Thursday, September 24, 2015

4

S K Y L O V A (Chapter 14)















Sebelumnya…

Baru saja Alvin keluar dari dalam mobil dan hendak melangkah pergi, perkataan Metta justru mengehentikan langkahnya, “Mama gak tau dugaan Angel keliru atau justru sebaliknya, tapi apapun bentuk hubungan yang sedang kamu jalani dengan Via sekarang, tolong kamu hentikan! Mama gak mau kamu menjalin hubungan selain hubungan sebagai seorang saudara dengan Via. Mengerti?”

***

            Setelah memantapkan hatinya, Alvin lalu bangkit dan melepaskan tangan Via begitu saja. ia berdiri tegak dihadapan gadis itu dan berusaha terlihat tegar meskipun hatinya tidak melakukan hal yang sama. Alvin menatap tajam pada kedua mata jernih itu. Pandangan matanya yang beberapa saat lalu terlihat lembut dan penuh kasih kini berubah menjadi dingin.
            “kita berhenti saja sampai disini!”
            Hening. Dunia seakan berhenti berputar, detak waktu terasa membeku dan dengan telak memukul dada Via, tanpa ampun.
            “A—Alvin? Ma—maksud lo apa?”

            “kita selesai! Anggap saja ini akhir dari cerita kita. Dan lo harus belajar satu hal… bahwa gak semua cerita berakhir happy ending”
            Sebelum perasaannya semakin hancur, Alvin memilih untuk segera pergi dari hadapan Via tanpa menoleh sedikitpun. Sementara Via, ia hanya membisu ditempatnya dengan airmata yang perlahan menetes keluar, membasahi wajahnya. Lidahnya seolah kelu, dan kedua kakinya seperti mati rasa. Ia yang tadinya ingin menyerukan nama Alvin dan mengejarnya justru merasa sangat tidak berdaya sekarang.
            Alvin telah membangunkannya secara paksa dari mimpi indahnya. Dan sejak awal, Alvin seharusnya tidak memberikannya mimpi indah jika harus berakhir mengenaskan seperti ini.

            “lo emang luar biasa Calvin Nicholas, luar biasa nyakitin gue!”



=_oo_=




Desember, 2013…

            “pergi ke Lombok, dan adopsi Gissel sebagai anak mu, maka akan aku berikan semua yang kalian butuhkan” Ucap Danar Ganendra dengan nada suaranya yang selalu terdengar tenang namun sarat akan makna tersembunyi disetiap katanya.
            Selama bertahun-tahun lamanya, Metta dan Adryan berusaha mati-matian menyembunyikan keberadaan Sylvia dan Gissel dari Danar Ganendra, tapi apa yang mereka jaga dengan segenap usaha mereka justru berakhir sia-sia. Gerak Danar Ganendra lebih cepat dari apa yang mereka duga.
            Metta terdiam seraya menunduk. Posisinya sekarang benar-benar terjepit. Disatu sisi ia harus menjaga janjinya pada Sylvia untuk menjauhkan Gissel dari jangkauan Kakeknya apapun yang terjadi, tapi disisi lain, ada nyawa perusahaan Ayah serta suaminya yang harus ia selamatkan dengan cara apapun. Dan cara yang Danar Ganendra tawarkan sekarang, adalah cara terbaik satu-satunya yang ia bisa ia lakukan.
            “saya tidak bisa melakukan itu, Pak” jawab Metta pada akhirnya. Ia terdengar ragu dan… takut.
            Danar Ganendra berbalik dan menatap Metta yang masih menunduk dalam. Sejak awal ia sudah tahu, bagaimana pun kesetiaan Metta pada Sylvia pasti akan runtuh juga dengan cara yang ia lakukan sekarang.
            “Sylvia adalah sahabatmu, dan saya memintamu untuk mengadopsi anak dari sahabatmu, lalu apa yang salah? Apa permintaan saya terlalu berlebihan? Toh pada akhirnya… kamu akan mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan untuk saya, baik dimasa sekarang, hingga dimasa depan”
            “tapi saya sudah berjanji pada Sylvia untuk menjauhkan Gissel dari jangakuan anda, saya tidak bisa melanggar janji itu begitu saja”
            “jangan konyol! sejak lama saya sudah tahu keberadaan mereka, tapi kamu llihat sendiri, kan? saya tidak pernah sekalipun mengusik kehidupan mereka, tapi sekarang… saya hanya ingin menuntut hak saya sebagai seorang Kakek. Perusahaan Ayahmu sedang dalam keadaan krisis, Metta. Jadi berhentilah bertingkah seperti ini dan selamatkan apa yang bisa kamu selamatkan”
            “tapi Adryan tidak akan membiarkan kita begitu saja. Biar bagaimanapun, Sylvia adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam perjalanan bisnisnya. Saya mungkin bisa goyah, tapi tidak dengan Adryan”
            Danar Ganendra mengangguk paham. Seketika, seulas senyuman licik terlukis diwajahnya. “saya akan membantumu membuat surat wasiat palsu, dengan begitu Adryan tidak akan bisa melakukan apapun”
            “tapi—“
            “pikirkan lagi, Sylvia! Kamu punya waktu 2 hari sebelum perusahaan Ayahmu benar-benar bangkrut. Dalam 2 hari, jika kamu sudah punya keputusan, kembalilah. Maka saya sudah siap dengan suar wasiat Sylvia”
                     
            Metta kembali menunduk dan berpikir. Apa ini saatnya ia melanggar semua janji-janjinya pada Sylvia?



♣♣♣


            Via menatap resah kearah lantai dua, berharap Alvin akan segera turun dan bergabung untuk sarapan bersama mereka berempat. Saking terlalu sibuknya memikirkan Alvin juga kejadian semalam, malah membuat Via tidak bernafsu makan. Semua makanan yang tersaji dimeja makan terlihat tidak menarik baginya. Selera makannya telah hilang sejak semalam, sejak Alvin mengakhiri hubungan mereka tanpa memberikan penjelasan apapun.
            Adryan serta-merta melepaskan sendok beserta garpunya saat ia melihat bahwa ada yang  ganjil dengan sikap yang Via tunjukan sejak ia bergabung dimeja makan, pun begitu dengan Metta dan Angel. Meskipun Metta bisa memperkirakan dan membaca situasi apa yang sekarang sedang terjadi dihadapannya ini, ia lebih memilih bungkam dalam kepura-puraannya.
            “Via, kenapa makanannya tidak dimakan?”
            Via terkesiap. Ia segera melemparkan tatapannya kearah Adryan, dengan gelagapan ia menjawab, “ng—nggak apa-apa, Pa… ini Via udah mau makan kok?”
            “kamu lagi ada masalah? ayo cerita sama Papa…” pinta Adryan yang seakan bisa menangkap keganjilan yang semakin jelas terlihat dari raut wajah Via. Sebelum menjawab, Via menatap kearah Metta yang buru-buru mengalihkan tatapannya saat Via menangkap basah dirinya yang sedang menatap Via. Via lalu menggeleng seraya menjawab…
            “gak ada masalah apa-apa kok, Pa. Via baik-baik aja…” Via berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun hati serta perasaannya jauh dari keadaan baik-baik saja. Adryan tersenyum lega saat itu juga.
            “bagaimana ujianmu? Kamu bisa menyelesaikannya dengan baik, kan?”
            “te—tentu, Pa…”
            “bagus! Sekarang kamu udah kelas duabelas. Papa harap kamu bisa belajar dengan baik sehingga bisa mendapatkan nilai terbaik diujian akhir nanti. Setelah kamu lulus dengan nilai terbaik, kamu berhak milih universitas manapun yang kamu mau. Papa akan ngasih dukungan penuh buat kamu, Nak…”
            “terimakasih, Pa…” jawab Via seraya menyunggingkan seulas senyuman kecil.
            Metta menghela napas beberapa saat kemudian  mulai membuka pembicaraan.
            “Via…” panggilnya dengan tegas dan lugas.
            “iya, Ma?”
            “Mama harap kamu bisa focus dengan sekolahmu! Untuk saat ini, tolong jangan memikirkan hal lain selain belajar. Setidaknya jangan kecewakan mendiang Mama mu”
            Ada yang aneh dari nada bicara Metta. Ia tidak terdengar seperti menasehati, entah kenapa Via merasa bahwa ucapan Metta itu lebih mendekati kearah sebuah peringatan agar ia menjauhi sesuatu. Tapi Via tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak untuk sekarang ini. Kedua orangtua angkatnya ini sudah sangat baik selama ini, mereka tidak hanya memberikan Via sebuah kehidupan yang layak, tapi juga cinta kasih serta kehangatan dalam sebuah keluarga yang tidak pernah ia dapatkan sejak Mama nya mengembuskan napas terakhirnya.
            Via yakin dan percaya, bahwa apapun yang kedua orangtua angkatnya lakukan, adalah semata-mata demi kebaikannya sendiri. Dan Via tidak ingin jadi seorang anak yang tidak tahu terimakasih. Via berjanji pada dirinya sendiri, apapun akan ia lakukan untuk membalas semua apa yang telah mereka berikan sekarang, tidak peduli bagaimanapun caranya, Via akan membalasnya suatu saat nanti.
            Dering panggilan masuk dari ponsel Metta memecah keheningan yang terjadi dimeja makan. Metta meraih ponselnya dan mendapati nama “Danar Ganendra” tertera pada layar ponselnya. Adryan sedikit terkejut, ia tidak menyangka, bahwa isterinya ternyata masih memiliki relasi dengan Danar Ganendra.

            “Danar Ganendra? Kenapa beliau tiba-tiba menelepon?” tanya Adryan dengan curiga.
            Metta berusaha bersikap serileks  mungkin agar suaminya tidak curiga. “entahlah, Pa. ini kali pertamanya beliau menghubungi Mama…”
            “apa benar begitu?” tanya Adryan yang masih merasa ragu dengan jawaban yang dilemparkan oleh Metta.

            “tentu saja, Pa….”




♫♫♫


            “Brengsek tengik!! Setelah mutusin gue secara sepihak dan tanpa alasan, sekarang lo coba-coba buat ngehindarin gue? Hah?” gerutu Via saat dirinya sedang berdiri di halte bus. Tadi setelah sarapan, Via sengaja menunggu Alvin dihalaman rumah, ia bahkan menolak ajakan Adryan yang ingin mengantarkannya kesekolah hanya untuk menunggu Alvin dan berbicara dengannya. Tapi apa yang Via lakukan justru sia-sia, karna hingga jauh waktu, Alvin tidak juga manampakan diri. Pintu serta jendela kamarnya bahkan tertutup rapat-rapat. Hal itu seolah mengisyaratkan, bahwa ia benar-benar niat menghindari Via.
            Setelah sekitar 5 menit berdiri di halte, dari kejauhan Via melihat sosok Alvin yang dengan gagah menunggangi ninja merahnya. Sepasang mata mereka bertubrukan satu sama lain. Tapi saat Via menatap Alvin dengan penuh harap, Alvin justru hanya menatapnya dengan datar. Hati Via semakin terasa sakit. Dadanya pun kembali sesak saat ternyata Alvin melewatinya begitu saja dan bersikap bahwa seolah-olah Via tidak terlihat. Via marah, kesal, jengkel, sakit hati, tapi juga penasaran. Segala bentuk rasa kini menggerayangi hati kecilnya tanpa henti. kenapa Alvin mendadak  bersikap begini? Apa yang salah dengan dirinya?
            Sementara tanpa Via ketahui, Alvin terus saja memperhatikan sosok Via dari kaca spionnya sampai akhirnya ia menghilang dari jangkauan pandang Via. Alvin tiba-tiba saja menepi dan menghentikan laju motornya. Cukup lama berpikir, apakah ia harus kembali atau melanjutkan perjalanananya. Karna tidak bisa menemukan jawaban yang pasti, Alvin menggeram marah lalu menghempaskan kedua tangannya sekuat mungkin. Tidak lama, Alvin teringat akan sesuatu. Dengan berat hati, Alvin mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang pada contact list-nya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Alvin segera menghubungi nomer itu.

            “hallo, Kka? Lo dimana sekarang?”


♫♫♫


            “Hay!” tegur Shilla ketika Rio dan Ify melewatinya tanpa menyadari keberadaan gadis itu yang tengah menunggu mereka didepan koridor. Menyadari bahwa Shilla menyapa mereka, Rio dan Ify langsung saja melepaskan gandengan tangan mereka. Itu mereka lakukan hanya semata-mata demi menjaga perasaan Shilla.
            Shilla tersenyum kecil, ia mengangguk paham lalu mendekat kearah Rio dan Ify. Untuk beberapa saat Shilla terdiam. Perkataan-perkataan Gabriel tempo hari menyapa otaknya. Jikapun sekarang Shilla ada disini dan memberanikan diri menyapa Rio dan Ify, itu semua karna Gabriel. Gabriel yang telah menyadarkannya bahwa tidak seharusnya ia bersikap egois seperti ini. Shilla mungkin ingin Rio memikirkan perasaannya, tapi sebelum itu, bukankah Shilla juga harus memikirkan perasaan Gabriel?
            Shilla menghela napas panjang, meskipun jantungnya terasa nyeri, toh pada akhirnya ia meraih kedua tangan Rio dan Ify lalu menyatukannya dengan besar hati. Senyum diwajah cantiknya kian melebar. “begini lebih baik. Mulai sekarang, kalian gak perlu maen petak umpet lagi…” ujarnya dengan tulus.
            Tentu saja Rio dan Ify terheran-heran mendengarkan perkataan Shilla barusan. Dan saat Ify berusaha melepaskan tangannya, Shilla justru menahannya. “gue minta maaf karna selama ini gue egois, gue minta maaf karna selama ini gue Cuma mikirin perasaan gue aja. Sekarang… gue udah rela kalian pacaran. Dan tolong… jangan bersikap gak enak lagi sama gue, karna jujur aja… itu semua ngebuat gue ngerasa jahat banget sama kalian…”
            “Shill…” lirih Ify dengan mata berkaca. Shilla hanya terkekeh kemudian berkata,
            “jangan putus yaaa? Kalo lo sampe putus sama Rio, gue pastiin gue gak akan ngelepasin Rio buat lo lagi, hahaha…” Shilla tertawa miris pada akhir kalimatnya. Ify pun lebih mendekat kearah Shilla dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.
            “maafin gue, Shill…”
            “kenapa jadi minta maaf sih, kan gue yang salah…” ujar Shilla dengan nada bergetar. Tapi toh tetap saja ia memaksakan diri untuk tertawa. Rio tersenyum lega, ia merasa sangat terkesan dengan apa yang Shilla lakukan sekarang. Rio lalu mengangkat salah satu tangannya dan mengusap puncak kepala Shilla yang masih berada dalam pelukan Ify.

            “bodoh!” rutuknya dengan gemas.




♫♫♫


            Via terus-terusan merutuki Alvin saat tiba-tiba saja sebuah jaguar hitam milik seseorang berhenti tepat disampingnya. Kaca jendela dari jok belakang terbuka secara perlahan dan memperlihatkan sosok Cakka yang menatap lurus kedepan. Tidak seperti biasanya, hari ini Cakka diantar oleh supir keluarganya. Via menatap heran kearah Cakka yang bahkan tidak sedikitpun memandangnya.
            “Cakka? Lo ngapain disini?”
            “masuk gih! Walaupun hari ini ada jadwal  Class Meeting, tapi pak Satpam bakalan tetep nutup pintu gerbang kalo lo nyampe sekolah diatas jam delapan” Cakka masih menatap lurus kedepan. Entah kenapa, ia masih saja belum bisa melupakan apa yang terjadi antara Alvin dan Via tempo hari dilapangan sekolah. Cakka mendesah pelan saat memori itu kembali hinggap dikepalanya. Walaupun ia merasa begitu marah hingga nyaris gila, tetap saja ia tidak bisa membenci dan melupakan perasaannya pada gadis ini begitu saja, seperti apa yang ia inginkan.
            “gu—gue bisa berangkat sendiri” jawab Via yang terdengar sedikit gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya karna tidak tahu harus bagaimana sekarang. Sekali lagi, Cakka menghela napas kuat-kuat dan  membuangnya dengan keras. Ia lantas menatap tajam tepat pada kedua manik mata Via yang kini tampak kaget.
            “sekali aja bisa kan lo gak nolak permintaan gue? Lo tahu….? Itu nyakitin buat gue…” jawaban Cakka terdengar begitu  jujur dan apa adanya. Sebelumnya ia bahkan tidak berpikirr bahwa ia akan melemparkan jawaban sejujur itu pada gadis ini, gadis yang sejak pertama berhasil mencuri hatinya.
            Cakka tampak berpikir sebelum akhirnya ia keluar dari dalam mobilnya dan menarik paksa Via untuk masuk. Cakka menghempaskan tubuh Via begitu saja dikursi penumpang lalu duduk disebelahnya seolah-olah tidak terjadi apapun. Via menatap Cakka dengan jengkel. “Lo apa-apaan sih, Kka?!” hardiknya dengan keras, tapi Cakka justru tidak menggubrisnya.
            “jalan, Pak!” titahnya pada sang supir kemudian.
            Jaguar hitam itupun mulai berjalan perlahan dan membelah jalanan ibu kota dalam keheningan.
            “Alvin yang minta lo buat ngelakuin semua ini?” tanya Via tiba-tiba dan memecah keheningan didalam perjalanan itu. Cakka mengangguk seraya menggumam pelan. Via pun tersenyum mencibir, ia melipat kedua tangannya didada lalu membuang wajahnya kearah jendela.
            “hh… sudah gue duga. Dasar pecundang!”
            Cakka kembali menatap Via. Kali ini pandangan matanya terlihat begitu terluka. Dengan pelan Cakka berujar, “kenapa lo harus semarah ini? Apa lo… sebegitu sayangnya sama Alvin? Hm?”
            Via serta-merta menoleh kearah Cakka. Ia kaget saat mendengarkan pertanyaan yang Cakka lemparkan. Kenapa pertanyaan Cakka begitu tepat sasaran? Apa mungkin Cakka tahu sesuatu tentang hubungan rahasia yang ia jalin dengan Alvin? Tapi darimana Cakka mengetahuinya? Itulah beberapa rentetan pertanyaan yang menyerang otak Via secara bertubi-tubi. “elo… elo nanya apaan sih?! Gue gak ngerti!” Via berusaha menyangkal sebisanya. Tapi toh usahanya sia-sia saja, karna Cakka telah mengetahui segalanya.
            “elo gak perlu nyembunyiin apapun dari gue. Gue udah tahu dan liat sendiri semuanya. Jadi… gak ada yang perlu lo sangkal”
            “Cakka—“
            “kenapa harus Alvin? Kenapa orang yang lo sayang harus Alvin dan bukan gue?”
            “Kka, dengerin gue—“
            “mulai sekarang, apa gak bisa gue aja jadi cowok yang paling lo sayang? Cuma gue, bukan Alvin atau yang lainnya! Atau kalo lo gak bisa maksain hati lo buat bisa sayang sama gue, apa bisa lo pergi dari kehidupan Alvin?”
            Kacau! Perkataan Cakka semakin kacau dan membuat Via bingung sebingung-bingungnya. Via bahkan tidak mengerti, apa alasan Cakka mengatakan hal gila ini padanya?
            “gue bener-bener gak ngerti dengan cara berpikir lo, Kka. Gue bahkan gak bisa mencerna apapun yang barusan lo bilang”
            “tapi lo harus dengerin perkataan gue!”
            “kenapa gue harus dengerin perkataan lo yang gak masuk akal itu? Dan kenapa gue harus pergi dari kehidupan Alvin? Hah?”
            Kali ini Cakka terdiam. Ia tidak mungkin menjelaskan pada Via kenyataan yang saat ini ia ketahui. Kenyataan bahwa Cakka mengetahui kalau Via adalah cucu perempuan dari Danar Ganendra, kenyataan bahwa orangtua Alvin telah memalsukan surat wasiat mendiang Mamanya. Sekedar untuk membayangkan hal apa yang akan terjadi jika Via mengetahui kenyataan yang sesungguhnya saja, sudah membuat Cakka merasa ngeri. Cakka bahkan takut membayangkan bagaimana hancurnya Via saat nanti semua kenyataan itu pada akhirnya terkuak. Tapi yang pasti, sekarang ataupun nanti, Cakka tidak akan pernah membiarkan Via hancur!
            Melihat Cakka yang hanya bisa diam, Via malah semakin kesal. “seenggaknya gue butuh alesan, Kka!” tuntutnya sekali lagi.
            “perasaan gue ke elo… apakah hal itu gak bisa menjadi pertimbangan lo buat pergi dari kehidupan Alvin?”
            Via menggeleng pelan. “gue butuh alesan yang lebih kuat!”

            Cakka terdiam sesaat. Tidak lama ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap kedua bola mata Via dengan penuh kesungguhan.

            “elo harus pergi dari kehidupan Alvin. Atau kalo lo lebih memilih bertahan, sebagai gantinya lo akan terluka. Bukan hanya luka, tapi juga… hancur sehancur-hancurnya bahkan hingga remuk sampai gak berbentuk lagi…”

            “ma—maksud lo?”





♫♫♫


            Sebagai pembukaan Class Meeting semester ini, SMA Patuh Karya mengadakan sebuah acara pensi yang memang rutin dilakukan setiap pergantian semester. Beberapa siswa dari semua ekskul, khususnya ekskul teater dan music turut ambil bagian untuk mengisi acara pensi. Tidak terkecuali Alvin, ia yang memang tergabung dalam ekskul music dan sempat menjabat sebagai ketua sebelum ia melakukan Student Exchanges di New York juga terlihat sebagai pengisi acara. Sejam sebelum acara dimulai, Alvin terlihat sibuk berlatih bersama beberapa rekannya diruang music.
            Ditengah proses latihan, Via tiba-tiba saja muncul sambil membawa sebotol air mineral yang rencananya ingin ia berikan pada Alvin. Via berjanji, ia tidak akan menyerah sebelum Alvin memberikannya alasan. Alasan kenapa Alvin tiba-tiba memutuskan hubungan mereka. Via tidak berniat untuk mundur selangkahpun, dan ia akan terus mengikuti Alvin sampai Alvin buka suara.
            Via mendekati Alvin yang tampak tak acuh. Dengan berani ia duduk disisi Alvin yang tengah sibuk dengan gitarnya. “minum dulu gih! Lo pasti capek daritadi latihan terus” tegurnya kemudian.
            “taro aja disitu! Gue belom haus” jawab Alvin sekenanya tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya.
            “gue temenin boleh?” tanya Via penuh harap. Meskipun terkesan cuek dan enggan, setidaknya Alvin menjawab pertanyaannya. Dan hal itu meskipun hanya sebuah jawaban singkat, sudah cukup membuat hatinya berbunga.
            “mending lo pergi deh! Gue lagi gak mau diganggu” ucap Alvin dingin. Tapi Via tetap tidak ingin menyerah.
            “gue janji gak akan ngomong apapun! Gue Cuma akan duduk dan diem. Janji!” ucap Via yakin sambil menunjukan kedua jarinya yang membentuk huruf ‘V’. Kali ini Alvin mengangkat wajahnya dan menatap Via dengan pandangan sangat terganggu.
Via tersenyum lebar, kontan saja senyum yang Via tunjukan malah membuat perasaan Alvin semakin tercabik. Biar bagaimanapun, ia telah melukai hati gadis ini, tapi kenapa Via masih bisa menunjukan senyumannya dihadapan Alvin? Bukankah seharusnya gadis ini marah dan memaki Alvin atas apa yang sudah ia lakukan. Sial! Alvin akan merasa lebih baik lagi jika gadis ini menunjukan kemarahannya.
            Alvin menghela napas panjang, ia lalu bangkit dari sisi Via seraya meraih botol minuman yang tadi Via bawakan. Tanpa mengatakan apapun, Alvin lantas pergi begitu saja. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Alvin menghampiri Zevana dan memberikan minuman itu untuknya.
            “ini buat lo!” ucap Alvin dingin lantas berlalu dari hadapan Zevana.
            Sementara Zevana hanya termangu melihat sikap Alvin yang mendadak baik. Baru setelah Alvin pergi, Zevana menyadari segalanya. Ia meloncat kegirangan seraya tertawa keras. Selama ia menyukai Alvin, ini kali pertamanya ia merasa sebahagia ini. “AAAA…. THANK YOU, ALV!!”
            Via yang melihat adegan menyebalkan itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan emosi tak terbendung lagi. Dan melihat Zevana yang begitu senang atas perlakuan Alvin, ingin sekali rasanya Via menendang gadis itu dari muka bumi ini.
            Dengan perasaan yang tak terjelaskan, Via keluar dari ruang music dengan langkah cepat. Baru setelah itu, Alvin meratapi kepergian Via yang semakin lama semakin menghilang dari jangkauan pandangannya. Dalam hati, Alvin terus merafalkan kata maaf berkali-kali. Untuk saat ini, itu adalah hal terbaik satu-satunya yang bisa Alvin lakukan.
            Saat Via sudah tidak terlihat lagi, Alvin kembali menghampiri Zevana yang sedang memamerkan minuman pemberian Alvin pada teman-temannya. Alvin merebut minuman itu dan dengan dingin berkata, “balikin punya gue!”
            Alvin berbalik pergi tanpa menoleh sedikitpun. Zevana yang tadinya merasa sangat senang sekarang malah dibuat heran oleh perubahan sikap Alvin yang menurutnya sangat aneh.

            “Alvin kenapa sih?”




♫♫♫

            Sudah hampir setengah jam setelah Shilla mengirimkan kan pesan singkat untuk Gabriel, tapi hingga setengah jam berlalu, Gabriel tidak juga menampakan dirinya. Meskipun tidak mendapatkan balasan dari Gabriel, Shilla tetap menunggunya dengan setia diatas atap gedung sekolah. Hari ini, Shilla ingin menyamapaikan ucapan terima kasih serta permintaan maafnya pada Gabriel atas apa yang ia katakan pada pria itu tempo hari. Setelah berpikir selama semalaman suntuk, akhirnya Shilla tiba pada sebuah keputusan, yang mungkin nanti akan membuat dadanya sesak hingga susah bernafas.
            Shilla tidak tahu apa yang akan terjadi nanti pada hatinya, tapi untuk sekarang Shilla tahu pasti, bahwa keputusannya untuk merelakan Rio adalah keputusan terbaik yang bisa ia ambil sekarang.
            Empat puluh menit berlalu, tapi Gabriel belum juga membalas pesannya. Shilla menghela napas panjang. Apa Gabriel masih marah padanya? Apa Gabriel enggan bertemu dengannya? Tiba-tiba saja, berbagai macam dugaan yang menakutkan menghantui sudut pikirnya.
            Saat pikirannya semakin kacau, ponsel nya tiba-tiba saja bergetar. Secara otomatis Shilla membuka pesannya dan membacanya.


=====================
From: Gabriel Fabian
Aku sekarang lagi di Lombok.
Besok pagi baru balik.
Tolong jangan kasih tau siapa2
Tentang ini. Besok kita akan bicara.
=====================

            Gabriel di Lombok? Untuk apa Gabriel ke Lombok?





♫♫♫



Mataram, Lombok…


            Gabriel duduk bersimpuh disalah satu makam dengan kepala tertunduk sedih. Sejak pertama kali ia menginjakan kaki di pemakaman ini, rasa perih seakan merobek jantungnya. Sesuatu seakan menghimpit dadanya dan membuat pernapasannya sesak. Bahkan untuk sekedar menangis saja, Gabriel sama sekali tidak memiliki tenaga.
            Pada batu nisan itu tertulis nama ‘Sylvia Addara’, sosok wanita yang beberapa tahun terakhir ini sangat ia rindukan, sosok wanita yang paling ingin ia temui. Dan ketika ia menemukan potongan-potongan rahasia dari masa lalu nya, ketika ia mengetahui keberadaan wanita itu, wanita yang sangat ia rindukan itu jusrtu pergi meninggalkannya untuk selamanya, tanpa sepatah kata perpisahan, tanpa mengijinkan Gabriel memeluknya untuk yang terakhir kalinya, tanpa membiarkan Gabriel melampiaskan rasa rindu yang ia pendam selama bertahun-tahun lamanya.
            Jika bisa, Gabriel rasanya ingin berteriak detik ini juga dan mengatakan bahwa semua ini sama sekali tidak adil baginya. Tuhan menghukumnya terlalu kejam, dan Gabriel tidak bisa melewati semua ini sendirian. Ia butuh pegangan, ia butuh sandaran.
            “Mom –“ lirih Gabriel tertahan. Dadanya kian sesak. Dan kuota udara yang ada disekitarnya seolah menipis tanpa peringatan, membuatnya semakin sulit bernapas.
            “Mom –“ ulangnya sekali lagi. Airmata itu akhirnya lolos begitu saja. Gabriel memeluk erat batu nisan itu sambil terus merafalkan kata ‘Mama’ berkali-kali. Hingga jauh waktu, hanya satu kata itu yang mampu ia suarakan.

            “Maafin Iel, Mom…. Maaf karna Iel datang terlambat… Mommy sama Gissel pasti sangat menderita. Maaf, karna Iel gak bisa ngerasain penderitaan yang sama seperti apa yang kalian rasain… Maafin Iel, Mom…. Maafin Iel….” Ucapnya terisak sambil menekan dadanya kuat-kuat.

            “Mom –“ Gabriel kembali bersuara dengan sendu.




♫♫♫


            “Gabriel kemana?” tanya Cakka saat ia baru saja tiba di aula sekolah dan ikut bergabung bersama Alvin dan Rio. Alvin dan Rio saling menatap untuk beberapa saat lalu beralih menatap Cakka.
            “dari tadi gue coba hubungin, tapi gak ada jawaban” jawab Alvin sekenanya lalu kembali focus dengan gitarnya.
            “belakangan ini Gabriel rada aneh. Jujur aja, gue mulai cemas” kata Rio pada kedua kawannya. Alvin yang tampak tidak acuh berusaha mendengar tanpa melemparkan komentar apapun. Ia hanya menyimak seraya berpura-pura sibuk dengan gitarnya.
            “aneh gimana?” tanya Cakka penasaran. Ia mengubah posisi duduknya hingga berhadapan dengan Rio.
            “ya aneh aja. Dia mendadak jadi pendiem dan suka menyendiri, gue bahkan pernah secara gak  sengaja ngeliat Gabriel nangis di atap” terang Rio sambil mengingat semua keganjilan yang ia lihat dari sosok Gabriel.
            “elo serius?” tanya Cakka berusaha memastikan. Sementara Alvin yang sejak tadi  berpura-pura sibuk, bangkit dari tempatnya dan berkata,
            “gue harus siep-siep buat penampilan ntar. Gue duluan” pamitnya pada Rio dan Cakka. Rio dan Cakka menatap kepergian Alvin dengan bingung. Kenapa Alvin seperti enggan memberikan komentar? Bukankah selama ini Alvin lah yang paling peduli pada sahabat-sahabatnya? Tapi sekarang? Alvin bersikap seolah-olah ia tidak ingin peduli. Apa yang salah?



♫♫♫


            Acara Pensi sekaligus pembukaan Class Meeting untuk dua minggu kedepan dimulai. Rio selaku wakil ketua Osis SMA Patuh Karya menyampaikan beberapa kata pembukaan untuk menggantikan Alvin. Alvin sendiri adalah ketua osis, tapi karna ia menjadi pengisi acara di pembukaan, jadi dengan terpaksa Rio menggantikannya untuk menyampaikan pidato, selepas itu Kepala Sekolah SMA Patuh Karya pun secara resmi membuka acara Pensi sekaligus Class Meeting, diakhir pidatonya Pak kepala sekolah menyampaikan agar siswa-siswi menikmati rangkaian acara Class Meeting untuk dua minggu kedepan sebelum pembagian rapor. Mereka juga diharapkan mampu melepaskan segela ketegangan serta kepenatan yang membelit mereka selama pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas.
            Seluruh siswa-siswi SMA Patuh Karya yang memenuhi lapangan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah saat Pak kepala sekolah mengakhiri pidatonya. Beberapa saat kemudian, Agni dan Lintar yang bertindak sebagai MC menaiki panggung dan mulai menyapa teman-teman mereka dengan ceria.
            “Okelah teman-teman semua… mungkin kalian semua udah pada gak sabar untuk melihat penampilan dari salah satu cowok paling kece dan pinter satu sekolah, udah tau dong siapa diaaaaa???” teriak Agni dengan penuh semangat seraya mencondongkan mic kearah para penonton.
            “ALVIIIIIINNNN!!!” Teriak siswa-siswi SMA Patuh Karya tidak kalah semangatnya dari Agni.
            Agni dan Lintar saling menatap seraya melempar satu sama lain sebelum Lintar melanjutkan, “Oke semua… kali ini Kak Alvin gak akan tampil sendiri, Kak Alvin bakalan diiringin sama Kak Ify dan Vocal Choir SMA Patuh Karya!”
            Semuanya semakin heboh dan riuh. “Mari kita sambut dengan meriah… Alvin feat Ify dan SMA Patuh Karya Choir!” tutup Agni lalu turun dari atas panggung bersama Lintar.
            Beberapa saat kemudian, Alvin dan Ify bersama Vocal Choir SMA Patuh Karya menaiki panggung dan mengambil posisi masing-masing. Ify duduk dihadapan sebuah grand piano, sementara Alvin duduk dengan manis disebuah bangku sambil memangku gitar kesayangannya. Delapan anggota vocal choir berbaris dengan rapi dibelakang Alvin dan Ify.
            Via yang berdiri ditempat penonton bersama Shilla dan beberapa kawannya yang lain terus memperhatikan Alvin tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya. Saat semuanya meneriakan nama Alvin, Via justru hanya diam dan tenggelam dalam pesona Alvin yang memukau. Entah sengaja atau tidak, Via memergoki Alvin yang menatapnya sekilas sebelum menyampaikan prolog nya sebelum bernyanyi.

            “Lagu ini… gue nyanyikan khusus buat seseorang yang pernah sempat tinggal dihati gue. Gue ngerti apa yang terjadi sekarang mungkin udah bikin dia terluka, tapi gue harap… untuk kedepannya nanti dia akan kembali baik-baik saja…”
            Via tertunduk lesu. Kata-kata yang Alvin sampaikan entah kenapa seolah menutup kesempatannya untuk bisa kembali lagi bersama Alvin. Cakka yang sedari tadi berdiri dibelakang Via dan menyimak semua keadaan yang terjadi sekarang, tiba-tiba mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tidak butuh waktu lama bagi Cakka untuk bisa mengerti keadaan macam apa yang sedang terjadi sekarang ini. Cakka tidak bodoh! Mungkin yang lain tidak bisa membaca keadaan ini, tapi Cakka bisa melakukannya dengan sangat baik. Bagi Cakka, tidak ada yang lebih menyakitkan lagi dari melihat gadis yang sangat ia sayangi terluka seperti ini. Andai Via mau memberikannya kesempatan untuk menyembuhkan luka hatinya, tentu Cakka akan melakukannya dengan senang hati.
            Jari-jari terampil milik Ify mulai menari diatas tuts-tuts piano dengan lincah. Tidak lama, Alvin menyambut dengan permainan gitarnya dan mulai bernyanyi dari hatinya…


“Pahamilah semua apa yang terjadi
Saat hati tak lagi bisa berkata
Mungkin bahagiamu, bukan tuk diriku
Biarkan semua ini jadi kenangan
Lupakan semua cerita cinta
Tinggal kan jiwaku yang terluka”

            Alvin menatap Via dengan nanar dan perasaan yang bahkan sulit ia jelaskan. Sementara Via, ia tetap berdiri ditempatnya. Membiarkan setiap kepingan hatinya jatuh tanpa ingin menata lagi.

“Sampai mati kisah ini kan ku jaga
Hingga berakhir nafas ku
Putih cinta ku untuk mu
Sampai mati dirimu kan dihatiku
Tiada mungkin tuk terganti
Walau semua telah berlalu
                                    
Atas  nama cinta, kau yang ku banggakan
Inilah hidup tak perlu disesali
Biarlah semua tetaplah terjadi
Sebingkai kenangan cinta yang terperih”

            ‘Lo boleh ngelepasin gue gitu aja, Vin. Tapi gue bersumpah, gue gak akan pernah ngelepasin lo sampe gue dapet alesan, kenapa lo mutusin hubungan kita tanpa penjelasan. Hal sepele dan remeh ini, gak akan pernah bikin gue jatoh dengan mudah…’ lirih Via dalam hati.


“Lupakan semua cerita cinta
Tinggal kan jiwaku yang terluka
Sampai mati kisah ini kan ku jaga
Hingga berakhir nafas ku
Putih cinta ku untuk mu
Sampai mati dirimu kan dihatiku
Tiada mungkin tuk terganti
Walau semua telah berlalu…”

            Penampilan duet antara Alvin dan Ify kian memukau saat anggota vocal choir SMA Patuh Karya mengambil bagian pada reff pertengahan lagu itu. Semua penonton yang tadinya heboh kini hening dan tenggelam dalam lantunan simfoni yang luar biasa. Semuanya seakan tersihir mendengarkan kolaborasi yang apik antara Alvin, Ify dan Vocal Choir SMA Patuh Karya.
            Cakka yang mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan Via pun mengambil langkah maju. Dari jarak yang sangat dekat, Cakka dapat melihat kedua pundak gadis itu bergetar menahan tangis, dan tidak ada satupun yang menyadarinya kecuali Cakka. Tidak semuanya, tidak juga Alvin atau siapapun.
            Cakka menghela napas dalam-dalam. Ia berpikir singkat lalu menarik pergelangan tangan Via dan membawanya pergi dari tempat yang penuh sesak itu. Cakka tidak akan membiarkan Alvin menyakiti Via lebih jauh lagi dari ini.

            “Lo kenapa sih, Kka? Hah?” bentak Via tanpa mendapatkan respon apapun dari Cakka yang terus menarik pergelangan tangannya, membawanya keluar dari segala kesakitan yang ia rasakan sekarang.
            Agni yang tanpa sengaja melihat apa yang Cakka lakukan pada Via saat ia akan menaiki panggung serta-merta menghentikan langkahnya. Semangat nya yang sejak tadi menggebu perlahan sirna.
            Ia bersahabat dengan Cakka selama hampir separuh hidupnya, dan selama itu pula, Agni diam-diam menyimpan perasaan untuk Cakka, sebuah perasaan yang jauh tersentuh oleh kepekaan hati seorang Cakka. Bagaimana ia akan tersentuh? Bagaimana ia akan peka, jika saat ini saja Cakka sedang tersesat pada perasaannya sendiri yang jatuh untuk Via? Bagaimana Cakka bisa mengerti dengan apa yang Agni rasakan, jika ia saja sulit mengerti hatinya, jika ia saja tidak mampu mengontrol perasaannya dengan baik?
            Ah… mungkin Agni berharap terlalu banyak pada seseorang yang bahkan… tidak memiliki harapan apapun pada dirinya sendiri. Anggap saja ini bagian dari kebodohannya dan semuanya akan selesai. Ya, semuanya akan selesai! Agni harap begitu saja sudah cukup.
            Agni tertarik dari lamunan singkatnya saat Alvin turun dari panggung dengan setengah berlari, tanpa sengaja Alvin menubruk pundak Agni, tapi ia sendiri justru tidak menyadarinya.

            “Vin, lo mau kemana?! Acaranya belum selesai!” seru Agni. Tapi Alvin terlalu kacau untuk bisa mendengarnya. Sekarang… ada hal yang lebih penting yang harus ia kejar.




♫♫♫


            Yashinta duduk dihalaman belakang toko bunga nya dengan pandangan menerawang jauh. Belakangan ini, banyak kejadian mengejutkan yang membuatnya tidak berhenti berpikir dan terus berpikir tanpa henti. Rasa sesal, marah, benci dan segala macam rasa yang mengusik sanubarinya terus menghantui setiap langkahnya.
            Perkataan dan pengakuan Metta tempo hari menjadi awal semua kekalutannya. Jika ingin jujur pada dirinya sendiri, Yashinta merasa bahwa ia jauh lebih jahat dari Metta. Ia tidak pernah menyangka, bahwa sikap kekanak-kanakannya dimasa lalu akan membuatnya merasakan penyesalan yang nyaris tidak berujung seperti yang ia rasakan detik ini.
            Sekelebat memori dari masa lalu tiba-tiba menyapa ingatannya…


Flashback ~


Bandung, 1993

            “Syl… ada hal yang ingin aku katakan.”
            Malam itu, Yashinta datang dan memutuskan untuk menginap dirumah Sylvia. Keluarga Sylvia yang memang sudah menganggap Yashinta seperti anak mereka sendiripun menerima kedatangan Yashinta dengan tangan terbuka. Ibu Marlita bahkan sudah menyiapkan makanan kesukaan Yashinta saat beliau tahu bahwa Yashinta akan menginap dirumahnya.
            “katakanlah! Jangan memendam semuanya sendirian. Aku sahabatmu, Shin. Jadi katakan saja apa yang ingin kamu katakan” ucap Sylvia seraya menyentuh tangan lembut Yashinta. Melihat dari bagaimana cara Sylvia tersenyum sekarang, siapapun tentu akan merasa tenang dan damai, hal itu pula lah yang sekarang Yashinta rasakan.
            “aku pikir… Aldy menyukai wanita lain”
            Air muka Sylvia yang sedari tadi tampak tenang sekarang berubah keruh. Ia mendadak gugup dan sedikit gemetaran. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam pada Yashinta terkuak lagi ke permukaan tanpa peringatan.
            “ke—kenapa tiba-tiba kamu berpikir seperti itu?” tanya Sylvia takut-takut. Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh sahabatnya, Yashinta tersenyum mencibir lalu bangkit dari duduknya, ia berjalan sedikit menjauh dan berdiri menghadap jendela.
            “aku mungkin terlihat tak acuh dan tidak peduli pada Aldy dari luar, tapi kamu atau siapapun tentu tahu bagaimana aku sangat mencintai nya. Tapi hanya karna aku sangat mencintainya, bukan berarti aku buta dengan perasaan Aldy. Dari matanya, dari caranya bersikap, aku tahu bahwa aku tidak pernah ada dihatinya, dan hal itu… membuat aku sangat terluka, Sylvia… sekarang, aku bahkan tidak tahu bagaimana seharusnya aku menatap matanya, aku juga tidak mengerti bagaimana harus bersikap padanya. semua yang aku lakukan seolah serba-salah, dan Aldy selalu menangkap semuanya sebagai kebencian ku padanya…”
            Ragu-ragu Sylvia bangkit dan melangkah mendekati Yashinta. Ia seperti menahan sesuatu, tapi Yashinta tidak menyadarinya.
            “entah benar atau tidak Aldy mencintai wanita lain, kamu jangan pernah mau mengalah Shinta. Lawan semuanya dengan berani. Aku tidak tahu kapan, tapi suatu saat aku yakin, kamu pasti bisa menaklukan Aldy. Kamu Yashinta sahabatku, dan tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Yashinta. Aku percaya itu…”
            “Syl—“
            “berjanjilah kamu tidak akan pernah  menyerah sampai Aldy benar-benar bisa mencintaimu sepenuhnya, berjanjilah kamu akan terus berjuang dan tidak akan mundur barang selangkahpun, berjanjilah….”
            Yashinta hanya diam dan menatap lurus pada kedua mata Sylvia yang tampak berkaca.
            “kamu berhak bahagia, Shinta. Kamu berhak mendapatkan apapun yang kamu inginkan, karna sejak awal, kamu memang di lahirkan untuk bahagia. Kamu hanya perlu berjuang untuk merebut kebahagiaanmu. Dan sekarang… berjanjilah padaku”
            Yashinta menatap dalam-dalam pada kedua bola mata Sylvia. Tidak lama, ia memeluk erat sahabatnya itu lalu mengucapkan janjinya.


            “aku berjanji…”

            Saat itulah, tanpa Yashinta sadari, airmata yang sejak tadi Sylvia tahan akhirnya tumpah. Hatinya telah hancur, lebih dari berkeping-keping.


♣♣♣



            Setelah menutup ingatan lamanya, tiba-tiba saja Yashinta mengingat sesuatu yang lain. Sesuatu yang menurutnya sangat penting sekarang. Yashinta meraih ponselnya dan segera menghubungi Cakka.

            “hallo, Kka? Besok, apa bisa kamu bawa Via ke toko? Bunda kangen sama Via…”




♫♫♫


            Cakka kembali memasukan ponsel nya kedalam kantong setelah Bunda nya memutuskan sambungan terlebih dahulu. Cakka lalu melihat kearah Via yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan seolah meminta sebuah pertanggung jawaban. Kenapa cowok menyebalkan ini tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke lapangan basket indoor.? Apa sekarang Cakka sedang berusaha menculiknya?
            “sekarang lo udah bisa jawab, kenapa tiba-tiba lo narik gue dan bawa gue ketempat ini?”
            Cakka terdiam. Ia tidak berpikir ia akan menyampaikan apa yang ia baca di acara pensi tadi. Semuanya terlalu terburu-buru.
            “Cakka jawab gue!” tuntut Via yang sudah tidak sabar lagi. Meskipun Via berusaha sangat keras menutupi kesedihannya sekarang, tapi Cakka tetap bisa menangkapnya dengan baik. Cakka sudah terlanjur mengetahui semuanya, dan ia tidak akan tinggal diam lagi. Alvin memang sahabatnya, tapi Cakka tidak akan membiarkan Alvin melukai gadis ini dengan alasan apapun! Toh sekarang Cakka sudah tahu segalanya.
            “Bunda… Bunda minta lo dateng ke toko besok. Bunda kangen sama lo…”
            Baru saja Via akan membuka mulut untuk menjawab, Cakka langsung mendahuluinya.
            “gue harap lo gak nolak. Ini permintaan langsung dari Bunda. Lagian udah lama lo gak mampir ke toko, Eyang juga nanyain lo terus…”

            Via terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “baiklah…”



♫♫♫


            Via keluar dari lapangan indoor terlebih dahulu tanpa menunggu Cakka. Saat ini, Via butuh ketenangan, dan ia hanya ingin sendiri saja sampai pikirannya kembali jernih. Saat tiba diluar, Via justru berpapasan dengan Alvin yang membuat langkahnya secara otomatis terhenti, begitu juga dengan Alvin. Mereka saling menatap satu sama lain sebelum melanjutkan langkah masing-masing. Dari apa yang dapat Via lihat, desauan napas Alvin terdengar tidak teratur. Keringat sebesar biji jagung bercucuran didahinya, ia terlihat kelelahan dan seperti sudah berlari jauh.
            “Alvin, lo kenapa?” saat tangan kanan Via hendak menyentuh wajahnya, Alvin buru-buru memalingkan muka. Perasaan Via seakan mencelos, lagi-lagi Alvin mengguratkan luka dihatinya tanpa ia tahu kesalahan apa yang telah ia lakukan. Apa semua ini adil?
            “Alvin, sepertinya ada hal yang pengen gue omongin sama lo!” kata Cakka yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Via. Perhatian Alvin langsung tertuju pada Cakka yang berjalan perlahan menghampiri posisinya dan Via sekarang. Dan saat Cakka sudah berdiri sejajar dengan Via, ia mengalihkan pandangannya pada gadis itu, ia tersenyum lembut dan kembali berkata, “Vi… apa lo bisa ngasih gue waktu buat ngomong sama Alvin?”
            Via menatap Cakka heran sebelum akhirnya meninggalkan kedua laki-laki itu hanya berdua saja. setelah Via sudah tidak terlihat lagi, senyuman yang sejak tadi mengembang diwajah tampan Cakka tahu-tahu menghilang tanpa bekas. Tatapan matanya tidak lagi berasahabat pada Alvin. Daripada sepasang sahabat, mereka lebih terlihat seperti dua orang musuh yang kembali dipertemukan sekarang.
            “ikut gue ke atap!” ujarnya dingin lalu melangkah terlebih dahulu dengan diikuti oleh Alvin dibelakangnya.



♫♫♫


            “ada apa?” tanya Alvin to the point saat dirinya dan Cakka sudah berdiri berhadapan diatap gedung sekolah. Cakka menatap Alvin yang tampak berusaha tenang dengan beragah-agahan. Emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya lepas melalui pukulan yang cukup keras diwajah Alvin. Pukulan yang Cakka hadiahkan itu membuat tepi bibir Alvin mengeluarkan darah.
            Alvin menyeka darah nya dengan kasar dan kembali menatap Cakka dengan tajam. Kali ini ia tidak lagi berusaha bersikap tenang. “masalah lo apa?!” bentaknya dengan keras.
            “apa sakit saat gue mukul lo barusan? Dan apa lo berpikir, kalo Via merasa jauh lebih sakit lagi dari apa yang lo rasain barusan?”
            “gue gak tahu lo ngomong apaan? Dan saling baku hantam kayak gini, sama sekali bukan cara gue dalam menyelesaikan masalah. Lo tahu? Ini childish, Cakka!” bentaknya makin keras.
            “lo gak usah pura-pura goblok! Gue tahu pasti, kalo lo tahu apa yang baru aja gue omongin. Berhenti pura-pura terlihat bodoh, karna itu bukan Calvin Nicholas”
            “apa?!”
            “gue tahu semuanya. Dan lo gak perlu nyimpen apapun dari gue sekarang”
            Alvin diam, tapi ia berusaha mencerna perkataan Cakka sebaik mungkin.
            “Via… gue tahu kalo Via bukan sepupu lo. Gue tahu, kalo orangtua lo ngangkat Via  sebagai anak dari sebuah panti asuhan di Lombok, gue tahu… kalo Via adalah saudara kembar Gabriel, gue tahu… kalo Via adalah cucu perempuan dari Danar Ganendra, gue ta—“
            “enough, Cakka!” Alvin berusaha menghentikan Cakka sambil mengangkat salah satu tangannya. Matanya terpejam untuk sesaat. “lo gak perlu lanjutin apapun lagi! Sejak awal gue tahu lo penasaran sama sosok Via, jadi gak heran kalau lo bakalan nyari asal-usul nya, gue juga tahu, bukan hal sulit buat lo untuk mencari tahu semuanya, karna lo adalah Cakka Sorano. Tapi apapun yang lo ketahui sekarang, gue harap itu Cuma buat kepentingan lo saja. Gue gak akan minta lo buat ngerahasiain ini semua dari siapapun, karna gue tahu, tanpa gue minta pun, lo akan tetep nyimpen rahasia ini dengan baik”
            “lo bilang apa tadi? Buat kepentingan gue? Lo pikir semua fakta ini penting buat gue? Gak! Gue gak tahu keluarga lo punya hubungan apa dengan Danar Ganendra, dan gue juga sama sekali gak tertarik buat tahu, tapi satu hal yang gue minta sama lo, jangan pernah sakitin Via dengan alasan apapun. Lo pasti lebih tahu dari gue, gimana menderitanya dia selama ini. Semua orang nyimpen rahasia yang sangat penting menyangkut dia, gue Cuma gak habis pikir, kenapa kalian bisa sejahat itu?”
            “lo gak tahu apa-apa Cakka, jadi tutup mulut lo sekarang juga!” kecam Alvin dengan dingin.
            “karna gue gak mau tahu apapun, Alvin! Gue gak butuh untuk tahu apapun. Gue Cuma minta jangan sakitin Via!”
            Alvin terdiam sejenak. Ia menghela napas untuk mengisi ruang didadanya yang mulai terasa hampa dan sesak. “apapun yang gue lakuin sekarang, gue sama sekali gak punya niat dengan sengaja buat nyakitin Via. Gue Cuma… gue Cuma ngerasa kalo gue… bukan cowok yang pantes buat dia” ada getaran pada nada bicaranya di akhir kalimat. Dan itu jujur… Alvin hanya merasa tidak pantas untuk gadis itu.
            “gue tahu lo sayang sama Via, Kka… dan gue pikir, lo lebih pantes buat Via daripada gue, jadi –“ Alvin tidak melanjutkan perkataannya. Bagi Alvin, melanjutkan perkataannya sama saja dengan bunuh diri. Tapi apapun keadaannya, ia harus menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada Cakka. Dan Cakka menunggu dengan penuh antisipasi.

            “lo boleh memiliki dia…”



♫♫♫


            Alvin pulang kerumahnya saat waktu sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Saat itu hujan turun dengan lebat dan Alvin terjebak di sekolah. Ia tidak bisa pulang sebelum hujan reda karena ia menggunakan motor. Alvin berpikir ia tidak akan bisa menembus hujan seenaknya. Minggu ini ada pelaksanaan Class Meeting, dan karna Alvin adalah seorang ketua Osis, ia harus tetap menjaga kesehatannya untuk dua minggu kedepan, selama acara Class Meeting berjalan.
            Setelah acara pembukaan tadi selesai dengan memuaskan, Alvin selaku ketua Osis langsung mengadakan briefing bersama anggotanya sampai sore tiba, dan bertepatan dengan itu, hujan tiba-tiba saja turun dengan lebat dan menjebak Alvin disekolah.
            Rumah sedang dalam keadaan kosong saat Alvin tiba. Kedua orangtua nya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota seperti yang sering mereka lakukan. Sementara Via? Entahlah, Alvin tidak tahu sedang ada dimana gadis itu sekarang.
            “Den Alvin akhirnya pulang juga” kata Bi Ningsih yang baru saja keluar dari dapur.
            “Via mana, Bi?”
            “Non Via? Sepertinya lagi di kamar. Dari tadi sore Non Via nungguin Den Alvin, dia katanya cemas kalau-kalau Den Alvin kejebak hujan”
            Alvin terdiam sejenak dan tidak memberikan pendapat apapun. “Via udah makan?” tanyanya lagi.
            “sudah kok Den. Saya juga sudah nyiepin makan malam buat Den Alvin”
            “makasih, Bi. Oya, 10 menit lagi saya turun buat makan malam. Tolong buatin teh
 hangat ya, Bi? Saya kedinginan, emm… seperti biasa, teh nya gak usah pake gula”
            “Baik, Den” jawab Bi Ningsih. Ia lalu kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan Alvin.
            Alvin setengah terkejut saat melihat Via berbaring diatas kasur miliknya dengan nyaman. Via terlihat pulas dan tenggelam dalam selimut yang hangat. Alvin menatap gadis itu untuk beberapa saat. Melihat Via tidur dikamarnya setiap kali hujan turun sudah menjadi kebiasaan baginya. Entah kenapa, gadis ini takut sendirian dikamar nya apabila hujan turun dimalam hari. Ia takut sekaligus benci mendengar suara hujan yang menurutya sangat berisik. Alvin berusaha mengerti meskipun pada awal nya ia merasa aneh dengan ketakutan yang Via rasakan itu.
            Alvin menutup pintu kamarnya dengan perlahan dan melangkah dengan hati-hati mendekati posisi tempat tidurnya. Ia seakan takut, kalau sedikit saja suara langkahnya akan membuat Via terbangun dan menyadari kehadirannya.
            Melihat Via yang tertidur dengan pulas dan nyaris tidak bergerak seperti orang mati, Alvin justru tersenyum mencibir. Ia mendesis lantas berkata, “cishh… katanya lo gak bisa tidur kalo hujan turun, tapi sekarang coba lihat? Lo malah mengkudeta kasur gue dan tidur dengan pules nya. Apa lo cewek modus?” Alvin nyaris saja mengusap puncak kepala Via –seperti yang biasa ia lakukan- kalau saja ia tidak cepat-cepat mengingat bagaimana kondisi hubungan mereka sekarang. Alvin sepertinya belum terbiasa dengan keadaan ini.
            Tangan kananya menggantung di udara sesaat sebelum ia menurunkannya dengan perlahan. Alvin menghela napas dalam-dalam. Seperti yang ia rasakan sejak kemarin, dada nya kembali terasa hampa tanpa udara. Sial! Sesak itu lagi-lagi ia rasakan.
            Alvin sudah akan berbalik pergi saat Via tiba-tiba saja mencegat pergelangan tangannya. Seketika Alvin membeku, jantungnya bahkan bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya saat merasakan tangan milik Via yang hangat menyentuh tangan dinginnya. Apa gadis ini mendengar perkataannya tadi? Apa gadis ini sudah terbangun atau hanya…
            “Alvin jahat! Alvin cowok paling jahat sedunia…” iguauan Via itu membuat pikiran Alvin terpotong. Dengan perlahan, ia pun memberanikan diri untuk membalik badan, dan apa yang ia temukan amat sangat melegakannya sekarang. Ternyata Via hanya mengigau, dan ia sedang dalam keadaan masih terlelap.
            Alvin tersenyum sekilas. Dengan gerak yang tidak kalah pelannya, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Via. Tapi yang masih tenggelam dalam mimpinya justru semakin mempererat cengkramannya. Ia kembali mengigau.
            “tolong jangan lepasin! Gue gak mau jauh dari lo.”
            Tidak salah lagi! Gadis ini pasti sedang bermimpi tentangnya sekarang.
            Dengan sangat hati-hati, Alvin mengambil posisi disamping Via. Ia duduk dan berharap semoga Via tidak terjaga dari tidurnya sekarang. Ragu-ragu ia mengangkat salah satu tangannya dan mendaratkannya dipuncak kepala Via.
            Dengan ajaib, segala rasa sakit yang ia tahan sejak kemarin berkurang secara otomatis saat tangannya menyentuh puncak kepala gadis itu. Alvin memejamkan matanya untuk menikmati rasa nyaman yang kembali ia dapatkan. Ia tahu, semua yang ia rasakan sekarang ini tidak akan bertahan lama sampai gadis ini terjaga lagi, tapi setidaknya Alvin masih bisa merasakannya lagi. Dan begini saja… begini saja sudah lebih dari cukup baginya.
            “Alvin brengsek!” Via mengigau lagi. Tapi Alvin tetap bergeming. Via mengatakannya brengsek? Ya… bukankah dia memang brengsek? Dia telah melukai perasaan gadis ini dengan sangat kejam.
            Alvin yang terdorong oleh luapan perasaannya menunduk dan secara perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Via yang hangat. Dan ketika wajahnya hanya berjarak beberapa inci saja, Alvin menghentikan pergerakan wajahnya, ia menatap wajah damai itu dan berpikir. Hati gadis ini begitu lembut, tapi dengan kejamnya ia justru menyakitinya dan meninggalkan sebongkah luka yang mungkin akan membekas untuk selamanya. Alvin benar-benar merasa jahat. Dan memang, ia adalah brengsek! Ia tidak akan menyangkalnya.
            Alvin pun menyentuhkan bibirnya dengan lembut pada bibir gadis itu. Ia menahannya sedikit lama dan membiarkan seluruh perasaannya mengalir.

            “maaf untuk semua maaf yang gak pernah bisa terucap…” lirihnya dengan penuh luka.




To Be Continued




4 comments:

  1. ditunggu lanjutannya kak :) keep spirit

    ReplyDelete
  2. Kak aku mau minta izin buat ngerepost cerita cerita kakak dan ngerubah main cast dari ceritanya buat aku post di wp, mohon izinnya ya kak:)

    ReplyDelete
  3. kak my miss u, lanjut dong kangen alvia��

    ReplyDelete