“Fy, nanti anterin gue ya kerumah
Singgah…” ucap Sivia pada Ify saat mereka tangah makan bersama dikantin saat
jam istirahat. Selain ada Ify disana juga ada Shilla dan Agni.
“sorry Via, bukannya gue nggak mau
nganterin lo, Cuma aja nanti pas pulang sekolah gue harus nemenin Nyokap
kerumah Tante gue, ada arisan keluarga” kata Ify terus terang sambil tetap
focus menyantap Mie Ayam pesanannya. Mendengar perkataan Ify, Sivia langsung
cemberut. Masa Sivia harus pergi sendiri kerumah singgah? Kalau seperti itu kan
kentara sekali kalau Sivia merindukan Kunyuk Songong itu, belum lagi semalam
mereka sempat bertengkar.
Kalau ingin jujur sebenernya Sivia
sangat merindukan Alvin, tapi Sivia tidak ingin terlalu menunjukan itu
dihadapan Alvin. Yang ada nanti Alvin malah semakin merasa berada diatas angin.
Membayangkan senyuman licik Alvin saja Sivia sudah bergidik ngeri.
“sama Shilla aja, Vi…! Lagian kan
elo udah jadian ama Alvin, biarin lah Shilla tahu. Yaa… biarpun oneng kayak
gini juga kan Shilla tetep sahabat kita…” ucap Ify datar tanpa ekspresi. Sivia
langsung tersedak mendengarkan ucapan Ify.
Agni yang saat itu duduk disamping
Shilla langsung saja menepuk punggung Shilla berkali-kali seraya menyerahkan
segelas air putih untuk Shilla. Shilla menerima air putih pemberian Agni lalu
meminumnya buru-buru.
“sialan lo Fy pake ngatain gue oneng
segala, eh tapi tadi lo bilang Sivia udah punya pacar yak?” Tanya Shilla
beberapa saat setelah ia mengambil nafas,
“siapa Vi pacar lo?” kali ini Shilla
mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
“ya makanya, hari ini lo anter aja
Sivia kerumah singgah, nanti pasti lo tahu siapa pacarnya Via” malah Ify yang
menjawab pertanyaan Shilla tadi. Shilla melirik sengit kearah Ify,
“gue nggak nanya lo!”
“Via, elo punya pacar kok nggak
ngomong-ngomong ke kita?” kali ini Agni yang bertanya,
“takut dimintain Peje kali” timpal
Shilla.
“ngaco lo! Bukannya gue nggak mau
ngasih tau, Cuma aja kan gue baru resmi jadian semalem sama Alvin….”
“OOOOO… jadi namanya Alvin toh??”
ujar Shilla dan Agni kompak.
“terus Cakka mau lo kemanain??”
Tanya Shilla spontan.
Mendengar pertanyaan Shilla yang
spontan itu, semuanyapun terkejut. Sementara Agni, ia tidak hanya terkejut,
tapi ada rasa ngilu yang ia rasakan dihati kecilnya ketika Shilla melemparkan
pertanyaan itu pada Sivia.
“Shilllaaaaa! Gue jitakin juga lo
lama-lama, isshhh….” Kesal Sivia hampir mencekik leher Shilla saking gemesnya,
“kalian semua tau kan kalau Cakka itu sahabat gue, dan gue nggak mungkin ada
apa-apa sama dia….” Lanjut Sivia.
“iya nih Shilla. Gue heran, kenapa
ya Iel mau pacaran sama cewek lemot kayak lo?” Ify mulai mencari gara-gara
lagi. Shilla langsung menatap Ify tajam.
“IFY….” Kata Shilla galak.
‘pantes aja semalem pas gue ketemu
Cakka, dia keliatan galau banget, ternyata karna ini? Ternyata insting gue
nggak salah, Cakka suka sama Sivia, bahkan lebih dari sekedar sahabat…’ batin
Agni lantas menyedot minuman isotonic nya.
^_^
Suasana kelas XI IPA 2 benar-benar
sangat gaduh siang itu. Jam pelajaran terakhir yang seharusnya diisi oleh mata
pelajaran matematika malah kosong gara-gara Guru yang piket hari itu harus
mengikuti rapat Guru.
Dibangku belakang paling pojok,
Cakka dan Sivia terlihat tengah bergurau bersama. Sebenarnya Cakka dan Sivia
duduk dideretan bangku paling depan, tapi saat tahu kalau jam pelajaran
Matematika hari itu kosong, mereka berdua langsung pindah ke bangku paling
pojok dan mengusir Daud yang merupakan penghuni asli bangku itu.
“Kka, lo bener-bener nggak mau nih
sama Agni?” Tanya Sivia tiba-tiba ditengah gurauan mereka. Mendengar pertanyaan
Sivia, mendadak senyum yang sejak tadi mengembang diwajah Cakka langsung
menghilang seketika.
“kenapa sih sejak semalem lo terus
bahas hal itu?” Tanya Cakka kesal,
“gue Cuma mau lihat lo bahagia Cecak
Nuragaaaa...”
“Cakka Nuraga” ralat Cakka cepat,
“iii… terserah lah, mau nama lo
Cakka kek, Cecak kek, itu urusan lo, yang terpenting sekarang buat gue adalah….
Eeemmm…. Lo mau ya gue comblangin sama Agni? Mau ya? Mau ya? Mau ya? Plis plis
plis….” Pinta Sivia dengan wajah memelas dihadapan Cakka.
Cakka menghela nafas beberapa kali,
tidak lama kemudian ia berkata pada Sivia,
“beneran deh, Vi, sekali lagi bahas
soal itu gue beneran marah. Lo mau sakit gara-gara gue juga gue nggak bakalan
peduli” ucap Cakka tega.
“yaahh…. Cakka, kok lo gitu sih sama
gueeee??”
“suka-suka gue, habisnya lo rese
sih, nyebelin tau, dasar bawel!”
“iiihhh…. Dasar Cecak-Cecak
didinding diam-diam merayap..”
“apaan deh, Vi… lo nggak lucu banget
tauu?” ucap Cakka dengan ekspresi datar,
“emang yang bilang kalo gue lagi
ngelucu siapa? Gue nggak lagi ngelucu”
“ketauan banget boong lo!”
“Bodo!!”
“ciyeee ngambek”
“suka-suka gue” ujar Sivia menirukan
ucapan Cakka tadi.
Sivia bangkit dari bangkunya lalu keluar
dari kelas begitu saja. Cakka yang menyadari bahwa Sivia marah padanya langsung
berlari menyusul Sivia ke luar kelas.
^_^
Saat pulang sekolah ternyata benar
saja Shilla mengantar Sivia pergi kerumah singgah. Siang itu suasana rumah
singgah Nampak sunyi senyap. Sivia agak heran ketika melihat suasana Rumah
Singgah yang tidak seperti biasanya.
Sivia dan Shilla jalan beriringan
menyusuri pekarangan rumah singgah. Melihat pintu rumah singgah yang terbuka
lebar Sivia dan Shilla langsung masuk kedalam.
“sepia mat, Vi…?” Tanya Shilla
heran.
“ehem…. Dasar cewek nggak sopan!”
tegur seseorang secara tiba-tiba dari belakang Sivia dan Shillla.
Merasa sangat terkejut dengan suara
itu, Sivia dan Shilla langsung berbalik badan secara bersamaan. Ternyata seseorang
yang menegur mereka itu adalah Alvin. Alvin berdiri dipintu sambil memasang
wajah cool dan dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada. Alvin juga masih
mengenakan seragam sekolahnya.
“ke… kenapa lo bilang gue nggak
sopan?” Tanya Sivia yang mendadak gugup. Entahlah, Sivia juga heran kenapa diamasih
saja suka gugup jika sudah berhadapan dengan Alvin, padahal kan Alvin sudah
resmi jadi pacarnya.
Alvin memasukan kedua tangannya pada
kedua sisi kantong celana seragamnya. Dengan ekspresi yang tetap dan tidak
berubah sedikitpun Alvin berjalan perlahan memasuki rumah singgah.
“ya… siapapun juga bakalan bilang lo
nggak sopan kalo masuk rumah orang tanpa permisi…” Alvin duduk dengan santai
disofa tanpa sedikitpun melihat kearah Sivia dan Shilla yang saat itu masih
cengo memandanginya. Dalam hati Shilla memuji ketampanan Alvin.
Apa? Alvin bilang apa tadi? Sivia
masuk rumah orang? Apa Kunyuk itu sudah lupa kalau baru semalam mereka jadian?
Benar-benar keterlaluan.
“untung gue yang ngelihat lo, coba
kalo orang laen yang lihat, udah diteriakin maling lo”
Keterlaluan! Ucapan Alvin kali ini
benar-benar keterlaluan. Sivia tidak bisa tinggal diam, ia harus memberi
pelajaran pada cowok songong itu. Persetan Alvin pacarnya atau bukan, tapi yang
jelas Sivia harus membalasnya.
“mau ngapain lo kesini?” Tanya Alvin
lagi dengan begitu menjengkelkannya. Sivia menghela nafas panjang. Sabar, Sivia
harus sabar menghadapi Kunyuk ini. Nanti akan tiba waktunya Sivia membalas
perlakuan cowok yang ‘katanya’ sudah resmi menjadi pacarnya itu.
“mau nemuin anak-anak, gue kangen
mereka” alibi Sivia,
“aah… Via boong banget lu! Bukannya
tadi lo bilang lo kesini buat nemuin Alvin yak? Elo kan kangen sama Alvin
katanya” ucap Shilla dengan begitu polosnya. Kedua mata Sivia langsung membelalak
lebar ketika mendengarkan penuturan Shilla yang kelewat jujur itu.
Sementara Alvin, ia langsung
terlihat semuringah ketika mendengarkan ucapan Shilla barusan. Alvin bangkit
dari duduknya lalu menghampiri Shilla,
“beneran Si Jelek ini kangen sama gue?”
Tanya Alvin penuh semangat. Shilla langsung mengangguk beberapa kali.
“nggak usah kegeeran lu, Nyuk! Orang
gue kesini mau nemuin anak-anak juga” dengan muka begok Sivia masih saja
berusaha memberi alasan. Alvin menatap Sivia dengan tatapan nakal. Alvin
seolah-olah ingin menggoda Sivia sampai terlihat bodoh dihadapannya.
“Shill, awas lu! Gue bunuh lo ntar!”
ancam Sivia sok sadis.
Tiba-tiba Alvin mengalihkan
perhatiannya dari Sivia. Alvin mengulurkan tangannaya dihadapan Shilla lantas
memperkenalkan dirinya,
“kenalin gue Alvin, cowok terkeren
sedunia yang suka rela jadi pacarnya si Jelek ini” ucap Alvin asal seraya
menyenggol lengan Sivia. Shilla hanya terkekeh geli ketika mendengarkan ucapan
Alvin. Jika tidak ingat bahwa disana ada Sivia yang tengah menatapnya dengan
tatapan pembunuh mungkin sudah sejak tadi Sivia menerkam Shilla hidup-hidup.
“gue Shilla” ujar Shilla sambil
menyambut uluran tangan Alvin.
Mendadak handphone Shilla bergetar.
Ia menerima sebuah SMS dari seseorang. Beberapa saat setelah membaca SMS itu,
Shilla langsung pamit pada Alvin dan Sivia,
“eh, Vi, gue pulang duluan yaa? Mama
gue sms nih, Mama nyuruh gue buat nemenin Shoping”
“lha, terus gue gimana?”
“udah, ntar lo minta Alvin aja yang
anterin, sorry, Vi, gue buru-buru. Vin, gue pamit yaa?” Alvin hanya mengangkat
jempolnya sambil tersenyum.
Shillapun berjalan keluar dengan
buru-buru. Ketika Sivia akan menyusul Shilla, Alvin langsung mencekal
pergelangan tangannya.
“heh, mau kemana lo?”
“gue mau pulang!”
“siapa yang ijinin lo pulang??”
“Alvin lepas nggak?” pinta Sivia
sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Alvin dari pergelangan tangannya.
Alvin menggeleng pelan,
“kata Shilla tadi lo kangen sama
gue. Emangnya, lo nggak mau ngelepas kangen apa sama PACAR LO INI” Ucap Alvin
dengan nada menggoda seraya memberikan penekanan pada kata ‘Pacar lo’. Sivia
bergidik dan terus mencoba melepaskan diri dari cengkraman Alvin.
“idih, kepedean lu! Males banget gue
kangen sama Kunyuk rese, nyebelin, songong, angkuh dan nggak romantis kayak lu”
Alvin tersenyum jahil dan semakin
mempererat cengkramannya pada Gadis Malang itu.
“jadi menurut lo, gue nggak
romantis?”
“pake nanya lagi lo! NGGAK, LO NGGAK
ROMANTIS SAMA SEKALI DAN NGGAK ADA ROMANTIS-ROMANTISNYA….”
Alvin tertawa kecil,
“jadi lo mau gue romantis?” Tanya
Alvin dengan nada menggoda seraya menatap kedua mata Sivia dalam.
“ma… maksud lo?” Sivia mulai
ketakutan.
Dalam satu sentakan kuat, Alvin
menyandarkan tubuh Sivia didinding. Jantung Sivia seperti meloncat-loncat dan
seolah ingin keluar dari tempatnya. Alvin mengangkat tangan kananya lalu
menghempaskan telapak tangannya pada dinding –tepat disamping Sivia-
Sivia merasakan kedua telapak
tangannya mulai berair. Saat tangan kiri Alvin menyentuh pipinya, Sivia
langsung memejamkan matanya dan menggigit bagian bawah bibirnya.
“hey, buka mata lo!” ucap Alvin yang
mendadak lembut. Posisi mereka masih tetap sama, belum berubah sama sekali.
Posisi Alvin kali ini benar-benar mengunci pergerakan Sivia.
Secara perlahan Sivia membuka kedua matanya,
dan senyuman maut Alvin langsung menyambutnya ketika itu. Pesona Alvin saat ini
benar-benar kuat membuat Sivia takluk. Nyali Sivia langsung menciut seketika.
“gue paling seneng ngeliat lo kalo
lagi takut kayak gini” kata Alvin dengan nada pelan. tepat saat Sivia akan
membalas ucapannya, Alvin buru-buru meletakkan jari telunjuknya tepat didepan
bibir mungil Sivia,
“sttt…. Lo jangan ngomong apa-apa”
ujar Alvin seraya menggeleng beberapa kali. Sivia meremas kuat-kuat rok nya
untuk meredam rasa gugup yang kini menderanya.
Alvin mendekatkan wajahnya dengan
wajah Sivia yang mulai terlihat sedikit pucat. Tangan kiri Alvin bergerak
perlahan lantas meraih tangan Sivia. Alvin menggenggamnya dengan sangat erat.
Ketika wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Sivia, Alvinpun
memiringkan posisi wajahnya. Perlahan Sivia merasakan sebuah rasa nyaman, ia
pun memejamkan kedua matanya. Desauan
nafas Alvin semakin hangat ia rasakan menerpa wajahnya.
Dan tepat ketika bibir Alvin nyaris
menyentuh bibir mungilnya tiba-tiba saja….
“Kak Alvin kita pulaaaanggg…..” ucap
Rafli dan kawan-kawan yang tiba-tiba saja memasuki rumah singgah.
Alvin dan Sivia yang merasa terkejut
langsung menjauhkan posisi mereka masing-masing. Alvin dan Sivia sama-sama
terlihat salah tingkah.
“eh… kalian udah pulang?” ucap Alvin
yang berusaha keras menyembunyikan kesalah tingkahannya.
“Ya ampun ada Kak Via juga
ternyata…?? Kita semua kangen tau sama Kak Via, kenapa nggak pernah kesini
Kak?” Tanya Novi,
“hehe… i..iya, kakak juga kangen
sama kalian….”
Sivia melirik sejenak kearah Alvin
yang saat itu ternyata juga sedang menatapnya seraya tersenyum kecil.
^_^
“potong sayurnya yang bener kali,
Neng! Itu masih salah” protes Alvin ketika melihat Sivia memotong sayur.
Sebenarnya cara Sivia sudah benar, tapi Si Kunyuk ini saja yang sengaja cari
perkara.
“cara pemotongan sayur yang salah
bisa mempengaruhi rasa tau ngga??” tambah Alvin lagi.
Sivia yang kelamaan merasa kesal,
akhirnya berdecak, ia menghela nafasnya dengan tidak sabar lalu melihat kearah
Alvin yang waktu itu dengan santainya tengah asyik menyantap Apel Merah. Sivia
menatap Alvin dengan tatapan pemubunuh, ia mengangkat pisau yang ada
ditangannya tepat dihadapan Alvin,
“lo liat apa yang gue pegang ini?”
“pisau” jawab Alvin santai,
“dan lo bisa bayangin apa yang
bakalan terjadi kalo sampe ini piso gue lempar ke muka lo?”
“ooo… jadi lo ngancem gue nih?
Pengen perang lagi sama gue??”
“ya habisnya elo yang rese sih.
Emangnya lo lupa apa kalo sekarang ini gue itu pacar lo dan bukan jongos lo
lagi….”
“pede banget lo! Emang gue nya mau
nganggep lo pacar?”
“ohhh… jadi gue nggak dianggep pacar
nih??”
Alvin mengangguk pasti dengan raut tanpa dosanya yang semakin membuat Sivia
gondok. Sivia menghela nafas beberapa kali, ia melepaskan pisau yang ada
ditangannya begitu saja lalu meninggalkan dapur tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun
pada Alvin.
Saat Sivia akan keluar dari pintu
dapur, tiba-tiba saja Alvin memanggilnya,
“Heh Jelek!!”
“apaan lagi??” Tanya Sivia kesal
sambil berbalik badan.
Alvin merogoh kantong jeansnya lalu
melemparkan uang kertas senilai 10 ribu kearah Sivia,
“apaan nih?” Tanya Sivia seraya
mengambil uang yang terjatuh dilantai itu.
“itu ongkos buat pulang!” jawab
Alvin datar.
Sumpah demi apapun itu, rasanya
Sivia ingin sekali mengirim Alvin ke Neraka saat itu juga. Dengan membawa uang
senilai 10 ribu itu, Sivia akhirnya benar-benar keluar dari dapur tanpa
sedikitpun menoleh kearah Alvin.
^_^
Sivia pergi dari rumah singgah
dengan suasana hati yang benar-benar panas. Belum reda rasa kekesalan Sivia
pada Alvin, dijalan raya kekesalannya malah semakin bertambah karena tidak ada
satupun angkutan umum yang lewat. Bagaimana Sivia harus pulang? Ini semua
gara-gara Shilla, kalau saja tadi Shilla tidak meninggalkannya dengan seenaknya
mungkin Sivia tidak perlu sesusah ini untuk mencari angkutan umum.
Sivia melanjutkan perjalanannya,
jarak rumah Singgah pun semakin lama semakin jauh. Ketika melihat sebuah halte,
Sivia pun langsung ke halte itu dan memilih untuk menunggu bus disana.
Menit demi menit berlalu, tapi belum
ada satupun tanda-tanda kedatangan sebuah Bus yang bisa membawa Sivia pulang
kerumahnya. Sivia melipat kedua tangannya didada, ia menghentakkan kedua
kakinya dilantai halte secara bergantian. Sesekali Sivia terdengar berdecak
kesal.
Ditengah-tengah kekesalannya yang
semakin memuncak itu, fikiran Sivia masih sempat-sempatnya tertuju pada Kunyuk
itu.
“Kunyuk…. Lo itu pacar gue apa bukan
sih?? Gue ngambek bukannya dikejer malah dibiarin gitu aja….” Ucap Sivia tanpa
sadar. Tidak berselang lama setelah Sivia berkata seperti itu, tiba-tiba saja
ia tersadar, ia buru-buru menutup mulutnya lalu segera meralat perkataannya
tadi,
“idiihhh… buat apa juga gue ngarep
dikejer sama Kunyuk itu? Inget, Via, dia itu jahat! Sekalipun dia pacar lo,
tapi dia tetep aja jahat sama lo. Jangan fikirin dia lagi, okey?”
“Waahh… ada cewek cantik lagi
sendirian nih” ucap seorang Preman yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri
Sivia. Preman itu berjumlah dua orang.
Mereka berdua berjalan menghampiri
Sivia dengan pandangan mata yang benar-benar membuat Sivia bergidik ngeri. Saat
ini kedua preman itu sudah berdiri disisi kiri dan kanan Sivia.
“mau apa kalian?” Tanya Sivia yang
mulai ketakutan.
“galak banget Neng, nyante aja!”
kata salah satu dari preman itu sambil memegang pundak Sivia. Sivia langsung
menepis tangan preman itu dengan kasar dari pundaknya,
“widihhh…. Ternyata ini cewek
bener-bener galak yaa?” ucap Preman yang satunya lagi.
“sikat aja!”
“heh, jangan-jangan macem lo! Kalo
kalian berani nyentuh gue sedikiiittt aja, gue bakalan tereak
sekenceng-kencengnya”
“teriak aja! Memangnya Neng Cantik
nggak liat kalo disini sepi” ucap Preman itu sambil mencolek dagu Sivia,
“jangan colek-colek”
Kedua preman itu saling memandang
untuk beberapa saat, tidak lama kemudian mereka saling mengangguk satu sama
lain lalu menarik lengan Sivia dari sisi kiri dan kanan. Merekapun membawa
Sivia pergi dari halte itu.
“Heh…. Kalian mau bawa gue kemana??
Lepasin gueeeee….” Jerit Sivia dengan tangisan yang nyaris pecah.
Tapi percuma, karena kedua preman
itu tidak sedikitpun mengindahkan jeritannya.
“ALVIIIIIIINNNNNN!!!” Teriak Sivia
spontan dengan linangan air mata yang menetes pelan membasahi pipi mulusnya.
“ALVINNNNN…. TOLONGIN GUE, GUE
TAKUUUTTTTTTT!!!” Teriak Sivia lebih kencang lagi. Mendengar Sivia berteriak
seperti itu, kedua preman itu malah tertawa.
“BUKKK…..” Secara mengejutkan
tiba-tiba saja salah satu dari preman yang membawa Sivia jatuh tersungkur
hingga tergeletak ditanah.
“Lepasin cewek gue ato kalo nggak lo
berdua bakalan mati sekarang juga!!” ucap Alvin dengan wajah yang benar-benar
murka. Dalam hati Sivia langsung bersyukur ketika Alvin datang untuk
menyelamatkannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Preman
yang tadi Alvin pukuli hingga terjatuh ketanah langsung bangkit. Ia berjalan
cepat menghampiri Alvin lalu melayangkan sebuah pukulan yang lumayan keras
tepat diwajah Alvin. Saat itu juga Sivia kembali berteriak ketakutan,
“ALVIIINNNNNN…..”
Dengan sigap Alvin membalas pukulan
preman itu secara membabi buta. Alvin tidak memberikan kesempatan sedikitpun
pada preman itu untuk membalas. Merasa temannya sedang dalam keadaan terancam,
Preman yang satunya lagi mengeluarkan pisau lipat dari kantongnya lalu
menodongkan pisau itu tepat dileher Sivia,
“Berhenti pukul temen gue ato kalo
nggak cewek lo yang akan mati duluan” ucapnya dengan bersungguh-sungguh seraya
menempelkan pisau itu pada leher Sivia.
Sivia memejamkan kedua matanya
kuat-kuat, benarkah hidupnya akan berakhir hari ini juga?
Alvin mulai terlihat luluh. Jemari
tangannya yang sejak tadi menggenggam kuat penuh amarah mendadak melemas. Jika
Sivia sampai terluka sedikiittttt saja Alvin bersumpah tidak akan pernah
memaafkan dirinya. Sejak awal, sejak Alvin menjatuhkan pilihan hatinya pada Si
Jelek itu, hati kecilnya tidak pernah berbohong, Alvin sangat mencintai Sivia.
Dan Alvin tidak akan pernah membiarkan Sivia terluka meskipun itu hanya
sedikit.
Hening untuk beberapa saat. Dalam
keadaan yang serba genting itu Alvin buru-buru berfikir bagaimana caranya
melepaskan Sivia dari cengkraman Preman itu. Alvin menunggu untuk beberapa
saat, dan ketika Preman yang memegangi Sivia itu terlihat lengah, Alvin
buru-buru menarik Sivia. Tapi Sial, ketika Alvin nyaris berhasil menarik Sivia,
Preman itu langsung mengangkat pisaunya dan telah siap-siap menghunuskannya
pada punggung Sivia.
Menyadari itu, Alvin langsung
bergerak cepat, ia mendorong tubuh Sivia hingga terjatuh ketanah. Semuanya
terjadi begitu cepat, pisau lipat itu menghunus perut Alvin hingga mengeluarkan
banyak darah. Preman itu menarik kembali pisau lipat dari perut Alvin.
Secara perlahan Alvin jatuh
bersimpuh dihadapan preman itu. Sivia langsung berteriak histeris,
“ALVIINNNNNNNNN!!!”
“Begok, kenapa lu tusuk dia??” Tanya
Preman yang satunya lagi dengan penuh emosi,
“gue nggak sengaja!!”
“ya udah, sekarang cepet kita
pergi!!”
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
kedua preman itu langsung melarikan diri.
Sivia yang masih sangat shock
merangkak menghampiri Alvin yang saat itu sudah bersimbah darah.
“Vin….” Panggil Sivia dengan
linangan air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipi chubby nya.
Sivia mengangkat sedikit punggung
Alvin yang ketika itu sudah tergeletak ditanah, Siviapun menopang kepala Alvin
dengan lengannya.
“kenapa lo lakuin ini, Vin,
kenapaa??”
“elo nggak apa-apa kan?” Tanya Alvin
dengan sisa-sisa tenaga yang coba ia kumpulkan sekuat ia mampu. Sivia
menggeleng beberapa kali,
“begok! Kenapa lo malah tanyain
keadaan gue?”
“ma… maafin gu.. gue yaa? Ta… tadi
gue Cuma becanda…”
“kalo sampe terjadi apa-apa sama lo,
gue nggak akan maafin lo, gue benci sama lo, Kunyuk, gue benciiii…”
Alvin menggeleng pelan,
“enggak… nggak akan terjadi apa-apa
sama gue. Gu.. gue akan ba… ik-baik a…ja… gu… gue ja.. janji…”
“Kunyuk… kita baru sehari jadian,
tapi kenapa sekarang lo malah kayak gini? Kenapa??”
Tangan lemah Alvin terangkat secara
perlahan lalu mendarat tepat dipipi sebelah kiri Sivia, Alvin tersenyum,
“gue… ci… cinta sama lo Je… lek…”
itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan dalam
dekapan hangat Sivia.
Sivia memeluk erat-erat tubuh Alvin
lantas berteriak sekeras-kerasnya….
“ALVIIINNNNNNNNN……. JANGAN TINGGALIN
GUEEEEE…….”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment