Sunday, July 7, 2013

1

Cinta Begini Chapter 1 "Sivia Dan Kenangan Masa Lalu"





Jakarta, 2009


                Tangan kanan Alvin mencengkram erat pergelangan tangan Sivia dan membawanya setengah paksa keluar dari rumahnya sendiri. Beberapa menit yang lalu Alvin datang kerumah Sivia. Ketika melihat Sivia yang tengah santai duduk ditepi kolam renang Alvin langsung melangkah mendekati Gadis itu dan membawanya keluar dari rumahnya sendiri tanpa bicara apapun.
            “ini sih namanya penculikan!” gumam Sivia pelan dengan sedikit rasa kesal. Tapi meski begitu ia tetap berjalan pasrah dibelakang Alvin dengan pergelangan tangan yang masih ditahan oleh cowok berwajah oriental itu.
            Alvin membuka pintu mobilnya lalu mendorong tubuh Sivia hingga memasuki mobilnya. Sivia meringis pelan. Dasar tidak berperasaan!
            “Gue mau dibawa kemana sih?” Tanya Sivia keki. Ia menatap Alvin yang saat itu tengah focus mengemudi dengan pandangan sebal.
            “nanti juga lo bakalan tau sendiri” jawab Alvin seenaknya dan semakin menambah kecepatannya. Akibat ulah Alvin yang tanpa perhitungan itu Sivia kaget. Untung saja Sivia tidak jantungan, coba kalau jantungan, mungkin sekarang Sivia hanya tinggal nama saja.
            Tiba-tiba Sivia teringat sesuatu. Bodoh, kenapa dia bisa lupa seperti ini? Seharusnya sekarang Sivia kembali lagi kesekolah untuk menemui seseorang, tapi karna Alvin menculiknya seperti ini Sivia jadi lupa. Hmmm… dia pasti menunggu.
            Sivia buru-buru merogoh kantong jeansnya lalu mengambil ponselnya. Dengan gerakkan cepat, Sivia mengetikkan sebuah pesan singkat lalu mengirimnya kepada seseorang itu. Mendadak Sivia terlihat gusar.

***

            Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit ditambah dengan macet akhirnya tibalah Alvin dan Sivia disebuah mall. Tanpa bicara apapun satu sama lain mereka berdua berjalan beriringan memasuki Mall.
            Saat ini Alvin dan Sivia sudah berada didalam sebuah toko perhiasan. Alvin terlihat serius melihat-lihat beberapa kalung berlian yang terpajang didalam etalase. Sementara Sivia, ia malah dengan asyikannya online twitter melalui Handphonenya sambil mendengarkan music dengan menggunakan headset.
            Gadis manis berambut panjang dan berkulit putih bersih itu memang paling hoby berselancar didunia maya. Ia sering kali mendapat protes dari sahabat-sahabatnya karna lebih sering Online daripada berkumpul bersama. Tapi Sivia tetap cuek. Ini hoby nya dan… dunianya. Itulah yang selalu Sivia katakan pada sahabat-sahabatnya. Ya sudah, mau bagaimana lagi memangnya?
            Sivia tahu-tahu kaget ketika Alvin berdiri dibelakangnya dan memasangkannya sebuah kalung berlian yang sangat cantik. Sivia diam mematung seraya melihat bayangan dirinya dicermin. Kalung itu benar-benar sangat cantik dan Sivia suka.
            “gimana kalungnya? Bagus kan?” Tanya Alvin pelan. Ia  memegang kedua pundak Sivia lalu menatap bayangan wajah Sivia dicermin, sama seperti yang Sivia lakukan. Saat itu Sivia sedang dalam posisi duduk, sementara Alvin berdiri dibelakangnya. Jantung Sivia berdegub pelan tapi kelamaan makin kencang dan susah ia kendalikan. Pesona Alvin begitu kuat memikatnya.
            “Pia… jawab gue kek!” kata Alvin tak sabar. Ia masih betah memandangi bayangan Sivia dicermin.
            Sivia terkesiap lalu buru-buru mengangguk. Dengan susah payah Sivia akhirnya bisa mengeluarkan komentarnya,
            “ba.. bagus! Gue suka”
            “Excellent!” ucap Alvin antusias lalu kembali melepaskan kalung itu dari leher Sivia.
            Alvin mengangkat kalung itu dengan kedua jari tangannya lalu memperhatikannya baik-baik. Sivia memutar kursinya dan mengikuti arah pandangan Alvin,
            “Pricill pasti suka. Ya kan?” Alvin menoleh kearah Sivia.
            Air muka Sivia tiba-tiba berubah keruh. Ternyata kalung itu untuk Pricilla, bukan untuk dirinya. Ah… entah ini sudah untuk yang keberapa kalinya Sivia salah paham dengan maksud Alvin. Meski perih, Sivia mengangguk. Penuh tekanan –tentu saja-
            “ya, Pricill pasti suka” kata Sivia ‘Kalo nggak suka berarti tuh cewek begok’ lanjutnya dalam hati.
            “gue tau kok selera lo sama Pricill itu hampir sama, makanya itu gue ngajak lo kesini buat nemenin gue nyari kado buat Pricill”
            “kado? Bukannya ulang tahun Pricill udah lewat seminggu yang lalu ya?” Sivia heran.
            Alvin berbalik, ia menyerahkan kalung pilihannya itu pada Penjaga toko dan meminta untuk dibungkuskan sekalian. Setelah Penjaga toko itu mengangguk sebagai tanda setuju, Alvin kembali membalik badannya hingga berhadapan dengan Sivia,
            “bukan kado ulang tahun, tapi kado anniversary gue yang ke-2 sama dia”
            Anniversary kedua? Oh ya, Sivia baru mengingatnya sekarang. 2 tahun yang lalu, Alvin dan Pricilla resmi jadian tepat setahun setelah Alvin menyatakan perasaannya pada Sivia dan Sivia menolaknya dengan alasan ia belum diperbolehkan pacaran oleh kedua orang tuanya.
            Jika mengingat itu entah kenapa rasanya sakit sekali bagi Sivia. Bagaimana tidak? Dulu Alvin pernah berkata bahwa ia akan berusaha menunggu Sivia hingga tamat SMP, tapi ternyata Alvin malah melanggar perkataannya sendiri ketika ia mengenal sosok Cantik nan indah bernama Agatha Pricilla.
            Tepat saat pergantian dari semester 1 ke semester 2 dikelas 7 SMP dulu, Pricilla hadir ditengah-tengah Alvin dan Sivia dan berhasil merebut hati Alvin dengan begitu mudahnya dari genggaman Sivia. Terbersit sebuah rasa kecewa dan penyesalan dihati Sivia kala itu, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin Alvin merasa tidak sanggup jika harus dituntut menunggu lebih lama lagi. Sivia juga tidak bisa menyalahkan Alvin begitu saja. Alvin hanya jatuh cinta, dan Sivia sama sekali tidak memiliki hak untuk melarangnya jatuh cinta. Sivia juga tidak berhak untuk terus menahan Alvin dan menuntutnya untuk tetap menunggu, tidak, Sivia tidak berhak.
            Setelah 3 bulan melakukan pendekatan, akhirnya Alvin dan Pricilla resmi berpacaran tepat saat mereka naik kekelas 8 SMP. Sejak saat itu Alvin terlihat sangat bahagia, bahkan Alvin yang dulunya tertutup dan sedikit cuek mulai merubah sikapnya saat bersama Pricilla. Pricilla telah memberikan perubahan yang berarti dalam hidup Alvin. Untuk itulah Alvin begitu menyayangi Pricilla. Apapun Alvin lakukan demi mempertahankan hubungannya dengan Pricilla.
            Ketika Rio, Ify, dan Shilla menanyakan bagaimana keadaan Sivia telah Alvin dan Pricilla resmi berpacaran, Sivia selalu saja berkata bahwa ia baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Bahkan Sivia tidak segan-segan mengatakan bahwa ia sudah tidak memiliki rasa apa-apa lagi untuk Alvin hanya demi menutupi kesakitannya saat itu.
            Sivia mungkin pandai membohongi semua orang termasuk Alvin. Tapi Sivia tidak pandai membohongi dirinya sendiri. Sejak awal hatinya tidak pernah berdusta, dari dulu hingga sekarang, bahkan sampai detik ini Sivia masih menyimpan rasa dan sebuah harapan untuk Alvin. Sivia masih bertahan dengan semuanya meskipun –mungkin- Alvin sudah melupakan bahwa dulu ia pernah sangat menyayangi Sivia.
            Andai saja dulu Pricilla tidak pernah hadir diantara mereka mungkin sekarang Alvin dan Sivia sudah bisa saling memiliki satu sama lain. Ya… andai saja….
            “SIPIA…. HELLOOOO….” Panggil Alvin sambil menepuk kedua tangannya tepat didepan wajah Sivia. Sivia terkesiap dan langsung menarik dirinya dari bayang-bayang masa lalunya yang menyesakkan.
            “eh sorry…”
            “elo itu sekarang kebanyakan ngelamun. Hati-hati, nanti kalo lo kemasukan setan bisa repot urusannya” ujar Alvin memperingatkan cenderung menakut-nakuti. Ia pun berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Sivia.

            “ALPIINNNNN Tungguin gue!” Sivia berlari menyusul Alvin yang saat itu jaraknya belum terlalu jauh dari posisinya sekarang.


***
            “Alvin Sivia kemana aja sih? Kenapa sampe sekarang mereka belom juga dateng? Lo udah sms mereka belom? Si Ify juga kemana lagi??” Tanya Shilla sedikit kesal seraya meletakkan segelas Jus Jeruk dihadapan Rio yang saat itu tengah asyik memainkan gitarnya.
            “Alvin Sivia bilang mereka udah dijalan, tadi mereka mampir ke Mall bentar” jawab Rio,
            “Mampir ke Mall? Ngapain?”
            Rio menngangkat kedua bahunya, ia menghentikan permainan gitarnya sejenak lalu menatap Shilla,
            “ya mana gue tau!”
            “terus Ify?” Tanya Shilla lagi.
            “masih sibuk sama Ray, lo tau kan mereka baru jadian? Sekarang tuh mereka berdua lagi adem-ademnya, lo nggak tau? Ya wajar aja sih, orang lo nggak pernah ngerasain pacaran kok” jawab Rio yang mendadak sewot. Ia pun melanjutkan permainan gitarnya yang sempat terhenti gara-gara pertanyaan-pertanyaan Shilla yang menurutnya sangat menganggu itu.
            Entah kenapa jika sudah membahas masalah Ify dan Ray, Rio selalu saja berubah sewot. Shilla tidak mengerti.
            Sore itu mereka berlima memang sudah membuat janji untuk berkumpul dirumah Shilla. Yang pertama datang tentu saja adalah Rio, sementara yang lainnya malah sibuk sendiri dengan urusan mereka masing-masing. Sudah hampir sejam Rio dan Shilla menunggu Alvin, Sivia, dan Ify, tapi hingga selama itu mereka bertiga tidak juga menampakkan diri mereka. Jelas saja kalau Rio dan Shilla kelamaan merasa sebal.
            “Yo—“
            “lo kalo sekali lagi nanya-nanya ke gue beneran deh gue bakalan pulang” ancam Rio sebelum Shilla sempat melanjutkan perkataannya.
            Shilla yang saat itu memang memiliki niat untuk bertanyapun harus dengan terpaksa menelan bulat-bulat pertanyaan yang hendak ingin ia sampaikan pada Rio. Rio ini memang paling pintar ya yang namanya membaca fikiran orang? Anaknya Ki Joko Bodo kali. Fikir Shilla.


***

            Sivia berdiri didepan ruang OSIS dengan membawa sebuah kotak bekal. Dengan yakin Sivia mendekat kearah pintu, ia menarik kenop pintu lalu memasuki ruang OSIS.
            “Hay Kakak Ketua OSIS…” Sapa Sivia seramah mungkin pada sosok cowok berwajah tampan yang tengah berkutat dengan layar monitor yang ada dihadapannya. Wajahnya tampak serius.
            “hay juga” balasnya dingin.
            “masih sibuk ya nyusun proposal buat acara Pensi?” Sivia menarik kursi lalu duduk didepan cowok yang ia panggil dengan panggilan ‘Kakak Ketua OSIS’ itu. Cowok itu hanya mengangguk tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari layar monitor.
            “Kakak pasti belum sarapan dirumah, makan dulu yuk, Kak! Tadi Ibu aku masak nasi goreng, enaaakk banget, nih aku bawain buat Kakak” kata Sivia penuh semangat seraya mendorong kotak bekal yang ia bawa tadi kearah cowok itu.
            “iya, nanti dimakan. Makasih ya?”
            “nggak mau nanti, maunya sekarang!”
            Cowok itu akhirnya mengangkat wajahnya dari layar monitor. Saat itu juga Sivia langsung tersenyum manis. Jika sudah begitu itu tandanya Kakak Ketua OSIS nya ini mulai menyerah.
            “mau makan sekarang kan, Kak Cakka….?” Sivia menaik turunkan kedua alisnya dengan senyum lebar.
            Cakka si cowok misterius itu memang paling dekat dengan Sivia. Sejak pertama kali melihat Cakka -yang belakangan Sivia tau adalah Kakak Tiri Alvin-  entah kenapa Sivia ingin sekali dekat dan berteman dengannya.
            Dan keinginan Sivia untuk berteman dengan Cakka semakin tumbuh ketika Alvin menceritakan asal usul Cakka yang sebenarnya. Alvin tidak begitu dekat dengan Cakka, tapi itu semua terjadi bukan karna kemauan Alvin, melainkan karna kekerasan Cakka yang selalu saja berusaha menutup dirinya dari Alvin dan kedua orang tuanya.
            Ketika awal-awal Sivia mendekatinya, Cakka sempat menolak, bahkan Cakka tidak segan-segan  membentak Sivia hanya supaya Gadis itu menjauhinya, tapi Sivia tetap gigih dengan usahanya hingga akhirnya Sivia bisa menaklukkan Cakka. Sejak 2 tahun yang lalu mereka sudah menjadi sepasang teman baik.
            Bahkan saking dekatnya, Cakka sampai menganggap Sivia seperti adiknya sendiri. Begitu juga sebaliknya, Sivia sudah menganggap Cakka sebagai Kakaknya sendiri.
            Tapi meski dekat, Cakka tidak pernah sekalipun menceritakan masalah pribadinya pada Sivia. Jika Sivia bertanya Cakka selalu saja berusaha untuk mengelak. Dan jika Sivia masih berusaha mencari tahu juga, Cakka akan marah. Untuk itulah Sivia tidak pernah sekalipun menanyakan hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi Cakka. Jikapun ingin, Sivia pasti akan menanyakannya pada Alvin.
            “Kak Cakka…”
            “hmmm…” gumam Cakka singkat seraya mengunyah nasi goreng yang tadi Sivia bawakan khusus untuknya,
            “maaf ya kemaren aku nggak kesini buat nemenin Kak Cakka ngurus Pensi, habisnya kemaren Alvin ngajakin aku keluar”
            “nggak apa-apa, Via. Nggak usah dibahas lagi ya?”
            Cakka terkenal sebagai sosok paling dingin dan tercuek satu sekolah, tapi justru sikap dingin dan cueknya itulah yang membuatnya memiliki banyak fans cewek-cewek yang begitu mengaguminya. Bahkan sosok Cakka yang misterius mampu mengalahkan pamor Alvin yang terkenal begitu ramah dan sangat bersahabat disekolah. Tapi sedikitpun Alvin tidak merasa iri dengan itu, Alvin malah senang melihat begitu banyaknya orang yang menyayangi Cakka.
            Selain terkenal karna sikap-sikap misteriusnya itu, di SMA Patuh Karya Cakka juga terkenal sebagai Siswa paling pintar disekolah elite itu.

            “Kak Cakka, kapan-kapan ikut jalan bareng aku sama anak-anak yang lain ya?”

            Cakka langsung tersedak dan batuk-batuk begitu mendengarkan ucapan terakhir Sivia.


***

            Sivia berlari tergopoh-gopoh kearah pintu begitu mendengarkan suara bel rumahnya berbunyi. Sivia membuka pintu, sebuah tatapan heran dengan kedua alis bertaut menyambut Sivia.
            “abis ngapain lo?” Tanya Alvin. Ia melihat Sivia dari ujung kaki hingga rambut. Siang ini Sivia benar-benar terlihat berantakkan. Ia mengenakan celemek dengan noda saus dan minyak dimana-mana. Rambut panjangnya ia gulung keatas. Sebuah pisau tergenggam ditangan kanannya,
            “gue lagi belajar masak” jawab Sivia sekenanya. Alvin tertawa mencibir,
            “belajar masak? Dapur lo baik-baik aja kan? Nggak meledak kan?”
            Sivia geram lalu mengangkat pisau yang sedari tadi ia pegang,
            “lo liat apa yang gue pegang ini? Lo tentu nggak mau kan pisau ini ngerobek mulut lo?” ucap Sivia sok mengancam juga dengan nada sok sadis. Kali ini Alvin berusaha menahan tawanya.
            “sebagai hukumannya karna lo udah ngeledek gue seenak udel lo, lo harus jadi orang pertama yang nyicipin masakan perdana gue”
            Alvin sontak kaget. Apa? Jadi orang pertama yang mencicipi masakan perdana Sivia? Mimpi buruk. Ini benar-benar mimpi buruk untuk Alvin.
            Belum sempat Alvin mengeluarkan alibi untuk menolak, Sivia tahu-tahu menarik pergelangan tangannya dan membawanya paksa memasuki rumahnya. Alvin pasrah. Dalam hati ia berharap, semoga nanti setelah ia pulang dari rumah Sivia ia tidak langsung dirawat dirumah sakit karna diare.

***

            “Via, nanti malem Pricill udah balik lho dari Aussie” kata Alvin pada Sivia yang saat itu tengah sibuk menggoreng telur dadar. Mendengar ucapan Alvin, tangan Sivia yang sejak tadi sibuk membolak-balik telur yang ada dipenggorengan langsung berhenti bekerja sejenak. Ada perasaan ngilu didasar hatinya ketika itu.
            Pricilla kembali lagi? Itu berarti waktu Sivia bersama Alvin akan tersita lagi oleh kehadiran Pricilla. Selama 3 minggu Pricilla melaksanakan Student Exchange di Aussie, Sivia merasa Alvinnya yang dulu kembali lagi. Tapi hari ini Pricilla akan pulang yang itu berarti akan membuat Alvin jauh lagi darinya.
            “owh… emang program Student Exchange nya udah selese?” Tanya Sivia pelan. ia kembali focus dengan telur dadarnya.
            “udah dong, kan udah 3 minggu”
            “ooo….” Sahut Sivia dingin.
            “gue seneng banget tau, Vi? Karna sebelum hari anniversary kita tiba Pricill udah pulang”
            “bagus kalo lo seneng” sahut Sivia lagi. Nadanya masih terdengar dingin, tapi Alvin tidak menyadarinya.
            “untuk itulah  gue dateng kerumah lo, gue mau Tanya pendapat lo”
            “pendapat apa?” Sivia mematikan kompor lalu memindah telur dadarnya keatas piring.
            “kira-kira menurut lo, surprise apa yang musti gue kasih ke Pricill untuk menyambut kepulangannya?”
            Sivia memejamkan matanya sejenak. Rasa perih itu kembali terasa setelah selama 3 minggu belakangan ini Sivia tidak pernah lagi merasakannya. Sivia meremas jari jemarinya, ia memejamkan matanya sejenak untuk meredam rasa perih yang kelamaan terasa menyiksa itu, beberapa saat kemudian Sivia berbalik dan dan berjalan perlahan menghampiri Alvin yang saat itu duduk dimeja makan. Tidak lupa juga Sivia membawa telur dadar buatannya sendiri.
            “hmmm… apa yaa?” Sivia meletakkan piring itu diatas meja lalu duduk disamping Alvin. “gue juga bingung sih” lanjutnya. Alvin mendesah kecewa, tidak biasanya Sivia susah diajak kerja sama seperti ini.
            “payah lo” cibir Alvin. Sivia langsung nyengir,
            “hehehe….” Sivia memotong telur dadar itu sedikit lalu menjulurkannya tepat didepan mulut Alvin,
            “AAAA….” Sivia membuka mulutnya lebar-lebar untuk memberi isyarat pada Alvin agar membuka mulutnya juga.
            “apaan sih?”
            “lo musti coba masakan perdana gue” Alvin menggeleng.
            “gue udah punya ide  surprise buat Pricill nih”
            “Apa? Apa?” Tanya Alvin tak sabar,
            “ya makanya lo buka dulu mulut lo, terus cobain deh telur dadar buatan gue”
            “beneran ya setelah ini lo bakalan ngasih gue saran”
            “iya iya, bawel banget sih?”
            Dengan setengah hati Alvin membuka mulutnya lalu menerima suapan Sivia. Dan luar biasa, ini adalah telur dadar terasin yang pernah Alvin makan. Sivia menatap Alvin penuh harap,
            “gimana? Enak?”
            Alvin mengangguk. Itupun  terpaksa. Daripada Sivia tidak mau memberikannya saran hanya gara-gara Alvin mengatakan bahwa masakannya tidak enak, lebih baik Alvin berbohong. Ya tidak ada salahnya juga sih menyenangkan hati Sahabat sekali-sekali.
            Sivia tersenyum girang tak alang kepalang,
            “terus ide lo gimana, nih?” Alvin menelan bulat-bulat telur dadar itu sebelum mengunyahnya.
            “Pricill itu penggila Hello Kitty kan? Kenapa lo nggak coba pake kostum hello kitty gitu, terus pas Pricilla masuk kerumahnya lo ngehampirin dia gitu sambil bawa bunga, terus pas lo udah deket sama Pricill lo buka deh penutup kepala hello kitty lo sambil bilang “WELCOME BACK SAYAAANGGGG…. I MISS YOU” Teriak Sivia menirukan gaya bicara Alvin jika sedang bersama Pricilla.
            Alvin melongo mendengarnya. Apa? Memakai kostum hello kitty? Apa tidak salah? Gadis ini pasti telah mempermainkannya.
            Alvin menoyor pelan kepala Sivia lantas berkata,
            “ide lo gila! Nggak seru. Masa gue udah kece-kece begini lo suruh pake kostum hello kitty??”
            Sivia menoyor balik kepala Alvin,
            “heh, ide gue brilliant bukan gila. Justru gue ngasih lo ide yang unik, gue yakin deh seribu persen, kalo lo ngejalanin ide gue ini Si Pricill pasti bakalan terharu, ehem….” Sivia berdehem sejenak, ia bangkit dari tempat duduknya lalu menuntun Alvin untuk berdiri dihadapannya.
            Setelah mereka sama-sama berhadapan, Sivia langsung mengubah gayanya seperti gaya Pricilla, ia memasang raut wajah terharu lalu berkata,
            “Sayang… makasih ya buat surprisenya? Aku seneengg banget…” Sivia mendekat perlahan kearah Alvin lalu memeluknya erat,
            “aku juga kangen sama kamu sayang, hik…hik…” ujar Sivia dramatis. Beberapa saat Alvin terkesima. Tapi itu tidak lama, karna beberapa detik setelahnya Alvin langsung melepaskan pelukan Sivia darinya dan sekali lagi menghadiahkan sebuah toyoran dikening gadis itu,
            “kebanyakan nonton telenovela lo”
            Alvin kembali duduk dikursinya. Dasar Sivia, bukannya ngasih ide yang bagus tapi malah bikin Alvin semakin pusing dengan omongannya juga aktingnya yang tidak jelas itu.
            “tapi emang kayak gitu caranya, Alpiinnnn!! Ihh, lo itu nggak ada romantic-romantisnya ya jadi cowok? Kalo kata gue mending lo pake ide gue. Gue jamin Si Pricill bakalan terharu, kalo sampe Si Pricill nggak terharu potong lidah gue saat itu juga” jelas Sivia panjang lebar dengan wajah meyakinkan.
            Alvin menatap Sivia dengan pandangan menimbang-nimbang. Sebenarnya ide Sivia lumayan masuk akal juga, tapi masa sih harus pakai kostum hello kitty? Apa tidak bisa mengenakan kostum yang lain? Tidak lama kemudian Alvin mengangguk. Dalam hati Alvin merutuki dirinya karna telah termakan omongan Sivia. Sivia tersenyum puas.
            “inget ya, Vi? Kalo sampe Si Pricill nggak terharu gue potong lidah lo!”
            “dengan senang hati” sahut Sivia cepat.
            “tapi nanti malem lo dateng kan ke pesta penyambutan Pricill? Ify, Shilla ama Rio juga dateng kok”
            Sivia menampakkan raut menyesal,
            “sebenernya gue pengen, tapi nanti malem gue ada siaran! Lo tentu tau dong kalo sahabat lo yang paling kece ini adalah penyiar radio paling tenar tahun ini, hihi….”
            “nggak tau dan nggak mau tau” sambar Alvin cepat.
            Sebenarnya malam ini Sivia tidak ada siaran apapun, jadwalnya sedang kosong. Tapi Sivia sengaja menggunakan alasan itu untuk menghindari menghadiri pesta Pricilla. Ia tidak ingin semakin sakit hati dipesta nanti jika melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Alvin dan Pricilla. Apalagi kan nanti adalah kali pertamanya mereka bertemu setelah selama 3 minggu tidak pernah bertemu.

            “tadi kan kata lo telur dadar gue enak, diabisin dong!!” ujar Sivia seraya mendorong pelan piring itu kearah Alvin.

            “WHAAATTT…..???”


                        BERSAMBUNG….


           
           
           

1 comment: