Friday, July 24, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 13)






Jika harus berakhir dengan cara yang menyakitkan, sejak awal kau seharusnya tidak memberikanku mimpi indah. Kau yang membawaku kedalam lautan mimpi indah yang memabukan ini, kau jugalah yang membangunkan secara paksa dan sangat kejam.”



♫♫♫


            Tawa Alvin dan Via pada senja itu seolah menjadi backsound kebersmaan mereka. Mereka berdua tampak bahagia dan begitu serasi memainkan bola ditengah lapangan. Sekolah sudah cukup sepi, hanya ada mereka berdua dilapangan itu, memperebutkan bola dan berusaha memasukannya kedalam ring untuk mendapatkan poin.
            Entah apa yang ada dipikiran Alvin hari ini, setelah melewati mata ujian terakhir, ia menahan Via disekolah. Awalnya Via hanya menunggu Alvin yang sedang berlatih basket dengan kawan-kawannya, tapi setelah latihan usai, Alvin justru menolak pulang dan menunggu semua kawan-kawannya pulang terlebih dahulu. Saat sore tiba, ketika semua warga SMA Patuh Karya mengosongkan sekolah, Alvin tiba-tiba saja mengajak Via bermain basket berdua. Hanya berdua. Banyak yang mengatakan kalau pacar ‘rahasia’ nya ini jago basket, dan senja ini Alvin ingin membuktikannya dan menguji sejauh apa kemampuan gadis ini.
            “kata anak-anak lo jago basket. Kalo gitu… lawan gue sekarang!” Alvin mem-passing bola itu kearah Via sesaat sebelum mereka bermain. Via yang terkesiap kontan saja menangkap umpan Alvin dan berdiri dengan tatapan bingung.
            “gue udah cukup lama gak main” jawab Via apa adanya.
            Salah satu alis Alvin terangkat, “lama gak main bukan berarti lo lupa caranya, kan? one on one?” tantangnya lagi dengan nada nya yang selalu terdengar angkuh. Via tersenyum miring saat ia merasa mulai tertantang.
            “gak usah sombong, Alv! Karna lo…” Via menggantungkan kalimatnya dan melangkah dengan yakin mendekati Alvin, “karna lo gak akan menang ngelawan gue” lanjutnya kemudian.
            Alvin mendengus. Sementara Via sudah lebih dulu ketengah lapangan, memulai permainanya dengan lincah. “hati-hati lo pake rok!” ujar Alvin memperingatkan yang sebenarnya hanya untuk mengintimidasi Via saja.
            “udah biasa main pake rok!” balas Via dengan sengit. Dalam sekejap Via melakukan lay up dan memasukan bola yang sejak tadi berada dalam genggamannya dengan santainya.
            Untuk sedetik Alvin terkesima. Ternyata gadis ini boleh juga. Pikirnya.
            Via menangkap bola yang memantul kearahnya lalu mendribble-nya. Ia tersenyum dan menatap Alvin dengan pandangan menantang.
            Pada awal-awal permainan, Alvin membiarkan Via merasa berada diatas angin. Via terus memasukan bola kedalam ring tanpa perlawanan yang berarti dari Alvin. Sadar bahwa saat ini Alvin sedang meremehkannya, ia lantas menghalangi Alvin yang sedang mendribble seraya berkata, “udah gue bilang kan tadi? Jangan sombong!”
            “sayangnya… gue emang udah sombong dari lahir” jawab Alvin dengan tenang. Ia lalu mencondongkan wajahnya kearah Via yang sedang berusaha mati-matian menjangkau bola dari cengkramannya. Via sama sekali tidak sadar dengan apa yang akan Alvin lakukan sampai tiba-tiba Alvin mengecup lembut bibirnya dalam sedetik. Seolah-olah tidak merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan barusan, Alvin pun melakukan pivot untuk menyelamatkan bola itu dari jangkauan Via. Salah satu kakinya berputar, sementara kaki yang satunya lagi ia jadikan sebagai poros, dan dalan sekejab mata, bola itu sudah memasuki ring dengan sempurna. Alvin serta-merta bersorak, sementara Via, ia masih terpaku ditempatnya semula sambil menyentuh bibirnya.
            Alvin tersenyum miring. Entah untuk yang keberapa kalinya, ia merasa menang karna berhasil mencuri satu ciuman lagi dari gadisnya yang polos ini.
            Tanpa mereka tahu, ternyata masih ada satu orang yang tersisa dan menyaksikan semua hal yang mereka lakukan sejak tadi. Cakka bersembunyi dibalik salah satu pilar dengan perasaan hancur-lebur. Setelah ia mengetahui semua kenyataan dan rahasia dibalik kehidupan Via selama ini, Cakka akhirnya mengerti alasan kenapa Via menolak perasaannya dan selalu bersikap dingin terhadapnya.
            Dan apa yang sedang ia saksikan sekarang ini, adalah jawaban dari jutaan pertanyaan yang selama ini membelitnya. Jutaan pertanyaan rumit yang selama ini menghantui pikirannya ternyata hanya memiliki satu jawaban saja; ALVIN.
            Via menyayangi Alvin. Via lebih memilih Alvin dan sekarang… mereka sedang berpacaran.
            Cakka lalu melangkah pergi, dan meninggalkan serpihan hatinya jauh-jauh dibelakang. Bagi Cakka, ada hal yang lebih penting dari semua ini.
            Kesakitan dan kehancuran hatinya saat ini bukan akhir dari segalanya. Cakka justru akan kembali berjuang. Ia yakin, Via hanya miliknya. Apapun yang terjadi, ia akan tetap bertahan dengan segala keyakinan yang ia miliki.

“aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba tuk mematikan hatiku
Tak kan terjadi, yang aku tahu kau hanya untukku
aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku
Yang aku tahu kau hanya untukku”   (Rio Febrian ~ Aku Bertahan)
                                                                                        


♫♫♫

The Arion’s Café

            Setelah latihannya usai, Gabriel langsung menjemput Shilla kerumahnya tanpa pulang terlebih dahulu. Ia merasa perlu bicara  setelah melihat dari bagaimana cara Shilla bersikap selama seminggu terakhir ini terhadap Ify. Beberapa kali, Gabriel sering memergoki Shilla berusaha menghindari Ify. Shilla juga sama sekali tidak mengacuhkan Ify saat Ify mengajaknya berbicara. Dan Gabriel, merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan itu.
            “aku denger-denger, kamu masih gak ngomong sama Ify. Bener, kan?” tanya Gabriel saat dirinya dan Shilla sudah duduk berhadapan disatu meja yang sama.
            Shilla mendesah pelan. “jadi kamu nyulik aku kesini, Cuma untuk nanyain hal gak penting itu?”
            Gabriel terkesiap. Ia sungguh sangat tidak terima dengan apa yang baru saja Shilla ucapkan. “hal gak penting?” tanyanya skeptic. Gabriel mengusap wajah frustasi setelah sebelumnya ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Baru saja Gabriel akan melanjutkan perkataannya, Shilla malah mendahuluinya,
            “kenapa semua orang selalu berpihak sama Ify? Aku pikir, kamu bakalan tetep berdiri dibelakang aku, tapi ternyata… aku salah. Kamu sama aja kayak yang lain. Kenapa? Kamu juga suka sama Ify? Iya?
            “ASHILLA!” Tukas Gabriel dengan keras. Dalam sekejab Shilla langsung terdiam.
            “satu hal yang aku bener-bener gak suka dari kamu, kamu… selalu gak bisa jaga ucapanmu. Kamu selalu berkata seenaknya tanpa berpikir terlebih dahulu”
            Shilla tersenyum miris seraya menganggukan kepalanya beberapa kali. Sekarang, ia merasa sangat kasihan dan menyedihkan. Bahkan seorang Gabriel Fabian Ganendra, yang sangat ia percayai tidak sudi membelanya.
            “kamu juga musti tahu, Shill. Aku… aku gak akan pernah berdiri didepan kamu, karna aku gak akan memimpin langkah kamu, aku juga gak akan pernah berdiri dibelakang kamu, karna aku gak akan ngikutin kamu. Aku? Aku Cuma akan berdiri disamping kamu, aku akan melangkah sejajar sama kamu, dan aku akan menegur kamu disaat kamu salah. Kamu sadar, bahwa apa yang kamu lakukan sekarang ini… adalah sebuah kesalahan fatal”
            “jadi sekarang kamu juga mau nyalahin aku? Hm?”
            “karna kamu memang salah dan patut buat disalahkan Ashilla! Kamu tau dan sadar kalau Rio dan Ify saling menyayangi satu sama lain, tapi kamu terus-terusan berusaha buat menyangkal semuanya. Kamu gak seharusnya seperti ini!”
            Shilla terdiam untuk beberapa lama. Meski sulit, ia berusaha untuk mencerna setiap perkataan yang Gabriel lemparkan. “apa aku gak berhak bahagia, Yel? Aku… aku juga sayang sama Rio, aku… aku juga pengen ada diposisi Ify sekarang, aku—“
            “tapi Rio gak punya perasaan yang sama seperti apa yang kamu rasain”
            “tapi setidaknya aku harus berusaha, kan?”
            “dengan cara konyol seperti ini?!” bentak Gabriel yang sudah merasa tidak sabar lagi.
            “Yel—“
            “apa kamu mau aku tunjukin cara yang seharusnya kamu lakuin sekarang?” tanya Gabriel yang masih diliputi oleh luapan emosi.
            “karna aku udah gak punya cara lain lagi, jadi… katakan cara apa yang harus aku lakuin?” tanya Shilla kembali sambil berusaha menahan getaran pada nada bicaranya. Rasanya, ia ingin menangis sekarang juga. Hatinya sudah benar-benar lelah menanggung semua ini.
            Gabriel menatap kedua mata jernih Shilla untuk memastikan sesuatu. Tidak lama ia mengangguk pelan dan berujar.

            “lupain Rio, dan belajar untuk menyayangi aku lagi, karena aku… masih sayang sama kamu…”

            “Ga—Gabriel?”



♫♫♫


            “Ma…” panggil Angel saat dirinya dan Metta sedang bersantai ditepi kolam renang. Metta yang ketika itu sedang focus membaca sebuah majalah menyahut pelan tanpa mengalihkan perhatiannya.
            “iya, sayang?”
            “eeemm… Kak Alvin sama Kak Via pacaran, ya?” tanya Angel yang terlihat ragu. Metta yang kaget serta-merta menghentikan aktifitas membacanya. Metta menggeleng beberapa kali dan berusaha menepis semua pikiran anehnya.
            “kenapa Angel bisa berpikir kayak gitu?” Metta kembali membaca majalahnya meski fokusnya sudah terpecah-belah.
            “semenjak Angel pulang dari asrama, Angel ngelihat Kak Alvin dan Kak Via itu dekeeeet banget. Angel inget banget, dulu sebelum Angel ke asrama, Kak Alvin cuek gitu sama Kak Via, tapi kok sekarang beda?”
            “wajar dong mereka deket, yaa… kayak kamu deket sama Kak Via juga. Kalian kan… udah jadi saudara”
            “ya iya sih, Ma. Tapi… deketnya tuh beda, dan Angel bisa ngerasain”
            Cukup! Metta sudah tidak tahan lagi. Ia menutup majalahnya dengan kasar dan menatap Angel dalam-dalam. “enough, Angel! Kamu masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang berat seperti ini. Nikmati liburanmu dengan tenang dan berhenti berpikir yang tidak-tidak, oke?”
            “tapi, Ma—“
            “Mama bilang cukup, Angel! Mama capek. Mama mau istirahat. Nanti kalo Kak Alvin pulang, suruh langsung nemuin Mama diruang kerja. Dan… jangan pernah sekalipun sampaikan pemikiran kamu yang gak logis ini ke Papa, mengerti?”
            “i—iya, Ma…” jawab Angel seraya menunduk dalam.
            Baru saja Metta bangkit dari kursi malasnya, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi dan menandakan ada panggilan masuk ke nomernya. Untuk sejenak Metta membeku melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dengan sahabat lamanya ini, tapi Metta selalu menyimpan nomer itu dengan rapi diponselnya. Ragu-ragu Metta mengangkatnya…

            “ha—hallo Yashinta?”



♫♫♫

Alvianoszta Café

            Arloji dipergelangan tangan Yashinta sudah menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Pada jam tujuh tepat, ia memiliki janji untuk bertemu dengan Metta di café ini, café yang dulu sering mereka kunjungi bersama Sylvia dan Adryan saat mereka masih kuliah.
            Meskipun dulu begitu dekat, hubungan persahabatan Yashinta dan Metta sedikit terganggu dan akhirnya merenggang setelah Yashinta melarikan diri ke Jepang selama bertahun-tahun lamanya. Sejak itu, mereka tidak pernah lagi saling berkomunikasi meskipun anak-anak mereka bersahabat sangat dekat satu sama lain. Entah siapa yang lebih dulu membentang sekat diantara mereka. Entah sejak kapan komunikasi diantara mereka mulai terputus, tapi yang pasti, saat ini Yashinta butuh penjelasan Metta atas beberapa fakta mencengangkan yang ia temukan belakangan ini.
            Jam tujuh tepat, Metta akhirnya menampakan diri. Ia terlihat mengedarkan pandangannya kesagala arah untuk mencari sosok Yashinta. Untuk sejenak Yashinta tertegun, ini bukan kali pertamanya ia melihat Metta setelah hubungan mereka mulai merenggang, ia beberapa kali pernah melihat dan bahkan bertemu, tapi seperti biasa, mereka bersikap seolah-olah tidak saling mengenal stu sama lain, seakan-akan cerita persahabatan mereka dimasa lalu hanyalah sebuah mimpi yang kemudian lenyap saat mereka terbangun.
            Yashinta lalu melambaikan tangannya kearah Metta yang langsung disambut oleh tatapan dari Metta. Metta pun melangkah dan duduk berhadapan dengan Yashinta.
            “sudah cukup lama, Metta. Kamu apa kabar?” tanya Yashinta beberapa saat kemudian.
            “baik. Kamu sendiri?” jawab Metta singkat yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan basa-basi.
            Yashinta tersenyum kecil, ia lalu menyesap capuchino dihadapannya dan menjawab, “seperti yang kamu lihat sekarang”
            Metta mengangguk beberapa kali. Tapi kemudian ia tiba-tiba teringat akan sesuatu, “setelah belasan tahun berlalu, ini kali pertamanya kamu menghubungi aku. Dan aku pikir… ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kamu tanyakan. Apa aku salah?” tanya Metta yang seakan bisa membaca isi kepala Yashinta.
            “kamu tidak pernah berubah, Metta! Kamu bahkan lebih pintar dari apa yang aku pikirkan”
            “langsung saja” jawab Metta dingin.
            Yashinta terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah amplop coklat dengan logo ‘Sorano Corporation’ pada kop nya. Metta memperhatikan baik-baik amplop itu. Entah kenapa ia mulai merasakan sebuah firasat aneh. Ini pasti hal yang sangat serius dan tidak main-main, pikirnya.
            “belakangan ini... pikiranku sangat terusik dengan kehadiran seorang gadis bernama Gisselavia Garnetta. Cakka mengatakan, bahwa Via adalah saudara sepupu Alvin. Dan saat pertama kali Via memperkenalkan diri, aku merasa sangat sanksi, karna yang aku tahu, seorang Metta Indriani adalah puteri tunggal dari Hermawan Sugianto. Dan Adryan sendiri, hanya mempunyai satu saudara yang sekarang sedang melanjutkan studi nya di London. Sejauh yang aku tahu, saudara kandung dari Adryan masih berusia 25 tahun dan belum menikah. Lalu kemudian, satu pertanyaan ini begitu mengusik pikiranku secara terus-menerus, tanpa henti; siapa Gisselavia Garnetta? Dia anak dari siapa?”
            Metta terkejut bukan main. Ia bahkan belum melakukan antisipasi atas pertanyaan yang Yashinta ajukan sekarang. Yang ia tahu, Yashinta tidak akan mau repot-repot terlibat dalam masalah ini, mengingat bagaimana hubungan antara Yashinta dan Sylvia belasan tahun yang lalu. Metta berpikir, bahwa Yashinta benar-benar membenci Sylvia. Kenyataan itulah yang membuat Metta berani bertindak hingga sejauh ini. Alasan itu jugalah yang membuat Metta mati-matian menjaga jarak dari Yashinta selama belasan tahun lamanya.
            Meski pikirannya sudah sangat kacau sekarang, tapi Metta berusaha untuk tetap terlihat tenang. Ia tidak ingin cepat terprovokasi dengan keadaan ini.
            Yashinta terdengar menghela napas panjang, ia lalu mengeluarkan setumpuk kertas yang dijilid rapi dari dalam amplop itu.
            “mungkin selama ini kamu berpikir, bahwa aku sudah tidak peduli lagi dengan Sylvia, tapi kamu harus tahu… kamu salah besar, Metta Indriani!” Yashinta lalu menunjukan berkas itu pada Metta.
            “aku sudah mencari tahu semuanya, bukan hanya asal-usul Gisselavia Garnetta, tapi segala hal kecil menyangkut dia, tidak sedikitpun luput dari pencarianku. Tapi… ada satu hal yang paling menarik perhatianku sekarang…” Yashinta memotong perkataannya dan membuat Metta semakin merasa terpojokan. Yashinta tersenyum miring, tidak lama ia lalu melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat ia hentikan. “aku tidak tahu, kamu, Adryan, dan… Danar Ganendra punya alasan apa dibalik semua ini, tapi dari semua bukti-bukti yang aku kumpulkan ini, aku tahu… bahwa kamu memalsukan surat wasiat Sylvia dan mengadopsi Gissel atas perintah langsung dari Danar Ganendra. Iya, kan?”
            Metta mencengkram kuat-kuat tangannya. Ia tidak akan membiarkan semua usahanya berakhir sia-sia hanya karna Yashinta. Apapun akan Metta lakukan untuk mempertahankan apa yang ia dapatkan sekarang. Dan Yashinta, atau siapapun, tidak akan pernah bisa menghentikannya. Tidak setelah ia menghalalkan segala cara demi mencapai semua ambisinya.
            “kamu sangat cerdik, Shinta! Dan kamu sangat lihai bersembunyi dibalik keangkuhan juga ketidakpedulianmu. Dan aku lupa dengan semua kenyataan itu karna terlalu terlena dengan ambisi-ambisiku selama ini, aku sadar sekarang… bahwa melupakan kenyataan itu adalah kesalahan terfatal yang pernah aku lakukan seumur hidupku.”
            “lalu?”
            “aku akui, Sylvia memang tidak pernah memintaku untuk mengadopsi Via, dan aku akui, aku memalsukan surat itu atas bantuan dari Danar Ganendra. Tapi kamu harus ingat, bahwa semua hal yang aku lakukan itu, tidak sedikitpun dengan niat untuk melukai Via dengan sengaja. Sekeras apapun kamu mencari tahu, kamu tidak akan bisa menyangkal fakta itu, Yashinta, kamu—“
            “tapi Sylvia tidak ingin Gissel hidup dalam jangkauan Kakeknya. Kamu tahu itu!” Yashinta mulai terpancing emosi.
            “ATAS ALASAN APA?” Tanya Metta keras sambil menatap Yashinta dengan tajam. “aku tanya, atas alasan apa Sylvia tidak ingin Via hidup dalam jangkauan Kakeknya?”
            Yashinta mendengus dan menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “kamu masih tanya alasannya setelah kita semua tahu apa penyebabnya? Danar Ganendra tidak pernah menginginkan kehadiran Gissel sekalipun, ia bahkan mengusir dan memaksa Sylvia dan Gissel untuk pergi dari kehidupan Geraldy dan Gabriel. Kamu pikir, alasan itu tidak cukup kuat?! Jangan terlalu naïf, Metta!”
            “lalu kamu? Apa yang kamu lakukan saat tahu semua itu? Kamu hanya berdiam diri? Tidak… sepertinya aku salah” Metta tertawa meledek disela perkataannya, “kamu bahkan baru tahu sekarang. Kamu harus sadar, Shinta… kamu sudah terlalu terlambat untuk peduli, dan semua apa yang kamu lakukan sekarang adalah sia-sia”
            Kali ini Yashinta tercengang. “terus terang… Danar Ganendra membayar mahal atas semua yang aku lakukan ini. Tapi Danar Ganendra melakukan semua ini hanya semata-mata untuk menebus semua kesalahannya. Ia mungkin tidak bisa mengambalikan masa lalu dan memperbaiki semuanya, tapi setidaknya… ia ingin membayar atas semua hal yang ia lakukan dimasa lalu”
            “tapi demi Tuhan cara ini salah, Metta. Kalaupun Danar Ganendra ingin membayar semuanya, kenapa ia tidak langsung muncul dan mengadopsi Gissel sendiri? kenapa ia harus menjadikan kamu dan Adryan sebagai tameng? kenapa… kenapa kalian semua harus menipu Gissel? Kalian pikir semua ini tidak akan menyakiti Gissel pada akhirnya nanti? Iya?”
            Giliran Metta yang terdiam. Ia tampak berpikir.
            “aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu, Shinta! Aku… aku hanya mengikuti perintah dari Danar Ganendra”
            “untuk apa?”
            “saat itu perusahaan Ayahku nyaris bangkrut. Kami terlilit hutang yang akhirnya juga berdampak pada perusahaan Adryan. Lalu tiba-tiba… Danar Ganendra datang mengulurkan tangannya. Ia memintaku dan Adryan melakukan semua ini. Aku tidak langsung menerima. Sylvia adalah sahabatku, mana mungkin aku tega menghianatinya? Tapi keadaan kami semakin terjepit karna Danar Ganendra terus-terusan menekan kami dari segala arah. Hingga akhirnya, aku menyetujui syarat yang diajukan oleh Danar Ganendra. Aku melakukan semua yang ia perintahkan, dan sebagai bayarannya… aku mendapatkan segala yang aku inginkan dan memenuhi semua ambisiku, bahkan hingga detik ini…”

            “aku punya satu pertanyaan lagi.” ucap Yashinta, kali ini nada bicaranya terdengar sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
            “apa?”
            “apa tidak ada sedikitpun ketulusan dihatimu saat kamu mengangkat Gissel sebagai anakmu? Apa semua ini kamu lakukan murni hanya demi memenuhi semua ambisimu? Iya?”

            Metta tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab, “entahlah… yang pasti, aku mulai menikmati peranku sebagai  Mama dari seorang Gissella Fania Ganendra…”


♫♫♫

            Saat Alvin kembali dari sekolah, Angel langsung menyampaikan pesan dari Mamanya yang meminta Alvin untuk segera menjemput Metta di Alvianoszta Café. Mobil milik Metta sedang masuk bengkel, sementara supir yang sehari-hari mengantar-jemputnya sedang jatuh sakit. Jadi, Alvin lah yang bertanggung jawab untuk menjemput Mamanya. Tanpa mengganti baju seragamnya terlebih dahulu, Alvin segera berangkat menjemput Mamanya.
            Alvin tiba dicafe lima belas menit kemudian. Tanpa menghubungi Mamanya terlebih dahulu, Alvin langsung memasuki café. Tapi langkah Alvin kemudian terhenti secara tiba-tiba saat melihat Mamanya sedang duduk berhadapan dengan Bunda Cakka. Merasa ada yang tidak beres dengan gelagat kedua wanita yang dulunya pernah menjadi sahabat itu, Alvin melangkah lebih dekat dan bersembunyi pada salah satu pilar untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
            Dan apa yang Alvin dengarkan, sangat menghancur-leburkan hatinya saat ini. Kontan saja perasaannya hancur ditempat ketika mengetahui bahwa ternyata Mamanya yang begitu ia hormati memalsukan surat wasiat Almarhum Mama Via. Dan semua itu ia lakukan hanya demi… menyelamatkan perusahaan Kakeknya yang nyaris bangkrut juga demi ambisi-ambisi Mamanya.
            Alvin mendadak merasakan kedua kakinya lemas. Ia bahkan hampir tidak sanggup berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Mendapati bahwa Mamanya adalah seorang penipu yang ulung adalah hal yang sangat sulit untuk bisa Alvin terima.
            Airmatanya nyaris  berdesakan keluar jika saja Alvin tidak berusaha menahannya. Ia lalu memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Kenyataan ini benar-benar membuatnya sulit bernapas.
            Alvin serta-merta melangkah keluar café saat melihat Mamanya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dengan langkah yang cukup cepat. Tidak ingin Mamanya mengetahui bahwa ia telah mendengar semuanya, Alvinpun berlari dan menunggu Mamanya didalam mobil. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.
            Metta membuka pintu mobil dan duduk disisi Alvin dengan tenang.
            “Ma—Mama udah selese?” tanya Alvin pelan.
            Metta hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. “Mama baik-baik aja?” tanya Alvin –lagi-. Sekali lagi Metta hanya mengangguk dan meminta Alvin untuk segera menyetir mobilnya. Saat ini Metta benar-benar ingin pulang dan beristirahat.
            Setengah perjalanan mereka habiskan dalam hening. Metta bahkan sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Alvin menatap Mamanya beberapa kali sembari mencengkram erat setirnya. Detik ini juga, ada jutaan pertanyaan yang ingin Alvin tanyakan pada wanita yang telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya ini.
           
            “kenapa Mama melakukan semua ini?” pertanyaan itu akhirnya terlontar begitu saja setelah Alvin berusaha mati-matian menahan dirinya.
            Metta terkesiap dan buru-buru menoleh kearah Alvin, ragu-ragu ia bertanya, “ma—maksud kamu?”
            “maafin Alvin sebelumnya karna udah lancang, Ma. Tapi… Alvin denger semua obrolan Mama dan Tante Shinta tadi”
            “a—apa? Kamu…”
            Alvin menepikan mobilnya dan langsung berhenti. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes keluar.

            “Mama gak setega itu kan? Mama gak mungkin tega memalsukan surat wasiat Tante Sylvia, kan? iya kan, Ma?”
            “Alvin… maafin Mama, Nak…” Metta berusaha menggapai wajah Alvin, tapi Alvin justru memalingkan wajahnya sebelum Metta bisa menggapainya. Seketika perasaan Metta langsung mencelos atas penolakan Alvin baru saja. “Mama bisa jelasin semuanya sama kamu. Mama—Mama punya alasan, sayang….”
            “Mama emang harus menjelaskan semuanya sekarang. Alvin butuh penjelasan dan alasan, kenapa Mama melakukan semua ini?”
            “Alvin—“
            “tapi… sayangnya Alvin udah terlanjur denger semuanya. Sekarang, Alvin Cuma ingin bertanya… apa yang Mama dapatkan dari semua ini? Apa Mama merasa senang karna bisa memenuhi semua ambisi Mama? Iya?”
            “kamu bertanya apa yang Mama dapatkan dari semua ini? Hm?” sebulir airmata Metta  menetes keluar bersama rasa menyesal yang lambat ia sadari. Alvin tidak menjawab, dan tetap membuang wajahnya. “semua yang kamu nikmati sekarang ini adalah hal yang Mama dapatkan dari semua ini. Bukankah ada sebuah pengorbanan yang harus kita bayar untuk sebuah keinginan?”
            Alvin menggeleng mantap dan seakan menolak pernyataan Mamanya barusan. Alvin menyeka airmatanya dengan kasar dan membuka sabuk pengaman ditubuhnya.
            “Alvin gak butuh kehidupan seperti ini kalau Mama mendapatkannya dari sebuah pengorbanan yang tidak terpuji!”
            “Alvin!”
            “cukup sampai disini, Ma! Mama bisa pulang sendiri, kan?”
            Baru saja Alvin keluar dari dalam mobil dan hendak melangkah pergi, perkataan Metta justru mengehentikan langkahnya, “Mama gak tau dugaan Angel keliru atau justru sebaliknya, tapi apapun bentuk hubungan yang sedang kamu jalani dengan Via sekarang, tolong kamu hentikan! Mama gak mau kamu menjalin hubungan selain hubungan sebagai seorang saudara dengan Via. Mengerti?”

            Alvin tidak menjawab. Ia justru melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang kian hancur, kian remuk dan nyaris tidak berbentuk lagi. Airmata saja tidak akan cukup untuk mewakili rasa sakit yang ia derita sekarang.


♫♫♫

            Via sedang sibuk berkutat dengan laptopnya saat tiba-tiba Alvin memasuki kamarnya dan memeluknya dari belakang. Via yang terkesiap langsung menoleh dan berhadapan langsung dengan wajah Alvin yang menatap hampa kedepan. “lo apaan sih, Vin? Ngagetin aja!” protesnya sedikit kesal sembari berusaha melepaskan pelukan Alvin, namun Alvin justru semakin erat memeluknya.
            “sebentar aja. Gue pengen kayak gini, sebentar aja”
            Via akhirnya mengalah. Ia tidak lagi berusaha untuk melepaskan pelukan Alvin. Tapi sikap Alvin yang sangat ganjil ini benar-benar membuatnya merasa heran. Tidak biasanya Alvin bersikap semanis ini padanya. “elo… baik-baik aja, kan?” tanyanya sehati-hati mungkin, takut Alvin akan merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya dan malah kembali bersikap dingin seperti biasanya.
            Alvin tidak berkata apapun. Ia hanya menghela napas panjang sebagai jawabannya. Pikirannya hari ini benar-benar kacau. Ia seakan menemui jalan buntu disebuah lorong yang gelap dan dingin. Alvin tidak berani membayangkan, bagaimana jika nanti Via tahu bahwa Mamanya telah memalsukan surat wasiat Ibu kandungnya hanya untuk menjalankan perintah Danar Ganendra. Bahkan untuk sekedar membayangkannya saja, Alvin merasa takut. Pada akhirnya nanti, Via pasti akan sangat kecewa. Dan Alvin, yang juga turut terlibat menyimpan sebuah rahasia besar menyangkut kehidupan Via, tentu saja akan mendapatkan kebencian dan rasa kecewa yang serupa.
            Sejak awal pertama kedua orangtua nya memulai permainan ini, Alvin sudah dirancang untuk tetap diam seumur hidupnya. Sekalipun ia sangat ingin menyuarakan segalanya, ia tetap tak kan bisa. Permasalahan yang sekarang ia hadapi sama sekali tidak main-main, dan kebencian yang akan ia terima dari Via diakhir cerita ini, adalah harga yang harus ia bayar atas kediamannya.
            Beberapa saat kemudian, Alvin melepaskan pelukannya dan segera mengambil posisi disofa yang sejak tadi Via duduki. Mereka berdua duduk bersisian seraya saling menatap kedalam mata masing-masing. Dan semakin jauh, Via semakin merasa bahwa memang ada yang tidak beres dengan Alvin sekarang.
            “gue tanya sekali lagi, lo baik-baik aja, kan?”
            Alvin menggeleng pelan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
            “kenapa? Ada masalah apa? Lo mau cerita?”
            ‘lo pasti akan sangat sakit hati kalo gue menceritakan semuanya…’ bathin Alvin. Ia meraih salah satu tangan Via, berbaring dan merebahkan kepalanya dipangkuan gadis itu. Untuk sejenak Via terpaku dan ingin melayangkan protes sekali lagi, tapi saat melihat Alvin yang begitu nyaman tidur dipangkuannya, Via justru merasa tidak tega. Dengan perlahan dan ragu-ragu, Via menggunakan satu tangannya yang bebas untuk membelai lembut rambut Alvin, sementara tangan yang satunya lagi berada dalam genggaman erat Alvin.
            “sekarang… gue akan menyampaikan sesuatu. Tapi… ada satu syarat yang harus lo penuhi!”
            “a—apa?” tanya Via takut-takut.
            Alvin lagi-lagi terdengar menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “jangan berkata dan bertanya apapun. Setuju?”
            Meski ragu, toh pada akhirnya Via tetap mengangguk juga. Apapun yang terjadi, ia harus bisa mempercayai Alvin. Alvinpun mengecup tangan Via yang berada dalam genggamannya.
            “untuk kedepannya, kita berdua… sepertinya akan menghadapi masalah yang cukup berat. Dan gak gampang buat kita untuk keluar dari masalah itu. Tapi seberat apapun masalahnya, dan… sebesar apapun kesalahan yang gue lakuin, tolong untuk tetep percaya sama gue”
            “Vin—“
            “berjanjilah lo gak akan pernah ninggalin gue meski sebesar apapun kebencian lo sama gue. Berjanjilah untuk tetap berada disisi gue sekalipun lo sangat membenci gue. Berjanjilah!”
            Via tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Tapi seperti syarat dari Alvin yang tadi telah terlanjur ia penuhi, Via tidak akan bertanya dan berkata apapun. Ia hanya perlu mempercayai Alvin dengan baik. Via pun mengangguk dan berujar pelan namun terdengar mantap, “gue berjanji!”
            Alvin memejamkan mata untuk beberapa saat, dan perih itu semakin mengoyak bathinnya tanpa ampun saat ia tiba pada sebuah keputusan yang nantinya akan membunuhnya secara perlahan. Alvin tidak butuh waktu lama untuk berfikir lagi, karna semakin lama ia berfikir, ia akan semakin merasa ragu dengan keputusan yang akan ia ambil.
            Jalannya kini semakin gelap dan buntu. Ia benar-benar merasa sendirian, tersesat diantara keragu-raguan juga ketakutan.
            Setelah memantapkan hatinya, Alvin lalu bangkit dan melepaskan tangan Via begitu saja. ia berdiri tegak dihadapan gadis itu dan berusaha terlihat tegar meskipun hatinya tidak melakukan hal yang sama. Alvin menatap tajam pada kedua mata jernih itu. Pandangan matanya yang beberapa saat lalu terlihat lembut dan penuh kasih kini berubah menjadi dingin.
            “kita berhenti saja sampai disini!”
            Hening. Dunia seakan berhenti berputar, detak waktu terasa membeku dan dengan telak memukul dada Via, tanpa ampun.
            “A—Alvin? Ma—maksud lo apa?”

            “kita selesai! Anggap saja ini akhir dari cerita kita. Dan lo harus belajar satu hal… bahwa gak semua cerita berakhir happy ending
            Sebelum perasaannya semakin hancur, Alvin memilih untuk segera pergi dari hadapan Via tanpa menoleh sedikitpun. Sementara Via, ia hanya membisu ditempatnya dengan airmata yang perlahan menetes keluar, membasahi wajahnya. Lidahnya seolah kelu, dan kedua kakinya seperti mati rasa. Ia yang tadinya ingin menyerukan nama Alvin dan mengejarnya justru merasa sangat tidak berdaya sekarang.
            Alvin telah membangunkannya secara paksa dari mimpi indahnya. Dan sejak awal, Alvin seharusnya tidak memberikannya mimpi indah jika harus berakhir mengenaskan seperti ini.

            “lo emang luar biasa Calvin Nicholas, luar biasa nyakitin gue!”





To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment