Tuesday, March 10, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 8)







Yashinta membuka album  lama miliknya. Saat membuka album foto itu, Yashinta baru sadar bawa sudah sangat lama dia tidak pernah membuka kenangan itu semenjak ia resmi dinikahi oleh seorang pengusaha sukses keturunan Jepang bernama Hoshi Sorano sekitar 18 tahun yang lalu.
Album foto itu menyimpan kenangan lamanya bersama 2 orang sahabatnya dimasa lalu dengan sangat rapi. Banyak hal yang berusaha Yashinta lupakan selama belasan tahun terakhir ini, banyak hal yang berusaha ia kubur dalam-dalam dan tidak ingin dia ungkit lagi seumur hidupnya. Tapi saat ia untuk yang pertama kalinya melihat wajah Via di toko bunga sore tadi, entah kenapa Yashinta merasa pernah melihat wajah itu dalam wujud yang lain.
            Via dengan kehadirannya seakan mengungkit kembali masa lalunya. Wajah itu, tatapan teduh itu, senyuman itu… bahkan semua yang melekat dalam diri Via seolah menyeret memorinya ke masa 24 tahun yang lalu, saat ia masih mengenyam pendidikan disalah satu universitas ternama di Bandung.
            Pada lembar pertama album foto itu, Yashinta mendapati foto dirinya bersama 2 orang sahabat karibnya yang sedang berdiri didepan gedung kampusnya. Dalam foto itu, mereka tampak sangat akrab satu sama lain. Posisi Yashinta dalam foto itu diapit oleh Metta dan Sylvia.
            Dan wajah seorang wanita berparas manis dengan sepasang mata sipit serta sepasang lesung pipi diwajah chubbynya menjadi titik focus Yashinta. Dialah Sylvia. Seorang wanita sederhana yang  cerdas dan memiliki keperibadian yang begitu hangat.

            Sylvia yang sangat mirip dengan Via, teman dekat anaknya, Cakka.

            Mau tidak mau, selembar foto itu akhirnya memutar kembali memorinya ke masa 24 tahun yang lalu, seperti sebuah film yang diputar ulang, Yashinta dapat mengingat semuanya dengan sangat jelas.


Flash back ~

Bandung, 1990…

            Sylvia dan Metta duduk dipinggir lapangan bersama beberapa mahasiswa lainnya menyaksikan bagaimana teman-teman dari kelas mereka beradu ditengah lapangan memainkan perlombaan tenis. Perlombaan antar fakultas yang diadakan oleh pihak Universitas itu dilakukan dalam rangka merayakan Dies Natalis Universitas mereka yang ke-32.
            Setelah satu jam lebih berjuang ditengah lapangan, menghadapi lawan yang cukup tangguh, akhirnya Fakultas Ekonomi –yang merupakan fakultas Sylvia dan Metta- memenangkan pertandingan itu dan berhak memboyong tropi serta piala untuk fakultas kebanggaan mereka.
            Yashinta, seorang gadis cantik bertubuh tinggi dengan kulit seputih susunya tampak berlarian dari tengah lapangan seraya bersorak gembira. Bagi penghuni kampusnya, Yashinta adalah seorang Dewi dengan kecantikannya yang sangat luar biasa. Ia tidak hanya cantik, ia juga berasal dari keluarga kaya yang terhormat. Selain itu, Yashinta juga terkenal dengan kejeniusannya, baik dalam bidang akademik, maupun non akademik. (seperti dalam olahraga dan bermusik)
            Sylvia dan Metta serta-merta bangkit dari bangku yang sejak tadi mereka duduki, mereka seakan menyambut kedatangan Yashinta yang saat itu langsung memeluk mereka berdua dengan erat sambil terus bersorak gembira atas kemenangan yang telah diraihnya.
            “YEEEE KITA MENAAAAANG!!” Teriaknya.
            Mereka bertiga lalu mengurai pelukan mereka dan kembali duduk dibangku penonton.
            “Shinta hebat! Permainan kamu tadi benar-benar tidak ada yang bisa menandingi” puji Sylvia.
            Yashinta tersenyum, ia lalu merangkul pundak Sylvia dan berkata,
            “Syl… aku memang hebat, tapi tidak sehebat kamu. Seharusnya kan yang bertanding hari ini kamu, bukan aku. Kalau saja kamu tidak mengalami kecelakaan motor, yang akhirnya akan menyebabkan kamu luka parah dikaki kamu seperti sekarang ini, mungkin tadi tim dari kelas kita bisa lebih baik lagi dari ini. Ya kan, Met?” tanya Yashinta yang berusaha mendapat persetujuan dari Metta.
            Metta tampak mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya berkata, “bagiku, kalian sama hebatnya. Bagiku, kalian berdua sama-sama adalah idolaku, jadi tidak ada yang lebih hebat. Mengerti?”
            Mereka bertiga pun tertawa bersama dengan lepas.
            Yashinta, Sylvia dan Metta. Siapa yang tidak mengenal mereka di kampus? Mereka adalah bintang kampus yang selalu menjadi pujaan setiap orang. Jika Yashinta dan Metta berasal dari keluarga berada, maka lain halnya dengan Sylvia.
            Sylvia hanya berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan Ibu nya adalah seorang guru yang mengajar disalah satu SMU di Bandung. Tapi meskipun berasal dari keluarga yang sederhana, Sylvia memiliki otak yang sangat jenius. Kejeniusan yang ia miliki bahkan berada diatas Yashinta. Tapi hal itu tidak lantas membuat Yashinta merasa tersaingi apalagi merasa iri. Ia justru merasa sangat bangga dan bahagia bisa memiliki sahabat seperti Sylvia.
            Tawa mereka bertiga kemudian terhenti saat sosok seorang laki-laki berwajah sangat tampan menghampiri mereka dan berdiri tepat dihadapan mereka. Laki-laki itu adalah Geraldy Ganendra, sosok laki-laki yang selama setahun belakangan resmi berstatus sebagai kekasih Yashinta.
            Sylvia, Yashinta dan Metta secara bersamaan menatap kearah Geraldy. Tapi tanpa mereka sadari, mimic wajah Sylvia langsung berubah drastic saat melihat kehadiran Geraldy. Entah apa penyebabnya.
            “Shinta, kita pulang sekarang!”
            “kenapa buru-buru sekali?” tanya Yashinta dingin tanpa menatap wajah Geraldy.
            “orangtua kita membuat pertemuan yang bahkan  tidak kita ketahui. Dan mereka mendadak menyuruh kita datang untuk menemui mereka sekarang…” jawab Geraldy yang tidak kalah dinginnya dengan nada pertanyaan yang barusan dilemparkan oleh Yashinta.
            Meskipun mereka adalah sepasang kekasih, mereka sangat jarang terlihat akur. Konon katanya, Yashinta dan Geraldy telah dijodohkan oleh kedua orangtua mereka sejak mereka masih sama-sama kecil, tapi baru setahun yang lalu mereka memproklamirkan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih.
            Yashinta yang tidak bisa mencari-cari alasan untuk mangkir dari pertemuan kedua keluarga itu akhirnya mau tidak mau mengikuti ajakan Geraldy. Yashinta bangkit lalu pamit pada Sylvia dan Metta.
            “aku pamit, ya? Tapi nanti malem kita ketemu di cafĂ© biasa. Aku mau traktir kalian makan sebagai perayaan kemenangan kita hari ini…”
            Setelah berpelukan dengan kedua sahabatnya, Yashinta lalu berjalan terlebih dahulu dan melewati Geraldy begitu saja tanpa sepatah katapun. Geraldy mendesah pelan, tapi tidak lama ia lalu mengalihkan perhatiannya pada Sylvia dan Metta,
            “aku pamit juga, ya?” kali ini Geraldy menatap Sylvia. Tatapan nya terlihat begitu teduh, dalam, dan sarat akan makna tersirat yang tidak bisa dibaca oleh siapapun, “kamu jaga diri baik-baik. Aku tidak akan bisa lagi melihat kamu terluka seperti ini…”
            Sylvia hanya diam sambil membuang tatapannya kearah lain. Cerita diantara mereka telah lama berakhir, tapi kenapa Geraldy masih selalu menunjukan perhatiannya?
            “dan jika kamu terus seperti ini, aku tidak akan berpikir dua kali untuk pergi dari hidup kamu! Setidaknya Yashinta butuh kamu…”
            Sylvia lalu menarik pergelangan tangan Metta dan membawanya pergi dari tempat itu. Kecuali Yashinta, Metta memang sudah sejak lama tahu, bahwa pernah terajut kisah antara Sylvia dan Geraldy saat mereka masih sama-sama duduk dibangku SMU. Metta mengenal Sylvia dan Geraldy sejak SMU, tapi lain halnya dengan Yashinta. Metta dan Sylvia baru mengenal Yashinta setelah mereka sama-sama duduk dibangku kuliah.
            Jadi dalam hal ini, Yashinta tidak mengetahui apapun tentang hubungan Sylvia dan Geraldy dimasa lalu.



♫♫♫

            Hari minggu pagi, sekitar pukul delapan lewat, Alvin terlihat mondar-mandir dengan risau didalam kamarnya. Tadi, Cakka dan Rio mengajaknya bermain basket bersama dilapangan komplek rumah Cakka, tapi Alvin menolak dengan alasan bahwa ia sedang sibuk.
            Tapi alasan tetaplah hanya sebuah alasan. Alvin tidak sedang sibuk melakukan apapun sekarang, ia hanya sedang sibuk berpikir dengan perbuatannya terhadap Via semalam. Jika ingin lebih jujur, sebenarnya Alvin sangat menyesali diri. Ia sadar, tidak seharusnya ia lepas control seperti semalam. Dan ia tahu betul, bahwa apa yang ia lakukan semalam bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan oleh orang sepertinya.
            Setelah cukup lama berpikir, Alvinpun akhirnya tiba pada sebuah keputusan. Setelah  berusaha keras mengubur dalam-dalam rasa gengsinya, Alvin keluar dari kamarnya dengan langkah yang mantap dan beranjak kekamar Via yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.
            Via sedang berbaring ditempat tidurnya sambil memeluk boneka teddy bear berukuran jumbo pemberian Alvin saat Alvin tiba dikamarnya. Sesekali Alvin melihat Via memukul-mukul boneka itu dengan kesal. Alvin tertawa kecil. Ia dapat menebak, Via pasti melampiaskan rasa kesalnya pada Alvin terhadap boneka tak berdosa itu.
            “lo tahu?! Kalo ada manusia paling menyebalkan didunia ini, jawabananya pasti elo, Calvin Nicholaaaaasss!! Kenapa sih lo selalu ngerasa paling bener? Kenapa sih lo gak mau ngasih gue kesempatan buat ngomong? Lo pikir lo siapa? Anak presiden? AAAAA…. GUE BENCI SAMA LO, ALVIIIIIIIIIIN!!”
            “Ehem…”
            Deheman Alvin itu langsung membungkam teriakan Via dalam sekejab. Via terdiam, ia bangkit lalu menatap kearah pintu. Ternyata benar saja, Alvin sudah berdiri dengan sangat manis didepan pintu kamarnya.
            “se—sejak kapan lo disitu?” tanya Via terbata. Ia sebenarnya merasa sangat gugup, tapi ia sama sekali tidak sudi menunjukan kegugupannya itu dihadapan Alvin. Alvin lalu berjalan dengan sangat tenang memasuki kamar Via dan mendekatinya. Seraya berjalan, Alvin berkata,
            “sejak lo bilang, kalo ada manusia yang paling menyebalkan didunia ini, maka jawabannya adalah Calvin Nicholas…”
            Via kaget. Apa Alvin sampai mendengar sejauh itu? Menangkap raut terkejut yang terpeta dengan sangat jelas diwajah manis gadis itu, Alvin berusaha keras menahan tawanya.
            “lo kenapa? Kok shock kita mukanya?” tanya Alvin datar.
            “gue gak shock!” jawab Via sambil menegakan tubuhnya, berusaha bersikap sewajar mungkin. Tapi usaha yang ia lakukan itu justru semakin menampakan kegugupanya. Alvin tersenyum kecil, gadis ini benar-benar sangat lucu.
            “udah gak keliatan shock lagi sih sekarang, tapi lebih keliatan panic” ujar Alvin setengah menggoda. Awalnya Alvin tidak berniat sedikitpun untuk menggoda Via, tapi melihat dari bagaimana cara Via bersikap dalam menghadapinya, entah kenapa Alvin ingin sekali menggodanya.
            Via menghela napas panjangnya sebelum akhirnya kembali membuka mulut dan menyembur Alvin, “sekarang mending lo keluar dari kamar gue deh!” usir nya berusaha terdengar galak sambil mendorong bahu Alvin dengan kekuatan penuh.
            “soal semalem gue minta maaf…” ucap Alvin dengan nada cepat namun terdengar sangat jelas. Via menurunkan tangannya dari bahu Alvin dan menatap pemuda itu dengan heran. Apa baru saja ia tidak salah dengar?
            “a—apa? Lo minta maaf? gak salah?” tanya Via dengan nada meremehkan. Via lalu membuang tatapannya kearah lain. Rasa tidak percaya masih lekat dihatinya.
            “lo bebas gak percaya sama omongan gue, tapi dengan sungguh gue bener-bener minta maaf sama lo. Gue yang keterlaluan…”
            “gu—gue… gue udah maafin lo kok…” jawab Via tanpa berani menatap kedua mata Alvin. Alvin sedikit memiringkan wajahnya agar bisa dengan jelas melihat bagaimana raut wajah Via saat ini. Namun apa yang Alvin lakukan itu justru membuat Via salah tingkah dan mati gaya.
            “lo apa-apaan sih?”
            Alvin tidak merespon. Ia tetap menatap dalam-dalam pada kedua bola mata Via tanpa suara.
            “lo laper?” tanya Alvin tiba-tiba. Kali ini ia bangkit dari samping Via dan berdiri tepat dihadapan gadis itu.
            “gak!” jawab Via singkat. Namun nada keroncongan yang terdengar dari dalam perutnya seolah meneriakan kebohongannya dihadapan Alvin. Sumpah demi apapun, detik ini juga Via rasanya ingin menghilang dari hadapan Alvin saking malunya. Alvin tertawa kecil lalu berjalan kearah pintu.
            “ayo turun! Gue akan masak sesuatu buat lo”
            “gue bilang gue gak laper” kata Via yang masih saja berusaha berbohong meskipun sudah tertangkap basah. Rasa gengsinya terlalu kuat untuk bisa ia kalahkan sekarang.
            “ya udah. Gue makan sendiri kalo gitu. Lo jangan minta ya?”

            Via tampak berpikir keras. Ia pun berusaha melupakan sejenak rasa gengsinya lantas berlari mengejar langkah yang belum terlalu jauh. “ALVIN GUE IKUUUUUTTTTT!!” teriaknya seraya terus berlari. Saat jarakya tepat berada dibelakang Alvin, Via pun meloncat naik ke punggung Alvin dan melingkarkan kedua tangannya pada leher pemuda itu. Alvin yang refleks langsung memegangi Via agar tidak terjatuh.

            “Via lo berat tauuuu…”



♫♫♫


Lapangan Komplek Rumah Cakka…



            “gue udah nembak Via semalem…” kata Cakka pada Rio dan Gabriel saat mereka sedang beristirahat setelah selama satu jam bergelut ditengah lapangan. Rio dan Gabriel terlihat sangat terkejut. Mereka tahu bahwa Cakka sangat nekad dalam segala hal, hanya saja mereka tidak habis pikir kenapa Cakka dengan begitu cepat meminta Via untuk menjadi pacarnya.
            “lo serius??” tanya Rio berusaha memastikan. Cakka hanya mengangguk sebagai jawaban.
            “jangan bilang lo belom ngasih tahu Alvin soal ini” Gabriel mulai mewanti-wanti seraya menatap Cakka dengan pandangan menyelidik. Cakka menatap Gabriel sejenak, ia tersenyum kecil lantas berkata, “gue belom ngasih tau Alvin… sama sekali…” kata Cakka dengan santainya dan seolah tanpa beban.
            Lagi-lagi Rio dan Gabriel dibuat terbelalak maksimal oleh penuturan Cakka barusan. Apa Cakka sudah bosan hidup?
            “lo mau dibunuh sama Alvin?! Harusnya sebelum lo nembak Via, lo tanya dulu pendapat Alvin kayak apa. Lo sendiri kan tahu gimana over protectif- nya Alvin kalo udah menyangkut soal Via” ujar Rio memperingatkan.
            “I know… tapi mau gimana lagi? Gue gak bisa nahan perasaan gue lebih lama lagi dari ini. Perasaan gue ke Via udah kayak bom waktu yang tinggal tunggu waktu buat meledak, dan semalem, bom waktu itu meledak tanpa bisa gue cegah…” aku Cakka dengan jujur tanpa setitikpun kebohongan.
            “terus Via jawab apa?” kali ini giliran Gabriel yang bertanya.
            Cakka mengalihkan pandangannya kearah Gabriel. Ia terseyum miris dan tidak lama menjawab, “dia belom jawab apa-apa. Dia minta waktu buat berpikir. Dan dia juga bilang, kalo apapun jawabannya nanti gue harus siep nerima…”
            Rio dan Gabriel mengangguk paham. Sekalipun sangat terkejut mendengar cerita Cakka yang cukup mengejutkan, tapi mereka tetap saja tidak bisa menyalahkan Cakka. Toh Cakka hanya jatuh cinta. Dan selama bertahun-tahu mereka bersahabat, ini kali pertamanya mereka melihat Cakka begitu gigih memperjuangkan perasaannya. Cakka bahkan rela melakukan apa saja hanya demi menarik perhatian Via. Bukankah usaha Cakka itu patut diacungi jempol meskipun terbilang nekad?
            Handphone disaku celana Rio tahu-tahu berdering. Ia pun buru-buru merogoh kantong celananya dan mengambil handphonenya. Satu nama yang tertera dilayar ponselnya membuat Rio mendesah frustasi. Shilla lagi.
            Gabriel yang duduk bersebelahan dengan Rio tanpa sengaja melihat kearah ponsel Rio. Dan Gabriel merasakan seolah ada ratusan jarum yang menusuk jantungnya saat tahu bahwa Shilla lah yang menelpon Rio. Shilla bahkan tidak pernah menghubunginya jika Gabriel tidak menghubunginya terlebih dahulu.
            Rio mengabaikan panggilan Shilla begitu saja. ia justru me-reject panggilan Shilla dan membuat Gabriel diam-diam merasa geram didalam hatinya.
            “kenapa gak lo angkat, Yo?” tanya Cakka yang duduk disebelah kiri Rio.
            “nomer nyasar, Kka…” alibi Rio setelah sebelumnya ia sempat melirik kearah Gabriel.

            Gabriel bangkit dari samping Rio dan berkata dengan sinis,

            “seenggaknya lo angkat! Siapa tahu penting. Membuat orang menunggu tanpa kepastian yang akhirnya akan bikin dia ngerasa diabaikan tidak sebercanda itu…”

            Gabriel lalu melangkah pergi meninggalkan lapangan tanpa pamit. Cakka yang heran berusaha memanggil Gabriel yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari Gabriel. Cakka lalu melirik kearah Rio, berusaha meminta jawaban atas rasa herannya kalau-kalau Rio tahu. Tapi ternyata… Rio sama saja seperti Gabriel. Sama-sama tidak meresponnya.

            “kalian berdua kenapa sih??” tanya Cakka kemudian, entah pada siapa saja yang mau meresponnya.




♫♫♫


            Alvin sedang bermain piano diruang keluarga saat tiba-tiba Via muncul lalu mengambil posisi duduk tepat disampingya. Dengan seksama Via memperhatikan bagaimana jari-jemari Alvin dengan lincah menari diatas tuts-tuts piano. Via terkesima, ternyata Alvin terlihat semakin berkarisma jika bermain piano seperti ini. Via terus memperhatikan Alvin dan menikmati lagu yang Alvin mainkan. Irama bernada lembut yang tercipta dari denting piano itu membuat perasaan Via terasa nyaman dan sangat tenang.
            “gue boleh request satu lagu gak?” tanya Via saat Alvin menyelesaikan permainan pianonya. Alvin menatap Via dengan penasaran, “apa?”
            Via terlihat berpikir sebelum akhirnya menjawab, “satu lagu yang menggambarkan tentang perasaan lo saat ini”
            Sangat sulit membaca perasaan seorang Calvin Nicholas bagi siapapun, untuk itulah Via ingin Alvin menyanyikan satu buah lagu yang benar-benar menggambarkan bagaimana perasaan Alvin saat ini. Pria berwajah oriental itu cukup misterius, meskipun berkali-kali menepis, tapi Via tetap saja tidak bisa mengelak dari rasa penasarannya pada sosok Alvin.
            “oke… satu lagu yang menggambarkan perasaan gue saat ini…” Alvin kembali memainkan jari jemarinya diatas tuts piano. Sebuah intro dari lagu yang sangat Via kenal mengalun pelan dengan sangat indah. Alvin tidak hanya bermain piano, tapi ia juga bernyanyi dengan improvisasi yang sangat menakjubkan pada pembuka lagu itu…

“uuuu…. Hmmm….
Look into my eyes - you will see
What you mean to me…”

            Entah sadar atau tidak, Alvin menatap Via saat itu dan kembali melanjutkan nyanyiannya.

“Search your heart - search your soul
And when you find me there you'll search no more
Don't tell me it's not worth tryin' for
You can't tell me it's not worth dyin' for
You know it's true

Everything I do - I do it for you
Look into my heart - you will find
There's nothin' there to hide
Take me as I am - take my life
I would give it all - I would sacrifice

Don't tell me it's not worth fightin' for
I can't help it - there's nothin' I want more
You know it's true

Everything I do - I do it for you…”

(Bryan Adams ~ Everything I Do –I Do It For You-)

            Via langsung menghadiahkan Alvin dengan sebuah tepuk tangan sesaat setelah Alvin menyelesaikan lagunya. Dan entah kenapa, Alvin tidak pernah merasa selega seperti saat ini. Alvin tidak mengerti, tapi lagu yang baru saja ia nyanyikan seakan menyampaikan perasaannya secara tersirat untuk Via. Sebuah perasaan yang belum ingin ia sadari, sebuah perasaan yang tidak pernah ingin ia mengerti.
            “suara lo ternyata bagus banget. Gue sukaaaa….” Puji Via seraya menatap Alvin dengan pandangan memuja. Alvin tersenyum kaku, ia mendadak tidak tahu harus berkata apa. Dan ia merasa tidak seperti Alvin yang biasanya. Ini benar-benar salah…
            “lagu itu pasti lo nyanyiin buat… cewek yang lo sayang, ya?” ada nada berbeda yang terdengar jelas pada kalimat terakhir yang Via lontarkan, dan Alvin bisa menangkapnya dengan sangat jelas. Secara tidak sengaja, Via seakan ingin memastikan sesuatu dari Alvin.

            “iya…” jawab Alvin pelan.

            ‘cewek itu pasti cewek yang sangat beruntung karna bisa ngerebut hati lo, Vin…’ bathin Via lalu tersenyum miris membayangkan bagaimana kasihannya ia yang bahkan tidak bisa menyatakan perasaannya secara langsung terhadap Alvin. Via benar-benar merasa sangat menyedihkan sekarang.

            “kalo boleh tahu… s—siapa cewek itu, Vin?” tanya Via ragu-ragu.

            “lo gak kenal. Yang pasti… gue sayang sama dia, tapi gue tahu satu hal… gue gak boleh milikin dia… jangankan milikin dia, gue bahkan gak boleh bilang kalo gue sayang sama dia. Sejak awal pertama… gue sudah dirancang untuk tetap diam dalam perasaan gue…”
            Alvin dan Via saling menatap dalam keheningan dalam waktu yang cukup lama. Sepasang mata mereka seakan saling berbicara satu sama lain. Tapi mereka sama-sama buta karna sama-sama tidak bisa melihat perasaan yang terpancar dari mata mereka. Mereka sama-sama tuli karna tidak bisa mendengar intuisi mereka sendiri. Semuanya seakan abu-abu. Sampai ketika perasaan itu menjadi gumpalan dan mengendap didasar hati mereka, mereka tidak akan pernah mampu menyadarinya. Terutama…. Alvin.

            “ehem…” suara deheman dari kejauhan sana langsung membuat Alvin dan Via tersentak. Mereka sama-sama menarik diri lalu menoleh dan mendapati Metta yang sedang berdiri memperhatikan mereka sedari tadi. Alvin dan Via sama-sama terkejut. Mereka bahkan tidak pernah menduga kalau Mama mereka akan pulang lebih awal dari jadwal seharusnya.

            “MAMA?” seru mereka berbarengan.

            Metta mengangguk seraya tersenyum, “apa kabar anak-anak Mama?” tanya Metta pada Alvin dan Via.
            “kok Mama udah pulang? Bukannya seharusnya Mama pulang 3 hari lagi, ya?” tanya Alvin bingung.
            “kenapa? Kamu gak suka kalo Mama pulang lebih cepet?”
            “bu—bukan gitu, Ma… Cuma Alvin heran aja…”
            “pekerjaan Mama di Milan udah hampir tuntas, sisanya Papa yang akan mengerjakan semua. Papa minta Mama pulang lebih awal dan melihat keadaan kalian dan Angel” jawab Metta dengan sangat tenang.


            “Alvin, ikut Mama sebentar! Kita harus bicara”




♫♫♫


            Alvin terlihat begitu focus menyetir saat menempuh perjalanan menuju kesekolah disenin pagi itu. Alvin tidak sepenuhnya focus, saat kedua matanya menatap lurus jalanan yang ada dihadapannya, pikirannya justru melayang jauh entah kemana. Bahkan Alvin tidak sedikitpun menangkap ocehan Via yang sejak tadi berkicau tanpa henti.
            Perkataan Mama nya kemarin benar-benar menguasai otak Alvin untuk saat ini. Setiap kata dan setiap kalimat yang Mamanya ucapkan tidak sedikitpun luput dari ingatannya, dan hal itu benar-benar mengacaukan suasana hatinya yang kemarin sempat berbunga.
            ‘kamu suka sama Via?’
            Pertanyaan itu kembali terngiang dibenaknya. Saat Metta menanyakan pertanyaan itu, Alvin merasa seakan semua pertahanannya rubuh dalam seketika. Mamanya bahkan bisa membaca perasaannya dengan sangat baik disaat ia sendiri bahkan tidak mampu melakukannya.
            ‘Mama ngaco! Aku gak suka Via’
            Itulah jawaban yang Alvin lemparkan dengan nada tak yakin. Bahkan Alvin yang biasanya selalu bersikap tenang dan bisa mengendalikan dirinya terlihat begitu gugup. Dan Alvin semakin yakin, bahwa memang ada yang salah dalam dirinya.
            ‘Mama berharap Mama ngaco. Tapi apa yang Mama dapetin dari kamu bener-bener mejungkir balikan harapan Mama. Kamu gak bisa bohong. Mama tahu kamu suka sama Via, bukan hanya suka, tapi kamu sudah jatuh cinta sama Via…’
            Seperti gumapalan benang kusut, itulah gambaran bagaimana kacaunya pikiran Alvin saat ini. Bahkan untuk sekedar bertanya pada dirinya sendiri tentang perasaan seperti apa yang ia rasakan saat ini, Alvin merasa takut. Ia takut mendapati kenyataan yang tidak pernah ia inginkan seumur hidupnya.
            ‘apa salah kalau seandainya aku beneran suka sama Via?’
            Alvin justru balik mencecar Mama nya dengan sebuah pertanyaan. Metta tampak kaget saat itu. Tapi sejak awal, Metta memang sudah sangat yakin dengan perasaan puteranya itu. Hanya saja… Alvin tidak boleh menyimpan perasaan lebih terhadap Via.
            ‘dengerin Mama, Alvin! Mama sama sekali gak larang kamu punya perasaan terhadap Via. Hanya saja keadaan kalian sekarang tidak pada kenyataan harus saling memiliki perasaan satu sama lain. Kamu, Mama dan Papa harus benar-benar menyembunyikan identitas Via dengan sangat rahasia. Siapapun tidak boleh tahu tentang latar belakangnya. Dan sedikit saja kesalahan yang kita lakukan akan membongkar semuanya, dan jika sudah seperti itu, Opa Danar tidak akan tinggal diam, Alvin. Setidaknya lakukan ini untuk melindungi Via…’
            Alvin geram. Isi kepalanya seakan mendidih. Kenapa juga Alvin harus terlibat dan ikut-ikutan terseret dalam permasalahan yang cukup pelik ini? Selama ini, Alvin sudah berusaha keras melawan segalanya. Ia bahkan melakukan apapun hanya untuk menekan perasaannya terhadap Via. Tapi hasil yang ia dapatkan justru nihil. Perasaan itu sudah terlanjur mengalir meskipun luput dari kepekaan hatinya.
            Seperti yang Alvin katakan, sejak awal pertama ia memang sudah dirancang untuk diam. Alvin bahkan tidak bisa memberitahukan pada Gabriel bahwa ia tahu sesuatu tentang masa lalunya. Alvin bahkan sampai harus berpura-pura bahwa ia tidak pernah tahu apapun disaat semua rahasia sepenuhnya ada ditangannya.
            Sesekali Alvin menyesali diri. Kenapa ia harus berada dalam posisi yang sangat sulit seperti ini?

            “Vin… kemaren malem Cakka nembak gue…”

            Alvin langsung mengerem mendadak Honda Jazz nya saat Via melontarkan sebuah pertanyaan yang benar-benar mengejutkannya. Belum tuntas rasa kesalnya karna harus ikut-ikutan terseret dalam masalah Danar Ganendra, lagi-lagi Via mengejutkannya dengan pernyataan itu.
            Apa yang Alvin lakukan itu membuat Via kaget setengah mati. Jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya karna terlalu kaget. Tapi baru saja Via ingin mengajukan protes atas tindakan Alvin yang seakan tanpa perhitungan itu, Alvin malah mendahuluinya,

            “Cakka nembak lo?! Terus lo jawab apa? Lo terima dia?” tanya Alvin bertubi-tubi. Sebagian dari dirinya sangat berharap bahwa Via memberikan jawaban ‘TIDAK’ untuk Cakka. Tapi sebagian lagi justru merasa bahwa lebih baik Via bersama Cakka saja agar dia lebih mudah ‘membunuh’ perasaannya terhadap Via.
            Via yang sama sekali tidak menyangka dengan respon yang Alvin tunjukan malah cengo dan menatap Alvin dengan pandangan hampa. Memangnya sejak kapan Alvin jadi secerewet itu?
            Via lalu menggeleng dan berkata, “gak… gue belom ngasih jawaban apapun…”
            Alvin mendesah tidak kentara. Jauh didasar hatinya yang terdalam, Alvin merasakan semilir lega yang entah darimana datangnya.
            Setelah mendengar jawaban Via, Alvin pun berusaha bersikap wajar dan kembali menjalankan mobilnya memebelah jalanan Ibu Kota. Dan sepanjang sisa perjalanan itu, Via terus menatap Alvin dengan padangan tak percaya. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada pemuda menyebalkan ini.

            “terus menurut lo, gue… harus jawab apa?” tanya Via ragu-ragu tanpa mengalihkan tatapanya dari wajah Alvin.
            Tanpa Via sadari, mimic wajah Alvin langsung berubah drastis. Otot-ototnya diwajahnya tampak menegang. Ia seperti menahan sesuatu.

            “terserah lo” jawab Alvin dingin dan berusaha terdengar tidak peduli.

            ‘yang gue suka itu elo, Vin… bukan Cakka atau yang lainnya. Terus gimana gue harus ngasih jawaban ke Cakka sementara gue sama sekali gak bisa baca hati lo. Gue juga butuh kepastian, Vin… apa lo… bener-bener gak peka sama perasaan gue? Atau lo… hanya pura-pura gak peka?’ bathin Via. Ia lalu mengalihkan perhatiannya keluar jendela mobil Alvin seraya mendesah pelan.

            Kenapa semuanya harus sesulit ini?



♫♫♫

            Seorang gadis berwajah cantik dengan kacamata hitam yang membingkai wajah mungilnya keluar dari bandara seraya menarik kopernya. Gadis itu melepaskan kopernya saat ia tiba diluar. Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru, masih sulit ia percaya, bahwa detik ini ia telah menjejakan kakinya ditanah air.
            Tinggal dan menetap selama 5 ditahun di New York tanpa pernah pulang ke Jakarta membuatnya sangat merindukan kota masa kecilnya ini. Gadis itu tersenyum sangat manis dan semakin memancarkan kecantikanya yang luar biasa.
            Ia hanya punya waktu satu bulan untuk menghabiskan libur musim panasnya di Jakarta. Dan ia berjanji akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk menyelesaikan segala permasalahan hatinya yang telah membelitnya selama beberapa minggu belakangan ini.
            Setelah puas menikmati hiruk-pikuk yang ada dihadapannya, gadis itupun mencoba menghubungi seseorang melalui sambungan telfon. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, respon yang ia dapatkan masih tetap sama. Panggilannya lagi-lagi diabaikan.
            Gadis itu menghela napas panjang. Sekeras apapun dia mencoba menghindar, toh mereka sekarang sudah ada dikota yang sama. Ia datang untuk mempertanyakan kembali cinta yang dulu hanya untuknya. Dan dapat ia pastikan, cinta itu masih tetap untuknya.

            “I'm coming for you, Calvin….”


            Prissy Alexandra. Dia telah datang.







To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment