Yashinta membuka
album lama miliknya. Saat membuka album
foto itu, Yashinta baru sadar bawa sudah sangat lama dia tidak pernah membuka
kenangan itu semenjak ia resmi dinikahi oleh seorang pengusaha sukses keturunan
Jepang bernama Hoshi Sorano sekitar 18 tahun yang lalu.
Album foto itu
menyimpan kenangan lamanya bersama 2 orang sahabatnya dimasa lalu dengan sangat
rapi. Banyak hal yang berusaha Yashinta lupakan selama belasan tahun terakhir
ini, banyak hal yang berusaha ia kubur dalam-dalam dan tidak ingin dia ungkit
lagi seumur hidupnya. Tapi saat ia untuk yang pertama kalinya melihat wajah Via
di toko bunga sore tadi, entah kenapa Yashinta merasa pernah melihat wajah itu
dalam wujud yang lain.
Via
dengan kehadirannya seakan mengungkit kembali masa lalunya. Wajah itu, tatapan
teduh itu, senyuman itu… bahkan semua yang melekat dalam diri Via seolah
menyeret memorinya ke masa 24 tahun yang lalu, saat ia masih mengenyam
pendidikan disalah satu universitas ternama di Bandung.
Pada
lembar pertama album foto itu, Yashinta mendapati foto dirinya bersama 2 orang
sahabat karibnya yang sedang berdiri didepan gedung kampusnya. Dalam foto itu,
mereka tampak sangat akrab satu sama lain. Posisi Yashinta dalam foto itu
diapit oleh Metta dan Sylvia.
Dan
wajah seorang wanita berparas manis dengan sepasang mata sipit serta sepasang
lesung pipi diwajah chubbynya menjadi titik focus Yashinta. Dialah Sylvia.
Seorang wanita sederhana yang cerdas dan
memiliki keperibadian yang begitu hangat.
Sylvia
yang sangat mirip dengan Via, teman dekat anaknya, Cakka.
Mau
tidak mau, selembar foto itu akhirnya memutar kembali memorinya ke masa 24
tahun yang lalu, seperti sebuah film yang diputar ulang, Yashinta dapat
mengingat semuanya dengan sangat jelas.
Flash
back ~
Bandung,
1990…
Sylvia dan Metta duduk dipinggir lapangan
bersama beberapa mahasiswa lainnya menyaksikan bagaimana teman-teman dari kelas
mereka beradu ditengah lapangan memainkan perlombaan tenis. Perlombaan antar
fakultas yang diadakan oleh pihak Universitas itu dilakukan dalam rangka
merayakan Dies Natalis Universitas mereka yang ke-32.
Setelah satu jam lebih berjuang
ditengah lapangan, menghadapi lawan yang cukup tangguh, akhirnya Fakultas
Ekonomi –yang merupakan fakultas Sylvia dan Metta- memenangkan pertandingan itu
dan berhak memboyong tropi serta piala untuk fakultas kebanggaan mereka.
Yashinta, seorang gadis cantik
bertubuh tinggi dengan kulit seputih susunya tampak berlarian dari tengah
lapangan seraya bersorak gembira. Bagi penghuni kampusnya, Yashinta adalah
seorang Dewi dengan kecantikannya yang sangat luar biasa. Ia tidak hanya
cantik, ia juga berasal dari keluarga kaya yang terhormat. Selain itu, Yashinta
juga terkenal dengan kejeniusannya, baik dalam bidang akademik, maupun non
akademik. (seperti dalam olahraga dan bermusik)
Sylvia dan Metta serta-merta bangkit
dari bangku yang sejak tadi mereka duduki, mereka seakan menyambut kedatangan
Yashinta yang saat itu langsung memeluk mereka berdua dengan erat sambil terus
bersorak gembira atas kemenangan yang telah diraihnya.
“YEEEE KITA MENAAAAANG!!” Teriaknya.
Mereka bertiga lalu mengurai pelukan
mereka dan kembali duduk dibangku penonton.
“Shinta hebat! Permainan kamu tadi
benar-benar tidak ada yang bisa menandingi” puji Sylvia.
Yashinta tersenyum, ia lalu
merangkul pundak Sylvia dan berkata,
“Syl… aku memang hebat, tapi tidak
sehebat kamu. Seharusnya kan yang bertanding hari ini kamu, bukan aku. Kalau
saja kamu tidak mengalami kecelakaan motor, yang akhirnya akan menyebabkan kamu
luka parah dikaki kamu seperti sekarang ini, mungkin tadi tim dari kelas kita
bisa lebih baik lagi dari ini. Ya kan, Met?” tanya Yashinta yang berusaha
mendapat persetujuan dari Metta.
Metta tampak mengangguk beberapa
kali sebelum akhirnya berkata, “bagiku, kalian sama hebatnya. Bagiku, kalian
berdua sama-sama adalah idolaku, jadi tidak ada yang lebih hebat. Mengerti?”
Mereka bertiga pun tertawa bersama
dengan lepas.
Yashinta, Sylvia dan Metta. Siapa
yang tidak mengenal mereka di kampus? Mereka adalah bintang kampus yang selalu
menjadi pujaan setiap orang. Jika Yashinta dan Metta berasal dari keluarga
berada, maka lain halnya dengan Sylvia.
Sylvia hanya berasal dari keluarga
sederhana. Ayah dan Ibu nya adalah seorang guru yang mengajar disalah satu SMU
di Bandung. Tapi meskipun berasal dari keluarga yang sederhana, Sylvia memiliki
otak yang sangat jenius. Kejeniusan yang ia miliki bahkan berada diatas
Yashinta. Tapi hal itu tidak lantas membuat Yashinta merasa tersaingi apalagi
merasa iri. Ia justru merasa sangat bangga dan bahagia bisa memiliki sahabat
seperti Sylvia.
Tawa mereka bertiga kemudian
terhenti saat sosok seorang laki-laki berwajah sangat tampan menghampiri mereka
dan berdiri tepat dihadapan mereka. Laki-laki itu adalah Geraldy Ganendra,
sosok laki-laki yang selama setahun belakangan resmi berstatus sebagai kekasih
Yashinta.
Sylvia, Yashinta dan Metta secara
bersamaan menatap kearah Geraldy. Tapi tanpa mereka sadari, mimic wajah Sylvia
langsung berubah drastic saat melihat kehadiran Geraldy. Entah apa penyebabnya.
“Shinta, kita pulang sekarang!”
“kenapa buru-buru sekali?” tanya
Yashinta dingin tanpa menatap wajah Geraldy.
“orangtua kita membuat pertemuan
yang bahkan tidak kita ketahui. Dan
mereka mendadak menyuruh kita datang untuk menemui mereka sekarang…” jawab
Geraldy yang tidak kalah dinginnya dengan nada pertanyaan yang barusan
dilemparkan oleh Yashinta.
Meskipun mereka adalah sepasang
kekasih, mereka sangat jarang terlihat akur. Konon katanya, Yashinta dan
Geraldy telah dijodohkan oleh kedua orangtua mereka sejak mereka masih
sama-sama kecil, tapi baru setahun yang lalu mereka memproklamirkan hubungan
mereka sebagai sepasang kekasih.
Yashinta yang tidak bisa
mencari-cari alasan untuk mangkir dari pertemuan kedua keluarga itu akhirnya
mau tidak mau mengikuti ajakan Geraldy. Yashinta bangkit lalu pamit pada Sylvia
dan Metta.
“aku pamit, ya? Tapi nanti malem
kita ketemu di café biasa. Aku mau traktir kalian makan sebagai perayaan
kemenangan kita hari ini…”
Setelah berpelukan dengan kedua
sahabatnya, Yashinta lalu berjalan terlebih dahulu dan melewati Geraldy begitu
saja tanpa sepatah katapun. Geraldy mendesah pelan, tapi tidak lama ia lalu
mengalihkan perhatiannya pada Sylvia dan Metta,
“aku pamit juga, ya?” kali ini
Geraldy menatap Sylvia. Tatapan nya terlihat begitu teduh, dalam, dan sarat
akan makna tersirat yang tidak bisa dibaca oleh siapapun, “kamu jaga diri
baik-baik. Aku tidak akan bisa lagi melihat kamu terluka seperti ini…”
Sylvia hanya diam sambil membuang
tatapannya kearah lain. Cerita diantara mereka telah lama berakhir, tapi kenapa
Geraldy masih selalu menunjukan perhatiannya?
“dan jika kamu terus seperti ini,
aku tidak akan berpikir dua kali untuk pergi dari hidup kamu! Setidaknya
Yashinta butuh kamu…”
Sylvia lalu menarik pergelangan
tangan Metta dan membawanya pergi dari tempat itu. Kecuali Yashinta, Metta
memang sudah sejak lama tahu, bahwa pernah terajut kisah antara Sylvia dan
Geraldy saat mereka masih sama-sama duduk dibangku SMU. Metta mengenal Sylvia
dan Geraldy sejak SMU, tapi lain halnya dengan Yashinta. Metta dan Sylvia baru
mengenal Yashinta setelah mereka sama-sama duduk dibangku kuliah.
Jadi dalam hal ini, Yashinta tidak
mengetahui apapun tentang hubungan Sylvia dan Geraldy dimasa lalu.
♫♫♫
Hari
minggu pagi, sekitar pukul delapan lewat, Alvin terlihat mondar-mandir dengan
risau didalam kamarnya. Tadi, Cakka dan Rio mengajaknya bermain basket bersama
dilapangan komplek rumah Cakka, tapi Alvin menolak dengan alasan bahwa ia
sedang sibuk.
Tapi
alasan tetaplah hanya sebuah alasan. Alvin tidak sedang sibuk melakukan apapun
sekarang, ia hanya sedang sibuk berpikir dengan perbuatannya terhadap Via
semalam. Jika ingin lebih jujur, sebenarnya Alvin sangat menyesali diri. Ia
sadar, tidak seharusnya ia lepas control seperti semalam. Dan ia tahu betul,
bahwa apa yang ia lakukan semalam bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan oleh
orang sepertinya.
Setelah
cukup lama berpikir, Alvinpun akhirnya tiba pada sebuah keputusan. Setelah berusaha keras mengubur dalam-dalam rasa
gengsinya, Alvin keluar dari kamarnya dengan langkah yang mantap dan beranjak
kekamar Via yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.
Via
sedang berbaring ditempat tidurnya sambil memeluk boneka teddy bear berukuran
jumbo pemberian Alvin saat Alvin tiba dikamarnya. Sesekali Alvin melihat Via
memukul-mukul boneka itu dengan kesal. Alvin tertawa kecil. Ia dapat menebak,
Via pasti melampiaskan rasa kesalnya pada Alvin terhadap boneka tak berdosa
itu.
“lo
tahu?! Kalo ada manusia paling menyebalkan didunia ini, jawabananya pasti elo,
Calvin Nicholaaaaasss!! Kenapa sih lo selalu ngerasa paling bener? Kenapa sih
lo gak mau ngasih gue kesempatan buat ngomong? Lo pikir lo siapa? Anak
presiden? AAAAA…. GUE BENCI SAMA LO, ALVIIIIIIIIIIN!!”
“Ehem…”
Deheman
Alvin itu langsung membungkam teriakan Via dalam sekejab. Via terdiam, ia
bangkit lalu menatap kearah pintu. Ternyata benar saja, Alvin sudah berdiri
dengan sangat manis didepan pintu kamarnya.
“se—sejak
kapan lo disitu?” tanya Via terbata. Ia sebenarnya merasa sangat gugup, tapi ia
sama sekali tidak sudi menunjukan kegugupannya itu dihadapan Alvin. Alvin lalu
berjalan dengan sangat tenang memasuki kamar Via dan mendekatinya. Seraya
berjalan, Alvin berkata,
“sejak
lo bilang, kalo ada manusia yang paling menyebalkan didunia ini, maka
jawabannya adalah Calvin Nicholas…”
Via
kaget. Apa Alvin sampai mendengar sejauh itu? Menangkap raut terkejut yang
terpeta dengan sangat jelas diwajah manis gadis itu, Alvin berusaha keras
menahan tawanya.
“lo
kenapa? Kok shock kita mukanya?”
tanya Alvin datar.
“gue
gak shock!” jawab Via sambil
menegakan tubuhnya, berusaha bersikap sewajar mungkin. Tapi usaha yang ia
lakukan itu justru semakin menampakan kegugupanya. Alvin tersenyum kecil, gadis
ini benar-benar sangat lucu.
“udah
gak keliatan shock lagi sih sekarang,
tapi lebih keliatan panic” ujar Alvin setengah menggoda. Awalnya Alvin tidak
berniat sedikitpun untuk menggoda Via, tapi melihat dari bagaimana cara Via
bersikap dalam menghadapinya, entah kenapa Alvin ingin sekali menggodanya.
Via
menghela napas panjangnya sebelum akhirnya kembali membuka mulut dan menyembur
Alvin, “sekarang mending lo keluar dari kamar gue deh!” usir nya berusaha
terdengar galak sambil mendorong bahu Alvin dengan kekuatan penuh.
“soal
semalem gue minta maaf…” ucap Alvin dengan nada cepat namun terdengar sangat
jelas. Via menurunkan tangannya dari bahu Alvin dan menatap pemuda itu dengan
heran. Apa baru saja ia tidak salah dengar?
“a—apa?
Lo minta maaf? gak salah?” tanya Via dengan nada meremehkan. Via lalu membuang
tatapannya kearah lain. Rasa tidak percaya masih lekat dihatinya.
“lo
bebas gak percaya sama omongan gue, tapi dengan sungguh gue bener-bener minta
maaf sama lo. Gue yang keterlaluan…”
“gu—gue…
gue udah maafin lo kok…” jawab Via tanpa berani menatap kedua mata Alvin. Alvin
sedikit memiringkan wajahnya agar bisa dengan jelas melihat bagaimana raut
wajah Via saat ini. Namun apa yang Alvin lakukan itu justru membuat Via salah
tingkah dan mati gaya.
“lo
apa-apaan sih?”
Alvin
tidak merespon. Ia tetap menatap dalam-dalam pada kedua bola mata Via tanpa
suara.
“lo
laper?” tanya Alvin tiba-tiba. Kali ini ia bangkit dari samping Via dan berdiri
tepat dihadapan gadis itu.
“gak!”
jawab Via singkat. Namun nada keroncongan yang terdengar dari dalam perutnya
seolah meneriakan kebohongannya dihadapan Alvin. Sumpah demi apapun, detik ini
juga Via rasanya ingin menghilang dari hadapan Alvin saking malunya. Alvin
tertawa kecil lalu berjalan kearah pintu.
“ayo
turun! Gue akan masak sesuatu buat lo”
“gue
bilang gue gak laper” kata Via yang masih saja berusaha berbohong meskipun
sudah tertangkap basah. Rasa gengsinya terlalu kuat untuk bisa ia kalahkan
sekarang.
“ya
udah. Gue makan sendiri kalo gitu. Lo jangan minta ya?”
Via
tampak berpikir keras. Ia pun berusaha melupakan sejenak rasa gengsinya lantas
berlari mengejar langkah yang belum terlalu jauh. “ALVIN GUE IKUUUUUTTTTT!!”
teriaknya seraya terus berlari. Saat jarakya tepat berada dibelakang Alvin, Via
pun meloncat naik ke punggung Alvin dan melingkarkan kedua tangannya pada leher
pemuda itu. Alvin yang refleks langsung memegangi Via agar tidak terjatuh.
“Via
lo berat tauuuu…”
♫♫♫
Lapangan
Komplek Rumah Cakka…
“gue
udah nembak Via semalem…” kata Cakka pada Rio dan Gabriel saat mereka sedang
beristirahat setelah selama satu jam bergelut ditengah lapangan. Rio dan
Gabriel terlihat sangat terkejut. Mereka tahu bahwa Cakka sangat nekad dalam
segala hal, hanya saja mereka tidak habis pikir kenapa Cakka dengan begitu
cepat meminta Via untuk menjadi pacarnya.
“lo
serius??” tanya Rio berusaha memastikan. Cakka hanya mengangguk sebagai
jawaban.
“jangan
bilang lo belom ngasih tahu Alvin soal ini” Gabriel mulai mewanti-wanti seraya
menatap Cakka dengan pandangan menyelidik. Cakka menatap Gabriel sejenak, ia
tersenyum kecil lantas berkata, “gue belom ngasih tau Alvin… sama sekali…” kata
Cakka dengan santainya dan seolah tanpa beban.
Lagi-lagi
Rio dan Gabriel dibuat terbelalak maksimal oleh penuturan Cakka barusan. Apa
Cakka sudah bosan hidup?
“lo
mau dibunuh sama Alvin?! Harusnya sebelum lo nembak Via, lo tanya dulu pendapat
Alvin kayak apa. Lo sendiri kan tahu gimana over
protectif- nya Alvin kalo udah menyangkut soal Via” ujar Rio
memperingatkan.
“I know… tapi mau gimana lagi? Gue gak
bisa nahan perasaan gue lebih lama lagi dari ini. Perasaan gue ke Via udah
kayak bom waktu yang tinggal tunggu waktu buat meledak, dan semalem, bom waktu
itu meledak tanpa bisa gue cegah…” aku Cakka dengan jujur tanpa setitikpun
kebohongan.
“terus
Via jawab apa?” kali ini giliran Gabriel yang bertanya.
Cakka
mengalihkan pandangannya kearah Gabriel. Ia terseyum miris dan tidak lama
menjawab, “dia belom jawab apa-apa. Dia minta waktu buat berpikir. Dan dia juga
bilang, kalo apapun jawabannya nanti gue harus siep nerima…”
Rio
dan Gabriel mengangguk paham. Sekalipun sangat terkejut mendengar cerita Cakka
yang cukup mengejutkan, tapi mereka tetap saja tidak bisa menyalahkan Cakka.
Toh Cakka hanya jatuh cinta. Dan selama bertahun-tahu mereka bersahabat, ini
kali pertamanya mereka melihat Cakka begitu gigih memperjuangkan perasaannya.
Cakka bahkan rela melakukan apa saja hanya demi menarik perhatian Via. Bukankah
usaha Cakka itu patut diacungi jempol meskipun terbilang nekad?
Handphone
disaku celana Rio tahu-tahu berdering. Ia pun buru-buru merogoh kantong
celananya dan mengambil handphonenya. Satu nama yang tertera dilayar ponselnya
membuat Rio mendesah frustasi. Shilla lagi.
Gabriel
yang duduk bersebelahan dengan Rio tanpa sengaja melihat kearah ponsel Rio. Dan
Gabriel merasakan seolah ada ratusan jarum yang menusuk jantungnya saat tahu
bahwa Shilla lah yang menelpon Rio. Shilla bahkan tidak pernah menghubunginya
jika Gabriel tidak menghubunginya terlebih dahulu.
Rio
mengabaikan panggilan Shilla begitu saja. ia justru me-reject panggilan Shilla dan membuat Gabriel diam-diam merasa geram
didalam hatinya.
“kenapa
gak lo angkat, Yo?” tanya Cakka yang duduk disebelah kiri Rio.
“nomer
nyasar, Kka…” alibi Rio setelah sebelumnya ia sempat melirik kearah Gabriel.
Gabriel
bangkit dari samping Rio dan berkata dengan sinis,
“seenggaknya
lo angkat! Siapa tahu penting. Membuat orang menunggu tanpa kepastian yang
akhirnya akan bikin dia ngerasa diabaikan tidak sebercanda itu…”
Gabriel
lalu melangkah pergi meninggalkan lapangan tanpa pamit. Cakka yang heran
berusaha memanggil Gabriel yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari
Gabriel. Cakka lalu melirik kearah Rio, berusaha meminta jawaban atas rasa
herannya kalau-kalau Rio tahu. Tapi ternyata… Rio sama saja seperti Gabriel.
Sama-sama tidak meresponnya.
“kalian
berdua kenapa sih??” tanya Cakka kemudian, entah pada siapa saja yang mau
meresponnya.
♫♫♫
Alvin
sedang bermain piano diruang keluarga saat tiba-tiba Via muncul lalu mengambil
posisi duduk tepat disampingya. Dengan seksama Via memperhatikan bagaimana
jari-jemari Alvin dengan lincah menari diatas tuts-tuts piano. Via terkesima,
ternyata Alvin terlihat semakin berkarisma jika bermain piano seperti ini. Via
terus memperhatikan Alvin dan menikmati lagu yang Alvin mainkan. Irama bernada
lembut yang tercipta dari denting piano itu membuat perasaan Via terasa nyaman
dan sangat tenang.
“gue
boleh request satu lagu gak?” tanya
Via saat Alvin menyelesaikan permainan pianonya. Alvin menatap Via dengan
penasaran, “apa?”
Via
terlihat berpikir sebelum akhirnya menjawab, “satu lagu yang menggambarkan
tentang perasaan lo saat ini”
Sangat
sulit membaca perasaan seorang Calvin Nicholas bagi siapapun, untuk itulah Via
ingin Alvin menyanyikan satu buah lagu yang benar-benar menggambarkan bagaimana
perasaan Alvin saat ini. Pria berwajah oriental itu cukup misterius, meskipun
berkali-kali menepis, tapi Via tetap saja tidak bisa mengelak dari rasa
penasarannya pada sosok Alvin.
“oke…
satu lagu yang menggambarkan perasaan gue saat ini…” Alvin kembali memainkan
jari jemarinya diatas tuts piano. Sebuah intro dari lagu yang sangat Via kenal
mengalun pelan dengan sangat indah. Alvin tidak hanya bermain piano, tapi ia
juga bernyanyi dengan improvisasi yang sangat menakjubkan pada pembuka lagu
itu…
“uuuu….
Hmmm….
Look into my eyes - you will see
What you mean to me…”
Entah sadar atau tidak, Alvin
menatap Via saat itu dan kembali melanjutkan nyanyiannya.
“Search your heart - search your soul
And when you find me there you'll search no
more
Don't tell me it's not worth tryin' for
You can't tell me it's not worth dyin' for
You know it's true
Everything I do - I do it for you
Look into my heart - you will find
There's nothin' there to hide
Take me as I am - take my life
I would give it all - I would sacrifice
Don't tell me it's not worth fightin' for
I can't help it - there's nothin' I want more
You know it's true
Everything I do - I do it for you…”
(Bryan Adams ~ Everything I Do –I Do It For
You-)
Via langsung menghadiahkan Alvin
dengan sebuah tepuk tangan sesaat setelah Alvin menyelesaikan lagunya. Dan
entah kenapa, Alvin tidak pernah merasa selega seperti saat ini. Alvin tidak
mengerti, tapi lagu yang baru saja ia nyanyikan seakan menyampaikan perasaannya
secara tersirat untuk Via. Sebuah perasaan yang belum ingin ia sadari, sebuah
perasaan yang tidak pernah ingin ia mengerti.
“suara lo ternyata bagus banget. Gue
sukaaaa….” Puji Via seraya menatap Alvin dengan pandangan memuja. Alvin
tersenyum kaku, ia mendadak tidak tahu harus berkata apa. Dan ia merasa tidak
seperti Alvin yang biasanya. Ini benar-benar salah…
“lagu itu pasti lo nyanyiin buat…
cewek yang lo sayang, ya?” ada nada berbeda yang terdengar jelas pada kalimat
terakhir yang Via lontarkan, dan Alvin bisa menangkapnya dengan sangat jelas. Secara
tidak sengaja, Via seakan ingin memastikan sesuatu dari Alvin.
“iya…” jawab Alvin pelan.
‘cewek
itu pasti cewek yang sangat beruntung karna bisa ngerebut hati lo, Vin…’
bathin Via lalu tersenyum miris membayangkan bagaimana kasihannya ia yang bahkan
tidak bisa menyatakan perasaannya secara langsung terhadap Alvin. Via
benar-benar merasa sangat menyedihkan sekarang.
“kalo boleh tahu… s—siapa cewek itu,
Vin?” tanya Via ragu-ragu.
“lo gak kenal. Yang pasti… gue
sayang sama dia, tapi gue tahu satu hal… gue gak boleh milikin dia… jangankan
milikin dia, gue bahkan gak boleh bilang kalo gue sayang sama dia. Sejak awal
pertama… gue sudah dirancang untuk tetap diam dalam perasaan gue…”
Alvin dan Via saling menatap dalam
keheningan dalam waktu yang cukup lama. Sepasang mata mereka seakan saling
berbicara satu sama lain. Tapi mereka sama-sama buta karna sama-sama tidak bisa
melihat perasaan yang terpancar dari mata mereka. Mereka sama-sama tuli karna
tidak bisa mendengar intuisi mereka sendiri. Semuanya seakan abu-abu. Sampai
ketika perasaan itu menjadi gumpalan dan mengendap didasar hati mereka, mereka
tidak akan pernah mampu menyadarinya. Terutama…. Alvin.
“ehem…” suara deheman dari kejauhan
sana langsung membuat Alvin dan Via tersentak. Mereka sama-sama menarik diri
lalu menoleh dan mendapati Metta yang sedang berdiri memperhatikan mereka
sedari tadi. Alvin dan Via sama-sama terkejut. Mereka bahkan tidak pernah
menduga kalau Mama mereka akan pulang lebih awal dari jadwal seharusnya.
“MAMA?” seru mereka berbarengan.
Metta mengangguk seraya tersenyum,
“apa kabar anak-anak Mama?” tanya Metta pada Alvin dan Via.
“kok Mama udah pulang? Bukannya
seharusnya Mama pulang 3 hari lagi, ya?” tanya Alvin bingung.
“kenapa? Kamu gak suka kalo Mama
pulang lebih cepet?”
“bu—bukan gitu, Ma… Cuma Alvin heran
aja…”
“pekerjaan Mama di Milan udah hampir
tuntas, sisanya Papa yang akan mengerjakan semua. Papa minta Mama pulang lebih
awal dan melihat keadaan kalian dan Angel” jawab Metta dengan sangat tenang.
“Alvin, ikut Mama sebentar! Kita
harus bicara”
♫♫♫
Alvin terlihat begitu focus menyetir
saat menempuh perjalanan menuju kesekolah disenin pagi itu. Alvin tidak
sepenuhnya focus, saat kedua matanya menatap lurus jalanan yang ada
dihadapannya, pikirannya justru melayang jauh entah kemana. Bahkan Alvin tidak
sedikitpun menangkap ocehan Via yang sejak tadi berkicau tanpa henti.
Perkataan Mama nya kemarin
benar-benar menguasai otak Alvin untuk saat ini. Setiap kata dan setiap kalimat
yang Mamanya ucapkan tidak sedikitpun luput dari ingatannya, dan hal itu
benar-benar mengacaukan suasana hatinya yang kemarin sempat berbunga.
‘kamu suka sama Via?’
Pertanyaan itu kembali terngiang
dibenaknya. Saat Metta menanyakan pertanyaan itu, Alvin merasa seakan semua
pertahanannya rubuh dalam seketika. Mamanya bahkan bisa membaca perasaannya
dengan sangat baik disaat ia sendiri bahkan tidak mampu melakukannya.
‘Mama ngaco! Aku gak suka Via’
Itulah jawaban yang Alvin lemparkan
dengan nada tak yakin. Bahkan Alvin yang biasanya selalu bersikap tenang dan
bisa mengendalikan dirinya terlihat begitu gugup. Dan Alvin semakin yakin,
bahwa memang ada yang salah dalam dirinya.
‘Mama berharap Mama ngaco. Tapi apa yang
Mama dapetin dari kamu bener-bener mejungkir balikan harapan Mama. Kamu gak
bisa bohong. Mama tahu kamu suka sama Via, bukan hanya suka, tapi kamu sudah
jatuh cinta sama Via…’
Seperti gumapalan benang kusut,
itulah gambaran bagaimana kacaunya pikiran Alvin saat ini. Bahkan untuk sekedar
bertanya pada dirinya sendiri tentang perasaan seperti apa yang ia rasakan saat
ini, Alvin merasa takut. Ia takut mendapati kenyataan yang tidak pernah ia
inginkan seumur hidupnya.
‘apa salah kalau seandainya aku beneran suka
sama Via?’
Alvin justru balik mencecar Mama nya
dengan sebuah pertanyaan. Metta tampak kaget saat itu. Tapi sejak awal, Metta
memang sudah sangat yakin dengan perasaan puteranya itu. Hanya saja… Alvin
tidak boleh menyimpan perasaan lebih terhadap Via.
‘dengerin Mama, Alvin! Mama sama sekali gak
larang kamu punya perasaan terhadap Via. Hanya saja keadaan kalian sekarang
tidak pada kenyataan harus saling memiliki perasaan satu sama lain. Kamu, Mama
dan Papa harus benar-benar menyembunyikan identitas Via dengan sangat rahasia.
Siapapun tidak boleh tahu tentang latar belakangnya. Dan sedikit saja kesalahan
yang kita lakukan akan membongkar semuanya, dan jika sudah seperti itu, Opa
Danar tidak akan tinggal diam, Alvin. Setidaknya lakukan ini untuk melindungi
Via…’
Alvin geram. Isi kepalanya seakan
mendidih. Kenapa juga Alvin harus terlibat dan ikut-ikutan terseret dalam
permasalahan yang cukup pelik ini? Selama ini, Alvin sudah berusaha keras
melawan segalanya. Ia bahkan melakukan apapun hanya untuk menekan perasaannya
terhadap Via. Tapi hasil yang ia dapatkan justru nihil. Perasaan itu sudah
terlanjur mengalir meskipun luput dari kepekaan hatinya.
Seperti yang Alvin katakan, sejak
awal pertama ia memang sudah dirancang untuk diam. Alvin bahkan tidak bisa
memberitahukan pada Gabriel bahwa ia tahu sesuatu tentang masa lalunya. Alvin
bahkan sampai harus berpura-pura bahwa ia tidak pernah tahu apapun disaat semua
rahasia sepenuhnya ada ditangannya.
Sesekali Alvin menyesali diri.
Kenapa ia harus berada dalam posisi yang sangat sulit seperti ini?
“Vin… kemaren malem Cakka nembak
gue…”
Alvin langsung mengerem mendadak
Honda Jazz nya saat Via melontarkan sebuah pertanyaan yang benar-benar
mengejutkannya. Belum tuntas rasa kesalnya karna harus ikut-ikutan terseret
dalam masalah Danar Ganendra, lagi-lagi Via mengejutkannya dengan pernyataan
itu.
Apa yang Alvin lakukan itu membuat
Via kaget setengah mati. Jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya karna
terlalu kaget. Tapi baru saja Via ingin mengajukan protes atas tindakan Alvin
yang seakan tanpa perhitungan itu, Alvin malah mendahuluinya,
“Cakka nembak lo?! Terus lo jawab
apa? Lo terima dia?” tanya Alvin bertubi-tubi. Sebagian dari dirinya sangat
berharap bahwa Via memberikan jawaban ‘TIDAK’ untuk Cakka. Tapi sebagian lagi
justru merasa bahwa lebih baik Via bersama Cakka saja agar dia lebih mudah
‘membunuh’ perasaannya terhadap Via.
Via yang sama sekali tidak menyangka
dengan respon yang Alvin tunjukan malah cengo dan menatap Alvin dengan
pandangan hampa. Memangnya sejak kapan Alvin jadi secerewet itu?
Via lalu menggeleng dan berkata,
“gak… gue belom ngasih jawaban apapun…”
Alvin mendesah tidak kentara. Jauh
didasar hatinya yang terdalam, Alvin merasakan semilir lega yang entah darimana
datangnya.
Setelah mendengar jawaban Via, Alvin
pun berusaha bersikap wajar dan kembali menjalankan mobilnya memebelah jalanan
Ibu Kota. Dan sepanjang sisa perjalanan itu, Via terus menatap Alvin dengan
padangan tak percaya. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada pemuda
menyebalkan ini.
“terus menurut lo, gue… harus jawab
apa?” tanya Via ragu-ragu tanpa mengalihkan tatapanya dari wajah Alvin.
Tanpa Via sadari, mimic wajah Alvin
langsung berubah drastis. Otot-ototnya diwajahnya tampak menegang. Ia seperti
menahan sesuatu.
“terserah lo” jawab Alvin dingin dan
berusaha terdengar tidak peduli.
‘yang
gue suka itu elo, Vin… bukan Cakka atau yang lainnya. Terus gimana gue harus
ngasih jawaban ke Cakka sementara gue sama sekali gak bisa baca hati lo. Gue
juga butuh kepastian, Vin… apa lo… bener-bener gak peka sama perasaan gue? Atau
lo… hanya pura-pura gak peka?’ bathin Via. Ia lalu mengalihkan perhatiannya
keluar jendela mobil Alvin seraya mendesah pelan.
Kenapa semuanya harus sesulit ini?
♫♫♫
Seorang gadis berwajah
cantik dengan kacamata hitam yang membingkai wajah mungilnya keluar dari
bandara seraya menarik kopernya. Gadis itu melepaskan kopernya saat ia tiba
diluar. Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru, masih sulit ia percaya,
bahwa detik ini ia telah menjejakan kakinya ditanah air.
Tinggal
dan menetap selama 5 ditahun di New York tanpa pernah pulang ke Jakarta
membuatnya sangat merindukan kota masa kecilnya ini. Gadis itu tersenyum sangat
manis dan semakin memancarkan kecantikanya yang luar biasa.
Ia
hanya punya waktu satu bulan untuk menghabiskan libur musim panasnya di
Jakarta. Dan ia berjanji akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk
menyelesaikan segala permasalahan hatinya yang telah membelitnya selama
beberapa minggu belakangan ini.
Setelah
puas menikmati hiruk-pikuk yang ada dihadapannya, gadis itupun mencoba
menghubungi seseorang melalui sambungan telfon. Tapi seperti
sebelum-sebelumnya, respon yang ia dapatkan masih tetap sama. Panggilannya
lagi-lagi diabaikan.
Gadis
itu menghela napas panjang. Sekeras apapun dia mencoba menghindar, toh mereka
sekarang sudah ada dikota yang sama. Ia datang untuk mempertanyakan kembali
cinta yang dulu hanya untuknya. Dan dapat ia pastikan, cinta itu masih tetap
untuknya.
“I'm coming for you, Calvin….”
Prissy
Alexandra. Dia telah datang.
To Be Continued…



0 comments:
Post a Comment