Monday, May 20, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 16 "Bintang Penjaga Hati"





            Malam itu Cakka terlihat tengah duduk diatas panggung sebuah Café yang biasa ia kunjungi jika ia sedang merasa suntuk. Cakka memegang sebuah gitar lalu memetiknya dengan penuh penghayatan. Cakka memainkan lagu Cinta Sejati dari miliknya Ari Lasso. Lirik demi lirik lagu mellow itu langsung menyeret segala ingatan Cakka tentang Sivia. Tidak ada satupun yang tahu bahwa saat ini Cakka sedang terluka. Cakka sangat pintar menyembunyikan kesakitannya dengan begitu rapi.
            Cakka yang sudah sejak lama begitu mencintai Sivia malah harus dengan terpaksa merelakan Sivia begitu saja untuk Alvin. Pria yang sangat Sivia cintai. Pria yang adalah cinta pertama bagi Sivia. Dan semua itu Cakka lakukan hanya semata-mata demi kebahagiaan Sivia. Dan Cakka sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang kini menderanya.


“Aku jatuh cinta padamu… sejak pertama kita bertemu….
Diam menghuni relung hati kau tak pernah perduli….”

“Kenalin aku Sivia, kamu panggil aja Via….”
Cakka menatap wajah Sivia kecil untuk beberapa saat lalu mengalihkan tatapannya pada tangan Sivia yang masih terulur. Cakka menghela nafas panjangnya dan langsung saja menepis tangan Sivia yang terulur.

“aku nggak mau kenalan sama anak cewek. Aku nggak mau punya temen anak cewek…” Cakka pun berlari dan meninggalkan Sivia begitu saja. Sivia menatap sosok Cakka yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya dengan tatapan heran.

“Tuhan… mengapa kau anugerahkan…
Cinta yang tak mungkin tuk bersatu…
Kau yang tlah lama kucintai…
Ada yang memiliki….”

“please, sekarang juga tatap mata gue, dan bilang kalo lo sangat benci sama Alvin…”
            Sivia menghela nafas panjang, ia menegakkan kepalanya lalu dengan berani menatap kedua mata Cakka. Sivia berusaha meyakinkan hatinya. Beberapa saat kemudian…

            “Gue jatuh cinta sama dia, Kka….”

“Cinta sejati… tak akan pernah mati….”

“Cakka nggak usah macem-macem! Gue nggak suka kucing…” ucap Sivia ketakutan saat Cakka dengan sengaja membawakannya seekor kucing. Ketika itu mereka baru menginjak kelas 2 SMP. Cakka tidak sedikitpun mengindahkan ucapan Sivia. Dengan jahilnya Cakka semakin mendekati Sivia dengan membawa kucing itu.

“CAKKKAAAAA……!!!!” Teriak Sivia kencang-kencangnya, seketika itu juga tawa Cakka langsung pecah.

“selalu menghiasi…. Ketulusan cinta ini….”

Sivia meloncat kepunggung Cakka yang saat itu tengah sibuk memandikan motor kesayangannya. Dengan sigap Cakka pun memegangi Sivia agar tidak terjatuh dari atas punggungnya.
“bawel, lo tu ya… seneng banget bikin gue jantungan” kata Cakka kesal. Sivia hanya bisa tertawa melihat Cakka mengomelinya seperti itu.

“Jalan hidup tlah membuat kita….
Harus senantiasa bersama…
Lewati segala suka duka…
Tiada cinta bicara…”

“Tanpa keraguan sedikitpun Sivia mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh pipi mulus Alvin dengan lembut.
            “ada yang bilang, kalo lo keliatan sangat tampan dan keren disaat lo sedang cemburu…” Sivia tertawa kecil dan kembali menunduk.

Cinta sejati… tak akan pernah mati…
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini…”

            Semua kenangan yang telah ia lalui bersama Sivia selama ini malah semakin membuat dada Cakka sesak. Ia merasa tertekan dari segala arah. Bagi Cakka lebih gampang melakukan apapun daripada harus melepaskan Sivia untuk Alvin.
            Akan tetapi, Cakka harus tetap melakukan hal itu demi kebahagiaan Sivia. Cakka tidak ingin egois dengan perasaan yang saat ini ia rasakan. Dan Cakka semakin tidak bisa menghindari kegetiran hatinya saat secara tiba-tiba bayangan Alvin dan Sivia menyeruak dibenaknya. Sedang apa mereka berdua mala mini? Apa mereka bahagia?
            Cakka pun melanjutkan nyanyiannya…

Cinta sejati… tak akan pernah mati…
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini…
Dan kau selalu…. Hanya diam membisu
Meskipun kau tahu betapa dalam cintaku….”

            Cakka menghela nafas panjangnya. Ia tahu ia kuat, ia tidak akan menitikkan setetespun air matanya. Cakka ikhlas melakukan semua ini. Demi Tuhan Cakka ikhlas.

            “Aku jatuh cinta padamu….”

            Cakkapun akhirnya menyelesaikan lagunya. Bersamaan dengan itu Cakka menutup segala ingatannya tentang kenangannya bersama Sivia.
            “PROK…PROK…PROK….” Suara tepuk tangan dari bawah panggung tiba-tiba saja membuat Cakka terkesiap. Cakka yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya. Dan kedua manik mata Cakka langsung menangkap sosok seorang Gadis Ayu yang saat itu tengah tersenyum padanya sambil tetap bertepuk tangan. Cakka tersenyum kecil membalas senyuman manis Gadis Ayu itu.


^_^

            Setelah makan malam bersama disebuah restoran, Alvin dan Siviapun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Malam ini Sivia sudah berniat untuk mengajak Alvin pergi kesuatu tempat.
            Alvin yang sejak sore tadi masih sangat kesal pada Sivia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun saat mereka bersama. Bahkan menatap wajah Sivia saja Alvin enggan. Bagaimana tidak kesal? Sampai detik ini Sivia masih menggantungnya dan belum mau memberikan jawaban apapun.
            Bukannya merasa bersalah dengan sikap Alvin padanya, Sivia malah tenang-tenang saja. Bahkan Sivia merasa lucu dengan sikap Alvin saat ini. Dan jujur saja, Sivia paling suka melihat Alvin ngambek seperti ini.
            Tapi dibalik sikapnya yang tenang itu, Sivia sama sekali tidak bisa menyembunyikan bagaimana perasaan hatinya saat ini. Sivia sangat bahagia saat tadi dilapangan Alvin menyatakan cintanya dan menyampaikan semua kejujuran hatinya selama ini. Sivia bahagia karna ternyata Alvin membalas perasaannya. Hanya saja Sivia sedang mencari waktu yang  tepat untuk menjawab pertanyaan Alvin.
            Sivia ingin menguji seberapa kuat perasaan cinta Alvin kepadanya. Sivia ingin lebih diyakinkan lagi. Hanya itu dan semuanya akan baik-baik saja.
            Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit akhirnya tibalah mereka disuatu tempat yang sebenarnya merupakan tujuan Sivia. Ternyata Sivia membawa Alvin ke Bukit, tempat favoritnya bersama Cakka. Sivia turun dari atas motor Alvin lalu berdiri menghadap Alvin. Dengan wajah polos tanpa dosanya, Sivia tersenyum sangat manis pada Alvin,
            “turun yuk! Ikut sama gue”
            “tempat apaan nih?” Tanya Alvin dingin sambil melihat kesekeliling bukit itu dengan pandangan bertanya.
            “ini tempat terindah yang pernah Tuhan ciptakan” jawab Sivia sekenanya. Tanpa menunggu reaksi Alvin selanjutnya, Siviapun berjalan terlebih dahulu menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi itu.
            Alvin berdecak kesal. Kenapa juga Alvin harus jatuh cinta pada Gadis aneh dan jelek macam Sivia? Alvin membuka helmnya, ia turun dari atas motornya lalu berjalan mengikuti Sivia dari belakang dengan setengah hati.
            Saat ini Alvin dan Sivia sudah duduk berdampingan diatas bukit sambil melihat pemandangan kota yang gemerlap dan terlihat begitu indah dari atas bukit. Alvin tidak bisa menampik bahwa bukit ini adalah tempat terindah yang pernah ia kunjungi. Tapi Alvin enggan mengakui itu dihadapan Sivia. Alvin pun akhirnya berusaha terlihat biasa-biasa saja dihadapan Sivia.
            Alvin melirik kearah Sivia yang saat itu masih betah melihat pemandangan kota dari atas bukit sambil tersenyum. Alvin menatap Sivia lama. Dan ia memperhatikan wajah Sivia sebaik mungkin. Pada kenyataannya Gadis yang ada disampingnya ini tetap saja terlihat sangat cantik meskipun dilihat dari sisi manapun. Dan meski agak berat, Alvin harus mengakuinya. Mengakui kecantikan dari seorang Gadis yang hari ini nyaris saja menjadi miliknya.
            Sivia mendesah pelan, secara tiba-tiba ia berkata,
            “gue cantik banget ya sampe lo ngeliatinnya kayak gitu?”
            Alvin terkesiap lalu buru-buru mengalihkan pandangannya.
            “pede lu!” sinis Alvin. Kali ini Sivia melirik kearah Alvin.
            “lo masih marah sama gue?”
            “menurut lo??”
            “marah” jawab Sivia dengan polos.
            “bagus kalo lo tau!” ucap Alvin keki.
            Sivia tersenyum sejenak. Beberapa saat kemudian Sivia menggeser posisinya hingga berdekatan dengan Alvin. Menyadari bahwa posisinya saat ini sudah sangat dekat dengan Sivia, Alvin berusaha terlihat santai. Dia tidak sedikitpun melihat kearah Gadis itu.
            Tanpa Alvin duga-duga sebelumnya, Sivia melingkarkan lengannya dilengan Alvin. Secara perlahan Sivia merebahkan kepalanya dipundak Alvin.
            “lo tau, Nyuk? Udah lamaaaa banget gue pengen kayak gini sama lo, dan masalah tadi, gue minta maaf ya…?”
            “lo nggak salah” sahut Alvin dingin. Sivia semakin memperat gandengannya dilengan Alvin.
            “jadi lo bener-bener nggak mau nih gue jawab pertanyaan lo tadi?”
            “udah nggak minat!” lagi-lagi Alvin menyahut dengan dingin.
            Sivia melepaskan gandengannya dari lengan Alvin. Ia terdengar menghela nafas sejenak. Dan yang lebih mengejutkannya lagi bagi Alvin, secara tiba-tiba Sivia memegang kedua pipinya, lalu dalam satu gerakan cepat Sivia memutar wajah Alvin lantas mengecup pipinya dengan lembut. Sivia melakukannya agak lama. Kedua mata Alvin membelalak lebar dengan apa yang Sivia lakukan.
            Beberapa detik kemudian, Sivia menjauhkan bibirnya dari pipi mulus Alvin. Sivia tersenyum malu-malu dan dengan berani menantang tatapan mata Alvin.
            “apa itu cukup sebagai jawaban?” Tanya Sivia pelan. Alvin menggeleng beberapa kali.
            “gue Cuma perlu jawaban YA atau NGGAK, dan…. Please say yes for me” ucap Alvin pada akhirnya setelah sekian lama bungkam dengan kedinginannya. Raut wajah Alvin penuh harap.
            Sivia semakin lekat menatap kedua manik mata Alvin, dan sebelumnya Sivia tidak pernah seberani ini. Dan ada satu hal yang sebenarnya ingin Sivia pertanyakan pada Alvin, dan saat ini juga Sivia akan menanyakannya. Sekali lagi Sivia butuh diyakinkan.
            “Kunyuk, apa lo beneran sayang sama gue?”
            “kenapa lo nanya kayak gitu? Memangnya lo nggak percaya sama gue?” mendengar pertanyaan Alvin, Sivia buru-buru menggeleng,
            “No, No, bukan itu maksud gue, Cuma aja—“ Sivia bangkit dari duduknya lalu berdiri dengan tegak dihadapan Alvin yang saat itu masih terduduk.
            “gue butuh diyakinin…” lanjut Sivia seraya menunduk dalam.
            Alvin berdiri disamping Sivia, ia memegang kedua pundak Gadis itu lalu memutarnya hingga berhadapan dengannya saat ini. Dengan penuh ketulusan Alvin menatap kedua mata Sivia sedalam-dalamnya.
            “lo tatap mata gue, Vi! Dan lo liat apa ada sebuah ketidaktulusan dari sorotnya? Jika lo lihat, lo boleh nolak gue detik ini juga dan gue janji nggak bakalan gangguin lo lagi” ucap Alvin berusaha meyakinkan dan menguatkan hati Sivia saat ini.
            Siviapun menatap kedua mata Alvin dengan sebaik-sebaiknya, dan Sivia sama sekali tidak menemukan ketidaktulusan dari sorot mata Alvin. Perlahan Sivia akhirnya luluh juga. Ia mengangguk pelan.
            “itu artinya??” Tanya Alvin penuh harap.
            “lo pasti taulah apa artinya” jawab Sivia yang benar-benar sudah salah tingkah.
            “nggak, nggak, gue mau denger langsung dari lo…”
            “iihhh… emangnya itu nggak cukup apa?”
            Sivia melepaskan kedua tangan Alvin dari pundaknya lalu berjalan terlebih dahulu hendak meninggalkan bukit.
            “HEH JELEK!! BILANG IYA AJA APA SUSAHNYA SIH?? GUE BUNUH JUGA LO LAMA-LAMA” Teriak Alvin kesal.
            “BODO!!!” Sahut Sivia yang tidak kalah kesalnya dari Alvin sekarang.
            “AWAS LO!!”
            Alvin berlari untuk mengejar langkah Sivia yang belum terlalu jauh. Setelah berhasil menjangkau Sivia, Alvinpun mengangkat tubuh Sivia.
            “aaaa… Kunyuk lepasin gue nggak?? Lepas, lepas, lepas!!” pinta Sivia berkali-kali seraya memukul-mukul pelan dada Alvin.
            “nggak sebelum lo jawab pertanyaan gue”
            “kan tadi udah gue jawab”
            “tapi gue maunya jawaban iya” Alvin masih tidak mau kalah juga.
            “iihhhhh…. Kunyuk rese, nyebelin, ngeselin, gue benciiiii sama lo, gue benci, benci, benci, benci, super-super benci pokoknya…”
            “emang gue fikirin?”
            “lepas nggak?”
            “nggak bakal”
            Karna Sivia terus saja memberontak dari gendongannya, Alvin akhirnya tidak bisa mengimbangi dirinya sendiri. Mereka berdua jatuh direrumputan dengan posisi Alvin menindih tubuh Sivia.
            Tawa mereka berdua sama-sama pecah. Beberapa detik kemudian Alvin menghentikan suara tawanya. Ia menatap Sivia lekat-lekat yang saat itu masih saja tertawa. Sebuah senyuman merekah dengan indah diwajah tampan Alvin ketika melihat Sivia yang tertawa dengan begitu riangnya.
            Menyadari bahwa ia hanya tertawa sendiri dan Alvin tengah menatapnya lekat-lekat, Sivia akhirnya menghentikan tawanya. Ia membalas senyuman Alvin dengan sungkan. Deguban jantung Sivia berpacu cepat saat kedua bola matanya beradu pandang dengan kedua bola mata Alvin.
            Tangan Sivia yang bergemetar hebat tiba-tiba saja terangkat. Ia menyentuh tepi bibir Alvin yang masih lebam akibat pukulan yang Cakka hadiahkan untuknya siang tadi.
            “ini pasti sakit banget ya?” Tanya Sivia seraya mengelus lembut tepi bibir Alvin. Deguban jantung Sivia semakin keras terdengar. Alvin tidak menjawab pertanyaan Sivia. Ia sudah terlanjur tenggelam oleh pesona Si Jelek ini.
            “Kunyuk… gue… gu… gue sayang sama lo… sayaaangg banget….” Ucap Sivia dengan susah payah. Alvin masih menunjukan reaksi yang sama.
            “e… elo juga sayang sama gue??” beberapa detik setelah Sivia mengeluarkan pertanyaan itu, dalam hati ia langsung saja merutuki kebodohanya. Buat apa juga Sivia bertanya seperti itu pada Alvin? Kalau seperti ini sih Alvin bisa melihat dengan sangat jelas kebodohannya.
            Tiba-tiba Alvin menggeleng pelan beberapa kali,
            “nggak, gue nggak sayang sama lo—“ air muka Sivia langsung berubah keruh saat mendengar perkataan Alvin barusan, “tapi gue cinta sama lo, Jelek….” Lanjut Alvin pada akhirnya yang langsung membuat Sivia bernafas lega.
            “gue mau sama lo selamanya, dan gue mau Cuma gue satu-satunya cowok yang ada dihati lo, nggak ada yang lainnya…”
            Sedetik kemudian setelah Alvin menyampaikan keinginanya itu pada Sivia, sebuah bintangpun terjatuh. Sepertinya Bintang sudah memberi restu atas bersatunya kedua anak manusia yang karakternya sangat berbeda jauh ini.
            Sivia tersenym kecil,
            “gue juga…..”


^_^

            “tadi lo hebat dipertandingan. Selamet ya…?” kata Agni pada Cakka lalu menyeruput Capucino pesanannya. Saat itu Cakka dan Agni tengah duduk berhadapan di MagiCafe. Café milik keluarga Cakka yang selalu Cakka kunjungi jika ia sedang merasa suntuk atau sedang memiliki masalah.
            Cakka tersenyum lalu membalas perkataan Agni,
            “makasih, Ag… tapi kayaknya gue tetep nggak sehebat elo deh”
            Agni terkekeh geli mendengar ucapan Cakka barusan.
            “hehe… lebay lo, Kka. Gue kan Cuma ngalahin lo sekali aja waktu itu, dan mungkin waktu itu lagi kebetulan aja gue yang beruntung. Gue Cuma beruntung”
            “nggak usah merendah gitu, lo emang hebat kok…”
            Agni tidak menjawab perkataan Cakka. Kali ini Agni hanya terdiam sambil menatap hampa kearah cangkir capucinonya. Hening.
            “elo kok bisa disini sih, Ag…?” Tanya Cakka tiba-tiba. Agni langsung terkesiap tapi buru-buru juga Agni menjawab pertanyaan Cakka.
            “eh… iya Kka, tadi kebetulan aja gue pengen ke Café ini, sejak pindah Ke Jakarta gue emang paling sering nongkrong disini…”
            “serius? Kok kita bisa samaan sih?”
            “haha… itu sih elo nya aja yang suka ngikutin gue” ucap Agni pede.
            “haa…?? Ngikutin lo? Elo kali tuh yang ngikutin gue” tuduh Cakka balik.
            Agni hanya bisa tertawa ketika Cakka menuduhnya kembali. Malam itu tawa Cakka dan Agni sama-sama tertawa lepas. Mereka tertawa bersama dan mulai merasakan keakraban yang mulai terjalin diantara mereka. Cakka menatap sejenak wajah Ayu Agni. Entah kenapa Cakka selalu saja merasa nyaman ketika Gadis ini berhasil membuatnya tertawa lepas. Dan Gadis ini selalu saja bisa membuatnya melupakan masalahnya dengan Sivia meskipun itu tidak lama.

            Apa suatu saat nanti mereka akan bisa merasakan getar-getar cinta itu…?


^_^

            Alvin menghentikan motornya tepat didepan gerbang rumah Sivia. Siviapun langsung meloncat turun dari atas motor Alvin. Sebelum masuk kedalam rumahnya, Alvin dan Sivia mengobrol dulu untuk sejenak.
            “makasih ya Nyuk udah nganterin gue…”
            “makasih buat apa? Malem ini kan elo udah resmi udah cewek gue…”
            Sivia memasang wajah berfikir, beberapa saat kemudian,
            “cewek lo? Emang tadi gue bilang gue mau jadi cewek lo”
            “jangan mulai lagi deh, Lek…” kata Alvin buru-buru sebelum Sivia memulai lebih jauh lagi pertengkaran mereka.
            “haha… iya, iya, maaf, maaf… elo mah, gitu aja ngambek…”
            “ya udah, gue pulang ya?” pamit Alvin yang mulai merasa tidak nyaman dengan situasi diantara mereka.
            Menyadari bahwa ada perubahan dari sikap Alvin, Sivia buru-buru memeluk tubuh Alvin dari samping saat Alvin hendak menyalakan mesin motornya dan melesat pergi.
            “jangan marah dong. Tadi beneran gue Cuma becanda aja”
            “ok, gue nggak akan marah, tapi dengan satu syarat” kata Alvin seraya melepaskan pelukan Sivia darinya. Seketika itu juga Sivia langsung memasang wajah cemberut.
            “syarat apaan?”
            “elo… harus cium gue disini!” kata Alvin sambil menunjuk bibirnya dan mengerling nakal.
            Sivia menghela nafas panjang, lalu tanpa ampun Sivia langsung saja menoyor kepala Alvin dengan gerakan yang lumayan keras. Alvinpun meringis karenanya,
            “awww… Jelek lo tu…” ucap Alvin dengam emosi tertahan. Kalau tidak ingat bahwa cewek jelek yang ada dihadapannya saat ini adalah pacarnya, mungkin sudah sejak tadi Alvin menendangnya sejauh mungkin.
            “rasain lo, makanya jangan minta macem-macem”
            “tapi tadi pas dilapangan lo mau aja gue cium”
            “tadi gue khilaf” sahut Sivia dengan asal lantas memasuki gerbang rumahnya dan meninggalkan Alvin begitu saja dengan segala omelan-omelannya.
            “apa? Lo bilang khilaf? Heh Jelek, jangan kabur!! Pertanggung jawabkan dulu omongan lo barusan”
            Tapi percuma, karna Sivia tidak sedikitpun menggubris ucapan-ucapan Alvin barusan. Dan Alvin langsung terlonjak kaget ketika Sivia membanting pintu gerbangnya dengan sekeras mungkin. Alvin memegang dadanya karna kaget,
            “awas lo besok! Gue bales lo” kata Alvin penuh amarah sebelum akhirnya ia pergi dan meninggalkan rumah Sivia dengan sejuta kekesalan-kekesalan yang memenuhi rongga dadanya.
            “dasar Kunyuk, udah rese, ngeselin, nyebelin, banyak maunya lagi. Lo fikir lo siapa?” omel Sivia pada seseorang yang saat ini entah sudah berada dimana. Selama perjalanan memasuki rumahnya Sivia tidak henti-hentinya mengomel sendiri.
            Tapi jika ingin berterus terang, sebenarnya malam ini Sivia sangat bahagia, dan itu semua karna Alvin. Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi pada Sivia selain bisa menjadi pacar Alvin. Dan tadi saat Sivia marah-marah ketika Alvin meminta dirinya untuk menciumnya, sebenarnya Sivia hanya berusaha menutupi rasa malunya. Dia tidak seratus persen marah atau tidak seratus persen kesal pada Alvin. Semuanya Sivia lakukan semata-mata hanya untuk menutupi rasa malunya dihadapan Kunyuk itu.
            “lo darimana aja baru pulang jam segini…?” ucap seseorang pada Sivia saat ia hendak menaiki anak tangga. Siviapun mengurungkan niatnya untuk menaiki anak tangga, ia menoleh kearah sumber suara dan mendapati Cakka yang saat itu sedang duduk dengan santai disofa,
            “CAKKA….??”
            Cakka menatap Sivia dengan muka sok serius sambil menunjukan arlojinya.


^_^

            “lo seneng kan hari ini?” Tanya Cakka pada Sivia dengan suara yang pelan namun terdengar sangat jelas. Saat itu Cakka dan Sivia berdiri berdampingan diatas balkon rumah Sivia sambil menatap jutaan bintang-bintang yang bertebaran diatas langit luas.
            Sivia mengangguk senang beberapa kali tanpa sedikitpun melihat kearah Cakka,
            “ini karna elo juga, Kka. Tanpa lo gue nggak akan pernah tau gimana perasaan Alvin yang sebenernya ke gue, gue makasiiiihhhh banget sama lo”
            Cakka membalik badannya, ia pun menyandarkan tubuhnya pada besi pembatas balkon, Cakka melirik kearah Sivia,
            “itu udah tugas gue sebagai sahabat lo, Vi….”
            “dan lo udah berhasil ngejalanin tugas lo dengan baik…” Siviapun menghambur kedalam pelukan Cakka. Cakka yang terkejut malah melongo heran saat Sivia memeluknya,
            “lo emang best friend forever gue deh, Kka. Gue sayaaaangggg banget sama lo”
            Dalam pelukan Sivia, Cakka tersenyum miris. Cuma sahabata? Dan selamanya akan tetap sahabat. Dengan ragu Cakka mengangkat tangannya lalu membalas pelukan Sivia.
            “selamanya gue akan terus bergantung sama lo, Kka. Dan gue nggak pernah bisa ngebayangin gimana hidup gue jika tanpa lo”
            “lo nggak usah ngomong kayak gitu, Vi”
            “tapi itu emang kenyataannya. Elo itu udah kayak Kakak gue tau, Kka? Lo selalu jagain gue, lo selalu aja ngalah kalo gue lagi ngambek, dan lo selalu aja minta maaf duluan meskipun gue yang salah. Selama ini gue udah terlalu banyak ngecewain lo, tapi lo selalu aja ada buat gue…” kata Sivia dengan suara bergetar.
            Saat Cakka melepaskan pelukannya dari Sivia, saat itulah Cakka tau kalau Sivia sedang menitikkan air mata. Dengan lembut Cakka mengusap air mata Sivia, Cakka menggeleng beberapa kali dengan isyarat ‘jangan menangis lagi’.
            “gue akan selalu jagain lo, apapun yang terjadi, gue nggak biarin siapapun termasuk cowok berengsek yang nggak tau etika itu nyakitin lo. Sekali dia nyakitin lo, maka selamanya gue nggak akan pernah biarin dia nyentuh lo, Vi!”
            Sivia langsung terkekeh ketika mendengar ucapan Cakka barusan.
            “gue sayang lo, Kka…” Cakka hanya tersenyum pada Sivia.
            Tiba-tiba saja Sivia memasang wajah berfikir,
            “tapiii…..”
            “tapi apa?” Tanya Cakka.
            “gue kan udah punya pacar, nah… giliran elo nih sekarang” ucap Sivia dengan nada menggoda. Cakka malah tidak paham.
            “maksud lo?” Tanya Cakka penasaran,
            “menurut lo Agni gimana?” Cakka semakin heran.
            “kok jadi bawa-bawa Agni sih?”
            “elo gue comblangin aja ya sama dia?”
            “Via, lo itu apa-apaan sih?”
            “Agni cocok kok sama lo…”
            “sekali lagi lo bawa-bawa Agni gue lempar lo kebawah” ujar Cakka emosi sambil menunjuk ke bawah.
            Sivia berjalan mundur dan kembali menggoda Cakka,
            “tapi Agni cantik lho. Udah gitukan, kalian sama-sama jago basket, sama-sama pecinta Basket, lo pasti cocok banget dah sama Agni….”
            Siviapun berlari dan pergi sebelum Cakka benar-benar melemparkannya kebawah.

            “BAWEEEELLLL….. AWAS LOOOOOO!!!!” Teriak Cakka sekencang-kencangnya lalu berlari mengejar Sivia.



            “selamanya gue akan selalu jadi Bintang pelindung dalam hidup lo… nggak peduli meskipun gue harus terluka berkali-kali ngeliat kedekatan lo sama Alvin, gue akan tetep jadi Bintang pelindung lo, dan gue akan selalu jadi Bintang Penjaga hati lo. Selamanya…..”




                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment