Friday, February 6, 2015

2

S K Y L O V A (Chapter 3)






“Cinta itu tidak segampang dari mata turun ke hati.
Cinta itu tidak sesederhana kata ‘AKU CINTA KAMU’
Cinta itu rumit, juga tidak sederhana.
Cinta bahkan lebih sulit terpecahkan dari sederetan rumus matematika yang paling sulit terpecahkan sekalipun.
Ia tidak terhitung, seperti rintik hujan.
Ia memiliki batas, namun tak kasatmata,
Ia memiliki akhir yang jawaban satu-satunya hanyalah kematian.
Ia seperti langit… biru, tinggi, tak tergapai, tetapi selalu ada… selalu terlihat…
Ini bukan soal bagaimana kita akan menggapai langit. Tapi ini adalah tentang, bagaimana kita akan selalu menyadari keberadaannya…

Cinta bukanlah langit. Namun langit adalah cinta…”


♫♫♫

            Pagi ini Via terlihat sangat manis dengan seragam barunya. Tanpa perlu susah-susah berdandan seperti cewek-cewek seusianya kebanyakan, Via sudah terlihat sangat cantik dengan bedak tipis yang melapisi kulit wajahnya serta lip gloss berwarna pink muda yang mewarnai bibir tipisnya. Penampilannya pun sangat simple. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda dan membiarkan poninya menjuntai didahi. Via tersenyum menatap bayangan dirinya yang memantul dicermin. Ia lalu menyemprotkan parfum dengan wangi orange yang menyegarkan dibagian leher dan pergelangan tangannya.
            Setelah semuanya siap, Via meraih tas nya lalu segera turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarga barunya.
            Alvin serta merta mengangkat wajahnya saat indera penciumnya menangkap semerbak wangi orange yang begitu familiar baginya. Satu nama dibenaknya langsung terbersit. Aroma  parfum ini langsung mengingatkannya pada sosok mantan pacarnya. Prissy.
            “pagi semua…” sapa Via dengan nada yang kelewat ceria lalu duduk dihadapan Alvin. Wangi itu semakin jelas tercium dan membuat perasaan Alvin kian tak menentu. Disaat ia sedang berusaha melupakan mantan pacarnya itu, Via justru mengingatkannya lagi karna aroma parfum mereka yang sama.
            Alvin berdehem pelan dan memilih untuk tidak menanggapi sapaan Via tadi seperti yang lainnya. Alvin menampakan wajah tak acuh lalu kembali menyantap roti bakar yang merupakan menu sarapan favoritnya.
            Menanggapi sikap Alvin yang lagi-lagi sangat menyebalkan ini, Via mendengus sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
            ‘rese…’ bathinya.
            “aku udah selesai” ucap Alvin singkat lalu bangkit berdiri.
            “Vin, kamu berangkat bareng Via, ya? Kan satu sekolah” kata Metta sebelum Alvin keluar dari ruang makan.
            Alvin tidak menjawab, ia menatap Via sekilas lantas berkata,
            “3 menit lo udah harus selesai. Gue tunggu didepan…” ucap Alvin dingin lalu melangkah keluar.
            Tepat 3 menit kemudian, Via menyusul Alvin yang saat itu sudah menunggunya didalam Honda jazz putihnya. Baru saja Via duduk disebalah Alvin, Alvin langsung menjalankan mobilnya tanpa sepatah katapun.
            Via benar-benar dibikin keki oleh cowok disebelahnya ini. Dan Via yakin seribu persen, perjalanan kesekolah ini akan menjadi perjalanan yang paling membosankan yang pernah ia tempuh.


♫♫♫

            Alvin dan Via berjalan dikoridor dengan jarak yang cukup jauh. Alvin berjalan dengan santainya didepan, sementara Via hanya mengikuti dibelakang. Baru saja Alvin memasuki koridor, semua teman-temannya sudah menyapa. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menghampiri dan mengucapkan selamat datang.
            Di loby utama gedung sekolah SMA Patuh Karya, semua teman-teman dari kelasnya berkumpul. Dan mereka yang berdiri dilantai 2, langsung membentangkan sepanduk ucapan selamat datang untuk Alvin. Alvin hanya tersenyum. Ia tidak pernah menyangka, bahwa sambutan selamat datang untuknya akan seheboh ini.
            Sementara Via yang masih berdiri  dibelakangnya jauh lebih tidak menyangka lagi. Apa Alvin sepopuler itu sampai disambut sebegini hebohnya oleh teman-temannya? Via cengo menyaksikan pemandangan yang benar-benar ‘tak biasa’ itu.
            “welcome back, Alviiiinnnn…” seorang cewek berwajah cantik tahu-tahu menghampiri Alvin sambil bergelayut manja dipundak Alvin. Cewek itu adalah Zevana, teman sekelas Alvin yang sudah mengejar-ngejar Alvin sejak pertama kali masuk di Patuh Karya.
            Namun bukannya risih dengan tingkah Zevana itu, Alvin justru menerima saja dengan apa yang Zevana lakukan.
            “thanks, Ze” jawab Alvin seraya tersenyum kearah Zevana.
            Muak melihat kecentilan Zevana yang sok-sokan bergelayut manja pada Alvin, Via pun akhirnya memilih untuk pergi kekelasnya saja.
            “WOYYY… ALVIN!!” Rio dan Gabriel tiba-tiba saja muncul ditengah-tengah Alvin dan Zevana. Apa yang Rio dan Gabriel lakukan itu membuat Zevana harus dengan terpaksa menyingkir dari samping Alvin.
            “masih inget jalan pulang juga?” Tanya Rio sedikit bercanda yang malah diamini oleh Gabriel.
            “kenapa? Kalian gak suka gue balik lagi? Takut bersaing lagi sama gue? Hm?”
            “setelah balik dari New York, ternyata Mr.Genius kita makin songong aja, ya?” cibir Gabriel.
            “Hahahaha…” Alvin hanya tertawa. 3 bulan tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya ini membuat Alvin rindu. “eh iya, Cakka mana Cakka?”

            “dia lagi ada urusan katanya. Gak tau urusan apaan…” jawab Rio seraya mengangkat kedua bahunya.



♫♫♫

            Via memasuki kelas XI Bahasa 3 yang merupakan kelas barunya. Saat ia baru pertama kali menjejakan kakinya dikelas itu, tidak cukup banyak anak-anak yang ia temui. Beberapa dari penghuni kelas itu menatap kearah pintu saat melihat satu wajah asing yang memasuki kelas mereka. Via hanya tersenyum canggung lalu melangkah ke deretan bangku kedua dari depan.
            Namun baru saja ia akan duduk dibangkunya, Via serta merta membatalkan niatnya saat melihat setangkai mawar merah dengan selembar kartu ucapan dibawahnya. Via heran. Ia jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang siapa pelaku utama yang telah meletakan kedua benda ini dibangkunya.
            Hari ini bahkan hari pertamanya bersekolah disini, ia juga belum mengenal teman-teman barunya disekolah ini kecuali Alvin. Lalu pertanyaannya adalah, siapa yang meletakan bunga mawar beserta kartu ucapan ini?
            Via meraih kedua benda itu lalu membaca kartu ucapan yang berisi:



Selamat datang,


C


            “C? siapa?” Tanya Via pada dirinya sendiri sesaat setelah ia membaca kartu ucapan yang berisi sangat singkat itu.
            Belum terjawab rasa penasarannya, tiba-tiba saja seorang cewek berwajah ayu khas wajah gadis-gadis jawa kebanyakan menghampirinya. Ia menepuk pelan pundak Via. Via yang kaget langsung saja menyembunyikan kedua benda itu dibelakang punggungnya.
            “Hay… lo anak baru disini, kan? lo Via?”
            “iya…” jawab Via berusaha terlihat seramah mungkin.
            Cewek berkulit sedikit gelap yang mengenakan kostum basket itu langsung mengulurkan tangannya dihadapan Via.
            “kenalin gue Agni. Ketua kelas disini.”
            Via menyambut uluran tangan Agni seraya menyebutkan namanya, “Gue Via”
            Agni melepaskan jabatan tangan mereka dan kembali berkata,
“Tadi Bu Ana, wali kelas kita bilang ke gue kalo ada anak baru dikelas. Gue disuruh nyamperin elo. Oya, karna ini hari pertama kita masuk disemester 2, jadi kegiatan belajar mengajar dikosongkan untuk hari ini…”
            “hmmm… gitu ya?”
            “biar gak bête dikelas seharian, mending lu ikut gue yuk!”
            “ke—kemana?”
            “hari ini ada pertandingan basket putri dilapangan. Dan gue sama beberapa anak kelas yang lain mewakili kelas XI Bahasa 3 dipertandingan ini. Lo ikut aja buat ngasih support, sekalian juga kenalan sama temen-temen yang lain. Dan satu lagi, setelah pertandingan nanti, gue siep jadi tour guide lo disini”
            “tour guide?”
            “haha… iya, tour guide! Oya, hari ini juga ada pensi. Pasti bakalan seru banget. Makanya ayo ikut aja!”
            Dengan santainya Agni merangkul pundak Via lalu membawanya keluar setengah paksa dari kelas itu. Via yang awalnya merasa aneh dengan Agni, berusaha untuk membiasakan dirinya. Sepertinya Agni cukup asyik untuk dijadikan teman.



♫♫♫

            Rio sedang berkumpul bersama Cakka, Alvin dan Gabriel diruang sekertariat Osis saat tiba-tiba Ify masuk tanpa permisi dan menarik pergelangan tangan Rio. Alvin, Cakka, Gabriel tidak terkecuali Rio benar-benar kaget dengan kedatangan Ify yang secara tiba-tiba ini.
            “ikut gue! Kita harus ngomong”
            Alvin, Cakka dan Gabriel menatap kearah Ify dan Rio dengan pandangan heran. Ify yang cukup dekat dengan Alvinpun bahkan tidak mengucapkan selamat datang untuk Alvin begitu melihatnya. Pasti ada yang salah.
            “ngomong apa dulu nih?” Tanya Rio bingung tapi juga senang.
            “tentang undangan makan siang” jawab Ify sekenanya dengan emosi yang coba ia tahan sebisanya.
            “undangan makan siang…” bisik Cakka pada Alvin dan Gabriel. Alvin dan Gabriel hanya diam dan tidak merespon. Mereka berdua masih focus pada Rio dan Ify.
            Rio berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk beberapa kali seraya menggumamkan kata ‘oh’ yang cukup panjang. Ify makin muak dibuatnya. Cowok ini benar-benar  menjengkelkan.
            “ngomong diluar yuk!” ajaknya lalu meraih pergelangan tangan Ify. Ify serta merta menepis tangan Rio dari pergelangan tangannya. “gak usah pegang-pegang!” hardiknya dengan galak lantas berjalan mendahului Rio. Seperti biasa, Rio hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi lalu mengikuti langkah Ify dibelakang.
            “urusan rumah tangga” komentar Cakka sambil menampakan wajah polosnya. Ia pun kembali focus dengan gadget nya.
            “Si Rio masih belom nembak Ify juga?” Tanya Alvin entah pada siapa saja yang mau menjawab.
            “haha… boro-boro nembak, ngungkapin perasaan aja belom” jawab Cakka dengan  nada meledek sambil tetap focus dengan game-nya.
            “kok gitu? Kan Rio naksirnya udah lama” Tanya Alvin lagi dengan muka bego.
            “jelasin, Yel!” pinta Cakka pada Gabriel.
            “si Rio lagi berusaha menjinakan Ify. Lo tau sendirikan gimana galaknya cewek satu itu? Macan aja takut kali ngedeketin dia”
            Cakka lantas tertawa sembari mengacungkan jempolnya untuk Gabriel. “gue mutlak setuju!” ujarnya disela-sela tawanya.
            “elo sendiri gimana sama Shilla? Mau tetep fight apa move on, masa 3 bulan gue tinggalin ke New York lo masih belom ada perkembangan juga?” kali ini topic pertanyaan Alvin berganti.
            Gabriel terdiam sejenak. Ia menghela napas lantas menjawab, “gak tau juga. Shilla kayaknya lagi naksir cowok lain”
            “siapa?”
           
            “RIO!!” Celetuk Cakka tiba-tiba yang langsung membuat Alvin kaget setengah mati.

            Gabriel suka Shilla, Shilla suka Rio, Rio suka Ify? Apa kisah mereka sepelik itu?



♫♫♫


            “lo ngomong apa sama Bokap gue sampe lo diundang makan siang segala? Hm?” Tanya Ify pada Rio saat mereka hanya berdua saja diruang kelas Ify. Rio yang sudah bisa menebak arah pertanyaan Ify hanya mengangguk beberapa kali dengan bersikap setenang mungkin.
            “gak ngomong apa-apa. Waktu ujian kemaren gue dapet nilai A, terus Om Anton ngundang gue buat makan siang. Itu aja” terang Rio dengan sejelas-jelasnya. Tapi Ify masih tidak terima.
            “dari sekian ratus murid di SkyHigh apa Cuma lo yang dapet A?”
            “gak juga!”
            “terus kenapa Bokap gue Cuma ngundang lo?”
            “apa Bokap lo musti ngundang anak-anak yang lain juga?”
            Kali ini Ify terdiam, ia tidak tahu lagi bagaimana harus menjawab perkataan Rio barusan. Rio tersenyum miring, lalu tanpa Ify duga sebelumnya, Rio memojokannya pada salah satu dinding.
            “apa-apaan nih?” Ify sedikit salah tingkah. Mati-matian ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat dari hadapan Rio.
            “apa lo kesel karna gue gak mau ngasih tau lo darimana gue tau tentang lagu favorit lo itu? Iya?”
            “gak juga” jawab Ify seraya memalingkan wajahnya. Tapi kedua manik mata Rio terus mengikutinya.
            “lo masih penasaran? Lo masih pengen tahu jawabannya?”
            Ify menggeleng. Rio tersenyum licik. Ia tahu Ify sedang berbohong.
            “hari ini lo pulang bareng gue. Lo gak ada alesan buat nolak karna ini permintaan langsung dari Om Anton”
            Rio menatap kesekelilingnya seolah memastikan sesuatu. Setelah merasa pasti, Rio mendekatkan wajahnya dengan wajah Ify. Jauh didalam sana, jantung Ify sudah meloncat kegirangangan seakan-akan ingin keluar dari tempatnya detik ini juga.
            Dan ketika wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, Rio langsung menghentikan pergerakan wajahnya dan menatap Ify yang sudah memejamkan kedua matanya. Lagi-lagi Rio tersenyum dan menjauhkan wajahnya.
            “I make you nervous, right?” kata Rio sambil berusaha keras menahan tawanya.
            Seketika itu juga Ify langsung membuka kedua matanya dan menatap Rio dengan galak. Kali ini Rio sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawanya meledak begitu saja dan membuat Ify makin jengkel.
            1… 2… 3, Ify pun menginjak salah satu kaki Rio dengan kekuatan penuh. Apa yang Ify lakukan itu kontan saja membuat Rio meringis kesakitan.
            “itu balesan buat lo!”
            Ify melangkah keluar dengan perasaan jengkel dan rasa kesalnya yang sudah benar-benar mencapai puncaknya. Tapi dibalik semua itu, Ify merasakan bahwa ada yang aneh dalam dirinya. Jantungnya berdetak 2 kali lebih kencang dari seharusnya. Ini benar-benar salah.
            Ify menghentikan langkahnya lalu menyentuh dadanya.

            “kenapa jadi deg-degan gini sihhhhhh??”



♫♫♫

            “AGNI! AGNI! ADA BAD NEWS…” Teriak Dea –salah satu anggota tim Agni- dari kejauhan sambil berlari-lari menghampiri Agni dengan wajah panic.
            “ada apa sih?” Tanya Agni bingung ketika Dea sudah berdiri dihadapannya. Via yang saat itu berdiri disebelah Agni juga tidak kalah bingungnya dari Agni sekarang.
            “Aren, Ag… Aren!” Dea berusaha mengatur napasnya.
            “Aren kenapa?”
            “tadi Aren nge-sms, katanya hari ini dia sakit. Dia gak bisa masuk”
            “APA?!” Pekik Agni kaget. “terus gimana dong? Siapa yang bakalan ngegantiin dia? Kita kan gak punya cadangan”
            “tim basket inti dari kelasnya Zeze kan lebih. Lo gak bisa minta bantuan apa?” Dea mencoba memberi solusi.
            “ya gak bisalah, De! Kan hari ini kita ngelawan tim dari kelasnya Zeze” jawab Agni sedikit emosi. Ia sudah benar-benar frustasi kali ini.
            Via yang sejak tadi hanya mendengar mulai paham dengan duduk perkara yang dibicarakan oleh 2 cewek disebelahnya ini. Dan tiba-tiba saja, sebuah ide timbul dikepalanya.
            “terus gimana doooong??” ujar Dea yang sama frustasinya dengan Agni.
            “gue aja yang ngegantiin Aren. Gue juga dulu ikutan basket disekolah yang lama”
            Agni dan Dea serta merta menatap kearah Via yang tampak begitu yakin. Sementara Agni sedang berfikir, Dea justru bingung saat melihat seraut wajah asing baginya.
            “elo siapa?” Tanya Dea tanpa sedikitpun menurunkan pandangannya dari kedua mata Via.
            Via tersenyum mantap lalu mengulurkan tangannya, “gue Via. Anak baru dikelas XI Bahasa 3”


♫♫♫

            Suasana lapangan outdoor SMA Patuh Karya sudah dipenuhi oleh siswa-siswi yang ingin menyaksikan pertandingan antar kelas di Pensi kali ini. Cuaca yang cukup terik dipagi menjelang siang itu tidak sedikitpun menyurutkan semangat mereka untuk memberikan dukungan penuh pada kawan mereka yang sedang bertanding.
            Diantara kerumunan para penonton, tampak Alvin, Rio, Cakka, dan Gabriel yang juga ikut andil dalam memberikan semangat. Cakka dan Gabriel sudah heboh meneriakan nama Agni yang justru tampak tidak acuh. Sementara Alvin, ia hanya diam dan memperhatikan ketengah lapangan dengan serius. Lain Alvin, lain juga Rio. Rio malah sibuk sendiri mencuri pandang kearah Ify yang saat itu berdiri disebrang lapangan bersama Shilla.
            Beberapa kali ia tertangkap basah oleh Ify. Namun bukannya Rio yang salah tingkah, tapi Ify.
            “Fy, Rio kok ngeliat kesini terus sih? Dia ngeliatin elo, ya?” Tanya Shilla. Dalam hati ia sangat berharap, bahwa yang saat ini menjadi pusat perhatian Rio adalah dirinya, bukan Ify, bukan juga yang lainnya.
            Ify terkesiap, ia lalu menatap kearah Shilla dan menjawab, “ck, gak kok! Dia ngeliatin elo”
            “SERIUS?” Tanya Shilla –lagi- antusias. Kali ini Ify hanya mengangguk dan semakin tinggi melambungkan harapan Shilla.
            Pertandingan nyaris saja dimulai saat Via tiba-tiba muncul ditengah lapangan sambil berlari. Ia sudah mengenakan kostum basket berwarna merah, rambutnya yang panjang ia gulung keatas. Kehadiran Via yang secara tiba-tiba itu kontan saja membuat semua siswa-siswi yang memang belum familiar dengan wajahnya merasa sangat bingung. Mereka semua bertanya-tanya, siapa Via? Kenapa dia bisa menggantikan Aren?
            Jika yang lainnya merasa sangat bingung dengan kehadiran Via, Alvin justru kaget setengah mati. Kenapa gadis cemen itu bisa bergabung ditengah lapangan? Alvin menatap Via dengan kedua mata yang terbuka lebar. Menyadari bahwa Alvin sedang menatapnya, Via yang berada ditengah lapangan langsung melemparkan senyum sungkan kearah Alvin sambil menundukan kepalanya.
            “Kka… Kka… bukannya itu cewek yang nolak kenalan sama lo di lapangan komplek waktu itu?” Tanya Rio seraya menunjuk kearah Via. Alvin tetap bergeming. Ia tidak sedikitpun mendengar perkataan Rio menyangkut Via. Alvin terlalu focus menatap ketengah lapangan.
            “gue tau!” jawab Cakka dengan santainya sambil memamerkan evil smile andalannya.
            “elo kalo udah senyum kayak gitu pasti udah nyusun rencana licik” tebak Rio yang memang sudah mengenal betul bagaimana sifat dan sikap sahabatnya yang terkenal sebagai penakluk wanita ini.
            “bukan rencana licik, tapi rencana masa depan antara gue sama dia” jawab Cakka gombal tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari sosok Via yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Cakka diantara kerumunan para penonton.
            “lo udah tau kalo dia pindah kesini? Kapan?”
            “apa itu penting sekarang?” kali ini Cakka menatap Rio.
            “gak juga sih…” gumam Rio pelan. Sekarang giliran Rio yang meneriakan nama Dea, sepupunya.



♫♫♫

            Pertandingan basket antar kelas itu dimenangkan oleh tim dari kelas XI Bahasa 3. Pertandingan itupun diakhiri oleh rasa kagum warga SMA Patuh Karya pada kelincahan serta kelihaian Via dalam memainkan si kulit orange  itu ditengah lapangan. Mereka tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa si anak baru itu ternyata memiliki skill yang wow dalam bermain basket. Bahkan Agni, yang terkenal paling jago di tim putri terlihat cukup kuwalahan mengimbangi permainan Via.
            Namun Agni tidak merasa iri apalagi merasa disaingi oleh kemampuan yang Via miliki itu. Agni justru merasa senang karna Via bisa membawa kelasnya pada kemenangan. Setelah ini, Agni juga memiliki rencana untuk menarik Via masuk ke tim inti putri.
            “AAAA… VIA HARI INI LO KEREEEEN!!” Puji Dea sambil memeluk pundak Via saat mereka sedang beristirahat dipinggir lapangan. Suasana lapangan basket sudah tidak seramai tadi. Bahkan Cakka CS sudah tidak tampak dilapangan.
            “kalian semua juga keren! Gue gak akan bisa apa-apa kalo kalian semua gak ngasih kepercayaan buat gue. Thanks, ya?”
            “Vi…” panggil Agni tiba-tiba.
            “kenapa?”
            “kayaknya tim basket sekolah kita butuh elo deh. Lo gak niat masuk ekskul basket setelah ini?”
            “pengen sih… ntar deh gue liat situasi dulu”
            “lo masuk aja, Vi. Kalo ngeliat dari permainan lo tadi kayaknya Pak Imam bakalan langsung masukin lo ke tim inti” ucap Dea yakin seratus persen.
            Tapi tiba-tiba saja…
            “siapa bilang dia bakalan masuk segampang itu? Dia harus bisa ngalahin gue dulu baru bisa masuk ekskul basket sekolah kita” ucap seseorang dengan angkuhnya yang tahu-tahu sudah berdiri tepat dihadapan Via. Via dan kawan-kawannya sontak mendongak. Senyuman maut milik Cakka langsung menyambut mereka.
            “oh my god…” gumam Dea kaget tapi juga kagum.
            “ELO?” Pekik Via nyaris berteriak. Dalam sekali lihat saja, Via bisa mengenali cowok ini dengan jelas. Dia Cakka, cowok super pede yang mengajaknya berkenalan seminggu yang lalu.
            “yang berhak nentuin Via bisa masuk apa gak itu Pak Imam, bukan elo” timpal Agni yang merasa sedikit sewot.
            “gue anak didik kesayangan Pak Imam. Lo jangan lupa itu!” jawab Cakka dengan santainya.
            Ternyata dugaan Via diawal tentang Cakka memang benar dan tidak melenceng sedikitpun. Cakka ini memang angkuh. Sikapnya hari ini telah menjawab semua dugaan yang Via gelontorkan sejak mereka pertama kali bertemu dilapangan komplek tempo hari.
            Muak dengan keangkuhan yang ditunjukan oleh Cakka, Via menghela napas panjang lalu bangkit berdiri hingga berhadapan dengan Cakka. Ia menatap Cakka dengan muak lalu tersenyum sinis untuk sejenak.
            “tadinya gue tertarik ikutan ekskul basket, tapi waktu tau lo juga ikut basket, gue jadi gak tertarik lagi”
            Hening untuk sejenak. Via lantas membuang wajahnya kearah lain lantas berkata pada kawan-kawannya,
            “gue ganti baju dulu ya semua? Thanks buat kesempatan yang udah kalian kasih hari ini”
            Lalu tanpa melihat Cakka sedikitpun, Via berjalan melewati Cakka begitu saja. Cakka tersenyum meremehkan. Ternyata gadis ini jauh lebih sulit dari apa yang dapat ia bayangkan.
            “Gisselavia Garneta… senang bisa ketemu lo lagi”
            Seakan dikomando, Via serta-merta menghentikan langkahnya tapi tidak sedikitpun menoleh kebelakang. Kali ini ia benar-benar kaget, darimana Cakka tahu namanya? Sementara semua teman-temannya yang menyaksikan apa yang terjadi antara Cakka dan Via hanya bisa terbengong-bengong. Setidaknya dalam pikiran mereka, Cakka dan Via baru saja bertemu, tapi kenapa tingkah mereka menunjukan seolah-olah mereka adalah sepasang musuh yang dipertemukan kembali setelah cukup lama tidak bertemu.
            Disamping semua rasa penasaran dan rasa ingin tahunya, Agni malah merasa ada yang tidak beres dengan sikap Cakka. Ia mengenal Cakka hampir separuh hidupnya, dan selama ini, Cakka tidak begitu respect dengan orang baru, tapi dengan Via… entah kenapa Agni merasa ada yang lain. Dan Agni mulai takut.
            Cakka melangkah mendekati Via yang masih diam mematung ditempatnya. Dan ketika Cakka sudah berdiri tepat dihadapannya, Via langsung melemparkan sebuah pertanyaan.
            “darimana lo tau nama gue?”
            “apa itu penting buat lo?” Cakka malah balik bertanya.
            Via mengangguk beberapa kali. Oke, tidak penting darimana Cakka tahu namanya, yang terpenting sekarang adalah, ia harus memastikan siapa pelaku yang telah meletakan bunga beserta kartu ucapan dibangkunya pagi tadi. Via lantas teringat pada huruf ‘C’ yang tertulis dibagian penutup  surat. Setelah berhasil menghubungkan semuanya dan yakin bahwa tidak ada yang salah dengan caranya berpikir, Via bertanya dengan lugas pada Cakka,
            “bunga sama kartu ucapan itu… apa lo yang punya kerjaan?”
            Cakka mengangguk pasti. “kenapa, lo gak suka?”
            Via menatap kedua bola mata Cakka seakan menerawang sesuatu dari sepasang mata elang itu. Setelah menemukan apa yang ia cari, Via menghembuskan napasnya lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Cakka.

            “elo bener-bener tipe gue, Via….” Ujar Cakka pada dirinya sendiri lalu melangkah pergi dengan arah yang berlawanan dengan Via.



♫♫♫

            Ify baru tiba di pos satpam saat tiba-tiba Rio menghampirinya dengan ninja putih kebanggaannya. Ify menghentikan langkahnya lalu menatap Rio seperti seekor singa yang tengah diganggu. Padahal tadi Ify sudah berusaha melarikan diri, tapi Rio malah berhasil mengejarnya. Menerima kenyataan bahwa ia harus pulang bersama Rio dan makan siang bersamanya membuat Ify merasa sangat menyesal menolak ajakan Shilla yang tadi mengajaknya untuk pulang bersama dan shoping sebelum pulang. Kalau saja tadi Ify menerima ajakan Shilla, ia tidak mungkin pulang bersama Rio apalagi sampai harus makan siang dengan cowok yang selalu tebar pesona dimana-mana ini.
            “naik!” titah Rio yang tidak ingin berlama-lama lagi.
            Ify menggeleng mantap.
            “apa harus gue telfonin Om Anton?” ancam Rio. Ify langsung ciut seketika dan menaiki motor Rio tanpa banyak bicara.
            Dari dalam mobilnya, diam-diam Shilla melihat Ify yang menaiki motor Rio lalu memegang kedua pinggangnya dengan nyaman, setidaknya itu yang dapat Shilla tangkap.

            “jadi ini alesan lo nolak ajakan gue, Fy? Gue bener-bener butuh penjelasan…” tutur Shilla sedikit gemetaran. Tapi biar bagaimanapun, Ify adalah sahabatnya. Ify tidak akan menghianatinya. Shilla lalu menghela napas panajngnya dan berusaha menyingkirkan semua pikiran buruk tentang Ify. Shilla sangat yakin dengan sahabatnya itu.

            “jalan, Pak!” kata Shilla pada supirnya.



♫♫♫

            Rio, Ify bersama kedua orangtua nya tengah duduk berhadapan dimeja makan sambil menikmati santap siang mereka masing-masing. Ify membiarkan Papa dan Mama nya mengoceh semau mereka bersama Rio. Dan sebisa mungkin, Ify berusaha untuk tidak sedikitpun ikut andil dalam pembicaraan ketiga orang ini. Dengan perasaan dongkol dan tanpa selera sedikitpun, Ify memakan makanan yang tersaji dihadapannya sesendok demi sesendok.
            Melihat sikap tidak menyenangkan yang ditunjukan oleh Putrinya, Anton tampak sebal. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang terpenting sekarang, Anton harus segera menyampaikan maksudnya pada anak dan murid kesayangannya ini.
            “Rio, Ify. Ada yang ingin Papa sampaikan”
            “apa, Om?” Tanya Rio penasaran, tapi Ify justru tampak tidak tertarik sedikitpun.
            Anton menatap Rio seraya tersenyum, “Om, udah punya rencana buat bikin project duet untuk kalian berdua…”
            “APA?!” Mau tidak mau Ify akhirnya merespon juga. Apa-apaan ini? Project duet? Bersama Rio? Jangan berharap Ify mau melakukannya.
            Berbeda dengan Ify, Rio justru tidak kaget sama sekali dengan apa yang disampaikan oleh Anton. Dulu, Anton sempat menyampaikan rencananya ini pada Rio. Rio setuju, dengan catatan Ify harus setuju juga tanpa paksaan. Tapi respon yang Ify tunjukan sekarang ini malah membuat Rio pesimis.
            “Papa ngaco ih! Aku kan udah bilang aku gak mau jadi penyanyi. Aku mau jadi dokter”
            “Papa gak nyuruh kamu untuk jadi penyanyi tetap dan ngelepas cita-cita kamu jadi Dokter, Fy. Sekali ini saja, Papa mau bikin project duet buat kalian berdua. Kalo nanti sukses, kalian berhak milih mau lanjut apa gak. Pilihan ada ditangan kalian”
            “apapun itu Ify gak mau, Pa. cari aja pasangan duet lain buat Rio, tapi jangan Ify”
            Mendadak Ify merasa selera makannya hilang begitu saja. Ia pun bangkit dari meja makan lalu menaiki anak tangga tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun.
            “Fy, kamu mau kemana? Abisin dulu makanan kamu, Fy…”
            Ify tidak sedikitpun menghiraukan panggilan Mamanya. Kali ini kekesalannya sudah benar-benar mencapai ambang maksimal.


♫♫♫


            Ify duduk disebuah kursi gantung yang terdapat dibalkon kamarnya dengan pandangan menarawang jauh dan pikiran entah kemana. Permintaan Papanya tadi benar-benar membuatnya merasa sangat tertekan dari segala arah. Jika Papanya sudah punya keinginan, pasti keinginan itu akan benar-benar dikejarnya hingga dapat. Bilau tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Itulah yang Ify takutkan sekarang ini.
            “jujur, gue ngerasa sangat kecewa atas penolakan lo tadi” satu suara dari belakangnya langsung membuat Ify terkesiap. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Rio sudah berdiri dengan santainya dipintu balkon sambil memasukan tangannya pada kedua saku celana seragamnya.
            “lo gak pernah diajarin ya? Kalo masuk kamar orang harus permisi dulu” Ify kembali menatap kedepan.
            “pintu gak ditutup. Terus salah siapa?”
            “udah ah. Gue gak mau debat gak penting sama lo. Mending lo pulang sana”
            “setelah ditolak, sekarang gue diusir juga ya?”
            “terserah elo lah mau ngartiin apa aja, gue lagi pusing. Lagi gak bisa berpikir dengan jernih”
            Rio mengangguk maklum. Ia lalu berdiri tepat dihadapan Ify dan bersandar dengan nyaman pada pembatas balkon.
            “minggir! Lo udah ngerusak pemandangan gue”
            “gue gak peduli. Karna gue mau pandangan mata lo terus tertuju sama gue. Gue tahu sulit untuk bisa kelihatan dimata lo, tapi gue akan mencoba”
            “lo ngomong apaan sih? Gak jelas!”
            Rio duduk bersimpuh dihadapan Ify lalu memegang kedua tangannya dengan erat. Ify mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rio tapi tidak berhasil. “lepas gak?” sinis Ify. Rio hanya menggeleng.
            “gak apa-apa kalo lo gak mau duet sama gue. Sejak awal Om Anton ngutarain keinginannya ini, gue udah pesimis lo bakalan mau. Dan sekarang, semua dugaan gue akhirnya terjawab. Lo emang gak mau”
            “terus…?”
            “lo pernah nanya, kenapa gue bisa tahu lagu kesukaan lo. Dan sekarang… gue bakalan jawab”
            Deg! Deguban sialan itu kembali terasa didada Ify. Rio hanya akan menyampaikan alasannya, lalu kenapa ia harus repot-repot gugup seperti ini?
            “gue jujur, sejak SMP gue udah kagum sama lo. Awalnya gue kagum karna lo adalah putri dari Om Anton, idola gue. Tapi makin kesini, semakin gue kenal sama lo, gue jadi menyadari satu hal. Akhirnya gue mulai nyari tahu semua tentang lo. Gue masuk ke SkyHigh dan berusaha narik perhatian Om Anton dengan kemampuan gue, sampai pada akhirnya gue berhasil narik perhatian Om Anton dengan selalu mendapatkan nilai sempurna diujian. Gue bisa deket sama Om Anton dan mulai nanya-nanyain semua tentang lo dari hal terkecil. Untungnya Om Anton sangat terbuka…”
            Ify tercengang dan berusaha mencerna baik-baik apa yang barusan Rio ucapkan. Tapi mendadak otaknya seakan buntu. Mulutnya bahkan terkunci rapat. Ify yang biasanya cerewet tiba-tiba bungkam, dan itu karna Rio.
            Setelah saling bertatapan untuk sejenak dan setelah Rio merasa cukup dengan penjelasannya, ia pun melepaskan kedua tangan Ify lalu bangkit dari hadapannya.
            “gue pulang, ya?”
            Rio berjalan keluar dari kamar Ify dengan langkah gontai. Sebagian apa yang ia pendam selama ini akhirnya bisa ia ungkapkan. Meski hanya sebagian, Rio sama sekali tidak bisa menampik perasaan lega yang menjalari setiap inci perasaannya.

            Dan Ify masih terpaku ditempatnya dengan ketidakpahamanannya.



♫♫♫

            Sekitar pukul 5 sore Alvin tiba dirumahnya. Sepulang sekolah tadi, ia langsung mengadakan acara kecil-kecilan bersama sahabat-sahabatnya untuk melepas kangen. Meskipun sudah sangat dekat dengan Rio, Cakka dan Gabriel, tapi Alvin masih belum memiliki keberanian sedikitpun untuk memberitahukan pada mereka bahwa Via adalah saudara angkatnya.
            Disekolah, Alvin bahkan bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengenal Via. Tapi Via tidak terlalu memikirkan hal itu. Saat ini, ia sedang berusaha membiasakan diri dengan sikap Alvin yang sering berubah-ubah itu.
            Alvin menuruni anak tangga setelah mengganti seragam sekolahnya dengan baju kaos serta celana kain pendek yang terlihat nyaman melekat ditubuh atletisnya. Tanpa sengaja, tatapan Alvin tertuju pada Via yang sedang duduk ditepi kolam renang sambil memainkan sebuah gitar. Alvin menghentikan langkahnya sejenak. Ia diam berpikir untuk beberapa lama lalu kembali melanjutkan langkahnya.
            “kok sepi sih? Orang-orang pada kemana? Biasanya jam segini Papa sama Mama udah dirumah”
            Alvin langsung mengambil posisi disamping Via. Ia duduk bersila dengan santainya sambil menatap kearah Via.
            “Papa Mama lagi nganterin Angel ke asrama”
            Alvin tampak mengingat sesuatu. “oh iya, gue lupa! Besok kan Angel udah mulai sekolah lagi”
            “gimana sih? Sama adik sendiri lupa” cibir Via sambil tetap focus memainkan gitarnya. Alvin menggaruk tengkuknya, ia tampak kebingungan sekarang.
            “lo bisa main gitar?” Tanya Alvin berusaha mencari topic lain agar keadaan diantara mereka bisa sedikit cair.
            “Cuma sekedar bisa. Gak jago!”
            Alvin mengangguk. Kenapa mendadak ia merasa canggung begini sih?
            “oya,  maaf ya gue ngebiarin lo pulang sendirian hari ini. Tadi Cakka mendadak ngadain acara”
            “gak apa-apa, kan ada pak Yusuf yang jemput”
            “gue gak nyangka kalo lo bisa main basket. Kenapa itu gak lo kembangin aja di ekskul, pasti seru”
            “gue gak tertarik ikutan ekskul”
            “gara-gara Cakka?”
            Permainan gitarnya langsung terhenti. Kok Alvin tahu sih?
            “tadi Cakka ngomongin lo terus. Dari Cakka juga gue tahu kalo ternyata elo lebih dulu ketemu sama dia daripada sama gue”
            “hmm… gimana ya? Gue gak begitu suka sama sahabat lo yang satu itu. Dari awal ketemu kesannya aja udah gak enak. Dan dia nyari tahu nama gue diem-diem, dia bahkan naroh setangkai bunga mawar dimeja gue tadi pagi. Apa dia selalu kayak gitu sama cewek yang baru dia kenal?”
            Alvin terdiam sejenak untuk berpikir. Lalu tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Via, Alvin menggeleng beberapa kali.
            “gak. Cakka gak pernah kayak gitu sebelumnya. Elo… elo cewek pertama yang bikin dia kayak gitu?”
            “APA??” Via benar-benar kaget setengah mati kali ini. Apa ia tidak sedang salah dengar? Atau apa Alvin yang sedang membohonginya sekarang
Tidak tahu harus memberikan tanggapan yang seperti apa, Via kembali melanjutkan permainan gitarnya dan membiarkan berjuta-juta tanda Tanya bergumul menjadi satu memenuhi ruang dikepalanya.
            Suasana yang tadinya hening langsung mencair kembali saat Alvin dengan sengaja mencipratkan air kewajah Via. Via yang kaget kontan saja melepaskan gitarnya lalu menatap Alvin yang sedang berusaha keras menahan tawanya.
            “Alvin rese ih!” Via pun membalas. Ia mencipratkan air yang lebih banyak lagi ke wajah Alvin.
            Tidak ingin mendapat serangan lagi dari Alvin, Via buru-buru bangkit dari tempatnya lalu berlari. Alvin tidak mau kalah, ia mengejar Via untuk membalas.
            Via semakin mempercepat larinya saat sadar bahwa Alvin sedang mengejarnya dan berusaha menangkapnya. Mereka berdua bahkan sampai mengelilingi sebuah pilar.
            “nyerah gak lo?!” kata Alvin dengan nada mengancam.
            “gak mau! Lo duluan sih yang nyebelin” balas Via.
            Saat Via sedang lengah, dalam satu tarikan kuat Alvin menarik lengannya dan membawa Via dalam bopongannya. Via sempat meronta dalam bopongan Alvin dan meminta untuk dilepaskan, tapi Alvin malah mengabaikannya begitu saja.
            Alvin lalu menceburkan tubuh Via dikolam dalam sekali lempar saja.
            “ALVIIIINNNN!! Diem-diem  lo rese banget ya ternyata?” protes Via sambil mengusap wajahnya. Ia bahkan sampai batuk-batuk gara-gara kemasukan air. Alvin tidak menjawab, ia hanya tersenyum jahil lalu mengulurkan tangannya untuk Via.
            “ayo naik!” ucapnya.
            Saat tangan Alvin terulur, saat itulah sebuah ide licik tiba-tiba muncul dikepalanya. Alvin menerima uluran tangan Alvin dan menariknya keras-keras hingga Alvin tercebur kekolam, sama seperti dirinya.
            Kali ini Via tertawa keras. Ia benar-benar puas kali ini karna bisa membalas ulah jahil Alvin.
            “hahaha…. Jangan jahil makanya kalo gak mau dijahilin balik”

            Alvin lagi-lagi mencipratkan air kewajah Via yang langsung dibalas oleh Via. Tawa mereka berdua akhirnya pecah, menandakan bahwa mereka telah bisa saling menerima satu sama lain.
            Untuk selanjutnya, tawa itu akan terus berlanjut, membuka jalan lapang menuju hati mereka masing-masing.
            Luka itu akan segera sembuh. Menghapuskan setiap perih dan hanya menyisakan bahagia yang luput dari kepekaan hati mereka.




To Be Continued...

2 comments:

  1. Kak..aku izin repost cerbung cinta begini ya di blog aku..judulnya tetap sama..tapi nama pemainnya aku ganti..boleh nggak kak??

    ReplyDelete
  2. Terima kasih infonya gan, mantabbbsss.
    Ditunggu postingan2 lainnya.

    Gema Parfum :
    Parfum Terbaik Wanita.

    -------------

    ReplyDelete