Malam itu Cakka terlihat tengah
duduk diatas panggung sebuah Café yang biasa ia kunjungi jika ia sedang merasa
suntuk. Cakka memegang sebuah gitar lalu memetiknya dengan penuh penghayatan.
Cakka memainkan lagu Cinta Sejati dari miliknya Ari Lasso. Lirik demi lirik
lagu mellow itu langsung menyeret segala ingatan Cakka tentang Sivia. Tidak ada
satupun yang tahu bahwa saat ini Cakka sedang terluka. Cakka sangat pintar
menyembunyikan kesakitannya dengan begitu rapi.
Cakka yang sudah sejak lama begitu
mencintai Sivia malah harus dengan terpaksa merelakan Sivia begitu saja untuk
Alvin. Pria yang sangat Sivia cintai. Pria yang adalah cinta pertama bagi
Sivia. Dan semua itu Cakka lakukan hanya semata-mata demi kebahagiaan Sivia.
Dan Cakka sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang kini menderanya.
“Aku jatuh cinta padamu… sejak
pertama kita bertemu….
Diam menghuni relung hati kau tak
pernah perduli….”
“Kenalin
aku Sivia, kamu panggil aja Via….”
Cakka
menatap wajah Sivia kecil untuk beberapa saat lalu mengalihkan tatapannya pada
tangan Sivia yang masih terulur. Cakka menghela nafas panjangnya dan langsung
saja menepis tangan Sivia yang terulur.
“aku
nggak mau kenalan sama anak cewek. Aku nggak mau punya temen anak cewek…” Cakka
pun berlari dan meninggalkan Sivia begitu saja. Sivia menatap sosok Cakka yang
semakin lama semakin jauh dari pandangannya dengan tatapan heran.
“Tuhan… mengapa kau anugerahkan…
Cinta yang tak mungkin tuk bersatu…
Kau yang tlah lama kucintai…
Ada yang memiliki….”
“please,
sekarang juga tatap mata gue, dan bilang kalo lo sangat benci sama Alvin…”
Sivia menghela nafas panjang, ia
menegakkan kepalanya lalu dengan berani menatap kedua mata Cakka. Sivia
berusaha meyakinkan hatinya. Beberapa saat kemudian…
“Gue jatuh cinta sama dia, Kka….”
“Cinta sejati… tak akan pernah mati….”
“Cakka
nggak usah macem-macem! Gue nggak suka kucing…” ucap Sivia ketakutan saat Cakka
dengan sengaja membawakannya seekor kucing. Ketika itu mereka baru menginjak
kelas 2 SMP. Cakka tidak sedikitpun mengindahkan ucapan Sivia. Dengan jahilnya
Cakka semakin mendekati Sivia dengan membawa kucing itu.
“CAKKKAAAAA……!!!!”
Teriak Sivia kencang-kencangnya, seketika itu juga tawa Cakka langsung pecah.
“selalu menghiasi…. Ketulusan cinta
ini….”
Sivia
meloncat kepunggung Cakka yang saat itu tengah sibuk memandikan motor
kesayangannya. Dengan sigap Cakka pun memegangi Sivia agar tidak terjatuh dari
atas punggungnya.
“bawel,
lo tu ya… seneng banget bikin gue jantungan” kata Cakka kesal. Sivia hanya bisa
tertawa melihat Cakka mengomelinya seperti itu.
“Jalan hidup tlah membuat kita….
Harus senantiasa bersama…
Lewati segala suka duka…
Tiada cinta bicara…”
“Tanpa
keraguan sedikitpun Sivia mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh pipi mulus
Alvin dengan lembut.
“ada yang bilang, kalo lo keliatan
sangat tampan dan keren disaat lo sedang cemburu…” Sivia tertawa kecil dan
kembali menunduk.
“Cinta sejati… tak akan pernah mati…
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini…”
Semua
kenangan yang telah ia lalui bersama Sivia selama ini malah semakin membuat
dada Cakka sesak. Ia merasa tertekan dari segala arah. Bagi Cakka lebih gampang
melakukan apapun daripada harus melepaskan Sivia untuk Alvin.
Akan
tetapi, Cakka harus tetap melakukan hal itu demi kebahagiaan Sivia. Cakka tidak
ingin egois dengan perasaan yang saat ini ia rasakan. Dan Cakka semakin tidak
bisa menghindari kegetiran hatinya saat secara tiba-tiba bayangan Alvin dan
Sivia menyeruak dibenaknya. Sedang apa mereka berdua mala mini? Apa mereka
bahagia?
Cakka
pun melanjutkan nyanyiannya…
“Cinta sejati… tak akan pernah mati…
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini…
Dan kau selalu…. Hanya diam membisu
Meskipun kau tahu betapa dalam cintaku….”
Cakka menghela nafas panjangnya. Ia tahu ia
kuat, ia tidak akan menitikkan setetespun air matanya. Cakka ikhlas melakukan
semua ini. Demi Tuhan Cakka ikhlas.
“Aku jatuh cinta padamu….”
Cakkapun
akhirnya menyelesaikan lagunya. Bersamaan dengan itu Cakka menutup segala ingatannya
tentang kenangannya bersama Sivia.
“PROK…PROK…PROK….”
Suara tepuk tangan dari bawah panggung tiba-tiba saja membuat Cakka terkesiap.
Cakka yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya. Dan kedua manik
mata Cakka langsung menangkap sosok seorang Gadis Ayu yang saat itu tengah
tersenyum padanya sambil tetap bertepuk tangan. Cakka tersenyum kecil membalas
senyuman manis Gadis Ayu itu.
^_^
Setelah
makan malam bersama disebuah restoran, Alvin dan Siviapun kembali melanjutkan
perjalanan mereka. Malam ini Sivia sudah berniat untuk mengajak Alvin pergi
kesuatu tempat.
Alvin
yang sejak sore tadi masih sangat kesal pada Sivia sama sekali tidak
mengeluarkan sepatah katapun saat mereka bersama. Bahkan menatap wajah Sivia
saja Alvin enggan. Bagaimana tidak kesal? Sampai detik ini Sivia masih
menggantungnya dan belum mau memberikan jawaban apapun.
Bukannya
merasa bersalah dengan sikap Alvin padanya, Sivia malah tenang-tenang saja.
Bahkan Sivia merasa lucu dengan sikap Alvin saat ini. Dan jujur saja, Sivia
paling suka melihat Alvin ngambek seperti ini.
Tapi
dibalik sikapnya yang tenang itu, Sivia sama sekali tidak bisa menyembunyikan
bagaimana perasaan hatinya saat ini. Sivia sangat bahagia saat tadi dilapangan
Alvin menyatakan cintanya dan menyampaikan semua kejujuran hatinya selama ini.
Sivia bahagia karna ternyata Alvin membalas perasaannya. Hanya saja Sivia
sedang mencari waktu yang tepat untuk
menjawab pertanyaan Alvin.
Sivia
ingin menguji seberapa kuat perasaan cinta Alvin kepadanya. Sivia ingin lebih
diyakinkan lagi. Hanya itu dan semuanya akan baik-baik saja.
Setelah
menempuh perjalanan selama beberapa menit akhirnya tibalah mereka disuatu
tempat yang sebenarnya merupakan tujuan Sivia. Ternyata Sivia membawa Alvin ke
Bukit, tempat favoritnya bersama Cakka. Sivia turun dari atas motor Alvin lalu
berdiri menghadap Alvin. Dengan wajah polos tanpa dosanya, Sivia tersenyum
sangat manis pada Alvin,
“turun
yuk! Ikut sama gue”
“tempat
apaan nih?” Tanya Alvin dingin sambil melihat kesekeliling bukit itu dengan
pandangan bertanya.
“ini
tempat terindah yang pernah Tuhan ciptakan” jawab Sivia sekenanya. Tanpa
menunggu reaksi Alvin selanjutnya, Siviapun berjalan terlebih dahulu menaiki
bukit yang tidak terlalu tinggi itu.
Alvin
berdecak kesal. Kenapa juga Alvin harus jatuh cinta pada Gadis aneh dan jelek
macam Sivia? Alvin membuka helmnya, ia turun dari atas motornya lalu berjalan
mengikuti Sivia dari belakang dengan setengah hati.
Saat
ini Alvin dan Sivia sudah duduk berdampingan diatas bukit sambil melihat
pemandangan kota yang gemerlap dan terlihat begitu indah dari atas bukit. Alvin
tidak bisa menampik bahwa bukit ini adalah tempat terindah yang pernah ia
kunjungi. Tapi Alvin enggan mengakui itu dihadapan Sivia. Alvin pun akhirnya
berusaha terlihat biasa-biasa saja dihadapan Sivia.
Alvin
melirik kearah Sivia yang saat itu masih betah melihat pemandangan kota dari
atas bukit sambil tersenyum. Alvin menatap Sivia lama. Dan ia memperhatikan
wajah Sivia sebaik mungkin. Pada kenyataannya Gadis yang ada disampingnya ini
tetap saja terlihat sangat cantik meskipun dilihat dari sisi manapun. Dan meski
agak berat, Alvin harus mengakuinya. Mengakui kecantikan dari seorang Gadis
yang hari ini nyaris saja menjadi miliknya.
Sivia
mendesah pelan, secara tiba-tiba ia berkata,
“gue
cantik banget ya sampe lo ngeliatinnya kayak gitu?”
Alvin
terkesiap lalu buru-buru mengalihkan pandangannya.
“pede
lu!” sinis Alvin. Kali ini Sivia melirik kearah Alvin.
“lo
masih marah sama gue?”
“menurut
lo??”
“marah”
jawab Sivia dengan polos.
“bagus
kalo lo tau!” ucap Alvin keki.
Sivia
tersenyum sejenak. Beberapa saat kemudian Sivia menggeser posisinya hingga
berdekatan dengan Alvin. Menyadari bahwa posisinya saat ini sudah sangat dekat
dengan Sivia, Alvin berusaha terlihat santai. Dia tidak sedikitpun melihat
kearah Gadis itu.
Tanpa
Alvin duga-duga sebelumnya, Sivia melingkarkan lengannya dilengan Alvin. Secara
perlahan Sivia merebahkan kepalanya dipundak Alvin.
“lo
tau, Nyuk? Udah lamaaaa banget gue pengen kayak gini sama lo, dan masalah tadi,
gue minta maaf ya…?”
“lo
nggak salah” sahut Alvin dingin. Sivia semakin memperat gandengannya dilengan
Alvin.
“jadi
lo bener-bener nggak mau nih gue jawab pertanyaan lo tadi?”
“udah
nggak minat!” lagi-lagi Alvin menyahut dengan dingin.
Sivia
melepaskan gandengannya dari lengan Alvin. Ia terdengar menghela nafas sejenak.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi bagi Alvin, secara tiba-tiba Sivia memegang
kedua pipinya, lalu dalam satu gerakan cepat Sivia memutar wajah Alvin lantas
mengecup pipinya dengan lembut. Sivia melakukannya agak lama. Kedua mata Alvin
membelalak lebar dengan apa yang Sivia lakukan.
Beberapa
detik kemudian, Sivia menjauhkan bibirnya dari pipi mulus Alvin. Sivia
tersenyum malu-malu dan dengan berani menantang tatapan mata Alvin.
“apa
itu cukup sebagai jawaban?” Tanya Sivia pelan. Alvin menggeleng beberapa kali.
“gue
Cuma perlu jawaban YA atau NGGAK, dan…. Please say yes for me” ucap Alvin pada
akhirnya setelah sekian lama bungkam dengan kedinginannya. Raut wajah Alvin
penuh harap.
Sivia
semakin lekat menatap kedua manik mata Alvin, dan sebelumnya Sivia tidak pernah
seberani ini. Dan ada satu hal yang sebenarnya ingin Sivia pertanyakan pada
Alvin, dan saat ini juga Sivia akan menanyakannya. Sekali lagi Sivia butuh
diyakinkan.
“Kunyuk,
apa lo beneran sayang sama gue?”
“kenapa
lo nanya kayak gitu? Memangnya lo nggak percaya sama gue?” mendengar pertanyaan
Alvin, Sivia buru-buru menggeleng,
“No,
No, bukan itu maksud gue, Cuma aja—“ Sivia bangkit dari duduknya lalu berdiri
dengan tegak dihadapan Alvin yang saat itu masih terduduk.
“gue
butuh diyakinin…” lanjut Sivia seraya menunduk dalam.
Alvin
berdiri disamping Sivia, ia memegang kedua pundak Gadis itu lalu memutarnya
hingga berhadapan dengannya saat ini. Dengan penuh ketulusan Alvin menatap
kedua mata Sivia sedalam-dalamnya.
“lo
tatap mata gue, Vi! Dan lo liat apa ada sebuah ketidaktulusan dari sorotnya?
Jika lo lihat, lo boleh nolak gue detik ini juga dan gue janji nggak bakalan
gangguin lo lagi” ucap Alvin berusaha meyakinkan dan menguatkan hati Sivia saat
ini.
Siviapun
menatap kedua mata Alvin dengan sebaik-sebaiknya, dan Sivia sama sekali tidak
menemukan ketidaktulusan dari sorot mata Alvin. Perlahan Sivia akhirnya luluh
juga. Ia mengangguk pelan.
“itu
artinya??” Tanya Alvin penuh harap.
“lo
pasti taulah apa artinya” jawab Sivia yang benar-benar sudah salah tingkah.
“nggak,
nggak, gue mau denger langsung dari lo…”
“iihhh…
emangnya itu nggak cukup apa?”
Sivia
melepaskan kedua tangan Alvin dari pundaknya lalu berjalan terlebih dahulu
hendak meninggalkan bukit.
“HEH
JELEK!! BILANG IYA AJA APA SUSAHNYA SIH?? GUE BUNUH JUGA LO LAMA-LAMA” Teriak
Alvin kesal.
“BODO!!!”
Sahut Sivia yang tidak kalah kesalnya dari Alvin sekarang.
“AWAS
LO!!”
Alvin
berlari untuk mengejar langkah Sivia yang belum terlalu jauh. Setelah berhasil
menjangkau Sivia, Alvinpun mengangkat tubuh Sivia.
“aaaa…
Kunyuk lepasin gue nggak?? Lepas, lepas, lepas!!” pinta Sivia berkali-kali
seraya memukul-mukul pelan dada Alvin.
“nggak
sebelum lo jawab pertanyaan gue”
“kan
tadi udah gue jawab”
“tapi
gue maunya jawaban iya” Alvin masih tidak mau kalah juga.
“iihhhhh….
Kunyuk rese, nyebelin, ngeselin, gue benciiiii sama lo, gue benci, benci,
benci, benci, super-super benci pokoknya…”
“emang
gue fikirin?”
“lepas
nggak?”
“nggak
bakal”
Karna
Sivia terus saja memberontak dari gendongannya, Alvin akhirnya tidak bisa
mengimbangi dirinya sendiri. Mereka berdua jatuh direrumputan dengan posisi
Alvin menindih tubuh Sivia.
Tawa
mereka berdua sama-sama pecah. Beberapa detik kemudian Alvin menghentikan suara
tawanya. Ia menatap Sivia lekat-lekat yang saat itu masih saja tertawa. Sebuah
senyuman merekah dengan indah diwajah tampan Alvin ketika melihat Sivia yang
tertawa dengan begitu riangnya.
Menyadari
bahwa ia hanya tertawa sendiri dan Alvin tengah menatapnya lekat-lekat, Sivia
akhirnya menghentikan tawanya. Ia membalas senyuman Alvin dengan sungkan.
Deguban jantung Sivia berpacu cepat saat kedua bola matanya beradu pandang
dengan kedua bola mata Alvin.
Tangan
Sivia yang bergemetar hebat tiba-tiba saja terangkat. Ia menyentuh tepi bibir
Alvin yang masih lebam akibat pukulan yang Cakka hadiahkan untuknya siang tadi.
“ini
pasti sakit banget ya?” Tanya Sivia seraya mengelus lembut tepi bibir Alvin.
Deguban jantung Sivia semakin keras terdengar. Alvin tidak menjawab pertanyaan
Sivia. Ia sudah terlanjur tenggelam oleh pesona Si Jelek ini.
“Kunyuk…
gue… gu… gue sayang sama lo… sayaaangg banget….” Ucap Sivia dengan susah payah.
Alvin masih menunjukan reaksi yang sama.
“e…
elo juga sayang sama gue??” beberapa detik setelah Sivia mengeluarkan
pertanyaan itu, dalam hati ia langsung saja merutuki kebodohanya. Buat apa juga
Sivia bertanya seperti itu pada Alvin? Kalau seperti ini sih Alvin bisa melihat
dengan sangat jelas kebodohannya.
Tiba-tiba
Alvin menggeleng pelan beberapa kali,
“nggak,
gue nggak sayang sama lo—“ air muka Sivia langsung berubah keruh saat mendengar
perkataan Alvin barusan, “tapi gue cinta sama lo, Jelek….” Lanjut Alvin pada
akhirnya yang langsung membuat Sivia bernafas lega.
“gue
mau sama lo selamanya, dan gue mau Cuma gue satu-satunya cowok yang ada dihati
lo, nggak ada yang lainnya…”
Sedetik
kemudian setelah Alvin menyampaikan keinginanya itu pada Sivia, sebuah
bintangpun terjatuh. Sepertinya Bintang sudah memberi restu atas bersatunya
kedua anak manusia yang karakternya sangat berbeda jauh ini.
Sivia
tersenym kecil,
“gue
juga…..”
^_^
“tadi
lo hebat dipertandingan. Selamet ya…?” kata Agni pada Cakka lalu menyeruput
Capucino pesanannya. Saat itu Cakka dan Agni tengah duduk berhadapan di
MagiCafe. Café milik keluarga Cakka yang selalu Cakka kunjungi jika ia sedang
merasa suntuk atau sedang memiliki masalah.
Cakka
tersenyum lalu membalas perkataan Agni,
“makasih,
Ag… tapi kayaknya gue tetep nggak sehebat elo deh”
Agni
terkekeh geli mendengar ucapan Cakka barusan.
“hehe…
lebay lo, Kka. Gue kan Cuma ngalahin lo sekali aja waktu itu, dan mungkin waktu
itu lagi kebetulan aja gue yang beruntung. Gue Cuma beruntung”
“nggak
usah merendah gitu, lo emang hebat kok…”
Agni
tidak menjawab perkataan Cakka. Kali ini Agni hanya terdiam sambil menatap
hampa kearah cangkir capucinonya. Hening.
“elo
kok bisa disini sih, Ag…?” Tanya Cakka tiba-tiba. Agni langsung terkesiap tapi
buru-buru juga Agni menjawab pertanyaan Cakka.
“eh…
iya Kka, tadi kebetulan aja gue pengen ke Café ini, sejak pindah Ke Jakarta gue
emang paling sering nongkrong disini…”
“serius?
Kok kita bisa samaan sih?”
“haha…
itu sih elo nya aja yang suka ngikutin gue” ucap Agni pede.
“haa…??
Ngikutin lo? Elo kali tuh yang ngikutin gue” tuduh Cakka balik.
Agni
hanya bisa tertawa ketika Cakka menuduhnya kembali. Malam itu tawa Cakka dan
Agni sama-sama tertawa lepas. Mereka tertawa bersama dan mulai merasakan
keakraban yang mulai terjalin diantara mereka. Cakka menatap sejenak wajah Ayu
Agni. Entah kenapa Cakka selalu saja merasa nyaman ketika Gadis ini berhasil
membuatnya tertawa lepas. Dan Gadis ini selalu saja bisa membuatnya melupakan
masalahnya dengan Sivia meskipun itu tidak lama.
Apa
suatu saat nanti mereka akan bisa merasakan getar-getar cinta itu…?
^_^
Alvin
menghentikan motornya tepat didepan gerbang rumah Sivia. Siviapun langsung
meloncat turun dari atas motor Alvin. Sebelum masuk kedalam rumahnya, Alvin dan
Sivia mengobrol dulu untuk sejenak.
“makasih
ya Nyuk udah nganterin gue…”
“makasih
buat apa? Malem ini kan elo udah resmi udah cewek gue…”
Sivia
memasang wajah berfikir, beberapa saat kemudian,
“cewek
lo? Emang tadi gue bilang gue mau jadi cewek lo”
“jangan
mulai lagi deh, Lek…” kata Alvin buru-buru sebelum Sivia memulai lebih jauh
lagi pertengkaran mereka.
“haha…
iya, iya, maaf, maaf… elo mah, gitu aja ngambek…”
“ya
udah, gue pulang ya?” pamit Alvin yang mulai merasa tidak nyaman dengan situasi
diantara mereka.
Menyadari
bahwa ada perubahan dari sikap Alvin, Sivia buru-buru memeluk tubuh Alvin dari
samping saat Alvin hendak menyalakan mesin motornya dan melesat pergi.
“jangan
marah dong. Tadi beneran gue Cuma becanda aja”
“ok,
gue nggak akan marah, tapi dengan satu syarat” kata Alvin seraya melepaskan
pelukan Sivia darinya. Seketika itu juga Sivia langsung memasang wajah
cemberut.
“syarat
apaan?”
“elo…
harus cium gue disini!” kata Alvin sambil menunjuk bibirnya dan mengerling
nakal.
Sivia
menghela nafas panjang, lalu tanpa ampun Sivia langsung saja menoyor kepala
Alvin dengan gerakan yang lumayan keras. Alvinpun meringis karenanya,
“awww…
Jelek lo tu…” ucap Alvin dengam emosi tertahan. Kalau tidak ingat bahwa cewek
jelek yang ada dihadapannya saat ini adalah pacarnya, mungkin sudah sejak tadi
Alvin menendangnya sejauh mungkin.
“rasain
lo, makanya jangan minta macem-macem”
“tapi
tadi pas dilapangan lo mau aja gue cium”
“tadi
gue khilaf” sahut Sivia dengan asal lantas memasuki gerbang rumahnya dan
meninggalkan Alvin begitu saja dengan segala omelan-omelannya.
“apa?
Lo bilang khilaf? Heh Jelek, jangan kabur!! Pertanggung jawabkan dulu omongan
lo barusan”
Tapi
percuma, karna Sivia tidak sedikitpun menggubris ucapan-ucapan Alvin barusan.
Dan Alvin langsung terlonjak kaget ketika Sivia membanting pintu gerbangnya
dengan sekeras mungkin. Alvin memegang dadanya karna kaget,
“awas
lo besok! Gue bales lo” kata Alvin penuh amarah sebelum akhirnya ia pergi dan
meninggalkan rumah Sivia dengan sejuta kekesalan-kekesalan yang memenuhi rongga
dadanya.
“dasar
Kunyuk, udah rese, ngeselin, nyebelin, banyak maunya lagi. Lo fikir lo siapa?”
omel Sivia pada seseorang yang saat ini entah sudah berada dimana. Selama
perjalanan memasuki rumahnya Sivia tidak henti-hentinya mengomel sendiri.
Tapi
jika ingin berterus terang, sebenarnya malam ini Sivia sangat bahagia, dan itu
semua karna Alvin. Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi pada Sivia selain
bisa menjadi pacar Alvin. Dan tadi saat Sivia marah-marah ketika Alvin meminta
dirinya untuk menciumnya, sebenarnya Sivia hanya berusaha menutupi rasa malunya.
Dia tidak seratus persen marah atau tidak seratus persen kesal pada Alvin.
Semuanya Sivia lakukan semata-mata hanya untuk menutupi rasa malunya dihadapan
Kunyuk itu.
“lo
darimana aja baru pulang jam segini…?” ucap seseorang pada Sivia saat ia hendak
menaiki anak tangga. Siviapun mengurungkan niatnya untuk menaiki anak tangga,
ia menoleh kearah sumber suara dan mendapati Cakka yang saat itu sedang duduk
dengan santai disofa,
“CAKKA….??”
Cakka
menatap Sivia dengan muka sok serius sambil menunjukan arlojinya.
^_^
“lo
seneng kan hari ini?” Tanya Cakka pada Sivia dengan suara yang pelan namun
terdengar sangat jelas. Saat itu Cakka dan Sivia berdiri berdampingan diatas
balkon rumah Sivia sambil menatap jutaan bintang-bintang yang bertebaran diatas
langit luas.
Sivia
mengangguk senang beberapa kali tanpa sedikitpun melihat kearah Cakka,
“ini
karna elo juga, Kka. Tanpa lo gue nggak akan pernah tau gimana perasaan Alvin
yang sebenernya ke gue, gue makasiiiihhhh banget sama lo”
Cakka
membalik badannya, ia pun menyandarkan tubuhnya pada besi pembatas balkon,
Cakka melirik kearah Sivia,
“itu
udah tugas gue sebagai sahabat lo, Vi….”
“dan
lo udah berhasil ngejalanin tugas lo dengan baik…” Siviapun menghambur kedalam
pelukan Cakka. Cakka yang terkejut malah melongo heran saat Sivia memeluknya,
“lo
emang best friend forever gue deh, Kka. Gue sayaaaangggg banget sama lo”
Dalam
pelukan Sivia, Cakka tersenyum miris. Cuma sahabata? Dan selamanya akan tetap
sahabat. Dengan ragu Cakka mengangkat tangannya lalu membalas pelukan Sivia.
“selamanya
gue akan terus bergantung sama lo, Kka. Dan gue nggak pernah bisa ngebayangin
gimana hidup gue jika tanpa lo”
“lo
nggak usah ngomong kayak gitu, Vi”
“tapi
itu emang kenyataannya. Elo itu udah kayak Kakak gue tau, Kka? Lo selalu jagain
gue, lo selalu aja ngalah kalo gue lagi ngambek, dan lo selalu aja minta maaf
duluan meskipun gue yang salah. Selama ini gue udah terlalu banyak ngecewain
lo, tapi lo selalu aja ada buat gue…” kata Sivia dengan suara bergetar.
Saat
Cakka melepaskan pelukannya dari Sivia, saat itulah Cakka tau kalau Sivia
sedang menitikkan air mata. Dengan lembut Cakka mengusap air mata Sivia, Cakka
menggeleng beberapa kali dengan isyarat ‘jangan menangis lagi’.
“gue
akan selalu jagain lo, apapun yang terjadi, gue nggak biarin siapapun termasuk
cowok berengsek yang nggak tau etika itu nyakitin lo. Sekali dia nyakitin lo,
maka selamanya gue nggak akan pernah biarin dia nyentuh lo, Vi!”
Sivia
langsung terkekeh ketika mendengar ucapan Cakka barusan.
“gue
sayang lo, Kka…” Cakka hanya tersenyum pada Sivia.
Tiba-tiba
saja Sivia memasang wajah berfikir,
“tapiii…..”
“tapi
apa?” Tanya Cakka.
“gue
kan udah punya pacar, nah… giliran elo nih sekarang” ucap Sivia dengan nada
menggoda. Cakka malah tidak paham.
“maksud
lo?” Tanya Cakka penasaran,
“menurut
lo Agni gimana?” Cakka semakin heran.
“kok
jadi bawa-bawa Agni sih?”
“elo
gue comblangin aja ya sama dia?”
“Via,
lo itu apa-apaan sih?”
“Agni
cocok kok sama lo…”
“sekali
lagi lo bawa-bawa Agni gue lempar lo kebawah” ujar Cakka emosi sambil menunjuk
ke bawah.
Sivia
berjalan mundur dan kembali menggoda Cakka,
“tapi
Agni cantik lho. Udah gitukan, kalian sama-sama jago basket, sama-sama pecinta
Basket, lo pasti cocok banget dah sama Agni….”
Siviapun
berlari dan pergi sebelum Cakka benar-benar melemparkannya kebawah.
“BAWEEEELLLL…..
AWAS LOOOOOO!!!!” Teriak Cakka sekencang-kencangnya lalu berlari mengejar
Sivia.
“selamanya
gue akan selalu jadi Bintang pelindung dalam hidup lo… nggak peduli meskipun
gue harus terluka berkali-kali ngeliat kedekatan lo sama Alvin, gue akan tetep
jadi Bintang pelindung lo, dan gue akan selalu jadi Bintang Penjaga hati lo.
Selamanya…..”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment