Jakarta,
13 Juni 1999…
Malam itu, Sylvia dan Geraldy terlihat duduk
diatas ranjang mereka sambil menimang anak kembar mereka yang sudah berusia dua
tahun. Gabriel terlihat pulas tidur dipelukan sang Mama, sedangkan Gissel
terlihat begitu nyaman dan damai dalam pelukan Papanya.
Sylvia terus berpikir sambil
membelai lembut kepala Gabriel dengan penuh kasih. Entah kenapa, pikirannya
tiba-tiba saja tertuju pada Yashinta, sahabatnya yang sampai hari ini
menghilang tanpa kabar apapun.
Sudah tiga malam berturut-turut,
Sylvia terus saja memikirkan Yashinta tanpa henti. sudah bertahun-tahun mereka
tidak bertemu, jujur saja, Sylvia sangat merindukan sahabatnya itu.
“Mi, apa yang sedang Mami pikirkan
sekarang?” tanya Geraldy sambil memeluk pundak isterinya dengan salah satu
tangannya.
“gak tau kenapa, Mami tiba-tiba
kepikiran Yashinta, Pi. Meskipun hanya sekali, Mami ingin ketemu dengan
Yashinta lagi, Mami mau minta maaf, Pi…”
“sejujurnya… Papi juga memikirkan
hal yang sama. Dengar-dengar dari salah satu relasi Papi, katanya beliau
melihat Yashinta di Jepang saat upacara peresmian Sorano Hotel, kata beliau
juga, Yashinta sudah menikah dan mempunyai seorang anak dengan pewaris tunggal
Sorano Group, Hoshi Sorano.”
Sylvia terlihat antusias. Matanya
tampak berbinar menahan haru.
“Pi… tolong bawa Mami ke Jepang.
Mami benar-benar ingin ketemu dengan Yashinta, Pi…”
Geraldy mengangguk beberapa kali dan
semakin mempererat pelukannya pada pundak Sylvia, “kita akan pergi ke Jepang.
Tapi tidak sekarang. Kita tunggu sampai Gabriel dan Gissel berusia 3 tahun…”
“tapi
itu terlalu lama…”
“tidak lama jika Mami mau lebih
bersabar lagi….”
♣♣♣
Kehidupan rumah tangga Geraldy dan
Sylvia berjalan nyaris sempurna kalau saja Danar Ganendra bisa menerima Sylvia
dan Gissel dengan baik. Sylvia sama sekali tidak mempermasalahkan kebencian
Ayah mertuanya itu padanya, yang ia sesali adalah, kenapa Danar Ganendra seolah
bersikap bahwa ia tidak pernah menganggap kehadiran Gissel ada sebagai cucunya.
Danar Ganendra selalu lebih memperdulikan Gabriel. Bahkan saat Gissel kecil
menangis karna ingin bermain dan bermanja dalam pangkuannya, Danar justru
bergeming.
Kenyataan itu membuat Sylvia kian
terluka. Dan hal yang paling Sylvia takuti selama beberapa tahun terakhir ini
akhirnya terjadi juga. Danar Ganendra benar-benar memaksanya untuk keluar dari
kehidupan Geraldy juga anaknya sendiri… Gabriel.
“jadi, bagaimana keputusanmu? Saya
sudah cukup bersabar selama beberapa tahun terakhir ini. Awalnya saya pikir
kamu tidak akan jadi penghalang dalam urusan bisnis saya, tapi semakin jauh,
kamu semakin menjadi duri disetiap jengkal langkahku…”
“Pa—“
“kamu tidak berhak memanggil saya dengan
dengan panggilan itu! Tinggalkan Geraldy dan Gabriel disini, lalu bawa pergi
anakmu dari rumah ini. Ini bukan tempat ‘duri-duri’ seperti kalian. Mengerti?
Sekali lagi saya tekankan, pergi sejauh
mungkin dan usahakan untuk tidak muncul lagi. Sebagai gantinya, aku akan
menjamin kehidupanmu dan anakmu ditempat persembunyian kalian. Atau jika kamu
tidak ingin pergi dan ingin tetap tinggal bersama Geraldy dan Gabriel, maka
sebagai bayarannya saya akan ‘membuang’ kalian semua dan membuat hidup kalian
sengsara… kamu tahu sendiri Sylvia, saya bukan tipe orang yang suka
bermain-main dengan perkataannya…”
Sylvia menunduk dalam mendengar
setiap perkataan tajam mengiris hati yang Danar Ganendra lontarkan. Sylvia
tidak pernah menyangka, bahwa Ayah mertuanya ini akan dengan tega dan kejam
membuangnya seperti ini. Airmatanya pun menetes sederas mungkin. Sebisa
mungkin, ia berusaha keras menahan isakannya agar tidak terdengar. Sekarang, ia
tidak memiliki pilihan lain selain harus… menyerah.
“aku akan pergi, seperti apa yang
Papa inginkan”
“sudah saya bilang, jangan panggil
saya dengan sebutan itu!!”
“setidaknya untuk yang terakhir
kalinya, Sylvia ingin memanggil Papa. Sylvia sangat menyayangi dan menghormati
Papa sekalipun Papa sangat membenci Sylvia. Dan nanti, saat Gissel sudah tumbuh
dewasa, akan Sylvia ceritakan padanya bahwa dia memiliki seorang Opa yang luar
biasa. Sylvia janji sama Papa… dan tolong, jaga Geraldy dan Gabriel sebaik
mungkin….”
“Akan saya pastikan saya akan
menjaga Geraldy dan Gabriel dengan sebaik mungkin. Maka dari itu kamu juga
harus memastikan, bahwa kamu dan anak perempuanmu itu tidak akan pernah muncul
lagi dihadapan saya, Geraldy dan Gabriel. Sekali kalian muncul, saya berjanji
hidup kalian akan hancur sehancur-hancurnya….”
Sylvia pun keluar dari ruang kerja
Danar Ganendra dan benar-benar pergi meninggalkan istana megah itu saat Gabriel
sedang tertidur dan ketika Geraldy masih dikantor. Sylvia hanya meninggalkan
sepucuk surat untuk Geraldy yang pada akhirnya menghancurkan hidup Geraldy
untuk selamanya. Ya… untuk selamanya.
♫♫♫
2
minggu setelah Gabriel mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan oleh
seluruh dunia, hidupnya seakan terhenti pada satu titik yang menjenuhkan.
Setiap pulang sekolah, ia selalu mengunci dirinya diruang rahasia mendiang sang
Mama. Tidak ada satupun yang tahu apa yang Gabriel lakukan didalam sana. Ia
bahkan tidak berbicara pada siapapun, terutama pada Opanya yang ia anggap telah
mencuri kebahagiaan masa kecilnya dan secara tidak langsung telah menghancurkan
kehidupannya.
Selama
2 minggu ini, Gabriel seperti mayat hidup yang berjalan. Separuh nyawanya
seakan hilang entah kemana. Yang lebih menyakitkan lagi, setiap hari ia bisa
melihat Via, saudara kembarnya. Tapi ia bahkan tidak bisa memeluk gadis itu dan
meluapkan segala kerinduan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun lamanya.
Gabriel merasa seperti ingin mati saja. dunia tempatnya berpijak seolah runtuh.
Dan
satu-satunya kekuatan yang ia miliki adalah, kenyataan bahwa adik kembarnya
masih hidup. Bagi Gabriel, setidaknya ada seseorang yang harus ia perjuangkan.
Dan setidaknya ia memiliki satu alasan agar tetap hidup.
Suara
ketukan pintu dari luar sana sama sekali tidak membuat Gabriel terusik. Sudah
hampir tiga kali asisten rumah tangga memanggilnya untuk mengingatkannya makan.
Sejak pagi tadi, Gabriel belum sama sekali menyentuh makanan. Tapi Gabriel
tetap bergeming ditempatnya. Hal itu
membuat Zahra –Kakak sepupunya- merasa sangat cemas. Dan Gabriel yang biasanya
sangat menurut pada Zahra, sekarang malah tak acuh dan membiarkan Kakak
sepupunya itu semakin cemas.
Gabriel
sudah terlanjur menulikan pendengarannya dan menumpulkan hatinya untuk tidak
memaafkan siapapun yang menjadi penyebab yang turut terlibat menghancurkan
kehidupannya yang sempurna.
Hari
hampir menjelang malam, tapi airmata itu belum juga mau surut. Gabriel menangis
bisu, tanpa suara, tanpa isakan. Dadanya kian sesak saat sekelebat bayangan
dari masa kecilnya yang bahagia menghantam sanubarinya dan menyeret kembali memori
itu. Selama empat belas tahun ia hidup seperti robot bodoh yang dikendalikan
oleh sang kakek, ia tidak berhak mengetahui apapun tentang Mama dan saudara
kembarnya. Lalu saat semuanya terbongkar, Tuhan justru telah memanggil Mamanya
terlebih dahulu, bahkan sebelum mereka dipertemukan, bahkan sebelum Gabriel
dapat memeluknya untuk yang terakhir kalinya.
Kenyataan
ini seakan memukul telak dadanya dan membunuhnya secara perlahan, amat
perlahan, dan sangat menyakitkan.
“sampai
kapan kamu akan terus menyiksa diri seperti ini, Gabriel?!” sebuah suara
baritone milik Danar Ganendra terdengar menggema didalam ruangan itu. Gabriel
serta-merta membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam.
“apapun
yang kamu lakukan sekarang, sekuat apapun kamu menyiksa diri, semua itu tidak
akan pernah bisa mengubah kenyataan yang sudah terjadi. Jadi, berhenti
bertindak konyol, keluar dari ruangan ini dan hadapi semuanya dengan berani!
Opa mendidik kamu untuk menjadi anak lelaki yang kuat, bukan justru menjadi
anak kecil cengeng yang terus menangisi kedaannya seperti ini!”
“setidaknya
Iel ingin menghukum diri sendiri…” pungkas Gabriel sambil menatap Danar
Ganendra dengan berani.
Danar
Ganendra terdiam dengan otot-otot diwajahnya yang tampak menegang.
“apa
yang kamu bicarakan, Gabriel?”
Gabriel
bangkit dari sofa usang yang sejak tadi ia duduki dan berdiri dengan tegak dan
menantang didepan Opanya.
“Iel
ingin menghukum diri Iel sendiri atas kebodohan dan ketidakberdayaan Iel selama
empat belas tahun ini…”
Itulah
ucapan terakhir Gabriel sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu dan
meninggalkan Danar Ganendra seorang diri disana.
Gabriel
sudah tidak ingin peduli lagi. Dan ia sudah terlalu lelah untuk mengalah.
♫♫♫
Sore
itu Rio dan Ify sedang belajar bersama dihalaman belakang rumah Ify untuk
persiapan menghadapi ujian Biologi besok pagi. Mereka berdua tampak focus
dengan beberapa materi yang sedang mereka bahas meskipun sesekali Rio terlihat
menggoda Ify.
“Rio
serius, ah!” protes Ify saat Rio terus menggodanya tanpa henti.
“gak
usah terlalu serius lah, Fy, santai aja. Toh kita bakalan naik kelas juga…”
ucap Rio enteng yang justru semakin menyulut kekesalan Ify.
“otak
aku gak sepinter kamu, Yo. Aku juga gak bisa sesantai kamu sekarang!” ketus Ify
dengan wajahnya yang tampak masam.
“lho,
kok jadi marah sih?”
“kamu
sih nyebelin” jawab Ify tidak kalah ketusnya sambil terus mencatat beberapa
istilah latin yang menurutnya lebih menyebalkan dari pacarnya ini.
“gak
usah ngambek! Nanti jelek. Pacarnya Arion Aristo gak boleh jelek…” sindir Rio
dengan jahil.
“It’s your problem, Rio…” balas Ify
dengan nada masa bodoh seraya melihat Rio sekilas. Ia lalu kembali mengalihkan
perhatiannya pada buku cetak biologinya.
Dan
tanpa mereka tahu, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dan
mendengarkan semua perbincangan mereka tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan.
Shilla
berjalan mundur dengan perasaan yang hancur lebur. Cukup lama ia memendam
perasaan pada Rio dan mengharapkan pemuda itu untuk membalas perasaannya. Tapi
apa yang justru ia dapatkan dari Rio? Rio bahkan tidak sedikitpun melihatnya
ada sebagai sosok seorang gadis yang menyimpan hati padanya. Rio hanya
menganggapnya tidak lebih dari seorang teman biasa yang juga merupakan mantan
pacar dari sahabatnya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, ternyata Rio memilih
Ify –yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri- menjadi
pacarnya.
Shilla
baru menyadari bahwa ada banyak hal yang luput dari kepekaan hatinya. Dan
sesuatu yang luput itu justru menghancurkan leburkan hatinya tanpa ampun.
Baru
saja Shilla akan berbalik pergi dan meninggalkan rumah Ify, seorang asisten
rumah tangga dikediaman itu justru menghampirinya, “Non Shilla kenapa gak
gabung sama Non Ify dan Den Rio?”
Rio
dan Ify serta-merta menoleh saat mendengar seseorang menyebutkan satu nama yang
sudah sangat familiar bagi mereka. Dan Ify kaget setengah mati saat kedua manic
matanya menangkap sepasang mata indah Shilla yang memerah dengan linangan
airmata yang tertahan sempurna dipelupuk matanya.
“Shi—Shilla?”
lirihnya setengah percaya setengah tidak. Ify lalu bangkit dari duduknya dan
berjalan cepat menghampiri Shilla dengan diikuti oleh Rio dibelakangnya.
“gu—gue
ada urusan lain. Gu—gue pamit dulu…”
Shill
akhirnya memutuskan untuk berpura-pura tidak melihat dan tidak mendengar
apapun. Sebisa mungkin ia juga berpura-pura terlihat kuat dan tegar untuk
menutupi perih dihatinya. Apapun yang terjadi, Shilla harus bisa melakukannya.
“gue
bisa jelasin semuanya, Shill…” Ify masih berusaha untuk menjelaskan.
“gu—gue
gak ngerti lo ngomong apaan, Fy. Gu—gue harus pergi sekarang…”
Rio
buru-buru mencekal pergelangan tangan Shilla saat Shilla baru saja akan
beranjak pergi. Untuk beberapa saat, Rio menatap kedua mata Shilla.
“gue
anterin…” ujarnya kemudian seraya mempererat genggaman tangannya.
Shilla
lalu menarik pergelangan tangannya dari genggaman Rio seraya menggelengkan
kepalanya beberapa kali.
“gue
udah pesen taksi. Dan satu lagi… untuk sementara ini gue mau sendiri. Jadi,
kalian berdua tolong jangan gangguin gue dulu…”
Shilla
akhirnya benar-benar pergi. Airmata yang sejak tadi mati-matian ia tahan
akhirnya menetes dan berdesakan keluar. Jantungnya seakan dipukul oleh sebuah
benda berduri. Dadanya terasa sesak dan sangat perih sekarang.
♫♫♫
Hari
sudah beranjak gelap. Hujanpun tiba-tiba turun dengan lebatnya. Padahal sore
tadi, tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa malam ini hujan akan turun
mengguyur sebagian kota. Para pejalan kaki yang beberapa saat lalu terlihat
berjalan dengan tenang disepanjang pinggir jalan mulai terlihat berlarian
mencari tempat berteduh. Dan Gabriel yang sejak tadi mengendarai mobilnya tanpa
arah dan tujuan yang jelas mulai memperlambat kecepatannya saat ia melihat
sosok yang ia begitu kenal berjalan dengan wajah sendu diantara rintikan hujan
dan diantara orang-orang yang terlihat berlalu-lalang mencari tempat berteduh.
Shilla
terlihat berjalan sendirian ditepi jalan seraya memeluk erat tubuhnya sendiri
yang tampak menggigil menahan dingin. Meskipun dari jarak yang lumayan jauh,
tapi Gabriel tahu pasti, bahwa mantan kekasihnya itu sedang menangis. Gabriel
lalu buru-buru menepi dan menghentikan mobilnya tepat disamping Shilla. Ia
lantas membuka kaca mobilnya,
“Shilla!”
panggilnya dengan cukup keras. Raut panic serta cemas mewarnai wajah manisnya.
Shilla
serta-merta menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Gabriel. Rasa cemas itu
kian menyeruak saat Gabriel melihat seraut wajah cantik itu memucat dengan
bibir tipisnya yang tampak membiru, “Shill, kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu
ujan-ujanan malem-malem begini?” ujar Gabriel dengan emosi dan rasa kalut yang
gagal ia bendung.
“Iel….”
Lirih Shilla dengan isakan yang coba ia tahan.
Tidak
ingin membuang-buang waktu lagi, Gabriel segera turun dari mobilnya dan menghampiri
Shilla, “Shill, kamu ken—“ sebelum Gabriel menyelesaikan pertanyaannya, secara
tiba-tiba Shilla memeluk Gabriel erat dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapan
Gabriel.
“Iel…
hiks hiks hiks…”
“kamu
kenapa, Shill?” Gabriel mengulang kembali pertanyaannya seraya dengan ragu-ragu
membalas pelukan Shilla dan membelai lembut rambutnya yang sudah basah terguyur
hujan. Tangis Shilla semakin kuat diiringi dengan guyuran hujan yang semakin
lebat membasahi tubuh mereka.
“hiks
hiks hiks… Rio, Yel… ternyata Rio udah jadian sama Ify. Sakit Yel, dada aku
rasanya sakit banget pas tau itu…”
Tanpa
sadar, kedua tangan Gabriel yang baru saja mendekap erat tubuh ramping Shilla
terlepas begitu saja. Memangnya apalagi yang lebih menyakitkan dari ini?
Seseorang yang sangat dia sayangi, menangisi laki-laki lain dalam pelukannya.
Hati Gabriel yang semula hancur karna rahasia yang selama ini disembunyikan
oleh Opanya dan kenyataan bahwa Mamanya telah meninggal dunia, kini kian hancur
karena menyaksikan bagaimana cara Shilla menangisi Rio.
Hatinya
nyaris tidak berbentuk lagi. Keadaan yang sangat kejam ini seakan membunuhnya
dua kali, secara bertubi-tubi.
“aku
gak tahu harus gimana sekarang, Yel. Aku gak tahu, hiks hiks hiks… tolongin
aku, Yel…”
Gabriel
memejamkan kedua matanya untuk meredam segala rasa sakit yang kini seakan
menyerangnya secara membabi buta dari segala arah. Gabriel menghela napas
dalam-dalam untuk menetralisir rasa sesak yang kian menyiksanya tanpa ampun. Ia
lalu berusaha menguatkan hatinya yang nyaris tidak tertolong dan kembali
memeluk tubuh ringkih Shilla dengan sekuat hatinya.
“semuanya
akan baik-baik aja, Shill. Selama ada aku disamping kamu, aku janji semuanya
akan baik-baik aja. Jadi, kamu gak perlu takut….”
♫♫♫
SIAL!!
Alvin mengumpat saat tahu ia kesiangan bangun. Waktu sudah menunjukan pukul
enam lewat lima belas menit saat ia membuka mata. Harusnya Alvin bangun tiga
puluh menit lebih awal untuk mempersiapkan diri. Hari ini adalah hari pertama
ujian kenaikan kelas, tapi ia justru telat bangun.
Pagi
ini semua persiapan Alvin benar-benar super kilat. Mengingat jarak sekolah yang
cukup jauh dari rumahnya membuat Alvin tidak bisa mengulur waktu lagi. Setelah
berpakaian, mengenakan sepatu, dan menyiapkan beberapa buku, Alvin segera
keluar dari kamarnya. Dalam waktu yang bersamaan, Via juga keluar dari kamarnya
dengan wajah yang tidak kalah panic nya dari wajah Alvin sekarang. Mereka
saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya lari terbirit-birit menuruni
anak tangga.
“Den
Alvin sarapannya!” ucap Bi Ningsih dengan nada cukup keras saat melihat Tuan
Mudanya yang berlari keluar rumah. Alvin tidak menggubris ucapan Bi Ningsih, ia
justru berteriak dan meminta Via untuk lebih cepat lagi.
“VIA
CEPETAN!”
“Iya,
iya…” jawab Via dengan napas tersengal seraya berusaha mengejar langkah Alvin.
“Non
Via!” Bi Ningsih buru-buru menghalangi Via dan memegang lengannya.
“ada
apa, Bi? Udah mau telat nih…” tanya Via sambil berusaha mengatur napasnya yang
terdengar memburu.
“tadi
sebelum Tuan dan Nyonya berangkat kekantor, mereka ninggalin pesan. Katanya
hari ini mereka bakalan ke Surabaya untuk 3 hari. Dan sore nanti, setelah
pulang sekolah, Den Alvin diminta untuk menjemput Non Angel di asrama…”
“iya,
Bi. Nanti Via sampein ke Alvin. Ya udah ya, Bi… Via berangkat dulu…”
“sarapannya?”
“nanti
aja! Sekarang kita udah mau telat…”
Via
kembali berlari dan menyusul Alvin yang sudah menunggu didalam mobilnya dengan
pandangan sebal. “lama amat! Ngapain aja sih lo?” tanya Alvin judes saat Via
sudah duduk dijok penumpang dengan napasnya yang terdengar memburu.
“hari
ini Mama sama Papa mau ke Surabaya. Dan tadi kata Bi Ningsih, nanti sore kita
disuruh jemput Angel di asrama”
Alvin
berdecak kesal. Arloji yang melingkar dipergelangan tangannya sudah hampir
menunjukan pukul setengah tujuh. Alvin
lantas menjalankan mobilnya tanpa mengucapkan apapun. Saat ini yang paling
penting adalah, ia harus tiba disekolah tepat waktu bagaimanapun caranya.
Tepat
sepuluh menit sebelum bel tanda masuk berkumandang, Alvin dan Via tiba
disekolah. Mereka berdua sama-sama menghela napas lega. Tapi itu tidak lama,
karena setelahnya Via menatap sengit kearah Alvin yang sejak tadi hanya
marah-marah disepanjang jalan.
“makanya
jangan marah-marah mulu! Liat tuh kita belum telat. Lagian jadi cowok lebay
banget sih” protes Via keki. Ia melipat kedua tangannya diperut dan membuang
wajahnya kearah lain. Baru semalam mereka resmi berpacaran, tapi sekarang apa?
Bukannya bersikap lembut pada Via, Alvin malah marah-marah.
“lo
marah?” tanya Alvin singkat dan terdengar nyaris tidak peduli.
“bukan
marah, tapi kesel! Pacar sendiri lo omel-omelin”
“PACAR?!”
Tanya Alvin sarkatis dengan raut wajah protes.
Ups!
Apa ada yang salah dengan ucapan Via barusan? Pikir Via sambil menutup mulutnya
dengan salah satu tangannya. Via tampak berpikir. Ia merasa tidak ada yang
salah, lalu kenapa Alvin justru menunjukan reaksi berlebihan seperti ini?
“kenapa?
Ada yang salah sama omongan gue?” Via memberanikan dirinya menatap kedua mata
Alvin dengan pandangan menantang dan menuntut.
“sejak
kapan lo jadi pacar gue?! Gak usah ngaco!”
Via
membelalak maksimal. Jadi intinya Alvin tidak menganggapnya pacar? Lalu yang
semalam itu apa? Atau apa kejadian semalam hanya bagian dari mimpinya? Tidak,
tidak mungkin. Semuanya terasa sangat nyata, bahkan sampai detik ini.
“kan…
kan se—semalem, e—lo bilang, elo sa—sa—sayang sama gue” ucap Via terbata.
Kekuatan yang sejak tadi terpatri dalam dirinya entah kenapa pupus begitu saja.
Alvin
tersenyum meremehkan. Ia tertawa meledek untuk beberapa saat lalu mengangkat
dagu Via hingga sepasang mata mereka kembali bertemu.
“gue
Cuma bilang gue sayang sama lo. Dan gue… gak pernah bilang kalo kita pacaran…”
Keterlaluan!
Alvin sudah benar-benar kelewatan batas sekarang. Jangan harap Via sudi
memaafkannya setelah Alvin mempermalukannya habis-habisan seperti ini.
Via
yang sudah merasa tidak punya muka lagi dihadapan Alvin segera menepis tangan
Alvin dari dagunya. Tapi baru saja ia akan membuka pintu, Alvin malah menarik
salah satu tangannya dan menahannya. “lepas! Gue mau keluar.” Titah Via sambil
berusaha memberontak dari kungkungan Alvin.
“hahaha…
just kidding, Gisselavia” kata Alvin
pada akhirnya setelah cukup lama berusaha mati-matian menahan tawanya.
“APA?!”
Kaget Via. Alvin tidak hanya mempermalukannya, tapi juga membuatnya benar-benar
merasa sangat bodoh sekarang. Alvin mengusap puncak kepala Via dengan sayang.
Seumur hidupnya, bagi Alvin, ini kali pertamanya ia bisa bercanda selepas ini.
“marahnya
ditunda aja sampai nanti. Sekarang kita cepet-cepet kekelas. Bentar lagi bel,
lho…” ucap Alvin dengan nada super lembut yang sukses meluluh-lantakkan hati
Via hanya dalam hitungan detik. Via yang beberapa saat lalu merasa sangat marah
pada Alvin sekarang justru terlihat biasa saja. Via tersipu malu untuk sesaat
sebelum akhirnya ia mengingat sesuatu. Dan sebelum Alvin keluar dari mobil,
giliran Via yang menahan salah satu tangan Alvin.
“kenapa
lagi?” tanya Alvin bingung.
“tadi
lo ngingetin gue sesuatu”
“apa?”
“kalo
semalem… elo belom nembak gue. Lo Cuma bilang, kalo lo… sayang sama gue. Dan
lo… belom minta gue buat jadi cewek lo, jadi—“
“jadi
lo minta gue tembak sekarang?!” sela Alvin sebelum Via sempat menyelesaikan
kalimatnya. Dengan muka polosnya Via menganggukan kepalanya. Alvin terkekeh
lalu menoyor pelan kepala Via, yang kemudian langsung disambut oleh tatapan
sebal dari Via.
“lo
musti inget, kita udah mau kelas dua belas sekarang, dan kita bukan anak SMP
lagi yang mainnya tembak-tembakan. Cukup lo tahu kalo gue sayang sama lo, dan
gue tahu lo sayang sama gue, ya udah kita jalan. Gak perlu tuh pake
tembak-tembakan segala, menurut gue, itu tuh childish banget, dan kalo lo beneran sayang sama gue, lo harus
ikutin aturan main gue, mengerti Nona?”
Seperti
seorang anak kecil lugu yang mengikuti perintah sang Ayah, Via hanya mengangguk
tanpa mengajukan protes apapun lagi. Perkataan terakhir Alvin cukup
‘menamparnya’. Ia baru mengerti, ternyata seorang Calvin Nicholas tidak hanya
dewasa dalam perkataan, tapi juga dalam sikap dan prilaku. Dan hal yang baru
saja ia mengerti itu justru menyentak kesadarannya, bahwa sikapnya dan sikap
Alvin amat berseberangan satu sama lain. Dan ia takut, hal itu justru akan
menjadi boomerang bagi mereka
dikemudian hari.
Dan
Via mulai ragu, apakah Alvin akan bisa menerima sikapnya atau justru menyerah
pada sikap kekanak-kanakannya.
♫♫♫
Ify
menunggu Shilla dengan risau didepan ruang ujiannya. Tujuannya ada disana
sekarang tentu saja untuk menjelaskan semuanya pada Shilla. Ia tidak ingin
Shilla terus membencinya. Dan ia tidak ingin persahabatannya dengan Shilla pada
akhirnya hancur. Sebenarnya Rio sudah meminta Ify untuk tidak menemui Shilla
sendiri. Rio juga meminta supaya Ify memberikan Shilla waktu untuk berfikir
seperti apa yang dia minta, tapi Ify sudah benar-benar tidak sabar.
Sudah
hampir sepuluh menit Ify menunggu didepan ruangan itu, tapi hingga sekarang,
Shilla belum juga menampakan tanda-tanda kehadirannya. Dan tepat lima menit
sebelum bel tanda masuk berbunyi, Ify akhirnya melihat sosok Shilla yang
terlihat berjalan lunglai diantara kerumunan siswa-siswi lainnya. Meskipun dari
jarak yang cukup jauh, tapi Ify dapat menangkap ada kesedihan yang mendalam
dikedua mata jernih itu. Dan sialnya, Ify sendirilah yang menyebabkan kesedihan
itu.
Ify
buru-buru menghampiri Shilla. Ia meraih salah satu tangan Shilla dan
menghalangi jalannya, “Shill, kita harus ngomong!”
Shilla
menarik kasar tangannya dari genggaman Ify lalu kembali berjalan dan melewati
Ify begitu saja. Hatinya sudah terlanjur sakit, dan ia sudah terlanjur merasa
dikhianati. Sekalipun sangat ingin, tapi sulit bagi Shilla untuk bisa memaafkan
Ify.
“Shill…
please sekali ini aja dengerin gue.
Kita berdua bener-bener butuh bicara”
Ify
lagi-lagi menghalangi Shilla. Kali ini Shilla tidak melawan, ia melipat kedua
tangannya diperut dan menatap Ify datar.
“gue
minta maaf karna gak bisa jujur sama lo, gue—“
KRIIIIIING!!
Bel tanda masuk berkumandang panjang sebelum Ify menyelesaikan pembicaraannya.
Shilla menghela napas seraya menatap Ify dengan salah satu alis terangkat.
Shilla terdiam untuk beberapa saat, dan setelah bel tidak lagi berbunyi, Shilla
lantas berkata, “masuk kelas gih. Dan kerjain ujian lo dengan baik”
Shilla
kembali melangkah tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Dan Ify hanya menatap
kepergian Shilla tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Shilla ternyata benar-benar marah
padanya. Tidak, Shilla tidak hanya sekedar marah padanya, tapi Shilla sudah
benar-benar kecewa padanya, dan mungkin sangat kecewa.
♫♫♫
Sial!
Alvin benar-benar tidak mengacuhkan Via selama disekolah. Dihadapan
teman-temannya dan dihadapan semua orang, Via seakan tidak kasatmata bagi
Alvin. Bahkan tadi, saat Via berusaha menggandeng tangannya, Alvin malah
menepis tangan Via begitu saja. Via kesal, saat jam istirahat tiba, Alvin
bahkan lebih memilih berkutat dengan bukunya sendiri, ia tidak mengijinkan Via
menemaninya belajar seperti pasangan-pasangan lain pada umumnya. Hari ini,
Alvin benar-benar membuatnya gondok setengah mati. Jika bisa, rasanya Via ingin
mengenyahkan Alvin dari muka bumi ini. Via benar-benar muak.
Dihari
pertama mereka jadian saja Alvin sudah sangat menyebalkan, bagaimana nanti?
Via
duduk sendirian ditepi lapangan basket. Teman-temannya, Ify, Shilla dan Agni
terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Via tidak enak jika harus
menganggu kesibukan teman-temannya itu.
Dari
seberang lapangan yang berhadapan langsung dengan perpustakaan, Via dapat
melihat Alvin dari kaca jendela yang terlihat focus membaca sebuah buku cetak.
Dan melihat bagaimana cara Alvin bersikap hari ini justru membuat Via kembali
berpikir, kenapa ia harus menerima Alvin jadi pacarnya semalam? Kenapa Via
tidak meminta waktu untuk berpikir? Ergh! Via merasa benar-benar bodoh
sekarang.
Via
tiba-tiba tersentak saat seseorang melemparkan bola basket kearahnya dan jatuh
tepat dibawah kakinya. Via mengambil bola basket itu lalu mengangkat wajahnya.
Saat itu, Cakka sudah berdiri tepat dihadapannya seraya menatap kedua mata Via
dalam-dalam.
Via
lalu mengangkat wajahnya, berusaha terlihat tenang dan langsung melempar bola
itu kearah Cakka. Saat itu juga, Cakka tersenyum dengan kesan meremehkan.
“lo
mau main sama gue, gak?” tanya Cakka dingin. Sepertinya Cakka masih menyimpan
kecewa atas penolakan Via tempo hari. Cakka mem-passing bola itu yang langsung ditangkap dengan sangat baik oleh
Via.
“daripada
main, mending lo belajar buat ujian biologi nanti” Via mem-passing kembali bola itu kearah Cakka.
Saat
Via sudah berbalik pergi dan akan melangkahkan kakinya, Cakka kembali buka
suara.
“kalo
lo bisa ngalahin gue sekarang, gue pastiin gue bakalan ngelepasin lo. Tapi kalo
gak… yang terjadi justru sebaliknya. Gue… gak akan pernah ngelepasin lo”
“gak
usah ngaco!”
“dan
kalo nolak, berarti lo ngaku kalah, dan secara gak langsung, elo sendiri yang minta
gue buat tetep memperjuangkan lo”
Via
diam berpikir. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
♫♫♫
Alvin
tersenyum kecil saat melihat Via yang duduk sendirian dipinggir lapangan basket
dengan muka sebalnya. Entah kenapa, Alvin selalu merasa terhibur saat melihat
muka sebal yang Via tampakan. Tanpa sepengetahuan gadis yang kini resmi menjadi
miliknya itu, Alvin selalu diam-diam memperhatikannya, dan meskipun terkesan
cuek, Alvin sangat peduli dengan segala hal menyangkut gadisnya itu. Bagi
Alvin, sekarang Via adalah dunianya. Hanya dengan gadis itu berada
disampingnya, Alvin tidak takut pada apapun. Dan bisa memiliki Via seutuhnya
sudah lebih dari cukup bagi Alvin. Maka Alvin sudah tidak menginginkan apapun
lagi.
Saat
tengah asyik memperhatikan Via, Via tiba-tiba saja melihat kearah Alvin. Tidak
ingin tertangkap basah sedang memperhatikannya, Alvin buru-buru mengalihkan
pandangannya kearah buku yang sejak tadi ada ditangannya. Dan Alvin sangat
pandai dalam berakting, buktinya sekarang, Via percaya begitu saja bahwa Alvin
benar-benar tidak melihatnya… sama sekali. Alvin berdehem pelan dan berusaha
mengatur detak jantungnya yang mulai belingsatan. Hufht… hampir saja.
Saat
Alvin kembali mengangkat wajahnya dan melihat kearah Via, secara tiba-tiba
Cakka dan Via sudah berdiri berhadapan seraya saling mengoper bola basket satu
sama lain. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Merasa ada yang tidak
beres, Alvin segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari perpustakaan.
♫♫♫
“gak
ada yang boleh tanding basket!!”
Satu
suara dari belakang Via membuat Cakka dan Via sama-sama terkejut dan melihat
kearah sumber suara. Kedua mata Via terbelalak maksimal saat melihat sosok
Alvin yang berdiri dengan cool
dibelakangnya sambil memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong
celananya.
“Via!
Apa lo udah ngerasa pinter sekarang? Kenapa lo malah nongkrong disini dan
bukannya pergi belajar sama Ify dan Agni?” tanya Alvin dengan tegas sambil
menatap tajam kearah Via. Via yang awalnya kaget sekarang akhirnya bisa
bernafas lega. Mungkin Alvin tidak menyadarinya, tapi cowok es itu sudah
menyelamatkannya kali ini.
“gu—gue…”
Via tampak gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya sambil menatap bingung kearah
Alvin dan sesekali menatap Cakka yang terlihat membeku ditempatnya.
“dan
lo Cakka! Apa lo udah siep dapet hukuman dari bokap lo karna nilai lo
disemester ini?” Alvin menatap sengit kearah Cakka, begitu juga dengan Cakka.
Entah kenapa, Cakka mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dibalik semua ini.
Setelah
cukup lama diam dalam ketegangan, Alvin lantas menarik salah satu tangan Via
dan membawanya pergi dari hadapan Cakka. “ikut gue!”
Cakka
menatap Alvin dan Via yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
Biasanya Alvin mengerti dengan apa yang Cakka mau, tapi kenapa sekarang Alvin
seolah tidak tahu apapun dan dengan seakan dengan sengaja menghancurkan
rencananya. Pasti ada yang tidak beres! Fikirnya.
Cakka
mencengkram kuat tangan kananya. Dengan pelan ia bergumam,
“gue
pastiin ini yang terakhir!”
♫♫♫
Via
tersipu saat melihat tangannya yang berada dalam genggaman Alvin. Ia terus
berjalan mengikuti Alvin dibelakang sambil membekap mulutnya dengan salah satu
tangannya yang bebas. Jantungnya berdegub dengan sangat kencang saat Alvin
mengenggam erat tangannya. Alvin lalu menghentikan langkahnya dan menatap Via
dengan kesal,
“lo
apa-apaan sih? Bukannya belajar malah keliaran. Gue gak mau tanggung jawab ya
sama Mama dan Papa kalo sampe nilai lo jelek. Bisa gak sih, sehariiii aja lo
gak usah nyusahin gue?”
Jika
biasanya Via melawan saat dimarahi oleh Alvin, maka kali ini Via terlihat
menerima, bahkan dengan senang hati. Bukan karna apapun, hanya saja genggaman
tangan Alvin pada tangannya membuat ia tidak bisa berpikir dengan baik. Via
terlalu senang hingga tidak menyadari bahwa saat ini Alvin sedang memarahinya
habis-habisan.
Merasa
ada yang ganjal dengan sikap gadis ini, Alvinpun merasa aneh. Ia bahkan belum
menyadari bahwa saat ini tangan mereka saling bertaut satu sama lain. Dan saat
Alvin mulai menyadarinya, ia terlihat salah tingkah dan berusaha melepaskan
tangannya. Tapi Via tidak membiarkannya begitu saja, Via menahan tangan Alvin
sekuat yang ia bisa.
Pada
akhirnya Alvin mengalah. Toh ia juga merasa nyaman dengan kedaan ini. Dan Alvin
tidak ingin membohongi perasaannya. Untuk beberapa saat, Alvin dan Via saling
menatap dalam diam. Via tersenyum sangat manis, sementara Alvin, ia hanya
menampakan wajah dinginnya untuk menutupi segala rasa tidak terjelaskan yang
kini yang berkecamuk didadanya.
“ehem…”
Gabriel
tiba-tiba saja muncul diantara mereka sambil berdehem keras. Alvin yang kaget
dengan kehadiran Gabriel buru-buru melepaskan genggamannya dari tangan Via.
Seketika Via langsung mencelos dengan apa yang Alvin lakukan baru saja. Yang
Via tangkap adalah, Alvin seakan-akan sengaja menyembunyikan hubungan mereka.
“ngapain
kalian disini? Berduaan lagi” tanya Gabriel dengan tatapan menyelidik.
Pandangan mata elang milik Gabriel terhenti diwajah Via. Gabriel bahkan belum
bisa mempercayai bahwa saat ini, ia sedang berhadapan dengaan saudara kembarnya
sendiri, tapi yang menyakitkan bagi Gabriel adalah, ia justru tidak bisa
memeluk Gissel-nya dan mengatakan bahwa ia sangat merindukannya.
“siapa
yang berduaan?” tanya Alvin dingin.
Tanpa
mengucapkan sepatah katapun pada kedua orang itu, Via akhirnya memilih untuk
hengkang terlebih dahulu. Dan baru saja Alvin akan menyusul Via, Gabriel malah
menghalangi langkahnya. Kali ini giliran Alvin yang menatap Gabriel dengan
bingung. Sementara Gabriel, ia terlihat tetap tenang sambil memamerkan evil smile-nya.
“gue
tahu, lo dan Via bukan saudara sepupu!”
Alvin
terkejut bukan main. Darimana Gabriel tahu rahasianya ini? Ini gila.
Benar-benar sangat gila!
♫♫♫
Ujian
biologi sudah berakhir, dan melegakannya lagi, Via dapat menyelesaikan
soal-soal dengan baik. Ia berani jamin hasilnya nanti pasti akan memuaskan, dan
Alvin tidak akan memiliki alasan lagi untuk memarah-marahinya. Dan jika nanti
ia mendapatkan nilai yang memuaskan pada Ujian Kenaikan Kelas ini, Via
bersumpah akan meminta hadiah pada Alvin.
Via
membereskan barang-barang yang ada diatas mejanya dengan terburu-buru, kelas
sudah sepi dan hanya ada Via seorang yang tertinggal didalamnya. Saat semuanya
sudah beres, Via pun keluar dari kelasnya. Tapi seseorang yang tiba-tiba saja
datang dan muncul dipintu membuatnya tercengang dan secara otomatis
menghentikan langkahnya. Via mundur selangkah. Jantungnya mendadak berdegub
dengan sangat kencang. Rasa aneh yang selama ini membayanginya dalam rasa takut
kembali muncul.
“se—sedang
apa anda disini?” tanya Via terbata.
“Gisselavia
Garnetta… apa kabar, Nak?” sapanya kemudian dengan sangat ramah dan bersahabat.
Ia tersenyum
hangat dan membuat hati siapa yang melihatnya akan menjadi tenang. Dialah Danar
Ganendra, yang kini sedang menemui cucu nya setelah cukup lama bersembunyi.
♫♫♫
Alvin
menggeram marah. Sudah 5 kali ia mencoba menghubungi Via, tapi tetap saja tidak
ada jawaban apapun. Alvin lantas melirik arlojinya dan melihat waktu yang saat
itu sudah menunjukan pukul setengah satu siang. Ujian sudah berakhir sekitar
setengah jam yang lalu, sekolah bahkan hampir sepi, lalu kemana perginya gadis
ceroboh itu? Memangnya dia pikir dia siapa bisa dengan seenaknya membuat Alvin
menunggu seperti ini?
Alvin
yang sudah tidak bisa lagi membendung rasa kesalnya pada akhirnya memutuskan untuk
menyusul Via keruangannya yang terletak dilantai tiga. Baru saja ia menginjakan
kaki dilantai dua, Alvin tahu-tahu berpapasan dengan seorang siswa yang ia
ketahui adalah teman satu ruangan Via di Ujian Kenaikan Kelas semester ini.
Alvin memanggil namanya dan menghentikannya.
“Irsyad!
Lo liat Via gak?”
Cowok
berwajah manis dan berkulit agak gelap itu terlihat berpikir untuk sejenak
sebelum akhirnya menjawab.
“tadi
setelah ujian dia diem dikelas. Setau gue, Via yang terakhir keluar dari kelas”
“hah?
terus sekarang masih dikelas?” tanya Alvin berusaha untuk tetap tenang.
“gak
tau juga! Tapi coba lo cek deh” jawab Irsyad seadanya yang sama sekali tidak
memberikan petunjuk yang ‘membantu’ untuk Alvin.
Alvin
yang tidak mau ambil pusing lagi kembali
melanjutkan langkahnya. Dengan setengah berlari ia menyusuri anak tangga untuk
mencapai lantai 3. Dan saat ia tiba diruang ujian Via, Alvin tidak menemukan
siapapun, kecuali seorang cleaning
service yang sedang membersihkan ruang kelas. Jujur saja, firasat Alvin
mendadak tidak enak.
“Pak
Anas, Pak…” panggil Alvin dengan tergesa-tergesa sambil menghampiri Pak Anas
yang sedang sibuk membersihkan ruang kelas.
“ada
apa?” tanya Pak Anas singkat sambil menghentikan sejenak aktifitasnya.
“Pak
Anas liat ada siswi gak tadi dikelas
ini?”
“siswi?
Maksud Den itu, Neng Via?”
“iya.
Pak Anas liat Via gak?”
“tadi
sih saya sempat melihat Neng Via dari jauh. Neng Via masuk kesebuah mobil sedan
dengan seseorang yang kelihatannya sudah
lanjut usia?”
“hah?
siapa?” kaget Alvin.
“saya
gak tau, Den…”
Saat
Alvin nyaris frustasi karna rasa cemasnya, ia tiba-tiba saja dikejutkan oleh
getaran ponselnya. Alvin sedikit tersentak lalu buru-buru mengecek sms-nya. Dan
ternyata… Alvin mendapatkan sms dari Via. Gadis yang saat ini berhasil
membuatnya diliputi oleh rasa cemas yang teramat sangat.
From:
Gisselavia Garnetta
Maaf
gue gak angkat telfon lo.
Pak
Danar Ganendra tiba-tiba aja dateng
Dan
ngajak gue ke suatu tempat.
Katanya
ada hal penting yang harus beliau omongin sama gue.
Untuk
saat ini cukup sms aja, gak usah nelpon.
Gue
gak enak sama Pak Danar.
Sekali
lagi maaf.
Danar
Ganendra? Jika itu benar Danar Ganendra berarti sekarang Via sedang bertemu
dengan Opa nya. Pikiran Alvin semakin kacau saat mengingat perkataan kedua orangtuanya
mengenai Danar Ganendra dan Via.
‘Danar Ganendra bisa saja melakukan hal
tidak terduga pada Via. Sekalipun Via adalah cucunya, tetap saja Danar Ganendra
menganggapnya sebagai benalu yang harus disingkirkan. Jadi sebisa mungkin, kita
harus merahasiakan identitas Via dari siapapun. Karna Cuma dengan cara itu kita
bisa terus melindungi Via, Alvin…’
DAMN!
Alvin mengumpat dalam hati lalu segera berlari keluar hendak menyusul Via. Ia
takut, benar-benar takut jika Danar Ganendra berbuat sesuatu yang tidak
diinginkan pada Via. Alvin bersumpah, ia tidak akan pernah membiarkan Danar
Ganendra melukai Via sedikitpun. Alvin akan melindunginya dengan segala cara
yang ia bisa.
Gabriel
yang sejak tadi berdiri didepan kelas dan mendengarkan obrolan yang terjadi antara
Pak Anas dan Alvin pun langsung merasa ada yang tidak beres dengan semuanya.
Gabriel lalu buru-buru menghubungi seseorang via telefon. Setelah menemukan
nama yang ia cari pada contact list-nya,
Gabriel langsung saja mengetuk tombol hijau pada layar ponsel touch screen-nya.
“Opa
sekarang lagi dimana? Sama siapa?” tanya Gabriel pada seseorang disebrang sana
dengan nada suara bergetar. Karna tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan
dan setelah mengetahui bahwa saat ini Opanya sedang bersama Via, Gabriel
semakin tidak sabar dan berteriak dengan keras.
“AKU
TANYA SEKARANG KALIAN DIMANA??”
To Be Continued...


0 comments:
Post a Comment