Tuesday, August 6, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 12 -Sivia Or Pricilla??-





                Gabriel berjalan setengah berlari kearah pintu Apertement nya ketika ia mendengar suara bel Apertementnya berbunyi. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Gabriel langsung membuka pintu. Sesosok wanita Cantik yang berdiri didepan pintu langsung berbalik ketika ia mendengar suara seseorang membuka pintu, Gadis itu membuka kaca mata hitam yang membingkai wajah cantiknya. Melihat Gadis itu, Gabriel berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya.
            “Prissy” ujar Gabriel yang masih berusaha menyembunyikan keterkejutannya,
            “iya gue”
            “ngapain lo balik lagi kesini? Bukannya dulu lo pernah janji sama kedua orang tua lo kalo lo nggak bakalan balik lagi ke Indo, tapi sekarang?” kata Gabriel setengah mencibir disertai dengan tatapan meremehkannya.
            “begini cara lo menyambut kedatangan tunangan lo yang udah dateng jauh-jauh dari German? Manis sekali ya?” Pricilla melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang tatapannya kearah lain. Gabriel tersenyum sinis ketika itu juga.
            “terus gue harus gimana? Gue harus kaget gitu, merentangkan kedua tangan gue terus meluk lo sambil bilang ‘selamat datang, Honey…’ cuihhh… menjijikan” Gabriel pura-pura membuang ludah dan menampakkan wajah jijik.
            “elo….? Elo bener-bener nggak berubah ya? Dasar nggak tau etika” Pricilla mulai naik pitam, bahkan ia tidak segan-segan menunjuk kearah wajah Pria Hitam-Manis yang ‘katanya’ adalah tunangannya itu.
            Gabriel meringis, ia menatap Pricilla tajam lantas berkata,
            “kalo lo kesini Cuma mau ngajakin gue berantem, sorry, gue nggak ada waktu. Waktu gue terlalu berharga untuk gue habisin buat ngeladenin cewek nggak penting kayak lo” ucap Gabriel sinis.
            Saat Gabriel sudah bersiap-siap untuk menutup pintu, Pricilla langsung menahannya.
            “tunggu! Gue harus bicara sama lo”
            “soal Alvin?” Tanya Gabriel tanpa basa-basi apapun. Pricilla menghela nafas kesal, ia membuang nafasnya perlahan lalu menoleh kearah lain. Dalam diam Pricilla mengangguk.
            Ich würde vermuten“ (Sudah aku duga) Gabriel tersenyum sinis lalu memasuki apertementnya. Pricilla hanya mengikutinya dari belakang tanpa mengeluarkan sepatah katapun.



****

            “PLAAAK….” Sebuah tamparan yang lumayan keras mendarat dengan mulus tepat dipipi sebelah kanan Rio. Ify yang duduk disebrang Rio langsung membekap mulutnya, ketika melihat Dea, yang tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu pacar Rio datang secara tiba-tiba lalu menampar Rio begitu saja. Rio yang ditampar malah terlihat pasrah-pasrah saja, ia seolah-olah sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi padanya.
            Tak puas hanya dengan sebuah tamparan saja, Dea kembali menghujani Rio dengan ribuan makian yang tidak jelas juntrungannya. Dea sama sekali tidak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada di kantin Kampus dan semua mata mengarah pada dirinya juga Rio.
            “dasar cowok brengsek lo! Play boy cap kangkung” bentak Dea sambil berkacak pinggang.
            “didepan gue lo sok-sokan manis, eehhh… dibelakang gue lo malah maen serong seenaknya”
            Rio masih diam. Sementara Ify, kedua matanya langsung melebar ketika mendengar makian Dea itu. Ify tahu, bahkan sangat tahu bahwa sahabatnya ini adalah Play Boy kelas kakap, hanya saja Ify sama sekali tidak habis fikir melihat Rio yang hanya diam saja ketika dibentak oleh Dea. Biasanya, jika Rio ketahuan selingkuh dia pasti akan langsung mengeluarkan jutaan rayuan gombalnya untuk menyakinkan pacar-pacarnya, tapi kali ini? Ify sama sekali tidak menemukan Rio yang seperti biasanya.
            “Aren, Oik, Zevana, Zahra, Keke, Gita, Acha dan siapa lagi yang nggak gue ketahui? Ha?” kali ini Dea berkacak pinggang, ia menatap Rio dengan tatapan pembunuh. Ify langsung menegak ludahnya sendiri, bagaimana bisa Dea hafal nama pacar-pacar Rio itu?
            “lo itu emang brengsek, Yo, lo tega nyakitin gue kayak gini. Lo bukan Cuma ngeduain ato ngetigain gue, tapi lo ngedelapanin gue, Yo… NGEDELAPANIN GUE….”
            Ify berusaha keras menahan tawanya ketika mendengar ucapan Dea yang terakhir. Ternyata sahabatnya yang satu ini benar-benar luar biasa. Charisma nya begitu kuat sebagai seorang Pria.
            “mulai sekarang gue nggak akan kemakan lagi sama rayuan gombal lo itu, dan gue mau mulai sekarang KITA PUTUS!! GUE NGGAK MAU NGELIAT MUKA LO LAGI UNTUK ALASAN APAPUN DAN DALAM KONDISI APAPUN, GUE BENCI SAMA LO. SEKALIPUN LO COWOK TERAKHIR DIDUNIA INI, GUE NGGAK AKAN MAU BALIKAN SAMA LO, NGGAK AKAN” Kata Dea berapi-api. Ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan tidak sabar.
            Dea yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya langsung meraih gelas minuman yang ada dihadapan Rio. Dengan teganya, Dea menyiramkan segelas jus jeruk itu diwajah Rio, tapi Rio tetap bergeming. Dea melepaskan gelas itu kembali pada tempatnya lalu pergi meninggalkan kantin dengan segala emosinya.
            Ify terpana seketika, tapi ia buru-buru mengambil sapu tangan didalam tasnya. Dengan sigap Ify beringsut dari kursinya, ia mendekati Rio lalu mengelap wajah Rio yang basah karna jus jeruk yang tadi Dea siramkan.
            “elo kok tumben diem aja? Biasanya kalo Dea marah-marah lo bakalan ngeluarin rayuan gombal lo, kenapa tadi nggak lo lakuin??” Tanya Ify dengan polosnya sambil terus mengusap wajah Rio dengan sapu tangan yang ada ditangannya,
            “karna sekarang gue udah sadar kalo gue emang bener-bener cowok brengsek. Seseorang telah menyadarkan gue” Rio menatap Ify penuh arti. Tangan Ify yang sejak tadi aktif bergerak mengusap wajah Rio kini tidak bergerak lagi. Ify membalas tatapan Rio. Meski tidak yakin, Ify sedikit mengerti dengan maksud Rio.
            Ify tertunduk malu. Mengeluarkan sepatah kata saja rasanya begitu sulit.
            “gue udah putusin semua cewek-cewek itu, dan tadi itu adalah tamparan ke-7 yang gue terima sejak semalam” jujur Rio. Ify menatap Rio sejenak lalu kembali menunduk.

            “gue ngelakuin itu semua demi lo, Fy, dan itu gue lakuin Cuma semata-mata karna gue mau berubah, gue nggak mau selamanya jadi cowok brengsek dan pengecut kayak Ray. Alyssa Saufika Umari—“ Rio meraih tangan Ify lalu mengenggamnya erat,

            “gue cinta sama lo….” Lanjut Rio penuh kesungguhan…



****

            “lo nggak perlu susah-susah minta Alvin buat kembali sama gue lagi, karena sekarang…. Gue sama Alvin udah balikan”
            Gabriel tersenyum sinis ketika mendengarkan penuturan Pricilla. Baginya itu lucu, sangat lucu. Pricilla duduk disofa, sementara Gabriel berdiri menghadap ke jendela aptertementnya yang langsung menampakkan pemandangan kota dari ketinggian. Gabriel meneguk menimuman bersoda yang ada ditangannya lalu berbalik dan melihat kearah Pricilla.
            “Alvin udah bilang langsung ke elo kalo dia emang bener-bener mau balikan sama lo? Sama cewek yang udah ninggalin dia selama 2 tahun tanpa alasan yang pasti?”
            Kali ini Pricilla bungkam. Tidak tahu bagaimana harus menjawab perkataan Gabriel. Batinnya sama sekali tidak menyalahkan ucapan Gabriel itu. Meski enggan, tapi Pricilla mengakui bahwa apa yang Gabriel ucapkan itu adalah benar, sekalipun Alvin menerimanya, belum tentukan hati Alvin juga ikut menerima kehadirannya?
            “dan apa sedikitpun lo nggak pernah berfikir kalo Alvin udah punya cewek laen?”
            “Alvin itu setia—“ Pricilla menghela nafas beratnya “enggak kayak lo” lanjut Pricilla ragu-ragu.
            Gabriel kembali tersenyum sinis. Ia berjalan lebih mendekat kearah Pricilla. Dengan santainya ia duduk disamping Pricilla. Gabriel meletakkan kaleng minuman bersoda nya diatas meja lalu menatap kedua mata Pricilla dengan intens. Jujur saja, Pricilla merasa tidak berkutik sama sekali jika Gabriel sudah menatapnya seperti ini.
            “lo cantik, Priss, lo baik… sayang lo itu goblok!” sinis Gabriel. Kedua mata Pricilla membulat, ia sama sekali tidak terima dengan ucapan Gabriel yang terkesan merendahkannya itu.
            “sebaiknya lo cari tau dulu tentang Alvin. Alvin mau balikan lagi sama lo bukan berarti dia masih cinta sama lo… atau bahkan mungkin Alvin udah punya pacar lagi, lo nggak pernah tau, dan gue juga nggak pernah tau. Sekarang gue kasih lo tiga 3 opsi” ujar Gabriel seraya mengangkat ketiga jari tangannya. Pricilla masih tetap betah dengan kebisuannya.
            “pertama, elo yang cari tau tentang Alvin. Kedua, gue sendiri yang cari tau tentang Alvin, atau ketiga, kita cari bersama-sama”
            Pricilla memejamkan kedua matanya sejenak. Ia berusaha meyakinkan hatinya lalu dengan tegas berkata,
            “nggak perlu. Gue percaya sama Alvin. Gue seratus persen percaya sama Alvin”
            Gabriel tersenyum lagi. Awalnya Gabriel berfikir bahwa Gadis yang ada dihadapannya ini bodoh. Tapi ternyata Gabriel salah, karena Gadis yang ada dihadapannya saat ini bukan hanya bodoh, tapi sangat bodoh.
            Gabriel mengangguk paham lantas berucap,
            “bagus! Setidaknya lo punya pendirian. Dan dengan begitu gue anggep lo milih opsi kedua, yang itu berarti gue sendiri yang akan cari tau langsung tentang Alvin. Dan gue nggak akan balik ke German sebelum gue bener-bener bisa memastikan kalo lo dan Alvin udah bener-bener balikan, dan Alvin dengan senang hati akan bersedia menghancurkan pertunangan kita”
            “kenapa, Yel? Kenapa harus Alvin yang lo peralat?” Tanya Pricilla dengan suara sedikit bergetar “kalo lo ngerasa gentle, kenapa lo nggak ngomong langsung aja sama kedua orang tua lo kalo bener-bener nggak setuju sama pertunangan kita ini? Kenapa lo harus jauh-jauh dateng ke Indonesia Cuma untuk mencari Alvin dan ngegunain Alvin sebagai alat lo untuk menghancurkan perjodohan ini? Kenapa?”
            “lo mau tau jawaban gue apa?” Tanya Gabriel pelan. Pricilla hanya mengangguk,

            “karna kekerasan kepala gue tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Gue percaya bahwa hanya  cinta lo sama Alvin yang bisa membebaskan gue dari pertunangan ini. Cinta bisa meluluhkan apa saja, selalu bisa meluluhkan apa saja”



****

            “jadi Alvin bilang dia mau ngejauhin Pricill asal lo yang minta?” Tanya Shilla beberapa saat setelah Sivia menceritakan semuanya. Sivia hanya mengangguk sambil tetap focus dengan layar ponselnya.
            “kalo Alvin ngomong kayak gitu kenapa lo nggak minta aja sekalian? Kita liat tuh kemampuan dia, sejauh mana sih dia sanggup ngejauhin Pricill, dan sebesar apa sih rasa cintanya ke elo” Shilla menyedot jus mangga yang ada dihadapannya.
            “ya udahlah, Shill, nggak apa-apa. Gue Cuma berusaha buat percaya sama Alvin kayak dia yang berusaha buat percaya sama gue”
            “jadi lo nggak takut kalo Si Pricill itu bakalan ngerebut Alvin dari lo?” Tanya Shilla lagi. Kali ini ia benar-benar tidak habis fikir dengan apa yang ada dalam otak Sivia. Sivia mengangguk mantap. Shilla langsung mendesis sinis ketika itu juga. Menurut Shilla, Sivia ini terlampau baik untuk disakiti oleh Alvin.
            Beberapa saat kemudian, Alvinpun datang secara tiba-tiba. Ia merangkul kedua Gadis itu dan membuat mereka kaget.
            “Hey…. Pada ngomongin apa sih? Serius banget keliatannya”
            Shilla melepas lengan Alvin dari pundaknya dengan kasar,
            “lagi ngomongin elo” jawab Shilla dengan sebal.
            “nggak heran kok, gue tau kalo lo emang ngefans ama gue udah sejak lama”
            “diihh… mau banget gitu gue ngefans sama lo??”
            Alvin tidak menggubris ucapan Shilla itu. Kali ini ia mengalihkan perhatiannya pada Sivia. Alvin mengecup puncak kepala Sivia lalu dengan gemes mengacak rambutnya. Shilla manyun, memangnya mereka fikir ditempat itu Cuma ada mereka berdua apa?
            “gimana tadi ujiannya?” Tanya Alvin pada Sivia,
            “emmm…. Biasa aja sih. Pertanyaan lo basa basi tau? Nggak ada pertanyaan lain apa?”
            Asli Shilla langsung menahan tawanya ketika mendengar ucapan Sivia yang terakhir. Kedua pasangan ini memang aneh, sama sekali tidak ada romantisnya. Tapi Shilla maklum, Alvin dan Sivia memang sudah terbiasa menjadi sahabat, jadi sekalinya pacaran, ya seperti ini.
            “terus gue musti nanyain apa? Nanya lo udah makan apa belom? Nanya sekarang lo lagi ngapain? Begitu?”
            “nggak gitu juga kali”
            “ya udah, lain kali gue bakalan nanyain itu sama lo?”
            “nggak usah, itu lebay namanya. Kalo lo nanyain itu, beneran deh gue nggak mau ngeliat muka lo lagi”
            “lho kenapa emangnya? Ya wajar dong gue nanyain itu sama lo, gue kan pacar lo sekarang” Alvin mulai menggoda Sivia.
            Melihat kedekatan yang ditunjukan oleh Alvin dan Sivia, Shilla pun segera mengambil inisiatif untuk meninggalkan mereka berdua. Shilla tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka. Shilla pun membereskan barang-barangnya lalu mengenakan tas nya,
            “gue cabut ya?” pamit Shilla,
            “lho kenapa pergi?” Tanya Sivia heran,
            “yang jelas gue males jadi obat nyamuk disini, oke?” Shilla pun melangkah pergi. Alvin langsung melambaikan tangannya sambil berteriak,
            “BYE ASHILLA….”
            Tinggalah Alvin dan Sivia berdua ditempat itu. Mereka sama-sama diam hingga akhirnya menimbulkan hening yang tidak dapat dihindarkan lagi. Alvin bingung pada dirinya sendiri, kenapa mendadak ia jadi canggung seperti ini? Biasanya juga tidak pernah seperti ini. Alvin menggaruk tengkuknya, berusaha mencari obrolan yang pas. Alvin hanya takut dianggap berbasa-basi lagi oleh Sivia.
            Sama halnya seperti Alvin, Sivia juga sama bingungnya. Apalagi jika mengingat kejadian pagi tadi, Sivia mendadak salah tingkah.
            “Via…”
            “iya?” sahut Sivia sambil tetap focus dengan layar ponselnya. Nampaknya Gadis itu tengah asyik online Twitter. Alvin yang bisa menebak apa yang sedang Sivia lakukan langsung merenggut ponsel itu dari tangan Sivia. Sivia mendesah kecewa, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
            “ada pacar tapi malah dicuekin, karna ini?” Alvin menunjukan ponsel itu dihadapan Sivia. Sivia terdiam lalu menunduk dalam. Ia hanya belum merasa terbiasa dengan status barunya dengan Alvin. Toh mereka juga baru jadian sehari, Sivia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan status barunya dengan Alvin sekarang.
            “sorry” sesal Sivia. Alvin tersenyum, tangan kananya terulur lalu bergerak perlahan menyentuh puncak kepala Sivia.
            “lo udah nggak ada kuliah lagi?”
            “nggak” Sivia menggeleng,
            “jalan yuk!”
            Sebelum Sivia menjawab pertanyaan Alvin, Alvin malah sudah beringsut dari tempat duduknya lalu membawa paksa Sivia pergi dari kantin. Sivia penasaran, kemana Alvin akan membawanya pergi hari ini.
            Alvin berjalan sembari merangkul pundak Sivia dengan mesra. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan kagum. Keduanya memang pasangan yang sangat serasi. Yang satunya tampan, sementara yang satunya lagi cantik. Tanpa mereka berdua sadari, dari kejauhan ada seorang Pria yang tengah memperhatikan setiap gerak gerik yang mereka lakukan. Bahkan tidak segan-segan Pria itu mengikuti kemana Alvin dan Sivia melangkah.
            Alvin dan Sivia langsung menghentikan langkah mereka ketika mereka melihat Cakka berjalan dari arah yang berlawanan dengan mereka. Cakka sempat menghentikan langkahnya, tapi itu tidak lama, karena setelahnya Cakka kembali melanjutkan langkahnya. Saat ditengah perjalanan, Alvin, Sivia dan Cakka sama-sama menghentikan langkah mereka. Sivia tersenyum senang ketika melihat Cakka,
            “Kak Cakka…” tegur Sivia antusias. Cakka tersenyum kecil lalu mengalihkan perhatiannya pada Alvin,
            “jaga Sivia baik-baik. Jangan bikin dia sakit hati lagi” kata Cakka pada Alvin yang entah kenapa mendadak lembut. Walaupun perkataan Cakka itu sarat akan ancaman, tapi Alvin merasa bahwa Cakka mulai memperdulikannya. Alvin hanya mengangguk sungkan.
            Sebelum Cakka berjalan kembali, ia sempat menepuk pundak Alvin beberapa kali. Kontan saja perlakuan Cakka itu membuat Alvin heran sekaligus merasa aneh. Ini benar-benar bukan Cakka yang selama ini ia kenal. Alvin melirik kearah Sivia sejenak, Sivia pasti turut andil dibalik perubahan sikap Cakka ini. Menanggapi tatapan Alvin, Sivia hanya tersenyum lebar sambil mengangkat kedua bahunya.
            Alvin berfikir cepat, ia lantas berbalik. Ragu-ragu ia menyerukan nama Cakka,
            “Kak Cakka!!” Cakka terdiam, tapi tidak membalik badannya. Ia berdiri dengan posisi membelakangi Alvin dan Sivia.
            “makasih…” lanjut Alvin dengan sebuah senyuman lega yang tersungging dibibirnya. Cakka tidak kuasa membalas perkataan Alvin itu. Yang jelas, Cakka merasa bahwa saat ini hatinya sudah sedikit mencair. Sudah saatnya Cakka berubah.
            Sivia benar, bahwa selama ini kehidupan Cakka bukannya tidak pernah bahagia, melainkan Cakka lah yang selalu berusaha menghindari diri dari kebahagiaan itu. Cakka merasa inilah saatnya. Ia harus bisa menerima kenyataan ini, sekalipun pahit.
            Beberapa saat setelah Alvin dan Sivia melanjutkan langkah mereka, Cakka pun berbalik dan menatap kedua orang itu dengan sebuah senyuman tipis. Dengan pelan Cakka bergumam,
            “semoga kalian bahagia selalu…”
            Menyadari bahwa ada seorang Pria yang tengah mengawasi gerak gerik Alvin dan Sivia dari kejauhan, Cakka pun memutuskan untuk menghampiri Pria itu. Cakka berjalan perlahan mendekati Pria itu.

            “Siapa lo sebenernya?” Tanya Cakka ketika ia dan Pria itu sudah berdiri berhadapan.


****

            Baru saja Alvin akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Alvin melihat nama ‘Agatha Pricilla’ tertera pada layar ponselnya. Alvin menghela nafas panjang. Jika sudah begini perasaannya mulai berkecamuk. Alvin terdiam, dan ia belum mengambil keputusan apapun antara mengangkat telfon itu atau me-reject nya. Baru tadi pagi Alvin me-reject panggilan dari Pricilla, jika sekarang Alvin me-reject nya lagi, Pricilla pasti cemas dan berfikir yang tidak-tidak tentang Alvin. Entahlah, Alvin merasa takut membuat Gadis itu mencemaskannya.
            “dari siapa, Vin? Kok nggak diangkat?” pertanyaan dari Sivia itu langsung membuat Alvin terkesiap. Ia membuyarkan keterpanaannya lalu menatap Sivia yang duduk disampingnya sambil menatapnya dengan tatapan bertanya,
            “da… dari Pricill” jawab Alvin ragu. Sivia mengangguk paham,
            “ya udah diangkat aja! Kasian tau Pricill nya kamu cuekin terus” kata Sivia penuh kelapangan. Sungguh, Sivia benar-benar ikhlas mengatakan itu. Sedikitpun ia tidak merasa terpaksa.
            Sivia sudah sepenuhnya menyerahkan kepercayaannya pada Alvin. Ia tidak ingin menyimpan kecurigaan yang terlalu berlebihan pada Pria yang sangat ia cintai ini.
            “nggak apa-apa aku angkat?” Alvin berusaha meyakinkan. Sivia menggeleng sambil tersenyum,
            “nggak apa-apa” Sivia membelai lembut pipi sebelah kanan Alvin. Alvin pun menarik pelan kepala Sivia, mengecup keningnya dengan lembut lantas berkata,
            “makasih ya?” Sivia mengangguk. Alvin pun mengangkat telfon dari Pricilla,

            “hallo, Priss….?”
            “sayang, kamu kemana aja? Tadi pagi aku telfon kok malah di reject sih? Kamu nggak apa-apa kan? Kamu baik-baik aja kan?” Tanya Pricilla dengan cemas.
            “nggak apa-apa kok, tadi aku lagi ada ujian, makanya telfonnya langsung di reject” jawab Alvin sedikit berbohong. Sivia langsung melirik tak suka kearah Alvin.
            “ooo… aku fikir ada apa-apa. Oya, sayang, kamu udah pulang dari Kampus?”
            “udah, kenapa emang?”
            “kamu bisa kan kerumah aku sekarang? Tadi aku udah masak masakan kesukaan kamu, special lho buat kamu, jadi bisa kan kamu kerumah aku?”
            Alvin bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jika Alvin menolak permintaan Pricilla, sudah pasti Pricilla akan kecewa berat, tapi Alvin sudah terlanjur janji akan mengajak Sivia jalan hari ini. Alvin bingung, benar-benar bingung. Lalu siapa yang harus ia pilih sekarang? Sivia atau Pricilla?
            Setelah berfikir lumayan lama, akhirnya tibalah Alvin pada sebuah keputusan yang berusaha ia yakini adalah keputusan terbaik.

            “maaf, Priss… aku nggak bisa. Aku udah ada janji”

            Alvin bahkan tidak berkata bahwa ia memiliki janji dengan Sivia. Jujur saja, Sivia merasa sedikit kecewa dengan itu. Sivia menunduk lesu, Alvin pun menatap Sivia dengan cemas.


Beberapa saat setelah Alvin mematikan sambungan telfon…

            “udahlah, Vin, kalo kamu mau, kamu temuin aja Pricill…”
            “kok kamu ngomong kayak gitu sih? Aku kan udah janji duluan sama kamu, Vi…”
            “aku tahu, tapi seharusnya kamu ngerti dong perasaannya Pricill itu kayak apa. 2 tahun kalian nggak pernah ketemu, dan aku rasa Pricill masih kangen sama kamu…”
            “tapi, Vi…”
            “udahlah, Vin aku nggak apa-apa kok. Aku nanti bisa pulang sama Kak Cakka, jadi kamu nggak usah cemas”
            Ketika Sivia akan keluar dari dalam mobil Alvin, Alvin langsung menahan pergelangan tangannya.
            “kamu marah?”
            Sivia menggeleng beberapa kali, ia kembali membenahi posisi duduknya disamping Alvin,
            “aku nggak marah, Vin. Tapi aku Cuma mau kamu nemuin Pricill, itu aja”
            “tapi—“
            Sivia menyentuh pipi Alvin dengan lembut,
            “aku percaya sepenuhnya sama kamu, Vin. Aku percaya kamu nggak akan nyakitin aku lagi, aku percaya…” Sivia mendekatkan wajahnya dengan wajah Alvin lalu mengecup pipi Alvin perlahan. Sivia melakukannya agak lama.
            “pergilah! Lagian aku juga harus ke Studio hari ini, ada rapat”
            Alvin meraih tangan Sivia yang memegangi pipinya lalu mengecupnya,
            “beneran kamu nggak apa-apa aku tinggal?” Sivia menggeleng seraya tersenyum,
            “nggak apa-apa…”
            Sivia keluar dari mobil Alvin dan menutup pintu mobil perlahan. Alvin hanya menatapnya tanpa bisa berkata apapun.
            “pergilah! Nanti malem aku tunggu distudio”
            Ragu-ragu Alvin menyalakan mobilnya. Beberapa saat sebelum Alvin menjalankan mobilnya, Sivia pun melambaikan tangannya kearah Alvin.
            “Bye… sampe ketemu nanti”
            Alvin tidak membalas perkataan Sivia. Ia hanya menatap Sivia sejenak lalu menjalankan mobilnya menjauhi Sivia. Sivia tersenyum pahit ketika itu juga,

            “hati-hati dijalan, Alvin…” lanjut Sivia pelan.




                        BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment