Hari Kedua (Minggu)
“Selamat Pagi, Vin…” sapa Mama dengan
hangat saat Alvin baru saja keluar dari dalam kamarnya.
“Pagi juga, Ma…” jawab Alvin singkat
lalu duduk dimeja makan dan mengambil dua lembar roti. Alvinpun mengoleskan
kedua lembar roti itu dengan selai cokelat.
“Semalem pulang jam berapa?” Tanya
Mama membuka obrolan pagi itu sembari meletakkan segelas susu dihadapan Alvin.
Sebelum menjawab pertanyaan dari
Mama, Alvin meraih gelas susu itu lantas meminumnya sedikit.
“sekitar jam 10, Ma…” Alvin memotong
rotinya lalu menyantapnya dengan lahap.
“Mama denger-denger dari Pak Parmin,
katanya kemaren kamu bawa cewek ya kerumah Kita? Itu siapa?”
“bukan siapa-siapa kok, Ma…” jawab
Alvin sesantai mungkin.
Mendengar jawaban Alvin, Mamapun
langsung menghentikan aktifitasnya menguyah roti, beliau menatap Alvin dengan
tatapan bertanya.
“masa sih? Dia pacar kamu ya?”
Alvin benar-benar tersedak
mendengarkan pertanyaan yang Mama lemparkan kali ini. Alvin terbatuk beberapa
kali seraya memegang dadanya yang terasa agak sedikit perih. Alvin menepuk
dadanya beberapa kali untuk menetralisir rasa perih itu, setelah merasa lebih
baik Alvin langsung meraih gelas susunya dan memiumnya sekali lagi.
“ngaco! Ya bukanlah, Ma… Alvin masih
waras Ma, dan selama Alvin masih merasa waras Alvin nggak akan pernah jadian
sama Sivia…”
“ooo… jadi namanya Sivia toh? Lain
kali kenalin sama Mama ya?” kata Mama yang mulai berniat menggoda Alvin. Mama
melihat kearah Alvin lalu tersenyum nakal pada Alvin yang waktu itu tengah
menatapnya dengan tatapan sebal.
Selama ini, Mama memang tidak pernah
sekalipun mendengar tentang kedekatan Alvin dengan seorang cewek apalagi sampai
berpacaran. Yang Mama tahu anak sulungnya yang satu ini memang sangat cuek
dengan makhluk bernama cewek, makanya waktu Pak Parmin (Tukang Kebun di Rumah
Kita) melapor bahwa kemarin Alvin
membawa seorang cewek kerumah Singgah Mama agak sedikit tercengang, bagaimana
tidak? Selama ini mana pernah Alvin membawa seorang cewekpun kerumah Kita. Mama
berfikir, bahwa cewek itu pasti sangat special untuk Alvin. Benarkah??
“dia Cuma Alvin jadiin babu di Rumah
Kita” Jawab Alvin pada akhirnya yang belum apa-apa sudah mulai mengalah dengan
godaan dari Mamanya.
Lagi-lagi Mama dibuat tercengang
oleh penuturan Alvin.
“Babu? Maksud kamu?”
Belum sempat Alvin menjawab
pertanyaan dari Mama nya, tiba-tiba seorang cewek bertubuh mungil, berkulit
putih, dan berambut panjang menghampiri Alvin juga Mama dimeja makan.
“pintu kok nggak dikunci? Untungnya
aku yang masuk, coba kalo maling??” ujar cewek cantik itu sedikit kesal sambil
melipat kedua tangannya didepan dada. Secara bersamaan Alvin dan Mama menoleh
kearah cewek itu dengan pandangan tak percaya. Gadis Mungil itu telah pulang.
^_^
Sivia buru-buru berlari kearah pintu
saat mendengarkan ada seseorang yang memencet tombol bel rumahnya. Sivia bahkan
mendahului Marsha yang waktu itu hendak membuka pintu. Tanpa sengaja, Sivia
menyenggol keras lengan Marsha, hal itu membuat Marsha sedikit meringis
kesakitan.
“pelan-pelan dong wooyy…” teriak
Marsha tak sabar.
“sorry…. Sorry….” Jawab Sivia tanpa
rasa bersalah sedikitpun sambil tetap berlari kearah pintu. Melihat kelakuan
Kakaknya itu, Marsha Cuma bisa geleng kepala. Kakaknya yang satu itu memang
agak sedikit menyebalkan, tapi meski begitu Marsha sangat menyayangi Kakaknya
itu.
“IFYYYYY….. akhirnya lo dateng
jugaaaa….” Ucap Sivia senang saat ia baru saja membuka pintu dan melihat
kedatangan Ify.
Dengan raut wajah sedikit sebal Ify
membuka kaca mata hitam yang membingkai wajah cantiknya. Ify berdecak pelan,
“ada apa sih lo nyuruh gue dateng
kerumah lo pagi-pagi gini? Ganggu tidur gue aja! Lo tau kan ini hari minggu?
Dan lo tau banget kan kalo hari minggu itu jadwalnya gue tidur sampe jam 10
pagi…” oceh Ify panjang lebar dihadapan Sivia. Dasar Jomblo ngenes! Cerca Sivia
dalam hati.
Sivia lebih memilih tidak menanggapi
ocehan dari Ify tersebut, sedikit saja Sivia menanggapi maka pasti urusannya
akan semakin panjang dan runcing, dan Sivia tidak menginginkan hal itu. Hari
ini –atau lebih tepatnya pagi ini- Sivia amat sangat membutuhkan bantuan dari Ify.
Cuma Ify yang bisa membantunya hari ini.
“udah ya ngocehnya nanti aja! Pagi
ini gue bener-bener butuh bantuan lo buat nganterin gue kesuatu tempat” ucap
Sivia yang berusaha keras menenangkan Ify. Sivia memegang kedua pundak Ify dari
arah samping lalu menuntunnya pelan memasuki rumahnya.
“kok gue?? Biasanya juga kalo mau
kemana-mana lo tinggal minta dianter sama Cakka, Si Cakka kan soulmate lo”
“tapi kali ini gue lagi nggak butuh
Cakka, gue butuh elu”
“terserah lo deh…” ujar Ify pasrah.
^_^
“Acha?? Apa kabar kamu, Nak?” ucap
Mama yang masih merasa kaget dengan kehadiran Puteri Bungsunya yang secara
mendadak itu. Mama bangkit dari meja makan lalu perlahan menghampiri Acha.
Alvin menghela nafas panjang lalu
memutar kedua bola matanya. Jika kedua Ibu dan Anak itu bertemu pasti akan
seperti Drama jalan ceritanya. Alvin mendesah tak kentara lalu menggigit
rotinya.
“baik, Ma…” jawab Acha singkat
sambil menyambut pelukan hangat Mamanya.
Larissa Safanah Sindhunata atau yang
lebih akrab dipanggil dengan panggilan Acha ini adalah Adik Kandung Alvin.
Semenjak kedua orang tua nya bercerai 2 tahun yang lalu, Alvin dan Acha harus
hidup terpisah, Alvin yang lebih memilih tinggal bersama Mamanya, dan Acha yang
harus dengan terpaksa tinggal bersama Papanya. Dulu Acha sempat bersikeras
ingin ikut Mama dan Kakaknya, tapi saat itu Acha benar-benar tidak berdaya
untuk melawan keputusan Papa yang menghendakinya untuk tetap tinggal
bersamanya. Setelah Mama membujuknya mati-matian, akhirnya mau tidak mau, suka
tidak suka Acha pun setuju untuk tinggal bersama Papanya.
Dan yang lebih menyebalkan lagi bagi
Acha adalah, sebulan setelah Papa memisahkannya dengan Mama juga Kakaknya, Papa
malah mengirim Acha untuk sekolah Asrama di Aussie, dan lagi-lagi Acha tidak
bisa mengelak dari keputusan Papanya itu. Meski berat dan bertentangan dengan
hati nuraninya, Acha akhirnya berangkat ke Aussie dengan suasana hati serba
dipaksakan.
“masih hidup juga lo? Gue fikir lo
udah tewas jadi camilan Kanguru di Aussie” ucap Alvin asal.
Mendengar ucapan Kakaknya, Acha
kontan saja melepaskan pelukan Mamanya lalu menatap Alvin dengan sengit. Acha
menghela nafas bebarapa kali lalu melangkah besar-besar menghampiri Alvin.
Saat tiba disamping Alvin, tanpa
babibu lagi Acha langsung saja melayangkan pukulan yang lumayan keras pada
wajah mulus Alvin. Acha memang tomboy, sejak dulu Alvin selalu saja kalah jika
sudah berhadapan dengan Adik Bungsunya ini, bukannya kalah tapi mengalah. Oya??
“awww… Sakit begok!! Apa-apaan sih
lo?? Dateng-dateng maen bogem aja” ucap Alvin kesal sambil memegangi pipinya
yang sedikit membiru akibat tonjokan maut dari Acha.
“itu belum seberapa. Ada yang lebih
dari itu, lo mau??” sinis Acha sambil mengangkat kepalan tangannya.
^_^
“WHAAATTTT…..??? LO DIJADIIN BABU SAMA
SI ALVIN ITU??” Kaget Ify setelah Sivia menceritakan pada Ify apa yang
sebenarnya terjadi. Saat itu Sivia dan Ify tengah dalam perjalanan menuju Rumah
Kita.
Sivia sengaja meminta Ify yang
mengantarkannya supaya Mama nya percaya bahwa Sivia keluar benar-benar untuk
mengerjakan tugas. Sebenarnya Sivia bisa saja minta bantuan Shilla, tapi
masalahnya Shilla itu ember dan paling nggak bisa jaga rahasia. Menurut Sivia
resikonya terlalu besar jika ia minta bantuan Shilla. Sivia takut Shilla akan
melapor pada Cakka. Dan jika berita ‘PEMBABUAN’ ini sampai ditelinga Cakka,
maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada Alvin selanjutnya.
“gue jadi penasaran, gimana sih
tampangnya Si Alvin itu yang berani-beraninya ngejadiin lo babu” ucap Ify emosi
sambil tetap focus menyetir. Dan kali ini Sivia lebih memilih untuk tidak
menggubris ucapan Ify.
^_^
Ify memarkirkan mobilnya dibawah
pohon palem yang terletak tak jauh dari bangunan rumah Singgah. Ify dan Sivia
keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Ify membuka kaca matanya lalu berdiri
disamping mobilnya. Pandangan mata Ify menyapu seluruh penjuru halaman Rumah
Kita.
“Fy, gue masuk ya? Elo mau mampir
dulu apa langsung pulang?” Tanya Sivia sebelum ia memasuki rumah singgah. Ify
menggeleng beberapa kali, tapi tatapannya tetap menyapu seluruh penjuru rumah
Singgah dan jatuh tepat pada bangunan rumah Singgah yang Nampak sederhana namun
terlihat lumayan luas.
“nggak deh, gue langsung pulang aja.
Nanti elo gue jemput jam berapa?” kali ini Ify mengalihkan perhatiannya pada
Sivia.
“ntar deh gue sms, kalo emang gue
bisa pulang sendiri nanti gue pulang sendiri. Tapi inget ya Fy, masalah ini
Cuma kita berdua yang tahu, jangan sampe Shilla tau, apalagi Cakka, okey?”
“iya Via… ya udah sono lo masuk”
ucap Ify setengah memaksa.
“lo nggak pulang?”
“iya bentar… udah sana masuk aja”
suruh Ify sekali lagi. Dan kali ini Sivia langsung berjalan memasuki rumah
Singgah.
Saat sosok Sivia sudah menghilang
dibalik pintu, Ify pun berniat memasuki mobilnya. Tapi tiba-tiba saja Ify
membatalkan niatnya saat ia melihat sebuah Mobil Sport Putih memasuki halaman
Rumah Singgah. Mobil Sport Putih itu berhenti tepat disamping Mazda Biru milik
Ify.
Ify memasang tatapan menyelidik,
sepertinya ini dia yang namanya Alvin. Fikir Ify. Secara perlahan Ify melipat
kedua tangannya didada, dengan sabar ia menunggu pemilik Mobil Sport itu untuk
keluar dari dalam mobil mewahnya. Dan 3 detik berikutnya, sosok cowok manis
berkulit agak gelap dan bertubuh atletis keluar dari dalam mobilnya. Ify tersenyum
sinis. Rupanya ini dia cowok angkuh yang sudah mengerjai Sivia habis-habisan.
Awas lo!! Gumam Ify pelan.
Cowok itu menoleh kearah Ify
sejenak. Dalam hitungan detik saja ia malah terpesona pada kecantikan cewek
yang ada dihadapannya ini. Cowok manis itu tersenyum tipis pada Ify.
“elo yang namanya Alvin??” Tanya Ify
sinis pada cowok manis itu.
Cowok itu sedikit tersentak
mendengarkan sapaan sinis dari Ify. Dan belum sempat ia menjawab pertanyaan
Ify, Ify berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam.
“berani-beraninya ya lo ngerjain
sahabat gue sampe kayak gini??” sinis Ify saat ia dan cowok itu berdiri
berhadapan. Merasa heran dengan tuduhan Ify, salah satu alis cowok manis itu
terangkat. Heran.
“maksud lo??” tanyanya pelan.
“pake pura-pura begok lagi lo!!!
Rasain nih….”
BUKKKKK….. Kepalan tangan mungil
milik Ify mendarat pas diwajah manis cowok itu. Untung saja cowok manis itu
tidak terluka sedikitpun. Pukulan Ify tidak begitu keras baginya. Cowok itu
memegangi tepi bibirnya yang terasa sedikit berdenyut akibat bogem mentah dari
Ify. Kali ini ia menatap tajam pada kedua bola mata Gadis Cantik itu.
“lo salah orang tau!! GUE RIO BUKAN
ALVIN…” Sentak cowok manis itu dihadapan Ify. Ify langsung kaget setengah mati
dibuatnya.
^_^
“Kak Via tadi keluar sama Kak Ify,
Kak…” jelas Marsha pada Cakka saat Cakka datang untuk mencari Sivia pagi itu.
“sama Ify? mereka kemana?” Tanya
Cakka penasaran.
“aku nggak tau Kak, tapi tadi pas
aku denger Kak Via minta ijin ke Mama, Kak Via bilang dia bakalan pulang telat”
Cakka berusaha mencerna setiap
jawaban yang Marsha lontarkan. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Sivia.
Sejak kemarin Sivia selalu saja pulang telat. Cakka berfikir cepat, fikirannya
langsung tertuju pada rumah singgah milik Alvin yang kemarin Sivia kunjungi.
Apa Sivia kerumah singgah itu lagi? Tapi untuk apa?
Cakka akhirnya memutuskan untuk
kembali kerumahnya. Setelah pamit pada Marsha tentunya.
Cakka kembali kerumahnya dengan
sejuta pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi ruang diotaknya. Cakka cemas
memikirkan Gadis Bawelnya yang satu itu. Entah Cakka takut kehilangan Sivia
atau bagaimana, yang jelas saat ini Cakka sedang dihantui oleh rasa takut yang
berlebihan. Selama ini Cakka memang tidak pernah jauh dari Sivia, Sivia selalu berada
disampingnya hampir setiap hari, tapi semenjak mengenal Alvin, entah kenapa
Cakka merasa Sivia jauh darinya. Padahal semuanya baru berlangsung kurang dari
2 hari, tapi kenapa Cakka harus merasakan rasa takut yang berlebihan seperti
itu?
Cakka merebahkan tubuhnya diatas
kasur. Ia menghela nafasnya yang terdengar berat. Cakka mengusap wajahnya
menggunakan kedua telapak tangannya. Kali ini Cakka terdiam, kedua matanya
menatap kosong keatas langit-langit kamarnya. Seolah bisa melihat masa lalunya,
Cakka melihat bayang-bayang masa lalu terputar dengan jelas dibenaknya.
Sivia Azizah, Gadis Bawel itu
benar-benar sudah membuat Cakka gila setengah mati. Baru-baru ini Cakka
menyadari, bahwa perasaan yang selama ini ia rasakan pada Sivia ternyata adalah
cinta, ia telah jatuh cinta pada Sivia, dan Cakka harus mengakui itu. Hanya
saja Cakka merasa belum siap jika harus menyatakan kebenaran perasaannya pada
Sivia, Cakka takut Sivia tidak bisa menerima perasaannya dan akhirnya malah
melepaskan diri dari hidupnya, Cakka tidak menginginkan hal itu. Lebih dari
apapun itu, Cakka begitu menyayangi Sivia, apapun akan Cakka lakukan demi
kebahagiaan Sivia, dan apapun juga akan Cakka lakukan untuk tetap
mempertahankan Sivia disisinya. Sekalipun tidak bisa memiliki Sivia seutuhnya,
tapi setidaknya Sivia selalu ada disampingnya, dan itu semua sudah lebih dari
cukup untuk Cakka.
Deringan ponselnya yang lumayan
keras akhirnya membuyarkan lamunan Cakka dan menyeretnya kembali kedunia nyata.
Cakka terkesiap lantas meraih ponselnya yang ia letakkan dimeja lampu disamping
tempat tidurnya.
‘Gabriel Calling….’ Itulah tulisan
yang tertera pada layar handphone Cakka. Cakka bangkit dari tempat tidurnya
lalu menjawab panggilan Gabriel.
“hallo yel….”
“oohh…. Ada latihan? Ya udah gue
kesekolah sekarang”
Cakka meletakkan kembali ponselnya
diatas meja lampunya lalu segera bersia-siap untuk latihan basket disekolahnya.
^_^
“jadi lo bukan Alvin??” Tanya Ify
yang terlihat sedikit shock plus malu.
Rio yang awalnya menatap Ify dengan
tatapan kagum kini malah menatap Ify dengan tatapan sebal. Rupanya Rio terlalu
cepat menyimpulkan bahwa Ify ini gadis baik-baik. Rio menyesal sempat
mengatakan Ify cantik. Ini serius.
“iya, ini gue Rio, temennya Alvin,
kalo emang lo sebel sama Alvin hajar orangnya aja, jangan gue” ujar Rio keki.
“sorry…sorry… habisnya gue nggak tau
sih” balas Ify yang benar-benar merasa bersalah pada Rio.
Kali ini Ify melangkah mendekati
Rio, tangan kananya terangkat lalu menyentuh pipi Rio yang baru saja ia tonjok
dengan tak berperasaan. “lo nggak apa-apa? Sakit nggak?” Tanya Ify cemas. Rio
menepis keras tangan Ify dari pipi mulusnya.
“ya sakitlah, pake nanya lagi! makanya
laen kali nggak usah sok tau, kalo lo emang mau ngehajar Alvin ntar gue
tunjukin orangnya” ucap Rio tega.
“sekali lagi gue minta maaf” kata
Ify penuh sesal, tapi Rio tidak sedikitpun menggubris ucapan Ify. Rio sudah
terlanjur Illfeel pada Gadis Cantik yang ada dihadapannya ini. Untung cewek,
coba kalo cowok, Rio pasti tidak akan tinggal diam.
Karena Rio terus saja diam dan
menatapnya dengan tatapan sinis, Ify akhirnya memutuskan untuk pergi saja dari
hadapan cowok hitam manis itu. Ify takut jika ia terus-terusan berada ditempat
itu nanti urusannya akan semakin panjang. Ify tentu tidak ingin mengulangi
kebodohan yang telah Sivia lakukan yang akhirnya membuat ia harus menjadi babu
Alvin selama seminggu. Tidaaakkk…..!! Ify tidak mau seperti Sivia.
Ify bergidik ngeri, lalu dengan
langkah cepat Ify berlari dan memasuki mobilnya. Ify pun segera menjalankan
mobilnya dengan kecepatan maksimal. Beberapa saat setelah kepergian Ify, Rio
pun tersenyum geli, ternyata cewek itu bukan hanya aneh, tapi sangat aneh. Tapi….
Cewek itu lucu juga. Ups, lumayan lucu maksudnya.
Beberapa saat setelah kepergian Ify,
Alvinpun datang dengan menggunakan Ninja Merahnya. Alvin agak sedikit heran
melihat Rio yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan Rumah Singgah. Ada apa
dengan Kunyuk satu itu? Tidak biasanya Rio datang kerumah Singgah?
“Rio? Tumben lo kesini?” Tanya Alvin
seraya turun dari atas motornya lalu melepaskan helm nya. Mendengar suara
Alvin, Rio langsung tertarik dari keterpanaannya. Rio berusaha bersikap biasa
dihadapan Alvin.
“gue kesini Cuma mau ngasih info
aja, kata Pak Randy pertandingan persahabatannya bakalan dipercepet”
“jadinya kapan?” Tanya Alvin dingin.
“minggu depan” jawab Rio seadanya.
Alvin hanya mengangguk paham. Beberapa saat kemudian Rio langsung pamit.
“ya udah gue pamit dulu, masih ada
urusan soalnya, dan gue harep lo nggak bakalan bolos lagi dari latihan, perlu
lo tau, Vin, anak-anak Pancasila nggak bisa dianggep remeh”
Rio memperingatkan Alvin lumayan
keras. Ya… selama ini Rio memang sudah cukup muak dengan sikap semena-mena
Alvin. Alvin selalu bolos dari latihan semaunya, tak jarang juga Alvin selalu
datang telat jika sedang latihan. Apalagi semenjak SMA BinSa dan SMA Pancasila
memutuskan untuk berdamai dan mengadakan Pertandingan persahabatan, semenjak
itulah Alvin semakin semena-mena dalam latihan.
Tapi meski begitu, Alvin tidak
pernah sekalipun mendapatkan teguran yang serius dari Pak Randy. Pak Randy
sudah mempercayai Alvin sepenuhnya, dan hal itulah yang membuat Rio semakin
muak dengan Alvin. Seharusnya Alvin tidak dibiarkan begitu saja, bukankah Alvin
adalah seorang Kapten? Dan bukankah seorang Kaptenlah yang seharusnya menjadi
panutan bagi anggota tim nya yang lain? Tapi Alvin? Sama sekali jauh dari
harapan.
^_^
Alvin menghentikan langkahnya
didepan pintu ketika melihat Sivia yang waktu itu terlihat tengah sibuk
mengepel lantai. Tiba-tiba diotak Alvin muncul sebuah ide jahil untuk mengerjai
gadis itu. Alvin tersenyum licik lalu memasuki rumah singgah dengan santai.
Alvin sengaja menginjak lantai yang
baru saja selesai Sivia pel, hal itu tentu saja membuat lantai yang tadinya
bersih menjadi kotor kembali. Sivia menghela nafas panjang sambil memejamkan
matanya. “sabar Vi, sabar…” gumam Sivia pelan seraya mengelus dadanya beberapa
kali.
Alvin yang bisa dengan jelas
mendengarkan gumaman Sivia tersebut Cuma bisa tersenyum. Dengan kekesalan yang
coba ia tahan, Sivia kembali mengepel lantai yang tadi Alvin injak dengan
sengaja.
“masih kotor tuh!! Makanya kalo
ngepel jangan ngelamun… pel yang bener” ucap Alvin dengan songongnya, tapi
Sivia masih saja diam seribu bahasa, meski sebenarnya Sivia sudah sangat sangat
sangat dan sangaaaattt gondok dengan kelakuan Alvin yang menyebalkan itu. Dasar
biang kerok tengik!! Cerca Sivia dalam hati.
Alvin berjalan dan melewati Sivia
begitu saja, dan lagi-lagi Alvin membuat lantai yang sudah Sivia pel dengan
susah payah menjadi kotor kembali. Kali ini Sivia sudah benar-benar tidak bisa
lagi menahan emosinya. Dengan amarah yang memuncak, Sivia akhirnya melepaskan
gagang pel itu begitu saja dilantai.
“lo pel sendiri tuh!!” sinis Sivia
lalu berjalan kearah dapur.
Alvin yang ditinggal seperti itu
Cuma bisa cengo, tapi itu hanya berlaku beberapa detik saja, karna detik
berikutnya Alvin langsung berteriak pada Sivia.
“HEH JELEK, URUS DULU NIH KERJAAN
LO!!! MAEN TINGGAL-TINGGAL AJA…”
Tapi percuma saja Alvin berteriak
seperti itu, karna Sivia sudah terlanjur malas mendengarkannya.
^_^
“Heh, dikiranya dia siapa? Seenaknya
aja ngerjain gue kayak gitu, gue benci benci benciiii sama cowok bernama Alvin
itu… Ya Tuhan, seminggu doang kok kayak rasanya 10 tahun sih sama Si Kunyuk
rese, songong, sok kecakepan, eerrgghh….. GUE BENCIIIII…..” Ucap Sivia sebal
sambil memotong kacang panjang dengan cepat.
Bi Ratna yang baru saja memasuki
dapur merasa heran melihat Sivia yang waktu itu sedang berbicara sendiri sambil
memotong kacang panjang, dengan kedua alis bertaut Bi Ratna menghampiri Sivia.
“Non Sivia kenapa? Kok ngomong
sendiri??”
“Bi, kenapa sih Majikan Bibi yang
satu itu rese banget?? Kira-kira Via boleh nggak bunuh satu orang itu aja” kata
Sivia asal sambil tetap memotong beberapa sayur mayur yang ada dihadapannya.
Bi Ratna yang mulai paham dengan
maksud Siviapun langsung tersenyum. Ia mengambil alih pisau itu dari tangan
Sivia dan menggantikan Sivia memotong sayur.
“sebenernya Den Alvin itu orangnya
baik Non, baiikkkk banget… tapi yaitu, sejak dulu Den Alvin itu emang rada cuek
sama cewek, jadi maklumin aja…”
“Alvin homo ya?” Tanya Sivia dengan
wajah begok. Bi Ratna terkekeh geli.
“hahaha…. Ya nggak lah, Non, ada-ada
aja….”
Tiba-tiba saja Sivia merasakan ada
seseorang yang menoyor kepalanya dengan keras dari belakang.
“enak aja lo ngatain gue homo”
Sivia melirik cepat kearah Alvin.
Kali ini ia menatap Alvin dengan tatapan pembunuh.
“apa lo?? Nggak suka gue toyor??
Makanya jangan asal ngomong, jaga tuh mulut” kata Alvin sebal. Sivia tidak
berkata apa-apa lagi, ia sudah malas meladeni Alvin.
^_^
“Kunyuk….!!” Panggil Sivia saat
melihat Alvin, Dayat, dan Rizky yang saat itu hendak keluar dari rumah Singgah
seraya membawa gitar mereka masing-masing. Alvin menghentikan langkahnya,
mereka bertigapun berbalik dan menatap Sivia yang saat itu berjalan mendekati
mereka.
“siapa yang lo panggil Kunyuk?”
Tanya Alvin yang merasa sedikit tidak terima Sivia memanggilnya dengan
panggilan Kunyuk.
“ya elo lah” jawab Sivia santai saat
ia baru tiba dihadapan Alvin, Dayat, dan Rizky. Mendengar Sivia memanggil Alvin
dengan panggilan Kunyuk, Dayat dan Rizky berusaha menahan tawa mereka.
Alvin melirik tajam kearah Sivia.
“enak aja lo maen ganti-ganti nama
gue…”
“lo juga ganti nama gue jadi Jelek,
kita impas kan??” balas Sivia seraya melipat kedua tangannya didada.
“terserah elo deh! Kenapa lo manggil
gue??” Tanya Alvin sinis.
“kalian mau kemana?”
“bukan urusan lo” jawab Alvin cepat.
Sivia langsung cemberut.
“gue ikut ya, Nyuk….”
“nggak bisa”
“pelit lo”
“suka-suka gue”
Alvin dan Sivia saling melirik tajam
satu sama lain. Bahkan saat ini mereka sama-sama melipat kedua tangan mereka
didepan dada.
“udahlah, Vin, biarin aja Via ikut”
kata Dayat,
“iya, Vin….” Tambah Rizky.
“tuh kan, Dayat ama Rizky aja ngasih
gue ikut, lagian gue udah nggak ada kerjaan lagi kan, Nyuk? Gue bosen di Rumah
Singgah sendiri, anak-anak juga lagi nggak ada dirumah, masa iya elo tega
ngebiarin gue sendirian disini??” ucap Sivia panjang lebar sambil memasang
wajah memelas.
“emangnya gue peduli?” Tanya Alvin
cuek dan berlalu begitu saja dari hadapan Sivia.
Alvin keluar dari rumah singgah
tanpa menunggu Dayat dan Rizky terlebih dahulu. Selepas kepergian Alvin, Sivia
langsung melempar tatapannya pada Dayat dan Rizky secara bergantian, Sivia
menatap kedua cowok itu dengan tatapan memohon. Sivia benar-benar merasa bosan
jika ia harus sendirian dirumah singgah. Setidaknya jika ia ikut bersama Alvin,
Dayat dan Rizky, Sivia tidak terlalu merasa kesepian. Ia bisa bertengkar dengan
Alvin sepuasnya.
Saat Sivia bersikeras ingin ikut, Alvin justru sebaliknya. Alvin tidak
mau jika nanti Sivia ikut ia malah merepotkan Alvin dan kawan-kawannya dan
malah menghambat pekerjaannya. Tapi Alvin sudah tidak bisa berbuat apa-apa
lagi, karna sekarang Sivia sudah terlanjur ikut bersamanya. Alvin pasrah!
^_^
Dayat dan Rizky pergi mengamen
kesebuah warung kaki lima, sementara Alvin dan Sivia lebih memilih mengamen
didalam Bus. Melihat Alvin yang begitu giat bekereja demi adik-adik asuhnya,
Sivia merasa kagum. Sivia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Alvin yang
angkuh dan keras kepala ternyata memiliki hati yang luar biasa baiknya.
Diam-diam tanpa sepengatahuan Alvin, Sivia menatap Alvin seraya tersenyum saat
mereka menaiki Bus. Entah karna terlalu focus menatap Alvin, Sivia malah
menghentikan langkahnya dan membiarkan Alvin menaiki Bus terlebih dahulu.
Menyadari bahwa Sivia tidak ada
disampingnya Alvin buru-buru menoleh kebalakang dan melihat kearah Sivia yang
saat itu masih tertegun memandingnya dengan seulas senyuman manis yang terpeta
diwajah cantiknya. Alvin mendesah lalu berdecak kesal. Tuh kan, apa Alvin
bilang, jika Si Jelek ini ikut pasti ia akan sangat menyusahkan Alvin, dan sekarang
semuanya terbuktikan?
“heh Jelek!… ngapain lo diem disana?
Mau gue tinggal? Ayo naek…” entah sadar atau tidak Alvin mengulurkan tangannya
dihadapan Sivia. Sivia membuyarkan keterpanaannya lalu melirik tak percaya
kearah tangan Alvin yang terulur dihadapannya.
“kenapa lo bengong? Buruan naek…”
kata Alvin tak sabar.
“eh…” Sivia terkesiap dan buru-buru
menyambut uluran tangan Alvin. Alvinpun menarik tangan Sivia untuk membantunya
menaiki Bus.
Kali ini Alvin dan Sivia sudah
berdiri berdampingan didalam Bus. Dan ketika Alvin menyampaikan beberapa patah
kata kepada para penumpang Bus itu, lagi dan lagi Sivia tertegun memandinganya.
Sivia menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
Setelah menyampaikan beberapa patah
kata kepada para penumpang Alvinpun segera bersia-siap untuk memainkan gitarnya
dan menyanyikan sebuah lagu. Baru saja jemari terampil Alvin akan memetik senar
gitar itu, tiba-tiba saja sebuah tangan mungil dengan gerakan cepat merenggut
gitar itu dari tangan Alvin. Tentu saja tangan mungil adalah milik Sivia. Alvin
melirik tak percaya kearah Sivia, sementara Sivia, ia hanya tersenyum tenang,
sangat tenang.
“biar gue aja yang nyanyi, lo
keliling aja ambil duitnya” kali ini kedua alis Alvin langsung bertaut.
Memangnya Si Jelek ini bisa bernyanyi? Bisa main gitar?
Tanpa mau menanggapi tatapan heran
yang Alvin tunjukan, Sivia langsung saja memainkan gitar milik Alvin lalu
menyanyikan sebuah lagu. Kali ini Alvin yang tertegun menyaksikan Sivia bermain
gitar sambil bernyanyi, Alvin sempat tak percaya dengan apa yang saat ini ia
lihat. Si Jelek itu bernyanyi sambil bermain gitar. Benar-benar sulit
dipercaya! Fikir Alvin.
“Seperti mendapat… boneka terindah
waktu aku mengenalmu…” Sivia melirik sejenak kearah Alvin sambil tersenyum lantas melanjutkan
nyanyiannya.
“ku buat kau buta…. Dengan pesonaku…
tersesat kau
Karena silauku… uuu…. Ku ajak kau
melayang tinggi… dan kuhempaskan ke bumi…
Ku mainkan sesuka hati… lalu kau ku
tinggal pergii…”
^_^
Alvin dan Sivia keluar dari dalam
bus dengan wajah berseri. Alvin keluar seraya menghitung uang yang ia dapatkan
hari ini. Dan Alvin cukup puas karna hari ini penghasilannya lebih banyak dibanding
hari-hari sebelumnya, dan tidak bisa Alvin pungkiri bahwa semua itu karna Si
Jelek ini, Si Jelek yang super menyebalkan ini.
Alvin dan Sivia duduk berdampingan
disebuah bangku panjang yang terdapat disebuah taman. Mereka berdua memutuskan
untuk menunggu Dayat dan Rizky ditaman itu. Alvin duduk sambil memainkan
gitarnya, sementara Sivia ia terus melirik kearah Alvin sambil memegangi
tenggorokannya yang terasa kering. Menyadari bahwa Si Jelek itu tengah
memperhatikannya, Alvinpun menghentikan permainan gitarnya lalu menoleh kearah
Sivia,
“Heh Jelek, kenapa lo?” Tanya Alvin
berusaha terdengar galak.
“gue haus, Nyuk…” jawab Sivia dengan
apa adanya.
“terus??”
“minta duit” kata Sivia sambil
menjulurkan tangannya dihadapan Alvin. Ekspresi Sivia yang persis seperti
ekspresi seorang anak kecil yang sedang meminta uang pada Papanya benar-benar
membuat Alvin ingin tertawa sekencang-kencangnya. Tapi Alvin lebih memilih
untuk bersikap jaim.
“iiihh… manja banget sih lo” ucap
Alvin sambil meringis pelan. Sivia hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya
saat itu juga.
Alvin merogoh kantong jeansnya lalu
menyerahkan selembar uang lima puluh ribu untuk Sivia.
“lo beli minum sana! Beliin satu
buat gue juga ya?” Sivia hanya mengangguk sambil menerima uang pemberian Alvin.
“tapi gue maunya Ice Cream”
“terserah lo deh!” kata Alvin yang
tidak mau ambil pusing lagi.
Dengan senang hati Sivia beringsut
dari samping Alvin dan berjalan riang menuju tempat penjual Ice Cream yang
terletak disebrang jalan. Dari jauh Alvin memperhatikan Sivia dengan seksama.
Hmm… ternyata Si Jelek itu sama sekali tidak merepotkan. Alvin salah besar.
Kedua mata Alvin tiba membelalak
saat melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi tengah melaju
dari arah yang berlawanan. Mobil itu berjalan ugal-ugalan tanpa memperhatikan
kondisi jalan yang saat itu sangat ramai. Sivia yang akan menyebrang jalan sama
sekali tidak menyadari bahwa mobil itu hendak menabraknya.
Sivia melangkahkan kakinya dijalan
raya, sementara mobil itu semakin lama semakin mendekati Sivia. Alvin yang
shock langsung melepaskan gitarnya lantas berlari mengejar Sivia.
“JELEK AWAAASSS!!!!” Teriak Alvin
sekencang-kencangnya.
“AAAAAAA….” Teriak Sivia yang pada
akhirnya menyadari bahwa mobil itu hendak menabraknya. Sivia ingin buru-buru
menghindar, tapi mendadak ia merasakan kedua kakinya kaku, sama sekali tidak
bisa digerakan. Sambil berdoa dalam hati, Sivia memasrahkan segalanya.
Dan dengan secepat kilat, Sivia
merasakan sebuah tangan kokoh menarik lengannya dengan keras. Sivia
terselamatkan dari kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya itu. Tubuh Alvin
dan Sivia terlempar hingga ke pinggir jalan. Mereka berdua terjatuh dengan
posisi Alvin menindih tubuh Sivia. Sebisa mungkin Alvin melindungi bagian
belakang kepala Sivia dengan telapak tangannya supaya tidak membentur aspal
jalanan. Meski yang terluka hanya siku sebelah kananya saja tapi Alvin bisa
melihat dengan sangat wajah Sivia pucat pasi. Keringat dingin bercucuran
membingkai wajah cantiknya.
Alvin yang saat itu sangat shock
benar-benar tidak bisa lagi menahan luapan emosinya,
“LO UDAH SINTING YA???” Teriak Alvin
pada Sivia yang waktu itu terlihat sangat lemas. Sivia tidak berkata apapun,
kenyataannya Sivia seribu kali lebih shock dari Alvin. Sivia menghela nafas
beberapa kali lalu pingsan tak sadarkan diri dalam dekapan Alvin.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment