“Apapun
dan bagaimanapun keadaannya sekarang… Cinta ku padamu akan selalu ada. Karena
aku tahu… bahwa cinta pertama tidak akan pernah mati…”
“Heh bangun lo!!” kata Cakka tidak ada manis-manisnya sambil
menampar-nampar pelan wajah Alvin. Alvin melenguh pelan lalu menyingirkan
tangan Cakka dari wajahnya.
“ergh… apaan sih lo, Kak? Gue masih
ngantuk juga..” Alvin menarik selimutnya lalu menutupi seluruh bagian tubuhnya
tanpa sisa. Cakka menggeleng beberapa kali, lalu berdecak pelan.
“heh, lo lupa kalo malem ini gue mau
ngenalin lo sama tunangan gue”
“gue inget, Kak, gue inget… tapi gue
masih butuh istirahat, bentar aja Kak. Nanti gue susul deh…”
“nggak ada susul-susulan, gue mau lo
bangun sekarang juga. Karena apa? Karena sebentar lagi dia bakalan dateng”
“gue masih capek Kak, lo tau kan
kalo gue baruuuu aja nyampe” keluh Alvin dengan wajah yang benar-benar memohon.
“gue nggak mau tau” kata Cakka tak
mau ambil pusing lalu beranjak dari kamar Alvin.
Mau tidak mau Alvin akhirnya bangkit
juga dari tidurnya. Kadang-kadang Cakka memang sangat menyebalkan, tapi Alvin
begitu menghormatinya. Alvin juga selalu mengikuti perkataan Cakka meskipun hal
itu sangat bertentangan dengan kata hatinya.
Ketika Alvin akan beranjak ke kamar
mandi, tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada miniatur helikopter yang dulu
pernah ia berikan pada Sivia. Miniatur helikopter itu akhirnya menyeret ingatan
Alvin pada kejadian pagi tadi. Gadis cilik bersama Pria berkaca mata itu,
mereka adalah anak dan suami Sivia. Alvin tersenyum miris. Mendadak ia merasa
hatinya begitu pedih. Hukuman dari Tuhan ini benar-benar terlampau berat untuk
bisa ia hadapi.
****
Ketika waktu sudah menujukan tepat
pukul 8 malam, Alvin sudah siap-siap menunggu tunangan Cakka direstoran yang
terdapat dilantai utama Sindhunata Hotel. Alvin mengenakan baju kaos hitam
berkerah V yang ia padukan dengan jas berwarna biru gelap. Alvin juga
mengenakan celana kain hitam serta sepatu kets yang terlihat santai. Malam ini,
Alvin benar-benar terlihat mempesona. Dan ketika ia baru saja menjejakan
kakinya di Restoran, semua pasang mata langsung mengarah padanya dengan tatapan
kagum dan memuji.
3 menit setelah kedatangan Alvin,
kedua orang tua nya pun tiba direstoran itu. Mereka berdua segera menghampiri
Alvin.
“ganteng banget sih anak Mami malem
ini” kata Bu Uchie yang secara tiba-tiba muncul dibelakang Alvin. Alvin yang
sejak tadi memainkan sendok beserta garpu yang ada dihadapannya langsung
terkesiap dan menoleh kebelakang,
“tiap hari juga Alvin selalu keren
dan ganteng, Mi.. haha..”
“mulai narsis deh anak Mami ini…”
Pak Duta dan Bu Uchie pun duduk
disebelah Alvin. Sekarang mereka tinggal
menunggu kedatangan Cakka dengan tunangannya.
“Kak Cakka mana sih? Tadi aja dia
nyuruh aku cepet-cepet, sekarang giliran aku yang cepet, malah dia yang ngaret,
hhh…” Alvin menghela nafas panjang. Saat itu juga Pak Duta dan Bu Uchie hanya
bisa tersenyum.
Tidak berselang lama setelah Alvin
berkata seperti itu, Cakkapun datang dengan seorang Gadis manis bergaun hitam
selutut. Sepanjang perjalanan Cakka terlihat mengumbar senyum kebahagiaan,
sementara ekspresi Gadis manis yang berjalan disampingnya sangat berbanding
terbalik dengan ekspresi kebahagiaan yang ditunjukan oleh Cakka. Gadis manis
yang diduga Alvin adalah tunangan Cakka itu, terlihat sangat risih dengan gaun
hitam selututnya juga dengan wedges yang ia gunakan. Dari gestur tubuhnya saja,
Alvin bisa menebak bahwa Tunangan Cakka itu tomboy. Alvin terkekeh pelan.
Ternyata selera Kakaknya itu boleh juga ya.
Cakka beserta Gadis manis itu
semakin mendekati meja yang ditempati oleh Alvin dan kedua orang tuanya. Ketika
kedua mata Gadis manis itu mengarah pada kedua orang tua Cakka, ia langsung
mengeluarkan sebuah senyuman kecil yang terlihat dipaksakan.
“selamat malam Mami… Papi…” sapa
Cakka dengan senyuman kebahagiaan yang tidak kunjung menghilang dari wajah
tampannya. Alvin melirik Cakka sambil tersenyum lebar,
“ini dia Kak…?” Alvin melirik
sebentar kearah Gadis itu. Gadis itu pun tersenyum sungkan pada Alvin.
“maksud lo?” tanya Cakka tidak
paham. Ia menatap Alvin dengan kedua alis bertaut.
“ini dia ya tunangan kamu? Namanya
siapa, Kka?” pertanyaan dari Mami itu akhirnya mewakailkan pertanyaan dari
Alvin. Alvin hanya terdiam sambil tersenyum dan menunggu jawaban apa yang akan
Cakka lontarkan.
“Hah?” Cakka terlihat kaget ketika
mendengar pertanyaan yang dilemparkan oleh Maminya itu. Tidak hanya Cakka yang
nampak kaget, tapi Gadis manis yang ada disampingnya itu sepertinya juga kaget.
“tunangan kamu cantik juga, Kka…” kali
ini giliran Papi yang mengeluarkan komentar.
“bukan Pap… dia ini bukan tunangan
Cakka. Enak aja, masa iya Cakka mau tunangan sama Makhluk setengah jadi kayak
Agni ini” ledek Cakka habis-habisan yang sukses membuat wajah Agni terlihat
merah padam. Dasar Pria tidak tau terimakasih, enak saja dia menjelek-jelekan
Agni didepan kedua orang tuanya. Agni menghela nafas kesal beberapa kali, lalu
tanpa perhitungan sama sekali, Agni langsung menginjak kaki Cakka sekuat ia
mampu.
“AWWWW….” Ringis Cakka lumayan kencang.
“mampus lo! Makanya jangan asal
cablak aja. Untung tuh kaki baru gue injek, coba kalo gue potong” kata
Agni tidak sabar.
“sakit begok” protes Cakka. Tapi
percuma saja, karena Agni tidak sedikitpun menghiraukan protes dari Cakka itu.
Alvin beserta kedua orang tuanya
hanya bisa melongo melihat pertengkaran yang terjadi antara Cakka dan Agni.
Dalam benak, mereka sama-sama bertanya, sebenarnya mereka ini tunangan atau
tidak sih?
“Mami, Papi, Alvin… kalian semua
salah paham, Agni ini bukan tunangan Cakka, tapi Agni ini adalah Sahabat deket
Cakka selama Cakka di Bali, bahkan dulu Agni ini lah yang nyomblangin Cakka
dengan tunangan Cakka itu” jelas Cakka pada akhirnya. Ketiga orang yang tadi
mendengar penjelasan Cakka hanya bisa mengangguk paham. Mungkin kali ini mereka
sudah mengerti.
“ayo kenalan” kata Cakka galak
sambil menyenggol lengan Agni.
“iyaaaa….” Jawab Agni sebal. Agni
berdehem lalu berusaha memasang senyum yang terlihat ikhlas.
“hay Om, Tante… kenalin aku Agni,
aku sahabat baiknya Cakka selama Cakka ada di Bali…” kata Agni sambil menyalami
kedua orang tua Cakka secara bergantian.
Ketika kedua mata Agni mengarah pada
wajah Alvin, Agni mendadak kaget. Ia merasa begitu familiar dengan wajah Alvin
ini. Tidak lama kemudian…
“ALV?? ALVIN JONATHAN?? YA
AMPUUUNNNNN LO ALVIN…..??” Agni berteriak heboh. Bahkan Agni sama sekali tidak
peduli ketika semua orang memperhatikannya. Alvin hanya mengangguk sambil
tersenyum kaku,
“lo bener-bener adeknya Si Cakka
ini… ya ampun, lo tau nggak? Gue fikir selama ini Cakka Cuma ngaku-ngaku aja
sebagai Kakak lo, tapi ternyataa…. HWAAAA…. ALV… GUE FANS BERAT LO TAUUUUUU???”
Agni semakin heboh dan semakin terlihat gila.
Tingkah memalukan Agni itu sukses
membuat sakit kepala Cakka kambuh. Ia memegangi keningnya yang terasa
berdenyut. Jika bisa ia ingin melempar Agni keluar dari Hotelnya ini. SEKARANG
JUGA!
“jadi tunangan lo mana, Kak?” kata
Alvin cepat-cepat yang tidak ingin meladeni kegilaan Agni itu. Kali ini Cakka
tersenyum lalu menatap Alvin penuh arti,
“sebentar lagi dia akan datang”
“nggak perlu nunggu sebentar lagi,
Alv. Tuh dia udah dateng, hehe…” kata Agni seraya menunjuk kearah pintu masuk.
Semua perhatian merekapun tertuju
kearah pintu masuk. Alvin beserta kedua orang tuanya langsung terkejut bukan
main ketika mereka melihat siapa tunangan Cakka yang sebenarnya. Kedua mata
mereka sama-sama membelalak lebar, mereka juga sama-sama tidak percaya dengan
apa yang saat ini mereka lihat, lebih-lebih Alvin. Ia merasa detik ini juga bumi
seakan berhenti berputar, ketika kedua indera pelihatnya menangkap satu sosok
yang begitu ia kenal, satu sosok yang selama beberapa tahun terakhir ini sangat
ia rindukan. Dia adalah Sivia.
Deg… jantung Alvin berdetak 2 kali
lebih kencang dari biasanya. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bukannya tadi
pagi Alvin melihat Sivia di Surabaya? Bukan hanya melihat Sivia, tapi Alvin
juga melihat seorang Gadis cilik yang memanggil Sivia dengan sebutan Mama?
Kenapa semuanya begitu membingungkan? Apa maksud Sivia dibalik semua ini?
Saat ini Alvin sudah benar-benar
tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Baginya dunia seakan menghilang. Tidak ada
hal yang lain yang ia rasakan saat ini selain kebingungan yang melanda
benaknya. Sekali lagi, Alvin menghela nafas kesakitannya. Mendadak ingatan
Alvin terseret pada ucapan Sivia tadi pagi, tepat sebelum mereka berpisah.
“terkadang ada hal-hal
yang susah untuk dijelaskan Alvin, tapi nanti kamu akan mengerti. Sampai ketemu
lagi…. Nanti”
Alvin mendesah pelan, nyaris tidak
kentara. Sekarang Ia baru mengerti apa
maksud dari ucapan Sivia itu. Ternyata inilah jawaban dari teka-teki yang tadi
Sivia berikan.
Detakan jantung Alvin semakin cepat
dan kencang manakala langkah kaki Sivia semakin mendekat kearahnya. Sementara
itu kedua orang tuanya, menatap Alvin dengan pandangan cemas. Selama 5 tahun
terakhir ini, mereka tahu bagaimana Alvin mencoba setia demi menunggu Sivia,
mereka juga tahu bagaimana kerasnya usaha Alvin yang tidak kenal lelah demi
mencari Sivia. Tapi sekarang, setelah penantiannya menemui ujung, semuanya
malah tidak sesuai seperti apa yang Alvin inginkan juga impikan selama ini.
Mereka tau Alvin kecewa, akan tetapi… ah… biarkan waktu yang menjawab.
Alvin seakan tidak sanggup menghirup
udara yang ada disekitarnya ketika Sivia sudah berdiri dihadapannya, atau lebih
tepatnya disamping Cakka. Cakka tersenyum, tangan kanannya terulur lalu menarik
pundak Sivia dengan lembut.
“aku tau kamu pasti datang…” kata
Cakka pelan lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra tepat dikening Sivia. Cakka
melakukannya agak lama.
Alvin memejamkan matanya sejenak,
berusaha untuk pura-pura tidak melihat adegan yang begitu menyesakkan dada itu.
Alvin mungkin bisa menutup mata, tapi ia sama sekali tidak bisa menutup
hatinya. Matanya sudah terlanjur menangkap dan hatinya sudah terlanjur
menerima. Ini lah sakit yang sebenar-benarnya sakit. Inilah pedih yang
sebenar-benarnya pedih.
“ini dia kejutan yang aku maksud”
kata Cakka santai dan seakan tanpa beban. Semua tahu, bahwa Cakka tahu, semua
tahu bahwa Cakka hanya berpura-pura tidak peduli saja dengan keadaan. Ya… semua
tahu itu…
“hay… Om… Tante… kalian apa kabar?”
Tanya Sivia ragu-ragu. Sesekali matanya melirik kearah Alvin yang ketika itu
juga ternyata sedang menatapnya dengan kedua mata memerah dan terlihat berkaca.
“baik Sivia, kamu sendiri apa kabar?
Udah lama kita nggak pernah ketemu” kata Bu Uchie datar. Saat ini beliau merasa
takut, beliau takut sedikit saja ucapannya akan melukai perasaan Alvin. Dan
beliau tidak ingin melakukan itu.
“baik tante…” Sivia melangkah lebih
dekat lagi lalu menyelami tangan Bu Uchie. Tidak lupa juga Sivia mendaratkan
sebuah kecupan pada pipi Bu Uchie.
“Sivia rindu sama Tante… sangat
rindu” kata Sivia dengan nada bergetar. Sivia memang mengucapkan kalimat itu
untuk Bu Uchie, tapi entah kenapa tatapan matanya malah mengarah pada Alvin
yang ketika itu masih betah menatapnya.
Setelah menyalami Bu Uchie, Sivia
pun beralih menyalami Pak Duta. Ketika Sivia menjabat tangannya, Pak Duta sama
sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya mengangguk pelan
sambil membelai lembut rambut sebahu milik Sivia.
Sivia mengulurkan tangannya tepat
dihadapan Alvin, ia berusaha tersenyum lantas berkata,
“hay Alvin… selamat berjumpa lagi…”
Alvin mengangkat wajahnya dan
menatap kedua bola mata Sivia sedalam mungkin. Air mata itu nyaris terjatuh
dari pelupuk mata mereka masing-masing. Tapi sebisa mungkin mereka berusaha
untuk menahan. Biar bagaimanapun mereka harus tetap terlihat kuat, betapapun
hati mereka sama-sama tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk bertahan.
Alvin tersenyum miris. Tanpa
memiliki niat sedikitpun untuk membalas uluran tangan Sivia, Alvin bangkit dari
kursinya lantas berbisik pelan,
“pembalasan yang kamu kasih ini
sudah lebih dari setimpal” Alvin lalu melangkah pergi tanpa sedikitpun menoleh
kebelakang.
“ALVIN…” Cakka berusaha memanggil
Alvin. Dan tepat ketika Cakka akan mengejar langkah Alvin, Sivia buru-buru
menahan lengannya.
“Kak Cakka, biar aku yang ngejer
Alvin. Aku juga perlu bicara sama Alvin, boleh?” kata Sivia dengan nada
memohon. Seakan takluk oleh Gadis yang ada dihadapannya ini, Cakka hanya
mengangguk. Sivia tersenyum puas lalu berlari untuk mengejar langkah Alvin.
Cakka tersenyum kecil. Dalam hati ia
bergumam,
“kita lihat saja, sampai
dimana kalian akan mampu bertahan dengan kemunafikan juga senyum palsu kalian
itu….”
****
Sivia menghentikan larinya ketika ia
melihat Alvin yang saat itu tengah berdiri ditepi kolam renang sambil melipat
kedua tangannya didepan dada. Sivia dapat melihat dengan sangat jelas kedua
pundak Alvin naik turun. Dan dari sana Sivia tahu bahwa Alvin tengah menangis.
Sivia menghela nafas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian juga
keyakinannya untuk menghampiri Pria itu dan mengajaknya berbicara dari hati ke
hati. Biar bagaimanapun keadaannya sekarang, Sivia harus bisa menjelaskan
semuanya pada Alvin.
Ragu-ragu Sivia melangkah mendekati
Alvin. Dan ketika jaraknya dengan Alvin hanya berjarak beberapa centi saja,
Sivia menghentikan langkahnya. Tangan Sivia yang bergetar hebat perlahan
terangkat. Sebelum tangan lembut itu terjatuh diatas pundak Alvin, Sivia sempat
menghela nafas panjangnya.
“Alvin….” Tangan itu akhirnya
benar-benar terjatuh tepat diatas pundak Alvin.
“kamu bahagia dengan pertunangan
ini?” Tanya Alvin tanpa berbalik dan menatap wajah Sivia yang sudah berdiri
dibelakangnya. Sivia terdiam, ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan
Alvin itu.
Tanpa Sivia perhitungkan sebelumnya,
Alvin berbalik lalu menatap kedua mata Sivia dengan lembut. Alvin tersenyum
kecil meski hatinya tidak demikian.
“aku mau jelasin semuanya sama kamu,
aku—“
“tentu saja kamu sangat bahagia
kan?” sela Alvin sebelum Sivia menyelesaikan perkataannya. Kali ini Sivia
terdiam, bingung bagaimana harus berucap.
“anak kecil sama Pria berkaca mata
di café tadi, mereka aku fikir adalah anak sama suami kamu, tapi ternyata
bukan, haha lucu ya?”
“mereka… mereka sepupu sama
keponakan aku…”
“iya, dan aku salah paham”
“wajar kalo kamu salah paham, tadi
aku juga belom sempet ngejelasin apa-apa ke kamu”
Alvin menunduk dalam seraya
tersenyum. Ia merasa tidak sanggup jika harus menatap kedua mata itu lebih lama
lagi. Alvin rasa semua yang terjadi ini adalah hukuman baginya, hukuman karena
dulu ia sempat menyia-nyiakan cinta tulus yang pernah Sivia berikan untuknya.
Penyesalan itu selalu ada, dan hasrat ingin merebut kembali Sivia dari tangan
Cakka juga selalu ada, hanya saja Alvin merasa tidak pantas jika harus
melakukan hal itu.
Dan Alvin sadar, bahwa Cakka lebih
pantas mendapatkan cinta Sivia dari pada dirinya, karena Cakka jauh lebih
menghargai Sivia diatas segala-galanya. Melihat Sivia bisa tersenyum bahagia
meskipun bukan karenanya, sudah cukup membuat Alvin merasa lega dan merasa
tenang. Setidaknya Gadis itu bisa bahagia dan tidak menderita lagi seperti 5
tahun yang lalu. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk Alvin.
“sebelum aku ke Bali, Kak Cakka
pernah bilang kalo dia bakalan ngasih kejutan. Tapi sebelumnya aku nggak pernah
nyangka kalo kejutan yang Kak Cakka maksud itu adalah kamu, Vi… dan aku, aku
benar-benar terkejut, aku—“
“Alvin aku minta maaf” kata Sivia
tiba-tiba. Ia meraih kedua tangan Alvin begitu saja lalu meletakkannya tepat
didepan keningnya. “aku bener-bener minta maaf” lanjut Sivia dengan suara
terisak.
Pada akhirnya Alvin mengangkat
wajahnya. Air mata yang sejak tadi berusaha ia bendung akhirnya mengalir juga
dengan deras.
“maaf? Buat apa? Kamu minta maaf
kayak gini bikin aku semakin ngerasa bersalah sama kamu, Via. Ini semua aku
yang salah, bukan kamu. Kamu inget? 8 tahun yang lalu kamu pernah bilang,
bukankah hati setiap orang berhak untuk mendapatkan bahagia termasuk itu
hatimu, dan ini dia kebahagiaan itu, Sivia. Kamu berhak mendapatkan semua ini,
kita semua tahu, bahwa dari dulu hingga sekarang Kak Cakka selalu mencintai
kamu, Kak Cakka juga selalu berusaha setia meskipun dia sendiri tahu kalo
kita—“
“saling mencintai” sela Sivia dengan
cepat. Alvin terdiam. Perkataan Sivia barusan benar-benar membungkamnya.
Beberapa saat setelah Sivia
mengucapkan satu kalimat itu, tiba-tiba saja Sivia tertawa pelan,
“haha… saling mencintai? Aku salah
ya, Vin?”
“salah?” Alvin mulai tak paham,
“iya, aku salah. Kamu nggak pernah
mencintai aku kan? Sejak awal yang kamu cintai itu Cuma Pricill, semua tahu
itu”
Detik ini juga Alvin seolah ingin
berteriak dihadapan Sivia, bahwa wanita satu-satunya yang Alvin cintai hanyalah
Sivia, bukan Pricill, bukan juga yang lainnya. Tapi Alvin sadar, apapun yang ia
lakukan saat ini demi untuk mempertahankan Sivia hasil akhirnya tetap percuma.
Semuanya sudah terlambat, dan itu semua karna kesalahan terbesar yang pernah
Alvin perbuat dimasa lalu.
“kamu sendiri gimana sama Pricill?
Masih baik-baik aja kan?”
Telak. Pertanyaan dari Sivia itu
benar-benar telak dan membuat Alvin kelabakan sendiri mencari jawaban yang pas.
Bagaimana caranya supaya Alvin bisa menjelaskan bahwa yang sebenarnya terjadi
adalah, kisah antara dirinya dengan Pricilla sudah lama berakhir? Bagaimana
caranya membuat Sivia mengerti dan sadar, bahwa Wanita satu-satunya yang Alvin
cintai hanyalah Sivia. Kenapa rasanya untuk menjelaskan hal itu saja terasa
begitu sulit?
“iya… aku sama Pricilla masih
baik-baik aja” ucap Alvin pada akhirnya. Hati kecilnya tahu bahwa saat itu ia
tengah berdusta. Pedih, rasanya begitu pedih.
“sudah aku duga, kalian emang
pasangan yang serasi. Terus, kapan kalian bakalan nyusul aku dan Kak Cakka?”
Tanpa Alvin tahu, jawaban yang ia
lemparkan itu ternyata telah membuka luka lama Sivia yang sebenarnya hingga
saat ini belum juga menemui obatnya. Sakit itu… Iya, Sivia merasakan sakit yang
sama seperti 5 tahun lalu. Rasanya sama persis.
“secepetnya” jawab Alvin seadanya.
Sivia tersenyum miris dan berusaha menahan rasa sakit yang semakin menjadi itu.
Selama ini dia fikir dia sudah bisa melupakan Alvin, tapi ternyata….??
“Tuhan… kenapa aku
selalu tidak pernah bisa seberuntung Pricilla?”
****
“gimana pertemuan kamu sama Alvin
semalem? udah kamu jelasin semuanya?” tanya Cakka ketika ia baru saja tiba
diruang makan. Sivia yang saat itu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk
Cakka hanya bisa mengangguk. Sivia mengoleskan selai cokelat kesukaan Cakka
pada roti yang ada ditangannya, tidak lama Sivia pun menghidangkan roti itu
dihadapan Cakka.
“udah” jawab Sivia seadanya lalu
menyesap teh hangat yang ada dihadapannya.
“terus Alvin bilang apa?” kata Cakka
sebelum ia menggigit rotinya,
“nggak bilang apa-apa, dia Cuma
bilang—“ Sivia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya “dia ikut
bahagia sama pertunangan kita”
“dan kamu percaya begitu saja?”
Hening. Sivia langsung menghentikan
aktifitas menyesap tehnya. Ia menatap hampa kedepan tanpa mampu mengucapkan
sepatah kalimatpun. Sebelumnya ia tidak pernah menduga bahwa Cakka akan
menanyakan hal itu padanya.
“Sivia” panggil Cakka pelan berusaha
membuyarkan lamunan panjang Sivia. Sivia terkesiap lalu menatap Cakka dengan
tatapan yang susah diartikan.
“dia mau bahagia atau tidak, itu bukan
urusan ku kan, Kak?”
Dari gelagat Sivia, Cakka bisa
menangkap ada sesuatu yang janggal dengan tunangannya ini. Cakka mengangguk
perlahan, dalam sekali tatap saja, Cakka tau apa yang saat ini sedang mengusik
pikiran Sivia. Apalagi yang mampu mengusik pikiran Sivia selain kehadiran Alvin
kembali ditengah-tengah mereka? Cakka tersenyum kecil. Sebelumnya ia telah
memperhitungkan semua ini. Cakka tahu, jika ia mempertemukan Sivia dengan Alvin
kembali, kejadiannya pasti akan seperti ini. Tapi, Cakka sudah mempersiapkan
diri untuk hal itu. Apapun resikonya, Cakka akan menerima, tapi tidak untuk
resiko melepaskan Sivia kembali kepada Alvin. Sampai mati pun Cakka tidak akan
pernah melakukan hal itu.
“apa kamu mau kembali lagi sama
Alvin?”
“kenapa Kak Cakka harus nanya hal
itu ke aku?”
“Maaf Via, tapi aku hanya berusaha
untuk peka dengan keadaan”
“kalo aku mau kembali lagi sama
Alvin, apa Kak Cakka mau ngelepasin aku?”
Cakka terdiam sejenak lalu
menggeleng perlahan,
“tidak akan” ujar Cakka mantap.
Sivia memejamkan matanya untuk
beberapa saat. Mendadak ia merasa menyesal karena telah melemparkan pertanyaan
yang terakhir itu pada Cakka. Tidak seharusnya Sivia berkata seperti itu.
Bukankah selama ini Cakka sudah berkorban banyak hal untuk Sivia? Lalu apa
Sivia tega membalas semua pengorbanan Cakka itu dengan keegoisannya? Mungkin
sekarang Sivia belum bisa mencintai Cakka sepenuhnya, tapi suatu saat nanti,
Sivia pasti bisa mencintai Cakka sebagaimana Cakka mencintainya.
Sivia menghela nafas beratnya.
Beberapa detik kemudian Sivia bangkit dari kursinya lalu berdiri tepat
disamping Cakka. Sivia menatap kedua mata Cakka sedalam mungkin, tidak lama
Sivia meraih kedua tangan Cakka lalu menuntunnya untuk berdiri. Sivia membelai
lembut wajah Cakka seraya tersenyum,
“kita udah saling memilih, Kak. Dan
apapun nggak akan pernah bisa ngubah pilihan aku termasuk itu Alvin, aku sayang
sama Kak Cakka…”
“kamu udah terlalu sering bilang
sayang, Via. Tapi sekalipun kamu nggak pernah bilang kalau kamu mencintai aku
dan benar-benar menginginkan aku, nggak pernah sekalipun”
Sivia tersenyum penuh arti. Ia
membenahi aturan dasi Cakka yang sedikit berantakkan. Setelah merasa bahwa dasi
Cakka sudah terlihat rapi, Sivia lalu membawa dirinya kedalam pelukan Cakka,
“kasi aku sedikit waktu lagi ya,
Kak. Sedikiiittt lagi…” pinta Sivia dengan nada memohon. Cakka mengangguk
beberapa kali, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut pada puncak kepala Sivia,
“aku akan tetap menunggu”
“makasih, Kak…” Sivia semakin mempererat
pelukannya pada tubuh Cakka, begitu juga dengan Cakka.
Setelah selama 1 menit larut dalam
keheningan, Cakka dan Sivia akhirnya mengurai pelukan mereka,
“sekarang Kak Cakka turun gih, udah
waktunya kerja ini” kata Sivia seraya menunjukan jam tangannya dihadapan Cakka,
“Oke. Oya, kamu kapan balik ke
Surabaya?”
“setelah peresmian pertunangan kita
deh… oya Kakak dapet salam dari Bintang, katanya dia kangen sama Om Ganteng
nya, hahaha”
“oya? Kalo gitu nanti kapan-kapan
kita ke Surabaya bareng ya? Aku mau ketemu sama Bintang, aku udah kangen banget
sama pipi chubby nya itu”
“iya iya iya, tapi sekarang Kakak
berangkat kerja dulu deh, udah siang ini”
“oke” Cakka mencium kening Sivia dan
berlalu dari hadapan Sivia. Sivia melambaikan tangannya kearah Cakka seraya
tersenyum.
“maafin aku Kak Cakka…
maaf karna aku udah berdosa banget sama Kak Cakka….”
****
Hari ini Sivia ada veeting Busana
untuk Gaun yang akan ia kenakan nanti saat pesta peresmian pertunangannya
dengan Cakka. Seharusnya hari ini Sivia pergi bersama Cakka, tapi karena Cakka
harus mengurus beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia tinggali, akhirnya dengan
terpaksa Sivia harus pergi sendiri tanpa Cakka.
Sivia memasuki mobil yang sudah
dipersiapkan oleh Cakka dipelataran parkir Sindhunata Hotel. Seorang supir
Pribadi sudah menunggu Sivia didalam mobil sejak beberapa menit yang lalu.
Tapi baru saja Sivia menjatuhkan
tubuhnya dijok belakang, tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh kehadiran Alvin yang
secara tiba-tiba didalam mobil. Dengan santai Alvin duduk dibelakang setir
seraya melirik nakal kearah Sivia melalui kaca spion. Kedua mata Sivia
membelalak lebar. Bagaimana bisa Alvin ada disana? Seharusnya kan yang
mengantarkan Sivia itu supir pribadinya Cakka? Lalu bagaimana ceritanya Alvin
bisa didalam mobil itu?
“ALVIN?”
“Kok kaget?” tanya Alvin dengan
santainya.
“jelas kagetlah, kamu kok tiba-tiba
ada disitu? Gimana ceritanya?”
“tadi aku nawarin diri sama Kak
Cakka buat nganterin kamu veeting baju. Awalnya Kak Cakka nolak, tapi setelah
aku paksa akhirnya Kak Cakka mau juga”
“jadi kamu yang bakalan nganterin
aku?”
“yaps!” Alvin mengangguk mantap
seraya tersenyum lebar.
“pindah dong kedepan! Emangnya aku
supir kamu apa?”
Sivia hanya mengangguk. Lalu tanpa
berkata apa-apa lagi Sivia langsung pindah ke jok depan. Tepatnya disamping
Alvin. Sebenarnya Sivia agak heran dengan sikap Alvin pagi ini. Sikap Alvin
pagi ini sangat berbanding terbalik dengan sikapnya semalam.
“Via…” panggil Alvin dengan lembut
ketika Sivia sudah duduk disampingnya,
“iya” jawab Sivia sambil focus dengan
layar ponselnya. Sebenarnya berada dekat dengan Alvin seperti ini membuat Sivia
merasa grogi. Tapi Sivia berusaha tetap terlihat santai supaya Alvin tidak
curiga.
“aku—“ Sivia mengangkat wajahnya
lalu melihat kearah Alvin.
Tanpa Sivia duga-duga sebelumnya,
perlahan Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang kaget
langsung saja sedikit menjauhkan posisinya dari posisi Alvin sekarang,
“ka… kamu mau apa?” Sivia mulai
gugup. Seakan tidak mau menggubris pertanyaan Sivia itu, Alvin semakin
mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Melihat wajah Alvin yang semakin
mendekati wajahnya, Sivia akhirnya memilih pasrah. Ia memejamkan kedua matanya
dan menanti dengan hati berdebar apa yang akan Alvin lakukan.
Ketika jarak wajahnya dengan wajah
Sivia hanya berjarak beberapa centi saja, Alvin langsung menghentikan
pergerakan wajahnya. Ia memiringkan sedikit posisi wajahnya lalu menutup kedua
matanya seperti apa yang Sivia lakukan. Detik itu Alvin merasakan bahwa Sivia
tengah berusaha menahan nafas. Alvin juga dapat merasakan bagaimana kencangnya
debaran jantung Sivia ketika itu. Alvin tersenyum kecil lalu berbisik pelan
tepat didepan wajah Sivia,
“aku rindu kamu… sangat rindu kamu…”
Alvin mengecup pelan bibir mungil Sivia. Sivia terlonjak kaget. Ia merasakan
seluruh aliran darahnya berdesir. Jantungnya yang sejak beberapa detik lalu
berdebar kencang seakan menggedor dada Sivia lebih kuat lagi.
Salah satu tangan Alvin bergerak
perlahan lalu meraih sabuk pengaman yang ada dibelakang Sivia. Alvin sedikit
menjauhkan wajahnya dari wajah Sivia lalu menyampirkan sabuk pengaman itu
ditubuh Sivia. Saat itu juga Sivia langsung tersadar, ia membuka kedua matanya
yang tertutup,
“sorry….” Alvin menjauhkan dirinya
dari posisi Sivia lalu menjalankan mobilnya. Sivia membuang tatapannya kearah
lain. Kejadian tadi benar-benar membuatnya merasa malu pada Alvin.
Tanpa Sivia tahu, Alvin tersenyum
kecil ketika itu juga. Dalam hati Alvin bergumam,
“ternyata kamu masih
mencintaiku, Sivia… aku tahu, cinta pertama tidak akan pernah mati…. Terimakasih,
aku akan berusaha lebih keras lagi demi kamu… demi cinta kita….”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment