Wednesday, May 1, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part6 "KUNYUK DAN JELEK"






Hari Kedua (Minggu)
                           

                “Selamat Pagi, Vin…” sapa Mama dengan hangat saat Alvin baru saja keluar dari dalam kamarnya.
            “Pagi juga, Ma…” jawab Alvin singkat lalu duduk dimeja makan dan mengambil dua lembar roti. Alvinpun mengoleskan kedua lembar roti itu dengan selai cokelat.
            “Semalem pulang jam berapa?” Tanya Mama membuka obrolan pagi itu sembari meletakkan segelas susu dihadapan Alvin.
            Sebelum menjawab pertanyaan dari Mama, Alvin meraih gelas susu itu lantas meminumnya sedikit.
            “sekitar jam 10, Ma…” Alvin memotong rotinya lalu menyantapnya dengan lahap.
            “Mama denger-denger dari Pak Parmin, katanya kemaren kamu bawa cewek ya kerumah Kita? Itu siapa?”
            “bukan siapa-siapa kok, Ma…” jawab Alvin sesantai mungkin.
            Mendengar jawaban Alvin, Mamapun langsung menghentikan aktifitasnya menguyah roti, beliau menatap Alvin dengan tatapan bertanya.
            “masa sih? Dia pacar kamu ya?”
            Alvin benar-benar tersedak mendengarkan pertanyaan yang Mama lemparkan kali ini. Alvin terbatuk beberapa kali seraya memegang dadanya yang terasa agak sedikit perih. Alvin menepuk dadanya beberapa kali untuk menetralisir rasa perih itu, setelah merasa lebih baik Alvin langsung meraih gelas susunya dan memiumnya sekali lagi.
            “ngaco! Ya bukanlah, Ma… Alvin masih waras Ma, dan selama Alvin masih merasa waras Alvin nggak akan pernah jadian sama Sivia…”
            “ooo… jadi namanya Sivia toh? Lain kali kenalin sama Mama ya?” kata Mama yang mulai berniat menggoda Alvin. Mama melihat kearah Alvin lalu tersenyum nakal pada Alvin yang waktu itu tengah menatapnya dengan tatapan sebal.
            Selama ini, Mama memang tidak pernah sekalipun mendengar tentang kedekatan Alvin dengan seorang cewek apalagi sampai berpacaran. Yang Mama tahu anak sulungnya yang satu ini memang sangat cuek dengan makhluk bernama cewek, makanya waktu Pak Parmin (Tukang Kebun di Rumah Kita)  melapor bahwa kemarin Alvin membawa seorang cewek kerumah Singgah Mama agak sedikit tercengang, bagaimana tidak? Selama ini mana pernah Alvin membawa seorang cewekpun kerumah Kita. Mama berfikir, bahwa cewek itu pasti sangat special untuk Alvin. Benarkah??
            “dia Cuma Alvin jadiin babu di Rumah Kita” Jawab Alvin pada akhirnya yang belum apa-apa sudah mulai mengalah dengan godaan dari Mamanya.
            Lagi-lagi Mama dibuat tercengang oleh penuturan Alvin.
            “Babu? Maksud kamu?”
            Belum sempat Alvin menjawab pertanyaan dari Mama nya, tiba-tiba seorang cewek bertubuh mungil, berkulit putih, dan berambut panjang menghampiri Alvin juga Mama dimeja makan.
            “pintu kok nggak dikunci? Untungnya aku yang masuk, coba kalo maling??” ujar cewek cantik itu sedikit kesal sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Secara bersamaan Alvin dan Mama menoleh kearah cewek itu dengan pandangan tak percaya. Gadis Mungil itu telah pulang.


^_^

            Sivia buru-buru berlari kearah pintu saat mendengarkan ada seseorang yang memencet tombol bel rumahnya. Sivia bahkan mendahului Marsha yang waktu itu hendak membuka pintu. Tanpa sengaja, Sivia menyenggol keras lengan Marsha, hal itu membuat Marsha sedikit meringis kesakitan.
            “pelan-pelan dong wooyy…” teriak Marsha tak sabar.
            “sorry…. Sorry….” Jawab Sivia tanpa rasa bersalah sedikitpun sambil tetap berlari kearah pintu. Melihat kelakuan Kakaknya itu, Marsha Cuma bisa geleng kepala. Kakaknya yang satu itu memang agak sedikit menyebalkan, tapi meski begitu Marsha sangat menyayangi Kakaknya itu.
            “IFYYYYY….. akhirnya lo dateng jugaaaa….” Ucap Sivia senang saat ia baru saja membuka pintu dan melihat kedatangan Ify.
            Dengan raut wajah sedikit sebal Ify membuka kaca mata hitam yang membingkai wajah cantiknya. Ify berdecak pelan,
            “ada apa sih lo nyuruh gue dateng kerumah lo pagi-pagi gini? Ganggu tidur gue aja! Lo tau kan ini hari minggu? Dan lo tau banget kan kalo hari minggu itu jadwalnya gue tidur sampe jam 10 pagi…” oceh Ify panjang lebar dihadapan Sivia. Dasar Jomblo ngenes! Cerca Sivia dalam hati.
            Sivia lebih memilih tidak menanggapi ocehan dari Ify tersebut, sedikit saja Sivia menanggapi maka pasti urusannya akan semakin panjang dan runcing, dan Sivia tidak menginginkan hal itu. Hari ini –atau lebih tepatnya pagi ini- Sivia amat sangat membutuhkan bantuan dari Ify. Cuma Ify yang bisa membantunya hari ini.
            “udah ya ngocehnya nanti aja! Pagi ini gue bener-bener butuh bantuan lo buat nganterin gue kesuatu tempat” ucap Sivia yang berusaha keras menenangkan Ify. Sivia memegang kedua pundak Ify dari arah samping lalu menuntunnya pelan memasuki rumahnya.
            “kok gue?? Biasanya juga kalo mau kemana-mana lo tinggal minta dianter sama Cakka, Si Cakka kan soulmate lo”
            “tapi kali ini gue lagi nggak butuh Cakka, gue butuh elu”
            “terserah lo deh…” ujar Ify pasrah.


^_^

            “Acha?? Apa kabar kamu, Nak?” ucap Mama yang masih merasa kaget dengan kehadiran Puteri Bungsunya yang secara mendadak itu. Mama bangkit dari meja makan lalu perlahan menghampiri Acha.
            Alvin menghela nafas panjang lalu memutar kedua bola matanya. Jika kedua Ibu dan Anak itu bertemu pasti akan seperti Drama jalan ceritanya. Alvin mendesah tak kentara lalu menggigit rotinya.
            “baik, Ma…” jawab Acha singkat sambil menyambut pelukan hangat Mamanya.
            Larissa Safanah Sindhunata atau yang lebih akrab dipanggil dengan panggilan Acha ini adalah Adik Kandung Alvin. Semenjak kedua orang tua nya bercerai 2 tahun yang lalu, Alvin dan Acha harus hidup terpisah, Alvin yang lebih memilih tinggal bersama Mamanya, dan Acha yang harus dengan terpaksa tinggal bersama Papanya. Dulu Acha sempat bersikeras ingin ikut Mama dan Kakaknya, tapi saat itu Acha benar-benar tidak berdaya untuk melawan keputusan Papa yang menghendakinya untuk tetap tinggal bersamanya. Setelah Mama membujuknya mati-matian, akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka Acha pun setuju untuk tinggal bersama Papanya.
            Dan yang lebih menyebalkan lagi bagi Acha adalah, sebulan setelah Papa memisahkannya dengan Mama juga Kakaknya, Papa malah mengirim Acha untuk sekolah Asrama di Aussie, dan lagi-lagi Acha tidak bisa mengelak dari keputusan Papanya itu. Meski berat dan bertentangan dengan hati nuraninya, Acha akhirnya berangkat ke Aussie dengan suasana hati serba dipaksakan.
            “masih hidup juga lo? Gue fikir lo udah tewas jadi camilan Kanguru di Aussie” ucap Alvin asal.
            Mendengar ucapan Kakaknya, Acha kontan saja melepaskan pelukan Mamanya lalu menatap Alvin dengan sengit. Acha menghela nafas bebarapa kali lalu melangkah besar-besar menghampiri Alvin.
            Saat tiba disamping Alvin, tanpa babibu lagi Acha langsung saja melayangkan pukulan yang lumayan keras pada wajah mulus Alvin. Acha memang tomboy, sejak dulu Alvin selalu saja kalah jika sudah berhadapan dengan Adik Bungsunya ini, bukannya kalah tapi mengalah. Oya??
            “awww… Sakit begok!! Apa-apaan sih lo?? Dateng-dateng maen bogem aja” ucap Alvin kesal sambil memegangi pipinya yang sedikit membiru akibat tonjokan maut dari Acha.
            “itu belum seberapa. Ada yang lebih dari itu, lo mau??” sinis Acha sambil mengangkat kepalan tangannya.


^_^

            “WHAAATTTT…..??? LO DIJADIIN BABU SAMA SI ALVIN ITU??” Kaget Ify setelah Sivia menceritakan pada Ify apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu Sivia dan Ify tengah dalam perjalanan menuju Rumah Kita.
            Sivia sengaja meminta Ify yang mengantarkannya supaya Mama nya percaya bahwa Sivia keluar benar-benar untuk mengerjakan tugas. Sebenarnya Sivia bisa saja minta bantuan Shilla, tapi masalahnya Shilla itu ember dan paling nggak bisa jaga rahasia. Menurut Sivia resikonya terlalu besar jika ia minta bantuan Shilla. Sivia takut Shilla akan melapor pada Cakka. Dan jika berita ‘PEMBABUAN’ ini sampai ditelinga Cakka, maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada Alvin selanjutnya.
            “gue jadi penasaran, gimana sih tampangnya Si Alvin itu yang berani-beraninya ngejadiin lo babu” ucap Ify emosi sambil tetap focus menyetir. Dan kali ini Sivia lebih memilih untuk tidak menggubris ucapan Ify.


^_^

            Ify memarkirkan mobilnya dibawah pohon palem yang terletak tak jauh dari bangunan rumah Singgah. Ify dan Sivia keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Ify membuka kaca matanya lalu berdiri disamping mobilnya. Pandangan mata Ify menyapu seluruh penjuru halaman Rumah Kita.
            “Fy, gue masuk ya? Elo mau mampir dulu apa langsung pulang?” Tanya Sivia sebelum ia memasuki rumah singgah. Ify menggeleng beberapa kali, tapi tatapannya tetap menyapu seluruh penjuru rumah Singgah dan jatuh tepat pada bangunan rumah Singgah yang Nampak sederhana namun terlihat lumayan luas.
            “nggak deh, gue langsung pulang aja. Nanti elo gue jemput jam berapa?” kali ini Ify mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
            “ntar deh gue sms, kalo emang gue bisa pulang sendiri nanti gue pulang sendiri. Tapi inget ya Fy, masalah ini Cuma kita berdua yang tahu, jangan sampe Shilla tau, apalagi Cakka, okey?”
            “iya Via… ya udah sono lo masuk” ucap Ify setengah memaksa.
            “lo nggak pulang?”
            “iya bentar… udah sana masuk aja” suruh Ify sekali lagi. Dan kali ini Sivia langsung berjalan memasuki rumah Singgah.
            Saat sosok Sivia sudah menghilang dibalik pintu, Ify pun berniat memasuki mobilnya. Tapi tiba-tiba saja Ify membatalkan niatnya saat ia melihat sebuah Mobil Sport Putih memasuki halaman Rumah Singgah. Mobil Sport Putih itu berhenti tepat disamping Mazda Biru milik Ify.
            Ify memasang tatapan menyelidik, sepertinya ini dia yang namanya Alvin. Fikir Ify. Secara perlahan Ify melipat kedua tangannya didada, dengan sabar ia menunggu pemilik Mobil Sport itu untuk keluar dari dalam mobil mewahnya. Dan 3 detik berikutnya, sosok cowok manis berkulit agak gelap dan bertubuh atletis keluar dari dalam mobilnya. Ify tersenyum sinis. Rupanya ini dia cowok angkuh yang sudah mengerjai Sivia habis-habisan. Awas lo!! Gumam Ify pelan.
            Cowok itu menoleh kearah Ify sejenak. Dalam hitungan detik saja ia malah terpesona pada kecantikan cewek yang ada dihadapannya ini. Cowok manis itu tersenyum tipis pada Ify.
            “elo yang namanya Alvin??” Tanya Ify sinis pada cowok manis itu.
            Cowok itu sedikit tersentak mendengarkan sapaan sinis dari Ify. Dan belum sempat ia menjawab pertanyaan Ify, Ify berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam.
            “berani-beraninya ya lo ngerjain sahabat gue sampe kayak gini??” sinis Ify saat ia dan cowok itu berdiri berhadapan. Merasa heran dengan tuduhan Ify, salah satu alis cowok manis itu terangkat. Heran.
            “maksud lo??” tanyanya pelan.
            “pake pura-pura begok lagi lo!!! Rasain nih….”
            BUKKKKK….. Kepalan tangan mungil milik Ify mendarat pas diwajah manis cowok itu. Untung saja cowok manis itu tidak terluka sedikitpun. Pukulan Ify tidak begitu keras baginya. Cowok itu memegangi tepi bibirnya yang terasa sedikit berdenyut akibat bogem mentah dari Ify. Kali ini ia menatap tajam pada kedua bola mata Gadis Cantik itu.
            “lo salah orang tau!! GUE RIO BUKAN ALVIN…” Sentak cowok manis itu dihadapan Ify. Ify langsung kaget setengah mati dibuatnya.


^_^

            “Kak Via tadi keluar sama Kak Ify, Kak…” jelas Marsha pada Cakka saat Cakka datang untuk mencari Sivia pagi itu.
            “sama Ify? mereka kemana?” Tanya Cakka penasaran.
            “aku nggak tau Kak, tapi tadi pas aku denger Kak Via minta ijin ke Mama, Kak Via bilang dia bakalan pulang telat”
            Cakka berusaha mencerna setiap jawaban yang Marsha lontarkan. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Sivia. Sejak kemarin Sivia selalu saja pulang telat. Cakka berfikir cepat, fikirannya langsung tertuju pada rumah singgah milik Alvin yang kemarin Sivia kunjungi. Apa Sivia kerumah singgah itu lagi? Tapi untuk apa?
            Cakka akhirnya memutuskan untuk kembali kerumahnya. Setelah pamit pada Marsha tentunya.
            Cakka kembali kerumahnya dengan sejuta pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi ruang diotaknya. Cakka cemas memikirkan Gadis Bawelnya yang satu itu. Entah Cakka takut kehilangan Sivia atau bagaimana, yang jelas saat ini Cakka sedang dihantui oleh rasa takut yang berlebihan. Selama ini Cakka memang tidak pernah jauh dari Sivia, Sivia selalu berada disampingnya hampir setiap hari, tapi semenjak mengenal Alvin, entah kenapa Cakka merasa Sivia jauh darinya. Padahal semuanya baru berlangsung kurang dari 2 hari, tapi kenapa Cakka harus merasakan rasa takut yang berlebihan seperti itu?
            Cakka merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia menghela nafasnya yang terdengar berat. Cakka mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Kali ini Cakka terdiam, kedua matanya menatap kosong keatas langit-langit kamarnya. Seolah bisa melihat masa lalunya, Cakka melihat bayang-bayang masa lalu terputar dengan jelas dibenaknya.
            Sivia Azizah, Gadis Bawel itu benar-benar sudah membuat Cakka gila setengah mati. Baru-baru ini Cakka menyadari, bahwa perasaan yang selama ini ia rasakan pada Sivia ternyata adalah cinta, ia telah jatuh cinta pada Sivia, dan Cakka harus mengakui itu. Hanya saja Cakka merasa belum siap jika harus menyatakan kebenaran perasaannya pada Sivia, Cakka takut Sivia tidak bisa menerima perasaannya dan akhirnya malah melepaskan diri dari hidupnya, Cakka tidak menginginkan hal itu. Lebih dari apapun itu, Cakka begitu menyayangi Sivia, apapun akan Cakka lakukan demi kebahagiaan Sivia, dan apapun juga akan Cakka lakukan untuk tetap mempertahankan Sivia disisinya. Sekalipun tidak bisa memiliki Sivia seutuhnya, tapi setidaknya Sivia selalu ada disampingnya, dan itu semua sudah lebih dari cukup untuk Cakka.
            Deringan ponselnya yang lumayan keras akhirnya membuyarkan lamunan Cakka dan menyeretnya kembali kedunia nyata. Cakka terkesiap lantas meraih ponselnya yang ia letakkan dimeja lampu disamping tempat tidurnya.
            ‘Gabriel Calling….’ Itulah tulisan yang tertera pada layar handphone Cakka. Cakka bangkit dari tempat tidurnya lalu menjawab panggilan Gabriel.
            “hallo yel….”
            “oohh…. Ada latihan? Ya udah gue kesekolah sekarang”
            Cakka meletakkan kembali ponselnya diatas meja lampunya lalu segera bersia-siap untuk latihan basket disekolahnya.


^_^

            “jadi lo bukan Alvin??” Tanya Ify yang terlihat sedikit shock plus malu.
            Rio yang awalnya menatap Ify dengan tatapan kagum kini malah menatap Ify dengan tatapan sebal. Rupanya Rio terlalu cepat menyimpulkan bahwa Ify ini gadis baik-baik. Rio menyesal sempat mengatakan Ify cantik. Ini serius.
            “iya, ini gue Rio, temennya Alvin, kalo emang lo sebel sama Alvin hajar orangnya aja, jangan gue” ujar Rio keki.
            “sorry…sorry… habisnya gue nggak tau sih” balas Ify yang benar-benar merasa bersalah pada Rio.
            Kali ini Ify melangkah mendekati Rio, tangan kananya terangkat lalu menyentuh pipi Rio yang baru saja ia tonjok dengan tak berperasaan. “lo nggak apa-apa? Sakit nggak?” Tanya Ify cemas. Rio menepis keras tangan Ify dari pipi mulusnya.
            “ya sakitlah, pake nanya lagi! makanya laen kali nggak usah sok tau, kalo lo emang mau ngehajar Alvin ntar gue tunjukin orangnya” ucap Rio tega.
            “sekali lagi gue minta maaf” kata Ify penuh sesal, tapi Rio tidak sedikitpun menggubris ucapan Ify. Rio sudah terlanjur Illfeel pada Gadis Cantik yang ada dihadapannya ini. Untung cewek, coba kalo cowok, Rio pasti tidak akan tinggal diam.
            Karena Rio terus saja diam dan menatapnya dengan tatapan sinis, Ify akhirnya memutuskan untuk pergi saja dari hadapan cowok hitam manis itu. Ify takut jika ia terus-terusan berada ditempat itu nanti urusannya akan semakin panjang. Ify tentu tidak ingin mengulangi kebodohan yang telah Sivia lakukan yang akhirnya membuat ia harus menjadi babu Alvin selama seminggu. Tidaaakkk…..!! Ify tidak mau seperti Sivia.
            Ify bergidik ngeri, lalu dengan langkah cepat Ify berlari dan memasuki mobilnya. Ify pun segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Beberapa saat setelah kepergian Ify, Rio pun tersenyum geli, ternyata cewek itu bukan hanya aneh, tapi sangat aneh. Tapi…. Cewek itu lucu juga. Ups, lumayan lucu maksudnya.
            Beberapa saat setelah kepergian Ify, Alvinpun datang dengan menggunakan Ninja Merahnya. Alvin agak sedikit heran melihat Rio yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan Rumah Singgah. Ada apa dengan Kunyuk satu itu? Tidak biasanya Rio datang kerumah Singgah?
            “Rio? Tumben lo kesini?” Tanya Alvin seraya turun dari atas motornya lalu melepaskan helm nya. Mendengar suara Alvin, Rio langsung tertarik dari keterpanaannya. Rio berusaha bersikap biasa dihadapan Alvin.
            “gue kesini Cuma mau ngasih info aja, kata Pak Randy pertandingan persahabatannya bakalan dipercepet”
            “jadinya kapan?” Tanya Alvin dingin.
            “minggu depan” jawab Rio seadanya. Alvin hanya mengangguk paham. Beberapa saat kemudian Rio langsung pamit.
            “ya udah gue pamit dulu, masih ada urusan soalnya, dan gue harep lo nggak bakalan bolos lagi dari latihan, perlu lo tau, Vin, anak-anak Pancasila nggak bisa dianggep remeh”
            Rio memperingatkan Alvin lumayan keras. Ya… selama ini Rio memang sudah cukup muak dengan sikap semena-mena Alvin. Alvin selalu bolos dari latihan semaunya, tak jarang juga Alvin selalu datang telat jika sedang latihan. Apalagi semenjak SMA BinSa dan SMA Pancasila memutuskan untuk berdamai dan mengadakan Pertandingan persahabatan, semenjak itulah Alvin semakin semena-mena dalam latihan.
            Tapi meski begitu, Alvin tidak pernah sekalipun mendapatkan teguran yang serius dari Pak Randy. Pak Randy sudah mempercayai Alvin sepenuhnya, dan hal itulah yang membuat Rio semakin muak dengan Alvin. Seharusnya Alvin tidak dibiarkan begitu saja, bukankah Alvin adalah seorang Kapten? Dan bukankah seorang Kaptenlah yang seharusnya menjadi panutan bagi anggota tim nya yang lain? Tapi Alvin? Sama sekali jauh dari harapan.

^_^

            Alvin menghentikan langkahnya didepan pintu ketika melihat Sivia yang waktu itu terlihat tengah sibuk mengepel lantai. Tiba-tiba diotak Alvin muncul sebuah ide jahil untuk mengerjai gadis itu. Alvin tersenyum licik lalu memasuki rumah singgah dengan santai.
            Alvin sengaja menginjak lantai yang baru saja selesai Sivia pel, hal itu tentu saja membuat lantai yang tadinya bersih menjadi kotor kembali. Sivia menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. “sabar Vi, sabar…” gumam Sivia pelan seraya mengelus dadanya beberapa kali.
            Alvin yang bisa dengan jelas mendengarkan gumaman Sivia tersebut Cuma bisa tersenyum. Dengan kekesalan yang coba ia tahan, Sivia kembali mengepel lantai yang tadi Alvin injak dengan sengaja.
            “masih kotor tuh!! Makanya kalo ngepel jangan ngelamun… pel yang bener” ucap Alvin dengan songongnya, tapi Sivia masih saja diam seribu bahasa, meski sebenarnya Sivia sudah sangat sangat sangat dan sangaaaattt gondok dengan kelakuan Alvin yang menyebalkan itu. Dasar biang kerok tengik!! Cerca Sivia dalam hati.
            Alvin berjalan dan melewati Sivia begitu saja, dan lagi-lagi Alvin membuat lantai yang sudah Sivia pel dengan susah payah menjadi kotor kembali. Kali ini Sivia sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan emosinya. Dengan amarah yang memuncak, Sivia akhirnya melepaskan gagang pel itu begitu saja dilantai.
            “lo pel sendiri tuh!!” sinis Sivia lalu berjalan kearah dapur.
            Alvin yang ditinggal seperti itu Cuma bisa cengo, tapi itu hanya berlaku beberapa detik saja, karna detik berikutnya Alvin langsung berteriak pada Sivia.
            “HEH JELEK, URUS DULU NIH KERJAAN LO!!! MAEN TINGGAL-TINGGAL AJA…”
            Tapi percuma saja Alvin berteriak seperti itu, karna Sivia sudah terlanjur malas mendengarkannya.

^_^

            “Heh, dikiranya dia siapa? Seenaknya aja ngerjain gue kayak gitu, gue benci benci benciiii sama cowok bernama Alvin itu… Ya Tuhan, seminggu doang kok kayak rasanya 10 tahun sih sama Si Kunyuk rese, songong, sok kecakepan, eerrgghh….. GUE BENCIIIII…..” Ucap Sivia sebal sambil memotong kacang panjang dengan cepat.
            Bi Ratna yang baru saja memasuki dapur merasa heran melihat Sivia yang waktu itu sedang berbicara sendiri sambil memotong kacang panjang, dengan kedua alis bertaut Bi Ratna menghampiri Sivia.
            “Non Sivia kenapa? Kok ngomong sendiri??”
            “Bi, kenapa sih Majikan Bibi yang satu itu rese banget?? Kira-kira Via boleh nggak bunuh satu orang itu aja” kata Sivia asal sambil tetap memotong beberapa sayur mayur yang ada dihadapannya.
            Bi Ratna yang mulai paham dengan maksud Siviapun langsung tersenyum. Ia mengambil alih pisau itu dari tangan Sivia dan menggantikan Sivia memotong sayur.
            “sebenernya Den Alvin itu orangnya baik Non, baiikkkk banget… tapi yaitu, sejak dulu Den Alvin itu emang rada cuek sama cewek, jadi maklumin aja…”
            “Alvin homo ya?” Tanya Sivia dengan wajah begok. Bi Ratna terkekeh geli.
            “hahaha…. Ya nggak lah, Non, ada-ada aja….”
            Tiba-tiba saja Sivia merasakan ada seseorang yang menoyor kepalanya dengan keras dari belakang.
            “enak aja lo ngatain gue homo”
            Sivia melirik cepat kearah Alvin. Kali ini ia menatap Alvin dengan tatapan pembunuh.
            “apa lo?? Nggak suka gue toyor?? Makanya jangan asal ngomong, jaga tuh mulut” kata Alvin sebal. Sivia tidak berkata apa-apa lagi, ia sudah malas meladeni Alvin.


^_^

            “Kunyuk….!!” Panggil Sivia saat melihat Alvin, Dayat, dan Rizky yang saat itu hendak keluar dari rumah Singgah seraya membawa gitar mereka masing-masing. Alvin menghentikan langkahnya, mereka bertigapun berbalik dan menatap Sivia yang saat itu berjalan mendekati mereka.
            “siapa yang lo panggil Kunyuk?” Tanya Alvin yang merasa sedikit tidak terima Sivia memanggilnya dengan panggilan Kunyuk.
            “ya elo lah” jawab Sivia santai saat ia baru tiba dihadapan Alvin, Dayat, dan Rizky. Mendengar Sivia memanggil Alvin dengan panggilan Kunyuk, Dayat dan Rizky berusaha menahan tawa mereka.
            Alvin melirik tajam kearah Sivia.
            “enak aja lo maen ganti-ganti nama gue…”
            “lo juga ganti nama gue jadi Jelek, kita impas kan??” balas Sivia seraya melipat kedua tangannya didada.
            “terserah elo deh! Kenapa lo manggil gue??” Tanya Alvin sinis.
            “kalian mau kemana?”
            “bukan urusan lo” jawab Alvin cepat. Sivia langsung cemberut.
            “gue ikut ya, Nyuk….”
            “nggak bisa”
            “pelit lo”
            “suka-suka gue”
            Alvin dan Sivia saling melirik tajam satu sama lain. Bahkan saat ini mereka sama-sama melipat kedua tangan mereka didepan dada.
            “udahlah, Vin, biarin aja Via ikut” kata Dayat,
            “iya, Vin….” Tambah Rizky.
            “tuh kan, Dayat ama Rizky aja ngasih gue ikut, lagian gue udah nggak ada kerjaan lagi kan, Nyuk? Gue bosen di Rumah Singgah sendiri, anak-anak juga lagi nggak ada dirumah, masa iya elo tega ngebiarin gue sendirian disini??” ucap Sivia panjang lebar sambil memasang wajah memelas.
            “emangnya gue peduli?” Tanya Alvin cuek dan berlalu begitu saja dari hadapan Sivia.
            Alvin keluar dari rumah singgah tanpa menunggu Dayat dan Rizky terlebih dahulu. Selepas kepergian Alvin, Sivia langsung melempar tatapannya pada Dayat dan Rizky secara bergantian, Sivia menatap kedua cowok itu dengan tatapan memohon. Sivia benar-benar merasa bosan jika ia harus sendirian dirumah singgah. Setidaknya jika ia ikut bersama Alvin, Dayat dan Rizky, Sivia tidak terlalu merasa kesepian. Ia bisa bertengkar dengan Alvin sepuasnya.
            Saat Sivia bersikeras ingin  ikut, Alvin justru sebaliknya. Alvin tidak mau jika nanti Sivia ikut ia malah merepotkan Alvin dan kawan-kawannya dan malah menghambat pekerjaannya. Tapi Alvin sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karna sekarang Sivia sudah terlanjur ikut bersamanya. Alvin pasrah!


^_^

            Dayat dan Rizky pergi mengamen kesebuah warung kaki lima, sementara Alvin dan Sivia lebih memilih mengamen didalam Bus. Melihat Alvin yang begitu giat bekereja demi adik-adik asuhnya, Sivia merasa kagum. Sivia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Alvin yang angkuh dan keras kepala ternyata memiliki hati yang luar biasa baiknya. Diam-diam tanpa sepengatahuan Alvin, Sivia menatap Alvin seraya tersenyum saat mereka menaiki Bus. Entah karna terlalu focus menatap Alvin, Sivia malah menghentikan langkahnya dan membiarkan Alvin menaiki Bus terlebih dahulu.
            Menyadari bahwa Sivia tidak ada disampingnya Alvin buru-buru menoleh kebalakang dan melihat kearah Sivia yang saat itu masih tertegun memandingnya dengan seulas senyuman manis yang terpeta diwajah cantiknya. Alvin mendesah lalu berdecak kesal. Tuh kan, apa Alvin bilang, jika Si Jelek ini ikut pasti ia akan sangat menyusahkan Alvin, dan sekarang semuanya terbuktikan?
            “heh Jelek!… ngapain lo diem disana? Mau gue tinggal? Ayo naek…” entah sadar atau tidak Alvin mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Sivia membuyarkan keterpanaannya lalu melirik tak percaya kearah tangan Alvin yang terulur dihadapannya.
            “kenapa lo bengong? Buruan naek…” kata Alvin tak sabar.
            “eh…” Sivia terkesiap dan buru-buru menyambut uluran tangan Alvin. Alvinpun menarik tangan Sivia untuk membantunya menaiki Bus.
            Kali ini Alvin dan Sivia sudah berdiri berdampingan didalam Bus. Dan ketika Alvin menyampaikan beberapa patah kata kepada para penumpang Bus itu, lagi dan lagi Sivia tertegun memandinganya. Sivia menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
            Setelah menyampaikan beberapa patah kata kepada para penumpang Alvinpun segera bersia-siap untuk memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu. Baru saja jemari terampil Alvin akan memetik senar gitar itu, tiba-tiba saja sebuah tangan mungil dengan gerakan cepat merenggut gitar itu dari tangan Alvin. Tentu saja tangan mungil adalah milik Sivia. Alvin melirik tak percaya kearah Sivia, sementara Sivia, ia hanya tersenyum tenang, sangat tenang.
            “biar gue aja yang nyanyi, lo keliling aja ambil duitnya” kali ini kedua alis Alvin langsung bertaut. Memangnya Si Jelek ini bisa bernyanyi? Bisa main gitar?
            Tanpa mau menanggapi tatapan heran yang Alvin tunjukan, Sivia langsung saja memainkan gitar milik Alvin lalu menyanyikan sebuah lagu. Kali ini Alvin yang tertegun menyaksikan Sivia bermain gitar sambil bernyanyi, Alvin sempat tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat. Si Jelek itu bernyanyi sambil bermain gitar. Benar-benar sulit dipercaya! Fikir Alvin.

“Seperti mendapat… boneka terindah waktu aku mengenalmu…” Sivia melirik sejenak kearah Alvin sambil tersenyum lantas melanjutkan nyanyiannya.
“ku buat kau buta…. Dengan pesonaku… tersesat kau
Karena silauku… uuu…. Ku ajak kau melayang tinggi… dan kuhempaskan ke bumi…
Ku mainkan sesuka hati… lalu kau ku tinggal pergii…”


^_^

            Alvin dan Sivia keluar dari dalam bus dengan wajah berseri. Alvin keluar seraya menghitung uang yang ia dapatkan hari ini. Dan Alvin cukup puas karna hari ini penghasilannya lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya, dan tidak bisa Alvin pungkiri bahwa semua itu karna Si Jelek ini, Si Jelek yang super menyebalkan ini.
            Alvin dan Sivia duduk berdampingan disebuah bangku panjang yang terdapat disebuah taman. Mereka berdua memutuskan untuk menunggu Dayat dan Rizky ditaman itu. Alvin duduk sambil memainkan gitarnya, sementara Sivia ia terus melirik kearah Alvin sambil memegangi tenggorokannya yang terasa kering. Menyadari bahwa Si Jelek itu tengah memperhatikannya, Alvinpun menghentikan permainan gitarnya lalu menoleh kearah Sivia,
            “Heh Jelek, kenapa lo?” Tanya Alvin berusaha terdengar galak.
            “gue haus, Nyuk…” jawab Sivia dengan apa adanya.
            “terus??”
            “minta duit” kata Sivia sambil menjulurkan tangannya dihadapan Alvin. Ekspresi Sivia yang persis seperti ekspresi seorang anak kecil yang sedang meminta uang pada Papanya benar-benar membuat Alvin ingin tertawa sekencang-kencangnya. Tapi Alvin lebih memilih untuk bersikap jaim.
            “iiihh… manja banget sih lo” ucap Alvin sambil meringis pelan. Sivia hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya saat itu juga.
            Alvin merogoh kantong jeansnya lalu menyerahkan selembar uang lima puluh ribu untuk Sivia.
            “lo beli minum sana! Beliin satu buat gue juga ya?” Sivia hanya mengangguk sambil menerima uang pemberian Alvin.
            “tapi gue maunya Ice Cream”
            “terserah lo deh!” kata Alvin yang tidak mau ambil pusing lagi.
            Dengan senang hati Sivia beringsut dari samping Alvin dan berjalan riang menuju tempat penjual Ice Cream yang terletak disebrang jalan. Dari jauh Alvin memperhatikan Sivia dengan seksama. Hmm… ternyata Si Jelek itu sama sekali tidak merepotkan. Alvin salah besar.
            Kedua mata Alvin tiba membelalak saat melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi tengah melaju dari arah yang berlawanan. Mobil itu berjalan ugal-ugalan tanpa memperhatikan kondisi jalan yang saat itu sangat ramai. Sivia yang akan menyebrang jalan sama sekali tidak menyadari bahwa mobil itu hendak menabraknya.
            Sivia melangkahkan kakinya dijalan raya, sementara mobil itu semakin lama semakin mendekati Sivia. Alvin yang shock langsung melepaskan gitarnya lantas berlari mengejar Sivia.
            “JELEK AWAAASSS!!!!” Teriak Alvin sekencang-kencangnya.
            “AAAAAAA….” Teriak Sivia yang pada akhirnya menyadari bahwa mobil itu hendak menabraknya. Sivia ingin buru-buru menghindar, tapi mendadak ia merasakan kedua kakinya kaku, sama sekali tidak bisa digerakan. Sambil berdoa dalam hati, Sivia memasrahkan segalanya.
            Dan dengan secepat kilat, Sivia merasakan sebuah tangan kokoh menarik lengannya dengan keras. Sivia terselamatkan dari kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya itu. Tubuh Alvin dan Sivia terlempar hingga ke pinggir jalan. Mereka berdua terjatuh dengan posisi Alvin menindih tubuh Sivia. Sebisa mungkin Alvin melindungi bagian belakang kepala Sivia dengan telapak tangannya supaya tidak membentur aspal jalanan. Meski yang terluka hanya siku sebelah kananya saja tapi Alvin bisa melihat dengan sangat wajah Sivia pucat pasi. Keringat dingin bercucuran membingkai wajah cantiknya.
            Alvin yang saat itu sangat shock benar-benar tidak bisa lagi menahan luapan emosinya,
            “LO UDAH SINTING YA???” Teriak Alvin pada Sivia yang waktu itu terlihat sangat lemas. Sivia tidak berkata apapun, kenyataannya Sivia seribu kali lebih shock dari Alvin. Sivia menghela nafas beberapa kali lalu pingsan tak sadarkan diri dalam dekapan Alvin.


                                    BERSAMBUNG….



0 comments:

Post a Comment