Saturday, March 14, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 9)






Lombok, 2004…


            Alvin dan keluarganya sudah akan berangkat ke Jakarta, tapi Alvin malah mengajak Via bersembunyi dibawah salah satu meja yang ada disudut ruang tamu rumah Alvin. Alvin melakukan itu sebagai bentuk protesnya karna ia tidak ingin pindah. Alvin sudah betah di Lombok, dan ia sudah merasa sangat nyaman berteman dengan Via, dua alasan itulah yang membuat Alvin enggan untuk pindah.
            “Apin, kenapa kita sembunyi disini sih? Apin kan mau berangkat ke Jakarta pagi ini, nanti Tante Metta sama Om Adryan bakalan ninggalin Apin lho…” ucap Via kecil memperingatkan Alvin. Tapi Alvin yang diperingati malah tampak tak acuh. Ia memanyunkan bibirnya lalu berkata,
            “biarin aja. Apin gak mau pindah. Apin mau tetep disini sama Pia…”
            “tapi Apin harus ikut Om sama Tante dong. Apin gak boleh sembunyi kayak gini”
            “Pia kok gitu sih? Emang Pia gak mau terus bareng-bareng sama Apin? Pia gak mau temenan lagi sama Apin? Iya?” cecar Alvin bertubi-tubi sambil menunjukan raut tak sukanya yang justru membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
            “Pia gak gitu. Via mau terus bareng-bareng sama Apin. Pia seneng temenan sama Apin, Cuma aja kan Apin harus ikut Om sama Tante. Lagian kan, nanti Apin sama Pia bisa ketemu lagi…”
            “janji kita bisa ketemu lagi?” tanya Alvin tak yakin sambil menunjulurkan jari kelingkingnya.
            Via tersenyum mantap. Ia lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Alvin. Dengan yakin Via berujar, “Apin sama Via pasti bakalan ketemu lagi…”
            Mereka tersenyum satu sama lain seraya saling menatap. Alvin kecil yang tadinya merasa tak yakin bisa bertemu lagi dengan Via akhirnya sekarang merasa yakin. Tapi… ada satu hal yang mengganjal pikiran polosnya saat itu…

            “kalo Apin kangen sama Pia gimana?”
            “lihat ke atas langit. Kangennya pasti hilang…”
            “kok bisa gitu?”
            “kata Mama Pia, sejauh apapun jarak yang misahin kita, kita tetep akan ngeliat satu langit yang sama, dan langit bisa nyampaiin rasa kangen kita sama siapapun yang kita mau…”

            Sekali lagi Alvin tersenyum. Dengan cepat ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Via lalu mendaratkan sebuah kecupan kilat dipipi sebelah kanan Via.



♫♫♫

            Ify bosan. Jam pelajaran pertama dikelasnya pagi itu kosong. Guru mata pelajaran yang memegang Matematika hari itu sedang mengikuti rapat. Suasana kelas Ify benar-benar gaduh, tapi ditengah-tengah kegaduhan itu Ify justru merasa sangat kesepian. Pikirannya melayang entah kemana. Ify bahkan tidak sedikitpun menghiraukan panggilan Shilla yang memintanya untuk ikut bergabung bersama teman-temannya yang lain dideretan bangku paling belakang.
            Beberapa menit kemudian, Ify terdengar menghela napas panjangnya. Satu tempat yang mungkin bisa menenangkannya untuk saat ini langsung terbersit dipikirannya. Ya, atap sekolah. Itu tempat rahasianya bersama Alvin. Jika sedang bosan, Ify selalu kesana. Dan sekarang pun Ify berfikir untuk segera kesana.
            Ify bangkit lalu berjalan keluar dari kelasnya tanpa suara. Alvin yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Ify langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat untuk seseorang,


========================
To: Arion Aristo
Lo cepetan ke atap. Skrg!
========================

            Setelah mengirimi Rio sms, perhatian Alvin tahu-tahu tertuju pada Shilla yang terlihat bangkit dari tempat duduknya dan hendak mengikuti Ify. Tidak ingin kalah langkah, Alvin buru-buru mengejar langkah Shilla untuk menghentikannya. Alvin menarik pergelangan tangan Shilla dan berkata,
            “temenin gue ke perpus sekarang!”
            “tapi Vin, tapi—“
            Shilla yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengelak lagi akhirnya dengan terpaksa mengikuti Alvin ke perpustakaan. Lagipula Alvin kenapa sih? Kenapa jadi mendadak aneh begini? Itulah dua pertanyaan tanpa jawaban yang memenuhi pikiran Shilla.


♫♫♫

            Ify sedikit kaget saat melihat sosok Rio yang berdiri  cukup jauh dari posisinya sekarang. Ify yang baru saja tiba diatap mendadak merasa gentar. Sebagian dirinya memerintahkannya untuk mundur dan pergi dari tempat itu, tapi sebagian lagi, yang tentu saja lebih dominan, justru memintanya untuk maju dan menghampiri Rio.
            Mengikuti kata hatinya, Ify berjalan maju dengan langkah yang entah kenapa terasa begitu sangat ringan. Saat jaraknya sudah tepat berada dibelakang punggung Rio, Ify merasakan perasaannya semakin tidak menentu. Tanpa sadar, salah satu tangannya terangkat dan bersiap-siap untuk mendarat dipundak Rio, tapi disaat yang bersamaan Rio justru berbalik. Kali ini Ify kaget setengah mati. Ia buru-buru menurunkan tangannya dan menyimpannya dibelakang punggung.
            Rio kini mengerti alasan kenapa Alvin memintanya untuk datang ketempat ini.
            “Ify?” kata Rio pelan.
            “e—elo ngapain disini?” tanya Ify sedikit terbata.
            Rio tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab,
            “gue lagi males ngikutin pelajaran, makanya bolos dan kesini…” alibi Rio.
            “oh? Kalo gitu gue yang pergi…” putus Ify yang merasa sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
            Baru saja Ify akan berbalik dan pergi, Rio buru-buru mencegat pergelangan tangannya sehingga membuat Ify mau tak mau harus menghentikan langkahnya, “biar gue aja yang pergi…” ujar Rio berusaha mengalah. Ia lalu melepaskan tangan Ify dan berjalan melewati Ify begitu saja.
            Tapi tanpa Rio duga sebelumnya, Ify menahan lengannya dari belakang seraya berkata,
            “apa kita berdua bisa tetap… tinggal disini? Ada yang harus gue omongin…” ucap Ify ragu-ragu. Rio menoleh kebelakang dan menatap Ify dengan pandangan bertanya.
            “gue minta maaf atas sikap gue selama ini. Gue minta maaf karna selalu nganggep lo gak pernah kelihatan dimata gue, tapi—“ Ify menggantungkan kalimatnya dan membuat Rio merasa sangat penasaran. “gue udah coba ngelakuin banyak hal, gue berusaha ngejauhin lo, gue berusaha buat bisa benci sama lo, tapi ternyata…” jeda sesaat. Ify menghela napas panjang dan berusaha meyakinkan hatinya, “tapi ternyata gue gak bisa ngelakuin semua itu, Rio. Semua yang gue lakuin itu malah nyiksa batin gue sendiri… gue… gue sayang sama lo… dan gue ngerasa kita gak bisa terus-terusan kayak gini…”
            Apa Rio tidak salah dengar? Apa Rio tidak sedang berkhayal? Apa benar baru saja Ify menyatakan perasaannya pada Rio?
            “jadi bisakan mulai sekarang kita gak perlu saling menghindar? Ini semua bener-bener nyakitin gue, Yo… gue… gue sama sekali gak bisa jauh dari lo…”
            Rio tersenyum lega. Semua beban yang selama ini ia pikul dipundaknya seakan lepas semua. Dan tidak ada satu katapun yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya ia saat ini. Ify membalas perasaannya. Bagi Rio itu sudah cukup, dan ia tidak menginginkan apapun lagi. Begini saja sudah cukup.
            Rio menarik Ify kedalam dekapannya dan memeluk gadis itu dengan sangat erat. Ini adalah mimpinya yang akhirnya menjadi kenyataan.
            Meski awalnya ragu-ragu, Ify pun memberanikan dirinya membalas pelukan Rio. Ia lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Rio yang terasa sangat nyaman. Sekarang, Ify sudah merasa sangat dekat dengan Rio, tidak hanya dekat, Ify bahkan bisa menyentuhnya, Ify bahkan bisa memeluknya, merasakan detak jantungnya dan mengatakan kebenaran perasaannya yang selama ini berusaha ia tutup-tutupi dibalik tembok kemunafikannya. Dan seumur hidupnya, Ify tidak pernah merasa selega ini. Menjadi milik seorang Arion Aristo? Bagi Ify, tidak ada yang lebih indah lagi dari itu.

            “makasih, Fy… makasih buat kesempatan yang lo kasih ke gue…”

            Sekarang, mereka telah resmi saling memiliki satu sama lain.




♫♫♫


            Via sudah akan menghampiri Agni, Ify dan Shilla yang duduk disatu meja yang sama saat tiba-tiba perhatiannya tertuju pada Zevana yang terlihat hendak menghampiri Alvin. Saat itu, Alvin hanya duduk sendirian di kafetaria sambil menikmati makan siangnya. Sadar dengan gelagat Zevana, Via buru-buru mengambil langkah seribu sebelum cewek centil itu mendahuluinya. Dan tepat saat Zevana akan duduk berhadapan dengan Alvin disatu meja yang sama, Via malah dengan sengaja menumpahkan jus alpukat pesananya dirok Zevana.
            Zevana yang kaget kontan saja membelalak saat sadar ada seseorang yang menumpahkan jus di roknya. Zevana serta-merta menatap tajam kearah Via. Via yang ditatap dan telah resmi dijadikan tersangka utama oleh Zevana malah dengan santainya menampakan raut wajah tak berdosanya. Dan apa yang Via lakukan itu malah membuat Zevana semakin geram.
            “ups! Sorry, gue gak SENGAJA!” Ucap Via nyolot seraya memberikan penekanan pada kata ‘SENGAJA’.
            Alvin hanya menatap kedua orang itu dengan bingung. Begitu juga dengan penghuni kafetaria yang lainnya.
            “gue tau lo sengaja ya? Masalah lo tuh apa sih sama gue? Perasaan sejak awal lo disini lo udah nunjukin gelagat gak suka sama gue!” cecar Zevana yang merasa sudah benar-benar ingin meledak sekarang.
            Via tersenyum sinis dan dalam hati berteriak dengan keras bahwa apa yang baru saja Zevana katakan memang benar adanya. Via mengangguk beberapa kali dan berkata, “gue bener-bener gak sengaja… kan udah minta maaf…” Via pura-pura menampakan raut menyesal yang justru membuat Zevana semakin muak.
            “gak usah belaga innocent deh! Lo pikir gue gak tau kalo lo gak suka ngeliat gue deket-deket sama Alvin?!”
            “OYA? Sampe segitunya ya?”
            Respon Via yang benar-benar sangat mengesalkan malah membuat Zevana tidak bisa lagi membendung emosinya. Tanpa pikir panjang, Zevana mengambil segelas air putih milik Alvin lalu menyiramkannya pada wajah Via. Tidak puas hanya dengan itu, kali ini Zevana  berniat mendaratkan sebuah tamparan diwajah Via. Tapi sebelum tamparan Zevana mendarat diwajah Via, tangan kekar milik Alvin malah lebih dulu menahannya.
            “gak usah kelewatan, Ze! Via udah bilang kalo dia gak sengaja” cegat Alvin lalu melepaskan tangan Zevana begitu saja. dalam hati, Via langsung bersorak kegirangan. Alvin benar-benar memihaknya kali ini.
            “tapi, Vin—“
            “please gak usah bikin keributan disini! Lo gak sadar sekarang kita udah jadi pusat perhatian semua orang? Lo bukan tipe cewek yang suka nyari sensasi kan, Ze?”
            Zevana hanya bisa menahan amarahnya. Awalnya ia pikir kalau Alvin tidak akan bereaksi apapun dengan semua ini, ia juga berpikir bahwa Alvin tidak akan mau repot-repot untuk ikut campur sekalipun Via adalah sepupunya, tapi ternyata Zevana salah. Dan Zevana merasa, bahwa Alvin yang saat ini ada dihadapannya bukanlah Alvin seperti yang biasanya. Alvin benar-benar berbeda. Alvin benar-benar berubah, dan semua itu terjadi semenjak kehadiran Via dihidupnya.
            Zevana yang sudah tidak tahu lagi harus berkata apa akhirnya memilih untuk meninggalkan kafetaria. Saat ia berjalan keluar, tanpa sengaja perhatiannya tertuju pada Agni CS yang sedang menatapnya dengan pandangan meledek. Bahkan secara terang-terangan  Agni mengucapkan dua buah kata tanpa volume: ‘MAMPUS LU!’
            Zevana menghentakan kedua kakinya dengan sebal lalu benar-benar keluar dari kafetaria dengan perasaan dongkol minta ampun.
            “gue gak suka kelakuan lo tadi! Percaya ataupun gak, gue tau lo sengaja numpahin minuman itu ke rok Zeze…” ucap Alvin pelan sambil menuntun Via untuk duduk disampingnya. Dengan sangat perhatian, Alvin lalu mengelap wajah Via dengan saputangan nya.
            Via sedikit kaget dengan pengakuan Alvin. Tapi ia juga merasa heran.
            “kalo lo tahu, terus kenapa lo malah ngebelain gue?!” tanya Via bingung.
            “gak usah geer!” Alvin menoyor pelan kepala Via saat sedang mengelap wajahnya. Ia lalu melanjutkan perkataannya, “Gue gak ngebelain lo kok. Gue Cuma gak suka ada keributan disini. Biar gimanapun, gue ketua osis, jadi gue bertanggung jawab penuh kalau ada anak yang bikin keributan” terang Alvin sambil menyerahkan saputangan itu ditangan Via.
            “thanks… dan maaf atas perbuatan gue tadi, gue Cuma gak suka aja ngeliat Zevana de—“
            “gak usah lo ulangin lagi! Sekali lagi lo kayak gitu, gue pastiin gue gak akan tinggal diem kayak tadi!” sela Alvin sebelum Via menyelesaikan penjelasannya. Alvin seakan tahu kemana arah pembicaraan Via, dan ia seperti sengaja memotong karna ia memang tidak ingin mendengar penjelasan Via.
            “maaf…” lirih Via sekali lagi.
            Dengan tak acuh, Alvin kembali melanjutkan makan siangnya yang tadi sempat terganggu. “makan gih!” perintah Alvin kemudian. Alvin menyampaikan perintah itu tanpa menatap mata Via. Ia takut Via akan melihat mimic wajahnya yang perlahan mulai melembut.
            Tidak berselang lama, Cakka tiba-tiba muncul diantara mereka dan langsung memecahkan keheningan yang tercipta. Cakka mengambil posisi tepat dihadapan Via,
            “hay semuaaaa! Boleh gabung, kan?”
            Via tersedak saat tahu Cakka tiba-tiba muncul dan duduk berhadapan dengannya. Cakka yang tampak cemas melihat Via batuk-batuk seperti itu langung menjulurkan segelas air putih untuk Via.
            “duh lo keselek ya? Maaf deh udah bikin kaget…” ucap Cakka dengan sangat menyesal.
            “uhuk uhuk… gue gak apa-apa…” jawab Via seraya menerima air pemberian Cakka dan meminumnya hingga tandas.
            Saat Via begitu sibuk meredakan batuknya, Cakka menatap Alvin sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Ia seolah memberikan kode untuk Alvin agar meninggalkannya hanya berdua saja dengan Via. Meski sangat tidak rela, pada akhirnya Alvin mengikuti kode yang Cakka berikan.
            “Vi, Kka… gue pamit ya?” Alvin bangkit dari duduknya.
            “lo mau kemana, Vin?” tanya Via sambil menahan pergelangan tangan Alvin. Saat itu juga, Alvin langsung membeku. Kedua matanya langsung teralihkan pada pergelangan tangannya yang saat ini sedang berada dalam genggaman Via.
            “gue harus ke sekertariat sekarang. Gue baru inget gue ada janji sama Pak Dave!” alibi Alvin sambil menarik pergelangan tangannya dari genggaman Via. Via mengangguk paham dan tidak mengajukan pertanyaan apapun lagi.
            Dengan sangat berat hati, Alvin akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Cakka dan Via hanya berdua saja. saat jarak mereka sudah cukup jauh, Alvin memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak.
            “elo gak suka daun bawang ya, Vi?” tanya Cakka saat melihat Via yang tidak memasukan daun bawang ke dalam bakso nya. Entahlah, melihat Via yang memisahkan daun bawang dengan bakso nya malah membuat Cakka teringat dengan kebiasaan seseorang yang sangat ia kenal.
            Via menatap Cakka sejenak lalu mengangguk dengan mantap.
            “iya, gue gak suka. Kenapa?”
            “gak kenapa-napa, Cuma aja gue pikir lo mirip sama seseorang. Dia juga gak suka daun bawang, sama persis kayak lo….”
            “siapa?” tanya Via,

            “Gabriel…”



♫♫♫


=================
From: Prissy Alexandra

Calv, kmu masih di sekolah?
I've been in Jakarta.
I want to meet you now.
And I miss you...

=================


            Alvin mendesah pelan sesaat setelah ia membaca pesan singkat yang Prissy kirimkan. Ini sms pertama yang dikirimkan oleh Prissy sejak Alvin tidak pernah merespon telfonnya selama beberapa hari terakhir ini. Namun bukannya merasa terkejut apalagi antusias saat Prissy mengabarinya, Alvin justru tampak biasa saja dan malah terkesan tidak acuh. Bagi Alvin, masa lalu adalah masa lalu. Selamanya masa lalu akan selalu ia tempatkan jauh-jauh dibelakang. Itu adalah prinsip hidup yang akan selalu dipegang olehnya.
            Alvin hanya bingung bagaimana harus menanggapi kedatangan Prissy sekarang. Ia bahkan tidak pernah berpikir bahwa Prissy akan sampai nekad datang ke Indonesia hanya untuk menemuinya. Ini semua diluar perkiraannya mengingat bagaimana dulu Prissy memutuskan hubungan mereka secara sepihak, bahkan tanpa memberikan Alvin kesempatan untuk berjuang terlebih dahulu.
            Mungkin gadis itu berpikir Alvin masih marah ataupun kecewa. Tapi ternyata tidak, Alvin sekarang justru baik-baik saja. ia telah melupakan semuanya dan mengubur masa lalunya dalam-dalam. Bagi Alvin, kenangan lamanya bersama Prissy selama di New York sudah tidak ada artinya lagi. Perasaannya pun dengan begitu cepat berubah. Sekarang, ia telah memiliki sepotong hati pengganti.
            Setelah cukup lama diam berpikir, Alvinpun menghapus pesan itu dan memasukan ponselnya kedalam saku celana seragam kotak-kotaknya. Alvin lalu kembali melanjutkan permainan basketnya yang tadi sempat terhenti sampai bel tanda masuk berbunyi dengan nyaring.
            Tidak hanya untuk hari itu, tapi untuk hari-hari berikutnya, Alvin terus mengabaikan segala bentuk komunikasi non-verbal yang dilakukan oleh Prissy. Sampai pada hari ketiga, hari dimana Alvin tetap diam dan tidak melakukan tindakan apapun, Prissy akhirnya nekad datang kesekolah Alvin dan menunggunya didepan gedung sekolah beberapa saat sebelum bel tanda pulang berbunyi.
            Setelah mendapatkan ijin dari seorang satpam dengan menyampaikan alasannya, Prissy dengan diantarkan oleh supir pribadinya diperbolehkan masuk ke area sekolah.
Prissy menunggu dengan sabar didalam mobilnya. Setelah hampir selama setengah jam menunggu, akhirnya bel tanda pulang berbunyi. Prissy tersenyum lebar. Sebentar lagi ia akan bertemu  dengan Alvin setelah selama satu bulan lamanya berpisah.
            Prissy lalu memperbaiki aturan rambut panjangnya yang tergerai dengan indahnya saat melihat sosok Alvin yang sangat ia rindukan berjalan kearah parkiran bersama Via. Prissy tidak begitu memperhatikan Via, yang menjadi titik focus Prissy saat ini hanyalah Alvin.
            Setelah merasa penampilannya cukup sempurna, Prissy pun keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Alvin yang saat itu sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
            Alvin yang kaget melihat kehadiran Prissy serta-merta menghentikan langkahnya, begitupun dengan Via. Sama seperti Alvin, ia juga menghentikan langkahnya.
            “itu cewek siapa, Vin? Kayaknya dia mau nyamperin kita deh…” ujar Via seraya memperhatikan Prissy dengan pandangan menerawang, tapi Alvin malah tidak sedikitpun menangkap ujaran Via.
            “hay, Calvin! Long time no see…” sapa Prissy sambil melambaikan tangannya saat ia dan Alvin sudah berdiri berhadapan. Alvin hanya terdiam sambil menatap gadis Indo itu dengan pandangan datar.
            ‘HAH? KOK DIA MANGGIL ALVIN CALVIN SIH?’ itulah satu pertanyaan yang langsung menyapa otak Via saat mendengar Prissy memanggil nama Alvin. Dan Via semakin bingung saat Alvin malah tidak bereaksi apapun ketika Prissy memanggilnya dengan nama itu. ‘Perasaan kalo gue yang manggil Calvin dia marah deh, ini sekarang kenapa dianya biasa aja?’ bathin Via sambil menatap Alvin dan Prissy secara bergantian dengan pandangan menyelidik.
            “buat apa kamu dateng kesini?” tanya Alvin singkat. Via yang ada diantara mereka kini mulai memutuskan untuk menyimak. Siapa tahu saja ada yang sangat penting diantara mereka. Dan Via sudah bersiap-siap menjambak rambut gadis ini jika nanti ia berani-beraninya menggoda Alvin-nya.
            “kenapa kamu gak jawab telfon dan bales sms aku?” Prissy malah mengajukan pertanyaan balik untuk Alvin.
            “apa itu penting?!” tanya Alvin dingin. Pertanyaan itu cukup singkat namun telak menusuk jantung Prissy.
            ‘sok romantis banget sih ngomong pake ‘aku-kamu’ segala….’ Sekali lagi, Via hanya bisa membathin.
            “it’s very important to me, Calvin. Why do you ask like that?”
            “after you hurt me? Kamu bilang itu sangat penting setelah kamu nyakitin aku?” cecar Alvin yang mulai merasa tidak sabar lagi. Alvin tidak menyangka bahwa gadis ini masih punya muka untuk menemuinya setelah ia menyakiti dan memutuskan Alvin secara sepihak.
            “I know I was wrong. Therefore I came to apologize. Please give me a chance to fix all the mistakes…”
            “kamu bahkan gak mau ngasih aku kesempatan untuk merjuangin kamu, jadi kenapa sekarang aku harus ngasih kamu kesempatan?”
            “CALVIN!!” seru Prissy dengan emosi tertahan,
            “Stop semuanya sampe disini! Kamu harus tahu, jauh waktu sebelum kamu minta maaf kayak gini, aku bahkan udah maafin kamu, tapi untuk ngasih  kamu kesempatan lagi… sorry, I can’t….
            Dari pembicaraan yang terjadi antara Prissy dan Alvin, Via dapat menarik kesimpulan bahwa dimasa lalu, mereka pernah menjalin sebuah hubungan. Dengan kata lain, Prissy adalah mantan pacar Alvin yang datang kembali untuk menuntut cinta dari Alvin. Dan makin kesini Via semakin dapat membaca alasan kenapa Alvin tidak suka dipanggil dengan nama Calvin.
            Prissy terdengar menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, “kita butuh bicara sekarang, Calv!” Prissy meraih salah satu tangan Alvin dan menatap Alvin dengan pandangan yang benar-benar memohon.
            Alvin menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia lalu menarik tangannya dari genggaman Prissy dan menjawab, “sorry… but, I have nothing to say….”
            “sekaliiii ini saja tolong kasih aku kesempatan untuk bicara Calvin. Setelah ini aku janji, kalo kamu masih gak mau maafin aku, aku gak akan gangguin kamu lagi… kita benar-benar butuh bicara, Calvin. Please….”
            Alvin sepertinya mulai luluh. Ia juga berpikir, sebaiknya ia memberikan Prissy kesempatan untuk berbicara. Toh tidak ada salahnya, kan? Lagipula setiap orang berhak diberikan kesempatan. Dulu Prissy memang pernah menutup kesempatan untuk Alvin, tapi bukan berarti Alvin harus ikut-ikutan menutup kesempatan yang sama untuk Prissy, kan? jika begitu, lalu apa bedanya Alvin dengan Prissy?
            Setelah cukup lama berpikir dan berusaha melawan egonya, Alvin akhirnya mengangguk dan berkata,
            “oke, kita bicara. But… this last one! Sekarang kamu ikut aku”
            Sebelum membawa Prissy pergi dari tempat itu, Alvin sempat pamit pada Via terlebih dahulu.
            “Vi… lo pulang sendirian, ya? gue ada urusan bentar…”
            “tapi, Vin—“
            “nanti gue jelasin semuanya…” ucap Alvin setengah berbisik. Ia lalu mengusap puncak kepala Via sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Prissy dan membawanya pergi dari tempat itu.
            Via menatap kedua orang itu dengan nelangsa. Dari bagaimana cara Alvin bersikap, Via tahu pasti bahwa Prissy pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Alvin meskipun hanya dimasa lalu.
            “hallo Viaaaa!! Kok ngelamun sendirian disini sih?” tanya Cakka sedikit heran saat melihat Via yang berdiri mematung ditengah jalan.
            Via menatap Cakka. Dan saat itu juga, Via langsung memiliki sebuah ide untuk mengikuti kemana Alvin dan Prissy pergi. Setelah ini, Via akan sangat berterimakasih pada Cakka jika Cakka mau mengantarnya.
            Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Via langsung menaiki motor Cakka dan berkata,
            “Kka… boleh minta tolong?” tanya Via sambil menepuk pelan pundak Cakka.
            “anything for you, Via…” jawab Cakka sedikit gombal.

            “tolong ikutin mobil Alvin dong!” jawab Via seraya menunjuk kearah mobil Alvin yang baru saja keluar dari area parkir SMA Patuh Karya.





♫♫♫

The Arion’s Café…


            Untuk menjaga jarak aman, Via dan Cakka duduk dimeja yang jaraknya cukup jauh dengan jarak meja Alvin dan Prissy. Dan agar tidak ketahuan, Via menutup wajahnya dengan buku menu sambil sesekali mengintip Alvin dan Prissy dan berusaha mendengarkan obrolan mereka. Namun sial, Via sama sekali tidak bisa menangkap suara mereka karna jarak yang cukup jauh.
            “percuma, Vi! Lo gak bakalan denger omongan mereka…” kata Cakka tak acuh sambil melahap kentang goreng yang  tersedia diatas meja. Namun alih-alih mendengarkan perkataan Cakka, Via tetap focus dengan usahanya. Cakka mendesah pelan, lama-lama ia merasa gemas juga dengan tingkah Via yang konyol ini.
            “itu Prissy, Vi. Mantan pacar Alvin. Mereka pacaran waktu Alvin ngikutin program student exchanges di New York…”
            Via terdiam sebentar saat mendengarkan perkataan Cakka, tapi ia sama sekali tidak menanggapi dan kembali focus dengan kedua targetnya itu. Kali ini perhatian Cakka tertuju pada leher Via dan melihat kalung SkyLova yang dulu sempat ingin ia belikan untuk Via. Cakka terkejut dan semakin memperhatikannya baik-baik.
            “Vi… yang lo pake itu kalung SkyLova, ya?” tanya Cakka dengan hati-hati. Cakka tahu itu kalung SkyLova, tapi yang Cakka ingin tanyakan adalah: siapa yang memberikan Via kalung itu?
            Via melupakan sejenak kedua targetnya itu saat mendengarkan pertanyaan yang Cakka ajukan. Via memegang kalungnya, ia lalu tersenyum dan menjawab, “iya…”
            “si—siapa yang ngasih?” Cakka semakin penasaran, apalagi saat melihat dari bagaimana cara Via menjawab pertanyaannya.
            “Alvin. Dia ngasih ini sebagai hadiah ulang tahun gue…”
            “A—ALVIN?!” Cakka benar-benar kaget kali ini. Alvin? Bagaimana bisa Alvin yang memberikan kalung itu dan Cakka tidak tahu? Bagaimana juga Cakka bisa tidak menyadari kalau selama ini Via mengenakan kalung itu?
            Awalnya Cakka curiga kenapa Alvin bisa memberikan kalung itu untuk Via. Tapi setelah mengingat kalau Alvin dan Via adalah saudara sepupu, semua rasa curiga itu langsung tersapu. Jelas saja Alvin tahu Via menginginkan kalung itu, Via pasti sudah bercerita banyak hal pada Alvin.
            Tapi entah kenapa, ada rasa tidak puas dihati kecil Cakka. Entahlah, dia hanya merasa bahwa ada yang salah diantara Alvin dan Via.
            “Vi, apa lo… udah punya jawaban buat gue?” tanya Cakka yang sekaligus berusaha menepis semua pikiran anehnya tentang Alvin dan Via. Via kembali terdiam. Kali ini, untuk sekedar mengangkat wajahnya dan menatap Cakka saja, Via merasa tidak sanggup.
            Via bahkan belum memikirkan sama sekali jawaban apa yang akan ia berikan untuk Cakka. Ini mungkin gila dan sangat mustahil, tapi terus terang saja, Via masih menginginkan kepastian dari Alvin. Via ingin tahu bagaimana perasaan Alvin yang sesungguhnya terhadap dirinya.

            “belum, Kka… gue masih belum punya jawaban…”




♫♫♫


            Alvin tersenyum kecil dan nyaris tidak kentara saat menyadari bahwa Via diam-diam mengikutinya bersama Cakka. Meskipun Via berusaha untuk sembunyi, tapi Alvin masih bisa melihatnya. Alvin merasa aneh akhir-akhir ini, entah kenapa ia merasa sangat terhibur saat melihat tingkah-tingkah konyol Via yang hampir selalu ia perlihatkan baik secara sengaja maupun tidak.
            “soal waktu itu aku bener-bener minta maaf, Calv… aku tahu aku gak pantes buat kamu maafin, tapi… aku bener-bener butuh maaf dari kamu…”
            “aku udah bilang kan diawal, aku udah maafin kamu…” jawab Alvin dingin dan sedikit enggan.
            “tapi sikap kamu ini bener-bener gak mencerminkan kalau kamu udah maafin aku, Calvin…”
            “terus kamu mau aku bersikap kayak apa sekarang? Bukannya kita udah berakhir atas kemauan kamu, terus aku harus bersikap kayak apa?” mau tidak mau Alvin akhirnya mulai terpancing emosi.
            “aku mau… aku mau kamu balik lagi sama aku. Aku masih sayang banget sama kamu, Calv! Aku pikir aku bisa ngelupain kamu, tapi ternyata aku salah… aku gak pernah bisa ngelupain kamu sekeras apapun aku nyoba, yang ada itu semua itu malah nyakitin aku…”
            “ I don’t care about it! Yang aku tahu kamu udah mutusin aku dan semuanya udah berakhir sekarang…”
            “Calvin.. please don't do this! It’s hurt me
            “kamu tahu, Priss? Kamu terlihat sangat menyedihkan sekarang. Ibaratnya tuh, kamu udah kayak buang barang kamu ke tong sampah, tapi kemudian kamu ngubek-ngubek tong sampah itu buat nyari lagi barang yang udah kamu buang. Kamu gak pernah tau kan? kalo ada orang lain yang udah ngambil barang itu dan membuatnya jadi lebih berharga… disini sebenarnya siapa yang menyakiti siapa?”
            “tapi kamu bukan ‘barang’ Calvin…”
            “tapi kamu memang nganggep aku ‘barang’ kan? kalo kamu gak nganggep aku ‘barang’, kamu gak mungkin kayak gini sekarang. Kamu seenaknya buang aku, dan sekarang kamu seenaknya juga  minta aku buat kembali lagi sama kamu. Kamu pikir hidup ini sesederhana itu apa?”
            Prissy hanya menunduk. Ia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa sekarang.

            “aku pikir udah gak ada lagi yang perlu kita omongin sekarang…” Alvin bangkit dan berdiri dihadapan Prissy yang nyaris menangis. Tapi sebelum beranjak, Alvin sempat berkata, “cobalah untuk menghargai apa yang kamu punya. Dan… selamat menikmati liburan musim panas kamu di sini…”

            Alvin akhirnya benar-benar pergi dan menyisakan Prissy hanya seorang diri ditempat itu. Tanpa Via duga sebelumnya, ketika Alvin melewati meja yang ia duduki bersama Cakka, Alvin menarik pergelangan tangan Via dan membawanya keluar bersama dari tempat itu. Cakka hanya terpaku ditempatnya sambil menatap kepergian Alvin dan Via yang semakin menjauh dari pandangannya.
            Kali ini Cakka mengalihkan perhatiannya kearah Prissy yang terlihat masih menunduk dalam dimejanya. Cakka tidak ingin melakukan apapun, tapi mendadak ia kepikiran sesuatu. Cakka lalu bangkit dari mejanya dan segera berjalan kearah meja counter. Cakka memesan sebuah ice cream dan langsung memberikannya pada Prissy.

            “makan itu, biar pikiran lo tenang”

            Prissy mengangkat wajahnya dan menatap Cakka dengan nanar.

            “who are you?




♫♫♫


            Sejak pulang dari café, Alvin benar-benar mengurung diri didalam kamarnya. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun saat diperjalanan pulang tadi. Sikap yang Alvin tunjukan ini benar-benar membuat Via sangat mencemaskan cowok yang selalu berkata dingin padanya itu.
            Alvin juga melewatkan jam makan malam mereka. Untungnya Metta sedang sibuk dikantor, jadi Metta sama sekali tidak tahu-menau bahwa hari ini Alvin mogok makan.
            Via mencoba peruntungannya dengan mengantarkan Alvin makanan kekamarnya. Syukur-syukur Alvin mau makan meskipun tidak mau menegurnya. Untungnya, Alvin tidak mengunci pintu kamarnya hingga Via bisa masuk kedalam.
            Suasana kamar Alvin tampak remang-remang saat Via memasukinya. Dengan sangat hati-hati Via meletakan napan yang diatasnya terdapat makan malam untuk Alvin disalah satu meja, disudut kamar Alvin. Perhatian Via lalu tertuju pada pintu balkon kamar Alvin yang sedikit terbuka. Merasa yakin bahwa Alvin sedang dibalkon, Via pun melangkahkah kakinya kearah balkon hendak menghampiri cowok es itu.
            Ternyata benar saja, Alvin sedang berdiri dimuka balkon sambil menatap jutaan bintang-bintang yang bertahta diatas langit malam. Ragu-ragu Via mendekati Alvin dan berdiri sejajar dengannya.
            “makan dulu, Vin. Makanan lo udah gue ditaroh dimeja tuh…” kata Via sehati-hati mungkin.
            “gue gak laper” jawab Alvin tanpa menatap Via.
            “soal di café tadi, gue—“
            “bisa gak usah bahas masalah itu lagi? Gue lagi bener-bener gak mood sekarang…” potong Alvin sebelum Via menyelesaikan perkataannya. Ia bahkan masih enggan menatap wajah Via. Via pun langsung bungkam seketika.
            “ada hal lain yang pengen lo omongin?” tanya Alvin sesaat setelah ia menghela napas panjangnya.
            “hah?”
            “kalo gak ada mending lo keluar deh. Gue lagi pengen sendiri…”
            Alvin berbalik dan memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. Tapi sebelum Alvin mengayunkan langkah pertamanya, Via cepat-cepat meraih lengan Alvin dan menahannya agar tidak pergi. Ia benar-benar harus mengatakan sesuatu pada Alvin sekarang.
            Alvin menatap Via dengan bingung sambil sesekali melihat kearah lengannya yang sedang berada dalam genggaman Via. Tidak lama, Alvin lalu menarik lengannya dan berkata,
            “apa yang mau lo omongin cepet omongin sekarang”
            “hari ini… Cakka nagih jawaban gue. Tapi gue… gak tahu musti ngasih jawaban apa, gue—“
            “terus apa urusannya sama gue?” lagi-lagi Alvin menyela perkataan Via.
            Via sempat terdiam sejenak dan berpikir. Apa Alvin benar-benar tidak peka dengan perasaannya? Jelaslah ini semua ada urusannya dengan Alvin. Yang Via suka itu Alvin, dan Via butuh kepastian dari Alvin. Bagaimana bisa Via menerima Cakka begitu saja sementara ia masih belum mendapatkan kepastian apapun dari Alvin?
            “jadi lo bener-bener gak tahu… soal perasaan gue ke elo?”
            Alvin membeku ditempatnya. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa Via akan mengungkit tentang hal ini. Jujur saja, Alvin masih belum siap.
            “gue gak ngerti lo ngomong apa”
            “Vin—“
            “lagi pula gue bukan paranormal yang bisa baca pikiran orang. Gue gak akan pernah tahu isi hati lo kalo lo gak ngomong langsung…”
            Alvin sudah ingin beranjak pergi lagi saat tiba-tiba Via menahannya dipintu balkon. Alvin terperangah. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini Via lakukan. Alvin hanya ingin menghindar, tapi kenapa gadis ini malah mempersulit semuanya?
            “sekarang gue akan perjelas semuanya disini, sekarang juga!”
            Alvin diam dan memilih untuk tidak merespon. Sebisa mungkin ia harus mampu menahan dirinya.
            “jelas ini semua ada urusannya sama lo, gimana bisa lo bilang kalo semua ini gak ada urusannya sama lo…” jeda sesaat untuk menghela napas, “Alvin…. Gue suka sama lo dan gue butuh kepastian dari lo! Kalo lo gak ngasih gue kepastian, gimana bisa gue nerima Cakka gitu aja?”
            Dan dalam sekejab, runtuh sudah semua pertahanan yang selama ini Alvin bangun. Hal yang paling ia takuti akhirnya terjadi. Via menyatakan perasaannya disaat Alvin bahkan tidak memiliki hak apapun untuk membalas perasaan gadis ini. Detik ini juga, Via seakan melemparkannya pada dilemma yang mungkin tidak berkesudahan. Tapi untuk melindungi gadis ini, Alvin harus tetap bungkam dalam aliran perasaannya.
            Alvin terdengar menghela napas. Ia merasa kedua kakinya sudah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Jika tidak bisa menahan diri, mungkin sudah sejak tadi Alvin ambruk dihadapan gadis ini bersama reruntuhan-reruntuhan hatinya.
            “Vin… kenapa lo diem aja?” nada suara Via mulai terdengar bergetar lirih. Tapi Alvin tetap bertahan dengan kebisuannya. “Alvin… jangan diem aja. Tolong bilang sesuatu, gue—“
            “terima perasaan Cakka, dan kalau bisa, berusaha semampu lo untuk bisa menyukai dia”
            “Alvin…”
            “mungkin lo salah paham sama sikap perhatian gue selama ini, gue minta maaf. Tapi lo musti tahu, kalo semua sikap perhatian yang gue tunjukin sama lo selama ini hanya semata-mata karna lo adalah saudara angkat gue. Gue Cuma pengen jadi saudara yang baik buat lo… gak lebih, dan gak akan pernah lebih dari itu…”
            Dengan perlahan, Alvin menurunkan kedua tangan Via dari lengannya. Ia menatap wajah Via baik-baik sebelum akhirnya ia memilih untuk pergi.
            “tapi kenapa gue ngerasa kalo lo sedang ngebohongin gue sekarang?”
            Pertanyaan yang Via lemparkan itu langsung membuat Alvin menghentikan langkahnya. Perih itu seakan merobek jantungnya tanpa ampun. Tidak bisakah gadis ini membiarkannya pergi? Tidak bisakah gadis ini berhenti membuatnya untuk mengungkapkan kebohongan-kebohongan lain yang jauh lebih menyakitkan lagi dari ini? Setidaknya Alvin juga sangat terluka dalam hal ini. Ia bahkan harus menjelma menjadi seorang yang munafik hanya untuk menutupi kebenaran perasaannya.
            “gue pengen tahu, pernah gak, sekaliiii aja dalam hidup lo, jantung lo pernah berdebar karna gue? Pernah gak sekaliiii aja gue terbersit dibenak lo? Gue pengen tahu, setidaknya sekali aja gue pernah punya arti yang lebih buat lo”
            Alvin masih mematung ditempatnya tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Dalam hati ia terus merapalkan kata ‘PERNAH’ berkali-kali. Alvin memejamkan matanya dan berusaha semakin keras untuk menahan dirinya. Tidak, Alvin tidak akan pernah goyah dengan pendiriannya sekarang.
            “apa sedikitpun lo bener-bener gak punya perasaan sama gue?” tanya Via untuk yang terakhir kalinya. Meskipun ia tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan, tapi Via ingin terus mencoba.
            Tanpa Via duga sebelumnya, Alvin berbalik lalu meraih kedua pundaknya dan memojokannya dipintu. Via benar-benar kaget. Dan saat sepasang mata mereka saling bertemu satu sama lain, Via dapat melihat dengan jelas kilat-kilat dimata Alvin. Alvin seakan menghujam kedua manik matanya sedalam mungkin.
            Via merasakan bahwa Alvin semakin memojokannya dipintu. Dan Via hanya terdiam pasrah saat Alvin semakin mendekatkan wajahnya dan menghapus jarak diantara mereka. Via seakan melayang saat sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya dengan lembut.
            Lima detik berlalu, Alvin kembali membentang jarak diantara mereka. Kedua tangannya masih bertengger diwajah Via dengan desauan napas yang terdengar memburu. Alvin lalu menyentuhkan keningnya dengan kening Via. Kedua mata mereka masih sama-sama terpejam.
            “tadinya gue pikir gue punya rasa sama lo, tapi ternyata… gue sama sekali gak ngerasain apapun…”
            Alvin menurunkan tangannya lalu pergi begitu saja meninggalkan Via setelah merenggut first kiss-nya. Via langsung ambruk seketika. Jantungnya seakan meletup-letup jauh didalam sana. Apa benar baru saja Alvin menciumnya dan mengatakan ia tidak memiliki rasa apapun pada Via? Apa semudah itu Alvin menarik kesimpulan? Via lalu menyentuh bibirnya dan meratapi kepergian Alvin yang telah menghilang dari jangkauan pandangnya.

            “lo bener-bener jahat, Calvin Nicholas…”




To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment