Tuesday, September 3, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 19 –First Love Will Never Die-





“Apapun dan bagaimanapun keadaannya sekarang… Cinta ku padamu akan selalu ada. Karena aku tahu… bahwa cinta pertama tidak akan pernah mati…”


                “Heh bangun lo!!”  kata Cakka tidak ada manis-manisnya sambil menampar-nampar pelan wajah Alvin. Alvin melenguh pelan lalu menyingirkan tangan Cakka dari wajahnya.
            “ergh… apaan sih lo, Kak? Gue masih ngantuk juga..” Alvin menarik selimutnya lalu menutupi seluruh bagian tubuhnya tanpa sisa. Cakka menggeleng beberapa kali, lalu berdecak pelan.
            “heh, lo lupa kalo malem ini gue mau ngenalin lo sama tunangan gue”
            “gue inget, Kak, gue inget… tapi gue masih butuh istirahat, bentar aja Kak. Nanti gue susul deh…”
            “nggak ada susul-susulan, gue mau lo bangun sekarang juga. Karena apa? Karena sebentar lagi dia bakalan dateng”
            “gue masih capek Kak, lo tau kan kalo gue baruuuu aja nyampe” keluh Alvin dengan wajah yang benar-benar memohon.
            “gue nggak mau tau” kata Cakka tak mau ambil pusing lalu beranjak dari kamar Alvin.
            Mau tidak mau Alvin akhirnya bangkit juga dari tidurnya. Kadang-kadang Cakka memang sangat menyebalkan, tapi Alvin begitu menghormatinya. Alvin juga selalu mengikuti perkataan Cakka meskipun hal itu sangat bertentangan dengan kata hatinya.
            Ketika Alvin akan beranjak ke kamar mandi, tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada miniatur helikopter yang dulu pernah ia berikan pada Sivia. Miniatur helikopter itu akhirnya menyeret ingatan Alvin pada kejadian pagi tadi. Gadis cilik bersama Pria berkaca mata itu, mereka adalah anak dan suami Sivia. Alvin tersenyum miris. Mendadak ia merasa hatinya begitu pedih. Hukuman dari Tuhan ini benar-benar terlampau berat untuk bisa ia hadapi.


****

            Ketika waktu sudah menujukan tepat pukul 8 malam, Alvin sudah siap-siap menunggu tunangan Cakka direstoran yang terdapat dilantai utama Sindhunata Hotel. Alvin mengenakan baju kaos hitam berkerah V yang ia padukan dengan jas berwarna biru gelap. Alvin juga mengenakan celana kain hitam serta sepatu kets yang terlihat santai. Malam ini, Alvin benar-benar terlihat mempesona. Dan ketika ia baru saja menjejakan kakinya di Restoran, semua pasang mata langsung mengarah padanya dengan tatapan kagum dan memuji.
            3 menit setelah kedatangan Alvin, kedua orang tua nya pun tiba direstoran itu. Mereka berdua segera menghampiri Alvin.
            “ganteng banget sih anak Mami malem ini” kata Bu Uchie yang secara tiba-tiba muncul dibelakang Alvin. Alvin yang sejak tadi memainkan sendok beserta garpu yang ada dihadapannya langsung terkesiap dan menoleh kebelakang,
            “tiap hari juga Alvin selalu keren dan ganteng, Mi.. haha..”
            “mulai narsis deh anak Mami ini…”
            Pak Duta dan Bu Uchie pun duduk disebelah Alvin. Sekarang  mereka tinggal menunggu kedatangan Cakka dengan tunangannya.
            “Kak Cakka mana sih? Tadi aja dia nyuruh aku cepet-cepet, sekarang giliran aku yang cepet, malah dia yang ngaret, hhh…” Alvin menghela nafas panjang. Saat itu juga Pak Duta dan Bu Uchie hanya bisa tersenyum.
            Tidak berselang lama setelah Alvin berkata seperti itu, Cakkapun datang dengan seorang Gadis manis bergaun hitam selutut. Sepanjang perjalanan Cakka terlihat mengumbar senyum kebahagiaan, sementara ekspresi Gadis manis yang berjalan disampingnya sangat berbanding terbalik dengan ekspresi kebahagiaan yang ditunjukan oleh Cakka. Gadis manis yang diduga Alvin adalah tunangan Cakka itu, terlihat sangat risih dengan gaun hitam selututnya juga dengan wedges yang ia gunakan. Dari gestur tubuhnya saja, Alvin bisa menebak bahwa Tunangan Cakka itu tomboy. Alvin terkekeh pelan. Ternyata selera Kakaknya itu boleh juga ya.
            Cakka beserta Gadis manis itu semakin mendekati meja yang ditempati oleh Alvin dan kedua orang tuanya. Ketika kedua mata Gadis manis itu mengarah pada kedua orang tua Cakka, ia langsung mengeluarkan sebuah senyuman kecil yang terlihat dipaksakan.
            “selamat malam Mami… Papi…” sapa Cakka dengan senyuman kebahagiaan yang tidak kunjung menghilang dari wajah tampannya. Alvin melirik Cakka sambil tersenyum lebar,
            “ini dia Kak…?” Alvin melirik sebentar kearah Gadis itu. Gadis itu pun tersenyum sungkan pada Alvin.
            “maksud lo?” tanya Cakka tidak paham. Ia menatap Alvin dengan kedua alis bertaut.
            “ini dia ya tunangan kamu? Namanya siapa, Kka?” pertanyaan dari Mami itu akhirnya mewakailkan pertanyaan dari Alvin. Alvin hanya terdiam sambil tersenyum dan menunggu jawaban apa yang akan Cakka lontarkan.
            “Hah?” Cakka terlihat kaget ketika mendengar pertanyaan yang dilemparkan oleh Maminya itu. Tidak hanya Cakka yang nampak kaget, tapi Gadis manis yang ada disampingnya itu sepertinya juga kaget.
            “tunangan kamu cantik juga, Kka…” kali ini giliran Papi yang mengeluarkan komentar.
            “bukan Pap… dia ini bukan tunangan Cakka. Enak aja, masa iya Cakka mau tunangan sama Makhluk setengah jadi kayak Agni ini” ledek Cakka habis-habisan yang sukses membuat wajah Agni terlihat merah padam. Dasar Pria tidak tau terimakasih, enak saja dia menjelek-jelekan Agni didepan kedua orang tuanya. Agni menghela nafas kesal beberapa kali, lalu tanpa perhitungan sama sekali, Agni langsung menginjak kaki Cakka sekuat ia mampu.
            “AWWWW….” Ringis Cakka lumayan kencang.
            “mampus lo! Makanya jangan asal cablak aja. Untung tuh kaki baru gue injek, coba kalo gue potong” kata Agni  tidak sabar.
            “sakit begok” protes Cakka. Tapi percuma saja, karena Agni tidak sedikitpun menghiraukan protes dari Cakka itu.
            Alvin beserta kedua orang tuanya hanya bisa melongo melihat pertengkaran yang terjadi antara Cakka dan Agni. Dalam benak, mereka sama-sama bertanya, sebenarnya mereka ini tunangan atau tidak sih?
            “Mami, Papi, Alvin… kalian semua salah paham, Agni ini bukan tunangan Cakka, tapi Agni ini adalah Sahabat deket Cakka selama Cakka di Bali, bahkan dulu Agni ini lah yang nyomblangin Cakka dengan tunangan Cakka itu” jelas Cakka pada akhirnya. Ketiga orang yang tadi mendengar penjelasan Cakka hanya bisa mengangguk paham. Mungkin kali ini mereka sudah mengerti.
            “ayo kenalan” kata Cakka galak sambil menyenggol lengan Agni.
            “iyaaaa….” Jawab Agni sebal. Agni berdehem lalu berusaha memasang senyum yang terlihat ikhlas.
            “hay Om, Tante… kenalin aku Agni, aku sahabat baiknya Cakka selama Cakka ada di Bali…” kata Agni sambil menyalami kedua orang tua Cakka secara bergantian.
            Ketika kedua mata Agni mengarah pada wajah Alvin, Agni mendadak kaget. Ia merasa begitu familiar dengan wajah Alvin ini. Tidak lama kemudian…
            “ALV?? ALVIN JONATHAN?? YA AMPUUUNNNNN LO ALVIN…..??” Agni berteriak heboh. Bahkan Agni sama sekali tidak peduli ketika semua orang memperhatikannya. Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum kaku,
            “lo bener-bener adeknya Si Cakka ini… ya ampun, lo tau nggak? Gue fikir selama ini Cakka Cuma ngaku-ngaku aja sebagai Kakak lo, tapi ternyataa…. HWAAAA…. ALV… GUE FANS BERAT LO TAUUUUUU???” Agni semakin heboh dan semakin terlihat gila.
            Tingkah memalukan Agni itu sukses membuat sakit kepala Cakka kambuh. Ia memegangi keningnya yang terasa berdenyut. Jika bisa ia ingin melempar Agni keluar dari Hotelnya ini. SEKARANG JUGA!
            “jadi tunangan lo mana, Kak?” kata Alvin cepat-cepat yang tidak ingin meladeni kegilaan Agni itu. Kali ini Cakka tersenyum lalu menatap Alvin penuh arti,
            “sebentar lagi dia akan datang”
            “nggak perlu nunggu sebentar lagi, Alv. Tuh dia udah dateng, hehe…” kata Agni seraya menunjuk kearah pintu masuk.
            Semua perhatian merekapun tertuju kearah pintu masuk. Alvin beserta kedua orang tuanya langsung terkejut bukan main ketika mereka melihat siapa tunangan Cakka yang sebenarnya. Kedua mata mereka sama-sama membelalak lebar, mereka juga sama-sama tidak percaya dengan apa yang saat ini mereka lihat, lebih-lebih Alvin. Ia merasa detik ini juga bumi seakan berhenti berputar, ketika kedua indera pelihatnya menangkap satu sosok yang begitu ia kenal, satu sosok yang selama beberapa tahun terakhir ini sangat ia rindukan. Dia adalah Sivia.
            Deg… jantung Alvin berdetak 2 kali lebih kencang dari biasanya. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bukannya tadi pagi Alvin melihat Sivia di Surabaya? Bukan hanya melihat Sivia, tapi Alvin juga melihat seorang Gadis cilik yang memanggil Sivia dengan sebutan Mama? Kenapa semuanya begitu membingungkan? Apa maksud Sivia dibalik semua ini?
            Saat ini Alvin sudah benar-benar tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Baginya dunia seakan menghilang. Tidak ada hal yang lain yang ia rasakan saat ini selain kebingungan yang melanda benaknya. Sekali lagi, Alvin menghela nafas kesakitannya. Mendadak ingatan Alvin terseret pada ucapan Sivia tadi pagi, tepat sebelum mereka berpisah.
            “terkadang ada hal-hal yang susah untuk dijelaskan Alvin, tapi nanti kamu akan mengerti. Sampai ketemu lagi…. Nanti”
            Alvin mendesah pelan, nyaris tidak kentara. Sekarang  Ia baru mengerti apa maksud dari ucapan Sivia itu. Ternyata inilah jawaban dari teka-teki yang tadi Sivia berikan.
            Detakan jantung Alvin semakin cepat dan kencang manakala langkah kaki Sivia semakin mendekat kearahnya. Sementara itu kedua orang tuanya, menatap Alvin dengan pandangan cemas. Selama 5 tahun terakhir ini, mereka tahu bagaimana Alvin mencoba setia demi menunggu Sivia, mereka juga tahu bagaimana kerasnya usaha Alvin yang tidak kenal lelah demi mencari Sivia. Tapi sekarang, setelah penantiannya menemui ujung, semuanya malah tidak sesuai seperti apa yang Alvin inginkan juga impikan selama ini. Mereka tau Alvin kecewa, akan tetapi… ah… biarkan waktu yang menjawab.
            Alvin seakan tidak sanggup menghirup udara yang ada disekitarnya ketika Sivia sudah berdiri dihadapannya, atau lebih tepatnya disamping Cakka. Cakka tersenyum, tangan kanannya terulur lalu menarik pundak Sivia dengan lembut.
            “aku tau kamu pasti datang…” kata Cakka pelan lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra tepat dikening Sivia. Cakka melakukannya agak lama.
            Alvin memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk pura-pura tidak melihat adegan yang begitu menyesakkan dada itu. Alvin mungkin bisa menutup mata, tapi ia sama sekali tidak bisa menutup hatinya. Matanya sudah terlanjur menangkap dan hatinya sudah terlanjur menerima. Ini lah sakit yang sebenar-benarnya sakit. Inilah pedih yang sebenar-benarnya pedih.
            “ini dia kejutan yang aku maksud” kata Cakka santai dan seakan tanpa beban. Semua tahu, bahwa Cakka tahu, semua tahu bahwa Cakka hanya berpura-pura tidak peduli saja dengan keadaan. Ya… semua tahu itu…
            “hay… Om… Tante… kalian apa kabar?” Tanya Sivia ragu-ragu. Sesekali matanya melirik kearah Alvin yang ketika itu juga ternyata sedang menatapnya dengan kedua mata memerah dan terlihat berkaca.
            “baik Sivia, kamu sendiri apa kabar? Udah lama kita nggak pernah ketemu” kata Bu Uchie datar. Saat ini beliau merasa takut, beliau takut sedikit saja ucapannya akan melukai perasaan Alvin. Dan beliau tidak ingin melakukan itu.
            “baik tante…” Sivia melangkah lebih dekat lagi lalu menyelami tangan Bu Uchie. Tidak lupa juga Sivia mendaratkan sebuah kecupan pada pipi Bu Uchie.
            “Sivia rindu sama Tante… sangat rindu” kata Sivia dengan nada bergetar. Sivia memang mengucapkan kalimat itu untuk Bu Uchie, tapi entah kenapa tatapan matanya malah mengarah pada Alvin yang ketika itu masih betah menatapnya.
            Setelah menyalami Bu Uchie, Sivia pun beralih menyalami Pak Duta. Ketika Sivia menjabat tangannya, Pak Duta sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya mengangguk pelan sambil membelai lembut rambut sebahu milik Sivia.
            Sivia mengulurkan tangannya tepat dihadapan Alvin, ia berusaha tersenyum lantas berkata,
            “hay Alvin… selamat berjumpa lagi…”
            Alvin mengangkat wajahnya dan menatap kedua bola mata Sivia sedalam mungkin. Air mata itu nyaris terjatuh dari pelupuk mata mereka masing-masing. Tapi sebisa mungkin mereka berusaha untuk menahan. Biar bagaimanapun mereka harus tetap terlihat kuat, betapapun hati mereka sama-sama tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk bertahan.
            Alvin tersenyum miris. Tanpa memiliki niat sedikitpun untuk membalas uluran tangan Sivia, Alvin bangkit dari kursinya lantas berbisik pelan,
            “pembalasan yang kamu kasih ini sudah lebih dari setimpal” Alvin lalu melangkah pergi tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
            “ALVIN…” Cakka berusaha memanggil Alvin. Dan tepat ketika Cakka akan mengejar langkah Alvin, Sivia buru-buru menahan lengannya.
            “Kak Cakka, biar aku yang ngejer Alvin. Aku juga perlu bicara sama Alvin, boleh?” kata Sivia dengan nada memohon. Seakan takluk oleh Gadis yang ada dihadapannya ini, Cakka hanya mengangguk. Sivia tersenyum puas lalu berlari untuk mengejar langkah Alvin.
            Cakka tersenyum kecil. Dalam hati ia bergumam,

            “kita lihat saja, sampai dimana kalian akan mampu bertahan dengan kemunafikan juga senyum palsu kalian itu….”


****

            Sivia menghentikan larinya ketika ia melihat Alvin yang saat itu tengah berdiri ditepi kolam renang sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Sivia dapat melihat dengan sangat jelas kedua pundak Alvin naik turun. Dan dari sana Sivia tahu bahwa Alvin tengah menangis. Sivia menghela nafas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian juga keyakinannya untuk menghampiri Pria itu dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Biar bagaimanapun keadaannya sekarang, Sivia harus bisa menjelaskan semuanya pada Alvin.
            Ragu-ragu Sivia melangkah mendekati Alvin. Dan ketika jaraknya dengan Alvin hanya berjarak beberapa centi saja, Sivia menghentikan langkahnya. Tangan Sivia yang bergetar hebat perlahan terangkat. Sebelum tangan lembut itu terjatuh diatas pundak Alvin, Sivia sempat menghela nafas panjangnya.
            “Alvin….” Tangan itu akhirnya benar-benar terjatuh tepat diatas pundak Alvin.
            “kamu bahagia dengan pertunangan ini?” Tanya Alvin tanpa berbalik dan menatap wajah Sivia yang sudah berdiri dibelakangnya. Sivia terdiam, ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Alvin itu.
            Tanpa Sivia perhitungkan sebelumnya, Alvin berbalik lalu menatap kedua mata Sivia dengan lembut. Alvin tersenyum kecil meski hatinya tidak demikian.
            “aku mau jelasin semuanya sama kamu, aku—“
            “tentu saja kamu sangat bahagia kan?” sela Alvin sebelum Sivia menyelesaikan perkataannya. Kali ini Sivia terdiam, bingung bagaimana harus berucap.
            “anak kecil sama Pria berkaca mata di café tadi, mereka aku fikir adalah anak sama suami kamu, tapi ternyata bukan, haha lucu ya?”
            “mereka… mereka sepupu sama keponakan aku…”
            “iya, dan aku salah paham”
            “wajar kalo kamu salah paham, tadi aku juga belom sempet ngejelasin apa-apa ke kamu”
            Alvin menunduk dalam seraya tersenyum. Ia merasa tidak sanggup jika harus menatap kedua mata itu lebih lama lagi. Alvin rasa semua yang terjadi ini adalah hukuman baginya, hukuman karena dulu ia sempat menyia-nyiakan cinta tulus yang pernah Sivia berikan untuknya. Penyesalan itu selalu ada, dan hasrat ingin merebut kembali Sivia dari tangan Cakka juga selalu ada, hanya saja Alvin merasa tidak pantas jika harus melakukan hal itu.
            Dan Alvin sadar, bahwa Cakka lebih pantas mendapatkan cinta Sivia dari pada dirinya, karena Cakka jauh lebih menghargai Sivia diatas segala-galanya. Melihat Sivia bisa tersenyum bahagia meskipun bukan karenanya, sudah cukup membuat Alvin merasa lega dan merasa tenang. Setidaknya Gadis itu bisa bahagia dan tidak menderita lagi seperti 5 tahun yang lalu. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk Alvin.
            “sebelum aku ke Bali, Kak Cakka pernah bilang kalo dia bakalan ngasih kejutan. Tapi sebelumnya aku nggak pernah nyangka kalo kejutan yang Kak Cakka maksud itu adalah kamu, Vi… dan aku, aku benar-benar terkejut, aku—“
            “Alvin aku minta maaf” kata Sivia tiba-tiba. Ia meraih kedua tangan Alvin begitu saja lalu meletakkannya tepat didepan keningnya. “aku bener-bener minta maaf” lanjut Sivia dengan suara terisak.
            Pada akhirnya Alvin mengangkat wajahnya. Air mata yang sejak tadi berusaha ia bendung akhirnya mengalir juga dengan deras.
            “maaf? Buat apa? Kamu minta maaf kayak gini bikin aku semakin ngerasa bersalah sama kamu, Via. Ini semua aku yang salah, bukan kamu. Kamu inget? 8 tahun yang lalu kamu pernah bilang, bukankah hati setiap orang berhak untuk mendapatkan bahagia termasuk itu hatimu, dan ini dia kebahagiaan itu, Sivia. Kamu berhak mendapatkan semua ini, kita semua tahu, bahwa dari dulu hingga sekarang Kak Cakka selalu mencintai kamu, Kak Cakka juga selalu berusaha setia meskipun dia sendiri tahu kalo kita—“
            “saling mencintai” sela Sivia dengan cepat. Alvin terdiam. Perkataan Sivia barusan benar-benar membungkamnya.
            Beberapa saat setelah Sivia mengucapkan satu kalimat itu, tiba-tiba saja Sivia tertawa pelan,
            “haha… saling mencintai? Aku salah ya, Vin?”
            “salah?” Alvin mulai tak paham,
            “iya, aku salah. Kamu nggak pernah mencintai aku kan? Sejak awal yang kamu cintai itu Cuma Pricill, semua tahu itu”
            Detik ini juga Alvin seolah ingin berteriak dihadapan Sivia, bahwa wanita satu-satunya yang Alvin cintai hanyalah Sivia, bukan Pricill, bukan juga yang lainnya. Tapi Alvin sadar, apapun yang ia lakukan saat ini demi untuk mempertahankan Sivia hasil akhirnya tetap percuma. Semuanya sudah terlambat, dan itu semua karna kesalahan terbesar yang pernah Alvin perbuat dimasa lalu.
            “kamu sendiri gimana sama Pricill? Masih baik-baik aja kan?”
            Telak. Pertanyaan dari Sivia itu benar-benar telak dan membuat Alvin kelabakan sendiri mencari jawaban yang pas. Bagaimana caranya supaya Alvin bisa menjelaskan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah, kisah antara dirinya dengan Pricilla sudah lama berakhir? Bagaimana caranya membuat Sivia mengerti dan sadar, bahwa Wanita satu-satunya yang Alvin cintai hanyalah Sivia. Kenapa rasanya untuk menjelaskan hal itu saja terasa begitu sulit?
            “iya… aku sama Pricilla masih baik-baik aja” ucap Alvin pada akhirnya. Hati kecilnya tahu bahwa saat itu ia tengah berdusta. Pedih, rasanya begitu pedih.
            “sudah aku duga, kalian emang pasangan yang serasi. Terus, kapan kalian bakalan nyusul aku dan Kak Cakka?”
            Tanpa Alvin tahu, jawaban yang ia lemparkan itu ternyata telah membuka luka lama Sivia yang sebenarnya hingga saat ini belum juga menemui obatnya. Sakit itu… Iya, Sivia merasakan sakit yang sama seperti 5 tahun lalu. Rasanya sama persis.
            “secepetnya” jawab Alvin seadanya. Sivia tersenyum miris dan berusaha menahan rasa sakit yang semakin menjadi itu. Selama ini dia fikir dia sudah bisa melupakan Alvin, tapi ternyata….??


            “Tuhan… kenapa aku selalu tidak pernah bisa seberuntung Pricilla?”



****


            “gimana pertemuan kamu sama Alvin semalem? udah kamu jelasin semuanya?” tanya Cakka ketika ia baru saja tiba diruang makan. Sivia yang saat itu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Cakka hanya bisa mengangguk. Sivia mengoleskan selai cokelat kesukaan Cakka pada roti yang ada ditangannya, tidak lama Sivia pun menghidangkan roti itu dihadapan Cakka.
            “udah” jawab Sivia seadanya lalu menyesap teh hangat yang ada dihadapannya.
            “terus Alvin bilang apa?” kata Cakka sebelum ia menggigit rotinya,
            “nggak bilang apa-apa, dia Cuma bilang—“ Sivia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya “dia ikut bahagia sama pertunangan kita”
            “dan kamu percaya begitu saja?”
            Hening. Sivia langsung menghentikan aktifitas menyesap tehnya. Ia menatap hampa kedepan tanpa mampu mengucapkan sepatah kalimatpun. Sebelumnya ia tidak pernah menduga bahwa Cakka akan menanyakan hal itu padanya.
            “Sivia” panggil Cakka pelan berusaha membuyarkan lamunan panjang Sivia. Sivia terkesiap lalu menatap Cakka dengan tatapan yang susah diartikan.
            “dia mau bahagia atau tidak, itu bukan urusan ku kan, Kak?”
            Dari gelagat Sivia, Cakka bisa menangkap ada sesuatu yang janggal dengan tunangannya ini. Cakka mengangguk perlahan, dalam sekali tatap saja, Cakka tau apa yang saat ini sedang mengusik pikiran Sivia. Apalagi yang mampu mengusik pikiran Sivia selain kehadiran Alvin kembali ditengah-tengah mereka? Cakka tersenyum kecil. Sebelumnya ia telah memperhitungkan semua ini. Cakka tahu, jika ia mempertemukan Sivia dengan Alvin kembali, kejadiannya pasti akan seperti ini. Tapi, Cakka sudah mempersiapkan diri untuk hal itu. Apapun resikonya, Cakka akan menerima, tapi tidak untuk resiko melepaskan Sivia kembali kepada Alvin. Sampai mati pun Cakka tidak akan pernah melakukan hal itu.
            “apa kamu mau kembali lagi sama Alvin?”
            “kenapa Kak Cakka harus nanya hal itu ke aku?”
            “Maaf Via, tapi aku hanya berusaha untuk peka dengan keadaan”
            “kalo aku mau kembali lagi sama Alvin, apa Kak Cakka mau ngelepasin aku?”
            Cakka terdiam sejenak lalu menggeleng perlahan,
            “tidak akan” ujar Cakka mantap.
            Sivia memejamkan matanya untuk beberapa saat. Mendadak ia merasa menyesal karena telah melemparkan pertanyaan yang terakhir itu pada Cakka. Tidak seharusnya Sivia berkata seperti itu. Bukankah selama ini Cakka sudah berkorban banyak hal untuk Sivia? Lalu apa Sivia tega membalas semua pengorbanan Cakka itu dengan keegoisannya? Mungkin sekarang Sivia belum bisa mencintai Cakka sepenuhnya, tapi suatu saat nanti, Sivia pasti bisa mencintai Cakka sebagaimana Cakka mencintainya.
            Sivia menghela nafas beratnya. Beberapa detik kemudian Sivia bangkit dari kursinya lalu berdiri tepat disamping Cakka. Sivia menatap kedua mata Cakka sedalam mungkin, tidak lama Sivia meraih kedua tangan Cakka lalu menuntunnya untuk berdiri. Sivia membelai lembut wajah Cakka seraya tersenyum,
            “kita udah saling memilih, Kak. Dan apapun nggak akan pernah bisa ngubah pilihan aku termasuk itu Alvin, aku sayang sama Kak Cakka…”
            “kamu udah terlalu sering bilang sayang, Via. Tapi sekalipun kamu nggak pernah bilang kalau kamu mencintai aku dan benar-benar menginginkan aku, nggak pernah sekalipun”
            Sivia tersenyum penuh arti. Ia membenahi aturan dasi Cakka yang sedikit berantakkan. Setelah merasa bahwa dasi Cakka sudah terlihat rapi, Sivia lalu membawa dirinya kedalam pelukan Cakka,
            “kasi aku sedikit waktu lagi ya, Kak. Sedikiiittt lagi…” pinta Sivia dengan nada memohon. Cakka mengangguk beberapa kali, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut pada puncak kepala Sivia,
            “aku akan tetap menunggu”
            “makasih, Kak…” Sivia semakin mempererat pelukannya pada tubuh Cakka, begitu juga dengan Cakka.
            Setelah selama 1 menit larut dalam keheningan, Cakka dan Sivia akhirnya mengurai pelukan mereka,
            “sekarang Kak Cakka turun gih, udah waktunya kerja ini” kata Sivia seraya menunjukan jam tangannya dihadapan Cakka,
            “Oke. Oya, kamu kapan balik ke Surabaya?”
            “setelah peresmian pertunangan kita deh… oya Kakak dapet salam dari Bintang, katanya dia kangen sama Om Ganteng nya, hahaha”
            “oya? Kalo gitu nanti kapan-kapan kita ke Surabaya bareng ya? Aku mau ketemu sama Bintang, aku udah kangen banget sama pipi chubby nya itu”
            “iya iya iya, tapi sekarang Kakak berangkat kerja dulu deh, udah siang ini”
            “oke” Cakka mencium kening Sivia dan berlalu dari hadapan Sivia. Sivia melambaikan tangannya kearah Cakka seraya tersenyum.


            “maafin aku Kak Cakka… maaf karna aku udah berdosa banget sama Kak Cakka….”



****

            Hari ini Sivia ada veeting Busana untuk Gaun yang akan ia kenakan nanti saat pesta peresmian pertunangannya dengan Cakka. Seharusnya hari ini Sivia pergi bersama Cakka, tapi karena Cakka harus mengurus beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia tinggali, akhirnya dengan terpaksa Sivia harus pergi sendiri tanpa Cakka.
            Sivia memasuki mobil yang sudah dipersiapkan oleh Cakka dipelataran parkir Sindhunata Hotel. Seorang supir Pribadi sudah menunggu Sivia didalam mobil sejak beberapa menit yang lalu.
            Tapi baru saja Sivia menjatuhkan tubuhnya dijok belakang, tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh kehadiran Alvin yang secara tiba-tiba didalam mobil. Dengan santai Alvin duduk dibelakang setir seraya melirik nakal kearah Sivia melalui kaca spion. Kedua mata Sivia membelalak lebar. Bagaimana bisa Alvin ada disana? Seharusnya kan yang mengantarkan Sivia itu supir pribadinya Cakka? Lalu bagaimana ceritanya Alvin bisa didalam mobil itu?
            “ALVIN?”
            “Kok kaget?” tanya Alvin dengan santainya.
            “jelas kagetlah, kamu kok tiba-tiba ada disitu? Gimana ceritanya?”
            “tadi aku nawarin diri sama Kak Cakka buat nganterin kamu veeting baju. Awalnya Kak Cakka nolak, tapi setelah aku paksa akhirnya Kak Cakka mau juga”
            “jadi kamu yang bakalan nganterin aku?”
            “yaps!” Alvin mengangguk mantap seraya tersenyum lebar.
            “pindah dong kedepan! Emangnya aku supir kamu apa?”
            Sivia hanya mengangguk. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi Sivia langsung pindah ke jok depan. Tepatnya disamping Alvin. Sebenarnya Sivia agak heran dengan sikap Alvin pagi ini. Sikap Alvin pagi ini sangat berbanding terbalik dengan sikapnya semalam.
            “Via…” panggil Alvin dengan lembut ketika Sivia sudah duduk disampingnya,
            “iya” jawab Sivia sambil focus dengan layar ponselnya. Sebenarnya berada dekat dengan Alvin seperti ini membuat Sivia merasa grogi. Tapi Sivia berusaha tetap terlihat santai supaya Alvin tidak curiga.
            “aku—“ Sivia mengangkat wajahnya lalu melihat kearah Alvin.
            Tanpa Sivia duga-duga sebelumnya, perlahan Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang kaget langsung saja sedikit menjauhkan posisinya dari posisi Alvin sekarang,
            “ka… kamu mau apa?” Sivia mulai gugup. Seakan tidak mau menggubris pertanyaan Sivia itu, Alvin semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Melihat wajah Alvin yang semakin mendekati wajahnya, Sivia akhirnya memilih pasrah. Ia memejamkan kedua matanya dan menanti dengan hati berdebar apa yang akan Alvin lakukan.
            Ketika jarak wajahnya dengan wajah Sivia hanya berjarak beberapa centi saja, Alvin langsung menghentikan pergerakan wajahnya. Ia memiringkan sedikit posisi wajahnya lalu menutup kedua matanya seperti apa yang Sivia lakukan. Detik itu Alvin merasakan bahwa Sivia tengah berusaha menahan nafas. Alvin juga dapat merasakan bagaimana kencangnya debaran jantung Sivia ketika itu. Alvin tersenyum kecil lalu berbisik pelan tepat didepan wajah Sivia,
            “aku rindu kamu… sangat rindu kamu…” Alvin mengecup pelan bibir mungil Sivia. Sivia terlonjak kaget. Ia merasakan seluruh aliran darahnya berdesir. Jantungnya yang sejak beberapa detik lalu berdebar kencang seakan menggedor dada Sivia lebih kuat lagi.
            Salah satu tangan Alvin bergerak perlahan lalu meraih sabuk pengaman yang ada dibelakang Sivia. Alvin sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Sivia lalu menyampirkan sabuk pengaman itu ditubuh Sivia. Saat itu juga Sivia langsung tersadar, ia membuka kedua matanya yang tertutup,
            “sorry….” Alvin menjauhkan dirinya dari posisi Sivia lalu menjalankan mobilnya. Sivia membuang tatapannya kearah lain. Kejadian tadi benar-benar membuatnya merasa malu pada Alvin.
            Tanpa Sivia tahu, Alvin tersenyum kecil ketika itu juga. Dalam hati Alvin bergumam,

            “ternyata kamu masih mencintaiku, Sivia… aku tahu, cinta pertama tidak akan pernah mati…. Terimakasih, aku akan berusaha lebih keras lagi demi kamu… demi cinta kita….”




                        BERSAMBUNG….
           

0 comments:

Post a Comment