“ah ga’ mungkin lah Shill, Alvin suka sama gue ?” ucap Sivia sambil tersenyum lalu kembali membaca novelnya,
“nah buktinya, Alvin selalu ngedeketin loe dan ngajak loe kemana-mana “
“tapi itu ga’ bisa ngebuktiin apa-apa kali Shill, siapa tau aja kan
Alvin suka nya sama loe “ ucap Sivia asal, Shilla langsung terkejut dan
tertawa heboh,
“hahahahahhahahahahaa....”
“kenapa ngakak loe ? ada yang lucu ?”
“statmen loe yang lucu, kalo Alvin suka sama loe itu masih mending,
lah kalo Alvin suka sama gue, itu sangat amat ga’ mungkin, semua orang
juga tau, kalo gue musuhan sama dia, ada-ada aja loe ya Vi ?”
“ya, bisa aja kan..”
“ga’ mungkin !”
“seandainya kalo bener Alvin suka sama loe terus tiba-tiba nembak loe gimana ?”
“ga’ tau deh, lagian itu ga’ mungkin terjadi !” ucap Shilla seraya meraih gelas minuman yang ada dimeja lampu Sivia,
“loe suka sama Alvin ?” tanya Sivia pada Shilla yang waktu itu
sedang minum, sontak saja Shilla yang mendengar pertanyaan Sivia itu
langsung tersedak, tanpa sengaja ia menyembur muka Sivia dengan air yang
ada dimulutnya, Sivia yang merasa sebal langsung berkata,
“SHILLAAA..JOROK BANGET SIH LOE “
“lagian loe, nanya kok ga’ masuk akal banget, gue ga’ mungkin suka
sama Alvin, sampai kapanpun ga’ akan suka sama dia, sampe bumi yang
bulet ini jadi kotak, gue ga’ akan pernah suka sama Alvin, you know..?”
“tapi ga’ usah pake nyembur segala kali Shill..”
“ya maaf deh.. gue kan kaget loe tanya kaya’ gitu “
^_^
baru saja Sivia memasuki gerbang sekolah, dari kejauhan Alvin memanggilnya,
“Via..!” Sivia menghentikan langkahnya, Alvin berlari-lari kecil menghampirinya,
“kenapa Vin ?”
“nanti pulang sekolah kamu ada acara ?” Sivia tampak berfikir, tidak lama ia berkata,
“eeee..enggak..! kenapa emang ?”
“kita jalan lagi ya ?” mendengar ucapan Alvin, Sivia benar-benar gembira,
“Alvin, aku seneng banget tau ga’ kamu ajak jalan, walaupun kamu ga’
inget aku, tapi aku tetep seneng “ batin Sivia seraya terus menatap
Alvin,
“Via..! kamu kok diem ? kamu ga’ mau jalan sama aku ?”
“ya mau lah Vin “
“thanks ya, oya, Shilla mana ?”
“Shilla ?”
“he-e..” Sivia menatap sekeliling untuk mencari penampakan Shilla,
“nah tu Shilla “ ucap Sivia sambil menunjuk kearah gerbang, tanpa
berkata apa-apa Alvin langsung berlari kearah gerbang untuk menghampiri
Shilla,
“pagi Shill..” sapa Alvin pada Shilla, Shilla yang merasa heran dengan keramahan Alvin pun berkata,
“idih.. sejak kapan loe ramah sama gue ?”
“sejak kapan aja boleehh..”
“aneh lu, bener-bener aneh, ckckck..” saat Shilla akan melangkah pergi, Alvin malah menarik lengan Shilla,
“eh..eh..ngapain loe pegang-pegang, lepas ga’..?”
“kenapa sih kita ga’ temenan aja ? kata Bu Guru, musuhan itu dosa lho..”
“bodo’..gue ogah temenan sama loe , weekkss..” ucap Shilla sambil menjulurkan lidahnya kearah Alvin,
“kita temenan aja ya..?” Shilla menggeleng,
“ayo lah...!”
“idih kok loe maksa sih ?”
“gue ama Sivia aja bisa temenan, kenapa kita enggak ?”
“kan loe punya masalah sama gue, bukan sama sama Via, yee..”
“kita temenan ya..?” ucap Alvin sekali lagi, Shilla mulai memasang
ancang-ancang untuk kabur dari Alvin, Shilla menarik nafas dalam-dalam
lalu tanpa ampun, menginjak kaki Alvin keras-keras, Alvin meringis
kesakitan,
“KABUUURRRRR.....!!!!!” teriak Shilla seraya berlari, saat berlari
Shilla sempat menoleh ke belakang lalu menjulurkan lidahnya untuk Alvin,
Alvin berteriak,
“SHILL....KITA TEMENAN YA....??” Shilla pun membalas,
“GUE FIKIR-FIKIR DULU..” ucap Shilla dari kejauhan, Shilla sudah menghentikan larinya,
“SAMPAI KAPAANN...?”
“SAMPAI LOE BISA NGURAS ABIS AIR LAUT.. WEEKKSS..” Shilla pun
melanjutkan larinya, Alvin pun mengejar Shilla, saat berlari mengejar
Shilla, Alvin melewati Sivia begitu saja,
“ALVIINN...!” panggil Sivia, tapi Alvin tidak mendengarkan panggilan
Sivia, ia tetap berlari mengejar Shilla, rasa kecewa dan cemburu
kembali terbesit dihati kecil Sivia.
Saat pulang sekolah, Alvin langsung mencari Sivia
dikelasnya, tidak lama menunggu, Shilla dan Sivia pun keluar dari kelas
mereka.
“hai Via, hai Shilla...”
“hai Vin “ jawab Sivia, sedangkan Shilla ia hanya diam,
“ya udah, kita jalan yuk !”
“yuk...!” Alvin dan Sivia sudah berjalan, mereka tidak sadar, kalau mereka meninggalkan Shilla,
“eehh...gue mau kalian apa-in ?” Alvin dan Sivia menoleh kearah Shilla,
“lagian loe , kenapa diem aja ?” ucap Sivia.
Mereka bertiga akhirnya jalan bersama, dengan posisi
Sivia ada ditengah-tengah, diantara Alvin dan Shilla. Saat mereka
berjalan menuju parkiran, secara perlahan, tanpa sepengetahuan Sivia,
Alvin diam-diam meraih tangan Shilla lalu menggenggamnya erat, Shilla
menatap Alvin dengan tatapan benci, tapi Alvin tidak peduli, ia tetap
menggenggam erat tangan Shilla, Shilla berusaha menarik tangannya dari
genggaman Alvin, tapi Alvin malah semakin erat menggenggam tangan
Shilla.
Tibalah mereka diparkiran, Alvin langsung mengambil
motornya, begitupun dengan Sivia. Alvin dan Sivia sudah menaiki motor
mereka masing-masing, sedangkan Shilla, ia masih diam mematung, Alvin
berkata pada Shilla,
“naik yuk, lu biar gue bonceng !”
“ogah..! eh Vi “
“kenapa ?”
“biar gue yang pake motor loe, loe sama Alvin noh “
“udah biar gue aja yang bonceng loe “
“Vi, gue yang bonceng loe deh, biarin aja si Shilla pake motor loe “
tentu saja Sivia merasa terkejut mendengarkan ucapan Alvin,
“tuh Vi, Si Alvin yang bonceng loe “
“yang bener Vin ?” tanya Sivia pada Alvin, Alvin hanya mengangguk,
Sivia pun turun dari motornya dan menaiki motor Alvin, Shilla langsung
menaiki motor Sivia, tanpa aba-aba, Shilla langsung menjalankan motor
Sivia, sementara Sivia, ia malah ragu untuk memegang pinggang Alvin,
Alvin yang merasakan keraguan Sivia pun berkata,
“pegangan aja Vi, ga’ apa-apa kok !” Sivia mengangguk lalu memegang pinggang Alvin,
“siaapp..?”
“yaa..” Alvin pun menjalankan motornya lalu mengejar Shilla yang waktu itu sudah jalan terlebih dahulu.
Alvin, Shilla dan Sivia berhenti disebuah Mall, mereka
memarkirkan motor mereka diparkiran motor, setelah itu merekapun
memasuki Mall secara bersamaan.
Saat melihat toko ice cream, Shilla langsung berlari kesana, melihat tingah konyol Shilla, Alvin pun berkata,
“dasar anak kecil !”
“Shilla emang gitu Vin, sikap nya emang kaya’ anak kecil, dia paling
suka dimanja, tapi walo begitu, sulit buat orang-orang, bahkan aku
sendiri, ngerti sama apa yang dia mau “
“oya ?” tanya Alvin antusias,
“iya.. ya udah kita ke Shilla yuk !”
“yuk...”
Setelah memesan ice cream Shilla langsung duduk disebuah meja, Alvin mendekatinya,
“minta dong Shill...!”
“yee minta-minta, beli dong loe “ ucap Shilla cuek sambil tetap memakan ice cream nya,
“mau aku pesenin Vin ?” tanya Sivia, Alvin pun mengangguk,
“boleh deh Vi ! thanks ya “ Sivia hanya mengangguk, Sivia pun
melangkah ketempat penjual Ice cream, Alvin mengikutinya dibelakang,
“Mbak, saya mau pesen dua buah ice crema, satunya cokelat stroberry, satunya lagi cokelat aja “
“ga’ pake Vanilla ?”
“jangan ! temen saya ga’ suka soalnya “ Alvin terkejut mendengar
ucapan Sivia, Alvin memang tidak menyukai vanilla, yang dia herankan,
dari mana Sivia tau, bahwa Alvin tidak suka Vanilla,
“Via, kok kamu tau sih, kalo aku ga’ suka Vanilla, aku kan ga’ pernah bilang ?”
“O..O..” Ucap Sivia sambil menutup mulutnya,
“Via ?”
“iya Vin ?”
“kok kamu tau aku ga’ suka vanilla ?”
“emang kamu ga’ suka vanilla ya ?” Alvin hanya mengangguk,
“YESS....!!!!!!! berarti tebakan aku bener !” ucap Sivia pura-pura ceria, Alvin tersenyum,
“oo..jadi kamu Cuma nebak doang ?”
“he-e..”
“wihi... tebakan kamu hebat banget Vi “
“hehehe..” Sivia hanya tersenyum pahit.
Alvin pun membawa ice cream pesanannya dan duduk disamping Shilla,
“rakus banget Shill ? ice cream loe kemana ?”
“kemana aja boleh “
“yeee....” Sivia pun datang, saat melihat bibir Alvin yang belepotan
karna memakan ice cream, Sivia pun mengambil tisu lalu mengelap mulut
Alvin,
“hati-hati Vin, jangan sampe belepotan “
Saat Sivia mengelap mulutnya, tiba-tiba saja Alvin
merasakan sakit yang tak tertahankan dibagian kepalanya, ia mengingat
sesuatu yang samar-samar lagi, Alvin juga merasa bahwa Sivia pernah
melakukan hal itu padanya dimasa lalu,
_flash back Alvin_
“makan es krim ga’ usah buru-buru Vin, ga’ ada yang
ngejer kamu kok, liat tuh sampe belepotan “ ucap gadis remaja mirip
Sivia didalam ingatan Alvin, gadis remaja mirip Sivia itupun mengelap
mulut Alvin menggunakan sebuah sapu tangan “
Rasa sakit dikepala Alvin semakin terasa saja, Alvin memegang kepalanya sambil berusaha menahan rasa sakitnya,
“arrghh...” teriakan Alvin masih pelan, Sivia dan Shilla mulai panik,
“Vin, kamu kenapa Vin ?”
“sakit...MENTARI, MENTARI, MENTARIII !!!!”teriak Alvin,
“aku disini Vin ! aku disini “ Ucap Sivia tanpa sadar, Shilla yang merasa bingung, berusaha untuk melupakan kebingungannya
“si Alvin kenapa sih Vi ?” tanya Shilla,
“gue juga ga’ tau Shill..”
Perlahan, sakit yang Alvin rasakan mulai menghilang,
Alvin menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tenang, ia masih
memegangi kepalanya,
“Alvin kenapa ?” Alvin menggeleng, kali ini ia menatap Sivia
dalam-dalam, dengan suara yang sangat pelan, Alvin berkata pada Sivia,
“sebenernya kamu siapa Via ?” belum sempat Sivia menjawab, Alvin
mengalihkan pandangannya kearah Shilla, dan kali ini ia bertanya pada
Shilla,
“Shilla, apa loe pernah jadi bagian masa lalu gue, apa loe Mentari ?”
Shilla dan Sivia terkejut mendengar pertanyaan Alvin, Sivia hampir saja meneteskan air mata, sedangkan Shilla,
“APA LOE BILANG ?”
== PART4 ==
Mereka bertiga pun terdiam, Shilla dengan keheranannya, Alvin dengan
ingatannya yang masih samar-samar, dan Sivia dengan air mata yang
berusaha keras ia tahan, Alvin memejamkan matanya sejenak dan berkata
pada Shilla dan Sivia,
“lupakan pertanyaan gue ! itu Cuma pertanyaan ga’ penting yang sebenernya ga’ perlu dijawab !”
“bagus deh kalo loe nyadar “ ucap Shilla secuek-cueknya sambil menyendok ice cream milik Alvin,
“Es krim gue itu Shill..”
“bodo’...” Sivia terus menatap Alvin dengan sejuta pertanyaan yang bergelayut dibenaknya,
‘ALVIN KENAPA ?’ Itu lah pertanyaan yang selalu tiba-tiba hadir
dikepalanya, Sivia merasa bahwa ada yang tidak beres dari Alvin, Sivia
masih belum yakin dengan dugaannya, tapi ia merasa Alvin mengalami
Amnesia.
Beberapa hari ini Sivia selalu memikirkan kondisi Alvin,
ia benar-benar tidak tenang, jika memang benar Alvin mengalami Amnesia,
mungkin Sivia bisa sedikit lebih tenang.
Hari minggu ini Sivia diperintahkan oleh Mama nya untuk berbelanja ke
Supermarket, Sivia yang memang ada kebutuhan lain pun langsung menerima
perintah Mama nya itu.
Saat sedang berbelanja disupermarket tiba-tiba saja ada seorang Ibu-Ibu muda yang menegur Sivia,
“Sivia Azizah kan ?” Sivia menoleh kearah Ibu-Ibu itu, Sivia
memperhatikan betul-betul wajah Ibu-Ibu yang ada didepannya, Sivia
menguji ingatannya, dan tidak lama kemudian,
“Tante Uchie..” ucap Sivia antusias,
“Via..” mereka berduapun berpelukan, Tante Uchie adalah Mama Alvin,
“Tante apa kabar Tan ?”
“baik sayang, ga’ kerasa ya udah 3 tahun kita ga’ ketemu, oya Mama Papa kamu apa kabar ?”
“baik Tan !”
“oya, sekarang kamu sekolah dimana ?”
“aku sekolah di SMA 14 BINTANG Tante..”
“SMA 14 BINTANG ? berarti kamu satu sekolah dengan Alvin ?” Sivia mengangguk,
“gimana hubungan kamu sama Alvin ?”
“hubungan apa Tan ?”
“ya ampun Via, dulu kan kalian pacaran, masa lupa ?”
“Cuma cinta monyet Tante “
“kalo sekarang cinta beneran kan ? oya, Alvin kok ga’ pernah cerita tentang kamu ya..”
“Alvin udah ga’ inget lagi sama aku Tan “ ucap Sivia lemah, Ibu
Uchie pun menepuk keningnya sendiri, ia seperti mengingat sesuatu,
“ada apa Tan ?” Ibu Uchie menarik lengan Sivia dan membawanya ke sebuah Cafe.
Saat ini, Sivia dan Ibu Uchie sudah duduk berhadapan
disebuah cafe, Ibu Uchie menatap Sivia dengan tatapan yang sangat
khawatir,
“ada apa Tante ngajak Via kesini ?”
“Via, kamu pasti sedih kan dengan sikap Alvin ke kamu ?”
“maksud Tante ?”
“kamu pasti berfikir, kalo Alvin udah ngelupain kamu, iya kan ?”
“kok Tante tau ?”
“jelas Tante tau Via, heehh.. sebenernya, Alvin ga’ pernah lupa sama kamu Via “ Sivia terkejut mendengarkan ucapan Ibu Uchie,
“kok Tante bisa ngomong kaya’ gitu ? sekarang itu ya Tante, Alvin udah ga’ inget aku sama sekali “
“dan kamu tau kenapa bisa seperti itu ?” Sivia menggeleng,
“Alvin mengalami Amnesia Via “ Sivia terkejut bukan main mendengar
ucapan Ibu Uchie, ia tidak menyangka bahwa dugaannya benar, perlahan,
Sivia mulai meneteskan air mata,
“tapi kenapa bisa Tan ?” tanya Sivia dengan suara bergetar,
“kejadiannya 3 tahun yang lalu, seminggu setelah kami pindah rumah,
Alvin bilang, dia kangen sama kamu dan pamit pergi kerumah kamu, Tante
sudah larang dia karna Tante sudah punya firasat yang ga’ enak, tapi
Alvin tetep bersikeras pengen nemuin kamu, ya udah Tante kasi ijin ke
Alvin, tapi...” ucapan Ibu Uchie terpotong,
“tapi kenapa Tan ?”
“Alvin kecelakaan motor, dia jatuh dan kepalanya terbentur
diterotoar jalan, Dokter memvonis, Alvin mengalami amnesia, saat itu
Tante sudah putus asa, waktu Alvin sadar, dia sama sekali tidak inget
sama siapapun, jangan kan sama kamu Vi, sama Om dan Tante aja Alvin ga’
inget, waktu itu Tante yang bener-bener hancur, 3 bulan setelah itu, Om
memutuskan untuk membawa kami pindah ke Australi, kami berharap, kami
bisa menyembuhkan Alvin disana, tapi ternyata ga’ bisa, ingatan Alvin
tetep ga’ bisa kembali, dan jika Alvin terus dipaksa untuk mengingat
masa lalunya, maka Alvin akan merasakan sakit yang teramat sangat
dikepalanya, itulah kenapa, Om sama Tante ga’ pernah ngungkit tentang
masa lalu Alvin didepan Alvin, maafin Tante ya Vi..?”
Sivia merasa dadanya sesak, Sivia pun menangis bisu tanpa
air mata setelah ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya, Sivia tidak
bisa mengeluarkan kata-kata lagi, mulutnya tiba-tiba bungkam,
“Via, apa kamu tau ? belakangan ini, Alvin selalu bercerita tentang
gadis bernama Shilla dan Sivia pada Tante, dan Alvin bilang, bahwa salah
satu diantara kalian pernah menjadi masa lalu nya, tapi Alvin ga’ tau
yang mana ! Tante pengen bilang ke Alvin, bahwa kamu lah yang pernah
jadi masa lalu nya, tapi Tante ga’ bisa ngelakuin itu, Tante ga’ mau
Alvin sakit “
“jangan Tante, jangan pernah bilang ke Alvin tentang masa lalu nya “
“tapi Alvin harus tetep tau Via kalo kamu pernah jadi bagian masa lalu nya !” Sivia menggeleng,
“biarin Alvin inget sendiri Tan, pliss jangan paksa Alvin buat nginget masa lalu nya, jangan..”
Ibu Uchie menggenggam tangan Sivia untuk menguatkan hati Sivia, dengan bijak beliau berkata,
“kamu sabar ya Vi, suatu saat Alvin pasti bakal nginget kamu, Tante yakin, kamu Cuma perlu bersabar Via “
“iya Tante, Via akan usaha !”
Sivia pun pulang kerumahnya, ia terus saja menangis meningat kondisi Alvin, ia bahkan menangis sampai terisak,
“hikk..hikk..hikk... terang saja selama ini Alvin ga’ kenal sama
aku, terang aja selama ini Alvin cuek sama aku, terang saja Alvin selalu
menyebut-nyebut nama Mentari dan bukan namaku, ternyata Alvin Amnesia,
dan parahnya, aku ga’ pernah tau itu, hik..hik..hik... kenapa Alvin
Tuhan ? kenapa harus Alvin ?”
Handphone Sivia berbunyi, ada telfon dari Alvin, saat ia
tau Alvin yang menelponnya Siviapun menghapus air matanya dan berusaha
meredakan suara isakkannya,
“ha..halo Vin ?” Sivia masih saja terisak,
“loh Vi, kamu kenapa ?”
“ga’ apa-apa kok Vin “
“kamu abis nangis..”
“iya !” jawab Sivia jujur,
“emang kenapa kamu nangis ?”
“Mama lagi nyuruh aku buat ngiris bawang, maka nya sampai nangis “ Via mencari-cari alasan,
“yang bener ?” tanya Alvin meyakinkan,
“iya...ada apa kamu nelpon ?”
“ooo... besok kamu ga’ usah bawa motor ya ke sekolah !”
“loh kok gitu ? terus aku pake apa ?”
“besok aku jemput, entar alamat kamu SMS ke aku ya “
“emang kenapa kamu mau jemput aku ?”
“ada sesuatu yang harus aku omongin ke kamu Vi !”
“apa ?”
“besok aja, inget besok aku jemput ya ?”
“iya Vin !”
“jangan lupa alamat kamu SMS ke aku “
“iya baweelll...hehehe..”
“kamu kok ngatain aku bawel sih ?”
“lagian kamu nya sih ?”
“ya udah pokoknya besok jangan lupa ya...”
“he-e “
“bay Via “
“bay Vin “
Sivia pun menutup telfonya, dan mulai berfikir, “Alvin mau ngomongin apa sama aku? Apa dia...”
^_^
Besok paginya Alvin berangkat ke rumah Sivia, saat
memasuki komplek perumahan Sivia, Alvin merasa pernah tinggal disana dan
memiliki kenangan indah selama tinggal disana. Tidak lama menunggu
Sivia, Sivia pun keluar dari rumahnya dengan senyum yang mengembang
diwajahnya, Sivia berusaha terlihat baik-baik saja didepan Alvin,
padahal sebenarnya, ia tidak sedang baik-baik saja,
“udah lama ya Vin ?”
“ga’ juga !” mata Alvin pun tertuju pada sebuah rumah yang ada
didepan rumah Sivia, rumah itu adalah rumah Alvin yang dulu, tapi Alvin
sama sekali tidak meningatnya, sekalipun Alvin mengingat, ingatannya
pasti samar-samar,
“Via, kamu tau itu rumah siapa ?” tanya Alvin pada Sivia sambil menunjuk rumah yang ada didepan rumah Sivia,
“oo..itu, itu rumah Pak Bambang “
“Pak Bambang udah lama tinggal disana ?”
“lumayan !”
“sebelum Pak Bambang siapa yang tinggal dirumah itu ?”
“aku lupa Vin, soalnya waktu itu aku masih kecil “ mata Alvin
kembali tertuju pada sebuah taman bermain yang ada dikomplek rumah
Sivia, Alvin mulai mengingat sesuatu, tapi samar-samar, kepala Alvin
kembali pusing, ia berteriak,
“AARRRRGGHHHH.....”
“Alvin !” ucap Sivia panik,
“aku ga’ bisa inget apa-apa, aku ga’ bisa ! AARRGGHHHHH... SAKIIITTTT...”
“udah Alvin, kamu ga’ usah inget lagi, ga’ usah kamu inget lagi, aku mohon..”
“AARRRGGHHHHH.....kepala ku.. AARRGGHHH...” Karna sudah tidak tahan lagi melihat Alvin, Sivia pun langsung memeluk Alvin erat,
“udah Vin, udaahh...”
“sakit Vi, kepala aku kaya’ rasa nya mau pecah !”
“jangan dinget-inget lagi..” saat berada dalam pelukan Sivia
tiba-tiba saja Alvin merasakan kedamaian, ia merasa tenang, dan secara
perlahan, sakit dikepalanya mulai menghilang.
3 menit kemudian Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, Alvin masih
memegang kepalanya yang terasa berdenyut pelan, Alvin berkata pada
Sivia,
“maaf ya Vi aku udah meluk kamu ?”
“ga’ apa-apa Vin “
“ya udah naik yuk !”
“tapi kamu udah ga’ apa-apa kan ?”
“aku baik-baik aja kok “ Sivia pun menaiki motor Alvin.
Saat tiba disekolah Alvin langsung mengajak Sivia pergi
kantin, disana Alvin akan membicarakan sesuatu pada Sivia, Sivia pun
masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya yang Alvin mau bicarakan
dengannya.
Alvin dan Sivia duduk berhadapan dimeja kantin, Alvin tampak berfikir keras,
“kamu mau ngomongin apa Vin ?”
“Via, aku boleh tanya sesuatu sama kamu ?”
“boleh ! kalo aku bisa jawab, aku pasti bakal jawab semampu aku “
“ aku mau tanya tentang..” Alvin menggantungkan kalimatnya, Sivia langsung mengerutkan dahinya dan memasang wajah bertanya,
“tentang apa Vin ?”
“tentang Shilla “ jawab Alvin antusias, saat itulah Sivia merasakan sebuah firasat yang sama sekali tidak enak,
“kenapa Shilla ?” Alvin menarik nafas panjang dan menghembuskannya,
“apa Shilla udah punya pacar ?” kali ini Sivia tersentak mendengarkan pertanyaan Alvin, Alvin melanjutkan perkataannya,
“aku juga ga’ ngerti Vi sama perasaan aku sendiri, tapi aku ngerasa,
kalo aku suka sama Shilla “ Sivia semakin tersentak, hatinya seolah
tercabik, air mata mulai tergenang dipelupuk mata indahnya, Sivia tau
pasti, bahwa Alvin telah jatuh cinta pada Shilla.
BERSAMBUNG…..
Friday, August 9, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment