Alvin duduk diatas sebuah sofa sambil
membaca-baca majalah sembari menunggu Sivia yang tengah melakukan fitting baju.
Jika ingin jujur, sebenarnya saat ini fikiran Alvin tidak seratus persen
tertuju pada majalah yang sedang ia baca. Kejadian dalam mobil tadi terus
membayang-bayangi fikirannya dan membuat semuanya terasa kacau. Alvin mengeram
pelan lalu melepaskan majalah yang sejak
tadi ia pegang begitu saja diatas meja. Alvin memegangi kepalanya yang terasa
sedikit berdenyut. Setelah ini apa yang harus ia lakukan? Ia tahu kalau Sivia
masih mencintainya, tapi masakah Alvin tega merebut Sivia begitu saja dari
tangan Cakka? Alvin rasa ia tidak akan sejahat itu. Tidak akan pernah.
3
menit kemudian, pintu yang ada dihadapan Alvin terbuka secara perlahan. Dari
balik pintu itu menyembullah Sivia bersama Agni. Selain menjadi Sahabat dekat
dari Cakka dan Sivia, Agni juga adalah seorang designer muda yang dipercayai
oleh Cakka dan Sivia untuk merancang pakaian yang akan mereka kenakan saat acara
pertunangan nanti. Sivia terlihat begitu mempesona dengan Gaun Putih yang
menutupi hingga mata kakinya. Alvin terpana untuk beberapa saat memandangi
keindahan yang ada dihadapannya kali ini. Tapi sayangnya keindahan itu sudah
bukan miliknya lagi, Alvin telah menyia-nyikannya dimasa lalu hingga kini
menyisakan penyesalan yang amat mendalam.
Sivia
tersenyum canggung pada Alvin lalu menunduk malu. Ada sedikit rasa miris dihati
kecilnya. Ia gamang memikirkan beberapa hari lagi ia akan benar-benar resmi
menjadi tunangan Cakka. Dalam benaknya Sivia mulai berfikir, seandainya saja
ada yang bisa ia lakukan agar bisa mundur dari semua ini, apapun itu akan Sivia
lakukan. Tapi sayangnya, tidak ada satu hal pun yang bisa ia lakukan. Ia sudah
terlanjur memilih.
“Cantik”
puji Alvin tiba-tiba yang langsung membuat kedua pipi chubby Sivia bersemu
merah. Sivia tersenyum kecil tanpa berani menatap kedua mata Alvin.
“Gimana
kalo kita pake Alvin aja, Vi? gue rasa postur tubuhnya sama Cakka itu sama
persis deh” kata Agni seraya mengamati tubuh Alvin baik-baik.
“jangan”
kata Sivia cepat-cepat.
“memangnya
ada apa?” Tanya Alvin tak paham.
Agni
tersenyum lalu berjalan perlahan
mendekati Alvin.
“begini,
hari ini sebenernya Cakka harus melakukan fitting baju bersama Sivia, tapi
karna Cakka sibuk dan berhalangan hadir, jadi gue mau lo dulu yang nyoba baju
yang akan Cakka kenakan nanti. Kalo kita harus nungguin Cakka lagi sampe dia
nggak sibuk, itu akan makan waktu lagi, sementara kan pertunangan Sivia dan
Cakka sudah semakin dekat. Gimana? lo mau kan?”
“Agni
jangan ngaco deh, Alvin udah pasti nggak mau” kata Sivia sambil melipat kedua
tangannya didepan dada lalu membuang wajahnya kearah lain.
Alvin
tersenyum jahil, ia menatap Sivia dengan lembut lantas berkata,
“siapa
bilang aku nggak mau? Aku mau, bahkan sangat mau” Sivia yang kaget langsung
menatap Alvin dengan pandangan tidak percaya.
“EXCELLENT!!”
Pekik Agni sambil mengedipkan salah satu matanya.
****
“kenapa
kamu nggak pernah bilang selama ini sama Mami kalo tunangan kamu itu Sivia,
Kka? Dan kenapa kamu malah nyembunyiin semua ini dari kita? Kamu tahu kan kalo
selama 5 tahun terakhir ini Alvin terus nyariin Via?” kata Mami ketika dirinya
dengan Cakka hanya berdua saja ditepi kolam renang hotel.
Cakka
menghela nafas panjangnya. Sebelumnya ia sudah menduga bahwa Mami pasti akan
berkata seperti itu padanya. Dan mau tidak mau, Cakka harus tetap memberi
jawabannya, biar semuanya jelas.
“waktu
Sivia pergi ninggalin Alvin 5 tahun yang lalu, sebenernya Cakka udah tau kalo
Sivia pergi ke Bali. Sivia cerita semuanya sama Cakka. Makanya waktu itu Cakka
bersikeras minta sama Papi buat mercayain hotel ini sama Cakka. 2 tahun
kemudian, Sivia dan keluarganya pindah ke Surabaya, tapi semenjak itu, setiap
akhir pekan Cakka selalu pergi ke Surabaya buat nemuin Via, dari sana kita
semakin deket. Tapi Sumpah Mam, pertunangan ini bukan Cakka yang minta,
melainkan Sivia”
“Sivia
yang minta?”
“iya.
Dan Sivia juga minta supaya aku tetap merahasiakan keberadaannya dari Alvin,
Sivia nggak mau Alvin tau dimana dia berada. Hingga pada suatu ketika, Sivia
minta supaya kami bertunangan, dan jujur, Cakka musti harus berfikir seribu
kali buat bisa bilang Iya, Mam. Cakka tau bahwa saat itu Sivia masih sangat
mencintai Alvin, Cakka memang mencintai Sivia, tapi bukan berarti Cakka bakalan
memaksa dia buat bisa nerima Cakka, nggak Mam, Cakka nggak mau ngelakuin itu.
Tapi Sivia selalu aja bilang, dia akan mencintai Cakka sebagaimana Cakka mencintai
dia. Sivia selalu ngeyakinin Cakka, untuk itulah Cakka akhirnya menyetujui
pertunangan ini”
“tapi
semuanya nggak segampang itu Mam, 5 tahun berlalu tapi Sivia masih saja
mencintai Alvin, bahkan sampai detik inipun Sivia masih mencintai Alvin. Sivia
hanya berusaha untuk melawan hatinya, itu saja Mam”
“dan
kamu pura-pura tidak tahu akan hal itu?”
“iya
Mam, dan Cakka mengaku kalo Cakka memang jahat, sangat jahat. Kami sudah
berjalan sejauh ini, dan Cakka nggak mungkin ngelepasin Sivia begitu saja, Mam,
nggak mungkin”
“tapi
Nak, kamu tau kan kalo Alvin dan Sivia saling mencintai satu sama lain, mau
sampe kapan kamu nyiksa mereka?”
“Cakka
Cuma butuh sedikit waktu lagi, Mam. Sedikittt lagi, Cakka akan buktiin kalo
Sivia bisa mencintai Cakka. Iya, Cakka akan buktiin itu pada kalian semua,
Cakka janji, Mam. Cakka janji…”
****
Alvin
keluar dari dalam ruang ganti dengan stelan jas serba putih. Sebuah dasi hitam
yang ia kenakan semakin membuat Alvin terlihat menawan. Bahkan saking
menawannya, Sivia dan Agni saja sampai melongo melihat penampilan Alvin yang
begitu ‘WOW’.
Alvin
memamerkan senyuman mautnya pada kedua Gadis itu, ia sedikit mengangkat kerah
bajunya lantas berkata,
“gimana?
Keren kan?”
Agni
hanya bisa mengangguk tanpa mampu mengeluarkan sedikitpun komentar. Ia
mengangkat kedua jempolnya yang langsung disambut oleh kedipan mata dari Alvin.
Sama seperti Agni, saat ini Sivia juga tidak mampu berkata apa-apa manakala
melihat penampilan Alvin. Alvin terlihat sangat cocok dengan stelan jas serba
putih itu. Dalam benaknya Sivia mulai berfikir, andai saja Alvin yang
bertunangan dengannya, bukan Cakka.
Agni
dan Sivia langsung membuyarkan keterpanaan mereka ketika Handphone milik Agni
berbunyi. Agni melihat layar ponselnya sejenak lalu segera memohon diri pada
Alvin dan Sivia untuk mengangkat telfonnya.
Beberapa
saat setelah kepergian Agni, Alvin langsung memfokuskan tatapannya pada Sivia
yang ketika itu tengah duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Alvin menatap
Sivia tanpa henti dengan senyuman manis yang merekah diwajah tampannya.
Menyadari bahwa Alvin sedang menatapnya lekat-lekat, Sivia mulai salah tingkah
sendiri. Tiga… dua… satu… Sivia akhirnya memberanikan dirinya untuk mengangkat
wajahnya dan membalas tatapan Alvin.
“kenapa
ngeliatnya sampe kayak gitu? Aku aneh ya?” Tanya Sivia yang terdengar jelas
berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. Alvin tersenyum jahil lalu berjalan
perlahan menghampiri Sivia. Alvin menunduk untuk mensejajarkan posisi wajahnya
dengan posisi wajah Sivia, Alvin semakin lekat menatap setiap centi permukaan
wajah Sivia. Tidak lama Alvin berbisik pelan, tepat didepan wajah Sivia,
“jujur,
aku nggak pernah ngeliat kamu secantik ini sebelumnya”
Sivia
langsung merinding seketika saat Alvin mengeluarkan pujian yang terdengar begitu
manis itu. Sivia menunduk lalu memalingkan wajahnya kearah lain. Ia berusaha
untuk tidak terlalu terburu-terburu terpikat akan pujian itu. Sivia harus ingat
bahwa saat ini ia sudah menjadi milik Cakka, ia tidak boleh seperti ini apapun
keadaannya. Mungkin Alvin juga hanya ingin menggodanya saja, bukankah saat ini
Alvin sudah memiliki Pricilla? Yang Sivia tahu adalah, Alvin begitu mencintai
Pricilla. Jadi tidak mungkin kan Alvin bersungguh-sungguh dengan rayuannya itu?
“nggak
usah ngomong kayak gitu. Nanti kalo Pricilla tau kamu godain cewek lain dia
bakalan marah”
“oya?”
“hmmm”
Sivia mengangguk pelan. Ia semakin salah tingkah.
Alvin
tiba-tiba memegang kedua pergelangan tangan Sivia lalu menuntun Gadis itu untuk
berdiri. Awalnya Sivia kaget, tapi akhirnya ia menerima juga perlakuan Alvin
itu. Alvin menyentuh kedua pundak Sivia lalu memutarnya hingga berbalik dan
mengarah tepat kearah cermin. Alvin yang berdiri dibelakang Sivia, malah
memeluk Gadis itu dengan erat dari belakang. Sivia terlonjak kaget, kedua
pipinya semakin bersemu merah, sementara detakan jantungnya yang semakin
berdegub kencang sama sekali tidak bisa ia kendalikan.
Alvin
menatap bayangan wajah Sivia lekat-lekat dicermin besar itu. Sivia juga
demikian, tatapan mata Alvin itu seketika menjelma menjadi sebuah magnet yang
sukses menarik penuh tatapan mata Sivia. Sivia ingin melepaskan tatapan matanya
dari Alvin, tapi pesona yang begitu kuat yang dimiliki oleh Pria itu membuat
Sivia tak berdaya. Pada akhirnya Sivia takluk diatas keindahan Alvin.
“apa
kamu ngerasain hal yang sama seperti apa yang aku rasain sekarang, Vi?”
“rasa
seperti apa yang kamu maksud? Bukankah rasa diantara kita sudah lama
menghilang?”
“kamu
bohong”
“Alvin—“
“kalo
aku mau ngerebut kamu dari Kak Cakka, apa kamu mau?”
“nggak”
“kenapa?”
“selama
ini Kak Cakka sudah mengorbankan banyak hal buat aku, Vin. Aku nggak bisa
ninggalin dia begitu saja, dan asal kamu tahu, pertunangan ini aku yang
menginginkan, jadi aku nggak mungkin mundur, sekalipun…. Sekalipun—“
“sekalipun?”
“sekalipun—“
“sekalipun
kamu ingin?”
“Alvin,
please kamu jangan pojokin aku kayak gini, aku nggak bisa. Sekarang kamu sudah
punya Pricill, terus apa lagi yang kamu mau dari aku? Apa?”
“ada
hal yang yang tidak pernah kamu tahu dan yang tidak pernah kamu mengerti,
Sivia”
“maksud
kamu?”
Dalam
satu sentakan kuat Alvin memutar tubuh Sivia hingga berhadapan dengannya. Alvin
menatap kedua bola mata Sivia sedalam mungkin. Detik ini juga Alvin seolah
ingin berteriak dihadapan Sivia, bahwa dari 5 tahun yang lalu hingga sekarang,
Sivia merupakan penguasa tunggal hatinya. Alvin ingin berteriak sekeras mungkin
dan berkata bahwa hanya Sivia lah yang ia cintai, Alvin ingin berteriak sekuat
ia mampu, bahwa kisah antara dirinya dengan Pricilla sudah lama berakhir. Alvin
benar-benar ingin membuat Gadis ini mengerti, sekarang juga, detik ini,
ditempat ini. Tapi ada sesuatu yang menahannya, sesuatu yang tidak pernah Alvin
mengerti. Alvin menggeleng perlahan, akhirnya ia telah kalah dengan memilih
untuk tetap memendam semuanya sendirian.
Alvin
melepaskan Sivia dari cengkramannya lantas berkata,
“nggak
usah difikirin. Aku tadi Cuma asal bicara”
Alvin
berbalik lalu melangkah perlahan kearah ruang ganti. Alvin ingin mengganti
pakaiannya sekarang juga. Ia merasa tidak pantas jika harus mengenakan pakaian
yang seharusnya Cakka kenakan lebih lama lagi. Alvin merasa sangat tidak
pantas.
“kamu
mau kemana?” Tanya Sivia tiba-tiba,
“aku
mau ganti baju. Nggak pantes aja rasanya aku pake bajunya Kak Cakka” jawab Alvin
tanpa sedikitpun menoleh kearah Sivia.
Tanpa
Alvin fikirkan sebelumnya, Sivia berlari kearahnya lalu memeluknya dari
belakang. Sivia menangis sekuat mungkin dipunggung Alvin, ia menumpahkan segala
tangisannya disana, tangisan juga kerinduan yang selama 5 tahun terakhir ini ia
pendam sendiri.
“Via—“
“aku
mohon Alvin, sebentar saja. Aku mau seperti ini sebentar saja… please…” pinta
Sivia dengan nada memohon. Semakin lama isakannya semakin kuat terdengar. Andai
saja Sivia bisa mengungkapkan semua apa yang ia rasakan selama ini. Andai saja
Sivia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Alvin. Andai saja Sivia bisa
menyatakan kerinduannya secara gamblang dihadapan Alvin. Ah… andai saja.
Kata
Andai Saja terus merong-rong batin Sivia tanpa henti. semakin lama semakin
terasa menyesakkan didada. Air mata itupun semakin deras menetes bersama
kepedihan hatinya.
Rasanya
Sivia ingin mengungkapkan semua apa yang ia rasakan selama ini pada Alvin. Tapi
kenyataan bahwa hati Alvin telah termiliki oleh Pricilla membuat Sivia harus
berfikir ulang dengan keinginannya itu. Ia tidak ingin memaksa Alvin untuk
tetap berada disisinya seperti yang dulu pernah ia lakukan. Ia tidak ingin
terluka lagi karna perasaan cinta bertepuk sebelah tangan. Maka biarkanlah
Sivia memeluk Alvin untuk beberapa saat saja. Biarkan Sivia menumpahkan segala
kerinduannya melalui pelukan itu.
Beberapa
detik kemudian Alvin berbalik lalu membawa Sivia kedalam dekapan hangatnya.
Tanpa diminta oleh Alvin sebelumnya, Sivia langsung saja membalas pelukan Alvin
itu. Pelukan yang pada kenyataannya sangat ia rindukan.
“hiks…
hiks… aku capek, aku capek…” kata Sivia dengan isakan yang begitu kuat.
Mendengar isakan Sivia itu, jantung Alvin seakan teriris oleh sembilu. Ia tahu
bahwa hingga saat ini Sivia masih mencintainya, Alvin juga tahu bahwa
peluangnya untuk merebut Sivia dari tangan Cakka sangat terbuka lebar, tapi
sekali lagi, Alvin tidak ingin melukai perasaan Cakka yang selama ini sudah
berkorban banyak hal untuk Sivia. Biarkanlah untuk kali ini Alvin yang berkorban.
Toh jika Sivia memang miliknya, suatu saat nanti, cepat ataupun lambat, Tuhan
pasti akan mempersatukan mereka kembali. Entah bagaimanapun caranya.
****
“Sivia
dan Kak Cakka akan segera bertunangan” kata Shilla sedikit kesal sambil
melepaskan sebuah undangan dihadapan Rio dan Ify. Rio dan Ify kaget, mereka
sama-sama melihat kearah undangan yang baru saja Shilla lepaskan dihadapan
mereka.
Rio
mengambil undangan itu lalu membaca apa isinya,
“lo
becanda kan, Shill? Sivia udah ngilang selama 5 tahun dan sekarang dia
tiba-tiba balik dengan membawa kabar kalo sebentar lagi dia bakalan tunangan
sama Kak Cakka? Sulit dipercaya” kata Ify yang belum bisa mempercayai dengan
apa yang baru saja Shilla katakan. Shilla tersenyum sinis lantas berkata,
“lo
fikir gue juga percaya? Nggak Fy, sama sekali nggak percaya”
“jadi
intinya Sivia selama ini sembunyi di Bali? Dan nggak ada satupun yang tahu
tentang itu kecuali Kak Cakka?”
“bukan
di Bali, tapi Surabaya. Alvin udah cerita semuanya sama gue semalem”
“Kalo
Sivia di Surabaya dan Kak Cakka di Bali, terus gimana ceritanya mereka bisa
ketemu bahkan sampe tunangan?” ujar Rio sedikit sanksi. Shilla menatap kedua
sahabatnya itu secara bergantian, tidak lama Shilla berkata,
“hal
itulah yang akan gue certain sama kalian, sekarang juga”
Shilla
pun memulai ceritanya. Rio dan Ify mendengarkannya baik-baik.
****
Alvin
duduk diatas mobilnya, sementara Sivia ia lebih memilih berdiri didepan mobil
Alvin sambil melihat hamparan pantai yang membentang dihadapannya. Semilir angin
pantai berhembus dan memainkan anak rambut Sivia. Sedari tadi, Alvin sama
sekali tidak ada bosan-bosannya ketika melihat kecantikan yang terpancar dari wajah
Sivia meskipun hanya dari samping saja.
“kamu
kenapa sih Vin? Ngeliatin aku terus? Nggak bosen apa?” kata Sivia yang mulai
menyadari bahwa Alvin terus saja menatapnya tanpa henti. Alvin tersenyum kecil.
“kenapa?
Nggak boleh?”
“bukan
begitu, Cuma aja—“ Sivia bingung harus melanjutkan perkataannya atau tidak. Sementara
Sivia tengah dilanda kebingungan, Alvin malah menunggu jawaban dari Sivia.
“kok
nggak dilanjutin?”
“nggak
apa-apa. Oya, Ify, Shilla sama Rio apa kabar ya? Udah lama aku nggak ketemu
sama mereka, jujur aku kangen. Tadi pagi aku udah ngirim undangan buat mereka,
semoga aja udah nyampe” Sivia tiba-tiba mengalihkan topic, dan Alvin tahu betul
apa maksud Sivia itu.
“yang
jelas mereka sama kecewanya kayak aku sekarang”
“kecewa?”
Sivia melirik kearah Alvin dengan tatapan bingung.
“kamu
fikir sahabat mana yang nggak kecewa, setelah hampir selama 5 tahun menghilang
tiba-tiba Sahabatnya kembali lagi dengan membawa kabar pertunangan?”
Sivia
menunduk dalam. Ia mulai menyadari kesalahannya itu. Ya… memang tidak
seharusnya Sivia bersembunyi hingga 5 tahun lamanya tanpa kabar apapun.
“aku
salah” ujar Sivia penuh penyesalan.
“kamu
emang salah” Alvin turun dari atas mobilnya lalu berdiri disamping Sivia. Alvin
memegang kedua pundak Sivia lalu memutar tubuh Gadis itu hingga berhadapan
dengannya.
Sivia
masih menunduk dalam, ia tidak punya keberanian yang cukup untuk sekedar
mengangkat wajahnya dan menantang tatapan Alvin itu. Alvin mendesah pelan,
perlahan tangan kanannya terangkat lalu menyentuh dagu Sivia dengan lembut. Dalam
gerakan yang amat pelan, Alvin mengangkat wajah Sivia hingga berhadapan dengan
wajahnya sekarang.
“mau
berjanji sesuatu sama aku?”
“a…
apa?” Sivia mulai gugup,
“seberat
apapun masalah kita, sesulit apapun bagi kita untuk bisa menemukan jalan
keluar, aku minta kamu jangan pernah sembunyi lagi dari semua orang. Kalo kamu
emang mau sembunyi dari aku, silahkan. Tapi please, jangan pernah kamu sembunyi
dari orang lain terutama sahabat-sahabat kita. Mereka cukup terpukul dengan
kepergian kamu 5 tahun yang lalu….”
“maafin
aku, Alvin, tapi waktu itu aku bener-bener nggak tau harus ngelakuin apa. Kamu tau
kan? Saat itu… saat itu aku begitu mencintai kamu, tapi kamu… tapi kamu… hiks…”
isakan itu akhirnya terdengar lagi sebelum Sivia sempat melanjutkan
perkataannya. Sivia merasa tidak kuasa jika harus menahan semuanya lebih lama
lagi. Alvin harus tahu.
“iya
aku tahu, Via… aku tahu, dan aku sangat menyesal. Asal kamu tau itu”
“aku
Cuma ngerasa kalo semua itu nggak fair buat aku, Alvin. Tapi rasanya percuma
saja kalo saat ini kita bahas masa lalu. Toh sekarang kita udah sama-sama
bahagia dengan pasangan kita masing-masing, aku dengan Kak Cakka, dan kamu…
kamu dengan Pricill…”
“iya…
kamu benar Sivia. Sekarang kita udah sama-sama bahagia sama pasangan kita
masing-masing, jadi rasanya sangat nggak pantes kalo kita bahas masa lalu”
Alvin
melepaskan kedua pundak Sivia dari cengkramannya lalu membuang tatapannya
kearah lain. Apa benar Sivia bahagia hidup bersama Cakka?
“Pricill
beruntung ya bisa dapetin cowok kayak kamu” ucap Sivia pada akhirnya setelah sekian
lama keheningan membungkus kebersamaan mereka.
"emangnya
aku cowok kayak gimana?" tanya Alvin kembali tanpa sedikitpun melihat
kearah Sivia. Sivia menghela nafas beratnya, ia membenahi posisinya lalu
melirik sejenak kearah Alvin.
“aku nggak
tau. Yang jelas Pricill beruntung banget bisa dapetin cowok kayak kamu”
“Kak Cakka
juga beruntung”
“beruntung
karna bisa dapetin cewek kayak aku?” sambar Sivia cepat. Alvin menoleh kearah
Sivia lalu terkekeh pelan,
“haha… ya
nggak lah”
“terus?”
“Kak Cakka
beruntung karna dia bisa ngerebut kamu dari tangan aku”
Kali ini
Sivia terdiam, bingung harus mengatakan apa pada Alvin. Ia tidak pernah
menyangka sebelumnya bahwa Alvin akan berkata seperti itu padanya.
Hening. Alvin dan Sivia sama-sama
larut dalam keheningan. Mereka juga sama-sama menahan hasrat didalam hati untuk
segera saling merengkuh satu sama lain, melampiaskan rindu yang selama 5 tahun
ini mereka pendam sendiri.
‘Bagaimana
aku bisa menjelaskan semuanya? Bagaimana caranya membuat kamu mengerti bahwa
sampai saat ini aku masih sangat mencintai kamu, Sivia? Bagaimana caranya
supaya kamu tahu, bahwa sebenarnya aku nggak pernah ikhlas ngeliat kamu sama
Kak Cakka? tolong katakan apa yang harus aku lakukan sekarang?' Batin
Alvin lalu tersenyum penuh kepedihan.
****
Alvin dan
Sivia kembali hotel ketika hari sudah beranjak malam. Seharian ini Alvin
mengajak Sivia jalan-jalan melepas penat mengelilingi kota Denpasar. Dan selama
5 tahun terakhir ini, Sivia tidak pernah merasa sebahagia ketika Alvin
mengajaknya jalan-jalan. Hari ini Sivia benar-benar merasa bebas dan lepas
tanpa kekangan apa-apa. Dan Sivia sangat berterimakasih pada Alvin.
“makasih ya
Vin” kata Sivia sebelum ia turun dari mobil,
“buat?” Tanya
Alvin,
“buat
semuanya. Jujur, hari ini aku seneeenggg banget. Coba aja kalo Rio, Ify dan
Shilla ada bersama kita, pasti rasanya akan lebih seru lagi”
“iya” jawab
Alvin singkat. Karena merasa bingung harus berkata apa lagi, Sivia akhirnya
memutuskan untuk keluar dari dalam mobil.
“ya udah,
Vin. Aku masuk ke hotel duluan ya? Kayaknya Kak Cakka udah nungguin aku. Dari tadi
ponsel aku mati, batre nya low”
“iya” jawab
Alvin lagi. Dan jujur saja, Sivia merasa ada yang aneh dengan Alvin. Sejak diperjalanan
pulang tadi, Alvin sama sekali tidak berkata apa-apa. Bahkan Alvin tidak akan
mau mengobrol jika saja Sivia tidak memulai duluan.
“sampe
ketemu besok, Alvin. Take care, ya?” tanpa sadar Sivia menyentuh pipi Alvin
lalu membelainya lembut. Alvin sedikit kaget dengan perlakuan Sivia itu.
Dan tepat
ketika Sivia akan membuka pintu mobil, Alvin langsung menarik lengan Sivia dan
membawanya kedalam pelukannya yang erat.
“Alvin…”
ujar Sivia yang merasa sedikit terkejut. Kerja jantungnya tiba-tiba saja
bertambah 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.
“bisa kan
kamu peluk aku? Sebentaaar aja, Vi…”
“tapi…”
“sebentar
aja”
Ragu-ragu
Sivia mengangguk. Perlahan tapi pasti Sivia mengangkat kedua tangannya lalu
membalas pelukan Alvin. Saat itu juga, Alvin langsung menghela nafas leganya,
“terimakasih
Sivia…. Terimakasih” Alvin mengecup lembut puncak kepala Sivia. Sivia memejamkan
matanya untuk beberapa saat ketika bibir lembut nan hangat milik Alvin mendarat
tepat dipuncak kepalanya. Kehangatan inilah yang selama 5 tahun terakhir ini
sangat Sivia rindukan. Kehangatan yang bahkan tidak mampu Cakka berikan
padanya. Dalam keheningan itu, Sivia menitikan air matanya.
“aku boleh
jujur sama kamu, Sivia?”
Sivia hanya
mampu mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kalimatpun,
“aku masih
mencintai kamu… aku masih sangat mencintai kamu….” Bisik Alvin pelan didepan
telinga Sivia.
Saat itu
juga Sivia merasakan dadanya bergemuruh. Benarkah apa yang Alvin katakan itu? Benarkah
Alvin masih mencintainya? Butuh waktu yang cukup lama bagi Sivia untuk bisa mencerna
perkataan Alvin barusan.
“Alvin, kamu—“
Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia meraih kedua tangan Sivia lalu
menggenggamnya seerat mungkin. Alvin menunduk lalu mengangguk beberapa kali,
“ya…
semuanya benar”
“tapi…”
Alvin mendorong pelan kepala Sivia lalu mengecup keningnya dengan lembut. Alvin
melakukannya agak lama. Air mata Sivia semakin deras menetes. Bagaimana mungkin
semua ini bisa terjadi disaat mereka telah sama-sama ada yang memiliki?
“sekarang
kamu masuk gih. Kak Cakka pasti udah nungguin kamu”
“Alvin, aku—“
“masuk
sekarang, Via. Aku nggak mau Kak Cakka curiga”
Sivia
mengangguk sekali lalu keluar dari dalam mobil. Saat itu Alvin langsung
membuang tatapannya kearah lain. Ada sedikit perasaan lega dihati kecilnya
ketika ia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Sivia.
Sivia
terkejut bukan main ketika ia melihat sosok Cakka yang tengah menunggunya tidak
jauh dari tempat Alvin memarkirkan mobilnya. Ekspresi Cakka kali ini
benar-benar tidak tertebak.
“Kak Cakka?”
gumam Sivia pelan. Mendengar Sivia membawa-bawa nama Cakka, Alvin langsung
mengikuti arah pandangan Sivia. Dan disana benar-benar ada Cakka. Alvin mulai
takut, takut kalau-kalau Cakka melihat semua apa yang telah ia lakukan dengan
Sivia tadi.
Sivia
menutup kembali pintu mobil lalu berjalan perlahan menghampiri Cakka dengan
suasana hati yang tidak karuan. Antara takut, menyesal, dan semua rasa yang
benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman.
“kamu
darimana saja?” Tanya Cakka ketika Sivia sudah berdiri dihadapannya,
“tadi… aku
udah ngelakuin fitting baju, Alvin yang nganterin”
“aku tau. Tapi
setelahnya kalian kemana?”
“kami… kami—“
“aku cemas. Ponsel
kamu juga mati, dan hal itu semakin membuat aku cemas, aku fikir terjadi
sesuatu sama kamu”
“maaf udah
bikin Kak Cakka cemas” sesal Sivia seraya menunduk dalam. Ia sama sekali tidak
berani jika harus beradu pandang dengan Cakka.
“nggak
apa-apa, tapi lain kali jangan kamu ulangi lagi ya?”
“iya Kak
Cakka, aku janji. Aku janji nggak akan ngulangin lagi”
“ya udah,
sekarang kita masuk ya? Aku udah masak masakan kesukaan kamu”
Sivia hanya
mengangguk. Cakka menarik lengan Sivia lalu mencium keningnya perlahan. Tidak lama
Cakkapun merangkul pundak Sivia lalu membawanya masuk kedalam hotel.
Cakka
menoleh kebekalang. Kedua matanya tertuju pada sosok Alvin yang ketika itu
tengah berdiri disamping mobilnya seraya melihat kearah mereka dengan pandangan
sedih. Cakka bisa melihat dengan sangat jelas kedua mata Alvin memerah menahan
tangis.
“jangan kalian fikir aku tidak
melihat semuanya. Aku lihat semuanya, bahkan dengan sangat jelas” batin
Cakka sambil terus berjalan. Ia melepaskan tatapannya dari Alvin dan semakin
mempererat rangkulannya pada pundak Sivia.
“kamu emang
lebih pantes sama Kak Cakka, Sivia…”
BERSAMBUNG….




mna lanjutannya ?
ReplyDeleteKak lanjutannya mana,?
ReplyDeleteKak lanjut donk seru nih
ReplyDelete