Gabriel berjalan setengah berlari
kearah pintu Apertement nya ketika ia mendengar suara bel Apertementnya
berbunyi. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Gabriel langsung membuka
pintu. Sesosok wanita Cantik yang berdiri didepan pintu langsung berbalik
ketika ia mendengar suara seseorang membuka pintu, Gadis itu membuka kaca mata
hitam yang membingkai wajah cantiknya. Melihat Gadis itu, Gabriel berusaha
keras menyembunyikan keterkejutannya.
“Prissy” ujar Gabriel yang masih
berusaha menyembunyikan keterkejutannya,
“iya gue”
“ngapain lo balik lagi kesini?
Bukannya dulu lo pernah janji sama kedua orang tua lo kalo lo nggak bakalan
balik lagi ke Indo, tapi sekarang?” kata Gabriel setengah mencibir disertai
dengan tatapan meremehkannya.
“begini cara lo menyambut kedatangan
tunangan lo yang udah dateng jauh-jauh dari German? Manis sekali ya?” Pricilla
melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang tatapannya kearah lain.
Gabriel tersenyum sinis ketika itu juga.
“terus gue harus gimana? Gue harus
kaget gitu, merentangkan kedua tangan gue terus meluk lo sambil bilang ‘selamat
datang, Honey…’ cuihhh… menjijikan” Gabriel pura-pura membuang ludah dan
menampakkan wajah jijik.
“elo….? Elo bener-bener nggak
berubah ya? Dasar nggak tau etika” Pricilla mulai naik pitam, bahkan ia tidak
segan-segan menunjuk kearah wajah Pria Hitam-Manis yang ‘katanya’ adalah
tunangannya itu.
Gabriel meringis, ia menatap
Pricilla tajam lantas berkata,
“kalo lo kesini Cuma mau ngajakin
gue berantem, sorry, gue nggak ada waktu. Waktu gue terlalu berharga untuk gue
habisin buat ngeladenin cewek nggak penting kayak lo” ucap Gabriel sinis.
Saat Gabriel sudah bersiap-siap
untuk menutup pintu, Pricilla langsung menahannya.
“tunggu! Gue harus bicara sama lo”
“soal Alvin?” Tanya Gabriel tanpa
basa-basi apapun. Pricilla menghela nafas kesal, ia membuang nafasnya perlahan
lalu menoleh kearah lain. Dalam diam Pricilla mengangguk.
“Ich würde vermuten“ (Sudah
aku duga) Gabriel
tersenyum sinis lalu memasuki apertementnya. Pricilla hanya mengikutinya dari
belakang tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
****
“PLAAAK….” Sebuah tamparan yang
lumayan keras mendarat dengan mulus tepat dipipi sebelah kanan Rio. Ify yang
duduk disebrang Rio langsung membekap mulutnya, ketika melihat Dea, yang tidak
lain dan tidak bukan adalah salah satu pacar Rio datang secara tiba-tiba lalu
menampar Rio begitu saja. Rio yang ditampar malah terlihat pasrah-pasrah saja,
ia seolah-olah sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi padanya.
Tak puas hanya dengan sebuah
tamparan saja, Dea kembali menghujani Rio dengan ribuan makian yang tidak jelas
juntrungannya. Dea sama sekali tidak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada
di kantin Kampus dan semua mata mengarah pada dirinya juga Rio.
“dasar cowok brengsek lo! Play boy
cap kangkung” bentak Dea sambil berkacak pinggang.
“didepan gue lo sok-sokan manis,
eehhh… dibelakang gue lo malah maen serong seenaknya”
Rio masih diam. Sementara Ify, kedua
matanya langsung melebar ketika mendengar makian Dea itu. Ify tahu, bahkan
sangat tahu bahwa sahabatnya ini adalah Play Boy kelas kakap, hanya saja Ify
sama sekali tidak habis fikir melihat Rio yang hanya diam saja ketika dibentak
oleh Dea. Biasanya, jika Rio ketahuan selingkuh dia pasti akan langsung
mengeluarkan jutaan rayuan gombalnya untuk menyakinkan pacar-pacarnya, tapi
kali ini? Ify sama sekali tidak menemukan Rio yang seperti biasanya.
“Aren, Oik, Zevana, Zahra, Keke,
Gita, Acha dan siapa lagi yang nggak gue ketahui? Ha?” kali ini Dea berkacak
pinggang, ia menatap Rio dengan tatapan pembunuh. Ify langsung menegak ludahnya
sendiri, bagaimana bisa Dea hafal nama pacar-pacar Rio itu?
“lo itu emang brengsek, Yo, lo tega
nyakitin gue kayak gini. Lo bukan Cuma ngeduain ato ngetigain gue, tapi lo
ngedelapanin gue, Yo… NGEDELAPANIN GUE….”
Ify berusaha keras menahan tawanya
ketika mendengar ucapan Dea yang terakhir. Ternyata sahabatnya yang satu ini
benar-benar luar biasa. Charisma nya begitu kuat sebagai seorang Pria.
“mulai sekarang gue nggak akan
kemakan lagi sama rayuan gombal lo itu, dan gue mau mulai sekarang KITA PUTUS!!
GUE NGGAK MAU NGELIAT MUKA LO LAGI UNTUK ALASAN APAPUN DAN DALAM KONDISI
APAPUN, GUE BENCI SAMA LO. SEKALIPUN LO COWOK TERAKHIR DIDUNIA INI, GUE NGGAK
AKAN MAU BALIKAN SAMA LO, NGGAK AKAN” Kata Dea berapi-api. Ia menghela nafas
panjang lalu menghembuskannya dengan tidak sabar.
Dea yang sudah tidak bisa lagi
menahan emosinya langsung meraih gelas minuman yang ada dihadapan Rio. Dengan
teganya, Dea menyiramkan segelas jus jeruk itu diwajah Rio, tapi Rio tetap
bergeming. Dea melepaskan gelas itu kembali pada tempatnya lalu pergi
meninggalkan kantin dengan segala emosinya.
Ify terpana seketika, tapi ia
buru-buru mengambil sapu tangan didalam tasnya. Dengan sigap Ify beringsut dari
kursinya, ia mendekati Rio lalu mengelap wajah Rio yang basah karna jus jeruk
yang tadi Dea siramkan.
“elo kok tumben diem aja? Biasanya
kalo Dea marah-marah lo bakalan ngeluarin rayuan gombal lo, kenapa tadi nggak
lo lakuin??” Tanya Ify dengan polosnya sambil terus mengusap wajah Rio dengan
sapu tangan yang ada ditangannya,
“karna sekarang gue udah sadar kalo
gue emang bener-bener cowok brengsek. Seseorang telah menyadarkan gue” Rio
menatap Ify penuh arti. Tangan Ify yang sejak tadi aktif bergerak mengusap
wajah Rio kini tidak bergerak lagi. Ify membalas tatapan Rio. Meski tidak
yakin, Ify sedikit mengerti dengan maksud Rio.
Ify tertunduk malu. Mengeluarkan
sepatah kata saja rasanya begitu sulit.
“gue udah putusin semua cewek-cewek
itu, dan tadi itu adalah tamparan ke-7 yang gue terima sejak semalam” jujur
Rio. Ify menatap Rio sejenak lalu kembali menunduk.
“gue ngelakuin itu semua demi lo,
Fy, dan itu gue lakuin Cuma semata-mata karna gue mau berubah, gue nggak mau
selamanya jadi cowok brengsek dan pengecut kayak Ray. Alyssa Saufika Umari—“
Rio meraih tangan Ify lalu mengenggamnya erat,
“gue cinta sama lo….” Lanjut Rio
penuh kesungguhan…
****
“lo nggak perlu susah-susah minta
Alvin buat kembali sama gue lagi, karena sekarang…. Gue sama Alvin udah
balikan”
Gabriel tersenyum sinis ketika
mendengarkan penuturan Pricilla. Baginya itu lucu, sangat lucu. Pricilla duduk
disofa, sementara Gabriel berdiri menghadap ke jendela aptertementnya yang
langsung menampakkan pemandangan kota dari ketinggian. Gabriel meneguk
menimuman bersoda yang ada ditangannya lalu berbalik dan melihat kearah
Pricilla.
“Alvin udah bilang langsung ke elo
kalo dia emang bener-bener mau balikan sama lo? Sama cewek yang udah ninggalin
dia selama 2 tahun tanpa alasan yang pasti?”
Kali ini Pricilla bungkam. Tidak
tahu bagaimana harus menjawab perkataan Gabriel. Batinnya sama sekali tidak menyalahkan
ucapan Gabriel itu. Meski enggan, tapi Pricilla mengakui bahwa apa yang Gabriel
ucapkan itu adalah benar, sekalipun Alvin menerimanya, belum tentukan hati
Alvin juga ikut menerima kehadirannya?
“dan apa sedikitpun lo nggak pernah
berfikir kalo Alvin udah punya cewek laen?”
“Alvin itu setia—“ Pricilla menghela
nafas beratnya “enggak kayak lo” lanjut Pricilla ragu-ragu.
Gabriel kembali tersenyum sinis. Ia
berjalan lebih mendekat kearah Pricilla. Dengan santainya ia duduk disamping
Pricilla. Gabriel meletakkan kaleng minuman bersoda nya diatas meja lalu
menatap kedua mata Pricilla dengan intens. Jujur saja, Pricilla merasa tidak
berkutik sama sekali jika Gabriel sudah menatapnya seperti ini.
“lo cantik, Priss, lo baik… sayang
lo itu goblok!” sinis Gabriel. Kedua mata Pricilla membulat, ia sama sekali
tidak terima dengan ucapan Gabriel yang terkesan merendahkannya itu.
“sebaiknya lo cari tau dulu tentang
Alvin. Alvin mau balikan lagi sama lo bukan berarti dia masih cinta sama lo…
atau bahkan mungkin Alvin udah punya pacar lagi, lo nggak pernah tau, dan gue
juga nggak pernah tau. Sekarang gue kasih lo tiga 3 opsi” ujar Gabriel seraya
mengangkat ketiga jari tangannya. Pricilla masih tetap betah dengan
kebisuannya.
“pertama, elo yang cari tau tentang
Alvin. Kedua, gue sendiri yang cari tau tentang Alvin, atau ketiga, kita cari
bersama-sama”
Pricilla memejamkan kedua matanya
sejenak. Ia berusaha meyakinkan hatinya lalu dengan tegas berkata,
“nggak perlu. Gue percaya sama
Alvin. Gue seratus persen percaya sama Alvin”
Gabriel tersenyum lagi. Awalnya
Gabriel berfikir bahwa Gadis yang ada dihadapannya ini bodoh. Tapi ternyata
Gabriel salah, karena Gadis yang ada dihadapannya saat ini bukan hanya bodoh,
tapi sangat bodoh.
Gabriel mengangguk paham lantas berucap,
“bagus! Setidaknya lo punya
pendirian. Dan dengan begitu gue anggep lo milih opsi kedua, yang itu berarti
gue sendiri yang akan cari tau langsung tentang Alvin. Dan gue nggak akan balik
ke German sebelum gue bener-bener bisa memastikan kalo lo dan Alvin udah
bener-bener balikan, dan Alvin dengan senang hati akan bersedia menghancurkan
pertunangan kita”
“kenapa, Yel? Kenapa harus Alvin
yang lo peralat?” Tanya Pricilla dengan suara sedikit bergetar “kalo lo ngerasa
gentle, kenapa lo nggak ngomong langsung aja sama kedua orang tua lo kalo
bener-bener nggak setuju sama pertunangan kita ini? Kenapa lo harus jauh-jauh
dateng ke Indonesia Cuma untuk mencari Alvin dan ngegunain Alvin sebagai alat
lo untuk menghancurkan perjodohan ini? Kenapa?”
“lo mau tau jawaban gue apa?” Tanya
Gabriel pelan. Pricilla hanya mengangguk,
“karna kekerasan kepala gue tidak
akan bisa menyelesaikan masalah ini. Gue percaya bahwa hanya cinta lo sama Alvin yang bisa membebaskan gue
dari pertunangan ini. Cinta bisa meluluhkan apa saja, selalu bisa meluluhkan
apa saja”
****
“jadi Alvin bilang dia mau ngejauhin
Pricill asal lo yang minta?” Tanya Shilla beberapa saat setelah Sivia
menceritakan semuanya. Sivia hanya mengangguk sambil tetap focus dengan layar
ponselnya.
“kalo Alvin ngomong kayak gitu
kenapa lo nggak minta aja sekalian? Kita liat tuh kemampuan dia, sejauh mana
sih dia sanggup ngejauhin Pricill, dan sebesar apa sih rasa cintanya ke elo”
Shilla menyedot jus mangga yang ada dihadapannya.
“ya udahlah, Shill, nggak apa-apa.
Gue Cuma berusaha buat percaya sama Alvin kayak dia yang berusaha buat percaya
sama gue”
“jadi lo nggak takut kalo Si Pricill
itu bakalan ngerebut Alvin dari lo?” Tanya Shilla lagi. Kali ini ia benar-benar
tidak habis fikir dengan apa yang ada dalam otak Sivia. Sivia mengangguk
mantap. Shilla langsung mendesis sinis ketika itu juga. Menurut Shilla, Sivia
ini terlampau baik untuk disakiti oleh Alvin.
Beberapa saat kemudian, Alvinpun
datang secara tiba-tiba. Ia merangkul kedua Gadis itu dan membuat mereka kaget.
“Hey…. Pada ngomongin apa sih?
Serius banget keliatannya”
Shilla melepas lengan Alvin dari
pundaknya dengan kasar,
“lagi ngomongin elo” jawab Shilla
dengan sebal.
“nggak heran kok, gue tau kalo lo
emang ngefans ama gue udah sejak lama”
“diihh… mau banget gitu gue ngefans
sama lo??”
Alvin tidak menggubris ucapan Shilla
itu. Kali ini ia mengalihkan perhatiannya pada Sivia. Alvin mengecup puncak
kepala Sivia lalu dengan gemes mengacak rambutnya. Shilla manyun, memangnya
mereka fikir ditempat itu Cuma ada mereka berdua apa?
“gimana tadi ujiannya?” Tanya Alvin
pada Sivia,
“emmm…. Biasa aja sih. Pertanyaan lo
basa basi tau? Nggak ada pertanyaan lain apa?”
Asli Shilla langsung menahan tawanya
ketika mendengar ucapan Sivia yang terakhir. Kedua pasangan ini memang aneh,
sama sekali tidak ada romantisnya. Tapi Shilla maklum, Alvin dan Sivia memang
sudah terbiasa menjadi sahabat, jadi sekalinya pacaran, ya seperti ini.
“terus gue musti nanyain apa? Nanya
lo udah makan apa belom? Nanya sekarang lo lagi ngapain? Begitu?”
“nggak gitu juga kali”
“ya udah, lain kali gue bakalan
nanyain itu sama lo?”
“nggak usah, itu lebay namanya. Kalo
lo nanyain itu, beneran deh gue nggak mau ngeliat muka lo lagi”
“lho kenapa emangnya? Ya wajar dong
gue nanyain itu sama lo, gue kan pacar lo sekarang” Alvin mulai menggoda Sivia.
Melihat kedekatan yang ditunjukan
oleh Alvin dan Sivia, Shilla pun segera mengambil inisiatif untuk meninggalkan
mereka berdua. Shilla tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka. Shilla pun
membereskan barang-barangnya lalu mengenakan tas nya,
“gue cabut ya?” pamit Shilla,
“lho kenapa pergi?” Tanya Sivia
heran,
“yang jelas gue males jadi obat
nyamuk disini, oke?” Shilla pun melangkah pergi. Alvin langsung melambaikan
tangannya sambil berteriak,
“BYE ASHILLA….”
Tinggalah Alvin dan Sivia berdua
ditempat itu. Mereka sama-sama diam hingga akhirnya menimbulkan hening yang
tidak dapat dihindarkan lagi. Alvin bingung pada dirinya sendiri, kenapa mendadak
ia jadi canggung seperti ini? Biasanya juga tidak pernah seperti ini. Alvin
menggaruk tengkuknya, berusaha mencari obrolan yang pas. Alvin hanya takut
dianggap berbasa-basi lagi oleh Sivia.
Sama halnya seperti Alvin, Sivia
juga sama bingungnya. Apalagi jika mengingat kejadian pagi tadi, Sivia mendadak
salah tingkah.
“Via…”
“iya?” sahut Sivia sambil tetap
focus dengan layar ponselnya. Nampaknya Gadis itu tengah asyik online Twitter.
Alvin yang bisa menebak apa yang sedang Sivia lakukan langsung merenggut ponsel
itu dari tangan Sivia. Sivia mendesah kecewa, tapi ia juga tidak bisa berbuat
apa-apa.
“ada pacar tapi malah dicuekin,
karna ini?” Alvin menunjukan ponsel itu dihadapan Sivia. Sivia terdiam lalu
menunduk dalam. Ia hanya belum merasa terbiasa dengan status barunya dengan
Alvin. Toh mereka juga baru jadian sehari, Sivia butuh waktu untuk menyesuaikan
diri dengan status barunya dengan Alvin sekarang.
“sorry” sesal Sivia. Alvin
tersenyum, tangan kananya terulur lalu bergerak perlahan menyentuh puncak
kepala Sivia.
“lo udah nggak ada kuliah lagi?”
“nggak” Sivia menggeleng,
“jalan yuk!”
Sebelum Sivia menjawab pertanyaan
Alvin, Alvin malah sudah beringsut dari tempat duduknya lalu membawa paksa
Sivia pergi dari kantin. Sivia penasaran, kemana Alvin akan membawanya pergi
hari ini.
Alvin berjalan sembari merangkul
pundak Sivia dengan mesra. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan kagum.
Keduanya memang pasangan yang sangat serasi. Yang satunya tampan, sementara
yang satunya lagi cantik. Tanpa mereka berdua sadari, dari kejauhan ada seorang
Pria yang tengah memperhatikan setiap gerak gerik yang mereka lakukan. Bahkan
tidak segan-segan Pria itu mengikuti kemana Alvin dan Sivia melangkah.
Alvin dan Sivia langsung
menghentikan langkah mereka ketika mereka melihat Cakka berjalan dari arah yang
berlawanan dengan mereka. Cakka sempat menghentikan langkahnya, tapi itu tidak
lama, karena setelahnya Cakka kembali melanjutkan langkahnya. Saat ditengah
perjalanan, Alvin, Sivia dan Cakka sama-sama menghentikan langkah mereka. Sivia
tersenyum senang ketika melihat Cakka,
“Kak Cakka…” tegur Sivia antusias.
Cakka tersenyum kecil lalu mengalihkan perhatiannya pada Alvin,
“jaga Sivia baik-baik. Jangan bikin
dia sakit hati lagi” kata Cakka pada Alvin yang entah kenapa mendadak lembut.
Walaupun perkataan Cakka itu sarat akan ancaman, tapi Alvin merasa bahwa Cakka
mulai memperdulikannya. Alvin hanya mengangguk sungkan.
Sebelum Cakka berjalan kembali, ia
sempat menepuk pundak Alvin beberapa kali. Kontan saja perlakuan Cakka itu
membuat Alvin heran sekaligus merasa aneh. Ini benar-benar bukan Cakka yang
selama ini ia kenal. Alvin melirik kearah Sivia sejenak, Sivia pasti turut
andil dibalik perubahan sikap Cakka ini. Menanggapi tatapan Alvin, Sivia hanya
tersenyum lebar sambil mengangkat kedua bahunya.
Alvin berfikir cepat, ia lantas
berbalik. Ragu-ragu ia menyerukan nama Cakka,
“Kak Cakka!!” Cakka terdiam, tapi
tidak membalik badannya. Ia berdiri dengan posisi membelakangi Alvin dan Sivia.
“makasih…” lanjut Alvin dengan
sebuah senyuman lega yang tersungging dibibirnya. Cakka tidak kuasa membalas
perkataan Alvin itu. Yang jelas, Cakka merasa bahwa saat ini hatinya sudah
sedikit mencair. Sudah saatnya Cakka berubah.
Sivia benar, bahwa selama ini
kehidupan Cakka bukannya tidak pernah bahagia, melainkan Cakka lah yang selalu
berusaha menghindari diri dari kebahagiaan itu. Cakka merasa inilah saatnya. Ia
harus bisa menerima kenyataan ini, sekalipun pahit.
Beberapa saat setelah Alvin dan
Sivia melanjutkan langkah mereka, Cakka pun berbalik dan menatap kedua orang
itu dengan sebuah senyuman tipis. Dengan pelan Cakka bergumam,
“semoga kalian bahagia selalu…”
Menyadari bahwa ada seorang Pria
yang tengah mengawasi gerak gerik Alvin dan Sivia dari kejauhan, Cakka pun
memutuskan untuk menghampiri Pria itu. Cakka berjalan perlahan mendekati Pria
itu.
“Siapa lo sebenernya?” Tanya Cakka
ketika ia dan Pria itu sudah berdiri berhadapan.
****
Baru saja Alvin akan menjalankan
mobilnya, tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Alvin melihat nama ‘Agatha
Pricilla’ tertera pada layar ponselnya. Alvin menghela nafas panjang. Jika
sudah begini perasaannya mulai berkecamuk. Alvin terdiam, dan ia belum
mengambil keputusan apapun antara mengangkat telfon itu atau me-reject nya.
Baru tadi pagi Alvin me-reject panggilan dari Pricilla, jika sekarang Alvin
me-reject nya lagi, Pricilla pasti cemas dan berfikir yang tidak-tidak tentang
Alvin. Entahlah, Alvin merasa takut membuat Gadis itu mencemaskannya.
“dari siapa, Vin? Kok nggak
diangkat?” pertanyaan dari Sivia itu langsung membuat Alvin terkesiap. Ia
membuyarkan keterpanaannya lalu menatap Sivia yang duduk disampingnya sambil
menatapnya dengan tatapan bertanya,
“da… dari Pricill” jawab Alvin ragu.
Sivia mengangguk paham,
“ya udah diangkat aja! Kasian tau
Pricill nya kamu cuekin terus” kata Sivia penuh kelapangan. Sungguh, Sivia
benar-benar ikhlas mengatakan itu. Sedikitpun ia tidak merasa terpaksa.
Sivia sudah sepenuhnya menyerahkan
kepercayaannya pada Alvin. Ia tidak ingin menyimpan kecurigaan yang terlalu
berlebihan pada Pria yang sangat ia cintai ini.
“nggak apa-apa aku angkat?” Alvin
berusaha meyakinkan. Sivia menggeleng sambil tersenyum,
“nggak apa-apa” Sivia membelai
lembut pipi sebelah kanan Alvin. Alvin pun menarik pelan kepala Sivia, mengecup
keningnya dengan lembut lantas berkata,
“makasih ya?” Sivia mengangguk.
Alvin pun mengangkat telfon dari Pricilla,
“hallo, Priss….?”
“sayang, kamu kemana
aja? Tadi pagi aku telfon kok malah di reject sih? Kamu nggak apa-apa kan? Kamu
baik-baik aja kan?” Tanya Pricilla dengan cemas.
“nggak apa-apa kok, tadi aku lagi
ada ujian, makanya telfonnya langsung di reject” jawab Alvin sedikit berbohong.
Sivia langsung melirik tak suka kearah Alvin.
“ooo… aku fikir ada
apa-apa. Oya, sayang, kamu udah pulang dari Kampus?”
“udah, kenapa emang?”
“kamu bisa kan kerumah
aku sekarang? Tadi aku udah masak masakan kesukaan kamu, special lho buat kamu,
jadi bisa kan kamu kerumah aku?”
Alvin bingung. Apa yang harus ia
lakukan sekarang? Jika Alvin menolak permintaan Pricilla, sudah pasti Pricilla
akan kecewa berat, tapi Alvin sudah terlanjur janji akan mengajak Sivia jalan
hari ini. Alvin bingung, benar-benar bingung. Lalu siapa yang harus ia pilih
sekarang? Sivia atau Pricilla?
Setelah berfikir lumayan lama,
akhirnya tibalah Alvin pada sebuah keputusan yang berusaha ia yakini adalah
keputusan terbaik.
“maaf, Priss… aku nggak bisa. Aku
udah ada janji”
Alvin bahkan tidak berkata bahwa ia
memiliki janji dengan Sivia. Jujur saja, Sivia merasa sedikit kecewa dengan
itu. Sivia menunduk lesu, Alvin pun menatap Sivia dengan cemas.
Beberapa
saat setelah Alvin mematikan sambungan telfon…
“udahlah, Vin, kalo kamu mau, kamu
temuin aja Pricill…”
“kok kamu ngomong kayak gitu sih?
Aku kan udah janji duluan sama kamu, Vi…”
“aku tahu, tapi seharusnya kamu ngerti
dong perasaannya Pricill itu kayak apa. 2 tahun kalian nggak pernah ketemu, dan
aku rasa Pricill masih kangen sama kamu…”
“tapi, Vi…”
“udahlah, Vin aku nggak apa-apa kok.
Aku nanti bisa pulang sama Kak Cakka, jadi kamu nggak usah cemas”
Ketika Sivia akan keluar dari dalam
mobil Alvin, Alvin langsung menahan pergelangan tangannya.
“kamu marah?”
Sivia menggeleng beberapa kali, ia
kembali membenahi posisi duduknya disamping Alvin,
“aku nggak marah, Vin. Tapi aku Cuma
mau kamu nemuin Pricill, itu aja”
“tapi—“
Sivia menyentuh pipi Alvin dengan
lembut,
“aku percaya sepenuhnya sama kamu,
Vin. Aku percaya kamu nggak akan nyakitin aku lagi, aku percaya…” Sivia
mendekatkan wajahnya dengan wajah Alvin lalu mengecup pipi Alvin perlahan.
Sivia melakukannya agak lama.
“pergilah! Lagian aku juga harus ke
Studio hari ini, ada rapat”
Alvin meraih tangan Sivia yang
memegangi pipinya lalu mengecupnya,
“beneran kamu nggak apa-apa aku
tinggal?” Sivia menggeleng seraya tersenyum,
“nggak apa-apa…”
Sivia keluar dari mobil Alvin dan
menutup pintu mobil perlahan. Alvin hanya menatapnya tanpa bisa berkata apapun.
“pergilah! Nanti malem aku tunggu
distudio”
Ragu-ragu Alvin menyalakan mobilnya.
Beberapa saat sebelum Alvin menjalankan mobilnya, Sivia pun melambaikan
tangannya kearah Alvin.
“Bye… sampe ketemu nanti”
Alvin tidak membalas perkataan
Sivia. Ia hanya menatap Sivia sejenak lalu menjalankan mobilnya menjauhi Sivia.
Sivia tersenyum pahit ketika itu juga,
“hati-hati dijalan, Alvin…” lanjut
Sivia pelan.
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment