Saturday, September 7, 2013

3

CINTA BEGINI Chapter 20 [Still Loving You]



                                          


                Alvin duduk diatas sebuah sofa sambil membaca-baca majalah sembari menunggu Sivia yang tengah melakukan fitting baju. Jika ingin jujur, sebenarnya saat ini fikiran Alvin tidak seratus persen tertuju pada majalah yang sedang ia baca. Kejadian dalam mobil tadi terus membayang-bayangi fikirannya dan membuat semuanya terasa kacau. Alvin mengeram pelan lalu melepaskan majalah yang  sejak tadi ia pegang begitu saja diatas meja. Alvin memegangi kepalanya yang terasa sedikit berdenyut. Setelah ini apa yang harus ia lakukan? Ia tahu kalau Sivia masih mencintainya, tapi masakah Alvin tega merebut Sivia begitu saja dari tangan Cakka? Alvin rasa ia tidak akan sejahat itu. Tidak akan pernah.
            3 menit kemudian, pintu yang ada dihadapan Alvin terbuka secara perlahan. Dari balik pintu itu menyembullah Sivia bersama Agni. Selain menjadi Sahabat dekat dari Cakka dan Sivia, Agni juga adalah seorang designer muda yang dipercayai oleh Cakka dan Sivia untuk merancang  pakaian yang akan mereka kenakan saat acara pertunangan nanti. Sivia terlihat begitu mempesona dengan Gaun Putih yang menutupi hingga mata kakinya. Alvin terpana untuk beberapa saat memandangi keindahan yang ada dihadapannya kali ini. Tapi sayangnya keindahan itu sudah bukan miliknya lagi, Alvin telah menyia-nyikannya dimasa lalu hingga kini menyisakan penyesalan yang amat mendalam.
            Sivia tersenyum canggung pada Alvin lalu menunduk malu. Ada sedikit rasa miris dihati kecilnya. Ia gamang memikirkan beberapa hari lagi ia akan benar-benar resmi menjadi tunangan Cakka. Dalam benaknya Sivia mulai berfikir, seandainya saja ada yang bisa ia lakukan agar bisa mundur dari semua ini, apapun itu akan Sivia lakukan. Tapi sayangnya, tidak ada satu hal pun yang bisa ia lakukan. Ia sudah terlanjur memilih.
            “Cantik” puji Alvin tiba-tiba yang langsung membuat kedua pipi chubby Sivia bersemu merah. Sivia tersenyum kecil tanpa berani menatap kedua mata Alvin.
            “Gimana kalo kita pake Alvin aja, Vi? gue rasa postur tubuhnya sama Cakka itu sama persis deh” kata Agni seraya mengamati tubuh Alvin baik-baik.
            “jangan” kata Sivia cepat-cepat.
            “memangnya ada apa?” Tanya Alvin tak paham.
            Agni  tersenyum lalu berjalan perlahan mendekati Alvin.
            “begini, hari ini sebenernya Cakka harus melakukan fitting baju bersama Sivia, tapi karna Cakka sibuk dan berhalangan hadir, jadi gue mau lo dulu yang nyoba baju yang akan Cakka kenakan nanti. Kalo kita harus nungguin Cakka lagi sampe dia nggak sibuk, itu akan makan waktu lagi, sementara kan pertunangan Sivia dan Cakka sudah semakin dekat. Gimana? lo mau kan?”
            “Agni jangan ngaco deh, Alvin udah pasti nggak mau” kata Sivia sambil melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang wajahnya kearah lain.
            Alvin tersenyum jahil, ia menatap Sivia dengan lembut lantas berkata,
            “siapa bilang aku nggak mau? Aku mau, bahkan sangat mau” Sivia yang kaget langsung menatap Alvin dengan pandangan tidak percaya.
            “EXCELLENT!!” Pekik Agni sambil mengedipkan salah satu matanya.


****

            “kenapa kamu nggak pernah bilang selama ini sama Mami kalo tunangan kamu itu Sivia, Kka? Dan kenapa kamu malah nyembunyiin semua ini dari kita? Kamu tahu kan kalo selama 5 tahun terakhir ini Alvin terus nyariin Via?” kata Mami ketika dirinya dengan Cakka hanya berdua saja ditepi kolam renang hotel.
            Cakka menghela nafas panjangnya. Sebelumnya ia sudah menduga bahwa Mami pasti akan berkata seperti itu padanya. Dan mau tidak mau, Cakka harus tetap memberi jawabannya, biar semuanya jelas.
            “waktu Sivia pergi ninggalin Alvin 5 tahun yang lalu, sebenernya Cakka udah tau kalo Sivia pergi ke Bali. Sivia cerita semuanya sama Cakka. Makanya waktu itu Cakka bersikeras minta sama Papi buat mercayain hotel ini sama Cakka. 2 tahun kemudian, Sivia dan keluarganya pindah ke Surabaya, tapi semenjak itu, setiap akhir pekan Cakka selalu pergi ke Surabaya buat nemuin Via, dari sana kita semakin deket. Tapi Sumpah Mam, pertunangan ini bukan Cakka yang minta, melainkan Sivia”
            “Sivia yang minta?”
            “iya. Dan Sivia juga minta supaya aku tetap merahasiakan keberadaannya dari Alvin, Sivia nggak mau Alvin tau dimana dia berada. Hingga pada suatu ketika, Sivia minta supaya kami bertunangan, dan jujur, Cakka musti harus berfikir seribu kali buat bisa bilang Iya, Mam. Cakka tau bahwa saat itu Sivia masih sangat mencintai Alvin, Cakka memang mencintai Sivia, tapi bukan berarti Cakka bakalan memaksa dia buat bisa nerima Cakka, nggak Mam, Cakka nggak mau ngelakuin itu. Tapi Sivia selalu aja bilang, dia akan mencintai Cakka sebagaimana Cakka mencintai dia. Sivia selalu ngeyakinin Cakka, untuk itulah Cakka akhirnya menyetujui pertunangan ini”
            “tapi semuanya nggak segampang itu Mam, 5 tahun berlalu tapi Sivia masih saja mencintai Alvin, bahkan sampai detik inipun Sivia masih mencintai Alvin. Sivia hanya berusaha untuk melawan hatinya, itu saja Mam”
            “dan kamu pura-pura tidak tahu akan hal itu?”
            “iya Mam, dan Cakka mengaku kalo Cakka memang jahat, sangat jahat. Kami sudah berjalan sejauh ini, dan Cakka nggak mungkin ngelepasin Sivia begitu saja, Mam, nggak mungkin”
            “tapi Nak, kamu tau kan kalo Alvin dan Sivia saling mencintai satu sama lain, mau sampe kapan kamu nyiksa mereka?”
            “Cakka Cuma butuh sedikit waktu lagi, Mam. Sedikittt lagi, Cakka akan buktiin kalo Sivia bisa mencintai Cakka. Iya, Cakka akan buktiin itu pada kalian semua, Cakka janji, Mam. Cakka janji…”


****

            Alvin keluar dari dalam ruang ganti dengan stelan jas serba putih. Sebuah dasi hitam yang ia kenakan semakin membuat Alvin terlihat menawan. Bahkan saking menawannya, Sivia dan Agni saja sampai melongo melihat penampilan Alvin yang begitu ‘WOW’.
            Alvin memamerkan senyuman mautnya pada kedua Gadis itu, ia sedikit mengangkat kerah bajunya lantas berkata,
            “gimana? Keren kan?”
            Agni hanya bisa mengangguk tanpa mampu mengeluarkan sedikitpun komentar. Ia mengangkat kedua jempolnya yang langsung disambut oleh kedipan mata dari Alvin. Sama seperti Agni, saat ini Sivia juga tidak mampu berkata apa-apa manakala melihat penampilan Alvin. Alvin terlihat sangat cocok dengan stelan jas serba putih itu. Dalam benaknya Sivia mulai berfikir, andai saja Alvin yang bertunangan dengannya, bukan Cakka.
            Agni dan Sivia langsung membuyarkan keterpanaan mereka ketika Handphone milik Agni berbunyi. Agni melihat layar ponselnya sejenak lalu segera memohon diri pada Alvin dan Sivia untuk mengangkat telfonnya.
            Beberapa saat setelah kepergian Agni, Alvin langsung memfokuskan tatapannya pada Sivia yang ketika itu tengah duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Alvin menatap Sivia tanpa henti dengan senyuman manis yang merekah diwajah tampannya. Menyadari bahwa Alvin sedang menatapnya lekat-lekat, Sivia mulai salah tingkah sendiri. Tiga… dua… satu… Sivia akhirnya memberanikan dirinya untuk mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Alvin.
            “kenapa ngeliatnya sampe kayak gitu? Aku aneh ya?” Tanya Sivia yang terdengar jelas berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. Alvin tersenyum jahil lalu berjalan perlahan menghampiri Sivia. Alvin menunduk untuk mensejajarkan posisi wajahnya dengan posisi wajah Sivia, Alvin semakin lekat menatap setiap centi permukaan wajah Sivia. Tidak lama Alvin berbisik pelan, tepat didepan wajah Sivia,
            “jujur, aku nggak pernah ngeliat kamu secantik ini sebelumnya”
            Sivia langsung merinding seketika saat Alvin mengeluarkan pujian yang terdengar begitu manis itu. Sivia menunduk lalu memalingkan wajahnya kearah lain. Ia berusaha untuk tidak terlalu terburu-terburu terpikat akan pujian itu. Sivia harus ingat bahwa saat ini ia sudah menjadi milik Cakka, ia tidak boleh seperti ini apapun keadaannya. Mungkin Alvin juga hanya ingin menggodanya saja, bukankah saat ini Alvin sudah memiliki Pricilla? Yang Sivia tahu adalah, Alvin begitu mencintai Pricilla. Jadi tidak mungkin kan Alvin bersungguh-sungguh dengan rayuannya itu?
            “nggak usah ngomong kayak gitu. Nanti kalo Pricilla tau kamu godain cewek lain dia bakalan marah”
            “oya?”
            “hmmm” Sivia mengangguk pelan. Ia semakin salah tingkah.
            Alvin tiba-tiba memegang kedua pergelangan tangan Sivia lalu menuntun Gadis itu untuk berdiri. Awalnya Sivia kaget, tapi akhirnya ia menerima juga perlakuan Alvin itu. Alvin menyentuh kedua pundak Sivia lalu memutarnya hingga berbalik dan mengarah tepat kearah cermin. Alvin yang berdiri dibelakang Sivia, malah memeluk Gadis itu dengan erat dari belakang. Sivia terlonjak kaget, kedua pipinya semakin bersemu merah, sementara detakan jantungnya yang semakin berdegub kencang sama sekali tidak bisa ia kendalikan.
            Alvin menatap bayangan wajah Sivia lekat-lekat dicermin besar itu. Sivia juga demikian, tatapan mata Alvin itu seketika menjelma menjadi sebuah magnet yang sukses menarik penuh tatapan mata Sivia. Sivia ingin melepaskan tatapan matanya dari Alvin, tapi pesona yang begitu kuat yang dimiliki oleh Pria itu membuat Sivia tak berdaya. Pada akhirnya Sivia takluk diatas keindahan Alvin.
            “apa kamu ngerasain hal yang sama seperti apa yang aku rasain sekarang, Vi?”
            “rasa seperti apa yang kamu maksud? Bukankah rasa diantara kita sudah lama menghilang?”
            “kamu bohong”
            “Alvin—“
            “kalo aku mau ngerebut kamu dari Kak Cakka, apa kamu mau?”
            “nggak”
            “kenapa?”
            “selama ini Kak Cakka sudah mengorbankan banyak hal buat aku, Vin. Aku nggak bisa ninggalin dia begitu saja, dan asal kamu tahu, pertunangan ini aku yang menginginkan, jadi aku nggak mungkin mundur, sekalipun…. Sekalipun—“
            “sekalipun?”
            “sekalipun—“
            “sekalipun kamu ingin?”
            “Alvin, please kamu jangan pojokin aku kayak gini, aku nggak bisa. Sekarang kamu sudah punya Pricill, terus apa lagi yang kamu mau dari aku? Apa?”
            “ada hal yang yang tidak pernah kamu tahu dan yang tidak pernah kamu mengerti, Sivia”
            “maksud kamu?”
            Dalam satu sentakan kuat Alvin memutar tubuh Sivia hingga berhadapan dengannya. Alvin menatap kedua bola mata Sivia sedalam mungkin. Detik ini juga Alvin seolah ingin berteriak dihadapan Sivia, bahwa dari 5 tahun yang lalu hingga sekarang, Sivia merupakan penguasa tunggal hatinya. Alvin ingin berteriak sekeras mungkin dan berkata bahwa hanya Sivia lah yang ia cintai, Alvin ingin berteriak sekuat ia mampu, bahwa kisah antara dirinya dengan Pricilla sudah lama berakhir. Alvin benar-benar ingin membuat Gadis ini mengerti, sekarang juga, detik ini, ditempat ini. Tapi ada sesuatu yang menahannya, sesuatu yang tidak pernah Alvin mengerti. Alvin menggeleng perlahan, akhirnya ia telah kalah dengan memilih untuk tetap memendam semuanya sendirian.
            Alvin melepaskan Sivia dari cengkramannya lantas berkata,
            “nggak usah difikirin. Aku tadi Cuma asal bicara”
            Alvin berbalik lalu melangkah perlahan kearah ruang ganti. Alvin ingin mengganti pakaiannya sekarang juga. Ia merasa tidak pantas jika harus mengenakan pakaian yang seharusnya Cakka kenakan lebih lama lagi. Alvin merasa sangat tidak pantas.
            “kamu mau kemana?” Tanya Sivia tiba-tiba,
            “aku mau ganti baju. Nggak pantes aja rasanya aku pake bajunya Kak Cakka” jawab Alvin tanpa sedikitpun menoleh kearah Sivia.
            Tanpa Alvin fikirkan sebelumnya, Sivia berlari kearahnya lalu memeluknya dari belakang. Sivia menangis sekuat mungkin dipunggung Alvin, ia menumpahkan segala tangisannya disana, tangisan juga kerinduan yang selama 5 tahun terakhir ini ia pendam sendiri.
            “Via—“
            “aku mohon Alvin, sebentar saja. Aku mau seperti ini sebentar saja… please…” pinta Sivia dengan nada memohon. Semakin lama isakannya semakin kuat terdengar. Andai saja Sivia bisa mengungkapkan semua apa yang ia rasakan selama ini. Andai saja Sivia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Alvin. Andai saja Sivia bisa menyatakan kerinduannya secara gamblang dihadapan Alvin. Ah… andai saja.
            Kata Andai Saja terus merong-rong batin Sivia tanpa henti. semakin lama semakin terasa menyesakkan didada. Air mata itupun semakin deras menetes bersama kepedihan hatinya.
            Rasanya Sivia ingin mengungkapkan semua apa yang ia rasakan selama ini pada Alvin. Tapi kenyataan bahwa hati Alvin telah termiliki oleh Pricilla membuat Sivia harus berfikir ulang dengan keinginannya itu. Ia tidak ingin memaksa Alvin untuk tetap berada disisinya seperti yang dulu pernah ia lakukan. Ia tidak ingin terluka lagi karna perasaan cinta bertepuk sebelah tangan. Maka biarkanlah Sivia memeluk Alvin untuk beberapa saat saja. Biarkan Sivia menumpahkan segala kerinduannya melalui pelukan itu.
            Beberapa detik kemudian Alvin berbalik lalu membawa Sivia kedalam dekapan hangatnya. Tanpa diminta oleh Alvin sebelumnya, Sivia langsung saja membalas pelukan Alvin itu. Pelukan yang pada kenyataannya sangat ia rindukan.
            “hiks… hiks… aku capek, aku capek…” kata Sivia dengan isakan yang begitu kuat. Mendengar isakan Sivia itu, jantung Alvin seakan teriris oleh sembilu. Ia tahu bahwa hingga saat ini Sivia masih mencintainya, Alvin juga tahu bahwa peluangnya untuk merebut Sivia dari tangan Cakka sangat terbuka lebar, tapi sekali lagi, Alvin tidak ingin melukai perasaan Cakka yang selama ini sudah berkorban banyak hal untuk Sivia. Biarkanlah untuk kali ini Alvin yang berkorban. Toh jika Sivia memang miliknya, suatu saat nanti, cepat ataupun lambat, Tuhan pasti akan mempersatukan mereka kembali. Entah bagaimanapun caranya.


****

            “Sivia dan Kak Cakka akan segera bertunangan” kata Shilla sedikit kesal sambil melepaskan sebuah undangan dihadapan Rio dan Ify. Rio dan Ify kaget, mereka sama-sama melihat kearah undangan yang baru saja Shilla lepaskan dihadapan mereka.
            Rio mengambil undangan itu lalu membaca apa isinya,
            “lo becanda kan, Shill? Sivia udah ngilang selama 5 tahun dan sekarang dia tiba-tiba balik dengan membawa kabar kalo sebentar lagi dia bakalan tunangan sama Kak Cakka? Sulit dipercaya” kata Ify yang belum bisa mempercayai dengan apa yang baru saja Shilla katakan. Shilla tersenyum sinis lantas berkata,
            “lo fikir gue juga percaya? Nggak Fy, sama sekali nggak percaya”
            “jadi intinya Sivia selama ini sembunyi di Bali? Dan nggak ada satupun yang tahu tentang itu kecuali Kak Cakka?”
            “bukan di Bali, tapi Surabaya. Alvin udah cerita semuanya sama gue semalem”
            “Kalo Sivia di Surabaya dan Kak Cakka di Bali, terus gimana ceritanya mereka bisa ketemu bahkan sampe tunangan?” ujar Rio sedikit sanksi. Shilla menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian, tidak lama Shilla berkata,
            “hal itulah yang akan gue certain sama kalian, sekarang juga”
            Shilla pun memulai ceritanya. Rio dan Ify mendengarkannya baik-baik.

****

            Alvin duduk diatas mobilnya, sementara Sivia ia lebih memilih berdiri didepan mobil Alvin sambil melihat hamparan pantai yang membentang dihadapannya. Semilir angin pantai berhembus dan memainkan anak rambut Sivia. Sedari tadi, Alvin sama sekali tidak ada bosan-bosannya ketika melihat kecantikan yang terpancar dari wajah Sivia meskipun hanya dari samping saja.
            “kamu kenapa sih Vin? Ngeliatin aku terus? Nggak bosen apa?” kata Sivia yang mulai menyadari bahwa Alvin terus saja menatapnya tanpa henti. Alvin tersenyum kecil.
            “kenapa? Nggak boleh?”
            “bukan begitu, Cuma aja—“ Sivia bingung harus melanjutkan perkataannya atau tidak. Sementara Sivia tengah dilanda kebingungan, Alvin malah menunggu jawaban dari Sivia.
            “kok nggak dilanjutin?”
            “nggak apa-apa. Oya, Ify, Shilla sama Rio apa kabar ya? Udah lama aku nggak ketemu sama mereka, jujur aku kangen. Tadi pagi aku udah ngirim undangan buat mereka, semoga aja udah nyampe” Sivia tiba-tiba mengalihkan topic, dan Alvin tahu betul apa maksud Sivia itu.
            “yang jelas mereka sama kecewanya kayak aku sekarang”
            “kecewa?” Sivia melirik kearah Alvin dengan tatapan bingung.
            “kamu fikir sahabat mana yang nggak kecewa, setelah hampir selama 5 tahun menghilang tiba-tiba Sahabatnya kembali lagi dengan membawa kabar pertunangan?”
            Sivia menunduk dalam. Ia mulai menyadari kesalahannya itu. Ya… memang tidak seharusnya Sivia bersembunyi hingga 5 tahun lamanya tanpa kabar apapun.
            “aku salah” ujar Sivia penuh penyesalan.
            “kamu emang salah” Alvin turun dari atas mobilnya lalu berdiri disamping Sivia. Alvin memegang kedua pundak Sivia lalu memutar tubuh Gadis itu hingga berhadapan dengannya.
            Sivia masih menunduk dalam, ia tidak punya keberanian yang cukup untuk sekedar mengangkat wajahnya dan menantang tatapan Alvin itu. Alvin mendesah pelan, perlahan tangan kanannya terangkat lalu menyentuh dagu Sivia dengan lembut. Dalam gerakan yang amat pelan, Alvin mengangkat wajah Sivia hingga berhadapan dengan wajahnya sekarang.
            “mau berjanji sesuatu sama aku?”
            “a… apa?” Sivia mulai gugup,
            “seberat apapun masalah kita, sesulit apapun bagi kita untuk bisa menemukan jalan keluar, aku minta kamu jangan pernah sembunyi lagi dari semua orang. Kalo kamu emang mau sembunyi dari aku, silahkan. Tapi please, jangan pernah kamu sembunyi dari orang lain terutama sahabat-sahabat kita. Mereka cukup terpukul dengan kepergian kamu 5 tahun yang lalu….”
            “maafin aku, Alvin, tapi waktu itu aku bener-bener nggak tau harus ngelakuin apa. Kamu tau kan? Saat itu… saat itu aku begitu mencintai kamu, tapi kamu… tapi kamu… hiks…” isakan itu akhirnya terdengar lagi sebelum Sivia sempat melanjutkan perkataannya. Sivia merasa tidak kuasa jika harus menahan semuanya lebih lama lagi. Alvin harus tahu.
            “iya aku tahu, Via… aku tahu, dan aku sangat menyesal. Asal kamu tau itu”
            “aku Cuma ngerasa kalo semua itu nggak fair buat aku, Alvin. Tapi rasanya percuma saja kalo saat ini kita bahas masa lalu. Toh sekarang kita udah sama-sama bahagia dengan pasangan kita masing-masing, aku dengan Kak Cakka, dan kamu… kamu dengan Pricill…”
            “iya… kamu benar Sivia. Sekarang kita udah sama-sama bahagia sama pasangan kita masing-masing, jadi rasanya sangat nggak pantes kalo kita bahas masa lalu”
            Alvin melepaskan kedua pundak Sivia dari cengkramannya lalu membuang tatapannya kearah lain. Apa benar Sivia bahagia hidup bersama Cakka?
            “Pricill beruntung ya bisa dapetin cowok kayak kamu” ucap Sivia pada akhirnya setelah sekian lama keheningan membungkus kebersamaan mereka.
            "emangnya aku cowok kayak gimana?" tanya Alvin kembali tanpa sedikitpun melihat kearah Sivia. Sivia menghela nafas beratnya, ia membenahi posisinya lalu melirik sejenak kearah Alvin.
            aku nggak tau. Yang jelas Pricill beruntung banget bisa dapetin cowok kayak kamu”
            “Kak Cakka juga beruntung”
            “beruntung karna bisa dapetin cewek kayak aku?” sambar Sivia cepat. Alvin menoleh kearah Sivia lalu terkekeh pelan,
            “haha… ya nggak lah”
            “terus?”
            “Kak Cakka beruntung karna dia bisa ngerebut kamu dari tangan aku”
            Kali ini Sivia terdiam, bingung harus mengatakan apa pada Alvin. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Alvin akan berkata seperti itu padanya.
Hening. Alvin dan Sivia sama-sama larut dalam keheningan. Mereka juga sama-sama menahan hasrat didalam hati untuk segera saling merengkuh satu sama lain, melampiaskan rindu yang selama 5 tahun ini mereka pendam sendiri.


‘Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya? Bagaimana caranya membuat kamu mengerti bahwa sampai saat ini aku masih sangat mencintai kamu, Sivia? Bagaimana caranya supaya kamu tahu, bahwa sebenarnya aku nggak pernah ikhlas ngeliat kamu sama Kak Cakka? tolong katakan apa yang harus aku lakukan sekarang?' Batin Alvin lalu tersenyum penuh kepedihan.


****

            Alvin dan Sivia kembali hotel ketika hari sudah beranjak malam. Seharian ini Alvin mengajak Sivia jalan-jalan melepas penat mengelilingi kota Denpasar. Dan selama 5 tahun terakhir ini, Sivia tidak pernah merasa sebahagia ketika Alvin mengajaknya jalan-jalan. Hari ini Sivia benar-benar merasa bebas dan lepas tanpa kekangan apa-apa. Dan Sivia sangat berterimakasih pada Alvin.
            “makasih ya Vin” kata Sivia sebelum ia turun dari mobil,
            “buat?” Tanya Alvin,
            “buat semuanya. Jujur, hari ini aku seneeenggg banget. Coba aja kalo Rio, Ify dan Shilla ada bersama kita, pasti rasanya akan lebih seru lagi”
            “iya” jawab Alvin singkat. Karena merasa bingung harus berkata apa lagi, Sivia akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam mobil.
            “ya udah, Vin. Aku masuk ke hotel duluan ya? Kayaknya Kak Cakka udah nungguin aku. Dari tadi ponsel aku mati, batre nya low”
            “iya” jawab Alvin lagi. Dan jujur saja, Sivia merasa ada yang aneh dengan Alvin. Sejak diperjalanan pulang tadi, Alvin sama sekali tidak berkata apa-apa. Bahkan Alvin tidak akan mau mengobrol jika saja Sivia tidak memulai duluan.
            “sampe ketemu besok, Alvin. Take care, ya?” tanpa sadar Sivia menyentuh pipi Alvin lalu membelainya lembut. Alvin sedikit kaget dengan perlakuan Sivia itu.
            Dan tepat ketika Sivia akan membuka pintu mobil, Alvin langsung menarik lengan Sivia dan membawanya kedalam pelukannya yang erat.
            “Alvin…” ujar Sivia yang merasa sedikit terkejut. Kerja jantungnya tiba-tiba saja bertambah 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.
            “bisa kan kamu peluk aku? Sebentaaar aja, Vi…”
            “tapi…”
            “sebentar aja”
            Ragu-ragu Sivia mengangguk. Perlahan tapi pasti Sivia mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Alvin. Saat itu juga, Alvin langsung menghela nafas leganya,
            “terimakasih Sivia…. Terimakasih” Alvin mengecup lembut puncak kepala Sivia. Sivia memejamkan matanya untuk beberapa saat ketika bibir lembut nan hangat milik Alvin mendarat tepat dipuncak kepalanya. Kehangatan inilah yang selama 5 tahun terakhir ini sangat Sivia rindukan. Kehangatan yang bahkan tidak mampu Cakka berikan padanya. Dalam keheningan itu, Sivia menitikan air matanya.
            “aku boleh jujur sama kamu, Sivia?”
            Sivia hanya mampu mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kalimatpun,

            “aku masih mencintai kamu… aku masih sangat mencintai kamu….” Bisik Alvin pelan didepan telinga Sivia.
            Saat itu juga Sivia merasakan dadanya bergemuruh. Benarkah apa yang Alvin katakan itu? Benarkah Alvin masih mencintainya? Butuh waktu yang cukup lama bagi Sivia untuk bisa mencerna perkataan Alvin barusan.
            “Alvin, kamu—“ Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya seerat mungkin. Alvin menunduk lalu mengangguk beberapa kali,
            “ya… semuanya benar”
            “tapi…” Alvin mendorong pelan kepala Sivia lalu mengecup keningnya dengan lembut. Alvin melakukannya agak lama. Air mata Sivia semakin deras menetes. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi disaat mereka telah sama-sama ada yang memiliki?
            “sekarang kamu masuk gih. Kak Cakka pasti udah nungguin kamu”
            “Alvin, aku—“
            “masuk sekarang, Via. Aku nggak mau Kak Cakka curiga”
            Sivia mengangguk sekali lalu keluar dari dalam mobil. Saat itu Alvin langsung membuang tatapannya kearah lain. Ada sedikit perasaan lega dihati kecilnya ketika ia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Sivia.
            Sivia terkejut bukan main ketika ia melihat sosok Cakka yang tengah menunggunya tidak jauh dari tempat Alvin memarkirkan mobilnya. Ekspresi Cakka kali ini benar-benar tidak tertebak.
            “Kak Cakka?” gumam Sivia pelan. Mendengar Sivia membawa-bawa nama Cakka, Alvin langsung mengikuti arah pandangan Sivia. Dan disana benar-benar ada Cakka. Alvin mulai takut, takut kalau-kalau Cakka melihat semua apa yang telah ia lakukan dengan Sivia tadi.
            Sivia menutup kembali pintu mobil lalu berjalan perlahan menghampiri Cakka dengan suasana hati yang tidak karuan. Antara takut, menyesal, dan semua rasa yang benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman.
            “kamu darimana saja?” Tanya Cakka ketika Sivia sudah berdiri dihadapannya,
            “tadi… aku udah ngelakuin fitting baju, Alvin yang nganterin”
            “aku tau. Tapi setelahnya kalian kemana?”
            “kami… kami—“
            “aku cemas. Ponsel kamu juga mati, dan hal itu semakin membuat aku cemas, aku fikir terjadi sesuatu sama kamu”
            “maaf udah bikin Kak Cakka cemas” sesal Sivia seraya menunduk dalam. Ia sama sekali tidak berani jika harus beradu pandang dengan Cakka.
            “nggak apa-apa, tapi lain kali jangan kamu ulangi lagi ya?”
            “iya Kak Cakka, aku janji. Aku janji nggak akan ngulangin lagi”
            “ya udah, sekarang kita masuk ya? Aku udah masak masakan kesukaan kamu”
            Sivia hanya mengangguk. Cakka menarik lengan Sivia lalu mencium keningnya perlahan. Tidak lama Cakkapun merangkul pundak Sivia lalu membawanya masuk kedalam hotel.
            Cakka menoleh kebekalang. Kedua matanya tertuju pada sosok Alvin yang ketika itu tengah berdiri disamping mobilnya seraya melihat kearah mereka dengan pandangan sedih. Cakka bisa melihat dengan sangat jelas kedua mata Alvin memerah menahan tangis.

            “jangan kalian fikir aku tidak melihat semuanya. Aku lihat semuanya, bahkan dengan sangat jelas” batin Cakka sambil terus berjalan. Ia melepaskan tatapannya dari Alvin dan semakin mempererat rangkulannya pada pundak Sivia.


            “kamu emang lebih pantes sama Kak Cakka, Sivia…”



                                    BERSAMBUNG….




3 comments: