Thursday, May 2, 2013

0

Mister Kodok VS Miss Bebek Part 19 ~ENDING~



Saat Sivia tengah berlari menyusul Alvin keUKS tiba-tiba saja Ify dan Shilla menghentikannya. Melihat Sivia yang tadinya lumpuh dan sekarang bisa berdiri dengan tegak dan bahkan berlari tentu saja Ify dan Shilla bingung dan bahkan tak percaya,
            “Vi, lo…???” ucap Shilla heran seraya menunjuk kaki Sivia, Siviapun melihat kakinya, dan ia juga baru  saat itu menyadari bahwa ia telah bisa berjalan kembali, Sivia menggeleng,
            “ini ga’ penting, yang penting tu Alvin, gue harus liat dia…” Siviapun melanjutkan perjalanannya menuju ruang UKS. Tak berapa lama tibalah Sivia diUKS, ia langsung menghampiri Alvin yang waktu itu tengah terbaring diatas kasur, Sivia duduk disamping Alvin lalu secara perlahan menyentuh wajah Alvin.
            “Alvin, kamu bangun dong! Liat, sekarang aku udah bisa jalan Vin, kamu ga’ perlu begadang lagi buat ngejagain aku, pliss bangun Vin…” lirih Sivia, ia pun meraih tangan Alvin lalu menciumnya. Saat itu masuklah Cakka kedalam ruang UKS, ia menepuk pelan pundak Sivia,
            “Vi..”
            “ada apa Kka..?” Tanya Sivia pada Cakka tanpa melepaskan tatapannya dari wajah pucat Alvin,
            “lo harus tau, kenapa Alvin bisa kaya’ gini!” ucap Cakka ragu, kali ini Sivia menoleh kearah Cakka,
            “kenapa Kka…?”
            “sebenernya Alvin ngelarang gue buat cerita keelo, tapi lo harus tau…” Sivia terdiam, ia menunggu penjelasan dari Cakka. Cakka duduk disebuah kursi yang ada dihadapan Sivia lantas memulai ceritanya,
            “asal lo tau Vi, selama lo koma, Alvin ga’ pernah makan, Alvin bilang dia ga’ akan pernah makan sebelum lo sadar dari koma lo, dan saat tau lo udah sadar, Alvin seneeng banget, tapi disatu sisi Alvin yang harus nerima kenyataan yang paling berat dalam hidupnya, kenyataan itu itu adalah, lo lumpuh! Saat itu Alvin yang bener-bener putus asa, mungkin kalo bisa, dia akan ngasih kakinya ke elo, tapi itu semua ga’ mungkin kan?” Sivia terkejut saat mendengarkan cerita Cakka, benarkah Alvin tak makan seminggu hanya demi dirinya?
            “ja..jadi, Alvin..?”
            “ga’ hanya itu Vi, setelah lo sadar dan lumpuh, Alvin mati-matian ngejaga lo, dia ga’ pernah ngebuang waktunya sedetikpun untuk ngejaga lo dan mikirin lo, dia juga hampir-hampir ga’ bisa memejamkan mata dengan tenang, Dokter menganjurkan supaya Alvin dirawat dirumah sakit, tapi Alvin ga’ mau, dia mau terus ngejaga lo…” air mata Sivia menetes secara perlahan, ia tak menyangka bahwa Alvin melakukakn pengorbanan yang begitu besar hanya untuknya, kali ini Sivia kembali mengalihkan perhatiannya pada Alvin, dengan isakkan yang sangat kuat, Sivia membaringkan tubuhnya diatas Alvin,
            “Vin, maafin aku, gara-gara aku kamu kaya’ gini! Maafin aku…” Cakka yang merasa Sivia butuh waktu berdua dengan Alvinpun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruang UKS.
            Tak berapa lama setelah kepergian Cakka, Alvin pun tersadar dari pingsannya. Ia melihat Sivia yang waktu tengah terbaring diatas seraya menangis terisak, Sivia belum mengetahui bahwa Alvin telah sadar. Secara perlahan Alvin mengangkat tangannya lalu mendaratkannya tepat diatas kepala Sivia, Alvin membelai lembut rambut Sivia,
            “kamu kok nangis sih..?” saat itulah Sivia langsung menatap Alvin, ia melihat Alvin yang waktu itu juga tengah menatapnya seraya tersenyum,
            “Alvin…” Alvin segara bangkit dari tidurnya lalu duduk dihadapan Sivia.
            “kamu kenapa nangis? Dasar cengeng!” hardik Alvin seraya menoyor pelan kepala Sivia. Tanpa menjawab pertanyaan Alvin, Sivia langsung memeluk Alvin erat, ia menangis terisak seraya berkata pada Alvin,
            “kamu kenapa nyiksa diri demi aku? Hik..hik..”
            “Via, maksud kamu apa?” Tanya Alvin yang masih belum mengerti dengan apa yang baru saja Sivia tanyakan,
            “selama aku koma, kamu ga’ pernah makan kan? Dan kenapa kamu enggak ngikutin saran Dokter buat dirawat dirumah sakit? Kenapa? Kamu itu begok itu tau ga’…” Alvin mengangguk lantas melepaskan pelukan Sivia darinya, ia memegang wajah Sivia menggunakan kedua tangannya,
            “Cakka yang ngasih tau kamu?” Sivia kembali memeluk Alvin,
            “ga’ penting siapa yang tau ngasi tau aku, yang jelas, aku tu cemas banget sama kamu…” Alvin tertawa kecil sembari membelai lembut rambut Sivia,
            “udahlah! Jangan nangis lagi! Yang pentingkan sekarang aku udah ga’ apa-apa, aku kuat kok Vi, dan kamu yang bikin aku kuat…”

            Alvin baru menyadari ketidakberadaan kursi roda Sivia. Alvin terkejut dan terlihat sedikit panic, ia melepaskan pelukannya dari Sivia,
            “kursi roda kamu mana Vi..?” Tanya Alvin khawatir, Sivia tersenyum,
            “aku punya kejutan buat kamu!”
            “kejutan? Kejutan apa? Aku nyari kursi roda kamu, kenapa kamu malah bilang punya kejutan…” Alvin semakin terlihat cemas,
            “hey lihat dulu!”
            Perlahan Sivia bangkit dari duduknya dan hendak berdiri, Alvin yang memang belum mengetahui apa-apa tentang Sivia sempat meminta Sivia untuk tidak berdiri. Sivia tak sedikitpun mendengarkan ucapan Alvin. Dan saat Alvin melihat Sivia berdiri dengan tegak, ia terkejut dan nyaris tak percaya, Sivia berdiri dihadapan Alvin,
            “Via, kamu berdiri?” Tanya Alvin, Sivia mengangguk berkali-kali. Alvin pun bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Sivia. Alvin berdiri dihadapan Sivia seraya meraih kedua tangan Sivia lantas menggenggamnya dengan sangat erat,
            “ini beneran kamu bisa berdiri?” Alvin mencoba memastikan,
            “ya beneranlah Vin..”
            “tapi kok bisa?” Tanya Alvin kembali,
            “aku juga ga’ tau, tapi aku yakin, ini semua adalah keajaiban yang Tuhan berikan untuk aku, untuk Mama Papa, dan untuk kamu…” Alvin menarik Sivia kedalam pelukannya lalu mendaratkan sebuah kecupan tepat diatas puncak kepala Sivia.

^_^

            Melihat Sivia bisa berjalan kembali awalnya Pak Joe dan Bu Winda tidak percaya, sama seperti Alvin tadi. Tapi tak lama mereka akhirnya percaya dengan keajaiban yang Tuhan berikan itu. Mereka tak bisa membendung kebahagiaan mereka saat ini, mereka begitu bahagia saat melihat puteri mereka yang sempat lumpuh akhirnya bisa berjalan kembali.
            Seminggu berlalu, dan selama seminggu ini pula, Sivia telah bisa menjalani kehidupannya seperti biasa, ia tidak lagi duduk dikursi roda seperti saat ia masih lumpuh, dan ia tidak perlu lagi merepotkan Alvin ketika disekolah.
            Perjalanan cinta Alvin dan Sivia benar-benar berjalan dengan lancar, kini tak ada lagi Zevana yang menganggu hubungan mereka. Jelas Alvin dan Sivia tak pernah menduga sebelumnya, bahwa mereka yang sudah bermusuhan semenjak bertahun-tahun lamanya akhirnya menjadi sepasang kekasih yang saling mencinta satu sama lain dan nyaris tak ingin dipisahkan dalam keadaan apapun.
            Dan itu semua tak lepas dari peranan orangtua-orangtua mereka yang sudah berusaha keras menyatukan mereka melalui sebuah perjodohan wasiat yang diawal sempat ditolak oleh Alvin dan Sivia.

            “Vin, ayo ikut aku!” ujar Sivia seraya menarik Alvin yang waktu itu tengah sibuk dengan laptopnya. Alvin yang tak bisa menolak ajakan Sivia akhirnya dengan terpaksa mengikuti Sivia. Sivia menarik-narik Alvin hingga kerumahnya,
            “Via, ada apa sih?” Tanya Alvin penasaran saat tiba dirumah Sivia,
            “tadi aku masak bakso buat kamu…” Alvin sempat terkejut. Mana mungkin Sivia bisa masak? Masak mie instan saja dia masih belum becus, apalagi memasak bakso yang tingkat kerumitannya sangat tinggi,
            “emang kamu bisa masak bakso?” Tanya Alvin seraya terus mengikuti Sivia,
            “ya bisalah, aku kan diajarin sama Bi Imah…”

            Tibalah Alvin dan Sivia diruang makan. Sivia mendudukan paksa Alvin dikursi, Alvin sudah memiliki firasat buruk kalau-kalau bakso buatan Sivia akan membuatnya sakit perut, maka Alvinpun hanya bisa pasrah sampai akhirnya Sivia menghidangkan semangkok baksi dihadapan Alvin,
            “nih, bakso special buatan Miss Bebek! Dicoba!” saat itu Alvin langsung menelan ludah. Melihat Alvin yang terus menatap mangkok baksonya, Siviapun berkata,
            “Vin, kok baksonya Cuma dipelototin aja, dimakan dong! Apa perlu aku suapin?” Tanya Sivia, Alvin langsung berkata,
            “ooh..ga’ perlu, ga’ perlu, aku bisa sendiri kok..!” mendengar jawaban Alvin, Siviapun tersenyum lega.
            Dengan ragu, Alvin meraih sendok beserta garpu yang ada dihadapannya lalu secara perlahan mulai mengaduk bakso buatan Sivia,
            “coba deh! Kamu pasti suka!”
            “hehehe..iya..iya..”
            Yang Alvin cicipi pertama kalinya adalah kuah bakso, dan waaw…Alvin tak pernah merasakan kuah bakso seasin kuah bakso racikan Sivia, dalam hati Alvin bergumam,
            ‘gila! Ini kuah bakso apa air laut?’
            “gimana,Vin,enak?” Tanya Sivia sekali lagi, dengan memasang wajah yang sangat payah, Alvin mengangkat jempolnya. Ia tak ingin Sivia kecewa gara-gara ia jujur mengatakan bahwa bakso bikinan Sivia sama sekali tidak enak.
            “yeee..berarti aku sukses dong! Ya udah, ntar kalo itu udah abis, ditambah lagi ya?” mendengar ucapan Sivia kali ini Alvin langsung tersedak,
            “uhuk..uhuk…” Sivia yang panic melihat Alvin batuk-batuk seperti itu langsung memberikan segelas air untuk Alvin,
            “kamu hati-hati dong Vin!”
            “sori..sori..”


^_^

            Minggu sore Alvin mengajak Sivia jalan-jalan kepantai menggunakan sebuah sepeda. Mereka akan menikmati indahnya matahari terbenam dipantai. Setelah tiba dipantai, Alvin dan Sivia menyempatkan diri mereka bermain air. Mereka  saling siram-siraman dan saling berkejar-kejaran. Setelah bosan bermain air, Alvin dan Sivia duduk berdua ditepi pantai menghadap matahari yang sebentar lagi akan terbenam.
            Alvin merangkul Sivia, sementara Sivia ia merebahkan kepalanya dipundak Alvin seraya menatap cincin pertunangannya dengan Alvin yang bertengger dijari manisnya,
            “Vin..”
            “hmmm…” jawab Alvin seraya terus menatap matahari yang nyaris tenggelam diufuk barat,
            “aku besyukuuurr banget, karna waktu itu kita jadi tunangan, kamu juga bersyukur kan…” Alvin mencium kepala Sivia,
            “jelaslah aku bersyukur..”
            “Vin….”
            “iya Bebekku sayaaangg…??” Tanya Alvin gemes,
            “aku cinta sama kamu…” Alvin tertawa kecil,
            “aku tau!” Alvin melepaskan rangkulannya dari Sivia lalu meminta Sivia untuk memejamkan mata, awalnya Sivia sempat menolak, tapi setelah Alvin terus-terusan memaksanya, Sivia akhirnya mengalah, ia memejamkan kedua matanya.
            Saat Sivia sudah memejamkan matanya, Alvinpun mengambil sebuah liontin berbandul hati dikantong dijaketnya. Alvin mengulurkan liontin itu tepat dihadapan Sivia,
            “sekarang buka mata kamu!” Siviapun membuka matanya secara perlahan, saat melihat liontin yang ada ditangan Alvin, Sivia begitu terharu,
            “aku punya ini buat kamu!”
            “cantik bangeett…”
            “ya udah, sekarang balik badan! Aku pakein!” tanpa banyak bicara lagi Sivia langsung membalik posisi tubuhnya, dengan telaten Alvin memasangkan liontin yang sangat cantik itu dileher Sivia,
            Setelah liontin itu terpasang, Alvinpun bangkit dari duduknya, ia berdiri lalu mengulurkan kedua tangannya untuk Sivia,
            “bangun Yuk!” pinta Alvin. Dengan senang hati Sivia menyambut uluran tangan Alvin lantas berdiri tepat dihadapan Alvin.sedikit lagi matahari akan tenggelam. Alvin memegang wajah Sivia menggunakan tangan kananya lantas membelainya dengan lembut, Sivia tersenyum,
            “Miss Bebek, aku akan mencintai kamu untuk selamanya, selamanya ga’ akan ada yang misahin kita, dan selamanya juga, hanya ada, Kodok dan Bebek, selamanya..”
            “aku juga cinta kamu, selamanya aku ga’ mau kehilangan kamu!” lirih Sivia, ia hampir meneteskan air mata.
            Alvin tersenyum kecil seraya menatap Sivia lurus, tak lama Alvin melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sivia, ia pun menarik wajah Sivia lalu secara perlahan dan tenang mulai menciumi bibir mungil Sivia, mereka sama-sama memejamkan mata dan begitu menikmati suasana indah yang telah Tuhan ciptakan hanya untuk mereka berdua, dalam waktu yang bersamaan pula, matahari pun akhirnya terbenam…



                        ~The End~

0 comments:

Post a Comment