedikitpun untuk menanggapi kata maaf
yang tadi Alvin ucapkan.
“SIVIA cepetan!!… bentar lagi On
Air”
Alvin tersentak kaget ketika
mendengar nama itu disebut. Sivia? Alvin lalu melirik kearah Gadis yang tadi ia
tabrak tanpa sengaja itu.
“Iya… iya…” kata Gadis itu sambil
mengangkat wajahnya lalu bangkit.
Kedua mata Alvin membelalak lebar,
ia nyaris saja tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan ia lihat.
Sivia? Gadis itu benar-benar adalah Sivia-nya yang selama 5 tahun terakhir ini
menghilang tanpa kabar. Gadis yang selama 5 tahun terakhir ini terus bersemayam
dalam ingatan dan kenangan Alvin. Gadis yang selama ini menjadi penghuni
tunggal relungnya. Gadis yang selama 5 tahun terakhir ini sangat ia rindukan.
Dan ketika kedua manik mata mereka
saling bertubrukan satu sama lain, mereka sama-sama tersentak. Tapi tidak
seperti Alvin, Sivia lebih berusaha bersikap normal dan terlihat wajar
dihadapan Pria ini. Entahlah, Sivia seperti sudah tau bahwa hari ini ia akan
bertemu lagi dengan Alvin.
“Vi… Via??” panggil Alvin penuh
dengan rasa ketidak percayaan. Sivia tersenyum kaku lalu melambai,
“h.. hay Alvin…”
“Via aku—“
“Vee cepetan!!” panggil seseorang dari
dalam ruang siaran.
“ya udah Vin, aku pergi dulu” baru
saja Sivia berbalik dan hendak melangkah pergi, Alvin langsung mencekal
pergelangan tangan Sivia dan menahannya untuk tetap ada disampingnya. Sebisa
mungkin Alvin berusaha tetap mengontrol
diri untuk tidak membawa Gadis itu kedalam pelukannya sekalipun ia ingin. Alvin
tahu bahwa ini adalah tempat umum dan ia adalah public figure, setiap tindak
tanduknya ada yang memperhatikan. Dan ia tahu ia tidak boleh gegabah dalam
melakukan hal apapun.
“kamu kemana aja selama ini? Aku
nyariin kamu terus” kata Alvin pelan.
“sorry Vin, sekarang aku lagi sibuk.
Nanti saja kita lanjutin, dan… kamu aku tunggu diruang siaran. 3 menit lagi
acaranya dimulai” dalam satu sentakan kuat Sivia melepaskan pergelangan
tangannya dari genggaman Alvin. Alvin hanya pasrah dan membiarkan Sivia pergi
begitu saja.
“ini yang terakhir
Sivia… lain kali kamu nggak akan aku lepasin lagi…”
****
“Papi… Mami…” Cakka berlari kecil
kearah kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari Bandara.
“Cakka…” Mami langsung memeluk Cakka
ketika Cakka sudah berdiri dihadapannya. Mami memeluk Cakka seerat mungkin
seakan tidak ingin melepaskan lagi. Mami memang sangat merindukan Cakka setelah
hampir selama 3 bulan tidak pernah bertemu.
“Mami kangen sama kamu, Sayang…”
“iya Mi, Cakka juga kangen sama
Mami”
Setelah memeluk Maminya, Cakka pun
menghampiri Papi lalu memeluk beliau.
“gimana perkembangan hotelnya?”
“yang jelas sangat membanggakan, Pi”
Mereka pun mengurai pelukan mereka lalu saling tersenyum satu sama lain. Cakka
merangkul kedua orang tuanya lalu berjalan secara bersamaan keluar dari
Bandara.
“Alvin mana?” Tanya Cakka ketika
mereka sudah memasuki Mobil.
“Alvin lagi di Surabaya, dia lagi
ada undangan dari Radio, tapi nanti sore Alvin sudah berangkat ke Bali kok”
jawab Mami antusias.
“ooo…” sahut Cakka. Sesuatu
terlintas dalam benaknya secata tiba-tiba. Entah apa itu, Cakka juga tidak
mengerti.
“Oya, tunangan kamu itu cewek Bali
ya, Kka? Namanya siapa sih? Mami jadi penasaran”
“haha… sabar dong, nanti juga Mami
pasti tau, dan yang pasti Mami pasti akan sangat suka dengan Tunangan Cakka
ini…” kata Cakka dengan salah satu alis terangkat.
****
Setelah siaran usai, Sivia segera
keluar dari ruang siaran tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun pada Alvin. Ia
terlihat terburu-buru dan terkesan menghindari Alvin. Alvin yang tidak ingin
melepaskan Sivia lagi langsung mengejar Sivia dan menarik pergelangan
tangannya,
“Sivia tunggu!” Sivia menghentikan
langkahnya. Ia terdengar menghela nafas berat lalu menoleh kearah Alvin.
“aku mau ngomong sama kamu, Via”
“mau ngomong apa?”
“banyak hal yang harus kita omongin”
Sivia memejamkan kedua matanya
sejenak. Ia harus bagaimana sekarang? Sivia yang tidak tahu lagi harus berbuat
apa akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Alvin tersenyum lega ketika itu juga.
****
“Jadi disini selama ini kamu
bersembunyi?” tanya Alvin sehati-hati mungkin seakan tidak ingin sedikit saja
pertanyaannya menyinggung perasaan Sivia. Sivia tersenyum penuh arti lalu lalu menyeruput teh hijau pesanannya,
“perlu kamu tahu Alvin, aku disini
bukan sembunyi, aku—“
“kalo nggak sembunyi terus apa lagi
namanya?” kata Alvin setengah membentak. Sivia sedikit kaget dengan itu, tapi
ia berusaha untuk tetap tenang.
Untuk beberapa saat mereka sama-sama
terdiam, sama-sama tidak tahu harus berkata apa lagi. 5 tahun berpisah cukup
membuat mereka merasa asing satu sama lain.
“sekarang kamu hebat ya, Vin? Udah
jadi artis, punya banyak fans. Emm… pasti banyak kan yang naksir kamu, hahaha…”
kata Sivia yang sebenarnya ingin mencairkan suasana beku yang membungkus
kebersamaan mereka pada pagi menjelang siang itu.
“walo pun aku jadi artis, tapi itu
semua nggak ngubah apapun, hati dan cinta ku tetep terpaut pada satu orang, dan
selamanya hal itu nggak akan pernah berubah”
Sivia terdiam sejenak, lalu…
“sama Pricill kan?” Sivia tersenyum
pahit. Alvin sedikit terkejut, bagaimana bisa Sivia berfikir bahwa seseorang
yang Alvin maksud adalah Pricilla dan bukan dirinya? Apa Sivia tidak pernah
benar-benar tahu bahwa cerita antara Alvin dan Pricilla sudah berakhir sejak
lama, bahkan semenjak Sivia memutuskan untuk pergi meninggalkan Alvin?
“aku sama Pricill udah lama—“
“Mamaa….” Panggil seorang Gadis
cilik yang tiba-tiba saja berlari kearah meja Alvin dan Sivia.
“hay Sayang…” jawab Sivia antusias
lalu menunduk untuk memeluk Gadis Cilik yang tadi memanggilnya dengan panggilan
Mama itu.
Saat itu juga Alvin merasa tertampar
oleh kenyataan ini. Gadis cilik itu memanggil Sivia dengan sebutan Mama? Apa
Alvin tidak salah dengar? Atau apa Gadis cilik itu memang benar-benar anak
kandung Sivia? Darah daging Sivia dengan Pria lain? Lalu apa arti penantian
Alvin selama 5 tahun terakhir ini?
“Mama kok lama sih, Ma? Aku sama
Papa udah nungguin Mama dari tadi disana” ujar Gadis Cilik itu dengan nada
merajuk. Jari telunjuknya yang mungil menujuk kearah jendela kaca. Dibalik
jendela itu ada seorang Pria berkaca mata yang tengah tersenyum dan melambai.
Sivia tersenyum kecil.
“ooo… ya udah kalo gitu, kita pulang
yuk!”
“ayo.. ayo… tapi Ma, Om ini siapa?”
tanya Gadis Cilik itu sambil melirik sedikit heran kearah Alvin,
“ooo… ini namanya Om Alvin, Bintang…
Om Alvin ini sahabat lama Mama… ayo kenalan dulu”
Gadis cilik bernama Bintang itu
berjalan perlahan mendekati Alvin dengan sorot mata jenaka nan manjanya. Ia pun
mengulurkan tangan mungilnya lalu berkata,
“hay Om Alvin, kenalin nama aku
Bintang…” ragu-ragu Alvin menyambut uluran tangan Gadis mungil itu,
“Om Alvin… mata kamu indah sayang,
persis kayak Mama kamu” ujar Alvin sambil melirik tajam kearah Sivia. Tatapan
mata Alvin menunjukan bagaimana terlukanya ia saat ini. Kedua matanya pun mulai
memerah dan seakan ingin menghamburkan air mata. Dan Sivia bisa melihat semua
itu dengan jelas.
Setelah melepaskan uluran tangannya
dari Alvin. Bintang kembali mendekat kearah Sivia dan meminta Sivia untuk
cepat-cepat membawanya keluar dari café itu.
“Mama ayo kita pulang. Papa udah
nungguin….”
“iya sayang iya, kita pulang” kali
ini Sivia melempar tatapannya kearah Alvin, ia tersenyum pahit lalu pamit,
“Alvin aku pulang dulu ya? Semoga
lain kali kita bisa ketemu lagi” Alvin mengangguk mantap lantas berkata,
“dan aku harap kamu bisa ngejelasin
apa maksud dibalik semua ini”
“terkadang ada hal-hal yang susah
untuk dijelaskan Alvin, tapi nanti kamu akan mengerti. Sampai ketemu lagi….
Nanti” Sivia lalu membawa Gadis Cilik itu keluar bersamanya.
Alvin menatap punggung Sivia yang
kelamaan mulai menghilang dari pandangannya seiring dengan mengaburnya
pengelihatan Alvin karena air mata yang tertahan dipelupuk matanya. Hati Alvin
terasa begitu pedih ketika mendapati sebuah kenyataan yang benar-benar telah
melemparkannya pada jurang keputusasaan.
Air mata kepedihan itu akhirnya
menetes juga tanpa bisa ia tahan lagi. Ini kah yang namanya karma?
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment