Saturday, February 14, 2015

1

S K Y L O V A (Chapter 5)









Via sedang sibuk memasak didapur saat Alvin turun dari lantai 2 rumahnya. Pemandangan yang tidak biasa itu benar-benar membuat Alvin terheran-heran. Satu minggu tinggal seatap dengan Via, ini baru pertama kalinya Alvin melihat gadis itu menyentuh dapur.
            “pagi, Alviiinnnn!!” sapa Via penuh semangat sambil melepaskan apronnya. Ia lalu membawa 2 gelas susu kemeja makan dan meletakannya dengan hati-hati.
            “kenapa jadi elo yang masak? Mbak Ningsih kemana?” Tanya Alvin sambil melirik kearah dapur dan mencari penampakan Mbak Ningsih.
            “Mbak Ningsih udah kepasar tadi pagi. Gue juga yang ngotot masak buat sarapan pagi ini”
            “ngotot masak?” Tanya Alvin bingung.
            Via meletakan telur mata sapi yang nyaris tidak berbentuk lagi diatas piring Alvin. Alvin ternganga, kenapa bentuk telur ini begitu menyedihkan?
            “iya. Ini sebagai tanda permintaan maaf gue karna udah nyusahin lo semalem” jawab Via apa adanya yang justru membuat Alvin semakin bingung.
            Alvin hanya mengangguk. Ia terlalu malas menanggapi apapun yang Via katakan.
            “ini telur ceplok apa telur orak-arik sih? Kok gak ada bentuknya?” komentar Alvin.
            “makan aja. Gue gak terlalu ahli dalam menggoreng telur”
            Alvin mendesis. Dengan setengah hati ia mulai menyantap nasi goreng hasil karya Via yang katanya ia buat sebagai tanda permintaan maafnya.
            Alvin mengunyah makananya dengan hati-hati, tapi… ia merasa seperti ada yang aneh dengan rasa nasi goreng ini. Sekali lagi Alvin mengunyah, mencoba mengamati rasanya baik-baik. Tidak lama, Alvin akhirnya bisa menarik satu kesimpulan. Ini nasi goreng dengan rasa teraneh yang pernah masuk ke perutnya. Semoga tidak ada yang bermasalah dengan system pencernaannya setelah ini.
            “ehem… lain kali lo gak usah repot-repot masak, ya? Cukup buat hari ini aja” ucap Alvin datar sambil tetap memaksakan dirinya mengunyah nasi goreng itu.
            “kenapa? Gak enak ya?” Tanya Via harap-harap cemas.
            “kenapa lo gak coba sendiri aja?”
            Via segera mengikuti ucapan Alvin. Sekecap rasa aneh yang tidak terjelaskan langsung menyambut lidahnya saat ia mencicipi masakannya sendiri. Via yang batuk-batuk langsung meraih segelas air putih yang ada dihadapannya dan meneguknya sampai tandas. Via sama sekali tidak mengerti, semua bumbu sudah ia racik dengan sangat hati-hati, tapi kenapa rasa masakannya bisa seaneh ini ya?
            Alvin hanya berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh gadis yang ada dihadapannya ini.
            “nasi gorengnya gak enak. Maaf yaa? Sini piring lo! Lo sarapan pake roti aja. Ini biar gue buang”
            Alvin langsung menepis kedua tangan Via sebelum menyentuh piring makanannya. Ia seakan tidak membiarkan Via menyentuh piringnya.
            “gak usah dibuang! Ini biar gue abisin aja. Lo pikir ini buatnya gak pake duit? Lo pikir ini buatnya gak ngeluarin tenaga? Udah makan aja sampe abis. Tapi lain kali, jangan lo ulangi lagi!”
            ANEH, itulah satu kata yang menggambarkan keadaan Alvin pagi ini. Ternyata, Alvin sama anehnya dengan nasi goreng yang ia buat. Ralat, sepertinya Alvin jauh lebih aneh dari rasa nasi gorengnya.
            Via yang awalnya merasa sangat aneh dengan Alvin, sekarang malah merasa tidak tega. Sekeras apapun Alvin berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya, tapi tetap saja semuanya dapat Via tangkap dengan sangat jelas.


♫♫♫

            Shilla sedang sibuk mengerjakan PR Fisika nya dikafetaria saat seseorang tiba-tiba saja datang lalu duduk tepat dihadapannya. Shilla menghentikan aktifitas mencatatnya lalu mengangkat wajahnya. Dan Shilla kaget bukan main saat melihat bahwa Rio lah yang tiba-tiba datang lalu duduk dihadapannya.
            “eh… elo, Yo?” ucap Shilla tanpa bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
            “gue boleh gabung kan?” Tanya Rio sambil menatap tepat pada kedua mata jernih Shilla. Apa yang Rio lakukan itu justru membuat perasaan Shilla makin tidak menentu. Sial! Apa cowok ini tidak bisa lebih manis lagi dari ini?
            “kok bengong, Shill? Gue boleh gabung gak?” Tanya Rio sekali lagi yang merasa heran dengan sikap yang Shilla tunjukan.
            Shilla tersadar, ia membuyarkan keterpanaannya lalu buru-buru mengangguk.
            “boleh kok boleh”
            Rio tersenyum manis sambil menggumamkan kata terimakasih.
            “oya, lo lagi ngapain nih? Sibuk banget kayaknya” Rio menatap buku catatan Shilla dengan seksama.
            “ini, gue lagi ngerjain PR Fisika. Tadi buku PR gue ketinggalan, jadi terpaksa gue kerjain sekarang sebelum bel masuk”
            Rio sempat mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya menjawab perkataan Shilla. “terus gimana? Udah jadi belom?”
            “dikit lagi kok”
            “ya udah lanjutin aja. Gue gak mau ganggu”
            Baru saja Rio akan bangkit dari hadapan Shilla, Shilla malah dengan refleks mencekal pergelangan tangan Rio. Rio mengernyit heran. Ia mengangkat salah satu alisnya tinggi-tinggi,
            “ada apa, Shill?”
            “lo pergi sama siapa ke birthday party-nya Iel?” tanpa sadar pertanyaan itu meluncur begitu saja. Sesaat setelah Shilla melemparkan pertanyaan itu pada Rio, ia baru menyadari bahwa apa yang ia lakukan baru saja benar-benar gila.
            “hah?” Rio berusaha memastikan pendengarannya, tapi Shilla sudah terlanjur merasa sangat malu. Shillapun segera melepaskan tangan Rio,
            “gak apa-apa. Lupain aja pertanyaan gue tadi. Gue Cuma asal nanya aja kok”
            Rio tampak berpikir. Bagaimanapun ia tidak bisa pura-pura tidak mendengar apa yang barusan Shilla ucapkan. Rio juga merasa sangat tidak tega jika harus menolak ajakan Shilla yang ia sampaikan secara tersirat itu. Toh juga Shilla adalah mantan pacar sahabatnya. Jadi tidak ada salahnya kan jika Rio menerima ajakan Shilla? Siapa tahu nanti Rio bisa menemukan cara untuk mempersatukan Shilla dan Gabriel kembali.
            “emmm… sebenernya gue belom punya pasangan, Shill. Elo mau gak pergi sama gue ke birthday party nya Iel?”
            Apa Rio baru saja memintanya untuk pergi ke pesta ulang tahun Gabriel? Apa Rio baru saja memintanya untuk jadi pasangannya? Apa semua ini nyata? Apa semua ini bukan mimpi?
            Shilla menatap Rio tanpa suara. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
            “Shill? Kok bengong lagi? Gimana? Lo mau gak pergi sama gue ke birthday party-nya Iel?”
            Shilla mengangguk beberapa kali tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari kedua mata Rio yang tampak begitu yakin. “gue mau, Yo…” jawabnya singkat. ‘MAU BANGET!’ teriaknya dalam hati dengan girang.
            Tanpa mereka tahu, tepat dibelakang posisi mereka sekarang, Ify melihat dan mendengar semuanya dengan sangat jelas. Tidak bisa ia pungkiri, ada semilir perih yang seakan menyapa jantungnya. Kuota udara disekitarnyapun seolah menipis dan membuatnya sesak.

            Kenapa? Kenapa rasanya harus semenyesakan ini?



♫♫♫

            Baru saja Alvin dan Via keluar dari dalam mobil, secara mengejutkan Cakka tahu-tahu muncul diantara mereka dengan pandangan bertanya. Cakka menatap Alvin dan Via secara bergantian. Disaat Via merasa tertangkap basah oleh Cakka, Alvin justru terlihat begitu santai. Alvin seperti telah memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi jauh hari sebelumnya.
            “Vin? Kok lo bisa sama Via, sih? Kalian saling kenal?” Tanya Cakka yang berusaha keras untuk memastikan satu hal.
            Cakka bukannya tidak tahu bahwa Alvin begitu tertutup bahkan pada sahabat-sahabatnya sendiri, hanya saja Cakka tidak pernah menyangka bahwa Alvin menyembunyikan rahasia sebesar dan sepenting ini dari mereka, utamanya dari dirinya sendiri. Sejak awal Alvin tahu bahwa Cakka mengincar Via secara terang-terangan, bahkan seluruh warga SMA Patuh Karya mengetahui hal itu, tapi pertanyaan yang berkecamuk dibenak Cakka adalah: kenapa Alvin pura-pura tidak mengenal Via?
            Via tampak gugup. Pikirannya mendadak buntu. Sebelumnya ia tak pernah menduga hal ini akan terjadi, jadi Via belum menyiapkan apapun. Dengan susah payah dan terbata, Via berusaha menjawab pertanyaan Cakka tadi,
            “ta—tadi, tadi ki—ta… kita gak…”
            “Via sepupu gue, dan sekarang dia tinggal dirumah gue karna suatu dan lain hal. Ini urusan keluarga, jadi kita gak bisa ngasih tau lo alesan yang sebenernya” jawab Alvin santai sambil merangkul pundak Via. Sebisa mungkin, Ia berusaha terlihat semeyakinkan mungkin.
            “sepupu? Kok lo gak ngasih tau sejak awal?” Cakka masih bingung.
            “kalian semua gak nanya” pungkas Alvin.
            Cakka terlihat berpikir keras. Entah kenapa ia merasa bahwa ada yang tidak beres dengan semua ini. Tapi, Alvin adalah sahabat dekatnya sejak ia masih duduk dibangku SMP, bertahun-tahun mengenal Alvin, tidak pernah sekalipun Alvin membohonginya meskipun ia begitu tertutup. Jadi… sangat tidak mungkin jika sekarang Alvin tiba-tiba membohonginya.
            Cakka mengangguk paham sambil berusaha menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk seulas senyum. Cakka lalu menepuk salah satu pundak Alvin dengan cukup keras. Apa yang Cakka lakukan itu kontan saja membuat Alvin melepaskan rangkulannya dari pundak Via.
            “jahat lu! Kalo sejak awal lo ngasih tau gue, gue pasti bakalan lebih mudah ngedeketin Via” kata Cakka yang seakan tidak menganggap kehadiran Via diantara mereka.
            Via mendelik tajam kearah dua cowok rese yang sedang menertawakannya sekarang. Muak dengan semuanya, Via pun memutuskan untuk pergi dari areal parkir. Ia melewati Alvin dan Cakka begitu saja tanpa sekalipun menoleh kebelakang.
            “Vin… Via udah punya pasangan buat birthday party-nya Iel belum?” Tanya Cakka pada Alvin beberapa saat setelah Via pergi. Alvin tampak berpikir,
            “Via kan anak baru, Kka. Jadi dia gak dapet undangan…”
            “ya udah, Via pergi sama gue aja yaaa? Urusan Iel nanti gampanglah. Biar gue yang urus”
            Alvin menatap Cakka sejenak. Ia pun tersenyum mengejek lalu berkata,
            “pergi aja kalo dia mau diajak pergi sama lo” ledeknya lalu pergi meninggalkan Cakka sendirian ditempat itu.
            Cakka mendengus kesal. Alvin benar-benar telah meremehkannya kali ini.

            “Alvin tunggu!” seru Cakka sambil berlari mengejar langkah Alvin.



♫♫♫

            Via berdiri risau dikoridor saat jam pulang sekolah menunggu kedatangan Shilla. Tadi, saat bel tanda pulang berbunyi, Via langsung keluar dari kelas dan segera pergi ke koridor. Besok ada ulangan harian Bahasa Inggris, dan Via harus memberikan beberapa catatan pada Agni yang hari ini tidak masuk sekolah karna sakit, sementara Via tidak tahu dimana rumah Agni. Dengan alasan itulah, Via akan meminta bantuan Shilla untuk mengantarnya pergi kerumah Agni dan memberikan catatan Bahasa Inggris.
            Sekitar 5 menit kemudian, Via akhirnya melihat sosok Shilla yang sejak tadi ia tunggu. Via tersenyum semuringah lalu berjalan menghampiri Shilla.
            “Shill!” panggilnya cukup keras.
            Shilla serta-merta menghentikan langkahnya saat seseorang memanggil namanya.
            “eh, Via? Ada apa, Vi?” Tanya Shilla.
            “gini, kan besok ada ulangan bahasa inggris, tapi hari ini Agni gak masuk karna sakit. Jadi… gue harus nganterin catetan kerumahnya Agni. Lo mau gak nganterin gue kerumah Agni? Gue gak tau rumahnya dimana”
            Shilla tampak kebingungan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
            “kenapa, Shill?” Tanya Via yang merasa janggal dengan sikap Shilla.
            “duuhh… gini ya Vi. Sebenernya gue gak bisa nganterin lo kerumah Agni, soalnya setelah ini gue musti jemput Nyokap kerumah temennya. Maaf, ya?”
            Via tersenyum maklum seraya berkata, “gak apa-apa, Shill. Nanti biar Agninya gue kabarin lewat sms…”
            Sesaat setelah Via berkata seperti itu, tiba-tiba saja Shilla melihat sosok Cakka yang saat itu tengah berjalan sendirian dikoridor. Tiba-tiba saja, sebuah ide muncul dikepalanya. Shilla tersenyum lebar, ia melambaikan tangannya sambil menyerukan nama Cakka, “CAKKA!”
            Via kaget setengah mati dengan apa yang baru saja Shilla lakukan. Jangan bilang…
            Merasa namanya dipanggil, Cakka segera berjalan dan menghampiri kedua cewek itu.
            “ada apa?” Tanya Cakka singkat sambil sesekali mencuri pandang kearah Via.
            “gini, jadi hari ini kan Agni gak masuk, dia lagi sakit. Nah, sementara besok tuh dia ada ulangan bahasa inggris, jadiiii… tadi Via minta gue buat nganterin kerumah Agni dan nganterin catetan bahasa inggris, tapi gue gak bisa. Kira-kira lo bisa gak nganterin Via kerumah Agni?”
            Tuh kan benar dugaan Via. Shilla apa-apaan sih?
            “g—gak usah repot-repot! Nanti gue anterin sendiri. Lo cukup ngasih alamatnya aja” Via buru-buru menolak dengan cepat sebelum Cakka mengatakan apapun.
            “lho, kok gitu sih, Vi? Lo kan orang baru disini, ntar takutnya lo malah nyasar lagi. Udah, Kka anterin aja” kata Shilla sambil mengedipkan mata sebelah kirinya seakan memberikan kode pada Cakka. Cakka tersenyum miring, ternyata Shilla memang teman yang pengertian.
            “ta—tapi…”
            “udah sanaaa! Kasian Agni nanti gak bisa belajar” ucap Shilla. Kali ini ia mendorong tubuh Via hingga berdekatan dengan Cakka. Cakka terkesiap saat merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Via.
            “Kka, jagain temen gue baik-baik ya? Awas lo!”
            “siap bos!!” ujar Cakka sambil memberikan hormat pada Shilla.
            Via yang sudah tidak bisa menolakpun akhirnya dengan terpaksa menerima ide gila Shilla yang sepertinya sengaja ingin menjebaknya. Ingin sekali Via menolak jika ia bisa, tapi kenyataan bahwa ia harus memberikan catatan pada Agni malah tidak bisa membuatnya mengeluarkan penolakan dengan alasan apapun.
            “ayo, Vi…” ajak Cakka berusaha terdengar dingin lalu berjalan mendahului Via. Via pun mengikuti Cakka dan berjalan beriringan bersama cowok berwajah tampan itu.
            Shilla tersenyum puas saat ide isengnya ternyata berhasil. Shilla terus menatap punggung Cakka dan Via yang berjalan perlahan menjauhinya hingga akhirnya Cakka menoleh kebelakang dan mengacungkan jempol untuk Shilla.

            “haha… good luck, my bro!




♫♫♫


            Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 menit, tibalah Cakka dan Via dirumah Agni. Selama diperjalanan tadi, tidak terjadi obrolan apapun antara Via dan Cakka. Anehnya, meski begitu Cakka tidak sedikitpun merasa jenuh. Cakka sangat menikmati perjalanannya, dalam hati ia justru berharap bisa menempuh perjalanan yang lebih lama lagi dari ini.
            Via turun dari ninja merah milik Cakka lalu berdiri didepannya dengan canggung,
            “thanks ya? Kalo mau lo bisa pulang duluan, nanti gue pulang sendiri. Gue udah tau kok jalannya sekarang”
            Cakka menatap Via untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “lo pikir gue tukang ojeg lo? Ayo masuk bareng! Gue juga mau liat kondisi Agni” Cakka berpura-pura tersinggung kali ini, dan sepertinya acting Cakka berhasil. Itu terlihat jelas dari mimic wajah Via yang langsung berubah. Via terlihat tidak enak hati pada Cakka, dan itu malah membuat Cakka bersorak gembira dalam hati.
            Cakka masuk kedalam pekarangan rumah Agni setelah satpam membukakan gerbang. Cakka lalu memarkirkan motornya tidak jauh dari beranda rumah Agni. Melihat dari bagaimana cara Cakka bersikap, sepertinya ia sudah biasa keluar-masuk rumah Agni.
            Setelah pelayan dirumah besar itu mempersilahkan mereka masuk, Cakka dan Via langsung melangkah ke kamar Agni yang letaknya ada dilantai 2 rumah itu. Cakka berjalan dengan santai didepan dengan diikuti oleh Via dibelakangnya.
            Cakka berhenti didepan sebuah kamar, ia pun memasuki kamar itu yang Via yakini adalah kamar milik Agni tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
            “lo bisa sakit juga?” Tanya Cakka seraya berjalan menghampiri Agni yang sedang berbaring diranjangnya. Cakka pun duduk dipinggir ranjang Agni lantas menyentuh keningnya yang terasa panas.
            “gak usah sok care. Gue Cuma gak enak badan aja” jawab Agni sambil menepis tangan Cakka dari keningnya. “lo kesini mau ngejenguk gue? Gak salah?”
            “gak usah kegeeran lu!” Cakka menoyor kepala Agni, “gue kesini nganterin Via buat ngasih lo catetan bahasa inggris. Besok kalian ulangan harian” lanjutnya yang langsung membuat Agni cembrut.
            Via pun memasuki kamar Agni dan mengambil alih posisi Cakka setelah Cakka berdiri dan mempersilahkannya untuk duduk.
            “hay, Agni! Gimana keadaan lo? Udah baikan?”
            “udah kok, Vi. Besok juga udah bisa masuk sekolah. Maaf ya gue jadi ngerepotin lo. Eh iya, kok lo bisa sih kesini sama Cakka? Lo gak dijampi-jampi kan?”
            “sembarangan lo!” lagi-lagi Cakka menghadiahkan sebuah toyoran dikening Agni. Melihat adegan itu, Via malah tertawa pelan.
            “bagus deh kalo keadaan lo emang udah baikan. Oya, ini catetan bahasa inggris buat ulangan besok. Belajar yaaa?”

            “siep…” kata Agni sambil menerima buku catatan itu.



♫♫♫

The Arion’s Café

            Ponsel Alvin, Rio dan Gabriel bergetar secara bersamaan menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk ke nomor mereka masing-masing. Alvin, Rio dan Gabriel saling melirik satu sama lain sebelum membaca SMS mereka yang dikirimkan oleh satu orang yang sama yaitu; Cakka.

From: Cakka Raditya
Tebak gue lagi sama siapa sekarang? GUE LAGI SAMA VIA.
Gue ngenterin do’i kerumah Agni. Amazing kan?
Nanti malem lo semua gue traktir. See you guys.

            “dari Cakka?” Tanya Rio pada teman-temannya sesaat setelah ia membaca SMS yang dikirimkan oleh Cakka. Sebagai jawabannya, Gabriel dan Alvin hanya mengangguk.
            “kayaknya si Cakka mulai ngeluarin jurus andelannya nih. Mau sekeras apapun Via nolak, pasti ujung-ujungnya bakalan jatoh juga. Dia Cuma belom tau aja gimana reputasi Cakka…” ucap Rio mantap yang memang sudah mengetahui betul bagaimana sikap dan sifat Cakka.
            Rio melirik kedua sahabatnya secara bergantian lalu tersenyum miring.
            “gue berani taruhan –“ Rio menggantungkan kalimatnya lalu menatap Gabriel, “Cakka pasti dateng bareng Via ke acara birthday party lo”
            Alvin menghela napas panjangnya. Mendadak ia merasa sesak jika harus berlama-lama ditempat ini. Alvinpun pura-pura melirik arlojinya, berusaha mencari sebuah alibi.
            “Yel, Yo… gue musti pulang sekarang” Alvin bangkit lalu memasang jaket beserta tasnya.
            “kok cepet amat? Lo gak mau ikut taruhan nih?” Tanya Rio meyakinkan.
            Sekali lagi Alvin menghela napas panjangnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rio, “gue gak tertarik!”
            Alvinpun akhirnya benar-benar hengkang dari café itu dan meninggalkan setumpuk kebingungan dikepala Rio. Hari ini Alvin benar-benar aneh.
            Rio lalu menatap Gabriel, berharap Gabriel tahu sesuatu dan mau suka rela menjelaskannya. Tapi harapan Rio langsung musnah seketika saat Gabriel, dengan gayanya yang tetap cool mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. Ternyata Gabriel tidak bisa diandalkan.
            Alvin membanting kedua tangannya diatas setir dengan frustasi. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi Via, tapi Via malah tidak merespon panggilannya sama sekali. Alvin begini bukan karna apapun, ia murni hanya sebatas khawatir pada gadis ceroboh itu. Ia termasuk orang baru disini, sekalipun ia keluar bersama Cakka, tapi tetap saja Alvin merasa sangat cemas mengingat bagaimana sifat keras kepala Via yang sulit untuk diatasi.
            Kemudian Alvin tersentak saat ponselnya kembali bergetar. Alvin buru-buru merogoh kantong celana seragamnya lalu mengambil ponselnya. Dan Alvin terkejut setengah mati ketika melihat satu nama tertera pada layar ponsel touch screen nya.


Prissy Alexandra Calling…’



♫♫♫


            “Via, biar gimanapun gue harus nganterin elo pulang, Vi. Kalo lo gak mau, gue bisa dibunuh sama Alvin karna udah ngebiarin lo pulang sendirian” kata Cakka memelas sambil terus mengikuti Via dengan motornya.
            Saat mereka pulang dari rumah Agni tadi, Via bersikeras ingin pulang sendiri. Ia tidak ingin diantar oleh Cakka. Tapi Cakka tidak lantas menyerah, ia tetap mengikuti Via.
            “udah gue bilang, urusan Alvin tuh urusan gue, bukan urusan lo! Jadi gak usah cemas” jawab Via sedikit emosi sambil terus berjalan.
            “Via! Ayolah jangan kayak gini”
            Via menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Cakka, ia langsung menghentikan laju motornya. Via menghembuskan napasnya dengan keras lalu menatap Cakka dengan pandangan muak.
            “please, Kka… berhenti ikutin gue! Gue emang bener-bener pengen pulang sendirian”
            “tapi –“
            “sekaliii ini aja gue minta tolong sama lo, please dengerin gue”
            Untuk beberapa saat Cakka menatap kedua bola mata Via. Ia seakan mencari-cari sesuatu dari sepasang mata itu. Cakka tampak berpikir sebelum akhirnya ia menganggukan kepalanya dan berkata, “oke, kalo itu mau lo. Gue akan biarin lo pulang sendirian”
            Cakka pun kembali menjalankan ninja merahnya dengan berat hati dan meninggalkan Via hanya seorang diri dijalanan yang cukup lengang itu. Ia sebenarnya merasa sangat was-was jika harus meninggalkan Via, tapi mau bagaimana lagi? Ini permintaan langsung dari Via. Cakka tidak bisa menolaknya sekalipun ia sangat ingin.
            Setelah Cakka  meninggalkannya, Via benar-benar sendirian. Jika ingin jujur, sebenarnya Via sangat takut. Ia benar-benar buta dengan daerah ini, tapi mau bagaimana lagi? Rasa gengsinya terlalu kuat untuk bisa ia kalahkan. Maka Via pun memutuskan untuk tetap bertahan dengan rasa gengsinya dan mencoba melawan rasa takutnya sebisa mungkin.
            Setelah berjalan cukup jauh, Via tidak juga menemukan sebuah taksi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk istirahat sebentar disebuah halte. Jam ditangannya sudah menunjukan pukul lima sore, Via makin risau. Bagaimana nanti kalau dia kemalaman? Bisa kena amuk Alvin.
            Via bangkit lalu berdiri ditepi jalan. Beberapa kali ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi berharap bisa menemukan sebuah taksi, tapi hingga jauh waktu, taksi belum juga muncul. Via menghembuskan napas panjangnya. Kali ini ia benar-benar frustasi.
            Via baru ingat bahwa daritadi ia sama sekali belum memeriksa ponselnya. Via pun bergegas membuka tas nya dan mengambil ponselnya. tapi baru saja ia akan membuka ponselnya, seseorang yang tidak ia kenal tiba-tiba saja merenggut tas berserta ponselnya lalu kabur begitu saja.
            Via yang panic langsung berteriak histeris, “COPEEETTT! TOLONG ADA COPEEETTTT!!”
            Teriakan itu sia-sia. Tak ada satu orangpun yang mendengarnya. Merasa tidak memiliki harapan lagi dan takut pencopet itu berlari semakin jauh, Via pun langsung mengambil inisiatif untuk mengerjarnya. Via yakin bisa menghadapinya sendiri. Biar bagaimanapun juga dulu Via pernah ikut ekskul karate di sekolahnya yang lama.
            “HEH!  BALIKIN TAS GUEEE!” Teriaknya dengan napas yang tidak teratur. Pencopet tadi semakin mempercepat larinya, begitu juga dengan Via. Apapun alasannya, Via tidak akan pernah membiarkan pencopet jelek itu kabur.
            Sesuatu yang tidak pernah Via duga sebelumnya terjadi ditengah-tengah pengejarannya. Pencopet tadi tiba-tiba saja jatuh terjerembab saat seseorang menendang kakinya dari belakang.
            “mau lari kemana lagi lo? Hah?”
            Kedua mata Via membelalak maksimal saat melihat seseorang yang sudah menolongnya. Dia lah Cakka.
            “Ca—Cakka?”
            Saat Cakka lengah, pencopet itu tiba-tiba saja bangkit lalu mendaratkan sebuah pukulan yang cukup keras diwajah Cakka. Cakka kontan saja terjatuh. Sial, wajahnya terluka.
            “oh… rupanya lo mau main-main sama gue…” Cakka bangkit, ia lalu menarik kerah baju pencopet tadi dan menghajarnya habis-habisan.
            Beberapa menit kemudian, terdengar suara memelas si pencopet itu yang memohon untuk dilepaskan oleh Cakka. Saat itu juga, Cakka langsung memutuskan untuk berhenti menghajar si Pencopet tadi.
            “ampuni saya… tolong ampuni saya…”
            “udah, Kka… lepasin aja, kasian” ucap Via yang berdiri tepat dibelakang Cakka. Cakka menoleh sejenak kearah Via dan kembali mengalihkan perhatiannya pada pencopet yang masih berada dalam genggamannya.
            “kali ini lo gue lepasin. Kalo sekali lagi gue ngeliat muka lo, gue pastiin lo gak akan hidup lagi. NGERTI LO?”
            “Iya… iya… ampun…”
            Cakka melepaskan copet itu begitu saja dan membiarkannya lari terbirit-birit. Beberapa saat setelah pencopet itu pergi, Cakka pun mengambil ponsel serta tas milik Via dan mengembalikannya langsung.
            “ini barang-barang lo”
            “makasih, Kka…” balas Via seraya menerima barang-barangnya, “kalo gak ada lo, gue gak tau gimana nasib gue selanjutnya” lanjutnya sambil menunduk.
            “makanya lain kali, kalo orang ngomong tuh didengerin. Sekarang… lo gak punya alesan lagi buat nolak, gue harus nganterin lo pulang. Mau gak mau, suka gak suka”
            Via hanya mengangguk yang langsung disambut oleh senyuman lega dari Cakka.
            “pulang yuk. Udah sore nih”
            “tunggu dulu!” Via mencekal pergelangan tangan Cakka saat menyadari wajahnya terluka akibat pukulan dari pencopet tadi. “lo luka. Ini sebaiknya kita obatin dulu” ucap Via penuh perhatian sambil menyentuh pelan luka diwajah Cakka.
            “aww…” ringis Cakka, “gak apa-apa kok. Ini Cuma luka kecil. Nanti biar gue yang obatin sendiri”
            “seenggaknya lo udah nolongin gue, jadi biarin gue ngobatin luka lo”
            “ta—tapi…”
            “kita cari apotik sekarang. Kita butuh obat merah sama plester” kata Via yang sudah tidak ingin lagi mendengarkan alasan apapun dari Cakka.
            Tanpa sadar, Via menarik pergelangan tangan Cakka dan membawanya berjalan kearah motor Cakka yang letaknya tidak begitu jauh dari posisi mereka sekarang.


♫♫♫

            Setelah membeli obat merah dan plester disebuah apotik, Via buru-buru menghampiri Cakka yang saat itu sedang menunggunya dibangku sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari apotik yang ia datangi. Via duduk disamping Cakka. Lalu dengan sangat telaten, Via meneteskan beberapa tetes obat merah diatas secarik kapas dan langsung mengoleskannya pada luka kecil yang terdapat diwajah Cakka.
            Cakka berusaha menahan perih yang terasa. Dalam hatinya, ia merasa sangat bahagia dengan perlakuan penuh perhatian yang Via tunjukan padanya.
            Setelah selesai membersihkan luka diwajah Cakka, Via pun menempelkan sebuah plester untuk menutupi luka itu.
            “gimana? Udah baikan?”
            Cakka mengangguk pasti, “iya. Thanks, ya?”
            “gue yang harusnya ngucapin makasih, bukan elo…”
            “apa sekarang kita teman?” Tanya Cakka tanpa tedeng aling-aling sambil mengulurkan salah satu tangannya.
            Via menatap tangan Cakka yang terulur untuk beberapa saat, ia terlihat berpikir. Tidak lama kemudian, Via pun menerima uluran tangan Cakka. Berteman dengan Cakka? Sepertinya tidak masalah, toh Cakka sudah membantunya tadi.
            “temenan? Apa lo yakin Cuma mau minta itu dari gue? Tadi, lo bukan Cuma sekedar nolongin gue aja, tapi lo udah nyelametin gue”
            “apa lo yakin bisa ngasih lebih buat gue?” tantang Cakka beberapa saat setelah Via melepaskan jabatan tangannya.
            Jangan bilang Cakka berpikir yang aneh-aneh dengan apa yang baru saja Via ucapkan padanya.
            “Lo gak lagi berpikir kalo gue bakalan minta yang aneh-aneh kan?” kata Cakka yang seakan bisa membaca pikiran Via. Via kaget lalu menatap Cakka setajam mungkin.
            Cakka terkekeh pelan. Ia pun mengusap puncak kepala Via dengan gemes sambil terus tertawa.
            “e—emang lo mau minta apa?”
            “yakin lo bisa penuhin permintaan gue?”
            “karna lo udah nyelametin gue, jadi sebisa mungkin gue bakalan usaha buat bisa… penuhin permintaan lo. Gue cewek yang tau balas budi kok…” ucap Via yang sebenarnya mulai meragu.
            Cakka lagi-lagi hanya tersenyum. Tapi kali ini, seulas senyum yang terukir diwajah tampannya benar-benar berbeda. Senyuman itu menandakan seakan-akan Cakka telah mendapatkan sebuah ide brilian.

            “gue punya satu permintaan!” kata Cakka sambil menunjukan jari telunjuknya dihadapan Via.
            “apa?” Tanya Via penasaran.

            Senyuman itu kian melebar. Cakka lantas menjawab, “besok lo akan tahu apa permintaan gue…”



♫♫♫


            Jam sudah menunjukan pukul 18.30 saat Via tiba dirumah. Dengan sangat hati-hati ia membuka pintu. Suasana didalam rumah tampak sepi saat Via menjejakan kakinya diruang tamu. Via menatap kesekeliling, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Alvin. Tadi Via sempat melihat Honda jazz Alvin terparkir di garasi, yang itu berarti Alvin sudah pulang, tapi kenapa sekarang Via justru tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Alvin? Mungkin Alvin sedang dikamar, baguslah.
            Via lalu menapaki tangga dengan hati-hati dan memasuki kamarnya sambil menghela napas lega. Ia mengelus dadanya dan sangat berharap tidak ketahuan oleh Alvin karna pulang telat. Saat Via menyalakan lampu kamarnya, saat itu juga Via langsung terkejut setengah mati ketika melihat sosok Alvin yang sudah duduk dengan manis ditepi ranjangnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Alvin menatap Via dengan pandangan datar.
            “ngagetin aja lo!” ucap Via sambil berusaha mengatur detakan jantungnya yang terasa tidak beraturan.
            “kenapa lo musti kaget? Apa lo udah ngelakuin tindakan kejahatan?” Tanya Alvin dengan santai tapi syarat akan emosi. “darimana aja lo? Kenapa jam segini baru pulang?” lanjutnya kemudian.
            “abis dari rumah Agni. Tadi gue udah nganterin catetan bahasa inggris buat ulangan harian besok” jawab Via apa adanya.
            Alvin mendengus kesal. Jawaban Via barusan benar-benar sangat tidak memuaskan.
            “apa rumahnya Agni udah pindah ke Antartika?” cecar Alvin lagi.
            Via yang bisa menangkap maksud Alvin pun berusaha memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya pada cowok berwajah oriental itu.
            “bukannya begitu, tadi ditengah jalan gue keco—“ Via tidak melanjutkan kalimatnya saat mengingat sesuatu. Alvin tidak boleh tahu kalau tadi ia sempat kecopetan dijalan, kalau sampai Alvin tahu, bisa tamat riwayatnya hari ini juga.
            “kenapa gak lo lanjutin?”
            “gak apa-apa”
            “selama Papa dan Mama ngelakuin perjalanan bisnis mereka, elo diserahin secara penuh ke gue. Kalo ada apa-apa sama lo, gue bakalan langsung jadi tersangka utama. Gue gak pernah mau peduli sama lo, tapi lo maksa gue buat terlibat dalam hidup lo sejak kehadiran lo dirumah ini. Jadi gue minta tolong kerja sama lo selama Papa dan Mama gak ada.” kata Alvin penuh emosi. Ia sudah berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, tapi entah kenapa, semuanya lepas begitu saja tanpa bisa ia control.
            Ucapan yang Alvin lemparkan baru saja seakan menjelma menjadi sepasang tangan yang meremas-remas jantungnya tanpa ampun. Via merasakan dadanya terhimpit, ia mendadak sesak. Tapi Via harus kuat. Apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah meneteskan setitikpun air matanya.
            “maaf…” lirih Via pelan sambil menunduk dalam.
            Kata maaf yang Via ucapkan entah kenapa membuat hati Alvin luluh dalam sekejab. Emosinya yang sejak tadi berapi-api seakan padam begitu saja. Dan entah darimana datangnya rasa sesal yang tiba-tiba saja terbersit dibenaknya. Alvin menghela napas panjangnya, ia menatap Via untuk beberapa saat lantas berkata,
            “lo udah makan?”
            Via menggeleng sebagai jawaban.
            “ayo kita makan!” ajak Alvin dengan nada yang tetap terdengar dingin. Alvin pun berjalan melewati Via.
            Sadar bahwa Via tidak mengikutinya, Alvin pun menghentikan langkahnya dipintu dan kembali berbalik menghadap Via.

            “apa  sekarang lo mau mogok makan?”



♫♫♫

            Suara hujan yang sangat deras disertai dengan suara petir yang menggelegar diluar sana membuat Via meringkuk ketakutan dibawah selimutnya. Sejak ia masih kecil dulu, Via memang paling takut mendengarkan suara hujan yang sangat deras seperti sekarang ini. Jika sudah begitu, Via akan memeluk mendiang Mamanya erat-erat. Pelukan dari Mamanya selalu bisa membuat perasaannya terasa jauh lebih tenang. Tapi untuk sekarang ini, Via bahkan tidak bisa memeluk Mamanya. Mamanya telah pergi untuk selamanya.
            Suara hujan itu semakin keras. Merasa tidak sanggup menahan rasa takutnya, Via pun bangkit dari ranjangnya dan segera mengungsi kekamar Alvin untuk sementara, setidaknya sampai hujan malam ini  reda.
            “Alvin, lo udah tidur?” Via mengetuk pintu kamar Alvin beberapa kali. Tidak lama, pintu yang ada dihadapan Via itu pun terbuka dan menampakan Alvin  yang menatapnya dengan datar.
            “ada apa?” Tanya Alvin dingin.
            “lo masih marah?”
            “kenapa?”
            Via tampak gugup. Berbagai macam pikiran aneh tiba-tiba saja menghantui sudut pikirnya. Bagaimana jika Alvin tidak mengijinkannya untuk mengungsi sementara? Bagaimana jika Alvin justru menendangnya keluar bahkan sebelum ia memasuki kamar Alvin?
            Kesal menghadapi kediaman Via, Alvinpun mendengus lantas berkata dengan sinis,
            “ 3 detik lo gak mau ngomong juga, ini pintu bakalan gue tutup. SATU…”
            Alvin mulai berhitung. Tapi Via masih bertahan dengan kediamannya.
            “DUA”
            Via mulai terlihat risau.
            “TI—“
            “Gue boleh tidur dikamar lo gak malem ini?” ucap Via dengan nada cepat sambil menutup rapat kedua matanya.
            Alvin kontan menganga tak percaya. Apa yang baru saja Via katakan? Apa Alvin tidak salah dengar? Atau apa gadis ini sedang mengigau? Menangkap adanya raut ketidakpercayaan yang terpeta dengan sangat jelas diwajah orientalnya, Via buru-buru meraih salah satu tangan Alvin dan memasang wajah sememelas mungkin agar lebih meyakinkan.
            “gue paling takut dengerin suara hujan yang deras banget kayak gini. Sekaliiii ini aja tolongin gue. Gue beneran takuuuut…”
            Sepertinya gadis ini serius. Setidaknya itulah yang bisa Alvin tangkap dari raut wajah Via yang benar-benar terlihat sangat ketakutan. Walaupun terkenal dingin dan sangat menyebalkan, tapi Alvin merasa tidak tega juga jika harus membiarkan gadis ini meringkuk ketakutan dalam keadaan sendiri dikamarnya.
            Alvin mengusap wajahnya frustasi, entah senjata apa yang Via gunakan hingga selalu berhasil membuat seorang Calvin Nicholas mengalah dengan begitu cepat. Alvin lalu menghela napas panjangnya dan mempersilahkan Via masuk kekamarnya.
            “ya udah deh, lo masuk gih! Tapi lo tidur di sofa” ucapnya berusaha terdengar galak dan tidak peduli. Tapi Via sama sekali tidak menghiraukannya. Asal ada yang menemaninya malam ini, Via rela melakukan apapun.
            Via mengangguk berkali-kali dengan wajah semuringah. Raut ketakutan diwajahnya yang terlukis sejak tadi langsung tersapu begitu saja.
            Setelah memasuki kamar Alvin, Via pun segera mengambil posisi disofa yang letaknya tidak begitu jauh dengan posisi ranjang Alvin. Sementara Alvin, ia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan kembali melanjutkan bacaan novel nya yang tadi sempat terganggu.
            Baru saja Via akan membuka suara untuk memulai obrolan, Alvin langsung mendahuluinya. Ia seakan bisa membaca pikiran Via.
            “peraturan pertama dikamar gue: LO GAK BOLEH BANYAK BICARA!” Ucapnya dengan penakanan yang cukup kuat pada beberapa kata. Via yang tadinya ingin menanyakan sesuatu pada Alvin pun langsung menelan bulat-bulat pertanyaannya.
            5 menit sudah waktu yang Via habiskan dikamar Alvin dalam keheningan yang sangat membosankan. Berkali-kali Via mencoba memejamkan matanya dan tertidur,  tapi tetap saja ia tidak bisa. Sesekali Via mencuri pandang kearah Alvin yang masih tampak focus membaca lembar demi lembar novelnya, dan untuk yang pertama kalinya, Via menyadari betapa tampannya manusia menyebalkan yang satu itu. Mata sipitnya, kulit putihnya, tubuh atletisnya, alis tebalnya… semuanya benar-benar mempesona.
            Via serta-merta menggelengkan kepalanya saat sadar dengan apa yang baru saja dia pikirkan. Via pun berusaha membuang jauh-jauh semua pikiran-pikiran gilanya tentang Alvin. Oke, Alvin memang tampan dengan segala kelebihan yang ia miliki, tapi tetap saja Alvin itu sangat menyebalkan. Lihat saja sekarang, ia terlihat betah dan santai-santai saja mendiamkan Via seenak hatinya.
            Via mengerucutkan bibirnya, tanpa sadar ia pun melemparkan sebuah pertanyaan untuk Alvin,
            “lo masih marah sama gue?”
            “buat apa gue harus marah?” jawab Alvin sambil tetap focus membaca.
            “soal tadi gue bener-bener minta maaf. Gue janji gak akan ulangin itu lagi”
            “jangan Cuma janji, tapi buktiin!”
            “gue akan berusaha”
            Kali ini Alvin tidak terdengar menjawab. Ia hanya membalik lembaran novelnya dan kembali membaca.
            “kenapa sih lo gak suka dipanggil Calvin?”
            Seketika Alvin langsung menghentikan bacaannya. Alasan kenapa Alvin tidak suka dipanggil dengan nama Calvin adalah, dulu Prissy sering memanggilnya dengan nama itu. Dan diantara semua orang yang ia kenal, hanya Prissy yang memanggilnya dengan nama itu. Untuk itulah sekarang Alvin merasa sangat tidak suka jika ada yang memanggilnya dengan nama Calvin. Panggilan itu hanya akan membuatnya kembali mengingat Prissy yang sudah melukai hatinya.
            Tadi saat Prissy meneleponnya untuk yang pertama kalinya semenjak mereka putus beberapa minggu yang lalu, Alvin memutuskan untuk tidak mengangkat telfonnya. Bahkan sejak Prissy menghubunginya tadi, Alvin jadi berpikir untuk mengganti nomor ponselnya agar gadis itu tidak bisa menghubunginya lagi. Tapi pertanyaannya sekarang adalah: Apa Alvin siap melupakan Prissy dan membuang Prissy jauh-jauh dari ingatannya?
            “bukan urusan lo!” jawab Alvin pada akhirnya setelah cukup lama tenggelam dalam diamnya.
            “Vin –“
            Sebelum Via melanjutkan perkataannya, Alvin langsung menutup novelnya dan membantingnya dengan cukup keras diatas meja. Apa yang Alvin lakukan itu kontan saja membuat Via terkejut.
            Beberapa saat, Alvin melemparkan tatapan tajamnya kearah Via. Tatapan itu seakan mengisyaratkan bahwa Alvin sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi Via lemparkan.
            Via yang ciut dengan tatapan tajam Alvin langsung menunduk.
            “lo tuh banyak omong, ya? Lo tau? Gue muak dengerin ocehan-ocehan lo yang gak mutu itu!”
            Setelah puas memuntahkan emosinya, Alvin meraih earphone-nya dan menancapkannya diponselnya. Hal itu Alvin lakukan supaya ia tidak bisa lagi menangkap suara sekecil apapun yang Via ciptakan.
            Namun bukannya peka dengan apa yang Alvin lakukan itu, Via malah melanjutkan ocehannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
            “lo pake earphone, ya? Bagus deh, dengan begitu gue bisa ungkapin apa yang pengen gue ungkapin sama lo tanpa takut lo bakalan denger…”
            Alvin bergeming. Sepertinya ia benar-benar tidak mendengar apa yang Via bicarakan.

            “lo tahu? Sejak pertama ketemu lo dibandara beberapa minggu yang lalu, gak tau kenapa gue ngerasa jantung gue berdebar dengan sangat cepat. Gue pikir itu Cuma debaran sesaat yang akan menghilang dan gak akan gue rasain lagi, tapi ternyata gue salah… tiap kali ada dideket lo, gue kembali ngerasain debaran-debaran aneh yang gue gak tau apa penyebab pastinya. Tanpa pernah gue tau apa sebabnya, debaran itu selalu gue rasain tiap hari, bahkan detik ini. Selama beberapa minggu terakhir kita bareng, semua ini bener-bener nyiksa gue. Tapi… kayaknya sekarang gue udah tau apa yang bikin jantung gue selalu berdebar tiap kali gue ada dideket lo. Kayanya sekarang… gue udah mulai ngerti dengan semua rasa aneh yang belakangan ini gue rasain…”
            Via tersenyum sambil menatap Alvin yang masih terlihat sangat tenang mendengarkan music melalui ponselnya. Alvin bahkan tidak menunjukan tanda-tanda bahwa ia mendengar semua perkataan Via barusan. Via tersenyum lega. Lega karna Alvin benar-benar tidak mendengarkannya.
            Via lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa dan menutup kedua matanya yang mulai terasa sangat berat. Dalam hitungan detik, Via langsung tenggelam dalam lautan mimpinya.
            Tidak berselang lama setelah itu, Alvin membuka earphone yang sejak tadi menutupi kedua telinganya. Yang Via tahu adalah, sejak tadi Alvin mengenakan earphone dan sama sekali tidak mendengarkan semua perkataannya. Tapi yang Via tidak pernah tahu adalah, bahwa Alvin hanya mengenakan earphone-nya tanpa menyalakan music apapun.
            Tanpa sepengetahuan Via, diam-diam Alvin telah mengetahui apa yang tidak seharusnya dia ketahui dalam waktu yang sangat cepat.
            Alvin menatap Via yang terlelap dengan pandangan hampa. Pengakuan yang Via sampaikan secara gamblang tadi benar-benar memukul telak dadanya tanpa ampun. Alvin menghela napas panjang. Ia lalu bangkit dari ranjangnya dan menggendong tubuh Via lantas memindahkannya dengan hati-hati keatas ranjangnya. Alvin lalu menarik selimutnya dan menutupi tubuh Via hingga kebagian leher.

            Alvin menghabiskan 15 menit terakhirnya dengan menatap wajah Via tanpa suara. Besok semuanya akan tetap berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Dan untuk seterusnya, Alvin akan tetap bersikap seolah-olah ia tidak pernah tahu apapun.






To Be Continued…

1 comment:

  1. ayolah cepet di lanjut. saya gak bisa komen banyak^^, dan gak bisa mengkritik apa^^
    yang saya bisa, cuma menunggu kelanjutan semua cerita kamu ini :) kerennnnnnnnnn

    ReplyDelete