Saturday, May 25, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 17 “The Tragedy”






                “Fy, nanti anterin gue ya kerumah Singgah…” ucap Sivia pada Ify saat mereka tangah makan bersama dikantin saat jam istirahat. Selain ada Ify disana juga ada Shilla dan Agni.
            “sorry Via, bukannya gue nggak mau nganterin lo, Cuma aja nanti pas pulang sekolah gue harus nemenin Nyokap kerumah Tante gue, ada arisan keluarga” kata Ify terus terang sambil tetap focus menyantap Mie Ayam pesanannya. Mendengar perkataan Ify, Sivia langsung cemberut. Masa Sivia harus pergi sendiri kerumah singgah? Kalau seperti itu kan kentara sekali kalau Sivia merindukan Kunyuk Songong itu, belum lagi semalam mereka sempat bertengkar.
            Kalau ingin jujur sebenernya Sivia sangat merindukan Alvin, tapi Sivia tidak ingin terlalu menunjukan itu dihadapan Alvin. Yang ada nanti Alvin malah semakin merasa berada diatas angin. Membayangkan senyuman licik Alvin saja Sivia sudah bergidik ngeri.
            “sama Shilla aja, Vi…! Lagian kan elo udah jadian ama Alvin, biarin lah Shilla tahu. Yaa… biarpun oneng kayak gini juga kan Shilla tetep sahabat kita…” ucap Ify datar tanpa ekspresi. Sivia langsung tersedak mendengarkan ucapan Ify.
            Agni yang saat itu duduk disamping Shilla langsung saja menepuk punggung Shilla berkali-kali seraya menyerahkan segelas air putih untuk Shilla. Shilla menerima air putih pemberian Agni lalu meminumnya buru-buru.
            “sialan lo Fy pake ngatain gue oneng segala, eh tapi tadi lo bilang Sivia udah punya pacar yak?” Tanya Shilla beberapa saat setelah ia mengambil nafas,
            “siapa Vi pacar lo?” kali ini Shilla mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
            “ya makanya, hari ini lo anter aja Sivia kerumah singgah, nanti pasti lo tahu siapa pacarnya Via” malah Ify yang menjawab pertanyaan Shilla tadi. Shilla melirik sengit kearah Ify,
            “gue nggak nanya lo!”
            “Via, elo punya pacar kok nggak ngomong-ngomong ke kita?” kali ini Agni yang bertanya,
            “takut dimintain Peje kali” timpal Shilla.
            “ngaco lo! Bukannya gue nggak mau ngasih tau, Cuma aja kan gue baru resmi jadian semalem sama Alvin….”
            “OOOOO… jadi namanya Alvin toh??” ujar Shilla dan Agni kompak.
            “terus Cakka mau lo kemanain??” Tanya Shilla spontan.
            Mendengar pertanyaan Shilla yang spontan itu, semuanyapun terkejut. Sementara Agni, ia tidak hanya terkejut, tapi ada rasa ngilu yang ia rasakan dihati kecilnya ketika Shilla melemparkan pertanyaan itu pada Sivia.
            “Shilllaaaaa! Gue jitakin juga lo lama-lama, isshhh….” Kesal Sivia hampir mencekik leher Shilla saking gemesnya, “kalian semua tau kan kalau Cakka itu sahabat gue, dan gue nggak mungkin ada apa-apa sama dia….” Lanjut Sivia.
            “iya nih Shilla. Gue heran, kenapa ya Iel mau pacaran sama cewek lemot kayak lo?” Ify mulai mencari gara-gara lagi. Shilla langsung menatap Ify tajam.
            “IFY….” Kata Shilla galak.

            ‘pantes aja semalem pas gue ketemu Cakka, dia keliatan galau banget, ternyata karna ini? Ternyata insting gue nggak salah, Cakka suka sama Sivia, bahkan lebih dari sekedar sahabat…’ batin Agni lantas menyedot minuman isotonic nya.


^_^


            Suasana kelas XI IPA 2 benar-benar sangat gaduh siang itu. Jam pelajaran terakhir yang seharusnya diisi oleh mata pelajaran matematika malah kosong gara-gara Guru yang piket hari itu harus mengikuti rapat Guru.
            Dibangku belakang paling pojok, Cakka dan Sivia terlihat tengah bergurau bersama. Sebenarnya Cakka dan Sivia duduk dideretan bangku paling depan, tapi saat tahu kalau jam pelajaran Matematika hari itu kosong, mereka berdua langsung pindah ke bangku paling pojok dan mengusir Daud yang merupakan penghuni asli bangku itu.
            “Kka, lo bener-bener nggak mau nih sama Agni?” Tanya Sivia tiba-tiba ditengah gurauan mereka. Mendengar pertanyaan Sivia, mendadak senyum yang sejak tadi mengembang diwajah Cakka langsung menghilang seketika.
            “kenapa sih sejak semalem lo terus bahas hal itu?” Tanya Cakka kesal,
            “gue Cuma mau lihat lo bahagia Cecak Nuragaaaa...”
            “Cakka Nuraga” ralat Cakka cepat,
            “iii… terserah lah, mau nama lo Cakka kek, Cecak kek, itu urusan lo, yang terpenting sekarang buat gue adalah…. Eeemmm…. Lo mau ya gue comblangin sama Agni? Mau ya? Mau ya? Mau ya? Plis plis plis….” Pinta Sivia dengan wajah memelas dihadapan Cakka.
            Cakka menghela nafas beberapa kali, tidak lama kemudian ia berkata pada Sivia,
            “beneran deh, Vi, sekali lagi bahas soal itu gue beneran marah. Lo mau sakit gara-gara gue juga gue nggak bakalan peduli” ucap Cakka tega.
            “yaahh…. Cakka, kok lo gitu sih sama gueeee??”
            “suka-suka gue, habisnya lo rese sih, nyebelin tau, dasar bawel!”
            “iiihhh…. Dasar Cecak-Cecak didinding diam-diam merayap..”
            “apaan deh, Vi… lo nggak lucu banget tauu?” ucap Cakka dengan ekspresi datar,
            “emang yang bilang kalo gue lagi ngelucu siapa? Gue nggak lagi ngelucu”
            “ketauan banget boong lo!”
            “Bodo!!”
            “ciyeee ngambek”
            “suka-suka gue” ujar Sivia menirukan ucapan Cakka tadi.
            Sivia bangkit dari bangkunya lalu keluar dari kelas begitu saja. Cakka yang menyadari bahwa Sivia marah padanya langsung berlari menyusul Sivia ke luar kelas.


^_^

            Saat pulang sekolah ternyata benar saja Shilla mengantar Sivia pergi kerumah singgah. Siang itu suasana rumah singgah Nampak sunyi senyap. Sivia agak heran ketika melihat suasana Rumah Singgah yang tidak seperti biasanya.
            Sivia dan Shilla jalan beriringan menyusuri pekarangan rumah singgah. Melihat pintu rumah singgah yang terbuka lebar Sivia dan Shilla langsung masuk kedalam.
            “sepia mat, Vi…?” Tanya Shilla heran.
            “ehem…. Dasar cewek nggak sopan!” tegur seseorang secara tiba-tiba dari belakang Sivia dan Shillla.
            Merasa sangat terkejut dengan suara itu, Sivia dan Shilla langsung berbalik badan secara bersamaan. Ternyata seseorang yang menegur mereka itu adalah Alvin. Alvin berdiri dipintu sambil memasang wajah cool dan dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada. Alvin juga masih mengenakan seragam sekolahnya.
            “ke… kenapa lo bilang gue nggak sopan?” Tanya Sivia yang mendadak gugup. Entahlah, Sivia juga heran kenapa diamasih saja suka gugup jika sudah berhadapan dengan Alvin, padahal kan Alvin sudah resmi jadi pacarnya.
            Alvin memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong celana seragamnya. Dengan ekspresi yang tetap dan tidak berubah sedikitpun Alvin berjalan perlahan memasuki rumah singgah.
            “ya… siapapun juga bakalan bilang lo nggak sopan kalo masuk rumah orang tanpa permisi…” Alvin duduk dengan santai disofa tanpa sedikitpun melihat kearah Sivia dan Shilla yang saat itu masih cengo memandanginya. Dalam hati Shilla memuji ketampanan Alvin.
            Apa? Alvin bilang apa tadi? Sivia masuk rumah orang? Apa Kunyuk itu sudah lupa kalau baru semalam mereka jadian? Benar-benar keterlaluan.
            “untung gue yang ngelihat lo, coba kalo orang laen yang lihat, udah diteriakin maling lo”
            Keterlaluan! Ucapan Alvin kali ini benar-benar keterlaluan. Sivia tidak bisa tinggal diam, ia harus memberi pelajaran pada cowok songong itu. Persetan Alvin pacarnya atau bukan, tapi yang jelas Sivia harus membalasnya.
            “mau ngapain lo kesini?” Tanya Alvin lagi dengan begitu menjengkelkannya. Sivia menghela nafas panjang. Sabar, Sivia harus sabar menghadapi Kunyuk ini. Nanti akan tiba waktunya Sivia membalas perlakuan cowok yang ‘katanya’ sudah resmi menjadi pacarnya itu.
            “mau nemuin anak-anak, gue kangen mereka” alibi Sivia,
            “aah… Via boong banget lu! Bukannya tadi lo bilang lo kesini buat nemuin Alvin yak? Elo kan kangen sama Alvin katanya” ucap Shilla dengan begitu polosnya. Kedua mata Sivia langsung membelalak lebar ketika mendengarkan penuturan Shilla yang kelewat jujur itu.
            Sementara Alvin, ia langsung terlihat semuringah ketika mendengarkan ucapan Shilla barusan. Alvin bangkit dari duduknya lalu menghampiri Shilla,
            “beneran Si Jelek ini kangen sama gue?” Tanya Alvin penuh semangat. Shilla langsung mengangguk beberapa kali.
            “nggak usah kegeeran lu, Nyuk! Orang gue kesini mau nemuin anak-anak juga” dengan muka begok Sivia masih saja berusaha memberi alasan. Alvin menatap Sivia dengan tatapan nakal. Alvin seolah-olah ingin menggoda Sivia sampai terlihat bodoh dihadapannya.
            “Shill, awas lu! Gue bunuh lo ntar!” ancam Sivia sok sadis.
            Tiba-tiba Alvin mengalihkan perhatiannya dari Sivia. Alvin mengulurkan tangannaya dihadapan Shilla lantas memperkenalkan dirinya,
            “kenalin gue Alvin, cowok terkeren sedunia yang suka rela jadi pacarnya si Jelek ini” ucap Alvin asal seraya menyenggol lengan Sivia. Shilla hanya terkekeh geli ketika mendengarkan ucapan Alvin. Jika tidak ingat bahwa disana ada Sivia yang tengah menatapnya dengan tatapan pembunuh mungkin sudah sejak tadi Sivia menerkam Shilla hidup-hidup.
            “gue Shilla” ujar Shilla sambil menyambut uluran tangan Alvin.
            Mendadak handphone Shilla bergetar. Ia menerima sebuah SMS dari seseorang. Beberapa saat setelah membaca SMS itu, Shilla langsung pamit pada Alvin dan Sivia,
            “eh, Vi, gue pulang duluan yaa? Mama gue sms nih, Mama nyuruh gue buat nemenin Shoping”
            “lha, terus gue gimana?”
            “udah, ntar lo minta Alvin aja yang anterin, sorry, Vi, gue buru-buru. Vin, gue pamit yaa?” Alvin hanya mengangkat jempolnya sambil tersenyum.
            Shillapun berjalan keluar dengan buru-buru. Ketika Sivia akan menyusul Shilla, Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya.
            “heh, mau kemana lo?”
            “gue mau pulang!”
            “siapa yang ijinin lo pulang??”
            “Alvin lepas nggak?” pinta Sivia sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Alvin dari pergelangan tangannya. Alvin menggeleng pelan,
            “kata Shilla tadi lo kangen sama gue. Emangnya, lo nggak mau ngelepas kangen apa sama PACAR LO INI” Ucap Alvin dengan nada menggoda seraya memberikan penekanan pada kata ‘Pacar lo’. Sivia bergidik dan terus mencoba melepaskan diri dari cengkraman Alvin.
            “idih, kepedean lu! Males banget gue kangen sama Kunyuk rese, nyebelin, songong, angkuh dan nggak romantis kayak lu”
            Alvin tersenyum jahil dan semakin mempererat cengkramannya pada Gadis Malang itu.
            “jadi menurut lo, gue nggak romantis?”
            “pake nanya lagi lo! NGGAK, LO NGGAK ROMANTIS SAMA SEKALI DAN NGGAK ADA ROMANTIS-ROMANTISNYA….”
            Alvin tertawa kecil,
            “jadi lo mau gue romantis?” Tanya Alvin dengan nada menggoda seraya menatap kedua mata Sivia dalam.
            “ma… maksud lo?” Sivia mulai ketakutan.
            Dalam satu sentakan kuat, Alvin menyandarkan tubuh Sivia didinding. Jantung Sivia seperti meloncat-loncat dan seolah ingin keluar dari tempatnya. Alvin mengangkat tangan kananya lalu menghempaskan telapak tangannya pada dinding –tepat disamping Sivia-
            Sivia merasakan kedua telapak tangannya mulai berair. Saat tangan kiri Alvin menyentuh pipinya, Sivia langsung memejamkan matanya dan menggigit bagian bawah bibirnya.
            “hey, buka mata lo!” ucap Alvin yang mendadak lembut. Posisi mereka masih tetap sama, belum berubah sama sekali. Posisi Alvin kali ini benar-benar mengunci pergerakan Sivia.
            Secara perlahan Sivia membuka kedua matanya, dan senyuman maut Alvin langsung menyambutnya ketika itu. Pesona Alvin saat ini benar-benar kuat membuat Sivia takluk. Nyali Sivia langsung menciut seketika.
            “gue paling seneng ngeliat lo kalo lagi takut kayak gini” kata Alvin dengan nada pelan. tepat saat Sivia akan membalas ucapannya, Alvin buru-buru meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir mungil Sivia,
            “sttt…. Lo jangan ngomong apa-apa” ujar Alvin seraya menggeleng beberapa kali. Sivia meremas kuat-kuat rok nya untuk meredam rasa gugup yang kini menderanya.
            Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia yang mulai terlihat sedikit pucat. Tangan kiri Alvin bergerak perlahan lantas meraih tangan Sivia. Alvin menggenggamnya dengan sangat erat. Ketika wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Sivia, Alvinpun memiringkan posisi wajahnya. Perlahan Sivia merasakan sebuah rasa nyaman, ia pun memejamkan kedua matanya. Desauan  nafas Alvin semakin hangat ia rasakan menerpa wajahnya.
            Dan tepat ketika bibir Alvin nyaris menyentuh bibir mungilnya tiba-tiba saja….
            “Kak Alvin kita pulaaaanggg…..” ucap Rafli dan kawan-kawan yang tiba-tiba saja memasuki rumah singgah.
            Alvin dan Sivia yang merasa terkejut langsung menjauhkan posisi mereka masing-masing. Alvin dan Sivia sama-sama terlihat salah tingkah.
            “eh… kalian udah pulang?” ucap Alvin yang berusaha keras menyembunyikan kesalah tingkahannya.
            “Ya ampun ada Kak Via juga ternyata…?? Kita semua kangen tau sama Kak Via, kenapa nggak pernah kesini Kak?” Tanya Novi,
            “hehe… i..iya, kakak juga kangen sama kalian….”
            Sivia melirik sejenak kearah Alvin yang saat itu ternyata juga sedang menatapnya seraya tersenyum kecil.


^_^

            “potong sayurnya yang bener kali, Neng! Itu masih salah” protes Alvin ketika melihat Sivia memotong sayur. Sebenarnya cara Sivia sudah benar, tapi Si Kunyuk ini saja yang sengaja cari perkara.
            “cara pemotongan sayur yang salah bisa mempengaruhi rasa tau ngga??” tambah Alvin lagi.
            Sivia yang kelamaan merasa kesal, akhirnya berdecak, ia menghela nafasnya dengan tidak sabar lalu melihat kearah Alvin yang waktu itu dengan santainya tengah asyik menyantap Apel Merah. Sivia menatap Alvin dengan tatapan pemubunuh, ia mengangkat pisau yang ada ditangannya tepat dihadapan Alvin,
            “lo liat apa yang gue pegang ini?”
            “pisau” jawab Alvin santai,
            “dan lo bisa bayangin apa yang bakalan terjadi kalo sampe ini piso gue lempar ke muka lo?”
            “ooo… jadi lo ngancem gue nih? Pengen perang lagi sama gue??”
            “ya habisnya elo yang rese sih. Emangnya lo lupa apa kalo sekarang ini gue itu pacar lo dan bukan jongos lo lagi….”
            “pede banget lo! Emang gue nya mau nganggep lo pacar?”
            “ohhh… jadi gue nggak dianggep pacar nih??”
            Alvin mengangguk pasti dengan  raut tanpa dosanya yang semakin membuat Sivia gondok. Sivia menghela nafas beberapa kali, ia melepaskan pisau yang ada ditangannya begitu saja lalu meninggalkan dapur tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun pada Alvin.
            Saat Sivia akan keluar dari pintu dapur, tiba-tiba saja Alvin memanggilnya,
            “Heh Jelek!!”
            “apaan lagi??” Tanya Sivia kesal sambil berbalik badan.
            Alvin merogoh kantong jeansnya lalu melemparkan uang kertas senilai 10 ribu kearah Sivia,
            “apaan nih?” Tanya Sivia seraya mengambil uang yang terjatuh dilantai itu.
            “itu ongkos buat pulang!” jawab Alvin datar.
            Sumpah demi apapun itu, rasanya Sivia ingin sekali mengirim Alvin ke Neraka saat itu juga. Dengan membawa uang senilai 10 ribu itu, Sivia akhirnya benar-benar keluar dari dapur tanpa sedikitpun menoleh kearah Alvin.

^_^

            Sivia pergi dari rumah singgah dengan suasana hati yang benar-benar panas. Belum reda rasa kekesalan Sivia pada Alvin, dijalan raya kekesalannya malah semakin bertambah karena tidak ada satupun angkutan umum yang lewat. Bagaimana Sivia harus pulang? Ini semua gara-gara Shilla, kalau saja tadi Shilla tidak meninggalkannya dengan seenaknya mungkin Sivia tidak perlu sesusah ini untuk mencari angkutan umum.
            Sivia melanjutkan perjalanannya, jarak rumah Singgah pun semakin lama semakin jauh. Ketika melihat sebuah halte, Sivia pun langsung ke halte itu dan memilih untuk menunggu bus disana.
            Menit demi menit berlalu, tapi belum ada satupun tanda-tanda kedatangan sebuah Bus yang bisa membawa Sivia pulang kerumahnya. Sivia melipat kedua tangannya didada, ia menghentakkan kedua kakinya dilantai halte secara bergantian. Sesekali Sivia terdengar berdecak kesal.
            Ditengah-tengah kekesalannya yang semakin memuncak itu, fikiran Sivia masih sempat-sempatnya tertuju pada Kunyuk itu.
            “Kunyuk…. Lo itu pacar gue apa bukan sih?? Gue ngambek bukannya dikejer malah dibiarin gitu aja….” Ucap Sivia tanpa sadar. Tidak berselang lama setelah Sivia berkata seperti itu, tiba-tiba saja ia tersadar, ia buru-buru menutup mulutnya lalu segera meralat perkataannya tadi,
            “idiihhh… buat apa juga gue ngarep dikejer sama Kunyuk itu? Inget, Via, dia itu jahat! Sekalipun dia pacar lo, tapi dia tetep aja jahat sama lo. Jangan fikirin dia lagi, okey?”
            “Waahh… ada cewek cantik lagi sendirian nih” ucap seorang Preman yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Sivia. Preman itu berjumlah dua orang.
            Mereka berdua berjalan menghampiri Sivia dengan pandangan mata yang benar-benar membuat Sivia bergidik ngeri. Saat ini kedua preman itu sudah berdiri disisi kiri dan kanan Sivia.
            “mau apa kalian?” Tanya Sivia yang mulai ketakutan.
            “galak banget Neng, nyante aja!” kata salah satu dari preman itu sambil memegang pundak Sivia. Sivia langsung menepis tangan preman itu dengan kasar dari pundaknya,
            “widihhh…. Ternyata ini cewek bener-bener galak yaa?” ucap Preman yang satunya lagi.
            “sikat aja!”
            “heh, jangan-jangan macem lo! Kalo kalian berani nyentuh gue sedikiiittt aja, gue bakalan tereak sekenceng-kencengnya”
            “teriak aja! Memangnya Neng Cantik nggak liat kalo disini sepi” ucap Preman itu sambil mencolek dagu Sivia,
            “jangan colek-colek”
            Kedua preman itu saling memandang untuk beberapa saat, tidak lama kemudian mereka saling mengangguk satu sama lain lalu menarik lengan Sivia dari sisi kiri dan kanan. Merekapun membawa Sivia pergi dari halte itu.
            “Heh…. Kalian mau bawa gue kemana?? Lepasin gueeeee….” Jerit Sivia dengan tangisan yang nyaris pecah.
            Tapi percuma, karena kedua preman itu tidak sedikitpun mengindahkan jeritannya.
            “ALVIIIIIIINNNNNN!!!” Teriak Sivia spontan dengan linangan air mata yang menetes pelan membasahi pipi mulusnya.
            “ALVINNNNN…. TOLONGIN GUE, GUE TAKUUUTTTTTTT!!!” Teriak Sivia lebih kencang lagi. Mendengar Sivia berteriak seperti itu, kedua preman itu malah tertawa.

            “BUKKK…..” Secara mengejutkan tiba-tiba saja salah satu dari preman yang membawa Sivia jatuh tersungkur hingga tergeletak ditanah.
            “Lepasin cewek gue ato kalo nggak lo berdua bakalan mati sekarang juga!!” ucap Alvin dengan wajah yang benar-benar murka. Dalam hati Sivia langsung bersyukur ketika Alvin datang untuk menyelamatkannya.
            Tanpa berkata apa-apa lagi, Preman yang tadi Alvin pukuli hingga terjatuh ketanah langsung bangkit. Ia berjalan cepat menghampiri Alvin lalu melayangkan sebuah pukulan yang lumayan keras tepat diwajah Alvin. Saat itu juga Sivia kembali berteriak ketakutan,
            “ALVIIINNNNNN…..”
            Dengan sigap Alvin membalas pukulan preman itu secara membabi buta. Alvin tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada preman itu untuk membalas. Merasa temannya sedang dalam keadaan terancam, Preman yang satunya lagi mengeluarkan pisau lipat dari kantongnya lalu menodongkan pisau itu tepat dileher Sivia,
            “Berhenti pukul temen gue ato kalo nggak cewek lo yang akan mati duluan” ucapnya dengan bersungguh-sungguh seraya menempelkan pisau itu pada leher Sivia.
            Sivia memejamkan kedua matanya kuat-kuat, benarkah hidupnya akan berakhir hari ini juga?
            Alvin mulai terlihat luluh. Jemari tangannya yang sejak tadi menggenggam kuat penuh amarah mendadak melemas. Jika Sivia sampai terluka sedikiittttt saja Alvin bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya. Sejak awal, sejak Alvin menjatuhkan pilihan hatinya pada Si Jelek itu, hati kecilnya tidak pernah berbohong, Alvin sangat mencintai Sivia. Dan Alvin tidak akan pernah membiarkan Sivia terluka meskipun itu hanya sedikit.
            Hening untuk beberapa saat. Dalam keadaan yang serba genting itu Alvin buru-buru berfikir bagaimana caranya melepaskan Sivia dari cengkraman Preman itu. Alvin menunggu untuk beberapa saat, dan ketika Preman yang memegangi Sivia itu terlihat lengah, Alvin buru-buru menarik Sivia. Tapi Sial, ketika Alvin nyaris berhasil menarik Sivia, Preman itu langsung mengangkat pisaunya dan telah siap-siap menghunuskannya pada punggung Sivia.
            Menyadari itu, Alvin langsung bergerak cepat, ia mendorong tubuh Sivia hingga terjatuh ketanah. Semuanya terjadi begitu cepat, pisau lipat itu menghunus perut Alvin hingga mengeluarkan banyak darah. Preman itu menarik kembali pisau lipat dari perut Alvin.
            Secara perlahan Alvin jatuh bersimpuh dihadapan preman itu. Sivia langsung berteriak histeris,
            “ALVIINNNNNNNNN!!!”
            “Begok, kenapa lu tusuk dia??” Tanya Preman yang satunya lagi dengan penuh emosi,
            “gue nggak sengaja!!”
            “ya udah, sekarang cepet kita pergi!!”
            Tanpa membuang-buang waktu lagi, kedua preman itu langsung melarikan diri.
            Sivia yang masih sangat shock merangkak menghampiri Alvin yang saat itu sudah bersimbah darah.
            “Vin….” Panggil Sivia dengan linangan air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipi chubby nya.
            Sivia mengangkat sedikit punggung Alvin yang ketika itu sudah tergeletak ditanah, Siviapun menopang kepala Alvin dengan lengannya.
            “kenapa lo lakuin ini, Vin, kenapaa??”
            “elo nggak apa-apa kan?” Tanya Alvin dengan sisa-sisa tenaga yang coba ia kumpulkan sekuat ia mampu. Sivia menggeleng beberapa kali,
            “begok! Kenapa lo malah tanyain keadaan gue?”
            “ma… maafin gu.. gue yaa? Ta… tadi gue Cuma becanda…”
            “kalo sampe terjadi apa-apa sama lo, gue nggak akan maafin lo, gue benci sama lo, Kunyuk, gue benciiii…”
            Alvin menggeleng pelan,
            “enggak… nggak akan terjadi apa-apa sama gue. Gu.. gue akan ba… ik-baik a…ja… gu… gue ja.. janji…”
            “Kunyuk… kita baru sehari jadian, tapi kenapa sekarang lo malah kayak gini? Kenapa??”
            Tangan lemah Alvin terangkat secara perlahan lalu mendarat tepat dipipi sebelah kiri Sivia, Alvin tersenyum,
            “gue… ci… cinta sama lo Je… lek…” itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan dalam dekapan hangat Sivia.
            Sivia memeluk erat-erat tubuh Alvin lantas berteriak sekeras-kerasnya….

            “ALVIIINNNNNNNNN……. JANGAN TINGGALIN GUEEEEE…….”




                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment